LIKE A STAR [one shoot]


Judul FF          : LIKE A STAR [one shoot]

Cast                 : Yoona, Donghae, Yoonhae, Seohyun, Kyuhyun, Seokyu, Taeyeon, Leeteuk, TaeTeuk, Siwon, Tiffany, Siffany, SNSD, SUPER JUNIOR, dll

Genre              : Romance, Family, Friendship

Author             : nixieMeilya

Ini ff alurnya aku buat sesuai isi lagu like a star-nya Taeyeon & The One, kebetulan ini salah satu lagu favorit aku. Ini juga kayaknya ff terakhir sebelum aku seminar buat skripsi… teman-teman minta doa’nya ya… semoga seminar aku lancar dan dapet nilai bagus jadi aku bisa nulis ff Yoonhae lagi… hehe J

Selamat membaca semoga kalian terhibur dengan tulisan ini…

 

LIKE A STAR

(ost. Like a Star by Taeyeon & The One)

            “oppa… siapa yang paling cantik di dunia ini???”

“ibuku… Tiffany Hwang dan kau tentunya Yoon Ah…” pria itu memegang sayang pipi kekasihnya dengan kedua telapak tangannya. “lalu yang paling tampan di dunia ini?” ia mencuil hidung keksihnya sekarang.

“ayahku Park Junsu… dan Lee Donghae tentunya!!!” keduanya kini tertawa, sambil merebahkan diri di atas hamparan rumput di kolong langit yang malam itu bertaburan bintang.

***

“Yoong… dari mana saja… sudah belajar buat besok???” tanya Taeyeon pada anaknya yang baru saja pulang.

“tentu saja sudah ibu… aku kan selalu belajar sepulang sekolah… lalu Seohyun apa dia sudah tidur?” tanyanya sambil menenteng sepatunya berjalan kea rah tangga.

“lihat saja di kamarnya… anak itu sepertinya sudah mulai kenal pria… apa kau pernah melihatnya di sekolah berjalan dengan siapa?” selidik Taeyeon menghentikan langkah Yoona.

“seingatku teman-teman dia banyak ibu… memangnya tidak boleh kalau dia pacaran?”

“bukan tidak boleh… hanya saja kalau nilai kalian jelek karena itu… ibu tidak akan mengizinkannya…”

“tenanglah bu… kami pasti akan jadi kebanggaan kalian…” Yoona meyakinkan ibunya lalu berlari kea rah kamar adiknya.

 

“kau benar-benar sudah berpacaran sekarang???”

“tentu saja… masa aku kalah denganmu…” Seohyun merebut foto Kyuhyun dan dirinya yang tengah berdiri di depan rak buku perpustakaan.

“kau ini… apa tidak salah kau berpacaran dengan pria itu… setahuku dia kan nakal…”

“dia memang nakal tapi dia pintar… dan normal tentunya… tidak seperti kau…” Seohyun mencibir.

“maksudmu???”

“kau dan pacarmu sama sekali tidak normal… hanya bisa bertemu saat malam tiba, tidak ada orang di sekitar kalian… tapi jika siang hari kalian hanyalah bayangan semu masing-masing saja… kau hanyalah bayangan donghae oppa begitu juga sebaliknya… kalau aku jadi kau… aku pasti sudah minta berpisah… menyiksa perasaan selama tiga tahun…”

“heh anak kecil… apa pacaran sehari langsung merubahmu jadi seorang yang cerewet???” Yoona mendelik.

“maafkan aku eonni… tapi aku hanya kasihan padamu…”

“sudahlah… aku juga tahu… tidurlah… sudah malam… besok kita harus sekolah…”

 

Yoona dan Seohyun adalah kakak beradik yang hanya berbeda satu tahun, mereka bersekolah di sekolah yang sama. Dan Lee Donghae, dia adalah seorang selebriti muda yang sedang menjadi idola, dia adalah kekasih dari Yoona. Tapi benarkah?

 

Yoona POV

Pagi ini aku merasa tidak begitu baik, ucapan Seohyun masih terngiang-ngiang di telingaku, aku memang pantas dikasihani. Tapi ini pilihanku, jadi apapun itu aku harus siap menerima konsekuensinya.

Aku mengenal Lee Donghae dari kecil, sejak kami masih SD. Dan aku resmi menjadi pacarnya saat kelulusan SMP, karena saat itu aku baru diizinkan berpacaran. Masuk SMA, Lee Donghae-ku berubah jadi orang lain, kini ia seorang actor dan penyanyi idola. Suatu kebetulan dan keberuntungan baginya yang hanya iseng-iseng audisi tiba-tiba lolos. Tapi bagiku ini bukan keberuntungan. Aku tidak diakui sebagai pacarnya di depan umum. Donghae harus menjaga rahasia ini karena kalau tidak maka karirnya akan hancur dalam sehari, karir yang ia bangun hampir tiga tahun ini. Begitulah idola, kalau ketahuan dia sudah berpacaran denganku, maka fansnya akan berkurang dan aku akan dibenci, menyebalkan. Padahal Lee Donghae juga kan pria normal yang butuh seorang kekasih, apa hanya mereka saja yang boleh menguasai hidupnya?

Kami pun satu sekolah, satu kelas. Tapi seperti ada batas penghalang yang susah kami tembus. Dan orang-orang di sekolah hanya tahu kalau kami berteman biasa.

 

Donghae POV

“ayah… kau tahu minggu depan aku sudah ujian… jadi doakan aku…” aku melahap sarapanku.

“ayah pasti selalu mendoakanmu… kenapa ayah tidak melihat managermu hari ini?”

“sayang… dia kan sudah bilang mau ujian… seperti janjinya… tidak ada kegiatan selama ujian…” ibu menjelaskan. Aku sangat menyayangimu bu…

“begitukah… aku pikir… setelah lulus lebih baik kau tinggalkan saja dunia hiburan itu… apa aku tak cukup memenuhi kebutuhanmu?” ayah kembali membicarakan hal ini.

“benar nak… ibu rasa kau harus mulai berpikir panjang… tidak salah kalau kau memilih dunia itu, tapi apa tidak lebih baik jadikan itu hobby saja… carilah pegangan hidup yang lain… siapa yang akan meneruskan usaha ayahmu nanti?”

“akan kupikirkan bu… aku berangkat dulu…” omelan di pagi hari… aku harus pergi sekarang.

“pikirkan juga Yoona…” aku menghentikan tegukan susuku begitu ayah berbicara.

