She’s My Wife [sequel i love my baby and you]


She’s My Wife [sequel i love my baby and you]

Cast : Lee Donghae, Im Yoona, Choi Siwon, Kwon Yuri, Cho Kyuhyun, Seo Joohyun, Kim Yesung, Tiffany Hwang

Genre : Family, Friendship, Romance

Author : Elfishysparkyu

*

*

Annyeong~ ada yg kangen aku? kekeke, gak ada.. ada yg ingat ffku I love my baby and you? kali ini aku datang dengan sequelnya..
Happy reading ya..

*

*

“Katakan berapa lama kau kenal dengannya?”

“Enam tahun.”

“Lalu denganku?”

“Hampir setahun.”

“Lihat kan? Dilihat dari sudut manapun aku tetap saja kalah.” Donghae menenggelamkan kepalanya dalam bantal. Meringkuk diatas ranjangnya persis seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan eommanya.

“Itu hanya masalah waktu. Tidak penting siapa yang lebih dulu kukenal. Yang penting akhirnya aku menikah denganmu bukan dengannya.” pekik Yoona tak mau kalah. Ia sendiri tak habis pikir dengan sikap kekanakan suaminya itu.

“Semua juga tahu bagaimana awalnya kita bisa menikah.” gumam Donghae pelan.

“Kenapa kau mengungkitnya lagi Donghae oppa? Aku bahkan sudah melupakannya.” Yoona mendesah, lama-lama ia mulai terbawa emosi. “Apa yang harus kulakukan agar kau percaya? Apa kita harus punya bayi lagi? Baik, kalau itu maumu.” tantangnya.

Donghae terpaksa bangkit dari rebahannya. “Aku tidak pernah memaksamu untuk punya anak sebelum kau lulus kuliah seperti maumu.”

Ne, Yoona memang tengah melanjutkan kuliahnya yang dulu sempat terbengkalai.

“Tapi aku tahu kau sangat mengharapkannya. Aku tahu kau sangat ingin punya bayi.”

“Tidak.” elak Donghae yakin.

“Iya.. Buktinya kau bohong soal kamar sebelah yang kau bilang kau jadikan gudang. Nyatanya kau telah mendesainnya menjadi kamar bayi.”

“Itu kan dulu.” Donghae gelagapan sendiri. “Aish, kenapa jadi membicarakan bayi. Kembali ke masalah awal Yoong.”

“Masalah apa? Masalah cemburumu yang berlebihan itu?”

Donghae terdiam. Bukan karena ia merasa kalah atau kehabisan kata-kata. Hanya berpikir, benarkah ia cemburu berlebihan.

Masalahnya berawal dari ajakan makan malam dari Choi Siwon. Namja itu baru pulang dari Paris. Sepertinya kali ini akan menetap lama di Seoul untuk mengurusi bisnisnya. Dan entah kenapa Donghae merasa terancam dengan kehadiran Siwon. Seperti ada rasa cemas yang ia sendiri tak paham.

“Jadi bagaimana? Kau datang atau tidak Donghae oppa? Kalau kau tidak mau datang, aku akan pergi dengan Yuri onnie dan Yesung oppa.” tegas Yoona.

“Aku tetap tidak mau datang. Bagus kan? Dia pasti lebih senang kau datang tanpa aku.” kali ini Donghae kembali merebahkan tubuhnya dan langsung menutupi kepalanya dengan selimut.

Yoona hanya bisa mendesah jengah. Ia biarkan saja Donghae bersikap begitu. Ia malas memperpanjang perdebatan yang menurutnya konyol ini.

___

Donghae terus membolak-balik majalah di tangannya dengan resah. Saat ini pikirannya ada di tempat lain. Yoona sedang makan malam bersama Yuri, Yesung, dan juga Siwon. Nama terakhir itulah yang membuatnya gusar. Memang hubungan Yoona dan Siwon tetap berteman baik. Bersama Yuri pun, Siwon tetap bersahabat dekat. Bahkan Yoona sempat berniat menjodohkan mereka tapi tidak pernah berhasil. Hingga Yuri menemukan Yesung sebagai kekasihnya. Dan Siwon sepertinya tetap sendiri. Menambah kegalauan Donghae saja.

Bagaimanapun Yoona dan Siwon pernah dekat, pernah bertunangan, dan hampir menikah. Kenyataan itu tidak bisa terhapuskan begitu saja.

Aish, Donghae mengacak-acak rambutnya kesal. Ia menyambar kunci mobilnya cepat. Sudah diputuskan, ia harus melakukan sesuatu.

___

Di sudut sebuah restoran mewah dua orang namja tampak menikmati makan malam mereka yang sedikit ganjil. Makanan dipiring hanya mereka aduk-aduk tak jelas sambil mata mereka mengawasi entah kemana. Memakai topi berbalut hoodie dan berkaca mata hitam. Persis seperti dua orang mata-mata.

Tak berapa lama handphone salah satu diantara mereka berbunyi nyaring.

“Seohyun. Bagaimana ini hyung?” panik Kyuhyun masih memandang handphonenya yang terus bergetar.

“Matikan.” perintah Donghae cepat. “Kalau Seohyun tahu bisa gawat.”

“Ne.” meski ragu Kyuhyun menurut.

Kini mereka kembali fokus pada sekelompok orang yang berjarak tiga meja dari mereka. Dengan letak duduk mereka yang dipojokan tentu lebih memudahkan untuk mengintip dengan leluasa.

“Apa-apaan dia tersenyum seperti itu pada istriku.” Donghae menggerutu sendiri. Ia kepalkan tangannya geram.

“Kurasa Siwon tersenyum pada semuanya, tidak pada Yoona saja.” celetuk Kyuhyun.

“Tetap saja disana ada Yoona.”

Kyuhyun mencibir. “Kalau aku jadi kau hyung, aku akan ada disana sekarang. Dengan duduk diantara mereka kau bisa tahu semua yang terjadi. Tidak perlu memata-matai seperti ini.”

Donghae tersenyum kecut. Andai ia berada diantara mereka pasti suasana canggung yang tercipta.

“Tapi sepertinya benar Siwon masih memendam perasaan pada Yoona.” celetuk Kyuhyun lagi.

“Benarkah? Sudah kuduga.” merasa mendapat dukungan, Donghae mengangguk-angguk mantap. Ia serasa diatas angin sekarang. “Aku sudah curiga sejak awal.” lanjutnya.

“Lalu Yoona? Kau tidak percaya pada istrimu?”

“Entahlah, aku ragu.”

“Menurutku Yoona hanya menganggap Siwon sebagai teman. Tatapan matanya berbeda hyung.” analisa Kyuhyun sok tahu.

“Aku harap begitu.” Donghae tersenyum tipis. Tapi tetap saja ia merasa gelisah.

