Saranghae Do Dwel Gayo? (Part 2)


Judul FF : Saranghae Do Dwel Gayo? (Part 2)
Cast : All member of DBSK dan All member of The Boss
Genre : Romance, Angst
Author : Kim Chi Hee

“Kau bercanda saeng, sudah yah sepertinya aku harus mandi dulu dan aku juga sudah gerah, kita lanjutkan nanti saja oke!” Yunho bergegas untuk bangkit tapi sebelum Yunho berhasil berdiri Karam menarik tangan Yunho dan alhasil Yunho yang saat itu tidak memiliki keseimbangan yang memadai jatuh menimpa Karam.

Saat ini wajah mereka hanya berjarak tiga senti hingga mereka berdua bisa merasakan hembusan napas masing-masing. Mata Karam menatap mata elang milik Yunho dengan sendu dan dengan sedikit bibir yang terbuka. Entah keberanian dari mana atau mungkin memang ada setan yang menyusup ke kepala Karam, Karam mendekatkan bibirnya ke bibir Yunho dan tanpa persetujuan dari Yunho Karam langsung melumat bibir Yunho. Yunho yang shock hanya diam saja, dia tidak tahu untuk berbuat apa seakan-akan otaknya kosong dan tidak mampu berpikir.

Setelah beberapa lama Karam melumat bibir Yunho, Yunho mendapatkan pikirannya kembali dan dengan gerakan cepat Yunho melepaskan bibirnya dari ciuman yang hampir saja membuat Yunho kehilangan pikirannya untuk membalas ciuman panas Karam dan yang mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Yunho bangun dari atas badan Karam dengan napas terengah-engah diikuti dengan Karam.

 

*PLAKK*

 

Tanpa sadar Yunho menampar wajah Karam. Karam terkesiap dan langsung memegang pipi kirinya yang tadi baru saja ditampar oleh Yunho. Cairan bening perlahan mulai turun dari sudut mata besar Karam. Yunho benar-benar panik saat ini, dia tidak pernah mengira akan melakukan hal ini pada Karam, padahal dulu dia pernah berjanji tidak akan pernah menyakiti adiknya ini walau Karam bukanlah adik kandung Yunho.

 

“Ka… Ka… Kau, maafkan hyung Karam, maafkan aku.” Seru Yunho gelagapan.

 

Karam bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya. Yunho yang merasa bersalah tidak tahu harus melakukan apa. Otaknya benar-benar tidak bisa bekerja saat ini. Pikirannya kacau.

 

========================================================================

 

Di dalam kamar, Karam malah bersorak sorai gembira dalam hatinya karena rencana yang tadi tidak sengaja ia buat berjalan mulus. Karam duduk di sudut ranjangnya yang dekat dengan meja belajarnya, dari laci meja belajarnya ia mengambil selembar foto. Terlihat dua anak laki-laki di foto itu. Ya, mereka adalah pasangan Yunjae. Dengan gerakan perlahan Karam merobek foto itu hingga terbelah dua yang memperlihatkan gambar Yunho dan Jaejoong terpisah.

 

“Aku akan membuat kalian seperti ini.” Seringai di bibir Karam mengembang.

 

========================================================================

 

Hari demi hari hubungan Karam dan Yunho merenggang. Kedua orang tua mereka pun bingung dengan apa yang telah terjadi dengan kedua anak mereka. Sekarang Karam semakin menjauhi Yunho. Karam tidak lagi berangkat ke sekolah dengan Yunho, padahal sebelum adanya kejadian itu Karam selalu diantar dan dijemput oleh Yunho. Memang SMP Karam dan SMA tempat Yunho bersekolah berada di satu lingkungan, jadi baik siswa SMP maupun SMAnya bisa bebas bertemu, bahkan kantin dan perpustakaannya pun jadi satu.

 

Saat ini Karam sedang berada di perpustakaan di sekolahnya, dia sedang mencari-cari buku untuk bahan makalahnya, tapi saat dia akan menarik buku dari sebuah rak ada tangan yang terlebih dulu menarik buku itu. Karam menoleh pada pemilik tangan itu. Dan ternyata sipemilik tangan itu adalah seorang Kim Jaejoong.

