My Yeoja [sequel – chapter 2 from ]


Judul FF : My Yeoja  [sequel – chapter 2 from ]

Cast : Kim Taeya (You), Lee Taemin (SHINee), Choi Minho, Lee Jinki (Onew), Kim Jonghyun, Kim Kibum (Key)

Genre : Romance, Friendship

Author : Song Miin Ah a.k.a AMRLIN

Ini lanjutan dari first capter ya? Mian kalo kepanjangan. Dont be a silent readers please. Comment, and like ok? Gomawo, Chingu! *bow*

 

Choi Minho POV

“Mulai saat ini, aku akan menjadi umma-mu. Kau bisa memelukku setiap waktu, agar bisa menghirup aroma tubuhku. Aku akan jadi Appa-mu. Kau bisa menggandeng tanganku setiap waktu, jadi aku bisa memberikan rasa aman padamu setiap waktu. Arraso? Jangan menangis.” kataku.

Gadis itu menatapku dengan matanya yang basah. Aku memberanikan diriku menghapus airmatanya untuk kedua kalinya. Dia tidak menolak. Wajahnya memerah sekarang. Manis sekali. Aku tersenyum padanya.

“Kau lapar, kan? Ayo kita makan. Masakan Jonghyun-hyung tidak terlalu buruk kok.” Tawaku. Dia ikut tertawa. Syukurlah dia sudah mau tertawa. Cantik sekali wajahnya kalau sudah tertawa. Rasanya hatiku sedikit berdebar sekarang.

Aku merasakan tangan kecil meraih telapak tanganku. Membuat semburat merah muncul di wajah baru-bangun-tidurku. Dia menggenggam tanganku dengan ragu-ragu. Aish, dongsaengku yang baru ini manis sekali.

Aku menggenggam tangannya erat. “Ayo kita makan, Taeya-yah.”

 

Lee Taemin POV

Apa-apan yeoja itu. Bahkan sekarang dia sudah menggenggam tangan Minho-hyung, cih, murahan. Lalu yang membuat semakin kesal adalah, kenapa Minho-hyung diam saja? Malah terkesan Minho-hyung yang menggenggam tangan yeoja itu.

“Wah, kalian sudah akrab ternyata.” Kata Onew hyung. Yeoja itu hanya tertunduk malu. “Awas saja kau, Choi Minho!” ancam Jonghyun-hyung. Minho-hyung malah tertawa mendengarnya. “Aku akan menjaga Taeya, hyung.” Ucapnya.

Aaargh! Menyebalkan sekali. Aku langsung mengambil nasi sebanyak-banyaknya dan memakannya dengan buru-buru. “Jangan begitu, Taemin-oppa. Kau bisa tersedak.” Kata Taeya.

Kau panggil aku apa? Oppa? Siapa peduli aku tersedak. Sana, carilah muka saja. Bersikaplah manis, semua hyung-ku akan sangat menyukaimu. Aku merasakan ada yang tidak beres. Tiba-tiba saja aku merasa sesak. Aku berusaha memuntahkan apa yang aku makan tapi tidak berhasil.

“OPPA! TAEMIN-OPPA!”

Taeya menepuk-nepuk pundakku. “JONGHYUN-OPPA. AMBILKAN AIR! TAEMIN-OPPA TERSEDAK.” Teriaknya. Dia terus menepuk pundakku. Dia memberiku air dengan perlahan. Aku langsung meneguknya habis. Jonghyun-hyung, Onew-hyung, dan Minho-hyung menatapku dengan cemas. “Gwecanayo, Taemin-ah?” tanya Minho-hyung.

Aku mengangguk lemas. Taeya langsung mengehela nafas panjang. Tangannya mengelus pelan pundakku. Membuatku sedikit merinding. Wajahku mulai memanas. Belum pernah ada yeoja yang mengelus pundakku selain Umma-ku.

“Syukurlah, oppa…” katanya. Wajahnya berkeringat. Apa-apaan dia? Kenapa dia sangat mempedulikanku? Menyebalkan.

