My Yeoja [sequel – chapter 3 from ]


Judul FF : My Yeoja  [sequel – chapter 3 from ]

Cast : Kim Taeya (You), Lee Taemin (SHINee), Choi Minho, Lee Jinki (Onew), Kim Jonghyun, Kim Kibum (Key)

Genre : Romance, Friendship

Author : Song Miin Ah a.k.a AMRLIN

I BACK WITH THE THIRD CHAPTERS J annyeong, chingu! Mian ya kalau aku bikin ceritanya pasti panjang. Hehe, dont be a silent readers ok? Gomawo *bow*

 

Lee Taemin POV

Aku terbangun karena merasa ada yang ganjal. Tubuhku sudah sempurna berbaring di kasurku. Aku juga sudah terbungkus rapih dengan selimut. Mana Taeya? Apa dia sudah bangun? Aku melirik ke segala arah, tak mungkin Taeya bisa memindahkanku ke kasur ini. Itu mustahil. Sampai akhirnya aku melihat sebuah handphone touchscreen berwarna biru yang memiliki strip bertuliskan ‘M-Y’, tergeletak di meja.

Minho-hyung pastilah sudah pulang.

 

Kim Taeya POV

Aish, cahayanya silau sekali. Memaksaku membuka mataku.

“Pagi, Taeya.” Sapa seorang namja, tapi bukan suara Taemin-oppa. Aku sontak bangun dan melirik kesegala arah. Dimana Taemin-oppa? Ini kamarku. Bukan kamar Taemin-oppa. Bukan kamar dimana aku tertidur di pundak Taemin-oppa.

“Ada apa, Taeya?”

Aku menoleh kearah namja yang sedari tadi sedang menyibakkan tirai kamarku. “Minho-oppa….”

“Waeyo?”

“Ani. Oppa kapan pulang?” tanyaku heran.

“Kemarin malam.” Balasnya. Berarti dia yang memindahkan aku ke kamar ini. Berarti dia juga melihat aku dan Taemin-oppa tadi malam? Aigo.. bagaimana ini?

“Tenang saja. Pecahan piring di dapur sudah aku bersihkan. Aku juga sudah memasak sarapan untuk kau dan Taemin-ah. Kita makan ya?” lanjutnya.

Benar. Berarti dia melihat kejadian kemarin malam. Aish, yeoja macam apa aku ini? Malu sekali rasanya dipergoki seperti itu. Tapi, kemarin aku benar-benar takut. Taemin-oppa juga tidak menolak ketika aku tertidur di pundaknya.

“Taeya-yah…” panggilnya. “Ah, iya. Kenapa Oppa?” tanyaku.

“Hari ini kau mau kencan denganku?” pintanya. Aku senang sekali. Entah kenapa jantungku berdebar lebih cepat dan tubuhku memanas. Kencan? Hanya aku dan Minho-oppa? Aku mengangguk mantap. Dia tersenyum puas.

“Bagus. Hari ini aku ingin buat kejutan untukmu!” katanya.

 

Bangga sekali ketika semua melihat aku, digandeng oleh salah seorang member boyband terkenal bernama SHINee. Aku baru tau kalau mereka adalah sebuah boyband dari jjong-oppa beberapa minggu yang lalu.

Minho-oppa menggandengku tanpa sembunyi-bunyi sedikitpun. Aku merasa terharu. Bagaimanapun, pastinya kita akan menarik perhatian paparazzi. Tapi dia tidak ragu sedikitpun. Tidak ragu untuk menggandeng tanganku.

“Kita akan kemana, oppa?” tanyaku.

“Mmh? Kau mau kemana? Tadinya aku ingin ajak kau shopping. Tapi kalau kau punya tujuan lain, aku ikut kau saja.” Balasnya.

“Shopping? Aku tak bawa banyak uang, oppa…” keluhku. Aku memajukan bibirku. Sedikit bingung dan ragu.

“Ya! Kau kira aku namja sekaligus oppa macam apa? Tentu saja aku yang akan membelikannya untukmu.” Cubitnya. “aish, sakit oppa…” ujarku sambil mengelus pipiku. “Nah, ayo kita belanja!” katanya sambil menarik tanganku.

