The Reason :: DAY AND NIGHT [chapter 02]


THE REASON 02

Tittle ;; DAY AND NIGHT :: HEAVEN TEARS

Author ;; Goetary21

Pairing ;; YUNJAE/JAESU

Cast ;; Kim Jaejoong/Jung Yunho/Kim Junsu

Rating ;; General/PG-13

Genre ;; Romance/Broken heart/Drama/Yaoi

Length ;; 2 shoot (?) mini series

Disclaimer ;; This fanfic is purely mine.

Warning ;; Don’t copas without my permission!!

Setelah chap ini, untuk chapter selanjutnya tergantung para readers, kalo banyak yang comment pasti akan di lanjut…

So, Enjoy!!

Mungkin tuhan marah padaku

Karena sering menyakitimu

Bersamaan dengan hantaman besi beroda besar tersebut tubuh Yunho terlempar. Di antara kesadarannya yang semakin menipis satu-satunya harapan yang masih tersisa hanyalah Jejung. Ia merindukan pria itu. Ia ingin menjelaskan semua hal yang membuat mereka berdua tak jadi menikah. Namun mungkin semua itu tak akan pernah bisa terjadi, karena di sisi Yunho ia merasa tak sanggup hidup lagi. Seolah bayangan malaikat pencabut nyawa sedang menanti kedatangannya segera sesaat sebelum ia menutup mata.

-Masa sekarang-

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah hampir setahun sejak kepergian Yunho. Sejak itu pula Jejung berusaha untuk bisa hidup senormal mungkin. Rutinitas harian di restoran memang bisa mengalihkan perhatiannya untuk sementara waktu, namun ketika hari beranjak malam dan ia harus kembali ke apartement yang dulu ia tinggali bersama Yunho kenangan-kenangan yang muncul selalu mampu membuat pertahanannya runtuh.

“Hyung,” tiba-tiba saja Junsu sudah berada tepat di depan Jejung yang masih termenung di belakang meja kasir.

“Hmm?”

“Jangan melamun terus begitu, bagaimana kalau hari ini kita kencan?” tanya Junsu dengan sikap tak acuh sembari mencomot roti yang masih baru habis di panggang di atas lemari kaca.

“Kencan?”

“Memangnya kenapa? Kau tidak sedang menemui orang lain kan?”

“Junsu, kau ini ada-ada saja.”

Junsu tersenyum simpul, “kalau begitu kujemput kau sejam lagi, aku harus pergi ke suatu tempat.”

Jejung mengangguk setuju, memandangi punggung Junsu yang menjauh kekosongan di hatinya perlahan terisi dengan perasaan asing yang tak ia kenali.

Ia merapatkan mantelnya, memeluk tubuhnya yang kedinginan lebih rapat. Pandangannya yang tajam terpusat ke seberang toko roti, getaran listrik menjalar di seluruh tubuhnya saat menyaksikan tawa menghias lebar di wajah tampan pemilik toko.

Air mengenangi pelupuk matanya yang sipit, bibir tebalnya bergetar. Gumpalan asap putih mengepul keluar dari mulutnya saat ia mendesah berat, udara semakin dingin namun ia tak kuasa berpindah tempat. Tak ingin pergi telalu jauh.

Kemudian seorang pria tampan mengendarai mobil sport merah memasuki restoran tersebut, menyapa sang pemilik toko dengan kecupan singkat di pipinya yang kemerahan. Seketika kecemburuan menyergapnya. Ia pun berpaling pergi.

Junsu kembali dengan sebuket mawar merah kesukaan Jejung, di serahkannya buket itu dan kembali menghujani Jejung dengan ciuman-ciuman ringan.

“Maaf, hanya sedikit terlambat kan?” tanya Junsu merasa bersalah.

“Tak apa,” Jejung tersenyum.

“Bagaimana? Siap untuk kencan kita?”

“Memangnya mau kemana?”

“Aku sudah beli dua karcis teater black swan, kau pasti suka. Kudengar ini adalah saudara tiri white swan yang jahat,” oceh Junsu.