Tanpa izinnya dia mengelap keringatku dengan saputangannya. Membuat aku berdebar sekaligus kaget. Aku tidak sadar ketika aku menepis tangannya kencang. “Ahh!” dia memegang tangannya yang memerah. Astaga, aku keterlaluan. Dia menatapku bingung. Wajahku mulai memanas. Jangan melihatku seperti itu, Kim Taeya.

Aku langsung saja beranjak dan lari kekamarku.

            “Lee Taemin!!” teriak Minho-hyung.

 

Kim Taeya POV

Dia menepis tanganku dengan kencang. Hampir saja gelas di tangan kiriku ikut terlepas. Tanganku langsung memerah karena perlakuannya itu. Tanpa minta maaf dia langsung pergi. Aku hanya tercengang.

“Lee Taemin!!” teriak Minho-oppa. Minho-oppa langsung berdiri ingin mengerjarnya. Namun aku menarik bajunya. Aku menggeleng, “Jangan, oppa.”

Onew-oppa dan Jjong-oppa masih tercengang. Namun dengan cepat jjong-oppa langsung membantu aku berdiri. “Taeya-yah, ayo kita obati dulu memarmu itu.” Kata jjong-oppa. Aku menurut. Tanganku memerah rupanya. Aku mengikutinya ke kotak P3K.

“Biasanya Taemin-ah tidak seperti itu, Taeya-yah.” Keluh jjong-oppa.

“Ne, aku mengerti. Mungkin karena aku masih asing untuknya.”

“Apa itu sakit?” tanya Onew-oppa ikut menghampiriku. Aku menggeleng mantap meyakinkan oppa baruku itu. “Maafkan kelakuan Taemin-ah ya? Mungkin dia marah karena aku telat memberitahunya soal kedatanganmu, Taeya.” Lanjutnya,

“Aku mengerti, oppa.” Jawabku sambil tersenyum memaksa.

Aish, ini jelas terasa perih. Ada apa dengan namja yang satu itu? Apa dia marah karena aku bilang manis? Hah, manusia macam apa dia kalau masih menyimpan dendam itu. Lagi pula itu hal sepele.

            Menyebalkan sekali. Padahal aku benar-benar khawatir  tadi. Harusnya tidak usah ku tolong dia.

 

Lee Taemin POV

Aku tertidur sangat lama. Aku agak kaget karena tak ada satupun hyung-ku yang mengejarku tadi siang. Ketika aku bangun, langit sudah gelap. Pastilah sudah malam. Tapi kenapa belum ada yang tidur? Aku turun dari ranjang, dan pintu kamar terbuka. Ah, Minho-hyung sudah bersiap untuk tidur rupanya. “Mau kemana Taemin-ah?” tanyanya.

“Kedapur. Aku haus.” Jawabku. Aku berusaha untuk tidak menatapnya. Tapi Minho-hyung sama sekali tidak mengubah posisinya. Ia tetap berdiri berkacak pinggang di depan pintu. “Minggir, hyung. Aku haus.” Kataku. Ia tetap berdiri di sana.

“Minta maaf pada Taeya, Taemin-ah.” Katanya. Jadi, sekarang dia lebih memilih Taeya? Aku kecewa sekali. Aku tetap diam pura-pura tidak mendengarnya.

“Tangan Taeya terluka gara-gara kau, Taemin-ah. Kau harus minta maf.”

“Aku tidak mau. Lagipula aku menepisnya tidak terlalu kencang.”

“Lee Taemin! Taeya itu seorang yeoja! Apa pantas kau berlaku seperti itu pada yeoja?” Minho-hyung semakin meninggikan suaranya.

“Hyung! Taeya itu yeoja aneh yang ga jelas asal-usulnya! Tidak jelas maksud kedatangannya! Kenapa dia langsung bisa jadi dongsaeng kesayangan hyung sekarang? HAH?” balasku dengan suara yang lebih tinggi.

