Dear Diary…


 

Author         : Cho Hae Kyu

Genre           : Romance

Tag              : Ryeowook, Han Rae Min, and others

Category      : One shoot

Judul           : Dear Diary…

Kimhyunnaelfsuju.blogspot.com

Halo😀 (-_-)… hehhe tumben-tumbenan nih bkin yang rada sad, haha… lagi galau soalnya *ga nanya. Happy reading ya all J

***

 

Han Rae Min POV

Aku mendudukkan diriku di kursi taman sekolah, tempat favoritku untuk menumpahkan semua duka yang ku derita. Rasa sakit yang sudah membebani diri dan hatiku. Mungkin kalian mengira aku adalah yeoja lemah. yah memang kerjaan setiap hariku adalah diusili teman, di isengi oleh yeoja-yeoja ‘lebay’ di kelasku, di beri setumpuk pekerjaan sebagai ketua kelas karena murid di kelasku tidak ada yang mau mengurusi hal-hal seperti itu. Dan satu lagi… menatapnya.

Kalian akan bertanya siapa namja itu bukan? Namanya Kim Ryeowook. Dia teman sekelasku. Aku mulai tertarik ketika aku melihatnya membelikan es krim untuk seorang anak kecil yang menangis waktu itu.

#flash back

“huaaa… umma mana? Huaaa…” tangis gadis kecil di sebuah taman.

“cup cup cup… adik kecil, kamu kenapa?” namja bernama Ryewook itu berlutut, menyesuaikan tinggi nya dengan anak kecil itu.

“umma ku gaada… aku takuttt… huaaa” Ryewook yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya mengelap air mata anak itu. Dan tiba-tiba terlintas sebuah ide (?) di otak encernya.

“aigoo… jangan menangis terus. Bagaimana kalau oppa belikan kau es krim? Dan membantumu mencari ibumu?” anak itu langsung berhenti menangis. *dasar anak kecil. Umpannya pake es krim dulu -_-*

“benar? Asikkk dapet es klimmm! (cadel)” Ryewook pun tersenyum melihat anak itu berhenti menangis.

“kau mau rasa apa? Nanti oppa belikan.” Ryewook menggenggam tangan gadis kecil itu, dan membawanya ke toko es krim terdekat.  Setelah membelinya dan memakannya di kursi taman, terlihat seorang ahjumma datang dengan senyum sumringan.

“aigoo kemana saja kau? Sampai-sampai merepotkan tuan ini? Aishhh… mohon maaf sudah merepotkan” kata ahjumma itu sambil membungkuk. Sepertinya dia ibunya anak kecil itu.

“gwaencana… aku suka anak kecil ini, dia manis.”

“gomawo oppa, Shinmi pergi dulu ya. Dadahhh oppa” kata anak yang bernama Shinmi itu sambil melambaikan tangannya yang imut. (kaya’ authornya dong hoho) *digebukin readers*

“iya… sampai jumpa lagi” jawab Ryewook sambil tersenyum. Sepertinya dia tidak menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikannya.

#end of flash back

Terlihat biasa, tapi semenjak hari itu, aku kembali bisa tersenyum setelah kematian eomma ku. Beliau pasti ada di surga sekarang. Tersenyum sambil menunggu aku dan appa menyusulnya.

Sambil menunggu bel masuk, aku menulis di diary ku. Yah… memang untuk curhat aku tidak mempercayakan siapapun untuk mengetahui isi hatiku. Cukup aku yang merasakan. Hanya aku, buku ini, dan Tuhan saja yang tahu. Bahkan appaku saja tidak ku beri tahu.

Monday, 19 April 1999

Dear Diary…

Kau tahu? Tadi aku senang sekali! Karena ada perubahan denah tempat duduk, aku bisa bersebelahan dengannya! Aku tahu memang tidak baik lama-lama menyimpan rasa ini. Tapi aku takut di tolak. Aku takut sakit hati. Aku tidak mau lagi. Melihatnya tersenyum saja sudah cukup untukku biarpun aku tahu kalau senyumnya itu bukan untukku. Hal yang sesederhana itu saja sudah membuat aku bahagia

Ting Tong Ting Tonggg…

Suara bel yang khas, menyadarkan aku untuk segera kembali ke kelas. Melanjutkan pelajaran fisika minggu kemarin. Aku suka fisika. Sangat.