 

Author POV

“Lee Donghae… kau tahu tidak… dramamu sekarang sedang di putar di Indonesia… sodaraku bilang semua remaja sangat menyukainya…”

“benarkah?” Donghae menampakan raut senangnya.

“iya benar…”

“baguslah…” Donghae tersenyum lagi menampakan gigi putihnya.

“selamat pagi…” Yoona masuk ke kelas menyapa teman-temannya. Tentu saja Donghae langsung melihat ke arahnya.

“Yoona… kau ada waktu tidak habis ujian nanti… aku ingin menjadikanmu pasanganku ke pesta perpisahan nanti…” Yesung mendekat ke arah Yoona dan meminta kepada Yoona dengan suara lantang.

“aku tidak tahu… lihat saja nanti…” Yoona menampakan wajah ‘maaf aku sedang tidak mood hari ini’ nya dan beranjak keluar kelas.

Yoona berjalan ke arah halaman belakang sekolah. Ia terduduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon yang rindang.

“oppa… kalau boleh jujur aku juga capek seperti ini… bahkan masih ada pria yang berani mengajakku jadi pasangannya, kalau saja mereka tahu aku ini pacarmu maka ini tidak akan terjadi…”

“maafkan aku Yoong…” lirih Donghae mengagetkan Yoona yang sejak tadi sudah berdiri di sana.

“oppa…”

“aku tahu… harusnya aku tak pernah menyakitimu seperti ini…” Donghae duduk di sebelah Yoona.

“kenapa oppa ke sini… bagaimana kalau ada yang melihat?” Yoona celingukan.

“aku tidak ingin ada yang menyakitimu… hanya itu…” lirih Donghae.

“oppa… aku tidak pernah menuntutmu… jadi sudahlah… aku bisa menerima ini… aku tidak ingin menghancurkan apa yang sudah ku capai… ini kan mimpimu dari dulu… menjadi musisi yang terampil dan actor yang menawan… begitu kan?” Yoona menghibur wajah murung di sebelahnya.

“kenapa malah kau yang menghiburku… harusnya aku yang menghiburmu…” Donghae tersenyum.

“sejak dulu… aku yang selalu menghiburmu oppa…” Yoona manyun.

“iya… aku lupa…” Donghae mengelus lembut kepala Yoona, lalu menatap matanya.

“kenapa oppa???”

“rasanya sudah lama sekali… aku tidak bisa bermanja-manja denganmu di hari terang seperti ini… hanya saat bulan dan bintang muncul dan saat aku tak ada jadwal… aku baru bisa berduaan denganmu… seperti tadi malam…” Donghae mendengus.

“oppa… apa kah kau pikir aku juga berpikiran seperti itu?”

“pasti!!!”

“asal oppa tahu… oppa lihat… siang ada matahari… dan matahari itu salah satu bintang… dan oppa tahu… bintang memang adanya hanya malam hari… tapi ingatlah siang juga ada… selain matahari itu… bintang yang selalu kita saksikan setiap malam… masih ada… hanya saja sedang ada di belahan dunia lain, dan walau tak terlihat… bintang itu masih melihat kita…” terang Yoona.

“aku tidak mengerti…” Donghae menggeleng.

“oppa mungkin aku selalu bisa di sampingmu saat malam hari… saat tak ada yang melihat kita… tapi kau tahu di siang hari pun di saat orang-orang banyak… aku masih memperhatikanmu… di kelas aku bisa jadi matahari yang terlihat olehmu… bintang siang… tapi saat kau ada di tempat lain… dan terpisah dariku… walau aku tak bisa melihatmu… tapi aku masih melihatmu… dengan cinta dan hatiku… bintang malam yang sedang ada di belahan dunia lain itu…”

“kau tahu… aku ingin memelukmu sekarang…”

“tanya dulu pada hatimu… apa kau takut memelukku sekarang???” cibir Yoona.

“…” Donghae menggeleng dan segera memeluk Yoona.

“oppa… saranghaeyo…”

“nado saranghaeyo… Yoong…”

***

“Seo… aku tadi melihat Yoona kakakmu sedang berpelukan dengan artis itu…” Kyuhyun tergopoh-gopoh berbisik pada Seohyun.

“aduh…” Seohyun menyeret Kyuhyun keluar dari kelasnya. Seohyun membawa Kyuhyun kea tap sekolah.

“oppa… tolong rahasiakan ini… sebenarnya aku ingin menceritakan ini nanti tapi aku takut kau malah penasaran akan ku ceritakan sekarang… sebenarnya Yoona eonni adalah pacar Donghae oppa… mereka sudah pacaran sejak masih di SMP… hanya saja kau tahu… dia dituntut untuk menjadi seorang idola remaja seutuhnya oleh perusahaan itu… dia tidak boleh berpacaran dulu sampai kontraknya habis…” Seohyun tiba-tiba saja menitikan air matanya. “aku sejujurnya sangat kasihan pada kakakku… aku juga seorang perempuan yang bisa merasakan hatinya, ia tak pernah diakui sebagai seorang kekasih… bertemu hanya saat malam-malam dan tidak ada orang… tapi aku tahu eonni sangat mencintai Donghae oppa… begitu juga sebaliknya… eonni pernah meminta agar Hae oppa meninggalkannya tapi Hae oppa tak mau…”

“maafkan aku… tak seharusnya kau sedih karena menceritakan semua ini…” Kyuhyun mengusap pipi Seohyun dan menghapus ait matan kekasihnya itu dengan jarinya.

“oppa… jaga rahasia ini ya???”

“tentu…”

 

Yoona POV

Seperti biasa… musim gugur telah tiba, tepatnya hari ini adalah hari ulang tahunku juga. Rasanya menikmati hari ke hari membuatku semakin cepat bertambah usia.

HEY BINTANGKU… CEPATLAH BANGUN!!!

Aku membaca pesan masuk yang membangunkanku pagi ini. Ada apa dengannya sebenarya menyuruhku cepat bangun tapi tadi malam tak ada meneleponku sama sekali, mengucapkan selamat juga tak ada, yang ada malah orang tuanya yang meneleponku, paman Siwon dan bibi Tiffany.

“eonni… cepat turun…” Seohyun berteriak dari bawah. Orang-orang hari ini kenapa senang membuatku marah yah… adikku yang satu ini belum juga mengucapkan selamat sudah berteriak.

“aku mau mandi dulu…” balasku berteriak. Setelah mandi dan merapikan diri aku segera turun ke bawah.