Hanya sekitar 15 menit kami jalan, kami sudah berada didepan sebuah Mall. Banyak sekali yeoja langsung histeris begitu melihat Minho-oppa. Minho-oppa juga tak berhenti membungkuk-bungkuk sambil terus tersenyum. Apa ini para fans oppa? Banyak sekali. Dulu, aku tak pernah peduli dengan K-Pop karena aku memang tidak tau. Di Chicago, mana ada orang yang berbicara tentang K-Pop?

Aku terus tersenyum. Haha? Tahukah kalian perasaanku sekarang? Choi Minho, namja tampan dan terkenal. Sekarang berada didekatku dan menggenggam erat tanganku.

“Lihat, itu Minho SHINee! Hey hey, siapa yeoja disebelahnya? Orang asing ya? Lihat deh, rambutnya merah begitu…” beberapa orang mulai memotret kami.

Hei, kau kira aku tidak mengerti pembicaraan kalian? Aku memang orang asing, tapi aku bisa bicara Korea. Lain kali, kalau ingin bergunjing…. perhatikan dulu orang yang ingin kau gunjingkan. Kalian iri padaku? Tentu saja iya. Iyakan?

“Taeya-yah, silahkan belanja sepuasmu!” seru Minho-oppa ketika kami sampai disebuah toko merk pakaian. “S-P-A-O?” ejaku.

“Ayo kita belanja. Disini bajunya bagus-bagus. Kau harus beli banyak baju hangat kan?” ajaknya.

Kami memulai ‘pertempuran’ kami. Minho-oppa memilihkan banyak sekali baju dan mantel untukku. Sudah berkali-kali aku masuk-keluar ruang ganti. Aku tak menyangka Minho-oppa serius dengan niatnya ingin membelikan aku baju.

“Kau cocok dengan semua baju. Bagaimana kalau kita beli semua, Taeya-yah?” tanyanya dengan wajah kebingungan. Aku tertawa, “Aigo oppa! Mana bisa begitu! Lihatlah, semuanya berharga sangat mahal!”

“Siapa suruh kau punya wajah cantik? kan, jadinya kau cocok dengan semua baju-baju ini, Taeya-yah.” Katanya. Wajahku sontak merona. Mana bisa dia bilang seperti itu di tempat seperti ini.

“Harusnya kita ajak Kibum-oppa ya?” tanyaku. Dia menggeleng cepat, “Aniyo. Mana bisa. Inikan kencan kita. Mana boleh ada orang lain?! Lagipula, kali ini aku yang akan carikan baju untukmu. Aku juga cukup fashionable kok. Tenang saja!” serunya. Dia pun kembali berkutat dengan beberapa rak pakaian. Rasanya senang sekali mendengar Minho-oppa bicara seperti itu.

Aku beranjak ke rak pakaian pria yang tak jauh dari situ. Aku mulai memilih beberapa baju untuk Minho-oppa. Hmm? Kalian fikir Minho-oppa lebih bagus pakai kaus apa kemeja? Mungkin kemeja ya? Bermotif kotak-kotak atau garis-garis? Bagaimana dengan celananya? Aish, Minho-oppa juga cocok pakai apa saja. Setelah 20 menit mencari, aku memutuskan kemeja kotak-kotak berwarna biru-putih, vest hijau lumut dan celana jeans untuk Minho-oppa.

“Oppa Oppa! Ayo coba ini!” seruku. Dia nampak kaget.

“Taeya-yah, aku bahkan belum selesai memutuskan baju yang cocok denganmu. Kau malah menyuruhku mencoba pakaian itu.” Keluhnya.

“Sudahlah, coba saja dulu. Ini aku yang pilihkan untuk oppa!” Aku mendorongnya masuk keruang ganti. Lama juga dia ganti pakaian. Aku melihat-lihat kearah kaus. Mataku langsung melihat kearah sebuah kaus hitam bertanda tangankan, Michael Jackson. Aku langsung mengambilnya.

“Michael Jackson?” gumanku. Aku langsung ingat kalau di rak Taemin-oppa banyak barang-barang seperti ini. Dia penggemar Michael Jackson kurasa. Oppa pasti senang kalau aku berikan kaus ini padanya.

