I’m not aware if I love you [1]


I’m not aware if I love you [1]
Author                  : Hyomin0301
Cast                       :
·         Lee Donghae
·         Min Hyesung
·         Sunye
·         Kim Junsu (JYJ)
·         Lee Sungmin
·         Han Jihye
·         And other cast
Genre                   : Romance, sad.
Disclaimer           : All cast belongs to him/herself. Lee Sungmin and the story is mine! ^^v
Back Song            : Super Junior – Y
                Annyeong~ Ini FF sad story kedua aku. Nggak tahu kenapa lagi seneng bikin FF yang sedih-sedih hehehe. Jujur, FF ini terinspirasi sama FF salah satu chinguku di FB yang FF-nya sering aku baca ^^. Maaf kalau feelnya nggak dapet, karna aku masih belajar. Untuk itu saran dan kritik readers aku butuhkan. Ok Happy Reading J
Maafkan aku menduakan cintamu,
Berat rasa hatiku tinggalkan dirinya.
Seandainya bila ku bisa memilih…
-Ungu – Demi Waktu-
Donghae pov
“Oppa!” Hyesung langsung berdiri saat melihatku memasuki ruangan yang berada di Handel & Gretel  dimana kami biasa bertemu tanpa diketahui para ELF.
“Kau sudah lama? Mianhae oppa lama ya.” Aku langsung menghampirinya dan mengecup puncak kepalanya, seperti biasa yang kulakukan setiap kali kami bertemu dan langsung menarik kursi yang ada di hadapannya lalu duduk diikuti olehnya.
“Anieyo, baru saja. Kau pasti lelah oppa, kita tak perlu setiap hari bertemu kan? Kau kan sangat sibuk. Apa tak lelah setiap hari harus meluangkan waktu untukku?”
“Aiish Hye-yaa, kau ini yeoja chinguku. Bagaimana mungkin aku tak meluangkan waktuku untukmu. Memangnya kau tak senang melihatku setiap hari?” dia terkekeh mendengar kata-kataku tadi. Aiish, ada apa dengannya.
“Ne oppa, tentu saja aku sangat senang melihatmu setiap hari. Tapi kau pasti lelah, aku tak mau kau jadi sakit. Jika keadaannya tak memungkinkan jangan memaksakan diri lagi. Arraso?” Ia tersenyum dan memperlihatkan dimple di pipinya itu. Aku mengangguk, senyumannya yang tulus itu mampu membuat hatiku berdesir dan hanya terpaku padanya seorang. Aku menatap matanya yang teduh dan menemukan sebuah ketulusan disana. Betapa beruntungnya aku dicintai yeoja sebaik dan secantik dirinya.
“Arraso yeojaku yang bawel!” aku mencubit pelan pipinya yang cukup chubby itu. Ia meringis dan mengusap pipinya.
“Cepat makan makananmu itu oppa, nanti keburu dingin.”
“Kau tak makan?” kuperhatikan hanya ada satu porsi jajangmyun di meja kami, dan itupun ada di hadapanku sekarang.
“Ani, melihatmu makan saja aku sedang kenyang.” Candanya.
“Yaaa aku serius hye-yaa. Aku tak ingin kau sakit. Ayo cepat buka mulutmu, aaaa….” Dengan sedikit terpaksa ia membuka mulutnya agar jajangmyun yang kuarahkan ke mulutnya dapat masuk seluruhnya.
“Kau juga makan oppa.”
“Ne chagiyaaa~” aku mengambil sepotong jajangmyun dan mengarahkannya ke mulutku sendiri.
“Setelah ini kau ada jadwal apa lagi oppa?”
“Aku akan ke studio KBS untuk syuting Strong Heart. Hmmm….. disana ada Sunye, hye-yaa. Mianhae.”
