Memories


Author : Febe Aninda (promo twitter : @nnnindaa ^^) [author freelance]
Title : Memories
Length : One Shot
Genre : Family, Romance
CAST : Sunny (SNSD), Lee Sungmin (Super Junior)
Supporting Cast : Shim Changmin (DBSK), Kim Hyoyeon (SNSD), Lee Hyuk Jae/Eunhyuk (Super Junior), Febe Aninda (author ^^)
Disclaimer : this FF is mine, but the cast isn’t mine, i hope i can have ine of the boys here😀 segala kesamaan, kemiripan nama pemain atau judul semua itu tidak disengaja.
Hello, balik lagi dengan FF yang baru judulnya MEMORIES. OneShot aja tentang Sun-Sun couple. Don’t forget to leave comments🙂
Sunny POV
    Aku mengerjap-erjapkan mataku karena sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar apartemen kecilku. Apartemen yang kubeli dengan hasil usaha dan jerih payah sendiri sebagai pegwai toko dipagi hari dan penjaga coffee shop di malam hari. Aku terduduk di kasur sembari mengusap mataku yang berair. Semalaman aku menangis. Menangisi pria yang seharusnya tidak aku tangisi. Entahlah, otakku rudet.
    Kulirik jam dinding berbentuk sapi yang kupasang di dinding, pukul tujuh tepat. Seperti perkiraan ku, tukang koran telah menyelipkan korannya dibawah pintu masuk kamar. Kupungut koran itu dan kubuka bagian “JOBS” .
    Sembari menunggu air mandiku matang, dan juga menunggu oatmeal ku hangat dan kental, aku kembali meneliti satu per satu pekerjaan yang ingin aku cari. Aku bosan menjadi orang dengan uang pas-pasan, aku bosan hidup seperti Upik Abu, aku ingin menjadi Cinderella.
    “Ahh jinnja Sunny-ya, kau bermimpi lagi…” ucapku pada diri sendiri.
    Tidak ada pekerjaan yang menarik dan aku memutuskan untuk mandi. Seperti biasa, aku selalu menyapa Lee Sungmin di pagi hari. Lee Sungmin yang ada dinding (?) kuucapkan annyeonghaseyo dan kemudian aku mandi.
    Pagi ini aku diminta oleh Hyoyeon untuk membantunya di salah satu kegiatan pemotreta sebuah majalah, kebetulan aku kenal seluk-beluk fotografi dan kalaupun aku tidak kebagian motret-motret at least aku bisa membantu Hyoyeon.
    “Pakai baju apa nih ..” gumamku sembari mengobrak-abrik lemari pakaianku.
    Sebuah blouse berwarna putih dengan renda, celana jenas biru tiga-per-empat, flat shoes berwarna abu-abu dengan hiasan bunga pada ujungnya, kalung, gelang dan beberapa aksesoris yang sederhana menjadi pilihanku. Ponselku bergetar saat aku merogoh tasku mencari bedak. Kim Hyoyeon calling.
    “Yeobuseyo.. Hyeoyeon-a..”
    “A.. Sunny. Eodiya ??” tanya Hyoyeon. Disana nampak ribut dan berisik dan Hyoyeon harus berteriak untuk berbicara dengannya.
    “Jeoyo… hmm. Masih di jib.. waeyo ?” jawabku.
    “Mwo ?? ga kedengeran…” teriak Hyoyeon lagi.
    “Jibeseo o jeon….”
    “Aaaa. Jib.. bagaimana kalau aku jemput ??”
    “Ne .. ? hajimaaa.. nanti merepotkan…” ucapku sembari memulaskan bedak ke pipiku.
    “Gwenchanhayo.. pagi ini kita harus ready cepat-cepat, artisnya belum datang jadi aku masih bisa menjemputmu… neon-ui jib-eun eodiya ??”
    “Biar lebih dekat dan supaya kau tidak susah mencari apartemenku yang kecil ini, kau tunggu saja aku di Toss Coffee House, tempat kita bertemu kemarin…eotteyo ??” tanyaku sembari mengecek isi dalam tasku.
    “Arasseoyo.. gidaryeobwa…” ucap Hyoyeon dan pembicaraan pun terputus.
-end Sunny POV-
Sungmin POV
    Michigetda. Aku benar-benar membutuhkan seorang pelayang pribadi. No Not my manager but another private guard. Entahlah mungkin akan lebih baik kalau itu wanita. Aku selalu dikejutkan dengan jadwal yang mepet. Seperti pagi ini. Aku harus mendatangi pemotrtan majalah CW Magazine tepat pagi ini dan aku baru bangun untuk saat ini. Apa ini tidak gila ??
    “Bbali Sungmin-ssi, jika tidak berangkat sekarang maka anda akan telambat…”
    “MWO ??! Michyesseo ? Kau pikir aku robot. Ingat Changmin Manager-nim… aku butuh seorang private guard ! dan ingat must be a girl …”
    “Geunde… Sungmin-ssi…”
    Aku mengisyaratkan agar manager ku diam, aku menyambar kunci mobilku, aku harus rela mandi di lokasi pemotretan. Lebih baik daripada tidak mandi sama sekali. Aku selalu siap sedia beberapa baju.
    Aku memtusukan untuk manager ku yang membawa mobil sehinga aku abisa ganti baju dan kembali melanjutkan tidurku yang tertunda. Namun, aku benar-benar tidak bisa tidur, dentungan iPhone, mentions blog semua semuanya menganggu ku.