 

~Class Room

“hei maaf, emmm Rae Min-ssi, aku mau bertanya…” aku menengokkan (?) kepalaku ke sebelah. Setelah tahu siapa yang bicara tadi, aku syok berat. Di-dia… Ryeowook? Astaga semoga jantungku tidak copot. Selama hampir 3 tahun sekolah di sini, kami tidak pernah bicara langsung. Dan sekarang? Lihat apa yang dia lakukan pada jantungku.

“gwaencanayo?” dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Aih, aku bengong!

“n-ne gwaencana. Mau tanya a-apa?” tanyaku gugup.

“begini, setahuku, kau pintar fisika. Bisa tidak kau ajarkan aku rumus ini? Aku tidak pernah mengerti dari dulu” katanya sambil menunjukkan rumus yang tertulis di buku catatannya. Aishhh itu mah gampang sekali! *blagu*

Aku hanya mengangguk dan mulai mengajarkan caranya. Tapi… jarak ku dengannya ini terlalu dekat, sampai-sampai aku sesak napas. Untung saja asma ku tidak kumat.

“oh ternyata begitu caranya, gamsahamnida Rae Min-ah” tadi dia panggil aku apa? Rae Min-ah? OMO! Jangan sampai aku pingsan disini.

Monday, 19 April 1999

Dear Diary…

Kau tahu? Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagiku. Aku bisa berbicara dan dekat dengan Ryeowook! Aishhh… aku seperti ingin pingsan karena terlalu dekat dengannya. Ini terlalu cepat untukku, ah tapi ya sudahlah. Aku harap dia bisa mendengarnya walaupun itu sangat tidak mungkin. Dan aku akan menulisnya disini dengan besar dan penuh cinta. RYEOWOOK, SARANGHAE!

Aku tersenyum sumringan bahkan sampai pulang sekolah. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku ini. Ini pertama kalinya bagiku merasakan rasa bahagia yang sudah lama tidak aku rasakan semenjak eommaku meninggal. Aku benar-beanr bahagia walaupun alasannya hanya sepele, di ajak ngobrol Ryeowook. Haha masa bodo lah aku tak peduli.

Aku masih berjalan sendirian ke gerbang sekolah, sampai aku menemukan seseorang yang kukenal di dekat taman. Ryeowook? Dan siapa itu? Bukankah itu Hee In? Apa yang sedang mereka lakukan? Sejak kapan mereka jadi akrab begini?

Hiks… padahal Hee In adalah satu-satunya teman yang aku percaya di sekolah ini, tapi sekarang? Coba lihat apa yang di lakukannya? Mungkin aku memang harus tidak percaya dengan siapapun di sekolah ini.

Aku pergi meninggalkan tempat itu. Dari pada aku muak melihat wajah Hee In. Tidak terasa aku menangis. Baru saja aku merasakan kebahagiaan, dan kini? Aku kembali merasa sedih. Sepertinya takdirku memang begini. Disakiti dan terus disakiti.

Tuesday, 20 April 1999

Dear Diary…

Hari ini aku juga melihat mereka berdua di taman. Sebenarnya mereka itu ada hubungan apa? Apa mereka jadian? Hee In benar-benar tidak punya hati! Aku benci dirimu! Apa kau tidak tahu kalau aku mencintainya? Ryeowook-ah, saranghae… jeongmal

 

~esok harinya

Akhir-akhir ini, aku kembali sedih. Kau tahu alasannya kan? Jadi aku tidak perlu repot-repot menceritakannya. Appa ku saja sampai khawatir melihat wajahku yang sedikit pucat. Tapi aku tidak mau menambah bebannya, jadi aku bilang saja bahwa aku tidak apa-apa.

Kali ini aku mengikuti pelajaran fisika dengan tidak mood. Tumben sekali. Padahal aku sangat suka pelajaran ini. Masa’ hanya gara-gara orang sebelahku ini? Kuberanikan diriku untuk melihatnya, curi-curi pandang. Ingin mengetahui apa yang sedang dilakukannya.

DEG! Bodohnya aku, dia juga sedang liat kearahku. Kami saling beradu pandang untuk beberapa saat. Tapi… yang kulihat, matanya menggambarkan kekhawatiran. Ah tidak-tidak! Mana mungkin! Itu pasti hanya halusinasiku saja. Tidak-tidak.

