[Two-Shots] Y for (Forever) Part 2 – End


Genre : Two-shots, Romantic Comedy, Romance

Rating : PG-15

Word Counts : 8,041

Note : Hai again semuanya!! Finally, I’m back!!! kkk. Well, sebenarnya cerita di part selanjutnya ini mungkin hanya sedikit keterkaitannya dengan lagu Y, karena ff yang berdasarkan lagu Y sudah kutulis jauh sebelum lagu itu dirilis. kk. Kurasa sebagian dari kalian sudah membaca fanficnya. hhhe.

Sebenarnya aku ingin membagi part ini menjadi dua part lagi, mengingat ceritanya yang lebih panjang dari part sebelumnya. So, jika kalian merasa cerita terlalu panjang sehingga membosankan, katakan padaku ya!! hhhee. Dan aku juga awalnya ingin menambahkan beberapa scene yang lebih romantis, tapi mengingat beberapa pembacanya masih dibawah umur. Hhhee. Jadi seadanya saja. kkk.

Happy Reading All!!

Y For (Forever) Part 2

Yoona x Donghae

Laki-laki itu pun lekas melepaskan jas yang dikenakan, lalu mengibas-ngibaskannya untuk menjauhkan gerombolan penyengat yang tadi menyerang Yoona. Donghae segera memberikan perlindungan dengan mendekap gadis itu.

“Hwae Oppa!!” Yoona merengek seperti anak kecil dengan raut wajah memelas dan pupil membesar memohon kasih.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini?” Tanya Donghae sambil melipat lalu menaruh jas di pergelangan tangannya setelah mengetahui keadaan sudah aman.

“Ah, aku?” Yoona pun kebingungan, digigitnya bibir untuk menghilangkan rasa gugup. Matanya pun lekas berputar sementara otaknya mulai berpikir untuk mencari alasan.

“Apa kau membututiku?” Terka Donghae lalu tersenyum nakal.

“Tentu saja tidak.” Elak Yoona segera dengan nada melengking, Ia masih coba meninggikan harga dirinya meskipun sudah tertangkap basah. “Kebetulan aku pernah berjanji pada abonim bahwa aku akan selalu datang untuk berjiarah ke makamnya . . . Jadi . . .” Gadis itu berbelit-belit. “Hwae Oppa sendiri? Apa yang Oppa lakukan di sini?” Ia tak mau kalah.

“Tentu saja aku ingin menemui Abeoji, sebagai seorang anak sudah seharusnya aku berjiarah ke makam Appa.” Jelas Donghae diiringi tawa kecil melihat wajah Yoona yang coba datar untuk sembunyikan sesuatu.

“Aww!!” Gumam Yoona sambil mengelus punggung telapak tangannya yang terkena gigitan penyengat. Ia tampak merintih pelan untuk menahan gatal juga sakit yang mulai menjalar.

“Kau baik-baik saja ‘kan?” Donghae memastikan.

“Tidak apa-apa. Hanya sedikit gigitan kecil, kalau Oppa yang mengigit baru aku harus segera diilarikan ke rumah sakit.” Jawab Yoona disertai guyonan.

Donghae pun menyambutnya dengan tawa kecil. “Kemarilah, biar aku lihat!” Lekas ditariknya paksa tangan Yoona.

“Sepertinya cukup sakit, bukan?” Tukas Donghae turut prihatin melihat tangan gadis itu semakin merah dan bengkak.

“Tidak apa-apa.” Sahut Yoona segera lalu mengambil tangannya kembali.

“Ah, cincin ini!!” Mata Donghae beralih pada cincin yang melingkar di jari manis Yoona.

Gadis itu lupa untuk melepaskan cincin itu saat berangkat ke Mokpo, Ia begitu tergesa-gesa membuatnya malu dua kali karena kejadian bodoh itu. “Oh, ini.”

“Kau masih menyimpannya?” Donghae bertanya dengan tatapan matanya yang sayu.

Sambil melipat bibirnya, Yoona pun mengangguk untuk mengiyakan seraya merautkan wajah polosnya. “Bagaimana pun cincin ini masih milikku, jadi terserah apapun yang aku perbuat. Itu bukan urusanmu, Oppa.”

“Terserah kau saja.” Sahut Donghae dingin. “Kalau begitu pulanglah ke rumahku, kebetulan sekarang sudah hampir malam.” Sambungnya lagi sambil mendongak sekilas menatap langit.

Yoona pun hanya bisa meringis kecil memperlihatkan giginya.

Mereka lekas menuruni bukit dengan berjalan beriringin dengan Yoona di belakang mengikuti. Donghae pun hanya bisa menyimpan senyum simpulnya juga aura bahagianya di balik wajahnya yang datar tak ada ekspressi.

Kerikil-kerikil yang menutupi bukit pun mereka lalui dengan hati-hati, Donghae pun tak segan untuk menawarkan tangannya menolong Yoona menuruni tangga untuk sampai ke dermaga. Mereka tersentak dengan mata terbelalak, mimik wajah mereka pun tak dapat terbaca. Mereka celingukan melihat kesana-kemari, terkejut menemukan tak satupun lagi kapal penyebrangan yang tersisa dan hanya tertinggal mereka berduaan di pulau kecil itu.

“Kemana semua orang? Bukankah tadi masih ada beberapa kapal yang belum berangkat?” Pikir Donghae.

“Sepertinya semuanya sudah pergi, Oppa.” Jawab Yoona ragu.

“Aish, Bagaimana sekarang?” Desah Donghae. “Apa yang harus kita lakukan?” Tanyanya. “Ah, mungkin sebaiknya aku meminta Donghwa Hyung untuk menjemput kita.” Raut wajahnya yang tengah kebingungan itu pun kembali berubah cerah sesaat setelah mendapat ide. Dirabanya segera kantong celana mencari keberadaan i-phone namun tak ditemukan, “Disini rupanya!” Serunya lagi mengingat i-phone itu tersimpan di dalam saku jasnya.

Jari telunjuknya pun lekas beradu dengan layar i-phone, ditekannya segera angka no. 2 untuk panggilan cepat kakak laki-lakinya itu. Sambungan terputus karena sinyal yang tak mulus. Keningnya pun lekas dikernyitkan, “Argh, apa-apaan ini?” Gerutunya.

“Ada apa Oppa?” Yoona dengan cepat mengerti tingkah Donghae yang tengah kesal.

“Sepertinya kita tidak bisa melakukan panggilan.” Sahut Donghae.

Yoona lekas menghela dan menghembuskan napasnya melalui mulut, bibir pun dilipat menggambarkan jelas kegelisahannya.

“Tunggu beberapa menit lagi, pasti akan ada kapal yang lewat. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Donghae sambil memegangi pundak Yoona lalu tersenyum dengan lembutnya.

Yoona segera membalasnya juga dengan senyuman. “Sepertinya sudah lama kita tidak berdua saja seperti ini, Hwae Oppa!” Ungkapnya membuka kembali cerita lama.

Sekejap sikap Donghae yang tadi hangat berubah dingin dan tatapan matanya pun berubah sinis. Dijauhkannya segera tangannya dari pundak Yoona, lalu berdeham. “Sebaiknya duduk dulu sebentar selagi menunggu kapal penyebrangan datang.” Ucapnya mengalihkan pembicaraan lalu duduk di tepian dermaga sambil menjuntaikan kakinya ke bawah, mengayun-ayun di atas air laut yang jernih.

Yoona pun lekas menyusul lalu duduk di sampingnya juga dengan menurunkan kakinya lurus ke bawah. Mulutnya bungkam, Ia tak mau lagi mengawali pembicaraan karena takut salah obrolan.

“Bagaimana kabarmu?” Tiba-tiba Donghae mengejutkannya, pandangan laki-laki itu masih lurus ke depan masih dengan jas yang tak dikenakan dan sekarang berada dipangkuannya.

“Seperti yang Oppa lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Yoona singkat sambil melihat pelabuhan yang jauh di seberang sana.

“Syukurlah!” Donghae tampaknya enggan untuk terus berbasa-basi.

“Hwae Oppa!” Panggil Yoona.

Donghae pun lekas menoleh ke arahnya, matanya berkedip sebagai isyarat jawaban atas panggilan itu. “Kenapa?”

Sejenak Yoona pun terdiam, ditatapnya mata Donghae yang teduh barang sejenak. Bibirnya pun terasa kaku dengan lidah yang seakan diberi paku dan hatinya tengah meragu untuk meneruskan kalimat yang kata-katanya kusut seakan tengah bergelut dengan air ludah dalam tenggorokannya. “Aku hanya ingin katakan bahwa aku sangat merindukanmu.” Batinnya. “Ah, tidak ada apa-apa.” Ia pun berkilah lalu kembali mengalihkan matanya.

Perlahan tetesan air dari langit pun jatuh dengan lembut di atas kepala keduanya, rintikan air hujan itu semakin tampak saat menyentuh laut dan membuat pusaran kecil. “Asih, Kenapa tiba-tiba saja hujan!” Gerutu keduanya lagi lalu bergegas bangkit dari duduk dan berlari dengan sigap mencari tempat bernaung.

