Happy Ending 8-9


Cast :
SHINee – Choi Min Ho
F(x) – Krystal a.k.a Jung Soo Jung
SNSD – Jessica a.k.a Jung Soo Yeon (Krystal’s sister)
F(x) – Choi Sulli a.k.a Kim Yoo Jin
4MINUTE – Kwon Soh Hyun
SHINee – Key a.k.a Kim Ki Bum
KARA – Kang Ji Young a.k.a Kim Ji Young (Key’s sister)
F(x) – Victoria Song a.k.a Choi Hye Jin (Min Ho’s older sister)

Chapter 8 & 9

Jika kau mencari sebuah ‘kepastian’
Jangan percaya akan apa yang kau lihat
Jangan yakini akan apa yang kau dengar
Jangan takut dengan apa yang kau sentuh

Pejamkan mata tanpa ragu
Dengarkan seruan hati yang merindu
Raba dan rasakan perasaan itu

Perlahan, akan terasa
Dan ketika kau menyadarinya
‘Kepastian’ itu ada didalam hatimu
Hati yang paling dalam dan tersembunyi
Seperti sebuah pasir emas diantara pasir putih lautan
Jangan gumamkan “ini rumit”,
Tapi coba pikirkan,
Bagaimana cara kau menemukannya?

By : Okta *alias author sendiri*

***

Soo Yeon turun dari tangga dengan sangat terburu-buru hingga ia hampir tergelincir di undakan terakhir. Ia terlihat begitu sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam hitam yang baru saja selesai dicharge. Sungguh merepotkan handphonenya entah kenapa bisa ketinggalan di kantor tadi malam_inilah kenapa ketika Soo Jung berusaha menelpon, handphone Soo Yeon selalu tidak aktif_

“Ya, kami yakin kerjasama proyek ini akan berjalan lancar jika pihak perusahaan tetap menanam modal saham 15%.”

Soo Yeon berjalan tertatih-tatih akibat sepatu hak yang belum dipakai dengan benar. Ia menghampiri meja makan panjang yang bisa muat 10 orang, menarik salah satu kursinya dan duduk disana.

“Hari ini, ya bisakah kita memajukan pertemuan?”

Tak lama kemudian seorang pembantu berkucir dua dengan seragam hitam berenda putih [bayangin aja pelayannya Lee Min Ho di BOF] datang membawa nampan perak, diatasnya ada sepiring dua tumpuk Chinesee Sandwich* yang terlihat lezat.

*Makanan Sandwich dengan tambahan isi udang/ikan laut.*

“Eh Tidak, jam 3”

Soo Yeon meraih pisau roti dan garpu yang tersedia rapi diatas meja makan.

“Baik___baik, terimakasih”

Klep

“Anda ada pertemuan lagi Nona?” tanya pembantu berkucir dua yang tadi membawa nampan.
Pembantu lain, kali ini berkucir satu dengan seragam yang sama datang dengan gesit dan menghidangkan dua jenis minuman, segelas air putih dan segelas susu putih hangat.

“Benar Ji Ae,” jawab Soo Yeon dan melahap Sandwichnya, melupakan masalah-masalah perusahaan yang sedang kritis. “kepalaku hampir pecah rasanya. Aku cuma tidur lima jam hanya untuk menyelesaikan berkas-berkas yang tidak beres.”

“Haruskah saya siapkan vitamin?” tanya Ji Ae yang belum beranjak dari tempatnya__ berdiri dengan jarak satu meter di sebelah kiri majikannya.

“Tidhak terlhiimakasih” balas Soo Yeon dengan mulut penuh karena dikejar waktu. Ia mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya tiga kali, memaksa makanan yang belum terkunyah sepenuhnya masuk ke kerongkongan. “Oh ya, mana Soo Jung? Kalian bilang kemarin dia menginap ditempat temannya? Aku tidak melihatnya sampai sekarang”

Ji Ae menelan ludah. Sesungguhnya Ji Ae tidak tau menginap dimana Soo Jung, ia hanya mengada-ada. Bisa kena damprat hebat dari Soo Yeon kalau dia bilang ‘tidak tau kemana nona Soo Jung menginap kemarin’, apalagi jika nanti dia mengatakan ‘nona Soo Jung sudah pergi lagi’. Ditataplah temannya, yaitu pembantu berkucir satu tadi yang posisi berdirinya tepat berada disampingnya, Ji Ae meminta bantuan. Tapi temannya itu malah menyenggol pundaknya, lalu berbicara tanpa suara “Katakan saja”

Ji Ae mengambil nafas, memperhatikan Nonanya itu sedang mengambil segelas susu, hampir meminum isinya.
“Eh, tadi sekitar pukul satu Nona Soo Jung sudah pulang diantar temannya” kata Ji Ae takut-takut. “Tapi ia hanya bersiap-siap kemudian, ehm___eh__, Nona Soo Jung pamit pergi kemudian____”

Tanpa segan-segan, air susu yang akan ditelan Soo Yeon langsung tersembur keluar, sukses mengotori meja dan membuat dagunya basah. Ji Ae dan teman pembantunya refleks mundur satu langkah.

“MWO?! Kalian Tidak mencegahnya?! Soo Jung ada pemeriksaan sore ini! Apa yang harus kukatakan pada dokter nanti?! Ini sudah ke tiga kalinya dia tidak menghadiri jadwal periksa!”

Dada Soo Yeon naik turun. Dia meraih Handphone hitamnya dan mencari kontak Soo Jung untuk dihubungi, tetapi tidak aktif.

Melihat raut muka Soo Yeon yang tambah mengerikan membuat pelayan wanita berkucir satu disamping Ji Ae angkat bicara.
“Maaf Nona, tapi Nona Soo Jung bilang, eh, Handphonya rusak jadi___” dia tidak melanjutkan kalimatnya, yang sekarang ia cemaskan adalah Soo Yeon yang terlihat seperti penderita anemia, sangat pucat.
***

Soo Jung berjalan mengitari lorong-lorong kelas yang begitu sepi. Rambut panjangnya berkibar elok. Ia tidak menggunaan seragam, sweater tebal warna putih terang, Rok merah tua selutut berjenis wol, dan topi kupluk putih kesayangannya. Setiap ia menengok ke jendela kelas-kelas, tidak terlihat satu muridpun, karena waktu pulang sekolah sudah sedari tadi. Sampai di ujung lorong, ia berhenti. Pintu bercat hijau mengkilat menghadangnya. Diatasnya terdapat papan gantung yang bergoyang pelan saat ia membuka pintu.

Ruangan ini cukup luas kalau hanya ada Soo Jung disana. Terlihat berbeda jika terisi penuh 32 anak dan duduk berpasangan disetiap meja. Ia berjalan kearah sebuah meja yang paling dekat dengan jendela luar. Tempat yang lebih terang dari semua sudut ruang. Itu mejanya dan Yoo Jin.

Dia membenahi syal merah yang ia kenakan kemudian duduk di depan mejanya sendiri, bangku paling dekat jendela. Membayangkan hari-hari biasanya saat di sekolah. Mengenang terperinci setiap kejadian dari menyenangkan, sampai membosankan saat dia bisa duduk tenang di bangku yang biasa ia tempati.

Soo Jung menyukai pemandangan luar jendela dari sini ketika musim semi, saat bunga-bunga taman bermekaran dan terlihat indah jika dilihat dari atas. Waktu hujan turun dan mengetuk, membasahi kaca jendela, anak-anak harus memasang telinga lebih tajam untuk mendengar penjelasan guru. Lebih susah kalau pagi sudah hujan, seringkali membuat dia dan teman-temannya terlambat, atau membasahi lantai kelas karena sepatu atau baju yang basah oleh air hujan.

