Endless Heart (one shoot)


Judul FF : Endless Heart (one shoot)

Cast : Aiden Lee, Christina Park, Zhang Li Yin, Spencer Lee

Genre : Romance

Author : Christina Ambarrita / Park Ri Rin

 

Prolog

Lemas. Inilah yang kurasakan sekarang. Hari-hariku kedepan tak secerah yang kubayangkan dulu. Aku tak berani berandai-andai lagi. Aku juga tak punya kuasa untuk bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Ya, inilah aku. Aku Christina Park. Panggil saja Christin. Usiaku 19 tahun, usia dimana saat ini semua orang dapat menggapai semua apa yang diimpikannya, usia dimana seharusnya aku merasakan manisnya cinta dari kekasih. Namun semua itu hilang sekejap dariku, setelah dokter memvonisku mengidap tumor hati. Hal itu membuat kekasihku, Bryan Kim meninggalkanku dengan alasan penyakitku ini. Tak hanya itu saja, pita suaraku rusak. Hal ini yang membuatku semakin terpuruk. Aku tak akan pernah bisa menyanyi lagi. Padahal, baru saja aku merilis album baruku bersama teman-temanku. Satu hal lagi yang membuat aku merasa seperti orang yang tak berguna lagi yaitu saat dokter memvonisku jika hidupku hanya tinggal dua bulan lagi.

***

Aku mengayuh kursi rodaku dan berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Tak ada yang menemaniku, ibuku harus mengasuh kedua adikku. Sedang ayahku kini larut dalam pekerjaannya. Dan teman-temanku, ya aku tahu pasti kini mereka tengah belajar. Satu hal yang rasanya tak akan mungkin aku lakukan lagi. Aku hanya bisa menangis tiap kali menyadari keadaan ini. Sungguh Tuhan, aku tak kuat menanggungnya seorang diri. Apalagi tak ada teman bagiku untuk tempatku bercerita.

Dari kejauhan kulihat sosok itu, sosok pria yang selama ini membuatku penasaran. Seorang dokter namun bergaya cukup cool. Ia berjalan menuju arahku. Aku gugup. Tak mungkin ia menghampiriku, batinku. Aku hanya menunduk. Aku tak kuat mendorong kursi rodaku lagi. Kusadari sosok itu sudah lewat disebelahku. Aku hanya menghela napas. Namun tiba-tiba aku merasakan jika ada yang mendorong kursi rodaku. Aku pun menoleh.

“hai…” aku terkejut bukan main. Dia, sosok yang selama ini mengusik rasa penasaranku kini ada dibelakangku dan ia menyapaku. Aku hanya tersenyum, pita suaraku belum sembuh betul, sehingga aku belum percaya diri untuk berbicara.

“siapa namamu?” tanyanya sopan dan lembut. Kutulis jawabanku dalam sebuah note yang selalu kubawa.

“Christina Park?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk.

“Perkenalkan, aku dr. Aiden Lee. Panggil saja dr. Lee” Ujarnya seraya membungkukan badan. Lagi-lagi aku tersenyum menyambut perkenalannya. Aku tersenyum senang setelah berhasil mengetahui namanya.

“boleh aku mengajakmu jalan-jalan?” kembali kutuliskan jawabanku, ya tentu saja aku mengiyakan ajakannya.

Ia mendorong kursi rodaku sesekali mengajakku mengobrol walaupun ia tahu aku tak meresponnya dengan jawaban langsung yang keluar dari bibirku. Ia mengajakku sebuah tempat yang belum pernah kukunjungi selama tiga bulan aku dirawat disini.

“Christin, aku tahu pasti kau belum pernah kesini.” Ucapnya datar. Aku terhenyak, bagaimana ia bisa tahu.

“Jelas saja aku tahu, aku setiap hari pasti datang kesini. Dan aku belum pernah melihatmu datang kemari. Benarkan?” katanya lagi. Aku hanya tersenyum.

Semenjak kejadian hari itu, aku semakin dekat dengan dr. Lee yang ternyata ia adalah adik dari dokter yang merawatku, dr. Spencer Lee. Aku sudah mengiranya sebab kesamaan nama mereka. Namun aku tak berani menduganya sebab ketidakmiripan wajah mereka. Namun sesungguhnya aku amat bersyukur bisa mengenal kedua dokter Lee ini. Katanya, kakaknya itu sering menceritakan kisahku padanya. Makanya ia sangat ingin berkenalan denganku. Sebegitukah? Batinku.