“surprise… saengil chukka hamnida… saengil chukka hamnida… saranghaeyo uri Yoona… saengil chukka hamnida…” ternyata ini yang mereka siapkan. Mereka menyambutku dengan balon-balon cantik, dan perlengkapan pesta lainnya. Aku langsung meniup lilin di kue yang di siapkan di meja makan.

“ya… Yoonaku sudah 17 tahun sekarang…” ayah memelukku.

“terima kasih ayah…”

“kau sudah semakin dewasa sekarang… aku berdoa semoga kebaikan selalu mengikuti langkahmu putri sulungku…” kali ini gantian aku memeluk ibu.

“eonniiiiii… happy birthday…” Kyuhyun dan Seohyun keduanya memelukku. “ini kado dari kami…” mereka menyerahkan kado berukuran sedang, sepertinya sekarang Seohyun sudah mampu membeli kado sendiri karena patungan, anak ini…

“gomawo… tapi Kyuhyun kenapa bisa ada di sini?”

“aku sudah tahu kalau dia anak yang baik… jadi aku izinkan…” ibu menjawab pertanyaanku.

“makin besar kepala saja kau…” aku menoyor sayang jidat Seohyun.

“ayo cepat potong kuenya…” ayah seperti sudah kelparan karena menungguku dari tadi.

“baiklah baik…” suasana pagi ini terasa menyenangkan, dengan angin musim gugur yang mendinginkan suasana, kehangatan keluarga seperti ini mampu menghangatkan semuanya, aku rasa kado terindah umurku tahun ini adalah kehangatan keluargaku yang tak pernah berubah. Taeyeon dan Park Junsu, orang tuaku yang selalu akur walaupun terkadang cekcok tapi selalu saja ayah bisa meluluhkan ibu yang cerewet itu, adikku yang sangat kusayangi yang selalu memberikanku semangat dan menyayangiku, terkadang dia iri padaku yang sudah diziinkan berpacaran oleh ibu dan ayah tapi dia tak pernah membesarkan masalah kecil yang bisa membuatnya membenciku. Dan kini ada Kyuhyun di sini, aku tahu anak ini sedikit nakal dan jail, tapi dia sangat pintar di sekolah. Adik kelasku yang nakal yang mampu membuat adikku jatuh hati padanya.

Tapi… aku rasa ada satu yang kurang… Donghae oppa. Aku masih ingat tahun lalu dia masih sempat mampir ke rumah tengah malam untuk memberiku kue, tapi tidak tahun ini, kemana dia? Tapi aku yakin dia ingat dan tak akan melupakan hari ini… buktinya dia masih mengirimiku pesan.

“ya… anak gadisku kenapa melamun…” ibu menyadarkanku.

“ani… tidak apa-apa ibu…”

 

Donghae POV

Hari ini aku baru saja menyelesaikan jadwal rekamanku. Rasanya lega sekali, setelah semalam suntuk aku bergulat di studio, kini aku harus segera menemui Yoona. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku sama sekali belum memberinya ucapan selamat, jahat sekali!!! Tapi aku ingin memberinya kejutan yang indah.

“Lee Donghae… ada yang mencarimu…” baru saja aku mau membereskan barang-barangku manager sudah menyela aku pergi.

“siapa…???”

“lihat saja di ruang tunggu… seseorang yang bisa membuatmu makin terkenal…”

Siapa yang dimaksudnya? Aku segera beranjak ke rung tunggu. Jessica??? Aku melihat dia tersenyum begitu melihatku berjalan ke arahnya.

“oppa…” dia memelukku, aku tak membalasnya.

“sudahlah Sica, lepaskan aku…” aku melepaskan pelukannya.

“oppa… apa hari ini kita bisa keluar makan malam?”

“maafkan aku… aku tidak bisa… aku belum pulang ke rumah…”

“apa aku boleh ikut ke rumahmu?”

“tidak bisa… ibuku tidak suka artis atau model!!!” aku segera berbalik ke studio lagi untuk mengambil tasku, aku benar-benar ingin segera pulang.

“oppa… kau tahu mala mini aka nada kejutan untuk kita…” teriaknya dan aku tak peduli.

Jessica, dia adalah artis dan model yang satu management denganku. Kerap kali aku dipasangkan dengannya di setiap acara, bagaimanapun ini kebijakan perusahaan yang harus aku lakukan karena aku terikat kontrak. Aku juga sedikit tidak enak pada Yoona, aku kerap kali berbohong, memang benar Jessica hanya temanku, tapi aku tahu dia cemburu, aku juga tahu dia mengetahui dengan para HaeSica shipper, para pendukung agar aku menjadi sepasang kekasih dengannya, tapi aku tidak mungkin mengkhianati Yoona.

 

Author POV

“eonni…” Seohyun menghambur ke kamar Yoona.

“ada apa???”

“cepatlah berdandan… ada seorang pangerang yang menjemputmu di bawah…”

“Hae oppa???”

“iya… tapi dia minta kau keluar setelah siap jangan sekarang!!!”

“baiklah…”

Setelah Seohyun keluar dari kamarnya, Yoona segera berdandan. Ia memakai dress putih berenda hitam, dipadukan dengan stocking hitamnyanya, ia lalu meraih sebuah coat untuk membalut badannya agar tak terkena angin.

“oppa… ini hadiah darimu tahun lalu… dress putih ini hadiah dari ibu hari ini…” Yoona berbicara pada coat warna ungu tua yang kini telah dikenakannya. Ia lalu merapikan rambutnya. “kau bilang rambutku bagus jika digerai dan dijepit seperti ini… agar kening indahku bisa terlihat olehmu…” Yoona tersenyum sendiri. “aku rasa sepatu ini cocok warnanya…” ia mengambil sepatu boat berbulu tanpa hak warna putih. “oppa… aku sangat merindukanmu…” ia segera keluar kamar.

“yah… cantik sekali mentang-mentang pangeranmu yang memintanya… dia menunggu di luar pergilah…” Seohyun menyabut Yoona di ruang tengah.

“ayah dan ibu?”

“mereka sudah tidur…”

“baiklah… aku pergi…”

 

Yoona POV

Aku berjalan keluar rumah, aku melihat seorang pria dengan setelan jas hitam, kemeja biru, lengkap dengan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, ya… jam tangan hadiah dariku.

“oppa…”

“Yoong… kau mau kemana? Cantik sekali…” dia pura-pura mengejekku.

