Welcome Home! [Part5-END]


Cast: Im Yoona, Kim Ki Bum, Lee Dong Hae, Jessica Jung, Kim Hee Chul, SNSD members, Super Junior members

 

Genre: Romance

 

Author: Ara Yeon

 

Pairing: YoonBum, HaeSica, Super Generation!

A/N: Halo readers!! Apakah masih ada yang inget dengan fanfic ini? Author sungguh sungguh meminta maaf atas delay yang sangat lama ini😥 Gara-gara ujian dan sibuk dengan acara sekolah, author sempet nggak bisa melanjutkan untuk nulis lagi. Tapi sekarang author sudah balik lagi dan kembali dengan part terakhir dari cerita ini😀 Selamat menikmati~ Ingat, no silent readers please!

WELCOME HOME! – PART 5 (END)

NORMAL POV

“…Kau mungkin tidak akan bisa mengerti.” Jawab KiBum dengan suara parau.

“Wae? Apa kau pikir aku tidak cukup lama untuk mengenalmu? Bahwa kau takut aku akan berasumsi yang tidak-tidak mengenai dirimu?” Yoona melepaskan kontak tubuh mereka dan berjalan mundur menjauh dari KiBum. Ada ekspresi terluka di wajahnya. KiBum tidak pernah menyukai ketika Yoona seperti itu.

“Bukan begitu, aku hanya… aku hanya tidak ingin kau terluka.” Jawab KiBum dengan suara parau, ia tidak bisa tahan melihat ekspresi yang ada di wajah cantik Yoona sekarang.

“Apa maksudmu?” dahi Yoona semakin berkerut, ia mempunyai perasaan yang tak enak mengenai ini.

KiBum menutup mulutnya rapat-rapat, masih tidak mau menatap ke mata Yoona yang sekarang penuh dengan tanya.

Dan kemudian kesadaran mulai muncul di kepala Yoona. Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal. Sikapnya yang aneh, kehilangannya yang tiba-tiba. Semuanya mengalir di kepalanya secara cepat hingga membuatnya merasa sangat takut.

“Jadi semuanya itu tidak benar ya? Iya kan oppa? Bahwa kau pergi hanya karena ingin mengejar karirmu di akting?” suara Yoona terdengar seperti berdesis, ia begitu takut untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya tetapi di saat bersamaan gadis itu ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan yang menghantuinya.

“…..” KiBum tetap terdiam, berdiri tegap dan tidak bergeming sama sekali. Untuk sesaat ia tampak seperti patung.

“Itu semuanya ada hubungannya denganku kan?” suara Yoona sekarang bergetar, “Karena itu kau tidak mau menceritakannya padaku. Karena itu kau tidak bilang apa-apa sebelum kau menghilang. Karena itu kau memilih untuk diam.”

KiBum tersentak sedikit, dan perlahan-lahan kepalanya terangkat lagi. Ia mulai berani menatap balik ke dua bola mata milik Yoona. Ada banyak perasaan tergambar di matanya. “Yoona-ya…” suaranya berdesir halus dan lembut.

“Ceritakan padaku oppa. Kumohon… katakan padaku.” Meskipun KiBum tidak menjawab pertanyaannya, namun lelaki itu juga tidak menyangkalnya. Pada saat itu juga Yoona tahu bahwa KiBum hanya tidak ingin mengakuinya.

KiBum hanya berdesah pelan mendengarnya, “Yang kuinginkan hanyalah menlindungimu.”

Yoona semakin bingung mendengarnya, kedua alisnya bertaut. Kemudian KiBum melanjutkan perkataannya lagi, “Kau tahu, setelah kita mendapat proyek bersama di Music Video milik CSJH noona… Orang-orang mulai menggosipkanku denganmu. Dan kau pasti tahu akibatnya kan? Fans yang terlau protektif dan sebagainya.” KiBum mulai memutus kontak matanya dengan Yoona. Pandangannya berlari menuju ke mana saja selain gadis itu.

“Maksudmu…” bisik Yoona. ‘Anti’ batin gadis itu setelah sadar dengan apa yang dimaksud KiBum.

“Para fans mulai ‘menyerang’mu. Mengatakan hal-hal yang tak enak tentangmu. Aku bilang pada manajer SNSD agar kau tidak mengetahui apa-apa soal ini. Saat itu karir SNSD sedang menanjak, aku tidak mau konsentrasimu terganggu karena ini.” KiBum mulai merasa tak nyaman sekarang, bercerita tentang rahasia yang selama ini ia coba tutupi dari Yoona. Berpikir dengan begitu ia dapat melindungi perasaan gadis yang punya arti sendiri baginya itu.

KiBum mulai melanjutkan lagi, “Awalnya kupikir semua akan reda dengan sendirinya. Gosip-gosip seperti ini. Sampai hari itu…” ekspresi jijik dan tidak senang mulai tergambar di wajahnya yang biasanya tenang. Ini sesuatu yang Yoona belum pernah lihat.

“Apa… apa yang tak kuketahui, oppa?” Yoona masih merasa semuanya terasa buram. Ia masih tidak bisa menyusun segala puzzle dan teka-teki yang diberikan KiBum.

“Kau mungkin tidak sadar kalau kau selalu diuntit seseorang saat itu. Setiap hari.” KiBum merasa emosi meluap di dadanya jika mengingat hal itu kembali, “Orang itu selalu menunggu di depan dorm kalian. Menunggu saat yang tepat.”

“Saat yang… tepat?”

KiBum terdiam sebentar, memberi jeda sebelum akhirnya ia menyusun kata-kata di bibirnya. Berusaha agar emosinya terkontrol jika menyangkut hal ini. Mengulang memori tak sedap di kepalanya bukanlah hal yang paling favorit bagi lelaki ini.

“Di hari itu kebetulan aku lewat di depan dorm kalian. Saat itu kalian baru saja pulang kerja dan baru mau masuk gedung ketika orang itu hendak menyerangmu dari belakang.” KiBum bergidik di akhir kalimatnya.

Yoona menutup mulutnya secara spontan karena terlalu terkejut, hingga menahan nafasnya. Ia menatap leaki di depannya dengan tidak percaya. Bagaimana bisa hal seperti ini tidak pernah diketahui olehnya?

“Kau sama sekali tidak sadar, mungkin karena sudah terlalu asyik mengobrol dengan member yang lain. Aku yang melihatnya langsung saja berlari ke arah penyerangmu dan menahannya. Kalian akhirnya sudah masuk ke dorm, tanpa tahu apa-apa. Untung saja aku berhasil menahan orang itu ketika dia masih jauh dari kalian.”

Yoona masih menatap KiBum dengan tatapan horor. Ketakutan mulai menyelimutinya lagi. Kenyataan yang dibuka satu persatu berturut-turut membuatnya bergetar.

