Music Love Story – Part 2


Judul : Music Love Story – Part 2

Genre : Romance , Drama
Tipe : Chapter
Author : LightDino (hasnasadewo)

Gadis cantik bernama Jung So Ra itu tediam dengan duduk di kursi meja makan, begitu pula dengan  Kim Jonghyun yang duduk berseberangan dengan So Ra. Suasana heninglah yang hanya dapat dirasakan dua orang yang dalam kondisi shock itu. So Ra hanya mampu menundukkan kepalanya dan berpikir. ‘Apakah aku sedang bermimpi ? Laki-laki yang berada  di depanku adalah room-mate ku ?!’, pikir So Ra sambil menggenggam erat sebuah cangkir berisi air mineral yang belum lama diambilnya. Sementara Jonghyun terus menatap gadis yang duduk di depannya. ‘Gadis ini ? Bagaimana bisa hal ini terjadi ? Apakah ini hanya sebuah kebetulan ? Atau …’, batin Jonghyun dengan sedikit menaikkan sebelah alisnya.

“Maaf”, ucap So Ra dan Jonghyun serentak memecah keheningan yang telah berlangsung lebih dari 10 menit itu. “Kau saja duluan”, kata So Ra dengan nada rendah. “Baiklah, bisakah kau ceritakan apa yang terjadi ?”, ucap Jonghyun dengan tatapan lurus ke mata indah milik gadis cantik di depannya. “Aku bahkan tidak tahu. Orang tuaku yang mencarikan apartemen untukku, dan aku hanya diberi tahu untuk datang ke tempat ini. Aku juga tidak tahu kenapa kau bisa menjadi room-mate ku …”, jawab So Ra yang tak sedikitpun berani mendongakkan kepalanya itu. “Hmm…Baiklah, kalau memang begitu. Kita jalani saja. Dan lagipula hari sudah semakin gelap, sebaiknya kau masuk ke kamar dan tidur”, Jonghyun berdiri lantas mulai berjalan menuju kamarnya. “Baiklah”, jawab So Ra sambil berdiri dan berjalan tepat di belakang Jonghyun. “Selamat malam”, ucap Jonghyun dan So Ra bersamaan seraya membuka pintu kamar mereka yang berseberangan.

“Bagaimana ini bisa terjadi ? Kenapa room-mate ku laki-laki ? Dan kenapa laki-laki itu bisa menjadi room-mate ku ?’’, gumam So Ra seketika terduduk di tempat tidurnya yang empuk. So Ra tak pernah begitu akrab atau dekat dengan teman laki-laki. Selama hidup di New York, ia hanya selalu disibukkan dengan belajar dan tak begitu memiliki banyak teman. Karena ia selalu dikenal dengan ‘Boring-Smart Girl’ oleh teman-temannya. Di lain pihak, Kim Jonghyun yang sedang membaringkan tubuh idealnya ke tempat tidur melamun. “Gadis itu ? Takdir ? Ah, apa yang sebenarnya aku pikirkan ? Perasaanku campur aduk sekarang”, Jonghyun berbicara sendiri. Dua orang itu dipenuhi dengan rasa kaget juga bingung. Hingga alam semakin larut dan membawa kedua manusia itu tertidur lelap.

***

            Sinar matahari bahkan belum menyinari langit Seoul. Tapi Jung So Ra sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan. Mulai hari itu, kehidupannya akan menjadi berbeda. Terutama dengan adanya room-mate yang tak pernah disangkanya. “Aku kira room-mate ku adalah seorang perempuan. Ternyata … Bagaimana ini bisa terjadi ?”, tanya So Ra pada dirinya sendiri selagi kedua tangannya menyiapkan sebuah roti panggang spesial. Jam telah menunjukkan pukul 6.30, tapi Jonghyun tak kunjung keluar dari kamarnya untuk mandi dan bersiap berangkat kuliah. Hal itu semakin membuat So Ra khawatir, bagaimanapun juga Jonghyun adalah teman kuliah bahkan satu kelas dengannya. “Apakah dia belum bangun ?”, tanya So Ra sambil terus mengurusi makanan yang ada di depannya. So Ra ingin sekali membangunkan Jonghyun agar segera bergegas berangkat kuliah jika ia memang masih tertidur, namun So Ra tentu tak mempunyai keberanian untuk melakukan hal semacam itu. So Ra memutuskan untuk menyelesaikan urusan membuat sarapan dan berjalan menuju kamar yang terletak  tepat di seberang kamarnya.

TOK TOK TOK ~ “Kim Jonghyun-ssi !”, ucap So Ra seraya mengetuk pintu kamar room-mate nya. “Kim Jonghyun-ssi! Bangun, ini sudah setengah tujuh lebih … Kim Jonghyun-ssi !”, panggil So Ra. Jonghyun yang masih tertidur lelap tak kunjung bangun. “Ya ! Jjong !”, So Ra mulai kebingungan. 45 menit lagi adalah waktunya masuk kelas. 10 menit berlalu, So Ra semakin terburu-buru. Ia segera makan sarapannya dan berlari keluar menenteng tasnya. So Ra memutuskan berangkat kuliah duluan. Kim Jonghyun yang telah lama terlelap seketika terbangun. Ia melihat jam yang terletak tepat di meja sebelah tempat ia berbaring. “6.40 ?!”, teriak Jonghyun sambil mengucek sebelah matanya. Ia bergegas berdiri dan berlari menuju kamar mandi yang berada di sebelah kamarnya.

