Love Egoist


Main Cast : Choi Minho, Jung Soojung

Other cast : Jung Yonghwa, Choi Sooyoung, Choi Siwon, Luna Park, Kim Jonghyun
SeoKyu nyempil dikit, numpang nama doang *sok eksis ini orang berdua ya ^^

Genre : Family Romance

Author : Elfishysparkyu

*

*

“Tidak semua bisa dibeli dengan uang.” Krystal memekik jengah.

“Dan sayangnya itu tidak berlaku untukku.” Minho tersenyum sinis menatap yeoja didepannya yang tampak memandangnya penuh kebencian. “Aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan. Dan sekarang aku mendapatkanmu.”

“Kau akan menyesal jika melakukan sesuatu yang buruk padaku.” ancam Krystal.

“Kau milikku, terserah mau ku apakan. Kakakmu sendiri yang menyerahkanmu padaku. Apa kau mau mengingkari kesepakatan?”

“Yonghwa oppa.” desis Krystal lirih. “Aku tidak tahu kesepakatan apa yang kalian buat. Kenapa harus aku yang jadi korban?” ia berteriak marah. Sekuat tenaga ia tahan airmatanya agar tak jatuh. Saat ini ia tak boleh rapuh.

“Kau tak punya pilihan lain nona Jung.”

Dan kini airmata yang sejak tadi Krystal pertahankan mulai mengalir pelan dari pelupuk matanya. “Aku bukan barang yang bisa kau permainkan seenakmu sendiri. Aku bukan boneka yang bisa kau kendalikan sesuka hatimu. Dimana hati nuranimu? Atau kau tak punya hati? Kau memang manusia yang tak punya perasaan.” ia terus saja memaki-maki Minho.

Minho tersenyum tipis. “Terserah apa yang mau kau katakan.” ucapnya tenang.

Tapi itu semakin menyulut emosi Krystal. Tubuhnya bergetar menahan sesak didadanya yang siap meledak. “Aku benci padamu. AKU BENCI PADAMU.” ia memekik, menjerit sambil mendorong tubuh Minho dan dihempaskannya keluar. Lalu menutup pintu kamar itu kasar serta menguncinya rapat.

“Tapi aku mencintaimu Jung Soojung.” gumam Minho pelan. Ia tetap terpaku di depan pintu.

Namun dari balik pintu Krystal masih mendengarnya dengan jelas. Gadis itu semakin menumpahkan airmatanya. Ia menangis tersedu-sedu disana.

Meratapi nasib, takdir macam apa yang harus ia jalani. Tinggal  disebuah apartment dengan seorang namja bernama Choi Minho atas ulah kakak kandungnya sendiri. Apa artinya ia telah dijual. Lalu apalagi yang bisa dilakukannya. Kabur? Tadi adalah yang ketiga kalinya dan hasilnya ia akan tetap kembali ke tempat ini. Berkali-kali ia mengiba pun sama saja sia-sia. Kenapa ia harus disangkutpautkan dengan sesuatu yang ia tak tahu menahu.

< < < > > >

Seorang namja mengayunkan langkahnya gontai. Beberapa kali jalannya tampak limbung tak beraturan.

“Hyun-ah, aku harap kau bahagia.” ia terus merancau tak jelas. “Soojungie, oppa menyayangimu. Mianhae.” kini ia mulai menangis pilu. Tak peduli berpasang-pasang mata yang menatapnya iba.

“Bodoh.”

Yonghwa menoleh, sesosok yeoja jangkung menghampirinya dengan tawa mengejek.

“Choi Sooyoung, apa yang kau lakukan disini? Meratapi kekalahan?” ia ikut terkekeh, lebih terlihat sedang menertawai dirinya sendiri.

“Aku tidak bodoh sepertimu Jung Yonghwa. Oh iya, aku belum sempat menengok adikmu. Sepertinya nanti aku akan mampir sebentar kesana.” Sooyoung tersenyum sinis. “Ini akibatnya kau mengingkari perjanjian kita.”

“Ne, ini gara-gara perjanjian bodoh itu. Aku tidak peduli kalau kau menuntutku atau memasukkanku ke penjara sekalipun. Tapi jangan sakiti adikku.” lagi-lagi Yonghwa menangis, kali ini tangis memelas. “Kalian orang kaya apa selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang kalian inginkan?”

“Apa kau lupa Yonghwa-ssi? Kau sendiri yang menandatangani surat perjanjian itu, hitam di atas putih. Aku membayarmu untuk mendapatkan Seohyun, jauhkan dari Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa akan jadi milikku. Lalu yang terjadi? Kau melepaskan Seohyun begitu saja. Padahal tidak sedikit uang yang kukeluarkan untukmu.”

Yonghwa tersenyum getir. “Itulah bodohnya orang miskin sepertiku. Mudah tergiur dengan uang sampai melupakan harga diri. Tapi aku masih mempunyai perasaan.” ia menunjuk dadanya sendiri. “Aku masih punya hati. Aku merelakan Seohyun karena hanya Kyuhyun yang dia cintai.” teriaknya.

Didepannya Sooyoung masih membatu. Ucapan Yonghwa itu serasa menyayat ulu hatinya. “Padahal tinggal selangkah lagi pernikahanku dengan Kyuhyun oppa. Dan kau telah menghancurkannya.” dari ucapannya terlihat sekali ini cukup pahit untuk ia ungkapkan.

“Mianhae Sooyoung-ssi. Aku juga sangat mencintai Seohyun. Tapi cinta yang sesungguhnya itu dimana kita sanggup merelakan orang yang kita cintai bahagia meski disisi orang lain.”

“Alasan klise. Tidak usah mengajariku tentang cinta Yonghwa-ssi.”

Yonghwa tahu Sooyoung amat sangat kecewa sekaligus benci padanya. “Sekali lagi jeongmal mianhae Sooyoung-ssi.” kali ini ia membungkuk sopan.

“Untuk apa kau minta maaf padaku? Toh semua sudah terlambat. Kyuhyun oppa akhirnya menikah dengan Seohyunmu itu.”

“Terlepas kau membenciku. Menganggapku pengkhianat atau apa. Tolong jaga baik-baik Krystal, aku mohon.” pinta Yonghwa tulus.

Sooyoung tetap dengan raut datarnya. “Krystal itu urusan Minho, bukan urusanku.” ucapnya angkuh.

Yonghwa mengalihkan pandangannya menunduk. Ia sungguh merasa bukan kakak yang baik untuk Krystal. Ia terus menunduk hingga hanya mendengar hentakkan langkah Sooyoung yang kian menjauh. Ia melirik, benar yeoja itu pergi.

Bahkan kini hujan seakan menertawainya. Gerimis turun disaat yang tepat. Air dari langit itu seperti ingin bersaing dengan tumpahan airmatanya.

< < < > > >

“Choi Minho membayarmu berapa agar kau mau tidur dengannya?”

Plakk.. Tamparan keras Krystal berhasil mendarat di pipi mulus Luna.

Gadis itu meringis memegangi pipinya yang memerah. Lalu bersiap mengayunkan tangannya hendak membalas. Tapi tangan Krystal lebih dulu mencengkeram tangannya kuat-kuat.

“Jaga ucapanmu Luna Park.” tegas Krystal. Dari sorot matanya jelas sekali ia tidak terima.

“Wae? Aku bicara kenyataan kan? Rumor kau tinggal serumah dengan Choi Minho sedang berhembus kencang saat ini. Gosip itu menyebar dengan cepat tanpa bisa dikendalikan.”

Ucapan Luna itu sukses membuat Krystal tercekat hebat. “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.” ucapnya terbata.

“Oh ya? Apa yang terjadi jika seorang namja dan seorang yeoja tinggal berdua dalam satu apartment? Semua orang pasti berpikiran sama.” Luna tertawa mengejek.

“Kau salah Luna-ssi.” kali ini suara Krystal mulai melemah. Ia sadar bagaimanapun ia berusaha menjelaskan pasti sulit untuk membuat gadis didepannya ini percaya.

Luna semakin terkekeh geli. “Krystal Jung, mahasiswa teladan Inha University ternyata tak lebih dari seorang wanita simpanan.”

Krystal memejamkan matanya perih. Ucapan Luna itu terasa bagai menaburkan garam pada lukanya yang menganga, sakit sekali.

“Dan dia hanya menjerat namja kaya sebagai korbannya.” lanjut Luna. Melihat Krystal hanya diam, ia terus saja memainkan lidah berbisanya.

Ingin sekali Krystal kembali melayangkan tamparannya pada yeoja itu. Tapi ia tak kuasa melakukannya.

Lihatlah kini, semua mata tertuju padanya. Sedikit keributan dengan Luna itu cukup menarik perhatian banyak orang.

Dan Krystal sadar tatapan orang-orang itu memandangnya rendah. Seakan-akan ia terlalu hina bahkan untuk sekedar dilirik saja.

Dalam sekejap keadaan telah berbalik sempurna. Dulu, meski ia kuliah mengandalkan beasiswa, tak seorangpun yang memandangnya sebelah mata. Semua mengagumi kecerdasannya. Tapi kini, semua orang seakan mencemoohnya.

Akhirnya ia hanya mampu menangis pilu. Ia seka pelan airmatanya yang terus menetes.

“Aku tidak segan untuk membuat perhitungan dengan siapapun yang mengganggunya.” tegas Minho. Ia berjalan lantang mendekati Krystal dan menatap tajam setiap orang yang ada disana.