Begitu musim panas datang, ruangan ini akan terang. Sedikit menyilaukan dari sekitar pukul sepuluh pagi sampai pukul setengah sebelas pagi. Suhu sangat nyaman dan hangat, kemudian ketika liburan musim panas, mreka bersama ke pantai dan mengadakan banyak permainan konyol tapi menyenangkan.

Dalam jangka waktu musim gugur, jendela akan tertutup rapat mencegah daun-daun kering mengotori kelas__atau bahkan tanpa sadar menempel di rambut__ murid-muridpun terpaksa harus rajin menyapu lantai atau dimarahi guru. Musim gugur banyak pelajaran kosong karena alasan guru sakit, teman-temannya akan merayakan pesta kecil-kecillan, seperti memborong makanan dan mengadakan kontes menyanyi yang meramaikan kelas dengan gelegak tawa.

Musim dingin akan dipenuhi dengan suara dengkur anak-anak yang kedinginan__apalagi kalau penghangat ruangan rusak__. Semua hidung guru-guru dan murid-murid akan terlihat memerah seperti badut. Saat pelajaran semua mengeluh lapar. Giliran jam istirahat, malas ke kantin, akhirnya, banyak yang memilih membawa bekal atau menitip teman, justru ada juga yang ketiduran dan baru bangun setelah jam istirahat berakhir. Tapi, apakah musim dingin beberapa hari yang tidak ia lewati bersama kelas ini, tetap memiliki suasana sama? Apa semuanya tidak akan berubah jika ia pergi nanti?

”Yoo Jin, apa yang kau lakukan?”

“Ukiran”

“Ha?”

“F, untuk Friend”

“F? F—-r—-i—-e—-n—–d—-s”

“Friends”

“Friends” kata Soo Jung teringat sesuatu. Ia meraba ujung meja, walau sudah samar, masih bisa dirasakan dengan jelas. Ukiran kata ‘Friends’ berantakan yang ia dan Yoo Jin buat saat pelajaran sejarah awal semester dua lalu. Soo Jung tersenyum kalau mengingat lagi. Andai saja ada salah satu guru yang melihat ukiran ini dan tau mrekalah yang melakukannya. Mungkin sampai saat ini dia dan Yoo Jin masih dalam masa hukuman dengan alasan melanggar salah satu peraturan ‘merusak fasilitas sekolah’,

Tes

Soo Jung kaget melihat sebuah butir air yang menetes membuat kubangan kecil diatas meja. Ia meraba pipi kanannya. Basah. Ia menangis. Soo Jung menitikkan air matanya tanpa sadar. Ia menutup mata sesaat, mengendalikan semua perasaan yang sedang berjungkir balik dalam hati. Beberapa detik kemudian mengambil nafas panjang dan membuka kelopak mata bertahap. Wajah sedihnya berangsur-angsur sirna. Ia tersenyum menutupi rasa sedih. Senyum yang tak akan pernah berubah.

“Aku bilang nadanya harus lebih cepat, tapi tidak secepat ini!”

“Kenapa kau tidak melihat note ini dengan benar?!”

“Gunakan kelingking mu!”

“Kenapa nada kanan dan kiri tidak berbaur?!”

“Ulangi bagian ini dengan benar!”

“Ya! Choi Min Ho! Aku bilang gunakan kelingkingmu!!!!”

“CUKUP!!!” Kalau ada satu kata perantara yang dapat melukiskan perasaan dengan raut garang wajahnya. Mungkin hanya ada satu kata ‘marah’.

Bu Kim memperbaiki letak kacamatanya. Matanya mendelik keget. Mukanya merah padam, kesal karena Min Ho baru saja berdiri dan meneriakkan kata ‘cukup’ begitu kencang tepat sepuluh senti didepan wajahnya. Tangannya hampir terangkat ingin menampar Min Ho, tapi akhirnya justru suara tegas gemetar yang keluar dari mulutnya

“Baik, aku pikir cukup sekian dulu latihan kita yang baru berjalan sepuluh menit ini” Bu Kim tak banyak bicara dan langsung meninggalkan ruang musik diikuti geraman-geraman sengit melengking.

Min Ho menunduk terengah. “Aku sudah bilang aku bisa sendiri. Sial”

Baru kali ini ia bisa merasa ‘benci’ dengan piano. Memendam emosi bukanlah keahlian Min Ho, dia terbiasa menumpahkannya. Ia mengepalkan tangan, lalu memukul beberapa kali tuts piano sekuat tenaga menimbulkan suara berisik, kalau perlu merusak semua tuts-tutsnya agar tidak bisa digunakan lagi. Ia menendang salah satu kaki piano dan menutup kap dengan kasar sehingga terdengar ‘bam’ keras.

“Min Ho-sshi, apa sih yang kau lakukan?!”
Min Ho menghentikan ‘aktifitas’nya, ia menoleh kearah pintu yang masih terbuka. Di sana berdiri perempuan muda yang seperti habis berlari karena nafasnya terputus-putus tak karuan. Mungkin ia terkejut mendengar suara keras dan bising dari ruang musik kemudian bergegas ketempat itu.

“Soo Jung-sshi?”

“Min Ho, kau ini bodoh atau apa? Kau pikir kelakuanmu tadi tidak berbahaya? Lihat tanganmu jadi lecet tak jelas seperti ini.….”

Mereka memutuskan duduk di bangku-bangku para pemain biola. Min Ho tidak berkutik saat Soo Jung sedang menggenggam tangannya dan mengobati lecet-lecet disitu. Dia heran dengan kepanikan Soo Jung yang berlebihan. Tangannya hanya lecet, kecil,_sebenarnya lebih kelihatan memar kebiruan sekarang_ mungkin kalau tidak diperhatikan dengan benar tidak akan terlihat kalau tangannya luka, tapi ternyata sakitnya lama-lama menjadi luar biasa.

“Bagaimana kalau retak?” Min Ho berpikir serius, Soo Jung benar, untung saja tangannya hanya lecet dan tidak menunjukan tanda-tanda retak. “Apa yang akan kau lakukan nanti kalau tanganmu tak bisa bermain lagi? Jangan membahayakan diri sendiri. Kau boleh marah, tapi tidak seperti ini caranya. Kau bisa marah padaku, bukan melampiaskannya seperti ini. Kau___”

“Soo Jung-sshi” sela Min Ho “terimakasih telah mengkhawatirkan aku. Tapi sungguh aku baik-baik saja”

Soo Jung mengambil nafas, Kau mungkin akan begitu panik kalau ada di posisiku, Min Ho. Kalau bukan kau siapa lagi? Aku tak mau membuat Bu Kim kecewa untuk yang kedua kali. Dan aku juga tak mau membuatmu juga kecewa
“Berjanjilah padaku” kata Soo Jung pasti sambil menutup dengan kencang tutup botol obat merah “Jangan seperti ini lagi”

Min Ho mengangguk. “Kau juga” Ia terdiam memperhatikan Soo Jung meniup kecil punggung tangannya. “ Kau juga harus berjanji satu hal padaku” lanjut Min Ho seperti bisikan bahkan ia sendiri tak bisa mendengar apa yang ia katakan “Jangan membuatku serba salah karena menyukaimu”

“Ha?”

Min Ho terbelalak kaget karena Soo Jung tiba-tiba menatap wajahnya lurus-lurus.

“Lupakan” sergah Min Ho dan mengalihkan bola matanya ke dagu Soo Jung, sebisa mungkin tidak menatap mata gadis itu. Matanya terlalu polos untuk ia pandangi, dan ia takut terlalu berjerumus kedalamnya.
“Tadi kau bilang ingin aku berjanji satu halkan?”
“Tidak, lupakan”

Setelah itu hening. Suasana begitu sepi tanpa ada suara. Min Ho benar-benar ingin meledakkan bom atau melempar apa saja, yang jelas membuat kegaduhan agar keadaan tidak menjadi kikuk dan aneh seperti ini. Namun tetap saja tubuhnya tak bergerak satu inchipun. Otaknya buntu untuk mencari topik pembicaraan, pada dasarnya memang ia tak pintar bicara, bergaulpun tidak. Dan kini begitu berhadapan dengan wanita yang disuka, ia tak bisa mengatakan apapun selain ingin melumat bibirnya, dan iapun sadar, bahwa itu hal terbodoh yang ia pernah pikirkan.

