Music Love Story Part 3


Genre : Romance
Type : Chapter
Cast : Kim Jonghyun, Jung So Ra, Seo Hee

 

Jung So Ra masih terpaku. “Hey ! Bagaimana ?”, ucap Seo Hee. “Hm ? Emm… B..Baiklah”, jawab So Ra begitu saja. “Baguslah kalau begitu, sekarang kita masuk ke kelas, sudah hampir waktu masuk”, Seo Hee menarik tangan So Ra dan bergegas berjalan menuju kelas. ‘Apa yang harus aku lakukan ? Bagaimana bisa aku begitu saja berkata ‘iya’ ? Memangnya apa yang bisa aku lakukan ? Aduhh .. Bodohnya aku ini ! Ah … Tapi, kenapa aku harus bingung seperti ini ? Ah ! Entahlah ..’, ucap So Ra dalam hati. Temannya itu begitu saja meminta tolong pada So Ra, namun jika So Ra tak menolongnya dan Seo Hee akan berpikir macam-macam bisa menyebabkan So Ra kehilangan teman. Sampai sekarangpun So Ra hanya memiliki Seo Hee seorang. Selama jam kuliah berlangsung So Ra bahkan tak bisa berkonsentrasi seperti biasanya, ia masih bingung memikirkan perkataan Seo Hee tadi pagi. Sesekali ia menoleh ke Seo Hee yang duduk di sebelahnya, dan sesekali So Ra juga menatapi sosok laki-laki yang sibuk menulis di depannya. ‘Kim Jonghyun dan Seo Hee… Apa yang harus aku lakukan ?’. So Ra benar-benar tak mampu berkonsentrasi.

Kuliah hari itu berakhir begitu saja. So Ra menjadi sering melamun sejak kejadian pagi tadi. So Ra yang terduduk di kursi kafetaria hanya mengaduk-aduk segelas iced-tea yang tadi ia beli. “So Ra !”, Seo Hee menghentikan lamunan So Ra. “Bagaimana ? Kamu sudah menyiapkan rencana untuk kencanku dengan Jonghyun ?”, Seo Hee bertanya dengan wajah penuh harapan. “Emm, belum. Maaf  ya, kalau sudah aku akan segera menghubungimu”, So Ra menjawab dengan nada sangat pelan. “Hmm, baiklah. Kalau sudah segera kabari aku. Aku pulang duluan ya !”, Seo Hee lantas pergi meninggalkan So Ra. Kata-kata Seo Hee tadi semakin menambah beban So Ra. So Ra seperti sangat kesulitan, apa kesulitannyapun So Ra juga tidak mengerti. So Ra melihat jam di tangannya, hari akan semakin sore jika ia tak segera pulang. So Ra segera berjalan menuju halte tempatnya biasa menunggu. Dari kejauhan terlihat sebuah mobil berwarna hitam yang sepertinya So Ra pernah lihat. Ya, itu mobil Jonghyun. Mobil itu berhenti di samping So Ra yang sedang berjalan di trotoar. “So Ra, ayo naik !”, ajak Jonghyun sesaat setelah membuka kaca mobilnya. “Emm, baiklah”, So Ra segera masuk ke mobil.

“So Ra, hari ini aku lihat kamu sering melamun.. Ada apa ?”, tanya Jonghyun memecah keheningan. “Hm ? Oh, itu .. Tidak ada apa-apa”, jawab So Ra. “Ah iya, Jonghyun-ssi.. Setiap saat, apakah kamu pergi kuliah dengan mobil pribadimu ini ?”, So Ra memberanikan diri bertanya. “Ah, tidak. Aku biasa menggunakan bus atau taksi, namun akhir-akhir ini aku hanya sedang ingin menggunakan mobil ini”, jawab Jonghyun sesekali melirik So Ra. Tak terasa Jonghyun dan So Ra sudah sampai di tempat parkir gedung apartemen. Mereka berdua bergegas berjalan menuju kamar mereka.

***

            Jung So Ra meneguk segelas teh hangat yang baru saja ia buat. Ia duduk di ruang tengah sambil menonton TV di depannya. “So Ra-ssi”, panggilan itu mengalihkan mata So Ra dari TV yang sedang ia saksikan. “Apa?”, jawab So Ra sambil menoleh ke arahorang yang baru saja memanggilnya. Terlihat Kim Jonghyun dengan pakaian rapi nan stylish berdiri di sebelah sofa tempat So Ra duduk. “Loh ? Apa kamu akan pergi ke suatu tempat ?”, tanya So Ra. “Ah, tidak. Hari ini aku punya schedule untuk tampil di sebuah stasiun TV”, jawab Jonghyun sambil tersenyum. “Ah.. Aku hampir saja lupa kalau kau adalah seorang musisi terkenal. Oh iya ! Jonghyun-ssi, apa kamu tidak tertarik mencari pacar ?”, So Ra lantas tertawa kecil. ‘Ah! Apa ? Hmm.. Kenapa kau bertanya seperti itu ?”, Jonghyun sedikit terkejut. “Ah.. Bukankah orang terkenal identik dengan permainan wanita ? Ah! Lupakan sajalah..”, So Ra sedikit gugup.“Haha, jika ada waktu luang maka aku akan mencari pacar. Ah sudah, baiklah. Aku akan berangkat sekarang, dan mungkin aku akan kembali sekitar 4 jam lagi sekitar pukul 10 malam”, ucap Jonghyun. “Baiklah, apa kau ingin aku buatkan makan malam nanti ?”, tanya So Ra sambil berjalan bersama Jonghyun menuju pintu. “Ah, boleh. Di sana mungkin aku tidak makan nanti. Aku berangkat ya, aku sudah hampir terlambat. Dah !”, Jonghyun bergegas berjalan keluar. So Ra hanya memberi senyum mengantar room-mate nya itu.

