Escape from the Undead Land [ Part 3 ]


Tittle                : Escape from the Undead Land [ Part 3 ]

Author             : Jung Yeonmin

Cast                 : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Jo Youngmin, Jo kwangmin

Genre              : Horror, Thriller, Friendship, Family, Fantasy

Rating              : G

A.N                  : annyeong! Author ga jelas ini kembali dengan fanficnya dan Allhamdulillah yaahh udah part 3😀. baru kali ini author bikin fanfic sampe 3 part (yaiyalah bikin fanfic aja masih newbie :p). maap yak author updatenya lama, abisnya sibuk ngurusin kakak-kakak author yang ngurusin comeback 5jibnya😀 #plak. Oke deh, enjoy my fanfic😀

==============================================================================

Youngmin POV

Gemercik air terdengar samar-samar di telingaku. Bau yang tidak sedap menusuk hidungku. Akupun membuka mataku dengan perlahan dan kurasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku berusaha terbangun dan terduduk namun sangat sulit. Akupun memijat-mijat keningku dan menatap berkeliling. Kudapati diriku berada di sebuah gudang yang berdebu dan terdapat sarang laba-laba dimana-mana. Terdapat sebuah jendela yang cukup besar yang kusennya sudah patah dan dapat kulihat sebuah sungai berair keruh yang mengalir dengan deras.

“kau sudah bangun?”

Akupun melayangkan pandanganku ke seorang namja yang kukenal. Ia berlutut di sampingku dan tersenyum tipis kepadaku. Namja yang berhasil membawaku pergi dari tempat mengerikan itu.

“lalu.. apa? Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

JLEEEEEP

Mataku membulat, betapa kagetnya aku melihat sebuah anak panah yang hanya berjarak satu senti dari diriku dan nyaris menusukku. Sebuah anak panah yang melesat secara cepat. Apa-apaan ini?

“wow! Benda ini keren! Baru kali ini aku bermain dengan benda sehebat ini!”

Akupun melemparkan pandanganku ke seorang namja yang sedang sibuk dengan panah yang kuambil di gudang penyimpanan waktu itu. Ia sibuk memain-mainkannya dan memanah dengan rancau ke segala arah. Akupun beranjak dan segera berjalan menujunya.

“Ya! Pabo ya! Kau bodoh apa??? Itu bukan mainan” kataku membentaknya. Iapun cuman mengangkat salah satu alisnya dan menatapku.

“haahh baiklah, aku mengerti. Kan aku hanya ingin mencobanya, benda ini untukku ya?”

“kau siapa?”

“ah iya benar juga kita belum kenalan, aku Lee Hyukjae!”

“kau anak manusia itu ya?”

“ya, benar sekali! Kau youngmin kan? Dan kau.. manusia juga kan?” iapun menggerakan tangannya dan menyentuh nadiku. Akupun segera menarik tanganku.

“apa kau benar-benar akan membuatku keluar dari sini?’

“tentu saja!”

“berapa persen?”

“hem.. 20%? Tapi—“

“bodoh! Kita akan mati disini! Harusnya aku tahu tidak usah mengikutimu apalagi sekarang kita bersama seorang aphr” kataku sambil menunjuk ke arah aphr yang bernama dongho atau haedong atau siapalah dia.

“ah aku? Tenang saja aku kan belum sepenuhnya menjadi aphr!” kata awah itu

“terserah intinya, aku menyesal mengikuti ide gila kalian ini!”

“oh ya? Jangan bilang menyesal dulu kalau kita belum mencobanya! Sekarang ayo ikut aku!” kata arwah itu dan menarik tanganku.

“ya! Haedong kau akan membawaku kemana??”

Aku dapat mendengar tawa meledak dari anak manusia bernama hyukjae itu.

“haedong? Seenaknya saja kau mengganti nama orang! Namaku Donghae! Ingat itu D-O-N-G-H-A-E! donghae!” katanya dan tersenyum kepadaku.