Jejung mendengarkan setiap obrolan Junsu, sesekali tertawa ketika pria itu melontarkan lelucon orang tuanya, atau hanya sekedar menjawabnya dengan gumaman-gumaman singkat. Jejung sangat suka setiap kali berada di samping Junsu, ia tahu ia tak harus berpura-pura memiliki kehidupan yang normal layaknya orang lain. Karena Junsu selalu membuatnya nyaman di dunianya sendiri.

Tanpa sadar Jejung menoleh, menemukan sosok pria bertubuh besar di seberang jalan di bawah lampu jalan. Ada sesuatu yang aneh dari pria itu, entah apa namun Jejung seakan mengenalnya.

“Hyung, ayo jalan,” Junsu menarik bahu Jejung dan memeluknya lalu mempersilahkan pria itu masuk ke dalam mobilnya.

“Terima kasih untuk malam ini,” ujar Jejung saat Junsu mengantarnya sesudah menonton teater dan makan malam romantis. “Sebaiknya kau pulang saja, ini sudah malam.”

“Hyung,” panggil Junsu. “Kau tak mau menyuruhku masuk? Untuk minum kopi?”

Jejung tersenyum, “ini sudah malam lagi pula aku sudah lelah. Lain kali saja yah?”

Junsu cemberut namun kemudian ia tersenyum ketika Jejung mendaratkan bibirnya yang kemerahan di atas pipinya. “Hyung, sekali lagi.”

“Hihi, itu saja sudah cukup. Terima kasih untuk malam ini yah, aku masuk dulu,” Jejung keluar dari kursi penumpang mobil Junsu dengan membawa buket bunga pemberiannya. Di saksikannya mobil Junsu melenggang pergi meninggalkannya. Masih dengan tersenyum Jejung memutar badannya, namun siluet berbaju hitam di seberang jalan kembali mengusiknya. Di pandanginya sebentar sosok berbaju hitam itu sebelum masuk ke dalam rumah dengan ribuan pertanyaan dalam benaknya.

Dalam derita aku belajar membuat cintaku tak egois.

Ia tahu Jejung kini sudah bahagia bersama Junsu, namun masih juga tak sanggup meninggalkan mereka. Karena jauh di dasar hatinya, ia masih berharap agar Jejung mengingatnya. Walau sedikit.

Jejung tengah membersihkan jendela luar restorannya, dengan tangga di bawah kakinya ia menyeka setiap debu yang ada di atas kisi-kisi jendela. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan, sesosok pria yang ia kenali nampak tengah memandanginya. Jejung refleks memutar badannya, kakinya kemudian segera kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya oleng, tangga yang di pijaknya bergoyang. Jejung benar-benar sudah tak dapat menguasai berat tubuhnya. Akhirnya kain dan kemoceng yang di pegangnya jatuh terlempar, sementara dirinya pun ikut terjerembab. Jejung memejam erat matanya, menanti rasa sakit yang luar biasa oleh kejatuhan dirinya. Tapi, lama ia malah merasa sedang melayang di udara.

Perlahan di bukanya matanya, dan waktu seakan berhenti. Semilir angin berhembus, seiring desiran harus perlahan menjalar masuk ke dalam sanubari Jejung. Kemudian hanya dalam sekejab mata Jejung sudah berdiri, sementara di hadapannya pria yang sejak beberapa hari lalu seperti sedang membuntutinya kini berada tepat di depannya.

“Yunho?” bisik Jejung lemah.

Pria itu memandangi Jejung dengan mata sipitnya yang familiar. Desiran halus kembali merasuki dada Jejung.

“Yunnie,” tiba-tiba saja Jejung sudah berada dalam pelukan Yunho. Merangkul erat pinggang pria itu, “ya Tuhan, betapa aku sangat merindukanmu.”

Dengan enggan Yunho melepas pelukan Jejung dan dengan tegas berkata, “maaf, anda salah orang.”

Jejung nampak tak bisa menerima kenyataan, ia bersikeras bahwa pria itu seharusnya bernama Jung Yunho. Jung Yunho kekasihnya. Tapi sesering ia mendesak, sesering itu pula pria tersebut menolaknya.

