Happy Ending chap 7


Cast :
SHINee – Choi Min Ho
F(x) – Krystal a.k.a Jung Soo Jung
SNSD – Jessica a.k.a Jung Soo Yeon (Krystal’s sister)
F(x) – Choi Sulli a.k.a Kim Yoo Jin
4MINUTE – Kwon Soh Hyun
SHINee – Key a.k.a Kim Ki Bum
KARA – Kang Ji Young a.k.a Kim Ji Young (Key’s sister)
F(x) – Victoria Song a.k.a Choi Hye Jin (Min Ho’s older sister)

Chapter 7

Kim Yoo Jin*Sulli f(x)*, senyum tak pernah lepas dari wajah dorky-nya. Dia duduk menghadap sesuatu __yang seharusnya tak mesti ditatap sedemikian lama__.

“Ah, lima hari lagi, sebentar lagi” gumamnya seperti orang jatuh cinta dan ‘tetap’ memandang kalender kecil diatas meja belajarnya.

“Yoo Jin!!! Kau tak mau ‘mendekam’ selamanya dalam kamarmu-kan? Ayo turun dan makan a-nak ke-cil!!! Atau jatahmu ku ambil!”

Yoo Jin menekuk mukanya. Umurnya 17 tahun, apakah ia belum pantas disebut wanita dewasa? Ia capek mendengar kata anak kecil keluar dari mulut Oppanya yang terlihat lebih seperti ‘anak kecil’ dibanding dia. Sungguh! Bahkan Oppanya berkulit bayi, bermata sipit seperti ‘bayi’ yang baru lahir, dan tingkahnya …

Pletak!

“Auw!!” Yoo Jin meng-aduh keras. Kepalanya sakit karena Oppanya telah menjitaknya tanpa ada tanda-tanda kehadiran dan dengan sekejap sudah di ruang kamarnya, dengan kata lain seperti hantu yang melayang lalu menembus tembok.

“Dasar anak kecil! Ku bilang turun malah ngelamun!”
“Oppa!!!” Yoo Jin berteriak kesal. Oppa satu-satunya ini mempunyai nama yang bagus, Jin Ki, *onew ni maksudnya* mirip nama aktor. Tapi sayangnya kepribadiannya seperti seorang presiden yang mempunyai IQ jongkok. Sok ngatur, kadang beribawa juga bisa menjadi pemimpin, tapi disaat yang sama dapat membuat orang menjerit kesal, menganga dan mendengus bodoh. “Uh, lihat saja, sebentar lagi ulang tahunku yang ke delapan belas, huh” gumam Yoo Jin dengan volume yang tinggi sehingga Jin Ki dapat mendengarnya terlalu-amat-sangat-begitu jelas.

“Bodoh! 17 tahun kau seperti anak TK. Kupikir 18 tahun pun tak akan ada artinya”
“Tapi 18 tahun umur yang sudah dewasa! Sangat pantas dibilang dewasa!!” bela Yoo Jin ambisius.
“Tapi itu masih empat hari lagi adikku yang ‘tersayang dan manis’, jadi masih ada ‘empat’ hari lagi untuk menindasmu” setelah itu Jin Ki tertawa, tawa yang membuat Yoo Jin ingin mencekiknya.
“Huh” dengus Yoo Jin lagi. “Dasar menyebalkan” katanya dan keluar kamar secepat ia bisa.

***

“Soo Jung-sshi!”

Jepret!

“Ah!”Blitz dari kamera Jong Hyun membuat mata Soo Jung perih.

Jong Hun berhasil mengambil foto Soo Jung, setelah sedari tadi dia menolak untuk difoto.

“Joong Huunn-sshiii!!!” Soo Jung berteriak kesal merasa diganggu saat sibuk menelpon nomor Soo Yeon yang tidak aktif-aktif juga. Sekarang justru Handphonenya tidak bisa dinyalakan karena jatuh dengan keras mengantam lantai. Ia berdiri dan memutuskan untuk mengejar Jong Hun yang sedang jingkrak-jingkrak seperti habis memenangkan undian keliling dunia untuk selamanya.