Beberapa orang seketika beringsut menjauh begitu melihat kedatangannya. Semua tahu Minho punya kuasa untuk melakukan apapun yang ia kehendaki.

“Apa kau ada masalah nona Park?” Minho dengan tegas menunjukkan ketidaksukaannya, kali ini tepat ditujukan untuk Luna.

Dan Luna pun sama seperti yang lain lebih memilih menghindar. “Tidak ada.” ucapnya pelan. Kemudian beranjak menjauh menuju teman-temannya.

“Kau tidak apa-apa?” kini Minho beralih ke Krystal.

Krystal masih membisu menahan gemuruh dadanya. Ia lalu mendongak menatap Minho lekat. “Puas kau sekarang?” tanyanya getir. Matanya masih berkaca-kaca.

Tanpa pikir panjang ia memilih pergi dari tempat itu. Ia menyeret kakinya cepat. Meninggalkan Minho yang masih mematung disana. Dan namja itu tak sanggup berbuat apa-apa.

< < < > > >

Krystal melangkah gamang memasuki pelataran rumah sederhana di depannya. Rumah tempatnya bernaung selama lebih dari 18 tahun. Ini pertama kalinya ia terbebas dari Minho. Ia leluasa pergi sesuka hati tanpa pengawasan namja itu. Rasanya seperti terlepas dari sangkar emas yang selama ini membelenggunya.

Rumah itu masih sama seperti saat ia dipaksa meninggalkannya beberapa hari lalu. Namun kini terlihat sepi seperti tak berpenghuni.

“Krystal-ah, kau tidak ikut kakakmu pindah ke Namwon?”

Perlahan Krystal mendekati ahjumma yang menyapanya tadi. Ahjumma tetangga sebelah rumahnya.

“Namwon? Yonghwa oppa pindah ke Namwon?” tanyanya heran.

Ahjumma itu tampak lebih heran lagi. “Kau tidak tahu?”

Krystal menggeleng pelan. “Kami hanya punya saudara di Busan, kenapa bisa ke Namwon? Oh iya, kapan pindahnya ahjumma?”

“Beberapa hari yang lalu. Aku kira kau ikut dengannya karena kau juga tidak pernah kelihatan.” ahjumma itu semakin menampakkan raut herannya.

Krystal hanya tersenyum kecut. “Apa Yonghwa oppa memberitahumu sesuatu ahjumma? Alamatnya di Namwon mungkin?

“Yonghwa hanya bilang pindah ke Namwon saat berpamitan padaku. Dia tidak bilang apapun lagi.”

“Oh.” Krystal mengangguk-angguk sambil terus menerka-nerka sendiri. “Gomawo ahjumma.” ucapnya tidak semangat. Ia membungkuk sekilas pada ahjumma itu sebelum memutar langkahnya pergi. Berbagai pertanyaan saling hilir mudik mengisi kepalanya.

Sang ahjumma menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Terus memandang sosok Krystal sampai menghilang dari penglihatannya.

< < < > > >

Minho menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang. Krystal, dimana gadis itu sekarang.

Kalau biasanya sedetik saja Krystal menghilang dari pengawasannya, ia langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari gadis itu. Tapi kali ini ia tak berbuat apa-apa. Kejadian di kampus tadi siang dan sorot mata Krystal padanya terasa begitu menyesakkan dada.

Minho menghembuskan nafasnya berat. Kenapa tiba-tiba muncul rasa bersalah yang amat sangat.

Perlahan ia bangkit dari rebahannya. Seperti ada yang memerintahkan untuk melengok kamar Krystal walau sebentar saja. Ia terus melangkah ke kamar gadis itu yang tepat berada disebelah kamarnya.

Pintu itu tak tertutup sempurna. Masih ada sedikit celah disana. Minho tersenyum, jikalau ada Krystal pastilah pintu itu selalu terkunci rapat.

Ia buka pintu itu perlahan. Aura Krystal begitu terasa di kamar ini. Hangat dan nyaman itulah yang Minho rasakan.

Dan seketika ia memicingkan matanya tak percaya. Di atas ranjang seorang gadis tertidur dengan pulasnya, Krystal.

Minho melangkah mendekat. Ia tersenyum lega melihat raut polos Krystal ketika tidur. “Mianhae.” bisiknya. “Beginilah caraku mencintaimu.” diusapnya kepala Krystal pelan. Takut membangunkan gadis itu.

Sepertinya ini hari yang cukup melelahkan untuk Krystal. Entah sejak kapan gadis itu pulang, yang jelas ia tampak begitu kacau. Tas dan sepatunya masih berserakan di lantai. Bahkan ia masih memakai pakaiannya tadi siang.

Minho terus menatap lekat gadis itu. Lalu merapikan selimutnya yang sedikit berantakan. “Tidurlah, selamat malam.” ucapnya pelan.

Ia sempat menengok sejenak sebelum menutup pintu kamar Krystal rapat. Pelan sekali agar decitan pintu itu tak sampai membangunkan Krystal.

Sayup-sayup Krystal membuka matanya. Melirik pintu yang tertutup itu lalu sesenggukan tanpa arti. Ia sendiri tak mampu menerjemahkan makna dari tangisannya ini.

< < < > > >

Lewat tengah malam. Rasa haus yang menggelitik memaksa Minho untuk bangun dari tidurnya. Ia memutuskan untuk mengambil minum ke dapur.

Ia tersenyum kecil saat menemukan Krystal sedang menyantap ramen sendirian di meja makan. Tanpa bicara setelah mengambil minum ia duduk di hadapan yeoja itu.

Dan sepertinya Krystal tak peduli dengan keberadaan Minho. Ia terus memakan ramen yang tampak masih mengepul itu.

Minho sendiri lebih memilih untuk tidak memulai pembicaraan. Ia malah mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya memecah keheningan.

“Apa tidak dingin?” tanya Minho akhirnya. Rambut Krystal yang berbalut handuk dan piyama yang telah dikenakan gadis itu menandakan ia baru saja mandi.

“Tidak.” jawab Krystal pendek. Kalau saja ia tidak ketiduran tadi sore tidak mungkin ia harus mandi tengah malam seperti ini. Dan tentu saja yang sebenarnya ia kedinginan. Untungnya ada ramen ini yang sedikit menghangatkan dan mengganjal perutnya yang kosong sejak siang.

“Kenapa kau masak ramen? Padahal di kulkas ada makanan. Aku beli tadi sore, hanya perlu dihangatkan saja.”

“Aku tidak tahu.”

Hening, hanya dentingan sumpit Krystal yang saling beradu pelan.

Minho terus menatap lekat gadis di depannya. “Mianhae soal yang tadi siang.” ucapnya.

Krystal mulai enggan menyentuh kembali ramen di hadapannya. Tatapannya menerawang kosong. Padahal ia sedang berusaha melupakannya. Tapi kenapa Minho mengingatkannya lagi. Mengingatkan betapa buruknya ia dimata orang kini. Mengingatkan tatapan orang-orang yang memandangnya sebelah mata. Mengingatkan cibiran-cibiran orang yang begitu panas ditelinga. Lalu ini semua karena siapa? Bukankah ia penyebab semua ini, Choi Minho.

“Tidak usah pedulikan mereka. Mereka yang menghinamu hanya orang-orang yang kurang kerjaan yang suka mengurusi urusan orang.” ucap Minho lagi.

Kini Krystal benar-benar tidak berselera menyantap kembali ramennya.

“Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja.” pinta Minho meyakinkan.

Krystal mendesah. “Aku lebih suka kehidupanku yang dulu bersama Yonghwa oppa. Tenang dan damai. Meskipun aku tidak punya banyak teman setidaknya tidak ada yang memusuhiku.” ucapnya datar.

“Kau bisa mendapatkan banyak teman asal mengikuti aturanku. Tidak ada yang tidak bisa kulakukan.”

Krystal menggeleng jengah. “Teman tidak didapatkan dengan cara dibeli.” ia paling tidak suka Choi Minho yang seperti ini. Yang dengan angkuh selalu menunjukkan kuasanya.

“Dimana Yonghwa oppa?” tanyanya kemudian, ia pikir Minho mungkin tahu sesuatu.

“Aku tidak tahu.”

“Bohong.” decah Krystal tak percaya.

“Aku tidak bohong. Aku memang tidak tahu Soojungie.”

Entah Minho jujur atau tidak, Krystal sudah malas untuk bertanya lebih banyak lagi.

“Namwon.” gumam Krystal sendiri. “Suatu saat aku berharap bisa berkumpul bersamanya lagi.” ia membereskan mangkuk berisi ramennya yang masih bersisa. Membuangnya ke tempat sampah lalu mencuci mangkuknya dan menaruhnya di rak piring.

Minho hanya diam terus memperhatikan yang dilakukan Krystal. “Soojung-ah, kau membenciku?” tanyanya saat Krystal hendak beranjak menuju kamarnya.

“Aku tidak tahu.” ujar Krystal tanpa menoleh sedikitpun, ia tetap melanjutkan langkahnya. Tentu saja jawaban yang tidak memuaskan untuk Minho.

< < < > > >

“Apa yang kau lakukan? Keluar.. Keluar.. Keluar.. ” teriak Krystal histeris sambil terus mendorong Minho keluar kamarnya.

“Aku hanya ingin memastikan kau sudah bangun atau belum.” Minho berusaha menjelaskan tapi sayang Krystal sama sekali tak menggubrisnya.