 

“Oh calon adik ipar? Apa kabar?!” Seru Jaejoong ceria sambil mencubiti pipi Karam. “Kok, aku gak pernah liat kamu bareng Yunnie lagi sih? Kamu berantem yah?”

 

Karam menurunkan tangan mulus milik Jaejoong dari pipinya. “Aku baik-baik aja kok hyung.”

 

“Hyung!” Panggil sebuah suara.

 

Seorang anak laki-laki berlari menghampiri Jaejoong. Anak laki-laki itu menyerahkan sebuah contoh sampel dari uji cobanya. Karam memperhatikan anak itu dengn seksama, sepertinya dia pernah melihat anak laki-laki itu sebelumnya. Namun Karam tidak peduli soal itu.

 

“Hyung, aku pamit, aku mau pulang.” Seru Karam sambil membungkukan badannya.

 

“Eh! Jangan dulu! Kita makan siang aja dulu di kantin, bagaimana? Yunnie juga nanti ada di sana setelah latihan kendonya selesai. Ayo!” Jaejoong langsung menarik tangan Karam dengan tangan kirinya sedangkan tangannya yang lain menarik anak laki-laki tadi yang baru datang. “Kau juga ikut! Sekalian kan.”

 

Sesampainya di kantin. “Yunnie!” Panggil Jaejoong pada anak laki-laki yang duduk di pojok kantin yang masih memakai kendogi berawarna biru. Anak laki-laki itu membalas panggilan Jaejoong dengan sebuah lambaian.

 

Jaejoong langsung menarik kedua Karam dan anak laki-laki itu mendekati meja Yunho. “Yunnie! Kok kamu cepet sih?!” Seru Jaejoong sembari mendudukan dirinya di sebelah Yunho. Sedangkan Karam dan anak laki-laki tadi duduk bersebelahan di hadapan Yunho dan Jaejoong.

 

“Aku kan sudah kelas tiga, jadi bolos dikit juga gak apa-apa, bilang aja mau belajar buat ujian.” Yunho memberikan jus yang tadi dipesannya untuk dirinya sendiri kepada Jaejoong. “Kau haus kan?”

 

Jaejoong menggeleng. “Aku gak mau minum dari situ!”

 

“Terus dari mana boo? Apa dari sini?” Yunho meminum jusnya seteguk setelah itu dengan kecepatan yang tidak terduga Yunho meraih tengkuk Jaejoong dan mendekatkan bibir mereka sehingga tidak ada lagi jarak antara bibir mereka. Jaejoong awalnya menolak, namun kelamaan Jaejoong malah mengalungkan lengannya di leher Yunho.

 

Karam yang melihat kejadian itu hanya memandang mereka dengan pandangan sarkastik lalu memalingkan wajahnya agar dia tidak bisa melihat adegan yang membuat hatinya panas. Tapi tiba-tiba dua buah tangan menutupi matanya. Dan ternyata tangan itu adalah milik anak laki-laki tadi yang juga ditarik Jaejoong dari perpustakaan. Karam mencoba melepaskan tangan anak itu.

 

“Sudah, kau diam saja!” Seru anak laki-laki itu.

 

Setelah beberapa saat adegan yang harusnya dilihat oleh anak umur 17 ke atas itu akhirnya selesai, karena Jaejoong melepaskan ciuman Yunho sebab pasokan udara di paru-parunya menipis.

 

“Yunho! Kita kan jadi dilihat mereka! Mereka kan masih kelas 2 SMP! Belum pantas melihat adegan tadi.” Seru Jaejoong sambil mencubit perut Yunho.

 

“Maaf boo~” Ringis Yunho. “Kamunya juga sih yang mancing!” Seru Yunho sambil memajukan bibirnya.

 

Anak laki-laki tadi akhirnya melepaskan tangannya dari atas mata Karam. Karam menatap anak laki-laki itu dengan pandangan dingin.

 

“Karam?!” Tanya Yunho. Ternyata Yunho baru menyadari kehadiran Karam. Karam hanya membalas pertanyaan Karam dengan senyuman. Senyuman pahit.