“Mwo? Mianhae? Untuk apa? Untuk syuting bersama Sunye? Tentu saja aku tak marah oppa. Itukan memang pekerjaanmu. Aku percaya padamu.” Di akhir kata-katanya ia kembali memperlihatkan sorot matanya yang teduh dan dimple indah di pipinya. Ini semua mengingatkanku dimana ia selalu di sampingku saat keadaanku sangat menyedihkan karna Sunye yang tiba-tiba saja memutuskan hubungannya denganku. Hyesung selalu menemaniku di saat aku menangis, mendengarkan seluruh keluh kesahku dan berusaha menghiburku agar tak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ia lebih memilih aku yang cengeng dan rapuh ini dibanding dengan Junsu hyung yang kuketahui sejak dulu menyukainya. Dan seperti yang dapat dilihat sekarang, usahanya berhasil dan perlahan aku bisa melupakan Sunye walaupun tak kupingkiri aku masih memiliki perasaan pada Sunye. Ia ada disaat aku senang dan sedih, ia selalu mengerti sifatku yang dengan mudahnya berkata-kata manis pada orang lain. Memberiku kepercayaan sepenuhnya dan percaya jika aku tak akan mengkhianati kepercayaan yang ia berikan padaku. Tuhan, jangan sampai aku menyakiti yeoja setulus dia.
“Gomawo sudah percaya padaku.” Aku mengacak-acak pelan rambut ikalnya yang dikuncir poop yang semakin memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Ia hanya tersenyum tanpa membalas perkataanku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
                Aku baru saja ingin menuju mobilku setelah selesai syuting di KBS saat kudengar suara seseorang memanggilku.
“Donghae-ah…” Aku menoleh ke arah sumber suara yang memanggilku yang aku yakini sebagai suara Eunhyuk hyung.
“Wae hyung?”
“Ada yang ingin bicara denganmu. Ia menunggumu di studio 7.” Eunhyuk hyung menepuk bahuku lalu berlalu melewatiku.
“Nugu?”
“Kau lihat saja sendiri.” Ia melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arahku lagi. Aiish, siapa sih yang ingin bicara denganku. Kenapa tak langsung bicara saja? Karna penasaran kuputuskan untuk segera ke studio 7 yang Eunhyuk hyung katakan tadi. Aku membuka knop pintu studio 7 dan memasuki studio 7 yang tampak remang karna hanya ada sebuah lampu kecil yang menerangi ruangan yang cukup besar ini. Tapi aku masih dapat melihat dengan jelas sosok yeoja yang sangat amat kukenal itu. Dia menghampiriku dan membungkukkan badannya padaku.
“Annyeong oppa, bagaimana kabarmu?”
“Annyeong Sunye-ah, aku baik. Bagaimana denganmu?” tanyaku balik padanya sembari menyandarkan tubuhku di dinding.
“Aku…..tak terlalu baik.”
“Waeyo? Apa kau sakit?” ada rasa khawatir saat ia berkata keadaannya tak terlalu baik. Baaimanapun aku dan dia pernah menjadi sepasang kekasih.
“Aku… merasa menyesal  sudah memutuskan hubungan kita secara sepihak. Aku masih mencintaimu oppa, begitupun denganmu kan? Aku tahu kau masih mencintaiku.” Mwo? Dia bilang menyesal? Benarkah yang kudengar ini? Sunye menyesal sudah meninggalkan aku?
“A-apa maksudmu Sunye-ah?” kali ini aku menatapnya yang juga tengah menyandarkan tubuhnya di dinding dan berada disampingku. Kuperhatikan setiap inchi bagian tubuhnya, rambut indahnya yang sekarangg tengah tergerai indah, matanya, hidungnya, bibirnya dan keseluruhan dari dirinya tak ada yang berubah, masih sama seperti beberapa saat yang lalu aku melihatnya.
“Aku masih mencintaimu oppa, aku ingin kita mulai dari awal lagi hubungan kita. Aku ingin kita seperti dulu lagi, menjadi sepasang kekasih. Kau… mmm mau kan oppa?” ia sedikit menunduk saat mengucapkan kata-katanya, entah apa yang menarikku sehingga aku menghadapnya dan kubalikkan badannya agar menghadapku hingga kami berdua saling berhadapan sekarang. Matanya memandang dalam padaku, sorot sedih terpancar di dalamnya.
