Please tell me you’ll stay


Author : Kin♥ aka Rekin

Main cast : Lee Hyukjae, Kim Hyoyeon

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship

Length : Oneshoot

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves.

Warning : Don’t be Plagiator and Siders.

Poster : Poster ini pernah dipake sama Dilla. Karena saya males buat poster jadi pake ini deh haha #plak

♥ Please tell me you’ll stay ♥

Annyeong~ Karena respon ff Hyohyuk yang kemarin bagus makannya aku buat lagi. Kalau misalnya makin jelek maaf ya T.T

Kalau belum baca yang There’s No one like u ini linknya >>  https://smtownfanfiction.wordpress.com/2011/07/29/theres-no-one-like-u-hyohyuk-ver

Jangan heran kalau nemu versi beda karena aku selalu buat 2 ver *ga selalu juga sih -_-

Tapi liat authornya yaitu sayaaaa *ribet ni orang -_-

Oke HAPPY READING ALL !!!

-Hyoyeon’s Pov-

Cahaya pagi matahari masuk melewati celah-celah jendela yang mampu membuatku merasakan kehangatannya. Matahari seolah menginginkanku untuk bangun lebih awal. Tetapi, tubuhku tak bisa diajak untuk berdiskusi. Aku masih terus tak berkutik diatas kasurku bersamanya.

Aku memandangi wajahnya secara singkat. Dia terlihat sangat damai saat terlelap seperti ini. Tak seperti saat ia membuka matanya. Saat itulah sifat yang ada padanya dapat kau baca dengan jelas.

Aku membuka mataku pelan. Memandangi wajah namja yang ada dihadapanku. Tanganku menelusuri  setiap inci wajahnya sampai ku berhenti dibibirnya. Aku merasakan detak jantung yang tak karuan.

“Kau tak ingin menciumku Hyoyeon?” tanyanya dengan mata yang masih terpejam. Membuatku reflek memundurkan tubuhku darinya.

Ya! Jadi dari tadi kau sudah bangun?” tanyaku terkejut yang mendapati ia berhasil memergokiku. Aku memukul lengannya dengan sekuat tenaga tapi karena kekuatan yang ia miliki memungkinkan ia tak bisa merasakan hantamanku.

“Kalau kau mau cium aku baiklah.” ucapnya dan dengan cepat ia menarik tubuhku ke pelukannya. Menuntun bibirku agar berhasil bertemu dengan bibirnya.

“Hmmpphh… lepaskan aku bodoh!” teriakku di sela-sela ciuman kami. Tapi bukannya melepaskan diriku. Dia semakin memelukku erat.

BRAAKK!

Suara decitan pintu yang terbuka secara paksa pun berhasil memberhentikan kegiatan gila Lee Hyukjae.

Appa! Eomma!” teriak namja kecil yang merupakan anakku bersama Lee Hyukjae.

Yah! Kenapa anak itu menggangguku saja sih? Padahal baru saja mulai,” desis Eunhyuk tapi aku menghiraukannya.

“Ya, Lee Eunhyo kesini nak!” teriakku sambil membuka kedua lenganku agar ia bisa masuk kepelukanku.

“Eunhyo, kamu ini tidak punya kerjaan ya?” tanya Eunhyuk sinis.

“Ih apaan sih appa? Pengen banget diajak! Aku kan mau sama eomma-ku yang cantik. Bukan sama appa yang̶̲” ucap Eunhyo panjang lebar namun aku berhasil membekap  mulutnya. Kalau sampai  ia ku biarkan pasti kedua namja yang kucintai ini akan beradu satu dengan yang lain. Hasilnya, aku akan membereskan rumah yang akan berantakan bagai kapal pecah.

“Kamu kenapa Eunhyo?” tanyaku sambil membelai rambutnya dengan halus. Kulirik Eunhyuk yang sedari tadi hanya memanyunkan bibirnya.

Inilah kegiatan kami! Eunhyuk selalu cemburu karena aku lembut dengan  anakku. Sedangkan dengannya aku akan bersikap cuek.

Eomma, aku lapar!” renggeknya manja sambil menarik selimut yang menutupi tubuhku.

“Yasudah, kamu main dulu ya sayang. Nanti eomma masakin.” hiburku padanya.

“Asik!” serunya dengan senyum yang mengembang di wajah inoccentnya.

“Tapi eomma! Cium dulu!” renggeknya lagi.

“Yah! Apa-apaan kau Lee Eunhyo? Itu kan jatah appa!” omel Eunhyuk pada anaknya itu. Aku hanya memandangi mereka yang selalu memperebutkanku.

