[Yaoi] [yunjae] The Reason 01


THE REASON

Tittle ;; Heaven Tears

Author ;; Goetary21

Pairing ;; YUNJAE/JAESU

Cast ;; Kim Jaejoong/Jung Yunho

Other cast ;; Kim Junsu/Shim Changmin/Han Sooeun [You]

Rating ;; PG-13/General

Genre ;; Romance/Broken heart/Drama/Yaoi

Length ;;One shoot (?)/Mini Series

Disclaimer ;; Sebelumnya, perkenalkan saya author baru disini^^ mohon bantuannya all readers.

Fanfic ini adalah murni milik saya jadi jika ada kesamaan dengan fanfic milik orang lain itu semata-mata hanya sebuah kebetulan saja.

Tolong untuk tidak memperbanyak, mengcopy, mengedit, serta mempublish fanfic ini tanpa seijin saya.

Warning ;; Tulisan bercetak tebal di antara percakapan adalah isi hati tokoh atau flash back.

Setelah chap ini untuk chap selanjutnya yang menentukan adalah para readers, kalo banyak yang komen pasti saya lanjutin^^

Comment are really-really love…

Enjoy!!

*

Sekali saja, aku ingin percaya kalau kau pernah mencintaiku.

“Hyung… sedang apa kau disitu?” Teguran Junsu menarik Jejung dari dunia lamunannya sementara waktu, pria yang ia panggil memutar kepalanya sambil setengah tersenyum.

“Hanya, ingin disini.”

Junsu menghampirinya, menyelimuti bahu Jejung dengan mantel berwarna merah yang di bawanya. “Udara diluar sangat dingin, sebaiknya kita masuk saja.”

Jejung menggeleng, “biarkan aku disini sebentar lagi.”

“Hum, baiklah,” desah Junsu mengalah pada akhirnya.

Sepeninggalan Junsu, Jejung mengambil tempat duduk di salah satu kursi yang terletak di beranda halaman belakang. Angin berhembus, Jejung pun merapatkan mantelnya, melipat tangan di dada rapat-rapat.

Di sandarkannya bahunya dan mendesah kearah langit, gumpalan asap mengepul keluar dari hidung dan mulutnya. Suhu di luar rumah semakin dingin apalagi sebentar lagi musim salju. Mengingat musim salju akan segera datang Jejung tersenyum lemah. Ia paling suka dengan musim hujan, tapi seseorang yang ia kenal di masa silam sangat suka musim salju. Seoul saat bersalju seperti kanvas kosong katanya, yang siap di warnai.

-Flash Back-

Gerakan jarum jam membahana mengitari seluruh ruangan, seolah mengingatkan dirinya kalau ia hanya tinggal sendirian saja di dalam sana. Namun Jejung sama sekali tak ingin beranjak. Ada yang ia tunggu, seseorang yang telah berjanji akan hidup bersamanya di sisa umur mereka.

Namun tiga jam berlalu, katedral tempat ia seharusnya menjalani upacara sakral pernikahan itu kini sudah sepi. Sementara ia masih duduk di salah satu bangku yang menghadap ke altar. Duduk dalam diam.

Setetes air kembali menghiasi wajahnya yang pucat. Ia lelah menunggu, lelah menangis, lelah di sakiti dan terlebih lagi lelah berada dalam ketidaktahuan. Tapi sekali lagi ia tak berdaya melakukan apapun tanpa tahu apa yang sebenarnya ia cari. Jadi ia diam saja, ingin rasanya pergi dari katedral itu karena di tempat itu kesedihan yang kental semakin terasa menyakitkan. Namun bagaimana jika orang yang ia tunggu akhirnya datang saat ia sudah tak lagi disana?

Jadi Jejung menunggu lagi. Untuk yang terakhir, batinnya.

Sayup-sayup mulai terdengar hembusan napas. Hanya satu-satu dan jelas menyiksa.

Gelap menyambutnya ketika ia membuka kelopak mata yang teramat berat, tak ada yang terlihat bahkan setitik cahaya pun.

Jangan menangis.

Kata-kata itu membuatnya lebih ingin menangis. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya tak berdaya. Ia harus kuat, ia tahu itu. Tapi sakit yang menghantamnya datang bertubi-tubi semakin lama semakin menyiksa. Dari semua hal yang paling tak ia sukai adalah saat-saat seperti ini, ketika ia tak tahu harus berbuat apa. Ketika kelemahannya terlihat. Ketika ia tak tahu apa yang tengah terjadi. Dan terlebih lagi ketika ia seharusnya berada di suatu tempat namun malah terperangkap dalam situasi seperti sekarang.