Terhenti kaki mereka di salah satu gua yang tak begitu lebar sisinya, mereka segera berteduh barang sejenak sambil menanti hujan reda. Langit yang tadi hanya gelap kinipun semakin pekat, terdengar suara binatang malam juga kodok yang gembira menyambut datangnya hujan.

Yoona lekas mengibas-ngibaskan tangannya yang basah, lalu melepaskan karet rambut warna merah yang tadi menguncir rambutnya kemudian membiarkannya terurai. Donghae pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencuri pandang melihat pemandangan yang membuat hatinya kembali berdebar-debar persis seperti saat pertama kali Ia jatuh cinta pada gadis itu.

“Aish . . .  semoga saja hujannya cepat reda.” Desah Yoona lalu menengok ke arah Donghae yang lekas mengalihkan tatapannya agar tak ketahuan.

Donghae perlahan meneguk liurnya, tampak Ia yang mulai grogi. “Tentu saja. Hujannya pasti akan segera reda, tidak mungkin selamanya kita akan berada disini.” Sahutnya asal.

“Sebenarnya aku berharap agar Tuhan tak segera menghentikan hujan ini, Oppa.” Doa Yoona dalam hatinya. “Aku rasa ini adalah jawaban dari Tuhan juga bantuan dari Abeonim agar kau dan aku bisa bersatu lagi karena pada dasarnya kita memang sudah semestinya bersama.” Tambahnya lagi lalu tersenyum penuh makna.

“Ya!! Apa yang kau lihat?” Sontak Donghae mengejutkan Yoona dari lamunannya.

“Itu! Sepertinya ada noda yang menempel di pipimu.” Yoona berkilah.

“Benarkah?” Donghae tak percaya lalu menyentuh pipinya untuk memastikan.

“Sini, biar aku bantu!” Yoona dengan senang hati lalu membersihkan pipi Donghae.

“Argh, sudahlah hentikan!” Pinta Donghae sinis sambil menepuk tangan gadis itu pelan.

Yoona lekas menyimpan tangannya lagi sambil mengerucutkan bibirnya mendapati sikap Donghae yang begitu kasar padanya. Tampak gadis itu yang mulai kedinginan lalu menggosok-gosokkan tangannya lalu meniupnya agar terasa hangat. Donghae yang berdiri tepat di sampingnya merasa prihatin, tergambar jelas dari raut wajahnya yang simpati. “Ini!” Ucapnya sambil menyodorkan jasnya.

“Oppa sendiri bagaimana?”

“Aku baik-baik saja.”

“Sebenarnya . . . dibandingkan Oppa, daya tahan tubuhku ini lebih kuat. Itu sebabnya aku tak gampang sakit.” Yoona membanggakan dirinya.  “Jadi, sebaiknya Oppa saja yang mengenakan jas ini.” Tolaknya halus lalu merasukkan jas itu ke tubuh Donghae.

“Apa kau yakin?”

Yoona pun lekas menjawab dengan menanggukkan kepalanya mantap. “Tentu!! Aku adalah Strong Im Yoona!” Tambahnya sambil mengangkat lengannya.

“Kalau begitu, kita berdua saja.” Donghae lekas mencengkram lembut bahu Yoona, lalu menarik dan membenamkan tubuh gadis itu dalam dekapannya. “Bukankah seperti ini lebih baik?” Bisiknya.

Yoona pun hanya tersipu mendapati sikap Donghae yang dari tadi terus saja berubah-ubah layaknya bunglon yang terus berganti warna. Sejenak mereka pun tenggelam dalam suasana hening dimana kedamaian menyelimuti malam yang dingin, sambil berdiam diri menatap langit dari dalam gua yang gelap ditemani cahaya dari layar i-phone yang menerangi.

융 ♥ 훼

Langit semakin gelap dan tak ada satu pun bintang yang menampakkan dirinya dari balik awan yang mendung. Angin sejuk pun terus saja berhembus, guruh gemuruh berdesis di telinga. Hujan yang tadi lebat pun perlahan reda, meninggalkan genangan di jalan yang berlubang. Tetesan air dari dahan pepohonan juga dedaunan pun dapat terdengar jelas suaranya.

“Wah, Syukurlah hujannya sudah berhenti!” Yoona beranjak dari dekapan Donghae lalu keluar dari gua sambil menadahkan tangannya untuk memastikan. Ia segera berbalik untuk melihat ke arah Donghae yang masih terpaku di dalam gua, “Ayo, Oppa! Kita pulang!” Ajaknya.

Sekejap raut wajah laki-laki itu kembali sinis, sikapnya pun begitu dingin melebihi dinginnya udara di malam itu. Kakinya segera dilangkahkan cepat menuju dermaga, Yoona pun lekas mengekor di belakang agar tak ketinggalan.

“Dasar aneh!” Cibir Yoona.

Meskipun volume bicara Yoona pelan tapi Donghae masih bisa mendengar apa yang gadis itu telah katakan. Namun Ia tak mau menanggapi, tetap sibuk pada apa yang ada dalam pikirannya sendiri.

Tangan segera mereka lambaikan saat mendapati sebuah perahu tengah berlayar. Perahu itu lekas mendekat, seorang pria paruh baya yang duduk sambil mendayung pun langsung berdiri. “Apa yang kalian lakukan di pulau ini?” Tanya segera Kakek tua itu.

“Kami ketinggalan kapal.” Jawab Donghae. “Apa boleh kami menumpang untuk sampai ke seberang?”

“Naiklah!” Kakek itu mempersilahkan.

Yoona dan Donghae beranjak dari dermaga lalu duduk manis di atas perahu yang bergerak tanpa mesin dan hanya menggunakan kekuatan tangan. Donghae tak mau tinggal diam, dibantunya sang pemilik perahu dengan ikut mendayung pelan menuju pelabuhan.

Yoona mulai melirikkan matanya untuk melihat isi perahu kecil itu, ada beberapa lembar jaring juga seember ikan hasil tangkapan di dalamnya. Senyum kecil pun merekah menghiasi sambil memandangi wajah Donghae dari samping. Aura terang seperti tengah menjadi perisai yang melindungi laki-laki itu.

Donghae lekas berbalik, menyadari seseorang tengah menatap begitu dalam ke arahnya. Yoona pun segera mengalihkan perhatiannya dengan memandangi langit malam yang perlahan cerah.

Tak butuh waktu lama, kaki mereka sudah berpijak di pelabuhan. Dibungkukkan segera punggung sebagai ucapan terimakasih pada sang Kakek yang kembali sibuk dengan perahu yang baru dilabuhkannya.

Mereka pun segera beranjak dari pria paruh baya yang baik hati namun tak diketahui namanya itu. Mereka kembali melangkah maju lalu perlahan mendaki gunung menggunakan tangga jalanan agar cepat sampai di lereng.

Langkah Yoona terhenti seketika mendapati tanjakan yang tinggi, “Woah!!” Serunya. “Apa kita harus berjalan kaki untuk sampai di rumahmu, Oppa? Kenapa jauh sekali? Apa tidak ada kendaraan lain yang memudahkan kita agar segera tiba disana?” Gerutunya.

“Bukankah sebelumnya kau pernah ke sini, apa kau sudah lupa?”

“Tapi seingatku, jarak yang harus ditempuh untuk sampai di rumahmu tidak sejauh ini.” Keluhnya.

“Ah, sudahlah. Cepat jalan dan jangan banyak protes!!” Perintah Donghae kasar.

Raut wajah Yoona pun cemberut seketika, “Huhf!!!” Ia menghela napasnya dari mulut.

“Lagipula kau kan tidak mengenakan high heels melainkan sneaker, jadi tidak sulit untuk menaiki tanjakan.” Nada bicara Donghae kembali berubah lembut seketika saat mendapati Yoona yang tak henti-hentinya mengeluh. “Kecuali kalau kakimu sakit, baru aku akan menggendongmu sampai ke atas.”

Yoona pun tersentak mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut Donghae, “Menggendongku? Benarkah Oppa?” Ia begitu riang lalu bertanya untuk memastikan.

“Sudahl! Cepat jalan!” Lagi-lagi Donghae mengalihkan topik pembicaraan dan bergegas menaiki tanjakan untuk menghindar.

Gadis itu pun segera mengatur siasat dan berpikir sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia pun berpura-pura dengan meronta-ronta perih sambil membungkuk lalu memegangi pergelangan kakinya yang tak sakit. “Aw!! Sakit!!” Pekiknya.

“Kenapa?” Donghae lekas berbalik lalu menghampiri untuk mencari tahu. Ditekuknya segera lutut kanannya untuk memastikan keadaan Yoona yang sebenarnya tidak apa-apa. “Ada apa?” Kedua alisnya pun terangkat melengkung untuk menunjukkan kekhawatirannya.

“Tiba-tiba saja kakiku sakit, Oppa.” Yoona dengan nada manja dan wajah memelas memberitahukan.