 

“Iya! Tadi aku ketemu Karam di perpus, ya udah sekalian aja aku bawa kesini! Kamu kenapa sih Yun, lagi berantem sama Karam? Awas ya, kalo kamu apa-apain Karam!” Ancam Jaejoong.

 

“Gak, kok boo~. Tanya aja Karam. Iya kan Karam?” Tanya Yunho pada Karam.

 

“Kami gak apa-apa.” Sahut Karam dingin.

 

“Okeh, baguslah. Oh iya, kalian belum kenalkan? Dia itu Mika. Dia itu kelas tiga sekarang, tapi dia masih seumuran sama kamu! Malah lebih tua kamu deh setahun. Dia murid terpandai di sekolahan ini. Kau belum tahu kan?” Cerocos Jaejoong. Karam hanya mengangguk.

 

“Mika!” Mika mengulurkan tangannya pada Karam. Karam membalasnya. “Karam.”

 

“Kalian mau pesan apa?” Tanya Jaejoong.

 

“Tidak terima kasih Jae hyung, kami mau pergi dulu.” Seru Mika sambil membungkuk, lalu dengan cepat menarik tangan Karam untuk menjauhi dua pasangan serasi itu.

 

“Loh?! Mau kemana?” Tanya Jaejoong pada dua orang dongsaengnya yang sudah menjauh dari tempatnya sekarang.

 

Yunho menarik napas panjang. Jaejoong yang mendengarnya mendadak khawatir, karena tidak biasanya Yunho menarik napas panjang dengan tidak bergairah seperti itu. “Kenapa?” Tanya Jaejoong.

 

“Gak apa-apa, kau benar. Aku sedang marahan sama Karam. Atau lebih tepatnya Karam sedang marah padaku.” Jawab Yunho.

 

“Kenapa? Kau bisa ceritakan padaku.”

$$$

 

 

Sementara itu Mika membawa Karam ke sebuah taman di belakang sekolah tak jauh dari kantin. “Kamu lupa ya?”

 

“Hah?”

 

“Kamu lupa sama ini?” Mika mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kalung yang terbuat dari kulit bekas potongan sebuah tas kulit berliontin tutup botol.

 

Karam mengerenyitkan dahinya, mencoba menigat-ingat. “Aku gak lupa apapun.” Seru Karam.

 

$$$

 

 

“Jadi seperti itu?” Jerit Jaejoong tidak percaya.sambil menutupi mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya

 

“Apa kau mengijinkannya?” Tanya Yunho ragu.

 

“Aku bisa mengerti dirinya yang tengah labil, ditambah dengan latar keluarganya yang membuangnya, apalagi dia juga tinggal di panti asuhan kan? Dari apa yang pernah kubaca, setiap anak yang tinggal di panti asuhan walau mempunyai banyak teman tapi tetap saja dia kesepian.” Jelas Jaejoong.

 

“Lalu aku harus bagaimana? Aku sangat sayang sama Karam. Tapi sayangku di sini hanya sebagai adik boo~”

 

Jaejoong terlihat berpikir sebentar. “Aku mengijinkannya.”

 

“Hah?! Kau tidak cemburu?” Tanya Yunho tidak percaya.

 

“Aku sangat cemburu JUNG YUNHO!” Seru Jaejoong yang diberi penekanan pada kata ‘Jung Yunho’. “Tapi, kau lupa ya? Seminggu lagi ultahnya Karam. Aku mau buat kejutan di ultahnya dan perlakuanmu yang diminta Karam akan berakhir pada hari itu.”

 

“Kau serius?”

 

“Aku sangat serius. Aku merasa kasihan padanya. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri.” Seru Jaejoong. Yunho yang mendengarnya langsung memeluk Jaejoong. “Tapi ada syaratnya.”

 

“Apa syaratnya?”

 

“Kau jangan macam-macam padanya! Kalau kau apa-apain dia dan sampai lepas kendali akan kucincang kau!” Ancam Jaejoong.

.

 

.

.

.

.

.TBC

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s