Wacth You Go 1 of 2 [twoshoot]


Judul FF : Wacth You Go 1 of 2 [twoshoot]

Cast : Seohyun, Kyuhyun, SeoKyu, Changmin, Donghae, Yoona, BoA

Genre : Romance, Friendship

Author : nisninisch

Disclaimer: All Sment artis belongs to Sment. But this fic belongs to me.

=,=’

Cho Kyuhyun. Lahir pada tanggal 3 Februari. Gologan darah; A. Anak ke dua dari dua bersaudara. Hobinya bermain game, memainkan gitar dan kadang menonton film. Keahlian khusus: menyanyi. Dan hal yang dibencinya adalah sayur.

“… hyun! Ya, sebagai pemenang juara pertama, silahkan maju ke atas panggung!”  seru seorang mc dari atas panggung.

Pemuda yang bersangkutan tersenyum penuh kemenangan. Cho Kyuhyun segera berdiri dari duduknya dan menampilkan senyum sinisnya pada orang yang duduk di sebelahnya.

“Apa kubilang? Aku pasti menang,kan.” Ujarnya pada orang tersebut. Shim Changmin, pemuda yang diajak bicara Kyuhyun, memandangya terkejut sekaligus heran. Changmin tidak mungkin salah dengar, dan menurut pendengaranya, hal yang didengar Kyuhyun adalah salah.

“Hei, hei, kau salah dengar, Kyu. Yang menang—Oi!” seru Changmin. Pemuda itu mendecak kesal ketika Kyuhyun hanya melambaikan tanganya dan berjalan ke depan panggung. Pede sekali orang itu, kata Changmin dalam hati. Ia kemudian tertawa dalam hati melihat tingkah laku sahabatnya, lalu memperhatikan Kyuhyun dan menunggu apa yang akan terjadi.

Mc perlombaan menyanyi itu menatap Kyuhyun heran, ketika pemuda itu dengan santainya berjalan menaiki tangga dan menghampiri mc tersebut. Penonton bersorak ketika Kyuhyun menapaki tangga, dan pemuda itu mengira para penonton menyukainya.

Kyuhyun mengangkat kedua alisnya dan menunggu hadiah diserahkan, namun mc itu tetap saja tidak bergeming. Kyuhyun mengangkat bahu lalu menoleh kepada pememang juara 3 dan 2 di belakangnya untuk meminta penjelasan. Tapi keduanya justru memandang Kyuhyun heran seolah kaget.

Pemuda itu mengangkat kedua alisnya heran. Ada apa sih sebenarnya?, gumamnya.

“Eh? Maaf, apakah aku… apakah aku tidak salah dengar?” ucap seorang gadis dari belakang Kyuhyun. Gadis itu berjalan mendekati pemuda itu dan mc perlahan. Serentak, mc itu, Kyuhyun serta kedua pemenang lainya menoleh menatap gadis itu. Wajahnya seputih sajlu namun merona merah karena malu. “Benarkah juara satunya bernama Seo Joohyun?” lanjut gadis itu sambil mencuri pandang ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun menurunkan bibirnya beberapa centi. Sebenarnya siapa yang salah dengar?

“Ah, benar, benar! Juara satunya adalah Seo Joohyun. Silahkan kemari,” ajak mc itu seketika.

“Jadi pemenangnya bukan aku? Bukan Cho Kyuhyun?” tukasnya. Kyuhyun menatap mc tersebut dengan tatapan heran.

Kedua juara lainya diam membisu sementara mc itu menjawab pertanyaan Kyuhyun.“Kau ini tuli atau apa?Kantadi sudah kubilang juara satunya ialah Seo Joohyun.” Kyuhyun tahu wanita mc itu lebih tua darinya, tapi tetap saja bicara sopan itu hukumnya wajib.

“Nah, ayo ke mari, Seo Joohyun. Kami akan serahkan hadiahmu” lanjut mc itu, ekspresinya berubah ceria. Kyuhyun tertawa dalam hati. Jadi ia salah dengar? Jadi yang salah dengar adalah dia—Kyuhyun? Haha.

“Jadi aku salah dengar? Aku bukan pemenang juara satunya, ya? Haha.” Pemuda itu membalikan badan dan membelakangi mc beserta kedua juara tersebut. Kyuhyun mendecakan lidah. Tiba-tiba saja matanya sudah bersitatap dengan gadis yang berjalan ragu di depanya.

“Maaf kanaku, Kyuhyun-ssi,” bisik gadis itu pelan ketika keduanya berdekatan. Kyuhyun hanya bisa mengangguk dan tersenyum samar seraya berkata, “Ya.”

“Eh, maaf ya nak, maaf…” kata mc itu lagi. Kyuhyun berjalan menjauh seolah tak peduli.

