[Yaoi] Don’t Goodbye


Cast :: Kim Jaejoong/Jung Yunho

Pairing :: YUNJAE/YOOSU

OC :: Kim Junsu/Park Yoochun/Shim Changmin

Disclaimer :: Fanfic ini terinspirasi dari salah satu cerita di komik Salad Days. Tapi keseluruhan isi cerita adalah murni milik saya!!

Warning :: DON’T BE A SILENT READER !! AND DON’T COPAS THIS FANFIC WITHOUT MY PERMISSION !!

O

o

o

“Jungie, tunggu. Tunggu aku…”
Ia nampak tergesa-gesa, menjauhi tatapan yang dilemparkan kearahnya akibat seorang pria berkacamata tebal dengan tas di tangan dan baju kedodoran sedang mengejarnya dengan napas tak beraturan.
“Eh, lihat. Itu Jejung oppa,” seseorang berteriak dari arah yang berlawanan.
Jejung, pria itu mendengar obrolan mereka dan segera berbalik arah. Tanpa menoleh ke belakang ia menyeret pria yang sejak tadi bersusah payah mengejarnya bersamanya. Mereka memasuki gang kecil yang sempit.
Masih dengan napas tersengal Jejung mengintip, mencari lihat kalau-kalau segerombolan cewek tadi melihatnya masuk ke gang sempit itu dan menemukannya.
Tiba-tiba sentuhan halus beraroma camomile dari sapu tangan menyentuh dahinya, Jejung terperanjat. Namun wajahnya melembut ketika menatap jauh kedalam kacamata tebal di depannya.
“Sepertinya aku sudah membuatmu malu,” ujar pria berkacamata itu sedih.
Merasa tak enak Jejung menggeleng kuat-kuat. “Tentu saja tidak, jangan bicara begitu.”
“Lalu apa? Mengapa kita harus selalu bersembunyi jika sedang bersama-sama?”
Jejung gelagapan. Terlebih lagi melihat genangan air mata pria itu. Tapi ia tak kuasa menjawab pertanyaan yang di lontarkannya barusan, jadi Jejung diam saja sembari tetap menunduk dalam.
Beberapa saat kemudian wajahnya yang tertunduk terangkat oleh desakan jemari telunjuk Yunho.
“Tidak apa,” kata Yunho tersenyum. “Aku tidak apa-apa, jangan menunduk terus nanti lehermu sakit.”
Kini gantian Jejung yang hampir menangis dengan genangan air mata di matanya yang besar.
“Mau kerumahku?”

Jejung tertegun di ambang pintu kamar Yunho, rasanya aneh melihat kamar Yunho yang rapi seperti sekarang ini. Semua benda berada di tempatnya, tak ada cd-cd berserakan, tak ada sisa-sisa makanan di taruh sembarangan. Kamar itu seperti kamar milik orang lain saja. Seprainya bersih, karpetnya baru di cuci, dan yang paling ia sukai kamar itu berbau harum.
“Mengapa diam saja? Ayo masuk,” tegur Yunho sambil mengibaskan tangannya kearah Jejung sebagai isyarat untuk mendekatinya. “Heran melihat kamarku yah?” tak kuasa menjawab Jejung mengangguk.
Yunho terkikik kecil dan bergumam tak kentara namun Jejung tak perduli. Ia malah sibuk mendekati rak tempat Yunho menyimpan cd-cd koleksinya dan mengambil salah satunya, kemudian ia mendekati dvd player yang berada tak jauh dan memutar cd yang di ambilnya.
Perlahan musik mengalun lembut mengitari seluruh penjuru ruang kamar Yunho yang dibaui lilin aromatherapy beraroma camomile dan kayu manis. Seketika Jejung merasa nyaman dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Yunho yang seprainya baru di ganti.
“Sebentar lagi tanggal 26 januari,” Yunho sembari menunjuk kalender yang sudah di tandainya sejak jauh-jauh hari.
“Iya, tak terasa umurku akan bertambah lagi,” Jejung mendesah berat terdengar tak menyukai gagasan itu. Sementara Yunho kembali terkikik kecil.
“Mau hadiah apa dariku?” tanya Yunho akhirnya.
“Tak usah repot-repot,” jawab Jejung tak acuh, sibuk membolak-balik halaman majalah di tangannya.
“Aku tetap ingin memberimu sesuatu, temui aku nanti di taman jam tujuh.”
Jejung memutar kepala dan bertemu tatap dengan Yunho, lama tak ada yang memalingkan muka ia pun mengangkat bahunya dengan sikap tak acuh. “Lagipula aku tak punya acara lain,” katanya.