Mereka terus saja berceloteh tak jelas. Mengomentari setiap yang dilakukan Siwon ataupun Yoona. Lama-lama terlihat seperti komentator sepakbola yang sedang mengawasi jalannya pertandingan.

___

“Terimakasih Siwon oppa untuk makan malamnya. Aku akan pulang bersama Yuri onnie dan Yesung oppa.” pamit Yoona.

Siwon tahu kalau permintaannya untuk mengantar Yoona pulang pasti ditolak mentah-mentah. Dan ia paham alasannya kenapa.

“Lain kali ajaklah suamimu.” ucapnya basa-basi.

Yoona mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia membungkuk sekilas sebelum berlalu menuju mobil Yesung.

Mata Siwon terus mengekor kepergian Yoona. Harus diakui, ia masih punya rasa pada gadis itu. Namun segera ia menggeleng, ditepisnya sendiri perasaannya.

Audi hitam itu mulai melaju pelan. Yoona memicingkan matanya sejenak. Sedikit ada yang menggelitik penglihatannya. Entah benar atau hanya perasaannya saja. Ia merasa yang ia lihat begitu nyata.

“Ada apa?” tanya Yuri heran.

Yoona menggeleng. “Tidak, sepertinya tadi aku melihat mobil Kyuhyun.”

“Mungkin Kyuhyun sedang berkencan dengan Seohyun. Kau bilang mereka sekarang pacaran kan?”

“Mungkin.” jawab Yoona ragu. “Yesung oppa, bisakah kau cepat sedikit? Aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil.” bohongnya.

Meski heran Yesung mengangguk. “Baiklah.” ucapnya.

“Kenapa tidak di restoran tadi?” tanya Yuri.

“Tadi belum ingin onnie.”

Padahal yang sebenarnya ia ingin memastikan sesuatu.

___

Yoona melangkah cepat memasuki apartmentnya lalu tergesa menuju kamarnya. Disana ia menemukan Donghae tengah bergumul dalam selimut.

“Kau sudah pulang?”

Yoona tidak menjawab tapi malah mendekati Donghae dan balik bertanya. “Kau sudah tidur? Ini kan baru jam sembilan.”

“Memangnya kenapa? Aku sendirian jadi aku ngantuk sekali.”

“Benarkah? Apa kau sudah makan malam?” selidik Yoona.

“Sudah, tadi aku beli jjajangmyeon.” Donghae kembali memejamkan matanya, berharap Yoona tidak tanya-tanya lagi.

Berhasil, Yoona beralih ke lemari untuk berganti piyama. Dan kini ia berkutat pada meja rias sibuk membersihkan sisa make up nya.

Tak berapa lama ia ikut merebahkan tubuhnya disamping Donghae.

“Donghae oppa, kau dari mana? Kenapa memakai parfum?” tanyanya tiba-tiba. “Tidak biasanya mau tidur pakai parfum.”

Donghae menggerutu dalam hati. Benar saja meski ia telah berganti piyama, parfumnya tadi tetap saja tercium. Dan kejelian Yoona membuatnya tak bisa berkutik.

Karena tidak menemukan jawaban yang pas, Donghae tidak menjawab. Ia memilih diam masih memejamkan matanya pura-pura tidur.

Tapi diluar dugaan Yoona malah tertawa kecil. “Tadi kau bersama Kyuhyun mengikutiku kan?” tebaknya telak.

Donghae tetap saja tak mau membuka matanya.

“Aku tahu Donghae oppa, dan aku juga tahu kau pura-pura tidur.”

Yoona kini memeluk erat suaminya itu. “Apa dengan cara seperti ini kau belum percaya padaku?” tanyanya.

Donghae tetap tak bergeming meski hatinya berdesir hebat.

“Donghae oppa.” panggil Yoona lagi, suaranya dibuat semanja mungkin.

Tetap tak ada reaksi.

Yoona semakin gencar melancarkan aksinya. “Baiklah, selamat malam Donghae oppa.” bisiknya mesra. Sedikit nakal ia mencium bibir Donghae pelan.

“Im Yoona, kau ini kenapa? Aku ngantuk, aku ingin tidur.” pekik Donghae akhirnya, kini ia berbalik membelakangi Yoona.

Membuat Yoona tertawa puas karenanya.

___

“Tunggu!! Yoona.. Yoongie..” teriak Donghae berulang-ulang. Percuma, Yoona telah memutus sambungan telepon itu sepihak. Ia mendesis jengkel begitu sadar yang dilakukannya ini sia-sia.

Dan ia semakin geram saat matanya tanpa sengaja menancap pada jam yang terpampang di dinding kamarnya. Jam 8 malam dan Yoona berkeliaran seorang diri diluar sana.

Memang Yoona bukannya berkeliaran sembarangan, melainkan baru saja selesai mengerjakan tugas bersama Seohyun di perpustakaan kampus. Dan kali ini ia akan mampir sebentar ke rumah ibunya. Tadi Yuri menelepon, ada hal penting katanya. Ia sudah menjelaskan semua pada Donghae. Tapi yang membuat Donghae sedikit tidak terima adalah Yoona tidak mau  dijemput dan memilih pergi sendiri.

Donghae melajukan mobilnya cepat. Jalanan Seoul yang lengang tampak memudahkannya.

Tepat saat ia meminggirkan mobilnya, Yoona baru saja turun dari taksi.

“Donghae oppa?” herannya.

Donghae segera turun menghampiri Yoona. “Harusnya aku menjemputmu ke kampus lalu mengantarmu kesini. Ini sudah malam Yoong. Kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana? Kalau ada orang jahat bagaimana? Akhir-akhir ini banyak terjadi tindak kriminal di Seoul.” omelnya.

Yoona hanya tersenyum menanggapi ocehan Donghae yang dirasanya berlebihan itu. “Kalau kau menjemputku ke kampus lalu kesini itu hanya buang-buang waktu Donghae oppa. Arahnya kan berlawanan. Tenanglah, aku bisa jaga diri.” diapitnya lengan Donghae dan dituntunnya masuk.

“Tetap saja tidak baik seorang gadis malam-malam berkeliaran seorang diri.”

Yoona tertawa. “Aku bukan gadis lagi.” ucapnya enteng.

“Heh?” Donghae menggaruk kepalanya sendiri. “Tapi kau itu.. ”

“Istrimu.” potong Yoona cepat. “Ne, kau sudah berulang kali mengatakannya Donghae oppa.”

“Kenapa kalian?” heran Yuri mendapati adik dan adik iparnya itu ribut sendiri.

“Onnie..” Yoona beralih ke Yuri. “Ada apa menyuruhku datang?”

“Bukan hal penting sebetulnya. Hanya memintamu membantu memilihkan gaun dan sepatu. Besok Yesung oppa akan mengenalkanku pada keluarga besarnya di Busan. Aku bingung sekali harus memakai apa.” rengek Yuri. Khas kegugupan akan bertemu calon mertua.