“Tidak cukupkah dia memperkenalkan dirinya didepanmu? Dia Kim Taeya. Namanya KIM TAEYA. Dia sepupu jonghyun-hyung. Jangan sebut Taeya dengan sebutan seperti itu, Lee Taemin!” bentaknya.

“Aku tidak suka. AKU TIDAK SUKA YEOJA TIDAK JELAS SEPERTI ITU TINGGAL DISINI!!” bentakku. Mataku mulai panas. Kenapa Minho-hyung malah membela Taeya? Apa maksudnya itu?!

Minho-hyung meraih pundakku. “Jangan begitu, Taemin-ah. Taeya anak yatim piatu. Dia tak punya siapa-siapa di Chicago. Lagipula dia masih 14 tahun. Tidak kasihankah kau padanya?”

Aku hanya menunduk. Kasihan? Ya. Aku kasihan padanya. Tapi dia terus saja membuatku tak nyaman. “Mulai saat ini, Taeya itu dongsaeng-mu. Cobalah bersikap dewasa. Kau tidak selamanya akan jadi yang terkecil, Taemin-ah.” Lanjutnya. Maksudmu, aku tak akan selamanya jadi dongsaeng-mu? Jadi Maknae-mu? Begitu?

Aku tetap diam saja. Akhirnya Minho-hyung beranjak ke ranjangnya. Ia menarik selimut dan tidur membelakangiku.

“Bersikaplah manis pada Taeya. Mulai saat ini kita yang akan merawatnya. Aku akan sangat marah padamu kalau kau membuat Taeya menangis, Lee Taemin.”

 

Kim Taeya POV

-1 hari yang lalu-

“Kami ada jadwal hari ini, Taeya-yah. Tinggalah di Dorm bersama Taemin-ah selama 2 hari ini.” Kata Kibum-oppa yang membuat aku hampir memuntahkan makanan di mulutku.

“APA?” tanya Taemin-oppa sambil melotot. Bagaimana ini? Dengan monster-taemin selama 2 hari? Aku tak jamin Dorm ini bisa selamat. Kami pasti akan sering berantem. Aish, Ottokhe?

“Oppa…” rajukku pada jjong-oppa. “Mianhae, Taetae. Ini sangat penting. Aku tidak bisa mengajakmu.” Balasnya. Ah! Bagaimana kau ini, Kim Jonghyun?! Kau meninggalkan adikmu dengan seorang monster selama 2 hari. Arrgh! Kalau dengan Minho-oppa sih tidak apa-apa.

-flasback end-

“Oppa?” tanyaku pada Taemin-oppa yang sedang berkutat didapur. “Apa? Jangan panggil aku oppa!” balasnya sedikt membentak.

“Baiklah. Taemin-ah? Apa yang kau lakukan didapur?” Tanyaku selembut mungkin. Dia menoleh dan menatapku tajam. “Jangan sok  akrab. Oppa saja. Panggil aku oppa saja.” Katanya.

Bagaimana sih? Katanya tidak boleh panggil Oppa?

“Taemin-oppa…. apa yang kau lakukan?” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Aku sedang memasak sekarang. Apa kau tidak lihat yeoja-aneh? Aku bisa dibunuh Minho-hyung kalau membuatmu kelaparan.” Balasnya ketus.

Aish! Namja ini! Menyebalkan sekali. Menggelikan. Baru saja aku berfikir untuk membantunya. Tapi langsung saja aku hilangkan fikiran itu. Buat apa aku membantu namja menyebalkan itu. Dia sama sekali tidak berubah dari pertama aku tinggal disini sampai sekarang. Namun ketika aku beranjak meninggalkannya, dia berteriak. Membuatku reflek panik.

“Arrgh!”

Dia mengiris tangannya. Bodoh sekali kau, oppa. Aku mengambil saputanganku. Dan menyeka darahnya. “Jangan sentuh aku.” Bentaknya. Menyebalkan. Sama sekali tidak manis. Aku sedikit menekan lukanya. “ARRRGH!” jeritnya.

