[Yaoi] Lonely… Candle Light


Author : Goetary

Pairing : JaeSu

Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun

Warning : DON’T COPAS WITHOUT MY PERMISSION !! DON’T BE SILENT READER !!

Disclaimer : Karna sekarang lagi asik2x baca komik SALAD DAYS, jadi cerita ini juga terinspirasi dari salah satu cerita pendek di komik itu yang judulnya malam ke-18. Tapi secara keseluruhan cerita ini adalah murni milik saya, terinspirasi bukan jiplakan. Jadi tolong hargai jerih payah saya yah dan jangan ada yang jadi silent reader :)

oOo oOo oOo

Hyung, aku rindu padamu…

Memaksa diri untuk tetap tersenyum, itu benar-benar melelahkan. Walau yang kuinginkan adalah memberitahu semua orang bahwa aku sedang terluka.
Hyung, apa kau sedang melihatku sekarang? Melihat berapa banyak air mata yang keluar tanpa ada seseorang yang mau menyekanya?
Hyung, aku rindu… Ingin bertemu…

“Junsu, bisa tolong antarkan ini ke alamat tersebut?” tanya seorang pria paruh baya sembari menyodorkan selembar kertas kearah Junsu.
“Siap boss,” jawab Junsu dengan tersenyum riang. Ia lalu segera mengambil paket yang di maksud pria itu kemudian segera pamit untuk mengantarnya.
“Appa, akhir-akhir ini Junsu oppa terlihat semakin sering tersenyum yah?” seorang gadis berseragam SMU yang sedari tadi berada di meja kasir menghampiri ayahnya.
“Iya,” jawab pria tua itu dengan wajah murung. “Padahal sebenarnya ia masih belum bisa melupakan kejadian tiga bulan lalu.” Katanya lagi sambil geleng-geleng.

Hari berlalu lambat sejak kepergianmu.
Dan sejak itu pula aku hidup dari bayangan masa lalu, berharap kau masih disini bersamaku.

“Ternyata kau memang masih disini,” tegur seorang pria berambut cepak sambil menepuk pundak Junsu pelan.
“Ah, Chunie. Apa kabar?”
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini masih berada di toko?” tuding Yuchun heran.
“Bekerja.”
“Toko kan sudah tutup sejak tadi, lagi pula ini sudah jam sepuluh malam. Kau ini membuatku khawatir saja.”
“Maaf,” Junsu kembali tersenyum, namun dari tatapan matanya yang sendu Yuchun dapat merasakan kepedihan hati sahabatnya itu. “Ada apa mencariku?”
“Temani aku makan yah?”
“Jam segini?”
“Tentu saja.”
“Maafkan aku, tapi, setelah ini aku masih ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Kerja.”

Karena tanpa dirimu, tak ada lagi malam-malam yang tenang. Tak ada lagi tidur tanpa air mata. Tak ada lagi bangun pagi di sambut harum masakan yang kau buatkan. Oleh karena itu, aku menenggelamkan diri. Agar aku tak perlu pulang kerumah yang kosong tanpamu.

