My Lovely Fox [Part 4]


Author : Bee [Freelance]

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Suju member, Shinee

Cameo : Kwon Luke

Rating : AAbK

Genre : Romance

PS :  Ini hanya ff ya, sangat diharapkan tidak ada yang tersinggung di part ini. Isu transgender diangkat cuman buat penguat cerita. *bow*

1st published at: http://wp.me/p1rQNR-5x

 ^^^

Hari ini panas sekali, Miho berpikir sembari mengusap peluh di lehernya. Tapi dia harus bertahan. Pakaiannya melekat tidak enak di tubuhnya. Meski terbuka, namun modelnya terlalu banyak detil. Membuat Miho tidak leluasa bergerak. Itu artinya tidak ada gunanya pakaian itu terbuka atau tidak, karena tanpa gerakan, tidak ada angin yang bisa mengalihkan panas tubuhnya pergi menjauh. Tapi dengan keras kepala Miho tetap berdiri di sana, bersama puluhan remaja yang berteriak-teriak menyerukan nama Shinee.

Saat ini sedang dilakukan shooting untuk Guerilla Date dari Entertainment Weekly di Myeongdong. Dan Miho berada di sana dengan pakaian yang sudah dipilihnya agar menyolok perhatian, siapa tahu ada pencari bakat yang melihatnya. Dia bahkan berusaha merangsek ke depan agar saat MC menawarkan pertanyaan dari pemirsa, Miho bisa mengajukan diri.

Sayang saingannya terlalu banyak. Dengan badan berpeluh dia terdesak semakin menjauhi kamera. Ah, menyebalkan.

Pada satu titik akhirnya Miho hanya bisa menatapi sekelilingnya dengan putus asa. Di tengah udara yang panas, tubuhnya didesak-desak oleh tubuh para remaja yang berkeringat. Dia sudah berdiri dari pagi. Merias wajahnya dengan teliti. Hanya untuk semakin menjauhi kamera.

Miho berbalik dengan marah. Memutuskan lebih baik window shopping di butik-butik ber-AC. Hari ini dia tidak sanggup melanjutkan. Terlalu banyak hal yang menyurutkan semangatnya. Kamera-kamera brengsek. Udara panas brengsek. Baju jelek brengsek. Remaja-remaja brengsek. Leeteuk brengsek! Pikirnya marah.

Ya, hatinya sudah suntuk dari kemarin-kemarin sebab sudah seminggu ini tidak pernah sekalipun ada pesan dari Leeteuk. Entah kenapa Miho merasa sangat kesal dengan fakta itu. Dasar cowok tidak berguna. Pengecut. Tukang pilih-pilih. Ga punya hati. Semua kutukan dan makian sudah dia lontarkan pada Leeteuk. Hanya saja selalu pada akhirnya makian itu dia kembalikan pada dirinya sendiri. Siapa suruh dia mempermainkan Leeteuk dan membuat pria itu melarikan diri. Kekesalan Miho terbagi antara kesal pada Leeteuk, dirinya sendiri, dan usahanya yang tak kunjung berhasil mendapatkan agensi.

Dia menendang kerikil di hadapannya dan mengenai seseorang yang sedang berjalan mundur.

Entah apa yang direncanakan Tuhan, kerikil sekecil itu bisa membuat orang itu terjengkang. Tanpa memperhatikan sekelilingnya Miho berlari hendak membantu orang itu tapi hak sepatunya yang runcing malah terselip di sela-sela trotoar dan dia terjengkang ke belakang. Miho berteriak keras sebelum akhirnya jatuh.

Tapi dia terkejut karena dia tidak merasa sakit sedikitpun. Dia malah merasakan ada sesuatu menyentuh dadanya. Ketika dia menunduk melihatnya, ada tangan pria bertengger di sana. Sontak mukanya memerah karena malu. Tapi yang lebih membuatnya kesal, telapak tangan pria itu bergerak seperti meremas dadanya.

Dalam sekejap Miho membalik badannya sambil berteriak, “Dasar brengsek!” PLAK! Tangannya menampar pria yang memegang dadanya. Lalu jalanan Myeongdong mendadak sepi.

Miho terbelalak.

Tangannya sekarang sedang menempel di pipi Choi Minho, salah satu personel Shinee. Satu kamera besar sedang menyorotnya dari samping kiri. Lalu ada lagi satu kamera besar di samping kanan yang fokus pada Shinee. Key menutup mulutnya. Taemin dan Jonghyun membeku, sementara Onew menyatukan jari-jarinya di depan mulut. Miho? Dia sedang memohon sungguh-sungguh pada Tuhan agar membuatnya pingsan.

Doa yang sia-sia karena sedetik kemudian Miho mendengar seseorang memakinya dari kerumunan. Seorang pria tegap mencengkeram dan memuntir tangannya di belakang tubuh kemudian menyeretnya, membuatnya berteriak kesakitan. Ujung sepatunya masih tersangkut di sela trotoar dan seretan orang tadi telah membuat kakinya terpelintir.

