Soulmate


Soulmate

author : elfishysparkyu

cast : Krystal Jung, Choi Minho, Kang Minhyuk

genre : romance

rating : PG 13 *kira-kira

Akhirnya aku kembali bawa minstal, semoga gak mengecewakan dan semoga ada yang komen ^___^
Harap perhatikan tahunnya, karena cerita ini berurutan dari mereka kecil sampai dewasa.

Soulmate

Jodoh telah tertulis jauh sebelum dua insan dilahirkan. Maka setiap jiwa akan menemukan belahannya.

Seoul 1999 <<<<

“Karena aku yeoja, kau pikir aku tidak berani padamu? Heh?”

Seorang gadis kecil berumur 5 tahun berkacak pinggang menantang anak laki-laki didepannya.

Meski anak itu lebih tinggi dan lebih tua darinya, ia tak takut sedikitpun.

Matanya melotot tajam sambil berucap lantang. “Minho pabo.”

“Mwo?” anak laki-laki kecil itu memekik tak percaya. Bisa-bisanya kata-kata itu terucap dari bibir mungil gadis itu.

“Minho pabo, Minho pabo, Minho pabo.” dan ucapan itu justru terlontar berkali-kali.

Gadis itu lekas berlari cepat saat tahu Minho pasti murka dengan ucapannya.

“Awas kau Jung Soojung.” kejar Minho.

Rasanya Krystal sudah berlari sangat kencang. Tapi nyatanya Minho masih bisa menjangkaunya.

“Eommaaaaa…”

Pekikan itulah yang keluar dari mulut Krystal saat Minho berhasil menangkapnya. Namja itu menarik rambutnya, itu yang membuatnya menjerit kesakitan.

Sedikit tertegun Minho melihat gadis kecil didepannya.

“Mianhae.” ucapnya polos. Khas anak umur 7 tahun yang merasa bersalah telah membuat temannya menangis.

Krystal tetap sesenggukan. Aktingnya sungguh sempurna. Karena tak berapa lama justru ia menggigit tangan Minho hingga namja itu yang berganti menjerit kesakitan.

“Aawwww…” Minho mengibas-ngibaskan tangannya. Bekas gigitan Krystal tampak jelas disana.

Dan Krystal, yeoja kecil itu kembali berlari setelah lebih dulu menjulurkan lidahnya meledek. Tampaknya ia begitu puas sekarang.

* * * * *

Seoul 2009 <<<<

“Kau mau apa?” bentak Krystal sengit. Terbesit sedikit rasa takut saat melihat pancaran mata namja didepannya itu. “Yah Choi Minho, kau mau apa?” teriaknya.

Namja bernama Choi Minho itu semakin mendekatinya. Terus menatapnya lekat hingga ia tersudut tak berkutik.

“Minho.” bentak Krystal sekali lagi.

Tampaknya tak berhasil. Minho tak peduli. Ia semakin merapatkan tubuhnya menghimpit Krystal pada tembok belakang sekolah mereka.

Krystal memejamkan matanya kuat-kuat. Hanya bisa menerka-nerka apa yang akan dilakukan sunbaenya itu selanjutnya.

Satu detik, dua detik, tiga detik, tidak terjadi apa-apa.

“Hahaha..” justru tawa Minho itulah yang terdengar nyaring. Shit, namja itu mengerjainya.

Krystal mengelembungkan pipinya geram. Sambil menghembuskan nafas lega tentunya.

Tapi itu tak berlangsung lama. Baru saja jantungnya berdetak normal. Minho kembali membuat organ tubuhnya itu melompat-lompat tak beraturan.

Kali ini Minho menciumnya. Begitu cepat hingga Krystal tak menyadari apa yang barusan mengecap manis bibirnya. Yah, Minho mencium tepat di bibirnya.

Krystal termangu, membisu. Tiba-tiba ada rasa tidak terima yang menyeruak di dada. Kenapa harus namja itu yang mencuri ciuman pertamanya?

Minho sudah melenggang pergi. Jauh diujung sana dengan santainya mengambil beberapa lembar won dari tangan teman-temannya. Dan Krystal sepertinya mulai paham. Ia sedang dijadikan bahan taruhan.

“Keterlaluan.” ia hanya bisa mengumpat sendiri. Helaan nafasnya naik turun menahan marah. Satu buliran bening mengalir damai dipipinya. Lekas ia seka airmatanya cepat. Pantang bagi seorang Krystal Jung untuk menangisi hal bodoh seperti ini.

* * * * *

Seoul 2013 <<<<

“Aku akan menikah.”

Krystal seketika tertawa mencibir ocehan Minho itu.

“Aku benar akan menikah. Kau tidak bertanya siapa gadisnya?”

“Siapa?” tanya Krystal malas.

“Jung Soojung.”

“Tidak lucu.” sahut Krystal ketus. Ia berganti memanyunkan bibirnya acuh.

“Ini memang bukan lelucon, aku sangat serius.”

“Oh ya? Berarti kau sedang bermimpi. Cepat bangun, bangun dari mimpi konyolmu itu.” perintah Krystal meledek.

“Aku bahkan tidak sedang tertidur.”

“Terserah, terus saja kau berkhayal.”

“Khayalan yang indah bukan?”

Menyebalkan. Krystal mendengus kesal, selalu saja ia kehabisan kata-kata jika menghadapi Choi Minho.

“Dengarkan aku.” sahut Minho serius. Ia menatap kedua bola mata Krystal tajam. “Kau boleh berhubungan dengan namja manapun yang kau sukai. Siapapun itu aku tak peduli. Karena pada akhirnya kau akan menikah denganku.”

Krystal seketika membatu. Kenapa kata-kata Minho itu serasa menusuknya dalam. Menghujamnya tajam bahkan lebih tajam dari tatapan Minho padanya.

* * * * *

Seoul 2017 <<<<

Sepasang sejoli terlihat begitu bahagia dalam acara pertunangan mereka. Tampak sibuk menyapa para tamu dengan senyum yang terus terukir dibibir.

“Kau bahagia Krystal-ah?”

Pertanyaan dari sang pria tak elak membuat Krystal mengangguk malu. “Ne, tentu saja Minhyuk oppa.”

Kang Minhyuk, tunangannya. Orang yang setahun ini mengisi hatinya. Orang yang Krystal harapkan sebagai pelabuhan terakhir cintanya.

Dan kini, angan-angan itu akan terwujud nyata. Pertunangan ini adalah awal dimana akhir yang lebih indah dalam sebuah pernikahan.

“Tidak dikenalkan padaku?”

Bibir Krystal seketika mengatup kaku mendengar sapaan itu. Seorang namja tinggi dengan kedua tangan tersimpan dalam saku. Pose yang sangat menyebalkan. Dan lebih menyebalkan lagi Krystal kenal betul orang itu.

“Minhyuk oppa, kenalkan ini Choi Minho. Dia.. ”

“Teman Soojung sejak kecil.” sambar Minho cepat. “Maksudku Krystal Jung.” ralatnya. Ia rasa kini Krystal lebih suka nama itu.

“Benarkah? Aku bahkan tidak tahu kalau Krystal punya teman kecil.” sahut Minhyuk antusias.

“Ne, aku baru kembali setelah 2 tahun di Jepang. Jadi wajar kau tidak tahu. Dan aku yakin tunanganmu tidak pernah cerita tentangku, iya kan?”

Minhyuk manggut-manggut, ia tersenyum tipis. “Menyenangkan sekali bisa kenal denganmu. Apa aku bisa bertanya padamu tentang kebiasaan Krystal saat kecil dulu? Mungkin ada hal-hal yang tidak kuketahui.” bisiknya.

“Tentu saja, akan kubocorkan semua rahasianya.” Minho tersenyum bangga, ia melirik Krystal. Gadis itu tampak kesal dibuatnya.