Sore itu temanku, Natalia mengunjungiku. Kali ini ia ingin mengucapkan rasa terimakasih yang amat besar sebab ternyata ia sudah resmi berpacaran dengan dokter Spencer Lee. Katanya, jika bukan karena aku bukan pasien dokter itu, maka hal ini tak akan terjadi. Aku ikut senang mendengarnya. Hal itu mengingatkanku pada cinta pertamaku, Bryan Trevor Kim. Dan kisahku saat ia menyatakan cinta padaku.

Flashback on.

Ponselku berdering. Nama Bryan tertera dilayar. Aku segera mengangkatnya.

“Halo?” tanyaku.

“Christin, segeralah datang ke Hall Basket ya.” Pintanya

“Sekarang?”

“Iya.” Belum sempat aku menjawab teleponnya, ia sudah menutup teleponnya.

Aku pun bergegas mencari kunci mobilku dan melangkah kuda menuju mobil. Aku bahkan sempat tersandung menyadari tali sepatuku yang belum sempat ku ikat. Aku bingung, tak tahu ada apa dibalik semua ini. Setibanya disana aku segera turun dan saat itu mataku tertuju pada kumpulan pamphlet bernuansa love yang ditempel membentuk love shape  itu. Aku tersenyum. Lalu kuputuskan masuk ke hall itu. Kulihat ia tersenyum menatapku dibawah tangga. Didepannya terdapat sebuah organ electric. Ia pun menyanyikan sebuah lagu untukku. Tak habis disitu, ia mengajakku keluar Hall. Namun tiba tiba ia berhenti dan mengikatkan tali sepatuku. Aku hanya bisa tersipu malu. Lalu ia meninggalkanku begitu saja dan mengambil seember air yang langsung digunakannya untuk mencuci mobilku. Aku hanya bisa tertegun heran.

Seusai mencuci mobilku, ia menarikku kembali kedalam hall. Ia mengajakku melihat videonya saat berkoreografi dan katanya dipersembahkan untukku. Belum selesai tenyata, ia memberiku secarik surat. Akupun membuka dan membacanya.

There’s no one like you, even if I look around it’s just like that, where else to look for? A good person like you, with a good heart like you, a gift as great as you How lucky that I’m the person who will try his hard to protect you, where else to look for? A happy guy like me the guy with the happiest smile like me

Your two warm hands gets cold when I’m cold Your heart that used to be strong becomes sensitive when I’m hurt Take my hands silently, hold me silently, I’m only wishing for such little comforts You don’t know my heart that wanted to do more just for you

Call out my heart, free my soul It always felt like the first time, these remaining days are more than the time that I came to love you

You know, I’m a little bit shy sometimes, you don’t know but you’re burning like the sun, please understand my feelings Even those girls that appears on TV shows are sparkling, you’re always be the one in my eyes Hearing you tell me that you love me, I have everything in this world, You & I, You’re so fine, is there someone like you? I love you Oh, please know it, to me there’s only you, that I stupidly see you as my everything

We arrived on the same road, we’re just the same, how surprising, how grateful, it’s love

I love you christin

Sungguh bahagia rasanya setelah membaca isi dari surat itu. Beruntungnya aku bisa mengenal orang seperti Bryan yang bisa membuatku terbang dengan kata kata manisnya itu. Setelah melihatku seusai membaca suratnya, ia memberiku setangkai bunga dengan sedikit trik sulap. Aku tertawa renyah. Dan yang paling membuatku terrenyuh saat ia memberiku sebuah cincin yang ia ikatkan pada kumpulan balon-balon yang indah sambil berkata:

“Maukah kau menjadi pacarku?”

Aku tersenyum dan mengiyakannya. Ia lalu memelukku seketika.

“aku janji, aku tak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun. Hanya maut yang akan memisahkan kita” ujarnya. Hari ini, sungguh, aku tak akan melupakannya.

Flashback off.

Takdir berkata lain, Bryan tak ada disisiku kini. Ia pergi meninggalkanku demi seseorang. Ya, demi seorang wanita yang berhasil membuatnya melupakan keberadaanku dan melupakan semua janji-janjinya padaku. Kini, ia dan wanita itu, Yoon Eun Hye mungkin sudah bahagia di Seoul. Tak terasa airmataku jatuh membasahi pipi. Belum sempat aku menyekanya, tangan lembut itu telah menyekanya terlebih dahulu. Tangan lembut seorang dokter Lee. Lagi-lagi ia datang dengan manisnya. Tapi sejujurnya ini amat menyakitkan bagiku. Aku yang sudah seharusnya hidup dalam pengasingan akan tetapi mengapa kini dokter Lee datang dan mengisi hidupku yang tak berarti ini? Tuhan, sampai kapankah semua ini akan berakhir? Aku tak berani meneruskan semua ini.

