How Great Is Your Love part 1


How Great Is Your Love

(Chapter 1)

Author             :  Gisica (Gita Jessica)

Main Cast        :

  • Lee Donghae
  • Im Yoon Ah

Support Cast   :

  • Seo Joo Hyun
  • Cho Kyuhyun
  • Kwon Yuri
  • Yunho DBSK

Length             : Sequel

Rating             : General

Genre              : Romance

Annyeong chingu, ff ini author khusus persembahkan untuk sahabat author + dongsaeng author di Teen Generation (DC SNSD) YoonMin (Yoona Yasmin) saengeil cukhae worm yoong…. Gisica unnie buat ff ini dengan kerja keras, hujan badai dan berbagai hal lain. (hheee ngaco dah. Semoga suka yah worm yoong. Saranghae worm yoong). (Gisica unnie lagi ngerelain haeppa sama yoong nih… hihz hikz nangis dipelukan Heenim). Bukan cuma untuk YoonMin, author persembahin nih ff untuk para reader terutama para Pyrotehnnic (eh bener enggak nih tulisannya, hheeee). Oke deh liat aja yah………….

Author juga buat link vidio editannya, heheee

Please klik LINK

http://www.facebook.com/photo.php?v=305869166090346

 

~Yoona Pov~ (prolog)

            Menikah?? Haruskah secepat itu, namja itu tak aku kenal. Itu tampak menyakitkan untukku…. bersamanya bukanlah hal yang aku mau, aku ingin terbebas darinya. Dari dirinya, hidupnya, semuanya…. aku membenci pria itu.

***

 

 

Yoona tersedak ketika sedang menikmati sarapannya sebelum berangkat kuliah. Tiba-tiba saja Tuan Im ayahnya meminta dengan sangat kepada Yoona untuk mau menerima Lee Donghae sebagai calon suaminya. Lee Donghae adalah pemuda kaya raya, anak sulung laki-laki dari keluarga Lee. Yoona dengan mantap menolak mentah-mentah Tuan Im yang menurutnya sangat konyol, ia bahkan tak pernah tahu sosok Lee Donghae. Tuan Im tak bisa berbuat apa pun, Yoona terus menentang. Tetapi Yuri kakak perempuan Yoona, semakin  membuat Yoona sulit.

“Yoong, utang perusahaan appa semakin banyak. Belum lagi membayar gaji-gaji karyawan yang meminjam dana di bank, kau harus pikirkan itu.” Yoona masih dengan pendiriannya tetap menolak pernikahannya dengan Lee Donghae, ia malah menutup telinga dengan kedua tangan saat Yuri bicara.

“Yoona…. kau tidak sopan sekali, unnie kan lagi ngomong.” Bentak Yuri dengan suara cukup keras pada adiknya itu.

“Sudah Yul jangan terlalu keras dengan adikmu.” Tuan Im tak mau terjadi pertengkaran antara kakak beradik.

“Unnie, aku tuh nggak kenal dia. Lagi pula…” Yoona tak melanjutkan perkataannya, lidahnya seakan kelu saat ingin melanjutkan perkataannya. Ia teringat Kyuhyun kekasih tercinta yang kini tidak bersamanya lagi. Kyuhyun pergi ke Jepang melanjutkan kuliah, tetapi sebelum berangkat ke Jepang hubungan mereka seakan tak tahu rimbanya. (loh kaya lagu ayu ting ting, hehhe).

“Apa karena dia?” ucap Yuri seraya mengambil segelas air minum.

“Bukan!!” kilah Yoona, ia pun berjalan meninggalkan ruang makan. Belum sempat melangkah jauh Yuri kembali bersuara. “Lalu kenapa kau tidak mau menikah dengan Lee Donghae??”

“Menikah!! Haruskah dan kenapa harus aku. Bukankah unnie yang lebih tua dariku. Seharusnya unnie saja yang menikah dengannya. Bukan aku.”  Yoona kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti, namun Yuri kembali membuat Yoona menghentikan langkah panjangnya.

“Dia mencintaimu bukan aku, dia hanya ingin menikah denganmu.”

“Wae?? Aku, tapi………… sudahlah.” Inilah kebiasaan Yoona selalu saja tak pernah menyelesaikan perkataannya. Ia dengan mudah berbicara, tanpa tuntas.

“Yoona, benar apa kata kakakmu. Dia mencintaimu, sebab itu appa menyetujuinya. Dia pasti akan melindungi dan menjagamu dengan baik.” Tuan Im mencoba meyakinkan Yoona agar mau menerima lamaran keluarga Lee. Dasar Yoona yang sangat keras kepala. Ia malah pergi menuju kamar dengan mempercepat langkah, tanpa merespon ucapan ayahnya. Yuri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, seraya tersenyum simpul.

Di dalam kamar Yoona masih saja terus berkata-kata tak jelas seorang diri. Lalu dengan mudah, ia menghempaskan tubuhnya di ranjang tidur. Sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Sesekali ia terbangun dengan marah-marah, dan kembali menghempaskan tubuhnya dengan posisi telentang.

“Aish, kenapa appa dan Yuri unnie begitu ingin menikahkan aku dengan dia. Hufh…. tunggu, tadi unnie bilang namja itu mencintaiku. Memangnya dia mengenalku, tapi mungkin saja itu karangan unnie dan appa. Agar aku mau menikah dengan namja itu.” Yoona masih terus mengoceh-ngoceh, seraya menatap foto yang terpajang rapi di dinding. Foto dirinya bersama Kyuhyun saat masih SHS, mereka tampak mesra.

“Apa mereka tidak tahu, kalau aku kan masih pacarnya Kyuppa. Meski sudah tiga tahun berlalu, ia tak pernah memberi kabar apa pun.” Keluhnya dengan wajah yang semakin sendu.

“Apa kau masih mencintaiku Kyu oppa?” Yoona bertanya pada foto Kyuhyun, yang berada di kedua tangannya. Dan sangat mustahil foto tersebut akan menjawab. Dengan menyemangati dirinya, ia seolah-olah menjadi sosok Kyuhyun yang menjawab ucapannya.