5 menit kemudian Jonghyun keluar dari kamar mandi dan buru-buru mengambil perlengkapan kuliahnya. Menenteng tas ransel dan berlari menuju pintu. Namun langkahnya terhenti di samping meja makan. Sepiring roti panggang berisi telur juga sayur disertai segelas susu putih tertata rapi di atas meja. Secarik kertas kecil terlihat di samping piring itu. ‘Kim Jonghyun-ssi, maaf … Aku berangkat duluan. Aku sudah mencoba membangunkanmu, namun kau tak kunjung bangun. Aku yakin sekarang kamu pasti sedang buru-buru, tapi setidaknya isi perutmu dulu sebelum berangkat, itu penting ! Sampai bertemu nanti, Jung So Ra’, itulah yang tertulis di kertas itu. Jonghyun membacanya dan segera menghabiskan roti dan susu yang ada di depan matanya. Sekejap ia langsung berlari dan menghentikan sebuah taksi yang lewat di depan apartemennya. Ia tak punya banyak waktu lagi, jam di tangannya telah menunjukkan pukul 06.55. Jika ia menggunakan bus tentu ia akan terlambat. Untung saja dengan taksi ia akan sampai dalam waktu 15 menit.

***

            Sebuah taksi berhenti tepat di depan Universitas S. Kim Jonghyun turun dari taksi itu dan segera berlari menuju ruang kuliahnya. Ia hanya memiliki waktu 5 menit sebelum jam kuliah pertama dimulai. Dalam waktu 3 menit ia telah sampai di depan ruang kuliahnya. Namun tak sengaja ia menabrak seorang gadis yang berdiri di depan ruang kelas. “Maaf, aku sedang buru-buru.. Maafkan aku”, Jonghyun membungkukkan badannya. “Iya.. Ah, Jonghyun-ssi?”, tanya gadis itu. “Ah, kamu rupanya… Aku masuk dulu ya”, ucap Jonghyun santai lantas berjalan masuk ke dalam ruang kuliahnya. “Ya ! Jonghyun-ssi ! Dasar …”, teriak gadis yang ternyata Seo Hee. Seo Hee pun berjalan mengikuti Jonghyun.

“Hey !”, sapa Jonghyun pada gadis yang duduk di bangku yang terletak di belakang bangkunya. “Hai juga”, balas gadis itu dengan tambahan senyuman manis. Jung So Ra yang sudah sampai duluan memberanikan diri mengajak berbicara Jonghyun yang sudah menyapanya, “Kau terlihat begitu terburu-buru… Kau tahu, dosen kali ini akan datang terlambat 30 menit. Hahaha”. “Jinjja? Astaga…”, sesal Jonghyun. Setelah itu suasana menjadi begitu ramai. Setiap orang sibuk berbicara dengan teman mereka. Namun tidak dengan Jonghyun dan So Ra. Mereka hanya terdiam.

“Ya ! So Ra ! Kenapa kamu hanya diam saja ?”, tanya Seo Hee mengehentikan lamunan So Ra. “Ah, Seo Hee… Kau mengagetkanku saja. Tidak apa-apa”, jawab So Ra. “Hey apa aku boleh bertanya ?”, tanya Seo Hee pada So Ra. “Tentu, ada apa?”, balas So Ra. “Apa yang terjadi ? Sebelumnya  aku tak pernah lihat si Jonghyun menyapa orang lain kecuali rekan kerjanya seperti itu. Apa kamu punya hubungan dengannya ?”, tanya Seo Hee dengan rasa penasaran. “Ah, aku juga tidak tahu. Apa dia tak begitu? Aku pikir dia memang ramah”, So Ra ikut penasaran. “Tidak, dia hanya terlihat sedikit ramah jika ia sedang tampil”, lanjut Seo Hee. “Benarkah ? Eh, sepertinya dosen sudah datang”, potong So Ra.

***

            Jam kuliah berakhir tepat waktu. Semua mahasiswa dan juga mahasiswi berjalan keluar. Kecuali So Ra yang masih sibuk mengerjakan tugas  yang tadi diberikan oleh dosen. Kelas begitu hening, hanya suara gesekan pensil yang digunakan So Ra-lah yang terdengar. So Ra begitu berkonsentrasi. Sementara itu di kafetaria, Jonghyun terduduk sambil mendengarkan lagu dari iPod-nya. Sambil mengetukkan jemarinya ke meja, Jonghyun begitu terlihat menikmati alunan lagu yang diantaranya adalah buatan atau hasil aransemennya. Namun ketukan itu tiba-tiba terhenti ketika sebuah lagi berjudul My Flower dimainkan di iPod miliknya. Ia tiba-tiba teringat dengan So Ra sesaat setelah lirik ‘I found you after the show, you look so afraid to be alone…’ ia dengar dari lagu itu. Kepalanya yang semula tertunduk seketika ia dongakkan dan matanya menyapu sekeliling kafetaria. Namun ia tak kunjung menemukan sosok yang ia cari. Ia segera berdiri dan berjalan meninggalkan kafetaria yang ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang dalam waktu istirahat. Langkahnya tertuju pada lorong menuju perpstakaan. Ia mengambil handphone yang ada di saku celananya dan menekan sebuah kontak untuk ia hubungi.