“Min Ho-sshi” Min Ho mendongak, padahal ia sedang berusaha keras untuk tidak memandang Soo Jung, tapi sekarang dia justru sudah menatap Soo Jung tiada ragu. “Kau tak bisa melakukannya sendiri” Min Ho ingin sekali meremat jantungnya untuk menghentikan detak yang tak karuan.
“Kau bicara tentang Bu Kim, benar?”
Soo Jung mengangguk, anggukan yang penuh wibawa. “Aku tau kau tak menyukai Bu Kim, tapi kau tak bisa sendiri. Mengertikan?”
“Dengar, bukannya aku tidak mau, aku hanya___”
“Tidak suka”
Min Ho tercekat kali ini, ia seperti maling yang tertangkap basah. Semenghindar apapun, sepertinya Soo Jung benar-benar tau apa yang ada diisi hatinya. Min Ho kalah telak untuk berbicara lagi.

“Justru karena tidak suka, seharusnya kau merasa ‘itu’ sebuah tantangan”
“Tantangan?”
Soo Jung tersenyum, senyum khas yang langsung membuat Min Ho bungkam.

“Mereka mengenal sosok Choi Min Ho sebagai laki-laki pemarah dan keras kepala. Tapi aku mengenal sosok lain dari seorang ‘Min Ho’, sesungguhnya dia adalah laki-laki yang lembut dan perhatian.” Min Ho begidik. Astaga, kau…. benar-benar membuatku tambah menyukaimu “Jadi aku yakin, ‘Min Ho’ bisa belajar menerima bantuan orang lain lewat sisi lembut yang ia punya. Aku benarkan?”

Min Ho kaku. Bibirnya seakan keram sehingga sangat berat untuk mengucapkan sebuah kata. Lagipula kalaupun ingin berbicara, ia tak tau harus mengatakan apa. Setengah hatinya mau setengah hatinya menolak untuk menerima perkataan Soo Jung, ‘belajar menerima pertolongan dari orang lain’

“Kau hanya bilang ‘iya’ kalau menyukainya, dan bilang ‘tidak’ jika benar-benar tidak menyukainya”

Min Ho membenamkan pikirannya pada perkataan Soo Jung, ini kedua kalinya gadis itu mengatakan hal yang sama, tentang ‘ya’ dan ‘tidak’.

“Hanya bilang ‘iya’ kalau menyukainya, dan bilang ‘tidak’ jika benar-benar tidak menyukainya?” ulang Min Ho dalam hati dengan pikiran sedikit terbuka.

Soo Jung menggangguk “Kalau kau hanya melakukannya setengah-setengah, kau tak akan pernah mewujudkan impianmu Min Ho-sshi. Jangan pikirkan karena kau tidak menyukai Bu Kim, tapi ingat kau menyukai mimpimu. Percayalah padaku, kau bisa, aku yakin.”

“Tidak semudah itu. Tidak sepasti itu.” Gumam Min Ho tidak percaya diri.

Soo Jung tersenyum kecil. “Kalau kau mencari kepastian” Ia menempelkan telapak tangannya ke dada Min Ho “Kau bisa mencarinya kedalam perasaanmu. Kau memang tidak tebiasa, tapi kau tak sendiri. Kalau kau mencari dukungan,” kali ini Min Ho tak bisa menolak “aku akan selalu mendukungmu”

Min Ho tersenyum sangat lebar. Dia tak pernah sesenang ini. Mendengar wanita yang ia cintai akan selalu mendukungnya seperti tonik luar biasa yang mengalir disetiap nadi-nadinya. Ia menggenggam tangan Soo Jung yang ada didadanya. “Baiklah, aku akan memanggil Bu Kim kembali” Min Ho bangkit berdiri, berjalan penuh stamina ke arah pintu. Tapi ditengah jalan ia berbalik menatap Soo Jung. “Tapi kau janji, kau akan menemaniku berlatih?”
Soo Jung terdiam selama dua detik, kemudian mengangguk.
“Baiklah, selama kau masih menginginkannya”
Min Ho mengepalkan tangannya erat-erat, ia menatap mata Soo Jung cukup lama, mencari kekuatan di balik mata itu. Ia bertekad, tak akan pernah melepas gadis ini. Tak akan pernah. Kalaupun perlu ia akan menunggu seumur hidupnya untuk mendapatkan cinta dari seorang Soo Jung.
Aku akan selalu menginginkannya Soo Jung-sshi. Selamanya.

“Kau ini benar-benar___” Bu Kim terdiam mencari kata lanjutannya “__hebat. Kau bisa membuatnya bahkan menemuiku! Selama aku idup, baru sekarang, tadinya_astaga___‘dia’ tidak pernah datang duluan menemuiku selain aku panggil. Dan ‘dia’ tadi terang-terangan minta maaf padaku. Astaga Soo Jung, apa yang kau lakukan sampai ‘dia’ bisa berubah drastis begitu? Aku___”

“Bu Kim,” Soo Jung menyela perkataan Bu Kim dengan sangat sopan “maaf, tapi jangan berlebihan seperti itu. Aku sudah bilang tidak akan mengecewakanmu untuk yang kedua kali. Min Ho seorang pianis berbakat, hanya saja sifat emosinya memang sering tak terkendali.”

“A-astaga, kau lebih cocok menjadi gurunya ketimbang aku” gumam Bu Kim benar-benar takjub.

“Jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun, pengalaman Bu Kim lebih banyak dariku.”

“Soo__ oh ada Bu Kim” Min Ho muncul dari balik tembok, tadinya dia hanya melihat Soo Jung berdiri ternyata dihadapannya ada Bu Kim.

“Eh, kalau begitu kami pamit pulang” ijin Soo Jung dan membungkuk. Ia sedikit menyenggol pinggang Min Ho, mengingatkannya untuk membungkuk hormat. Min Ho tersentak dan mengikuti maksud Soo Jung.

“A, Ne, hati-hati dijalan” kata Bu Kim dengan senyum lega.

“Ne,” kata Soo Jung dan Min Ho kompak kemudian segera berjalan mengikuti alur lorong gedung.
Mreka berdua keluar dari pintu gerbang dengan Min Ho yang lebih begitu-sangat-banyak bicara saat mereka berjalan menuju pemberhentian bus, satu belokan dari sekolah, cukup dekat.

“Kau lihat wajah Bu Kim saat melihatku tadi? Ha, dia pikir dia telah melihat setan atau apa?” kata Min Ho menggebu-gebu “Ya, ampun aku tak pernah merasa selega ini!” tawa Min Ho sangat keras tanpa memperdulikan orang-orang lewat dipinggir jalan memperhatikan. “Aku tadi hampir bisa bermain utuh! Sungguh! Bagian kacau itu sedikit teratasi!” Soo Jung harus menahan tawa melihat tingkah Min Ho, seperti anak kecil yang habis dibelikan permen lollipop.

“Gomawo”
Min Ho memandang Soo Jung heran, bukankah dia yang seharusnya berterimakasih?

“Seharusnya aku yang berterim ___”

“Min Ho-sshi” pandangan Soo Jung tetap fokus pada jalan didepannya. Walau tidak terlihat jelas, Min Ho bisa melihat gadis itu tersenyum “Terimakasih telah mencintaiku”

Mereka terus berjalan dengan perlahan tanpa ada percakapan. Min Ho terlihat bingung, apakah kalimat yang Soo Jung lontarkan tadi berarti juga menyukainya, atau menolak cintanya?