“Jong Hun-sshi, kau membuat Handphone ku mati! Sekarang aku mau lihat!” pinta Soo Jung. Jong Hun hanya tertawa dan mengangkat tinggi-tinggi kameranya. “Jangan kekanak-kanakan!”
“Mukamu terlihat bodoh, ha ha ha!”
“Aish” gumam Soo Jung “kau mengingatkanku pada sesorang yang juga suka menjahiliku. Sukanya mengambil tasku dan mengangkatnya tinggi-tinggi seperti patung Liberty.”
Jong Hun menahan tawa dan terlihat tertarik. “Nugu?”

Soo Jung mendapat kesempatan. Ia merenggut kamera dari tangan Jong Hun. Belum sempat melihat hasil foto, tangannya sudah ditarik oleh laki-laki itu paksa. Ia berhasil lolos dengan menyikut perut Jong Hun. Sementara Jong Hun kesakitan menahan betapa sakit perutnya, Soo Jung naik ke atas sofa. Jong Hun lebih gesit, ia menangkap pinggang Soo Jung dari depan. Gadis itu meronta panik dan Jong Hun menggapai-gapai kameranya.

“Ya! Berikan padaku!” teriak Jong Hun kelelahan meraih kameranya dan menahan pinggang Soo Jung agar tidak lari. Soo Jung lompat bermaksud melepaskan diri dari-nya.
“Auch!” Tapi, Soo Jung justru menginjak kaki Jong Hun.

Jong Hun lantas kesakitan, kehilangan keseimbangan, ia menangkap pundak Soo Jung sebagai pegangan. Namun akhirnya ia langsung jatuh ke sofa menimpa Soo Jung dengan bunyi Bruk keras.

Soo Jung merintih, punggungnya benar-benar sakit. Untung Jong Hun sempat menumpukan tubuhnya dengan siku. Ia tak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya kalo tubuh Jong Hun benar-benar menimpanya.

“Sudah hentikan aku chapek” kata Jong Hun dengan nafas tak terkendali.
“Kau yang memulai!” Soo Jung mendorong Jong Hun agar berpindah dari atas tubuhnya. “Minggir”

Jong Hun membutuhkan dokter spesialis jantung sekarang. Jantungnya berdetak 50 atau bahkan 100 kali lebih cepat. Semua badannya seperti mati rasa. Ia terlalu dekat, terlalu dekat dengan Soo Jung. Jarak wajah mereka hanya satu jengkal!

“Kau berat,” dorong Soo Jung lagi keberatan.
Jong Hun tidak mampu mendengar dengan baik perkataan Soo Jung. Dia tengah terdiam menatap wajah Soo Jung yang membuatnya merasa ganjil. Desah nafas Soo Jung dapat ia rasakan diwajahnya. Dan Oh Tuhan, ia dapat melihat dengan jelas tali bra Soo Jung.

“Jong Hun-sshi!” Soo Jung menggeliat, merasa tidak nyaman dengan posisi mereka berdua. Itu hanya membuat degup jantung Jong Hun bertambah cepat menggema sampai ditelinganya karena ia merasakan paha halus Soo Jung yang bergesekan dengan celana panjangnya.
“Jong Hun-sshi, baik lah ini kameramu” kata Soo Jung dan menunjukkan kamera itu di samping wajah Jong Hun. Tapi laki-laki itu tidak menoleh. Saat ini wajah Soo Jung lebih membuatnya tertarik. Ia menginginkan tubuh gadis ini, lebih dari pada semua wanita yang pernah ia jamah. “Ayolah, minggir. Aku lelah, aku haus”

Jong Hun mengambil kamera ditangan Soo Jung. Tanpa mengubah pandangan lurusnya pada Soo Jung, ia meletakkan kameranya diatas meja kayu berukir disisi sofa.