“YA! Apa yang kau lakukan, Kim Taeya?!” tanyanya sambil meringis kesakitan.

“Makanya diam saja, namja-menyebalkan. Sini, biar aku bersihkan lukamu. Kalau kau berontak lagi, akan kupencet lukamu seperti tadi. Arraso?” ketusku. Sepertinya aku menekannya terlalu keras. Taemin-oppa hanya mengangguk sambil meringis kesakitan.

Aku mencuci tangannya lalu memberinya plester luka bergambar kelinci.

            “Kenapa gambarnya seperti ini?” katanya. Wajahnya nampak memerah. Aku tertawa. “Tidak apa-apakan? Sudahlah ini sepele.” Kataku. Aku lalu meniup jarinya, “fuuuh…! Nah! Sekarang oppa akan cepat sembuh.” Kataku sambil menepuk-nepuk bahunya.

 

Lee Taemin POV

Dia memberiku plester kelinci. “Kenapa gambarnya seperti ini?” kataku. Taeya lalu tertawa. “Tidak apa-apakan? Sudahlah ini sepele.” Katanya. Dia lalu meniup jariku yang terluka, “fuuuh…! Nah! Sekarang oppa akan cepat sembuh.” Katanya sambil menepuk-nepuk bahuku.

Aku berdebar hebat. Wajahku panas sekali rasanya. Aku langsung memalingkan wajahku. “Kalau begitu biar aku yang memasak.” Katanya.

“Kau bisa?” tanyaku ragu.

“Tentu saja.”

“Kenapa kau baru bilang sekarang, Kim Taeya? Aish, apa kau senang melihatku teriris seperti ini?”

Dia memajukan bibir kecilnya. Dia benar-benar aegyo. “Mana aku tau kalau oppa tidak bisa memasak?” protesnya. Dia beranjak kedapur. Akupun mengikutinya. Aku kembali berdebar ketika melihatnya menguncir rambutnya, membuat tengkuknya terlihat. Ini pertama kalinya aku melihatnya menguncir rambut sejak 2 bulan lalu, ketika ia mulai tinggal disini.

“Kenapa oppa masih disini? Apa oppa mau teriris lagi?” tanyanya sambil mengacungkan pisau. Aku langsung salah tingkah. Ah payah sekali kau, Lee Taemin!

Taeya mendorongku keluar dapur. “Oppa diluar saja. Bantu aku menyiapkan alat makan. Kita makan didepan TV saja, ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk sambil membawa beberapa piring keruang tamu. Wajahku panas sekali. Aku hanya berharap agar dia tidak menyadari wajahku yang memerah.

Aku mengambil beberapa piring dan meletakkannya dimeja. Kenapa aku ini? Kenapa aku sangat berdebar? Hah. Mungkin karena aku sedang kaget saja. Bukan karena apa-apa.

“Sudah selesai belum?” tanyanya.

Aku melihat kearahnya yang sudah membawa 1 panci sup rumput laut. Cepat sekali dia masak. Sudah matang apa belum itu masakan?

“Ya! Cepat sekali kau memasak. Itu sudah matang apa belum? Kau mau meracuniku ya?” selidikku.

“Ani. Ini sudah matang. Aku yakin. Sudah 20 menit aku merebusnya dengan api kecil. Pastilah sudah matang.” Balasnya. Taeya meletakkan panci itu diatas meja. 20 menit? Lama sekali aku menata piring-piring ini.

“Nah, ayo makan! Tadi aku sempat buat telur gulung juga. Ayo dicicip, oppa. Makan yang banyak. Biar kau sedikit berisi.” Katanya.

“Maksudmu apa, hah?”