“Seohyun bilang ada pangeran yang menjemputku… kenapa malah kau yang datang oppa… kau kan bukan pangeran… kau kan artis…”

“ya… baiklah… ayo berangkat…” dia menaiki sepedaku.

“sepeda???”

“iya… aku rasa bersepeda malam hari akan lebih indah… kajja…”

“baiklah…” aku segera duduk di boncengan.

“malam yang indah bukan???” tanyanya setelah sepeda melaju.

“benar… banyak sekali bintangnya…”

“tapi bintang yang terang hanya yang sekarang aku bonceng…”

“merayu saja bisanya… cepat katakan… mau membawaku kemana???” aku semakin penasaran.

“lihat saja nanti…”

Angin musim gugur yang membuat dedaunan berjatuhan tak kurasa dingin, karena pengahangat malamku, suaranya, dan senyumnya ada disini. Hae oppa.

 

“kenapa membawaku ke sekolah? Bagaimana kalau ada penjaga malam?”

“tidak ada… ayolah…” dia menggandeng tanganku menuju kelas kami, dan saat kubuka pintu kelasku sudah berubah. Sekelilingnya dihiasi lilin-lilin cantik, ada bintang-bintang yang dibentuk dari lampu-lampu kecil, dan meja tempatku dan Hae oppa belajar sengaja dibuat satu, di sana ada kue ulang tahun lengkap dengan satu keranjang strawberry.

“duduklah…” Hae oppa menyuruhku duduk. “sekarang tiup lilinnya…” dia menyalakan lilin di atas kue ulang tahunnya dan aku pun meniupnya.

“saengil chukae…” lanjutnya.

“gomawo oppa…” aku tersenyum malu.

“aku tidak menyangka oppa akan menyiapkan ini…”

“Yoong… bintangku… kau tahu… kau segalanya untukku, kau adalah cahayaku yang bersinar seperti bintang di langit, aku hanya mencintaimu, selamanya hanya mencintaimu, kita saling mencintai, yang aku butuhkan adalah kau, jadi mana mungkin aku melupakanmu, sedetikpun tak pernah aku pikirkan… apalagi ini hari spesialmu… kau harus ingat dimanapun aku berada… aku tak akan melupakan apapun tentangmu…”

“oppa…” aku hanya mampu berkata itu.

“begitu juga kau… bintang yang selalu mengawasiku… aku tahu walau aku dimana kau dimana… kita saling melihat… begitu kan?” aku mengangguk. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari bawah meja.

“apa itu oppa?”

“hadiah untukmu…” ia lalu berjongkok. Ia melepaskan sepatuku. Lalu mengeluarkan sepatu dari kotak yang diambilnya dari bawah meja tadi. “kau sudah tujuh belas… kau tinggi tapi belajarlah memakai sepatu hak tinggi ini…” ia mengganti sepatuku dengan boot yang cantik. Boot coklat berbulu abu-abu dengan hak tingginya.

“oppa…”

“belajarlah…” ia tersenyum menggoda. “ada satu hadiah lagi…”

“apa???” Hae oppa beranjak ke depan kelas. Ia mengangkat tangannya seperti mau mengucap sumpah pernikahan. “aku Lee Donghae dengan ini ingin membuat pengakuan… sebenarnya aku sudah mempunyai kekasih bernama Im Yoona, dia adalah sahabatku sejak SD… kami berdua adalah dua bintang yang saling menyinari satu sama lain…”

“hahaha… pengakuan macam apa itu? Di sini hanya ada aku dan kau oppa…” aku terkeukeuh. Tiba-tiba tawaku berhenti karena ponsel Hae oppa berbunyi.

“baiklah…” hanya itu jawaban yang Hae oppa berikan pada si penelepon.

“oppa ada apa?”

“tidak ada apa-apa… apa kau suka hadiahku mala mini?”

“…” aku mengangguk. “aku ingin tahun depan masih bisa seperti ini… bersamamu…”

“aku juga berharap seperti itu…”

 

Donghae POV

Setelah mengantarkan Yoona pulang aku buru-buru ke kantor. Di sana sudah berkumpul beberapa orang dan di sana tentunya ada managerku, tapi kenapa Jessica dan managernya juga ada di sini.

“baca ini…” pimpinan memberikanku selembar kertas yang di print dari internet. Di sana terpajang fotoku dan Jessica yang sedang berduaan. Di sana diberitakan aku dan Jessica tengah berpcaran, dan malam itu ada orang yang meihat aku mencium Jessica. Para penggemarku sangat mendukung aku untuk berterus terang tentang hubungan kami begitu juga para penggemar Jessica.

“apa-apaan ini??? Aku sama sekali tidak berpacaran dengannya, dan itu tidak mungkin… yang menciumnya waktu itu Heechul bukan aku…” memang saat itu aku dan Heechul memakai baju yang sama tapi itu bukan aku, aku berbohong pada Yoona bahwa malam itu aku hanya pergi dengan Heechul, actor yang satu management denganku, padahal kami juga pergi bersama Jessica, tapi aku tak mengkhianatinya.

“apapun itu… segeralah klarifikasi masalah ini… klarifikasi secara jantan olehmu… mengaku pacaran saja…” usul pimpinan.

“itu tidak mungkin…” kataku.

“maksudmu???”

“mungkin inilah waktu yang tepat mengatakannya… aku sudah berpacaran sejak lama… aku tak mungkin mengkhianati kekasihku…” tegasku.

“maksudmu… teman sekolahmu itu… yang dulu kusuruh putuskan?” tanya manager.

“benar…” aku segera keluar ruangan. Aku tak mau dipaksa-paksa lagi.

 

“ibu…” kulihat ibu masih duduk di ruang tengah begitu aku pulang.

“kau… sudah pulang rupanya… apa kau sudah bertemu Yoona hari ini?”

“sudah… kami sudah merayakan ulang tahunnya…”

“baguslah… sekali-kali berkorbanlah untuknya… mengorbankan sedikit waktu dan karirmu… bukankah Yoona banyak berkorban hati dan waktunya untukmu juga kan…???”

“iya benar bu… aku sangat egois dan jahat pada Yoona…” aku bergegas ke kamar.

 

Yoona POV

Hari ini adalah hari seminggu sebelum perpisahan sekolah, hari dimana akan diumumkannya penerimaan universitas, aku segera menuju papan pengumuman sekolah. Aku mencari-cari namaku.