“Wah, berarti Yesung oppa sudah serius sekali ya onnie. Padahal aku masih berharap kau bisa jadi dengan Siwon oppa.” tanpa sadar Yoona mengucapkannya.

“Ehm, eomma dimana ya? Aku mau mencari eomma.” sela Donghae cepat. Jika sudah menyangkut nama Siwon akan selalu membuat telinganya panas. Jadi ia lebih memilih pergi.

Dan Yoona paham betul itu. “Sepertinya aku salah bicara.” sesalnya.

Yuri tersenyum. “Soal Siwon?”

Yoona mengangguk.

“Tadi siang sebenarnya Siwon datang kesini.” lanjut Yuri berbisik. “Tapi aku tidak tahu kenapa tiba-tiba eomma bersikap dingin padanya. Aku jadi tidak enak.”

“Benarkah? Memangnya kenapa onnie?”

“Aku juga tidak tahu. Mungkin eomma sedang sehati dengan menantu kesayangannya itu.” Yuri menanggapinya setengah bercanda.

“Entahlah.” Yoona menggedikkan pundaknya. “Ayo onnie ke kamarmu, kita pilih baju yang pas untukmu. Aku jamin keluarga Yesung oppa akan terpesona dengan calon menantunya yang cantik ini.”

Yuri langsung terkekeh mendengarnya.

___

“Seohyunnie..” Yoona berteriak kegirangan. Dihampirinya gadis itu tanpa peduli pada Kyuhyun yang manyun disamping Seohyun. “Bagaimana acara kencanmu semalam?”

“Onnie.” pipi Seohyun mulai merona malu dengan pertanyaan Yoona itu.

“Apa dia sudah berani melakukan sesuatu padamu?” diliriknya Kyuhyun.

Seohyun menggeleng lemah.

“Apa tidak bisa kau bergosip nanti saja kalau orangnya tidak ada?” cela Kyuhyun.

Yoona semakin terbahak dibuatnya. Ia hanya membentuk huruf V dengan dua jarinya. Membuat Kyuhyun semakin merengut saja.

“Oh iya, Kyu apa sekarang kau punya pekerjaan sampingan memata-matai orang?” tanyanya.

Kyuhyun bengong tak mengerti, tapi ia sedikit paham pembicaraan ini mengarah kemana.

“Maksudmu apa onnie?” justru Seohyun yang penasaran.

“Tanyakan pada pacarmu itu.”

Seohyun beralih menatap Kyuhyun meminta jawaban.

“Itu sebenarnya… ” Kyuhyun bingung sendiri bagaimana cara menjelaskannya. Ditambah Seohyun yang menatapnya semakin lekat, membuatnya jadi salah tingkah.

“Begini Seohyun.. ” lagi-lagi ia tak bisa bicara, ia kemudian beralih ke Yoona. “Donghae hyung yang memintaku menemaninya mengikutimu. Ia juga meminta membawa mobilku agar tidak ketahuan. Tapi ternyata ketahuan juga.”

“Kalian tidak profesional.” cibir Yoona.

“Aku masih butuh penjelasanmu Kyuhyun oppa.” tegas Seohyun.

“Ne, nanti kuceritakan semuanya. Ini gara-gara dia.” ditunjuknya Yoona, yang dimaksud malah semakin tertawa lepas.

“Choi Siwon.” desis Kyuhyun tiba-tiba.

Yoona dan Seohyun refleks menatap ke arah Kyuhyun memandang. Benar, Siwon dengan senyum manisnya berjalan menghampiri mereka. Sang limousin putih terparkir tak jauh darinya.

“Annyeong, apa aku mengganggu kalian?” tanyanya basa-basi.

Yoona menggeleng. “Kenapa kau bisa ada disini Siwon oppa?” ditunjuknya kursi disebelahnya agar Siwon duduk.

Siwon menurut, ia duduk persis dihadapan Kyuhyun itu. “Aku sengaja mencarimu, aku butuh sedikit bantuan. Kau bisa kan?”

“Bantuan apa?”

“Bisa temani aku membeli hadiah untuk temanku? Rencananya aku akan membeli jam tangan. Kurasa kau bisa memilihkan yang cocok karena dia juga wanita.”

Yoona terlihat ragu, banyak hal yang ia pikirkan. Jadi serba salah. Ia menatap Seohyun meminta pendapat. Sementara dikolong meja berkali-kali kaki Kyuhyun menendang kakinya. Ia sadar betul kenapa Kyuhyun melakukan itu. Selain karena Kyuhyun sahabatnya, Kyuhyun dan Donghae adalah saudara sepupu.

“Mianhae Siwon oppa, tapi aku akan pergi dengan Kyuhyun dan Seohyun.” terdengar sekali nada menyesal di ucapan Yoona.

“Oh, begitu ya.” ucap Siwon kecewa.

“Sekali lagi maaf.” Yoona menunduk hormat.

“Kami akan pergi double date, tapi menunggu Donghae hyung pulang kantor dulu.” sambung Kyuhyun membual.

Mesti Yoona tahu yang diucapkan Kyuhyun adalah sebuah kebohongan, ia biarkan saja.

“Kalau begitu bolehkan aku ikut duduk disini sebentar? Kalian tidak pergi sekarang kan?” Siwon menatap Yoona, Seohyun, dan Kyuhyun bergantian.

Yoona mengangguk. Seohyun larut dalam diam tak mau ikut campur. Kyuhyun ribut sendiri tidak jelas sedari tadi. Dan Siwon tetap dengan raut tenangnya. Lama-lama Yoona mulai jengah dengan situasi seperti ini. Mengingat statusnya sekarang, ia jadi sedikit risih dengan kehadiran Siwon.

___

“Aku harap kau jaga baik-baik Yoona. Kalau tidak aku bisa saja merebutnya kembali darimu.”

Hanya dua buah kalimat singkat tapi cukup membuat Donghae dan Siwon saling pandang sengit.

Ini untuk pertama kalinya mereka bertatap muka secara dekat. Pertama kalinya pula mereka saling bicara. Dan aura asing terasa begitu kental menyelimuti. Disini mereka tak sengaja bertemu, di toilet hotel tempat diadakannya pertemuan penting antar beberapa perusahaan besar. Perusahaan milik Siwon dan perusahaan tempat Donghae bekerja adalah salah satunya.

Donghae memandang cermin tempat dimana bayangannya dan Siwon memantul. “Tanpa kau suruh, aku pasti akan melakukannya. Karena Yoona istriku.” tegasnya.

Siwon tersenyum kecil. Merapikan dasinya sebentar, lalu pergi. Membiarkan Donghae mematung seorang diri.