“cih”

“palli, kita pergi!” kata hyukjae dan sekarang dia ikut menggandeng tanganku.

“kemana??”

“tentu saja ke istana Raja Hactrex!”

“APA????????”

Akupun mengomel sepanjang perjalanan tapi mereka seolah tidak mendengarku. Mereka berdua mengandeng kedua tanganku sehingga membuatku tidak bisa melepaskannya. Bodoh, bodoh pabo! Ini gila, sudah cukup gila. Akhirnya aku menyerah dan mengikuti langkah mereka, kalau saja hal itu tidak terjadi… aku pasti tidak akan disini, hal yang menyedihkan yang bisa terjadi di dalam hidupku aku ingin mengulangnya kembali, aku menyesal.

 

 

 

Jo Twins Story

Author POV

Suatu sore di bulan desember. Langit seperti biasa begitu suram kabut begitu tebal dan suhu bisa mencapai minus derajat celcius. Salju turun dengan lebat dan melapisi setiap senti jalanan yang begitu sepi sampai kau tidak bisa menemukan tanah kembali. Bagai jaman sebelum peradaban di temukan, bagai jaman glacial yang bisa membunuhmu. Sebuah kota yang sangat sepi, angin bertiup kencang bagai kota mati. Para penduduknya berlindung dibalik rumah batu mereka yang dingin dengan menyalakan beberapa batang lilin dan berharap mereka bertahan hidup. Dibalik keadaan yang menyedihkan ini, sebuah cerita lullaby sebelum tidur dimainkan dan membuat salju putih ternodai oleh darah merah yang segar.

Jauh di dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, nyanyian burung gagak berseru di sekitarnya. Sangat kecil, dingin dan hanya terdapat beberapa batang lilin yang menyala dengan redup. Seorang pria paruh baya masuk ke rumah yang dingin itu dengan paksa dengan minuman keras di tangan kanannya sembari menyeret seorang pria yang bermandikan darah sehingga membuat seorang wanita dan dua orang bocah kecil menghentikan aktifitas mereka.

“Appa!” sahut salah satu dari kedua bocah itu.

“lepaskan dia kumohon!” kata wanita itu dan berlutut di depan pria paruh baya itu.

“minggir!” kata pria paruh baya itu dan menendang wanita tersebut.

Pria itu tidak datang sendirian, ia datang bersama beberapa pria lainnya yang bertubuh kekar dan menyeramkan. Ia melemparkan pria yang sedaritadi diseretnya dan menghempaskan tubuhnya. Ia melemparkan pandangannya kesegala arah dan mengobrak-abrikan segala jenis perabotan usang yang ada dirumah itu.

“apa-apaan ini??? Kalian tidak berguna! Kalian tidak memiliki apa-apa!”

“maafkan kami, kami berjanji akan membayarnya” kata wanita itu sambil menitihkan air mata.

“omong kosong, kalian tidak seperti warga yang lain yang bisa memberikan sesuatu untukku!”

“tuan, wanita itu cukup cantik” sahut salah satu pengikutnya.

“apa yang akan kalian lakukan kepada eomma ku??? Tidak cukup puaskah kalian melukai appa ku?” sahut salah satu bocah tersebut.

“MINGGIR!” kata salah satu pengikut pria itu dan melempar tubuh bocah yang tidak bersalah itu.

Pria paruh baya itu menyeret dengan paksa wanita yang dipanggil eomma oleh bocah-bocah kecil itu. Ia menyeret dan membawanya ke tempat tidur. Appa mereka dengan sisa tenaga dan darah mengucur di setubuhnya berusaha mencegatnya namun nihil, tidak berhasil. Salah satu bocah itu hanya bisa menangis dan yang satunya berusaha bangkit dari lemparan yang dilakukan pengikut pria tadi. Ia berusaha lari mengejar pria paruh baya itu dan menggigitnya namun tidak berhasil.

“ya! Kwangminya! Jangan mengangis saja! Ayo bantu aku, selamatkan eomma!”