Kalau kau menangis, itu akan menyakitiku…

Bau amis tiba-tiba menggerayangi indra penciumannya, ada sesuatu yang mengalir dari pelipisnya. Yunho mengangkat tangannya dan menyentuh cairan lengket itu dengan susah payah, ia sudah tahu apa itu. Mobilnya terbalik di jurang dan kini ia terperangkap di dalamnya tanpa bisa bergerak. Handphonenya tak bisa ia temukan dimanapun sementara kesadarannya semakin memudar.

“Jungie…” bisik Yunho dalam hati sebelum kesadarannya benar-benar terhapus. “Mungkin tuhan sedang marah padaku karena sering menyakitimu. Itu sebabnya ia kembali menghukumku…”

Pandangannya semakin berat, napasnya semakin tak beraturan. Perlahan air mata mulai mengalir di pipinya. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Yunho yakin di mana pun Jejung berada sekarang pria itu juga tengah menangis.

“Jangan menangis, Jungie… Aku baik-baik saja,” keluh Yunho terbata=bata. “Aku hanya terlalu merindukanmu, makanya tanpa sadar menangis…” Yunho terus berbicara seakan Jejung dapat mendengarnya.

“Aku mencintaimu…”

Gelap kembali menyelimuti. Keheningan kembali mewarnai. Dan air mata menjadi saksi terakhir cinta itu tetap hidup.

Dalam gelap, diam dan kedinginan jejung berjalan tanpa arah. Penampilan pria itu berantakan, mengiris hati siapa saja yang memandangnya. Namun bukan tatapan-tatapan bersimpati itu yang diharapkannya. Melainkan kehadiran orang lain. Satu-satunya orang yang bisa menunjukkannya arah agar ia tak tersesat.

Ia merindukan Yunho. Lebih dari apapun.

Petir bergemuruh dilangit hitam, menghiasi warna malam yang gelap. Padahal biasanya Jejung takut kilat, tapi kali ini saat petir itu bergelegar ia seakan tak menyadarinya. Indra perasanya sudah kebal. Sudah tak lagi bisa merasakan apapun selain rasa sakit di dalam hatinya.

Sesudah perginya kilatan-kilatan blits raksasa dari langit itu maka turunlah hujan. Sementara Jejung masih tak mengindahkannya. Ia justru senang karena merasa dirinya di temani. Sakit hatinya tersambut. Langit pun ternyata ikut menangis untuknya.

Air mata memang tak sanggup mengusir rasa ngilu di dadanya, air mata memang tak dapat mengatasi rasa sakit di hatinya, air mata juga tidak dapat membawa Yunho di hadapannya. Tapi seenggaknya air mata bisa menemaninya, ia sendirian sekarang tanpa seorang pun. Dan disaat seperti ini air matalah yang mampu menghiburnya. Air matalah yang menyadarkan ia kalau dirinya tidaklah sendirian. Tapi tetap saja lubang hitam tak kasat mata yang menganga di jantungnya semakin melebar. Dan siapapun yang mendekatinya pasti akan ikut terperosok dalam.

Tiba-tiba saja ponsel di saku celananya bergetar, dengan gerakan cepat Jejung meraihnya. Dalam hati terus-terusan berharap dengan cemas kalau yang menelponnya adalah orang yang ia tunggu. Dan ia kembali kecewa saat yang tertera di layar ponselnya adalah nomor tak di kenal.

“Halo?”

“Halo.”

“Yah?”

“Apa benar anda bernama Kim Jaejoong?”

“Saya sendiri, ada apa? Ini siapa?”

“Saya dari kepolisian meminta anda segera datang ke rumah sakit xxx untuk mengidentifikasi seorang korban kecelakaan. Anda ada dimana sekarang?”

Jejung termenung di samping ponselnya yang masih menyala. Ia tak perlu mencari tahu korban yang di maksud orang tadi. Kemungkinan ini memang sempat terpikir olehnya tadi. Kalau ini menyangkut Yunho, ia tak tahu harus bagaimana. Jejung segera berlari menerobos hujan yang tadi menjadi temannya. Kini ia membenci hujan, membenci dirinya yang terlalu lemah terbuai oleh perasaan damai dari siraman air raksasa.

Jejung sampai di rumah sakit. Seorang lelaki berkumis tebal dengan perut membuncit segera menghampirinya. Namun sebelumnya lelaki yang keheranan melihat kondisi Jejung itu menawarkannya bantuan terlebih dahulu yang tentu saja di tolak oleh Jejung dengan sopan.

“Aku ingin bertemu.”

“Apa tidak sebaiknya anda ganti baju dulu, Jaejoong ssi?”

Jejung diam saja, ingin menolak tapi sadar dengan keadaannya. Jadi ia mengangguk dan mengikuti seorang anggota kepolisian yang lain mengantarnya ke kamar ganti.