“Aku tidak pernah merasa berteman denganmu.” cibir Krystal.

“Sombong sekali. Kita kan memang kenal sejak kecil.”

“Tapi kau bukan temanku.”

“Ya tapi hubungan kita sangat mesra sejak dulu.”

Krystal mendengus, saatnya tidak tepat untuk berdebat. “Sebentar Minhyuk oppa.” pamitnya. Ia menyeret lengan Minho sedikit menjauh. “Jangan kacaukan pertunanganku atau kau akan menyesal.” ancamnya.

Minho terkekeh sendiri. “Kau yang mulai.”

“Sekarang lebih baik kau pulang sana.” perintah Krystal, ia enggan memperpanjang masalah ini.

“Lama tidak bertemu, kau mengusirku? Tega sekali.”

Minhyuk yang sejak tadi memperhatikan perlahan menghampiri mereka. “Ada apa?” tanyanya.

“Oppa, Minho sudah mau pulang.” sambar Krystal, ia mendelik Minho dengan isyarat matanya.

Rupanya Minho paham. “Ne Minhyuk-ssi, selamat atas pertunanganmu. Annyeong.” pamitnya.

“Kenapa buru-buru?”

“Disini ada nyamuk yang terus menggigitku. Aku jadi tidak tahan.” jawab Minho asal.

Minhyuk hanya tertawa menanggapi ucapan Minho itu. Sementara disampingnya, Krystal memanyunkan bibirnya kesal. Ia merasa nyamuk yang dimaksud Minho merujuk padanya.

* * * * *

“Ada angin apa yang membawamu kemari?” ujar Minho heran. Krystal mendatangi apartmentnya, ini sungguh sebuah keajaiban dunia.

“Anio, aku hanya menengokmu saja. Bagaimana kabar teman lamaku ini.” ucap Krystal basa-basi. Matanya menjelajah setiap sudut apartment. Semua terlihat berbeda dibanding saat terakhir ia mendatangi tempat ini beberapa tahun lalu. Ia lalu duduk di sofa dimana Minho berada. “Kudengar kau bekerja diperusahaan ayahmu. Lalu kenapa sekarang dirumah?” imbuhnya.

“Aku sedang malas.” bahkan Minho menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

Krystal berdecak. “Lalu apa gunanya gelar S2mu kalau kau seenakmu sendiri seperti ini? Kau bukan lagi anak 10 tahun yang bisa bertindak sesuka hatimu. Lulusan dari universitas ternama di Jepang nyatanya sia-sia.” desahnya.

“Jangan cerewet. Katakan saja kau mau apa? Aku yakin tujuanmu kemari bukan untuk menceramahiku.”

“Ne, kau benar.” Krystal berdehem sejenak. “Aku harap kau tidak mengganggu hubunganku dan Minhyuk oppa.”

Minho tertegun tapi ia coba sembunyikan perasaannya. “Kau takut tergoda padaku?” candanya.

“Apa? Aku hanya merasa pengacau sepertimu sangat membahayakan.”

“Pengacau?” Minho tertawa getir. “Aku bukan lagi anak 10 tahun yang bisa bertindak sesuka hatiku.” ia mengulang perkataan Krystal tadi.

“Usia berapapun bagiku kau tetap Choi Minho yang sama. Aku mencintai Minhyuk oppa dan hubungan kami sangat serius.”

“Lalu apa peduliku? Bukankah aku pernah bilang, terserah kau berhubungan dengan siapapun. Pada akhirnya kau akan tetap menikah denganku.”

“Kalau kau bersikap seperti ini seakan-akan kau itu mencintaiku. A.. Apa kau memang mencintaiku?” tanya Krystal terbata.

“Menurutmu?”

Krystal terdiam. Mungkinkah Minho memang mencintainya? ia sendiri tak yakin. “Tapi aku tidak mencintaimu, aku mencintai tunanganku.” ucapnya.

“Kalau begitu aku juga tidak jadi mencintaimu.”

“Choi Minho.” Krystal memekik geram, ia merasa dipermainkan oleh namja itu.

“Wae?” Minho ikut memekik. “Apa kau marah karena aku tidak jadi mencintaimu?”

“Tentu saja tidak.”

“Tenanglah. Meski saat ini kau dan Minhyuk-ssi. Suatu saat nanti kisah ini akan berakhir dengan kau dan aku.”

Krystal berdecak malas. Ia mulai jengah dengan perkataan Minho. “Sampai kapanpun aku memang tidak bisa paham jalan pikiranmu.” ia bangkit berdiri. Dengan mantap ia memilih pergi.

“Aku tidak minta kau memahamiku Soojungie. 241094 itu kode apartmentku. Kau bisa datang kapanpun kau mau.” teriak Minho. Ia yakin Krystal pasti masih mendengarnya.

Dan benar saja, Krystal masih sangat jelas mendengarnya. Tunggu, bukankah itu tanggal lahirnya?

* * * * *

“Apa Choi Minho mantan pacarmu?”

“Mwo? Anio!!!” Krystal seketika memekik mendengar pertanyaan tiba-tiba Minhyuk itu. “Oppa, kenapa kau beranggapan seperti itu?”

Minhyuk hanya tersenyum tipis sambil berucap pelan. “Aku hanya menduga.”

“Aku dan Minho hanya berteman sejak kecil. Ah, bukan, kami memang kenal sejak kecil tapi tidak berteman. Hubunganku dengannya kadang baik kadang tidak. Dan lebih banyak tidak baiknya.” Krystal mengulum senyumnya. “Sering sekali kami bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting.” tutupnya.

“Ternyata kau punya banyak kenangan dengannya.”

“Kenangan apanya?” cibir Krystal. “Hanya hal-hal bodoh yang kuingat darinya. Apa kau cemburu Minhyuk oppa?” balasnya menggoda.

“Tidak.”

“Benarkah?”

“Tentu. Apa yang harus kucemburui? Kau tunanganku sekarang.” yakin Minhyuk.

“Tidak takut Choi Minho merebutku darimu?”

Minhyuk terdiam. Ia tahu Krystal tidak serius dengan ucapannya. Tapi kenapa perkataan Krystal itu terasa menyayatnya perih.

“Aku hanya bercanda Minhyuk oppa.” ralat Krystal, ia terbahak setelahnya.

“Aku tahu.” jawab Minhyuk singkat. Ia berusaha menarik kedua ujung bibirnya. Namun yang tercipta hanya sebuah senyuman kaku. Perasaan apa yang tiba-tiba menyergapnya ini?

* * * * *

“Yah, apa yang kau lakukan?” pekik Krystal heboh saat Minho menyeretnya paksa memasuki mobilnya. Dengan tenaga Minho yang jauh lebih kuat, tentu saja ia kalah.

“Ini penculikan namanya.” Krystal tak henti-hentinya berteriak. “Kau akan menyesal kalau melakukan sesuatu yang buruk padaku.”

“Kau akan lebih menyesal jika terus bicara.” balas Minho telak.

Seketika Krystal membungkam mulutnya. Apa-apaan ini? Kenapa jadi ia yang diancam?

Tapi toh ia hanya bisa menurut saat Minho terus melajukan mobilnya. Dan namja itu juga tak berucap sepatahkatapun.

“Untuk apa kita ke sini?” heran Krystal. Ia baru bertanya saat mobil Minho akhirnya terhenti disuatu tempat.

Namwan tower tampak jelas dari kejauhan. Bersamaan dengan hari yang mulai petang, indah sekali.

“Ini hari ulangtahunku, temani aku ke namsan tower.”