Dan Donghae sungguh muak dengan sikap Siwon barusan. Menurutnya itu terlalu angkuh. Dengan emosi ia nyalakan kran wastafel hingga airnya mengalir deras. Berkali-kali ia membasuh wajahnya sendiri.

Kenapa harus muncul perasaan ini? Rasa tidak terima tapi berakhir dengan ketakutan akan kekalahan. Merasa kecil, merasa kerdil, dan merasa tak berdaya. Ia merasa telah dipecundangi oleh namja bernama Choi Siwon itu.

___

Donghae melangkah gontai memasuki apartmentnya. Mukanya terus ditekuk masam. Seharian ini ia sungguh tidak bersemangat.

Dilihatnya Yoona tampak sibuk menata pakaian dalam lemari. Ia hampiri istrinya itu dan dipeluknya dari belakang.

“Kau sudah pulang?” kaget Yoona.

Donghae tak menjawab malah semakin mempererat pelukannya.

Yoona mengkerutkan keningnya heran. Tidak bisanya Donghae seperti ini. “Kenapa?” tanyanya.

“Tak apa. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini. Memangnya tidak boleh?”

“Tentu saja boleh.”

Lama mereka dalam posisi seperti itu. Donghae seakan ingin menegaskan bahwa orang dalam dekapannya ini adalah istrinya, miliknya.

“Donghae oppa, sana mandi.” perintah Yoona. Ia berbalik menatap Donghae dan menemukan wajah murung suaminya itu. “Ada masalah?” tebaknya.

“Tidak ada. Ne, aku akan mandi.” Donghae tersenyum sebentar tapi senyum itu terkesan kaku dan dipaksakan.

Dan Yoona adalah tipikal orang yang sangat teliti. Sedikit saja ada kejanggalan ia pasti bisa membacanya. Ia rasa ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi.

“Donghae oppa, tunggu.” ditahannya tangan Donghae yang hendak pergi.

Secepat kilat Yoona mendaratkan ciuman di pipi kanan suaminya itu.

“Hanya disini?” goda Donghae, ia menunjuk pipinya sendiri. Kali ini dengan senyum yang lebih tulus dari yang tadi.

“Kalau kau menceritakan masalahmu, aku akan menciummu disini.” tawar Yoona, ia meletakkan telunjuknya di bibir Donghae.

Namun Donghae segera menepisnya. “Aku bisa melakukannya sendiri.” ucapnya. Kini gilirannya yang memagut bibir Yoona mesra.

“Sudah, sana mandi.” Yoona mendorong tubuh Donghae pelan.

Donghae tetap tak beranjak dari tempatnya. Ia terus menatap Yoona lekat. “Kau mencintaiku?” tanyanya.

“Pertanyaan apa itu? Kalau aku tidak mencintaimu aku tidak akan ada disini?”

“Ne, mungkin kau ada di Paris sekarang.”

“Donghae oppa, jangan mulai lagi. Aku tidak suka membahas hal-hal yang tidak penting.” Yoona mempertegas setiap katanya.

Menurut perkiraannya, Donghae akan membalas kata-katanya dan terjadilah perdebatan konyol seperti biasanya.

Tapi Yoona salah, Donghae justru menyunggingkan senyum termanisnya sambil berlalu pergi. Aneh sekali, lagi-lagi Yoona merasa senyum Donghae itu terasa hambar.

___

Malam hari, Yoona tengah bersiap untuk tidur. Disampingnya Donghae masih berkutat dengan laptopnya. Sejak sore sikapnya tidak berubah. Masih dingin, murung, dan terlihat menyedihkan.

“Donghae oppa.” panggilnya. Sudah diputuskan ia harus bicara. Ia tak ingin semua ini berlarut-larut tanpa kejelasan. Apalagi melihat wajah Donghae yang terus tertutup awan kelabu itu.

“Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.” bahkan menolehpun tidak Donghae lakukan.

“Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal dihatimu. Katakan saja. Apa ini ada hubungannya dengan Choi Siwon?” terka Yoona. Dihembuskannya nafasnya pelan. “Aku lebih suka kau yang ngambek, marah-marah tidak jelas dan bersikap layaknya anak kecil karena cemburu dibanding kau yang seperti ini.”

Donghae mematikan laptopnya lalu memasukkan benda hitam itu ke tas laptop dan menaruhnya di meja sisi ranjangnya. Tapi ia tetap tak berucap sepatahkatapun.

“Kau tahu Donghae oppa? Aku memang bukan orang yang pandai mengumbar kata-kata. Aku jarang mengatakan aku mencintaimu. Karena aku merasa tanpa aku mengatakannya, harusnya kau sudah merasakannya. Jadi percayalah padaku, antara aku dan Siwon oppa tidak ada perasaan apapun selain teman.”

“Bukankah seharusnya kau membenciku, bukannya malah memilihku.” gumam Donghae lirih.

“Apa maksudmu?”

“Tidakkah kau pernah berpikir bahwa menikah denganku adalah sebuah kesalahan?”

“Aku tidak mengerti yang kau katakan.” elak Yoona, ia ingin menghindar padahal ia sendiri yang memulai pembicaraan ini. “Aku tidak suka mengungkit masa lalu Donghae oppa.” tegasnya.

Donghae tersenyum miris. “Aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dibanding Choi Siwon, aku hanyalah gumpalan debu yang hilang dengan sekali tiupan.”

“Benar kan dugaanku? Siwon oppa lagi? Apa yang harus kau takutkan? Aku istrimu, milikmu, itu sudah jelas.”

“Tapi caraku mendapatkanmu adalah dengan cara merebutmu darinya. Bukankah aku jahat sekali?”

Tanpa sadar kristal bening mulai mengalir pelan dari pelupuk mata Yoona, ia menangis. “Aku tidak pernah mempermasalahkan apa yang pernah terjadi di masa lalu kita. Tapi kenapa kau mengungkitnya lagi Donghae oppa?”

Menyadari Yoona menangis, Donghae sedikit luluh. Diraihnya tangan Yoona dan digenggamnya erat. Lalu direngkuhnya Yoona dalam pelukannya. Tanpa berkata apapun lagi ataupun memperpanjang masalah ini. Sekedar tak ingin membuka luka lama.

Namun ia masih sempat membatin. “Aku yakin dia masih mencintaimu Yoong. Dan aku begitu takut kehilanganmu.” ucapnya dalam hati.

___

“Donghae oppa, kurasa kita memang butuh lebih banyak waktu untuk berdua seperti ini.” Yoona merangkul Donghae, duduk disofa menonton TV dan bermalas-malasan berdua seharian.

Donghae mengangguk. “Dan kita perlu bicara dari hati-hati.”

“Saling jujur dan tidak ada kebohongan.” imbuh Yoona.

“Baik, tapi tidak boleh marah.”