Ia pasti nampak sangat konyol saat itu. Dan Kyuhyun juga takkanheran apabila Changmin akan menertawainya habis-habisan setelah ini.

.

“Hei, kenapa cemberut terus? Harusnya kau bersyukur aku tidak menyebarkan berita ini. Kalau sampai tersebar, maka, boom! Satu sekolah pasti gempar,” Tawa Changmin pada pemuda yang tengah duduk termenung sendiri di bangkunya. Kyuhyun mendengus. Pemuda itu tidak menyesal tidak memberitahu pihak sekolah mau pun keluarganya bahwa kemarin ia mengikuti perlombaan menyanyi. “Orang bicara didengerin dong.” Lanjut Changmin.

Kyuhyun mengangkat bahu tidak peduli. “Oh, iya. Sudah dengar berita itu, belum?” kata Changmin lagi. Kyuhyun mengangkat wajahnya lalu mendengarkan. “Katanya ada murid baru di sekolah kita. Seorang gadis. Tanggal lahirnya 28 Juni. Rambutnya panjang dan katanya cantik.”

Kyuhyun bangkit berdiri. “Kau cocok jadi tukang gosip,” ujarnya sebelum berjalan pergi. Dari caranya berjalan Changmin tahu bahwa sahabatnya itu sedang tidak bersemangat. “Mau ke mana?” tanya Changmin.

“Toilet.” Sahut Kyuhyun kemudian melambai.

=,=’

Seohyun menatap ke sekelilingnya panik. Ia baru saja menyelesaikan urusanya di toilet dan sekarang gadis itu tidak tahu bagaimana caranya kembali ke kelas. Orang yang tadi menolongnya dengan menunjukan letak toilet juga telah pergi entah ke mana. Seohyun baru hari ini pindah ke SM International School, dan kebetulan koridor tempatnya berpijak tengah sepi.

Gadis itu menggigit bawah bibirnya khawatir. Ia tidak tahu harus bagaimana.

“Seo Joohyun? Joohyun-ssi? Kau kah itu?”

Sontak Seohyun membalikan badan. Matanya melihat seorang pemuda tengah berjalan menghampirinya. Seohyun menyipitkan mata. Wajah itu kelihatan tak asing dalam ingatanya, namun gadis itu tak bisa mengingat siapa dan di mana ia bertemu dengan pemuda itu.

Pemuda itu nampakya senang begitu melihat Seohyun. “Ah, benar itu kau” katanya sambil tersenyum. “Jadi bagaimana kabarmu?” lanjutnya.

Seohyun tersenyum canggung. Ia tidak ingin pemuda itu tahu bahwa ia melupakan namanya. Tapi ini kesempatan bagus. Pemuda itu kenal dirinya dan ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memintanya menunjukan jalan kembali ke kelasnya.

“Kabarku baik,” sahut Seohyun pelan.

“Apakah kau murid baru yang dibicarakan orang-orang itu? Kalau iya, aku tidak akan heran mengapa mereka membicarakanmu.” Pemuda itu tersenyum dengan gayanya yang aneh.

Seohyun heran dan tidak tahu harus menanggapinya dengan apa. Jadi ia hanya tersenyum samar dan mengangguk.

Pemuda itu tertawa. “Ya, sudah. Aku mau ke toilet dulu. Sampai jum—”

“—Aakh, tu..tunggu sebentar,” cegat Seohyun. Secara tidak sadar ia sudah menarik baju pemuda itu. Seohyun menurunkan tanganya ketika pemuda itu memandangi tanganya. Pemuda itu menatap Seohyun heran sebelum gadis itu berkata, “Bisa tolong tunjukan padaku jalan ke kelas sebelas A…?”

Pemuda itu mengangkat bahu. “Oke,” katanya.

Maka di sinilah keduanya, berjalan beriringan di koridor sekolah. Seohyun menunduk.Adasedikit perasaan bersalah terbesit di hatinya ketika menyadari bahwa ia sudah mengganggu waktu pemuda itu.

“Jadi… selamat ya, karena sudah memenangkan perlombaan itu,” ujar pemuda itu. Seohyun tersentak.

Tiba-tiba ia ingat siapa pemuda ini, di mana ia bertemu denganya dan peristiwa apa yang terjadi ketika keduanya pertama kali bertemu. Perasaan bersalah semakin meraja lela di hati gadis itu. Ia sudah merebut gelar juara itu darinya dan pemuda itu tetap saja bersikap ramah padanya.

“Maaf, maaf kanaku Kyuhyun-ssi,” ucap Seohyun sambil menunduk di hadapan Kyuhyun. “Aku benar-benar minta maaf.” Sambungnya.