KiBum memutuskan untuk melanjutkan ceritanya lagi tanpa basa-basi, tak ada gunanya menutupi semuanya dari Yoona sekarang. “Meskipun dia membawa pisau, dengan mudah aku bisa melumpuhkannya karena dia seorang wanita muda. Aku langsung menghibungi Manajer kalian dan membawa penyerangmu ke kantor polisi. Di sana aku sangat terkejut ketika tahu bahwa motifnya menyerangmu adalah aku.” KiBum menutup kedua matanya dan menghela nafas, berusaha menyembunyikan perasaan terluka di tiap kata yang ia ucapkan.

“Ap-apa?!” Yoona tak sanggup lagi menutupi keterkejutannya.

“Dia mengaku bahwa dia adalah fans beratku. Di kantor polisi, wanita itu berteriak-teriak histeris. Dia bilang dia tidak bisa terima jika kau dekat denganku. Bahwa seharusnya aku adalah miliknya satu-satunya.” Yoona bisa mendengar bahwa nada yang digunakan KiBum semakin tinggi. Kemarahan sedikit muncul di suaranya.

“Saat itu aku dan Manajer kalian sepakat untuk merahasiakannya dari siapapun. Kami takut ini akan mencoreng popularitas kalian. Kau tahu kan apa yang bisa dilakukan oleh media.” KiBum menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan ia berhenti bicara lagi untuk sesaat. Pandangannya terlarut dalam kepedihan.

“Kemudian ketakutan menyelimutiku. Aku sadar bahwa bahaya bisa mengancammu kapan saja. Hanya karena aku. Kemudian aku memutuskan untuk menghilang sementara. Agar semua gossip kita reda. Aku membuat alasan bahwa aku ingin fokus di dunia akting, dan semua orang pun percaya.”

Air mata mulai menggenang di mata Yoona, bergetar dan terlihat rapuh. KiBum merasa ingin memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi badannya tidak mau berkompromi. Ia tetap takut dengan segala gerak-geriknya, segala kontaknya dengan Yoona bisa menimbulkan bahaya tak terduga dari siapa saja.

Masih dengan suara serak dan parau, Yoona memberanikan diri untuk bicara. “Jadi karena a-aku… kau menghilang?” Gadis itu mulai terisak-isak sekarang.

“Aku ingin melindungimu…” jawab KiBum dengan suara sehalus mungkin.

“Kenapa… kenapa kau tidak memberitahuku oppa?” terbata-bata Yoona berusaha membuat semua kata jelas untuk ia ucapkan di antara tangisnya. Pipinya sudah basah karena air mata.

KiBum bergerak maju dan mengulurkan tangannya. Jari-jarinya mengusap lembut pipi Yoona dan menghapus air mata dari wajahnya. Ditatapnya gadis itu dengan lembut, “Itu satu-satunya cara agar kau tidak terluka. Karena aku tahu kau pasti akan menangis. Seperti saat ini.”

Sesenggukan, Yoona merasa perasaan bersalah membebaninya, “Ma-maafkan aku. Aku bodoh, tidak tahu apa-apa. Padahal kau mengorbankannya untukku.”

Lelaki di depannya hanya tersenyum kecil. “Tapi kemudian aku sadar, cara untuk melindungimu yang sesungguhnya adalah tetap berada di sampingmu. Makanya aku kembali.” Yoona tak bisa menghentikan aliran air matanya yang mulai mengucur deras.

Tangan KiBum masih mengusap-usap pipi Yoona yang basah dan berderai air mata. “Apa aku boleh berada di sampingmu?”

Yoona tersentak dan mendongak menatap KiBum, keseriusan terpampang di wajahnya, tajam dan menusuk.

“Biarkan aku melindungimu. Biarkan aku tetap menggenggam tanganmu selamanya. Meskipun kita sudah beruban dan keriput. Biarkan aku yang mengisi harimu dengan tawa. Biarkan aku yang menghapus air matamu ketika kau menangis. Biarkan aku di sampingmu, karena aku membutuhkanmu.” Ucapnya dengan halus.

Kata-kata KiBum berputar di kepala Yoona. Gadis itu hampir tidak bisa mempercayainya, terlalu terpana dengan pernyataannya. Kedua kakinya lemas tak berdaya, hampir saja ia terjatuh ke lantai jika saja ia tidak ingat untuk tetap berdiri. Dunianya serasa berputar dan seperti ada kupu-kupu bergolak di perutnya sekarang. Semua sensasi ini hanya bisa ia rasakan karena lelaki bernama Kim Ki Bum.

Lelaki itu membungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Yoona dan kemudian berbisik. Kata-kata yang selama ini telah lama Yoona nantikan. Yang selama ini ia impikan.

“Karena aku mencintaimu.”

Merinding, pipinya terasa panas sekarang. Yoona benar-benar terpaku di tempatnya. Hanya bisa menatap KiBum terpana, sebelum akhirnya ia bisa bereaksi. Diangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. “Ja… jangan pernah pergi lagi, oppa. Tetaplah di sampingku.” Bisiknya.

KiBum tersenyum, kecil namun benar-benar cerah. “Tidak akan.” Jawaban yang sangat pendek namun cukup untuk membuat Yoona menggantungkan seluruh hidupnya pada lelaki itu.

Kedua insan manusia itu kini berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Pandangan mata mereka bertemu dan saling menatap untuk waktu yang sangat lama. Mengungkapkan segala rindu dan perasaan mereka dan menyalurkannya melalui tatapan yang berbicara. Seperti yang selama ini mereka sering lakukan. Bahasa rahasia milik mereka sendiri, namun kali ini kedua manusia itu dapat meluapkan perasaan mereka lebih dalam.

Tanpa ada aba-aba, kepala mereka bergerak secara bersamaan dalam satu irama. Saling mendekat dan mendekat. Hingga kedua bibir mereka bertemu, saling merasakan satu sama lain. Dan bergerak dengan lembut. KiBum memeluk pinggang Yoona sementara gadis itu mengalungkan tangannya di leher KiBum. Saling mendekatkan jarak di antara mereka berdua. Bibir Yoona yang lembut menyapu bibir KiBum, menyalurkan segala emosi terpendam mereka. Menikmati segala perasaan yang meluap-luap. Lutut Yoona sekarang terasa lemas, namun dalam dekapan KiBum ia merasa aman, dan untuk saat itu ia percaya tidak ada yang bisa menghancurkan dunia milik mereka berdua.

***

Sementara Itu…

“Ja… jangan pernah pergi lagi, oppa.”

“Tidak akan…”

Di balik semak-semak yang berjarak kurang lebih 10 meter dari gazebo tempat Yoona dan KiBum, berdesak-desakanlah trio HeeChul-DongHae-Jessica yang mencoba mendapat pemandangan terbaik dari tempat persembunyian mereka.