Kim Jonghyun mencoba menghubungi nomor kamar apartemennya, ia hanya ingin memastikan apakah So Ra pulang pada jam istirahat ini. Beberapa waktu kemudian Jonghyun menutup telepon yang tak kunjung diangkat itu. “So Ra pasti tidak pulang”, ucap Jonghyun pada dirinya. Ia berjalan menuju ruang kuliah. “Setidaknya aku bisa menenangkan diri dan melakukan sesuatu jika aku sendirian di ruang kuliah”, Jonghyun terus berjalan. Pintu ruang kuliah yang terbuka memudahkan Jonghyun masuk tanpa harus mengeluarkan kedua tangannya yang ia letakkan di dalam saku celananya. Namun tatapan Jonghyun tertuju seketika pada Jung So Ra yang terduduk sambil mengerjakan sesuatu. “Hey Dino !”, panggil Jonghyun spontan pada So Ra. “Ah, kau mengagetkanku saja”, tangan So Ra berhenti menulis. “Apa yang kau lakukan sendirian di sini ?”, tanya Jonghyun. “Aku sedang mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh dosen”, jawab So Ra segera. “Hmm… Bukankah itu bisa dilakukan di rumah ? Apa kau sudah selesai ?”, Jonghyun menatap lurus ke mata So Ra. “Sudah, baru saja selesai”, jawab So Ra lantas menundukkan kepalanya setelah melihat tatapan Jonghyun.

“Ada apa ?”, tanya So Ra. “Ikutlah denganku”, ucap Jonghyun lantas menarik tangan So Ra dan berjalan keluar. “Eh, kemana ?”, So Ra hanya mampu mengikuti laki-laki yang menarik tangannya itu. Setelah 10 menit berjalan, So Ra dan Jonghyun sampai di dekat sebuah bangunan sederhana yang tampak seperti rumah. Berdinding batu bata dan beratap sederhana yang terletak di ujung taman Universitas S. Tatapan mata So Ra menyapu sekelilingnya. “Waah, tempat apa ini ? Indah sekali”, ucap So Ra terpesona. “Tentu, ini adalah rumah kedua-ku”, jawab Jonghyun sambil menunjuk bangunan yang tepat berada di depan mereka dengan tersenyum.

***

            “Apa ? Rumah kedua ?”, So Ra penasaran. “Yap, ikuti aku”, Jonghyun lantas berjalan menuju pintu bangunan itu. Perlahan tangannya membuka gembok yang mengunci pintu kayu bangunan itu. Tepat ketika Jonghyun berhasil membuka pintu, debu mulai berterbangan. So Ra mulai batuk dan bersin. Namun batuk dan bersinnya seketika terhenti atau lebih tepatnya terlupakan ketika So Ra melihat isi bangunan itu. Bangunan yang berukuran sekitar 10m x 10m itu mempesona So Ra. Beberapa gitar dan bass tergantung di dinding, di ujung ruangan terdapat sebuah drum, sedangkan di ujung lainnya sebuah piano mewah terpajang tepat di atas sebuah panggung kecil. Di tengah-tengah ruangan itu bangku-bangku tertata rapi dan ditemani beberapa rak buku. “Hey, duduklah di sini”, Jonghyun segera mempersilahkan So Ra duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu yang terletak tak jauh dari panggung piano. “Ne, terima kasih”, So Ra lantas mengistirahatkan tubuhnya dan duduk.

Kim Jonghyun berjalan menuju panggung piano. Ia duduk dan mulai memainkan piano itu dengan jemarinya yang telah handal. Seakan begitu rindu dengan suasana dan sensasi itu, Jonghyun terlihat begitu menikmati dan menghayati tiap nada yang ia mainkan. Tubuhnya yang terduduk tegap seperti tak ingin pergi dari piano itu. Sementara So Ra yang tak menyukai musik itu hanya diam terpaku menatap sosok yang sedang bermain dengan piano. Bukan karena bosan atau benci, So Ra sungguh terdiam karena kehabisan kata-kata akan alunan nada yang masuk ke telinganya. Matanya sesekali terpejam seakan ia mampu merasakan apa arti lagu itu, ketenanganlah yang dirasakan. Wajah So Ra seketika memerah dan tangannya mulai bergetar. Air matanya telah siap tumpah, ketika lagu itu mulai mendekati akhir. Namun sekuat tenaga So Ra menahannya. Sosok yang ada di depannya tak mungkin harus ia perlihatkan tangisan.