Krystal terus saja mendorong Minho hingga namja itu terhuyung keluar.

Brakk.. Dibantingnya pintu kamarnya kasar lalu mendengus kesal. Bisa-bisanya Minho sembarangan masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu saat ia hendak berganti pakaian. Huft..

“Soojungie, aku menunggumu sarapan.” teriak Minho dari luar.

Tak ada jawaban, Krystal sedang geregetan sendiri di dalam.

Minho sedang menyantap sereal sarapannya saat Krystal tertunduk lesu mendatanginya.
Gadis itu lalu duduk lemas di depannya.

“Makan sarapanmu.” perintah Minho.

Krystal mendesah resah. “Apa kau melihatnya?” tanyanya.

“Apa?”

“Saat kau masuk kamarku tadi. Saat aku ganti pakaian. Apa kau melihat sesuatu?” Krystal malu sendiri menjelaskannya.

Minho menggeleng. “Aku tidak lihat apapun.” elaknya.

Krystal tak percaya dan terus menatap Minho tajam.

“Sungguh, aku tidak melihat apa-apa.”

“Pembohong.” decah Krystal sangsi.

Minho jadi tergelak sendiri. “Ne, aku melihat kancing bajumu terbuka.” ucapnya santai.

“Apa?” justru Krystal yang jadi syok sendiri.

“Seharusnya aku tidak melihatnya tapi saat kau marah-marah dan mendorongku keluar, tidak sengaja terlihat sedikit. Itu bukan salahku kan?”

Krystal langsung membelalakkan matanya. Ia marah dan juga kesal pada Minho. Namja itu sudah keterlaluan. Tapi ia juga malu sekali. Akhirnya ia hanya menelungkupkan kepalanya ke atas meja.

Minho semakin terkekeh geli melihatnya. “Kenapa?” herannya.

“Kau menyebalkan.” jerit Krystal kesal. Ia sendiri bingung tak tahu harus berkata apa.

“Aish, begitu saja marah. Kalau aku mau, aku bisa saja melakukan yang lebih dari itu.”

Mau tidak mau perkataan Minho itu sedikit menyiutkan nyali Krystal. Tiba-tiba sekelebat prasangka buruk tentang Minho menyergapnya.

“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berbuat macam-macam padaku.” ancamnya.

Ia menyambar roti tawar dimeja dan menggigitnya sambil lalu.

“Kau mau ke mana? Kau ke kampus bersamaku.” perintah Minho.

“Dan membuat orang-orang semakin memandangku rendah? Tidak, terima kasih.” dengan tegas Krystal mengayunkan kakinya. Mungkin lebih baik ia pergi dulu sebelum Minho.

“Sudah kubilang jangan pedulikan mereka.” teriak Minho.

Tak ada jawaban. Krystal telah jauh. Gadis itu tergesa memasuki lift yang membawanya turun ke lantai dasar.

< < < > > >

“Noona, kau kemana saja? Kenapa baru kelihatan? Aku kira kau pulang ke Tokyo. Apa kau baik-baik saja?” begitu membuka pintu dan melihat siapa yang datang Minho langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.

“Aku tidak akan pulang ke Tokyo sebelum puas bersenang-senang di Seoul.” Sooyoung menaruh tasnya diatas meja lalu duduk disofa dengan santainya.

“Lalu kau tinggal dimana? Selama ini apa yang kau lakukan? Kelihatannya kau bahagia sekali?” tanya Minho beruntun. Kakaknya, Choi Sooyoung memang sukar ditebak.

“Aku bahagia?” Sooyoung tersenyum sendiri. “Mungkin karena hari-hariku diisi dengan teman-teman terbaikku. Kau benar, tinggal di Seoul memang lebih menyenangkan daripada tinggal dinegeri orang. Walaupun banyak kenangan pahit disini.”

“Artinya kau sudah melupakannya? Kyuhyun hyung?”

“Mungkin.” Sooyoung sendiri tidak yakin tapi ia sudah memantapkan hati untuk melupakan namja itu.

“Kau tinggal di rumah temanmu?”

Sooyoung menggeleng. “Di hotel.” jawabnya.

“Hampir tiga minggu di hotel? Pemborosan sekali. Kenapa tidak disini saja?”

“Apa katamu? Pemborosan?” Sooyoung menatap Minho heran. “Aku mulai tidak mengerti jalan pikirmu. Sepertinya gadis itu berhasil membuatmu menjadi Choi Minho yang tidak biasanya. Sejak kapan kau memikirkan uang?” ia menggeleng-geleng tak habis pikir.

“Kenapa? Aku bicara benar kan? Daripada kau buang-buang uang di hotel lebih baik kau tinggal disini saja.”

Sooyoung tertawa geli. “Nanti aku mengganggu kalian.”

“Noona, apa maksudmu?”

“Apa kau sudah melakukan ‘sesuatu’ pada gadis itu?” Sooyoung mengisyaratkan tanda kutip dengan dua jarinya.

Minho hanya menanggapinya dengan tersenyum.

“Kau berhak melakukan apapun padanya dongsaeng. Hutang kakaknya lebih dari cukup untuk kau memiliki gadis itu seutuhnya. Puaskan dirimu bermain-main dengannya.” tutur Sooyoung, ia mengangguk-angguk pasti.

“Kau masih dendam padanya noona? Bukan sepenuhnya salah Yonghwa hyung kalau akhirnya Kyuhyun hyung meninggalkanmu. Ini lebih ke takdir yang telah digariskan Tuhan. Toh Yonghwa hyung juga tidak mendapatkan Seohyun noona kan?”

“Aish, Choi Minho.” Sooyoung mendesis geram. Perkataan Minho tadi membuat moodnya memburuk saja. “Jangan suka menceramahiku seperti Siwon oppa. Iya, Jung Yonghwa memang tidak mendapatkan gadis itu tapi dia mendapatkan uangku. Sudahlah, aku malas membicarakan ini. Terserah mau kau apakan Krystal.”

“Yonghwa oppa? Hutang? Seohyun onnie?” batin Krystal tercekat. Ia membekap mulutnya sendiri. Sejak tadi ia menajamkan telinganya menguping pembicaraan kakak beradik itu. Dan sekarang ia tak sanggup untuk mendengar lebih banyak lagi. Kepalanya sudah cukup berdenyut-denyut pusing. Akhirnya dengan tertatih ia meninggalkan tempat persembunyiannya. Mungkin mendekam dikamarnya akan lebih baik. Dan sayangnya ia akan melewatkan pembicaraan selanjutnya.

< < < > > >

Apa bersamaku selalu membuatmu menangis?

Apa bersamaku selalu membuatmu bersedih?

Apa bersamaku selalu membuatmu terluka?

Apa aku memang ditakdirkan untuk menyakiti hatimu?

Sekali saja aku ingin melihatmu tersenyum disisiku.

Minho mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar Krystal. Gadis itu sedang terisak lirih. Minho mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Benar, Krystal menangis. Wajahnya terus murung menyaingi mendung yang menggantung.

“Boleh aku masuk?” Minho mengetuk pintu hati-hati. Entah kenapa saat melihat Krystal menangis, hatinya seakan teriris sakit.

Krystal segera mengusap airmatanya dan lebih memilih ia yang keluar. “Ada apa?”

Sisa-sisa airmata masih terlihat samar. Wajah yang sembab, mata yang memerah.

“Kau tidak apa-apa? Kau menangis? Kau merindukan kakakmu?” mungkin bagi Minho bertanya langsung lebih baik daripada sekedar berbasa-basi.

Krystal melangkah pelan menuju sofa ruang tamu. Disini tempat yang lebih nyaman untuk berbicara. Minho mengikutinya lalu mengambil duduk tepat disebelah gadis itu. Ia terus diam menunggu Krystal yang berbicara.

Krystal menghembuskan nafasnya berat. “Apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya tanpa sedikitpun menatap Minho.

“Apa?”

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” ulang Krystal. Kali ini ia melirik tajam Minho dengan nada suara yang sedikit naik.

“Aku.. ”

“Apa kau membeliku?” potong Krystal cepat. “Berapa hutang kakakku pada kalian? Berapa harga yang kau keluarkan untuk mendapatkanku seutuhnya?” ia memekik dan airmatanya kembali meleleh.

“Kau ini bicara apa?” Minho sungguh tidak mengerti dengan kemurkaan Krystal tiba-tiba itu.

Krystal tersenyum sinis disela airmatanya. “Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu apa yang kau inginkan dariku? Aku dengar semua yang kau bicarakan dengan kakakmu. Kau inginkan tubuhku kan?” lagi-lagi ia tertawa miris. “Aku gadis ke berapa yang sudah kau permainkan?”

“Kau salah, ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

Percuma, Krystal semakin menangis tersedu-sedu.

“Kau tidak percaya padaku?”

Krystal menggeleng kuat-kuat. Bahkan airmatanya yang terus tumpah itu belum sebanding dengan sakitnya luka yang tertoreh dihatinya.

“Tapi nyatanya apa aku sudah melakukan sesuatu padamu?” tantang Minho. Lama-lama ia ikut tersulut emosi.

“Belum saja.” teriak Krystal parau.

“Oh ya? Jadi kau ingin aku melakukan apa?” Minho mendekatkan dirinya pada Krystal. Dekat sekali hingga Krystal terdesak ke punggung sofa.

“Kau mau apa?” pekik Krystal sambil memukul-mukul Minho berusaha untuk menghindar.