“Aku membutuhkan kepastian” suara Min Ho kini tiba-tiba mengecil. Ia memandang tangan Soo Jung yang terlunglai bebas di samping tubuhnya, andaikan ia bisa menggenggamnya. Min Ho memepetkan tubuhnya, dan berhasil meraba jemari Soo Jung “Sa__”

“Ddukbokki*!”
*makanan yang biasa dijual oleh para penjual pinggir jalan korea.*

“Dduk__ apa?”
Kalau ia diberi waktu satu detik lagi, pasti ia benar-benar bisa menggenggam tangan Soo Jung dan mengucapkan kata ‘saranghae’ dengan sungguh-sungguh. Namun ternyata Soo Jung yang tidak tau-menau tentang maksud Min Ho, tanpa sengaja menyelanya dengan berkata ‘Ddukbokki’ ceria, sambil menunjuk toko kecil dipenuhi asap mengepul dipinggir jalan.

“Uuh, aku lapar” kata Soo Jung dan setengah berlari menghampiri toko kecil itu meninggalkan Min Ho yang memasang wajah tak percaya.

“Soo Jung-sshi,” gumamnya dan tersenyum kecil “Sepertinya butuh perjuangan banyak untuk benar-benar bisa mendapatkanmu” lalu berlari menyusul Soo Jung ke arah toko.

Disebrang jalan, didalam mobil sedan hitam kusam yang berhenti dipinggir jalan. Seorang laki-laki yang kira-kira berumur tigapuluh tahun, memakai kaca mata hitam dan topi. Sebuah kamera terkalung di lehernya. Jika dia tidak didalam mobil sedari tadi, pasti orang-orang sudah menatap curiga kepadanya. Ia memperhatikan dengan cermat gerak gerik Min Ho yang saat ini sedang menjejalkan ddukbokki di mulut Soo Jung sampai gadis itu tersedak. Soo Jung memukul keras lengan Min Ho, tapi Min Ho malah tertawa terbahak-bahak.

Laki-laki misterius tadi berdeham singkat, mengeluarkan handphonenya dan menelpon sesorang.
“Dia benar-benar Choi Min Ho yang sama” katanya pada seseorang yang disebrang telepon. “Dan dia benar-benar kelihatan sangat bahagia”
***

Ruangan dapur seluas 6×3 meter itu terlihat sesak. Bukan karena banyak orang melainkan karena banyak gerakan sehingga ruangan seakan penuh. Uap panas memenuhi tanpa arah membuat mata sakit. Suara gaduh antara air mendidih, teriakan para pelayan, suara piring yang sedang dibilas, dan suara gesekan panci yang tengah diaduk isinya, semuanya bercampur aduk memusingkan bagi yang tidak terbiasa.

Dekat bak cuci piring seorang perempuan muda seumuran anak SMA, bermata sipit dan memakai seragam hitam putih seperti pelayan lain. Rambutnya dikucir satu, dan dahinya basah oleh peluh. Ia hati-hati mengambil sebuah buku note kecil yang terlihat tersembunyi diantara piring-piring putih mengkilap diatas rak. Tak lama kemudian suara nya sendiri terdengar sayup, tertutupi oleh suara ramai di ruangan tersebut.

“Sanoma Country Merlot, jenis anggur ini rasanya halus, harum buahan” katanya antusias sambil membaca lagi buku notenya.

“Soh Hyun, apa yang kau lakukan disitu?! Bantu mengecheck anggur-anggur di gudang!”

Soh Hyun, perempuan muda berkucir satu tadi berjengit kaget, cepat-cepat menaruh notenya ketempat tadi lalu berjalan tergesa-gesa keluar ruang, mengikuti seorang pelayan laki-laki jangkung dan lebih tua darinya.

“Ini” Pelayan laki-laki tadi setengah melempar buku panjang bercover warna hijau lumut, isinya catatan mengenai pemasokkan anggur dan sisa-sisa botol anggur. Soh Hyun mendengus yang kemudian diubahnya menjadi batuk kecil.

“Aku sendirian? Bukankah ___” suara Soh Hyun mengecil melihat laki-laki itu sudah menatapnya mengerikan “__aku hanya memban-tu?”

“Kau ini masih baru jadi jangan macam-macam! Kau pikir pekerjaanku tidak banyak hah?! Tata dengan benar! Mengerti?!”

Soh Hyun menunduk takut, dia berjalan secepat angin ke pintu gudang anggur.

“Menyebalkan” gumamnya sengit. Rumah makan Pranciss, adalah kerja sambilannya yang ke tiga. Setelah setahun lalu dipecat menjadi petugas perpustakaan umum akibat membuat dua rak buku jatuh menimpa jendela sampai pecah. Enam bulan kemudian diterima kerja menjadi pelayan toko Ice Cream, mendapat banyak teguran karena sering salah mengucapkan menu Ice Cream dengan menu anggur yang sedang ia pelajari, kemudian setelah delapan bulan ia sendiri memutuskan mengundurkan diri. Dan yang terakhir saat ini belum ada satu bulan ia bekerja menjadi pelayan dibagian sore sampai malam di Restoran Pranciss, terhitung baru, dan terhitung sering untuk disuruh-suruh oleh para pekerja tetap.

Ia baru pertama kali memasuki gudang anggur. Bermacam-macam wangi khas anggur menyeruak ke dalam hidungnya, dan membuat air liurnya bisa menetes kapan saja. Suhunya lebih hangat, menjaga rasa dan kemurnian anggur.

Gudang anggur ternyata adalah gudang bawah tanah, kayu-kayu tua penyangga botol-botol unik anggur tertata rapi menjorok kedalam dinding. Soh Hyun menginjakkan kakinya ke undakan tangga terakhir, ia kini melihat dengan jelas ruangan gudang yang ternyata cukup luas. Ia bisa memandangi anggur-anggur itu tertata dari segi tahun dan harga. Masalahnya, tidak ada waktu untuk melihat-lihat. Segera dia berjalan begitu hati-hati membayangkan kalau-kalau botol-botol itu bergetar dan bisa jatuh kapan saja. Soh Hyun tiba dihadapan box-box kayu yang masih bersegel, anggur yang baru datang tadi pagi.

“Tintara Shiraz? Eeh, 2004. hmm satu, dua eh tiga box” gumamnya mencocokkan catatan dalam buku dan label botol dan menuliskan jumlah box yang tersedia.“paduan dari carbenet, sobaenenon dan marlot. Rasa pahit, manis dan hangat” gumamnya lagi mengingat dengan detail tiap kata yang ada di dalam buku note kecilnya. Sebenarnya dia pernah mencicipinya sekali. Tapi karena ia tau mencicipi anggur tidak akan semudah keinginannya, satu botol anggur harganya bisa ratusan dollar. Jadi ia terbiasa mencatat dan menghapalkannya.

“Anggur Merah Luo Xia Shi Cheng? Tahun 2005, bukankah ini dari Cina? Aku dengar pamornya bagus” dia mencatat lagi “Hanya satu Box?”

Kini dia hanya terbenam ke dalam buku hijau lumut dalam genggamannya dan mencatat jumlah box serta tahun yang tertera dilabel. Pekerjaan ini cukup melelahkan. Apalagi setelah dia mengecheck catatan bulan sebelumnya, ia harus menulis detail jumlah botol. Kemudian mengangkt dan mengaturnya ke rak. Mau tak mau dia harus menajamkan mata_karena lampu yang remang_ dan menguatkan kakinya yang serasa hampir patah sekarang. Kalau dia bekerja melelahkan seperti ini terus, dia yakin, cepat atau lambat beasiswa sekolahnya akan di cabut karena nilainya yang akan turun drastis.