Yoona tersenyum mencibir. “Bukannya kau yang sering marah tidak jelas?” sindirnya.

“Kali ini tidak, ayo mulai.” Donghae menggeser duduknya, hingga menghadap Yoona. “Siapa cinta pertamamu?” tanyanya.

“Aku lupa.”

“Harus jawab Yoong.”

“Choi Minho. Dia dulu tetangga sebelah rumahku tapi sudah pindah. Aku rebutan dengan Yuri onnie. Padahal dia lebih muda dari kami.” Yoona tertawa geli mengingatnya.

“Lalu pacar pertamamu?”

“Kakak kelasku waktu SMP, Kim Kibum.”

“Apa? Jadi kau pacaran sejak masih SMP? Hahaha..” Donghae tertawa puas.

Yoona memanyunkan bibirnya. “Giliranku, aku gadis keberapa untukmu?”

“Pertama.”

“Bohong.”

“Aku tidak bohong Yoong, saat ini kau memang yang paling penting bagiku.”

“Maksudku, aku pacarmu yang keberapa?” ralat Yoona.

“Memangnya kita pernah pacaran?” Donghae justru balik bertanya.

Yoona mendesis jengkel sendiri. “Aku tahu kau pasti mengerti maksud pertanyaanku.”

“Ke empat.” jawab Donghae akhirnya.

“Apa? Banyak sekali. Ternyata kau playboy juga Donghae oppa.”

“Sembarangan.” Donghae tidak terima. “Jawab yang jujur Yoong, apa kau pernah membenciku?”

Yoona menggeleng tapi kemudian mengangguk.

Donghae tersenyum simpul. “Aku tahu. Sekarang katakan apa saja yang pernah kau lakukan selama pacaran dengan Choi Siwon?” lanjutnya mulai serius.

“Melakukan apa? Yang jelas masih dalam batas wajar orang pacaran.”

“Benarkah?” selidik Donghae. “Batas wajar orang pacaran itu seperti apa? Pegangan tangan? Ciuman?”

“Kau pasti tahu sendiri Donghae oppa.” pekik Yoona. “Justru yang diluar batas itu aku melakukannya denganmu.” gerutunya.

“Kenapa bawa-bawa aku?”

“Sudahlah, aku tidak mau lagi cerita padamu.” Yoona cemberut sambil memeluk bantal sofa.

Beruntunglah terdengar bel apartment mereka yang berbunyi nyaring.

“Kau yang buka.” perintah Yoona seenaknya

Meski malas, Donghae tetap menyeret kakinya. Tak berapa lama ia kembali lagi. Membawa sebuket mawar merah dan raut wajah yang berubah getir.

“Untukmu.” dengan sinis diserahkannya rangkaian bunga ditangannya pada Yoona.

Setelah tahu nama Choi Siwon tertera sebagai pengirimnya, bunga itu justru Yoona lempar asal. “Buang saja.”

Baginya, ini membuatnya tidak nyaman. Dan bagi Donghae, ini sudah keterlaluan.

Alhasil mereka saling membisu berdua. Dengan bunga indah yang tergolek tak berdaya dilantai.

___

Lagi-lagi kesekian kalinya, disetiap jam makan siang Siwon selalu menghampiri Yoona ke kampusnya. Entah tujuannya apa, yang jelas ini mulai rutin ia lakukan. Meski hampir tidak pernah bertemu Yoona karena Yoona terus saja menghindar. Seperti kali ini, ia rela duduk dikantin ditemani Kyuhyun dan Seohyun yang mulai bosan.

“Siwon-ssi, kenapa kau selalu datang kesini? Apa kau tak punya pekerjaan lain? Ngomong-ngomong kau masih menyukai Yoona ya? Dia kan sudah menikah. Apa kau tak malu mencintai istri orang? Harusnya kau cari yeoja lain saja. Kau kan tampan, pasti banyak yang mau denganmu.” Kyuhyun mulai bertanya macam-macam. Untuk ukuran orang yang tak begitu kenal, ini sungguh lancang.

Seohyun saja sudah gemetar gugup dengan tingkah Kyuhyun itu. Takut Siwon tersinggung atau apa.

Siwon tersenyum tipis. “Kapan aku pernah bilang masih mencintai Yoona?”

“Dari sikapmu sudah kentara.”

“Lalu kalau iya kenapa? Itu bukan urusanmu kan?”

Kyuhyun menggertakkan giginya geram. “Tapi dia sudah menikah.” bentaknya.

Siwon tetap menanggapinya dengan tenang. “Lalu? Seharusnya kan aku yang menikah dengannya.”

“Bukankah dulu kau terima? Kau sudah merelakannya? Ternyata kau bermuka dua.” Kyuhyun terus melontarkan omongannya yang pedas. Meski Siwon menanggapinya dengan tenang, dengan nada bicara yang pelan, tetap saja itu terlihat menyebalkan baginya.

“Ne, kau benar. Aku memang terima, aku berusaha ikhlas, tapi kenyataannya sekarang aku menyesal.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Merebut Yoona dari Donghae hyung? Jangan harap, itu tidak adil bagi mereka.”

“Lalu apa ini adil bagiku? Tunanganku yang hampir menikah denganku kini menikah dengan orang lain. Sekarang siapa yang merebut dari siapa?” Siwon sedikit menaikkan nada suaranya, ini terlalu pahit untuk ia umbar.

Kyuhyun terdiam, entahlah kalau bicara siapa yang benar siapa yang salah tentu takkan ada ujungnya.

“Siwon-ssi, kalau aku boleh ikut bicara tetap saja ini tidak benar.” potong Seohyun hati-hati. “Aku mencoba melihat dari sudut pandang orang lain yang tak ada hubungan dengan Donghae oppa ataupun Yoona onnie. Aku tidak menyalahkanmu. Hanya, berusaha memisahkan hubungan orang yang saling mencintai itu pada akhirnya akan menyakiti dirimu sendiri. Kau tak mau sakit untuk kedua kalinya kan? Karena aku melihat cinta antara Donghae oppa dan Yoona onnie itu tulus. Maaf kalau aku lancang, aku tidak bermaksud untuk mengguruimu. Aku hanya menyampaikan pendapatku saja.”

“Ne, Seohyun-ssi aku tahu kau orang yang berpikir realistis. Aku juga tidak sejahat itu. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku tanpa bermaksud menyakiti siapapun. Sepertinya aku harus pergi. Aku tidak mau suasana disini jadi tidak enak gara-gara aku.” Siwon membungkuk kecil terlebih dulu sebelum melenggang pergi.

“Menyebalkan. Harusnya kau bilang padanya jangan ganggu-ganggu Yoona lagi.” gerutu Kyuhyun kesal.

Seohyun hanya menepuk-nepuk punggung tangan Kyuhyun. Berharap kekasihnya itu sedikit lebih tenang.