Dan Minho seakan tak peduli. Ia meraih kedua tangan Krystal dan menguncinya rapat dengan kedua tangannya. Tubuhnya semakin menghimpit tubuh Krystal erat.

Dengan wajah Minho yang semakin mendekati wajahnya. Dan hidung namja itu yang telah bersentuhan dengan hidungnya. Krystal memejamkan matanya kuat-kuat. Ia masih berusaha berontak tapi tenaga Minho jauh lebih kuat darinya.

Krystal terus menangis pasrah saat hembusan nafas Minho kini berhembus hangat diwajahnya.

“Aku tidak akan melakukan apapun padamu kalau kau tidak menghendakinya. Karena aku tidak ingin menyakiti gadis yang aku cintai.” bisik Minho pelan,dengan sekali hempasan ia melepas tubuh Krystal kasar.

Krystal membuka matanya hati-hati. Dilihatnya Minho berlalu tergesa ke kamarnya. Namun namja itu berhenti sejenak didepan pintu.

Minho menoleh dan menatap tajam Krystal dengan raut sedikit marah. “Dan tentang kau gadis yang ke berapa? Kau yang pertama dan satu-satunya tapi aku tidak sedang mempermainkanmu.” Brakk.. Dibantingnya pintu kamarnya kasar.

Krystal tetap sesenggukan ditempatnya. Ia masih berusaha menata helaan nafas dan kekacauan hatinya.

< < < > > >

Aku terlalu letih dengan semua ini.

Aku terlalu rapuh dengan yang terjadi.

Aku terlalu lelah menghindar dan bersembunyi.

Hingga terlambat menyadari kini semua terasa sepi.

Krystal terduduk lunglai tak bersemangat. Langit telah berubah jingga. Hari mulai senja dan ia terus termenung dalam sepi. Entahlah, hatinya kosong.

Setelah kejadian waktu itu, ini hari ketiga Minho tak mengajaknya bicara. Itukah penyebab kegalauan hatinya? Krystal menggeleng lemah. “Tidak.” elak batinnya. Dan kemana pula namja itu hingga petang seperti ini belum juga pulang.

Bunyi bel yang terdengar nyaring seketika membuyarkan lamunan Krystal. Ia segera beranjak untuk membukakan pintu. Minho kah? Tapi kenapa harus memencet bel. Krystal menggeleng sendiri.

“Annyeong Krystal-ssi.” seorang namja dengan langkah sempoyongan menerobos masuk.

Krystal yang sedikit kaget terpaksa membiarkannya. Kim Jonghyun, teman baik Minho itu terlihat sedang tidak baik. Aroma soju tercium sangat pekat, ia mabuk.

“Minho tidak ada.” ucapnya terbata. Ia agak sedikit takut sebetulnya.

“Tak apa, aku akan menunggunya.” tanpa dipersilahkan Jonghyun merebahkan dirinya terlentang disofa lalu memejamkan matanya.

Krystal pun lebih memilih kembali ke kamarnya. Dibiarkan saja pintu apartment itu masih terbuka lebar. Ia merasa was-was berdua bersama Jonghyun yang sedang mabuk walau namja itu sepertinya tengah tertidur.

Berkali-kali Krystal melirik jam yang terpampang di dinding kamarnya. Minho belum juga pulang.

Untuk memecah kebosanan ia mengambil handphonenya yang tergeletak di meja lalu menyumpalkan headset pada kedua telingannya. Ia menikmati lagu yang mengalun disana.

Karena terlalu terhanyut ia tak menyadari Jonghyun perlahan mulai mendekatinya.

“Krystal-ah.” desis namja itu.

Krystal terlonjak kaget. Ia bergidik ngeri menyadari tatapan Jonghyun padanya terlihat berbeda. Seperti penuh nafsu yang membara.

“Ada apa?” tanyanya. Ia segera turun dari ranjangnya.

Jonghyun hanya tertawa dan semakin mendekati Krystal. “Anggap aku sama seperti Minho. Berikan aku sama seperti yang kau berikan padanya.” pintanya.

Menyadari ada yang tidak beres, Krystal segera menghindar keluar kamar. Jantungnya berdetak cepat menahan rasa takutnya.

“Krystal-ah, jangan menghindariku.” Jonghyun semakin merancau tak jelas.

Ia terus mengejar Krystal brutal. Berhasil, pergelangan tangan Krystal kini ia genggam erat.

“Lepaskan aku.. ” Krystal mulai menangis. Tubuhnya gemetar ketakutan. “Tolong.. ” teriaknya. Ia merasa berteriak kencang tapi suaranya seolah tercekat.

“Apa bedanya aku dengan Minho?” Jonghyun tersenyum bengis. “Aku juga bisa memuaskanmu sepertinya. Aku bisa membayarmu lebih dari yang dia berikan padamu.”

Krystal benar-benar hampir putus asa. Jonghyun sudah gila. Sekuat tenaga ia berusaha berontak tapi Jonghyun semakin menjadi-jadi. Kini namja itu merobek paksa piyama yang dikenakannya.

“Tolong… ” ia hanya bisa berteriak parau sambil tak henti menangis.

Buukk.. Sebuah hantaman keras berhasil membuat Jonghyun terhuyung ke belakang. Namja itu memegangi ujung bibirnya yang sedikit berdarah.

“Minho-ya..” ujarnya tak percaya.

“Apa yang kau lakukan?” amuk Minho terus saja melayangkan pukulannya bertubi-tubi. Kini giliran pelipis Jonghyun yang mulai berdarah-darah.

“Yah Choi Minho, kau serakah sekali. Aku ini sahabatmu. Kenapa kau tidak mau berbagi gadismu denganku?”

Ucapan Jonghyun itu semakin membuat amarah Minho meledak. Lagi-lagi ia menghantam Jonghyun hingga wajah namja itu babak belur tak beraturan.

“Aku tidak punya sahabat sepertimu.” teriak Minho murka. “Asal kau tahu, Krystal bukan gadis seperti itu. Sekali saja aku tidak pernah menyentuhnya.” ia mencengkeram kerah baju Jonghyun dan dihempaskannya kasar keluar apartmentnya. “Pergi atau aku akan memperpanjang masalah ini?” ancamnya.

Terhuyung-huyung, Jonghyun memilih pergi. Ia meringis memegangi perih wajahnya yang penuh lebam.

Krystal tetap terpaku ditempatnya. Ini mimpi kah? Bahkan ini terlalu kelam dibanding mimpi buruk sekalipun.

“Kau baik-baik saja?” tanya Minho ragu. Ia mengira Krystal akan marah padanya apalagi terakhir hubungannya dengan gadis itu sedang kurang baik.

Tapi yang terjadi justru diluar dugaan. Tanpa bicara sepatahkatapun Krystal berhambur memeluk Minho. Tubuhnya masih gemetar. Ia menangis tersedu-sedu disana.

Sedikit ragu Minho merengkuhnya. Ia paling tidak tahan melihat Krystal menangis. “Sudah, tidak apa-apa.” ucapnya menenangkan.
Tapi Krystal malah semakin terisak dalam pelukannya.

< < < > > >

Derasnya hujan masih setia menembus pekatnya malam. Kilat tak kunjung berhenti membelah langit. Disertai petir yang menggelegar menghantam bumi.

“Krystal.” pekik Minho sesaat setelah petir menggelegar dengan kerasnya. Tergesa ia meloncat dari ranjangnya.

“Sejak kecil Krystal phobia petir. Dia akan sangat ketakutan saat mendengar suara petir.”

Sedikit ucapan Yonghwa itu masih tertancap jelas dibenak Minho. Ia buka knop pintu kamar Krystal. “Soojungie.” ucapnya pelan.

Benar, gadis itu meringkuk di atas ranjang. Dihampirinya Krystal. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

Krystal hanya menggeleng pelan. Namun yang terlihat justru kebalikannya. Wajahnya pucat pasi. Ia berkeringat dingin dan gemetar ketakutan. Ia juga menutupi telinganya dengan tangan dan memejamkan matanya kuat-kuat.

Sedikit segan Minho ikut naik ke atas ranjang Krystal. Direngkuhnya gadis itu dan dipeluknya erat.

“Mianhae, Yonghwa hyung bilang cara ini yang bisa menenangkanmu.” tuturnya.

Krystal tak menolak. Benar, dulu kakaknya itulah yang selalu memeluknya saat ia takut mendengar suara petir.

Rintik-rintik hujan mulai memudar berganti gerimis. Petir yang tadi seolah mengamuk kini tak terdengar lagi. Hening, hanya tersisa dingin.

Krystal membuka matanya pelan. Minho masih mendekapnya erat. Rupanya namja itu juga ketiduran sepertinya. Diperhatikannya wajah Minho lekat lalu tersenyum sendiri. Namun saat namja itu mulai bergerak, ia kembali memejamkan matanya pura-pura tidur.

Minho mengucek matanya yang masih mengantuk. Diliriknya Krystal yang masih pulas. Ia tersenyum dan menggeser tubuhnya pelan melepaskan pelukannya hendak pergi. Tapi tangan Krystal justru mencegahnya dengan kembali melingkarkan tangannya. Minho memandangnya heran, padahal gadis itu masih tertidur. Akhirnya ia mengalah kembali merebahkan tubuhnya.

Tapi sedetik pun ia sama sekali tidak memejamkan mata. Entah sudah keberapa kali matanya bergantian menatap Krystal lalu beralih memandang kosong langit-langit kamar itu. Kini ia kembali menatap Krystal lekat. “Kau sedang mengetesku atau sedang menggodaku?” serunya tiba-tiba.

