My Yeoja [sequel – chapter 1 from ]


Judul FF : My Yeoja  [sequel – chapter 1 from    ]

Cast : Kim Taeya (You), Lee Taemin (SHINee),s Choi Minho, Lee Jinki (Onew), Kim Jonghyun.

Genre : Romance, Friendship

Author : Song Miin Ah a.k.a AMRLIN

            Hurraay! My first FF! Sebenarnya ini request dari eonni-ku yang gila SHINee. Kalian kalo mau request juga boleh. Comment aja, ok? Dont be a silent readers please. Gomawo, Chingu! *bow*

 

Seorang anak perempuan berusia 14 tahun melangkah penuh percaya diri di Bandara Incheon. Perawakannya yang sedikit berbeda membuat banyak orang melihatnya penuh penasaran. Gadis itu tetap berjalan tegap menarik kopernya. Headseat putih sesekali terlihat, menyembul keluar dari balik rambut merahnya. Kulitnya tidak terlalu putih dan rambutnya coklat kemerahan. Gadis itu sengaja memakai kacamata hitam agar mata hijaunya tidak terekspos.

            Dia berhenti disebuah tempat duduk. Mendudukinya dan mengambil handphonenya.

Kim Taeya POV

Kalian kira aku apa? Jangan melihatku seperti itu. Aku sama seperti kalian. Aku juga orang korea kok. Setidaknya walau lahir di Chicago, aku tetaplah anak dari Kim Jun Wa, seseorang pria kelahiran Korea. Aku mengambil handphoneku. Aish, kenapa Yoonwu-Ahjussi belum datang menjemputku.

Hai. Ah, mungkin harusnya Annyeong ya? Ne, Annyeong. Namaku Kim TaeYa, lahir di Chicago dan sekarang sudah 15 tahun umur Korea. Beberapa tahun lalu, mungkin ketika aku masih kelas 2 SD, aku pernah sempat tinggal disini. Namun, kami kembali ke Chicago karena ayahku menikah lagi dengan ibu tiriku yang menjijikkan.

Ya, kembalinya aku ke Korea karena aku kabur dari rumahku di Chicago. Ayahku baru saja meninggal 2 minggu yang lalu. Ibu tiriku juga kakak tiriku sudah bertindak seenaknya dirumah. Bayangkan saja, bahkan belum sebulan ayahku meninggal, kedua manusia sialan itu sudah menggila dirumahku. Setiap malam mereka berpesta dan membawa seorang pria yang 2 hari sekali berganti wajah. Memikirkannya saja membuatku jijik.

Aku begitu senang ketika kakekku mengajakku tinggal di Korea bersamanya. Tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya.

Kakek, salam cinta untukmu selalu. TaeYa sudah di Korea. Setelah berjam-jam perjalanan dari Chicago, akhirnya aku tiba juga. Aku sudah tak sabar melihat mu, Kakek. Sayang kau tidak bisa datang untuk sekedar menjemputku. Kakek, kenapa aku harus tinggal di rumah Jonghyun-oppa? Kenapa tidak tinggal denganmu? Aku anak baik kok. Tapi, sudahlah. Kau pasti sangat sibuk dengan semua pekerjaan mu, dengan perusahaanmu. Aku akan tinggal dengan Jonghyun-oppa. Gwecanayo. Aku akan jadi gadis manis. Salam dari Ayah dan Ibu untukkmu.

Love, Hug and Kiss

Kim TaeYa

            Aku menekan tombol “send” dan e-mailku selesai. Ah iya, aku sudah lama tidak melihat Jonghyun-oppa. Kata kakek dia terkenal sekarang. Dulu kami selalu main bersama. Jonghyun-oppa sangat cengeng. aku penasaran dengannya yang sekarang.

“Nona Taeya?”

Aku menoleh. Seorang pria berumur mendekatiku dengan ragu-ragu. Wajah yang familiar di kotak memoriku. Hanya saja, rambutnya terlihat sangat beruban sekarang. “Ahjussi!” aku melambai kearahnya,“Annyeong, Agassi.” Dia membungkuk dalam-dalam. Aku membantunya bangun, “Ayolah Ahjussi. Jangan begitu. Kita ini kan sudah seperti saudara.”