“hentikan youngmin jangan gegabah” kata eommanya tidak tega melihat anaknya berusaha menggigit pria paruh baya itu.

Namun anaknya tidak mendengarkan ia terus sibuk menyerang pria paruh baya itu. Pria itupun menggapai kantungnya dan mendapati sebuah pisau kecil di kantungnya ia mengambil ancang-ancang dan anak itu tidak menyadarinya.

“JANGAAAAAAANNNNNNNN!!!!” jerit sang eomma

JLEEEEPPPPP

Youngmin yang sedari tadi berusaha menggigit pria itu kini membeku. Ia terpaku melihat appanya sendiri yang sudah bermandikan darah kini pisau menancap tepat di jantungnya. Ia berusaha menyelamatkan youngmin dan membuatnya jatuh ke lantai. Sore itu juga, appanya menghembuskan nafas terakhirnya. Kwangmin menjerit dan menangis hebat youngmin hanya bisa terpaku dan membeku. Para pengikut pria itupun dengan tanpa rasa bersalah menendang tubuh yang sudah tidak bernyawa itu menuju pintu keluar. Kini mayat itu telah berada di atas salju putih yang dingin sendirian dan mewarnai salju putih itu menjadi berwarna merah kelam. Pria paruh baya menyeret kembali wanita itu ke atas tempat tidur. Youngmin yang menyaksikan itu semua hanya terpaku dan nyaris gila. Kini hanya tersisa dua bocah yang tidak bersalah, menyaksikan pembunuhan appanya oleh orang-orang yang kejam dan kini, menyaksikan eommanya bersama pria lain. Sesuatu hal yang tidak pernah dan tidak seharusnya disaksikan oleh bocah kecil delapan tahun yang tidak mempunyai salah.

Tangis masih membasahi pipi kwangmin, sedangkan youngmin hanya bisa terpaku dan berdiri membeku dengan tatapan kosong. Kwangmin yang masih berlinang air mata berjalan menuju saudara kembarnya itu. Iapun menangis dan menangis di depan saudara kembarnya yang membeku bagai benda mati.

“youngmin-ya jangan mati, jangan tinggalkan aku.. youngmin-ya aku takut”

Kata kwangmin sambil menangis. Youngmin masih tidak bergeming ia hanya terpaku dan menatap kosong. Terdengar jeritan eommanya dari dalam kamar dan sukses membuat bulir-bulir bening jatuh ke pelupuk matanya. Youngminpun menggelengkan kepalanya dan berusaha menarik nafas panjang. Kwangmin masih menangis sejadi-jadinya. Youngminpun mendekatinya dan mendekap saudara kembarnya itu dengan lembut. Suara tembakan terdengar dari dalam kamar, youngmin mengerjapkan matanya. Kini suara eommanya sudah tidak terdengar lagi dari dalam kamar, sepi sunyi hanya terdapat suara pria paruh baya itu yang sibuk berbenah.

“kwangmin.. pejamkan matamu, sudahlah tutup telingamu.. aku berjanji kita akan terus bersama”

Kwangmin hanya bisa menangis dan menutup matanya. Terdengar bunyi pintu kamar terbuka pria paruh baya itu keluar dan berjalan ke arah mereka.

“hey, jagoan kecil! Sekarang kau tidak memiliki siapa-siapa lagi! Lihat, aku berkuasa aku bisa mengambil segalanya” kata pria itu berbicara tepat di telinga kedua anak tersebut. Kwangminpun melepas dekapannya dan menatap pria paruh baya itu dengan air mata membasahi pipinya.

“kau orang jahat!”

