[One Shoot] Guardian


Kalau aku mencintai kamu, aku bisa kehilangan segalanya.

Guardian
[15+/Yuri/AU/Romance/Humor/Pairing]

~*~

Chapter 1

Peramal macam apa ini? Hanya meraba tangan dan jemariku ia mengatakan hal yang tak masuk akal pula. Aku kan ingin mengetahui ramalan keberuntungan dan cintaku, tapi kenapa nenek tua itu malah bilang, “Pelindungmu akan tiba dihadapanmu, ia mencintaimu…”

Apa maksudnya itu? Aku berjalan di pinggiran kota sambil merasakan penyesalan karena telah membuang beberapa ribu won ku untuk sebuah ramalan yang (sangat) tidak memuaskan itu.
Ketika melewati sebuah tukang makanan dan mencium wangi aroma bakpao, perutku langsung bereaksi. Wajar saja, semenjak pagi aku sibuk berbelanja dan lupa mengisi perutku.

Bakpao itu Nampak sangat menggoda, akupun berjalan mendekati tepi jalan raya itu.
Ketika hendak memesan, tiba-tiba saja muncul petugas penertiban yang membuat seluruh pedagang di pasar itu langsung kocar-kacir sambil mendorong dagangan mereka.

SIAL lagi. Sebenarnya apa sih yang terjadi? Grrrh today was just PERFECT!

Itulah yang kurasakan, ramalan aneh, belum makan dari pagi dan ketika ingin makan malah harus mengalami keadaan seperti tadi. Ketika sedang berjalan di dalam gang dekat kontrakanku, aku memandang langit mendung di siang itu dan berteriak sekencang-kencangnya. “Oi!!! Pelindung! Kamu sedang apa? Lagi cuti yah? Sampai-sampai aku dapat sial terus!?” teriakku kencang.

“Sembarangan!” seseorang berteriak demikian, suaranya perempuan namun sedikit bergema dan tidak jelas darimana asal suaranya. Aku sedikit merasa ketakutan karena tidak ada penampakan manusia disekitarku, hal ini membuatku mempercepat langkah dan langsung memasuki kontrakanku.

Aneh sekali kenapa bisa ada suara yang memarahiku namun aku tidak melihat seorangpun disitu, belum lagi suara itu nampak seperti menegurku.

Aku berjalan perlahan menuju dapur , meletakan barang belanjaanku. Aku mencium bau gas didekat komporku. Kompornya nampak mati, ada apa ya? Akupun mencoba memutar-mutar knop kompor itu.

BRAK! BRAK! BRAK!!!!

Aku terkejut bukan main, semua jendela didekat komporku tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya.

HUAH!!!!!
BRUK!!!!!

Kali ini aku melihat seseorang terjatuh dari lantai atas! BUNUH DIRI????
Aku langsung melihat ke arah jatuhnya orang itu, seorang anak perempuan! Dia selamat karena ditahan oleh timbunan sampah. Tanpa pikir panjang aku langsung keluar rumah dan menuju bak sampah itu, ingin melihat apa dia masih hidup sekarang atau sudah …

“Hey kamu? Kamu masih hidup???” aku mencoba mengguncang-guncang tubuh perempuan itu, ia berkulit amat putih dan berwajah polos. Ketika kusentuh dadanya, tidak terasa detak jantungnya.
“Tolong ada orang mat-“
“Hey! Aku belum mati!!!”
Perempuan itu tiba-tiba bangkit.

~*~

Matanya seakan melakukan Scan ke seluruh ruangan. Aku memberikan ia secangkir minuman dingin kepada perempuan itu. Tubuh mungilnya nampak baik-baik saja, hal itu jelas membuatku terkejut, karena ia bisa berjalan masuk ke dalam rumahku dengan normal.

“Kamu datang darimana?” tanyaku
Ia tak menjawab hanya menunjuk langit-langit dan menghabiskan sirup dingin itu dengan perlahan.
“Lantai atas? Kamu tinggal di lantai 4?”
Ia menggelengkan kepalanya, “Lebih jauh lagi…”
“Oh lantai 7?” jawabku karena apartemen kecil ini hanya memiliki 7 lantai.
Akhirnya ia menghabiskan sirup itu, “Ah… bukan lebih tinggi lagi…”
“Lebih tinggi lagi? Maksudmu, diatas gedung?”
“Di langit…!”