Aku kembali memperhatikan pelajaran untuk beberapa saat, sampai aku merasa, kepalaku benar-benar-teramat-sangat (?) sakit. Aih… rasanya mau pecah! Mungkin aku harus ijin ke ruang UKS.

“Park Seongsaenim, saya izin ke…” sudah terlambat. Belum aku selesai bicara, ternyata sakit kepala ini tidak bisa toleransi. Aku tidak sadarkan diri.

 

Kim Ryeowook POV

Aku sangat khawatir begitu melihatnya pingsan. Ini benar-benar di luar dugaanku. Walaupun aku tahu, dia sedang sakit dan wajahnya benar-benar pucat. Aku sangat khawatir (lagi).

Akhirnya aku yang meminta izin kepada Park seongsaenim untuk membawanya ke UKS karena tidak ada relawan yang mau membawanya. Murid-murid disini memang keterlaluan! Tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali, aku benar-benar benci.

“dia kenapa?” tanya salah seorang perawat di UKS.

“dia tadi pingsan di kelas. Sepertinya dia sakit kepala karena dari tadi dia memegangi kepalanya” jealsku. Karena dari tadi aku memperhatikannya terus, aku khawatir.

“baiklah biarkan saja dia istirahat sebentar disana” kata perawat itu sambil menunjuk ke sebuah tempat tidur (ini tempat tidur yang suka di ruang UGD, bukan tempat tidur yang suka di rumah-rumah. Abis author ribet ngomongnya hoho *author dodol).

“apa aku boleh menungguinya?”

“boleh sih, tapi bukankah sekarang sedang jam pelajaran? Bagaimana dengan pelajaran yang kau tinggalkan?”

“keadaan nya lebih penting” jawabku mantap.

“baiklah kalau begitu, jaga dengan baik ya yeojachingumu itu. Aku mau keluar sebentar.” Yeojachingu? Ah… jujur, aku memang menyukainya. Semenjak pertama kali masuk ke sekolah ini, aku memang suka padanya pada pandangan pertama. Entah mengapa dia seperti memiliki sesuatu yang indah dalam dirinya.

Tapi, karena aku menyukainya, aku jadi menjauhinya. Sampai-sampai aku tidak pernah berbicara padanya, aku memang payah. Aku terlalu takut untuk menyampaikan perasaan ku, aishhh nyaliku benar-benar payah.

Sampai-sampai aku sering bertanya pada teman dekatnya, Hee In. Aku berusaha mengeruk informasi tentang Rie Min darinya. Sampai-sampai dia capek karena aku bertanya terus.

Akhirnya aku mulai berani menyapanya walaupun dengan alasan bertanya rumus fisika. Huft sebenarnya aku sudah mengerti rumus itu, hanya saja aku ingin mencari alasan untuk berbicara padanya. Sekali lagi, aku benar-benar payah.

Tapi, akhir-akhir ini aku melihatnya sedih dan sedikit pucat. Kira-kira ada masalah apa ya? Aku jadi penasaran.

“sedang apa kau disini? Arkhhh…” dia memegangi kepalanya yang kurasa sakit.

“aku menungguimu, aku khawatir sekali begitu melihatmu pingsan, apa kau sudah baikan?”

“m-menungguiku? Untuk apa? Bukankah kau sudah punya yeojachingu?”

“hah? Yeojachingu? Alasan apa yang membuatmu mengarang cerita seperti itu? Aku itu masih lajang” jelasku. Dia ini aneh deh.

“t-tapi bukankah kau pacaran dengan Hee In? Aku suka melihat keakraban kalian” oh… jadi salah paham? Eh kalau begitu, dia memperhatikanku bukan?

“haha kau salah sangka, Rae Min-ah! aku tidak pacaran dengannya, hanya bertanya dengannya tentang orang yang aku sukai”

“memangnya kau suka sama siapa?” deg! Mungkin ini saat nya. Mungkin ini saatnya untuk menyatakan perasaan yang sudah kupendam selama hampir 3 tahun ini! Ayolah Ryeowook, kumpulkan keberanianmu!

“aku suka dengan…”

“dengan siapa?” tanyanya lagi. Sial! Jantung ku berdetak keras sekali. Kira-kira dia dengar tidak ya?

“d-dengan…” kenapa kata itu susah sekali keluar dari mulutku? Kenapa?

“ya?” sepertinya sikapku ini membuatnya makin penasaran.

“dengan… mu” aku pasrah sekarang. Aku benar-benar pasrah. Aku hanya menunduk.