“Aku masih mencintaimu, tapi Hyesung……..”
“Aku tahu ia selalu ada di saat kau sedih ketika aku meninggalkanmu. Aku tahu kau berhutang budi padanya oppa. Aku bisa mengerti.” Ia memotong perkataanku sebelum aku menyelesaikannya. Aku berhutang budi pada Hyesung? Tentu saja. Tapi apakah hanya itu?
“Kau tak mau kembali padaku oppa?” kulihat air mata mulai membasahi wajahnya. Ah, babo Lee Donghae! Kau membuatnya menangis.
“Uljima Sunye-ah, kau tahu aku tak sanggup melihatmu menangis seperti ini.” Aku mengusap pipinya perlahan dengan punggun tanganku.
“Jadi kau mau kan seperti dulu lagi?” Entah setan mana yang merasukiku, aku hanya mengangguk dan tersenyum lalu memeluknya erat membiarkannya menangis di dalam dadaku. Aku masih mencintainya~ dan Hyesung, ah otakku benar-benar tak bekerja saat ini. Tuhan, maafkan hambamu ini….
Hyesung pov
                Aku melangkahkan kakiku menuju lift yang berada di Apartemen Star City, Dorm Super Junior. Kutekan angka 12 dimana Donghae oppa tinggal. Sudah tiga hari kami tak bertemu karna jadwalnya yang benar-benar padat. Aku bisa memakluminya. Hari ini pagi-pagi sekali aku membuatkan banyak makanan dan sup ginseng untuknya dan datang kemari tanpa memberitahukannya.
TEET TEET TEET
Beberapa kali kutekan bel dorm mereka, dan tak lama kemudian pintu terbuka dan kulihat Sunbae imutku di kampus, Sungmin Sunbae tengah berdiri di hadapanku.
“Annyeong Sunbae.” Aku membungkukkan badanku dan memberi salam padanya.
“Aiish Hyesung-ah, sudah berapa kali kubilang jangan memanggilku Sunbae jika kita sedang diluar kampus. Panggil saja aku oppa arraso?”
“Hehehe. Ne, mianhae oppa.”
“Nah, seperti itu lebih bagus di dengar. Ayo masuk.” Sungmin oppa mempersilahkanku untuk masuk dan menyuruhku untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sudah beberapa kali aku kesini, tapi tetap saja aku merasa canggung.
“Kau ingin bertemu denganku?” tanyanya dengan nada sedikit menggoda.
“Aaah eh…”
“Hahaha tak usah bingung, aku tahu kau ingin bertemu Donghae. Sebentar ku panggilkan dia.” Sungmin oppa meninggalkanku seorang diri sekarang. Aku mengitari ruangan ini dengan mataku. Tak bosan-bosannya aku melihat penghargaan-penghargaan yang mereka dapat. Juga foto-foto lucu dan narsis mereka yang benar-benar membuatku terkikik.
“Apa kami begitu lucu hingga kau terkekeh seperti itu?” Suara Donghae oppa membuyarkan fikiranku, ia menghampiriku lalu duduk disampingku.
“Aiish, kau narsis sekali oppa.”
“Kenapa pagi-pagi sudah kemari? Aku bahkan baru bangun.” Ia menguap dan bersandar di sofa.
“Ini, kubuatkan makanan untukmu. Aku tahu jika sibuk kau pasti jarang makan. Aku juga membuatkan sup ginseng untukmu supaya kau tidak mudah sakit.” Aku meletakkan bekal makanan di meja yang ada di hadapanku dan dia. Entah kenapa sekilas aku menangkap raut kesedihan di wajahnya. Apa ia tak suka mendapat kejutan dariku?
“Mianhae Hyesung-yaa….” Tangannya membelai rambutku dengan lembut. Ia meminta maaf seakan-akan telah melakukan kesalahan yang sangat besar hingga aku melihat gurat penyesalan yang dalam di wajahnya.
“Waeyo oppa? Kau tak pernah melakukan kesalahan apapun. Untuk apa minta maaf?”