“Eumh, Taeya-yah…”

“Ya?” aku menoleh. Minho-oppa sudah ganti. Aigooo! Tampannya oppa-ku yang satu ini. “bagaimana?” tanyanya. Aku tak sanggup menahan debaranku. Wajahku pastilah sudah merah sekarang. “Tampan, oppa. Cocok sekali denganmu.” Jawabku sambil mengacungkan jempol.

“Nah, sekarang giliranmu yang coba!” pintanya. Akupun masuk kedalam ruang ganti.

 

Choi Minho POV

Aku bisa melihat wajahnya yang merona sekarang. Melihatnya seperti itu membuatku ikut berdebar-debar. “Nah, sekarang giliranmu yang coba!” pintaku. Diapun menurut dan masuk kedalam ruang ganti.

Sambil menunggunya, aku berkeliling di toko. Spanduk itu. Yuri-yah sedang berpose berdua dengan Heechul-hyung. Yuri-yah… kau memang cantik. Kau nyaris membuatku gila setiap kali melihatmu dekat dengan namja lain. Aku bahkan pernah memarahimu karena video klip Cabi Song. Yuri-yah….

Handphone ku berbunyi

Minho-yah? Hari ini jadikan? Aku tunggu di tempat biasa ya? Aku sudah tak sabar  melihatmu dan dongsaeng barumu yang cantik.

Your Noona

Kwon Yu Ri

            “Oppa?” panggil seorang yeoja mengagetkanku. Aku berbalik dan tercengang. Taeya-yah? Bagaimana dia bisa sangat cocok dengan semua pakaian? Semua pakaian terlihat bagus ditubuhnya. Aku tak bisa membayangkan bahwa kenyataanya dia masih 14 tahun.

“Neommu Yeoppo, Taeya-yah…” gumanku grogi. Dia kembali merona. Gadis ini terlihat sangat menggemaskan. Aku sudah cukup gila dengan Yuri-yah. Bagaimana kalau aku gila juga karena gadis yang usianya 6 tahun dibawahku?

“Oppa, sweater yang kau pilihkan untukku  ini sama dengan yang yeoja itu pakai!” serunya sambil menunjuk Yuri-yah. Ya, aku memang sengaja.

“Dia Kwon Yuri, Taeya-yah.”

“Kwon Yuri? Ahh!! Aku tau! Jjong-oppa pernah bilang. Member Girls Generation kan?” tanyanya semangat. Aku mengangguk.

“Cantiknya dia…” gumannya. Aku hanya senyum-senyum melihat Taeya mengagumi Yuri-yah. Benar Taeya, Kwon Yuri memang cantik dan baik hati. Dia pasti bisa jadi sosok eonni yang baik untukmu.

“Ayo kita bayar, Taeya-yah. Kita harus ketempat selanjutnya.” Ajakku.

“Ini kita lepas dulu, kan?”

“Tidak usah. Langsung pakai saja.”

“Bagaimana bayarnya kalau begitu, oppa?”

“Tenang saja. Oh iya, apa itu?” tanyaku menunjuk kaus hitam yang dia genggam dari tadi. “Ah ini? Lihat, oppa! Tadaaaa! Michael Jackson! Taemin-oppa pasti senang kalau kita belikan ini.” Serunya.

Bahkan ia masih ingat dengan Taemin disaat seperti ini. Saat ketika kami hanya berdua. Apa karena aku juga masih sempat memikirkan Yuri-yah? Ingin aku larang Taeya membeli kaus itu, tapi aku tak mau melihatnya kecewa. Dia tampak sangat bersemangat dengan baju itu.

 

Kim Taeya POV

Minho-oppa membawaku kesebuah caffe mungil yang sepi. Kukira oppa memang sengaja memilih caffe yang sepi untuk menghindari paparazzi. Tapi kenapa baru sekarang menghindar? Aku kurang mengerti dengan pemikiran Minho-oppa.

Baru saja aku ingin bertanya  kenapa Minho-oppa mengajakku kesini, Minho-oppa sudah beranjak dari tempat kami duduk.