Hanya kalimat itu yang Minho ucapkan sebelum ia kembali membisu. Ingin sekali Krystal protes ataupun bertanya banyak hal lagi. Tapi wajah Minho sedang tidak bersahabat, jadi ia mengurungkan niatnya. Bukankah ia sedang berulang tahun? Kenapa memasang tampang murung seperti itu.

Mereka terus saling terdiam ketika menaiki kereta gantung yang membawa mereka menuju namsan tower.

Gemerlap menara yang indah di depan mata seakan menyadarkan Krystal. Hari mulai malam dan tidak sepantasnya ia berada disini apalagi bersama Minho.

“Apa tidak sebaiknya kita pulang saja?” ucapnya pelan.

Sedari tadi hanya duduk dibangku taman sekitar menara sungguh membosankan dan tak ada gunanya.

“Kenapa kau terus mengacuhkanku?” tanya Minho lirih.

“Mwo?” Krystal justru tidak siap dengan pertanyaan Minho itu.

“Sejak dulu kau tak pernah sedikitpun memandangku. Kau tak pernah peduli keberadaanku. Apa kau membenciku?”

“Aku? Untuk apa aku membencimu? Justru kaulah yang sering memulai pertengkaran denganku. Kau selalu seenakmu sendiri dan sengaja membuatku marah. Kekanakan.” decah Krystal. Sesekali ia melirik Minho disampingnya. Aish, kenapa rautnya harus menyedihkan seperti itu.

“Saranghae Soojung-ah.”

Hening. Kenapa Minho harus mengatakan itu? Krystal bahkan tak mampu menjawabnya. Bukan apa-apa, kegetiran Minho sejak tadi sedikit mengusiknya.

“Hahaha.” Krystal terbahak sendiri. “Aku jadi ingat dulu aku pernah memergokimu menyatakan cinta pada Park Jiyeon, hahaha.” ia terus tergelak. Setidaknya ia ingin menghapus kepedihan yang terlukis di raut Minho.

Minho perlahan tersenyum tipis. “Aku justru yang memergokimu sedang mengintip.” katanya.

“Aku tidak mengintip, aku tidak sengaja melihatmu bersama Park Jiyeon. Tapi ternyata kau ditolak, hahaha.”

“Lalu kenapa kau marah saat ketahuan mengintip? Bukankah seharusnya aku yang marah?”

“Sudah kubilang aku tidak mengintip.” elak Krystal.

“Masih menyangkal. Jelas-jelas saat itu kau mengintip dibalik pohon. Lalu saat aku memergokimu kau marah dan melemparku sepatu. Kau pikir kau cinderella yang kehilangan sebelah sepatunya apa?” cibir Minho, ia tertawa sendiri mengingatnya.

Krystal bisa tersenyum lega sekarang. Meski Minho terus mencacinya, ia tahu namja itu telah kembali menjadi Choi Minho yang biasanya.

“Minho-ya, saengil chukhae.” entah kenapa Krystal ingin sekali mengatakannya.

Minho bahkan tidak berharap ucapan itu keluar dari mulut Krystal. Ia terus mematung memandang lekat gadis itu.

Sadar Minho sedang menatapnya, Krystal kembali berujar. “Mungkin sudah terlambat tapi lebih baik daripada tidak mengucapkannya sama sekali.”

“Gomawo. Ini sangat berarti untukku. Setelah 13 tahun akhirnya kau mengatakannya lagi.”

“Hem?” Krystal agak tidak mengerti ucapan Minho itu.

“Terakhir kau mengucapkan selamat ulang tahun padaku saat usiaku 12 tahun.”

“Benarkah? Aku bahkan tidak ingat.”

“Kau memang melupakan semuanya. Sama seperti kau perlahan melupakanku.”

Krystal berdecak. “Ayo pulang. Berada disini akan membuatmu semakin aneh.”

“Baiklah, kita pulang.”

Dan sumpah demi jadi pacarnya Kyuhyun, Minho mengatakannya dengan sangat lembut sambil tersenyum manis.

Hei? Kenapa gampang sekali Minho menurut? Tidak biasanya, benar-benar aneh. Krystal bingung sendiri. Apa Choi Minho hari ini tiba-tiba menjelma menjadi bunglon yang terus berubah-ubah?

* * * * *

Krystal melangkah tergesa. Berkali-kali merapatkan mantel yang membungkus tubuhnya. Hari yang begitu dingin dan ia punya janji bertemu Minhyuk di sungai Han.

Ia tersenyum mendapati sosok disana yang telah menunggunya. Minhyuk tampak memandang kosong genangan air yang mengalir tenang.

“Mianhae aku terlambat Minhyuk oppa.” sesal Krystal. Ia segera beranjak kesisi Minhyuk. Ikut menikmati pemandangan yang terhampar didepannya.

Minhyuk tersenyum tanpa menoleh sedikitpun. “Krystal-ah, andai aku dan Minho-ssi terjatuh bersama ke sungai ini, siapa yang akan kau selamatkan?”

“Mwo?” Krystal termangu. Apa yang diucapkan Minhyuk tadi?

“Kau tidak bisa jawab?”

“Anio. Tentu aku menyelamatkanmu oppa.” bahkan Krystal mengatakannya dengan tergagap. Apa ia tidak yakin?

“Bukan aku tapi Choi Minho. Matamu tidak bisa berbohong Krys.”

“Minhyuk oppa. Kenapa kau tiba-tiba aneh seperti ini?”

“Jawab yang jujur Krystal-ah. Aku tidak akan marah.” kali ini Minhyuk sedikit menaikkan nada suaranya.

Krystal menggigit bibirnya ragu. “Aku rasa ini semua tidak masuk akal. Tapi kau yang memaksaku untuk menjawabnya Minhyuk oppa. Ne, aku akan menyelamatkan Minho. Kau tahu kenapa? Karena dia tidak bisa berenang. Kupikir itu jawaban yang rasional. Aku harap kau benar tidak marah. Karena kau pernah bilang tidak akan cemburu padanya. Aku tunanganmu sekarang, bukankah itu sudah jelas?”

“Mianhae, mungkin aku berlebihan.” bisik Minhyuk getir. “Sejak awal aku merasa kau dan Minho-ssi saling terikat dalam hubungan yang aneh. Jika kalian bersahabat dekat, mungkin wajar jika aku cemburu. Tapi ini? Aku sendiri bingung memaknai hubungan kalian. Teman? tidak. Musuh? tidak separah itu. Kalian seperti dua orang yang saling memberi perhatian lewat cara kalian sendiri.”

“Tidak Minhyuk oppa, aku tidak peduli pada Minho. Apa sebaiknya kita menikah saja?” tiba-tiba kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Krystal. “Dengan pernikahan kau akan mengikatku seutuhnya.”

“Kau yakin?”

Krystal mengangguk mantap. “Bukankah pertunangan kita menuju ke arah sana.”

“Ne, tapi kita sepakat akan menikah saat kau berusia 24 tahun.”

“Sekarang aku hampir 23 tahun, kurasa tidak apa-apa.”

Justru Minhyuk yang sepertinya terus meragu. “Anio, kita akan tetap pada kesepakatan awal. Jika Tuhan mentakdirkan kau bersamaku, kita akan menikah saat ulangtahunmu yang ke 24.”

“Kau tidak yakin menikah denganku?” sungut Krystal, ia memanyunkan bibirnya manja.

“Aku hanya pasrah pada takdir.” jawab Minhyuk singkat.

Krystal terdiam. Sikap Minhyuk yang seperti ini justru mengingatkannya akan sesuatu. “Pada akhirnya kau akan menikah denganku.” ucapan Minho itu terus berputar-putar di kepalanya. “Kisah ini akan berakhir dengan kau dan aku.” Aish, kenapa juga ia harus memikirkannya. Itu hanyalah bualan seorang Choi Minho. Lalu bagaimana jika kata-kata itu berubah jadi mantra yang akan menjadikannya nyata?