“Ah maaf atas keterlambatanku, Agassi. Anda sudah berubah sekarang. Susah untuk pria tua ini mengenali anda.” Aku tertawa, “Tidak apa-apa, Ahjussi. Benarkah aku sudah berubah?”

“Ne. Anda…. sangat cantik sekarang. Saya sampai kaget.” Kekehnya pelan. Dia segera mengambil koper-koper yang kubawa. Aku mengikutinya dari belakang. Disinalah ayah dan ibuku lahir. Sekarang, aku kembali kesini sebagai gadis pelarian yang yatim piatu.

“Agassi… anda akan saya antar ke kediaman Jonghyun-sshi sekarang.”

Aku mengangguk mantap.

 

Lee Taemin POV

 

Sebuah mobil Audy berhenti didepan pagar Dorm kami. Aku mengintip dari jendela kamarku. Kukira itu bukan mobil Manager. “Siapa yang datang ya, Hyung?” tanyaku pada Minho-hyung yang masih berbaring di tempat tidur. “Memangnya ada yang datang? Cobalah kau ke Onew-hyung, Taemin-ah.” Sarannya.

Aku menurut. Onew hyung dan Jonghyun-hyung sedang duduk di Ruang Tamu. “Hyung, ada yang datang. Ada mobil parkir diluar.” Kataku. Belum saja Onew-hyung menjawab, mobil itu sudah membunyikan klaksonnya.

“Ok, Hyung! Sepupuku sudah datang!” seru Jonghyun-hyung tiba-tiba saja. Aku hanya kaget melihat Jonghyun-hyung langsung berlari keluar.

“Sepupu perempuan Jonghyun akan tinggal disini, Taemin-ah. Tenang saja. Hanya 1 tahun paling lama.” Kata Onew-hyung. Aku hampir copot jantung mendengarnya.

“MWO? YEOJA? AKAN TINGGAL BERSAMA KITA? HYUNG… CMON!”

“Waeyo, Taemin-ah?” tanya Minho-hyung yang tiba-tiba bergabung. “Hyung! Akan ada Yeoja yang tinggal disini. Bagaimana kalau ketahuan So Man? Aish, Onew-hyung…. ayolah jangan becanda!” geruruku.

“Benarkah, hyung?” tanya Minho-hyung. Wajahnya tampak sedikit kaget.

“Dia sepupu perempuan Jonghyun, Minho. Dia sudah dapat izin langsung dari So Man. Kita yang disuruh mengurusnya selama dia di Korea.” Terang Onew-hyung.

“Oh. Yasudah kalau memang perintahnya begitu. Sudahlah Taemin-ah. Kita sambut dulu tamu kita.” Kata Minho-hyung, membuatu kecewa. Aku hanya menurut. Aih, apa mereka tidak berfikir. 1 yeoja dan 5 namja. Ckck. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Aku tak peduli. Pokoknya aku tak mau ambil bagian.

 

Kim TaeYa POV

“TAEYA!”

Jjong-oppa berlari keluar rumah sambil berteriak. Aku tertawa melihatnya. Langsung saja aku turun dari mobil. “Oppa!”

“Aigooo, TaeYa-ku! Besar sekali kau sekarang. Tinggi sekali.” Ujar jjong-oppa sambil mengelus-elus kepalaku. “Oppa, kenapa kau tidak peluk aku seperti biasa kalau kita bertemu dulu?” protesku. Oppa langsung memelukku erat. Astaga, dia berotot sekarang. Pantas saja rasanya sesak sekali.

“Cantik, Taeya! Neomu Yeoppo.” Katanya sambil melepas pelukannya.

“Gomawo, oppa. Oppa manly sekali sekarang. Sudah punya seorang ‘yeoja’ kah?” tanyaku. “Aish, aku terlalu sibuk. Tapi sudah ada yang aku incar sekarang. Hehe.” Tawanya.

“Ini rumah Oppa?” tanyaku. Dia menggeleng. “Ini Rumahku, Rumah dongsaeng dan Hyungku.”

Mwo? Jjong-oppa hanya punya satu kakak perempuan setauku.  Belum sempat aku bertanya, 3 orang sudah keluar dari rumah itu. Yang satu sangat manis. Dia tersenyum dengan semangat. Sampai matanya menghilang terhimpit pipinya yang sangat putih. Yang satunya lagi seperti tiang. Kurus dan sangat tinggi. Wajahnya terlihat ngantuk namun sangat charming. Dan yang terakhir namja…. atau yeoja? Namja! Pasti namja. Hanya saja wajahnya cantik dan berambut merah berantakan. Kukira mereka semua baru bangun.