    “Changmin Manager-nim.. kuharap kau segera menemukan yang cocok untuk saya …” ucap Sungmin sembari menuang wine pada seloki kecilnya.
    “Ne… seburu-buru itukah Sungmin –ssi..” Aku mengangguk sembari menutup mataku dengan sleeping mask bergambar Pumpkin kesukaanku.
    Tepat 45 menit perjalanan kami telah sampai di shooting set, tempat kami akan melakukan photo session dan juga photo-shoot. Kami disambut oleh seorang wanita dengan rambut blonde dan tindik di telinga.
    “Annyeong haseyo.. Kim Hyoyeon ibnida…saya yang akan menjadi sutradara dan juga photgrapher dalam acara photo session hari ini.. silahkan keruang ganti untuk make-up dan juga ganti baju…”
    “Gamsahabnida Kim Hyoyeon-ssi…” ucapku sopan sambil membungkuk 45 derajat.
-end of Sungmin POV
Sunny POV
    Mwo, artis yang dipakai oleh Hyoyeon adalah Lee Sungmin, artis yang selama ini hanya bisa terpajang didepan TV ku dan didepan kamarku kini harus ada dihadapanku. Bodoh kenapa aku mau saja ditempatkan di bagian costume set. Walaupun aku anak lulusa fashion design  tapi bukan berarti aku dapat melakukannya jika yang menjadi modelku adalah orang yang selama ini menjadi idolaku.
    “Aku harus fokus…” gumamku sembari merapikan letak-letak baju.
    “Lee Sun Kyu –ssi apakaha Sungmin sudah bisa coba bajunya…”
    “Ne…” ucapku sembari memberikan baju itu kepada Sungmin yang berdiri tidak jauh dariku. Mossitda jinjja….pikirku dalam hati namun aku berusaha untuk fokus.
    Aku mendekat kearah Sungmin yang telah memakai baju dariku sembari membetulkan letak kerahnya.
    “Tadi kau bilang namamu Lee Sun Kyu, benarkah itu ?” tanya Sungmin.
    “Ne .. Sungmin –ssi Nae ireumen Lee Sun Kyu ibnida, bangapseubnida…”
    Sungmin ikut membungkuk juga. Mukanya menyiratkan keanehan yang amat sangat dalam. Aku sendiripun bingung. Merasa risih diperhatikan begitu, aku langsung berbalik dan mengalihkan pembicaraan dengan designer yang lain.
    Saat Sungmin sedang sibuk menjalani pemotretan, aku mendekati Hyoyeon yang sedang membaca script dan sibuk mengurus ini dan itu. Body nya yang ramping membuatnya gampang
sekali bergerak kesana-kemari.
    “Hyoyeon-a .. babbeun ?” tanyaku sembari menyentuh pundaknya.
    “Anio.. wae ? Pasti kau mau mencengkeram bahuku sembari menahan teriakan mu karena artis yang kuundang hari ini…”
    Sumpah demi apapun aku memang mengakui perkataan Hyoyeon. Aku sangat ingin sekali scream out loud dan mengucapkan Saranghaeyo Hyoyeon-a. Namun, saat ini bukanlah itu keinginan ku. Aku merasa ada yang aneh ketika Sungmin menyebut namaku Lee Sun Kyu.
    “Ada yang ingin kubicarakan denganmu .. bisa ?” ucapku.
    Hyoyeon mengangguk lalu meninggalkan scriptnya serta memberi break pada crew dan juga Lee Sungmin sendiri, lalu mengikutiku ke tempat kami beristirahat dan mengedit foto.
    “Aku seperti pernah mengenal Sungmin …”
    “Mwo ?!”
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    Aku mengambil ponselku sembari mengecek sms serta bbm yang masuk. Banyak bbm dari beberapa teman-teman dari SM dan juga beberapa teman sekolahku. Dari jauh kulihat Sunkyu dan Hyoyeon bergerak kearah ruangan tempat istirahat crew, mungkin mereka lelah. Dari wajahnya, aku bisa melihat Sunkyu lelah.
    “Lee Sun Kyu… isang hada.. jinjja isanghaeyo..” gumamku.
    Aku seperti pernah dan sering mengucapkan nama itu namun aku benar-benar tidak ingat, siapa dia. Aku berniat menelpon eomoni. Kucari tulisan MOM pada ponselku. Aku tidak memberi sign ia pada nomor 1 karena nomor 1 adalah appa.
    Nada sambung terdengar, aku sangat suka musik instrumental dari ponsel eomoni.
    “Yeoboseyo ?” sahut suara seorang wanita dari seberang sana.
    “Yeoboseyo.. omma. Sungmin ibinida…”
    “Oo, Sungmin-a.. eoddeohke jinae ?? Gwenchaneungoya ? eodi apayo ??” eomma bertanya dengan memburu.
    “Nan gwenchanha eomoni.. geunde eomoni alasan aku nelpon eomoni ada yang ingin aku tanyakan…”ucapku berusaha to the point.
    “Museun mal-iya ?”
    “Lee Sun Kyu… nugu ya ??”
    “Lee Sun Kyu … Lee Sun Kyu… Aaaaa aegi Sun Kyu .. neon molla ??” kini eomma malah menanyakanku. Aku menggeleng dan mungkin eomma tidak melihatnya.
    “Kau benar-benar lupa ??” sambung eomma dan aku masih berusaha berpikir.
    “Aaa jebal eomma Sun Kyu nuguya …??”
    “Kau lupa gadis kecil disebelah rumah kita yang sangat kau sayang itu …Kau ini sudah terkenal lupa pada orang yang sudah kau beri janji…”
    “Yakso ..? museun yakso ??”