“Oppa terlalu kurus. Walaupun berotot, tapi masih terlalu kurus. Apalagi wajahmu manis sekali.” Ujarnya. Aku langsung melotot kearahnya. Dia pun langsung menutup mulutnya,”upps…”

“Ya! Kim Taeya! Kau ini selalu saja mencari gara-gara denganku. Apa sih maumu sebenarnya?”

“Mianhae, oppa. Tapi aku kan berkata yang sebenarnya. Jangan marah begitu.”

“Aish, kau menyebalkan sekali. Kenapa kau hanya bertingkah manis didepan hyung? Apa kau tidak bisa sedikit bertingkah manis didepanku?”

“Aku tidak berusaha untuk terlihat manis, kok. Kalau kau ingin aku bertingkah manis dihadapanmu, bertingkahlah gentle seperti Minho-oppa!” ketusnya.

Apa-apaan dia? Kenapa membandingkan aku dengan Minho-hyung seperti itu. Menjengkelkan sekali gadis ini.

            “Aku juga tak mau kau bertingkah manis dihadapanku. Malas sekali aku melihatnya. Ya! Kim Taeya! Dengar ya, aku tak segampang itu.” Balasku.

Kim Taeya POV

“Aku juga tak mau kau bertingkah manis dihadapanku. Malas sekali aku melihatnya. Ya! Kim Taeya! Dengar ya, aku tak segampang itu.” Balasnya.

Kenapa selalu saja bertengkar apabila bicara dengan namja yang satu ini?

“Yasudah. Aku jadi tak perlu bersusah payah menjaga sikapku didepankau, Lee Taemin!” ketusku tak mau kalah. Aku menyudahi makanku dan mengambil piringku, membawanya ke dapur.

Namun, tiba-tiba saja ‘CTAAAR!’

Aku reflek melepas semua yang aku pegang dan menutup telingaku rapat-rapat. ‘PRAAAANG!’ Habislah aku. Aku memecahkan 3 piring sekaligus. Tapi aku terlalu takut untuk membuka mataku.

            “YA! TAEYA! Apa yang kau lakukan?” bentak Taemin-oppa.

Lee Taemin POV

“YA! TAEYA! Apa yang kau lakukan?” bentakku 2 detik setelah aku mendengar suara benda pecah. Aku langsung menghampiri Taeya yang tengah berjongkok didepan dapur sambil menutup telinganya. Didepannya banyak pecahan kaca yang berserakan.

“Apa yang kau lakukan? Aih, kau ini merepotkan saja!” kataku dengan volume suara yang besar. Namun gadis itu tidak bergerak sama sekali. Dia tetap saja menutup telinganya.

“BIP”

Tiba-tiba saja lampu padam. Diluar hujan rupanya. Tiba-tiba saja aku menangkap suara tangisan yang menyeramkan, “Takut…..”

Gadis ini…. benar-benar menyusahkanku saja. Aku menghampirinya dan mencoba membantunya berdiri. Badan kecilnya bergetar lebih hebat daripada yang aku bayangkan. Penakut sekali.

“Taeya… bangunlah. Disini banyak pecahan kaca.”

“Tidakmau! Aku takut!” balasnya. Aku tak bisa melihat apa-apa. Keadaan benar-benar gelap. Aku harus mencari senter. “Yasudah. Kau diam disini ya? Aku mau kekamar mencari senter.”

Dia langsung menarik lenganku. “Ani. Ani. Jangan tinggalkan aku sendirian, oppa. Aku benar-benar takut.” Tangisnya.

“Katanya kau tidak mau bangun. Bagaimana sih? Kalau tidak mau ditinggal, ayo bangun dan ikut aku.”

Dia akhirnya bangun. Walau tidak terlihat apa-apa, aku bisa merasakan tangannya menggenggam erat lenganku. Untunglah mati lampu, kalau tidak… dia pasti bisa dengan jelas melihat wajahku yang memerah.

Kami berdua pergi ke kamar dengan susah payah. Aku menyuruhnya duduk di kasur.