Hei! Tapi siapa mereka? Tak ada yang bilang kalau aku harus tinggal ramai-ramai dengan banyak namja!

“Taeya ini Onew-hyung. Yang tinggi itu Minho, dan yang cantik itu, Taemin.” Kata Jjong-oppa. Aku hanya tersenyum bingung. “Hyung! Aku tidak cantik.” Protes namja bernama Taemin itu.

“Yoonwu-Ahjussi, anda boleh pulang. Barang-barang Taeya biar aku yang bawa kedalam.” Kata jjong-oppa. “Ne, Sampai jumpa Nona Taeya, Tuan Jonghyun.”

Ahjussi… jangan tinggalkan aku. Ahjussi tidak bilang kalau Oppa tinggal dengan banyak namja. Aigoo… Ottokhe?

“Taeya. Ayo kita masuk.” Ajak jjong-oppa. Namun aku langsung menarik kausnya dan mendekat ke telinganya, “Oppa… mereka semua tinggal disini?” bisikku. Jjong-oppa tertawa.

“Tentu saja. Ini kan Dorm SHINee, Taeya-yah. Tenang saja, aku akan menjagamu.”

Aku lemas seketika. Kenapa Ahjussi tidak bilang, kenapa kakek tidak bilang? Bagaimana ini? Tinggal dengan banyak namja. Kalau hanya jjong-oppa sih tidak apa-apa. Aku mengambil koperku. Namun sebuah tangan melepas tanganku dari koper dengan lembut.

“Biar aku yang bawa. Kau lelah kan, Taeya-yah?” tanya namja ‘tiang’ itu. Aku mengangguk pelan. Rasanya berdebar sekali. Aku kaget. Aish, bagaimana ini.

“Ayo masuk. Kita ngobrol didalam.” Lanjutnya lagi.

Namja itu menarik tanganku dengan tangan kirinya. Membuatku kaget. Pipiku pastilah sudah merah sekarang. Untunglah jjong-oppa sudah masuk terlebih dahulu.

“Choi Minho imnida. Nice to meet you, Taeya-ah.” Senyumnya.

Lee Taemin POV

Gadis itu bukan orang Korea. Sekali lihat juga sudah tau. Bisa dipastikan dengan rambutnya coklat kemerahan tergerai lurus sebahu. Badannya tinggi sekali dan matanya besar berwarna hijau. Pastilah dia bukan orang Korea. Aku penasaran berapa umurnya.

Aku agak kaget dengan perlakuan Minho-hyung yang membawakan koper gadis bernama Taeya itu. Bahkkan Minho-hyung mau menggandeng tangan gadis yang baru 3 menit ia temui. Gadis itu cantik. Harus kuakui. Tapi aku merasa jengkel melihatnya. Bagaimana bisa ia akrab dengan Minho-hyung hanya dengan waktu 3 menit.

“Annyeong, Kim Taeya imnida. Aku dari Chicago.” Terangnya.

“Berapa usiamu, Taeya-yah?” tanya Onew-hyung.

“14 tahun usia international, Oppa.”

Bahkan dia langsung memanggil Onew-hyung dengan sebutan ‘oppa’. Apa dia berusaha mengambil hati kami semua? “Wah, kau masih muda sekali. Bahasa Korea-mu juga sangat bagus. Aku Lee Jinki. Panggil saja Onew. Arraso?” kata Onew-hyung.

“Ne, Onew-Oppa. Orang tuaku orang Korea, kok.” Balasnya. Dia langsung melirik kearahku. Aku pura-pura tidak menyadarinya. “Ya! Taemin-ah. Perkenalkan dirimu.” Kata Minho-hyung. Terpaksa aku menurutinya.

“Lee Taemin imnida.” Kataku singkat. Dia memperhatikanku, membuatku risih.

“Waeyo Taeya-yah?” tanya Jonghyun-hyung.

Dia menggeleng pelan. “Bukan apa-apa, Oppa. Tapi Taemin-sshi terlihat sangat manis.” Kata yeoja itu. Apa?! Manis katanya? Aku ini manly tau! Tidakkah kau lihat lenganku yang sudah berotot. Aku memasang wajah malasku. Hah, kukira penilaianku pada yeoja ini akan membaik. Aku salah besar.