“Yaudah, masing-masing dapat jatah. Adil kan?” leraiku pada mereka. Mereka pun menoleh kearahku dengan senyum kemenangan.

Kukecup dahi anakku. “Sudah kan Eunhyo? Yasudah sana main. Eomma mau mandi dulu,” perintahku padanya.

“Sip eomma!” ucapnya yang lalu berlari meninggalkan kamar kami.

Setelah Eunhyo pergi meninggalkan diriku, Eunhyuk menatapku dengan aneh. “Sekarang mana giliranku?” tanya Eunhyuk dengan tatapan tak berdosa.

“Giliran apa?” tanyaku dengan memasang wajah polos.

“Wah! Pengen banget dicium paksa!” ancamnya padaku. Aku pun langsung menutup mataku saat ia mendekati wajahku perlahan.

Appa! Ini sudah siang jangan ganggu eomma!” teriak Eunhyo dari kejauhan yang bisa terdengar sampai kamar kami.

“Dia itu anak siapa sih Hyo? Kok suka banget gangguin appanya sendiri?” ucap Eunhyuk dengan nada frustasi.

“Yah, anakmu lah. Hahaha,  Sudah cepat pakai bajumu Hyuk!” perintahku padanya.

—–

Yeobo! Kau masak apa?” tanya Eunhyuk yang tiba-tiba diselingi memeluk pinggangku erat.

“Apa itu penting Hyuk? Bukannya semua makanan yang ku masak kau akan memakannya dengan lahap?”

“Hahaha, Kau membuatku malu saja Hyo.” dia masih terus melingkarkan tangannya dipinggangku. Sekarang dia sandarkan kepalanya kebahuku.

“Kau tau Hyo? Aku tak bisa hidup tanpamu. Apa kau bisa hidup tanpaku?” tanyanya. Aku langsung menghentikan kegiatan memasakku dan mendengarkannya berbicara.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran yang tak mengerti ucapannya.

“Seandainya aku tak bersamamu, berjanjilah kau akan baik-baik saja.” dia pun merekatkan jari-jemarinya ke tanganku.

“Memangnya kau ingin meninggalkanku hyuk? Ayolah kau takkan pernah bisa lepas dariku! Karena hanya aku yang kamu cintai kan Hyuk?” jawabku dengan penuh percaya diri.

Aku mengkontrol emosiku untuk lebih tenang menghadapi Eunhyuk. “Aku memang takkan bisa pergi darimu Hyo-ah. Karena aku selalu ada disini.” dia pun mengarahkan tanganku dan tangannya menuju hatiku. Kulihat dimatanya tak ada satu pun tersirat kebohongan. Hanya ketulusan yang bisa kulihat disana.

“Aku akan selalu dihatmu Hyo ah. Saranghae Lee Hyoyeon.” dia mengecup pipiku lembut.

Saat itu buih krystal di pelupuk mataku siap jatuh. Mendengar ucapan tulusannya dan senyumannya membuat diriku bergetar.

Aku merasakan deruan nafas dileherku. Membuat diriku sedikit menggeliatkan tubuhku. “Hehe, kau menyukainya?” ledek Eunhyuk. Dia membalikkan tubuhku dan menatapku dengan lekat. Tuhan, aku sangat menyukai mata itu.

Aku menundukkan wajahku saat ia melihatku seperti itu. Dia meraih daguku dan mengarahkan bibirku padanya. Bibir hangatnya sangat membuatku tentram saat menyentuhnya.

Dia memojokkan diriku pada dinding dan mengunci diriku rapat hingga aku tak bisa pergi darinya. Dia terus mengecup bibirku dengan hati-hati. Menyapu bersih setiap jengkal bibirku. Desahan pun keluar dari mulutku saat ia benar-benar mempermainkanku.

Ia menggigit kecil bibir bawahku membuatku reflek membuka mulutku. Oh.. dan sekarang dia seperti bermain dengan rongga mulutku. Menguak semua isi disana.

Aku yang cukup terlena dengannya hanya bisa menurut saat ia melakukannya. Aku mengalungkan tanganku pada lehernya. Terus menekan kepalanya agar lebih dalam menciumku.

Saat deruan nafas kami yang bersatu mulai habis, ia mendonggakkan wajahnya menatap diriku dengan senyuman khasnya. Dia mengangkat tubuhku dengan kakiku yang melingkar dipinggulnya. Dia tempatkan diriku pada meja ruang dapur yang dekat dengan jarak kami.

Ia menatapku seakan meminta ijin untuk menyentuhku lebih dalam. Aku menjawabnya hanya dengan ciumanku. Kini, ia mengulum bibirku.