-end of Sunny POV-

Sunny POV
    “Kau mengigau yah ??” ucap Hyoyeon dengan muka terperanjat sambil memegang jidatku.
    “Tch.. anio.. kau tidak percaya .. andaikan rumahku tidak terbakar aku masih punya foto-fotonya dan bisa dibandingkan dengan muka Sungmin sekarang.
    “Anio bukannya aku tidak percaya. Naega mideo.. geunyang…”
    “Aish, dwesseo ..” ucapku kesal sambil beranjak dari kursi tempat kami duduk.
    Tepat saat aku beranjak akan pergi didepan telah ada Changmin, Sungmin manager. Aku hanya mengangguk sekilas sembari meninggalkan ruangan ganti itu. Hyoyeon menyusulku dari belakang. Kulihat Lee Hyuk Jae, telah menunggu di set.
    “Eunhyuk oppa …” sapaku.
    “Oo Annyeong.. Hyoyeon eodiya ?” tanyanya. Aku menunjuk kebelakang sambil mendorongnya untuk segera menyusul si lelet Hyoyeon.
    Dari kejauhan kulihat Sungmin sedang mengikuti gerak-gerikku, ini aneh. Aku mengenal tatapan mata itu. Namun, semua nampak sepert terbakar hilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun. Namun, Hyoyeon benar, mungkin hanya mirip. Solma…
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    The Little Sunkyu akhirnya kutemukan. Hanya ada satu cara supaya ia kembali mengenalku, selama ini aku bisa gila karena kangen padanya. Aa michyesseo, sudah banyak gadis yang aku ajak jalan selama di Jepang, namun tidak ada yang bisa menggantikan posisinya.
    Wake up Sungmin-a, mungkinkah ia masih mengenalmu, ataukah kau hanya memori yang teringat kembali, bukan memori yang selalu teringat, bisik hati kecilku jahat.
    Aku bangung dari ranjangku, anio, bentakku dalam hati. Dia harus ingat bagaimanapun caranya. Dan sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan. Membuatnya kembali mengingatku, hanya ada satu cara, dan itu yang harus kulakukan.
    Kutouch layar ponselku sembari mencari nama Changmin Manager pada ponselku. Dengan sekali sentuh, sambungan telepon mulai terdengar.
    “Hyung.. eodi ?” tanyaku.
    “Dalam perjalanan pulang, waeyo Sungmin-a…?” tanya suara dari seberang.
    “Anio.. kalo hyung tidak keberatan aku boleh minta tolong …” ucapku lalu aku terdiam sejenak.
    “Ne.. museun mal-iya ??”
-end of Sungmin POV-
Sunny POV
    Aku menghempaskan tubuhku dikasur mungilku, bau apek tercium, sudah saatnya aku ganti sprei. Aku menggeledah isi kardusku, dan aku menemukan sebuah sprei yang masih sangat baru dan masih wangi toko. Sprei biru muda bermotif bunga Lily, kesukaan eomoni. Anio, kesukaan eomoni kesukaanku juga.
    Kubuka lemari es ku dan tidak menemukan makanan apapun hanya 3 potong sosis, sekantong ddokbokki dan beberapa sayuran yang mulai agak layu. Kutengok jam dinding, pukul 8 tepat, 15 menit lagi aku harus berangkat ke Coffee Shop tempatku bekerja part-time.
    Aku mencari seragamku sembari mengeroll rambutku dengan roll-rambut. Kurasa sudah saatnya aku ganti model rambut, aku mulai bosan nge roll rambutku, aku harus membuatnya permanen. Ponselku berdering saat aku beru saja mengunci pintu depan.
    “Yeoboseyo ?” ucapku.
    “Sun Kyu –ssi ??”
    “Ne.. saya sendiri .. Nuguseyo ??” tanyaku sembari mempercepat langkahku karena aku hampir terlambat dan semua gara-gara RAMBUT.
    “Annyeong haseyo.. joneun Changmin ibnida… apa anda ada waktu untuk bertemu dan berbicara sebentar ?” tanya Changmin.
    Aku agak kaget mendengar siapa yang menelpon. Hello, it’s just Sungmin’s manager kamu sudah sesenang ini, babo Sunny …ucap hati kecilku dengan kesal.
    “Hm.. mollayo karena saya ada part-time job di Coffee Shop didaerah Myeong-dong..”
    “Ahh jinjja yo, kebetulan saya ada didaerah sana … apa kita bisa bertemu sekarang, nanti saya akan langsung ijin dengan sajangnim mu …eotte ?”
    “Ng.. arasseoyo…” ucapku lalu menutup ponsel dengan hati bimbang. Museun il-iya ?
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    Sejujurnya aku agak tidak yakin dengan keputusanku namun nampaknya Changmin nampak bersemangat melakukan ini semua. Anio bukan hanya karena dia kakak sepupuku satu-satunya namun, ambisinya untuk membuatku bahagialah yang membuatnya sebegini antusias.
    Aku mondar-mandir didalam kamar sembari memegang ponselku, iPad yang kukepit sedari tadi tidak menunjukkan tanda-tanda notification masuk apapun dari Changmin hyung.
    “Aish .. michigetda …!!” ucapku sembari menghempaskan tubuhku dikasur, melepas ponsel dan juga iPadku. Ponselku bergetar. Dengan sigap aku menyambarnya.
    “Aish … aku tidak butuh kartu kredit .. neon michyeosseo ???” omelku pada sang pengirim. Aku kembali tiduran sembari menunggu kabar apapun yang akan diberikan oleh Changmin
hyung, senang ataupun sedih. Tapi ini gila, aku benar-benar kangen padanya. Lee Sun Kyu-a bogosippeo.