“Mianhae….. karna… karna aku tak bisa menemuimu tiga hari ini.”
Donghae pov
“Mianhae….. karna… karna aku tak bisa menemuimu tiga hari ini.” Aku menghela nafas panjangku saat mengucapkan kata-kata tadi. bukan kata-kata itu yang ingin kukatakan. Aku ingin meminta maaf padanya karna aku tak menolak saat Sunye memintaku kembali padanya. Aku tak sanggup mengatakannya, aku tak mau menyakitinya.  Aku juga tak mau kehilangan senyumnya, perhatiannya, sikap pengertiannya padaku dan semuanya yang ada di dirinya.
“Aiish oppa! Sudah ku katakan berkali-kali jangan meminta maaf untuk hal yang sepele seperti ini. Aku sangat mengerti jadwalmu sangat padat. Justru yang seharusnya meminta maaf itu adalah aku karna selama tiga hari ini aku tak sempat melihat keadaanmu atau datang ke acaramu.” Oh, tuhan kata-katanya membuat hatiku semakin sakit. Baaimana bisa ia meminta maaf atas kesalahan yang sama sekali tak masuk akal itu. Ia bahkan sedang ujian minggu ini. Tapi masih sempat-sempatnya ia memikirkan aku. Lee Donghae, kau benar-benar namja yang jahat!
“Oppa? Gwaenchanayo?”
“Aaah nde, gwaenchana.” Aku tersadar dari lamunanku saat suara beningnya menyapaku. Mendengar suaranya saja sudah membuat hatiku berdesir.
“Kau sangat lelah ya? Ah, sebaiknya kau cepat makan sup ginseng ini. Aku akan pulang agar kau bisa beristirahat dengan tenang.”
“Andwae!” aku menarik tangannya yang tengah bersiap pergi meninggalkanku.
“Wa-wae oppa?” Aku tak menjawab pertanyaannya dan menarik tubuhnya ke dalam dekapanku.
“Biarkan seperti ini untuk beberapa saat. Nan jeongmal bogoshippo.” Aku memeluknya erat dan membiarkannya tenggelam di dadaku. Aku berharap bisa menghentikan waktu yang berputar pada saat ini agar ia tetap berada di sisiku.
Author pov
                Riuh gemuruh menggema di stadion Daegu saat Sembilan namja memasuki stage yang megah. Beberapa meneriaki ‘Super Junior’ dan yang lainnya meneriaki nama bias mereka masing-masing. Tak terkecuali seorang yeoja cantik bernama Min Hyesung yang tanpa diketahui oleh yeoja-yeoja lain yang sedang berteriak itu adalah yeoja chingu dari salah satu dari Sembilan namja yang mereka teriaki saat ini. Malam ini Ia sengaja datang menyaksikan penampilan namja chingunya, Lee Donghae yang namanya mendominan teriakan para yeoja yang saat ini tengah histeris saat melihat Lee Donghae mulai menampakkan senyumnya. Ia hanya tersenyum melihat seberapa besar kepopuleran namja chingunya itu. Sesekali ia ikut berteriak dengan semangatnya,
“Lee Donghae, saranghae~”
“Yaaa Hyesung-yaa bagaimana jika Donghae oppa melihatmu dari atas stage? Bisa-bisa ia turun dari stage dan membawamu ke atas stage.” Yeoja di samping Hyesung, Jihye menginatkan sahabatnya itu. Jihye memang mengetahui hubungan Hyesung dan Donghae, dan hanya ia yang mengetahui hal itu selain para member Super Junior dan manager mereka.
“Tidak akan, kita kan di belakang, lagipula aku pakai ini.” Hyesung menunjuk topi yang digunakannya.
“Babooo, kalau mau pakai topi jangan topi miliknya!”
“Aiish, aku lupa. Hehehe.” Topi itu, topi yang sedang di kenakannya saat ini adalah milik Donghae, donghae memberikannya saat melihat jika yeoja chingunya itu sangat cantik saat mengenakan topi itu.
“Kau tak ke backstage?”
“Nanti saja setelah mereka selesai perform.”