Sejenak Choi Minho tampak bingung memandangi Miho dan pria yang hendak menyeretnya, lalu anak itu melihat penyebab teriakan Miho. Dengan cepat dia menghampiri pria itu dan mengatakan sesuatu pelan yang menyebabkan pria itu kemudian malah memeluk Miho dan membantunya membebaskan diri dari ‘jebakan’ trotoar.

Setelah berhasil, Miho mencoba berdiri tapi ternyata kakinya terkilir serius. Dia meringis karena sakit luar biasa di pergelangan kakinya. Bukannya tegak, dia malah jatuh terduduk di trotoar.

Pria yang tadi memiting tangannya segera memapahnya ke pinggiran. Dia didudukkan entah dimana dan pria itu dengan hati-hati menyentuh pergelangan kaki Miho. Kesadaran Miho sudah kembali setengahnya, dia menyadari kerumunan di sekitar mereka, jadi walaupun yang dipegang pria itu sakit luar biasa, dia hanya menggigit bibirnya kuat-kuat.

Choi Minho menghampiri keduanya lalu bertanya pada Miho. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

Miho memperhatikan pipi Minho yang memerah dan tiba-tiba kontrol dirinya terlepas. Matanya menjadi kabur karena air mata kesal dan malu, menyebabkan dia segera menundukkan wajahnya menghindari sorotan kamera dan tatapan Minho.

Sekarang pikirannya sudah jernih dan dia menyadari bahwa tadi Minho sepertinya hanya hendak membantunya. Ketika telapak tangan Minho seolah hendak meremas dadanya, Miho menyadari bahwa anak itu hendak membantunya menegakkan tubuh. Bagaimana dia bisa begitu bodoh dan malah menampar Minho?

Akibatnya saat ini dia menerima banyak pandangan memusuhi dari kerumunan fans Shinee, sorotan kamera dalam kondisi yang tidak diinginkannya, serta rasa malu luar biasa terhadap bintang muda di hadapannya ini.

Karena tidak mendapatkan jawaban, Minho bertanya lagi pada Miho, “Apakah sakit sekali?”

Miho menelan air matanya. Dia mengerahkan upayanya keras-keras untuk itu. Dia tidak mau mempermalukan dirinya lebih jauh lagi. Setelah yakin air matanya bisa terbendung, dia mengangkat muka dan menatap Minho dengan ekspresi penyesalan mendalam. “Saya tidak apa-apa. Terima kasih telah mengkhawatirkan saya, dan saya benar-benar minta maaf atas tamparan saya tadi.” Miho berujar sambil kemudian membungkuk dalam-dalam.

Karena Minho tidak menjawab apapun, Miho menegakkan badannya lagi. Ketika pandangan mereka bertemu, Minho tampak bingung sesaat tapi kemudian bisa menguasai diri sambil mengatakan, “Saya juga minta maaf. Pengawal kami membuat kakimu terkilir.”

Miho membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi terhenti karena ada keributan di dekat mereka. “Minggir! Aku mengenalnya!” terdengar suara seseorang keras.

Miho menoleh lalu mengernyit. Ah, si pemberi perhiasan itu. Saat itulah pria yang dipandangi Miho itu berseru, “Miho-ya, gwenchanha?”

Luke memandangi Miho khawatir. Gadis itu tampak seksi sekali hari ini. Dari jauh tadi Luke sudah mengenali sosoknya dan dia melihat semua kejadian yang melibatkan Choi Minho tadi. Kasihan Mihonya sepertinya terluka berat. Penjaga yang memegangi Luke mengendurkan pegangannya karena melihat Miho mengangguk ke arah Luke sambil tersenyum tipis. Hal itu dimanfaatkan Luke untuk segera mendekati Miho. Dengan kesal dia juga mendorong penjaga yang tadi mengasari Miho agar menjauh dari gadis itu. “Ayo kita ke dokter,” kata Luke segera membantu Miho berdiri.

Miho mengernyit kesakitan, sehingga Minho berseru, “Hati-hati.”

Luke menoleh pada bocah itu lalu tersenyum menenangkan. Wajah blasterannya yang tampan sempat menghentikan gerutuan para Shawols di sekitar Shinee. “Tenang saja, aku akan menjaganya. Oh ya, terima kasih sudah membantunya tadi. Dan maaf karena uri Miho tidak sengaja menamparmu,” ujarnya ramah pada Minho sambil mengulurkan tangannya yang bebas untuk bersalaman.

Minho menyambutnya dengan canggung, lalu hanya bengong menatap keduanya berlalu. Dia bahkan tidak sadar ketika manajer Shinee berdiri di sebelahnya mengecek apakah wajahnya terluka atau tidak. Kemudian terdengar suara entah darimana berseru, “Ayo lanjutkan lagi shootingnya!”