“Memang sudah seharusnya kau minta maaf padaku,” Sahut pemuda itu. Seohyun mengangkat wajahnya terkejut. Biasanya orang akan mengatakan ‘ya, tidak apa’ ketika ada yang meminta maaf padanya. Tapi ini…? “Hahhaha, jangan memasang ekspresi seperti itu.” Lanjut Kyuhyun.

Keduanya seketika berhenti di depan kelas Seohyun.

“Nah, sudah sampai,” ujar pemuda itu. Seohyun tersenyum. Kyuhyun kemudian mengangkat bahu. “Lain kali kau harus panggil aku ‘oppa’, Joohyun. Dan aku akan memanggilmu Seohyun, oke? Rasanya lebih enak terdengar jika kau kupanggil Seohyun.”

Gadis itu mengerutkan alis. Bahkan sebelum ia sempat bertanya kenapa, Kyuhyun berkata lagi, “Kau harus tahu bahwa aku ini lebih tua darimu. Daah.” Pemuda itu melambai pergi dan Seohyun belum lagi mengatakan terima kasih padanya.

.

‘Panggil aku oppa’?

Oh, ya ampun. Dirinya ini pasti sudah gila. Otaknya tidak mau berhenti memikirkan pemuda itu meskipun Seohyun sudah menolak. Ia harus mengaku ini pertama kalinya gadis itu merasa sepusing ini karena seorang lelaki. Tapi entah kenapa Seohyun juga merasa senang di saat yang bersamaan.

Pemuda itu tahu tanggal lahirnya? Tidak mungkin. Mereka bahkan baru bertemu dan berbincang selama dua kali. Itu pun membicarakan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan hari kelahiranya. Aakh, Seohyun mengela nafas.

Eh, tunggu sebentar. Apakah Kyuhyun juga bilang ia ingin memanggilnya dengan nama ‘Seohyun’? gadis itu dapat merasakan wajahnya memanas. Oh, ya tuhan. Ini pasti mimpi. Tidak, tidak mungkin pemuda itu tahu namanya yang itu. Tidak.

“Seo Joohyun-ssi,” panggil seseorang dari sebelah kananya. Orang itu membuyarkan lamunan Seohyun. “—atau harus kupanggil Seohyun saja? Dari tadi kau menggumamkan nama itu terus—Mau kembali ke kelas bersama? Namaku Im Yoona,” ajak gadis itu. Seohyun menjabat tangan Yoona. Ia lalu mengucapkan bahwa ia senang berkenalan denganya sebelum menggeleng dan tersenyum.

“Terima kasih. Tapi masih ada yang harus kulakukan di sini. Kau duluan saja.” Tolak Seohyun halus. Gadis itu merapikan buku dan alat tulisnya.

“Baiklah. Sampai ketemu di kelas, Seohyun ah.” Yoona melambai padanya sebelum berjalan ke luar ruang musik.

Seohyun menghela nafas. Gadis itu menutup rapat pintu ruang kedap suara tersebut setelah memastikan guru dan teman-temanya sudah meninggalkan ruangan. Ia sudah meminta ijin pada guru musiknya untuk memakai ruang musik ini sejenak. Dan gurunya itu sama sekali tidak keberatan.

Seohyun berjalan menghampiri sebuah grand piano di ujung ruangan. Jemarinya meniti setiap inci tuts piano secara perlahan. Seohyun tersenyum lalu menatap lembut piano itu. Ia hanya ingin bernostalgia. Pikiranya melayang. Sudah berapa tahun lamanya sejak terakhir ia memainkan piano…

Tanpa sadar gadis itu sudah memainkan Cannon in D Major karya Johann Pachelbel. Kelopak matanya menutup dan bibirnya tak bisa berhenti menyungging senyum. Hatinya tiba-tiba terasa damai, tenang, dan begitu nyaman.

“Seohyun ah, ternyata kau bisa—”

Seohyun tersentak kaget. Permainanya seketika terhenti. Matanya menatap orang yang berdiri di pintu ruangan itu tajam sekaligus kaget. Tidak, tidak boleh. Tidak boleh ada yang tahu kalau ia bisa bermain piano.

“—main piano jug… Hei!”

Gadis itu berlalu melewati Kyuhyun dan meninggalkan pemuda itu sendirian di ruang musik.

=,=’

“Nanti aku menyusul.” ucap Donghae akhirnya. Kyuhyun mengangguk. “Jangan lama,” sahut pemuda itu setelah menepuk bahu Donghae pelan. Kyuhyun kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan Donghae.

Guru musik mereka, Kwon Boa songsaenim, menyuruh Kyuhyun untuk mengambil beberapa partitur untuk pelajaran mereka di ruang musik. Tak heran apabila Kyuhyun termasuk dari segelintir murid kesayangan guru musik itu. Selain pelajaran olahraga, ICT, dan musik, pemuda itu tidak ingin menguasai mata pelajaran yang lain.