“Hei…” sapanya lembut.

“Hai…” Jawabku sedikit gugup. Tapi tunggu. Benarkah ini? suaraku kembali. Thanks God. Dokter Lee juga tertegun.

“Christin? Kau sudah bisa bicara?” tanyanya sumringah.

“aku juga tidak tahu, dok”

“waaahhh, selamat yaaa” ucapnya lalu refleks memelukku erat. Aku memelikan mata. Jantungku berdebar.

“Maaf dok, aku bisa sesak napas nanti.”

“Upss, maaf ya” jawabnya seraya melepaskan pelukannya.

***

Rasa percaya diriku kembali muncul, aku yang sedari tadi duduk diranjangku menoleh pada sebuah benda yang amat kusayangi. Gitar. Kuambil gitar kesayanganku. Lalu kumulai memetiknya lembut, mencocokan kunci nada dan mulai menyanyikan part ku dalam lagu In My Dream, lagu pertamaku bersama band ballad-ku.

“geunyeoga utgo itneyo neomuna uraenmanijyo geuron moseub…, hmmm, geuron moseub…” tiba-tiba aku lupa liriknya. Kucoba ingat-ingat lagi namun tak berhasil. Seketika seseorang masuk ke kamarku dan meneruskan part-ku.

“geureon moseub geureohge bodo sipdeon naui geunyeojyo…” suara itu, ya suara rendah nan merdu itu mengingatkanku pada seseorang. Dokter Aiden Lee. Ya Tuhan, bagaimana ia bisa tahu part ini?

“suaramu indah…” kataku memujinya. Ia tersipu malu. Ia lalu merebut gitarnya dari tanganku dan menyanyikan sebuah lagu.

The loneliness of nights alone

the search for strength to carry on

my every hope has seemed to die

my eyes had no more tears to cry

then like the sun shining up above

you surrounded me with your endless love

Coz all the things I couldn’t see are so clear to me

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be

My everything

You’re the breath of life in me

the only one that sets me free

and you have made my soul complete

for all time

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be my everything

oh my everything

Baru kali ini aku mendengar lagu itu. Lagu yang amat indah dan menyejukkan hati. Dan baru kuketahui kini jika dokter Lee memiliki suara seindah itu.

“Bagaimana suaraku? Baguskan? Ahaha…” Ujarnya sedikit narsis. Dengan bangga kuacungkan kedua ibu jari tanganku.

“Both of my thumb’s up just for you” Ujarku.

“Thank yooooooouuu.” Jawabnya sumringah.

Hari-hariku kini semakin indah. Kulihat hari ini adalah hari ke enambelas setelah vonis dokter itu padaku.  Aku menghirup napas dalam-dalam. Kukuatkan diriku jika aku bisa melewati semua ini. Seusai sarapan, aku memutuskan berjalan-jalan menghirup udara pagi. Pagi ini aku belum menjumpai dokter Lee. Kulihat jam menunjukkan pukul Sembilan pagi. Tak biasanya ia belum muncul. Aku bergeming. Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba aku seperti kehilangan sosok dokter Lee? Kuyakinkan diriku jika ini bukanlah perasaan yang sama seperti saat dulu aku dekat dengan Bryan. Kuharap tidak. Aku tak ingin mendapatkan itu lagi. Bahkan aku tak ingin mengucapkan satu kata itu. Itu adalah cinta. Ialah yang kutakutkan selama ini. Jujur, aku tak menginginkannya lagi. Cukup cinta dari Tuhan, dari keluarga, dan dari teman-temanku saja. Tidak lebih. Aku juga tak ingin membaginya lagi kepada siapapun kecuali kepada mereka yang baru saja kusebutkan tadi. Sepelik inikah hidupku.

Tiba tiba aku merasakan ada yang aneh denganku. Kepalaku pusing. Disekelilingku terasa berputar-putar. Dan akupun pingsan.

***

Kubuka mataku perlahan, kulihat disisi kanan dokter Lee menggengam tangan kananku.