“Aish, Yoong!!” Donghae tak percaya lalu menatap tajam ke dalam mata Yoona.

Kedua pupil mata gadis itu membesar dan bibirnya melengkung ke bawah memohon kasih dan aktingnya pun terlihat lebih sempurna. “Sungguh, kakiku benar-benar sakit.” Tegasnya masih dengan nada bicara yang sama.

Donghae lekas menyentil dahi gadis itu, “Bilang saja kalau kau minta digendong!!!”

“Tapi Oppa . . .” Yoona terus saja bergeming. “Aku benar-benar sangat lelah dan kakiku juga sakit.” Keluhnya.

Donghae memutar tubuhnya, “Naiklah!” Perintahnya lagi sambil menawarkan punggungnya.

Yoona tersenyum gembira menyambutnya, namun senyum itu lekas disembunyikan di balik wajah pilunya agar kebohongannya tak terungkap. Segera dicengkramnya bahu laki-laki itu, lalu menaiki punggungnya.

Donghae pun lekas menggendong gadis itu lalu berjalan menaiki tanjakan. Sementara Yoona lekas melingkarkan kedua tangannya di pundak laki-laki itu untuk berpegangan. Hatinya yang tadi kesal juga rasa lelah yang tadi bersinggah sirna seketika, namun semua itu berhasil ditutupi dengan mimik wajah pedihnya yang masih dalam kepura-puraan.

“Yoong!!” Panggil Donghae.

“Kenapa?” Sahut Yoona.

“Sepertinya tubuhmu semakin berat saja.”

“Benarkah?” Yoona memiringkan kepalanya maju. “Padahal meskipun aku makan banyak tapi tubuhku tidak akan pernah gemuk.” Jelasnya.

“Kau memang tidak akan pernah gemuk, tapi tulang-tulang di tubuhmu semakin berat.” Ejek Donghae.

“Apa!!!” Yoona geram.

“Benar. Sepertinya yang kugendong sekarang bukanlah manusia melainkan hanya kerangka tulangnya saja.” Donghae tak henti-hentinya meledek.

“Ya!! Hwae Oppa!!” Yoona tak terima. Segera ditepuknya beberapa kali pundak Donghae untuk meluapkan amarahnya.

“Ya!! Jangan bergerak, nanti kau jatuh.” Pinta Donghae lantang lalu tertawa lepas. “Aku hanya bercanda.”

“Hanya saja Oppa sangat keterlaluan.”

“Maafkan aku, maafkan aku!!” Donghae coba meredakan emosi Yoona yang meledak-ledak lalu tersenyum tipis untuk mengakhirinya.

Suasana pun kembali hening, keduanya kembali terdiam dengan bibir yang terkunci rapat. Yoona lekas berdeham untuk meleburkan kecanggungan, sementara Donghae masih fokus pada arah jalan yang ditempuhnya. Gadis itu pun segera turun dari punggung Donghae setibanya mereka di halaman depan rumah kediaman keluarga Lee. Nyonya Lee bergegas keluar untuk menyambut kedatangan keduanya.

“Yoona!!”

Namanya dipanggil pertama kali, gadis itu pun lekas membungkukkan punggungnya untuk memberi hormat. “Apa kabar!!” Mantan calon mertuanya itu lekas memeluknya dengan perasaan senang.

“Tapi, bukankah Donghae bilang kau masih berada di Jepang?” Ungkap Nyonya Lee.

Donghae pun tersedak mendengar pertanyaan itu, segera Ia melihat ke arah Yoona yang sudah siap dengan jawabannya.

“Kebetulan aku ingin memberikan kejutan untukmu Eommonim.” Yoona meringis.

“Ah, kau ini memang benar-benar calon menantuku yang paling manis.” Nyonya Lee sambil mencolek dagu Yoona. “Ayo masuk!!” Ia pun mempersilahkan.

Donghae menggaruk telinganya lalu merapikan rambutnya yang tadi acak-acakan karena terkena air hujan. Ia pun lekas mengekor di belakang mengikuti kedua perempuan yang sangat berharga dalam hidupnya itu.

융 ♥ 훼

Satu persatu hidangan makan malam disajikan ke atas meja, semua tampak lezat dan terlihat begitu mewah. Aromanya yang sedap pun tercium hingga keluar rumah. Disana sudah menunggu Donghae dan kakaknya Donghwa yang duduk bersila, di hadapan mereka juga tampak sang Ibu yang sibuk mengatur ulang posisi mangkok dan sumpit.

Perlahan Yoona menampakkan batang hidungnya dari balik pintu kamar sambil mengenakan piyama warna putih milik Donghae yang dipinjamnya. Piyama itu tampak kebesaran di tubuhnya, namun sangat pas untuk ukuran tinggi badannya. Semua pasang mata pun lekas melihat ke arahnya, tak ketinggalan juga Donghae yang sudah tak sabar lagi untuk menyantap sup kedelai dan ikan tuna di hadapannya.

“Yoona, kemarilah!!” Panggil Nyonya Lee segera, mempersilahkan gadis itu untuk duduk disampingnya.

Yoona pun tersenyum menyambut kehangatan wanita yang sudah dianggapnya seperti Ibunya sendiri itu. Ia pun tanpa segan lekas duduk berhadapan dengan Donghae.

“Apa tanganmu yang terkena gigitan penyengat tadi sudah kau oleskan minyak kayu putih?” Wanita paruh baya itu masih cemas.

“Oh sudah! Sekarang tanganku sudah baikan.” Ia seraya menunjukkan punggung tangannya.

“Wah, syukurlah! Ayo kita makan!” Ajak Nyonya Lee.

“Aku akan makan dengan lahap.” Serentak mereka melahap berbagai jenis masakan khas mokpo yang berbahan dasar ikan. Makanan laut yang dimasak dengan bumbu pedas itu pun mampu menghentikan perut yang tadinya terus saja keroncongan.

“Lama tidak bertemu, menantu kita ini semakin cantik saja.” Puji Nyonya Lee sambil membelai rambut Yoona.

Yoona tersipu malu, “Terimakasih.” Sahutnya segan.

Donghae tak banyak bicara, raut wajahnya terus saja dingin. Ia pun hanya bisa melototkan matanya ke arah Yoona, sambil mengigit geram buah apel pencuci mulut sehabis makan.

“Maafkan aku karena tidak sempat membelikan oleh-oleh apapun untukmu, Eommonim!” Gumam Yoona.

“Tidak apa-apa. Tak perlu khawatir! Melihatmu menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat ini saja, aku sudah sangat senang.” Sahut Nyonya Lee gembira.

Perbincangan itu pun terus saja berlanjut dan tanpa terasa waktu berlalu semakin larut. Suasana ruang makan pun sekejap berubah sepi, bahkan bayang tubuh mereka pun sudah tak terlihat lagi.

Yoona lekas berbaring di atas ranjang yang empuk ditemani Nyonya yang telah tertidur nyenyak di sampingnya. Sama halnya seperti gadis itu Donghae juga merebahkan tubuhnya di atas kasur lembut ditemani sang Kakak. Keduanya di kamar yang berbeda, saling menatap langit-langit plavon barang sebentar untuk berpikir sejenak.

“Yoong!!” Desis Donghae bicara pada dirinya sendiri. “Aku harus bagaimana agar kau tak kembali ke sisiku lagi. Aku tak mau menyakitimu atau pun membuatmu menangis seperti waktu itu. Cukup sudah aku melukaimu, tapi kenapa kau tak juga jera.” Pertanyaan-pertanyaan itu merasuki benaknya.

“Tentu saja jawabannya hanya satu, Hwae Oppa.” Yoona juga bicara seorang diri. “Karena kita masih saling mencintai.” Batinnya. “Aku tak akan pernah biarkan egomu itu mengalahkan rasa cintamu padaku.” Bisiknya dalam hati. “Terimakasih Tuhan untuk semua ketentuan yang berawal dari sebuah kebetulan yang indah di hari ini.”

Kelopak mata kedua sejoli yang masih saling mencintai itu pun perlahan dipejamkan, perlahan juga mereka mulai terlena lalu tertidur dengan lelapnya di bawah sinar sang rembulan yang membias masuk melalui kaca jendela yang tirainya terbuka

융 ♥ 훼

Terdengar suara ayam berkokok berkali-kali untuk membangunkan para manusia yang masih tertidur dengan tentramnya dalam dekapan selimut tebal nan hangat. Tampak bekas air liur yang kering menempel di sudut bibir dan pipi Yoona, gadis itu kelihatannya lelah sekali setelah perjalanan jauhnya dari Seoul menuju Mokpo.

Dengan berat, tubuhnya bangkit dari ranjang lalu mengeliat malas. Masih dengan posisi duduk, segera dikuceknya kedua matanya untuk memperjelas penglihatan yang buram. “Woah!!!” Dibiarkannya mulutnya menguap dengan lebar. “Jam berapa sekarang?” Lekas kepalanya melirik kesana-kemari untuk mencari keberadaan jam. “Wah!! Sudah jam 7 pagi!!” Pekiknya. Bergegas Ia beranjak dari tempat tidur lalu keluar dari kamar itu sambil melenggokkan lehernya yang kaku beberapa kali.