So Ra berjalan menuju sofa dan kembali duduk sambil meneguk teh hangatnya. Ia kembali menonton acara di televisi, namun ia begitu saja teringat dengan Seo Hee yang ingin kencan dengan Jonghyun.  ‘Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Seo Hee ya ? Jonghyun mungkin tak akan suka jika dia tahu aku melakukan hal semacam ini. Tapi harus bagaimana lagi ?’, So Ra mulai kebingungan. Ia beranjak dari sofa tempat ia duduk dengan membawa gelas tehnya dan berjalan menuju dapur. Ia mulai mencuci gelas itu, tetapi tetap saja pikirannya masih tertuju pada rencana kencan yang harus ia susun. Usai mencuci gelas, So Ra terduduk di kursi meja belajarnya. Hanya menatap kosong ke sebuah handphone yang So Ra genggam. So Ra benar-benar bosan maka ia memutuskan untuk pergi ke ruang musik.

So Ra mengambil gitar dan mulai memainkannya. Ia sedikit lupa dengan beberapa hal yang sebelumnya diajarkan oleh Jonghyun. So Ra sedikit kesulitan untuk mengingat hal-hal itu, namun ia tak akan semudah itu menyerah dan berhenti berpikir. Ia mengambil handphone-nya dan mengakses internet untuk mempelajari ulang hal-hal yang ia lupa. Sekitar 2,5 jam So Ra mempelajari ulang pelajaran gitar dan memainkan lagu berjudul My Flower yang sebelumnya telah ia susun bersama Jonghyun.   Di tengah kesibukan So Ra dengan gitar dan akses internet di handphone-nya So Ra menemukan sebuah lagu yang juga berjudul My Flower di internet. ‘Bukankah judul ini yang digunakan oleh Jonghyun untuk lagu yang baru saja aku mainkan ? Kenapa bisa sama ? Ah ! Judul lagu sama mungkin hanya kebetulan saja’, So Ra bertanya-tanya. So Ra yang terlihat sedikit lelah membaringkan tubuhnya di sofa tempat ia duduk. Ia senang sudah berhasil mempelajari ulang bahkan lebih lanjut tentang gitar. Ia sudah semakin menguasai hal-hal tentang gitar. So Ra melihat jam di dinding yang terletak tepat di samping sofa, waktu sudah menunjukkan pukul 9. ‘Hah? Sudah jam 9 ? Berarti 1 jam lagi Jonghyun akan pulang dan aku sudah berjanji untuk membuatkan makanan. Tapi .. Sekarangpun aku belum menyiapkan apapun !’, So Ra segera berlari keluar menuju dapur.

“Lebih baik aku masak sesuatu yang mudah saja. Hmm, seperti… Japchae ! Baiklah !”, So Ra menyemangati dirinya sendiri. So Ra mulai menyiapkan keperluan memasaknya dan kedua tangannya muali sibuk. So Ra menjadi begitu serius ketika ia melakukan sesuatu. Tepat pukul 9.50 So Ra telah menyelesaikan urusan memasak dan menyiapkan makanan untuk Jonghyun. Aroma japchae yang lezat sudah menyebar dari meja makan, So Ra yang sudah selesai membersihkan dapur duduk di kursi meja makan dan hanya tinggal menunggu Jonghyun datang. “Hmm… Japchae ini terlihat begitu lezat ! Apa aku begitu jago memasak ya ? Hihi ..”, So Ra berbicara sendiri membanggakan dirinya.

Sudah sekitar 15 menit So Ra menunggu namun Jonghyun tak kunjung datang. “Sudah jam 10 lebih tapi dia belum datang juga ? Apa ia masih ada schedule tambahan ya ? Mungkin ia akan sedikit terlambat… Apa salahnya aku tunggu saja.”, So Ra mulai menyadari bahwa waktu sudah berlalu lama. Waktu terus berjalan dan So Ra mulai bosan. “AAARGH !”, So Ra tiba-tiba berteriak kesakitan. Penyakit lambungnya kambuh lagi, seharusnya ia memang harus makan daritadi. Memang ia hanya makan sarapan sedikit roti dan segelas susu. ‘Bodohnya aku ini ? Tadi pagi aku hanya sarapan roti dan susu dengan porsi sedikit. Tapi bukankan tidak enakk jadinya jika aku makan duluan ?’, ucap So Ra dalam hati. So Ra segera mengambil obat untuk lambungnya dan meminumnya. Ia merasa sedikit lebih baik, namun ia jadi mengantuk karena efek dari obat itu. So Ra pun tertidur di kursi meja makan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, Jonghyun membuka pintu dan masuk ke kamar apartemen. Aroma japchae sudah tercium olehnya, dan matanya langsung tertuju ke meja makan dimana So Ra tertidur. Jonghyun sedikit terkejut melihat So Ra terduduk di sana, maka ia berjalan mendekat. “Apa dia menungguku ? Ia bahkan sampai tertidur di sini”, Jonghyun merasa bersalah. Jonghyun segera membawa masuk barang-barangnya ke kamarnya dan bergegas kembali ke meja makan. Ia menggendong So Ra dan membawa gadis itu ke kamarnya. Jonghyun membaringkan tubuh gadis cantik yang ia gendong di tempat tidur dan segera menyelimutinya. Namun mata Jonghyun tertuju pada wajah cantik So Ra  yang sedang tidur di depannya. ‘Garis alisnya begitu rapi, bisa terlihat itu alami. Bibirnya juga indah, warna pink itu juga tak terlihat seperti menggunakan lip-gloss atau semacamnya. Ia sudah membuatkan aku makan malam tapi aku justru pulang terlamabat. Sepertinya besok aku harus segera minta maaf padanya’, ucap Jonghyun dalam hati sambil memandangi So Ra. Jonghyun berjalan keluar menuju meja makan dan memakan japche buatan So Ra. “Ah, aku memang sudah seharusnya makan ini sedari tadi. Sayang sekali sudah dingin, jika saat hangat tentu terasa lebih lezat. Dia memang jago masak, pajeon buatannya juga sangat enak”, ucap Jonghyun sambil berjalan menuju meja makan.