Bibirnya turun ke leher putihku. Membuat beberapa kiss mark disana. Aku hanya terus menjambak rambutnya saat aku merasakan basah akibat ciumannya dileherku.

Dia membuka celemek yang kupakai. Dan sekarang tangannya aktif melepasi setiap kancing tubuhku.

—–

Aku terus menekan tombol channel tv untuk mencari channel yang kuinginkan tapi sayangnya itu tak kudapatkan. “Hyoyeon!” teriak seorang yeoja dari luar. Membuatku langsung berlari menuju pintu rumahku.

Kuputar knop pintu dan terpampanglah seorang yeoja yang sudah sedari tadi berdiri di depan pintu rumahku. “Kenapa kau lama sekali Hyo ah?” serunya padaku. Aku hanya menyunggingkan senyumanku dan menggaruk tengkukku.

“Mianhae, Kau kesini tidak bawa apa-apa Yong?” tanyaku pada yeoja yang cantik ini.

Anio. Nih, aku bawa sesuatu.” ucapnya lalu munculah seorang yeoja kecil dan manis dari arah belakang tubuhnya.

“Jadi ini oleh-olehmu Yoong? Wah kyeopta!” seruku yang langsung menyambut anak kecil itu dengan cubitan dipipinya. Dia pun hanya bisa meringgis.

“Ya! Jangan sakiti anakku! Yang aku maksud ini.” jelasnya dengan menunjukkan kantung plastik yang penuh dengan makanan.

“Hahahaha, habis anakmu lucu sekali. Mirip sekali denganmu dan Donghae oppa.” ucapku membela diri.

Aku langsung menundukkan tubuhku agar bisa berbicara dengan anak manis ini. “Nama kamu siapa?” tanyaku.

“Lee Haeyoon Ahjumma,” ucapnya sambil menyambut tanganku dan tersenyum manis.

“Sudahkan kenalannya? Ayo izinkan aku masuk!” seru YoonA yang tak sabar menunggu.

“Baik-baik ayo masuk!” aku langsung mempersilahkan mereka memasuki rumahku.

“Kok sepi sih?” tanya YoonA yang pandangannya terus mengamati setiap detail rumahku.

“Iya soalnya Eunhyuk kan kerja kalau Eunhyo dia-”

Eomma, aku pulang!” seru Eunhyo yang berhasil memotong ucapanku. Dia langsung berlari kecil menghampiri dan memeluk tubuhku erat.

Eomma, itu siapa?” tanya Eunhyo sambil menunjuk tangannya kearah Haeyoon. Sementara Haeyoon hanya tersenyum manis. Membuat Eunhyo menjadi salah tingkah.

“Itu anak teman eomma. Kenapa? Cantik ya?” godaku. Eunhyo pun tersenyum malu. Haeyoon pun berjalan menghampiri Eunhyo yang sedari tadi bersembunyi dibelakangku.

Dia mengulurkan tangannya. “Lee Haeyoon imnida,” anak manis tersebut tersenyum manis dan menjabat tangan Eunhyo dengan erat.

“Lee Eunhyo,” jawab Eunhyo dengan  wajah yang bersemu merah.

“Haeyoon, ayo kita main!” ajak Eunhyo dan dengan erat ia menggengam tangan Haeyoon untuk bisa mengajak anak cantik itu bermain bersamanya.

Oppa, pelan-pelan! Tanganku sakit tau,” rintih Haeyoon karena Eunhyo terlalu kuat mencengkram tangannya. Eunhyo pun hanya bisa memasang wajah bersalahnya.

“Aku akan tunjukkan sesuatu untukmu Haeyoon!” ucap Eunhyo dengan gembira dan masih dengan menjabat tangan Haeyoon erat.

“Apa oppa?” tanya Haeyoon dengan mata berbinar. Terpancar dari matanya bahwa ia tak sabar dengan Eunhyo yang akan memberikan hal baru untuknya.

“Video koleksi appaku! Appa ku punya video bagus-bagus loh!” ucap Eunhyo dengan bangga.

Video? Video Appa? Jangan-jangan maksud Eunhyo video punya Eunhyuk? Kyaaaaaaa!! “Eunhyo! Jangan racuni anak manis itu dengan video appamu!” teriakku sambil mengejar Eunhyo sebelum terlambat.

“Video apa maksudmu Hyo?” tanya YoonA yang masih di tempatnya. Dia masih tak mengerti bahwa anaknya dalam bahaya.

“Masa kau tidak tau video apa yang dikoleksi Eunhyuk?” aku pun langsung menarik Haeyoon dari Eunhyo yang sudah siap membawa pengaruh buruk pada anak manis ini.

“What???”