Tiga bulan yang lalu akibat kecelakaan lalu lintas, kekasih Junsu, Kim Jaejoong terengut nyawanya saat sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Hari itu ulang tahun Junsu, Jejung tengah menyiapkan malam kejutan untuknya.
Dan malam itu memang menjadi malam penuh kejutan serta tak akan pernah bisa ia lupakan.
Sepulang dari kerja, Junsu yang tak tahu apa-apa pulang kerumah dalam keadaan kosong. Namun harum masakan milik Jejung tercium dari arah dapur, ia berlari kesana. Berbagai makanan kesukaannya tertata rapih di atas meja, namun anehnya tak ada lilin di atas kue tartnya.
Saat bel pintu apartementnya berdentang, dikiranya Jejung lupa membawa kunci. Tergesa-gesa ia berlari kearah pintu dan membukakannya, tapi yang berdiri di balik pintu yang tertutup tadi ternyata adalah seorang pria bertubuh besar yang memakai seragam polisi.
Tiba-tiba hatinya diliputi kegelisahan, seakan tahu akan ada kabar buruk yang menantinya. Benar saja, Jejung di kabarkan sedang di larikan ke rumah sakit dan sebuah foto di dompet pria itu yang mengantar polisi tersebut ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah sakit, ia di antar memasuki sebuah ruangan di mana Jejung tengah terbaring kaku.
“Kami sudah berusaha melepaskan lilin yang di pegangnya, tapi kata ahli forensik itu mungkin akibat kebekuan di aliran darahnya yang membuatnya tak bisa terlepas,” jelas seorang dokter ketika melihat tanda tanya di kepala Junsu saat menatap benda yang di pegang Jejung.
Perlahan, dengan langkah berat dan tersiksa Junsu menyeret langkahnya dengan tertatih mendekati mayat Jejung. Lengannya terangkat, mencoba meraih sosok Jejung yang mengabur dari penglihatannya.
Matanya yang tadi terpejam kini terbuka, napasnya tersengal, peluh meleleh dari pelipisnya membuat anak-anak rambutnya basah yang serta merta membuat seprai dan bantalnya juga ikut lembab. Air mata mengalir di wajah, membasahi pipinya. Dengan mata terbelalak Junsu yang tak kuasa menahan haru kembali menangis.
Saat-saat seperti inilah yang ia takutkan, ia takut jatuh tertidur, takut jika harus memimpikan hal yang sama berulang-ulang. Perasaannya tak keruan bila harus mengenang malam kematian Jejung. Ia tak kuasa, ia tak berdaya.
Tak ingin tertidur lagi, Junsu meraih mantelnya dan keluar dari apartement. Hari masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas, langit masih berwarna kelabu dan udara masih berkabut.
Junsu merapatkan mantelnya, berjalan tanpa arah. Kemana saja langkah kakinya membawanya.