O

o

o

“Apa? Kencan ganda?”
Jejung yang saat itu sedang sibuk dengan kerjaannya di kejutkan dengan kedatangan sahabat baiknya Junsu yang mengajaknya untuk berkencan ganda.
“Hu um, kata Yuchun dia akan memperkenalkanmu dengan seorang pria tampan. Jadi rugi kalau tak ikut.”
“Memangnya tak ada orang lain yang bisa kuajak?”
Nyali Jejung menciut seketika saat Junsu melemparkan pandangan melotot siap menerkam kearahnya. “Tentu saja,” jeritnya tiba-tiba membuat Jejung tanpa sadar menutup telinganya. “Kan sudah kubilang kalau kencan ini kuatur khusus untukmu. Pokoknya kau ikut, apapun alasannya!”
“Tapi, aku…”
Junsu kembali melotot namun kali ini Jejung tak sedang melihatnya. “Memangnya kau sudah punya pacar?”
Jejung tersedak, kopi yang baru diminumnya setengah sebagian besar tumpah ke atas meja. Dengan gemas ia meraih tissu dan menyeka cairan berwarna coklat tersebut sebelum membuat kertas-kertas di atas meja yang berserakan tak bisa di pakai lagi.
“Kau sudah punya pacar?” tanya Junsu menyelidik sekali lagi.
“Te-tentu saja tidak.”
“Kalau begitu dengar kataku.”
Kini ia harus pasrah.

O

o

o

Cuaca nampak cerah, hari menjelang sore namun langit masih berwarna biru kekuningan. Langit hampir tak berawan. Jejung berjalan keluar rumah dengan memakai kaus oblong berwarna putih berbelahan dada rendah serta jins dan topi, ia nampak sangat tampan di bawah topi yang ia pakai.
Wangi vanilla bercampur aroma musim panas tercium dari tubuhnya. Ia terlihat begitu segar, wajahnya sumringah. Meskipun masih enggan untuk ikut kencan buta yang di atur oleh Junsu, Jejung juga penasaran ingin bertemu pria yang di agung-agungkan oleh sahabatnya yang satu itu.
Beberapa saat kemudian ia dengan Junsu sampai di pelataran parkir sebuah cafe elit di pinggir jalan pusat kota. Jejung berjalan di belakang Junsu, membiarkan Junsu membimbingnya.
Mereka masuk ke dalam cafe tersebut, masih mengikuti Junsu yang saat itu menghampiri segerombolan pria di salah satu sofa yang terletak di bagian sudut yang tak banyak mata dapat melihat langsung kearah sana.
“Hai,” sapa Junsu kepada orang-orang yang berkumpul itu. Dari belakang punggung Junsu, Jejung berspekulasi menghitung kepala orang-orang tersebut ada enam orang. Banyak juga, pikirnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok berkacamata duduk tanpa suara di antara jejeran orang-orang tersebut. Jejung langsung salah tingkah, meskipun masih sempat memikirkan apa seharusnya tindakannya sebelum melakukan hal konyol.
“Lho, Jungie,” panggil sosok berkacamata itu riang tanpa menyadari tatapan-tatapan penuh tanya kearah Jejung.
Dengan sisa rasa malu Jejung menarik Yunho ke arah toilet dengan tergesa-gesa.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jejung dengan suara tinggi.
“Mereka mengajakku, karena sedang tak ada latihan jadi aku ikut saja,” Yunho menjawab seadanya. “Kau sendiri?”
“Sebetulnya, aku kesini karena…”
“Karena kau sedang disini,” potong Yunho sebelum Jejung sempat menyelesaikan kalimatnya. “Bagaimana kalau sekalian ku kenalkan kepada mereka kalau kau adalah kekasihku?” Tanpa pikir panjang dan dengan perasaan senang yang menggebu-gebu Yunho langsung meraih lengan Jejung yang langsung di tampik olehnya.
“Tidak. Tunggu.”
Yunho terdiam.
“Aku… biarkan sehari ini saja. Kumohon, aku ingin bebas.”
“Bebas? Apa maksudmu Jungie?”
“Biarkan aku bergaul dengan mereka tanpa harus memberitahu bahwa kita berpacaran, bahkan aku tak ingin mereka tahu hubungan kita.”
“Begitu yah,” raut wajah Yunho yang sumringah tiba-tiba berubah suram.
Ada perasaan tak tega di hati Jejung saat menatapnya, namun ia sudah kepalang basah. Sudah terlanjur, dan mungkin saja ini kesempatan untuknya.
“Kalau begitu, aku duluan yah. Mereka pasti sudah menunggu.”
Langkah Yunho lebar-lebar saat meninggalkan Jejung di toilet. Sambil tetap berusaha menahan air mata yang hampir mengalir di pipinya ia kembali ke kerumunan teman-temannya.