“Aku juga haus. Sangat haus” gumam Jong Hun ngelindur, sinar matanya berbeda, benar-benar ‘berbeda’ “Chagiya*Honey*, aku haus dan lapar”

Hanya dengan jeda tidak lebih dari setengah detik, tau-tau Ia telah memagut bibir Soo Jung lalu melumatnya lembut. Soo Jung mendorong dada Jong Hun, tapi itu malah membuat Jong Hun mencumbunya dengan penuh rasa gairah yang menyala-nyala layaknya kobaran api. “Lets Play”
“Henthi-ah~” Soo Jung mengeluarkan suaranya, tapi terdengar seperti desahan. Jong Hun yang memimpin permainan ini menegang mendengarnya. Kecupan lembut itupun menjadi ganas dan panas. Ia merasakan bibir Soo Jung layaknya permen. Soo Jung meronta tidak bisa bernafas, Jong Hun terlalu cepat, benar-benar tidak memberi ruang bergerak sedikitpun.

Chagiya*Honey*, bibirmu sangat manis, dan membuatku ketagihan” gumam Jong Hun lalu menjilat bibir Soo Jung dan melumatnya lagi.

Soo Jung memukul dada Jong Hun dengan kedua tangannya. Tapi Jong Hun menangkap dan menahannya.

“Ehm, Jong~ehm Hun~ah~ shimfh~ chukup!”
Ia menendang, tapi kakinya terjepit disisi sofa. Jong Hun benar-benar menunjukkan kemahirannya dalam ‘menyentuh’ wanita dan membuatnya tak berdaya.
“Tenang Soo Jung-shi” kata Jong Hun disela ciumannya “Aku sudah cukup berpengalaman, dan kau akan menyukainya”

“Ehm!”
Bibir Jong Hun turun keleher Soo Jung yang putih dan mulus. Membuat tidak hanya satu tapi beberapa jejak kemerahan disitu. Membabi-buta menciumi dan menjilat leher Soo Jung seperti menikmati ice cream. Tangan kanannya turun mengangkat sedikit kaki Soo Jung sehingga ia leluasa mengelus dan mencakar paha gadis itu penuh gairah. Sedangkan tangan kirinya sibuk melepas kancing kemeja satu persatu.

Soo Jung terbelalak, tangan Jong Hun kini tengah berpatroli di seluruh tubuhnya. Menyelip dibalik kemejanya meraih kait bra dan melepasnya paksa.
“Tak pernah aku menyentuh kulit wanita yang selembut ini” kata Jong Hun bersemangat. Soo Jung mengerang, Jong Hun benar-benar seperti ingin memakannya.

“Henthikan” bisik Soo Jung merasa paru-parunya mengecil. Namun Jong Hun tidak beniat untuk berehenti, ia terus membuat ‘sentuhan-sentuhan’ yang bisa membuat Soo Jung bergerak seperti kerasukan setan.
“Cchuhu-kuph” Gumam Soo Jung karena kehabisan tenaga. Tubuhnya melemas secara drastis, dan nafasnya melambat. Ia terlalu banyak bergerak dan tertekan kekurangan oksigen. Jong Hun menyadari ia terlalu ‘menyiksa’ Soo Jung. Ia tersenyum, senyum yang mampu melumpuhkan hati wanita yang memandangnya.
“Chagiya, kau lelah?” kata Jong Hun dengan tampang ala badboynya “Kita lanjutkan lain kali saja, bagaimana?”
***

Korden putih yang hanya menutupi setengah kaca jendala membuat celah cukup lebar untuk ditembus oleh cahaya matahari dengan leluasa. Cahaya hangat itu menerpa wajah Soo Jung, benar-benar mengganggu tidurnya yang nyenyak. Pikirannya tak sadar penuh. Tapi sesuatu hal yang aneh memaksa matanya untuk terbuka seluruhnya. Tubuhnya hangat, ia merasakan tubuhnya hangat dan nyaman. Butuh seperskian detik menyadari ada orang lain yang telah melingkarkan salah satu tanganya di atas perut Soo Jung, dan orang itu juga menyandarkan kepalanya di punggung Soo Jung.
“Jong Hun?”
Soo Jung tak dapat melihat wajah laki-laki ini, tapi ia yakin Jong Hun masih tidur karena terdengar ritme nafas yang lambat.