“HA HA HA, begitulah prinsip hidup. Tidak ada uang, tidak ada kebahagiaan. Cepat atau lambat kau akan mengerti tapi.. aku memberi kalian kesempatan untuk hidup itupun jika kalian bisa bertahan”

Tanpa banyak bicara youngmin menggandeng tangan adiknya dan segera mengajaknya keluar dari tempat itu. Merekapun keluar menantang dunia yang dingin dengan sweater yang sudah usang, merekapun berlari dan berlari menjauhi tempat itu. Sore telah berganti malam, sama saja seperti sore tadi langit suram, dingin, tanpa cahaya, gelap, sepi. Tangan-tangan kecil mereka sudah berkerut dan mulai membiru. Tak jarang mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang menghangatkan mereka ke sebuah api unggun tapi saat mereka hendak bergabung, orang-orang itu mengusir mereka dengan cepat.

Hari demi hari mereka lewati dengan berat. Mereka bertahan hidup dengan memakan makanan sisa yang mereka temukan di tong sampah. Keadaan mereka begitu menyedihkan tapi tidak ada seorangpun yang mau mengulurkan tangan untuk kedua bocah kecil itu. Merekapun bekerja menjadi pengangkut barang dan hanya mendapatkan bayaran yang tidak setimpal. Tidak ada satu orang manusiapun yang mau mendekati mereka, karena keadaan mereka yang begitu mengenaskan. Berbagai cacian dan makian sudah menjadi makanan sehari-hari mereka namun walau begitu youngmin masih menampilkan senyum di pipinya. Mereka tidur di jalanan tanpa alas, dan terus bertahan untuk hidup.

Sampai suatu hari di musim gugur. Youngmin masih terlelap tertidur diatas jalanan yang dingin di smping tempat sampah besar. Kwangmin yang terbangun karena hembusan angin yang kencang hanya menatap lekat saudara kembarnya itu.

“youngmin kau tahu? Aku bosan hidup begini..” kata kwangmin berbicara pada youngmin yang masih terlelap.

“dunia ini kejam.. para manusia itu lah yang merupakan setan yang sesungguhnya..” sahut sebuah suara yang berat.

“siapa itu??”

“ikuti suaraku, aku akan menolongmu..”

Kwangminpun beranjak, dan melemparkan pandangan ke segala arah. Iapun melangkahkan kakinya tanpa ragu mengikuti suara asing itu. Ia berjalan melewati daun-daun kering yang berguguran dengan kakinya yang beralaskan sandal yang sangat tipis dan usang. Semakin jauh ia meninggalkan youngmin yang masih terlelap dalam mimpinya, ia mulai memasuki wilayah dengan pepohonan tua yang besar dan sangat sepi. Nyaris tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hingga langkah kakinya terhenti menemukan sebuah nisan dengan berbagai batuan disekitarnya yang memiliki ornament-ornament yang aneh. Disekitar nisan tersebut juga terdapat banyak kuburan yang menyebar secara tidak rapih dan sangat gersang. Angin bertiup kencang sangat dingin sehingga menusuk tubuhnya.

Suara yang sedaritadi membimbingnya kini sudah tidak bersuara. Kwangmin mengerutkan jidatnya, ia tidak mendapati seorang manusiapun disana. Tiba-tiba salah satu tanah kuburan itu bergerak. Kwangmin mengambil langkah mundur. Tanah itu bergerak seolah-seolah sesuatu akan keluar dari dalam sana. Sebuah tangan dengan kuku-kuku yang rusak dan jari-jari yang patah menyembul keluar dari dalam tanah. Perlahan tangan itupun menggapai sisi-sisi kuburan untuk membantunya keluar. Tiba-tiba nisan batu dengan oranamen-ornamen itupun menyala. Sebuah cahaya aneh keluar dari nisan batu tersebut. Sebuah makhluk keluar dari dalam tanah, dari salah satu kuburan yang berada disana. Sedangkan nisan batu tersebut terus mengeluarkan cahaya aneh.