HAHAHAHA…
Aku tertawa terbahak karena kalimat itu. Ia nampak polos dan lugu namun selera humornya juga begitu bagus. Lumayan menghilangkan penat akhir-akhir ini.

“Eh jangan tertawa… kamu itu sedang dikutuk!” ucapnya kali ini dengan tatapan yang tajam dan berbeda.
“*glek* Di-dikutuk?” aku menelan ludahku, kata-katanya terasa begitu tajam kali ini.
“Siapa coba yang menginjak makam orang minggu lalu?” ucapnya

Seminggu lalu?
Kalau tidak salah waktu itu aku dan teman-temanku sedang menghabiskan weekend di pegunungan. Ketika kami menemukan sebuah tanah lapang, kami semua bermain kejar-kejaran layaknya anak kecil. Dan aku sempat berlari menaiki bukit kecil, ketika itu beberapa orang temanku menyuruhku turun dari situ.

“Ja-jadi itu…?”
“Itu makam orang bodoh… sekarang kau sedang dikutuk oleh roh dari makam itu!”
Mulutku bergetar, tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalau begitu… K-Kau siapa?”
“Yang jelas aku bukan dewa… tapi aku mampu melindungimu…”

~*~

Chapter 2

Ini gila, perempuan itu mengatakan dirinya adalah pelindungku! Apa aku harus percaya dengan perkataannya?

“Kenapa? Kau tak percaya dengan perkataanku?” ucap perempuan itu
Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepalaku.
“Mau bukti?” Ia tersenyum mengejek.
“Kamu pikir siapa yang membuka seluruh jendela ketika gas kompormu sedang bocor?”
Aku menatap ke arah komporku, masih sedikit tercium bau gas.
“Ya aku!” perempuan itu menunjuk dirinya dengan bangga lalu mendekati kompor gas dan mencabut regulator tabung gas itu.

“Lalu? K-kenapa kamu bisa ke sini?”
Ia terdiam sesaat saat kutanyakan hal itu.
“Melindungimu… Hwang Tiffany…” ia menatapku dan sedikit tersenyum kecil.

Bahkan ia mengetahui namaku, apakah aku harus mempercayai dirinya?
Kalau dia itu benar-benar berasal dari langit? Pasti Bumi ini sudah gila. Atau aku sedang bermimpi? Aku menampar-nampar pipiku sendiri.

Perempuan itu berjalan mendekatiku, kali ini ia menatapku –sekali lagi- dengan wajah yang mengejek, “Masih tidak percaya denganku? Baiklah… akan kubuktikan… Tiffany Hwang, kau sudah gagal dalam percintaan sebanyak 4 kali! Semua karena…-“ Ia mengacungkan empat jari.
“STOP!” bentakku
“Oke aku percaya! Percaya!” tambahku sambil berusaha memotong topik yang ia bicarakan tersebut.

“Ngomong-ngomong siapa namamu?” tanyaku kepada perempuan itu dan nampaknya umurnya tak berbeda jauh denganku.
“Kim… Tae Yeon…” ucapnya sambil berjalan menuju kamarku.
“Hey! Aku tidur disini ya?” ucapnya sambil membuka pintu kamar dan melompat ke atas kasurku.

“Tidur di kasurku? Lalu aku? No no, kamu bisa tidur di sofa-”
“Sofa? Badanku bisa sakit semua… Kamu juga tidur disini. Jangan khawatir, gaya tidurku tidak parah koq!”
“Ba-baiklah anggap saja seperti rumahmu sendiri…TaeYeon-ssi!”
“Eh! Tak usah memanggilku sepeti itu, langsung panggil namaku saja!”
Aku mengangguk saja,
“Satu hal lagi… aku akan mengikuti dirimu kemanapun kau pergi!”