“Tentu saja aku masih mencintaimu.” Ia juga sambil meniru cara bicara Kyuhyun. Yoona terus melakoni percakapan seorang diri.

“Benarkah oppa?? Tapi aku akan dinikahkan oleh orang yang tak kukenal. Apa kau akan datang ke sini dan membawaku pergi oppa.” Yoona masih terbawa suasana percakapan seorang dirinya. “Kau akan membawaku kan oppa?” tetapi ucapannya tersedat, Yoona malah terisak. “Apa aku bodoh, kau tidak akan kembali padaku.” Tanpa sadar air mata membasahi pipnya, ia semakin terlihat lemah.

_____

Kejadian tadi pagi membuat Yoona tertidur, bahkan ia sampai lupa berangkat kuliah. Kini hari semakin sore, matahari mulai menatap nanar. Rupanya Yoona cukup lama tertidur, Yuri yang tengah berada di kamar Yoona. Mulai mendekati adiknya itu, dengan lembut ia mengelus-ngelus rambut panjang Yoona yang terurai.

“Kau sudah dewasa sekarang dongsaeng unnie yang cantik. Unnie hanya ingin kau bahagia, dan unnie sangat yakin namja itu pasti akan membuatmu bahagia.” Perlahan Yoona membuka kedua matanya, ia terkejut mendapati Yuri berada di kamarnya.

“Unnie, kenapa ada di kamarku? Sekarang sudah jam berapa?” Yoona segera bangkit dari tidurnya.

“Aku hanya ingin memberikan ini, sekarang sudah jam 6 sore.” Yuri menyerahkan sebuah bungkusan dari plastik yang berisikan sesuatu.

“Waw jam 6, hah…. jadi nggak kuliah deh. Ini apa unnie??” ucap Yoona, seraya membuka bungkusan tersebut. Setelah di buka ternyata isinya sebuah gaun malam berwarna putih. Yoona sangat bingung, mengapa kakaknya memberikan ia gaun malam, sedangkan ini bukanlah hari spesial menurutnya.

“Kenapa memberikan aku gaun malam, ini bukan ulang tahunku kan?”

“Kau harus pakai itu.” / “Memakainya untuk apa? Apa unnie mau mengajakku ke pesta?” Yuri menggelengkan kepalanya. “Terus kenapa unnie kasih ini ke aku.” Yuri menggenggam tangan kanan Yoona.

“Waeyo unnie??” / “Nanti malam keluarga kita akan bertemu dengan keluarga Lee untuk membicarakan pernikahanmu dengan Lee Donghae.” Yoona dengan matanya yang besar, langsung melotot seketika.

“Unnie kenapa sih kalian ingin menikahkan aku dengan namja yang sama sekali nggak aku kenal. Aku tidak mau menikah dengannya, shirro!!!!!!!!” Yuri mengela napas panjang.

“Yoong, ini demi keluarga kita.” / “Soal utang perusahaan, kenapa harus aku kalian korbankan.”

Yuri mendekati Yoona yang menjauhinya, dan langsung memeluk adiknya itu. “Yoong, ini bukan seperti yang kau pikirkan… ini demi appa.” Pernyataan Yuri semakin membuat Yoona bingung.

“Maksud unnie?”

“Appa sedang sakit parah, sudah hampir lima bulan appa mengidap leukimia.” Sejenak Yoona terdiam, ia merasa tak percaya dengan apa yang Yuri katakan. “Unnie, tidak mengarang cerita kan??”

“Mana mungkin unnie mengarang cerita, kenapa kau mampu berpikir seperti itu. Appa ingin kau bahagia, dia ingin kau menikah dengan orang yang tepat. Dan buat apa, Lee Donghae adalah namja yang tepat untukmu.” Ucap Yuri tegas. Seakan ada sekat yang menahan tenggorokannya, Yoona hanya bisa terdiam tanpa bicara lagi.

“Yoong, unnie tak berbohong. Appa tak mau kau tahu tentang penyakitnya, itu karena dia tak mau kau bersedih. Dan Lee Donghae, namja itu berjanji pada appa akan melindungimu… sebab itu appa menyetujuinya.”

“Aku tak tahu unnie.” Air mata Yoona pun terjatuh dari wajah sendunya. Hanya sebuah kalimat pendek yang mampu ia ucapkan dari bibir tipisnya.

“Kenapa kau tak tahu, yang harus kau lakukan memenuhi permintaan appa.”

“Haruskah??” Yuri mengangguk yakin.

“Yoong kau itu adikku satu-satunya, aku tak akan memberikanmu pada seseorang yang tak mencintaimu…” belum sempat Yuri melanjutkan ucapanya, Yoona memotong pembicaraan. “Tapi aku tak kenal dengannya, apalagi mencintainya.” Yuri tersenyum manis.

“Dia sangat mencintaimu, unnie yakin kau akan bahagia bersamanya.”

“Kenapa unnie bisa menjamin hal itu.”  /  “Entahlah… kau yang akan menjawabnya.” Kata Yuri seraya mengangkat kedua bahunya.

“Aku??” Yoona tertegun, tak habis pikir. Yuri mampu membuatnya tamah bingung.

“Ya sudah, kau mandi sana. Pakai gaun ini dan juga tampillah dengan cantik. 30 menit lagi unnie ke kamarmu lagi.” Yuri segera melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar, namun ia kembali menoleh dan berbicara. “Satu lagi, jangan tampak seperti orang bersedih. Rahasiakan ini dari appa.” Yoona membalas dengan mengangguk dan tersenyum ketir.

____

Sepulu menit berselang, namun Yoona belum melakukan apa pun. Ia masih berdiam diri di ranjang tidurnya, sambil memegang gaun putih yang diberikan Yuri. Ia pun mulai menerawang kehidupannya. Yaitu bagaimana bayangannya dengan namja masa depannya, seperti apa sosok namja tersebut. Tetapi lamunannya harus terhenti, ketika suara Yuri yang berada di kamarnya sepuluh menit lalu menggema keras di telinganya. Suara yang sangat mengiris hatinya, tentang pernyataan penyakit Tuan Im.