“Kau sudah siuman?” tanyanya seraya mengusap rambutku.

“Dokter Lee?”

“Sudah kubilang, panggil saja aku Aiden.”

“Baiklah. Aiden, sejak kapan kau disini?”

“Aku mengkhawatirkanmu. Aku menemukanmu tergeletak jatuh. Maka dari itu aku segera menolong dan menunggumu hingga kau siuman.”

“Benarkah? Apa orangtuaku tadi datang kemari?”

“Bukan saja orangtuamu, tetapi adikmu, teman-temanmu semuanya datang menjengukmu.”

“Lalu kemana mereka?”

“Sudah pulang. Kau terlalu lama pingsannya. Hehe”

Aiden memperhatikanku. Aku memberanikan diri beradu pandang dengannya. Sorot mata Aiden amat lembut. Membuatku nyaman ketika menatapnya.

“Christin, aku ingin mengutarakan sesuatu.”

“Apa?” tanyaku. Namun ia bergeming, tak meneruskan kalimatnya. Aku menepuk bahunya. Ia tersadar.

“Hmmm, aku menyukaimu.” Tuturnya pelan dan menatapku lekat lekat. Ia lalu meraih kedua tanganku dan mencium punggung tanganku dengan hangat. Aku terhenyak kaget. Inilah yang kutakutkan selama ini. Aku tak mau lagi mengulangnya.

“Tidak mungkin” Balasku singkat.

“Maksudmu?”

“Kau hanya kasihan padaku.”

“Sungguh, aku menyukaimu. Dan dari hal itu, kini aku yakin jika aku juga menyayangimu. Berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu.” Aku terdiam sejenak mendengar jawaban Aiden. Kulepaskan tanganku dari pegangannya.

“Apa yang kau harapkan dari seorang pengidap tumor sepertiku ini, Aiden?”

“Kau bisa sembuh. Percaya padaku. Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan.”

“Tapi kau lihat saja, kondisiku semakin lemah. Dan kau hanya membuang waktumu saja jika kau ingin memperjuangkan kesembuhanku. Kakakmu juga sudah tahu sampai kapan aku bisa bertahan.”

“Spencer hanyalah manusia, Chris. Aku yakin kau bisa sembuh dan bisa melanjutkan hidupmu yang baru bersamaku.”

“Tidak. Aku lebih siap jika Tuhan memanggilku dan membawaku ke surga.”

“Benarkah itu?”

“YA” Jawabku mantab. Aiden meninggalkanku sendiri. Aku tahu pasti hatinya hancur. Maafkan aku, Aiden. Aku tak berani mengambil semua risiko ini. Kuharap Aiden bisa memahaminya.

***

Sudah tiga hari sosok Aiden tak muncul dihadapanku. Jujur, aku merindukannya. Kutanya pada Spencer, tapi ia enggan memberitahu keberadaan Aiden. Kenangan manis dengan Aiden menyeruak lagi tatkala kusadari aku kembali dalam kesendirianku. Biasanya Aiden yang membuatku tertawa, Aiden yang mengajakku berkeliling, Aiden yang menyanyikan sebuah lagu untukku, Aiden yang ini, Aiden yang itu. Terlalu banyak kenangan manisku bersamanya hingga kusadar kini jika aku juga mulai menyayanginya. Akan tetapi, apakah Aiden memang sudah pergi dariku? Secepat itukah ia melupakanku? Sungguh, aku ingin kau kembali disini, Aiden. Kulihat jas putih itu tergantung disisi lemariku. Kuraih dan kupeluk erat jas putih itu. Aroma parfum kesukaan Aiden masih melekat didalamnya. Tak sengaja sebuah gantungan ponsel berliontin jatuh dilantai. Kupungut gantungan itu. Liontin itu berinisialkan AL. Kuyakin jika A itu adalah inisialnya, lalu siapakah L? kusingkirkan pikiran itu jauh-jauh
tatkala kuingat namanya memang berinisialkan AL untuk Aiden Lee.

Aku sedih, ternyata dokter Spencer  Lee tidak lagi ditugaskan di RS ini. Ia harus pindah ke RS lain. Sementara aku sudah disediakan dokter baru. Dan aku bersyukur, kali ini dokternya wanita. Kuharap kita bisa menjadi sahabat. Begitu dokter Spencer pergi, aku juga tak sempat lagi menanyakan keberadaan Aiden. Entah dimana ia sekarang. Siapkah aku jika nanti aku pergi namun Aiden tak ada disisiku?