“Soh Hyun, kenapa kau ini lama sekali sih?” Soh Hyun menoleh letih. Keringatnya bercucuran karena capek ditambah suhu ruangan yang sedikit hangat di buat sesuai dengan suhu yang cocok untuk menyimpan anggur.

“Ah, Kang Hee oppa” Soh Hyun bernafas lega, Kang Hee *maaf mengundang cameo, he, ini Hwang Kang Hee ZEA* adalah saudara sepupu yang membantunya mendapat pekerjaan disini.

“Ini hampir satu jam kau dibawah sini” kata Kang Hee dan menghampiri Soh Hyun. “Kau pasti disuruh lagi?” Soh Hyun hanya bisa mengangguk “Kau itu, ini pekerjaan laki-laki! Kau masih terlalu kecil untuk mengangkat semua box itu! Tinggal berapa Box?”

Soh Hyun meletakkan botol terakhir Anggur Merah Maria Rose ke rak dengan hati-hati “Sepuluh,” kata Soh Hyun heran. Kang Hee menepuk jidatnya melihat kebodohan Soh Hyun. “Aku tidak bisa menolak saat disuruh tadi”

“Ya ampun, kenapa kau tidak melawan? Kau punya hak juga untuk menolak, paling tidak kau minta tolong yang lain membantumu! Kalau begini namanya kau ini sedang dibuat sebagai pembantu! Total semuanya berapa box?”

Soh Hyun mengingat ulang “Eh, 38 Box”
“MWO?! Dan kau disuruh menata semua ini sendirian?!”
Soh Hyun mengangguk polos.
***

Tap..Tap…

Seorang laki-laki muda, dengan setetes keringat mengalir dari dahi ke pipinya, berlari tegang menyusuri lorong-lorong putih pudar berlantai kramik putih mengkilat. Beberapa orang berseragam putih bersih berlalu lalang dengan tenang. Pintu-pintu tertutup rapat dan tiba-tiba terdengar sebuah triakan kesakitan dari balik salah satunya. Bau obat menyengat membuatnya dadanya seakan tehimpit. Rumah sakit. Ia tidak pernah membayangkan Rumah Sakit adalah tempat yang menakutkan seperti ini.

Ia berhenti disebuah pintu coklat. Mengatur denyut jantung dan nafas yang terengah. Perlahan, ia memutar kenop dan mendorong pintu kayu itu.

“Ki Bum Oppa!” mendengar suara orang yang dikhawatirkan seperti air yang menenangkan hati.
“Ji Young”

Ki Bum masuk keruang kamar rawat. Dengan cepat menghampiri Ji Young yang terbaring diatas satu-satunya ranjang yang ada disana. Perempuan itu terlihat sedikit pucat dengan rambut sebahunya yang tergerai berantakan. Kaki kanannya sepertinya patah sehingga harus digips dan disangga dengan kayu, menjaga agar tetap lurus.

“Apa yang terjadi?! Siapa yang berbuat?! Biar aku hajar orang telah membuat adikku seperti ini!!”
“Oppa tenang” Ji Young meraih tangan Ki Bum yang telah dalam posisi terangkat seperti akan menghajar orang “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Lagi pula aku korban tabrak lari jadi___”
“APA?! Kurang ajar! Kau ingat nomor plat mobilnya? Ciri-cirinya? Apa ada saksi mata? Kita harus lapor, aku benar-benar tidak terima!”
“Oppa!” Ki Bum menutup mulutnya yang hampir berkata lagi. Ji Young menghela nafas. “Percuma saja. Saat itu bukan dijalan raya, hanya ada aku”

Ki Bum menatap keluar jendela, memperhatikan taman rumah sakit yang diselimuti dengan salju putih menyilaukan karena terpantulkan sinar matahari.

“Lagi pula, kita harus segera pergi” kata Ki Bum “Kau tau berapa mahalnya kamar rawat VIP?”
“Oppa~ sebenarnya aku tidak minta dikamar rawat mewah seperti ini”
“Dikamar rawat mewah atau bukan, kita tetap saja tidak bisa membayar”

Ki Bum mengalihkan pandangannya lagi. Tidak tega pada Ji Young, harus meninggalkan rumah sakit dengan keadaannya yang seperti ini.

“Oppa, sebenarnya, sudah ada yang membiayai”
Mata Ki Bum terbuka lebar “Orang yang menabrakmu?” tebaknya.
“Bukan, akukan sudah bilang aku korban tabrak lari. Orang yang membiayaiku adalah orang yang menolongku. Dia yang membawaku kesini.”
“Si__”
“Ji Young, aku kembali”
“Ah Onnie!”

Belum sempat Ki Bum bertanya, perempuan muda membawa sebuah kantong plastik masuk keruangan. Rambut hitamnya tergerai, ia memakai celana jeans putih, memperlihatkan kakinya yang ramping dan panjang, sweater coklat muda dan topi kupluk wol berwarna putih. Ia tersenyum begitu cantik kearah Ki Bum, membuat pemuda itu menelan ludah.

“Anyeonghaseyo” kata gadis itu sambil sedikit membungkuk.
Ki Bum tidak balas membungkuk, ia justru terdiam, memandang wajah gadis itu lekat-lekat seperti barang antik.

“K-kau. Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ki Bum dengan gigi sedikit gemeretak.
“Ki Bum oppa, kau kenal Soo Jung onnie?” tanya Ji Young terkejut dan memandang ke arah oppanya.
“Soo Jung?” Ki Bum tidak melepaskan pandang matanya dari wajah gadis itu “Jadi namanya Soo Jung?”

“Ki Bum-shi” gadis bernama Soo Jung itu tersenyum kecil dan berkata lagi “apa kabar?”

“Terimakasih banyak!” Ji Young menunduk hormat kearah pelanggan paruh baya yang barusan keluar dari toko Bubur. Ia memutar gantungan besar bertuliskan ‘BUKA’ dengan tulisan ‘TUTUP’. Ji Young mendengus kasar ke arah dapur terbuka dimana ada Oppanya yang sedang menata mangkuk-mangkuk kayu dirak “Oppa, tadi itu sudah pelanggan terakhir! Ini sudah pukul lima sore. Kau mau sampai kapan didapur terus!?!”

Ki Bum menoleh dan tersenyum kecut “Kau ini kenapa sih? Akhir-akhir ini sukanya berteriak kepadaku? Tidak lihat aku sedang beres beres?!” ia membalikkan tubuhnya lagi dan mulai menata gelas, dan mangkuk ke rak.

Ji Young mendengus lagi. “Kau ini habis sakit oppa, tapi tetap saja memaksakan diri. Kalau Soo Jung Onnie sampai tau, bisa mati kau dicekik!”

Kreek *Suara pintu didorong
Ji Young memutar badannya, hampir membungkuk dan mengatakan bahwa ‘toko sudah tutup’, namun kemudian tidak jadi. Wajahnya malah terlihat sumingrah. “ONNIE~!!” jeritnya senang.

Ki Bum yang kaget mendengar ‘jeritan kebahagiaan’ Ji Young langsung berseru marah kepadanya dan melihat siapa yang datang “Ji Young! Kau ini berisik seka-!___ So-Soo Jung?”

Soo Jung masih berdiri di ambang pintu masuk toko, ia tersenyum ramah kearah Ki Bum dan memperlihatkan dua kantong plastik yang dibawanya sedari tadi. Entah apa isinya, dapat dipastikan berisi sesuatu yang hangat karena ada sedikit asap mengepul disekitarnya. “Kalian lapar?”