“nado…” apa aku tidak salah dengar? Atau kepalaku terbentur sesuatu?

“mwo? K-kau juga suka denganku?” dan dia hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum malu. Kulihat dipipinya muncul guratan-guratan merah.

“j-jadi, kita jadian? Kau yeojachinguku sekarang?” tanyaku lagi, mencoba memastikan. Dan dia hanya mengangguk lalu kembali menunduk. Aishhh aku senang sekali, sehingga aku reflek memeluknya.

“kau membuat kepalaku tambah sakit saja, Ryeowook-ah”

“aish kau ini sadis sekali jagi haha”

“haha hanya bercanda kok” aku kira aku berada dalam dunia mimpi, tapi ternyata tidak! Aku benar-benar bisa menggapai bidadari impianku ini, Rae Min.

 

Han Rae Min POV

Wednesday, 5 May 1999

Dear Diary…

Tidak terasa sudah 2 minggu aku menjadi yeojachingunya Ryeowook, ini semua bagai mimpi. Tuhan terima kasih… aku merasa menjadi yeoja paling beuntung di dunia ini…

PLUKKK… tidak sengaja aku menjatuhkan buku diary ku. Arkhhh kepalaku sakit sekali. Seperti terbentur benda keras. Sakit sekali, sampai aku mengeluarkan air mata.

“Arkhhh…” kupegangi kepalaku. Sakitnya bukan main. Sebenarnya aku kenapa?

“nak? Kau tak apa?” appaku secepat mungkin datang ke kamarku begitu mendengar rintihanku.

“entahlah appa, aku hanya merasa kepalaku benar-beanr sakit sekali”

“apa kita perlu ke dokter?” tanya appaku, masih dengan pandangan cemasnya.

“ah, tidak usah appa, aku baik-baik saja. Mungkin ini karena aku kecapekan akhir-akhir ini”

“yasudah, istirahatlah. Kalau ada apa-apa beritahu appa, ara?” kata appa mencium keningku.

“ne appa”

***

 

“ini untukku?”

“ne, aku membuatkannya khusus untukmu. Ya… walaupun aku tahu tidak selezat bikinanmu, tapi aku hanya mencoba. Semoga kau suka” aku menunjukkan senyum terbaikku. Ya, aku membuatkan bulggogi untuk Ryeowook. Karena dia pernah memintaku untuk membuatkannya. Jadi, pagi-pagi sekali aku ke dapur untuk membuatkannya bekal ini.

Dia menyendokkan bulggogi buatanku ke mulutnya, dan…

“enak! Ini enak sekali! Kau belajar dari mana Rie Min-ah? Aigoo, aku senang sekali kalau nanti kita menikah, bukan aku yang memasak lagi”

“benarkah? Haha kau ini ada-ada saja. Habiskan! Jangan ada sisa!”

“siap bosss!” aku hanya memukul bahunya pelan. Dia memang terkadang suka bercanda. Dia memakannya dengan lahap. Hem, apa dia berbohong?

“katakan yang sebenarnya jagi, apa ini benar-benar enak?” aku bertanya melihat ke matanya. Mencari kalau-kalau ada kebohongan terselip di ucapannya.

“ne, ini enak kok” tak ada kebohongan. Baiklah, saatnya membuktikan dengan lidahku sendiri. Aku langsung mengambil alih sendok di tangannya. Menyendokkan bulggogi buatanku ke mulutku. Sendokkan terakhir di kotak bekalku.

“kau gila? Ini asin!” ucapku membuang bulggogi yang sempat ku makan tadi. Bagaimana bisa dia membohongiku.

“tidak kok, rasanya pas! Tidak terlalu asin” jawabnya dengan tampang innocent. Kuakui, dia pandai menyembunyikan sesuatu.

“yak! Sudah salah, masih mengelak?” tiba-tiba bibirnya mendarat di pipi kananku. Membuat darahku berdesir menuju pipi. Hingga membuat beberapa semburat merah.

“mianhe… aku gemas sekali melihat wajahmu ketika marah. Lucu”

“aishhh… kau ini benar-benar… Arkhhh” kepalaku. Aish jincha, kenapa pusingnya tidak hilang-hilang?