Dengan cepat Minho kembali pada wawancara mereka, meski sekarang konsentrasinya sudah buyar. Dalam hatinya dia menyesali kepergian cewek yang menamparnya itu. Ah iya, namanya Miho…

 

^^^

 

Miho memasuki mobil Luke dengan hati-hati. Dengan senang dia menikmati AC yang menyejukkan. Luke membantunya duduk dengan nyaman. Ketika cowok itu hendak menutup pintu penumpang, terdengar suara seseorang memanggil mereka, “Jogiyo…”

Miho dan Luke menoleh ke arah sumber suara bersamaan. “Maaf, saya tahu Anda sedang terluka,” pria itu menatap Miho lekat. “Tapi bisakah saya meminta nomor Anda? Anda sudah menampar Choi Minho dan saya takut akan ada pemberitaan buruk di kemudian hari,” pria itu berkata dengan cepat.

Hati Miho mencelos, mengingat kesalahpahamannya tadi. Luke menjawab mendahuluinya, “Maaf, tapi apa Anda tidak melihat ada orang terluka, di sini? Anda ini siapa sih?”

“Maaf lupa memperkenalkan diri. Saya manajer Shinee. Ini hanya untuk berjaga-jaga. Saya juga berharap kita jangan sampai berhubungan lagi di masa yang akan datang, tapi akan sangat membantu jika kita bisa berada dalam posisi yang sama kalau terjadi pemberitaan yang buruk. Bukan hanya untuk Minho, tapi juga nona ini,” pria itu menjelaskan panjang lebar.

“Ya, Ahjussi,” Luke tampaknya tidak mau mengerti, sehingga Miho memotong ucapannya.

“Baiklah, Ahjussi. Saya tidak punya kartu nama, tapi jika Anda butuh nomor telepon saya, Anda bisa menelepon saya ke nomor ini—“ Miho lalu menyebutkan nomor telepon genggamnya.

Manajer Shinee dengan cepat mencatatnya. Kemudian dia berpamitan dan berbalik meninggalkan mereka.

Luke menutup pintu penumpang selepas kepergian manajer itu dan segera berlari ke sisi pengemudi. Di dalam dia menggerutu mengatakan betapa tidak sopannya manajer tadi. Tidak etis. Tidak punya perasaan dan serentetan keluhan lain.

Miho tidak menanggapi. Dia hanya diam saja. Dalam hatinya dia hanya ingin menikmati udara dingin ini, membiarkan panas di tubuh dan hatinya menguap. Ketika Luke mulai berhenti bicara, Miho hanya mengatakan sepatah kata pada pria itu dengan sungguh-sungguh. “Terima kasih.”

 

^^^

 

Eunhyuk tersedak. Air mineral yang sedang diminumnya muncrat kemana-mana. Di sebelahnya Shindong dan Ryeowook memprotes jijik. “Hyung!” Ryeowook bahkan membentaknya.

Kalau dalam situasi biasa, pasti Eunhyuk akan langsung nyengir meminta maaf pada ‘korban’nya, tapi saat ini fokusnya terpusat pada acara infotainment di tv.

Super Junior sedang mengisi acara di sebuah hotel, dan saat ini mereka sedang bersiap menunggu giliran kedua mereka untuk tampil. Sambil menunggu, seperti biasa, para member memuaskan jiwa narsis mereka dengan berfoto-foto. Tadinya Yesung hendak mengambil gambar Leeteuk, Shindong, Eunhyuk, Ryewook dan Donghae yang sedang berjejer di sofa, tapi gara-gara ulah Eunhyuk, pose mereka gagal.

Eunhyuk kini malah bangkit dari sofa dan menghampiri tv. Donghae berseru padanya, “Ya! Kau mau ikut foto ga?!”

Eunhyuk tidak menggubris dan malah memperbesar volume tv. Berita itu menayangkan kejadian siang tadi dimana Choi Minho, member boyband Shinee mendapat tamparan keras di pipinya. Yang membuat Eunhyuk melotot adalah yang menampar Minho itu si Rubah!

Leeteuk tahu-tahu sudah berdiri di sebelah Eunhyuk. “Ommona, bukankah itu bancimu, Hyuk?” serunya keras.

Seruan Leeteuk membuat yang lain menoleh. Bancinya Eunhyuk? Aktifitas narsising(?) berhenti total sekarang. Satu per satu anggota Suju mendekat ke arah tv. Mereka terkejut menonton berita itu. Bahkan Yesung dan Heechul menertawai kesialan Minho, tapi mereka tidak melihat banci yang kata Leeteuk tadi adalah punya Eunhyuk. Siwonlah yang kemudian bertanya tentang itu.

“Ya itu, wanita yang nampar Minho itu banci.” Leeteuk menjawab singkat.

Mereka semua membuka mulut terkejut kecuali Eunhyuk dan Leeteuk. Mereka buru-buru melihat lagi ke arah tv. Sayang beritanya sudah habis. Donghae langsung ribut meminta agar Eunhyuk menceritakan perihal ‘kebancian’ itu. Tapi karena Eunhyuk hanya diam saja, akhirnya dia beralih ke Leeteuk. Tindakannya itu memancing reaksi sama dari member lain. Bahkan Sungmin yang biasanya paling antipati bermanja-manja pada sesama member pun ikut merengek-rengek. Leeteuk pun tak punya pilihan lain selain menceritakannya.