-end of Sungmin POV-

Sunny POV
    Aku berusaha menghubungi Hyoyeon ingin memberitahu apa yang terjadi malam ini dan aku hanya ingin Hyoyeon dan Eunhyuk yang tau. Dua sahabatku sejak SMA itu. Anio aku benar-benar ingin menceritakan semuanya. Walaupun aku belum bertemu dengan Changmin oppa sama sekali. Namun, kedua makhluk itu belum menjawab apa-apa.
    Status bbmnya sama Busy – On a special date. Freak, gumamku dalam hati. Jantungku berdebar. Seorang pria masuk dengan kaos Polo berwarna biru langit dan jeans putih, seperti mau ke padang golf, entahlah jam segini nge-golf agak sedikit percuma.
    “Sun Kyu –ssi, bangapseubnida..” ucapnya sopan tidak mau disalamin tetapi membungkukkan badan 45 derajat.
    “Annyeong haseyo Changmin-ssi bangapseubnida…Geunde museun il-iya ??” ucapku. Terlalu obvious penasarannya. Changmin mulai duduk.
    “Sejujurnya ini permintaan langsung dari Lee Sungmin. Dia mau anda menjadi sekertaris pribadi dan juga guard pribadi..”
    Dan sejujurnya juga saat itu aku langsung blank selama beberapa menit, hanya bengong sembari pikiranku kosong. Tanganku dingin, dan jantungku berdegup cepat. Ini gila. Gotjimal, maldo andwee.
    “Aa, gotjimalragoo..”ucapku sembari tertawa. Namun, di hatiku aku sangat amat deg-deg an sampai dari suara pun kalau Changmin peka, dia akan sangat tau kalau aku nervous.
    “Anio.. aku tidak berbohong, dia bilang kalau anda itu sangat gesit dalam hal fashion dan nampak fashionable jadi dia rasa anda cocok menjadi sekertaris pribadi dan juga guardnya..”
    “Lalu bagaimana dengan anda ?” tanyaku, tidak melupakan pekerjaan Changmin oppa.
    “Aku … aku ini manager, bertugas mengurus kemana saja Sungmin akan syuting dan lain-lain, lagipula aku ini sepupunya Sungmin jadi aku bebas menentukan tugasku.. hahahhaa..”ucapnya sembari tertawa. “Eotte ? Kamu bersedia mengambil pekerjaan ini ?” tanyanya sambil membuka tas ranselnya.
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    Babo ! Bisa-bisanya aku ketiduran dengan iPad yang kutindih dengan badanku dan juga, ponsel yang .. yang… anio where’s my cellphone ? Aku meraba samping kiri dan kananku dan tak kutemukan suatu benda berwaran hitam yang kalau ditouch layarnya akan bergetar. Aku bangun dengan muka sayu. Aaa benar saja, ponselku sudah jatuh kelantai, untung ada karpet kalau tidak tidak taulah aku seperti apa handphoneku pagi ini.
    Dengan cepat aku mengecek ponselku dan aku langsung membuang napas kesal. Changmin hyung benar-benar tidak menghubungi apa-apa bahkan tidak juga mengirim sms atau berita apapun.
    “Kalau aku tidak memberimu kabar apa-apa berarti Sun Kyu menolak yah..”

    Terngiang kata-kata Changmin hyung yang amat sangat mengena di telingaku, jadi benarkah Sun Kyu menolak bekerja dengan pemberi janjinya ini, ataukan dia tau aku Little KangWon-do Pumpkin itu. Anio, andwee, dia harus mau. Kucoba menelpon Changmin hyung namun ponselnya tak aktif.
    “Sungmin-ssi, sarapan sudah siap, mau diantar kekamar atau biar di meja makan ??”
    “Ne.. aku ke ruang makan aja… jakkaman gidaryeo..” ucapku dengan nada lemas, amat sangat tidak bersemangat.
    Aku turun dari kamarku sembari menuju ruang makan dengan langkah gontai. Betapa kagetnya aku mendapati Lee Sun Kyu sudah duduk manis di ruang makan dengan blazernya yang sudah agak lama, dan hari itu ia nampak cantik. Rambutnya yang coklat digerai dan dia nampak cantik hari itu. Disebelahnya duduk Changmin dengan tampang tak ada dosa.
    “Ooo, Sungmin-a wasseo ??” Entahlah saat itu aku sangat ingin melempar hyungku yang satu ini keluar bukan lewat pintu tapi lewat jendela. Aku duduk dengan jantung deg-degan.
-end of Sungmin POV-
Sunny POV
    Aaaaa molla aku tidak bisa berkata-kata. (Author : ngomong ga !!! aku ganti nih perannya… | Sunny eonni : arasseo, tapi jujur loh aku deg-deg an…| Author : yang bikin aja deg-deg serr.. udah buruan annyeong *ngabur ke backstage)
    Aku sejujurnya sangat ingin berteriak namun, ini rumah orang, bisa-bisa seluruh kaca pecah hanya karena aku berteriak.
    “Sun Kyu –ssi annyeong haseyo..” sapa Sungmin sembari duduk di seberang ku. Omo~ entahlah aku benar-benar tidak fokus untuk makan pagi lagi. Bagaimana bisa makan pagi kalau begini ceritanya.
    “An..Annyeonghaseyo Sungmin –ssi..” ucapku dengan agak terbata.
-end Sunny POV-
Sungmin POV
    Hari ini hari pertama Sunny bekerja padaku, aku amat sangat teramat bahagia bisa bertemu dengannya. Anak kecil yang dahulu pernah mengisi hari-hariku. Dan kini ia sedang meng-explore rumahku dan aku tidak tau dia sudah dimana sekarang.
    “Hyung…” bisikku pada Changmin yang sedang asik menonton TV.
    “Wae ..?” tanya Changmin namun matanya tidak bergeser sedikitpun dari TV.
    “Perlukah aku memajang foto-foto masa kecilku dan juga fotoku dan dia waktu kecil..”
    “Hajima ! Satu-satunya cara adalah membawanya ke Kang Won-do, hanya itu yang bisa mengembalikan memorinya akan kamu, dan kurasa selama ini dia hanya menganggap mu sebagai idolanya…”ucap Changmin dengan santainya.
    “Hyung-ah.. kalau jadwalku tidak padat, malam ini juga kubawa dia ke Kang Won-do juga bisa..” ucapku setengah kesal. Michyesseo Changmin hyung ? Kalau dia langsung kubawa ke Kang Won-do bisa langsung minta putus kontrak denganku.
    “Itu masalah gampang, aku ini manager mu…”
    “Hyung-ah, jangan se enteng begitu berbicara. Kau memang yang membuat jadwalku tapi bukan berarti kau bisa mengubahnya seenak mu saja, yang terpampang di TV kan aku bukan kamu. “sahutku sembari memeluk bantalku.
    JEGREK !
    Seseorang membuka pintu kamarku perlahan, ah, paling pelayan atau tukang sepatu yang mau membersihkan dan membetulkan sepatuku.Ddaeng, Sunny masuk ke kamarku.
    “O Sunny –ssi …” sapa Changmin hyung, sembari berjalan keluar.
    “Sunny-a…” sapaku pelan.
    Changmin malah keluar dan meninggalkan kami berdua didalam kamar. Hyung, taukah kamu kalau yang ketiga adalaha evil (Kyu : ih ada aku.. Gomawo Author.. | Author : terpaksa,
lagian yang aku maksud bukan kamu .. #berantem d backstage)
    “Sungmin –ssi, kerjaan aku apa aja yah ?” tanya Sunny sembari mengeluarkan buku catatannya dengan sigap lalu menatapku dengan mata besarnya.
-end of Sungmin POV-
Sunny POV
    Kamar Sungmin benar-benar bersih dan sofanya begitu hangat, entahlah mungkin bekas Changmin jadi anget (Changmin : banyak anak nih ntar .. | Author : aminin aja deh. Udah ah pada bawel, duduk sono anteng-anteng, jangan ganggu..)
    Aku sejujurnya tidak sanggup menatap mata Lee Sungmin yang imut itu yang sekarang ada dihadapanku.
    “Sungmin –ssi, kerjaan aku apa aja yah ?” tanyaku sembari mengeluarkan buku catatanku.
    “Gampang..”ucapnya. “Temani saja kemanapun aku pergi ..”sambungnya dengan senyum manis yang tertera pada wajahnya.
    Mendadak otakku bekerja, aku seperti pernah mengenal senyuman ini dan kata-kata ini, aku pernah mendengarnya entah dari siapa aku mendengarnya tapi aku yakin seratus persen tentang ini, aku tidak mungkin salah. Siapa orang yang pernah berbicara ini kepadaku. Mendadak kepalaku agak pusing, sepertinya otakku bekerja.
    “Sunny –ssi, neon gwenchanha ??” tanyanya sembari mengibaskan tangannya dihadapanku.
    “Aaa.. anio .. gwenchanha ..”
-end of Sunny POV-