“Kenapa perusahaan ayah harus punya utang, kenapa ayah juga harus sakit parah. Dan kenapa namja itu katanya mencintaiku….  kenapa aku harus berada dalam situasi yang teramat sulit seperti ini.” Pikirannya dihinggapi hal-hal yang sangat mendesak. Namun ia kembali menyadarkan dirinya dan mulai beranjak ke kamar mandi.

____

Dua puluh menit kemudian. Yoona sudah selesai berhias, dengan memakai gaun putih. Ia semakin terlihat anggun dan sangat cantik. Laki-laki mana pun yang melihatnya akan terpesona. Lalu kaki panjangnya melangkah keluar kamar, dengan diiringi senyum simpul. Tuan Im dan Yuri, tak hentinya memperhatikan penampilan Yoona.

“Appa dan Unnie kenapa melihatku terus.”

Yuri berjalan mendekati Yoona. “Yoong, kau sangat cantik.” Yoona hanya tersenyum.

“Wah, putri ayah sudah semakin dewasa dan sangat cantik.” Tambah Tuan Im memuji kecantikan Yoona. Lagi-lagi Yoona merespon dengan senyum manisnya.

“Appa, Yoona memang cantik. Tapi itu setelah aku.” Yuri menimpali dengan pujian untuk dirinya sendiri.

“Yasudah ayo kita berangkat.” Ucap Tuan Im. Mereka pun segera keluar dari rumah, dan menuju ke sebuah restoran.

___

Setibanya di restoran seoul, mereka segera masuk ke dalam restoran tersebut dan mencari meja nomor tujuh yang telah dipesan sebelumnya. Yuri dan Tuan Im tampak bersemangat, berbeda dengan Yoona. Ia masih memaksakan senyum, di tengah wajah sendunya.

Tak butuh waktu lama mereka mencari meja nomor tujuh. Di meja tersebut, terdapat dua orang pria dan wanita seusia dengan Tuan Im.

“Annyeong haseyo, Tuan Lee dan Nyonya Lee.” Tuan Im dan Tuan Lee saling berpelukan, mereka juga saling sapa dengan hangat.

“Annyeong haseyo, Tuan Im, Yuri, dan Yoona.” Nyonya Lee turut menyapa, ketika menyebutkan nama Yoona. Yoona tampak bingung harus berucap apa, dia memilih untuk menundukkan tubuhnya dengan sangat rendah (90 derajat).

“Tuan Lee, putra tampanmu mana??” tanya Tuan Im.

“Katanya agak terlambat, mungkin sebentar lagi sampai.” Jawab Tuan Lee.

Yuri menambahkan. “Pasti dia sangat sibuk yah??”

“Ya begitu.” Tuan Lee hanya membalas dengan singkat.

Sambil menunggu Donghae tiba, mereka mengobrol dengan asyik. Terkecuali Yoona ia sama sekali tak begitu menikmati suasana yang menurutnya sangat membosankan.

“Itu dia datang.” Tuan Lee langsung memberitahukan kedatangan Donghae. Semua penghuni di meja nomor tujuh, menoleh ke arah Donghae. Tetapi tidak dengan Yoona, ia masih menunduk. Kini bahkan semakin menunduk dan tentu saja ia tampak gugup.

_____

~Yoona Pov~

Apa?? Namja itu sudah datang, apa yang harus aku lakukan. Aku tak ingin melihat wajahnya, dia pasti tampak menakutkan. Tapi bagaimana bisa aku mengetahuinya, dia menakutkan atau tidak. Yuri unnie tampak bahagia sekali, apa mereka tidak memikirkan perasaanku.

“Semuanya, mianhae aku datang terlambat.” Deg… suara namja itu tak terdengar seperti seseorang yang berwajah sangar. Tapi suara kan bisa saja mengelabuhi.

“Kenapa menunduk, kau akan terlihat cantik jika wajahmu diperlihatkan.” Ucapan macam apa itu, huh sepertinya aku mulai sedikit menebak bagaimana wajahnya.

“Yoona jangan seperti ini.” Yuri unnie menepuk pelan lenganku, aku mengerti maksudnya.

Ketika aku mulai menaikkan wajahku untuk melihat kembali wajah-wajah yang berda di meja nomor tujuh. Suara musik yang sangat lembut berbunyi, langkah-langkah kaki dari meja-meja lain keluar. Mereka seperti berjalan ke suatu tempat yang sama, apa yang sedang mereka lakukan sebenarnya. Dan musik ini seperti musik dansa, alunan nada yang lembut serta hentakan kecil dari beberapa kaki. Terlebih lagi Yuri unnie dan appa pun tak ada di sini, mereka berjalan ke tempat yang sama dengan pengunjung yang lain begitu juga dengan Tuan dan Nyonya Lee. Apa mereka semua sedang berdansa, lalu apa namja itu juga sudah tidak ada di meja ini.

Musik dansa menghayut semakin mendalam, aku merasa lelah menundukkan wajahku seperti ini. Dengan berat hati kunaikan sedikit wajahku, aku terkejut di meja ini sudah kosong. Di mana namja itu, apa dia… hah… aigoo dia mengagetkan sekali. Sekarang dia berada tepat di hadapanku. Posisi tubuhnya menyeimbangiku duduk, dia memang tak begitu terlihat menyeramkan. Namun aku tak suka dengan tatapan matanya yang tajam, cara bicaranya… aku tak suka semua yang ada pada dirinya.

“Mau berdansa denganku?” ucapnya dengan nada suara yang dingin. Rasanya dengan melihat bagaimana ia bersikap, itu sudah sangat jelas di mataku. Ia bukan sosok laki-laki yang mampu menjaga seorang wanita. Terlebih lagi Yuri unnie begitu yakin kalau namja ini mencintaiku, bagaimana bisa? Tatapan matanya padaku, tak menunjukkan kalau ia mencintaiku.