Tak ditemukannya siapapun yang berlalu-lalang di sekitar koridor rumah. Lekas digesernya pintu untuk mencari keberadaan para penghuninya. Yoona masih dengan rambut yang belum disisir lalu berjalan menuju dapur dan menggeser lagi pintu menuju halaman belakang. Tampak disana Nyonya Lee yang tengah mencuci pakaian, sementara Donghae duduk bersantai dengan laptop di hadapannya.

“Pagi semuanya!!” Sapa Yoona.

Nyonya Lee pun hanya menyambut dengan senyuman tipis. Sementara Donghae lekas menolehkan kepalanya ke arah gadis itu. “Aish, coba kau lihat dirimu!” Ejeknya.

“Ada apa?” Yoona mengernyitkan keningnya bingung.

“Cepat sisir rambutmu itu lalu cuci mukamu!” Perintah Donghae kasar.

“Ah, maafkan aku! Tadi aku buru-buru keluar dari kamar, sampai lupa untuk membersihkan wajahku dulu.” Jelas Yoona malu.

Sekejap gadis itu pun kembali lagi dengan wajahnya yang cerah dan rambutnya yang digelung ke atas dihiasi tusuk rambut berwarna ungu. Ia lekas berlari kecil mendekati Nyonya Lee yang masih sibuk dengan cucian kotornya.

“Eommonim, apa kau perlu bantuanku?” Tawar Yoona.

“Tidak perlu, kau duduk saja sana temani Donghae.” Nyonya Lee menolak halus.

“Aish, mana boleh aku membiarkanmu mengerjakan semuanya sendirian.” Desak Yoona lagi.

Raut wajah Nyonya Lee pun sekejap berubah, Ia tersenyum nakal seperti tengah mendapat ide. “Ah, baiklah kalau begitu. Kebetulan aku ingin pergi ke pasar dulu.” Wanita itu pun lekas mengibas-ngibaskan tangannya yang basah lalu mengelapnya menggunakan celemek. “Ya!! Anakku!” Panggilnya pada Donghae.

“Aku?” Donghae dengan mulut sedikit menganga dan alis yang diangkat lekas mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri.

“Iya. Kau!!” Tegas Nyonya Lee. “Cepat bantu Yoona!” Perintahnya.

“Ne!!” Pekik Donghae dan Yoona serentak.

“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.” Sekarang giliran Yoona yang menolak untuk dibantu.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Bukankah kalau mencucinya bersama-sama akan lebih cepat selesainya.” Sahut Nyonya Lee.

Yoona pun terdiam dan hanya bisa mengangguk pasrah. Donghae segera beranjak dari bangku panjang dengan meninggalkan laptopnya dalam keadaan menyala. Nyonya Lee pun tak mau berbasa-basi lagi dan bergegas berangkat ke pasar membiarkan keduanya di halaman belakang bersama dengan cucian menumpuk yang harus segera dibereskan.

Mereka serentak menginjak-injak pakaian-pakaian kotor dalam baskom berbebeda. Sesekali Donghae menyingsing lengan kemeja juga celana jeans panjangnya yang gulungannya melorot. Laki-laki itu masih dengan wajah ketus coba menyelesaikan tugasnya. Yoona pun hanya bisa menyempatkan diri untuk mencuri pandang ke arahnya beberapa kali.

“Argh!” Yoona terhenti mendapat sesuatu tengah tersangkut di kakinya. Lekas ditariknya ke atas benda itu dan keluar dari baskom dimana Ia berdiri. Ia pun dengan wajah lugu dan mata mengerjap mengamati celana dalam yang penuh dengan busa itu.

“Ya!!” Pekik Donghae membuatnya terkejut. “Itu punyaku!!” Teriaknya lagi lalu merampas celana dalam hitam itu. “Ya!! Im Yoona!! Berani sekali kau!!”

Yoona pun terkedik, “Maafkan aku, Oppa!! Aku benar-benar tidak sengaja. Lagipula mana aku tahu kalau itu adalah milikmu.” Jelasnya terputus-putus.

“Aish. Sudahlah!” Pinta Donghae kasar. “Ayo kita bertukar tempat!” Ia keluar dari baskomnya.

“Ne??” Yoona terus saja terkejut. “Baiklah, baiklah!” Ia pun mengiyakan dengan terpaksa.

Serentak mereka berpindah baskom lalu kembali menginjak-injak pakaian juga celana yang terkumpul menjadi satu dalam baskom tersebut. Tampak Yoona yang tersenyum jahil lalu mencipratkan air sisa sabun ke wajah Donghae yang kembali kesal karena ulahnya. Gadis itu pun hanya membalas dengan senyuman meringis pada tatapan Donghae yang merah menyala karena amarah. Yoona tak juga gentar dan menyiramkan lagi air ke baju lelaki itu.

“Im Yoona!!” Geram Donghae.

Yoona lekas keluar dari baskom lalu mengambil langkah seribu untuk menghindar dari Donghae yang berusaha membekuknya. Mereka pun saling berkejaran di antara tiang jemuran dengan dihiasi gelak tawa aligator yang dimiliki oleh keduanya. Menambah semarak keceriaan di pagi hari yang hangat nan cerah itu.

“Selesai!” Yoona dan Donghae serentak bernapas lega mendapati semua cucian yang tadinya kotor dan basah telah berhasil mereka jemur di bawah sinar matahari yang dengan kekuatannya siap untuk mengeringkan.

Donghae lekas tersenyum lebar lalu menjauh dari hadapan Yoona. Gadis itu pun segera mengikuti tiap langkahnya berjalan, ingin sekali Ia bicara barang sebentar saja dengan laki-laki itu untuk membahas tentang hubungan mereka.

“Ayo, kalian siap-siap!” Donghwa mengagetkan keduanya dengan kemunculannya dari balik pintu yang bergeser.

“Siap-siap? Kemana?” Donghae bingung begitu juga Yoona yang masih berdiri terpaku dekat tali jemuran.

“Piknik!!!” Seru Donghwa gembira.

Yoona dan Donghae pun saling bertatapan sambil mengerjapkan mata mereka yang terendap makna dalam setiap kedipannya namun tak diketahui artinya.

융 ♥ 훼

Lagu trot mereka dendangkan, dilantunkan dengan suara yang pas-pasan namun serasi dengan musik yang berputar, mulut pun berkomat-kamit mengikuti lyric lagu yang sangat mereka hapal. Beberapa kali tubuh kedua wanita itu dimiringkan ke kiri dan ke kanan menyesuaikan dengan dentaman irama.

Donghae yang duduk di jok depan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Yoona dan Ibunya di jok belakang, sementara Donghwa sibuk dengan setir kemudi. Mobil itu pun terus melaju melintasi jalan berkelok dan melewati laut yang luas lalu pergunungan yang tinggi serta bebukitan. Mereka pun memasuki wilayah lain dari Jeolannam-do, dan perlahan menjauh dari Mokpo.

Tak butuh waktu lama tibalah mereka di sebuah lembah yang merupakan wilayah bentang alam, diapit oleh pegunungan tinggi yang tampak berlumut dan sedikit lembab. Terlihat juga akar-akar pohon yang menjalar hingga menembus tanah tampak di atas sana. Mereka pun hanya bisa memandangi dari bawah sambil merasakan sejuknya udara yang berhembus lembut beriringan dengan desiran air mengalir halus diantara bebatuan.

“Woah!! Sudah lama juga tidak kesini, ternyata tempat ini terlihat semakin indah.” Donghwa berdecak kagum, sementara Donghae masih dengan mulut terkunci dan raut wajah kusut ditekuknya.

Nyonya Lee dibantu Yoona, segera menggelar tikar di atas bagian tanah yang rata. Lekas mereka keluarkan perlatan makan dari dalam keranjang piknik, tak lupa juga dua buah rantang yang berisi sup dan nasi.

Donghae pun tak mau bermalas-malasan, diletakkannya panggangan yang terbuat dari besi itu. Lalu memasukkan arang dan menyiramkan sedikit minyak tanah lalu menyulutkannya api. Terlihat kobaran api yang semakin membesar dan mengeluarkan asap. Tampak Yoona yang berjalan mendekat dengan senampan ikan yang sudah diberi bumbu dan siap di panggang.

Mereka pun bergotong royong memanggang ikan tuna yang besar juga ikan salmon yang diberi saus pedas manis. Tercium aroma sedap menyengat dari kepulan asapnya yang tertiup, membuat perut semakin lapar. Donghae masih saja memasang wajah sinisnya sambil mengipas ikan-ikan itu, dan Yoona pun kembali bertanya-tanya.

“Lihat!!” Yoona membuka pembicaraan. “Ikan itu mirip sekali denganmu, Oppa. Kasihan sekali mereka, wajah mereka kusut karena mereka tahu bahwa sebentar lagi mereka akan kita akan makan.” Gadis itu mengajak Donghae yang terus merengut untuk bercanda.