 

Sungmin POV
    Sepertinya Sunny mulai sedikit demi sedikit ingin mengingat apa yang pernah ia lakukan bersamaku sebelumnya, aku penasaran kenapa Sunny benar-benar tidak bisa mengingatku sama sekali. Aku pun sudah agak lupa dengan awal pertemuan kita, yang pasti aku hanya ingat dialah The Little GangWon-do Sunny yang aku kenal, tetangga sebelah rumah, yang.. yang.. mamanya meninggal.
    “Mwo ?! Eomonim ??” gumamku kaget. Aku baru ingat eomonimnya sudah meninggal.
    Lalu apa kabar dengan abeonim, abeonim yang selalu mengajakku mencari jangkrik di malam hari serta memancing setiap hari minggu, appaku dan Sunny ui appa. Aku bangkit dari kasurku sembari menekan tuts nomor 2 di ponselku.
    “Yeobuseyo ?” ucap suara dari seberang sana. Nampak lelah.
    “Omma…”
    “Padahal baru kemarin kau menelpon omma, sekangen itukah kau pada eomonim ?” tanya Eomonim. Aku tertawa sekilas menanggapi eomonim
    “Eomma, sepertinya Sun Kyu tidak mengenaliku …” ucapku dengan nada agak kecewa dan sedih.
    “Sun Kyu .. jadi kau benar-benar menjadikankannya guard mu ? Kalau eomma disana sudah kuketok kepalamu dengan centong nasi … Dia itu uljjang kesayangan eomma, ara ????”  kali ini suara eomonim meninggi. (Sungmin : eomma, salahin authornya … | Auhor : *pasang muka polos)
    “Eomonim… bicara nya pelan dikit…” ucapku memelas.
    “Lagian kau ini, bikin saya darah tinggi saja… memangnya kamu mau mengharapkan apa ? Mengharapkan ia mengingat mu ??” tanya eomonim kali ini. Aku mengangguk sekilas dan
mungkin eomonim merasakan anggukanku.
    “Kau tau, Sungmin.. saat kamu memutuskan untuk ikut appa ke Amerika, dia amat sangat sedih.. dan dia berusaha melupakanmu, namun anak umur 7 tahun tidak tau bagaimana cara terbaik melupakan seseorang…”
    “Lalu ??” tanyaku penasaran.
    “Dia kecelakaan Sungmin-a…” kini eomma berbicara dengan nada terisak. Eomonim memang amat sangat sayang kepada Sunny.
    “Mwo ?? Jeongmal ?? eotteohkke ?? kapan ??” tanyaku memburu.
-end of Sunny POV-
Author’s POV (dream)
    Langkah kaki anak itu masih nampak labil dan mulai menaiki anak tangga satu demi satu, dengan permen lolipop yang ada ditangannya, anak kecil itu mulai menaiki tangga dengan hati-hati. Rambutnya yang kecoklatan dibiarkannya terurai, dengan rok kombinasi hitam dan renda putih ia masih tampak manis. Sementara itu dilantai 2, seorang anak laki-laki yang nampak lebih tua darinya berdiri menatap keluar jendela, memandangi para tamu yang mulai datang dan pergi.

    “Oppa…” panggil si anak perempuan kecil itu.

    Anak lelaki itu berbalik, begitu melihat senyum si anak kecil itu, ia langsung menghambur dan memeluk anak kecil berusia 4 tahun itu. Si anak perempuan masih nampa terdiam sembari menjilat lolipopnya.

    “Oppa waegurae…?” tanya anak perempuan itu polos.

   “Neon .. bisa-bisanya … kau tetap tersenyum disaat seperti ini…”

    “Loh kan eomma akan kembali lagi…”

    “ANIO !!! Kau tau !! Eomonimmu tidak akan kembali, dia pergi selamanya !!” pekik anak lelaku itu keras, dan agak menyentak anak perempuan kecil itu. Lolipopnya jatuh.

    “EOMMAAAAAAAAA !!!! Aku mau eomma !!! Aku mau eomma !!!!” rengek si anak perempuan itu.

    “Ya… stop menangis.. ini tidak akan mengembalikan eomonim mu …”

    “Oppa .. neon jinjja nabbeun oppa.. eomonim itu pasti akan kembali…” isaknya.

    Anak lelaki itu bangkit dan kembali memeluk anak perempuan itu dan mengecup keningnya. “Ikut aku .. mianhae.. aku telah membuatmu menangis…aku tidak akan mengulanginya lagi..”