Dengan hati-hati, Soo Jung mengangkat tangan Jong Hun, jangan sampai pemuda itu terbangun. Ia turun dari tempat tidur dengan hati-hati.
***

“Min Ho”
suara normal dan singkat

“Min Hoooooooo~”
suara panjang seperti lolongan serigala

“Miii~n Hooo~”
suara yang sangat lembut dan halus seakan sedang meredakan tangis anak kecil.

“MINHOO!!!!!”

KLONTANG!
“Uhuk” Min Ho tersedak, garpu yang ia genggam sedari tadi terlempar entah kemana dengan bunyi ‘klontang’ memekakkan telinga. Ia mengambil segelas air putih disamping piringnya dan langsung diteguk habis. Katanya parau “Aish! Apa sih yang kau lakukan?”

“Seharusnya aku yang tanya begitu,” ucap Hye Rin kemudian meniru ekspresi Min Ho “Aish! Apa sih yang kau lakukan?”

“Tidak lucu” kata Min Ho datar dan dingin.

Hye Rin menarik kursi dan duduk disebrang meja makan. “Jangan buat nunamu ini seperti orang bodoh Min Ho. Sudah berapa kali kau melamun tak jelas begitu. Ehm, coba aku ingat. Pertama karena jatuh cinta, dan sekarang pasti karena patah hati”

Min Ho menunduk lemas mendengar ocehan kakaknya, seperti burung beo yang tersiksa karena tidak diberi makan berhari-hari oleh sang majikan.

“Kau pasti membuat kesalahan iya kan? Siapa namanya? Ekh, Soh Jung?” Min Ho mendengus mendengar Hye Rin salah mengucapkan nama Soo Jung

“Coba aku tebak,”
Sialnya, Hye Rin selalu bisa menebak dengan tepat apa yang Min Ho sedang rasakan.
“Jangan bilang kau tak bisa mengontrol emosimu dan melakukan sesuatu yang ‘aneh’ begitu? Sekarang kau merasa bersalah?”

Seratus!

“Min Ho?! Jangan dengarkan kakakmu yang ‘cerewet’ itu. Cepat habiskan makananmu. Kau tak mau telatkan?” suara ibunya mengglegar dari arah dapur “Hye Rin, apa kau tak ada kerjaan lain dari pada mengganggu adikmu? Kau tidak kuliah?!”

“Aku kuliah siang dan aku tidak CEREWET ibu!” bela Hye Rin. Ia menatap adiknya lagi, mengecilkan volume suara, sehingga hanya Min Ho yang dapat mendengar. “Ya, Min Ho, memang secantik apa sih Soh Jung itu? Masa cuma gara-gara dia kau jadi seperti orang tidak waras begini?”

Min Ho tidak menjawab dan lebih memilih menghabiskan sarapannya dengan cepat tanpa mencari garpu lain, hanya menggunakan sendok.

“Ya, jawab, jangan-jangan kau benar-benar putus asa, sudah tak waras dan memilih menyukai laki-laki?” lebay Hye Rin.

“Yang jelas dia ‘seorang wanita’, “ jawab Min Ho asal dan tak mau tau “jadi kau tak berhak menyebutku ‘tidak waras’, karena aku paling tidak masih ‘sedikit waras’ ” Min Ho beranjak dari kursi meninggalkan Hyerin yang terbengong-bengong ditempat gara-gara jawaban Min Ho.
***

Yoo Jin mencuci tangannya, kemudian membasahi mukanya lagi. Masih pagi, dan ‘masih’ pelajaran jam pertama, tapi rasa kantuk sudah melanda. Ini gara-gara Oppanya yang kejam nan sadis itu menyuruh Yoo Jin untuk mengetik tugas kuliahnya sampai tengah malam. Yoo Jinpun terpaksa ijin ke kamar mandi sekedar membasuh muka menghilangkan rasa kantuk. Tapi cara ini tidak mempan. Matanya masih berat untuk terbuka, ia tetap menguap, dan badannya justru bertambah lemas.

“Yoo Jin”

Yoo Jin menoleh, ia memandang sosok yang memanggilnya dengan raut wajah sedikit kaget.