APA?
Dia akan selalu mengikutiku? OMG! Pelindungku? Apa bukannya malah menambah daftar kesialanku saja?

~*~

Selamat seminggu berturut-turut ia selalu mengikutiku. Benar-benar kemanapun, bahkan ia menungguku saat aku berada di toilet. Memang ia tidak membuatku risih, namun terkadang ia sering menjadi perhatian orang-orang karena tingkah lakunya yang norak ketika melihat barang-barang di dunia ini yang mungkin di langit sana tidak ada.

Sore itu langit hujan, aku dan dirinya berlarian menerobos hujan deras itu, untungnya hari itu aku membawa payung. Meskipun begitu, ia tetap basah kuyub karena tidak bisa menyamai kecepatan lariku.

“Tae Yeon… ini bajumu…” aku menggeser pintu kamarku,

SLASH!!!

Aku dikejutkan olehnya. Tae Yeon memperlihatkan sesuatu yang berada diluar akal sehat. Ia menunjukkan sayap miliknya! Sayap yang begitu putih dan bercahaya! Sayap itu ia kepakkan begitu ia membuka bajunya, beberapa bulir air beterbangan ketika ia mengepakkan sayapnya itu.
“Ah! Fany! Kau mengejutkanku saja!” ucapnya langsung menarik kembali sayapnya hingga tak terlihat lagi olehku.
Aku terdiam, aku semakin percaya kalau dia benar-benar bukan manusia.

Ada yang sedikit mengganjal, sayap yang kulihat tadi kenapa hanya sebelah kiri saja dan kenapa basah?
“Tae? Apa kau sudah tidur?” bisikku di belakangnya, namun ia tak menjawabku. Tubuhnya sedikit menggigil aku langsung menarik selimut untuk menutupi dirinya dan kusentuh bahu tubuhnya itu, kurasakan perasaan berbeda saat kusentuh badan mungilnya itu, ada sebuah perasaan aneh ketika kusentuh. Hingga akhirnya aku memeluk tubuhnya dari belakang.

Perasaan yang membuatku begitu bahagia.

Semakin hari kami berdua semakin dekat. Aku sudah tidak merasa canggung lagi berada di dekatnya ia sudah seperti bagian dari diriku.
Tak terasa sudah dua bulan kulewati hari-hariku bersama dengan dirinya, hari itu ia tidak mengikutiku selama seharian, ia bilang “Hari ini pasti kutukanmu sudah berakhir…”.

“Tae…Tae?” ucapku begitu tiba di rumah, ia tak menjawab panggilanku. Ruangan tamu pun begitu gelap. Ketika kunyalakan lampu ruang tamu, aku hanya mendapati banyak bulu-bulu putih bertebaran. Bulu yang nampaknya tak begitu asing.
Sementara itu jendela ruang tamu terbuka dengan lebarnya.

Aku berjalan perlahan menatap langit di malam itu, “Apa ia sudah…meninggalkanku?”
Entah mengapa tiba-tiba saja airmataku mengalir. Perasaanku terasa terombang ambing dan sakit. Ia pergi tanpa mengucapkan perpisahan, harus kuakui ia sudah menjadi bagian dari hariku.

“Tae!!!!” teriakku ke atas langit.

Chapter 3

Keesokan harinya,
Hari ini terasa begitu datar tanpa dirinya, didalam pikiranku tak ada henti-hentinya menayakan mengenai dirinya yang tiba-tiba menghilang seperti itu. Beberapa orang teman kantorku yang sudah mengenal Tae Yeon pun bertanya mengenai Tae Yeon, aku hanya menggelengkan kepala saja.

Aku perjalan perlahan menuju rumahku, kulihat dari luar rumah, jendela ruang tamuku terbuka dengan lebar, padahal aku selalu menguncinya. Apa ia kembali? Aku segera bergegas masuk ke dalam rumahku. Kudengar nafas yang berat dari dalam ruang tamuku, ketika kunyalakan lampu,

“TaeYeon!” ucapku senang bercampur dengan kaget. Senang karena itu dirinya, kaget karena tubuhnya penuh dengan luka.