    “Kemana ??”
-end of Author-
 
Sunny POV
    Mimpi semalam seperti déjà vu bagiku. Aku tidak tau apa mimpi semalam, yang ia tau hanya anak perempuan kecil itu adalah dirinya, lalu siapa anak lelaki itu, aku tau yang meninggal adalah eomma ku, lalu kemana ia membawaku pergi. Andaikan aku bisa tidur lebih lama aku akan kembali melanjutkan mimpiku, entah lewat imajinasiku sendiri atau kembali mimpi itu datang sendiri.
    Kemarin Changmin oppa baru saja memberikan ku satu stel cardigan beserta inner dan juga sepasang pump shoes berwarna krem, dan aku harus pakai itu.
    Drrtt..drrtt..drrtt
    “Hyoyeon –a.. museun mal-iya ??”
    “Chukae !!! Akhirnya kau bisa makin dekat dengan Lee Sungmin itu ….”
    “Wae ??” tanyaku lagi. Kenapa semua orang yang kenal denganku dari kecil nampak sangat senang kalau aku bisa kembali bersatu dan kembali dekat dengan Sungmin oppa. Isanghaeda.
    “Gokjonghajima…akan ada banyak yang kamu akan tau disana..”
    “Aku tidak mengerti …” ucapku lalu menutup ponselku dengan kesal. Apa-apaan ini ?
    Belum lama aku memasukkan ponselku kini ponselku kembali bergetar, kali ini agak pelan pertanda ada sms yang masuk.
    Sungmin Lee –
    Hari ini aku mau ke Gangwon-do… siapkan baju, aku akan membawamu juga kesana…
    Sungmin –
    “Mwo ??? Gangwon-do…? Ngapain dia kesana ? Dan sejak kapan ia tau kalau aku tinggal disana …”gumamku dengan penasaran. Gangwon-do, apa ia juga dari sana.
    Tiba-tiba sakit kepala itu kembali menyerang, sakit  nyeri yang amat sangat luar biasa, sepertinya otakku sedang bekerja dan berusaha mengingat sesuatu. Tempat sakitnya persis ditempat aku pernah kecelakaan dahulu. Ada apa ini ? Sekarang baru tanggal 5 dan aku akan check-up di tanggal 15 namun kenapa kepalaku sakit begini.
    Aku mengesent sesuatu pada ponselku ke Sungmin dan berusaha membuka mataku yang mulai agak berkunang-kunang. Aku keluar dari rumah kontrakanku sembari menenteng tasku.
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    Aku mulai beres-beres dan membawa semua album fotoku masa kecilku yang setiap halamannya pasti ada muka Sunny dengan berbagai pose. Aku bahkan masih punya foto kecil Sunny yang membawa bunga dan menciumnya tepat didepan kamera, foto itu diambil saat ia berumur 3 tahun.
    Aku mengecek ponselku dan mendapati ada satu sms masuk. Sunny. Yap ! SMS jawaban ya yang aku tunggu.
    Little Gangwondo –
    Annyeonghaseyo Sungmin-ssi, ne. aku akan bersiap untuk ke Gangwon-do, geunyang.. aku akan ke dokter sebentar, dan joisonghabninda kalau nanti aku terlambat sampai dirumah     anda. Gamsahabnida..
    -Sunny-
    “Dokter ? Apa dia sakit ? Sepertinya kemarin masih baik-baik saja..” gumamku sembari kembali memasukkan beberapa potong pakaian. Aku masih yakin kalau akan berhasil menjalankan misiku kali ini.
    Tak lama Changmin hyung masuk kedalam kamarku sembari menggotong segalon kecil air putih yang masih nampak baru, dengan kaos polonya aku selalu iri dengan tubuh atletisnya itu.
    “Hyung-a… kira-kira berhasil tidak ?” ucapku mendadak pesimis.
    “Hwaiting !!” Agak sedikit tidak nyambung antara ucapanku dan responnya. Namun, kuabaikan daripada berbuntut panjang dan air galon itu di buang mentah-mentah buat ngisi air kolam lebih baik aku diam (Author :berani buang, awas ! Changmin masih utang itu belinya .. | Changmin : hush ! dibaca reader entar, eh gantinya kalo udah gajian yaa | Author : *telpon Lee Soo Man)
    “Loh ? Si Sunny belum dateng ?” tanya Changmin saat kami masih duduk dan kongkow di halaman depan rumahku. Kukeluarkan ponselku sembari menyodorkan sms yang baru saja Sunny kirim padaku. Changmin hanya mengangguk sekilas sambil mengeluarkan jaketnya, udara Seoul sudah mulai mendingin.
-end of Sungmin POV-
Sunny POV
    “Apa kau sedang berusaha mengingat sesuatu ??” tanya Dr. Donghae padaku. Aku mengangguk pelan.
    “Apa ?” tanyanya lagi sembari menatap mataku. “Apa itu sesuatu yang penting dan pernah berharga didalammu ?” tanyanya lagi.
    “Molla..kemarin aku baru saja bekerja sebagai private secretary untuk artis Lee Sungmin, entah mengapa semenjak mengenalnya bahkan berbicara dengannya, kepalaku terasa sakit, bahkan aku malah bisa melihat kembali keadaan masa kecilku…” ucapku dengan tenang.
    Dr. Donghae mengernyitkan alisnya, dahinya berkerut. Dokter muda ini nampak menulis suatu case pada bukunya dan mulai menelpon psikiater di rumah sakit tersebut. Dr. Donghae menyuruhku untuk keluar sebentar sembari dia menge check dan kembali menge check apa yang menjadi duty-nya. 1 jam kemudian seorang suster menyuruhku kembali masuk kedalam.
    “Dokter, kalau boleh tau saya ini kenapa ya ? Apa saya harus menjalani pengobatan lagi ? Ataukah luka itu kembali terbuka..?”tanyaku.
    “Tidak, so far kamu baik-baik saja, hanya saja…”
    “Hanya apa dok ?” tanyaku penasaran. Raut muka Dr. Donghae nampak serius.
    “Hipotesa saya, sebelum kecelakaan belasan tahun lalu itu terjadi, kau berusaha untuk melupakan seseorang dan saya asumsikan Lee Sungmin, namun karena kecelakaan itu merusak memorimu jadi kau tidak bisa mengingat apa-apa lagi sekarang. Namun, memori itu kembali lewat peristiwa ini… banyak pasien yang mengalami hal seperti mu. Jangan takut, jika kamu berhasil membawa memorimu kembali, semua juga akan kembali seperti sediakala…” ucap Dr. Donghae sembari tersenyum dan menepuk bahuku.
    Maldo andwee, gumamku perlahan. Gangwon-do.. aku teringat sms Sungmin barusan dan mengajaknya ke Gangwon-do. Solma ?
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    Sudah sekitar 6 jam, kami berada di kereta. Aku dan Sunny, hanya berdua. Tak disangka iapun ternyata membawa banyak peralatan, seperti sandwich, termos es ukuran sedang dan juga tas ransel kecil yang memuat baju-bajunya. Bahkan ia memaksaku membawa bantal supaya bisa tidur didalam kereta. Aku menggeliat bangun dan mendapati Sunny sedang tidur dengan nyenyaknya dengan selimutku. Mukanya terlihat lelah dan masih nampak seperti shock. Aku membuka termos es dan mendapati sebotol Starbucks dingin didalamnya. Kulihat dari jendela, hari hujan.
    Kembali kutengok Sunny, ia kini mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya dan mulai duduk dengan tegak, kusodorkan botol starbucks lain yang juga ada di dalam termos es itu.
    “Gomawo..”ucapnya parau. Efek bangun tidur yang nampak nyata pada diri Sunny.
    “Geunde… kenapa tadi kau ke dokter ? Apa kau sakit ? Mianhae kalau aku harus membawamu ke Gangwon-do.. aku hanya ingin berbagi tempat dan kenangan masa kecilku disana …” ucapku sopan. Dia hanya tersenyum.
    “Nan gwenchanha.. “ ucapnya tak kalah sopan.
    Kami tiba di Gangwon-do, dan sekilas kulihat mata Sunny nampak berbinar. Ia amat senang dengan udara disini bahkan suasannya. Ya, inilah rumahnya. Aku juga senang melihatnya tersenyum seperti ini.
-end of Sungmin POV-
Sunny POV
    AAAAAA jib-e wuatda !! I’m home now. Aku amat sangat senang udara disini, masih bersih, belum terlalu tercemar oleh polusi udara. Namun, sakit kepalaku sepertinya akan meghebati disini. Aku ingat dimana tempatku kecelakaan belasan tahun yang lalu, namun mengapa aku tidak mengenal Sungmin –ssi sama sekali.
    Sungmin membawaku kerumah orangtuanya di Gangwon-do, kata nya sih mau menjenguk ibunya yang sekarang sudah pensiun dan hanya mengurus kebun rumahnya yang penuh dengan bunga-bunga. Jamkkaman .. sakit kepalaku menghebat ketika aku melihat suasana dirumah Sungmin, ige mwoya ? Aku seperti mengalami flashback, ya, flashback kehidupan sebelum kecelakaan hampir maut itu terjadi kepadaku.
    “Jakkamanyo Sungmin-ssi, aku sakit kepala lagi…” keluhku.
   “Gwenchanha….ayo kita masuk dulu…”
    “Anio … sakit kepalaku menghebat ketika aku memasuki setiap centi rumah ini.. aku tidak tau kenapa ..” ucapku sembari memegangi kepalaku yang mulai berputar.
    Sun Kyu-a…Sun Kyu-a….