___

“Bagaimana? Cantik bukan?” Yuri memperlihatkan sebuah gelang berbandul bulan dan bintang.

Yoona mengangguk. “Tapi aku tidak bisa menerimanya onnie.” tolaknya karena gelang itu titipan Siwon.

“Kenapa? Karena Donghae? Bilang saja ini kau beli sendiri. Sayang kan kalau kau menolak barang sebagus ini.”

“Mian onnie, aku tetap tidak bisa. Aku tidak mau memperuncing masalah.”

“Ya sudah, nanti akan kukembalikan pada Siwon.”

“Sekalian katakan padanya, jangan lagi memberi sesuatu pada istri orang.” tiba-tiba Nyonya Kim, ibu mereka menyahut dengan sinisnya.

“Eomma.” Yoona dan Yuri menoleh bersamaan.

“Dan kau Yuri, jangan terlalu dekat dengannya meski sebatas sahabat. Ingat, pertunanganmu dengan Yesung tinggal menghitung hari.”

“Ne, eomma.” Yuri mengangguk lemah.

Nyonya Kim beralih ke Yoona. “Eomma ingin bicara denganmu sebentar.” ajaknya.

Yoona menurut, ia ikuti langkah eommanya.

Nyonya Kim duduk di ruang makan sambil menyesap teh hangatnya. Ia menghembuskan nafasnya pelan. “Kau mencintai Donghae kan?”

Yoona menautkan alisnya. Kenapa tiba-tiba eommanya bertanya seperti itu. “Tentu saja eomma.” jawabnya.

“Beberapa minggu lalu Siwon datang kesini. Dia memintamu dari eomma. Bagi eomma, itu sebuah penghinaan. Ibu waras mana yang akan menyerahkan putrinya pada laki-laki lain sementara putrinya itu sudah menikah?”

Yoona menggigit bibir bawahnya. Belum sepenuhnya percaya Siwon sanggup berbuat seperti itu. Tapi tuturan itu keluar dari mulut ibunya sendiri. Tunggu, ia menerka-nerka. Inikah yang membuat eommanya bersikap dingin pada Siwon seperti yang pernah diceritakan Yuri?

“Kau tahu Yoona? Ikatan pernikahan itu suci. Pernikahan bukan sebuah permainan yang mudah ditentukan kapan mulai dan kapan berakhir. Siwon memang orang baik tapi dia tak lebih dari bagian masa lalumu. Tak peduli bagaimana mulanya sekarang suamimu adalah Donghae. Eomma harap kau tetap setia.”

Yoona manggut-manggut. “Ne, eomma. Perlahan-lahan Donghae oppa telah mengambil perasaanku yang dulu sempat kuberikan pada Siwon oppa. Sekarang, perasaanku pada Siwon oppa hanya sebagai teman. Yang aku cintai Donghae oppa, aku yakin itu eomma.”

Nyonya Kim tersenyum. “Mungkin ada baiknya kau menghindari Siwon.” sarannya.

Lagi-lagi Yoona mengangguk. Jadi selama ini benar Siwon masih mencintainya. Jadi rasa cemburu Donghae selama ini yang menurutnya tidak mendasar itu cukup beralasan.

“Eomma yakin dia pasti datang di pesta pertunangan Yuri. Sebisa mungkin kurangi berinteraksi dengannya.” pesan Nyonya Kim lagi. “Apalagi nanti ada Donghae, eomma tak ingin ada masalah diantara kalian.”

Yoona baru tersadar. Iya, pertunangan Yuri akan diadakan sebentar lagi. Ia terlalu memikirkan banyak hal hingga hampir saja melupakan momen penting itu.

___

Duduk Yoona ditengah-tengah keluarga besarnya juga keluarga besar Yesung. Donghae tetap setia disisinya.

Didepan sana, acara inti baru saja usai. MC masih terus menggoda Yuri dan Yesung dengan candaan-candaannya.

Sampai tiba saatnya acara dansa. Sebagai pasangan pertama tentu Yuri dan Yesung. Hingga satu persatu pasangan mulai menyusul. Saling merangkul mesra menikmati lagu yang mengalun.

“Donghae oppa, ayo kita dansa.” ajak Yoona, ia merengek menarik tangan Donghae.

“Tidak mau, lagunya membuatku ngantuk.” Donghae malah sibuk sendiri memakan hidangan yang tersaji di meja.

“Dasar.” gerutu Yoona.

Tiba-tiba tanpa ia sadari Siwon tengah berjalan ke arahnya. “Mau berdansa denganku?”

Suasana mendadak hening. Tangan Siwon tetap mengulur di depan Yoona yang jelas-jelas ada Donghae di sampingnya. Donghae meneguk segelas air putih di depannya dengan emosi. Ini sudah di ambang batas kesabarannya.

“Mianhae, aku tidak bisa.” tolak Yoona halus. Ia terus menggenggam tangan Donghae agar tetap tenang.

Siwon menarik kembali tangannya tanpa rasa canggung sedikitpun. Ia masih sempat tersenyum manis. “Tak apa, kau cantik hari ini.” ucapnya sebelum berbalik pergi.

Donghae sudah tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Ingin sekali ia mengejar Siwon lalu menghajarnya. Tapi Yoona terus saja menahan lengannya agar emosinya tidak memuncak.

“Donghae oppa, lebih baik kita pulang.” Yoona menarik paksa Donghae. Bahkan tanpa sempat berpamitan pada Yuri, Yesung, ataupun eommanya. Ia sudah tak memperdulikan itu semua. Baginya, tetap disini hanya akan memperkeruh keadaan.

Suasana hati Donghae saat ini sungguh kacau. Sepanjang jalan ia kemudikan mobilnya ugal-ugalan. Dan Yoona terus saja membisu. Ia paham mood Donghae pasti sangat buruk sekarang.

Bahkan begitu sampai di depan apartment ia tetap tak beranjak dari balik kemudi dan tak kunjung memarkirkan mobilnya. “Aku mau pergi sebentar Yoong, turunlah.” perintahnya.

“Pergi kemana?”

“Sebentar saja, nanti aku pasti pulang.”

“Kalau begitu aku ikut.”

“Aku sedang ingin sendiri Yoong.”

“Tapi…”

“Tenanglah, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin sendiri, itu saja.”

“Baiklah.” meski enggan toh Yoona akhirnya turun dari mobil Donghae.

Perasaannya was-was apalagi saat Donghae kembali melajukan mobilnya entah kemana.

___

Malam telah larut. Yoona belum sekalipun memejamkan matanya padahal ia sangat lelah. Apalagi tidur, bernafas saja rasanya sesak. Ia terus saja gusar. Donghae belum juga pulang, itu masalahnya. Berkali-kali ia coba hubungi, tapi handphonenya tidak aktif. Mungkin Donghae sengaja mematikannya.