Seketika Krystal membuka matanya, menghempaskan tangan Minho yang melingkar di tubuhnya lalu melotot jengkel. “Pergi.” usirnya.

Dan itu malah membuat Minho tertawa terpingkal-pingkal. “Aku tahu kau pura-pura tidur. Apa kau tidak takut aku berbuat macam-macam padamu?”

Pertanyaan Minho itu semakin membuat Krystal kesal saja. Ia bangkit dari ranjangnya dan menarik paksa tangan Minho agar keluar dari kamarnya.

“Apa kau lupa siapa yang menenangkanmu saat ada petir tadi?” protes Minho.

“Terima kasih.” ucap Krystal singkat lalu akan menutup pintu kamarnya.

Tapi Minho menahannya. “Aku masih bingung dengan yang kau lakukan tadi.” gumamnya.

Krystal sendiri juga bingung sebenarnya. “Lupakan.” ucapnya. Lagi-lagi bersiap menutup pintu kamarnya.

“Tunggu.” dan Minho juga sama. Ia tetap menahannya dengan berdiri ditengah-tengah pintu. “Ee.. Soal uang Sooyoung noona, sebenarnya kakakmu telah mengembalikannya padaku.” ujarnya ragu.

“Apa?”

“Ne, jadi kakakmu sama sekali tidak berhutang pada kami. Dan artinya aku tidak pernah membelimu.”

Krystal benar-benar tak mengerti. Kini ia mematung dan pegangan tangannya pada daun pintu perlahan melepas.

“Soal kenapa dia tetap membiarkanmu disini aku juga tidak mengerti. Dia hanya bilang menitipkanmu padaku sebelum pindah ke Namwon.”

Bingung, Krystal mendadak pusing. Semua ini sulit untuk ia cerna. “Berarti kau tahu dimana Yonghwa oppa? Kenapa dulu kau bilang tidak tahu?” tanyanya getir.

“Mianhae.” hanya kata itu yang sanggup Minho ucapkan. “Ini karena keegoisanku untuk memilikimu. Kau pernah bertanya apa yang kuinginkan darimu kan? Sekarang akan aku jawab. Aku ingin cintamu.”

Krystal hanya mampu memandang nanar namja didepannya.

“Tapi kurasa itu sulit sekali.” Minho berusaha tersenyum walau senyumnya terasa hambar.

Ia mulai berbalik pergi. Dibiarkannya Krystal yang tetap mematung seorang diri.
Gadis itu nampaknya sedang dipermainkan oleh hatinya sendiri.

Kacau, Krystal merasa otaknya sungguh kacau saat ini. Pergolakan batinnya sulit untuk ia pahami.

Ia pun tak paham kenapa dengan tegap ia menyeret kakinya menyusul Minho. Dan yang lebih tak ia mengerti kenapa tanpa ragu ia berhambur memeluk Minho dari belakang. Mungkinkah itu semua terjadi karena kata hati?

Minho tersentak kaget. Antara percaya ini nyata ataukah sekedar ilusi. Ia berbalik menatap lembut Krystal. Gadis itu meneteskan airmatanya samar.

“Mianhae Soojung-ah.” diusapnya pelan airmata Krystal. Mungkin seribu kali berucap maaf belum sanggup membayar kesalahannya pada gadis ini. Ia sudah terlalu sering membuat Krystal menangis.

“Uljima.” ucap Minho parau. Sungguh, ia tidak ingin Krystal lagi-lagi menangis karenanya.

“Lihat aku Soojung-ah, uljima.” ulangnya lagi. Karena Krystal terus menunduk tak mau menatapnya.

Akhirnya diraihnya dagu gadis itu agar mendongak memandangnya. Dipegangnya kedua pundak Krystal. “Katakan apa yang harus kulakukan agar kau tersenyum? Sekali saja tersenyumlah untukku Soojung-ah.”

Dan kini Krystal menarik kedua ujung bibirnya. Meski tipis tapi senyum itu sungguh berarti bagi Minho.

< < < > > >

“Aku yakin mereka pasti semakin ingin memakanku hidup-hidup.” celoteh Krystal asal.

Disampingnya Minho tertawa kecil. “Biarkan saja,” ia terus menggenggam tangan Krystal mengikuti langkahnya.

Berpasang-pasang mata terus menatap mereka. Entah apa yang dipikirkan orang-orang itu. Dan Minho juga sepertinya sengaja. Menjemput Krystal ke kelasnya untuk mengajak pulang dan menggandengnya mesra.

“Kalau kau terus mengelak mereka akan terus mengusikmu. Mereka akan penasaran dan semakin ingin tahu karena kau selalu bersikap acuh padaku. Kita tunjukkan saja pada mereka, akhirnya mereka yang akan diam.”

Itulah yang direncanakan Minho pada Krystal. Dan gadis itu menyetujuinya. Kini mereka seolah membenarkan rumor tentang mereka yang berhembus kencang. Dengan begini orang-orang itu tidak akan lagi mencari tahu dan mengusik kehidupan mereka terutama Krystal. Walaupun nama baik mereka memang dipertaruhkan. Tapi lama-lama kehebohan ini pasti akan memudar.

Tangan mereka terus bertaut erat hingga pelataran parkir. Saat Minho hendak membuka pintu mobilnya seseorang menahannya, Jonghyun. Minho menatapnya tajam, sejak waktu itu hubungannya dengan Jonghyun sangat buruk.

“Mianhae.”

Tapi ucapan Jonghyun itu sedikit membuat hati Minho melunak. Meski masih ada amarah yang tersisa.

“Jangan minta maaf padaku tapi padanya.” ucapnya datar, ia melirik Krystal.

Dan sepertinya Krystal juga enggan berlama-lama berurusan dengan Jonghyun. “Aku sudah memaafkanmu.” ucapnya singkat lalu buru-buru memasuki mobil Minho dan menutup pintunya rapat.

“Sudah kan?” tanya Minho terkesan menegaskan kalau kehadiran Jonghyun tidak ia inginkan.

Jonghyun mengangguk kemudian memilih pergi. Ia memang tulus meminta maaf. Walau saat itu ia mabuk tapi ia sangat merasa bersalah sekali.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Minho menyadari Krystal sejak tadi hanya diam. Ia kemudikan mobilnya pelan. Sedikit menikmati suasana jalanan Seoul yang sedikit lengang.

Krystal menggeleng. “Aku hanya malas melihat wajahnya. Aku tidak suka ada namja selain Yonghwa oppa yang berani menyentuhku. Entah itu hanya tanganku, aku sudah merasa risih.” ia bergidik sendiri.

Minho menatapnya bingung lalu tersenyum simpul. “Lalu aku?” tanyanya.

“Apa? Eh.. maksudku jika namja asing yang melakukannya.” ralat Krystal. “Aku merasa risih kalau aku tidak kenal orangnya. Apalagi orang itu punya niat tidak baik.” lanjutnya.

“Oh..” Minho masih tersenyum sendiri. Entah apa yang ia pikirkan.

Krystal melirik namja itu. “Kau pasti berpikiran yang aneh-aneh tentangku.” tuduhnya.

Minho menggeleng, masih fokus ke jalanan didepannya.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa nyaman denganmu.” gumam Krystal pelan.

Ckiiiiittttt.. Mendadak Minho mengerem mobilnya. Hampir saja membuat Krystal menyeruduk dashboard. Sadar ini ditengah jalan ia meminggirkan mobilnya.

“Kau bilang apa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa.” elak Krystal. Ia mengulum senyumnya. Dan membiarkan Minho bertanya-tanya sendiri.

Namja itu tampak heran dan segera melajukan mobilnya kembali. Namun ia sempat melirik Krystal dan tersenyum penuh arti.

< < < > > >

“Hyung.. ” kaget Minho.

Choi Siwon, kakak sulungnya telah duduk manis di sofa apartmentnya saat ia baru pulang.

Dengan raut datar dan tangan yang menyila di dada Siwon bangkit menghampiri Minho. “Apa kau sudah puas bermain-main?” tanyanya tegas.

Minho tak menjawab tapi malah memandang Krystal. Krystal paham tak seharusnya ia berada disini. Ia memilih berlalu ke kamarnya tapi lebih dulu membungkuk pada Siwon dan tersenyum tipis.

Kini menyisakan kakak beradik itu berdua.

Siwon kembali duduk diikuti Minho yang sedikit malas-malasan.

“Kapan kau datang hyung? Apa Sooyoung noona sudah kembali ke Tokyo?” tanyanya. Ia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Karena ia tahu apa tujuan Siwon datang kemari. Dan ia sedang malas mendengarkan siraman rohani dari kakak tertuanya itu.

“Kembalikan gadis itu pada kakaknya atau aku akan memaksamu ikut denganku ke Tokyo.” dengan santainya Siwon meneguk sekaleng soft drink yang tadi diambilnya sendiri dari kulkas.

Meski sejak awal ia tahu kemungkinan seperti ini akan terjadi, Minho tetap saja tidak siap. “Tapi hyung.. ”

“Keputusan ada padamu. Kembalikan dia pada kakaknya dan kau tetap di Seoul. Atau aku terpaksa membawamu ke Tokyo. Kalau aku akan memilih yang pertama, setidaknya kau masih bisa melihatnya, masih bisa bertemu dengannya.”

“Kakaknya di Namwon hyung.”