    Kata-kata itu terngiang ditelingaku, aku mulai menutup telingaku. ANDWEE !!! Ige mwoya ??? Aku benar-benar tidak kuat menghadapi ini.
    “Eomma….”
    Dan mendadak gelap !
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    Dari luar kamar, kulihat dengan lembut eomonim mengompres dan megusap dahi Sunny pelan dengan air hangat dan sedikit alkhohol untuk membangunkannya. Aku menutup wajahku dengan kedua belah tanganku, ini salahku kenapa aku nekad membawanya kesini, kenapa. Betapa bodohnya aku, harusnya aku menunggu sampai Sunny yang menyadari sendiri, dan kenapa pula aku sampai tidak tau kalau ia pernah kecelakaan.
    “Oh kau sudah sadar…” Terdengar suara eomma dari dalam cukup keras, sampai aku mengusap air mata yang telah mengalir di pipi. Akupun masuk sembari melihat keadaannya, dia mengerjapkan matanya yang bulat itu. Lalu, ia menengok kearah eomma.
    “Imonim …” ucapnya pelan.
    Eomma melihatku dengan tatapan tidak percaya. Uri Sunny bisa mengingat ibuku dan memanggilnya imonim. Eomma mengusap rambut atas Sunny pelan, sekilas kulihat airmata di pipi
Sunny, perlahan eomma menyentuh air mata yang ada dipojokan matanya.
    “Sunny-a … Kau ingat imonim ?” tanya eomma dengan tatapan penuh haru. Eomonim amat sangat sayang pada Sunny, sudah dianggapnya Sunny sebagai anaknya sendiri. Dengan sayang, dipeluknya Sunny dan dielusnya kepalanya perlahan. Aku hanya bisa diam menyaksikan ini. Aku bersyukur eomonim masih hidup. Sunny meregangkan pelukannya dan menatapku dalam.
-end of Sungmin POV-
Sunny POV
    Aku melepaskan pelukanku pada orang yang telah dekat padaku sejak aku kecil ini, ternyat aku tadi pingsan, namun setelah pingsan aku menemukan banyak sekali hal dalam mimpiku. Semu cerita masa kecilku, semua memori dan memori yang dulu pecah kini mulai terpasang kembali satu per satu. Sekalipun tak sempurna, aku masih bisa mengingat siapa Sungmin dan siapa Eomonim yang sekarang mengelus perlahan rambutku ini. Kuulurkan tanganku pada Sungmin yang berdiri didepan tempat tidur saat ini. Sungmin meraih tanganku.
    “Neon, hobak sonyeon (pumpkin boy)…”ucapku pelan.
    Sungmin mendekatiku sembari tersenyum, kurasakan ciuman hangat Sungmin pada jidatku sesaat setelah aku mengucapkan kata pertamaku padanya. Perlahan, eomonim membantuku bangkit, namun Sungmin malah menggendongku di punggungnya.
    “Orenmanida…”ucap Sungmin saat ia menuruni tangga satu per satu.
    “Ne ?”
    “Kau sudah lupa ternyata ..” sahut Sungmin sambil tertawa. Saat ini kami sedang duduk di ayunan di taman belakang. Kugosok kedua tanganku karena dingin.
    “Chubda ?” Aku mengangguk sekilas. Sungmin melepas jaketnya lalu meletakkan pada pundakku.
    “Aa gomawo ..” ucapku sembari membetulkan letak jaket itu.
    “Mianhanda..”
    “Ne ?” seruku kaget. Ditengah hal yang seperti ini ia mngucapkan Mianhanda. Waeyo ?
-end of Sunny POV-
Sungmin POV
    “Mianhanda..” ucapku sembari menatap lurus kedepan kearah kolam ikan kecil yang kini masih tampak terawat padahal sudah dibangun sebelum aku lahir.
    “Ne ?” kali ini Sunny malah balik bertanya. Tatapan matanya menunjukkan kalau ia bingung mengapa aku meminta maaf padanya disaat seperti ini.
    “Karena aku ga bisa tepatin janji, karena aku ga bisa datang ke pemakaman abeoji dan … jeottemune kau mengalami kecelakaan hebat itu…” Sunny tersenyum kecil mendengar pengakuanku. Bahkan aku masih bisa mendengar tawa kecilnya.
    “Dwesseo… jangan pernah ungkit lagi ..”sahut Sunny sebelum aku melanjutkan perkataanku. Aku menengok sekilas, Sunny menatap lurus kedepan sembari menguraikan senyum manisnya.
    “Justru aku malah bersyukur .. neottemune, aku memang kecelakaan, tapi kalau aku ga kecelakaan belum tentu aku masih bisa memaafkan mu sekarang… kalau aku tidak kecelakaan aku bisa tidak bekerja dan kalau aku tidak kecelakaan mungkin aku masih di GangWon-do dan akan tetap menjadi anak peternak.” Ucapnya sembari membalas tatapan mataku.
    “Sungmin –ssi…gomapta ..” chu ~ dia mencium pipiku sekalipun sekilas.
    “Sunny –ssi .. aku … aku ga bakal ngelakuin perbuatan yang kayak dulu lagi. Aku ga bakal ninggalin kamu lagi..”ujarku sembari memegang kedua bahunya. Sunny mengeluarkan jari kelingkingnya.
    “Yakso ..” ucap kami hampir bersamaan.
    Aku menarik Sunny dalam pelukanku. “Aigooo, uri Sun Kyu … finally I found you..” Kusandarkan kepala Sunny pada bahuku.
-end of Sungmin POV-
EPILOG
    “Kemana ?”tanya sang gadis kecil di tengah isakan tangisnya yang mereda.