Di sisi lain, Eunhyuk hanya setengah mendengarkan. Setengah pikirannya masih terbayang penampilan si Rubah di televisi tadi. Ya ampun, dia seksi sekali. Eunhyuk bahkan sampai mengutuki desir yang dirasanya saat melihat penampilan si Rubah di tv. Rambut hitam mengikal, kaki jenjang yang terpampang karena celana pendek yang dikenakannya, kulit mulus dan berkilau. Dia tampak basah, apa itu keringat? Atau itu hanya angan-angan Eunhyuk? Kalau yang kedua, maka Eunhyuk harus segera menemui psikiater. Masa dia sampai mengangankan banci?!

“Waaa!” seruan para member mengagetkan Eunhyuk. Ketika dia menoleh, semua orang sedang mengerubungi Leeteuk yang membuka iPhone-nya. Ketika dia melihat apa yang mereka lihat, dia mencelos. Mereka sedang melihat-lihat foto yang diunggah oleh Foxiemiho. Berbagai seruan datang dari mulut para member. Kebanyakan mereka memuji si Rubah itu dengan kata-kata seperti ‘cantik’, ‘imut’, ‘berkarisma’, dan yang sejenisnya. Sampai terdengar suara Yesung, “Tidak terlihat seperti banci.”

Mereka semua terdiam dan serentak memandang Eunhyuk. Yang dipandangi kebingungan. “Kau pasti salah,” kata Siwon.

Eunhyuk manyun. Kalau saja begitu. “Bukan aku. Dia sendiri yang bilang!” bantahnya pada Siwon.

Mereka mengerutkan kening tidak percaya. Eunhyuk semakin defensif. “Kalau tidak percaya, baca saja pesan-pesannya. Aku selalu menghubunginya pake akun Hyung kok.”

“Kenapa kau menghubunginya pake akun Hyung?” Sungmin langsung bertanya kritis.

Tapi keingintahuan Kyuhyun memutus logika itu, “Mana Hyung, kami ingin lihat,” pintanya pada Leeteuk.

Leeteuk memandang Eunhyuk ragu, tapi anak itu malah memalingkan wajah. Ya sudah, kan dia sendiri yang tadi bilang boleh dibaca. Akhirnya dia membuka kotak pesannya dan bersama-sama mereka membaca pesan-pesan antara Eunhyuk dan Foxiemiho.

Beberapa menit terasa damai karena mereka semua tekun membaca percakapan yang terbentuk lewat rangkaian pesan itu. Di tempatnya Eunhyuk merasa gelisah. Kenapa hatinya berdebar-debar melihat si Rubah itu lagi? Padahal dia sudah tidak pernah menghubunginya lagi. Dia sudah bertekad akan mengakhiri interaksi mereka sampai malam itu saja, tapi kenapa dia bisa muncul lagi di dunianya? Hah~ dasar Rubah.

Kedamaian tadi seolah adalah tanda akan datangnya angin puyuh. Selesai membaca habis pesan-pesan itu, semua member berteriak-teriak heboh. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa gadis itu banci. Tadi bahkan Heechul sempat berpikir beruntung sekali Minho bisa ditampar cewek secantik itu. Kyuhyun tidak mengira kaki indah yang dilihatnya di tv tadi adalah hasil operasi. Sungmin dan Siwon berpikiran hampir sama, kenapa mesti menolak kelelaki-lakian sih? Donghae mengejek Eunhyuk, “Kau bahkan memujinya cantik! Hahaha! Kena kau!”

Ryewook menimpali, “Tapi dia memang cantik! Cantik banget malah!”

Yesung memandang Ryeowook ngeri, “Jangan bilang kau juga ingin secantik itu!”

Ryeowook melotot pada Yesung. “Yha! Hyung pikir aku mau operasi begitu?!”

Yesung memutar matanya, menunjukkan ekspresi “Mungkin.” Hal itu membuat Ryeowook menonjoknya jengkel. Dia membantah, “Maksudku, harus diakui hasil operasinya sempurna sekali. Ngaku aja deh, tadi di tv juga Hyung pikir dia wanita tulen, kan?!” dia mencoba menyerang Yesung.

Iya juga sih sebenernya, pikir Yesung. Tapi tentu saja Yesung tidak mau mengaku. “Ani, aku tidak melihatnya jelas tadi.”

“Bohong!” protes Ryeowook.

Kata-kata yang hendak diucapkan Yesung terpotong oleh komentar singkat Heechul, “Sial, aku kalah cantik!”

Mendengar itu semua member terpana menatap Heechul. Hanya Leeteuk yang tidak. Dengan entengnya dia menjitak Heechul. Membuat sang leader mendapat pelototan dari Heenim. Mereka kemudian kembali ribut, termasuk Eunhyuk yang memutuskan lebih baik ikut ribut daripada tenggelam dengan perasaannya sendiri. Dia memaksakan logikanya bahwa debaran jantungnya yang semakin mengeras bukanlah karena melihat si Rubah lagi, tapi karena hendak tampil.

 

^^^

 

Miho sedang menunduk di hadapan ayahnya. Ibunya tampak kesal di samping sang kepala keluarga. Sang ayah berkata dengan jengkel, “Apa-apaan kau? Pakaianmu itu! Kau bukan anak-anak lagi, Miho-ya.”