Sorot cahaya yang keluar dari nisan tersebut menyilaukan matanya. Iapun menutup sebagian matanya dengan jari-jarinya. Kwangmin menyaksikan itu semua, keringat dingin mengucur dari dalam tubuhnya. Matanya terbelak sangkin tidak percaya melihat makhluk aneh yang keluar dari dalam tanah yang kini berdiri tepat di depannya. Langitpun berubah, mengeluarkan cahaya yang sama anehnya dengan nisan tersebut. Langit berputar seolah-olah pusaran tornado di atas langit yang hendak menghisap segala sesuatu yang ada di bawahnya. Tiba-tiba sebuah makhluk aneh dengan sayap hitam yang sangat besar, dengan wajah yang sangat mengerikan! Seperti setan, dengan taring di giginya. Terlihat seperti monster yang berkali-kali lipat lebih seram dari apapun juga. Makhluk itu menjejakan kaki di tanah, tingginya bahkan mengalahkan tinggi pohon ek tertua di dunia. Makhluk itu tidak sendirian, selain makhluk itupun turun makhluk-makhluk lainnya yang terlihat seperti pengawalnya namun ukuran tubuhnya lebih keci. Makhluk itupun angkat bicara.

Manusia adalah setan yang sesungguhnya, kau kesepian? Kau ketakutan? Mereka semua akan tunduk kepadamu. Mereka semua akan bertekuk lutut padamu. Percayalah ini bukan akhir hidupmu, kita akan membangun dunia baru yang lebih menyenangkan dari ini. Habisi, dan bunuh mereka semua. Mereka semua akan menjadi budakmu, mereka semua akan MATI.

Kwangmin terbelak tidak percaya. Bagi anak kecil pada umumnnya itu adalah mimpi buruk di siang hari namun baginya, itu adalah awal dari kebahagian yang semu. Walaupun ia tersenyum, namun jiwanya tidak siap melihat pemandangan itu. Perlahan semuanya berubah menjadi gelap.

.: To be continued :.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Akhirnyaaaaaaa~~~ selesai juga part 3!! Hahay, maap yak yang ini lama banget postnya, maklumin author di sekolah banyak acara OSIS apalagi pas MOS jadi panitia ;_; #gapenting. Kayaknya di part 3 ini mulai jelas inti ceritanya atau.. malah makin ga jelas? ^^ mian, author ini kan emang ga jelas idupnya jadi bikin fanfic juga ga jelas :p jadi tunggu kelanjutannya yaa, makasih buat yang masih setia baca nanti author kasih balon satu-satu😀 dan maaf juga fanficnya selalu jelek -,- hehe. Tunggu lanjutannya yaa😀

[Teaser Part 4]

“pak polisi aku serius! Anakku hilang dibalik tebing ini! Waktu itu disini ada sebuah kota aneh! Aku berani bertaruh! Aku tidak gila!”

“seperti yang berada dalam game itu!, makhluk seperti monster mereka semua memakan manusia! Aku bukan orang gila! Aku serius, kemarin aku bertemu mereka di dalam game, ah buku ini sudah usang, ini game yang kutemukan di gudang tadi siang. Kemarin ayahku dibunuh salah satu dari mereka..”

“hantu anak kecil yang tersesat itu kasihan, sepertinya aku mengenalnya.. bagaimana menurutmu donghae-ya? Melihatnya seperti déjà vu ”

“cari manusia-manusia itu! Kita harus mendapatkan mereka semua! Kita harus membawa mereka semua kesini!”

“tenang saja, aku berani menjamin manusia-manusia bodoh itu tidak akan pernah bisa lari dari sini..”

www.thedreamerstory.wordpress.com

 

 


13 thoughts on “Escape from the Undead Land [ Part 3 ]

  1. baguuuuuuuss banget, aduh aku baca marathon dari part satu jadi komennya disini aja yah. heheh
    sumpah ini FF keren banget, kayak nonton film beneran deh, jadi keinget film barat yang *kalau gag salah* judulnya 346. ceritanya tentang sebuah desa juga, tapi desa yang mempertahankan jumlah penduduknya cuma 346.
    Eh 346 apa 436 ya? lupa soalnya itu film udah lama banget >.<
    CEPETAN DILANJUTIN! ini ancaman dari saya, kalau author masih mau jadi manusia
    hehehhehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s