“Onnie, aku phikirl khau dhan Ki Bhum ophpha marlahan” ujar Ji Young dengan mulut sangat penuh, sehingga pipi chubynya bertambah ‘chubby’ menggemaskan. Lalu setelah beberapa kali mengunyah menelannya bulat-bulat. “Kalau kau melihat tingkah Ki Bum oppa dua hari ini, dia benar-benar seperti orang stress. Tadi malam bahkan ngelindur meneriakkan namamu keras-keras.”

Soo Jung memandang Ki Bum mencari kebenaran dari perkataan Ji Young. Tapi yang ada Ki Bum justru memakan lahap makanannya dan pura-pura tak mendengarkan.

“Onnie, terimakasih untuk makannya” kata Ji Young mulai menyindir. “Kalau kau tidak datang mungkin aku akan makan bubur lagi karena kakakku yang sangat tampan ini tidak bisa masak apapun selain membuat bubur”

Soo Jung tercengang mendengarnya
“Apa? Kalian punya toko bubur, bukan berarti akan selalu makan buburkan?”
“Ki Bum oppa, selain otaknya yang cukup pintar, keahliannya hanya membuat bubur onnie…” sindir Ji Young “Selain itu tidak ada yang beres, apalagi dalam masalah cinta…”

“Uhuk!”
Ki Bum tersedak. Ingin sekali ia menyumbat mulut Ji Young. Dia tidak bilang itu semua benar, tapi terkadang, perkataan Ji Young ada benarnya. Kecuali tentang dia yang tidak bisa memasak apapun selain bubur. Kalau soal masalah cinta, eh, Ji Young sepertinya benar.
“Dan, tadi Ki Bum oppa dengan___”
“Bisakah kau ganti topik pembicaraan lainnya?” kesal Ki Bum.
“A, tidak ada pembicaraan yang asik selain membicarakan-mu oppa” ucap Ji Young tanpa merasa bersalah. Ki Bum langsung mendelik tajam.

“Tadi, onnie,” terang Ji Young semangat tidak memperdulikan mata Ki Bum yang terus melotot kepadanya “Ki Bum oppa bahkan memanggil salah satu pelanggan dengan namamu___”
“Karena kau ngomel-ngomel soal bubur yang kubuat” potong Ki Bum sambil terus mengunyah. “Aku jadi tidak konsentrasi memanggil nama bibi Jung dengan Soo Jung

“Itu bukan alasan bagaimana kau salah memanggil nama pelanggan. Jelas sekali Bibi Im yang pendek dan sudah mempunyai satu anak itu berbeda jauh dengan Soo Jung Onnie yang tinggi, langsing, cantik dan manis. Lagi pula aku bosan dengan bubur oppa”

“Biar begitu, itu bubur cukup terkenal dikalangan pembeli”
“Tapi kalau makan tiap hari juga bikin eneg, oppa!”
“Dari pada tidak makan?!”
“Itu karena oppa pelit. Kau bisa membelikan Soo Jung onnie hadiah ulang tahun, tapi tak pernah mengajakkan makan enak!”
Ki Bum mendelik getir.
“Bubur makanan enak!”
“Tapi___”

“Sudah lah, kalian” Soo Jung menahan tawa melihat dua orang ini. “ayo habiskan makannya, keburu dingin”
Ki Bum dan Ji Young saling pandang, sudah siap melempar sendok masing-masing.
“Hey~~~, kalian tidak mungkin membiarkan aku menghabiskan semua ini kan? Ayo makan.” Bujuk Soo Jung gemas.

Ji Young melahap makanannya, mengunyahnya cepat dan langsung menelannya dalam waktu setengah detik.
“Onnie,” kata Ji Young ragu “Kau dan Ki Bum oppa tidak marahankan?” Hati Ki Bum langsung mencelos. Jantungnya terasa melorot. “Kalian sudah baikan? Kau tidak marahkan?”

Soo Jung menatap Ji Young dan Ki Bum bergantian, lalu tersenyum “Tidak, jangan khawatir begitu”

Ki Bum mengrenyit heran. Wajahnya panas, ia ingin ada yang menamparnya keras-keras untuk menyadarkan ini tidak mimpi. Apa Soo Jung benar-benar baik-baik saja setelah ia hujam dengan perkataan sembrononya?

“Benarkah?” kata Ji Young senang “Baguslah!” Ia menyenggol bahu Ki Bum, dan dengan polosnya berbicara “Oppa, kau tak perlu memimpikan Soo Jung onnie lagi malam ini”

Ki Bum tersedak lagi dan berhasil menyamarkannya dengan suara tawa paling garing yang pernah ia buat. “u-huk-hahaha.gifk-ha Lucu sekali kau bilang begitu Ji Youung, hahaha.gif-ha” Stelah itu menatap tajam Ji Young dengan tatapan kalau-kau-berbicara-lagi-ku-cekik-kau. Dan Ji Young membalasnya dengan tatapan terserah-aku!-Berani-apa-kau?!

“Ki Bum-sshi” tanya Soo Jung “Bukankah kau sedang sakit?”
Ki Bum tersenyum, ia ingin berbicara banyak. Menanyakan kabar, kalau perlu minta maaf, tapi yang ada, dia hanya mengeluarkan tiga kata. “Aku sudah sembuh” bahkan tidak ada ‘intonasi’ dalam pengucapannya.
“Onnie, aku sudah bilang padanya untuk tidak kerja dan libur hari ini. Kalau kau sampai tau, kau pasti akan mencekik Ki Bum oppa. Benarkan?” tanyanya ke Soo Jung.
“Tentu saja” jawab Soo Jung lembut membuat Ki Bum susah menelan kunyahannya. “Seandainya bisa, aku ingin menggantikan posisi sebagai orang sakit dari pada melihat diantara kalianlah yang sakit.”

Kreekk [suara pintu terbuka]

“Ya ampun Soo Jung!”
Ki Bum dan Ji Young tinggal mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang masuk, tapi Soo Jung harus menggerakkan seluruh badannya, karena ia duduk membelakangi pintu masuk.

“Kenapa kau tega sekali padaku? Aku mencarimu enam jam!! Sampai aku harus menggagalkan janjiku dengan klien! Kau tidak bilang padaku handphonemu rusak! Bahkan kau pura-pura lupa pukul dua sore tadi ada jadwal pemeriksaan. Dokter menyanyaiku dan mana bisa aku bilang kalau kau pergi! Kau___”

“Onnie!!” teriakan tegas Soo Jung menyadarkan Soo Yeon yang baru saja mengucapkan serentetan kata, seperti kereta api yang melaju kencang tanpa rem. Dua orang yang duduk dihadapan Soo Jung_Ki Bum dan Ji Young_ menatap kearahnya penuh keheranan dan kaget setengah mati. Nafasnya terengah-engah melihat raut wajah adiknya yang hampir menangis. Ia benar-benar merasa bersalah karena terlalu kelepasan bicara.

“Maafkan aku, tapi___” perkataan Soo Yeon terpotong, karena Soo Jung telah bangkit berdiri.

“Aku pamit dulu, kalian habiskanlah makanannya” ucap Soo Jung datar dan melewati tubuh Soo Yeon terlihat benar-benar marah.

Ki Bum bangkit berdiri ingin mengejar Soo Jung, namun Soo Yeon menahan pundaknya “Biar aku.” Dan setelah itu dibarengi suara hak sepatunya, Soo Yeon berlari keluar toko.

“Oppa, sebenarnya ada apa?” tanya Ji Young. Tapi Ki Bum hanya bisa mengangkat bahu lemah. Soo Jung-sshi, ternyata kau benar-benar merahasiakan ‘sesuatu’ padaku.

“Soo Jung!”

“Soo Jung!!” kali ini Soo Yeon berhasil menangkap tangan adiknya itu. Baru kali ini ia melihat Soo Jung semarah ini. “Aku tidak sengaja keceplosan didepan temanmu itu. Aku benar-benar letih.”