“Nanti kau tak bisa masuk karena ramainya.”
“Geureu, kajja…” ajak hyesung pada jihye.
“Aniya, aku disini saja. Kalau sudah selesai kembali kesini, arra?”
“Ne arra.”
Hyesung pov
                Terlihat sekerumunan kecil para ELF saat aku tiba di pintu masuk backstage. Benar kata Jihye, backstage sudah mulai ramai, bahkan saat mereka belum selesai tampil. Aku masih bisa mendengar mereka menyanyikan lagu Mr. Simple saat ini. Aku sedikit berjinjit dan menyempil di sela-sela kerumunan para ELF. Untung saja tubuhku cukup kecil, sehingga aku tak memakan banyak ruang. Kulihat Manager Kim yang baru saja menutup sambungan telfonnya tersenyum padaku.
“Hyesung-ah? Kenapa kau tak masuk?” itu pertanyaan yang err cukup bodoh menurutku. Tak bisa lihatkah jika aku sedang berusaha menuju barisan terdepan kerumunan ini?
“Ah, ini aku ingin masuk oppa tapi ya kau lihat sendiri.” Ucapku diiringi senyuman.
“Kajja ikut aku, ia pasti senang sekali bisa melihatmu disini.” ia tersenyum lalu menerobos kerumunan para yeoja denganku yang mengekor di belakangnya. Para yeoja itu berbisik, sedikit memandangku dengan pandangan iri karna sekarang aku akan memasuki backstage dengan mudahnya.
“Kau tunggu saja disini, sepertinya mereka sudah selesai perform. Tak apa kan jika aku meninggalkanmu sendiri?” Manager Lee menyuruhku duduk di dekat tangga perform saat kami tiba di backstage.
“Gwaenchana oppa, gomawo.”
“Ne,” dia berlalu meninggalkanku entah kemana. Saat itu aku melihat Sohee, dan tiga member WG lainnya menuju ruangan mereka. Aku baru ingat jika mereka juga tampil di acara ini. Tapi kemana Sunye? Aku tak melihatnya bersama mereka.  Fikiranku teralihkan saat aku mulai mendengar suara canda yang berasal dari para member Super Junior. Aku berlari kecil menghampiri Donghae oppa yang terlihat memisahkan diri dari member lainnya dan menuju sebuah sudut ruangan.
“Op……” segera ku urungkan niatku memanggilnya saat kutemukan Donghae oppa tak sendiri disana. Aku memperhatikannya dari sudut dinding dan terlihat Sunye dan Donghae oppa sedang berdua sekarang. Oh Tuhan, untuk apa mereka berduaan di tempat sepi seperti ini? Anieyo, anieyo! Aku tak boleh negative thinking. Aku percaya padanya, aku percaya padanya. Walaupun tak kupungkiri pemandangan yang saat ini kulihat membuatku sulit untuk terus positive thinking. Sunye berada di depan Donghae oppa yang bersandar di dinding dengan tangannya memilin dan memainkan dasi yang tengah digunakan Donghae oppa. Donghae oppa menyesap sarsaparilla di tangannya untuk kesekian kali lalu tersenyum dan memeang dahu Sunye sehingga pandangan mereka berdua bertemu.
                Hatiku bergemuruh, dentuman lagu Hands Up 2PM yan tengah mengalun sat ini mungkin tak bisa menglahkannya. Desiran yang menyengat hatiku datang bertubi-tubi melihat mereka seperti ini. Tapi lagi-lagi aku mencoba menyangkal dan terus berusaha untuk tetap mempercayainya, namja chinguku.
“Oppa, gomawo.” Sunye membuka suaranya memecah keheningan di antara mereka, dan membuat hatiku berdentang berkali-kali. Untuk apa ia berterima kasih?
“Untuk apa?”
“Untuk kesempatan kedua yang kau berikan padaku. Gomawo karna kau masih mencintaiku dan mau menerimaku kembali.”
Hatiku tersentak, seperti tersambar petir yan entah datangnya darimana. Sakit…..