Miho menjawab lirih, “Tapi ini lagi in sekarang,”

“Mworago?” nada ayahnya meninggi.

“Aku kan hanya ingin tampil modis, Appa! Kalau-kalau ada pencari bakat di sana. Makanya aku harus tampil bagus kan?” Miho membela dirinya.

Ayah Miho berpikir, mungkin memang seleranya sudah ketinggalan jaman, tapi dia tidak peduli. Miho anaknya, maka dia harus mengikuti peraturan berdasarkan idealismenya sebagai ayah. “Appa tidak melarangmu berpenampilan bagus. Tapi celanamu itu terlalu pendek. Bajumu terlalu terbuka. Appa tidak setuju itu!” tegas pria itu.

“Ini musim panas, Appa~ Dan baju ini model terbaru. Banyak yang memakainya sekarang ini. Appa ga tau mode sih…” Miho masih tidak mau mengalah.

“Kau itu malu-maluin Appa, tau ga?! Masuk berita dengan baju begitu! Appa yakin besok Appa harus menanggung malu seharian karena di kantor terus-menerus ditanyai.” Ayah Miho berusaha mengubah taktik dengan memancing rasa bersalah anaknya.

“Kenapa Appa ga bilang aja, ‘Anakku cantik kan? Dia mau jadi artis’ gitu.” Miho menjawab.

Dasar anak bebal! Akhirnya ayah Miho menggunakan senjata pamungkasnya, “Kau! Appa sudah capek menasihatimu. Pokoknya, rubah gaya berpakaianmu, atau semua hartamu ayah bakar.”

Miho membelalak ngeri. Ayahnya tidak membentak. Nada bicaranya halus dan tenang. Dan itulah fase paling berbahaya dari ayahnya. Karena saat begitu, kata-katanya benar-benar akan dilaksanakan. “Andwae, Appa. Iya, aku ga akan pakai baju begini lagi,” Miho menggeleng-geleng panik lalu melanjutkan, “Yaksok. Jangan bakar poster-posterku. Ne, Appa? Jebal~”

“Sudahlah, masuk ke kamarmu sana. Appa sebal melihat wajahmu.” Ayah Miho bangkit dari duduknya dan meninggalkan Miho dan ibunya berdua.

Ibu Miho membuka mulut, “Kau ini apa tidak capek, selalu mengatakan ‘ingin jadi artis’-‘ingin jadi artis’ ?” tanyanya pelan, meski hatinya sebal juga pada anaknya itu.

“Aku memang menginginkannya, Eomma. Itu satu-satunya impianku,” Miho menjawab lemah. Dia capek, kakinya sakit, dan masih harus mempertahankan diri di hadapan orang tuanya.

Sebagai seorang ibu, tidak tega juga dia melihat anaknya kalau sudah begini. Sebenarnya dia ingin membantu anaknya, tapi apa? Dia tidak tahu sebab dia memang tetap berpendirian kalau Miho jauh lebih baik menjadi Dokter Hewan saja. Dilihatnya kaki Miho yang berbalut perban. Sebenarnya salah satu alasan mengapa dia dan suaminya tidak bisa mengamuk malam ini adalah karena melihat luka anak mereka begitu memasuki rumah. Bagaimanapun, kalau anak terluka, tidak ada orang tua yang tidak cemas.

“Bagaimana kakimu?” tanya ibu Miho.

“Appeu,” Miho menjawab pelan.

“Apa kau sudah berhasil menemukan agensi?”

Miho menggeleng. Mukanya semakin keruh, membuat hati ibunya trenyuh. Mungkin dia bisa bertanya pada kenalan-kenalannya besok mengenai agensi yang baik. Meski dia tidak yakin ada agensi yang mau menerima seseorang yang sudah kelewat cukup umur seperti anaknya itu. “Istirahatlah, ayo Eomma bantu kau naik,” ujarnya sambil membantu Miho berdiri.

Mereka naik ke kamar pelan-pelan. Setelah sampai di sana, Ibu Miho membantu anaknya berganti baju, bahkan membawakan air dalam ember untuk mengelap badan anaknya. Kaki terkilir Miho pasti tidak boleh kena air, makanya dia hanya mengelap badan atasnya saja. Setelah itu dia keluar membawa ember berisi air bekas mengelap tadi. Di pintu dia berkata, “Tidurlah yang nyenyak, Nak,” lalu menutup pintu kamar Miho rapat-rapat.

Miho menghempaskan tubuhnya ke kasur, merasakan kakinya yang cenat-cenut. Setelah diberi obat, kakinya tidak terlalu sakit lagi. Untung tadi ada si pemberi perhiasan. O ya, siapa ya namanya? Ah, Miho lupa lagi. Seperti nama asing. Nick? Mick? Dick? Miho terkekeh dengan kemungkinan nama orang itu adalah dick.