Soo Jung membalikkan badannya, memperlihatkan wajahnya yang basah karena air mata. “Onnie, kau janji padaku akan merahasiakannya! Jangan larang aku pergi lagi. Dan aku benci untuk pergi kedokter, hanya untuk mengetahui cepat atau lambat aku mati!!”

“SOO JUNG!!!” Soo Yeon memandang gusar adiknya “Jangan pernah berkata seperti itu! Pasti ada cara! Kau tak bisa hanya mengandalkan obat penahan rasa sakit!! Aku tak pernah melihatmu berputus asa seperti ini! Jangan membuatku takut!”

Soo Jung terisak kuat, mungkin kalau trotoar jalan saat itu sedang ramai, mereka berdua akan menjadi tontonan menarik. Tapi untunglah di tepi jalan itu yang terlihat hanya mereka berdua.

“Onnie, aku hanya ingin sedikit kebebasan” isaknya dan mulai menubruk Soo Yeon, menenggelamkan tangisannya ke pundak Onnienya. Soo Yeon memeluk Soo Jung penuh kasih sayang. Hingga beberapa saat kemudian Ia mengelus lembut kepala Soo Jung,

“Ayo pulang” Lalu menggandeng Soo Jung kearah mobilnya. Ia tau sekuat apapun Soo Jung kini, adiknya itu tak akan benar-benar kuat untuk menghadapi kenyataan.

***

Rumah itu benar-benar besar, sebesar lapangan sepak bola dengan halaman yang kira-kira seluas lapangan golf. Gaya Eropa benar-benar 100% diterapkan dalam tiap seluk beluk rumah. Langit-langitnya bergambar abstrak kuno menawan. Barang-barang marmer dari berbagai negara menghiasi pojok-pojok ruang. Di dekat tangga berlapis karpet merah lima orang pelayan wanita yang sebenarnya sedang bertugas berjalan mengantar makanan ke ruang makan malah terlihat bergosip seru.

“Kau kira Tuan Jong Hun akan kembali ke Pranciss?”
“Mana mungkin tuan besar Choi mengijinkannya? Lagi pula kau lupa? Tuan Besar bersikeras menjodohkannya dengan putri keluarga Jung”
“Kalian sudah lihat putri keluarga Jung?”
“Kau sudah pernah lihat? Dia pasti cantik!”
“Ya, Tentu, diam-diam aku melihat fotonya. Tapi seperti biasa Tuan Jong Hun kita yang terlalu bodoh untuk menolaknya. Ia lebih memilih para wanita murahan yang gampang untuk ditiduri di diskotik”
“Ah, Tuan Jong Hyun hanya bermodal tampang dan harta, kalau saja dia terlahir sederajat dengan kita, huh, aku juga tak akan mau”
“Aku tak menyangka para pelayan di rumah ini mempunyai waktu senggang untuk saling membicarakan sesuatu yang tidak pas-ti”

Jeder! Seperti ada petir dikepala masing-masing pelayan itu begitu melihat kedatangan manusia yang baru saja mereka bicarakan.

“Selamat siang Tuan Jong Hun” bungkuk mereka serempak
“Sekarang sudah pukul setengah delapan malam!” koreksi Jong Hun.
“Eh, selamat malam Tuan Jong Hun” mereka membungkuk lagi walaupun merasa yang mereka lakukan seperti orang bodoh.
“Terserah” Jong Hun berjalan gontai menuju meja makan diikuti lima pelayan tadi, ia menggeret mundur salah satu kursi, dan duduk diatasnya. “Mana Ayah?” tanyanya tegas pada jumlah total sepuluh pelayan yang ada disitu sambil menyendokkan sendiri nasi ke piringnya.
“Tuan besar sedang ada kerja, tuan mungkin satu jam lagi pulang”

Jong Hun menghela nafas pendek “Karena aku benar-benar capek, setelah ini aku mau tidur. Jadi katakan langsung saja nanti padanya, Aku akan menerima pertunangan dengan lapang dada dan aku beri waktu empat hari segera buat pertemuan sebelum aku berubah pikiran.”

Semua pelayan yang ada di situ saling pandang. Pertama mereka dikejutkan dengan kepulangan Jong Hun yang mungkin bisa mencetak rekor internasional ‘anak yang susah dibujuk pulang kerumah’ atau perlu dimuat dikoran pagi dengan tulisan judul besar-besar ‘Tuan Jong Hun, tanpa di geret, pulang kerumah sendiri’. Dan kedua, tuan Jong Hun mreka yang tak pernah serius dalam hal apapun, kini bicara dengan sangat serius ‘menerima pertunangan dengan lapang dada’. Ini adalah dua hal fantastic dan patut dibuat monumen sejarahnya.
***

Soo Yeon membawa segelas air putih dan sebotol kecil obat tablet di tangan kiri. Ia menggeser pintu kamar Soo Jung yang setengah terbuka. Di dekat jendela, seperti biasa ada adiknya yang menggunakan gaun tidur melihat keluar jendela.
“Soo Jung”

Soo Jung menoleh, “Onnie?” Ia tersenyum, wajahnya menandakan ia sudah terlihat lebih kuat.

“Obat” kata Soo Yeon meletakkan gelas diatas meja dan mengeluarkan sebuah tablet dari dalam botol “Ini” serahnya.

“Tapi kau sendiri yang bilang, aku tak boleh selalu bergantung pada obat penahan rasa sakit”
“Ini bukan obat penahan rasa sakit. Aku bilang pada dokter kau banyak pikiran dan cepat lelah. Dia menganjurkan aku memberimu ini. Semacam vitamin sepertinya, dia bilang merenggangkan saraf atau apa. Aku tak begitu mengerti.”
“Gomawo” kata Soo Jung lalu memasukkan tablet itu ke dalam mulutnya dan kemudian menengguk habis segelas air putih.

“Soo Jung” Soo Yeon tidak beralih dari tempatnya_bersandar di jendela, berhadapan langsung dengan Soo Jung_ “Maafkan aku terlalu lama menyimpannya, ada sesuatu yang harus kukatakan” Soo Jung menatap wajah Soo Yeon, siap menerima apapun yang kakaknya ingin katakan. “Perusahaan ayah sedang kritis” mata Soo Yeon panas “Dia ber-bersikeras melakukan ‘sesuatu’ untuk menyelamatkan perusahaan” Soo Jung tak mengeluarkan suara, memberikan waktu Soo Yeon untuk bicara lebih banyak “Dia mau mempertunangkanmu dengan anak tunggal keluarga Choi”

“Sejak pertama aku memperhatikan wajahmu aku sudah menebaknya. Begitu aku tau namamu, aku benar-benar yakin itu kau.”

“Sepertinya aku terlalu bodoh untuk menolak bujukan ayahku. Kau lebih manis dari yang di foto. Semuanya benar-benar serba kebetulan”

“Percaya atau tidak. Aku adalah calon tunanganmu

“Terserah kau ingin mempercayainya atau tidak.”

“Dan sekarang aku harus terpaksa mempercayainya” kata Soo Jung dalam hati.

“Maafkan aku, aku sudah mati-matian bilang ke Ayah kau sedang sakit keras. Tapi dia tetap dalam pendiriannya. Maafkan aku___”

“Onnie” Soo Yeon terbelalak, bukan karena Soo Jung memotong pembicaraannya, melainkan karena ekspresi adiknya itu begitu tenang. “Kalau bertunangan adalah hal yang bisa aku lakukan untuk Ayah, aku akan melakukannya.” Soo Yeon menatap sendu adiknya “Apa lagi kalau ini adalah hal terakhir yang dapat aku lakukan. Aku tak bisa mengecewakannya.”

Bibir Soo Yeon gemetar hebat, Andai saja Ayah tau, apa yang barusan saja kau katakan. Kalau saja ayah tau seberapa banyak waktu yang telah kau korbankan. Ya Tuhan, kenapa hidup begitu tidak adil bagi adik kandungku sendiri? Kenapa?!