Hahaha, apa ini? Apa yang kudengar tadi? Kata-kata Sunye dengan mudahnya meruntuhkan kepercayaan-kepercayaanku yang selama ini kuberikan seutuhnya pada Donghae oppa.
“Cheonma chagiyaa~ tak perlu berterima kasih atas hal sepele seperti ini.” Mulutku menganga seakan menuntut penjelasan atas apa yang baru saja kudengar, ia bahkan menggunakan kata-kata yang sering kuucapkan padanya untuk merayu seorang  yeoja.
“Saranghae oppa.”
“Nado Saranghae chagiyaa.” Dadaku semakin sesak, ingin meledak oleh tangisanku yang tertahan walau air mataku telah sukses mengalir sejak tadi dengan deras. Aku meremas dadaku menahan rasa perih yang terasa seperti dihujam ratusan pisau saat melihat mereka berdua menyatukan diri mereka melalui sebuah ciuman yang saat ini terus berlangsung. Kuputuskan untuk pergi meninggalkan mereka sebelum dadaku tak kuat lagi menahan tangisku dan meluap begitu saja. Derap wedgesku beradu dengan lantai marmer menimbulkan decitan kecil yang sepertinya menyadarkan mereka akan kehadiranku tak kupedulikan. Samar-samar kudengar langkah dibelakangku yang berusaha mengejarku beserta teriakannya yang berkali-kali memanggil namaku. Kuterobos kerumunan ELF di depan pintu backstage yang dapat dipastikan sekarang tengah memandang heran diriku yang terus berlari dengan kedua mata yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Aku tak peduli…….
Donghae pov
“Angkat Hye-ya, jebal! Angkat telfonku…” Sudah ratusan kali aku menghubungi ponsel Hyesung, tapi selalu tak ada jawaban. Puluhan pesan singkat sudah kukirimkan padanya, mulai dari bertanya kenapa ia tak menjawab telfonku, meminta maaf padanya hingga mencari alasan sebisaku. Tak ada satupun pesanku yang ia balas. Kenapa aku merasa sakit saat ia melakukan semua ini padaku? Rasanya seperti kehilangan separuh dari jiwaku. Aku memang bodoh, aku yang membuatnya seperti ini, tapi aku juga yang kelimpungan atas akibat yang ku perbuat.
“Ottohke Donghae-ah?” Eunhyuk hyung yang sejak tadi duduk di belakangku mulai angkat bicara
“Tidak di angkat hyung.”
“Kau melakukan suatu kesalahan? Kesalahan yang sangat fatal?” Ia menatap mataku, itu bukan suatu pertanyaan bagiku, tapi sutu tuduhan. Ia pasti tahu tak mungkin Hyesung seperti ini jika aku tak keterlaluan. Aku hanya mengangguk pelan. Dia menghela nafasnya, seperti yang sudah ia duga memang aku yang salah. Ya, aku yang salah!
“Ceritakan hae….” Tanpa diperintah dua kali kuceritakan semuanya pada Eunhyuk hyung, semuanya tanpa terkecuali. Sunye yang memintaku kembali padanya dan kesalahanku yang tak menolak permintaannya itu.
“Yaaaa kau gila Hae-ah! Jadi maksudmu kau menduakan Hyesung dan berciuman dengan Sunye di depannya? Aiish!” eunhyuk hyung mengecak rambutnya sendiri terlihat frustasi. Dia yang tak merasakannya saja frustasi, terlebih lagi aku yang mengalaminya?
“Ne, a-aku tahu aku salah hyung. Tapi aku tak tahu jika saat itu Hyesung ada disana.”
“Itu sama saja paboo~ tak ada bedanya dengan kau berselingkuh di belakang Hyesung. Masih mau menyangkal?” aku terdiam terduduk di pinggir kasurku. Hanya bisa menunduk.
“Aku harus bagaimana hyung?”
“Kau…. Siapa yang kau cintai?” siapa yang aku cintai? Aku mencintai……..