Itu dia namaku… aku diterima di jurusan Ekonomi di Seoul National University. Bagaimana dengan Donghae oppa??? Seminggu ini dia ada shooting di Jepang, seminggu pula aku tak berkomunikasi dengannya.

“kau tahu Yoona… dari kelas kita ada dua yang telah diterima di universitas luar negeri…” terang Yuri.

“benarkah? Siapa saja?”

“Lee Donghae dan Ryeowook…”

“Lee Donghae???” aku begitu kaget.

“lihat itu…” Yuri menunjuk urutan keduabelas, ya benar… Hae oppa diterima di jurusan seni di sebuah universitas di Jerman. Jerman? Eropa??? Jauh sekali…

“kudengar di sana ia akan saru universitas dengan Jessica, model satu managementnya itu…” tambah Yuri lagi.

“serius???” rasanya aku tak ingin meneruskan kata-kataku ini.

“benar… kau kenapa?”

“tidak apa-apa… aku ke belakang dulu…” aku segera berlari ke halaman belakang sekolah seperti biasanya.

“dia dan Jessica??? Tidak mungkin… kenapa ini tak pernah dikatakannya… aku percaya dia tak mungkin mengkhianatiku… tapi melihat ini… kenapa selama ini dia tak pernah mengatakannya…” aku menangis. Aku merindukannya sekarang, aku ingin dia menjelaskan semuanya tapi percuma… dia tahu tidak hari ini aku sangat bersedih.

 

Donghae POV

Hari ini kabarnya pengumuman di sekolah tentang universitas. Apa Yoona tahu aku sudah diterima? Apa jangan-janga dia marah padaku karena aku tidak memberitahunya tentang ini? Dan kenapa juga aku harus diterima di universitas yang sama dengan Jessica.

 

Yoona POV

Perpisahan sekolah lusa, apa Donghae oppa sudah pulang? Kenapa sama sekali tak ada kabar darinya, semua sudah berpasangan unuk datang ke pesta perpisahan… lalu aku? Kalau aku menerima tawaran Yesung? Bagaimana dengan Hae oppa? Kalau tidak… apa mungkin kami akan pergi bersama?

“Yoona… bagaimana???” Yesung terus mendesakku.

“aku… emmmm bagaimana ya???” aku masih terus berpikir.

“kenapa mesti bingung… apa kau pikir Donghae akan mengajak gadis dari kelas ini… apa kau tak berpikir kalau ia akan datang bersama Jessica Jung model itu…”

“hah??? Bagaimana kau punya pikiran seperti itu… baiklah aku akan datang bersamamu!!!” aku sangat kesal mendengar ucapannya.

 

Author POV

Hari ini perpisahan sekolah akan tiba esok hari. Yoona sedang mematut dirinya dikaca memakai gaun yang baru saja dibelinya bersama Seohyun.

“eonni… benarkah yang kau katakana tadi… kalau akan pergi bersama dengan Yesung oppa???”

“…” Yoona mengangguk.

“aku tidak rela…” Seohyun merengek.

“kenapa???”

“bagaimana kalau Hae oppa tahu… dia pasti marah…”

“apa dia juga tahu kalau aku bisa marah tanpa kabar darinya???” Yoona menerawang lalu matanya beralih pada foto yang terpajang di meja dekat lampu kamarnya, foto dia dan Donghae yang diambilnya saat merayakan ulang tahunnya malam itu.

“eonni… maafkan aku… tapi aku hanya tidak ingin kalian bertengkar hebat setelah ini… aku lebih rela meminjamkan Kyuhyun oppa padamu untuk besok…” Seohyun mengusap-usap punggung kakaknya itu.

“aku tidak tahu harus bagaimana lagi… biarlah hari esok yang akan berkata…” Yoona menunduk menyembunyikan air matanya.

 

“kenapa pria lain yang menjemputmu… kenapa bukan Donghae???” Teayeon mencemaskan putrinya.

“Hae oppa kan belum pulang…” jawab Yoona datar.

“belum pulang??? Lalu yang semalam di acara TV itu siapa??? Dia baru saja tiba dari Jepang sejak kemarin…”

“sudahlah ibu… aku tidak mau Yesung menungguku… aku pergi dulu…” Yoona mencium pipi sang ibu dan bergegas keluar.

“kau cantik sekali Yoona…”

“terimakasih…” Yoona menjawab dingin pujian Yesung.

 

Donghae POV

Rasanya kepalaku ingin pecah, seminggu lebih di Jepang benar-benar masalah berdatangan. Pertama, ayahku menelepon lalu marah-marah begitu tahu aku akan kuliah di jurusan seni, lalu ibu marah dengan gosipku dan Jessica, managerku menyembunyikan ponselku dan pura-pura bilang hilang agar aku tidak memikirkan Yoona terus, dan yang paling menjadi masalah hari ini adalah hari perpisahan sekolah, ku harus menghadapi Yoona yang tak kuberi kabar. Ini yang paling menakutkanku, aku takut Yoona marah.

Bahkan mala mini aku pergi sendiri tanpa pasangan, aku takut untuk menelepon Yoona. Padahal tadinya aku ingin mala mini jadi malam pengakuanku dihadapan teman-temanku bahwa aku adalah kekasih Yoona.

Aku memarkirkan mobilku, ku lihat parkiran sudah penuh, aku segera memasuki aula sekolah yang sudah disulaap jadi tempat pesta yang indah. Ku edarkan mataku ke sekeliling ruangan, aku mencari sosok yang sudah kurindukan, tapi tak ku lihat… dimana dia?

Apa dia tidak datang? Atau jangan-jangan karena aku sama sekali tak mengabarinya jadi dia tak datang?

Tapi tunggu… siapa yang berkumpul di pojok sana, Yuri, Yesung, Ryeowook, MinHo, Sunny, Krystal, dan dia yang sedang tertawa dengan riang… Yoona. Rasanya senang sekali menemukannya. Aku ingin menghampirinya, tapi baru saja aku mau beranjak MCnya yaitu Eunhyuk dan Hyoyeon mengumumkan sesuatu.

“teman-teman… mala mini adalah malam terakhir kita berkumpul… tentu saja kalian ingin mala mini berkesan… dan supaya mala mini berkesan bagaimana kalau kita adakan permainan… permainannya adalah mengungkapkan isi hatimu dan keinginanmu… jadi kita akan bernyanyi, dan dimana lagu berhenti maka dia berhak mengungkapkan isi hati dan keinginannya… sekarang semuanya membentuk lingkaran…”

Aku gagal menghampiri Yoona, aku juga tidak yakin Yoona melihatku. Mau tidak mau aku harus mengikuti permainan ini. Sangat membosankan tapi aku elihat Yoona dari tadi begitu senang.