Soo Yeon memeluk hangat Soo Jung, mendekapnya seerat mungkin, “Maafkan aku. Aku benar-benar kakak yang tidak berguna” isaknya.
“Tidak, ada Onnie yang selalu menemaniku itu sudah cukup” kata Soo Jung serak “bagiku benar-benar sudah cukup. Gomawo”
***

Jong Hun menghempaskan tubuh ke tempat tidur empuknya. Diambilnya pigura kecil diatas rak kayu ramping disamping tempat tidur. Ia memperhatikan foto pigura itu, ada sosok Jong Hun terlihat berkharisma dengan tuxedo putih, ia sedang merangkul mesra pinggang seorang wanita manis berambut panjang tersenyum kearah kamera, ia mengenakan gaun putih berhias lekukan-lekukan kain membentuk ratusan bunga mawar putih menawan. Foto ini diambil, seminggu sebelum hari pertunangan mereka.

“Ji Won” kata Jong Hun menerawang “Akhirnya aku menemukan wanita yang mirip denganmu. Bibirnya manis menggoda, tiap kali mengecupnya membuatku tambah menginginkannya. senyumnya tulus, matanya indah. Setiap perkataannya benar-benar bisa membuatku tergugah.”

“Kau orang baik Jong Hun-sshi”

“Mana mungkin aku membenci laki-laki sebaik dirimu?”

“Dia seperti kau, menganggap aku orang baik.” Kata Jong Hun

“Aku tau kau tidak akan pergi jauh dariku. Didalam dirinya ada kau. Aku berjanji akan menjagamu. Tak akan pernah kubiarkan Min Ho merebutmu untuk yang kedua kali. Tidak akan pernah”
***

Ki Bum turun dari tangga kayu kecil, dengan penglihatan yang masih kabur untuk bisa mengambil sebuah gelas dengan benar. Hari masih pagi, bahkan teriakan Ji Young yang kesal membangunkannya belum terdengar, mungkin adiknya itu masih mendengkur nyaman dibalik selimutnya. Ia mengambil segelas air putih dan langsung diteguk habis.

Tok Tok Tok

Dengan lunglai dan lemas, Ki Bum berjalan kearah pintu depan. Ia mengambil kunci yang tergantung disamping pintu, memasukkan kedalam lubang kunci dan memutarnya perlahan. Ia menekan kenop pintu dan menarikknya.

“Ki Bum-sshi” Ki Bum memperhatikan wajah tamu itu baik-baik. Yang jelas dia berambut panjang, tubuhnya wangi. Tapi Ki Bum masih tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. “Kau masih mengantuk?” wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya. Ki Bum sekarang sadar, siapa itu. Dan begitu tau itu siapa, bukannya berbicara ia justru menganga. “Kau mau sampai kapan membiarkanku berdiri disini?”

“A?” Ki Bum menggaruk kepalanya, mundur satu langkah mempersilahkan wanita itu masuk kedalam rumah “Soo Jung-sshi, mau apa kau kemari pagi-pagi begini?”

“Ki Bum-ah, kau ini lupa ya kalau hari ini ada sekolah?”

Ki Bum menggeleng “Tidak. Tentu saja aku ingat. Tapi untuk apa kau___” Ia tidak melanjutkan kalimatnya begitu memperhatikan dengan benar Soo Jung tengah mengenakan seragam sekolah sekarang.

“Sebaiknya kau bersiap-siap. Aku membawa sandwich untuk kau dan Ji Young”

Ki Bum memandang lekat-lekat wanita yang sedang berjalan disampingnya. Sudah memasuki halaman sekolah, tapi sedari tadi Jung Soo Jung, ia terus tersenyum dan agak mendongak membiarkan wajah pucatnya ditimpa cahaya matahari, membuatnya bagaikan bidadari yang bercahaya. Parasnya lembut, terlihat begitu nyaman mendengarkan lagu-lagu klasik yang ada di I-podnya. Kalau sudah begini, Ki Bum benar-benar ingin mengganggunya.

“Hey kembalikan tasku!” Soo Jung berteriak kesal saat kebiasaan Ki Bum sudah mulai berjalan seperti biasa. Ia melepas headshetnya,mengumpulkan semua kekuatan yang ia miliki untuk menghadapi kejahilan Ki Bum. “Ki Bum!” Soo Jung berlari mengejar Ki Bum, tapi pemuda itu tiba-tiba berhenti, sehingga Soo Jung yang tidak bisa mengerem kecepatannya langsung menubruk punggung Ki Bum sangat keras. Ia mundur terhuyung kebelakang dan duduk terjatuh.

“Soo Jung-sshi!” Ki Bum panik, dengan cepat merangkul pundak Soo Jung membantu gadis itu berdiri. Tapi ada tangan lain, tangan lain yang juga merangkul pundak Soo Jung. Wajah orang itu sama paniknya seperti Ki Bum.

“Kau baik-baik saja?” tanya orang itu benar-benar lembut dan halus, begitu melihat dengan jelas, Ki Bum mengenal siapa laki-laki ini, Choi Min Ho. Ki Bum kaget setengah mati melihat kedatangan Min Ho yang begitu cepat, padahal sedari tadi ia tidak melihatnya. Dan yang membuat ia tambah tercengang adalah perubahan Min Ho yang tak terlihat emosi seperti beberapa hari lalu.

Soo Jung menatap heran kearah Min Ho dan berkata tenang. “Aku-aku baik baik saja”
“Kau yakin?” tanya Ki Bum setengah tidak percaya.
“Iya, jangan panik begitu” Soo Jung menelan ludah dengan susah payah “A-aku baik-baik saja”

Soo Jung mencoba berdiri sendiri, baru beberapa detik sudah hampir jatuh dan lagi-lagi tangan Ki Bum dan Min Ho lah yang menopang pundaknya.

“Hey, aku baik-baik saja” kata Soo Jung berusaha terlihat sehat “Aku tadi hanya terjatuh biasa”

Tak ada yang berbicara diantara mereka bertiga. Yang membuat Soo Jung risih adalah posisi wajah Ki Bum dan Min Ho yang terlalu dekat dan jika bertambah lama lagi bisa-bisa ditegur murid lain atau guru, maka ia cepat cepat berkata lagi “Ki Bum-ah, a-ayo ke kelas”

Min Ho menatap gadis yang tengah ia rangkul ini dengan penuh tanda tanya karena nama ‘Ki Bum’ lah yang terucap pertama kali oleh Soo Jung.

“Gomawo, Min Ho-sshi” gumam Soo Jung tulus.
Min Ho melepas rangkulannya dengan beribu keraguan dalam benaknya. Ia ingin melindungi gadis yang ia suka. Ia ingin menemani Soo Jung.

Min Ho menatap punggung Soo Jung nanar.

Bukan namanya yang terucap pertama kali. Bukan dia yang tengah merangkulnya sekarang. Bukan dia yang bisa setengah hari menemaninya. Bukan dia. Bukan seorang Choi Min Ho. Kenyataan ini menghantam dadanya begitu kuat.

Soo Jung-sshi, aku benar-benar tak mengerti. Sebenarnya, bagaimana perasaanmu padaku?

-TBC-

THX readers!
jgn lupa check BLOG ku yup!

http://okta139.blogspot.com/2011/08/judul.html

comment jgn lupa ^^
gomawo


7 thoughts on “Happy Ending 8-9

  1. Alhamdulillah yah, akhirnya dipost juga… Makin pnsaran bget nihhh., sumpah gue klw bc ff ini kyk mnghyati gt.. Aduhh kerenn dahhh pkokx.. Top bwt author🙂
    Tp postx jgn lama2 donk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s