“Hyung, kau kenal dengan Jung Yunho yah?” tanya Junsu saat ia kembali dari toilet.
“Kami bertetangga.”
“Ooo…”
“Jejung hyung,” panggil Yuchun. “Mau kukenalkan dengan temanku kan? Pilih saja, siapa yang kau suka?”
“Ah,” Jejung gelagapan. Tapi demikian tatapannya justru menyisir semua teman-teman yang di bawa oleh Yuchun, dan tanpa sadar ia berhenti saat matanya tertumbuk pada sosok jangkung pria berambut gondrong di dekat Yunho.
“Itu…” gumamnya tak kentara.
“Namanya Shim Changmin. Dia keren yah?” sadar Junsu.
“He eh..”
Junsu kemudian berbisik di telinga Yuchun kekasihnya, dan setelah itu Yuchun malah sudah berada di dekat Changmin. Sambil mengobrol sesekali mereka melihat kearah Jejung.
Sementara Yunho yang duduk berjauhan dari Jejung hanya bisa memandangi kekasihnya itu dengan tatapan sedih dan cemburu. Apalagi saat Jejung akhirnya berkenalan dengan Changmin dan mulai terlihat mengobrol. Hanya perasaan dongkol yang menjadi temannya dan juga minuman keras.

Tak terasa hari beranjak malam, setelah menghabiskan berbotol-botol bir dan macam-macam kudapan di atas meja mereka akhirnya memilih untuk segera pulang. Di luar, Yunho menunggui Jejung yang masih asyik mengobrol dengan Junsu dan Yuchun.
Yunho kemudian mendekat dan berbisik di telinga Jejung, “Jungie, ayo pulang,” ajaknya.
“Hyung, Changmin sudah setuju mengantarmu pulang tuh,” celoteh Junsu senang tanpa peduli tatapan nelangsa yang di lemparkan Yunho kearahnya.
Sebelum memutuskan untuk pulang dengan Changmin, Jejung menatap Yunho dengan tatapan memelas. Meminta pengertian. Akhirnya Yunho yang merasa di abaikan pun menarik sebaris senyum paksa di wajahnya, sambil terus menunduk ia mengambil jalan pulang di depan Jejung dan Changmin.

O

o

o

“Apa maksudnya semalam itu, Kim Jaejoong?! Maksudmu ingin bebas sehari saja tetapi untuk selamanya kan? Iya kan?” terdengar suara Yunho di seberang telpon meninggi sementara Jejung tak bisa berbuat apa-apa karena rasa bersalahnya.
“Maafkan aku Yunhie, jangan marah-marah lagi yah?”
“Bagaimana mungkin aku tak marah? Kau malu untuk mengakui diriku di depan teman-temanmu dan terlebih lagi kemarin kau membiarkanku pulang sendirian sementara kalian entah mungkin sedang bersenang-senang di belakangku!” tebak Yunho.
“Tunggu dulu, dengar dulu penjelasanku, ini karena Junsu…”
“Ah sudahlah, jangan bawa-bawa nama orang lain lagi,” potong Yunho tak sabaran. “Jungie, hanya kaulah yang tahu apa yang sebenarnya kamu mau. Dan mungkin bukan aku.”
Tut..tut..tut
Sambungan telpon terputus, Jejung masih termenung di samping gagang di dekat telinganya. Sedetik kemudian ia berteriak “DASAR YUNHO BODOH!!”
Ring.. ring
Telpon kembali berdering. Jejung bergegas mengangkat tanpa mencari tahu siapa yang menelponnya karena dikira Yunho yang menelpon untuk minta maaf.
“Kalau mau minta maaf, aku sedang tidak bersadia untuk melakukannya!” ujarnya marah.
“Sepertinya aku menelpon disaat yang salah,” suara lembut di seberang membuyarkan amarah Jejung. Tiba-tiba wajahnya memerah entah mengapa. Tanpa mengerti masalahnya dadanya berdegup demikian cepat. Jejung lalu buru-buru meminta maaf.
“Santai saja,” kata Changmin masih dengan suaranya yang halus.
“Oh ya, ada apa menelponku?”
“Aku hampir lupa, kau ada acara tanggal 26?”
Jejung melirik sekilas kalender di tanggal yang di tandainya lalu buru-buru menjawab. “Tidak.”
“Aku ingin mengajakmu makan di restoran, mau tidak?”
“Tentu saja.”
“Habis kudengar hari itu hari ulang tahunmu kan?”
“I-iya…”
“Baguslah kalau kau memang tidak ada acara. Kalau begitu nanti kutelpon lagi yah?”
Suara sambungat di putus sepihak segera menggantikan suara merdu Changmin namun Jejung tampak tak ingin beranjak dari sana. Ia kembali melirik kalender bertanda merah tersebut, lalu mengacuhkannya lagi.