Begitu alunan itu berhenti, Jonghyun hanya tersenyum dan melihat tepat ke dua bola mata gadis yang sedang memperhatikannya dari bangku di depannya. Jonghyun mulai berjalan turun dari panggung kecil itu dan berjalan menuju So Ra. “Hey !”, kata-kata Jonghyun memecah suasana tenang sebelumnya. “Bagaimana menurutmu ?”, tanya Jonghyun. “Ah ? Apa ? Apa aku tak pernah berkata bahwa aku tak suka musik padamu ? Untuk apa kau bertanya hal itu padaku ?”, So Ra membalas. “Hmm, kalau begitu sebagai orang awam, apa pendapatmu ?”, Jonghyun memaksa So Ra. “Menurutku ? Hmm, biasa saja”, So Ra menjawab tegas. “Apa kau yakin ?”, tanya Jonghyun lagi dengan menatap lurus ke mata indah So Ra seakan memaksa So Ra berkata jujur. ‘Harus aku akui, alunan lagu tadi membuatku merasa berbeda… Ah, ada apa denganku ? Bukankah aku tak pernah tertarik dengan musik ? Tapi, mengapa kali ini aku merasa alunan lagu tadi memberi tahuku untuk mencari tahu hal ini ?’, itulah yang ada di pikiran So Ra. “Baiklah, sudah aku putuskan”, ucap So Ra seketika. “Apa ?”, Jonghyun menjadi bertanya-tanya. “Kim Jonghyun-ssi..”, So Ra menatap mata Jonghyun. “Ne ?”, Jonghyun menjawab dengan jantung berdebar, tak mampu bertahan lama untuk membalas tatapan dari mata indah gadis yang baru saja memanggil namanya. “Ajarkan aku musik !”, So Ra begitu saja membungkukkan tubuhnya memohon pada orang yang dijuluki The Best Musician of The Year yang terduduk di depannya. “Apa ?! Apa kamu serius ?”, Jonghyun begitu terkejut dengan ucapan So Ra.

***

            “Apa kamu serius ?”, Jonghyun mencoba mencari kepastian. “Iya, aku pikir aku harus belajar dan mencoba musik. Tolong bantu aku”, So Ra kembali membungkukkan tubuh cantiknya. “Ba, baiklah… Instrumen apa yang kamu ingin pelajari ?”, Jonghyun memberanikan diri menanyakan hal itu. “Gitar, piano, drum”, jawab So Ra tegas. “Hah ?! Apa kamu serius ?”, Jonghyun yang semakin terbelalak mulai kehabisan kata-kata atas gadis yang memiliki semangat yang belum lama ia perdengarkan musiknya. “Baiklah, mari kita mulai dari belajar gitar. Tapi sebentar lagi jam kuliah selanjutnya akan dimulai. Kita pelajari saja di rumah, oke ?”, Jonghyun berdiri. “Oke”, jawab So Ra dengan senyum yang begitu indah seakan mampu mengalahkan keindahan surga.

So Ra dan Jonghyun bersamaan berjalan meninggalkan bangunan itu setelah menguncinya kembali. Dengan disertai rasa sedikit ragu, So Ra melanjutkan langkahnya yang berjarak agak  jauh dari sosok laki-laki yang ada di depannya. ‘Ini keputusanku, jika sebelumnya aku tak tertarik dengan musik karena orang itu.. Kali ini aku harus berusaha’, batin So Ra sambil mengepalkan kedua tangannya, mengingat sesuatu.

***

            Seusai jam kuliah, Jung So Ra bergegas berjalan menuju halte yang terletak tak jauh dari Universitas S. Ia memang masih anak baru, tapi ia sudah banyak mempelajari peta Seoul terutama daerah sekitar apartemen, Univesitas S dan juga tempat yang sekiranya penting dan akan dikunjungi. So Ra hanya duduk di halte, menunggu dan berharap semoga bus segera datang maka ia akan segera pulang. Namun dari kejauhan terlihat si musisi Kim Jonghyun berjalan menuju halte. Ketika ia semakin dekat, So Ra semakin jelas melihat  room-mate nya itu. “Apa yang kau lakukan ? Apa kamu tak membawa kendaraan sendiri ? Kau kan musisi terkenal”, tanya So Ra seketika Jonghyun sampai tepat di halte. “Aku buru-buru, aku hanya bergegas menumpangi taksi yang lewat di depan apartemen”, jawab Jonghyun sambil sedikit mendongakkan kepalanya melihat langit. “Ah, begitu. Bus nya sudah datang, ayo segera !”, ajak So ra diikuti langkah Jonghyun berjalan memasuki bus. So Ra memilih bangku pojok belakang, menurutnya tempat itu nyaman. Jonghyun spontan saja mengikuti gadis di depannya itu. Begitu So Ra terduduk, Jonghyun sempat melihat wajahnya yang seperti siap melamun. Menurut Jonghyun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran So Ra. ‘Apa karena keputusannya tadi ?’, pikir Jonghyun.

20 menit berlalu, So Ra dan Jonghyun sampai di sebuah halte yang berjarak sekitar 10 meter dari apatemen. Mereka bergegas turun lalu berjalan menuju apartemen. Segera masuk ke lift yang kebetulan saja sedang terbuka dan menekan tombol ‘11’. So Ra terlihat begitu terburu-buru. “Ya ! So Ra-ssi ! Tak perlu buru-buru”, Jonghyun berusaha menyusul So Ra yang baru saja keluar dari lift dan menuju kamar apartemen mereka. Begitu masuk ke kamar ‘408’, So Ra bergegas masuk ke kamar lalu menuju kamar mandi. ‘Ada apa dengan dia ? Begitu buru-buru. Di halte tadi dia biasa saja, tapi sekarang …’, gumam Jonghyun yang melihat gadis yang menjadi orang pertama yang diperdengarkan lagu baru buatannya itu.