Aku menjawab dengan menggelengkan kepala, sekarang aku sudah mampu mengangkat wajahku tidak menundukkan wajah. Kini aku hanya berdua dengannya, di meja nomor tujuh. Ia terus melihatku, aku benar-benar takut dengannya.

“Kau masih sangat cantik.” Oh ya? Kenapa ia berkata seperti itu. Apa dia seorang psikopat yang menyukai seseorang diam-diam dengan caranya sendiri. Tak habis pikir Yuri unnie dan appa akan menyerahkan aku ke tangan laki-laki bertampang angkuh.

“Aku sudah mengurus semuanya, jangan cemaskan apa pun.” Apa yang dia maksud sudah mengurus semuanya, dan memintaku agar tak mencemaskan apa pun. Aku tak mengerti, atau aku tak mau mengerti.

“Apa maksudmu?” rasanya untuk berkata seperti ini teramat sulit. Ia tertawa pendek, diringi dengan senyumnya. Aku tak suka tawa dan senyumnya, itu semakin memperlihatkan keburukannya.

“Ini tentang pernikahan kita.”   /   “Mwo??” aku menarik napas panjang, ia telah berucap sesuatu yang membuat kepalaku hampir copot (lebay amat ya).

“Shirro… aku tak mau menikah cepat-cepat. Butuh waktu untuk…” aduh!! Kenapa mendadak aku bingung berkata-kata.

“Aku sudah bilang tak usah cemaskan apa pun, aku telah menentukan semuanya. Bahkan hari pernikahan sudah kuatur.” Apa-apaan, kenapa ia seakan mengatur kehidupanku, ucapanku sama seperti angin baginya.

“Kapan??”  /  “Aku akan mengatakannya di depan keluarga. Tunggu mereka kembali mengisi bangku-bangku ini.”

Akhirnya musik dansa selesai, semua mulai kembali ke tempat masing-masing. Yuri unnie dan appa, Tuan dan Nyonya Lee mereka terlihat menikmati berdansa tadi.

“Benarkah Tuhan, aku harus menikah dengannya. Apa dia adalah takdirku untuk hidup menemaninya sebagai seorang istri. Ini begitu sulit kuterima, dia tak menunjukkan kesan yang baik padaku… apa yang Yuri unnie katakan tentangnya itu benar, aku sangat ragu.” Batinku tak henti berkata-kata.

~Yoona Pov End~

___

Mereka kembali pada niat awal untuk bertemu, Yuri dengan tenang memulai berbicara sebagai perwakilan keluarga Im. “Baiklah Tuan dan Nyonya Lee, serta Lee Donghae. Kita di sini untuk membicarakan pernikahan Yoona adikku dengan Lee Donghae, apa perwakilan dari keluarga Lee sudah memiliki tanggal yang tepat untuk pernikahan.” Perkataan panjang Yuri di jawab oleh Lee Donghae.

“Aku sudah menentukannya, pernikahan akan dilaksanakan besok.” Sontak mereka terkejut, banyak sekali ekspresi-ekspresi yang ditunjukkan. Yuri yang sedang meminum air, langsung menyemburkan airnya, Tuan Im, Tuan dan Nyonya Lee bergeming. Sementara Yoona, ia satu-satunya di meja nomor tujuh yang mengekspreikan dengan tertawa.

“Mwo?? Jangan bercanda.”   /   “Aku tidak bercanda, ini serius. Aku akan menikah denganmu besok, kau akan segera menjadi mikikku.” Jawab Donghae serius, semua yang ia katakan tak menunjukkan hal tidak serius.

“Tapi Donghae, appa dan umma kan belum menyiapkan apa-apa.” Ucap Nyonya Lee.

“Iya, kenapa secepat itu.” Tambah Tuan Im.

“Maaf sebelumnya kalau ini terkesan terburu-buru. Kalian tak usah memikirkannya, aku sudah mengurus semua. Tempat, baju pernikahan dan yang lainnya.” Mereka tak berkata lagi, tapi satu suara mendukung Donghae.

“Baiklah kalau ini sudah dipersiapkan dengan matang, di mana acaranya akan berlangsung.” Ini adalah suara dari Yuri yang langsung mendukung, tanpa bertanya-tanya seperti yang lainnya. Yoona tak mampu berbuat apa pun, percuma ia menolak ini pasti akan mempermalukan keluarganya di hadapan keluarga Lee.

Dengan tegas Donghae memberitahukan. “Tempatnya di Mokpo, gereja Song. Aku dan Yoona akan menikah di gereja itu, kalau tidak tahu tempatnya kalian bisa berangkat bersama dengan appa dan umma. Aku akan menunggu kalian, acara dimulai pukul 08.00 pagi. Maaf aku harus pergi, permisi.” Selesai berkata seperti itu Donghae langsung meninggalkan meja nomor tujuh. tak berapa lama melangkah, ia kembali menghentikan langkahnya.

“Satu lagi, tak ada tamu yang hadir. Hanya ada keluarga kecil, aku hanya ingin suasana khimad.” Dengan sigap ia pergi dari restoran.

Merasa tak enak hati dengan keluaraga Tuan Im, Nyonya Lee meminta maaf atas keputusan Donghae yang terburu-buru.

“Mianhae, kami akan berbicara lagi kepada Donghae. Ini terlalu cepat, kami akan berusaha membujuk Donghae.”

“Tidak perlu, kita akan datang besok. Kasihan Donghae, ia sudah menyiapkan semuanya.” Nyaris saja ucapan Tuan Im membuat Yoona terkujur lemah. Yoona berpikir ayahnya akan mengerti, tapi sebaliknya.

“Benarkah??” tanya Yuri senang.