Donghae pun hanya bisa menyempitkan matanya lalu menatap tajam ke arah Yoona untuk memberitahukan kemarahannya. Yoona pun lekas tersenyum menyeringai seraya menepuk pelan pundak laki-laki itu. “Maafkan aku!! Aku hanya bercanda.”

Donghae tak menggubris lalu mengalihkan lagi penglihatannya pada ikan yang tengah dibakar. Sementara Yoona kembali menghela napasnya sambil mengigit giginya karena telah salah bicara.

Sekejap waktu berlalu, peralatan makan pun sudah dibereskan. Terlihat raut wajah orang-orang itu sudah kekenyangan. Mereka pun duduk sejenak di atas tikar sambil menikmati lagi angin segar untuk menghilangkan kegerahan. Angin itu pun terus saja berhembus sambil menggoyangkan dahan-dahan pepohonan yang daunnya berkibaran dan yang kering pun berjatuhan.

Tampak disana Donghae termenung duduk di atas batu besar sambil menatap kosong air mengalir dengan arus yang kecil. Yoona lekas duduk disampingnya sambil menebarkan senyum menyeringai, coba menyirnakan raut wajah Donghae yang terus saja cemberut.

“Ya!! Lee Donghae Oppa, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau terus saja cemberut dan begitu dingin padaku? Meskipun kita sudah tak lagi bersama, tapi setidaknya kita masih bisa berteman bukan?” Yoona mulai mengungkapkan kekecewaannya melihat sikap sinis Donghae. “Dan lagi kau sendiri yang memintaku agar selalu menjadikanmu orang pertama yang mengetahui apapun yang terjadi padaku. Tapi kenapa perlahan kau berubah seperti ini?”

“Aku takut kalau terus melihatmu membuatku semakin tak bisa melepaskanmu.” Sahut Donghae dengan wajah polosnya.

“Benarkah? Jadi kau masih belum bisa melepaskanku?” Yoona begitu senang.

“Disaat yang sama juga aku selalu merasa bersalah padamu.” Sambung Donghae. “Apa kau tahu betapa lelahnya aku melihatmu menderita hingga meneteskan air mata karena ulahku. Aku tidak mau menjadi orang yang sering membuatmu terluka, jadi kumohon hentikanlah!” Perkataannya yang tegas pun membuat Yoona bungkam dan terdiam. “Juga karena aku ingin melindungimu, itu sebabnya ku tinggalkan dirimu.”

Yoona yang sempat terhenyak lekas memberikan sahutan, “Kita berdua sama-sama terluka, Oppa!” Nada bicaranya terdengar terbata-bata. “Kau meninggalkanku dan aku ditinggalkan oleh dirimu, . . .” Air mata tertahan di pelupuk mata gadis itu. “Kita sudah sepakat untuk membiarkan takdir Tuhan yang memberi keputusan pada rencana yang telah kita rancang. Hanya saja kalau kita tidak berusaha dan pasrah saja pada nasib, kurasa itu juga salah. Setidaknya kita harus mencoba karena cinta masih menyatukan kita, sekalipun terkadang tak sejalan namun selalu sepaham. Kau mengerti ‘kan, Hwae Oppa?” Tangisan pun mengiringi tiap kalimat yang terlontar dari mulutnya.

“Lihat! Sekarang saja kau menangis dan itu juga karena aku. Tiap tetesan air matamu, selalu akulah penyebabnya, aku tak ingin ini terjadi lagi.” Sahut Donghae yang coba membendung air matanya. “Karena itulah aku tak ingin menyakitimu lagi seperti hari ini.” Tambahnya dengan nada bicara yang begitu berat karena air mata telah juga mengalir lembut di pipinya.

“Tapi, Oppa . . .” Yoona terputus.

“Kita selalu saja bertengkar bahkan untuk hal yang paling kecil. Kita tak lagi ada waktu untuk saling memperhatikan satu sama lain, masing-masing dari kita selalu sibuk dengan dunia kita sendiri. Meskipun terkadang kita coba mengerti, tapi selalu saja kekeliruan yang kita dapati. Dan aku juga tak punya pilihan, . . .” Donghae tak mau kalah.

“Oppa! Kau punya banyak sekali pilihan, hanya saja kau tak mau melakukan pengorbanan.” Yoona dengan nada tinggi terdengar begitu lantang.

“Apa maksudmu?”

“Oppa tahu apa kesalahan Oppa, oppa juga sadar bahwa ini bukan yang oppa inginkan. Tapi kenapa Oppa selalu saja memaksakan diri untuk tetap bertahan di tempat dimana Oppa berada sekarang.” Yoona lekas bangkit dari duduknya namun pandangannya masih tak lepas dari menatap ritmis mata Donghae yang basah.

“Ya!! Im Yoona!!” Bentak Donghae dengan nada melengking. Kalimat yang ingin diucapkan pun tertahan di tenggorokan, segera ditariknya napas dalam-dalam untuk mengatur emosinya yang meluap. “Hentikanlah! Semuanya sudah usai, . . .” Akhirnya, lalu beranjak dari hadapan Yoona dengan wajahnya yang sembab.

Yoona pun lekas mendongak menatap langit untuk menghentikan tangisannya dan tangannya terus menyeka kasar air matanya yang membajir. Sementara dari kejauhan Nyonya Lee dan Donghwa hanya bisa terdiam melihat keduanya bertengkar, muncul dalam benak mereka tanya tentang apa yang tengah terjadi.

융 ♥ 훼

Duduk mereka berdua saling berjauhan di jok belakang, tampak suasananya semakin memanas tergambar dari raut wajah mereka yang masam dan saling membuang pandang. Nyonya Lee dan Donghwa yang duduk di depan pun tak dapat berbuat banyak untuk merukunkan keduanya yang sedang perang dingin.

“Bagaimana kalau kita memutar musik?” Donghwa tanpa mendapat persetujuan lekas menyalakan DVD player. Senyumnya yang tadi mengembang pun lekas mengempis mendapati Yoona dan Donghae tak memberi tanggapan. Segera Ia mengecilkan volume dari lagu yang tengah dimainkan, lalu terdiam kembali.

Yoona memaksakan matanya untuk terpejam sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil yang tertutup rapat. Donghae lekas menyumbat telinganya dengan earphone lalu menaikkan volume i-podnya.

Sekejap mereka sudah tiba di halaman depan rumah, mobil pun dibiarkan terparkir di dekat pagar. Tertinggal Yoona yang masih tertidur lelah dan tak menyadari orang-orang sudah tak lagi di dalam mobil untuk menemaninya. Kepalanya pun terbentur, membuatnya terkejut bangun lalu mulutnya yang menguap lekas dikatup.

“Wah, sudah sampai ternyata!” Serunya lalu gelagapan beranjak dari mobil yang pengap.

“Sudah bangun kau rupanya!” Sambut Nyonya Lee yang membereskan alat pemanggang yang tadi digunakan.

“Dimana Hwae Oppa?” Lekas Yoona mencari keberadaan Donghae.

“Oh, dia bilang ingin mampir ke suatu tempat dulu sebelum kembali ke Seoul.”

“Kemana?”

Nyonya Lee pun mengangkat bahu untuk memberikan jawaban ketidaktahuaannya atas pertanyaan itu.

“Kalau begitu aku akan menunggunya di luar saja.” Akhir Yoona, seakan terlupa pada pertengkarannya dengan Donghae yang terjadi di lembah tadi.

Duduk Ia seorang diri di pelataran sambil menanti kepulangan Donghae, diselipkannya beberapa helai rambutnya ke belakang telinga sambil mengayunkan kakinya yang menjuntai. “Aish . . . Apa yang sebenarnya sedang kulakukan? Bukankah Donghae Oppa sendiri yang sudah memintaku dengan tegas untuk menghentikan semua kegilaan ini. Ah, bodoh!” Makinya pada diri sendiri sambil beberapa kali memukul pelan kepalanya. Perhatiannya pun lekas beralih pada setangkai tanaman bunga matahari yang menjadi hiasan di sudut teras.

“Woah, mirip seperti bunga matahari yang waktu itu kulihat di pasar!” Serunya. “Aish, memangnya bunga matahari hanya satu saja di dunia.” Celetuknya lalu tertawa kecil.

Langit sore pun mulai menampakkan perubahan pada warnanya yang perlahan menjadi jingga. Siang hari yang tadi cerah pun ditanggalkan berganti dengan senja yang tenang bersama matahari yang tenggelam. Tampak bayangan hitam sosok seseorang yang tengah berjalan dari kejauhan, hentakan kakinya pun mulai terdengar.

Yoona lekas menolehkan kepalanya lalu menautkan penglihatan kedua bola matanya untuk mencari tahu siapa gerangan yang tengah mendekat menuju rumah keluarga Lee. Terlihat disana Donghae yang segera menyodorkan dua tiket kereta api padanya, “Bersiaplah! Kita akan segera kembali ke Seoul kurang lebih 30 menit lagi.” Ucapnya tanpa berbasa-basi.