Jonghyun memakan japchae itu sampai habis, ia pikir So Ra pasti sudah makan duluan. Karena tak mungkin ia akan menunggu hanya untuk makan bersama Jonghyun, tentu So Ra hanya menunggu Jonghyun pulang dan makan. Namun ditengah waktu Jonghyun menikmati japchae itu, ia melihat sebungkus obat lambung dan sebuah gelas yang terisi separuh gelas air di depannya. ‘Obat lambung ? Apa ini milik So Ra ? Apa So Ra memiliki masalah pada lambungnya ?’, Jonghyun seraya mengambil obat itu. “Tunggu, untuk apa So Ra meminum obat lambung jika  ia baru saja makan ? Apa ia tidak cocok makan japchae ? Jika begitu untuk apa ia makan, ia tentu sudah tahu apa yang tak boleh dimakan jika sudah tahu punya penyakit lambung. Ah ! Apa dia belum makan ?! Tadi kulihat japchae ini seperti belum tersentuh sama sekali”, Jonghyun bertanya-tanya. Ia seketika melihat semangkuk nasi yang masih penuh di depannya, yang tentunya milik So Ra. “Ah ! Dia belum makan ?! Bahkan nasinya masih penuh begini.. Untuk apa ia menungguku jika ia ingin makan ? Dasar gadis aneh !”, Jonghyun merasa kesal.

***

            Hari ini Jung So Ra bangun bersamaan dengan terbitnya matahari. So Ra memang sedikit kesiangan hari ini karena efek mengantuk dari obat yang semalam ia minum. Dan seperti biasa So Ra menyiapkan sarapan untuknya dan Jonghyun. Selain itu Jonghyun tentu tidak bangun kesiangan lagi, karena ia tahu benar harus segera meminta maaf pada So Ra. Jonghyun segera menuju ke dapur usai menyiapkan diri untuk berangkat kuliah. “So Ra-ssi, aku sangat minta maaf atas kejadian semalam”, ucap Jonghyun begitu melihat So Ra. “Ah, tak apa. Aku bisa mengerti, kau kan orang terkenal dan sibuk”, jawab So Ra sambil sibuk dengan urusan masaknya. “Semalam jadwalku sempat diundur dan aku jadi pulang lebih lambat. Dan seharusnya aku meneleponmu dulu kan ?”, Jonghyun berusaha menjelaskan. “Sudahlah, tidak apa-apa”, So Ra menjawab singkat. “Ah iya, apa kamu punya penyakit lambung ? Semalam aku melihat obat lambung di meja”, tanya Jonghyun. “Eh? Iya..”, So Ra sedikit gugup. “Lalu apa penyebab penyakit itu kambuh ? Apa kamu belum makan ? Kau menungguku untuk makan ?”, Jonghyun sedikit menaikkan nada bicaranya. “Iya, aku menunggumu untuk makan bersama. Aku merasa tidak enak jika harus makan duluan”, So Ra menjadi merasa tidak enak. “Untuk apa ? Kau tak perlu melakukan itu ! Lain kali makanlah kalau kau memang lapar, oke ?”, Jonghyun sedikit menaikkan nada bicaranya lagi. “Iya, aku mengerti. Baiklah, sarapan sudah siap. Kau duduklah”, ucap So Ra.

Jung So Ra dan Kim Jonghyun terduduk sambil menikmati sarapan di meja makan. “Jonghyun-ssi, apa kamu mau menemaniku ke taman bermain dan bioskop ? Aku sudah lama ingin ke taman bermain di Seoul, dan aku ingin menonton film baru di bioskop karena kudengar film itu bagus. Kau mau ?”, tanya So Ra. Jonghyun sedikit terkejut mendengar pertanyaan So Ra. “Ah! Ehm.. Hmm.. Te.. Tentu”, jawab Jonghyun. “Baiklah, hari Minggu besok bisa kan ? Aku akan membeli tiketnya hari ini”, ucap So Ra dengan senyum. Mereka segera menghabiskan sarapan dan bergegas bernangkat kuliah. Namun kali ini mereka berdua berangkat menggunakan bus, seperti yang selalu dilakukan oleh So Ra. Sesampainya di Universitas S, seperti biasa semua mata tertuju pada So Ra dan Jonghyun. “So Ra !”, panggil Seo Hee begitu melihat temannya. “Hey, Seo Hee !”, balas So Ra dengan senyum manisnya. “Eh, ikut aku sini”, Seo Hee menarik So Ra menuju ke sebuah tiang bangunan Universitas S. “Hey, So Ra. Sebenarnya apa sih hubunganmu dengan Jonghyun ? Kalian terus datang bersama, pulang bersama. Apa kau ada hubungan dengannya ?”, tanya Seo Hee. “Ah, aku tak ada hubungan spesial dengannya kok ! Aku hanya satu apartemen dengannya”, jawab So Ra. “Ah ! Jinjja ? Baguslah kalau begitu ! Kau bisa lebih mudah membantuku bukan ? Ah iya, apa kau sudah ada rencana soal kencan itu ?”, Seo Hee terus bertanya. “Hmm, belum sih. Tapi aku usahakan secepatnya ya. Sekarang kita masuk saja dulu yuk!”, So Ra dan Seo Hee berjalan menuju ruang kuliah.