“Kenapa kau lama sekali? Aku disuruh bu Hwang menyusulmu, khawatir jangan-jangan kau pingsan”

Yoo Jin menampar-nampar wajahnya sendiri berusaha menghilangkan rasa kantuk “Oh, tak apa aku hanya mengantuk. Uh, ini gara-gara Oppaku yang menyebalkan itu a__” Yoo Jin tidak melanjutkan perkataannya, ada suara yang menggema dalam otaknya.

”Kenapa kau tak mencoba mengundang Soh Hyun? Dia, cukup kesepian”

“Eh, Soh Hyun-sshi, apa malam minggu nanti kau ada acara?”

Soh Hyun mendekat ke wastafel disamping Yoo Jin dan membasuh tangannya. “Tidak, memang kenapa?” ia mematikan keran dan bersandar di tembok memperhatikan wajah Yoo Jin.

“Kau mau tidak datang ke acara ulang tahunku?”

Soh Hyun menganga. Cukup lama untuk bisa mencerna perkataan Yoo Jin tadi.

“Hey, kau mau tidak datang ke acara ulang tahunku? Pasti akan ramai dan menyenangkan”
“Aku? Kau tidak salah orangkan? Maksudku aku___”

“Jadi kau mau datang atau tidak?”
Soh Hyun berpikir sejenak. Matanya terbuka lebar merasa tertarik dan memandang haru, ia mengangguk semangat. “Aku mau. Gomawo Yoo Jin-sshi”
***

Jong Hun membuka matanya malas. Ia mengacak-acak rambutnya menjadi terlihat tambah berantakan. Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, tak heran matahari sudah cukup meninggi. Ia bangun dan terduduk. Di kamar itu hanya ada dirinya. Sempat terpikir olehnya ini mimpi. Soo Jung pergi? Mungkinkah Soo Jung membencinya? Apakah ia sedang menangis disuatu tempat?

“Jong Hun-sshi?”

Dan sekarang ia berkhayal mendengar suara Soo Jung?

“Jong Hun-sshi, kau sudah bangun?”

Jong Hun mengerjab-ngerjabkan mata tak percaya melihat sosok Soo Jung mendekat lalu duduk dihadapnya. Apakah ia berimajinasi?

“Kau lapar? Aku membuat Toast”

Jong Hun memandang Soo Jung seperti sedang melihat hantu, benar-benar tak percaya gadis yang dihadapannya kini berkata begitu ringan tanpa beban.

“Jong Hun-sshi?”
“A-aku, a-ka-ka-kau?” Jong Hun sungguh tak mengerti. Soo Jung, cahaya matanya saqat memandang tetap memercikkan sinar kehangatan. Sikapnya masih ceria dan lembut. Nada suaranya halus. Tak ada yang berubah. Seakan ia lupa apa yang Jong Hun telah perbuat olehnya. Jelas jelas Jong Hun telah ‘menyentuh’ nya.

Soo Jung tersenyum kecil lalu menarik lengan Jong Hun pelan.
“Ayo, bangun”

Jong Hun mengambil satu-satunya Toast sisa yang tersaji di atas dinner plate* didepannya. Memakannya dalam diam. Soo Jung duduk bertopang dagu disebrang meja bar dan memperhatikannya mengunyah gigitan terakhir.

*piring pokok/datar, biasanya untuk menyajikan makanan yang berjenis kering atau tidak berkuah

“Jong Hun-sshi kau mau lagi? Masih ada.” Jong Hun tidak menjawab, suaranya tertahan. “Akan kubuatkan” kata Soo Jung lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arah oven. Ia membuka tutupnya, dengan bantuan kain serbet putih mengeluarkan loyang berisi beberapa Roti bakar yang sudah berwana kecoklatan. Sambil menunggu Roti sedikit dingin, Soo Jung mengambil margarin dan keju dari lemari kayu kecil yang terpaku kuat di dinding.

“Soo Jung-sshi” Soo Jung tersentak, kepala Jong Hun bersandar dipundaknya, pemuda itu ternyata tengah memeluknya dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perut Soo Jung dengan lembut.