Aku berkenalan dengan dokter itu. Namanya dokter Zhang. Ia didatangkan khusus dari RS Ghuangzhou di China untuk merawatku. Aku dan ia cepat sekali akrab, ia sangat ramah padaku. Bahkan ia menganggapku sudah seperti adiknya.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. Dokter Zhang membukakannya untukku. Aku terhenyak, dokter Zhang juga diam. Aiden rupanya. Aku terkejut sekaligus senang. Aku pun bangun dari rebahan dan ia segera berlari menghampiriku. Ia lalu memelukku. Kulihat dokter Zhang lansung pergi keluar.

“Aiden, kemana saja kau?” Tanyaku sambil terisak. Ia melepas pelukannya dan menatap kedua mataku.

“Kau merindukanku?” tanyanya. Aku hanya bisa tertunduk. Ia kembali bertanya seraya memegang kedua bahuku.

“Jawablah kumohon, apa kau merindukanku?” tanyanya sedikit memaksa. Aku menatapnya dan mengangguk pelan.

“Aiden, sepertinya aku mulai menyayangimu.” Ujarku pelan dan kembali tertunduk. Ia memegang daguku dan mendongakan wajahku.

“Benarkah?” tanyanya. Aku menjawabnya dengan senyuman.

“Terimakasih ya.” Bisiknya. Ia pun mengelus rambutku dan mengecup keningku. Airmataku menetes. Tuhan, sungguh amat indah perasaan ini. Biarkan aku memilikinya disaat terakhir hidupku ini. Batinku.

Kami pun resmi berpacaran. Kondisiku pun juga semakin membaik. Akhirnya kuputuskan kuambil jalan kemoterapi yang selama ini kutakuti. Namun Aiden selalu menyemangatiku hingga akupun mau. Aku juga mulai meninggalkan kursi rodaku dan mencoba belajar berjalan seperti sedia kala. Aiden selalu disisiku dan menjadi penopangku.

Siang itu Aiden mengajakku makan siang di sebuah restoran. Kebetulan disana ia bertemu dengan temannya, Marcus Cho bersama dengan tunangannya. Kami pun memutuskan makan semeja dengannya. Gadis itu, tunangan Marcus mellihatku sinis. Ia tak sedikitpun mengajakku mengobrol. Aiden sepertinya juga menyadari itu. Namun aku hanya memakluminya, mungkin karena ini kali pertamanya kita bertemu. Akan tetapi satu peristiwa kurang mengenakan terjadi disini. Aku, dan mungkin juga Aiden mendengar saat gadis itu membisikkan sesuatu ke Marcus.

“Oppa, apa tidak salah pilihan sahabatmu ini. Mengapa pria dengan masa depan cerah seperti Aiden memilih gadis yang hidupnya diujung tanduk.” Aku tersedak, kulihat jemari Aiden menncengkeram tanda ia menahan emosi. Aku tak mau sesuatu buruk terjadi disini. Akupun mengajak Aiden pulang.

“Aiden, aku merasa tidak enak badan. Bisakah kita pulang sekarang?” pintaku memohon. Aiden menatapku, ia tahu betul perasaanku. Ia pun mengiyakannya. Setelah berpamitan dengan Marcus dan tunangannya, kami pun beranjak pergi.

Di sepanjang jalan Aiden menggengam erat tanganku seolah tak mau melepaskannya. Aku menatapnya lekat. Akupun menghentikan langkahku. Ia menoleh padaku.

“Terima kasih ya, kau sudah mau menemaniku di sisa umurku ini.” kataku.

“Sudah kukatan berulang kali, aku tak suka mendengar kalimat itu!!” ia membentakku. Aku terkejut. Airmataku menetes, aku pun menyekanya dan segera berlari menjauh darinya.

BRUKK. Aku menabrak seseorang. Dokter Zhang ternyata. Ia terlihat keheranan.

“Ada apa denganmu?” tanyanya seraya memegang kedua bahuku. Aku terisak dan jatuh kedalam pelukan dokter Zhang. Ia membelai rambutku dengan lembut seperti layaknya seorang kakak.

“Christin, maafkan aku.” Pinta Aiden. Aku pun menoleh.

“Sudahlah, selesaikan dulu urusanmu dengan dokter Aiden.” Ujar dokter Zhang lalu meninggalkan kami berdua. Aiden mendekatkan langkahnya. Aku pun mundur beberapa langkah. Ia melangkah lagi. Tiba-tiba pandanganku buyar. Aku melihat Aiden menjadi beberapa bayangan.