***

            Usai kuliah hari itu, So Ra menyempatkan diri pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi buku untuk tugas yang diberikan dosennya tadi. Namun ditengah waktunya mencari buku terdengar dering telepon dari handphone-nya, maka segera ia menjawab telepon itu. Rupanya telepon dari Seo Hee, yang ingin mengajak So Ra pergi untuk berjalan-jalan. Tentu So Ra tolak, sekolahnya lebih penting daripada sekedar membuang waktu. Dan karena So Ra ingat di perpustakaan tak boleh berisik terutama dengan suara telepon maka So Ra mematikan handphone-nya. Dan karena ia matikan, Jonghyun menjadi cemas karena tak kunjung menemukan So Ra untuk pulang bersama. Jonghyun sibuk berlari-lari  di kampus mencari So Ra dan memutuskan untuk menelepon Seo Hee yang ia kenal sebagai teman dekat So Ra. “Halo ? Seo Hee ! Apa kamu tahu dimana So Ra sekarang ?”, tanya Jonghyun begitu Seo Hee menjawab teleponnya. “Ah! Jonghyun ? Bukankan dia ada di perpustakaan ?”, jawab Seo Hee. “Benarkah ? Terima kasih ya !”, ucap Jonghyun lantas menutup telepon. “Eish ! Dasar ! Tidak sopan sekali sih ? Tapi justru inilah sifatnya, hihi”, Seo Hee tertawa kecil.

Jonghyun segera menuju perpustakaan dan mencari So Ra. Ia mencari ke seluruh penjuru ruangan hingga menemukan So Ra yang sedang mencari buku di deretan rak buku. “So Ra-ssi !”, “Jonghyun ? Ada apa ?”, tanya So Ra. “Ah tidak, aku hanya ingin mengajakmu pulang bersama tetapi kau tak bisa dihubungi”, Jonghyun sedikit terengah-engah. “Oh, tadi aku mematikan handphone-ku. Kau bisa pulang duluan, aku mungkin sedikit agak lama dan lagipula nanti aku harus pergi membeli tiket untuk kita menonton film di bioskop 2 hari lagi”, jawab So Ra. “Baiklah kalau begitu, aku juga ada schedule hari ini. Sampai bertemu nanti malam ya ! Aku pulang dulu”, Jonghyun lantas pergi. Jung So Ra memang rindu untuk pergi ke taman bermain di Seoul. Sudah 18 tahun ia tak merasakan permainan yang dulu sering ia kunjungi. Usai menyelesaikan urusan di perpustakaan, So Ra bergegas pergi ke bioskop untuk membeli tiket film untuk hari Minggu.

Sesampainya di apartemen, So Ra segera bersih diri dan menyiapkan makan malam. Kali ini So Ra membuat sebuah masakan dengan resepnya sendiri, sebuah ayam goreng tepung yang dilumuri bumbu pedas. Namun karena ia punya penyakit lambung, So Ra membuatnya tak begitu pedas. Sekitar 5 menit setelah So Ra selesai menyiapkan makan malam, Jonghyun pulang dan mencium aroma masakan So Ra. “Wah, dari aromanya saja sudah terlihat ini lezat. Kau sangat jago memasak !”, puji Jonghyun. “Kau bisa saja, ayo makan”, So Ra dan Jonghyun duduk dan mulai menyantap makanan di depan mereka. “Ah iya Jonghyun-ssi, aku sudah dapat tiket untuk film di bioskop. Tapi film ini ber-genre romance, apa kau suka ?”, tanya So Ra. “Hmm, tidak masalah. Apa salahnya menonton film seperti itu ‘kan ?”, jawa Jonghyun. Sebenarnya Jonghyun tak begitu suka film romance seperti itu, tapi kali ini ia menerimanya. Usai makan, Jonghyun dan So Ra kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.

Malam itu Jung So Ra tak bisa tidur. Ia baru ingat ia harus menyelesaikan tugasnya, tapi tugasnya itu justru tertinggal di kampus. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Namun So Ra akhirnya memutuskan untuk pergi mengambil tugasnya itu. Karena buru-buru ia memanggil taksi. Dan begitu sampai di Universitas S ia melihat pagar sudah terkunci rapat, dan ia memutuskan untuk meminta tolong pada satpam yang bertugas untuk membukakan pintu dan mengantarnya ke ruang kuliah. So Ra harus membawa setumpuk buku tebal dengan kedua tangannya yang terasa sedikit lelah daritadi. Di luar Universitas So Ra yang membawa setumpuk buku itu menunggu taksi namun tak kunjung ada satupun taksi yang lewat dan ia memutuskan untuk naik bus. Dan So Ra kembali ke apartemen dengan buku-buku itu.