Sudah 1 jam So Ra tak keluar dari kamar, Jonghyun hanya bisa terduduk di depan TV sambil meneguk secangkir teh yang ia buat. Menunggu. Jonghyun menunggu So Ra, ia menjadi sedikit khawatir. Namun … “Jjong”, kata-kata itu memecah lamunan Jonghyun. So Ra berdiri di samping  sofa tempat Jonghyun duduk. “Ne ?”, Jonghyun berusaha santai. So Ra lantas duduk di samping Jonghyun setelah mendengar jawaban Jonghyun. Ia kembali terdiam. “Ada apa denganmu ? Sejak masuk bus tadi jadi diam dan terus terburu-buru”, tanya Jonghyun. “Tak apa-apa”, jawab So Ra singkat. “Baiklah, lebih baik ikut aku saja”, Jonghyun seraya menarik tangan So Ra. “Ya ! Kemana ?”, So Ra mencoba menahan tubuhnya. Jonghyun membawa So Ra ke sebuah ruangan di belakang ruang tengah yang tak pernah dikunjungi So Ra. “Ruangan apa ini?”, tanya So Ra penasaran saat Jonghyun mencoba membuka pintu. “Lihat saja”, Jonghyun berhasil membuka pintu.

Mata So Ra kembali menyapu ruangan yang cukup sederhana itu. Sebuah ruang kedap suara yang diisi dengan beberapa gitar dan bass yang tertata rapi dan sebuah piano di sudut ruangan juga sebuah drum, sebuah ruang musik. “Wah, ini ruang musik milikmu ?”, tanya So Ra sambil melihat sekelilingnya. “Iya, bukankah kau bilang ingin belajar musik? Mari kita mulai”, Jonghyun menarik So Ra menuju sebuah sofa dan mengambil sebuah gitar. Sebuah gitar berwarna cokelat kehitaman seperti warna rambut Jonghyun, sederhana namun menarik. “Baiklah, kita mulai”, ucap Jonghyun.

***

            So Ra memasang wajah ragu dan separuh ingin berjuang. Ada sesuatu yang mebuat So Ra yang tak tertarik musik mencoba berusaha. Namun So Ra seperti menyembunyikannya sedalam mungkin agar guru musik yang terduduk menggenggam gitar di sampingnya itu tak bertanya-tanya. “Baiklah, cobalah kunci A… begini”, Jonghyun menjelaskan dengan membantu So Ra meletakkan jemarinya di gitar itu. “Bagus, ini kunci G..”, Jonghyun terus menjelaskan sementara So Ra terlihat begitu fokus dengan pelajaran yang sangat baru baginya itu. Jonghyun sesekali menatap mata indah lawan jenisnya yang sedang ada di depannya itu, seorang gadis yang sedang ia sentuh jemari dan tangannya. “Ini kunci E, ini F …”, pelajaran itu terus berlangsung hingga kurang lebih 2 jam berlalu tanpa terasa. “Baiklah, sekarang cobalah kunci-kunci yang sudah aku ajarkan”, perintah Jonghyun pada muridnya itu. “Ini A”, JRENG ~ “Ini G” JRENG~ So Ra terus mencoba semua kunci yang telah diajarkan dengan mudah. “Wah, kau sangat cepat dalam menghafal !”, puji Jonghyun dengan tambahan senyum. “Ah, terima kasih banyak”, So Ra tersipu. So Ra memang terkenal cerdas dan mudah dalam menghafal dan cepat dalam mempelajari sesuatu sejak ia berada di New York.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. So Ra sudah berhasil menghafal seluruh kunci bahkan accord yang sudah diajarkan dalam waktu 3 jam. Ia memang sangat cerdas. “Wah, kamu memang jenius. Hmm, bisakah kamu memainkan lagu ini”, Jonghyun memberikan secarik kertas yang bertuliskan sebuah lagu berjudul My Flower. “Biar aku coba”, So Ra merasa tertantang. Meski sesekali tersendat saat menggeser jemari cantiknya, ia tetap mampu memainkan lagu itu. “Great ! Kamu sangat hebat. Aku bahkan butuh waktu berminggu-minggu menghafal ini. Sekarang mari beristirahat, minumlah”, tangan Jonghyun memberikan segelas air mineral. “Terima kasih banyak”, So Ra meneguk air pemberian Jonghyun. “Ah iya, apa kamu masih ingat dengan lagu yang aku mainkan tadi ?”, Jonghyun memulai. “Tentu, kenapa ?”, So Ra menghentikan aktivitasnya. “Sebenarnya itu lagu buatanku, hanya saja aku belum menemukan liriknya”. “Benarkah ? Lagu itu sangat indah, sayang sekali belum ada liriknya”, jawab So Ra bersemangat, sangat berbeda. “Apa kamu mau membantuku membuat lirik ?”, “tentu !”. ‘Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang merasakan sesuatu yang berbeda dalam hidupnya semenjak bertemu seseorang. Namun tak bisa mengatakannya, hanya mampu menyalurkan lewat alunan lagu. Namun baru ia sadari bahwa ia menyukai orang itu, tapi ia harus pergi meninggalkan orang itu ketika cinta mereka bertemu. Ia hanya mampu berjanji untuk kembali supaya mempertahankan hubungan mereka’, itu yang ada di benak So Ra, penjelasan dari Jonghyun.