Miho mengusap wajahnya yang sudah bersih. Hari ini benar-benar hari sial baginya. Ayah dan Ibunya tadi sudah menunggu di ruang depan siap-siap marah karena melihat berita di tv. Aish, cepat sekali sih para pengejar berita itu bekerja?! Untung kakinya terluka, sehingga kemarahan ayah dan ibunya agak sedikit surut.

Euncha sedang apa ya? Anak itu dari kemarin sedang rajin ke kampus. Mencari lowongan, katanya. Lowongan apa? Kerja? Hiiih, Miho bergidik membayangkan bekerja di kampus. Kalau dia sampai bekerja di kampus, kemungkinan dia sudah amnesia atau dicuci otak. Tapi sepertinya Euncha menyukainya. Yah, biarlah. Asal anak itu bahagia.

Tapi malam ini jadinya membosankan. Dia ingin menceritakan harinya pada Euncha, tapi dari tadi siang teleponnya tidak diangkat-angkat. Enaknya ngapain ya?

Pandangan Miho tertumbuk pada laptopnya. Ah, lebih baik dia mengunggah fotonya dengan kaki terluka. Seringkali perhatian pengikutnya di twitter membantunya memulihkan semangat. Dengan susah payah dia membawa laptopnya ke atas kasur, lalu segera beredar di twitter.

Miho terbelalak melihat pengikutnya. Ya ampun, mendekati angka 20k. Padahal kemarin masih sekitar 7k, apa ini efek dari infotainment? Dia mengerang melihat trending topic hari itu. Di peringkat ketiga bertengger nama Choi Minho. Uuugh.

Dikliknya TT atas nama Minho itu lalu muncullah semua opini mengenai kejadian hari ini. Kebanyakan opini yang berasal dari cewek bernada nyinyir dan mencaci makinya. Sepertinya dia akan dibunuh kalau berani mendekati area Shawol. Padahal dia kan juga setengah Shawol, bagaimana ini? Lalu yang berasal dari cowok banyak yang memujinya, tapi tidak sedikit yang bernada seksis. Menyebalkan.

Karena perasaannya justru memburuk membaca itu, dia kembali ke profilnya dan membuka kotak mention-nya. Para pengikutnya banyak yang memberi dukungan. Syukurlah, dia tidak dibenci. Beberapa orang yang dikenalnya secara pribadi memberi komentar lucu seperti, “Wah, Miho-ya! Akhirnya kau muncul juga di tv! Fighting!”. Sementara mereka yang tidak dikenalnya ada yang membelanya, ada juga yang menanyakan kondisinya.

Miho terpana melihat semua itu. Dia merasa sangat didukung dan itu sangat menguatkan hatinya. Tadi siang dia begitu kacau, tapi hanya dengan membaca ini hatinya kembali bersemangat. Masih banyak orang-orang baik di dunia, pikirnya naif. Dan dia belum melakukan apapun untuk orang-orang ini. Kalau mereka terus mendukungnya seperti ini, mana mungkin kan dia membalasnya dengan putus asa?

Miho bertekad, mulai besok dia akan kembali bersemangat. Tidak akan mengendurkan semangatnya lagi. Dan untuk menambah semangatnya, dia akan membuka pesan-pesan dari Leeteuk dan menyerap dukungan positif yang pernah diberikan pria itu. Biarlah jika Leeteuk tidak tertarik berteman lagi dengannya. Apa yang dimilikinya sudah cukup, yaitu kata-kata bersemangat yang pernah dikirimkan Leeteuk untuknya. Hmm, tapi pertama-tama, mengunggah foto dulu.

 

^^^

 

Setelah penampilan mereka di hotel tadi, Leeteuk dan Yesung harus buru-buru ke stasiun radio, dan yang lain juga memiliki jadwal masing-masing. Maka sekarang ini Leeteuk sedang bersiap-siap siaran. Di sampingnya Yesung sedang mempelajari naskah bagiannya. Dia sendiri sudah melakukannya tadi, jadi sekarang saatnya mengupdate para fans tentang situasi di studio melalui twitter:

“Malam yang hangat. Hari ini kami akan menyampaikan beberapa hal yang menghangatkan hati setiap orang. Tetap dukung Sukira! Fighting!”

Begitu tweetnya tercantum, dia tersenyum dan hendak beralih ke naskahnya sekali lagi ketika melihat @foxiemiho menuliskan sesuatu. Gadis itu, ah, benarkah gadis? Hehe, biarlah, toh sekarang dia sudah jadi gadis. Gadis itu mengunggah sebuah foto lagi disertai tulisan:

“Choi Minho ssi, saya benar-benar minta maaf. Saya sudah mendapatkan hukuman saya. Itu semua hanya kesalahpahaman. Mianhamnida.”

Leeteuk melihat foto yang dilampirkan dan tersenyum. Gadis itu duduk di sebuah kursi—sepertinya  itu kamarnya—sambil menunjuk kakinya yang diperban. Jadi dia tadi benar-benar terkilir. Hihihi, kasihan.