Kyuhyun mengentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas musik. Jantungnya berpacu cepat dan entah kenapa tiba-tiba ia merasa begitu damai dan nyaman. Matanya tanpa sadar sudah menutup begitu alunan musik mengalun di telinganya. Temponya begitu lembut namun Kyuhyun tahu kemampuan pemainya dalam memainkan tuts di atas rata-rata pianis biasa.

Kyuhyun membulatkan tekad sebelum membuka pintu ruang tersebut. Matanya terbelalak kaget begitu tahu siapa yang memainkan lagu itu. Seohyun dapat bermain piano? Suara gadis itu pasti menakjubkan, mengetahui bahwa ia mengalahkan Kyuhyun di lomba kemarin. Dan Seohyun juga dapat memainkan piano? Gadis itu sukses membuat Kyuhyun terpana.

“Seohyun ah, ternyata kau bisa main piano jug… Hei!”

Gadis itu terbelalak dan pergi meninggalkanya bahkan sebelum Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya. Kenapa gadis itu menghindarinya? Memangnya ia berbuat salah?

Kyuhyun mengangkat bahu tidak peduli. Ia kemudian mengambil berkas yang diminta gurunya lalu meninggalkan ruangan itu.

Suara Seohyun pasti bagus sekali. Selama ini belum ada yang pernah mengalahkanya soal vokal—kecuali Changmin, beberapa kali. Jemarinya juga piawai menekan tuts piano. Akh, pemuda itu jadi terbuai untuk mendengar suara Seohyun.

“…Seohyun? Jadi nama gadis itu Seohyun??” ujar seseorang di koridor. Kyuhyun mendongak. Beberapa teman lelaki seangkatanya tengah mengobrol di koridor dan membicarakan… Seohyun? Kyuhyun mendengus. Ternyata gadis itu populer juga.

“Dasar gadis brengsek,” gumam lelaki itu.

“Apa?” seru Kyuhyun tiba-tiba. Ketiga pemuda itu menoleh ke arah Kyuhyun. Tanpa sadar pemuda itu sudah berjalan mendekat ke arah pemuda yang mengejek Seohyun. “Apa kau bilang tadi?” tanya Kyuhyun.

“Akh, Cho Kyuhyun. Berandalan SM International School,” sahut pemuda itu sambil sedikit menjauhinya. Kyuhyun menatap tajam pemuda itu. “Jadi, ada hubungan apa antara kau dengan si manis Seo Joohyun?” sambung teman Kyuhyun itu.

“Kutanya apa yang kau bilang soal Seohyun tadi?” ulang Kyuhyun.Adapenekanan di setiap kata yang diucapkanya. Entah kenapa kepala Kyuhyun terasa mendidih. Pemuda dihadapan Kyuhyun tersenyum sinis. “Aku bilang, gadis itu benar-benar brengsek.”

Dan satu pukulan melayang di pipi pemuda itu. Darah menetes dari bibir pemuda itu. Kyuhyun semakin memojokan pemuda itu ke dinding dan mengangkat kerah bajunya. Jantung Kyuhyun memacu cepat. Ini bukan pertama kalinya ia menonjok orang tapi entah kenapa rasanya ia marah sekali.

Pemuda yang ditonjok Kyuhyun malah tersenyum semakin sinis. Kedua temanya kaget dan berusaha menolong namun pemuda itu menolak. Kedua temanya itu seperti anak buahnya saja, pikir Kyuhyun dalam hati.

“Gadismu itu benar-benar mulia, tuan Cho Kyuhyun. Ia menabraku sambil berlari tanpa meminta maaf.” Ujar pemuda itu. Kyuhyun sedikit melangkah mundur. “Benar-benar gadis kurang ajar.” Lanjutnya. Kyuhyun kembali melancarkan satu pukulan. Pemuda itu tidak sadar betapa kata-katanya menyakiti Kyuhyun.

“Itu untuk Seohyun.” Kata Kyuhyun akhirnya. Ia menjauhi pemuda itu lalu menunjuknya setelah mengatur nafasnya sendiri. “Kau harus minta maaf pada Seohyun nanti. Dan kalau kulihat kau menjelek-jelekinya lagi, aku sudah memperingatkan.” Lanjutnya lalu membalikan badan.

Kyuhyun baru berjalan satu langkah dan pemuda itu tiba-tiba menarik seragamnya. Ia tak bisa menghindar. Kyuhyun hanya memukuli pemuda itu sendirian, namun dibalas dengan pukulan dari tiga orang sekaligus. Serentak seluruh tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pusing.

Segalanya terasa berputar-putar dan pemandangan dari matanya terlihat kabur. Semuanya terasa berlalu begitu cepat. Hal terakhir yang diingatnya adalah ketika Donghae berlari menghampirinya, setelah sebelumnya meneriakkan namanya.