BRUKK

Kubuka mataku perlahan. Sosok Aiden lagi-lagi ada disampingku. Ia memberikan senyuman hangatnya padaku.

“Dimana aku?” tanyaku.

“Tenang, kau ada dirumahku. Maaf ya baru sempat aku mengajakmu kemari.”

“Hah iya tidak apa.”

“Ini kubuatkan kau secangkir teh hangat agar kau merasa baikan.” Ia lalu menyodorkan teh itu. Kuterima dengan hangat dan segera menyeruputnya. Memang saat itu udaranya cukup dingin. Namun pandanganku tertuju pada satu benda. Sebuah pigura kecil dan didalamnya terdapat selembar foto. Disitu kulihat ada bua bocah kecil; perempuan dan laki-laki tengah berfoto sambil bergandengan tangan dengan background pantai. Aku beranjak mendekati foto itu. Aiden keheranan melihatku.

“Ini siapa?” tanyaku seraya menunjuk ke foto itu.

“Ahhh… itu hanya foto masa kecilku.” Jawabnya tersipu malu.

“Benarkah? Lalu siapa bocah perempuan ini?”

“Eh… ehmm, dia, dia…”

“Dia siapa??”

“Ehm, dia hanya teman masa kecilku.”

“Ohh… sepertinya aku pernah melihatnya.”

“Hahaha tidak mungkin” Aiden tertawa namun sepertinya ia terlihat gugup.

“Hahaha” aku hanya bisa ikut tertawa. Kupandangi Aiden, sepertinya ada yang ia sembunyikan dariku. Akupun memandangi tubuhku. Aku tersadar, kulitku sepertinya kini berwarna kuning. Bukan kuning langsat. Namun kuning akibat cairan empedu yang sudah menyebar keseluruh bagian tubuhku. Kupandangi diriku melalui cermin kecil di dinding kamar Aiden. Kulihat bola mataku juga sudah menguning. Aku panik. Lagi lagi airmataku jatuh.

“Aiden, aku takut.” Aiden menghampiriku. Ia mengenggam erat tanganku.

“Ada Tuhan, ada keluarga, ada teman-teman, dan ada aku yang akan selalu ada untukmu.”

***

Dokter Zhang berkata bahwa aku harus dirawat lagi. Jujur, aku sudah muak dengan semua ini. Aku merasa jika Tuhan sungguh tak adil padaku. Aku sudah rajin mengikuti semua syarat agar aku cepat sembuh, namun lagi-lagi aku harus jatuh diranjang RS. Aku benci semua ini. Kekalutan menghampiriku. Akupun memutuskan untuk menelpon Aiden untuk berbagi cerita dengannya. Namun tak seperti biasanya. Ia tak mengangkat telponku. Hampir saja kubanting telponku. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan.

Ketika melewati ruangan dokter Zhang, kulihat pintunya sedikit terbuka. Aku berniat masuk, namun aku terkejut ketika kulihat ada Aiden. Sedang apa mereka? Batinku.

“Kuucapkan selamat atas hubunganmu dengan Christin.” Ujar dokter Zhang pada Aiden seraya menjabat tangannya. Kulihat Aiden langsung menarik tangan dokter Zhang hingga mereka pun berpelukan. Aiden membelai rambut dokter Zhang sama lembutnya saat ia membelai rambutku. Aku hanya bisa terpaku dalam posisiku. Bibirku kelu. Jantungku berdebar. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.

“Aku yakin kau bisa melanjutkan hidupmu tanpaku lagi, Li Yin.” Ujar Aiden. Tunggu, baru saja kudengar Aiden memanggilnya Li Yin. Apakah itu nama dari dokter Zhang? Astaga, aku ingat! Ya, inisial di gantunga ponsel itu! AL pasti untuk Aiden-Li Yin. Ya Tuhan, apakah maksud dari semua ini?

Aku memutuskan untuk meninggalkan mereka. Aku pergi ke sebuah gereja kecil. Disana aku berdoa memohon ampun pada-Nya. Tak lupa kupanjatkan puji syukurku atas nikmat dari-Nya. Aku berdoa amat kusyuk hingga tak kusadari jika ada seorang pendeta yang memandangiku dan memperhatikanku berdoa dengan linangan air mata. Setelah usai berdoa, aku merenung untuk beberapa saat.