Pagi itu So Ra tak lagi bangun terlambat meski semalam ia harus pergi ke kampus untuk mengambil buku tugasnya. Ia segera menyiapkan sarapan dibantu dengan Jonghyun yang juga sudah bangun sebelum So Ra. Usai menyiapkan sarapan, mereka menyantapnya dengan lezat. “So Ra-ssi, besok aku ada schedule tepat 3 jam sebelum waktu kita harus pergi ke taman bermain. Dan mungkin aku akan segera menyusul ke sana, jadi kau menunggu di sana saja. Bisakah ?”,  tanya Jonghyun. “Ah, tentu saja. Besok akan aku tunggu di taman bermain pukul 10 siang di pintu barat”, jawab So Ra lalu melanjutkan sarapannya. “Ah iya ! Hari ini aku akan pulang lebih lambat, jadi kau tak perlu menungguku dan pulanglah duluan ya. Dan setelah ini kau berangkatlah duluan karena ada sesuatu yang ingin kulakukan”, ucap So Ra. “Hm, baiklah”, jawab Jonghyun.

Jonghyun berangkat lebih dulu. Sebenarnya tak ada yang ingin dilakukan oleh So Ra, ia hanya sedikit bingung dengan setumpuk buku tebal yang harus ia bawa. Akan merasa tidak enak jika sampai Jonghyun membantunya. Ia kembali memutuskan untuk berangkat menggunakan bus, hemat tetap dipikirkan oleh So Ra meski sebanyak apapun uang yang diberi orang tuanya. Tangannya harus membawa buku-buku itu sampai ke kampus. Begitu juga ketika ia pulang kuliah. Ia masih harus terus membawa buku-buku bahkan masih ada tambahan karena masih ada tugas lagi. Tangannya seperti akan remuk jika harus ditambah setitik debu sekalipun di atasnya. Sesampainya di apartemen, So Ra yang begitu lelah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dan hari itu ia tertidur lebih awal.

***

            Hari ini adalah hari dimana So Ra dan Jonghyun akan pergi ke taman bermain. Jonghyun sudah bersiap karena ia punya schedule pukul 7. “So Ra-ssi, aku berangkat dulu ya! Sampai bertemu nanti !”, teriak Jonghyun di depan kamar So Ra yang masih terkunci. So Ra masih tertidur, ia kelelahan dengan aktivitasnya akhir-akhir ini dan ia-pun tertidur setelah sarapan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.45 dan Jonghyun menelepon So Ra. “So Ra-ssi! Apa kau sudah di taman bermain ? Schedule ku selesai lebih awal dan aku akan segera menuju ke sana”, ucap Jonghyun. “Enghh.. Jonghyun-ssi ? Aku tidak tahu bisa pergi atau tidak karena aku merasa badanku sakit dan pegal”, jawab So Ra sambil memijat ringan lengannya. “Ah, So Ra-ssi ? Apa kamu tidak apa-apa ? Kalau kau memang tak bisa pergi kita batalkan saja dan kau beristirahatlah”, Jonghyun cemas. ‘Tunggu dulu, ini bisa jadi kesempatan…’, pikir So Ra. “Ah! Jangan… Tiket itu, sayang sekali kalau dibatalkan. Lebih baik kau pergilah dengan Seo Hee, ia bilang ia sedang tidak ada pekerjaan jam-jam ini. Tunggu ya!”, ucap So Ra. “Seo Hee ? Eh? So Ra-ssi !”, So Ra menutup telepon nya.

So Ra segera menelepon Seo Hee, ini bisa menjadi kesempatan Seo Hee berkencan dengan Jonghyun. “Halo ? Seo Hee ! Pergilah ke taman bermain tengah kota dan temuilah Jonghyun di pintu barat ! Tapi sebelumnya ambillah tiket yang sudah aku beli di laci mejaku di ruang kuliah, spertinya aku meninggalkannya di sana. Ini adalah kencan kalian”, So Ra buru-buru menjelaskan. “Ah, jinjja ? terima kasih banyak So Ra !”, Seo Hee begitu saja menutup telepon. Sementara itu So Ra hanya bisa menghela nafas dan sibuk mengurus tubuhnya yang kini berbaring lemas. Hari ini ia butuh istirahat untuk mengembalikan kondisi tubuhnya agar kembali sehat. Tetapi tentu ia tak bisa terus-terusan berbaring dan tak melakukan apapun hari ini. So Ra memutuskan untuk membersihkan apartemen hari ini meskipun kondisi tubuhnya sedang tidak baik.

Jung So Ra mulai membersihkan balkon lalu kamar mandi. Jujur saja, se-rajin apapun So Ra di New York ia tak pernah sampai membersihkan rumah seperti apa yang sedang ia lakukan. Terutama orang tuanya yang melarangnya untuk melakukan pekerjaan pembantu seperti itu, setidaknya So Ra hanya diingatkan oleh ibunya untuk tetap bersih. Ketika membersihkan ruang tengah, So Ra sudah mulai merasa tubuhnya semakin tidak bersahabat. “Kenapa suhu menjadi semakin dingin ? Atau suhu tubuhku yang semakin panas ? Ah, sebaiknya aku segera menyelesaikan ini dan beristirahat”, So Ra melanjutkan pekerjaannya itu.