“Ne, Yuri kita tak enak membatalkan semuanya. Yasudah kami pamit dulu, kita bertemu besok. Permisi Tuan dan Nyonya Lee.” Keluarga Tuan Im meninggalkan restoran, tapi Yoona masih tak terima dengan keputusan ayahnya.

“Kenapa appa memikirkan perasaan orang lain, kenapa ia tak memikirkan perasaanku juga. Aku ini kan anaknya, appa tak adil.” Batin Yoona terus memberontak.

___

Sesampai di rumah, Yoona masih tak berkomentar meski ia sangat kesal. Mereka mulai beranjak ke kamar masing-masing, kecuali Yuri yang terus mengikuti Yoona sampai depan pintu kamar.

“Unnie, kenapa kau terus mengikutiku??”

“Aku hanya memastikan kalau kau harus cepat tidur, besok kau akan menikah.”

Yoona menanggapi dengan tampang jutek dan melampiaskannya dengan membanting pintu dengan keras. “Ne, aku tahu!”

“Aish, jelek sekali sifatmu. Yasudah selamat tidur, mimpi yang indah.” Yuri berteriak untuk mengatakannya.

Di dalam kamar Yoona masih tak beranjak tidur, ia masih tak percaya bahwa besok ia akan menikah dengan namja yang tak ia kenal apalagi mencintainya. Dalam mata terjaga, suara ketukan pintu memecahkan keheningan. Yonna membuka pintu kamarnya, dan muncullah sosok pria paru baya yang memiliki hubungan darah yang kuat dengannya.

“Appa, kenapa belum tidur?? Ada apa?”

“Ya kenapa kau juga belum tidur?? Apa ingin berbicara padamu sebentar.” Tuan Im menuntun Yoona ke sofa yang berada dalam kamar Yoona. Dengan hangat Tuan Im menggenggam tangan Yoona.

“Jeongmal mianhae, appa tahu kau tak bisa menerima namja itu. Appa tahu pernikahan itu bukan hal yang main-main, dan ini aadalah perjanjian pada Tuhan. Tapi appa yakin kau mampu mengatasi semuanya, karena kau adalah Im Yoon Ah. Kau orang yang  kuat, appa ingin kau bahagia.” Yoona dengan haru langsung menghamburkan pelukannya pada Tuan Im, begitu juga Tuan Im yang tak bisa menahan haru. Usai berpelukan, Yoona melihat darah yang keluar dari lubang hidung Tuan Im.

“Appa, kenapa hidungmu mengeluarkan darah?” tanya Yoona dengan cemas.

“Gwenchana, appa hanya kurang tidur saja. Sebaiknya kau tidur.” Tuan Im mencium kening Yoona, dan keluar dari kamar Yoona.

Yoona tampak lemas dan tak berdaya. “Appa, kenapa kau harus sembunyikan penyakitmu. Baiklah jika ini yang membuat appa bahagia. Aku akan menuruti keinginanmu.”

___

Keesokan harinya. Yuri terus mengetuk pintu kamar Yoona, Yoona yang sudah bangun merasa terganggu dengan ketukan keras dari Yuri. Yoona segera beranjak ke pintu kamar untuk membuka pintu.

“Unnie, berisik tahu. Aku sudah bangun dari tadi.” Yuri malah tersenyum. “Oh, mianhae… aku pikir kau masih tidur. Yasudah cepat mandi, sebentar lagi kita berangkat.” Tetapi Yoona tak beranjak, ia masih diam di tempat.

“Hei, cepat! Kenapa malah diam.” Yuri mendorong pelan tubuh Yoona untuk masuk ke kamar mandi.

“Unnie, aku telah menuruti kemauan kalian. Bisakah sekali saja unnie mengabulkan pintaku??” ucap Yoona dengan memohon.

“Wae??”

“Aku ingin meminta izin pada Kyuhyun oppa.”

Yuri melipat kedua tangannya di atas dada, pandangan matanya pun semakin tajam. “Hah… Yoona kau sadar, kau sudah berpisah dengan dia. Tidak perlu meminta izin padanya!!”

“Anio, aku belum putus dengan Kyu oppa. Aku…” Yuri langsung menyanggah ucapan Yoona.

“Dia sudah meninggalkanmu, selama tiga tahun kepergiannya. Apa pernah dia memberikan kabar padamu, walau cuma sekali. Tidak kan! Dia tak memberitahumu agar kau menunggunya, apa itu masih disebut kekasih. Sekarang kau ingin izin padanya, apa kau tahu nomor teleponnya sekarang… tidak juga kan. Kau bukan lagi kekasihnya, lupakan dia. Kau hanya akan menunggu sesuatu yang belum pasti akan kau miliki. Maafkan unnie bicara seperti ini, unnie tak mau kau begini terus.” Yuri segera meninggalkan Yoona, setelah mendengar ucapan Yuri. Yoona merasa perkataan Yuri dapat diterima dengan akal sehatnya.

____

~Mokpo~

Seorang namja tengah sibuk sendiri memetik bunga matahari di ladang dekat gereja. Ladang yang cukup luas itu, ditumbuhi bunga matahari yang sangat banyak. Lalu datanglah seorang pastur mendekati namja itu.

“Kenapa kau lebih memilih sunflower dibanding rose??” tanya pastur bertubuh tinggi dan tegap.

Namja itu tersenyum dengan sangat manis. “Sunflower berhubungan erat dengan matahari. Begitu juga aku, aku seperti sunflower yang selalu membutuhkan matahari.” Pastur tersebut tertawa, lalu ia berkata lagi. “Apa dia adalah mataharimu??” namja itu mengangguk pelan.

“Oh, bukannya kau tinggal di seoul. Kenapa tidak  menikah di sana, di sana jauh lebih mewah dengan pesta di gedung. Gerejanya pun jauh lebih besar dan bagus.”

“Aku hanya ingin suasana yang lebih tenang, ibu dan ayahku menikah di gereja ini, aku pun terlahir di kota ini. Sekarang aku akan memulai suatu perjanjian dengan Tuhan, dan bagiku tempat ini yang paling tepat.”