Semuanya terasa seperti mimpi. Ketika mendongakkan kepala, ia sudah duduk di hadapan kepala sekolah. Dan entah bagaimana pemuda sial yang mengejek Seohyun itu bisa memutar balikan masalah hingga seolah-olah Kyuhyun yang salah. Dasar sialan.

“…karena kita baru memasuki tahun ajaran baru, jadi saya memutuskan untuk memperingatkanmu saja, Cho Kyuhyun. Kalau sampai tiga kali anda mengabaikan peringatan ini, kejadian tahun lalu akan terulang dengan lebih buruk,” Jelas kepala sekolah di hadapan Kyuhyun. Pemuda itu hanya diam dan tidak berminat untuk menanggapi.

“Saya sudah memanggil orangtuamu untuk dat—ah, mungkin itu mereka.” seseorang mengetuk pintu dan Kepala Sekolah berdiri begitu juga Kyuhyun. Pemuda itu dapat membayangkan bagaimana ekpresi kedua orangtuanya. Ia sudah lebih dari sering mengalami kejadian seperti ini, bahkan sejak ia masih sekolah dasar.

Kyuhyun terbelalak kaget begitu tahu siapa yang membuka pintu ruang kepala sekolah. Bukan paman bibinya, bukan juga orangtuanya. Yang datang adalah Ahra noona, kakaknya sendiri. Seluruh saraf Kyuhyun tiba-tiba menengang. Kakanya itu tidak pernah mengurusi masalah yang bersangkutan dengan keonaran yang dibuatnya. Ini benar-benar tidak mungkin.

Ekspresi Ahra noona sangat kaku dan itu membuat Kyuhyun semakin takut. Ia tidak berbicara satu kata pun padanya bahkan setelah keduanya sampai di rumah. Ahra noona memacu jantung Kyuhyun berdetak semakin cepat dengan membuat seolah-olah pemuda itu tidak ada. Kyuhyun yang shock juga tidak berani mengatakan apa-apa pada kakaknya.

Kyuhyun—yang sebal pada dirinya sendiri—mengambil gitarnya dan pergi ke luar rumah.

=,=’

Seo Joohyun berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia kepergok oleh Kyuhyun ketika sedang memainkan piano, dan pemuda itu juga tahu ia bisa bernyanyi. Pemuda itu juga ternyata satu sekolah denganya. Oh, lama-lama kepalanya ini bisa pecah. Tidak boleh ada yang tahu kalau ia bisa bernyanyi. Teman-temanya, gurunya, mereka tidak semestinya tahu.

Seohyun menarik nafas. Gadis itu melirik ke halaman melewati jendela kamarnya. Ia kemudian mengangguk dan mengambil mantel, sarung tangan beserta syalnya. Musim gugur akan segera datang dan hawanya benar-benar dingin. Seohyun memutuskan untuk mencari udara segar dan ia tidak mau mengambil resiko terkena flu.

Kakinya menuntunnya berjalan dan gadis itu bahkan tidak punya tujuan mau pergi ke mana. Ketika angin dingin berhembus, Seohyun menggigil dan merapatkan mantelnya. Gadis itu mengangkat kepalanya dan tiba-tiba saja ia sudah berada di tamankota. Matanya menjelajah taman yang ramai tersebut. Seohyun memutuskan untuk mendatangi sekumpulan orang yang tengah mengerubungi sesuatu.

Mereka mengelilingi seorang pemuda yang tengah bernyanyi dengan gitar. Seohyun tidak tahu pasti apa judul lagunya, namun ia tahu pemuda itu menyanyikanya dengan sungguh-sungguh. Mereka semua bertepuk tangan ketika pemuda itu selesai menyanyi, dan Seohyun semakin terkejut ketika melihat wajahnya.

“Kyuhyun-ssi,” gumam Seohyun. Gadis itu kemudian menyesali perbuatanya karena sedetik kemudian pemuda itu mendongak dan tersenyum melihat Seohyun. Kumpulan orang itu mulai meninggalkan Kyuhyun dan Seohyun berdua.

“Seohyun,” sapa Kyuhyun begitu melihat Seohyun. Pemuda itu tersenyum padanya, lalu ekspresinya seketika berubah kesal. “Ya! Apa yang kau lakukan? Harusnya kau panggil aku ‘oppa’ tadi!”

Seohyun tersenyum kecut. “Oppa,” bisiknya takut.

Kyuhyun tertawa. Pemuda itu mengesampingkan gitarnya lalu menunjuk kursi taman yang kosong di sebelahnya. “Duduklah.” Entah mengapa Seohyun mengangguk lalu segera duduk. Gadis itu memandangi gitar Kyuhyun.

“Apakah oppa sering ke mari?” tanyanya polos.