Di taman bermain, Jonghyun sudah bertemu dengan Seo Hee. Saat itu, Seo Hee sangat ‘menempel’ dengan Jonghyun. “Jonghyun-ah ! Apa kamu ingin naik wahana itu ? Sepertinya asyik, kita ke sana yuk !”, ajak Seo Hee dengan semangat. Namun tidak dengan orang yang ia ajak, Jonghyun. Kali ini Jonghyun tak bersemangat, bagaimana bisa dia semangat ? Orang yang awalnya akan pergi bersamanya adalah So Ra, namun tiba-tiba saja menjadi Seo Hee. Usai bermain di taman, Seo Hee dan Jonghyun yang setahun lebih muda darinya pergi ke bioskop yang tak jauh dari taman bermain. Tiket film romantis yang sudah dibelikan oleh So Ra memudahkan mereka untuk semakin menikmati kesenangan. Hanya saja Jonghyun tak mampu merasakan kenikmatan itu. Seo Hee beberapa kali menyandarkan kepalanya di pundak Jonghyun yang duduk di sebelahnya, dan dengan pura-pura tak sengaja Jonghyun menggerakkan tubuhnya hingga Seo Hee tak dapat merasakn kenyamanan bersandar di pundak seorang laki-laki. Sesekali Seo Hee memeluk lengan Jonghyun saat momen di film itu begitu romantisnya hingga membuat para penonton meneteskan air mata. Seperti biasa, Jonghyun tidak. Ia bahkan tak nyaman berada di samping Seo Hee yang dengan lancangnya melakukan hal-hal seperti itu.

“Seo Hee, aku minta maaf. Tapi aku harus segera pulang, tadi So Ra bilang ia sedang tidak enak badan. Aku pergi dulu”, Jonghyun buru-buru berjalan keluar gedung bioskop. “Jonghyun-ah ! Tunggu !”, Seo Hee menarik baju Jonghyun. “Ada apa ?”, dengan begitu kesalnya Jonghyun membalikkan tubuhnya dan bertanya. “Apa kau tak ada sedikitpun perasaan padaku ?”, pertanyaan itu mengagetkan Jonghyun. “Hah ? Apa maksudmu ? Bukankah selama ini kita berteman ? Perasaan apa ?”, Jonghyun tak mampu bertanya banyak. “Perasaan suka, sayang, cinta. Apa tidak ada ?”, Seo Hee menjelaskan. “Tentu tidak. Kita hanya teman biasa ‘kan ?”, Jonghyun tak mampu mengakhiri percakapan macam itu. “Apa kamu tidak tahu ? Aku menyukaimu Jonghyun, aku  menyukaimu ! Meskipun kamu setahun lebih muda dariku dan  kamu bahkan tak pernah begitu memperhatikanku, aku menyukaimu !”, ucap Seo Hee lantang. “Maafkan aku Seo Hee, aku tidak akan bisa menyukaimu. Maaf, aku pergi dulu”, Jonghyun segera berlari keluar.

‘Cih, apa yang sebenarnya dia pikirkan ? Bagaimana bisa dia menyukaiku ? Ini benar-benar tak aku sangka’, pikir Jonghyun saat berlari masuk ke mobilnya. Ia segera mengemudi mobilnya itu menuju ke apartemen, ia teringat akan So Ra yang berkata bahwa ia sedang tidak enak badan tadi pagi.

Sementara itu, So Ra baru saja menyelesaikan pekerjaannya untuk bersih-bersih. Ia mungkin tidak sadar, badannya demam. Namun ia tahu, kondisi tubuhnya makin buruk. Sebenarnya So Ra tidak boleh terlalu lelah, karena ia akan drop dan kehilangan kesadaran. Saat berumur 9 tahun, So Ra sempat mengalami koma selama 1 bulan setelah mengikuti acara sekolahnya untuk mendaki gunung. So Ra yang terlalu lelah bahkan jatuh berguling sejauh beberapa meter karena jatuh pingsan saat perjalanan mendaki. Karena So Ra tidak ingin keadaannya semakin memburuk lagi, ia memutuskan untuk pergi ke kamar dan beristirahat. Namun saat di ruang tengah, ia teringat bahwa kain untuk bersih-bersih tertinggal di ruang musik. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang musik. ‘Ah ! Tubuhku tiba-tiba terasa berat. Kenapa di sini panas sekali ? Ada apa ini ? Ruangan ini terasa berputar’, So Ra jatuh pingsan tepat di samping meja makan yang terletak tak jauh dari ruang tengah.

***

Jonghyun baru saja sampai di apartemen. Namun ketika ia membuka pintu dan berjalan masuk, ia melihat So Ra sudah tergeletak di lantai dengan wajah pucat. Buru-buru ia gendong gadis demam itu ke sofa dan membaringkannya. Jonghyun berlari menuju dapur dan mengambil air juga mencari handuk kecil untuk mengompres So Ra. Jonghyun begitu khawatir. Hari yang sudah menjelang malam menjadi saksi bagaimana Jonghyun mengurus So Ra dengan penuh perhatian. Sudah 1 jam So Ra tidak sadarkan diri. Jonghyun masih sibuk mengganti kompres untuk So Ra dan terus menatap gadis yang terbaring di depannya. Entah sudah kompres yang keberapa-puluh, So Ra baru membuka matanya. “Jonghyun-ssi ?”, ucapnya pelan. “So Ra-ssi ! Akhirnya kau sadar juga ! Kau tidak apa-apa ?”, senyum Jonghyun begitu lebar melihat So Ra akhirnya sadar. “Iya, aku sudah tidak apa-apa”, seraya So Ra bangun dan duduk di depan Jonghyun. “Kalau begitu aku ke kamar dulu ya”, So Ra berjalan ke kamarnya dan mengunci pintu.