Leeteuk memperhatikan wajah itu, dan dengan jujur mengakui pada dirinya sendiri bahwa hasil operasinya memang benar-benar bagus. Bahkan dengan wajah tanpa make-up dia tampak cantik dan imut. Dan itulah yang mendorongnya mengetik pesan pada si empunya wajah:

“Bagaimana kabarmu? Kakimu sakit sekali? Aku tahu obat yang bagus untuk kaki terkilir. Cepat sembuh ya. Fighting!”

Kasihan, pikir Leeteuk. Tapi kemudian pikirannya teralihkan karena sudah waktunya on-air. Dilihatnya produser memberi aba-aba, lalu dia dan Yesung berkata bersamaan, “89.1 FM, Super Junior Kiss The Radio…”

 

^^^

 

Miho tertegun. Leeteuk mengiriminya pesan lagi. Pesan yang perhatian dan bernada hangat seperti teman. Teman biasa. Lantas kenapa hatinya menghangat?

Selama 15 menit Miho hanya menatapi pesan itu. Pesan terakhir Leeteuk. Dia ingin meloncat-loncat gembira, tapi tak ada yang mampu dilakukannya. Dia merasa sedang mengambang. Tidak tahu pasti bagaimana perasaannya, meski yakin ada rasa bahagia di sana.

Apa yang harus dilakukannya? Membalas? Tapi…

Keraguan mendatanginya. Leeteuk langsung merespon fotonya, jadi pria itu pasti tahu bahwa dia sedang online. Kalau Miho tidak segera membalas pesannya, bagaimana kalau Leeteuk tersinggung? Ah, tapi mungkin juga Leeteuk hanya basa-basi. Merasa kasihan padanya, mungkin?

Miho menghela nafas tetap dengan tatapan kosong. Beginikah takdir seorang fans? Kenapa rasanya mengenaskan sekali? Serba salah. Serba bingung.

Telepon genggamnya berbunyi. Setelah lama sekali baru Miho mengangkatnya. “Yoboseyo,” bisiknya. Lihat, bahkan suaranya tercekat.

“Eonnie, gwenchanha?” di seberang sana suara Euncha melengking berkebalikan dengan Miho.

“Eunchanie…” Miho hanya bisa menyebut nama sepupunya itu.

“Kaki Eonnie bagaimana? Lagian Eonnie ngapain pake nampar-nampar si Minho? Kayak bukan Eonnie aja. Eonnie itu kan biasanya jejingkrakan kegirangan kalo ngeliat idola brondong. Eonnie tadi sama Luke? Aku liat kayak ada Luke di Youtube. Eonnie? Eonnie?! Yoboseyo, Eonnie!” Euncha memberondong Miho dengan pertanyaan dan kalimat-kalimat yang menggumpal dalam benaknya. Kenapa Miho diam saja? Apakah terjadi sesuatu yang buruk?

“Mihonnie…?” kali ini nada suara Euncha pelan dan prihatin. Dia khawatir. Eonnienya diam saja bahkan saat dia berteriak. Pasti terjadi sesuatu.

“Eon—“

“Eunchanie…” Miho berkata pelan. “Leeteuk mengirim pesan lagi,” katanya lirih.

 

^^^

 

“Hyung!” Kyuhyun berteriak pada Eunhyuk.

Tapi terlambat. Eunhyuk sudah berputar dan bergeser. Akibatnya terjadilah benturan hebat antara Kyuhyun, Eunhyuk dan Siwon. Ketiganya sekarang terkapar di lantai ruang latihan. Sungmin memandangi mereka dengan kesal. Sementara Donghae dan Ryeowook diam saja.

Malam ini mereka memutuskan untuk melatih koreografi terbaru mereka untuk Suju M. Walaupun tanpa Henry dan Zhoumi, karena kebetulan keduanya sedang pulang ke negara masing-masing.

Sepulang dari mengisi acara di hotel tadi, hari masih sore—untuk ukuran mereka—jadi mereka memutuskan untuk sedikit menggerakkan badan dengan berlatih. Kebetulan ada koreografi baru yang baru saja mereka dapatkan bulan kemarin.

Hanya saja ternyata Eunhyuk tidak bisa berkonsentrasi. Kepalanya dipenuhi bayang-bayang sosok si Rubah. Entah kenapa dia tidak bisa mengenyahkan perasaan bersalahnya terhadap orang itu.

Sebenarnya dia sama sekali tidak berbuat salah. Tidak meneruskan mengirim pesan bukan kesalahan kan? Lagi pula tidak ada hal yang harus mereka diskusikan setiap waktu, mengapa dia harus mengirimkan pesan. Benar kan?

Akh, sial. Tetap saja perasaannya tidak enak.

“Kau niat latihan, tidak?” tanya Sungmin dingin.

Eunhyuk memandang Sungmin kosong. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada yang lain. Semua tampak kesal. Serius, bukan kesal main-main. Dia pun menyadari bahwa dari tadi yang dilakukannya hanya melakukan kesalahan. Sama sekali tidak berkonsentrasi.

“Mian,” katanya singkat sambil bangkit. Setelah itu dia beranjak pergi meninggalkan ruang latihan. Meninggalkan semua orang di ruangan itu terbengong.