“Kenapa buru-buru sekali, Hwae Oppa?”

“Jangan banyak bertanya, cepat siap-siap!” Perintah Donghae lagi dengan dingin.

융 ♥ 훼

Yoona lekas membungkukkan badannya pada Nyonya Lee juga Donghwa yang melepaskan kepergiannya bersama Donghae. Wanita paruh baya itu pun tersenyum dengan hangat, “Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu bersama kalian.” Ungkapnya.

“Maafkan kami Eomma!!” Gumam Donghae. “Kami juga sangat ingin bisa lebih lama tinggal, tapi sepertinya jadwal kami yang cukup padat tidak memungkinkan.” Jelasnya.

“Kalau begitu baiklah. Kelak kalian harus datang ke tempat ini bersama lagi, kalian paham?” Pintanya. “Ah, dan ingat. Jangat bertengkar lagi!”

Yoona dan Donghae pun tercengang satu sama lain lalu tertawa kecil untuk mematuhi.

“Pasti Eommeonim!!” Sahut Yoona sementara Donghae hanya terdiam.

“Sekarang pergilah! Berhati-hatilah!!” Nyonya Lee coba ikhlas.

Yoona dan Donghae pun lekas masuk ke dalam taksi yang mereka pesan, lalu duduk di jok berlakang. Taksi pun mulai melaju, kedua orang itu pun menyempatkan diri untuk menengok ke belakang sambil membalas lambaian tangan Nyonya Lee dan Donghwa. Perlahan Taksi yang mengangkut keduanya menjauh dari halaman depan lalu menuruni tanjakan, mereka pun kembali berbalik lalu menatap lurus ke depan. Tak ada satupun kata yang terucap dari bibir keduanya, mereka pun membisu sepanjang perjalanan menuju stasiun.

Dengan mengenakan hoodie yang sama berwarna abu-abu polos lengkap dengan topinya, mereka pun duduk di salah satu bangku bersama penumpang lain yang mulai berdesak-desakkan memasuki kereta. Mereka duduk sendiri-sendiri di bangku yang bisa memuat dua penumpang. Donghae terus saja mengacuhkan Yoona yang coba bersikap manis terhadapnya. Laki-laki itu kembali memasang earphone lalu menutupi kepalanya yang sudah dihiasi topi dengan hoodie. Tampak dua orang laki-laki yang berjalan mendekat dan tersenyum lebar mendapati bangku disamping Yoona tengah kosong. Kedua laki-laki itu pun saling berebut untuk duduk berdampingan dengan gadis secantik Yoona.

Donghae geram, rasa cemburu pun tak dapat disembunyikan dari raut wajahnya yang kesal. Ia segera bangkit lalu merampas posisi itu, kemudian duduk terhempas tepat di samping Yoona. Gadis itu pun mengulum senyumnya melihat Donghae yang masih jual mahal namun tetap tak rela dirinya didekati orang lain.

“Kenapa?” Donghae dengan nada sedikit angkuh.

“Tidak apa-apa.” Yoona tersenyum melebar dan hatinya begitu senang.

“Aku tidak suka saja duduk dekat jendela.” Donghae berkilah.

“Iya. Aku paham Hwae Oppa!!” Yoona tak mau membahas. Dipandanginya Donghae dengan tatapan curiga.

“Kalau begitu berhentilah menatapku seperti itu!” Pinta Donghae lagi.

“Baiklah, baiklah!!” Yoona pun kembali tertawa melihat sikap Donghae yang tampak sedang melakukan penyangkalan.

Semua penumpang sudah duduk rapi di bangku mereka masing-masing. Kereta api pun melaju dengan kecepatannya yang cukup tinggi melintasi rel yang terkadang berbelok-belok. Terdengar suara mesinnya yang berisik namun tak mengganggu ketentraman tidurnya Yoona. Tampak kedua orang paman yang duduk berhadapan dengannya terus saja memperhatikan.

“Sepertinya aku mengenal gadis ini, tapi dimana?” Ucap salah satu dari mereka.

“Benar. Tapi dimana?” Paman yang satunya lagi pun membenarkan.

Donghae kembali bertindak, lekas ditariknya penutup kepala hoodie yang tengah dikenakan Yoona. Lalu menutupi wajah Yoona dengan hoodie tersebut, segera disandarkannya bahu gadis itu ke bahunya lalu meletakkan kepala sang gadis di atas pundaknya. Terlukis jelas dengan kejadian itu bahwa Donghae ingin memberitahukan pada kedua laki-laki itu bahwa Yoona adalah gadisnya dan meminta kedua orang itu agar berhenti memandangi gadisnya dengan tatapan seperti ingin memangsa.

융 ♥ 훼

Perjalanan cukup panjang yang telah mereka tempuh, tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus bergerak maju menjauh dari stasiun kereta api bersama dengan beberapa tas ransel di punggung Donghae dan tas selempang di pundak Yoona. Mereka berjalan berjejer di antara para pengunjung lainnya.

Kaki mereka pun tertahan di bawah papan nama stasiun yang menyala. Dinaungi langit yang sekarang berubah gelap mereka pun berdiri berhadapan.

“Aku akan pulang naik taksi saja.” Yoona memberitahukan.

“Berhati-hatilah!” Sahut Donghae.

Tampak keraguan menyelimuti hati keduanya untuk beranjak dari tempat dimana mereka berpijak. “Emm . . . Hwae Oppa!!”, “Yoong!” Panggil mereka serentak.

“Kau dulu!!” Donghae mempersilahkan.

“Lusa aku akan berangkat ke LA.”

“Benarkah?” Donghae sedikit terkejut.

Yoona pun mengangguk.

“Berapa lama kau akan berada disana?”

“Satu minggu mungkin.”

“Bagaimana dengan konser nanti, apa kau tidak ikut berpartisipasi?” Donghae coba mencari pertanyaan.

“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu.” Jawab Yoona bingung. “Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa lagi, Oppa!” Akhirnya menutup obrolan lalu memalingkan tubuhnya.

“Tunggu!!” Cegah Donghae segera.

Yoona pun kembali berbalik untuk menengok ke arahnya, lalu alisnya terangkat sebelah karena heran.

“Apa bisa kau membantuku merawat bunga matahari ini?” Donghae sambil membuka kantong plastik hitam dimana terdapat setangkai bunga matahari yang tertanam di pot.

Yoona terus saja kebingungan.

“Sebenarnya aku ingin menanam bunga ini di dekat makam Appa, tapi sepertinya jauh lebih baik jika kau saja yang menjaganya. Karena bunga ini akan mati kalau tak ada matahari yang menyinariya.” Jelas Donghae.

“Baiklah.” Yoona pun segera memajukan kakinya beberapa langkah lalu memegangi pot dimana bunganya masih tertanam dengan subur di atasnya.

Mereka lekas menjauh berlawanan arah, sambil menyempatkan diri untuk menengok ke belakang dengan harapan orang yang dimaksud juga tengah melihat ke arah mereka. Namun saling mencuri pandang itu selalu saja terjadi tidak di waktu yang sama, membuat mereka pun berputus asa dan menggelengkan kepala. Lalu berpisah di depan stasiun dan menghilang diantara para pejalan kaki yang lain.

융 ♥ 훼

“Oppa! Kau punya banyak sekali pilihan, hanya saja kau tak mau melakukan pengorbanan. Oppa tahu apa kesalahan Oppa, oppa juga sadar bahwa ini bukan yang oppa inginkan. Tapi kenapa Oppa selalu saja memaksakan diri untuk tetap bertahan di tempat dimana Oppa berada sekarang.” Donghae tersentak, perkataan Yoona yang terekam jelas di memori kepala membuatnya terbangun dari tidur berselungkupnya di atas meja.

Ia terkejut menemukan langit yang sudah terang bersama sang mentari yang cahaya benderang. “Lusa aku akan berangkat ke LA!” Ia kembali teringat akan kalimat terakhir yang dilontarkan gadis itu. Ia pun semakin sadar bahwa tidak seharusnya bersikap dingin pada sang mantan kekasih.

Bergegas Donghae mengambil jaket dari bahan jeans itu untuk melapisi t-shirt hitam yang tengah dikenakan. Sambil memasang jaket itu, Ia pun berlari keluar kamar dan menerobos beberapa member yang tengah berjalan di koridor.

“Ya!! Lee Donghae, kau mau pergi kemana?” Teriak Leeteuk yang heran melihatnya tergesa-gesa.

“Aku keluar sebentar hyung!” Sahut Donghae juga nada yang tak kalah tinggi agar terdengar jelas.

Gerakan kakinya berlari pun semakin cepat lalu masuk ke dalam mobil berwarna putih. Segera dijalankannya maju mobil itu keluar dari parkiran lalu berbelok dengan cepat keluar dari bangunan apartment. Tak butuh waktu lama, Ia sudah berada di SM Building dan dengan langkah seribu lekas mencegat Yoona yang hendak masuk van.

“Yoong!!” Panggilnya segera.