Baru saja Yoona akan pergi keluar mencari Donghae karena sudah terlalu lelah menunggu. Saat tiba-tiba pintu itu akhirnya terbuka.

“Donghae oppa.” teriak Yoona kegirangan. “Kau baik-baik saja?”

Tanpa dijawab Yoona sudah tahu jawabannya. Donghae terlihat kusut sekali. Ia tampak tidak baik-baik saja.

Jadi Yoona memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak lagi.

Namun yang terjadi Donghae justru mendekatinya dan memeluknya erat. “Maafkan aku Yoong.” bisiknya lirih.

“Kenapa minta maaf padaku?”

“Karena sejak awal memang aku yang salah. Aku yang merebutmu darinya. Jadi akan lebih baik kalau sekarang aku melepasmu seperti yang seharusnya.”

Yoona menghempaskan pelukan Donghae padanya. Ia tidak suka Donghae menyalahkan dirinya sendiri dan bersikap seperti ini.

“Donghae oppa, seberat apapun masalah yang terjadi diantara kita, jangan pernah berpikir untuk mencari jalan sendiri-sendiri. Rintangan apapun akan mudah terlewati jika kita tetap di jalan yang sama.” teriak Yoona parau, matanya berkaca-kaca memandang nanar Donghae.

“Lalu apa yang bisa kulakukan? Dia terang-terangan menyukaimu didepanku. Dan aku tak sanggup berbuat apa-apa. Aku merasa tidak berguna Yoong.”

“Aku yang akan menyelesaikan semuanya, sekarang juga.” dengan berurai airmata, Yoona melangkah pergi. Ia yakin yang dilakukannya ini benar.

“Kau mau kemana?”

Bahkan panggilan Donghae tak ia gubris sama sekali.

___

Cuaca Seoul yang dingin dimalam hari sungguh tidak mendukung. Yoona berdiri seorang diri didepan gerbang tinggi kediaman keluarga Choi. Saat pelayan disana menyuruhnya masuk pun ia tak peduli. Ia terus menunggu Choi Siwon. Walau pelayan itu mengatakan Siwon sudah tidur dan mereka takut untuk membangunkannya. Ia tidak menyerah, ia terus bertekad untuk menunggu.

Donghae terus melihat apa yang dilakukan Yoona dari dalam taksi. Jaraknya dekat sekali, tapi Yoona tidak mengetahui keberadaannya. Ingin sekali ia merengkuh istrinya itu tapi matanya dengan cepat menangkap sosok yang datang, Choi Siwon. Yah, namja itu akhirnya keluar juga.

Yoona memaksakan tersenyum getir. “Siwon oppa.” sapanya.

“Apa yang kau lakukan malam-malam disini? Masuklah, kau kedinginan.” Siwon nampak khawatir bercampur heran dan juga kaget dengan kehadiran Yoona.

Yoona menggeleng. “Aku hanya sebentar Siwon oppa. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting menyangkut hidupku.” tuturnya dingin.

“Apa?”

“Jauhi aku.” pinta Yoona tegas.

Siwon bahkan hanya mematung ditempatnya.

“Mianhae kalau aku lancang. Aku mohon dengan sangat jauhi aku Siwon oppa. Aku sungguh mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Aku sangat lelah.” ulang Yoona lagi.

“Tapi kenapa? Bukankah kita selamanya teman?”

“Sikapmu padaku tidak mencerminkan kalau kita teman. Aku tidak mau pernikahanku hancur karena ini. Aku sudah menikah, aku punya suami. Tidak selayaknya kau terus memberikan perasaanmu padaku.”

“Intinya kau sedang memikirkan perasaannya kan?” Siwon tersenyum pahit. “Kenapa dulu kau tidak memikirkan perasaanku?”

“Mianhae, semua yang terjadi itu diluar kuasaku. Aku tidak pernah merencanakannya, tapi takdir yang membawaku pada Donghae oppa. Mianhae, jeongmal mianhae.” kali ini Yoona mulai menekuk kedua kakinya dan berlutut pada Siwon.

“Apa yang kau lakukan?” bentak Siwon.

“Anggaplah dengan cara seperti ini aku menebus kesalahanku padamu. Aku tahu Donghae oppa bukan manusia serba sempurna. Kau jauh lebih baik darinya. Tapi hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan cintanya. Aku mencintainya Siwon oppa, sangat mencintainya. Maaf karena telah mengambil kembali hatiku yang sempat tertanam dihatimu. Dan kini hatiku itu telah sepenuhnya kupasrahkan padanya.” Yoona bahkan mulai terisak lirih.

“Berdirilah Im Yoona.” suruh Siwon lagi.

Yoona tetap tak bergeming.

Sementara didalam taksi Donghae mulai resah. Ia melihat semua adegan itu dan hanya mampu bertindak sebagai penonton setia. Lagi-lagi ia merutuki dirinya sendiri.

Siwon terlihat semakin frustasi. “Baiklah, akan kuturuti semua maumu tapi berdirilah.”

Ia hendak meraih tangan Yoona untuk membantunya berdiri. Tapi Yoona dengan tegas menolak.

“Aku tidak tahu kalau jadinya seperti ini. Kuakui, aku masih menyayangimu tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi duri dalam rumahtanggamu. Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku masih peduli padamu, itu saja. Tapi sepertinya aku tidak sadar diri sejak awal. Mianhae kalau aku keterlaluan. Sampaikan juga maafku pada suamimu.” ucap Siwon tulus. Sampai dititik ini ia tahu pada akhirnya ia tetap kalah.

“Siwon oppa, terimakasih.” untuk pertama kali sejak tadi Yoona baru mau menatap Siwon. “Kau orang baik, carilah gadis lain yang bisa menyingkirkanku dari hatimu.” sarannya.

“Ne, aku akan mencoba. Pulanglah, suamimu pasti sudah mencemaskanmu.”

Yoona tersenyum kecil kemudian membungkuk sekilas. “Maaf telah mengganggu, selamat malam.” ia membalik tubuhnya dan berjalan pergi. Dan langkahnya kali ini terasa lebih ringan.

Perlahan taksi yang ditumpangi Donghae pun mulai menjauh sebelum Yoona sempat melihatnya.

___

Ya Tuhan, Yoona baru tersadar kalau ini bukan lagi tengah malam. Ini sudah menjelang pagi. Dan ia masih berkeliaran di fajar yang sepi. Tiba-tiba jadi teringat Donghae. Apa suaminya itu mencemaskannya seperti biasanya atau tidak?

Yoona menggosokkan kedua telapak tangannya. Rasanya dingin sampai menusuk tulang. Ia tetap berjalan seorang diri.