Siwon tersenyum kecil. “Apa itu begitu susah untuk kau atur?”

“Aku tidak tahu alamatnya.”

“Apa perlu bantuanku? Mencari orang di kota sekecil Namwon itu hal sepele bagiku.”

Minho menunduk lesu. Ia tahu kakaknya benar. “Tidak usah hyung, biar aku urus sendiri.” ucapnya lemas.

“Baguslah.”

“Hyung, apa Sooyoung noona yang bilang padamu?”

Siwon menaikkan kedua alisnya. “Bilang apa?” tanyanya. “Kegilaanmu ini? Tentu saja tidak. Meski aku jauh, aku terus memantau keadaan kalian. Kalian berdua sama saja.” ia menggeleng-geleng tak mengerti. “Kau kan tahu sendiri, Sooyoung memang selalu melakukan apapun sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dan kenapa kau bisa mengikuti kegilaannya? Seharusnya kau bisa mengingatkan kakakmu itu. Bukannya bekerjasama dengannya. Aku bahkan tidak tahu dia ada dimana sekarang. Kenapa aku harus punya adik yang susah diatur?” desisnya frustasi.

Benar kan, Siwon sudah memulai ceramahnya. Berkali-kali Minho pura-pura menguap agar kakaknya itu paham kalau ia bosan.

Siwon melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku ke Tokyo dengan penerbangan siang ini. Pastikan saat aku kembali lusa kau sudah mengembalikan Krystal pada kakaknya.”

“Aku mencintainya hyung.” bisik Minho lirih.

“Dan dia? Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu dan mengaturnya seenakmu sendiri.” tegas Siwon.

“Ne hyung.” ucap Minho parau.

“Aku pulang.” Siwon menepuk pundak Minho sesaat sebelum melangkah pergi.

Minho tetap mematung ditempatnya. Memikirkan kata-kata Siwon tadi. Ia tak ada pilihan lain selain menurutinya.

Begitu ia berbalik, ia sadar sepasang mata sedang mengawasinya di sudut sana, Krystal.

Ia lalu berjalan menuju gadis itu. “Besok kembalilah pada kakakmu. Kau senang kan?” tanyanya getir.

Krystal tak menjawab terus menatap Minho lekat. Entah kenapa hatinya mencelos hampa.

< < < > > >

Langit malam yang buram. Bulan pun malu-malu sembunyi di balik awan. Minho tetap bertahan di balkon apartmentnya. Merebahkan dirinya di kursi santai memandang pekatnya malam kota Seoul yang tanpa bintang.

Sesekali dihembuskannya nafas yang terasa sesak. Malam telah larut dan ia masih setia berbalut dingin.

Perlahan Krystal mendekat dan ikut duduk disebelah Minho. Diam tanpa berucap sepatahkatapun.

Minho melirik yeoja itu. “Kenapa kau tidak tidur?” tanyanya.

Krystal menggeleng. “Aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi.”

“Aku sudah menghubungi kakakmu. Besok dia akan pulang ke Seoul dan menjemputmu. Aku sudah mengatur semuanya, dia tidak akan kembali lagi ke Namwon.” Minho bahkan tak berani memandang Krystal. Kenapa rasanya sesulit ini untuk melepaskan gadis itu.

“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” dan Krystal lebih memilih menengadah menatap langit.

Hening. Hanya nyanyian angin malam yang kini menemani. Dua anak manusia itu terlalu sibuk untuk membaca isi hati masing-masing. Namun dalamnya hati memang terlalu sulit untuk diselami.

“Soojungie, apa aku selalu menyakitimu?” tanya Minho ragu.

Krystal tersenyum. “Mungkin.” jawabnya singkat.

Minho menghela nafasnya berat. “Apa itu jawaban jujur? Kalau begitu apa kau membenciku?”

Kali ini Krystal menggeleng. “Kalau bisa memilih, aku ingin mengenalmu tidak dengan cara seperti ini. Mungkin saja kita bisa menjadi teman baik.”

“Kalau tidak dengan cara seperti ini mana mungkin kau mau mengenalku. Sejak lama aku memperhatikanmu di kampus tapi kau tidak pernah menyadarinya.” Minho mendesah, membiarkan helaan nafasnya berhembus dingin. “Lagipula yang aku mau lebih dari teman.”

Krystal hanya tersenyum mendengarnya. Lalu ikut bersandar pada punggung kursi yang sama dengan Minho. Kemudian memejamkan kedua matanya perlahan.

“Kau tidur?” tanya Minho, diliriknya gadis disebelahnya itu.

“Tidak, aku hanya ingin menikmati malam terakhirku disini dengan merasakan udara yang berhembus di tempat ini. Kalau kau mau tidur, tidur saja sana. Aku masih mau disini.”

“Aku tidak mau menghabiskan malam ini sia-sia dengan pergi tidur. Karena besok kau akan pergi dariku.”

“Kita kan masih bisa bertemu di kampus.” tutur Krystal tanpa sekalipun membuka matanya. “Tapi mungkin aku juga akan merindukanmu.” desahnya, terdengar tulus sekali.

Kalimat terakhir Krystal itu semakin membuat Minho menatapnya lekat. Tak sedetikpun ia lepas pandangannya.

“Soojung-ah.” panggilnya.

“Hmm..”

“Saranghae.” bisik Minho mesra.

Agak ragu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Krystal. Tepat saat gadis itu membuka matanya, ia memagut hangat bibir Krystal. Pelan namun berhasil membuat desiran hebat dihati gadis itu.

Krystal pun tak kuasa untuk menolak. Perlahan ia mulai menikmati dan membalas ciuman Minho padanya. Untuk sejenak balkon apartment inilah dunia mereka.

Cukup lama Minho akhirnya melepas ciumannya. “Mianhae. Aku pernah bilang tidak akan melakukan apapun padamu kalau kau tidak menghendakinya. Tapi kurasa yang tadi kau setuju.” disekanya bibir Krystal yang sedikit basah akibat ciumannya dengan ibu jarinya.

Dan Krystal tak mampu berkata apapun. Lidahnya terlalu kelu. Semudah itukah ia ditaklukkan oleh Choi Minho? Ia merutuki dirinya sendiri karena jawabannya iya. Bukan hanya karena ciuman tadi. Tapi rasa yang ada pada Minho sebenarnya juga mulai ada padanya, entah sejak kapan ia pun tak paham.

< < < > > >

“Oppa.. ” Krystal segera memeluk Yonghwa, melepaskan rasa rindu yang mendera. “Jangan tinggalkan aku lagi oppa.” desisnya.

Dengan sabar Yonghwa mengelus kepala Krystal pelan. “Tidak lagi, ayo.” ajaknya. Ia mengambil alih koper besar milik Krystal dan membiarkan adiknya itu hanya membawa tas berukuran sedang ditangannya.

“Ada yang ketinggalan?” tanyanya saat Krystal terus saja menoleh ke belakang memandang gedung apartment yang menjulang tinggi itu.

“Tidak ada.” elak Krystal. Ia segera memasuki taksi yang akan membawa mereka pulang.

Yonghwa seakan memaklumi sikap adiknya itu. “Kau sudah berpamitan padanya?”

Krystal menggeleng. “Dia tidak ada.”

Itulah yang menyebabkan kerisauannya sejak tadi, Minho tidak ada. Entah kemana namja itu. Sepertinya sengaja menghindarinya.

“Kau mencintainya?” tanya Yonghwa kemudian.

Krystal menggeleng lemah. “Aku tidak tahu.”

“Tapi dia mencintaimu.”

“Aku tahu.” jawab Krystal singkat.

Seiring dengan taksi yang terus melaju ia juga berdiam kaku. Masih menggelayut manja lengan kakaknya. Dan Yonghwa juga sedikit paham dengan kegalauan adiknya itu.

< < < > > >

“Kau tahu apa alasanku tetap membiarkanmu disana?” Yonghwa ikut duduk di teras menyusul Krystal berada.

Krystal menggeleng. “Itu juga yang ingin kutanyakan.”

“Karena aku merasa dia lebih bisa menjagamu daripada aku.”

“Yonghwa oppa.” Krystal merengut sendiri. Entah apa yang ia pikirkan.

“Kenapa? Tidak selamanya aku yang akan menjagamu kan?”

“Tapi kau tidak sadar oppa, ada sekat pemisah yang sangat kentara antara aku dan dia.”

Yonghwa menepuk punggung adiknya itu. “Kau benar. Mungkin aku yang tidak sadar diri. Aku hanya berpatokan pada Minho yang mencintaimu. Tapi aku melupakan keluarganya. Strata mereka yang jauh lebih tinggi daripada kita.” ia tersenyum menyadari kebodohannya.

Krystal ikut tersenyum pahit. Kenapa jauh di lubuk hatinya ia masih terus berharap. “Sudahlah oppa, lupakan saja.” ucapnya tegar.

“Apa dia pernah menyakitimu? Aku tidak akan memaafkannya kalau dia melakukan itu.”

“Yonghwa oppa, aku tidak mau membicarakan ini lagi.” Krystal terang-terangan menghindar. “Oh iya, apa yang kau lakukan di Namwon?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Kantorku memindahkanku ke cabang yang di Namwon.”

“Lalu sekarang?”

“Aku pindah lagi ke kantor pusat yang di Seoul.”

Krystal langsung mendesah jengah. “Ini karena Choi Minho kan?” mau tidak mau ia harus kembali membicarakan namja itu.

“Apa maksudmu?”