—-

“Hyuk, apa kamu mengajarkan anak kita tentang video yadongmu itu?” tanyaku pada Eunhyuk seakan aku mengintrogasi dirinya.

“Sedikit kok Hyo,” sangkalnya dengan senyuman malu.

“Sedikit juga berpengaruh Hyuk! Kau merusak moral anakku!” teriakku di depan wajahnya dengan emosi yang memuncak.

“Hahaha, itu namanya pelajaran untuk masa depan Hyo! Itung-itung biar mahir gitu,” ucapnya yang masih membela dirinya dengan jawaban yang sepertinya sudah tak masuk akal.

“Kau benar-benar gila!” aku langsung memukulnya dengan bantal dan beranjak pergi darinya sebelum ia menghabisi diriku.

—–

“Ayo kita jalan-jalan Eunhyo!” Eunhyuk pun menggengam tangan Eunhyo dengan erat.

“Tumben appa baik ya eomma? Apa koleksi video appa menipis sampai ia tobat?” tanya Eunhyo dengan berbisik kearahku. Aku pun hanya menatap anak itu dengan tatapan dingin.

“Yah! Anak kecil jangan bicara seperti itu!” histerisku saat mendengar Eunhyo yang berbicara seperti itu. Itu pasti ajaran appanya.

“Kalian ini berisik sekali?” keluh Eunhyuk yang memandangi kami dengan tatapan curiga.

Eomma! Itu bukannya Haeyoon?” ucap Eunhyo dengan antusias. Terlihat senyum penuh bahagia merekah dibibir kecilnya.

Oppa!” seru Haeyoon serasa berlari menuju Eunhyo. Eunhyo pun langsung memeluk Haeyoon dengan erat.

Oppa kangen!” seru Haeyoon manja dengan memasang wajah aegyo miliknya.

“Sepertinya anak kita berjodoh ya Hyuk?” ujar Donghae oppa sambil memukul lengan Eunhyuk kecil.

“Aku tak mau anakku berjodoh dengan anak Eunhyuk, kalau anak Hyo masih bisa kuterima.” Jawab YoonA dengan memasang mimik dingin miliknya.

“Ya ! Dia itu kan anakku dan Hyoyeon Yoong! Dasar!” umpat Eunhyuk pada YoonA.

“Aku tak mau karena anakmu sudah mengajari anakku tentang kebiasanmu mengoleksi video yadong. Huaaaaa.. anakku tercemar.”  YoonA terus saja mengomeli Eunhyuk.

“Hahaha.. Ada gunanya juga kali Yoong. Buktinya hasilnya itu si Eunhyo, dia sangat tampan.” bela Donghae.

“Dasar namja aneh.” desisku pada dua namja dihadapanku. YoonA yang mendengarnya hanya menganggukan kepalanya tanda ia setuju.

Appa! Eomma! Aku main sama oppa ya!”  Haeyoon menarik-narik baju Donghae dan YoonA. Ia mencoba merayu kedua orangtuanya.

“Kamu jaga Haeyoon ya Eunhyo! Jangan berbuat macam-macam. Oke? Kamu anak eomma yang cantik bukan anak appa yang-”  aku terus menasehati Eunhyo.

“Ehm…” Eunhyuk berdeham dan menatapku sinis saat aku menjelekannya dihadapan anaknya sendiri.

“Sip eomma cantik!” seru Eunhyo serasa mencium pipiku. Eunhyo dengan sigap menggandeng tangan Haeyoon agar ikut bersamanya.

“Ayo kita naik kincir angin Hyo. Mumpung si Eunhyo tak mengganggu kita!” Eunhyuk pun langsung menyeret diriku dengan paksa. Aku hanya melambaikan tanganku kearah Donghae dan YoonA untuk berpamitan dengan mereka.

—–

Aku hanya memandang ke arah luar saat kincir angin ini mulai. Tak henti-hentinya aku memandangi pemandangan dari sini dengan kagum.

“Berhentilah menatap luar Hyo. Disini ada pemandangan yang lebih indah.” seru Eunhyuk dengan percaya diri. Dia pun mengarahkan daguku agar mataku berhasil melihatnya.

“Kau ini!” tak kusangka semburat merah terpampang jelas diwajahku. Dan kurasakan pipiku bersemu merah.

“Hyo ah!” dia memanggilku dan menggengam erat tanganku.

Waeyo?” tanyaku dengan ekspresi datar.

“Terimakasih sudah membuatku bahagia. Terimakasih sudah memberikan Eunhyo, anak itu merupakan anugrah. Terima kasih  sudah menjadi milikku Hyo.” ucapnya yang sekarang berlutut di hadapanku.