Donghaelah yang kemudian paling gusar. Semua bisa melihat bahwa Eunhyuk sedang kepikiran tentang sesuatu, tapi seperti biasa, hanya Donghae yang merasa paling heboh kalau Eunhyuk tidak bercerita padanya. Cowok itu sudah beranjak menyusul Eunhyuk, ketika Sungmin mencegahnya. “Biarkan saja dia,” katanya tegas ke arah Donghae.

“Tapi…” Donghae tampak tidak rela dicegah.

“Apa kau juga ga niat latihan?” Sungmin memandangnya tajam. Soal kedisiplinan memang dia yang pegang kendali.

Niat Donghae mengejar Eunhyuk surut melihat tatapan Sungmin. Dia sadar bahwa mereka memang ke sini dengan niat untuk berlatih. Kalau kemudian latihan mereka terganggu karena ada yang tidak berkonsentrasi, akan lebih baik jika yang tidak berkonsentrasi itu pergi menenangkan diri daripada merusak seluruh formasi. Akhirnya mereka yang tersisa kembali berlatih.

Di luar ruang latihan, Eunhyuk berjalan sembarangan ke mana saja untuk menjernihkan pikiran. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Kenapa dia tidak bisa melepaskan pikirannya dari si Rubah? Perasaan bersalahnya sangat kuat, begitu juga dengan rasa penasarannya. Bagaimana kondisi si Rubah sekarang? Sedang apa dia? Apa dia masih belum tidur seperti saat terakhir mereka bertukar pesan? Apakah dia sudah berhasil mendapatkan agensi?

Sedang banyak pikiran begitu, Eunhyuk melihat Minho. Choi Minho, hobaenya yang tadi siang berinteraksi langsung dengan si Rubah. Eunhyuk ingin berbalik saja dan melarikan diri dari Minho, sebab takut tidak bisa mengendalikan rasa penasarannya kalau berhadapan langsung dengan anak itu. Dia ingin bertanya pada Minho tentang rasa tangan si Rubah, tentang kulitnya, apakah sehalus yang terlihat, juga tentang matanya, apakah sebesar dan secemerlang seperti yang ada di foto. Dia ingin tahu sekali, tapi sadar bahwa itu berbahaya. Makanya dia ingin berbalik.

Keinginan yang terlambat. Sebab Minho dan anggota Shinee yang lain telah melihatnya dan mereka semua sedang menyapanya sambil membungkukkan badan. Mau tidak mau Eunhyuk menyapa balik.

“Anyeong, Hyung. Sedang apa di sini?” Key menyapa Eunhyuk dengan suara cerianya yang biasa.

Eunhyuk nyengir. “Sedang latihan, tapi aku bolos sebentar.”

“Hahaha, baiklah kalau begitu. Kami duluan, Hyung…” Onew mewakili yang lain berpamitan.

“O, geurae,” Eunhyuk menjawab singkat sambil melambaikan tangan.

Saat memandang punggung para juniornya itu menjauh, tiba-tiba mulut Eunhyuk berkata tanpa koordinasi dengan akal sehatnya, “Oh, Minho-ya! Bagaimana denganmu?”

Sial! Sial! Sial! Mulutnya memang tidak pernah bisa diajak kompromi!

Minho berbalik dan memandangnya bertanya.

Terpaksa Eunhyuk menutupi kekalutannya dengan gerakan mengelus pipi. Sudah terlanjur. Lebih baik terang-terangan bertanya saja.

Minho melihat gerakan tangan Eunhyuk dan menyadari bahwa Hyungnya itu pasti sudah melihat berita tentang yang terjadi tadi siang. Dia ikutan nyengir ke arah Eunhyuk. “Yah, lumayan,” katanya enteng.

Tahu-tahu dari sebelah Minho Taemin nyeletuk, “Dia ini justru senang, Hyung. Karena yang menamparnya cewek cantik sekali.”

Akibat celetukannya itu, Taemin mendapat hadiah jitakan keras dari Minho. Tapi Eunhyuk sudah melihatnya, meski anak itu berusaha menutupinya dengan sikap memarahi Taemin. Wajah Minho memerah. Ternyata memang si Rubah secantik itu. Hatinya tiba-tiba terasa bagai diremas.

“Hahaha,” Eunhyuk tertawa palsu melihat tingkah junior-juniornya itu.

Untung Jonghyun segera menengahi keduanya. “Eish, kalian ini. Ayo cepat. Kita sudah ditunggu oleh Manajer-nim!”

Onew menyetujui, lalu sekali lagi berpamitan pada Eunhyuk. Mereka akhirnya pergi dengan Key menyeret Taemin dan Onew merangkul Minho. Di belakang mereka, Eunhyuk memandang Minho dengan tidak karuan. Dasar si brengsek yang beruntung! Hatinya memaki.

Lalu otaknya protes. Kenapa Minho beruntung? Dia kan ditampar banci! Kenapa Eunhyuk harus merasa kalah?

Kesal karena tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, Eunhyuk mengerang putus asa, “Aaargh! Sialan kau, Rubah!”

-cut-

 


4 thoughts on “My Lovely Fox [Part 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s