“Hwae Oppa!!” Sambut Yoong heran. “Apa yang kau lakukan, Oppa?”

“Berjanjilah kau akan segera kembali untukku.” Pinta Donghae.

Yoona pun tertawa kecil, “Tentu saja, meskipun bukan untukmu aku pasti akan kembali.”

“Maksudku kembalilah secepatnya atau semuanya selesai sampai disini.” Ancam Donghae.

“Ya!! Oppa, kenapa kau akhir-akhir sangat menyebalkan.” Ungkap Yoona kesal.

“Ah. Sudahlah! Bagaimana pun kau harus segera pulang, kau paham?” Desak Donghae

“Aish, aku benar-benar tidak tahu sejak kapan seekor ikan bisa mempunyai sifat seperti seekor bunglon. Apa sekarang keahlianmu berubah-ubah warna, Hwae Oppa? Atau pada dasarnya kau mempunyai kepribadian ganda.” Ledek Yoona.

“Nanti kita akan bicara lagi. Berjanjilah kau akan pulang hanya untukku!” Pinta Donghae lagi merengek.

“Baiklah, baiklah!” Yoona mengiyakan. “Tapi ngomong-ngomong Hwae Oppa, kau tidak lupa mencuci mukamu ‘bukan sebelum berangkat kesini?” Ejeknya.

“Ne?” Donghae mengerjapkan matanya bingung.

“Coba lihat! Wajahmu kumal dan masih setengah mengantuk, apa kau baru bangun? Dan ini, aish . . . rambutmu juga sangat berantakan.” Yoona tak henti-hentinya meledek sambil mengacak-acak rambut laki-laki itu.

Donghae pun hanya bisa merekahkan senyumnya malu sambil memperlihatkan giginya, digaruknya rambut sambil menundukkan kepala.

Yoona tertawa kecil melihat Donghaenya yang dulu telah kembali.”Pulanglah! Jangan lupa untuk segera mandi!” Perintahnya. “Ah, beruntung aku membawa parfum, dengan begitu bau tubuh Oppa tidak menempel di badanku.” Ejeknya lagi bercanda.

“Im Yoona!!” Geram Donghae.

Yoona pun hanya menyambutnya dengan senyum menyeringai. “Aku pergi dulu, Oppa!” Pamitnya.

“Berhati-hatilah!” Sahut Donghae.

“Ne.” Akhir Yoona lalu masuk ke dalam van dimana sang manager sudah menunggunya sedari tadi.

Van pun segera beranjak dari bangunan mewah SME, perlahan semakin menjauh dari hadapan Donghae yang masih memusatkan penglihatannya untuk melepaskan Yoona pergi. Ia bisa melihat dengan jelas melalui kaca belakang van, gadis itu tengah melambaikan tangan padanya. Ia pun hanya bisa tersenyum penuh makna barang sejenak hingga van menghilang dari pandangan.

Kemudian Ia berbalik lalu melangkah gontai menuju mobil yang tadi buru-buru ditinggalkannya. Lekas Ia duduk di jok kemudi lalu meng-klik sabuk pengaman yang akan melindunginya. Mesin segera Ia nyalakan lalu memasukkan gigi dan perlahan menginjak pedal gas. Mobil itu pun bergerak maju menuju jalan raya kemudian melaju di antara alat transportasi lainnya. Di sela perjalanan pulangnya ke dorm, sepintas ia pun teringat sesuatu yang telah menyadarkannya.

Berdiri Ia di depan makam sang Ayah sepulangnya dari pikniknya di lembah, lekas diadukannya semua keluh kesah pada orang yang telah berbaring tenang di alam sana itu. “Abeoji!! Beberapa hari yang lalu Yoong juga pergi mengunjungimu ‘bukan? Apa bisa kau beritahukan padaku apa saja yang dikatakannya padamu.” Pinta Donghae. Napas pun lekas dihela lalu tertawa mengejek kebodohannya. “Mana mungkin kau memberitahukannya padaku. Itu pasti rahasia antara kalian berdua saja ‘kan?” Jawabnya sendiri. “Kau tahu, Appa? Gadis itu benar-benar sangat teguh. Dia tidak pernah mau menyerah, meskipun berkali-kali aku membentaknya. Dulu juga pernah sekali kami bertengkar hebat seperti ini, dan semua juga karena salahku. Ya, semua memang selalu salahku yang tidak pernah tahu seperti apa caranya bersikap lebih dewasa dalam menghadapi permasalahan dan terus saja menghindarinya. Selalu saja aku yang ingin menang meskipun aku tahu telah kalah.” Ia pun terhenti sejenak.

“Seperti yang dikatakannya juga, aku tak mau melakukan pengorbanan karena semua yang sekarang telah kuraih terlalu sulit untuk kubuang. Kau mengerti maksudku ‘kan?” Desahnya. “Mungkin memang sudah saatnya untuk aku memilih, dan aku yakin orang-orang yang mencintai apa adanya diriku pasti akan mengerti. Kau akan selalu mendukungku ‘kan, Appa?” Senyum simpul pun melengkung sebagai penutup dari curahan hatinya.

융 ♥ 훼

Senyum yang dulunya selalu dipaksakan itu pun sekarang tampak lepas merekah menghiasi wajah cerianya. Rasa rindu yang mendalam pun bisa terobati cepat hanya dengan saling berbalas pesan atau bicara melalui sambungan jarak jauh.

Duduk Ia diantara membernya yang sibuk membaca pesan dari fans, lalu bercengkrama sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka. Hanya Donghae yang tampak kurang bersemangat dan sesekali tertawa. Namun raut wajahnya yang suntuk itu sirna seketika sesaat menerima pesan dari sang kekasih yang kini telah kembali padanya.

Beberapa hari waktu pun berlalu seperti biasanya, melakukan performance lalu shooting untuk variety show.

융 ♥ 훼

Di pagi yang masih buta nan gelap gulita, Donghae menancapkan gas dengan cepat untuk melajukan mobilnya menembus udara dingin di subuh hari. Terhenti segera Ia di tepian jalan sekitar Incheon Airport, di saat yang sama sebuah van juga stop di seberang mobilnya berada.

Tampak seorang gadis bercelana jeans panjang dan kaos hitam berlengan sepanjang siku, mengenakan sneaker hitam dan topi warna abu-abu tua, keluar dari van itu dan berpindah ke mobil yang dikemudikan Donghae

“Kau sudah siap?” Tanya Donghae memastikan.

“Ne!!” Serunya, meskipun baru pulang dari LA menuju Seoul, namun gadis itu tetap terlihat bersemangat.

“Kau tidak lelah ‘kan?”

“Tidak apa-apa, Hwae Oppa. Kalau pun aku lelah, aku tinggal menyandarkan kepalaku di bahumu lalu tidur barang sebentar.” Sahut Yoona dengan nada yang terdengar begitu manis,

Donghae pun hanya menyambutnya dengan tawa kecil. “Baiklah, ayo kita pergi!!” perlahan Ia kembali menginjak pedal gas lalu melajukan mobilnya menjauh dari kawasan airport menuju stasiun kereta api.

융 ♥ 훼

Sekejap langit pun kembali berubah terang, sinar matahari pun begitu terik menyilaukan. Kilauannya pun terpantul di atas air laut yang terkadang berlombang. Hangatnya pun terselip di antara semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi, membelai wajah dengan lembut. Pepohonan yang tumbuh tinggi lebat dan berjejer di sepanjang bukit pun membuat tempat itu tampak rindang nan sejuk.

“Appa!!” Donghae menekuk kedua lututnya lalu bersimpuh di depan makam sang ayah. “Sudah beberapa tahun berlalu sejak kau meninggalkanku untuk selamanya. Namun meskipun ragamu sudah tak terlihat lagi, tapi kuyakin dimana pun rohmu berada sekarang, kau pasti akan selalu mengawasiku ‘bukan?” Ucapnya yakin. “Terimakasih karena selalu menjaga dan melindungiku, diantara kalimat terimakasih itu juga ada kalimat penyesalan karena dulu saat kau berada disampingku, aku tidak sempat mengatakan betapa aku sangat menyayangimu. Jadi Terimakasih dan Maafkan aku, Appa! Aku janji akan selalu menjadi Donghae yang sama, yang selalu mencintaimu dan selalu mendoakanmu.” Matanya yang berkaca-kaca pun pecah mengeluarkan butiran bening bak intan permata yang berkilauan lalu mengalir halus di pipinya.

Yoona hanya bisa mendengarkan dengan seksama sambil berdiri di belakang punggung laki-laki itu. Air mata  yang tadi coba ditahan pun tak sanggup dibendungnya, lalu tumpah karena terharu saat menyaksikan Donghae bercengkrama dengan sang Ayah tercinta.

Tiba-tiba Donghae bangkit berdiri, lalu memalingkan bahu sambil mengulurkan tangannya pada Yoona. Tanpa segan gadis itu pun lekas menyambutnya diiringi senyuman tipis untuk membalas tatap mata Donghae yang sayu. Kakinya juga dimajukan beberapa langkah untuk menyamai keberadaan laki-laki itu. Jari-jemari mereka pun saling merengkuh satu sama lain lalu berdiri berjejer di hadapan makam.