“Hyuk? Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kenapa aku merasa kau akan pergi dariku?” aku terus menatap sepasang bola mata miliknya. Terpancar perasaan cinta yang begitu dalam darinya. Kenapa kau melakukan ini padaku Hyuk?

“Aku sudah bilang padamu kan Hyo. Aku akan selalu dihatimu.” dia menyentuh pipiku dengan lembut. Ketulusan dan rasa nyaman yang kurasakan saat ini. Inilah yang aku benci ! Saat dia akan mengucapkan kata perpisahan.

“Jangan pernah pergi dariku Hyuk,” kini aku mengungkapkannya. Permintaanku yang cukup sederhana. Hanya itu yang kumau. Hanya disisinya yang bisa membuatku cukup untuk hidup.

“Terimakasih untuk kebahagian ini Hyo,” dia  menuntun wajahku untuk lebih dekat. Aku menutup mataku saat merasakan nafasnya berhembus di leherku. Saat bibirnya mengecup bibirku lembut, aku menangis. Inilah kebahagiaan yang kuinginkan. Aku ingin selalu bersamanya. Aku mohon, jangan katakan kau akan meninggalkanku.

—-

Aku memandang jam dinding yang terpajang di kamar. Ini sudah siang. Membuatku harus bergegas bangun dari tidurku. Aku memandangi Eunhyuk yang sangat damai berbaring disana. Ingin aku membangunkannya, tapi melihat wajahnya yang kelelahan membuatku tak tega.

Aku pun langsung menuju dapur untuk menyiapkan makanan. “Eomma ! Makanannya sudah siap?” tanya Eunhyo yang baru keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih belum sadarkan diri.

“Sudah kok sayang. Ini cepat habiskan makananmu.” Ujarku seraya menarik tangan Eunhyo menuju meja makan.

Appa mana?” tanya Eunhyo yang pandangannya terus mengitari ruangan ini. Dia cukup heran tak menemukan appanya yang biasanya akan cepat bangun saat mencium aroma masakanku.

Aku menepuk dahiku. “Oh iya! Appa masih tidur. Eomma bangunkan dulu ya.”

Betapa bodohnya aku melupakan Hyuk. Aku langsung beranjak dari meja makan dan menuju kamar.Ada apa dengan Eunhyuk? Tumben sekali dia tidak bangun saat mencium aroma masakanku? Kenapa dia masih tidur?

Aku  menghampirinya dan menyerukan namanya. “Hyuk ah!” pekikiku tapi ia tak menjawab. Posisi tidurnya sama seperti saat aku meninggalkannya beberapa menit yang lalu.

“Lee Hyukjae!” aku semakin keras membangunkannya. Ku guncang-guncangkan tubuhnya. Tapi, tak ada respon darinya.

Aku pun menyentuh tangannya yang terasa dingin. “Tuan Lee Bangunlah!” ucapku yang mulai panik.

“Ayo jangan bercanda denganku Hyuk!” kini suaraku semakin melemah, air mata menetes dipelipis wajahku. Aku menatap wajah pucatnya.

“Eomma, ada apa?” tanya Eunhyo yang tiba-tiba ada di depan pintu dan memandangiku yang sudah pucat ketakutan.

—-

“Hyukjae! Kumohon bertahanlah,” aku semakin menangis melihat Eunhyuk yang dibawa dengan kasur roda tersebut oleh suster-suster. Perasaan cemas dan khawatir terlihat jelas di wajahku. Rasa cinta dan perhatian yang selalu kusembunyikan tak bisa dielakkan lagi untuk disembunyikan lebih lama. Rasa ego ku mengalahkan rasa khawatirku padanya. Aku mencintainya, Tuhan. Tolong jangan bawa ia pergi dari hidupku.

Appa! Bangun!” Eunhyo masih mencoba membangunkan appa-nya. Benar-benar menyakitkan menjadi Eunhyo. Dia masih sangat kecil. Aku hanya mendesah, mengeluarkan nafas beratku. Haruskah anakku melihat ini?

Mianhae Agasshi, anda tak bisa masuk!” larang seorang suster saat aku ingin menemani Hyuk. Aku ingin berada disisi Hyuk. Apa itu berlebihan?

“Aku ingin menemani suamiku. Aku mohon,” ucapku dengan nada memohon. Benar-benar bukan diriku yang sesungguhnya. Tapi, ini demi Hyuk. Hilangkan egomu Hyo!

Mianhae, saya harap anda lebih tenang,” kini suster tersebut menghiraukan diriku. Menutup pintu ruangan Hyuk dimana ia akan dirawat. Aku mohon, tetaplah bertahan demi Eunhyo. Aku tak menginginkan dirimu bertahan untukku. Tapi, untuk anakmu Hyuk, anak kita!