O

o

o

“Karena hari ini ulang tahunmu, jadi biar kutraktir. Terserah kau mau makan di restoran mana, pilih saja.”
Jejung saat ini mengenakan lengan panjang rajut berwarna pink dengan celana khaki, sementara Changmin berpakaian cukup santai dengan celana seperempat dan kemeja yang kancing bagian atasnya di biarkan terbuka setengah sehingga memperlihatkan otot-otot bisepnya.
Setelah lama kebingungan dengan pilihan restoran yang ingin di cobanya akhirnya mereka berdua masuk ke dalam restoran prancis.
Langit mulai mendung, awan-awan berwarna hitam saling menggulung dan membentuk gumpalan tak senada di bawah langit.
Jejung dan Changmin baru saja selesai menghabiskan makan malam romantis mereka. Dengan perut kenyang dan pikiran yang untuk sementara tidak memikirkan Yunho Jejung terlihat amat bahagia.
“Oh ya, habis dari sini kau mau tidak ikut denganku?”
“Kemana?”
“Ke tempat yang menyenangkan, mau kan?”
Jejung serta merta membalas senyuman Changmin. Saat itu tiba-tiba hujan deras jatuh dari langit. Tanpa sadar Jejung kembali merasa tak tenang. Ia teringat akan janjinya dengan Yunho di taman, meskipun mungkin Yunho sudah pulang saat ini tapi pria itu sangat nekad. Bahkan mungkin saja ia masih menunggu kedatangannya.
Changmin dan Jejung berjalan beriringan di bawah satu payung, tubuh Changmin terasa hangat. Ingin rasanya Jejung bersandar sebentar di dadanya yang bidang.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan sebuah gedung, Jejung mendongakkan kepala sambil celingukan mencari tahu tempat apa itu dan matanya seketika melebar saat melihat tulisan yang di buat dari papan dan di hiasi lampu-lampu berwarna norak. Changmin membawanya ke love hotel.
“Kenapa kita disini?” tanya Jejung polos.
“Bukannya sudah kubilang aku akan membawamu ketempat yang asyik?”
Menyadari lengan kokoh Changmin tersampir di bahunya Jejung kemudian mendorong tubuh Changmin sekuat tenaga. Tanpa perduli curahan air hujan ia berlari tanpa arah, mencari alternatif terdekat untuk bisa menjangkau taman tempat ia dan Yunho janjian jauh-jauh hari.