* * * * *

Krystal mengatupkan kembali handphonenya. Pandangannya tertunduk lesu, kenapa Minhyuk tidak bisa dihubungi? Terakhir ia mendapatkan sms dari namja itu tadi malam, itupun sms tidak penting. Apa Minhyuk sedang sibuk?

Sebuah nada panggilan masuk berbunyi nyaring. Tak elak Krystal terlonjak karenanya. Ia begitu riang, mungkin itu Minhyuk. Tapi kenapa nomor tak dikenal yang tertera dilayar?

“Yoboseyo Minhyuk oppa.” ucapnya asal. Ia terlalu senang rupanya.

“Ini aku.” suara diseberang terdengar lemah.

Dan Krystal mulai sadar itu bukan suara Minhyuk.

“Aku sakit.” kata itu terucap lirih.

“Heh? Sakit? Minho-ya, apa maksudmu?” Krystal memekik sendiri. ”

Nihil. Minho sudah menutup teleponnya.

Aish, Krystal bahkan merasa seperti orang bodoh. “Menyebalkan.” umpatnya kesal.

Sakit katanya? Huh, itu pasti sebuah kebohongan. Krystal berdecak tak percaya. Tapi kalau itu sungguhan bagaimana? Ia tidak mau disalahkan jika benar terjadi sesuatu pada Minho.

Baru kali ini Krystal meragukan tingkat kewarasannya sendiri. Kenapa ia harus sekhawatir ini? 241094, ia masukkan kode yang ia ingat diluar kepala itu hingga pintu apartment Minho terbuka otomatis. Awas saja kalau Minho bohong soal sakitnya.

“Minho-ya, kau dimana?” ia bahkan berteriak tanpa mempedulikan etika kesopanan.

Baiklah, ia masih cukup waras untuk berpikir jika orang sakit tentulah tempat yang paling nyaman adalah kamar.

Benar saja. Minho terbaring diatas ranjang sambil berselimut tebal.

“Kau baik-baik saja?” agak ragu Krystal mendekat.

Minho tampak memejamkan matanya, nafasnya tersengal-sengal. Sepertinya ia memang sakit.

Perlahan Krystal menaruh tangannya di kening Minho. “Kau demam. Apa sudah ke dokter?”

Minho hanya mengangguk pelan tanpa berucap sepatahkatapun.

“Apa obatnya sudah diminum?”

“Ne.” ia bahkan masih enggan untuk membuka matanya.

“Kau sudah makan?”

“Belum.”

“Kenapa tidak makan?”

“Aku belum lapar.”

“Baiklah, kau istirahat saja sekarang.”

“Sejak tadi aku memang istirahat, tapi kau cerewet sekali.”

“Mwo? Lalu untuk apa kau menyuruhku kesini?” Krystal memekik jengkel. “Kau tahu? Aku sedang kesal karena Minhyuk oppa tidak bisa dihubungi. Jangan menambah kekesalanku.” omelnya.

“Kapan aku menyuruhmu datang?”

“Di telepon tadi.. ” hampir saja Krystal meluapkan amarahnya. Tapi tunggu, sepertinya ada yang salah. Kapan Minho menyuruhnya datang?

“Aku hanya bilang aku sakit Soojung-ah. Aku tidak menyuruhmu datang, kau yang datang sendiri.”

Benar kan? Krystal kalah telak rupanya.
“Setidaknya hargai aku yang sudah mengkhawatirkanmu.” ucapnya pelan.

“Kau khawatir padaku?” kali ini Minho bangkit dari rebahannya. Sepertinya kalimat Krystal tadi adalah obat mujarab yang membuatnya merasa lebih baik seketika.

Dan bagi Krystal, lagi-lagi ia merasa salah bicara. “Aku rasa kau baik-baik saja sekarang. Jadi sebaiknya aku pulang.” pintanya.

“Anio, aku masih sakit.” sahut Minho cepat. Ia kembali merebahkan tubuhnya. “Kepalaku masih pusing sekali. Badanku rasanya sakit semua, aku mau tidur.” entah yang dituturkannya itu kebenaran atau alasan belaka. Yang jelas ia semakin merapatkan selimutnya.

“Ya sudah kau tidur saja.”

“Tapi kau jangan pulang.”

“Lalu untuk apa aku disini?”

“Setidaknya untuk memastikan saat aku bangun nanti demamku sudah turun. Kalau aku merasa lebih baik, baru kau boleh pulang.”

Merepotkan. Tapi tetap saja Krystal menurutinya. Menunggui orang yang sedang tidur seperti orang kurang kerjaan saja. Akhirnya ia memilih membaca majalah sport milik Minho yang justru membuatnya tambah bosan.

Entah sudah keberapa kali chanel TV ini ia gonta-ganti. Berbagai macam snack yang ia temukan di kulkas Minho pun berhamburan diatas meja. Sekarang sudah tak ada lagi yang menarik perhatiannya. Krystal sudah sangat bosan.

“Kenapa kau menghabiskan makananku?” seru Minho tiba-tiba. Ia menyusul Krystal di sofa sambil berdecak heran mendapati beberapa bungkus snack miliknya telah kosong.

“Aku bosan jadi aku makan saja apa yang ada dikulkas.” sahut Krystal santai. Ia bahkan masih memakan keripik kentang. “Kau sudah sembuh kan?”

“Ne, aku rasa begitu.”

“Baiklah, saatnya aku pulang.”

Baru saja Krystal meraih tasnya hendak pergi. Tapi Minho lebih dulu mencegahnya.

“Tunggu. Bisa memasak untukku? Apa kau tega aku memakan mie instan atau memesan makanan cepat saji?”

Dan sekali lagi Krystal mau-maunya direpotkan oleh seorang Choi Minho.
Sekarang ia berkutat disini. Di dapur apartment Minho. Memasak nasi goreng sederhana.

“Apa ini bisa di makan?” tanya Minho ragu. Ia memandang sepiring nasi goreng didepannya dengan tatapan aneh.

Dan tentu saja itu membuat Krystal jengkel. Segala jerih payahnya dihina seperti itu. “Kalau tidak mau buang saja.” ucapnya ketus.

“Aku akan memakannya.” yakin Minho, meski ragu ia menyuapkan satu sendok ke mulutnya.

Krystal tetap cemberut kesal. Ia terdiam memperhatikan Minho yang sedang makan. Tatapannya tajam seakan berkata ‘Awas saja bilang tidak enak, kau akan mati’

Baru sedetik kemudian tanpa sengaja matanya menancap pada jam yang tertera di dinding. Pukul 8 malam. Astaga, apa matanya yang rabun atau jamnya yang ngawur. Berarti ia telah menghabiskan separo harinya disini.

“Ada apa?” rupanya Minho paham gelagat aneh Krystal.

“Aku harus pulang .” ucap Krystal tergesa.

“Kenapa? Aku sedang sakit Soojung-ah. Masa kau tega meninggalkanku sendirian?” kali ini Minho persis anak kecil yang sedang merengek.

“Aku rasa yang kulakukan padamu lebih dari cukup. Kalau kau tidak mau sendirian sebaiknya kau pulang ke rumahmu.” Krystal melangkah yakin. “Besok aku akan kesini lagi.” lanjutnya.

Dan kalimat terakhir Krystal itu cukup menjadi penghibur Minho saat ini. Esok gadis itu akan kembali, ya ia terus yakini itu.

* * * * *

“Minhyuk-ssi sedang dinas ke Busan selama dua minggu. Ia sedang dipromosikan menjadi manajer keuangan disana.”

Itulah jawaban yang diterima Krystal dari resepsionis di perusahaan tempat Minhyuk bekerja.