“Ooooh~ idemu memberi alat penyadap di gazebo itu benar-benar brilian hyung.” DongHae dengan senang hati memuji seniornya itu.

Sementara yang dipuji semakin berkepala besar dan berlagak hebat sendiri, “Aku memang jenius” katanya bangga.

Jessica yang terapit di antara dua lelaki tadi memutuskan tidak ambil pusing dan tetap mengawasi Yoona dan KiBum dengan sembunyi-sembunyi. Ketika tubuh dua orang itu semakin mendekat, Jessica langsung bereaksi. “Oh. Mereka berciuman.” Katanya datar dengan ekspresi tetap dingin seperti biasanya.

“MWOOO??!!” Seru DongHae dan HeeChul bersamaan, otomatis perhatian duo tadi langsung teralihkan ke gazebo. Mereka terlihat sangat antusias dan bahkan lebih histeris ketimbang Jessica yang seorang perempuan.

“Omooo~ Sekarang aku benar-benar iri.” Keluh HeeChul yang melihat adegan romantis di depannya.

“Oh! KiBum sunbaenim?! Yoona?! Aaaahh~ ini benar-benar romantiiss.” Tiba-tiba suara keempat menimpali dari belakang mereka. Ketiga orang tadi terlonjak kaget karena sama sekali tidak menyadari kehadirannya, mereka kemudian cepat berbalik dan menemukan SooYoung sedang menatap ke arah gazebo dengan mata berbinar-binar.

“He??!! SooYoung?!” seru DongHae, HeeChul, dan Jessica bersamaan karena kaget dengan kemunculan si shikshin yang tiba-tiba. Sementara gadis itu hanya membalas tatapan mereka dengan cengiran luar biasa lebar.

“Kenapa kau di sini?” Jessica yang paling cepat kembali dari keterkejutannya sudah bersikap cool seperti biasanya.

SooYoung melipatkan kedua tangannya di depan dada dan melangkah mendekat menuju tempat trio itu bersembunyi, “Seseorang mengunci pintunya, aku jadi tidak bisa masuk ke dalam.” HeeChul menelan ludah mendengarnya, “Kemudian aku menemukan kalian di sini. Ternyata ada tontonan menarik.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah pasangan Yoona dan KiBum.

DongHae mengelus-elus dadanya yang bidang dan menghela nafas dengan berat, “Aaaissh kau mengagetkanku saja.”

“Neh, jelaskan padaku. Kenapa dua orang itu bisa melakukan adegan seromantis itu? Itu beneran kan? Mereka tidak sedang latihan akting kan?” SooYoung merasa haus dengan jawaban-jawaban yang ia butuhkan sekarang.

HeeChul kembali tersenyum sumringah, “Tentu saja karena akal cemerlangku yang hebat! MWAHAHAHA!” tawanya kini sudah tidak bisa dikendalikan lagi dan terdengar lebih ‘jahat’ ketimbang yang dulu-dulu.

“Jangan dengarkan dia.” Timpal Jessica dingin dengan sikap acuh tak acuh.

SooYoung hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah-olah langsung mengerti apa yang terjadi, “Aaaa~ pasti karena jebakanmu ya, oppa. Kamu memang menius!” SooYoung menepuk-nepuk punggung HeeChul layaknya seorang Ibu yang bangga anaknya meraih juara pertama di kelas.

Namun DongHae yang sedari tadi mengamati tidak luput mendapati ada yang berbeda dari gadis tinggi itu, “SooYoung-ssi, kenapa tampaknya kau ini sumringah sekali sih?”

SooYoung masih tersenyum-senyum tanpa alasan yang jelas, “Hmm~? Ah masa?” rasanya seperti ada cahaya yang berbinar keluar dari wajahnya.

Jessica, sebagai teman sekamarnya selama bertahun-tahun dapat membaca temannya yang satu ini dengan jelas. “Karena HanKyung oppa ya?” yang langsung disambut dengan “Aaaahh…” dan “Oooohh…” masing-masing dari HeeChul dan DongHae.

Mata SooYoung melebar, “Mwooo!!!” sekejap kemudian pipinya sudah memerah, “Bagaimana kau bisa tahu?!”

Jessica memukul dahi SooYoung dengan pelan namun cukup untuk berbunyi ‘PLAK’ yang dapat didengar oleh mereka berempat. “Di dahimu tertulis besar-besar nama HanKyung oppa tahu.” Katanya tanpa ekspresi.

SooYoung tampak panik, “Ah jjinjja?” tangannya mulai menggosok-gosok dahinya dengan kekuatan penuh.

Mata Jessica berputar melihat kelakuan temannya, “Pabo.”

SooYoung langsung cemberut, “Yah! Nggak lucu tahu! Aaaaissh. Ne, kita kembali saja bagaimana? Aku lapaarrr. Biarkan saja mereka berduaan di sini. Kita kembali dan ambil makanan sebanyak-banyaknya yuk!” dan inilah SooYoung dengan nafsu makannya yang besar.

HeeChul terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menyetujui gadis itu, “Aaah… benar juga. Hahaha! Yang penting dengan ini rencana ‘Menyatukan Snow White dan Alligator’ berjalan sempurna! Mwahahahahaha!” diacungkannya kepalannya tinggi-tinggi ke langit menunjukkan betapa bangganya ia dengan dirinya sendiri. Dan dengan itu mereka berempat mengendap-endap menjauh dari gazebo, membiarkan dua pasangan yang baru saja bersatu itu menikmati waktu mereka berdua sendiri.

***

SooYoung, Jessica, HeeChul, dan DongHae sudah berjalan cukup jauh dari tempat gazebo berada. Kaki-kaki mereka menyapu rumput-rumput hijau yang terasa empuk. SooYoung dan HeeChul berjalan beriringan di depan, mendahului Jessica dan DongHae yang memilih berjalan pelan di belakang.

“Oppa, mungkin kau perlu membuka jasa makcomblang.” Celetuk SooYoung pada lelaki yang sedang berjalan di sebelahnya.

HeeChul mengembuskan nafas dengan berat dan kemudian memasang tampang yang sok-sok khawatir, “Aaah, tapi aku takut kalau-kalau kantornya penuh sesak hanya karena cewek-cewek yang datang itu ingin bertemu denganku. Menjadi tampan itu ternyata terkadang merepotkan ya.”

“Apaan tuh! Narsis banget!!” timpal SooYoung.

HeeChul mengeluarkan tawanya sekali, “Terima kenyataan SooYoung-ah, aku memang menawan.” Katanya sambil menatap SooYoung dengan kedua alis naik turun, berusaha menggoda gadis berambut pendek itu.