Aku langsung berlari mendekati dirinya. Ia menahan tangan kanannya yang mengeluarkan darah. Dan sayap kirinya pun telah patah, lebih tepatnya seperti terbakar hancur menjadi setengah bagian saja.
“Kamu kenapa? Kenapa?” aku segera menolongnya
“Fany…” ucapnya lirih sambil tertawa
“Siapa yang membuatmu seperti ini? Kenapa berdarah seperti ini? Kamu habis bertarung dengan siapa?”
“Maaf aku tak mengucapkan perpisahan…” ucapnya lagi, suaranya makin lirih.
“Hush! Jangan bicara lagi! Sebentar aku ambil obat!” aku beranjak namun tanganku ditahan olehnya.
“Tidak usah… hidupku hanya sebentar lagi…” ucapnya pendek dan wajahnya semakin memucat.
Kulihat sayap miliknya kini berubah menjadi serpihan pasir dan menghilang.
“Sayap mu?”

“Sesungguhnya aku bukan pelindungmu…” ucapnya perlahan
“Aku hanyalah seorang dewi yang selalu memperhatikanmu… memperhatikanmu dari kejauhan… bagi kami dewa maupun dewi sangatlah tabu untuk menyukai seorang manusia… mengenai kutukan itupun semuanya palsu… aku hanya ingin mencoba berada di dekatmu saja…” nafasnya mulai terputus.

“Tae!”

“Pertama kali ketika melindungimu dari ledakan gas itu… aku diusir dari langit… karena aku telah memperpanjang umurmu dan merubah takdirmu yang seharusnya meninggal di hari itu…”
“Tae?…” aku tak bisa menjawab banyak ketika mendengar pernyataan itu.
“Semakin hari aku semakin kehilangan kekuatanku karena melindungimu… dan kemarin aku ditarik paksa oleh pengawal dewa untuk kembali ke langit… karena mereka mengetahui keberadaanku di bumi ini… sekarang tolong jangan beranjak kemanapun karena aku akan segera pergi selamanya…”
“Tidak Tae… kau tak boleh pergi!!!!” aku memeluk tubuhnya yang penuh luka itu

“Katakan kenapa kau…? Kau mau melindungiku?” bisikku sambil menangis dipelukannya.
“Babo.. Tadi aku sudah bilang. Karena… karena aku mencintaimu…” Ia tersenyum menatapku, suaranya nyaris tidak terdengar.

Ia kemudian mendorong tubuhku dan menatapku lebih dalam, “Fan… jangan menangis disaat kepergianku… kau harus tersenyum…”

Tanpa pikir panjang aku mencium bibirnya itu. Kuluapkan seluruh perasaanku kepadanya,
Bahwa akupun mencintai dirinya.
Sambil mencium dirinya akupun membisikan sesuatu kepadanya, “Aku menyayangimu Tae… aku mencintaimu… aku tak ingin kau…”
Ia tak menjawabku. Tubuhnya pun sudah tak bereaksi. Begitu pula dengan sayapnya yang sudah tidak ada, sudah berubah menjadi pasir.
“TAE!!!! Jangan tinggalkan aku!!!”

~*~

KRING!!!!!!
TRAK!

Weker berbunyi dan dimatikan oleh seseorang. “Bangun… bangun…” suara itu membangunkanku, namun aku malas untuk membuka mataku. Dan dalam beberapa detik, kurasakan sesuatu merayap ditubuhku “KYA!!!”
Aku berteriak kencang, dan muncullah wajahnya… “Tae Yeon ah…!” ucapku terkejut melihat ia yang muncul dibalik selimutku. Ia menatapku dengan matanya yang bulat. “Istriku.. ayo bangun…” godanya sambil mengecup bibirku.
“KYA!!!”

Tae Yeon kini seorang manusia. Cintanya yang terbalaskan membuat dirinya hidup kembali menjadi seorang manusia.


16 thoughts on “[One Shoot] Guardian

  1. Waaaaah ad ff ttg taeny, taeny jjang!!
    Wah mantebh chingu critany, bkin snsd copel yg laen donk chingu ky yoonyul yulsic taesic taesun dll heheheee..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s