“Mo-molla hyung, aku mencintai mereka berdua. Aku sangat senang Sunye merasa menyesal telah memutuskan hubungan kami dulu, dan memintaku kembali padanya. Di sisi lain aku tak mau kehilangan Hyesung. Kau tahu kan hyung bagaimana perhatiannya selama ini padaku?”
“Aiish hae, kau itu serakah sekali! pilih salah satu! Aku tak habis fikir kau bisa setega ini dengan yeoja yang selama ini selalu ada untukmu. Kau tak ingat beberapa bulan yang lalu keadaanmu sangat menyedihkan? Siapa yang membuatmu bangkit dari semua itu? Kau fikirkan baik-baik perkataanku. Aku harus segera pergi untuk siaran.” Dia menepuk pundakku dan pergi meninggalkanku yang masih terdiam. Eunhyuk hyung benar, Hyesung yang membuatku tak merasakan kesedihan lagi saat Sunye meninggalkanku. Dan sekarang aku malah menyakiti hatinya serta kepercayaan yang selama ini ia berikan sepenuhnya kepadaku.
“Aaaargh!”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Berjumpa denganmu sungguh bahagia,
Bergandengan tangan ku sungguh bangga…..
Meskipun kini kita menatap langit yang berbeda,
Tapi aku bisa melangkah sendiri~ – FMP OST
Hyesung pov
                Sudah hampir seminggu sejak kejadian yang menyakitkan itu. Mungkin sudah ratusan kali Donghae oppa menghubungiku dan mengirimiku pesan sampai tiga hari yang lalu akhirnya kuputuskan mengganti nomorku. Aku hanya memberitahu nomor baruku pada Jihye dan meminta padanya agar tak memberitahukan nomor baruku pada siapapun termasuk Donghae oppa dan para member Super Junior serta semua orang yang berkaitan dengan mereka. Berkali-kali ia mendatangi apartemenku, tak pernah aku membukakan pintu saat kutahu jika ia yang datang. Aku berusaha menghindari bertemu dengannya, selesai kuliah aku langsung kembali ke aprtemen. Aku masih merasa sakit, hatiku terutama. Masih tak bisa menerima jika selama ini aku hanya dijadikan pelampiasan olehnya. Saat Sunye meminta kembali padanya ia tak ragu menerimanya. Ternyata aku ini memang tak memiliki tempat sedikitpun dihatinya. Jadi untuk apa ia memintaku sebagai yeoja chingunya saat itu? Bukankah aku tak pernah berharap lebih saat aku mencoba menghiburnya saat ditinggalkan oleh Sunye.
                Aku melakukan semua itu karna aku sangat mencintai Donghae oppa, meskipun aku tahu selalu ada Sunye dihatinya. Aku berharap suatu saat nanti ia bisa sepenuhnya mencintaiku dan melupakan Sunye. Tadinya aku hampir percaya seratus persen jika ia sudah mencintaiku sepenuhnya, tapi ternyata aku salah. Aku memang hanya pelampiasan baginya.
Tanpa sadar air mataku sudah mengalir deras membentuk aliran sungai han kecil. Kuusap pelan dengan punggung tanganku, tapi tetap tak mau berhenti. Ini terlalu perih, ia masih mencintai Sunye hingga saat ini.
                Aku mengatur nafasku yang terasa berat, mencoba menahan tangisanku yang sejak tadi telah tumpah. Aku menegarkan hatiku dan berniat menyelesaikan semuanya hari ini. Aku tak boleh egois, bagaimanapun hubungan kami sampai saat ini belum terucap kata ‘PUTUS’. Segera kutekan sederet nomor telfon yang telah kuhapus dari memori telfon tapi tetap menempel dengan erat di memori otakku. Aku menelfon Donghae oppa dengan private number agar ia tak mengetahui nomorku.
TUUUUT~
Tersambung. Detak jantungku berpacu seiring dengan bunyi nada sambung yang kudengar.
TUUUUT~
TUUUUT~
‘Yeobseyo?’ Terdengar suara lembut dari seberang sana. Suara yang seminggu ini sangat aku rindukan. Membuatku diam sejenak hingga tak sadar jika sejak tadi ia mengulangi kata-katanya itu berulang kali.