“Kalau anda bernama Kang Daiji mengapa anda mengikuti saya terus sejak kemarin?” tanya Jejung yang mulai pasrah dengan keteguhan Daiji.

Terlihat malu-malu Daiji menjawab, “saya dengar anda adalah koki terbaik di sini, saya ingin meminta anda mengajari saya cara membuat tiramisu.”

“Untuk apa?”

“Kekasih saya dua minggu lagi akan ulang tahun, dan tiramisu adalah kue kesukaannya. Kupikir akan menjadi kejutan yang menyenangkan baginya,” Daiji tersenyum lebar. Entah mengapa senyuman itu malah membuka luka besar di hati Jejung.

“Memangnya apa peduliku?!” ketus Jejung tanpa sadar. Melihat perubahan ekspresi wajah Daiji, Jejung langsung meminta maaf dan setuju memenuhi permintaan pria itu.

Karena ada suatu dorongan dalam dirinya. Yang mengingatkannya kalau suatu hari nanti entah bagaimana caranya Jung Yunho pasti akan kembali ke dalam pelukannya seperti sedia kala.

Langkah Junsu tertahan di ambang pintu restoran Jejung. Matanya sejak tadi terus memperhatikan sosok Daiji yang melenggang kesana-kemari dengan celemek yang tak cocok melingkar di pinggangnya yang nampak kokoh dan padat. Dari tatapan Junsu, Jejung tahu benar apa yang di maksud pria itu. Junsu sedang menuntut jawaban dari Jejung.

“Apakah dia Jung Yunho? Mantan kekasihmu dulu?” tanya Junsu enggan.

Jejung menggeleng, tapi dari raut wajahnya jelas pria itu merasa senang. Ada perubahan emosi di dalam diri pria itu yang membuat Junsu merasa tak nyaman.

“Namanya Kang Daiji, dia datang dari Busan dan baru beberapa bulan berada di Seoul,” jelas Jejung.

“Lalu apa yang ia lakukan disini?”

“Ia sedang belajar membuat tiramisu untuk kekasihnya.”

Kembali Junsu bisa melihat perubahan di diri Jejung saat ia menyebut kekasih Daiji. Tapi di acuhkannya, meskipun kini ia harus lebih berwaspada. Bisa saja suatu hari nanti Jejung justru menyukai Daiji, bagaimanapun Daiji sangat mirip Yunho mantan kekasih Jejung. Itu adalah suatu kebetulan yang tidak mengenakkan baginya.

Daiji memasukkan telur di atas loyang.

Diam-diam memandangi Jejung yang sedang melayani para tamu di meja kasir. Menerima, mengambil pesanan mereka lalu menyerahkannya sambil tersenyum manis. Tanpa sadar ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman, namun tidak demikian dengan pancaran matanya yang datar.

Jejung kemudian berpaling kearahnya sebelum mengambilkan pesanan pelanggan, Jejung tersenyum. Sementara Daiji mematung di tempatnya, antara ingin membalas senyuman itu atau berwajah dingin saja sampai akhirnya ia pun tersenyum tapi Jejung sudah tak melihatnya lagi.

“Bagaimana?”

Daiji mendongak, terkejut dengan kedatangan Jejung yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya untuk mengecek hasil buatan Daiji.

“Entahlah, tapi aku sudah bisa memasukkan telur tanpa menghancurkan cangkang dan membuat kotor seperti yang sudah-sudah.”

“Itu adalah kemajuan, selamat yah. Kalau kau menemui kesulitan, beritahu aku nanti.”

Daiji mengangguk pasti.

I used to sleep by your side

Holding you through the night

Air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam. Bibir bawah Yunho bergetar, tak sanggup menahan sakit di hatinya ia menarik bibir bawahnya ke dalam mulut dan menggigitnya dengan gigi depan atasnya.

And sometimes we would argue and fight

Ironisnya hari itu baik sekali. Langit bulan Januari tak berawan dan demikian birunya hingga menyilaukan bila dipandang. Penglihatan tak terbatas. Angin sejuk berembus lembut.