Kyuhyun menatap Seohyun sebentar sebelum mengangkat bahu. “Sebenarnya tidak. Aku hanya ke sini untuk menenangkan pikiran jika ada masalah.” Jawabnya.

Sebenarnya Seohyun masih penasaran masalah apa yang dimaksud Kyuhyun. Namun gadis itu mengurungkan niatnya untuk bertanya karena kelihatanya Kyuhyun enggan membahas itu.

Gadis itu menatap Kyuhyun dan terbelalak melihat wajahnya. “Oppa, wajahmu… kenapa?” Seohyun berusaha meraih wajah Kyuhyun namun ditepis oleh pemuda itu. Terdapat dua plester di dahi Kyuhyun dan pipi sebelah kananya lebam.

“Tidak apa,” sahut Kyuhyun dingin. Seohyun khawatir melihat Kyuhyun tapi ia diam saja. Keduanya terdiam canggung sampai Seohyun memutuskan untuk bertanya lagi.

“Seohyun—”

“Oppa—”

Gadis itu memandang Kyuhyun lalu keduanya tertawa. Ah, gadis itu baru menyadari betapa tampanya Kyuhyun kala ia tertawa. Eh, tunggu. Apa yang ia pikirkan!

“Oppa duluan saja,” ujarnya sambil merapikan mantel.

Kyuhyun tersenyum dengan gayanya yang aneh sambil memutar badan ke arah Seohyun. “Ayo bernyanyi.” Katanya. Seohyun mengangkat kedua alisnya heran. “Apa?” tanya gadis itu.

“Nyanyikan sebuah lagu untukku,” ulang Kyuhyun. “Uhm, waktu di perlombaan kemarin aku tidak memperhatikan penampilan peserta lain karena aku yain pasti menang. Dan jujur saja, sebenarnya aku tidak pernah kalah mengenai dunia vocal. Makanya aku agak kaget waktu tahu kalau aku.. kalah.” Jelasnya. Pemuda itu mengecilkan volume suaranya ketika mengatakan kata ‘kalah’.

Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke arah Seohyun. Gadis itu terkejut lalu sedikit memundurkan wajahnya dari Kyuhyun. Posisi mereka membuat wajah Seohyun terbakar. “Menyanyilah. Aku ingin dengar suaramu.” Bisik pemuda itu.

Seohyun ragu lalu menjawab heran. “Bukanya kau sudah dengar suaraku, Kyuhyun oppa?” tanyanya polos sembari menunjuk bibirnya yang bergerak. Kyuhyun tertegun kemudian tertawa lagi. “Nyanyi, Seohyun ah. Nyanyi.” Katanya.

Seohyun menunduk ragu. Ia tidak semestinya menyanyi di tempat umum seperti ini, apalagi dihadapan Kyuhyun. Meskipun pemuda itu sudah tahu bahwa ia bisa bernyanyi dan bermain piano, tetapi tetap saja…

“Baiklah. Tapi aku nyanyikan lagu yang aku tahu saja, ya.” Ujar Seohyun. Kyuhyun mengangguk. “Nae maeumeun geudaereul deutjyo meoributeo bal*—” gadis itu langsung menutup mulutnya degan tangan karena malu.

“Ahahaha, kau ingin nyanyi di opera, hyunnie? Nadanya nggak setinggi itu,kan. Sini, aku contohin.” Seohyun menunduk malu. Bagaimana bisa ia menyanyikan lagu dengan nada yang salah?

Kyuhyun mengambil gitarnya lalu mulai memetiknya bersamaan sambil menyanyikan lagunya.  “Nae maeumeun geudaereul deutjyo meoribu—”

“—Hihihi, kuncinya salah, oppa.” Kikik Seohyun. Gadis itu mengulurkan tangan untuk mengambil gitar Kyuhyun. “Biar kutunjukan yang benar.” Lanjut gadis itu.

“Kau bisa main gitar juga?” tanya Kyuhyun. Seohyun mengangguk senang. Kyuhyun menatap Seohyun sementara gadis itu menentukan posisi yang enak untuk bermain gitar. “Seohyun ah,”

“Hmn?”

“Besok kita ke sini lagi, ya.”

Seohyun menatap kedua bola mata Kyuhyun yang berkilau cerah. Gadis itu kemudian mengangguk dan tersenyum.

=,=’

“..Perpustakaan?” tanya Kyuhyun ragu. Yoona mengangguk yakin. “Hahha, iya, ya. Orang seperti kau ini mana pernah ke perpustakaan. Ckckck,” ejek pemuda itu sambil menampilkan senyum khasnya.

“Ya! Enak saja. Tentu aku pernah! Memangnya kamu pernah kesana?” elak Yoona setelah memukul pelan bahu Kyuhyun.