Busan? Dua minggu? Kenapa Minhyuk tidak memberitahunya. Padahal Busan adalah kampung halaman namja itu. Seluruh keluarga Minhyuk ada disana. Baru kali ini Krystal merasa diabaikan.

Handphone pun terus tidak aktif. Apa Minhyuk mengganti nomornya?

Akhirnya Krystal memutuskan untuk menelepon kediaman keluarga Minhyuk. Tapi justru jawaban mengecewakan yang ia terima.

“Minhyuk sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.”

Itu dituturkan oleh ibu Minhyuk sendiri.

Krystal jadi merasa segan karena nada bicara calon mertuanya itu terdengar tidak ramah. Sebenarnya apa yang terjadi?

* * * * *

“Mungkin Minhyuk-ssi tidak tahan punya tunangan sepertimu. Kau itu angkuh, sombong, galak, dan sangat sadis.”

Krystal seketika melirik Minho tajam. Tentu ia tidak terima dengan ucapan Minho barusan.

Tapi itu justru membuat Minho semakin mencelanya. “Lihat, tatapanmu sungguh mengerikan.” ujarnya meledek.

“Seharusnya aku tidak cerita padamu.”

Yah mungkin Krystal memang cerita pada orang yang salah. Kenapa juga ia harus menceritakan kepergian Minhyuk pada Minho.

“Jangan dimasukkan ke hati Soojung-ah. Aku tidak serius dengan ucapanku. Kau sangat cantik, itu baru jujur.”

Krystal berdecak tak percaya.

“Aku berkata benar. Kau cantik sejak berumur 3 tahun dan menangisi permen lolipop yang kubawa, itu pertama kali kita bertemu. Saat kau menggigit tanganku, bahkan saat kau melemparku sepatu, kau tetap terlihat cantik.”

Sebenarnya Krystal sedikit tersanjung dengan ucapan Minho itu. Ternyata namja itu mengingat setiap momen kebersamaan mereka. Tapi ucapan Minho kemudian kembali membuatnya berubah pikiran.

“Kalau dipikir-pikir kenapa sejak dulu kau suka menganiayaku? Sekalipun kau tidak pernah bersikap manis padaku.”

Senyum yang sempat terukir di bibir Krystal langsung sirna. “Diamlah.” perintahnya. Perkataan Minho semakin merusak moodnya saja.

“Kau marah?” Minho berusaha menahan tawanya. Menurutnya sikap Krystal sungguh lucu. “Aku traktir es krim bagaimana?” tawarnya.

“Aku tidak mau. Aku sedang pusing, traktir aku soju.”

“Mwo?” Minho memekik tak percaya. Soju katanya? yang benar saja.

* * * * *

“Sudah Soojungie, nanti kau mabuk.” Minho mengambil paksa botol soju dari tangan Krystal.

“Anio, aku perlu soju untuk melupakan masalahku. Berikan..” Krystal hendak meraihnya kembali tapi Minho masih sigap menahannya.

“Punyamu sudah habis, yang ini punyaku. Kau tidak boleh meminumnya.” dan Minho justru membuang botol soju yang masih utuh itu ke tempat sampah. “Ayo kuantar pulang.” ajaknya.

Jelas Minho khawatir, terlihat sekali Krystal sudah mabuk. Hanya saja gadis itu masih bisa menguasai dirinya. Tapi jika dibiarkan meneguk soju lagi, tentu keadaannya akan lebih mengkhawatirkan.

“Aish, kau sungguh menyebalkan Minho-ya. Sekarang kau mengusirku? Yah, semua orang memang tidak ada yang mengerti perasaanku. Tidak ada yang peduli padaku.”

“Aku peduli padamu Soojung-ah. Aku juga sangat mengerti dirimu bahkan melebihi mengerti diriku sendiri.”

Krystal tertawa miris. “Bohong. Kau adalah orang yang selalu bertindak sesuka hatimu dan tidak pernah peduli pada orang lain.”

“Kenapa kau bisa menilaiku seperti itu?”

“Karena memang itulah Choi Minho yang kukenal.”

“Aku rasa kau sama sekali tidak mengenalku.”

“Ne, mungkin kau benar. Aku memang tidak mengenal seperti apa seorang Choi Minho. Karena jika aku mengenalmu, bisa saja aku jatuh cinta padamu.”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Lupakan.” tertatih Krystal menggeser duduknya. Ia bangkit berdiri. Dengan langkah sempoyongan ia hendak keluar dari apartment Minho ini.

“Tunggu Soojungie.” tapi Minho lebih dulu mencegahnya dengan meraih pergelangan tangan Krystal.

“Wae?”

“Jelaskan maksud perkataanmu tadi.”

“Sudah kubilang lupakan.”

“Tidak. Kau harus menjelaskannya.” Minho tetap ngotot. Ia menuntun paksa Krystal hingga duduk kembali. Sedang tangannya tetap mencengkeram erat tangan Krystal seakan takut kalau gadis itu akan lari.

Krystal menghembuskan nafasnya berat. Terlihat masih enggan membuka mulutnya. Dalam tingkat kesadaran yang tidak sempurna, jika terus bicara ia bisa saja mengatakan banyak hal di luar kendalinya.

“Jelaskan Soojung-ah?” desak Minho lagi. Mungkin ia akan terus penasaran sampai Krystal mau buka suara.

“Ne, aku memang pernah menyukaimu. Puas?” bentak Krystal sengit.

“Mwo? Benarkah? Kapan?” Minho terlalu senang rupanya hingga pertanyaan bertubi-tubi itu terlontar begitu saja.

“Saat SMA dulu, saat kau berhasil membawa tim basket menjuarai pertandingan tingkat sekolah, saat itu aku sempat menyukaimu. Tapi.. ”

“Kenapa ada tapinya?” sambar Minho kecewa.

“Tapi kemudian kau menciumku dan menjadikannya taruhan dengan teman-temanmu. Itu sangat keterlaluan.” pekik Krystal kesal. “Lalu setelah itu tanpa sengaja aku melihatmu menyatakan cinta pada Park Jiyeon. Kau semakin menyebalkan.” ia terus luapkan amarahnya.

“Soal ciuman itu?” Minho tersenyum sendiri mengingatnya. “Mianhae, itu kan hanya masa lalu Soojung-ah. Dan soal menyatakan cinta pada Jiyeon-ssi, itu juga taruhan. Tapi aku ditolak jadinya aku kalah.”

“Mwo? Aish, Minho-ya.” Krystal memekik geram. Ia raih saja bantal sofa yang ada disampingnya lalu memukulkannya pada Minho asal.

“Ah, kenapa kau memukulku?” seru Minho tidak terima.

“Kau pantas mendapatkannya.”

“Ya Tuhan, jika menikah nanti kau pasti akan sering melakukan kekerasan dalam rumahtangga padaku.”

“Siapa juga yang akan menikah denganmu?”

“Bukankah berkali-kali aku bilang kalau suatu saat nanti kita akan menikah? Sekarang lihat, Minhyuk-ssi bahkan meninggalkanmu tanpa pamit. Apalagi yang kau harapkan?”

Krystal terdiam. Kali ini Minho ada benarnya. Tapi tetap ada sisi dalam dirinya yang tidak terima. “Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus berharap padamu?”

“Kau bisa melakukannya kalau kau mau. Perlu kau tahu Soojungie, aku selalu serius dalam setiap ucapanku. Jika aku berkata aku mencintaimu, maka itulah kenyataannya.”

Krystal lekas mengalihkan pandangannya. Kali ini ia tak berani menatap mata Minho, entah kenapa.

“Kepalaku pusing, bisa antarkan aku pulang?” rupanya Krystal lebih memilih menghindar.

Dan kali ini Minho membiarkannya. Saatnya tidak tepat jika ia terus mendesak Krystal. Ia turuti kemauan gadis itu mengantarnya pulang tanpa berkata apapun lagi.