Lalu lintas lumayan padat, tetapi para polisi lalu lintas mengatur dengan baik. Tak ada kendaraan yang saling berebutan jalan, membuat macet dan sebagainya. Hanya ada beberapa antrian di belakang lampu merah yang menunggu giliran jalan.

Hari itu adalah hari Selasa pagi yang biasa saja di Seoul, satu-satunya yang membuatnya istimewa bagi Yunho adalah ia akan segera melangsungkan pernikahan bersama lelaki yang paling di cintainya di dunia ini. Dengan mengemudikan mobil mewahnya yang berwarna hitam dan mengenakan tuksedo berwarna senada, ia duduk di balik kursi kemudi.

Lepas dari padatnya lalu lintas menuju katedral tempat melangsungkan pernikahan, Yunho yang kegirangan mengamati cincin kawin yang akan ia serahkan untuk Jejung nanti. Tanpa menyadari kehadiran sebuah mobil dari arah berlawanan, Yunho tampak santai saja mengemudikan mobilnya tanpa melihat kearah lain selain cincin yang berkilat-kilat terkena pantulan cahaya matahari di tangannya tersebut.

Hingga kemudian suara klakson panjang mengagetkannya, dan ia mulai kehilangan kendali. Cincin di tangannya terlempar ke bawah kaki kursi penumpang, bimbang antara cincin dan kemudinya, Yunho akhirnya membanting stir. Berusaha menghindari tabrakan dengan mobil di depannya, dan mengambil jalur yang salah. Mobilnya jatuh ke jurang, pagar di sekitar jurang menahannya hingga ia terperosok tak begitu jauh kedalam.

But I never thought heart breaking

Any chance I’m taking right now

To shower down this pain

Yunho memandangi pantulan sosok di cermin. Pupil matanya melebar, bibirnya kemerahan setelah tadi di gigitnya. Ia mengambil pisau cukur dan foam di atas meja wastafel, membalut sekitar dagu dan kumisnya dengan busa berwarna putih tersebut.

Berhenti sesaat ketika suatu masa kembali muncul di ingatannya. Yang mengingatkannya betapa ia merindukan saat-saat yang telah lalu itu. Betapa ia merindukan kehidupannya yang lalu.

Jejung tengah membereskan peralatan masak yang tadi habis di pakai oleh Daiji. Tiramisu berbentuk kotak kecil hasil buatan pria itu di tinggalkan di sudut meja tempatnya di buat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga hari Daiji sudah berhasil mengua
sai cara membuat tiramisu, padahal ia berjanji untuk membuatnya ahli dalam waktu seminggu.

Jejung mengambil tiramisu bikinan Daiji yang di tinggalkannya, melepas kertas bungkusan di bagian bawahnya dan menggigit lapisan terbawah. Mouse lembut segera meleleh di dalam mulutnya, mencair seperti bunga-bunga salju di halaman. Tanpa sadar perlahan air mata mengalir di sudut matanya, jatuh ke pipinya yang kemerahan.

Ia menangis. Entah mengapa. Jejung hanya merasa dadanya sesak. Matanya perih dan jiwanya sepi. Di gigitnya sekali lagi tiramisu di tangannya, dan air mata semakin sering keluar dari matanya. Kini ia terisak tanpa tahu sebabnya.

Di dalam restoran yang hanya ada dirinya. Suara isakan Jejung memenuhi setiap ruang yang sepi. Perlahan dan samar-samar isakan Jejung terdengar semakin keras dan memeka.

-To Be Continued-

*Cuapcuap* waaah~ maap kalo kepanjangan apalagi masih tbc^^

di tunggu commentnya readers, kalo berkenan silahkan kasih kritik n saran juga. kalo lebih berkenan lagi saya minta di like donk *banyak maunya*

sebagai catatan saya sebenernya bukan author yang gila comment ataupun like, cuma kalo dikasih alhamdulillah hehehe~

di tunggu next partnya ya, dan jangan bosen2 mampir^^


4 thoughts on “The Reason :: DAY AND NIGHT [chapter 02]

  1. Huaaaaa daiji pasti jejung kan ya thor? Ia kan?😥 kasian bgt appa uda mau kawin malah meninggal ToT
    buat lanjtan dunk thor

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s