“Kau juga manis, Taeya-yah.” Kata Onew-hyung. Dia tersenyum dengan pipinya yang memerah. “Iya. Sangat manis, kok.” Lanjut Minho-hyung. Semuanya saja puji dia.

            “Haha! Tentu saja! Namanya juga sepupu Kim Jonghyun!” tawa jonghyun-hyung. Mereka semua tertawa bersama. “Biasa saja tuh.” Celetukku. Semuanya langsung diam dan melihat kearahku.

 

Kim Taeya POV

Dia marah aku bilang manis? Siapa suruh punya wajah seperti yeoja. Aku memang tidak manis, tapi kau tak perlu sefrontal itu. Dasar.  Aku menatapnya tajam dengan tatapan ‘kau-iri-padaku-hah?’. Namun Taemin langsung mengalihkan pandangannya.

“kau lapar, Taeya-yah?” tanya Onew-oppa. Aku mengangguk malu. Aku memang belum makan  sejak keberangkatanku dari Chicago. “Kalau begitu ayo kita masak sama-sama. Kau makan apa?” tanyanya lagi. “Apa saja,oppa.” balasku.

Onew-oppa, Jjong-oppa, dan Taemin berangkat kedapur. Sedangkan Minho-oppa mengambil barang-barangku. “Mau dikemanakan, oppa?” tanyaku.

“Kutaruh dikamarmu. Kamu mau ikut aku apa mau membantu memasak?”

“Aku ikut oppa saja. Sini biar aku bawa ranselku.”

Namun Minho-oppa langsung menggeleng, “Mana bisa aku membiarkan yeoja membawa barang seberat ini. Biarkan aku terlihat keren, Taeya-yah.”

Aku langsung menunduk. Aish, aku berdebar hebat. Ottokhe? Hanya dalam beberapa menit Minho-oppa sudah terlihat sangat mempesona dimataku. Aku mengikutinya masuk kedalam kamar kecil yng sudah lengkap dengan kasur dan lemari. Juga meja rias dan meja belajar.

“Kudengar dari Onew-hyung, katanya kau akan sekolah disini ya?” tanyanya.

“Ne, oppa. Aku akan berjuang kali ini.”

“Kenapa kau pindah ke Korea, Taeya-yah?” tanya Minho-oppa untuk kedua kalinya. Aku diam sambil tetap memindahkan bajuku ke lemari.

“Ah, maaf. Kita baru saja kenal. Tapi aku sudah tanya-tanya.” Kata Minho-oppa. Bukan begitu maksudku. Aku cuma tidak ingin mengingat kematian Ayah. Aku sudah berjanji tidak akan menangis. Aku juga sudah berjanji akan mejadi gadis yang ceria di kali ini. Menjadi Taeya yang baru. Yang tidak mengungkit-ungkit masa lalu.

Kami diam beberapa lama. Minho-oppa sudah mulai membantuku memasang seprai kasur. “Taeya-yah, kau suka warna biru?” tanya Minho-oppa tiba-tiba.

“Ah iya, aku suka oppa. Memang kenapa?”

“Ini, kasurmu aku kasih seprai biru. Tak apa-apakan kalau gambarnya bola-bola? Maaf, aku tak ada seprai lain.”

“Ini seprai milik, oppa?” tanyaku. Minho-oppa mengangguk. “Kau pakai punyaku saja. Punya Kibum pink semua. Punya Jonghyun-hyung bau. Punya Onew-hyung tak ada motif, tidak menarik. Kalau Taemin, kurasa dia akan ngamuk kalau seprainya kau pakai.”

Aku memasang wajah cemberut ku. Jantungku nyaris copot ketika telapak tangannya yang besar meraih pipiku dan mencubitnya.

“Aegyo… kau manis sekali. Jangan cemberut seperti itu. Apa kau tak suka dengan seprai-ku?” tawanya. “Oppa!” Dia melepaskan cubitannya. Jadilah, wajahku pasti sudah sangat merah sekarang. “Aku suka seprai oppa, kok.” Kataku. “Baguslah.” Jawabnya sambil memperbaiki kembali sepraiku.

“Oppa…”

“Ne?”