“Begitukah. Semoga Tuhan mengabulkan keinginan tulusmu…” pastur tersebut segera meninggalkan ladang.

Tak berapa lama pastur itu pergi, terdengar suara ponsel yang berdering dari saku celana Lee Donghae. Donghae segera menjawab panggilan telepon jarak jauh dengan vidio call yang dipasangnya.

“Annyeong haseyo, oppaku sayang.” Suara lembut menyapa Donghae, dan itulah Seohyun adik satu-satunya yang kini kuliah di Jepang.

“Annyeong, Hyunie… kyaa kenapa kau tak datang, hari ini kan kakakmu menikah.” Donghae berpura-pura mengambek.

“Aish, kenapa kau seperti anak kecil oppa. Aku masih ada ujian yang belum selesai, nanti kalau ada waktu luang aku akan kembali ke Korea. Mianhae oppa aku tak bisa lihat pernikahanmu, tapi aku akan mengucapkan selamat buat pernikahan kakakku tersayang.” Seohyun tersenyum-senyum, namun ada hal yang membuat tubuh Seohyun tak berhenti bergerak. Seperti ada seseorang di sampingnya yang menggoda Seohyun.

“Seohyun, kenapa kau tertawa sendiri… kau sedang bersama siapa??” tanya Donghae yang curiga dengan sikap Seohyun, yang tak bisa diam.

“Akh, oppa aku sendiri kok.” Rupanya Seohyun berbohong kalau dia tak bersama seseorang.

“Benarkah?? Ngomong-ngomong kenapa kau tak pernah pulang, apa sekarang kau sudah punya namja chingu??”

“Ehmm….. gimana yah oppa?? Sudahlah nanti aku hubungi lagi yah…dah!!!” Seohyun segera mengakhiri telepon jarak jauhnya.

“Kya…. Seohyun….”

____

Tuan Im, Yuri, Yoona, Tuan dan Nyonya Lee akhirnya tiba juga… jam masih menunjukkan pukul 07.00. Yoona memperhatikan sekeliling suasana gereja yang sangat sepi menurutnya.

“Aku ingin menikah di gereja yang mewah dengan banyak tamu yang datang. Juga pasangan yang aku inginkan. Tapi semua hanya harapan, kenyataannya sangat berbeda.” Keluh batinnya.

Tak lama Yoona pun selesai dirias. Ia memakai gaun putih pendek, dengan rambut yang sengaja di urai. Lalu ia mulai keluar dari ruang hias yang berada di samping gereja. Tuan Im menuntun Yoona melangkah ke altar gereja. Kini perasaannya bercampur aduk, jujur ia masih tak bisa menerima semuanya. Yoona berusaha untuk tersenyum, meski senyum yang sangat memaksakan. Beberapa yang ada di gereja itu, turut bahagia menyaksikan pernikahan yang begitu sakral.

“Tuhan kuatkan aku, sebentar lagi aku akan hidup bersama namja ini. Sunflower?? Kenapa dia memakai bunga…” Yoona tak sadar, selama ia mengeluh dalam hatinya. Ia sudah berjalan sampai di hadapan pastur bersama Donghae yang berada di sampingnya.

Pastur mulai membacakan sebuah janji suci di hadapan Tuhan, Yoona dan Donghae tampak terdiam mendengar perkataan pastur.

“Di hadapan Tuhan, kalian akan berjanji seumur hidup menjaga tali suci pernikahan. Lee Donghae, bersediakah kau menjaga, mencintai Im Yoon Ah semur hidupmu di kala suka maupun duka.” Donghae dengan mantap menjawab. “Ya aku bersedia.” Kini pastur beralih ke Yoona, Yoona tampak gugup.

“Im Yoon Ah, bersediakah kau menjaga, mencintai Lee Donghae semur hidupmu di kala suka maupun duka.” Sekilas Yoona melirik ke arah Donghae. Ia terdiam sejenak, sampai pastur memanggilnya kembali dengan mengulang perkataan. Bahkan sampai kedua kali, Yoona masih berdiam diri. Namun ia melihat wajah ayahnya yang terlihat bersemangat, juga senyum manis kakaknya Yuri.

“Ya… aaaku… bersedia.” Ucapnya sedikit terbata. Mereka mulai menyematkan cincin. Keluarga kecil yang hadir segera memberi selamat dan saling berpelukan. Tak lupa berfoto-foto untuk mengabadikan moment yang penting. Lalu setelah bercanda-canda antara keluaraga, mereka mulai berpamitan pada pasangan baru ini. Yoona dan Donghae melambaikan tangan kepada keluarga mereka.

Usai keluarga meninggalkan gereja, kini di dalam gereja hanya ada pasangan baru yang masih berdiam diri.

Sekilas Yoona menoleh ke arah Donghae, di pandangnya sosok namja yang kini telah menjadi suaminya. “Inilah kehidupanku, aku harus memulai bersamanya… oh Tuhan kuatkanlah aku.” Batin Yoona yang semakin galau. Dengan cepat Donghae menuntun Yoona dan membawanya keluar dari gereja.

Di dalam mobil mereka berdua hanya saling diam, Donghae fokus dengan setirnya. Tak ada kata yang dilontarkan dari mulut masing-masing yang ada suasana hening bergelumat. Bahkan Yoona mulai berkhayal andaikan di sampingnya kini adalah Kyuhyun maka akan berbeda cerita. Suasana tak akan bergeming seperti yang ia rasakan.

Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di sebuah villa besar, villa tersebut milik Lee Donghae yang tak pernah ada seseorang mengisinya. Mereka berdua mulai masuk ke dalam villa tersebut. Jantung Yoona memompa lebih cepat dari sebelumnya, ia semakin gugup. Lalu Donghae menunjukkan sebuah kamar di lantai dua, kamar yang sangat luas dan tertata rapi.

“Masuklah, ini adalah kamar kita selama berada di sini.” Yoona memasuki kamar tersebut dengan langkah gontai.