“Dia yang mengatur semua. Makanya jadi semudah ini.”

“Benarkah? Aku tidak berpikiran sejauh itu. Tapi aku juga merasa aneh kenapa semua serba kebetulan.” Yonghwa menggeleng tak mengerti.

“Oppa, selamanya dia akan mengendalikan hidup kita.” Krystal bersungut-sungut kesal. “Dan juga mengendalikan hatiku.” yang terakhir ini ia hanya berani mengatakannya dalam hati.

“Tidak akan, hanya kita yang berhak mengatur hidup kita sendiri.” Yonghwa tersenyum meyakinkan.

< < < > > >

“Ada angin apa yang membawamu kemari?” heran Siwon mendapati tampang kusut Minho bermalas-malasan di rumah mereka di Tokyo.

“Aku sudah mengembalikan Krystal pada kakaknya.”

“Lalu?”

Minho mendesah, wajahnya semakin menunjukkan keputusasaan. “Sampai saat ini aku tidak tahu perasaannya padaku.”

Siwon mengernyitkan alisnya lalu tersenyum kecil. “Hanya karena itu? Katakan saja kau mencintainya lalu minta jawaban, gampang kan?”

“Tidak semudah itu. Krystal bukan gadis sembarangan. Susah sekali untuk meyakinkannya. Aku butuh bantuanmu hyung.”

“Apa yang bisa kulakukan?”

“Yakinkan dia. Kalau perlu Sooyoung noona harus minta maaf pada kakaknya.”

“Hei kenapa bawa-bawa aku?” seru Sooyoung. Ia yang baru datang ikut duduk disana dan memeluk bantal sofa.

“Kau awal masalahnya.” tuduh Minho sembarangan.

“Aku?” Sooyoung tidak terima. “Aku
merasa tidak lagi punya urusan dengan Jung Yonghwa. Melihatnya hanya membuka luka lama.”

“Atau sebenarnya kalian tidak setuju aku bersama Krystal. Aku paling tidak suka membeda-bedakan status sosial.” tegas Minho, ia melihat kedua kakaknya bergantian.

“Bu.. Bukan begitu maksudku.” elak Sooyoung terbata. “Kau saja yang urus Siwon oppa.” suruhnya.

Siwon tetap dalam duduk tenangnya. “Asal dia mencintaimu kau boleh memilikinya. Tapi… ”

Minho urung tersenyum saat mendengar kata ‘tapi’.

“Tapi kau tak boleh memaksanya. Kalau dia menolakmu, kau harus terima.” lanjut Siwon.

“Kalau dia menolakku mungkin aku akan pergi selamanya dari kehidupannya. Tinggal disini mungkin.”

“Jangan bercanda.” kekeh Sooyoung.

“Aku tidak bercanda noona. Apalah artinya aku disana tanpa dia.”

Sooyoung dan Siwon saling pandang berdua. Kenapa tiba-tiba adik bungsunya jadi melankolis begitu.

< < < > > >

Berkali-kali Sooyoung menatap Siwon ragu. Tapi selalu dijawab dengan anggukan yakin kakaknya itu.

“Aku tidak pernah mempermalukan diriku sendiri seperti ini.” gumam Sooyoung frustasi.

Dan lagi-lagi Siwon hanya menenangkan dengan pandangan matanya.

Di hadapan mereka Yonghwa dan Krystal terperangah aneh dengan kedatangan tiba-tiba dua bersaudara ini.

“Jadi maksud kedatangan kami adalah untuk meminta maaf. Maaf atas semua yang telah terjadi.” Siwon menunduk sekilas. Ia lalu menyenggol Sooyoung.

“Ne.. Yonghwa-ssi, aku minta maaf karena semua ini terjadi karena aku yang memulainya.” lanjut Sooyoung. Meski terdengar berat tapi ia tulus.

“Aku sudah tidak mempermasalahkannya  Sooyoung-ssi. Mungkin aku juga harus minta maaf karena aku juga punya salah padamu.” tutur Yonghwa berusaha sesantai mungkin.

“Sudahlah, tidak perlu mengungkit masa lalu.” decah Sooyoung. “Oh iya Soojung-ah, aku mewakili Minho juga minta maaf atas semua yang dilakukannya padamu.” lanjutnya.

Krystal hanya tersenyum kecil. Sedikit melirik kakaknya. “Tak apa.” jawabnya singkat.

“Dan mengenai Minho, anak itulah yang membuat kami datang kemari.” Siwon menghela nafas sejenak. “Soojung-ah, apa kau mencintainya?”

Deg.. Jujur, Krystal tidak siap dengan pertanyaan Siwon itu. Lagi-lagi Krystal menatap kakaknya, seakan meminta bantuan.

“Jawab saja.” dan ternyata Yonghwa malah lepas tangan. Menyerahkan keputusan pada Krystal sendiri.

“Dia dimana?” tanya Krystal parau. Itulah yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini. Minho menghilang dan tiba-tiba malah mengirim dua kakaknya kesini.

“Tokyo. Dia disana sejak kau pergi dari apartmentnya.”

Tokyo? Apa-apaan Minho itu. Kenapa malah kabur ke Tokyo. Krystal sedikit mendengus kesal. Tapi jauh di dasar hatinya ia tersenyum lega.

“Maka dari itu Soojung-ah, kami butuh jawabanmu.” pinta Sooyoung.

“Kami sebenarnya juga tidak mengerti apa maunya anak itu. Yang kami tahu dia tulus mencintaimu.” imbuh Siwon. “Dan dia bilang, kalau kau menolaknya mungkin dia akan selamanya tinggal di Tokyo.”

Perkataan terakhir Siwon itu sedikit mengusik hati Krystal. Untuk kesekian kali ia menatap Yonghwa. “Oppa.. ” rengeknya.

Yonghwa tetap tersenyum tenang. “Semua terserah padamu. Kaulah yang menentukan kebahagiaanmu sendiri.”

Masih meragu, pada akhirnya Krystal mengangguk lemah.

“Artinya kau mencintainya?” Sooyoung memekik kegirangan.

“Ne.” ucap Krystal pelan.

“Syukurlah.” Siwon menghembuskan nafasnya lega. “Dengan begini kami tidak perlu kebingungan lagi dengan ulahnya.”

“Dan dia tidak akan lagi marah-marah menyalahkanku.” imbuh Sooyoung.

Krystal tersenyum sendiri melihat dua orang itu. Sebegitu besarkah kuasa Minho hingga kakak-kakaknya sanggup dibuat repot seperti ini. Padahal Krystal paham mereka orang sibuk terlebih Siwon.

“Soojung-ah, aku titip Minho padamu. Yah, walaupun dia kelihatannya kuat sebenarnya dia itu manja dan kekanak-kanakan.” Siwon melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sebaiknya kami pulang karena penerbangan kami ke Tokyo sore ini juga.” ia kemudian berdiri diikuti Sooyoung.

Krystal dan Yonghwa pun sama. Mereka mengantar Siwon dan Sooyoung sampai ke muka pintu.

“Sampai jumpa adik ipar.” teriak Sooyoung sebelum memasuki Limousin mereka yang masih terparkir manis bersama sang sopir.

Krystal tersenyum sendiri. Kenapa kata-kata ‘adik ipar’ begitu terdengar manis untuknya.

< < < > > >

~Kau adalah yang terakhir kuingat sebelum tidurku dan kau adalah yang pertama kurindukan saat aku membuka mataku~

Krystal celingukan. Kertas itu terlipat dalam bentuk pesawat dan terbang ke arahnya. Siapa pelakunya.

“Sepertinya kau ada masalah nona? Ada yang bisa kubantu?”

Krystal menoleh, Choi Minho sudah duduk disebelahnya dan tersenyum manis padanya. Harus diakui, ia sangat merindukan sosok ini.

“Lama tak bertemu, kau jadi sombong padaku.” decah Minho. “Untukmu.” diberikannya lagi satu pesawat kertas untuk Krystal.

Krystal menerimanya dengan sedikit heran. Ia lalu membukanya perlahan.

~Apa kau percaya ikatan hati? Hati lah yang menentukan sendiri belahannya. Dan aku percaya hatiku telah menemukan hatimu~

Krystal tak kuasa menahan tawanya. “Sejak kapan kau jadi aneh seperti ini?” gumamnya.

“Sejak kau pergi dariku.”

Jawaban yang cukup mengena. Kini Krystal terdiam. Ia menghela nafas sejenak. “Bukannya kau yang menghilang dan bersembunyi di Tokyo?”

“Apa kau merindukanku?”

“Tidak.”

“Aku tahu itu bukan jawaban dari hati.” Minho menyeringai usil. Terus ditatapnya Krystal sampai yeoja itu salah tingkah sendiri. “Kau mencintaiku Soojungie?”

“Untuk apa kau menanyakan sesuatu yang kau sendiri sudah tahu jawabannya. Aku yakin kakakmu pasti sudah mengatakannya padamu.” Krystal lebih memilih menunduk tanpa menatap Minho.

“Mengatakan apa? Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Tidak usah mengerjaiku.” tegas Krystal. Ia memanyunkan bibirnya kesal.

Dan Minho malah terbahak sendiri. Ditariknya tubuh Krystal dan dipeluknya erat.

Gadis itu sedikit berontak. “Ini di kampus.” desisnya.

“Aku tidak peduli.” ucap Minho tenang.

“Orang-orang melihat kita.”

“Aku tidak peduli.”