Tanpa ia tahu, Donghae terus mengikutinya dari belakang dalam jarak aman.

Yoona mengedarkan pandangannya. Taman ini masih begitu sepi dan gelap. Hanya ada pencahayaan dari beberapa lampu yang temaram. Entah apa yang membawanya kemari. Ia hanya mengikuti tapakan kakinya.

Seorang diri ia duduk di ayunan. Atas semua yang terjadi rasanya ia juga butuh ketenangan. Dan itu ia temukan disini.

Donghae yang sejak tadi membuntutinya perlahan mendekat. Dalam diam ia ikut duduk di ayunan sebelah Yoona.

“Donghae oppa?” kaget Yoona. “Kenapa kau bisa ada disini?”

“Sama sepertimu. Kenapa kau bisa sampai kesini?”

“Kau mengikutiku kan?” tebak Yoona.

Donghae hanya tersenyum simpul.

Yoona langsung tahu kalau tebakannya tepat. “Kau sendirian? Mana partnermu?” tanyanya.

“Siapa?”

“Kyuhyun, memangnya siapa lagi? Kalian kan selalu bekerja sama untuk memata-mataiku.”

“Tidak, aku sendirian Yoong.”

“Masih marah?”

Donghae menggeleng. “Tidak ada alasan lagi untukku marah.” ia memandang Yoona lekat. Tatapannya penuh arti. Ada rasa haru, bahagia, bangga, campur aduk jadi satu.

“Tunggu!! Sejak kapan kau mengikutiku Donghae oppa?”

“Sejak dari apartment.”

“Jadi kau melihat semuanya?” pekik Yoona histeris.

Donghae mengangguk. “Ne.” diacaknya rambut Yoona pelan.

“Kenapa? Aku hebat kan?” ujar Yoona menyombongkan diri.

“Ne, hebat sekali. Aku tidak menyangka ternyata sedalam itu kau mencintaiku. Aku jadi terharu Yoong.” Donghae serius tapi juga setengah meledek.

“Apa itu terlihat sangat memalukan?”

“Tidak, kau terlihat sangat manis.”

Yoona merona malu menanggapi pujian Donghae itu. “Jadi masih tidak percaya padaku?”

“Masih.”

“Kenapa?” tanya Yoona kecewa.

“Aku mau punya bayi.”

“Apa?” perkataan Donghae barusan sukses membuat Yoona tercekat. “Perjanjiannya kan setelah aku lulus kuliah.” pekiknya.

“Kapan itu? Kira-kira setahun lagi, lama sekali.” gerutu Donghae.

“Yang namanya perjanjian tetap perjanjian Donghae oppa. Pokoknya aku tidak mau punya bayi dulu. Lagipula, aku sudah punya anak umur 5 tahun yang terjebak dalam tubuh lelaki dewasa berumur 25 tahun.” ledeknya.

“Apa maksudmu? Aku?”

Yoona langsung terbahak. “Ayo pulang Donghae oppa, aku ngantuk tidak tidur semalaman.” alihnya.

Belum ada satu langkah, Donghae sudah lebih dulu meraih tangannya. Lalu merengkuhnya erat. Yoona hanya tersenyum dalam dekapannya. Semoga akan seperti ini untuk selamanya.

___

Incheon airport, Siwon berkali-kali melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Harusnya orang yang ia tunggu sejak tadi sudah tiba. Tapi nyatanya..

Seorang gadis berkulit putih melambaikan tangan padanya. Akhirnya..

“Aku kira pesawat menurunkanmu di tempat lain.” sindir Siwon.

“Aku ada sedikit masalah dengan petugas bandara. Tapi tidak apa-apa.”

“Untukmu.” Siwon menyerahkan gelang berbandul bulan dan bintang yang dulu pernah diberikannya pada Yoona tapi ditolak.

“Jadi ini gelangnya? Sebenarnya aku tidak suka barang bekas. Tapi karena ini bagus jadi aku terima saja.” gadis itu langsung memakainya ditangan kiri dan memandangnya sejenak. “Tidak buruk juga.”

Siwon tersenyum tipis. “Kau tidak berubah Hwang Miyoung.”

“Tiffany Hwang.” ralat Tiffany. “Di Paris tidak ada yang kenal nama itu.” jelasnya.

“Ne, model papan atas Tiffany Hwang. Tapi ini Korea, jangan lupa itu.”

“Terserah kau saja. Jadi bagaimana apa sakit hatimu sudah sembuh?”

“Belum sepenuhnya.”

“Tak apa, sekarang obatnya sudah datang.” Tiffany menunjuk dirinya bangga. “Ayo pulang, tolong bawakan koperku.” perintahnya sembarangan.

Sambil berkacak pinggang Siwon menggeleng kecil. “Gadis yang aneh.”

___

___

___

___

~Kalau di I love my baby and you, Siwon kan malaikat banget. Nah disini malaikatnya tak patahin sayapnya. Jadi intinya tak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk~ tapi sebaik apapun atau seburuk apapun Siwon dan Donghae mereka tetap ganteng, kkk.. Yang setuju komen!!! Eh kurang, si evil satu itu juga tambah ganteng.  ^_______^


44 thoughts on “She’s My Wife [sequel i love my baby and you]

  1. Hahaha😀
    yoonhae kocak,
    ngebayangin ekspresi Yoong waktu Hae ngrengek2,
    yoong kan istrinya bukan babysitternya,
    romantis tp kocak
    good job, chingu~
    duh~ Wonppa yuk ma aku ajah *bungkus Wonppa bwa pulang*

    Like

  2. waaah yoonhae love is daeebaaaak dh..
    nah akhirny kn sifany dh bukn yoonwon, untung tetep bgus bwt hae hyung endingny..
    aseeek ditunggu lg ff slanjutny..

    Like

  3. hahahahaha kereeeenn~
    Bener engga ada manusia yang sempurna !!
    Sayap dipatahin? Haha

    Ahhh so sweet dah~
    Si kyu kocak haha gak bisa jadi detective wkwk

    Donghae kekanakan banget T.T
    Jadi, mau nunda sampe 1 tahun? Kasian haha #plak

    Like

  4. Ahh…aku smpai tk bisa berkata2…ini sungguh DAEBAK!!!

    Hae kalo cemburu beneran childish bgt…

    Siwon oppa…kamu sama tiffany aja ya..biar yoona sm hae…

    Like

  5. chingu klau bisa squel.a gak brhnti dsni aja alias terusin lgi, kan hae sma yoong.a blm pnya anak iaiaia. Hehe
    Aku tunggu loh chingu. =))

    Like

  6. yoona sama donghae nya romantis bangeeeeeettttt u,u
    suka suka suka sama sifat donghae nya hahahaha
    tapi agak benci juga sama Siwon pengganggu rumah tangga orang hahahaha *padahal biasku Siwon*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s