“Maaf, apakah aku mengganggumu?” aku menoleh kaget. Pendeta itu tersenyum padaku. Ia masih muda, berperawakan tinggi, dan juga cukup tampan.

“Ohh, tidak.” Ujarku seraya menyeka airmataku.

“Apa kau sedang ada masalah?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Kau datang ke tempat yang tepat.”

“ya, sebab baru kusadari jika hanya Tuhan yang selalu ada menemaniku.”

“Hmm, dilihat dari pakaianmu. Apakah kau pasien dari rumah sakit?”

“Ya, aku pasien tumor hati.” Pendeta itu sedikit terkejut ketika mendengar jawabanku.

“Bolehkah aku membagi ceritaku denganmu, pendeta?”

“Ohh. Tentu. Suatu kehormatan bisa menjadi tempat berbagi untukmu, nona. Hmm, omong-omong, aku belum tahu siapa namamu. Perkenalkan aku Pendeta Andrew Choi.”

“Aku Christina Park.”

Akhirnya kuceritakan semua masalahku dengan teman baruku itu, Pendeta Andrew. Aku amat senang bercerita dengannya. Karena selain bercerita, kau juga mendapatkan solusi yang bisa menguatkanku.

Aku kembali ke RS. Kembali kulewati ruangan dokter Zhang. Kulongok kedalam, namun tak ada seorang pun disitu. Kuberanikan diri masuk ke ruangan dokter Zhang tanpa permisi. Maaf dokter, aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Aiden. Aku melihat-lihat seisi ruangan. Tak ada sedikit bendapun disini yang bisa kujadikan clue. Aku menaruh tanganku diatas meja, dan tanpa sengaja aku menjatuhkan beberapa arsip dokter Zhang. Ketika hendak memungutnya, kulihat ada sebuah binder berwarna biru laut dengan tulisan AL dicovernya. Kuberanikan membuka binder itu.

Aiden, kau ternyata sudah banyak berubah ya. Seiring berjalannya  waktu, kau terlihat semakin dewasa dan semakin tampan. Kupikir kau tercipta untukku, sejak kecil kita sudah bersama. Hmm, apa kau masih ingat jika aku adalah cinta pertamamu? Aku juga masih berharap jika hubungan ini akan berlanjut lagi. Hmm, namun kurasa tak mungkin. Aidenku telah menemukan cintanya kini. Tak mungkin kuusik mereka hanya demi keinginanku. Aku juga tak mungkin tega melakukan itu pada pasien pertamaku itu. Sungguh takdir memang aneh, jauh-jauh aku menuntut ilmu dan kembali ke kampung halamanku di China hanya sekedar untuk melupakanmu. Namun takdir yang mempertemukan kita kembali. Namun takdir juga berkata lain, kita tak mungkin lagi bersatu. Terima kasih Aiden, kau sudah pernah mau singgah dihatiku.

AL (Aiden-Li Yin)

Aku menangis membaca note itu. Aku menyadari jika posisiku selama ini telah merenggut kebahagiaan orang lain. Sungguh jahat aku ini. Aku meninggalkan ruangan dokter Zhang dengan menangis tersedu-sedu. Kulihat Aiden diujung lorong rumah sakit. Aku menghampirinya. Namun, hanya tinggal beberapa langkah aku menggapai tangannya, aku jatuh pingsan lagi.

***

Aku membuka mataku, disisi kananku kulihat Dokter Zhang dan Aiden tampak khawatir melihatku.

“Aiden, aku tak kuat lagi.” Ujarku. Aku merasa mual, pandanganku buram, dan bagian hatiku sakit. Dokter Zhang menyeka airmatanya dan pergi keluar.

“Aiden, apa kau mencintaiku?”

“Apa maksudmu?”

“Jawab saja satu pertanyaanku itu.”

“Tentu, aku sangat mencintaimu.”

“Maukah kau melakukan sesuatu untukku?”

“Dengan segenap hatiku.”

“Kembalilah dengan cinta pertamamu, Aiden. Ia masih menunggumu.”

“Apa maksudmu??”

“Dokter Zhang. Kembalilah padanya.” Kutatap mata Aiden dengan tatapan memohon. Kukatupkan kedua telapak tanganku.

“Kumohon.” Pintaku sekali lagi. Aiden menitikkan airmata. Ia menggenggam katupan tanganku.