“Yuri-yah!”

Wajahnya nampak sangat sumringah ketika memanggil nama itu. Aku menoleh. Ah, yeoja itu. Dia memeluk Minho-oppa seakan-akan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Dia kan gadis di spanduk.

“Baru saja aku ingin menelfonmu.” Ucap yeoja itu disela-sela pelukannya. Ia mengeluarkan handphone-nya dari tas abu-abunya. Di handphone itu, tergantung benda yang aku kenal. Strip biru bertuliskan ‘M-Y’. Itu sama dengan yang Minho-oppa miliki. Minho-Yuri…. aku baru sadar.

“Yuri-yah, ini Taeya. Dia dongsaeng baru-ku.” Kata Minho-oppa. Yeoja itu mengulurkan tangannya yang berwarna coklat eksotis padaku. Dengan berat hati aku menerima uluran tangannya.

“Benar! Cantik sekali. Kukira dia kekasihmu, Minho-yah!” tawanya sembari duduk. Kukira Minho-oppa akan merona atau apalah, namun Minho-oppa hanya tertawa. “Ani. Dia adik sepupu Jonghyun-hyung, Yuri-yah.”

Kau bilang ini kencan kita? Kenapa sekarang ada yeoja selain aku? Katamu tidak boleh ada orang lain selain kita? Mataku pedih sekali. Aku melemas. Kau terlalu memberiku harapan, oppa.

“Annyeong, Taeya-yah. Aku Kwon Yuri. Mulai saat ini aku akan jadi Eonni-mu. Jadi tenang saja, aku akan menjagamu selama kau di Korea.” Katanya sambil tersenyum cantik sekali. Bahkan Minho-oppa tidak mengalihkan perhatiannya padamu, Eonni…

Dia muncul didepanku. Begitu cantik dari rambut hingga kakinya. aku duduk di meja yang sama dengan 2 orang dewasa ini. Aku pastilah terlihat seperti seorang adik yang mengganggu kencan kakaknya. Harusnya aku sadar dari awal.

Walaupun Minho-oppa sangat baik. Selalu membantuku, membelikan aku baju, menemaniku jalan-jalan, menggandengku didepan umum, bahkan memuji aku cantik. semua itu karena aku adiknya. Bodoh sekali aku berfikir dia juga menyukaiku. Bodoh sekali.

“Noona neomu yeoppo…” kata Minho-oppa sambil menyibakkan rambut di wajah Yuri-eonni. Mataku pedih sekarang. Bagaimana kau bisa lakukan itu dihadapanku, oppa? Rasanya pertahananku ingin jebol. Otthoke? Aku ingin menangis sekarang.

Langsung saja aku menyambar belanjaan kami, yang kami beli saat ‘kencan’ bohongan kami. Bilang saja kalau kau ingin bertemu dengan Kwon Yuri, Choi Minho. Tak perlu pakai aku jadi tamengmu! Apa kau fikir aku semuda itu? Sehingga kau anggap aku tak mengerti apa-apa? Apa kau segengsi itu untuk menemui Yuri-eonni?

“Taeya-yah? Mau kemana ?” tanya Minho-oppa ketika melihatku beranjak dari tempat duduk. Mau kemana? Kau kira aku sudi duduk dengan 2 orang dewasa yang sedang bermesraan. “Ke kamar mandi.” Balasku.

“Kalau begitu belanjaannya taruh disini saja. Nanti aku yang bawa. Kau pasti lelahkan bawa barang sebanyak itu?” tawar Minho-oppa dengan senyum lembutnya yang semakin membuatku ingin menangis.

“Aku bawa saja. Oppa lanjutkan saja. Ok? Aku permisi dulu, Yuri-eonni…”. Bagaimana? Sekarang kau leluasa kan? Aku sudah menyingkir dari dekatmu. Kau bisa lanjut bermesraan dengannya. Ketika mereka sedang asyik, aku menyelinap keluar caffe itu. Ternyata langit sudah sangat gelap. Aku mengambil handphone-ku. Pukul setengah 9 malam. Pantas saja.