* * * * *

Krystal terus terdiam gusar memandangi pintu apartment Minho. Kenapa ia harus mendatangi tempat ini? Apa apartment ini ada magnetnya yang terus menariknya kembali?

Baru saja jemari Krystal hendak menekan kode apartment ini, tapi pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam. Choi Minho tersenyum sumringah begitu mendapati ia datang.

“Soojungie, aku kira kau tidak datang.”

“Ani. Aku hanya tidak sengaja lewat jadi aku mampir saja.” bohong Krystal, ia menerobos masuk begitu saja melewati Minho yang masih berdiri dipintu. “Bunga siapa ini?” tanyanya heran melihat banyak buket bunga tertata rapi diatas meja. “Kau mau buka toko bunga?” ledeknya.

Minho hanya tersenyum kecil sambil menyusul Krystal. “Untukmu.” ucapnya tenang.

“Untukku?” tanya Krystal ragu. Ia bergantian menatap Minho dan bunga-bunga itu curiga.

“Ne, aku memesan bunga-bunga itu untukmu.”

“Ini bukan ulangtahunku atau hari istimewa apapun, kenapa memberiku bunga? Aneh.”

“Ingin saja.”

Dan jawaban singkat Minho justru semakin membuat Krystal tak percaya begitu saja. Sepertinya Minho sedang senang karena suatu hal.

“Apa kemarin aku bicara yang tidak-tidak?” tanyanya khawatir.

“Kemarin kapan? Kemarin kan kita tidak bertemu.”

“Kemarin lusa waktu aku mabuk. Lupakan saja semua yang kukatakan saat itu.”

“Aku tidak ingat kau bicara apa.”

Krystal mendesah jengah. Daripada meladeni Minho yang membuatnya tambah pusing lebih baik ia nikmati bunga-bunga indah ini. Ia ambil buket mawar merah lalu mencium rangkaian bunga itu pelan. Sejak dulu ia memang suka bunga terutama mawar.

“Kemarin kau bilang mencintaiku Soojung-ah.” bisik Minho pelan.

“Apa? Jangan mengarang cerita. Aku tidak pernah bilang begitu.” teriak Krystal histeris.

“Kau kan mabuk jadi kau tidak ingat.”

“Aku hanya mabuk sedikit. Aku bilang pernah menyukaimu bukannya mencintaimu.” kata-kata Krystal semakin pelan. Ia tersadar kalau ia telah terpancing oleh omongan Minho. Sekarang ia justru mengaku sendiri, pabo.

“Ya, aku baru ingat sekarang. Kemarin kau memang bilang menyukaiku. Mianhae Soojungie, menyukai dan mencintai bagiku beda tipis.”

Krystal tahu Minho sengaja bicara seperti itu agar ia tambah kesal.
“Semua yang kukatakan itu tidak berarti apa-apa. Itu hanya masa lalu.” decahnya.

“Bagiku itu sangat berarti bahkan sampai sekarang. Dalam setiap kehidupan ada benang merah yang terus terhubung antara masa lalu dan masa depan.”

“Tapi aku sudah menentukan masa depanku sendiri.”

“Bersama Minhyuk-ssi? Aku masih berharap ada takdir yang mengikatmu denganku Soojungie. Aku mengenalmu jauh sebelum kau mengenalnya. Kita lihat siapa yang pada akhirnya memilikimu.”

“Aku tahu kau hanya main-main.” Krystal beralih memandang bunga-bunga didepannya.

“Kau tidak percaya padaku?”

“Ne.”

“Akan kubuktikan kalau aku serius. Lihat aku Soojung-ah.”

Begitu cepat Minho mendekap erat tubuh Krystal hingga gadis itu terhimpit disudut sofa.

“Orang yang saling mencintai akan bicara lewat hati dan pandangan mata.” bisiknya pelan. Ia terus menatap Krystal lekat.

Sanggup membuat Krystal termangu. Jarak Minho yang begitu dekat membuatnya tergugu. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Percayalah padaku, aku mencintaimu Soojung-ah.”

Krystal hanya bisa pasrah saat Minho semakin mendekatkan wajahnya. Nafas Minho yang lembut terasa begitu dekat. Hingga perlahan Minho mencium bibirnya hangat. Pelan namun kian terasa. Dan tanpa sadar Krystal mulai memejamkan matanya.

* * * * *

“Baboya Soojungie.” Krystal merutuki dirinya sendiri. Teringat akan ciumannya bersama Minho sungguh membuatnya frustasi.

Ini hari ketiga sejak kejadian itu. Dan tepat tiga hari juga Krystal tidak keluar rumah sekalipun untuk bekerja. Untung saja butik tempat ia bekerja milik sepupunya sendiri. Jadi ia tak segan untuk ijin dengan alasan sakit meski itu pura-pura.

Alhasil disinilah Krystal. Meringkuk didalam kamarnya sepanjang hari. Terduduk lemas diatas ranjangnya. Memeluk kedua lututnya sambil memandang buliran-buliran salju yang turun melalui jendela. Membosankan memang. Tapi mau bagaimana lagi. Ia sedang enggan menghadapi dunia. Terlebih menghadapi Choi Minho.

Apa efek ciuman Minho sedahsyat ini?
Bukan itu masalahnya. Bukan pada Minho, tapi padanya. Krystal menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Andai bisa, ingin sekali ia mencongkel otaknya agar bayangan Minho tidak terus bertahta disana.

“Minhyuk oppa.” gumam Krystal pelan. Berharap itu sebagai penawar kegilaannya saat ini.

Tapi nyatanya apa? Bukan Minhyuk yang memenuhi isi kepalanya sekarang, tapi Minho.

“Minhyuk oppa.” kali ini Krystal tidak sedang bergumam. Melainkan itu sebuah panggilan pada sosok disana yang terlihat melangkah pelan menapaki halaman rumahnya.

Apa itu benar Minhyuk? Masih belum percaya, tergesa Krystal beranjak dari kamarnya.

Sebuah senyuman tipis yang menyambutnya taktala ia menemui Minhyuk diteras rumahnya. Sedikit canggung rupanya. Begitu pula dengan Krystal, Minhyuk yang beberapa waktu lalu sangat ia rindukan sekarang ada dihadapannya. Tapi kini pikirannya justru sedang berpaling entah kemana.

“Aku hanya datang untuk mengucapkan selamat tinggal.” ucap Minhyuk pelan. Ada nada tidak rela yang sangat kentara.

Dan Krystal juga tidak siap. “Apa maksudmu oppa?”

“Aku akan pindah ke Busan. Perusahaan mengangkatku menjadi manager keuangan disana. Aku menerimanya karena aku ingin dekat dengan keluargaku.”

Krystal masih menganga tak percaya. Lalu bagaimana nasib hubungan mereka?

“Mianhae kalau aku tidak memberitahumu lebih dulu.”

Krystal berusaha tersenyum meski terkesan dipaksakan. “Bagaimana kalau aku ikut pindah ke Busan?” tawarnya.

“Kau seorang desainer Krystal-ah. Kau tidak akan berkembang jika ikut bersamaku ke Busan. Bukankah kau bercita-cita mempunyai butik sendiri? Kau akan segera mewujudkannya jika tetap berada di Seoul. Lagipula percuma ragamu ikut bersamaku tapi jiwamu tetap di Seoul.”

Krystal terdiam. Kalimat terakhir Minhyuk terasa menusuknya tajam. “Mianhae Minhyuk oppa.” hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Lagi-lagi Minhyuk hanya tersenyum getir. “Kau tahu? Aku memang sengaja menjauhimu. Aku sengaja menghilang untuk membiarkanmu berpikir. Aku tidak benar-benar dua minggu berada di Busan. Aku hanya tiga hari disana dan selebihnya aku berada di Seoul. Aku biarkan kau lakukan apapun sesuai kehendakmu. Dan sekarang, aku yakin kau sudah tahu apa yang benar-benar kau mau.”