“ya… Yesung cepat katakana apa isi hatimu dan keinginanmu???” lagu berhenti tepat pada Yesung.

“keinginanku… isi hatiku hanya satu… Yoona… mau kah menjadi kekasihku…”

“waaaaa…” koar satu kelas. Aku tak tahan melihatnya, Yoona terbengong, sementara Yesung menggenggam tangannya. Tanpa pikir panjang aku segera berjalan kea rah Yesung dan melayangkan tinjuku.

“Lee Donghae…” semua orang tidak habis pikir dengan apa yang kulakukan.

“oppa…” Yoona sama kagetnya. Aku segera menarik tangannya keluar. Aku membawanya ke halaman belakang sekolah. Tempat dimana dia selalu lari.

“oppa… apa yang kau lakukan tadi…???” Yoona melepaskan cengkramanku.

“apa yang aku lakukan??? Aku sedang melarangnya mendekati kekasihku…”

“mendekatiku??? Kekasihmu??? Heuhhh… apa kau yakin???” aku melihat Yoona marah. “seminggu lebih menghilang… aku tahu di sana kau sedang bekerja… aku tahu kau ingat padaku… aku tahu… tapi aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan hatiku oppa… kau tahu… selama ini aku bisa bersabar… dengan gosipmu, dengan pekerjaanmu… dengan statusmu… dan dengan segala tentangmu… melihatmu dengan perempuan lain saat di televisi, melihatmu bernyanyi dengan sangat mesra untuk semua orang… bahkan kau pergi berminggu-minggu dengan gadis lain ke luar negeri… aku masih bisa bersabar… aku masih terus berpikiran baik… dan kau tahu hal yang paling menyakitkanku adalah gossip di internet itu… aku tahu gosipmu dengan Jessica sudah berlangsung lama… tapi aku tahu itu tak benar karena aku percaya padamu… tapi tahukah kau betapa lelahnya hatiku oppa…” Yoona terduduk sambil terisak.

“apa???” aku hanya mampu berkata ‘apa’ air mataku tak tertahan melihat Yoona. “Yoong…” ku meraih jemarinya, tapi ia menepisnya.

“oppa… mungkin lebih baik seperti ini… seperti yang lainnya… anggap saja aku hanya teman sekelasmu… seperti yang lain…”

“Yoong… apa maksudmu…” Yoona kali ini menghapus air matanya.

“biarkan begini adanya… aku pernah bilang kalau kita adalah dua bintang yang saling menyinari… lihatlah oppa di langit itu saja bintang tidak hanya dua… carilah bintang lain yang bisa menyinarimu lebih terang… aku rasa… aku tidak sanggup jadi sinarmu lagi oppa…” Yoona beranjak pergi, ia berlari dengan tangisnya.

 

“argggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” aku membanting semua barang yang ada di kamarku. Aku sama sekali tidak berguna, demi semua harapanku aku telah mengorbankan banyak perasaan, perasaan ayahku yang berharap aku jadi seorang pembisnis seperti dia, harapan ibu agar aku jadi lelaki normal tanpa gossip di televise, dan harapan Yoona yang ingin seperti pasangan normal lainnya.

Sekarang Yoona benar-benar lelah, tapi aku sangat membutuhkannya. Hanya dia yang aku inginkan sekarang, mengembalikan dia ke sisiku. Aku melihat foto kami berdua yang kuataruh di meja belajar, aku hanya mampu membalik framenya agar foto itu tak terlihat.

 

Seminggu berlalu, setiap kali ke rumah Yoona, dia tak pernah mau menemuiku, Seohyun yang ada dipihaknya benar-benar tak mau membantuku, orang tuanya hanya bisa menyerahkan semuanya pada kami tanpa membela siapapun.

“ayah… ibu… apa aku boleh minta tolong…”

“apa??? Jangan meminta tolong pada kami untuk meluluhkan hati Yoona… karena kalau aku jadi dia aku juga tidak akan bisa memaafkanmu…” ibu benar-benar marah padaku sejak tahu aku mengecewakan Yoona yang membuat Yoona marah dan ingin berpisah denganku.

“bukan itu… ini tabunganku… aku ingin minta tambahan uang darimu… aku ingin memutuskan kontrak dengan management dan mengganti rugi uang mereka… ini tuntutannya…”

“kau???” ayah benar-benar kaget. Anak laki-laki kebanggannya, satu-satunya sekarang menyerahkan buku tabungan dan surat tuntutan kehadapannya.

“apa lagi ini…???” ibu tak kalah kagetnya.

“aku memutuskan untuk kuliah di UK saja, aku sudah mencoba mendaftar dan syarat-syaratku memenuhi criteria mereka… aku akan mengambil kuliah bisnis di sana… seperti kemauan ayah, dan seperti harapan ibu aku akan berhenti menjadi seorang artis… aku diberi sedikit keringanan oleh mereka dengan membuat satu album jika aku selesai kuliah nanti sebagai kekuarangan tuntutan itu… tapi jumlah tuntutan itu tak bisa kupenuhi dengan tabunganku… aku harap ayah bisa membantu…” aku menunduk.

“Ya Tuhan… anakku…” ibu menghampiriku, “maaffkan kami… jika karena kami kau harus membuat keputusan berat ini…” dia mengelus kepalaku.

“tidak bu… aku sadar… kalian orang-orang yang aku sayangi begitu banyak berkorban untuk harapanku… mana mungkin aku tidak berani berkorban untuk harapan kalian…”

 

Yoona POV

“eonni…” seperti biasa anak kecil dirumah ini sudah berteriak pagi-pagi.

“ada apa???” balasku tak kalah berteriak.

“cepat turun…”

Dengan malas aku segera menuruni tangga menuju ruang tengah.

“pada hari ini… actor sekaligur penyanyi dari perusahaan kami resmi telah keluar…” begitulah kira-kira kutipan acara di televise yang aku lihat.

“eonni…” Seohyun yang menyadari kedatanganku langsung mendekatiku.

“jadi???”