To : YoonA

“Yoong, aku minta tolong.

Aku titip Eunhyo dulu. Aku harap kau mengerti”

Dengan cekatan aku mengirim pesan untuk YoonA. Aku berharap ia bisa membantuku untuk beberapa saat.

—-

Aku terus memandangi Hyuk yang tergeletak lemah. Seperti bukan dirinya yang kukenal. Hyuk yang selalu bertingkah bodoh kenapa hanya diam sekarang? Hyuk yang selalu menggoda diriku kenapa hanya bisa berdiam diri dengan damai? Hyuk yang selalu mengucapkan kata-kata berlebihannya yang menurutnya romantis kenapa hanya bisa membisu? Dan bibirnya yang selalu mengecup lembut dahiku saat pagi kenapa sekarang hanya diam dan pucat? Kenapa?

Aku menggengam tangannya yang dingin. Berusaha menguatkan dirinya. Berusaha menyadarkan dirinya yang tertidur. Dia hanya tertidur Hyo. Dia takkan meninggalkanmu. Percayalah pada janjinya.

            “Dia terkena penyakit Paraneoplastic Neurologic Syndromes

            Itu membuat sarafnya rusak. Ini lebih bahaya dari tumor.

            Aku tak tau sampai kapan ia akan bertahan.

            Tapi, itu takkan lama.”

Diagnosa dokter membuatku benar-benar lemah. Ucapannya  membuat badai dihatiku. Seperti bunga di pekarangan yang indah namun layu seketika. Seperti pelangi yang kehilangan satu warnanya. Seperti krystal yang kehilangan kilaunya. Seperti matahari yang kehilangan cahayanya.

Apa kau benar-benar menyerah pada diagnosa dokter hyuk? Apa kau benar-benar tak ingin melihat wajah cantikku lagi? Apa kau tak ingin membelai kepalaku mesra? Apa kau tak ingin melindungiku dengan kekonyolanmu? Apa kau tak ingin mengecup bibirku lembut? Apa kau tak ingin aku memberikan cintaku untukmu?

Aku ingin melihat wajah tampanmu Hyuk. Aku ingin memukulmu dengan penuh rasa cinta. Aku ingin membuatmu nyaman disisiku. Aku ingin memasak makanan kesukaanmu. Aku ingin mengecup bibirmu lembut. Aku ingin memberi cintaku padamu. Aku tak bisa bilang cintaku tulus Hyuk. Karena, aku sadar hanya cintamu yang tulus.

Bangunlah Hyuk! Jika kau bangun aku takkan membuatmu kesusahan lagi. Aku berjanji akan lebih manis denganmu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apapun. Tapi, bangunlah bodoh!

Seminggu kemudian

Eomma! Kenapa appa masih tidur?” tanya Eunhyo yang masih menatapi  Eunhyuk dengan selang-selang infusnya.

Oppa!” Haeyoon berlari menghampiri Eunhyo. Membuat senyum mengembang di wajahnya. Setidaknya Eunhyo masih bisa tersenyum. “Oppa, jangan sedih ya!” hibur Haeyoon seraya menggengam tangan Eunhyo. Malaikat kecil YoonA sungguh bisa membuat Eunhyo tersenyum. Eunhyo memang membutuhkan matahari dan matahari tersebut adalah Haeyoon.

“Yoong, gomawo,” ucapku seraya tersenyum kearah YoonA. Dia pun membalas senyumanku.

“Haeyoon, Eunhyo! Ayo kita makan! Kalian mau makan apa?” ajak YoonA pada anak-anak.

Eomma tidak ikut?” tanya Eunhyo seraya memandangku lemah.

“Kamu makan duluan saja ya, eomma masih kenyang,” dustaku. Eunhyo yang mengerti aku tak mau diganggu pun menurut.

“Jaga Appa ya eomma!” pesan Eunhyo seraya meninggalkanku dengan tersenyum. Aku akan menjaga Eunhyuk sampai kapanpun.

Aku terus memandangi Eunhyuk. Aku merasakan tangannya mulai bergerak. Tuhan, inikah jawaban dari doaku? “Hyo…” panggilnya dengan nada lemah. Aku tersenyum dan menangis mendengar suaranya. Suara yang sangat kurindukan.

“Kau menangis?” tanyanya dengan berusaha menghapus air mataku. Tapi, aku berusaha mencegahnya. Karena, tangannya masih lemah.

“Tidak, aku bahagia karena kau sadar. Aku kira kau akan meninggalkanku. Kau benar-benar jahat.”

“Kau merindukanku Hyo?” tanyanya tanpa memperdulikan kerinduanku dan kecemasanku.