“Kenapa?” tanya Jong Hun tepat ditelinga Soo Jung “Kenapa kau tidak membenciku?”

Soo Jung memutar tubuhnya, sehingga ia berhadapan langsung dengan Jong Hun.

“Kau orang baik Jong Hun-sshi” kata Soo Jung, matanya bercahaya seperti ada kekuatan tersembunyi didalam tatapannya yang mampu membuat Jong Hun luluh “Mana mungkin aku membenci laki-laki sebaik dirimu?”

Mata Jong Hun terbelalak lebar. Aku? Orang baik?

Soo Jung meraih rambut Jong Hun dan mengacakknya penuh kasih sayang.
“Jadi, kau mau Toast dengan keju atau selai?”

Jong Hun menelan ludah dengan susah payah. Ya Tuhan, siapa gadis ini sebenarnya? Katanya “Keju”

“Keju? Ehm baiklah” Soo Jung hampir berbalik tapi Jong Hun menahan pundaknya.

“Aku tak mau keju yang biasa” kata Jong Hun dengan wajah serius meyakinkan.

“Eh?” dahi Soo Jung mengerut.

“Aku mau keju yang itu” tunjuk Jong Hun dengan dagunya. Soo Jung menggeleng tidak mengerti.
“Keju yang ma__ahmpf”

Jong Hyun sudah mendaratkan bibirnya lagi, membungkam mulut Soo Jung dengan lembut dan cepat. Kemudian ia menjilat serpihan keju kecil yang ada diujung kanan bibir Soo Jung.

“Keju yang ini lebih enak dan manis” kata Jong Hun dan tersenyum melihat ekspresi Soo Jung yang seperti habis tersengat listrik.

Bisik Jong Hun dengan wajah jahil andalannya “Kau harus ingat Soo Jung-sshi, aku tidak hanya baik tapi juga nakal”

TBC

GEJE???????~~~~~~~~~~~~~~~
GEJE SANGAT!!!
Pendek? *ditendang author*

Pengen deh ketemu Jong Hun, tipe Bad Boy!! I LIKE IT😄😄
Ini aku panjangin tentang Jong Hun, coz, mw memperdalam sifat-sifat dia, biar pas imagena ama yang ada dalam otak gue, BAD BOY yang rada pemikir gitu.
Trus mau nonjolin Soh Hyun ma Yoo Jin, biar cerita inieh lengkap dengan bumbu persahabatan. Trus Min Ho ma Victoria yang sifatnya beda abizzzz, tapi malah kocak ^^. Yang satu pendiem, yang satu cerewet. Ampe Min Ho gemez gitu. Maaf kga Ki Bum kga nongol. Entar gw tongolin lagi😄

THX GUYS
BTW, NO SILENT READER

MAAF CUPLIKAN BERIKUTNYA CUMA ADA SATU KALIMAT,

“Soo Jung-sshi, jangan dekati dia,,, dia adalah seorang pembunuh”


13 thoughts on “Happy Ending chap 7

  1. fuh, panas.
    Hah, brarti jungie udah digrepe2 sma jonghun,
    andweyo !!!
    Knpa bkan sma minho aja, huhuhuhu *nangis breng minstal*
    ditunggu part slanjutnya

    Like

  2. New reader!
    Barusan nyadar fanfic ini nongol ditag annya Krystal terus langsung nyari ke chapter 1
    Bagus2 lanjutin cepet yaaaa Kan liburan nih mhehehhe

    Like

  3. Thor qu mw protes lg kok klw si minho mw cium kry dy nolak, tp klw jonghun mlah digitu2in kok gak nolak.. Hhiikk ;(
    *nangis bareng minho

    Like

  4. waduhh sebenernya aku gak apal ama mukanya jong hun,, hehehe #plakk
    tapi aku suka bgt adegan romantis jong hun ama krystal.. ga taw knapa yah feelnya kok lebih dapetin jonghun di ff ini dibandingkan ma minho?? padahal aku minstal shipper..
    author,, cepetan updatenya.. di ff ini aku dukung jonghun ama krystal yah,, feelnya dapet soalnya,, hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s