Gadis di sampingnya hanya memutar kedua bola matanya, “Terserah deh oppa.” Katanya tak acuh, “Tapi sebelum kamu memakcomblangi orang-orang, cari dulu jodoh untukmu. Lihatlah dirimu! Tetap single selama bertahun-tahun. Memangnya umurmu berapa?!”

JLEB, tepat menusuk di hati HeeChul, “Yah! Aku masih muda tahu!” protes HeeChul.

“Iya-iya, kakek.”

Mendengarnya HeeChul langsung menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi sampai memberantakkan tatanan rambutnya yang tadi klimis rapi. “Aaaaaissh! Siapa sajaaaa! Mau kau cewek lebih muda 10 tahun atau 10 tahun lebih tua, terserah! Tolong nikahi akuuu!” teriaknya pada langit malam.

Mata SooYoung menyipit dan memandang HeeChul dengan tatapan antara mengasihani dan miris, “Teriakan lelaki putus asa.” Celetuk gadis itu lagi.

HeeChul kembali berteriak lagi ke langit yang tetap bergeming, diangkatnya kedua tangannya yang mengepal tinggi-tinggi, “Tuhan apa salahku?!! Tolong turunkan bidadari untukku!!” lolongannya malam itu terdengar seperti serigala kesepian. Miris sekali.

DongHae dan Jessica yang berjalan dengan kecepatan pelan di belakang hanya diam memperhatikan tingkah laku mereka. Akibat kecepatan melangkah antara SooYoung-HeeChul dan Jessica-DongHae yang berbeda, membuat jarak yang di antara mereka terpaut jauh sekarang. DongHae dan Jessica mulai tertinggal di belakang. Entah disengaja atau tidak.

Suara di sekeliling mereka semakin hening ketika SooYoung dan HeeChul yang masih ribut sudah melangkah jauh di depan hingga suara mereka terdengar sayup-sayup. Di saat seperti itu, DongHae akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan suara. “Sica…” lirihnya.

“Hm…?” timpal Jessica pendek.

Dahi DongHae berkerut, kepalanya ditundukkan dalam-dalam, “Mianhae…” katanya lembut.

“Untuk apa?” tanya Jessica cepat, dan tanpa ekspresi. Gadis itu menolak untuk menatap ke dalam kedua mata DongHae. Ia berusaha menjaga hatinya agar tidak berontak dan hilang kendali.

Dan itu berhasil membuat DongHae menghentikan langkah mereka berdua, diputarnya tubuh miliknya agar sepenuhnya dapat menghadap Jessica. “Maaf karena aku selama ini menjadi pengecut.” Katanya serius. Ketika menyangkut tentang gadis ini, ia tahu hatinya tidak akan pernah main-main. “Maaf… Aku banyak melukaimu.”

“……….” Jessica tetap diam di tempatnya, ia tahu pandangan DongHae sekarang benar-benar menusuknya.

DongHae membuka mulut kembali ketika Jessica tidak bereaksi apa-apa, “Setelah mendengar apa yang dikatakan KiBum-ah tadi….. aku merasa sangat bodoh. Aku tidak berbuat apa-apa ketika anti fans itu menyerangmu dengan berkata yang tidak-tidak tentangmu.”

Alis Jessica berkedut mendengarnya, ia berusaha mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Lagi-lagi kenangan tidak enak ini dibuka kembali, “Sudahlah, oppa. Hubungan kita memang tidak pernah berjalan dengan baik kan? Aku rasa keputusanmu mengakhiri hubungan kita saat itu memang tepat. Kau tidak ingin menyakiti fansmu kan?” Hal terakhir yang diinginkan oleh Jessica saat ini adalah menangis, makanya gadis itu berusaha keras menahan agar air matanya tidak jatuh.

Emosi DongHae meluap mendengarnya, “Tapi kau dicerca dan dicemooh oleh mereka! Dan…… aku membiarkanmu melewati itu semua sendirian… Maaf. Aku seharusnya tidak melakukan itu.”

Jessica akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap mata DongHae dalam-dalam, ditatapnya kedua bola mata gelap yang memantulkan cahaya bulan malam itu. Begitu dalam dan begitu penuh dengan perasaan yang tak terungkapkan. Gadis itu terperangkap di sana.

“Aku begitu bodoh.” Lanjut DongHae, “Seharusnya aku juga berani seperti KiBum. Seharusnya aku berani mengorbankan semuanya untuk itu.” Dari wajahnya, Jessica bisa mengerti bahwa lelaki di depannya itu benar-benar terluka dengan ucapannya sendiri. Gadis itu sendiri sudah memaafkan DongHae sejak lama, karena ia sudah memutuskan untuk merelakan semua yang pernah terjadi. Ia tidak mau terperangkap dalam penyesalan, selamanya.

Maka Jessica pun tersenyum pahit, “Kalau kau minta pengampunan, aku maafkan oppa. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Tapi yang lalu biarlah berlalu. Itu semua adalah masa lalu. Sudah tidak ada apa-apa lagi di antara kita.” Dan dengan itu, Jessica memutar badannya dan mulai berjalan menjauh.

Belum beberapa langkah, DongHae sudah menarik tangannya untuk menghentikan langkah Jessica. Gadis itu otomatis menoleh ke arah DongHae. Setengah berteriak, DongHae meluapkan perasannya, “Ada! Sejak dulu sampai sekarang. Aku tahu selalu ada sesuatu Sica. Antara kau dan aku.” Jessica bisa mendengar suaranya sekarang bergetar sedikit.

“Apa yang kau bicarakan? Lepaskan aku.” Jawab Jessica dengan dingin. Tangannya meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman DongHae yang semakin kuat.

Genggaman DongHae padanya justru semakin menguat, ia tidak mau melepaskan gadis itu. Tidak lagi. “Apa kau tidak bisa melihatnya?!” nada yang digunakan DongHae semakin meninggi, “Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Jessica!”

Mendengar itu Jessica berhenti meronta, ia mendongak menatap ke dalam mata DongHae. Dan lelaki itu bisa melihat ada setitik air mata terbentuk di mata Sica.

“…..Aku tahu! Aku selalu tahu oppa!” suara Jessica bergetar, “Aku lebih tahu dari siapapun! Aku tahu bahwa kita masih saling mencintai.”

DongHae terhenyak mendengarnya, “Sica…”

“Tapi apakah dengan begitu semuanya akan menjadi lebih baik?! Meskipun aku dan kau saling mencintai, itu tidak akan merubah apa-apa! Kita masih tidak bisa bersama!”

“Tidak…” kata DongHae lirih, ini begitu menyakitkan baginya mendengar Jessica berkata seperti itu. Meski ia tahu gadis itu pasti merasakan sakit yang lebih dalam daripada dirinya.