oOo

Ia duduk di atas pasir, menghadap kearah laut luas yang tak berbatas. Tak seharusnya ia sendirian, selama ini hal itulah yang paling ditakutinya. Namun kepergian Jejung yang sudah tiga bulan membuatnya lebih suka keadaan yang tenang dan sunyi.
Karena hanya di antara keheningan itu ia bisa mendengar suara hatinya yang menjerit dan kembali merasakan kehangatan Jejung yang tengah menghiburnya.
Junsu membenamkan kakinya yang telanjang ke dalam pasir berwarna putih keabuan yang hangat sehabis di panggang oleh sinar matahari seharian. Langit sore mulai berwarna kemerahan, membiaskan cahayanya ke permukaan air laut yang bereaksi seperti bunglon raksasa.
Kepalanya tertunduk dalam sampai sebuah sentuhan lembut di pundak kanannya memaksanya untuk mendongak. Terbelalak kaget melihat sosok akrab yang selama ini menemaninya Junsu tiba-tiba melompat dari duduknya.
Berdiri saling berhadapan dengan sosok di depannya.
“Hyung?”
Sosok itu tersenyum kelu. Wajahnya yang pucat nampak sendu, dan sekilas nampak air mata mengenangi matanya yang bulat.
“Su-ie…” ujarnya sembari mengangkat lengannya, menyentuh pelan wajah Junsu.
Junsu tak ingin memejamkan matanya, takut kalau ini hanyalah halusinasi semata. Yang akan lenyap ketika ia berkedip. Walau matanya perih, walau air mata tak bisa berhenti mengalir, ia bertahan. Mempertahankan sosok pria yang sangat ia rindukan. Yang membuatnya hampir gila saking merindukannya.
“Aku rindu padamu, Su-ie…”
“Hyung, kumohon jangan pergi lagi. Aku… tak bisa hidup tanpamu,” Junsu terisak.
“Aku tak ingin pergi, Su. Aku ingin disini bersamamu, tapi itu bukanlah kehendakku. Maafkan aku.”
“Aku, tak kuat lagi. Hyung, aku tak lagi sanggup tanpamu.”
Jejung mengenakan kemeja berwarna putih dengan celana panjang berwarna sama, ironisnya warna baju itu sama dengan warna kulit Jejung yang pucat. Ujung kemejanya berkibar di tiup angin yang berembus dingin.
Jejung merengkuh Junsu kedalam pelukannya, membelai pria itu. Ia juga merindukannya, teramat sangat rindu.
“Su… Maafkan aku, Su. Maaf aku tak ada di sisimu, maaf sudah meninggalkanmu sendirian. Tapi, aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu. Aku selalu berada di sampingmu walau kau tak menyadarinya.”
Junsu melepaskan pelukannya, tangisnya mulai mereda meskipun air mata tetap mengalir keluar.
“Bawa aku bersamamu, hyung. Biarkan aku ikut denganmu, kemanapun, dimana saja asal bisa bersamamu. Aku tak ingin hidup sendiri lagi, kumohon.”
Jejung menggeleng. “Tidak, Su. Kau masih punya jalan hidup yang panjang. Suatu hari nanti kau pasti akan menemukan seseorang yang bisa kau sayangi seperti kau menyayangiku.”
“Aku tak ingin orang lain selain dirimu.”
“Aku juga. Aku tak ingin ada orang lain yang menggantikan posisiku di hatimu, tapi aku tak boleh egois. Karena aku ingin kau bahagia.”
“Hyung…”
“Stt… Junsu, kau harus kuat. Kau adalah pria dewasa, selama ini kamulah yang selalu menjagaku, melindungiku. Sekarang aku ingin kau melakukannya untuk dirimu sendiri, berjanjilah.”
Junsu tak sanggup membuka mulutnya yang kelu, bibirnya kemudian bergetar. Ia berusaha menahan isak tangisnya yang mengaburkan pandangannya, yang membuatnya takut jikalau sosok nyata Jejung terhapus.
“Untukmu.” Jejung menyerahkan sebuah kotak beludru panjang berwarna merah. “Bukalah,” katanya lagi saat kotak itu sudah berpindah tangan.
Sebatang lilin tergeletak di dasar kotak beludru tersebut, dengan pandangan bertanya-tanya Junsu memandang Jejung.
“Setiap kali kau menyalakan lilin itu, aku akan datang untukmu. Saat lilin itu habis, saat itu aku sudah benar-benar menghilang dari dunia ini.”
“Tapi lilinnya hanya satu, hyung. Bagaimana bisa aku sering bertemu denganmu?”
Jejung hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Junsu. “Ada sesuatu yang tak sempat ku katakan padamu sebelum aku pergi.”
“Apa?”
“Selamat ulang tahun… Memang sudah lewat tiga bulan, tapi waktu itu aku tak sempat mengucapkannya padamu.”
Perlahan sosok Jejung memudar, wajah pucatnya menyatu dengan udara malam. Junsu berusaha menggapai sosok pria itu, namun tangannya tertembus udara.
“Aku mencintaimu, Su-ie…”
Ucapan itu yang terakhir kali di dengarnya sebelum Jejung benar-benar menghilang, membaur dengan kabut malam. Kini Junsu kembali sendirian, tiba-tiba ia merasa takut. Ia kedinginan, dan perasaannya campur aduk.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki sehabis menangis tadi ia berlari, menjauhi dataran berpasir menuju jalan raya. Ia melupakan mobilnya yang terparkir anggun di dekat pantai, kakinya terus berlari menuju suatu tempat sambil di salah satu tangannya masih memegang kotak pemberian Jejung.