“Bagaimana kalau mereka menggosipkan kita yang tidak-tidak lagi?”

“Aku tidak peduli.”

“Choi Minho.” teriak Krystal jengkel karena sejak tadi Minho terus memberikan jawaban yang sama.

“Wae? Cinta memang selalu egois. Aku tidak peduli dengan orang-orang itu. Biarkan mereka melakukan apapun yang mereka suka. Yang paling penting hanya kau dan aku. Saranghae.” ucap Minho lantang. Ia tersenyum tipis sebelum mengecup bibir Krystal singkat.

Krystal terperangah. Disini di pelataran kampus yang banyak orang lalu lalang Minho menciumnya. Astaga, sampai kapan namja itu bersikap seenaknya sendiri. Tapi harus diakui, ia menikmatinya. Krystal mengulum senyumnya, ia malu sendiri jadinya.

> > > end < < <

*

*

*

*

> Aku seokyu shipper tapi aku suka Yonghwa ~abaikan~

> Apa marga mempengaruhi tinggi badan? Lirik marga Choi ~abaikan~

> Yang ini jangan diabaikan. Kenapa kalau ffku yang castnya Shinee & f(x) agak kurang laku dibanding yang castnya super generation???
Yang suka shinee sama f(x) komen dong, jangan mau kalah sama sugen.. Ntar aku gak mau lagi bikin ff pakai Shinee & f(x) lho, kekeke ~MENGANCAM~


53 thoughts on “Love Egoist

  1. Qren kok chinguuuu..
    Minstal mank cocok sm ky minyuuul heheheee..
    Tp klo sya c lbih sk supergeneration c aplg haesica atw haefany heheheee…

    Like

  2. Itu Luna ko disini menyebalkan ya ? Jonghyun juga tapi udah minta maaf ~ Dasar JongNa ! -__-

    WOW ! MinStal disini co cweet sekali ciuman 2 kali bikin ngiri -__- AHH !

    Disini Siwon cool sekali, tapi coba ada Sifany lewat hahahaha😀

    Nice FF chingu ~ Ditunggu yang FF Shiny Effects yang lain ~ Ontoria , JongNa , KeyBer, terutama MinStal atau TaeLli😀

    Suka suka sama FF ini❤

    Like

  3. Astaga choi siblings😆😆
    yaampun chingu kau nongol lagi
    chingu cinta banget sama minstal ya? Kalo aku ga salah, ini fic chingu yang paling panjang kan? Yang yoonhae aja ga sepanjang ini.
    Eh bagus loh ffnya…seperti biasa, chingu banget. Lucuuuuu. Percakapanmu slalu greget😆 feelnya okeyyy. Feel minstalnya dapet.
    LMAO~ Sooyoung & siwon kaya ngelamar krys😆😆😮

    Like

  4. ih aku minstal,taelli,keyber ko,aku suka ceritanya. . .castnya juga.aku mau jujur nih aku baca ff ini udah kayak orang gila ‘senyum-senyum’ sendiri,mana bacanya di rumah sakit lagi.hehehe bahasamu chingu enak dibacanya,ga terlalu formal. .makasih udah buat ff minstal my bias

    Like

  5. Ya ampun chingu ….!!!! Aku SUKAAAAAA sama ff ini , nyentuh banget awalny dan happy ending🙂 .. Apalagi pairing.ny minstal …. Soalnya aku minstal shipper ,hehe🙂 .. Aku tunggu nih ff lainnya *khususny minstal ^_^

    Like

  6. SIAPA BILANG KURANG LAKU?? *teriak ditelinga author,, xixixi
    SUMPAH SUKA BANGET,, mulai dari cast sampai cerita…ahhhhh SUKA deh pkokx qu smpai nangis nih bcx thor *lebay soalx qu bcx pass agak malaman jd qu agak mnghayati gt.. kekeke
    thor jgn bosan donk buat ff Shiny Effects apa lg yg pairingx MINSTAL.. yah thor *teriak2 disebelah author..

    Like

    1. kenapa ff yg dibuat author nih selalu bgus2 ajarin donk,, kata2x bgus gak ssah dan mudah dimngerti.. dan ini ff oneshot yg trpaaanjaaanggg yg prnh qu baca..

      Like

  7. wah unniieeeeeeeeeeee tau aja aku lagi suka minstal juga..hehehe
    Keluarga choi ini ya,selalu aja kompak :p
    kayaknya marga choi emg mempengaruhi tinggi badan :p
    marga kim kyaknya pendek2 dan bnyak yg under 180 kalo ce dan kalo ce under 170 :p
    #nah kok malah ngomongin tinggi badan -_-

    Minho keren banget unnieeee…suka suka suka..ga tau knpa aku pling suka kisah cinta kayak gini, yg dapetinnya penuh perjuangan..hohoho :p
    Minho oppa dulu,masak nembak cewek,nanya gimana perasaannya tapi kakak2nya yg nanyain..ada2 aja..
    bikin lagi unn ya buanyaaaaaaaaaaakkkkkk biar minstal shipper pada kesini #otak bisnis mulai.
    DAEBAK AH😉

    Like

  8. Daebak Chingu !!!
    jlan ceritanya keren🙂
    apa Minho emang seberkuasa itu ya sampai” sooyoung sama siwon mau penuhin permintaannya??

    Nice ff !!

    Like

  9. daebak chinguuuuu😀
    aku suka karakter minho di sini, apalagi keluarga Choi nya. Kalo beneran ada keluarga kayak gitu… widih kinclong kinclong yah *.*
    seandainya ada keluarga Jung juga mesti jadi makin manteb nih (mbayangin kalo YongHwa emg sodaraan sama Jung sisters)

    bikin Minstal lagi yah chingu :B

    Like

  10. sumpah demi apapun ini keren banget banget banget bangetan
    kerennya ga nyante… parah keren banget
    bagus banget
    DAEBAK banget sumpahhh…

    Like

  11. FF yg shinee f(x) gpp cingu, asal tetep ada tokoh sugen-nya, :D: ​​​​♓é² :p.. ♓é² :p.. ♓é² :p.. ♓é² :p
    Sugen jjang

    Like

  12. aku bukan minstal shipper, tapi gatau knapa suka banget sama ff yg ini ^^ . disini kluarga choi keren banget! kbetulan aku suka soo sama siwon! *curhat

    Like

  13. UUOOOOHHHHHH………..
    KRN BGT!!!!!ONNN!!!! DAEBAKKK!!!!
    SUMPAH AQ SKA BGT(maklum aq MINSTAL shipper *kekekeke)

    Srng2 bkn ff MINSTAL couple… Pati srng aq bca and comment…
    Yah yah*puppy eyes #plakk
    Kekeke…
    Gtu aja deh my comment, mian klo bawel..
    Pkknya FIGHTING ONN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Annyeong

    Like

  14. UUOOOOHHHHHH………..
    KRN BGT!!!!!ONNN!!!! DAEBAKKK!!!!
    SUMPAH AQ SKA BGT(maklum aq MINSTAL shipper *kekekeke)

    Srng2 bkn ff MINSTAL couple… Psti srng aq bca and comment…
    Yah yah*puppy eyes #plakk
    Kekeke…
    Gtu aja deh my comment, mian klo bawel..
    Pkknya FIGHTING ONN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Annyeong
    Reply

    Like

  15. ff nya daebak chingu..^^
    iya ya, *baru kepikiran* marga Choi tinggi2. Choi Siwon, Choi Minho . marga nya orang kturunan tiang listrik (?)

    Like

  16. hhihi ,suka sangat ama one shoot ini ,ceritanya ntu KEREN .
    ayoo lanjutt yah ,buat ff MINSTALnya ,kalo bisa TAELLI jga dong ,hhehe ^^
    suka sangat deh ama MINSTAL couple .hhihi ama SEOKYU couple jga .

    Like

  17. kereeeeen eheehehehe…. sepertinya marga memang mempengaruhi tinggi badan deh thor #lirikchoi…. -_-

    aku suka ff yang castnya super generation tapi aku juga suka kalo cast nya shinee ama f (x) apa lagi kalo minho krystal🙂

    keep writing, ditunggu karya2 selanjutnya..😀

    Like

  18. Kyaaaa… Minstal deh emang selalu selalu pairing yg paling aku sukaaa.. Mereka tuh cocok bangeeett.
    Aku suka banget sama cerita ini, kereeenn walaupun lumayan panjang buat oneshot tp ga ngebosenin sm sekali malahan.
    Bikin trs minstal fanfic ya pasti bakal seru kaya yg ini😀

    Like

  19. huaaa…ceritanya bagus banget…
    buat lagi ttg minstal ya thor, aku doain author dapet kyu deh kalo buat ff minstal lagi #dilempar bata ama sparkyu
    biar panjang tapi ceritanya gak bosenin kog..

    Like

  20. Tambah lagi dong ff Minstalnya! Jarang” äđä FF minstal se TOP BGT begini! Hurt sama Romance itu keren abis….authornya emang Jjang deh!

    Like

  21. Ceritanya keren.. aku suka shinee f(x) dan sugen terutama haesica dan minstal.. tadinya aku juga suka sifanny, tapi fannynya udah sama nickhun -,- *rapuh.. kata-katanya bagus banget chingu udah kaya baca novel deh

    Like

  22. Sumpah aku terharu :’) akhirnya ketemu ff minstal juga . Minstal udah jarang banget ff nya😦 . Dan makasih buat author yg menukis ff ini. Dan ff nya benar benar DAEBAK !!😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s