“Pikirkan apa akibatnya! Apa yang orang-orang akan katakan jika aku kembali bersamamu?! Aku tidak pernah pantas untukmu, oppa! Kita tidak bisa ber-“ rentetan luapan emosi Jessica terhenti oleh bibir DongHae yang melumat bibirnya. Gadis itu terlalu shock untuk melawan, ciuman itu terlalu menghipnotis hingga ia sudah tidak bisa berpikir lagi. Ciuman DongHae terasa begitu emosional, penuh dengan perasaannya yang selama ini ia sembunyikan.  Hingga Jessica sama sekali tidak berniat melawan maupun melepaskan diri.

Perasaan yang selama ini mereka pendam sejak lama kembali terkuak, membuka luka lama yang selama ini tidak pernah kering. Namun mereka tahu hanya dengan bersama-sama seperti ini, mereka bisa menyembuhkan luka satu sama lain.

Dalam kilasan waktu yang cepat, DongHae melepaskan ciuman mereka. Matanya berkilat-kilat ketika menatap balik ke dalam mata Sica. Lelaki itu menggertakkan giginya sedikit, “Persetan dengan apa yang orang katakan, Sica…”

Jessica terkesima dengan sikap yang akhirnya DongHae ambil sekarang, dia sama sekali tidak pernah mengira bahwa ini akan terjadi. Di dalam benaknya ia tidak pernah membayangkan akan mengulangi kembali hubungan yang pernah mereka jalin. Ia pikir, ia telah mengubur dalam-dalam seluruh perasaan yang tidak perlu. Namun siapa yang bisa ia bohongi? “….Pabo Bada.” Tanpa terasa, setetes air mata mengalir di pipinya yang lembut. Gadis itu mulai terisak-isak.

DongHae mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Jessica dengan lembut, “Mulai sekarang aku yang akan selalu bersamamu. Kita hadapi bersama.” Apa yang akan dikatakan oleh publik? Bagaimana dengan peraturan agensi mereka yang melarang hubungan sesama artis dalam satu manajemen? Apa yang akan dilakukan oleh para anti? Apa reaksi para ELF dan SONE? Ia tahu hal-hal itu akan tetap menghadang jalan mereka, tetapi setidaknya ia tahu gadis yang digenggamnya itu sekarang tidak akan pernah ia lepas lagi.

Jessica mengusap air mata yang membasahi pipinya, “Ini tidak akan mudah… Seharusnya kau tahu itu.” Ucapnya ketika memikirkan hal-hal apa yang akan terjadi.

DongHae hanya tersenyum dan menggenggam tangan gadis itu lebih erat, “Kau dan aku. Kita akan melawan dunia bersama.”

***

3 Tahun Kemudian…

Jari-jarinya yang kurus menyisir helai-helai rambut miliknya yang hitam & terurai panjang. Berusaha membuatnya tetap rapi. Setelah selesai, ia memandang pantulan dirinya di kaca. Memutar badan untuk memeriksa apakah ada yang salah dari penampilannya.

Gaun putih telah membungkus badannya yang ramping, jepit rambut berbentuk bunga lily pun semakin mempercantik riasannya kali ini. Ia tersenyum puas.

Tetapi gadis itu tidak tahu kenapa hatinya sekarang berdebar-debar. Hari ini adalah hari yang spesial, semua orang menantinya. Dan ia sungguh sangat antusias ketika hari ini datang. Ia cepat berbalik ketika seseorang memanggilnya dari belakang. Gadis itu tersenyum ketika melihat lelaki yang begitu dikasihinya sudah berdiri di ambang pintu. Tampak gagah dengan setelan tuxedo hitam.

“Yoona-ya, kau sudah siap?”

Gadis yang dipanggil hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa seraya menghampiri penjemputnya itu.

***

Banyak orang berkata, seorang pengantin wanita akan terlihat sangat anggun dan cantik ketika ia berjalan menelusuri lorong menuju ke arah sang pengantin lelaki yang telah menunggunya. Itulah yang terjadi sekarang. Gadis dengan gaun putih yang membalut tubuhnya dengan anggun, serta buket bunga berwarna merah menemaninya berjalan perlahan sepanjang lorong.

Semua mata tertuju padanya. Sorotan-sorotan kamera tak hentinya mengikuti tiap langkah yang ia ambil. Senyum paling bahagia yang bisa ia berikan menghiasi wajahnya yang cantik. Mata gadis itu begitu berbinar ketika ia menatap balik pengantin lelakinya yang sudah menunggu di depan. Semua perempuan yang ada di dunia ini pasti begitu iri melihatnya.

Ketika akhirnya ia sampai di samping lelaki yang begitu dicintainya itu, gatinya semakin berdebar. Bahkan kata-kata sang Pendeta terasa lewat begitu cepat. Perasaannya saat ini tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi. Kakinya terasa lemas, namun mengingat tatapan kekasihnya yang sekarang memandang ke arahnya dengan tulus itu, ia merasa mendapat kekuatan entah dari mana.

Dan kemudian sampailah di saat-saat yang paling ditunggu. Sang Pendeta mengucapkannya cukup jelas hingga seperti berdering di kepala gadis itu.

“Apakah kau, Jung Jessica, bersedia untuk selalu mencintai suamimu dalam keadaan susah maupun senang sampai kematian memisahkan kalian?” kata-kata sang Pendeta terdengar seperti melodi di telinga Jessica. Menatap ke dalam kedua bola mata lelaki yang ada di hadapannya, Jessica yakin bahwa ia tidak akan pernah menyesal mengatakan kata berikutnya yang akan dia ucapkan.

“Aku bersedia.”

“Dan kau, Lee Dong Hae, bersediakah kau untuk selalu mencintai suamimu dalam keadaan susah maupun senang sampai kematian memisahkan kalian?”

Lelaki itu tersenyum tulus sebelum berkata, “Aku akan sangat bodoh jika tidak mau. Aku bersedia.”

Setelah saling bertukar cincin, sang Pendeta tahu bahwa ia harus mengucapkan kata-kata yang paling ditunggu. “Kini kalian kunyatakan sah sebagai suami isteri. Kau boleh mencium istrimu sekarang.”

DongHae tanpa berpikir banyak maju dan berbisik di telinga Jessica, “Aku mencintaimu.” Sebelum akhirnya mengecup bibir Jessica dengan lembut. Saat itu hati Sica rasanya ingin meledak karena luapan rasa bahagia. Bahkan para pendamping pengantin yang terdiri dari anggota SNSD dan Super Junior yang lain pun langsung bersorak gembira dengan heboh. Para hadirin yang lain pun ikut-ikutan bertepuk tangan.

***

“Selamat unnie! Kalian adalah pasangan paling bahagia di dunia sekarang ini! Seru Yoona yang masih dengan gaun pendamping perngantinnya. Jessica tersenyum dan memeluk dongsaengnya itu dengan erat. “Terima kasih Yoong.”