‘Yeobseyo?’ ulangnya untuk kesekian kali.
‘Ye-yeobseyo.’ Aku mencoba menjawab senormal mungkin, walau aku tahu suaraku pasti masih terdengar bindeng saat ini karna hampir setiap hari aku menangis.
‘Hyesung-yaa? Ini kau kan? Hyesung-yaa aku…….’
‘Dengarkan aku oppa, aku tak akan mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya…’ aku memotong ucapannya yang aku yakin pasti akan terucap kata maaf lagi.
‘Hye-yaa…..’
‘Kubilang dengarkan aku, atau kututup telfonnya sekarang juga!!’ Aku sedikit berteriak dengan suara serak, membuatnya tersentak karna aku memang tak pernah melakukan hal ini padanya.
‘Mianhae oppa,aku tak bermaksud berteriak padamu. Aku ingin kau mendengarkan semua kata-kataku tanpa memotongnya sampai aku selesai berbicara, apa kau bisa?’
‘Ne hye-yaa..’ nadanya terdengar terpaksa namun pasrah. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakan semua hal ini padanya. Aku tak akan menyesal setelah ini.
‘Maaf karena seminggu in aku menghindarimu, aku tak bermaksud seperti itu. Hanya saja, aku belum siap mendengar kata putus…’
‘M-mwo?’ ia terdengar kaget akan pernyataanku tadi. Aku tak menghiraukannya dan tetap melanjutkan kata-kataku.
‘Aku tahu kau masih mencintai Sunye. Mianhae karna aku egois dan menggantung hubungan tak jelas ini. Membuatmu merasa bersalah karna telah mneyakitiku. Tapi aku sadar, aku harus menghilangkan rasa egoisku ini dan menerima keadaan jika kenyataanya hanya ada Sunye di hatimu. Aku senang kau kau bisa kembali bersama yeoja yan kau cintai. Mulai saat ini, tak ada lagi hubungan special antara kita. Kau bisa bersama Sunye lagi tanpa harus memikirkan perasaanku. Gomawo atas perhatian dan saat-saat indah yang telah kau berikan pa…….’
‘Yaaaa, Hye-ya! Apa maksudmu?! Aku tak mau…..’
‘Hiduplah dengan baik, makan teratur dan jangan lupa minum vitaminmu agar kau tak sakit. Semoga kau bahagia…. Annyeong~’
Donghae pov
‘Hiduplah dengan baik, makan teratur dan jangan lupa minum vitaminmu agar kau tak sakit. Semoga kau bahagia…. Annyeong~’
‘Hye-yaaa, dengarkan aku dulu! Hye-yaa….’ Aku berteriak padanya, berharap ia tak langsung mematikan ponselnya. Tapi tak lama kemudian ia langsung memutus sambungan telefon kami tanpa membiarkanku memberikan penjelasan apa-apa. Kurasakan kakiku melemas dan persendianku tak mampu lagi menopang berat badanku hingga lututku terduduk di lantai. Aku merasa seluruh beban berat tengah menimpaku saat ini. Sesak, marah, sakit, sedih semua itu kurasan membuatku menangis sejadi-jadinya.
‘PUTUS’? Aku bahkan tak pernah memikirkan kata-kata itu sama sekali. aku tak pernah ingin putus darinya. Mendengar kata-katanya tadi membuat hatiku bergermuruh seolah petir sedang bersahut-sahutan di langit saat ini. Air mataku terus mengalir tanpa menghiraukan bahwa aku adalah seorang namja. Bagaimana bisa ia meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya? Kenapa ia masih begitu memperhatikanku setelah semua luka yang telah kutorehkan di hatinya. Membuatku semakin merasa bersalah akan kebodohanku menyia-nyiakan cinta tulus dari yeoja polos sepertinya. Ia tak pernah berpacaran sebelum denganku, dan aku malah melakukan ini semua. Tuhan, dosaku pasti bertumpuk-tumpuk sekarang. Aku tak ingin kehilangan dia………..
#TBC

2 thoughts on “I’m not aware if I love you [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s