“Aku mau bersamamu Minhyuk oppa.” bisik Krystal lirih.

“Anio, bukan aku tapi dia. Aku tahu yang kau lakukan beberapa hari ini. Kau terlihat nyaman bersamanya.”

Krystal terus tertunduk dalam. Ia seakan jadi seorang pesakitan yang tengah diadili. “Lalu bagaimana dengan pertunangan kita?” tanyanya terbata.

“Pertunangan hanya ikatan yang dibuat manusia. Sedangkan jodoh tertulis oleh pena Tuhan. Kita tidak berjodoh, aku bisa apa Krystal-ah?”

Krystal mengamati cincin yang tersemat di jari manisnya. Kenapa harus berakhir seperti ini?

Dan rupanya Minhyuk paham kemana perhatian Krystal berpusat. “Soal cincin, kau simpan saja. Anggap itu hadiah persahabatan dariku.” ujarnya.

Perlahan Krystal mendongak. Bahkan Minhyuk sudah tidak memakai cincinnya.

“Mianhae Minhyuk oppa.” mungkin beribu kali Krystal meminta maaf rasanya belum cukup. “Apa hubungan kita tidak bisa diperbaiki?” pintanya.

“Apanya yang diperbaiki? Hubungan kita baik-baik saja. Tapi hanya sebagai oppa dan dongsaengnya. Dongsaeng yang cantik, Soojungie.”

Tunggu, Minhyuk memanggilnya apa? Krystal terus meliriknya heran.

“Wae? Apa hanya dia yang boleh memanggilmu seperti itu?”

Krystal lekas menggeleng. Ia tidak mau suasana yang sudah mencair ini kembali kaku.

“Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri Krystal-ah. Memang ini yang terbaik.” Minhyuk bangkit berdiri. “Jaga dirimu, aku pergi.” pamitnya. Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya.

Dan Krystal tetap mematung memandang punggung Minhyuk yang kian menjauh. Saat sebuah hubungan yang sempat terjalin baik berakhir sia-sia tentu akan tersisa sesal.

* * * * *

Krystal mengedarkan pandangannya. Kenapa ia bisa sampai disini? Ia bahkan tidak sadar langkahnya sendiri yang membawanya kemari. Sekilas ia terpaku menatap gedung tinggi di hadapannya. Gedung apartment elite yang salah satunya milik Minho.

Harus Krystal akui, ia merindukan tempat ini. Terlebih merindukan penghuninya. Setelah tragedi ciuman itu, ia sama sekali tidak berhubungan dengan Minho meski hanya lewat telepon sekalipun. Bahkan setelah hubungannya dengan Minhyuk berakhir.

Ia butuh menenangkan diri. Putusnya pertunangan itu tidak mudah. Apalagi jika penyebabnya adalah ia yang berpaling hati.

Krystal tersenyum tipis kemudian kembali melangkah pelan. Masih belum saatnya ia bertemu Minho.

“Soojungie.”

Panggilan pelan itu sontak menghentikan tapakan kakinya.
Orang yang masih ingin dihindarinya itu justru berdiri terpaku disana entah sejak kapan.

Minho terus menatapnya sayu. Dan Krystal justru semakin menundukkan pandangannya. Ia seakan lebih senang menatap aspal dibawah daripada sosok Minho yang kini perlahan menghampirinya.

“Ayo masuk, diluar sangat dingin.” ajak Minho lembut.

Krystal terus membisu. Baru kali ini lidahnya terasa kelu saat berhadapan dengan Minho.

Tahu tak ada reaksi dari Krystal. Minho segera menggenggam jemari gadis itu dan menuntunnya masuk.
Dan Krystal hanya bisa menurut sambil sesekali melirik Minho disampingnya.

“Aku tahu hubunganmu dan Minhyuk-ssi berakhir.”

Baru saja Krystal menyesap capuccino hangatnya saat Minho berucap tiba-tiba. Segera ia taruh minuman ditangannya lalu menghembuskan nafas pelan. “Kau tahu darimana?”

“Dari ahjumma.”

“Eomma?”

“Ne.”

“Eomma bilang apa?”

“Minhyuk-ssi memutuskan pertunangan kalian dan memilih tinggal di Busan bersama keluarganya.”

Krystal tersenyum tipis. Alasan itu memang yang ia katakan pada ibunya. Dan sepertinya ibunya percaya. Ia sedikit lega sekarang.

“Ne, itu memang benar.” ucapnya pelan.

“Apa karena aku?” tanya Minho lirih. Melihat Krystal terus terdiam, ia tahu jawabannya iya. “Jadi benar Minhyuk-ssi memutuskanmu gara-gara aku?” ulangnya.

Krystal mengangguk pelan.

“Minhyuk-ssi benar-benar bodoh.” Minho terkekeh sendiri. “Dia sangat bodoh karena melepaskanmu begitu saja.”

“Dia tidak bodoh, kau yang bodoh. Minho pabo.”

“Aish.” Minho memekik tak percaya. Rasanya seperti dejavu dengan kata-kata Krystal barusan. “Kenapa kau membelanya? Jelas-jelas dia sudah memutuskanmu.”

“Minhyuk oppa memang tidak salah. Aku yang bodoh karena lebih memilih orang bodoh sepertimu.”

“Mwo? Coba ulangi perkataanmu tadi?” pinta Minho cepat. Ia ragu apa yang ia dengar tadi itu benar nyata.

“Tidak ada siaran ulang.” tegas Krystal, ia mendelik tajam kemudian berujar pelan. “Hubunganku dan Minhyuk oppa berakhir memang sudah jalannya seperti ini. Kami belum berjodoh.”

“Lalu apa rencanamu sekarang?”

Krystal menggeleng. “Aku tidak tahu. Mungkin aku akan lebih menyayangi diriku sendiri dan mementingkan karirku.”

“Apa kau akan berpikir untuk melajang selamanya?”

Krystal tertawa kecil. Pertanyaan Minho itu sungguh tidak masuk akal. “Ne, sepertinya aku akan menutup pintu hatiku untuk namja manapun saat ini.” ia berniat mengerjai Minho rupanya.

Tapi reaksi Minho malah diluar dugaan. “Bagus Soojungie, kalau perlu kau harus memasang gembok dihatimu.”

Apa maksudnya? Krystal semakin mengernyit bingung.

“Karena hanya aku yang punya kuncinya.” Minho menyeringai puas.

Krystal kalah telak rupanya. Kenapa jadi ia yang sekarang kehabisan kata-kata. “Anio, kuncinya sudah kubuang ke laut.” ocehnya asal. Ia tertawa sendiri menyadari pembicaraan ini sudah mulai ngawur.

Dan Minho juga sama. Ia ikut tergelak sambil mengacak rambut Krystal pelan. Sampai kemudian ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia terus mendekap hangat tubuh Krystal tanpa bicara apapun.

Cukup kaget Krystal sebenarnya. Tapi sedikitpun ia tak berontak ataupun menolak. Ia justru menikmati perlakuan Minho padanya. Baru sekarang Krystal sadari, ia begitu membutuhkan orang ini.

“Soojung-ah, kau tidur?” tanya Minho tiba-tiba.

Krystal hanya menggeleng pelan. Ia masih bertahan dalam rengkuhan Minho. Ia merasa nyaman rupanya.

“Sampai kapan kau akan terus memelukku seperti ini?”

Ucapan Minho itu kontan membuat Krystal segera menarik dirinya. Kenapa Minho harus protes? Bukankah ia yang memulai acara peluk-pelukan itu.

Menyebalkan. Kini Krystal terus cemberut kesal sambil menatap Minho tajam.