“Sebenarnya ada apa dengannya ? Ia sampai pingsan begitu ? Apa karena tugas menumpuk ? Tapi ia tidak selemah itu”, Jonghyun masih saja mengkhawatirkan So Ra. Ia memutuskan untuk menunggu So Ra disofa, mungkin So Ra akan keluar dan butuh bantuannya. 1 jam berlalu, malam semakin larut dan So Ra tak kunjung keluar. ‘Mungkin ia sudah tidur, lebih baik aku masuk kamar dan juga tidur’, pikir Jonghyun seraya berjalan menuju kamarnya. Namun sampai di depan kamar, ia mendengar sesuatu. BRUK ! Suara itu datang dari dalam kamar So Ra yang terkunci. “Apa terjadi sesuatu ?”, Jonghyun mulai panik. “So Ra-ssi ! Apa kau baik-baik saja ?”, teriak Jonghyun sambil mengetuk keras pintu kamar So Ra. 2 menit Jonghyun terus mengetuk pintu itu sambil berteriak memanggil So Ra. Tiba-tibba pintu itu terbuka, So Ra membuka pintu. “Ah, maaf. Aku tidak membukakan pintu dengan segera, maaf ya”, dengan suara lirih So Ra berusaha memberi senyum agar Jonghyun tak lagi khawatir. “Apa kau benar baik-baik saja ?”, sayangnya Jonghyun masih saja khawatir. “Iya, aku baik-ba..”, BRUK ! So Ra jatuh lagi dan dengan sigap Jonghyun menangkapnya. So Ra tak pingsan namun ia sangat lemas.

Jonghyun memutuskan untuk membawa So Ra ke tempat tidurnya dan membaringkannya. Jonghyun segera menelepon dokter untuk datang memeriksa keadaan So Ra. Dalam 30 menit dokter itu sudah datang dan segera memeriksa So Ra. Dan dokter menjelaskan bahwa So Ra memang tak boleh terlalu lelah atau hal semacam ini akan terjadi lagi. Jonghyun merawat So Ra sepanjang malam. Bahkan ia sampai tertidur di lantai dengan selimut yang ia bawa dari kamarnya. Dan saat pagi datang, meski sakit menyerang tubuhnya semalam So Ra tetap saja bangun pagi. Hanya saja, sekarang keadaan tubuhnya sudah membaik. “Jonghyun-ssi … Kenapa kau tidur di bawah ? Kau bisa masuk angin, Jonghyun-ssi”, So Ra membangunkan laki-laki yang tertidur di sampingnya. “Emmh, So Ra ? Kau sudah bangun ? Bagaimana keadaanmu ?”, Jonghyun terbangun. “Aku sudah lebih baik, mungkin aku hanya butuh sedikiiit istirahat lagi untuk memulihkan kesehatanku”, ucap So Ra dengan senyum dari bibir pink-nya. “Aku buat sarapan dulu ya, kau istirahatlah !”, Jonghyun berlari ke dapur dan memasak sebuah sup dan membawakannya ke So Ra yang masih berbaring di tempat tidur. “Ah, terima kasih banyak. Maaf aku banyak merepotkanmu”, senyum So Ra menghiasi wajahnya.

Usai sarapan, So Ra juga tak diperbolehkan untuk bangun oleh Jonghyun. Ia masih harus berbaring di tempat tidurnya. Sedangkan Kim Jonghyun sudah men-cancel seluruh schedule-nya hari itu untuk menjaga So Ra. Tepat setelah sarapan, Jonghyun langsung menuju ke laptopnya dan mencari cara-cara untuk menjaga kesehatan untuk orang seperti So Ra di internet. Tapi di tengah kesibukannya mencari di internet, So Ra menghampirinya di kamarnya itu. “So Ra-ssi ?! Kenapa kamu bangun ? Kau harus tetap di tempat tidurmu itu ! Cepatlah kembali”, Jonghyun segera mengajak So Ra kembali ke kamarnya. “Tidak ! Aku sangat bosan harus terus berbaring dan tidak melakukan apapun. Lagipula aku sudah baik-baik saja kok ! Aku tak ingin kembali !”, So Ra terus menggeliat melepaskan diri dari tangan Jonghyun yang mendorongnya kembali ke kamar.

“So Ra-ssi ! Dengarkan aku ! Kau harus banyak istirahat.. Kata dokter kau tak boleh terlalu lelah !”, Jonghyun mengingatkan So Ra. “Tapi bukan berarti berjalan saja tak boleh ‘kan ? Kau hanya terlalu berlebihan !”, So Ra mengelak. “Sudahlah, lakukan saja ! Kembalilah ke kam..”, “tidak mau !”, So Ra begitu saja memotong kata-kata Jonghyun. “Aku ini sudah baikan Jjong !”, So Ra makin kesal. Ia melepaskan tangan Jonghyun dan berjalan menuju sofa di ruang tengah lalu duduk. Jonghyun mengikutinya dan duduk di sebelah So Ra. Tak ada dialog kurang lebih selama 3 menit, So Ra dan Jonghyun hanya sesekali melihat sesama. “Jonghyun-ssi, bagaimana kencanmu.. Eh, maksudku hiburan kemarin saat berjalan-jalan bersama Seo Hee ?”, So Ra memecah keheningan. “Eh ? Ke.. Kencan ? Itu bukan kencan, kan kau tak sengaja menyuruhnya pergi bersamaku kan ? Aku sangat bosan, tak ada yang seru”, jawab Jonghyun. “Emh, apa kau tak menyukai Seo Hee ? Dia sangat cantik dan baik juga periang”, pertanyaan So Ra mengagetkan Jonghyun.