Resepsi pernikahan yang langsung dilaksanakan hari itu juga kali ini tidak mengundang begitu banyak orang. Hanya beberapa kerabat dan teman-teman dekat yang diundang. Bahkan acara ini tertutup bagi seluruh media.

“Yah Sica! Sepertinya sebentar lagi aku harus bersaing mendapat title Ibu Tercantik di Seluruh Korea Selatan nih.” Ucap TaeYeon dengan perutnya yang sudah membuncit.

Jessica kembali ke Jessica yang biasanya, tetap dengan sikap cool-nya yang terkenal, “Ani, mana mungkin aku mengalahkan TaeYeon eomma yang sudah hamil besar ini kan. Tapi doakan saja aku cepat mendapat momongan ya.”

“Yah Taeng, kamu kan tinggal 2 bulan lagi melahirkan. Mulailah bersikap seperti seorang ibu! Jangan lupa Teuk appa-mu itu juga kamu beri perhatian.” Cerocos Tiffany ke sang Leader. TaeYeon hanya nyengir kuda jika diingatkan seperti itu.

“Mana SooYoung?” celetukan Jessica yang tiba-tiba mengalihkan semua perhatian gadis-gadis itu.

“SooYoung unnie tadi kulihat sedang bersama HanKyung oppa yang baru saja balik ke sini.” Jawab SeoHyun polos.

Yang disambut hanya dengan gumaman seperti:
“Aaaaah~”

“Ooooh…”

“Efek Long Distance Relationship ya?”

“Asyik nanti aku mau minta Beijing Fried Rice ah.”

Yang terakhir diucapkan oleh TaeYeon yang tiba-tiba saja jadi ngidam makan nasi goreng.

Jessica berusaha menahan tawanya, tapi kemudian ia punya sesuatu yang ia yakin dapat mengalihkan semua perhatian teman-temannya. “Ne, setelah ini ada berebut lemparan buket bungaku. Kalian mau ikut?”

Langsung saja grup yang terdiri dari gadis-gadis muda itu langsung heboh. Terkecuali TaeYeon yang langsung mengemukakan ketidak ikut sertaannya, semua tampak antusias.

“MAUUU!!”

“Aku harus ikut! Harus ikut!”

“Ne, SooYoung dipanggil nggak nih?”

“Nggak usah, biarin aja. Salahnya kita malah ditinggal pacaran. Biar ngurangin saingan juga kan nih.”

“Entah gimana caranya pokoknya harus dapat buket!!”

***

Di tengah-tengah ruangan sudah berkumpul beberapa gadis muda yang tampak berdeterminasi merebutkan sebuah buket bunga yang akan dilemparkan Jessica. Tanpa malu-malu, semua gadis itu berebut mendapatkan tempat dan posisi terbaik. Semua sisa anggota SNSD, minus SooYoung yang sedang sibuk sendiri dan TaeYeon, sudah siap di posisi masing-masing. Bahkan adik Jessica, Krystal, serta anggota f(x) yang lain juga ikut merapatkan barisan. Tak terkecuali Amber yang entah kenapa justru terlihat paling semangat. Sayangnya, Yoona kebagian tempat paling belakang sekarang. Tetapi hatinya berdebar-debar sekarang.

“Kamu harus mendapatkan ini, Yoona! Kesempatan cuma sekali! Yoona, fighting!” katanya dalam hati sambil mengepalkan tangan. Gadis itu melirik ke arah penonton di samping, mencari sosok tertentu. Ketika dilihatnya KiBum tersenyum ke arahnya, wajah gadis itu langsung memanas.

Yoona menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Tidak. Yoona, fokus! Buket bunga! Buket bunga! Buket bunga!” gumamnya cepat.

Sementara di samping, para lelaki terkagum melihat semangat membawa yang dibawa para gadis-gadis itu. “Kenapa mereka sampai segitunya demi sebuha buket?” gumam KyuHyun heran.

“Bagi mereka, itu sama saja seperti game starcraft special edition yang baru dirilis. Kesempatan langka.” RyeoWook berusaha menjelaskan dengan ungkapan yang dapat dimengerti KyuHyun. Dan berhasil. Maknae itu langsung mengangguk-angguk seraya berseru, “Aaaaah! Begitu rupanya ya.”

“Sunny Bunny Honey! Semangat! Aku mendukungmu! Fighting!” SungMin mulai menari-nari untuk menyemangati Sunny. Yang disemangati pun melepaskan kiss bye plus aegyo ke arah SungMin. Semua yang melihat otomatis langsung memutar mata mereka.

Sementara, SiWon hanya berdoa dalam hati untuk Tiffany. Bibirnya komat-kamit tidak jelas. ShinDong jadi ngeri sendiri melihat temannya itu bertingkah seperti dukun.

“Yah Yuri-ah! Pastikan kau tidak membahayakan nyawa orang ya! Jangan terlalu brutal!!” teriak YeSung dari samping.

Yuri memberikan pandangan paling mematikan miliknya, “Diam kau, kura-kura tua!”

Yesung menghela nafasnya, ‘Sepertinya dia tidak ingat dengan kejadian 3 tahun lalu itu ya.’ Pikir Yesung. ‘Yuri-ah, apakah aku masih boleh berharap padamu?’

KiBum, yang sedari tadi mengamati Yoona, tertawa geli di dalam hati melihat gadis kesayangannya itu memasang wajah yang serius. Ia berjanji dalam hati untuk selalu mengawasinya.

Ketika akhirnya Jessica sudah berbalik badan dan mengambil posisi, kerumunan gadis itu tampak semakin antusias. Yang tampak dari mereka hanyalah wajah-wajah serius, seperti harimau-harimau betina yang  mengincar mangsanya.

Jessica mulai menghitung, “Satu, dua, tiga!” dan kemudian melontarkannya ke belakang. Kerumunan tadi mulai memanas. Tangan-tangan menggapai-gapai ke atas, berusaha meraih buket bunga yang melayang melewati kepala mereka.

“Gyaaa!! Milikku! Milikku!”

“Buket bunga ini harus kudapatkan!”

Ternyata buket bunga itu justru terlempar jauh di belakang. Yoona dengan sigap langsung berjalan mundur sambil menggapai-gapai ke atas, menunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya.

Tanpa sengaja, kakinya tersandung hingga badannya limbung ke belakang. Sebelum ia jatuh, ternyata tubuhnya telah ditahan oleh seseorang. Ia menggapai ke atas dengan putus asa, tetapi buket itu terlalu tinggi untuknya. Yoona sudah berteriak kecewa, “Aaaaah!”. Namun tepat di atas wajahnya yang mendongak, buket itu telah ditangkap oleh seseorang. Oleh tangan yang juga dimiliki oleh orang yang menahan tubuhnya. Yoona perlahan menengok ke wajah orang itu, dan mendapati KiBum tengah menunduk dan tersenyum padanya.