“Aku takkan meninggalkanmu Hyo. Karena aku-” aku merindukan semua kata manismu hyuk. Entah kenapa aku benar-benar merindukanmu. Aku pun mengecup bibirnya. Menyampaikan semua rasa rinduku padanya. Hal ini lah yang membuatnya berhenti berbicara. Aku berhasil membungkam mulutnya sebelum ia berbicara terlalu menyakitkan.

“Kau akan selalu dihatiku…” ucapku yang meniru suaranya. Itu adalah kata-kata yang sering ia berikan untuk menghiburku.

“Ikhlaskan aku pergi Hyo. Aku mohon,” dia tersenyum dan membelai rambutku. Aku merindukan sentuhan hangatnya. Kau benar-benar meninggalkanku hyuk? Kau jahat! “Hyo…”, dia masih berusaha membujukku.

“Ya! Lee eunhyuk! Aku benar-benar tak bisa tanpamu. Aku tau aku terlalu dingin. Tapi, itu karena aku terlalu mencintaimu. Hyuk, aku tak bisa bila tanpamu.” kini aku menangis. Air mata telah mengalir deras di pelipisku.

“Aku berjanji akan menuruti semua kemauanmu!” kini aku semakin menggengam erat tangannya. Berusaha agar ia tak berbicara seperti itu.

“Aku mohon…”  dia semakin memohon untuk pergi dariku. Seperti suatu keinginan terakhir darinya. “Tapi, berjanjilah kau akan bahagia Hyuk!” kini hatiku mulai bisa mengikhlaskannya. Jika, ini keinginannya aku akan berusaha menerima. Bukankah cepat atau lambat sebuah pertemuan akan berakhir dengan perpisahan?

“Aku takkan berpisah denganmu Hyo. Aku mencintaimu,” ia mengecup dahiku lembut. Genggaman tangannya melemah. Matanya perlahan menutup. Detak jantungnya perlahan berhenti. Kau meninggalkanku Hyuk? Kau benar-benar meninggalkanku sendiri?

“LEE HYUKJAE!!!”

-Normal’s Pov-

Eunhyuk hanya memandangi Hyoyeon yang tertidur pulas di bahunya. Ia tak membangunkan yeojachingunya yang sudah berteriak sedari tadi. Dia hanya menikmati wajah indah Hyoyeon.

“LEE HYUKJAE!!” teriak Hyoyeon yang membuatnya terbangun dari mimpinya.

“Kenapa kau meneriakkan namaku?”tanya Eunhyuk yang memandang Hyoyeon tanpa dosa.

Hyoyeon memandang Hyuk dengan seksama. Memperhatikan setiap detail wajah Eunhyuk. Memastikan Eunhyuk memang dihadapannya. “Kau kenapa Hyo? Memang kau mimpi apa? Sampai berteriak seperti itu?” tanya Eunhyuk yang masih aneh pada tingkah Hyoyeon.

Hyoyeon pun menyadari semuanya. Yang terjadi padanya hanya mimpi. “Apa sedari tadi aku tertidur?” tanya Hyoyeon, dia memastikan dirinya memang bermimpi.

“Ne, Waeyo Hyo-ah?”

“Wah! Aku tau kau takkan meninggalkanku!” Hyoyeon pun berteriak senang. Tanpa sadar ia memeluk Eunhyuk dengan erat. Membuat Eunhyuk tersenyum kemenangan.

Hyoyeon pun sadar bahwa ia sedang memeluk Eunhyuk sekarang. “Lepaskan aku!” rintihnya dengan menyingkir dari pelukan Eunhyuk. Benar-benar yeoja yang aneh.

“Yah! Hyoyeon-ah kenapa berhenti? Padahal lagi asik!” ucap Eunhyuk dengan mimik kecewa. Dia benar-benar bahagia saat Hyoyeon memeluknya. Karena, Hyoyeon tak pernah melakukan itu.

“Jadi, semua itu hanya mimpi?” gumam Hyo dengan menatap langit di dalam hatinya ia bersyukur karena itu bukanlah kenyataan. Setidaknya melihat wajah bodoh Eunhyuk membuatnya lebih bisa hidup.

“Mimpi?” tanya Eunhyuk dengan menautkan dua alisnya. Terdapat tanda tanya besar di kepalanya.

“Aku bermimpi tentang….”

-Eunhyuk’s Pov-

“Paraneoplastic Neurologic Syndromes?” tanyaku dengan nada sedikit penekanan di semua kalimat.  Apa itu? Penyakit yang aneh! Kenapa Hyoyeon bisa kreatif membuat nama penyakit dalam mimpi ? Aneh.