“Kau yakin?” Tanyanya. Aku mengangguk yakin.

“Kau tidak akan menyesal dengan semua ini?”

“Tidak! Aku yakin kau pasti bahagia dengannya.” Aiden tersenyum miris kepadaku. Ia mengelus rambutku.

Tiba- tiba segerombol orang masuk ke kamarku.

“Christiiiiiiiiiiiiiinnnnn, kami merindukanmu.” Ujar salah satu dari mereka, mereka adalah teman-teman sekolahku, orangtuaku, serta adik-adikku. Mereka terkejut melihat Aiden membelai rambutku.

“Christin, ini pacarmu?” tanya Anggi salah satu temanku.

“Hmm, bukan. Dia kakak baruku.” Ujarku seraya tersenyum kepada Aiden.  Aiden menatapku sedih. Sebenarnya ini hal yang amat menyakitkan bagiku, padahal sedari dulu aku ingin mengenalkan pengganti Bryan pada mereka. Namun memang lebih baik jika tidak kuceritakan. Demi kebahagiaan Aiden, aku rela melakukan apapun.

Dokter Zhang masuk membawakanku makan siang. Aku sempat melihatnya jika ia tengah memperhatikan Aiden.

“Dokter Zhang, kemarikan tanganmu.”

“Maksudmu?”

“Sudahlah, cepat.” Ia pun mengulurkan tangannya. Kuraih tangan Aiden dan kusatukan tangan mereka berdua diatas tubuhku.

“Semoga kalian berdua bahagia.”Dokter Zhang masih bingung dengan ini semua, namun Aiden memberikan kode agar dokter Zhang tetap tenang.

“Kawan, terima kasih ya kalian semua sudah mau hadir di hidupku. Terima kasih kalian juga sudah mau menguatkanku.” Aku pun tersenyum bahagia. Kututup kedua mataku dan kuberdoa penuh keikhlasan.

Tuhan, jika kau mau menjemputku sekarang, aku sudah siap. Aku sudah cukup bahagia dikelilingi orang-orang yang amat mencintaiku. Batinku, dan untuk terakhir kalinya kuteteskan airmata ini. Namun kali ini bukan airmata kesedihan, melainkan airmata bahagia yang turut mengantarkanku meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini. Akupun tertidur.

Aku melihat diriku mengenakan terusan putih. Semua disitupun berwana putih. Dari kejauhan kulihat sosok Aiden, orangtuaku, teman-temanku, dan kedua adikkumemanggil namaku berkali-kali. Namun dibelakangku, kulihat sebuah pintu dengan cahaya yang amat terang. Aku tahu, aku harus memilih. Kumantapkan langkahku berjalan menuju tempat Aiden dan yang lainnya berdiri. Senyum Aiden mengembang dari wajah tampannya itu. Namun kuhentikan langkahku.

“Maaf semuanya, kita harus berpisah disini. Aku menyayangi kalian semua.” Aku pun membalikkan badanku dan berjalan dengan mantap menuju pintu itu, pintu yang akan membawaku ke tempat lain, ke dunia yang lain tanpa ada siapapun yang kukenal disana. Aku yakin, kali ini aku tak akan salah arah. Sekali lagi kubalikkan badanku dan melambaikan tanganku kearah mereka. Selamat tinggal semuanya. Maaf aku meninggalkan kalian kurang dari dua bulang seperti apa yang divoniskan dokter padaku. Maaf jika kepergianku ini terlalu cepat. Maafkan aku.

End.

Epilog

Dokter Zhang terlihat cantik dalam balutan gaun pengantinnya itu. Aku tahu, tak satu orangpun sadar akan keberadaanku disini. Kini aku sudah berbeda dengan mereka. Kulihat Aiden terlihat mantap mengucapkan janji sehidup sematinya bersama dokter Zhang didepan pendeta Andrew dan para saksi lainnya. Aku melangkah kearah mereka. Aku berdiri tepat didepan Aiden, namun kini ia tak bisa menyadari keberadaanku. Kuberanikan diri mengecup pipinya untuk terakhir kalinya walau aku tak bisa seutuhnya mengecup. Selamat menjalani hidupmu yang baru, Aiden-ku. ^^


4 thoughts on “Endless Heart (one shoot)

  1. hiks…ceritanya sedih bgt!
    kupikir bakal dioperasi n bertahan hidup lagi *akibat kbanyakan ntn drama*
    bagus ending ceritanya.
    keep writing, fighting!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s