    “Ikut saja kemanapun aku pergi …”

    Anak lelaki kecil itu menggendong si anak perempuan kecil di punggungnya, dengan perlahan dan hati-hati ia menuruni tiap deret anak tangga yang ada dirumahnya. Sementara sang ayah dari anak  lelaki itu masih menepuk pundak si ayah dari anak perempuan kecil itu. Mereka tiba di taman belakang dan si anak lelaki mendudukkan anak  itu tepat di ayunan berwarna putih itu.

    “Eomma … eommaa …” isak sang gadis kecil itu saat melihat appanya membawa foto besar.

    “Sun Kyu-ya .. uljima ..” ucap sang anak lelaki sembari mengusap air mata pada mata gadis kecil bernama Sun Kyu itu.

    “Sunny …”

    “Mwohaseyo ?” tanya sang gadis sembari memainkan menggosok matanya yang gatal.
    “Dangsin ireumeun Sunny ibnida …”

    “Waeyo ?”

    “Kau seperti matahari kecil bagiku… geunde matahri itu sedang menangis… geurasseo aku ga mau matahariku menangis. Kata Sungmin eomonim Sun Kyu seperti malaikat, malaikat itu tidak boleh menangis…”ucap Sungmin sembari duduk disebelah anak kecil itu. Chu ~ Sebuah ciuman mendarat di dahi gadis kecil itu.

    “Kau tidak akan sendirian… aku akan selalu bersamamu…” ucap Sungmin sambil mengapitkan tangan Sunny di lengannya. Sunny menyandarkan kepalanya pada bahu Sungmin perlahan.

 
-THE END-

23 thoughts on “Memories

  1. Huu terharu TT_TT
    Bagus banget🙂 Joke percakapan author-nya bikin ga terlalu serius baca… hehe… perpek (?) dahh…
    SunSun jjang!

    Like

  2. baguuss.. !
    cuma rada bingungin dibaca karna bilanguange u,u
    well, gue bsa korea tapi kalo dicampur gini jadinya malah pusing -.-
    kalimat langsungnya agak janggal didengar/dibaca

    btw, ada saran gimana caranya ngehide/ngilangin jam yg di sudut kiri bawah blog ini? annoying banget.. memperkecil space baca

    Like

    1. waaa kalo ngilangin jam tnya adminnya yaahh .. hahaha . itu dibantuin onniku jdi ada bahasa korea . thanks kritik saranna yaa xD

      Like

      1. Oh udah ya??? Hehehe… Aku kira belom… Btw disini Sunny rambutnya ala the boys apa yang biasa ya??? + kasian amat Changmin Oppa jadi kuli angkut (galon)

        Like

  3. itu wktu rmbut Sunny masih kayak di Gee hehehehe . soalna itu rambut terbagus dia menurut aku hehehe xD iyaaa ototna terbuat karena angkat galon di kantor SM (Changmin : Author, jangan bilang bilang kek.. | Author : *merong*)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s