“Yaaaah!!!” seru gadis-gadis lain kecewa ketika melihat buket itu sudah ada di tangan KiBum. Yoona secepat mungkin memperbaiki posisinya, pipinya kini makin memanas. Matanya sama sekali tidak berani menatap lelaki itu. Meskipun mereka sudah cukup lama resmi menjadi pasangan, tetapi ia tidak pernah bisa terbiasa dengan segala debaran yang KiBum berikan.

Kerumunan gadis-gadis tadi langsung membubarkan diri, mereka berjalan dengan ekspresi penuh kekecewaan yang terpampang sangat jelas. Sementara para hadirin yang lain masih agak terhipnotis dengan adegan yang tidak lama terjadi barusan.

Yoona berdiri dengan tidak nyaman di depan KiBum, sementara cowok itu malah tersenyum-senyum dengan cueknya. Wajah Yoona semakin merona lagi. Siapa yang tahan dibombardir dengan killer smile seperti itu?

“Op… oppa. Terimakasih, kalau kamu tidak ada mungkin aku sudah terjatuh tadi.” Akhirnya gadis itu berhasil menemukan kata-kata untuk dikeluarkan.

“Apa yang kau katakan? Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku akan selalu ada untuk melindungimu.” Kata KiBum enteng.

Jika ini kartun, mungkin sudah ada uap yang keluar dari telinga Yoona sekarang. Gadis itu memukul pelan bahu KiBum, “Yah! Sudah jangan menggombal lagi!”

“Arasso… Arasso…” kata KiBum di sela tawa kecilnya.

Yoona melirik ke arah buket yang kini digenggam KiBum. Dan lelaki tak luput mendapati ke mana arah mata Yoona tertuju. Ia langsung tersadar. “Aaaah! Ini ya. Barang yang kalian ingin-inginkan sedari tadi.” Buket bunga itu ia angkat sampai sejajar dengan wajah Yoona.

“Ne, Yoona-ya, marhaebwa. Kenapa kau begitu menginginkan ini?” lanjut KiBum.

Yoona sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Kalau dipikir-pikir pasti akan sangat memalukan sekali jika oppa-nya itu tahu apa yang ia pikirkan sekarang. “A-ani, bukan karena apa-apa.” Sangkal Yoona.

Namun KiBum terlalu mengerti gadis itu untuk bisa dibohongi. Lelaki itu mengangkat satu alisnya dan menatap tajam ke dalam mata Yoona. Dan akhirnya Yoona menyerah, ia tidak pernah bisa menipu kekasihnya itu.

“Aku pernah dengar, Gadis yang berhasi l mendapatkan buket berarti dia akan menikah tidak lama setelah itu.” Yoona sedapat mungkin menyembunyikan wajahnya, ia menatap lekat-lekat ke arah lantai.

KiBum tidak bodoh, tentu saja ia juga tahu tentang itu. Tetapi mendengarnya dari mulut Yoona sendiri tentu lebih menarik baginya. “Omo! Berarti kalo begitu giliran depan aku yang menikah dong?” ucap KiBum iseng. ‘Kira-kira reaksi apa yang akan diberikan Yoong ya?’

Yoona mengangkat wajahnya pelan-pelan. Dan dengan ekspresi wajah serius tanpa emosi, ia bertepuk tangan seraya mengucapkan “Selamat oppa.”

KiBum tertegun sejenak, sedetik kemudian ia tertawa sekencang-kencangnya. “Hahaha!! Hahahaha! Ada apa dengan wajahmu itu, Yoong? Hahaha!”

Dalam hati, ingin sekali Yoona mencubit dan menjewer lelaki yang ada di depannya itu sekarang. Bagaimana bisa dia tertawa selepas itu? Menertawakan dirinya pula! Yoona langsung cemberut.

“Kalau mau menikah jangan lupa kirim undangan ke rumahku ya, oppa.” Kata Yoona dengan sinis.

KiBum langsung berhenti tertawa, tetapi ekspresinya kini justru berubah menjadi geli. Lelaki itu membungkuk sedikit hingga tingginya ia buat sama dengan Yoona. Wajah mereka saling berhadapan. “Aku tidak akan mengirimimu undangan.” Tegas KiBum, “Karena namamulah yang tertera di dalamnya, bersebelahan dengan namaku.”

Yoona hanya ternganga. Ia putar lagi apa yang dikatakan KiBum di dalam otaknya. Apa tadi dia tidak salah dengar? Apa cowok itu cuma bercanda? Apa yang harus ia katakan untuk menjawab??

Semua itu berputar cepat di kepalanya, hingga ia terpaku tanpa bisa bereaksi apa-apa. KiBum tersenyum, ‘Sudah kuduga inilah reaksi yang akan ia berikan.’ Pikir KiBum dalam hati. Ia kemudian menyodorkan buket bunga itu ke hadapan Yoona.

“Aku serius, Yoona-ya. Bagaimana kalau kita buat legenda tentang buket pengantin itu jadi nyata?” mata KiBum melekat ke dua bola mata cokelat bening milik Yoona.

Adegan berikutnya, adalah tindakan yang tidak pernah Yoona sangka akan KiBum lakukan. Lelaki itu berlutut di depannya, dengan buket bunga masih ia sodorkan tinggi ke Yoona. Semua mata kini tertuju ke arah mereka berdua. Para hadirin yang ada kini malah menjadikan mereka sebagai tontonan. Semuanya menahan nafas mereka masing-masing, penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang justru dilakukan oleh anggota SNSD dan Super Junior lainnya? Mereka langsung mengambil tempat paling di depan dan terlihat sangat menikmati adegan ini.

Sementara itu, Yoona butuh waktu yang lebih lama untuk mencernanya. ‘Dia baru saja mengatakan bahwa dia serius kan? Ya Tuhan, apa ini nyata?’ pikir Yoona.

Sedetik kemudian, KiBum membuat detak jantung Yoona serasa berhenti, “Menikahlah denganku, Im Yoona.” Dan Yoona pun kini dapat melihat jelas, sebuah cincin diletakkan di dalam buket yang lelaki itu pegang. ‘Sejak kapan benda itu ada di sana?!’ Tanpa Yoona tahu, KiBum rupanya telah mewarisi beberapa trik sulap dari DongHae.

Kerumunan penonton langsung bersorak riuh rendah, menyadarkan Yoona kembali bahwa ini memang nyata. Perasaannya terasa meledak-ledak di dalam hati seperti kembang api. Bibirnya kaku, ia ingin segera meneriakkan jawabannya namun tubuhnya tidak mau digerakkan sama sekali. Di pikirannya saat ini hanya ada satu jawaban, dan gadis itu bersusah payah untuk mengeluarkannya.