Perlahan So Ra mulai menulis lirik. Kata demi kata ia susun berdasarkan apa yang ingin ia katakan, mencoba merasakan perasaan yang dimaksud Jonghyun. Sesekali So Ra memejamkan mencoba mendalami arti tiap kata yang ingin ia tulis. 30 menit berlalu, Jonghyun yang sedari tadi hanya memandangi So Ra yang sibuk menulis lirik memutuskan untuk membantu anak didiknya itu. Akhirnya mereka berdua bersama memillih kata dan menyusun lirik hingga semmpurna. 1 jam kemudian lirik itu siap dicoba dan dicocokkan dengan nada lagu buatan Jonghyun. “Tunggu sebentar”, So Ra menghentikan Jonghyun yang hendak memainkan piano. “Sebenarnya apa yang kau rasakan ketika membuat lagu ini sebelumnya ? Apa kamu merasa seperti ini ?”, tanya So Ra penasaran. “Ah, aku hanya mendapat ide itu dari beberapa buku yang aku baca dan aku satukan menjadi alunan lagu”, jawab Jonghyun sambil bersiap memainkan piano. Nada per-nada dimainkan, Jonghyun juga memberi kepercayaan dan minta tolong pada So Ra untuk menyanyikan lagu itu. Karena So Ra tentu masih ingat melodi lagu yang tadi dimainkan.

Saat itu berlalu begitu indah, bahkan tanpa sadar lagu itu berakhir sempurna dengan bantuan suara So Ra. “Ya ! So Ra-ssi, tak kusangka kau memiliki suara yang indah”, puji Jonghyun. “Benarkah ? Ini pertama kalinya aku bernyanyi”, So Ra tersipu. “Benar. Jujur saja, suaramu sangat bagus dan stabil. Kau bisa saja masuk ke sebuah agensi dan menjadi seorang penyanyi terkenal. Kalau kau tak percaya, cobalah tanyakan pada  musisi lain atau siapapun”, Jonghyun kembali memuji So Ra dengan dipenuhi rasa bangga dan terkesima dengan gadis cantik dan cerdas yang ternyata bersuara indah yang duduk di sofa. “Terima kasih banyak”. “Ah iya So Ra, teruslah melatih kemampuan gitar dan suaramu. Jika kamu sudah cukup siap, aku akan mengajarkanmu piano selanjutnya”, ucap Jonghyun. “Baiklah, sekarang sudah cukup malam. Kau beristirahatlah, mungkin kau lelah mengajarkanku hari ini. Aku akan memasak makan malam, tunggulah”, So Ra berjalan keluar menuju dapur.

So Ra sibuk dengan bahan-bahan yang akan ia rubah jadi makanan lezat. Saat di New York So Ra memang suka membantu ibunya untuk memasak, apalagi sang ibu kelahiran Seoul. So Ra pun sering diajarkan memasak makanan Korea selain makanan ala Western di New York. “Jonghyun-ssi, kau mau makan apa ? Apa kamu ingin makan Pajeon ?”, tanya So Ra sambil menyiapkan bahan-bahan. “Ah, iya ! Bagaimana kau bisa tahu makanan kesukaanku ? Aku sangat suka Pajeon”, jawab Jonghyun sambil tersenyum senang dari ruang tengah pada So Ra. “Benarkah ? Baguslah, aku akan buat Pajeon”, So Ra mulai mencincang daun bawang. Perih. Mata So Ra mulai terasa perih dan panas, meski tak sepanas bawang bombai namun daun bawang itu cukup membuat air mata So Ra menetes. Hiks…Hiks… Suara itu mengganggu konsentrasi Jonghyun pada acara TV yang sedang ia saksikan. Jonghyun lantas menoleh pada gadis yang sibuk dengan bahan-bahan untuk dimasak di dapur. “So Ra-ssi ! Apa kamu baik-baik saja ?”, Jonghyun yang mendengar suara itu dan berjalan menuju So Ra. “Tidak, aku tidak apa-apa”, jawab So Ra sambil terus melanjutkan pekerjaannya.

“Aku hanya sedang memotong daun bawang”, So Ra mencoba menghilangkan kekhawatiran Jonghyun. “Ah, aku kira kau mengalami sesuatu”, Jonghyun menghela napas lega. So Ra terus melanjutkan kegiatan memasaknya, hingga Pajeon buatannya pun siap disantap. Ia menyiapkan di atas meja dengan rapi. Jonghyun yang mencium bau sedap segera datang, “wah, sepertinya ini sangat enak”. Jonghyun duduk dan bersiap untuk makan, begitu juga dengan So Ra. “Jonghyun-ssi..”, So Ra mencoba berbicara. “Ah, kau terdengar sedikit aneh jika memanggilku seperti itu. Kau boleh panggil aku ‘Jjong’ seperti yang kau lakukan sebelumnya”, potong Jonghyun. “Ah, baiklah. Jjong.. Kau adalah orang pertama yang mencoba Pajeon ku, jadi kalau tidak enak aku sangat minta maaf”, So Ra menunggu. Jonghyun hanya tersenyum, mengangguk dan mencicipi masakan gadis yang hanya menatapnya itu. “Wow ! Enak sekali !”, Jonghyun tersenyum girang. “Jinjja ? Baguslah kalau begitu”, So Ra menghela napas lega.