“Aku juga tak mengerti penyakit itu,” jawabnya. Dia hanya mengangkut bahunya seolah-olah ‘jangan tanyakan aku karena aku tak bersalah’.

“Kenapa kau jahat sekali Hyo? Kenapa memimpikan aku akan meninggalkanmu?” tanyaku lagi yang penasaran dengan mimpinya. Dia bilang mimpinya benar-benar seperti kenyataan. Apa benar aku akan meninggalkannya? Tapi, jika itu memang benar aku takkan sanggup meninggalkan dirinya sendiri.

“Aku juga tak mau memimpikanmu bodoh!” ucapnya lagi. Benar-benar Hyoyeon yang kukenal. Dingin namun hangat. Menyembunyikan cintanya yang besar untukku. Bersikap cuek namun ia peduli.

“Tapi kau tak mau aku meninggalkanmu kan? Karena kau mencintaiku,” ucapku dengan menggengam tangan lembutnya.

“…” dia hanya terdiam dan tersenyum.

“Karena kau mencintaiku, cium donk!” ucapku seraya menunjuk kearah bibirku.

“YAH! LEE EUNHYUK!” dia pun memukul lenganku keras. Tapi, itu takkan terasa olehku karena tenaganya benar-benar payah.

-Hyoyeon’s Pov-

Aku mengambil pelajaran dari mimpiku. Jika seseorang yang kita cintai masih hidup kita harus bisa berusaha membahagiakannya. Karena, kita takkan tau kapan ia akan meninggalkan kita untuk selamanya.

“Aku mencintaimu Lee Eunhyuk!”  kini aku mengucapkannya. Kata-kata yang sering kupendam. Perasaan lebih untuknya. Perasaan istimewa untuk seorang Lee Eunhyuk.

“Apa kau mau mewujudkan mimpimu? Membangun rumah tangga bersamaku dan memiliki anak bernama-” dia mengeluarkan sebuah cincin yang indah. Dia melamarku?

“Lee Eunhyo.” jawabku. Dia tersenyum seraya memasangkan cincin tersebut ke jari manisku. Benar-benar indah.

“Aku bersedia untuk mencintaimu selama sisa hidupku.”

-THE END-

Selesaiiii hohohoho~ Siapa yang udah ketipu wkwkwk. Siapa yang udah mau nangis haha
*Kaburrr

Oke, gimana makin jelek? Atau menyedihkan -_- RCL wajib~


41 thoughts on “Please tell me you’ll stay

  1. Hehehe… FFnya keren loooh… Anaknya yadongers juga kayak appanya…

    PS. Mianhe Author. Aku mau tanya. Ff ini kayaknya udah pernah aku baca dimana gitu. Author udh lama ya nulis ini? Soalnya aku udh pernah baca and castnya juga sama…

    Like

  2. wah muncul lagi nih pairing yang satu ini..
    eh iya aku juga serasa pernah baca thor cuma castnya Jessica kalau gak salah bukan Yoona🙂 eh atau perasaan aja ya tapi aku suka thor, udah lama nih gak baca pairing ini lanjut bikin hyohyuk couple thor😀

    Like

  3. huaa .. pertama kukira hyukppa meninggal beneran, ternyata cuman mimpinya hyonie aja -__-

    syukur happy ending, kalo sad ending keterlaluan #PLAKK

    buatnya versi YoonHae dong chingu #readersadamaunya

    keren variasi nama-nama anaknya >< kalo hyohyuk = eunhyo trus yoonhae = haeyoon .. gak kepikir buatnya dari nama bapak dan ibunya *huahahah*

    pokoknya DAEBAK !!

    author hwaiting !

    Like

  4. ciaaaaaaat,, aku ketipu.. dah mengharu biru.. whuhuhu..
    tnyta mereka lom nikah y?! hyoyeon trlalu mnghayal niy kayanya.. mimpinya dah kemana” gtw… whe..

    Like

  5. Aih..keliru bgt.kukira tdi bener..trs akhirny bkal sad. Eh..tauny enggak,hahaa. Hyohyuk jjang!!
    Daebak Daebak!!
    Wuahh.akhirny bs bca ff tntg couple stu ini,setelah skian lma g bca..wkwk.udh ga tau mo komen ap lgi.
    Haha,buat lgi yaa..

    Like

  6. Huaaaaaa Author keren (y) … sempet nangis sih karena aku kira bakal sad ending tapi ternyata itu mimpi ..😀 # hahaahaha ketipu #
    syukur deh cuma mimpi …

    Like

  7. Haishhh udh ketipu sma authorny-_- tpi daebak bnget ff ny, kirain unyuk oppa meninggal bneran ternya cmn dalam mimpi hyo eonni aj-_-

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s