“Aku ke Korea sebenarnya karena kabur. Aku terlalu malu untuk mengakuinya.”

Minho-oppa langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh kearahku. Aku menundukkan kepalaku.

“Umma… Appa… semuanya sudah pergi meninggalkanku. Umma, meninggalkanku 9 tahun lalu. Appa meninggalkanku 2 minggu lalu. Di Chicago, hanya ada ibu tiriku dan kakak tiriku yang menjijikkan. Aku kabur, oppa. Aku kabur dari manusia menjijikkan itu. Aku tidak punya apa-apa disana. Sekarang, setidaknya aku lega karena ada Kakek yang mau menampungku. Juga Jonghyun-oppa yang baik hati mau menemaniku di Korea.” Kataku.

Aku nyaris menangis. Aku semakin menundukkan kepalaku. Mungkin saat ini hanya rambut ku yang terlihat olehnya. Pabo, kau bodoh sekali Kim Taeya! Kau menangis dihadapan orang yang baru kau kenal beberapa jam yang lalu. Pasti kau akan dicap sebagai gadis cengeng.

“Taeya-yah….” minho-oppa mendekatkan dirinya. Sekarang aku sadar betapa besarnya tubuh oppa.

“Ah iya! Aku juga berterimakasih karena Minho-oppa, Onew-oppa, Taemin-oppa mau membiarkan aku tinggal disini bersama kalian. Kalau tak ada kalian… aku pasti tak akan punya teman. Aku sangat berterimakasih. Aku janji akan jadi gadis yang manis. Aku akan membantu kalian semampuku.” Kataku. Sudah jatuh. Aku sudah menangis.

Minho-oppa meraih daguku dan mengangkatnya. Aku berdebar bukan main. Dia lalu menghapus air mataku dengan tangannya yang besar. Namun itu semakin membuatku ingin menangis.

“Kau rindu Umma-mu?”

“Ne, aku rindu oppa. Tentu saja. Bahkan aku ragu, apakah aku masih ingat dengan bau tubuhnya.” Tangisku lebih kencang. Dia kembali menghapus airmataku dengan sabar.

“Kau rindu Appa-mu?”

“Aku rindu Appa. Aku rindu caranya menggengam tanganku.”

Tidak menunggu aku berhenti menangis, Minho-oppa langsung memelukku. Aku tak sanggup untuk tidak berdebar. Jantungku berdebar lebih kencang. Bahkan aku lupa kalau aku sedang menangis sekarang. Dada Minho-oppa begitu bidang dan besar, seakan memperbolehkan aku menangis sepuasnya.

“Mulai saat ini, aku akan menjadi umma-mu. Kau bisa memelukku setiap waktu, agar bisa menghirup aroma tubuhku. Aku akan jadi Appa-mu. Kau bisa menggandeng tanganku setiap waktu, jadi aku bisa memberikan rasa aman padamu setiap waktu. Arraso? Jangan menangis.”

Aku menatap namja yang tengah sibuk menghapus airmataku. Wajahya semakin tampan bila sedekat ini. Wajahku memanas ketika ia mulai tersenyum.

 

 

Author POV.

Dari balik pintu yang sedikit terbuka, terlihat Minho sedang memeluk yeoja yang bertahun-tahun lebih muda darinya. Yeoja itu tampak habis menangis.

Lee Taemin berdiri di sebelah pintu. Wajahnya muram mendengar dan melihat kejadian itu. Namun, perasaan bersalah juga menghantui, “Jadi dia yatim piatu?” fikirnya. Apapun alasannya, harusnya Minho tak perlu sampai memeluk Taeya yang baru beberapa jam ia kenal. Hatinya tak senang. Entah kenapa ia sangat tidak senang melihat kejadian itu.


3 thoughts on “My Yeoja [sequel – chapter 1 from ]

  1. first yahh……?
    FFnya bagus saeng…..

    Taemin kok gitu yahh…. ntar dari benci jadi cinta lohh…….*heheheh…*
    Minho suka Taeya juga yahh……?! aigoo…. taeya beruntungnya dirimu bisa tinggal di dorm nya SHinee……..ckckckc…..

    Saeng, katanya bisa request FF yahh…..??
    mmm…. kalo gitu aku mau request FF yang pairingnya Minho-Seohyun (Minseo)… ceritanya terserah aja….
    hwaiting…….!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s