“Wae?” heran Minho. Krystal terus memandangnya, ia jadi risih sendiri.

Bahkan airmata mulai mengalir pelan dari kedua mata Krystal. Kini ia menangis.

“Soojungie, kau kenapa? Uljima.” Minho mulai panik sendiri.

Dan Krystal justru semakin terisak lirih.

“Apa aku salah bicara? Ani, aku tahu sekarang.” terka Minho, ia tersenyum penuh arti. “Sejak kecil kau punya senjata andalan senyuman malaikat dan airmata buaya. Aku tidak akan tertipu.” yakinnya.

Nyatanya kini Krystal semakin sesenggukan.
Apa perkiraan Minho salah?

“Soojungie, maafkan aku.” Minho menyerah, ia seka airmata Krystal dengan tangannya. Ia pandang wajah Krystal lekat. “Kau bukan anak kecil lagi. Lihatlah, kau sangat jelek jika menangis.” ledeknya. Ia rapikan rambut Krystal yang sedikit berantakan. “Saranghae Soojung-ah.” bisiknya.

Minho tersenyum tipis sebelum memagut bibir Krystal mesra. Tapi itu tak berlangsung lama, karena yang terjadi kemudian Krystal justru menggigit bibir Minho pelan.

“Soojungie.” protes Minho.

“Hahaha, itu hukuman untuk orang yang suka menciumku sembarangan.” Krystal tampak puas sekarang.

Berganti Minho yang cemberut jengkel. “Harusnya aku tidak tertipu lagi dengan airmata buayamu tadi.” sesalnya. “Berdarah Soojung-ah, kau harus tanggungjawab.” pekiknya kemudian.

“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Krystal bingung.

Minho terus menutupi bibirnya dengan tangan. “Bibirku berdarah, perih sekali.”

“Tidak mungkin.” Krystal berdecak tak percaya. “Aku menggigitnya pelan.”

“Tapi nyatanya berdarah, sakit Soojung-ah.”

Krystal terus menatapnya sangsi. “Coba aku lihat.” pintanya, ia hendak menyingkirkan tangan Minho tapi Minho terus mengelak. “Lihat Minho-ya.” paksanya.

Saat Krystal mendekatkan wajahnya. Secepat kilat Minho kembali menciumnya.

“Itu hukuman untuk orang yang berani mengerjaiku.” balas Minho.

Kali ini Krystal tak bisa marah. “Sudahlah, aku lelah. Ayo kita berdamai.” ajaknya.

“Baiklah, kita damai.” Minho mengambil jemari Krystal lalu menautkan kelingking gadis itu dengan kelingkingnya.

Krystal hanya tersenyum kecil dengan sikap Minho itu. “Kau sungguh mencintaiku?” tanyanya kemudian.

“Bukankah sudah seringkali aku katakan? Kau tidak percaya?”

“Anio, aku hanya ingin mendengarnya lagi.”

“Saranghae Soojungie. Saranghae, saranghae, saranghae.. ” Minho sengaja mengatakannya berulang-ulang.

Krystal berkaca-kaca samar. Kini berganti ia yang berhambur memeluk Minho. “Nado saranghaeyo.” bisiknya.

* * * * *

Seoul 2018 <<<<

Dua orang itu terus melangkah beriringan dengan tangan saling bertaut erat.
Upacara pernikahan yang baru saja usai. Dan kini sang pengantin justru kabur dari hiruk pikuk para tamu dan lebih memilih menikmati deburan ombak di pantai hanya berdua.

“Apa ini kutukan?” seru Krystal tiba-tiba. Ia terus melangkah sambil menyingsing gaun pengantinnya yang begitu panjang menyulitkan langkahnya.

“Mwo?” heran Minho. Ia yang juga masih mengenakan tuxedo lengkap terus menggenggam tangan Krystal sementara tangan kirinya membawa buket mawar putih.

“Kenapa pada akhirnya aku benar menikah denganmu? Apa ini kutukan?”

Minho terbahak sendiri mendengar ucapan Krystal itu. “Kau pikir aku nenek sihir yang bisa mengutukmu dengan sapu lidinya?”

Krystal ikut tertawa. “Anio. Hanya saja kenapa semua yang kau katakan jadi kenyataan. Apa ini sebuah kebetulan?”

“Bukan, ini rencana Tuhan. Karena setiap jiwa akan menemukan belahannya. Seperti aku yang menemukanmu.”

~ END ~


45 thoughts on “Soulmate

  1. aaaaarrrrrgggghhhhhh…………………
    Minho-ya, knpa jd tukang gombal???!!!!
    but, it’s nice story.
    suka banget sama alurnya, tidak ber-belit-belit n bahasanya bikin melayang.

    ditunggu ff minho selanjutnya!!!!!!!

    Like

  2. Keren thor! Suka ama nih couple,
    Walaupun pertamanya emang saling bertengkar eh akhirnya bahagiaa… Buat lagi ff yang bagus ya thor.. ^^

    Like

  3. ommo~ bagus bgt.
    feelnya bener – bener dapet.
    ikatan minho ma krystal terasa lewat rangkaian kalimat yg apik.
    Buat yg haesica dong author.

    Like

  4. huwaa…. *lompat ke pelukan kyuppa*

    bisa ya authornya mikir jalan cerita sekeren ini…bener-bener terharu bacanya…
    kata-katanya itu loh bener-bener bikin readers terhanyut suasana gitu deehh….

    cuma ada satu kata buat gambarin ff ini
    daebak! jeongmal daebak!!
    mewakili semua kesan pada ff ini pokonya!

    ga tau lagi deh harus ngomong apa lagi…pokonya ff ini keren banget!!

    Like

  5. Wahhh minstal aku suka couple ini ceritanya bagus banget runtut ngejelasinnya walaupun panjang banget tapi kasian minhyuk😦 endingnya keren🙂

    Like

  6. Keren thor!!!! Aku senyam senyum sendiri baca nie FF🙂
    2 jempol dah buat FF nie😉
    Author buat FF YoonBum dong, FF dngn pairing YoonBum sekarang udah langka banget😦
    MINSTAL JJANG!!!!😀
    Aku tunggu karya lainmu ya thor🙂
    Hwaiting!!!!😀
    #mianhe klw koment’a gak membangun

    Like

  7. sumpah keren bgt nih ff. apalagi pairing minstal……suka bgtttttt.
    alurnya bagus, pemilihan bahasanya juga enak….
    ampun deh, bener2 langsung terhipnotis ma ff ni.
    aku suka bgt karakter minho disini.
    satu kata buat ff ini “KEREN”
    buat ff minstal lagi yg sebagus ni!!!!fighting!!!!

    Like

  8. Kyaaa… Minstal!!
    Otp favorit aku ini >.<
    Walaupun aku bacanya telat sih ya -_-
    Ceritanya bagus , kereen deh
    aku aja sampe kebawa suasana bacanya
    Minho sih awalnya jg rese godain soojung trs tp ternyata sebenernya dia suka sama soojung kekeke~
    Suka sm karakter minho yg suka kepedean tp malah beneran jd nyata kata2nya
    Terus lucu gimana akhirnya soojung nyerah dan nerima takdir kl jodohnya emg minho haha

    Like

  9. sumpah demi apapun demi jadi pacarnya minho…ffnya keren banget..
    feelnya dapet, bacanya berasa kek nonton drakor ato film gitu..
    daebak banget deh thor..buat ttg minstal yg byk ya thor, salah satu couple fave’ku ne,hehe..

    Like

  10. so sweet bangettt !!!
    yaa ampuuuunn minstall ,, U.U
    buatin ff minstal lagi dong#ya ya ya ???
    ku tunggu ff minstal yg lain yaaa🙂
    semangatt kka !!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s