“Duduklah dulu. Aku cari senter. Ini handphone-ku, nyalakan saja kalau kau takut.” Ujarku sambil memberikan handphone ku. Dia menurut dan duduk di pojok kasur.

Dimana senternya? Padahal keadaan sedang genting sekali. Setelah mencari 15 menit, aku menemukan 6 lightstick dan 1 lampu baterai. Aku memberikan 2 lightstick itu kepada Taeya yang sedari tadi mengumpat di balik selimut.

“Senter tak ada. Tapi ini, ada lightstick. Tidak apa-apa, kan?” tanyaku. Dia mengangguk. “Jangan jauh-jauh, oppa.” Bisiknya.

“Kita kan sudah ada diruangan yang sama. Sudah ada penerangan, apa kau masih takut?” tanyaku. Aish, kau menyuruh namja 18 tahun dekat-dekat denganmu di saat gelap seperti ini. Ceroboh sekali kau.

CTAAAAR! Tiba-tiba saja petir terdengar sangat keras sampai dinding ini bergetar. “WAAAAA!” Taeya berteriak. Lagi.

“Ya! Kim Taeya! Jangan berteriak seperti itu! Kau membuatku hampir jantungan!” ketusku. Namun dia tidak membalas omelanku. Dia hanya meringkuk. Aku mendekatkan lightstick yang kupegang ke wajahnya. Dia menangis rupanya.

“Sudah, jangan menangis. Aku bisa dibunuh Minho-hyung kalau kau menangis, Taeya…” ujarku. Aku memmberanikan diri untuk bersikap kurang ajar dengan duduk dikasur yang sama dengannya. Aku menyalakan lampu baterai diantara kami berdua. Semakin terlihat jelas wajahnya yang banjir keringat dan airmata.

Aku tertawa, “Jelek sekali kau, Taeya.”

Dia langsung berhenti menangis dan menatapku sinis. “Apa masalahmu, Hah?” balasnya sinis. Syukurlah dia berhenti menangis. Setidaknya marah-marah lebih baik daripada menangis.

“Hei, kenapa kau ketakutan sekali?” tanyaku.

“Aku benci gelap. Aku benci petir. Ummaku meninggal ketika hujan lebat berpetir di malam hari.”balasnya singkat. Ah, aku salah cari topik pembicaraan.

“Jadi karena itu kau takut?”

“Ne. Kalau ada petir, aku jadi ingat Umma yang meninggal tertabrak mobil. Selama Appa masih hidup dulu, Appa selalu tidur denganku kalau ada hujan berpetir di malam hari.”

“Manja sekali….”

“Biar saja. Memang kau tak pernah takut pada suatu atau beberapa hal?”

“Aku namja pemberani.”

“Aish, kau hanya namja menyebalkan dengan wajah seperti yeoja, Lee Taemin.”

Gadis ini, benar-benar menyebalkan. “Oh, baiklah. Kalau begitu biar aku keluar saja. Biar kau sendirian disini.” Ancamku. Dia langsung meraih lenganku.

“Aniyo… mianhae. Jangan keluar. Diamlah disini sampai aku tidur. Kita berdamai, ok?” Rajuknya. Jantungku langsung berdebar hebat sekarang. Rasanya wajahku semakin panas saja. Apalagi saat dia mengubah posisi duduknya dan duduk disebelahku. Rasanya aku pusing sekarang. Wangi rambutnya bisa aku cium dari jarak sedekat ini. Aku langsung menyingkirkan semua fikiran ‘macam-macam’.

“Oppa…” panggilnya.

“Hah?” jawabku gugup. Tolonglah, Kim Taeya! Jangan sedekat ini denganku.

“Bagaimana dengan pecahan piring diluar?”

“Besok saja kita bersihkan. Tidurlah, sebelum aku berubah fikiran.”

“Ok, aku tidur. Kita sudah damaikan?” tawanya.

Ketika dia meletakkan kepalanya dipundakku, aku jujur. Aku merasa sangat pusing.