Aku berjalan sampai halte bus, dan berdiri disitu sampai bus datang menjemputku. Aku tak sudi pulang dengan namja yang sudah menipuku.

 

Choi Minho POV

20 menit sudah. Kenapa Taeya tidak muncul juga. Ada apa dengannya? Apa dia kelelahan dan tertidur di kamar mandi perempuan.

“Wae, Minho-yah?” tanya Yuri-yah. Aku hanya menggeleng. Namun saat itu handphone-ku tiba-tiba saja bergetar.

Aku ingin mencoba naik bus. Aku belum pernahkan? Aku pulang duluan. Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja.

Kim Taeya

 

            Aku langsung melempar kasar handphone-ku di meja. Astaga, dia bahkan tidak tau rute bus! Kenapa dia pergi?

“Ada apa, Minho-yah?” tanya Yuri-yah sambil meraih handphone-ku dan membacanya. “Astaga… apa dia tau rute bus?” tanyanya. Aku menggeleng. Dia langsung berdiri dan meraih tas tangannya.

“Ayo kita pulang. Kita cari Taeya.” Katanya. Aku kaget.

“Cari Taeya?”

“Aigoo Choi Minho! Dia dongsaengmu kan? Bagaimana kau ini? Dia sedang di luar. Bahkan dia tidak tahu rute bus. Apa kau akan membiarkan adikmu keluntungan dijalan semalam ini?” ketusnya sambil menarikku ke mobil.

Aku masuk kemobil dengan perasaan kaget. Bagaimana dia bisa dia lebih cemas daripada aku? Aku bisa melihat wajah lelahnya berkeringat sekarang. Dengan semua keberanianku, aku mengelap keringat di wajahnya dengan tissue.

Dia nampak kaget. “Ya! Apa-apaan kau ini?! Kita harus cepat.”

Aku tau, aku tau. Tapi aku sudah tidak tahan. Apa lagi melihat wajahmu yang merona dengan perlakuanku. Kau juga punya perasaan yang sama denganku kan?

“Yuri-yah….”

“Apa?! Ayolah cepat, Minho-yah!” balasnya sambil memalingkan wajahnya. Dari pantulan kaca, terlihat semburat merah sudah menghiasi wajahnya. Aku meraih tangannya. “Panggil aku oppa. Aku berjanji akan menjagamu selamanya.”

dia menatapku tak percaya. Namun dia sama sekali tidak menarik tangannya. Dia malah terus menatapku dengan wajahnya yang merona.

“Saranghae, Yuri-Noona…..” gumanku. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya. Sontak dia langsung menunduk. “Katakan kalau kau hanya bercanda, Oppa…” balasnya.

Aku mengelus wajahnya, “Aku tidak bercanda, Yuri-yah…” aku bisa merasakan tubuhnya bergidik dengan perlakuanku. Dia langsung melepaskan genggaman tanganku dan menatap keluar jendela.

“Ayo cepat, oppa. Aku akan menerimamu kalau kita segera mencari Taeya-yah.” Gumannya. Dengan sekejap, aku langsung memacu laju mobilku.

“Baiklah, tapi kau harus pulang dulu princess.”

 

Author POV

Hujan turun deras malam ini. Taeya sudah mengira dirinya pasti akan tersesat. Tapi dia tidak mengira kalau dia akan basah kuyup ketika dia tersesat.  Dia berlari ke tempat telefon umum untuk berteduh disana.

Seoul terasa sangat dingin untuknya. Setidaknya khusus untuk hari ini. Ia menangis sekecil mungkin di dalam tempat telefon umum. Ia tak bisa menutupi rasa takutnya pada hujan deras. Tentu saja tak ada yang mendegar karena memang tak ada orang disana selain dirinya.

Tiba-tiba saja handphone-nya berdering. Dia pun segera mengangkatnya.

“Yeobboseo?”

Namun ucapannya segera berhenti seketika. ketika ia merasa bau amis menyeruak dan air hujan meninggalkan sedikit bercak merah.

“Kumohon jangan keluar sekarang….” lirihnya sambil menahan air merah yang terus keluar dari hidungnya.

 

 

 


3 thoughts on “My Yeoja [sequel – chapter 3 from ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s