So Ra dan Jonghyun menghabiskan masakan spesial itu. Mereka sama-sama terlihat senang, entah karena makanan itu enak atau karena mereka sudah berhasil mengisi perut kosong mereka. So Ra mendahului berdiri dan mulai mencuci piring. “So Ra-ssi ! Biar aku saja, kau kan sudah masak”, Jonghyun mencoba menggantikan posisi So Ra. “Ah, i.. iya..”, So Ra tak bisa mengelak. Ia berjalan ke belakang dan berhenti tepat di belakang Jonghyun. “Ah, iya… Jjong, kau juga bisa memanggilku Dino jika kau mau”, tiba-tiba terucap oleh So Ra. “Ahaha, baiklah”, respon Jonghyun singkat lantas melanjutkan cuci piring.

Seusai mencuci piring, So Ra dan Jonghyun mengistirahatkan tubuh mereka dengan bersandar di sofa di ruang tengah. Hari itu sedikit melelahkan. “Kau lelah ? Kembalilah ke kamar dan tidur”, Jonghyun melirik So Ra. “Bukankan kau yang lebih lelah ? Kau juga harus tidur lebih awal agar tak bangun kesiangan !”, jawab So Ra dengan tegas menatap mata Jonghyun yang tak mampu menatap balik. “Baiklah, aku tidur dulu”, Jonghyun berjalan menuju kamarnya. So Ra sedikit melakukan stretching lalu masuk kamar dan tertidur.

***

            Matahari masih belum juga mampu mengejar kecepatan So Ra yang bangun lebih dulu daripada kemunculannya. Langit Seoul masih sedikit gelap. So Ra sudah berada di dapur dan sibuk dengan membuat sarapan. Sedangkan kali ini Jonghyun sudah berada di kamar mandi. 10 menit cukup baginya untuk mandi lalu menyusul So Ra yang sudah siap di dapur. “Dino-ssi ! Kau bangun begitu cepat”, Jonghyun mengawali percakapan. Namun ia juga mengagetkan So Ra yang sedang memasak. “Ah ! Aduh ! Kau mengagetkanku.. Ugh !”, So Ra merintih. Jarinya baru saja terkena wajan panas dengan tambahan ekstra minyak panas. Hal itu ikut mengagetkan Jonghyun. Jonghyun bergegas mengambil kotak first aid dan mengobati luka di jari So Ra.

“Maafkan aku, maaf..”, Jonghyun terus meminta maaf dengan kedua tangan yang sibuk memberi obat So Ra. “Tak apa, ini tak begitu parah. Sudahlah, aku bisa melakukannya sendiri”, So Ra mencoba menghentikkan laki-laki yang menggenggamnya erat itu. “Jonghyun-ssi !”, So Ra mencoba menarik tangannya. “Sudahlah, berhentilah berbicara ! Aku tau ini cukup parah.. Melepuh, ini sangat sakit !”, Jonghyun sedikit membentak So Ra. “Tak apa-apa, sudahlah Jonghyun-ssi.. Aku tak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri aku juga..”, belum selesai So Ra berbicara. Namun tatapan Jonghyun menjadi semakin menyeramkan seakan benar-benar ingin So Ra menutup mulut dan menghentikan kata-kata yang terus keluar dari bibir pink-nya saat ia memberi obat, kesal yang memuncak membuat seketika tanpa disadari Jonghyun sudah mengunci bibir So Ra dengan bibirnya saat itu juga. Jonghyun mencium bibir pink milik So Ra, ia begitu saja melakukannya.

So Ra terkejut, namun ia bahkan tak bisa menggerakkan tangannya yang sedang mengalami kram mendadak. Mungkin ia begitu shock. Tapi itu bukanlah alasan, sesungguhnya justru So Ra tak mampu melepaskan bibir laki-laki berambut cokelat kehitaman dengan bola mata cokelat  yang tersorot sinar matahari dari jendela di depan matanya. Jonghyun juga tak mampu berpikir, ia segera melepaskan kecupan itu dengan wajah yang benar-benar bingung. ‘Apa yang aku lakukan ? Apa aku ini sudah gila ? Aku mencium bibirnya !’, kata-kata itu terus bergeming di pikiran Jonghyun sesaat setelah peristiwa itu terjadi. “Aku lupa telurnya !”, So Ra memecah keheningan itu dengan berlari menuju wajan berisi telur goreng yang rencananya ingin diletakkan di atas roti panggangnya nanti. ‘Aduh, apa yang harus aku lakukan? Dia menciumku …’, pikir So Ra dan sesekali menyentuh bibirnya sendiri.