 

Author POV

Taeya akhirnya meletakkan kepalanya di pundak Taemin. Dia tak kuasa menahan rasa kantuknya. Taemin terus saja memalingkan wajah dari yeoja yang ‘tertidur’ disebelahnya. Kalau lampu menyala, bisa terlihat jelas wajahnya yang berubah warna.

Merasa Taeya sudah lelap, Taemin menarik selimut dan menyelimuti tubuh tinggi Taeya dan tubuhnya yang sedikit bergetar. Dengan segenap keberanian dan kenekatan, Taemin menyenderkan kepalanya ke kepala Taeya. Dan akhirnya ikut tertidur.

 

Choi Minho POV

“Aku pulang…” ujarku.

Aku menyalakan lampu dan mendapati ruang tamu yang berantakan. Hah, persis seperti yang aku bayangkan.  Pasti Dorm ini akan hancur. Aku melirik jam dinding, pukul 2 pagi. Taemin dan Taeya pastilah sudah tidur.

Aku berjalan ke dapur dan langsung melihat pecahan kaca yang berserakan dilantai. Aigoo… ada apa ini?

“Taeya-yah? Taemin-ah?” panggilku namun tak ada jawaban. Langsung saja aku berlari ke kamar Taeya. Tapi nihil, Taeya tidak ada disana. Aku berlari ke kamar kami.

Aku agak tercengang melihat Taeya tertidur pulas dengan bersandar di pundak Taemin. Dengan banyak lightstick dan lampu baterai yang menyala. Ada apa semalam? Entah kenapa, aku begitu curiga dan tidak suka melihat mereka sedekat ini.

Aku mendekati Taeya dan meraihnya. Menjauhkan gadis itu dari pundak Taemin. Aku menggendongnya, memindahkannya ke kamarnya.

“Jangan seperti itu, Taeya-yah. Kau membuat hatiku sakit.” Gumanku. Namun dia tidak menjawab. Tetap terlelap dengan wajah cantiknya. Akhirnya, aku menyelimutinya dan beranjak pergi. Namun, tiba-tiba saja handphone-ku bergetar.

 

To        : Minho-yah

From    : Yuri

            Minho-yah, maaf mengirim pesan malam-malam. Bagaimana kabarmu, dongsaeng? Noona baik-baik saja disini. Jaga kesehatanmu. Oia, sebenarnya hari ini aku pulang dari Jepang. Aku ingin bertemu denganmu, Minho-yah.

            Bagaimana kalau kita besok bertemu? Sekedar melepas rasa rindu atau minum kopi besama. Balaslah kalau kau belum tidur.

 

Your Noona,

Kwon Yu Ri

 

Yuri-yah… dia sudah selesai promo di Jepang rupanya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Kudengar dia mengganti warna rambutnya.

Aku terus melihat pesannya sambil tersenyum. Sudah 4 bulan kukira, aku menyimpan ‘rasa’ dengan Noona-ku yang satu ini. Tapi kini ada 1 gadis yang mengacaukan rasa itu. Ya, gadis itu adalah gadis yang baru beberapa menit lalu aku gendong ke kamar ini.

 

To        : Yuri-yah

From    : Choi Minho

            Aku baik-baik saja, Yuri-yah. Baguslah kalau kau sehat. Bagaimana dengan Soshi yang lain? Dengan Taeyeon-noona? Jessica-noona? Yoona-yah? Sooyoung-ah? Semoga kalian semua baik saja.

            Kau ingin bertemu denganku? Tumben, Hahaha. Baiklah, besok aku kosong. Kita bertemu di tempat biasa, ya? Oia, akan kukenalkan kau dengan dongsaeng baruku dari Chicago. Dia cantik sekali. Sampai jumpa besok. Tidurlah, Yuri-yah….

 

Your Dongsaeng

Choi Min Ho

 

            Aku menekan tombol ‘send’ dan beranjak keluar kamar.


2 thoughts on “My Yeoja [sequel – chapter 2 from ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s