“Appa, akan selalu mendukung keputusan yang aku pilih ‘bukan? Dan aku memutuskan untuk kembali merajut kasihku bersamanya.” Desis Donghae.

Benak Yoona pun lekas dibanjiri pertanyaan, dipandanginya Donghae dari samping. Matanya pun tak lepas dari menatap laki-laki yang meneruskan bicaranya itu.

Mereka segera beranjak dari makam lalu berjalan bergandengan menuruni bukit, melintasi jalan yang terdapat banyak kerikil-kerikil kecil berhamburan juga tanah yang tampak kering saat musim panas.

“Hwae Oppa?” Panggil Yoona sambil terus melangkah kakinya.

“Kenapa?”

“Apa bisa kau katakan yang sebenarnya padaku?” Pintanya.

“Mengatakan apa?” Donghae pura-pura tak tahu.

Yoona pun lekas berhenti, lalu mencegat Donghae agar tak melangkah lebih jauh. Ditatapnya dalam kedua bola mata laki-laki yang juga membalas tatapannya. “Kau tahu? Beberapa hari ini ada seekor ikan yang terus saja berubah-ubah persis seperti seekor bunglon. Aku tidak tahu kenapa? Apa mungkin bunglon itu telah mengigitnya atau pada dasarnya ikan itu memang memiliki kepribadian ganda, aku tidak mengerti.” Ia meluapkan keganjalan yang selama ini bersarang di hatinya.

Donghae pun menyambutnya dengan tawa kecil, “Aish, Kau masih ingin tentang ikan yang berkepribadian ganda?” Gerutunya. “Aku tentu saja masih tetap seekor ikan yang sama, yang berenang dari mokpo menuju Seoul lalu bertemu dengan seekor rusa yang menyelamatkannya saat hanyut dibawa arus.”

“Lalu?”

Donghae lekas menarik napasnya dalam-dalam untuk menyusun ulang kalimat yang hendak diucapkannya. “Seperti yang kau tahu, mimpiku adalah bisa berdiri di antara ribuan fans dan menyanyikan lagu untuk mereka. Aku juga ingin sekali mengasah bakat beraktingku, lalu Tuhan juga mengabulkannya dengan mengijinkanku untuk bermain drama. Sekarang impian terbesarku adalah bisa terus tumbuh dengan bantuan sinar sang surya.”

“Apa maksud, Oppa?”

“Aku adalah bunga matahari yang akan mati jika tidak ada sang matahari. Karena pancaran sinarnya lah, aku bisa hidup hingga detik ini. Jadi, cukup kau disampingku. Tak peduli siang ditanggalkan berganti malam, atau sang fajar tak terbit lagi lalu langit pun terus gelap hingga akhir zaman. Aku hanya butuh kau yang dengan ikhlas merawat dan menjagaku.” Urai Donghae. “Dan mengenai orang-orang yang selalu mendukungku, meskipun kelak sudah tak ada lagi yang memanggilku ‘Oppa’ tapi bukankah masih ada kau yang akan selalu memanggilku dengan sayang seperti itu.” Lanjutnya.

Seperti berada di bawah mantra-mantra, Yoona pun tersihir oleh tiap kata yang terlontar dari mulut manis laki-laki itu. Mulutnya pun membisu dan tak tahu bagaimana harus menggambarkan kebahagiaannya.

“Aku juga tak ingin lagi mengulang semuanya dari awal, karena kita pasti akan bertengkar dan saling mencemburui satu sama lain. Jadi, lebih baik kita membina lembaran baru namun tetap dengan seseorang yang sama, seseorang yang memang masih aku harapkan untuk menjadi pendampingku.”

Yoona lekas mengangguk untuk mengiyakan.

“Sebenarnya aku juga ingin tahu alasan kenapa kau masih mencintaiku? Bukankah aku hanya tahu bagaimana caranya membuatmu terluka lalu menangis seperti gerimis?” Donghae melebih-lebihkan pertanyaannya. “Jangan jawab kalau kau tidak mempunyai alasan dan kau hanya tahu bahwa kau mencintaiku. Aku ingin jawaban yang lebih bervariasi!” Sambungnya lagi dengan nada bercanda.

Yoona pun mendengus pelan disertai tawa kecil, “Karena saat aku ingin memelukmu, aku bisa meletakkan daguku di bahumu. Seperti ini!” Ia memperagarakan dengan mendekap erat laki-laki itu. “Saat ingin menciummu pun, aku tidak perlu bersusah payah berjinjit.”  Bisiknya.

“Apa maksudmu Im Yoona? Karena aku pendek, begitukah?” Geram Donghae.

Yoona kembali tertawa lalu mengangguk pelan untuk mengiyakan.

“Aish . . .” Donghae merajuk lalu melepaskan kedua tangan Yoona yang melingkar di pundaknya. Ia lekas berbalik lalu menjauh dari hadapan Yoona sambil memasang tampang merengut.

Gadis itu pun tak mau tinggal diam, lalu memeluk punggung Donghae dari belakang. “Aku bercanda, Oppa!!” Ucapnya dengan nada guyonan.

“Baiklah kelak, jangan ulangi lagi. Kalau tidak, awas saja kau!” Ancamnya dan membiarkan saja Yoona yang mengencangkan dekapannya.

“Kemarin kau juga mengejekku dengan mengatakan bahwa tubuhku hanya penuh  dengan tulang saja.” Tukas Yoona tak mau mengalah.

Donghae lekas berbalik lalu mencolek hidung Yoona, “Aku juga bercanda.” Sahutnya. “Bagaimana kalau mulai dari sekarang kita berjanji bahwa kita tidak akan saling mengejek lagi.” Ucapnya dengan lembut sambil mengeluarkan jari kelingkingnya.

“Baiklah!” Yoona pun segera menyilangkan kelingkingnya di keliling Donghae.

“Oh, ya. Apa kau masih menyimpan cincin yang waktu itu aku berikan padamu?” Donghae mengalihkan topik pembicaraan.

“Tentu saja.” Yoona sambil mengeluarkan cincin itu dari kantong depan tas slempangnya. “Oppa?”

“Aku juga masih menyimpannya.” Donghae dengan bangga lalu melepaskan cincin yang tadi digunakannya sebagai bandulan gantungan kunci mobil. “Sini, biar aku memakaikannya untukmu.” Segera Ia merampas cincin itu dari tangan Yoona lalu melingkarkannya di jari manis gadis itu, begitu juga Yoona yang menyematkan cincin satunya di jari manis kiri Donghae.

“Selesai!!” Seru mereka serentak.

“Sekarang, boleh tidak aku mencium Oppa?” Pinta Yoona dengan raut wajah lugu tak berdosa. “Bukankah, sekarang kita sudah resmi menjadi pasangan pengantin lagi seperti waktu itu.”

“Ne!!” Donghae tersentak kaget melihat gadis itu tampak begitu agresif.

Persis seperti yang Yoona katakan, Ia tidak perlu berjinjit untuk mencium laki-laki itu. Lekas ditariknya kerah  kemeja yang tengah dikenakan Donghae agar sedikit membungkuk, lalu dengan cepat ditempelkannya bibirnya barang sejenak untuk menyentuh bibir Donghae yang mungil. Mata mereka pun dipejamkan dan ciuman mesra itu pun terus dilesatkan.

Tepat di bawah langit biru yang menaungi serta awan putih yang bersih nan suci, Keduanya pun seakan terhanyut dalam indahnya cinta yang berpadu dengan nuansa romantis daerah pegunungan.

yoona donghae almost kiss

END

Note:

Mengenai apa yang Donghae katakan diakhir-akhir cerita saat berada di makam ayahnya, Kalimat itu ada beberapa bagian yang kuambil dari ‘Thanks’-nya Hae di 5jib. hhee. Karena kupikir apa yang keluar dari mulutnya Hae, terdengar jauh lebih menyentuh daripada aku harus membuatnya ulang. Thanks ya buat Donghae Oppa, kkk

Credit : http://hanraena.wordpress.com/2011/08/24/two-shots-y-for-%EC%98%81%EC%9B%90%ED%9E%88-forever-part-2-yoonhae/


8 thoughts on “[Two-Shots] Y for (Forever) Part 2 – End

  1. waaaaah akhirnya kelaaar jg ffny huhhuuuu… happy ending snangny..
    btw bole jg tu chingu dibikin afterstory atw sequelny biar seruuu kn nie ud bgus..
    yoonhae is real…

    Like

  2. wlwpun aq udah baca ff ni d blog oenni, tp ga pernah bosen pas baca ff ini lg ^^
    tp sprti’n ada sdkit penambahan dr ff yg dlu ya oenn?? tp makin bagus!!#sumpah

    q tunggu karya2 mu selanjut’n oenniiiii…

    YOONHAE is REAL n always DAEBAK…!!

    FIGHTING oenni.. hehee :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s