“iya… Hae oppa sudah keluar…”

Aku segera naik kembali ke kamarku. Aku menangis sejadi-jadinya. Hae oppa… jadi kau memilih jalan ini… maafkan aku jika karena aku maka kau memilihnya… maafkan aku Karena aku mengecewakanmu… aku tidak setia padamu… aku malah menghilang dari sisimu di saat kau sebenarnya sangat membutuhkanku. Tapi percayalah di saat seperti apapun aku masih mencintaimu… sekalipun saat kau berkata tak mencintaikupun suatu saat nanti percayalah ku masih sangat mencintaimu oppa… aku masih akan menyinarimu… seperti bintang malam… dan matahari di siang hari.

 

1 tahun kemudian…

 

 Yoona POV

Hari ini hari ulang tahunku… kehangatan keluargaku masih menjadi kado terhangat di musim gugur ini, angin malam juga masih setia menusuk-nusuk kulitku.

Malam ini, dengan coat ungu yang membalut bajuku dan sepatu boot yang tidak lain adalah hadiah dari Hae oppa, aku mengayuh sepedaku sendiri, tahun lalu aku duduk diboncengan tapi tahun ini aku mengayuhnya sendiri. Membelah jalanan malam yang dipenuhi daun-daun yang ditiup angin, rasanya lama sekali menatap hari tanpa ada Hae oppa… sedang apa dia sekarang ya? Apa dia masih ingat hari ini hari ulang tahunku, apa dia masih ingat dengan malam tahun lalu, malam dia memboncengku, memberikanku kejutan hangat, memberiku hadiah sepatu ini, sepatu ber hak yang sangat tidak kusukai tapi sekarang aku cintai…

Aku memarkirkan sepeda di lapangan basket, dan berjalan ke kelas kami dulu. Tanpa takut aku masuk ke kelas itu. Kelas di mana tahun lalu ada seorang pria yang mengakui kalau dia adalah kekasihku, walaupun hanya di hadapanku. Aku duduk di salah satu bangku yang kini susunannya sudah berubah, aku melihat bayangan tahun lalu masih ada. Bayangan Hae oppa yang menyuruhku meniup lilin, memakaikan sepatu ini untukku, dia yang sedang melakukan pengakuan, dia yang sedang memakan strawberry, dia yang sedang tersenyum jail menggodaku, dia yang tersenyum malu karena terus ku ejek.. oppa… aku sangat merindukanmu.

 

Donghae POV

Hari ini tepatnya hari ulang tahun Yoona. Aku tak tahu harus melakukan apa… datang ke rumahnya pasti dia tak mau menemuiku, meneleponnya pasti tak akan di jawab. Mendatangi tempat tahun kemarin sepertinya akan lebih meyakinkan kalau dia tak akan menolakku. Untunglah kuliahku libur seminggu ini jadi aku bisa lama di Korea.

Sekolah ini, sekolah penuh kenangan, terutama tahun kemarin, tahun dimana aku masih bisa merayakan ulang tahun Yoona. Tapi kalau naik ke kelas di atas aku takut, aku cuma sendiri, tapi halaman belakang sekolah sepertinya terang. Tempat itu juga penuh kenangan untukku dan Yoona. Tempat di mana ia biasa bersembunyi kalau ada apa-apa dan aku akan menemukannya sedang terisak di sana.

Bayangan itu muncul, dulu aku dan dia di sini…

“asal oppa tahu… oppa lihat… siang ada matahari… dan matahari itu salah satu bintang… dan oppa tahu… bintang memang adanya hanya malam hari… tapi ingatlah siang juga ada… selain matahari itu… bintang yang selalu kita saksikan setiap malam… masih ada… hanya saja sedang ada di belahan dunia lain, dan walau tak terlihat… bintang itu masih melihat kita…”

“oppa mungkin aku selalu bisa di sampingmu saat malam hari… saat tak ada yang melihat kita… tapi kau tahu di siang hari pun di saat orang-orang banyak… aku masih memperhatikanmu… di kelas aku bisa jadi matahari yang terlihat olehmu… bintang siang… tapi saat kau ada di tempat lain… dan terpisah dariku… walau aku tak bisa melihatmu… tapi aku masih melihatmu… dengan cinta dan hatiku… bintang malam yang sedang ada di belahan dunia lain itu…”

Tapi sangat menyedihkan saat…

“seminggu lebih menghilang… aku tahu di sana kau sedang bekerja… aku tahu kau ingat padaku… aku tahu… tapi aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan hatiku oppa… kau tahu… selama ini aku bisa bersabar… dengan gosipmu, dengan pekerjaanmu… dengan statusmu… dan dengan segala tentangmu… melihatmu dengan perempuan lain saat di televisi, melihatmu bernyanyi dengan sangat mesra untuk semua orang… bahkan kau pergi berminggu-minggu dengan gadis lain ke luar negeri… aku masih bisa bersabar… aku masih terus berpikiran baik… dan kau tahu hal yang paling menyakitkanku adalah gossip di internet itu… aku tahu gosipmu dengan Jessica sudah berlangsung lama… tapi aku tahu itu tak benar karena aku percaya padamu… tapi tahukah kau betapa lelahnya hatiku oppa…”

“oppa… mungkin lebih baik seperti ini… seperti yang lainnya… anggap saja aku hanya teman sekelasmu… seperti yang lain…”

“biarkan begini adanya… aku pernah bilang kalau kita adalah dua bintang yang saling menyinari… lihatlah oppa di langit itu saja bintang tidak hanya dua… carilah bintang lain yang bisa menyinarimu lebih terang… aku rasa… aku tidak sanggup jadi sinarmu lagi oppa…”

Bayangan itu bolak-balik berganti… aku melihat Yoona yang sedang tersenyum lalu berubah jadi Yoona yang marah dan menangis dan pergi meninggalkanku.

“Yoong… tahukah kau… aku sangat merindukanmu…”

 

Author POV

Yoona menuruni tangga menuju lapangan basket untuk mengambil sepedanya, begitu juga Donghae yang baru keluar dari halaman belakang.

“sepeda ini… bukankah ini sepeda Yoona???” Donghae menilik-nilik sepeda berwarna kuning di hadapannya itu.

“oppa…” kaget Yoona begitu sampai di lapangan basket.

“Yoong…” Donghae menoleh tak kalah kaget.

“apa yang kau lakukan di sini???” Yoona terbata-bata.

“aku??? Kau sendiri???” tanya Donghae balik.

“aku baru saja dari kelas…”

“kelas???”

“aku mengambil buku Seohyun yang ketinggalan…” bohong Yoona.

“benarkah???” Donghae tak percaya.