Begitu roti panggang spesial ala So Ra matang, So Ra membawanya ke meja makan. Jonghyun sudah siap dan duduk di bangku. Jonghyun mencoba berbicara, “apa kau selalu membuat ini tiap kali sarapan?”. “Ah ! Iya, ini menu buatanku sendiri. Aku pikir makan roti panggang juga lebih sehat jika ditambahkan dengan sayuran dan protein dari telur. Serta kalsium dari susu juga mampu membuat hari jadi lebih semangat”, So Ra spontan menjelaskan. “Ahahaha, kau begitu unik. Baiklah, selamat makan”, Jonghyun memeriahkan suasana. Setelah kejadian itu, mereka terus berusaha tak membahas kejadiaan yang dianggap‘accidental kiss’ yang telah terjadi.

***

            Usai sarapan, Jonghyun dan So Ra berangkat bersama-sama dengan mobil hitam milik Jonghyun. So Ra segera masuk ke mobil setelah Jonghyun menjemputnya di lobi apartemen. “Dino-ssi. Apa kamu sudah punya banyak teman di kelas ? Ini hari kedua mu di masuk kuliah bukan ?”, Jonghyun mencoba menghilangkan keheningan sesaat setelah mereka berangkat. “Ah, aku sudah memiliki teman. Namanya Seo Hee. Kau tahu ‘kan ? Dia satu-satunyaa orang yang mau menyapa ku, meski awalnya semua orang menyambutku dengan baik. Tapi hanya Seo Hee yang mau bergaul denganku, sepertinya aku tak akan  pernah punya banyak teman”, spontan So Ra menjawab. “Maksudmu?”, Jonghyun penasaran akan makud perkataan So Ra. “Dulu di New York, aku juga tak punya banyak teman. Semua selalu menjauhiku karena menganggapku sombong. Aku juga dipanggil Boring-Smart Girl oleh teman-temanku”, cerita So Ra. “Ah, begitukah ? Aku harap Seo Hee bisa menjadi teman yang baik bagimu”, Jonghyun tetap fokus pada aktivitasnya. “Ah iya ! Jjong… Bukankah kamu seorang musisi ? Mengapa kamu bersekolah di Departemen Komunikasi dan Bahasa ?”, tanya So Ra penasaran. “Hmm, bagiku menulis lirik dan menyampaikan isi lagu pada pendengar adalah penting.. Sehingga aku memutuskan untuk kuliah di Departemen Komunikasi dan Bahasa agar dengan mudah aku menyusun dan membuat lagu dan lirik yang bermakna dan mampu mempengaruhi pendengar”, jawaban Jonghyun membuat So Ra mengangguk dan tersenyum.

20 menit berjalan dengan diisi obrolan Jonghyun dan So Ra. Kini mereka telah sampai di Universitas S. Tepat di depan Departemen Komunikasi dan Bahasa. “Turunlah duluan, aku akan memarkir mobil ini”, perintah Jonghyun. “Ah, jangan. Aku lihat kau membawa banyak buku. Biar aku membantumu menurunkannya nanti”, So Ra menatap Jonghyun seakan memaksa Jonghyun untuk terus berjalan menuju tempat parkir. Jonghyun tak mampu mentap mata So Ra terutama yang seperti itu, itu berbahaya. Ia takut hal seperti tadi pagi ketika ia mengunci bibir So Ra dengan ciumannya bisa terjadi lagi. Jonghyun pun meneruskan mobilnya berjalan menuju tempat parkir lalu memarkirkan mobilnya.

So Ra dan Jonghyun bersama berjalan menuju ruang kuliah. Mereka terlihat begitu serasi, sungguh seperti sepasang kekasih yang PERFECTLY, PERFECT. Sangat sempurna, sayangnya mereka berdua tak menyadari itu. Setiap mata yang menatap dua orang itu selalu berbisik menunjukkan komentar iri akan ke-serasian mereka. Seo Hee yang datang dari perpustakaan menyaksikan hal itu. Kim Jonghyun si musisi terkenal yang tampan dan Jung So Ra si murid baru yang cerdas dan cantik berjalan berdampingan. “So Ra !”, teriak Seo Hee menghentikan langkah So Ra juga Jonghyun.

“Seo Hee !”, So Ra membalas panggilan Seo Hee dengan penuh senyum namun kembali menoleh ke arah Jonghyun, seakan bertanya ‘apa boleh aku ke sana ?’. “Pergilah dengannya, aku duluan”, ucap Jonghyun lantas berjalan pergi. Seo Hee segera berlari menuju So Ra. “So Ra, apa yang terjadi denganmu dan Jonghyun ? Kalian ada hubungan ? Kalian terlihat begitu dekat”, tanya Seo Hee penasaran. “Tak ada apa-apa, kami hanya teman”, jawab So Ra. “Benarkah ? Oh iya ! Boleh aku tanya sesuatu ?”, wajah Seo Hee dipenuhi harapan. “Tentu”, jawab So Ra sigap. “Hmm, maukah kau membantuku ?”, “tentu saja.. Kau kan temanku”. Seo Hee melanjutkan permintaannya, “bisakah kamu membantuku untuk berkencan dengan Kim Jonghyun ?”. So Ra terkejut, permintaan Seo Hee itu seperti menghentikan nafasnya. So Ra tak mampu berkata-kata, ia hanya terdiam menatap sosok laki-laki yang belum lama berjalan meninggalkannya.

Bersambung 


One thought on “Music Love Story – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s