“Tentu saja,” protesnya sambil nyengir lebar. “Nih, baru mau kesanajemput Seohyun. Ya sudah. Aku duluan ya, Yoong. Thanks.” Kyuhyun kemudian berlari ke arah perpustakaan tanpa menunggu jawaban Yoona. Benar-benar khas Cho Kyuhyun.

Pemuda itu membuka pintu perpustakaan dan merasakan hembusan AC di wajahnya. Kyuhyun menemukan wakil ketua OSIS mereka duduk di salah satu kursi di perpustakaan. Tapi bukan ia orang yang Kyuhyun cari. Pemuda itu menemukan Seohyun di meja dekat jendela paling samping setelah mencarinya beberapa saat.

“Hei, Seohyun” sapanya dan langsung duduk di sebelah Seohyun. Kyuhyun menaruh tas gitarnya di atas meja, di sebelah tumpukan buku gadis itu.

Seohyun tersentak lalu memalingkan wajahnya dari tumpukan buku. “Kyuhyun oppa,” sahutnya.

“Ayo ke taman” ajak Kyuhyun lalu menarik tangan Seohyun. Gadis itu malah diam dan balik menatap Kyuhyun. “Ayo,” ajaknya lagi.

“Aku sedang belajar, oppa,” tolak Seohyun. “Iya, karena itu aku mengajakmu ke taman.” Jelas Kyuhyun. “Tidak sekarang, Kyuhyun oppa.” Tegas Seohyun lagi. Kyuhyun membalikan badan lalu menatap Seohyun. Mata gadis itu berkilat yakin. Kyuhyun mendesah. Pemuda itu yakin butuh waktu lama untuk meluluhkan Seohyun.

“Baiklah, aku tunggu sampai kau selesai. Jangan menyesal karena aku benar-benar tidak tahan belajar” ungkap Kyuhyun.

Seohyun tersenyum. Pemuda itu kembali duduk dan menaruh kembali gitarnya. Kyuhyun mengeluarkan ponselnya sementara gadis itu kembali menekuni bukunya. Pemuda itu mencari game kesukaanya di ponsel ketika matanya menatap judul buku yang tengah di pelajari Seohyun.

“Ya, Seohyun ah! Bukanya bahasa itu tugas kelompok? Kenapa kau mengerjakanya sendirian?!” tanya Kyuhyun keras. Seohyun meringis karena tidak bisa menjawab. Pemuda itu kemudian menyambar buku Seohyun dan mempelajarinya.

“Oh, ya ampun. Kelihatanya kau benar-benar butuh bimbel tambahan tentang ‘bagaimana cara berteman yang baik’.” Ucap Kyuhyun lebih pada dirinya sendiri.

Gadis itu malah nyengir. “Oppa juga dapat tugas itu, ya? kenapa nggak dikerjakan, oppa?”

Kyuhyun membanting buku bahasa itu di meja. “Aku beda denganmu, Seohyun ah. Aku tidak akan kerjakan tugas itu karena semua sudah dikerjakan oleh…” kata-katanya tiba-tiba terhenti. Pemuda itu berbalik menatap Seohyun lalu membentaknya kesal. “Ya! Kau menjebakku, ya?”

Seohyun malah tersenyum polos. Kyuhyun yang melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang.

“Ayo kita kerjakan sama-sama, oppa,” ajak Seohyun. Pemuda itu kemudian meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa buku. Seohyun menganggap itu sebagai tanda setuju.

Gadis itu kembali mengerjakan tugasnya, dan sesekali membantu Kyuhyun apabila ada yang pemuda itu tidak mengerti. Sebenarnya, hampir setiap soal Kyuhyun meminta bantuan Seohyun. Secara, ia tidak mengerti semua soalnya.

“Akh, lama-lama aku bisa stress” keluh pemuda itu setelahlimamenit berselang. Kyuhyun menatap bukunya. Ia baru mengerjakan dua dari duapuluh soal. Sebenarnya ini rekor untuk pemuda itu. Sejak kelas satu SMA ini pertama kalinya ia mengerjakan tugasnya sendiri tanpa mencontek.

“Aku sudah selesai,” kata Seohyun tersenyum senang. Kyuhyun menoleh kaget. Cepat sekali, gumamnya dalam hati. Gadis itu yang terlalu pintar atau ia yang terlampau bodoh?

“Oh? Oppa belum selesai?” tanya gadis itu setelah memperhatikan buku Kyuhyun. Pemuda itu menatap Seohyun. Gadis itu terlihat bersinar sekali hari ini. Apa karena lampu? Gumamnya.

“Seohyun,”

“Hmn?”

“Kenapa kau rajin sekali?” tanyanya, tidak membiarkan matanya berpaling dari gadis itu satu detik pun. Seohyun membalas tatapan Kyuhyun lalu tersenyum.