“Junsu?” kehadiran Junsu dengan napas tersengal di depan pintu apartementnya secara otomatis membuat Yuchun khawatir. “Ada apa denganmu?”
“Aku habis bertemu hyung, barusan, di pantai, hyung…” cecar Junsu tak keruan.
Yuchun lalu menarik pria itu masuk ke dalam apartement yang hanya ia tinggali sendirian. Menuntun pria itu ke atas sofa di depan televisi. Yuchun menghilang sebentar dan kembali dengan membawa dua cangkir kopi hangat di tangannya.
“Minumlah dulu, kau nampak berantakan.”
Junsu mengambil salah satu cangkir yang di bawa oleh Yuchun, dan memegangnya dengan kedua tangan tanpa berniat meminumnya. Ia hanya menyukai kehangatan yang mampu diberikan oleh secangkir minuman itu.
“Ceritakan bagaimana kau bertemu dengannya, aku mendengarkan.”

“Aku tahu ini tak masuk akal, tapi ini adalah kenyataan. Jejung hyung bahkan memberiku ini,” kata Junsu mengakhiri ceritanya seraya menyodorkan kotak pemberian Jejung padanya.
“Aku percaya…”
Junsu kaget dengan respon sahabatnya itu, ia mengira pasti ia akan di anggap sudah gila tapi…
“Dia pasti muncul di depanmu karena bisa merasakan kepedihan hatimu meski kau tengah tertawa, ia pasti datang untuk meringankan rasa sakitmu.”
“Tapi mengapa hanya sebentar? Bukannya itu malah akan semakin menyakitiku?”
“Junsu, aku memang tak bisa menjawab pertanyaanmu. Tapi aku tahu dengan pasti, Jejung hyung tak ingin melihatmu terus bersedih seperti sekarang, ia tak ingin melihatmu terus memaksakan diri. Jika kau ingin menangis, maka menangislah, jika nanti kau tersenyum maka tersenyumlah dengan segenap hatimu.
“Mungkin selama ini kau pikir hanya dirimu seorang yang menderita, tapi lihatlah aku, lihatlah orang-orang yang berada di sekitarmu. Kami juga bersedih, Jejung hyung juga memiliki arti di hati kami masing-masing walaupun itu tak sekuat perasaanmu padanya. Dan yang membuat kami semua lebih sedih adalah melihatmu terus menahan perasaanmu.
“Padahal jika kau terluka tak masalah, semua orang pun bisa terluka. Tapi bukan berarti kau harus ikut-ikutan terpuruk dalam kesedihan, hidup masih berlanjut dan jalan hidup masih sangat panjang. Junsu, kau harus berjalan maju. Jangan terus terpaku pada kenangan, kau harus belajar menerima kematiannya.”
Yuchun meletakkan sebelah tangannya di pundak Junsu yang bergetar, sambil tersenyum ia kembali berkata, “berjuanglah.”
Dan sedetik kemudian air mata mengalir di wajah Junsu bagai aliran air keran yang deras, tak ada henti-hentinya. Hatinya terasa perih namun sekaligus hangat. Tubuhnya bergetar demikian hebat, tapi ia tahu ia tak sendirian. Ada orang-orang yang menyayanginya yang akan terus bersamanya.
Mungkin Jejung memang sudah tiada, ia juga tak akan bisa menemuinya lagi, tapi masih ada satu lilin yang bisa membawa Jejung ke hadapannya. Dan Junsu sudah berjanji dalam hatinya, ia tak akan menyalakan lilin itu sampai ia siap melepas Jejung untuk selamanya.
Sekarang, mulai saat ini hidupnya kembali di mulai. Memulai semuanya dari awal pasti akan terasa berat, tapi semuanya tidak masalah. Ia akan bisa melalui semuanya lagi, kembali hidup dengan baik seperti saat ia masih bersama Jejung. Lagipula, Jejung tak benar-benar meninggalkannya, ia sudah berjanji akan bersamanya selamanya.

-Fin-


One thought on “[Yaoi] Lonely… Candle Light

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s