“Apa kita harus tidur satu kamar??” entah apa yang baru saja diucap Yoona dengan asalnya.

“Ne, kita sudah menikah… kenapa harus berbeda kamar.” Cara bicara Donghae masih terdengar dingin dan angkuh.

“Oh, begitu.” Yoona kemudian membukam mulutnya.

_____

Malam harinya, cuaca begitu tak bersahabat. Hujan turun dengan deras, ditambah petir yang menyambar-nyambar. Dan angin bertiup dengan kencangnya, membuat seluruh tubuh kedinginan.

Di tengah dinginnya malam yang menusuk kulit, Yoona masih gugup bahkan lebih gugup dari sebelumnya. Ia hanya duduk berdiam diri di depan meja rias, sambil menatap dirinya di cermin.

“Im Yoon Ah, sekarang kau sudah lihat kehidupanmu.” Ia layaknya anak kecil yang berbicara sendiri di kaca yang menampakkan dirinya. Tanpa ia sadari, Lee Donghae mulai mendekatinya. Dengan mengelus lembut rambut Yoona, ia juga mengelus wajah mulus Yoona dengan pelan. “Rambutmu sangat lembut, sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya.” Ucap Donghae dengan gaya bicaranya yang dingin.

Sontak Yoona terkejut, ia hanya bisa menelan air liurnya mendengar Donghae berkata seperti itu.

“Apa yang akan dia lakukan padaku, kami memang sudah menikah. Tapi ini terlalu cepat untuk melakukan itu, apalagi aku tak mencintainya. Shiro!!” batin Yoona membeludak kesal. Ia segera menyingkirkan tangan Donghae yang berada di rambutnya, ia juga mulai berdiri dan beranjak pergi dari sisi Donghae. Namun hanya tiga langkah Yoona berjalan, Donghae dengan sigap menahannya dan memeluk Yoona dari belakang.

“Lepaskan aku!!” Yoona berusaha menyingkirkan lengan Donghae yang melingkar di perutnya dari arah belakang.

“Anio, kau mau kemana? Sekarang kau adalah milikku, kau tak akan bisa lari. Jadi menyerahlah!!” Donghae semakin membuat Yoona berontak keras.

“Kumohon jangan!!” Yoona masih tak bergeming, ia terus melepaskan pelukan Donghae. Tetapi segala cara tak akan bisa, tenaganya tak cukup kuat melampui Donghae. Kini Donghae semakin membara, ia seperti terhanyut dalam romansa yang membutakan segalanya. Bukan hanya itu, Donghae membalikan Posisi tubuh Yoona yang membelakanginya, dan kini mereka saling berhadapan. Yoona tampak takut, dengan usaha menghindarnya yang selalu gagal. Dengan memaksa Donghae mencium bibir Yoona, meskipun Donghae terus menolak. Tetapi Donghae mampu memagut bibir Yoona dengan sangat lama. (waduh author udah nggak beres, nggak apa-apa kan…. tenang bukan Yadong kok… heeheeee).

Setelah itu Donghae menarik tubuh Yoona dalam dekapannya, dengan usaha yang cukup keras ia menghempaskan tubuh ringan Yoona ke ranjang tidur.

“Oppa kumohon, aku tak mau melakukannya.” Donghae tak memperdulikan ucapan Yoona, yang terus berteriak dan berusaha melepaskan diri dari pegangan tangannya yang kuat. Ia terus melakukan sesuatu yang ia mau, sampai tiba saatnya. Sesuatu pun telah terjadi pada malam yang dingin itu. (Wkwkkwkk… author tak mau melanjutkan. Nanti malah jadi nggak beres dah.. cukup sampai di sini, selebihnya khayalan reader. Heheee).

____

Pagi hari yang cerah, matahari mulai menimbulkan cahayanya, dan kicauan burung-burung yang keluar dari sangkar terdengar merdu. Sejak kejadian semalam, Yoona tak henti menangis. Dalam gulungan selimut tebal, tanpa pakaian yang menutupi tubuhnya. Ia masih terisak, matanya pun mulai membengkak karena menangis semalaman. Ia seakan-akan seorang gadis yang direnggut paksa keperawanannya dengan seorang pria yang tak ada ikatan apa pun, padahal pria tersebut adalah suaminya sendiri.

Donghae yang usai mandi, mendekati Yoona. “Kenapa terus menangis, memangnya matamu nggak sakit. Cepat mandi, apa kau mau terus menutupi tubuhmu dengan selimut.” Setelah mengatakan hal itu, Donghae beranjak keluar dari kamar.

“Kau namja jahat!!!” teriak Yoona, namun Donghae tak menanggapinya.

Tak berselang lama, Yoona kini telah rapi. Tetapi ia masih terisak di kamar, tepatnya di ranjang tidur. Donghae mendekati Yoona, dengan membawa sarapan ke dalam kamar.

“Jangan menangis lagi yah, sekarang kau harus makan.” Ucap Donghae lembut, seraya menghapus air mata Yoona dengan tissu. Kini sosok Donghae yang dengan gaya bicaranya terkesan dingin. Mendadak berubah 360 derajat, Yoona pun merasa kaget dengan sikap Donghae. Tetapi ia kembali berpikir, bahwa ini siasat Donghae yang merasa menang telah memilikinya.

Donghae terus tersenyum manis, ia pun mulai menyuapi Yoona dengan bubur buatannya. Tetapi Yoona masih membukam mulutnya.

“Kenapa? Makan Yoong, nanti kau sakit. Buka mulutmu yah,” Donghae terus mengelus rambut Yoona dengan pelan dan lembut. Entah kenapa melihat senyuman dan tatapan mata Donghae yang tampak tulus. Membuat Yoona menuruti perkataan Donghae, ia membuka mulutnya perlahan-lahan. Satu suapan hinggap di mulut kecil Yoona, sambil terus menjatuhkan air mata. Donghae tak lelah menyuapi Yoona, seraya menghapus air mata Yoona.