“Karena aku ingin membanggakan orang tuaku.” Sahutnya senang.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. “Bukanya kau pandai menyanyi? Apakah itu tidak cukup untuk membuat mereka bangga?” tanya Kyuhyun lagi. Entah hanya perasaanya saja, atau Seohyun memang tiba-tiba terlonjak dan ekspresinya berubah muram. Gadis itu terlihat kikuk dan tidak menjawab pertanyaanya.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Aku… selalu berusaha membanggakan mereka. Aku berusaha menyanyi sebaik mungkin dengan mengikuti berbagai perlombaan. Tapi aku selalu gagal. Hanya Ahra noona yang memberiku ucapan selamat setiap kali menang. Mereka bahkan mungkin tidak tahu kalau aku bisa menyanyi.” Ungkap Kyuhyun.

“Orangtuaku hanya bicara padaku waktu pembagian rapor, dan apabila mereka dipanggil oleh kepala sekolah. Itu pun pulangnya aku selalu dimarahi habis-habisan. Aku tidak pernah bisa menarik perhatian keduanya. Aku tidak pernah berhasil membuat mereka bangga.” Jelas Kyuhyun. Nadanya sedih dan pelan.

Pemuda itu tertawa dalam hati ketika menyadari ia sudah bercerita terlalu jauh. Ketika ia menoleh untuk menatap Seohyun, gadis itu juga tengah melihatnya. Seohyun menatapnya lekat-lekat seolah ia mendengar sungguh-sungguh penjelasanya. Kyuhyun bersyukur ia tidak bercerita pada orang yang salah.

“Baiklah. Itu artinya kau harus belajar denganku oppa. Tujuan kita adalah membuat orangtuamu bangga, dan kita takkanberhenti sampai semua itu tercapai. Hmn? Oke?” ujar gadis itu. Seohyun menatap Kyuhyun lalu mulai membuka-buka buku di hadapan Kyuhyun.

“Kenapa harus belajar? Kaukantahu aku tidak suka belajar!” tolak Kyuhyun. Pemuda itu menyingkirkan buku Seohyun namun ditahan gadis itu. Seohyun mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun.

“Derajatmu akan naik begitu jadi juara kelas, oppa. Nah, berikutnya, matematika.” Sahut gadis itu, tidak membiarkan Kyuhyun menyelanya satu detik pun. “Kerjakan soal yang ini, oppa. Caranya tertera di situ, oppa tinggal lihat saja di halaman itu.”

Kyuhyun lagi-lagi tidak bisa berkutik di hadapan gadis ini. Pemuda itu menghela nafas lalu mengerjakan soal itu. “Sudah, Hyunnie ah,” katanya selang beberapa menit. Diserahkanya buku itu ke Seohyun.

Gadis itu terbelalak melihat buku Kyuhyun. “Ommo, Kok betul semua? Coba yang ini, oppa!”

Seohyun menyerahkan kembali bukunya lalu berbalik fokus pada pelajaranya sendiri. “Sudah, nih,” kata Kyuhyun lagi.

Seohyun menatap Kyuhyun terpana. Belum satu menit berselang pemuda itu sudah menyelesaikan 5 soal yang, Seohyun akui, belum juga ia mengerti. Sebenarnya pemuda ini pura-pura bodoh atau hanya pintar matematika saja?

“Oppa bohong ya, waktu bilang kalau oppa nggak suka belajar?” tanya Seohyun heran. Kyuhyun menampilakan senyum khasnya.

Ia sendiri tidak sadar ketika mengerjakan soal-soal itu. Ketika melihat pertanyaanya entah kenapa Kyuhyun merasa sudah tahu jawabanya begitu saja. Otaknya tiba-tiba saja bekerja dan ia juga paham bagaimana cara mengerjakanya. Pasti ada yang menyihirnya menjadi pintar tiba-tiba.

“Aku tidak bohong, Seohyunnie. Aku inikanmemang benar-benar pintar!”  sahut pemuda itu. Kyuhyun tertawa melihat ekspresi heran Seohyun.

Sejak saat itu setiap seminggu sekali Seohyun akan mengajari Kyuhyun belajar di perpustakaan, dan Keduanya akan bernyanyi di taman setiap sabtu sore.

=,=’

Cho Kyuhyun menutup pintu ruang kepala sekolah di belakangnya. Pemuda itu tersenyum. Ini pertama kali seumur hidupnya ia keluar dari ruang kepsek diiringi senyuman. Hatinya terasa meledak-ledak. Jantungnya serasa ingin melompat sekarang juga.

Kyuhyun melangkahkan kakinya menjauhi ruang kepsek. Ditatapnya map coklat digenggamanya. Ia harus segera memberitahu Seohyun. Gadis itu harus tahu berita ini. Secepatnya, segera.

TBC

 

 

 


13 thoughts on “Wacth You Go 1 of 2 [twoshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s