“Tentu tidak ! Aku tak menyukainya, selama ini aku hanya berteman biasa dengannya”, Jonghyun menjawab tegas. Suasana tiba-tiba menjadi hening lagi. Dan di tengah susana itu So Ra memutuskan untuk kembali ke kamar. ‘Apa mungkin Jonghyun tak menyukai Seo Hee ? Seo Hee bilang mereka cukup dekat. Rasanya tak mungkin, karena beberapa kali aku melihat mereka mengobrol dengan sangat akrab’, So Ra terus bertanya dalam hati. Begitu So Ra meninggalkan ruang tengah, terdengar suara handphone Jonghyun yang berdering. Dengan segera ia menjawabnya. “Halo ? Ada apa ? Apa ?! Kalau begitu tunggulah !”, Jonghyun berlari menuju pintu apartemennya.

Terlihat seorang gadis berdiri di depan pintu saat Jonghyun membuka pintu. Itu adalah Seo Hee. Jonghyun mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa. “Apa yang kau lakukan ?”, tanya Jonghyun. “Apa maksudmu? Apa aku tak boleh berkunjung ke rumah temanku ?”, jawab Seo Hee sedikit ketus. “Bukan begitu maksudku, tapi kau ada perlu apa ?”, Jonghyun berusaha mencari tahu. “Emh, aku.. Aku ingin mengunjungi So Ra ! Iya, mengunjungi So Ra”, jawab Seo Hee sedikit meragukan. “Oh begitu, kalau begitu masuklah ke kamar So Ra. Kamarnya di sebelah situ”, Jonghyun menunjuk sebuah ruangan di sebelah kiri kamar mandi. “Ah, iya. Tapi sebelumnya aku ingin sedikit berbincang denganmu, boleh ‘kan ?”, Seo Hee seperti ingin membuang waktu.

Di kamar, So Ra dapat mendengar suara Seo Hee. “Siapa itu ? Kenapa ada suara perempuan di luar ? Itu seperti suara Seo Hee ! Apa dia datang untuk menjengukku ?”, So Ra bertanya-tanya. Tapi bagaimanapun So Ra tak ingin keluar dari kamar, ia tetap mencoba untuk mendengarkan perbincangan Seo Hee dan Jonghyun dari kamarnya. Di tengah percakapan yang sedang ia dengarkan, tiba-tiba selama sekitar 1 menit sempat tak ada percakapan. “Tunggu, kenapa percakapan mereka tiba-tiba tak terdengar ? Apa mereka sedang bertengkar lalu sekarang tak ingin bicara ?”, So Ra semakin ingin tahu.

***

Sekitar 10 menit lebih mencoba mendengarkan perbincangan Seo Hee dan Jonghyun, So Ra hanya mampu mendengar suara mereka samar-samar. So Ra putus asa dan hanya duduk kembali ke kursi meja belajar dari tempatnya berdiri di pintu. Namun begitu So Ra duduk, seseorang mengetuk pintu dan masuk. Seo Hee. “So Ra-ah ! Bagaimana keadaanmu ?”, Seo Hee menyapanya. “Ah, Seo Hee … Aku sudah lebih baik”, jawab So Ra. “Kapan kau datang ?”, So Ra berpura-pura tak tahu bahwa Seo Hee sudah datang dari 10 menit lebih lalu. “Emh, aku sudah sekitar 15 menit yang lalu sampai di sini. Dan tadi sempat mengobrol dengan Jonghyun.

Seo Hee terlihat begitu bahagia usai berbincang dengan Jonghyun. Apa mereka sudah jadian ya ?’, pikir So Ra. “Kau terlihat sangat senang, sebenarnya apa yang terjadi ?”, So Ra memberanikan diri untuk bertanya. “Ah! Kau tahu saja ! Aku memang sedang bahagia”, jawab Seo Hee dengan senyum sangat bahagia di wajahnya. “Kalau begitu ceritakan padaku ! Bukankan suka duka seharusnya dibagi bersama teman ? Iya ‘kan ?”, tanya So Ra dengan alasan ingin tahu saja. “Iya sih, aku senaaaang sekali hari ini !”, Seo Hee makin bersemangat saja. “Apa ini ada hubungannya dengan Jonghyun ?”, tanya So Ra. “Yap ! Tepat sekali ! Kau tahu apa yang sudah kualami ?”, Seo Hee membuat So Ra terasa akan mati penasaran. “Ah, sudahlah ! Cepat katakan !”, kata So Ra. “So Ra-ssi ! Apa kau tahu ? Saat aku berbincang dengan Jonghyun tadi, tiba-tiba saja Jonghyun menciumku ! Bibirku ! Aku rasa dia menyukaiku”, ucap Seo Hee bahagia. Kata-kata itu seperti menampar So Ra, begitu saja So Ra langsung terdiam tanpa kata. Ia sangat terkejut. ‘Jonghyun, mencium Seo Hee ? Engh, kenapa rasanya aneh begini ?’, ucap So Ra dalam hati.

Bersambung


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s