Dengan pelan namun pasti, Yoona berhasil menggerakkan kepalanya. Ia mengangguk pelan pada KiBum. Dan bagi lelaki itu, jawaban itu sudah sangat cukup. Ia bisa tahu tidak ada keraguan dalam mata Yoona ketika ia menganggukkan kepalanya.

KiBum langsung tersenyum cerah, dimasukkannya cincin perak yang ada di dalam buket ke jemari Yoona yang ramping. Benda itu terasa sangat pas di sana, seolah-olah memang hanya ada dan diperuntukkan baginya. Orang-orang yang menonton langsung bersorak-sorak dan bertepuk tangan. Bisa menyaksikan sebuah pelamaran di sebuah resepsi pernikahan, tentu bukan hal yang sering terjadi.

Ketika akhirnya KiBum memeluknya, barulah Yoona bisa merasa lega. Badannya tidak lagi terasa kakau. Di dalam dekapannya, Yoona bisa merasa lebih aman dari apapun.

“Sampai beruban pun, aku akan tetap selalu ada di sampingmu.” Bisik KiBum di telinga Yoona.

“Ne, aku juga oppa. Mulai sekarang aku akan menjadi bagian dari hidupmu.” Dan sejak saat itu, Yoona selalu yakin bahwa lelaki itu memang orang yang ditakdirkan untuknya.

*END*

A/N: Waaaaah akhirnya selesai juga fic ini :’) terima kasih untuk semua yang pernah membaca dan terus setia mendukung supaya fic ini selesai! Author akan terus berjuang supaya bisa menelurkan fanfic-fanfic yang lebih bagus lagi. Maaf ya kalo misalnya endingnya agak terkesan terburu-buru -.- Saya sangat membutuhkan feedback nih dari temen-temen readers semua, supaya author juga bisa lebih berkembang lagi😉 Jangan lupa review dan komen yaaa.


26 thoughts on “Welcome Home! [Part5-END]

  1. Akhirnya keluar juga ini ff.
    serius ini ff bagus baget~
    semuanya campur jadi satu di ff ini..
    Bikin lagi ya ff yang lain.
    Happy Ending For Yoonbum Haesica Sookyung DLL.

    Like

  2. waaaah akhirny kelaaar jg, sangat brharga untuk ditunggu trnyata, endingny daaaebaaak chingu…
    chingu bkin lg donk afterstory dr SuGen copel yg lain, pnasaran nie heheheheee..

    Like

  3. huaaaaaaaaaaaaa udh lama bgt ni ff aku tnggu” kkk
    gk bsa brkta” apa lg~~~
    so sweet bgtttttttttttt
    daebak author!!!!
    sya ska kata”y,,,sprti yg ada di novel”hahaha

    lnjtkn krymu authorrrrrrrrrr

    Like

  4. hua aku udah lama banget nungguiin nie ff ampe jenggotan😀
    hua tetep romantis so sweet gimana gitu🙂
    sequel donk thor…
    apalagi sookyung couple🙂
    pkok.a nie ff the best deh…
    ngmong” heechul ama siapa ?
    ama aku aja😀

    Like

  5. udah end? sequel dong chingu ^^
    wah yoonbum so sweet bgt…

    kebayang waktu sungmin joget2
    baru sadar hyohyuk couplenya absen ya?
    hohoho
    #gapenting

    mian comment-nya abalabal
    nice ff chingu🙂
    di tunggu ff yg lainnya🙂

    Like

  6. anyeong author….lam kenal sblmnya ^_^
    mianhae nih br bs komen d part ini ^^v

    huaaaaaa…….endingnya so sweettttttttttt ^_^
    penggunaan kata2nya juga bagus n romantis
    aku suka…suka…nan neomu johayo……..
    *joget2 breng sungmin*wkwkwk

    biarpun aku snowers……..
    tp aku asyik2 aza tuh klw bumppa pairing ama yoona
    pknya yoonbum couple…i like it ^_________^

    seneng jg liat couple laennya pd happy
    pknya ff nie full of happiness

    author….bikin lg ff ttg yoonbum dong
    klw bs yg ini jg d bikin special part-nya
    atau bikin lg sequelnya, eothae author??*ting..ting kedip2*
    ahahahahha*plakkkk reader bnyk maunya*

    okedech author this is nice story
    Good job author hehe*tepok2 pundak author*
    d tggu karya2 slnjutnya yah….. ^_^
    *bowing*

    Like

  7. sumpah keren banget ni ff🙂
    Yoonbum & haesica bnar2 so sweet😀
    kata2 nya bgus banget, dalem!
    Endingnya keren banget
    bkin ff tntang yoonbum atau haesica lagi ya author

    Like

  8. Dah nunngu baget lanjutan ff ni.keren bgd dah author..
    tlg bikin ff yoonbum lagi ya.soalnya aq yoonbum shipper..
    Yoonbum jjang!!!

    Like

  9. kereeeeeeeeennnn

    Itu sooyoung nikah juga gak sama hankyung oppa? Keke~
    Aaaaaa ini ff termasuk ff terkeren yang pernah kubaca🙂

    Penggambarannya keren.
    Ahhhh keren deh🙂

    Itu sungmin lebay banget samapi joget-joget -.-
    Mana siwon serem baca mantra (?)

    Aku meleleh pas bagian ”karena aku mencintaimu” huaaaaaaa pengen pingsan rasanya .

    pas adegan donghae sama jessica juga kerasa feelnya untung ama bang ikan langsung dicium hehe.

    Itu si taeyeon udah hamil aja haha . Anaknya cewe apa cowo ya???

    Oke comment aku udah panjang kan?
    Pokoknya ini udah keren dan menurut aku bikin ff yang baru lagi ya~

    Like

  10. annyeoong chingu aq reader baru d sini salam kenal
    chingu critanya seruuu pluss sooo sweet banget chingu ceritanyya….
    penasaran wktu yoonbum nikah nanti gmana yy??

    Like

  11. Aah yoonbum couple romantis banget ^^
    Yeaa akhirnya haesica nikah juga , cerita haesica berasa nyata banget😀

    Buat sequel dong author , tentang yesung-yuri kalo gini kan ngegantung hehe

    Anyway , ffny kereen

    Like

  12. sumpah smpe mau nangis saking romantisnya. T,T
    kyaaa envy berat sm yoona. ToT
    bias ku semua jadi starring y d sni, bias no.1 hae udh married dluan, bias no.2 chul msi jadi makcomblang kyany, bias no.4 kibum ngelamar yoona. >,<
    sumpah keren bgd thor ffny. dO,ob
    bkin sequel sooyoung gege, yesung yuri jg. xD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s