“iya… tapi buku itu sudah tidak ada…”

“dengan dandanan seperti ini???” Donghae melihat Yoona dari atas sampai bawah.

“memangnya kenapa… kau sendiri untuk apa di sini??? bukankah kau kuliah di luar negeri…”

“aku??? Aku sedang mencari udara segar… tapi anginnya malah membawaku pergi ke sini…” sangkalnya.

“apa kau mengikutiku???”

“untuk apa aku mengikutimu??? Bahkan aku tidak tahu kau datang ke sini…”

“ya sudah… aku harus segera pulang… selamat malam…” Yoona segera mengambil sepedanya tapi baru saja sepeda akan dikayuh Donghae mencegahnya.

“ada apa???” tatap Yoona sinis.

“aku berbohong…”

“maksudmu…???” Yoona tak mengerti.

“selamat ulang tahun…”

“emmmmm… terimakasih… aku juga berbohong…”

“maksudmu???”

“aku juga baru saja dari kelas… aku teringat tahun kemarin…” Yoona menunduk.

“benarkah???”

“ne…”

“bodoh…” Donghae menoyor kepala Yoona.

“siapa kau berani-beraninya menyentuh kepalaku…” Yoona berang.

“aku kekasihmu!!!”

“kekasihku??? Aku sudah tidak mencintaimu!!!” Yoona mengerucutkan bibirnya.

“bahkan saat kau mengatakan tidak mencintaiku lagi aku bisa merasakan bagaimana kau masih begitu mencintaiku…”

“aku tidak akan termakan rayuanmu…”

“benarkah??? Lalu untuk apa kau menelepon ibuku tengah malam hanya untuk menitipkan ucapan selamat ulang tahun padakku saat itu…” Donghae merasa menang.

“jadi bibi berkata itu padamu???” Yoona mengerutkan keningnya. Donghae mengangguk. “aish… memalukan sekali… tapi jangan harap kau menang…” Yoona bergegas mengayuh sepedanya, tapi tangan Donghae begitu kuat menggenggam kendali sehingga sepeda tak maju-maju. “aku mau pulang… awas…”

“turun kubilang…”

“mau apa???”

“aku akan memboncengmu…”

“aku tidak mau!!!”

“baiklah… terus saja seperti itu… membohongi hatimu!!! Aku tak akan kembali lagi tahun depan!!!”

“membohongi hati??? Aku??? Untuk apa sekarang kau kembali kalau masih seperti ini??? Masih begitu sombongnya kau bilang aku yang membohongi hatiku!!!” Yoona turun dari sepedanya.

“Yoong… maafkan aku… atas apa yang selama ini aku lakukan… aku tahu kau tak akan pernah bisa dibandingakan dan ditukar dengan apapun… termasuk dengan karirku… kau lebih berharga dari pada itu… maafkan aku… karena telah menyakitimu… aku janji akan berubah, tak akan menyakitimu lagi, kita akan meninggalkan kesedihan itu asal kita kembali saling mencintai seperti dulu…” Donghae tersimpuh dihadapan Yoona yang berdiri di sebelah sepedanya.

“oppa… jangan seperti ini… maafkan aku juga… aku dulu kasar saat mengungkapkan semuanya padamu… kau tidak perlu berjanji seperti itu… kita akan berubah bersama-sama saling memperbaiki diri dan saling mencintai kembali… bukan hanya kau tapi aku juga… dua bintang yang saling menyinari akan saling melengkapi satu sama lain bukan hanya salah satu diantaranya… karena kau segalanya untukku oppa… begitu juga aku untukmu kan? Aku Cuma butuh seperti ini setiap saat…  cukup ada kau… itu saja…”

“Yoong…”

“iya oppa… sekarang ibu pasti sedang marah-marah… antarkan aku pulang!!!”

***

“semakin bertambah tahun beratmu semakin bertambah ya… memboncengmu melelahkan sekarang…”

“bukan aku yang semakin berat… tapi kau yang semakin tua oppa…”

“heh kau…”

“apa??? Baru saja aku maafkan sudah berani membentakku lagi???”

“bukan begitu… iya… aku semakin tua…”

“haha…”

“tapi kenapa kau memakai mantel dan sepatu itu??? Haha kau juga merindukanku kan???” Donghae terkeukeuh. Yoona mencubit pinggangnya.

“awww… tapi Yoong… aku tidak bisa memenuhi ucapan terakhirmu tadi…”

“ucapan yang mana?”

“berada di sisimu setiap saat… kuliahku belum selesai… jadi aku masih harus di sana…”

“tidak apa-apa oppa… setidaknya ada kabar darimu itu sudah cukup… dan kalaupun saat ulang tahunku kau tidak bisa mengajaku bersepeda seperti ini, malam-malam… kau masih bisa meneleponku…”

“gomawo Yoong…”

“ada lagi…”

“apa???”

“aku ingin merasakan pacaran normal… makan ice cream dan bersepeda seperti ini di siang hari… berbelanja bersama… dan apapun itu… asal bersamamu oppa…” terang Yoona.

Donghae berbalik dan mengecup kening Yoona, “akan ku lakukan semua itu… Yoong…” ia lalu kembali melajukan sepedanya. Yoona hanya bisa bersembunyi dibalik punggung Donghae menyembunyikan pipi merah dan senyum malunya itu.

 

 

 

 

 


17 thoughts on “LIKE A STAR [one shoot]

  1. Wuuuuaaaaa yoonhae..
    Akhirny happy ending, y ampun pngorbanan yg spadan dr hae hyung n juga yoong, akhirny kduany brsama kmbali..
    Mantaaabh chingu, ditunggu lg ff yoonhae atw haesica atw haefanyny y heheheee

    Like

  2. huwwaaa😮 dipos juga disini ..
    uda baca tapi gapernah bosen klo YoonHae >.<

    YoonHae JJang !!!

    Buat FF yoonhae lagi yaa chingu🙂

    Like

  3. wah yoonhae
    penen nangis deh liat pengorbanan yoong onnie buat hae oppa tapi akhir’a happy ending…
    oya bikin ff yoonhae lagi dong aku suka bgt sama couple ini soal’a

    Like

  4. Daeba unnie! Suka banget sumpah. Aku kangen ff YoonHae akhirnya nemu juga. Feelnya berasa banget. Ada SeoKyu juga dikit, menambah kekerenan(?) ff ini. Kata-kata disetiap percakapan YoonHae aku suka, dalem dan berkesan. Buat lagi ya unnie YoonHae yang banyak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s