Langkah Jejung terhenti ketika akhirnya ia sampai di taman. Namun tak ada seorang pun terlihat disana, sementara hujan sedikit demi sedikit mulai mereda.
“Kukira kau tak akan datang.”
Jejung terlonjak kaget. Cepat-cepat ia memalingkan kepala dan mendapati sosok Yunho yang basah kuyup tengah tersenyum kearahnya. Seketika sebuah perasaan mengalir dari relung jiwanya.
“Apa yang kau lakukan masih disini basah kuyup begini?” tanya Jejung setengah menjerit.
“Kau juga basah kuyup kan,” tuding Yunho.
Tiba-tiba air mata mengenangi mata Jejung, bibir dan tubuhnya bergetar. Perasaan haru barusan yang menghujam ke ulu hatinya kini menyebar luas di sekurjur tubuhnya, membasuhnya dengan perasaan baru yang hangat. Perasaan penuh cinta yang hanya bisa ia dapatkan dari Yunho.
Tak kuasa menahan tangis Jejung pun terisak. Tubuhnya jatuh terpekur di atas tanah basah. Air masih perlahan berjatuhan dari langit tapi kini rasanya tak lagi seperti tusukan jarum, melainkan belaian lembut dari yang maha kuasa.
Pelan-pelan Yunho mendekatinya, membantu Jejung berdiri dari keterpurukannya. Mata Jejung yang penuh air mata terbelalak melihat sosok asing di hadapannya.
Yunho tersenyum, “meskipun kau bilang tak ingin aku repot memberikanmu hadiah, aku tahu apa yang paling kau butuhkan.”
Bukan hanya Yunho sudah melepas kacamatanya yang selama ini selalu mendampinginya, pria itu juga mengganti kemeja kedodorannya dengan kaus oblong dan jaket, celana kainnya di ganti dengan celana khaki berwarna krem. Rambutnya di atur sedemikian rupa, kini ia berponi yang membuat wajah ovalnya terlihat macho.
Jejung mengangkat kedua tangannya, ragu-ragu menyentuh wajah Yunho. Kemudian ia menangis. “Mengapa?” tanyanya di antara isak tangisnya.
“Demimu. Aku tak ingin membuat kekasihku merasa malu atas diriku,” Yunho diam sebentar sambil menghapus sisa-sisa air mata Jejung. “Maafkan atas keegoisanku selama ini, sudah membuatmu tak berani memperkenalkan diriku pada teman-temanmu. Aku janji mulai sekarang, aku akan menjadi seseorang yang akan selalu membuatmu bangga,” ujar Yunho panjang lebar.
“Tidak,” kata Jejung sambil sesekali menggeleng. “Aku yang harus minta maaf, harusnya aku tak boleh malu hanya karena kau kutu buku dan memakai kacamata. Aku minta maaf…”
“Ssst… sudahlah, jangan menangis lagi. Mulai sekarang maukah kau berjanji? Untuk selalu mengatakan apa yang kau rasakan, dan jangan menyembunyikan apapun lagi.”
Jejung mengangguk dalam sekali dan berkali-kali. Melihat itu Yunho langsung merengkuhnya kedalam pelukannya, memeluknya erat.
Dilepaskannya pelukannya, lama hanya di tatapnya saja wajah cantik Jejung sementara perlahan bibirnya mulai mencari bibir Jejung. Hingga akhirnya di temukan Yunho tak lagi ingin melepaskannya.

oOoTAMAToOo

 

PLEASE DON’T BE A SILENT READER… COMMENT ARE REALLY REALLY LOVE…

THANKS FOR ENJOY :D


8 thoughts on “[Yaoi] Don’t Goodbye

  1. Ohhh…
    Jd yun appa nerd ya,trus jae umma malu,halah umma appa mah mau nerd kek teteup aja cuaakeep teunan >,<
    umma kalo gamau cama appa sini kasih appa ke aku /plaaakplak

    Like

  2. sebenernya sih cerita nya seru thor. cuma saya kurang menikmati ff yaoi sih-_-
    jd rada gimanaaaa gitu >.< mian😦
    tp cerita nya keren kok!

    Like

  3. mianhe kalo ga nyambung dan mian saya kan udah comment sebelumya, ahihi ^^

    SM Town Fanfiction kok sekarang sepi ya? setiap hari saya buka blog ini dan biasanya udah muncul 2 ato 3 fanfic baru, tapi hari ini kok ga ada yg baru?
    Saya nyadar posisi saya cuman sebagai seorang reader tapi sekali lagi mian saya pengen baca fanfic jadi tolong dipercepat ya proses menulisnya..

    Mianhe mianhe mianhe chingus ^^

    Like

    1. Waah maap reader, berhubung rata2 author disini masih sklh jadi mungkin masih pada sibuk😀
      Ubek2 aja dulu ff disini syp tau ada yang kelewat n blom sempet dibaca^^
      Gomawo…

      Like

  4. yeay, yunjae couple again. my favo pairing😆 after onkey,

    sempet mkr sbnrnya knp sblumnya yunho pts dl ampe jaenya sadar sndr eh ternyata sdah ada penyelesaian lain yang lagi-lagi yunho mengalah. wkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s