….

Pandangannya melayang keseluruh penjuru ruang ia berada. Ia tak mengenali tempat itu, sama sekali asing. Ia pun beranjak bangun dan menyadari tuksedo-nya sudah diganti dengan piyama bersih. Bau amis yang tadi menyengat kini tergantikan bau cairan pembersih lantai beraroma cemara.

Yunho menyingkap selimut yang menutupi badannya, melepas jarum infus di lengan kanannya. Ia beranjak bangun namun sesuatu yang menyakiti kepalanya mencegah pergerakan yang terlalu tiba=tiba tersebut. Di rabanya perban di pelipisnya lalu kembali mengacuhkannya.

Pintu perlahan membuka dari arah dalam, Yunho menjulurkan kepalanya dan mendapati seorang pria tambun berperut buncit dengan mantel hitam khas detektif nampak tengah menunggu seseorang. Menyadari tak seorang pun tengah melihat kearahnya saat ini Yunho bergegas menuju keluar.

Beberapa saat kemudian Jejung kembali ke hadapan kepala polisi berperut buncit tadi dengan pakaian yang sudah bersih dan rapih. Rambutnya juga sudah di keringkan dengan handuk.

Kepala polisi itu nampak terkesima dengan kerupawanan Jejung, wajahnya sontak memerah saat Jejung membalas tatapannya tanpa ekspresi. Ia sebenarnya sudah sangat lelah hari ini, andai bisa ia ingin memaksa pria buncit di depannya untuk segera mengantarnya ke kamar sang korban sebelum kesabarannya habis. Tapi Jejung diam saja, mencoba untuk lebih sabar.

“E… eh, mari ikut saya anak muda—maksud saya Jaejoong ssi…”

Jejung mengikuti kepala polisi itu dari belakang. Jantungnya kembali berdegup cepat.

“Ini bukan Yunnie…” ujar Jejung saat mereka sudah sampai di ruangan sang korban.

Ada perasaan lega di sudut hatinya namun entah mengapa secara bersamaan justru membuatnya kecewa dan sedih. Kalau pria yang kini berbaring di hadapannya bukan Yunho, lalu kemana Yunho pergi?

“Maaf sudah merepotkan anda Jaejoong ssi.” Kepala kepolisian berperut buncit itu meminta maaf dengan sesekali mencuri pandang kearah Jejung. Saat Jejung tersenyum kearahnya ia pun membatu.

“Tidak apa-apa. Saya pergi dulu.”

.

.

.

Yunho berjalan lunglai keluar rumah sakit. Begitu banyak korban kecelakaan sehingga memungkinkannya menyelinap keluar tanpa ketahuan seorang pun.

Diluar hujan sudah sepenuhnya berhenti hanya menyisakan sisa-sisa genangan air dan tanah basah. Yunho melirik jam di tangannya, malam mulai larut. Tapi sebelum pulang ia harus menemui Jejung terlebih dulu dan menjelaskan semuanya, sebelum semua benar-benar terlambat. Ia tak lagi ingin meninggalkan Jejung dalam ketidakpastian. Lagi pula, belum-belum ia sudah merindukan pria itu.

Namun siapa sangka nasib berkata lain, saat  Yunho tengah menyebrang jalan dari kejauhan nampak cahaya besar menyorotnya. Dalam kecepatan tinggi cahaya lampu itu mendekati Yunho dan hanya dalam hitungan detik tubuh Yunho terseret bersama truk muatan tersebut hingga beberapa meter sebelum tubuhnya terlempar ke atas aspal basah yang dingin.

Di ujung kesadarannya Yunho masih mengingat Jejung, air mata jatuh melewati hidungnya. Menyesal harus membuat Jejung mengalami kepedihan itu, mengalami kehilangan dirinya sekali lagi.

-End of flash back-

*

*

*

To Be Continue

*Cuap2*

Bagaimana all readers??

Terima kasih buat yang udah baca, tolong jangan ada yang jadi silent reader yah😀


8 thoughts on “[Yaoi] [yunjae] The Reason 01

  1. Huah~ ini Keren~
    Tapi agak gak ngeh sama kata
    ‘Seenggaknya’, kenapa tidak ‘setidaknya’? *Plak*

    Yunho nya jgn mati dong T.T
    Gk rela YunJae pisah!!
    Bahasamu bagus sekali xDD
    Aku suka xD

    Like

  2. anjrit!
    jgn psahkan mrka!
    owh ya author,da tdi tlsan nya yg krang pas yg bgian “seenggaknya” kan bsa dgnti dg “stdak nya”
    hehe…
    maap ya,q kbnykan ngmng…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s