“Kenapa dia bersikap seperti ini, sebenarnya bagaimana sosok dia sesungguhnya. Terlebih lagi dia memanggilku Yoong, panggilan itu hanya untuk orang terdekat. Aku tak mengerti dia.” Batin Yoona.

“Meski dalam keadaan menangis, kau tetap cantik. Ini untukmu, Yoong saranghae.” Donghae mampu membuat Yoona kembali terkejut, dengan ucapannya yang manis dan lembut. Serta setangkai sunflower pemberiannya, juga satu kata pernyataan cinta yang terucap dan ciuman hangat di kening Yoona.

Setelah menghabiskan sarapan, Donghae meminta Yoona untuk berbaring. Karena ia tahu Yoona belum tidur dari semalam.

“Yoong, kau tidur ya.” Yoona tak bisa menolak, karena ia tak punya tenaga lagi untuk menolak. Ia menuruti Donghae, Donghae dengan lembut menyelimuti Yoona dan mencium keningnya. “Kau tidur yang nyenyak, jangan pikirkan apa pun.” Donghae meninggalkan kamar, dan Yoona sudah mulai tertidur.

____________

*Teaser Chapter 2*

 

~Donghae Pov~

Tetaplah bersamaku, dan jangan tinggalkan aku. Aku ini hanya bunga matahari yang selalu membutuhkan cahayamu, kau hidupku, nyawaku, dan segalanya. Bisakah kau ucapkan satu kata yang aku inginkan………………………..

~TBS~


47 thoughts on “How Great Is Your Love part 1

  1. gyaaaaaaa.. author daebak!
    donghae oppa nya so sweet🙂 sumpah dari yang dingin ampe peduli banget ama yoona eonni.. hyaaaa #mimisan
    semoga selanjutnya yoona eonni bisa luluh ama donghae oppa.
    update soon min ayooo ayooo aku tunggu part 2nya

    Like

  2. siapa tuh yg lagi sama seo? kyu kah?
    duh hae tuh sifat aslinya gimana sih? awalnya dngin,kok tiba2 lembut??
    jangan2???*abaikan.. -.-
    lanjut thor!!

    Like

  3. Wooooow daebaaaaak….

    Waaah itu psti seokyu dh di jepang, ni yoonhae dr mles jd dmen dh ntiny heheheee..

    Ditunggu part slanjutny chingu, hwaiting..

    Like

  4. Wow~ It will be so great!! ^^
    Walaupun merasa aneh juga dengan rencana pernikahan yang diusulkan Hae terlalu terburu-buru, jujur itu terlihat terlalu tergesa-gesa dan nggak masuk akal. Maaf, maaf banget, nggak ada maksud bashing.
    Cuman itu aja sih yang ngganjel, selebihnya keren kok!🙂
    Cannot wait for the next chapter!! Semangat, Author, bikin lanjutannya! ^^

    Like

  5. lanjuuuut thooorr😮

    penasaran banget sumpah ga bo’ong ._.v
    penasaran sama sikapnya donghae, penasaran sama siapakah dan dimanakah kyuhyun *halaahh*
    oya thor, kyuhyun lagi di jepang yee? Ama si seo? Bener kaga sih? Aish penasaran ><

    Lanjutannya jangan lamalama okeh?😀

    Like

  6. huaa yoonhae xD
    udh si yoon lupain aja kyu
    udh ada hae yg mencintaimu
    kaya pula xD
    wah itu seo jadi adek’a hae??
    itu jgn” yg lagi sama seo itu kyu ya??
    tuh kan udh yoon paskan??
    yoonhae seokyu jadinya xD

    Like

  7. keren keren!!!^o^
    aq suka,😀
    btw,annyeong,aq reader baru,vanya imnida, 12 y.o,salam kenal,hehe
    oh yah,aq tebak yg bareng seo tu kyu,haha#sotoy
    tu hae oppa sebenernya dulu sapanya yoona eonni sih??kq kayaknya hae oppa kenal amat ma yoona eonni,hmm…temen kecil yah?hehe
    aq tgu next part,a😉

    Like

  8. lanjut chapter 2 ya thor~~ yoonhae❤ kyuna❤ hae keren bgt ya! eh eh tp pernikahannya cepet amat yak! ga apalah hae nikah sm yoong kok🙂
    ceritanya seru thor! kyaaa ga sabar chap 2 nya❤

    Like

  9. Wahhhh… Suka sekali sama jalan cerita fanficnya… Apalagi ada YoonHae.. Couple favorit aq..

    Daebak… YoonHae Daebak…
    Jangan lama-lama di update lanjutannya ya thor… Semangat….

    YoonHae,, Fighting..😀

    Like

  10. wahh.., donghae pke sistem mksa tuch oonie
    pda akhir ny yoong luluh jga,
    namjachingu ny seo itu kyu kn, onnie???
    ak b’hrp happy ending
    #amiiin

    the next chapter d tnggu, onnie
    fighting!!!

    Like

    1. Lanjut thor~
      Oh iya, keren ih pict nya !
      Itu asli.? Apa editan.? Keliatan nya kayak asli~
      Tapi aku ga pernah liat mereka berfoto kayak gitu deh.?
      Bener bener keren ngedit pict nya !🙂

      Like

  11. Huaa .. Suka bgt cerita nya ..🙂

    Itu,,Hae oppa kenapa dingin bgt??
    Kayak nya,,Hae oppa bkal kerja keras deh buat lu2hin hati Yong eonni ..

    Ah,,DAEBAK bgt deh ..
    Aku ngacir part selanjutnya dulu ..
    Gomawo author udh buat FF YoonHae ..

    Like

  12. Jadi penasaran sama sikap donghae
    Seakan2 dia memperlakukan yoona seperti dia sudah kenal lama
    Jgn2 dia sudah kenal yoona tp yoona yang gk kenal sama donghae..
    Dan donghae sudah cinta sama yoona udah lama..
    Dan yang membuat donghae pengin cpt2 nikahain yoona
    Supaya yoona gk sama orang lain.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s