“gwaencanayo? Ayo kita ke UKS” Ryeowook memandangku cemas. Dia memegang bahuku, membantuku berdiri. Tidak! Aku tidak boleh lemah! Aku tidak boleh membuatnya cemas seperti ini

“gwaencana, haha hei tidak usah semas begitu dong! Wajahmu jadi imut begitu” kucubit pipinya lalu lari, menyelamat kan diriku dari amukannya.

“Yak! Tunggu aku, jagi!”

***

Friday, 7 May 1999

Dear Diary…

Aishhh jincha… kepalaku akhir-akhir ini beanr-benar sakit. Apa aku sakit? Aku takut kalau penyakit ini parah. Apa aku harus memeriksakannya ke dokter? Ya, mungkin harus

Aku tutup buku diary ku, dan menuju kamar appa. Beliau sedang membaca koran.

“enggg appa…” beliau melihat kearahku lalu tersenyum.

“ada apa sayang? Apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat” appa menghentikan aktivitasnya lalu menghampiriku. Memandangku cemas dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan aku-tidak-baik-baik-saja.

“begini appa, aku akhir-akhir ini sering pusing dan juga sering melupakan sesuatu. Rambutku juga suka rontok dan kepalaku sakit luar biasa. Apa aku memiliki penyakit? Apa aku harus ke dokter?”

“sepertinya iya, appa takut terjadi sesuatu padamu nak.” Akhirnya aku dan appa pergi menggunakan mobil, ke rumah sakit terdekat.

“dia terkena kanker otak stadium 3, jadi masih ada kemungkinan dia bisa sembuh walaupun cuma sedikit. Tapi tolong rahasiakan ini darinya, ini bisa mengganggu kejiwaannya” kata dokter yang tadi memeriksaku kepada appa.

Aku tadi ke toilet sebentar, dan mencoba kembali lagi kesini. Tapi malah pembicaraan ini yang kudengar. Sungguh membuatku takut setengah mati. Aku… aku…

KLEKKK… pintu itu terbuka. Dan seketika itu juga, dokter dan appa syok berat ketika melihatku sudah di depan pintu.

“R-rae Min? Apa kau sudah lama disitu? Apa kau mendengar perbincangan kami?” tanya appa.

“ah tidak, aku baru dari toilet, appa. Mendengar apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“ah, sudahlah lupakan, ayo kita pulang. Sekali lagi gamsahamnida” kata appa pada dokter itu dan kami membungkuk sedikit.

Sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Benar-benar tidak menyangka kalau aku terkena penyakit ini. Ini benar-benar membuatku syok berat. Ternyata sebentar lagi, aku akan menyusul eomma.

***

 

Aku tidak masuk selama seminggu, karena aku di rawat di rumah sakit. Penyakitku yang makin parah, membuat appa benar-benar panik. Tapi setiap aku bertanya aku sakit apa, appa tak menjawab. Percuma appa, aku sudah tahu semua.

Dan aku mengirim pesan kepada Ryeowook. Memberitahu kenapa aku tidak masuk seminggu.

To     : My Ryeowook

From : Your yeojachingu

Jagi, mianhe aku tidak bisa masuk sekolah. Tiba-tiba nenek ku sakit parah, dan aku harus merawatnya untuk beberapa hari. Mianhe tidak bisa bertemu denganmu. Jeongmal bogosshipoyo…

Send. Mianhe Ryeowook… aku harus berbohong. Aku tidak mau kau juga menghawatirkan ku. Aku tidak mau melihat wajah cemasmu. Aku ingin kau selalu tersenyum.

 

Drrrttt… drrrtttt… kulihat layar ponselku, My Ryeowook.

To     : My Yeojachingu

From : Your Ryeowook

Gwaencana jagi, haha. Cepat kembali ya, nado bogosshipo.

Tidak terasa air mataku mengalir begitu saja. Hiks… sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini. Ya, sebentar lagi, dan dalam jangka waktu dekat ini. Tapi… aku ingin bertemu dengan Ryeowook walaupun untuk yang terakhir kali.

Friday, 14 May 1999

Dear Diary…

Kau tahu? Mungkin aku belum memberitahukannya. Ternyata aku mengidap penyakit kanker otak, dan itu sudah stadium 3. Syok? Tentu saja. Sering aku merasa Tuhan sangat tak adil padaku, namun saat teringat Ryeowook, aku merasa Tuhan sangat adil padaku. Bahkan terlalu baik sehingga memberikanku seorang yang sempurna seperti dia. Setidaknya aku punya kenangan indah di dunia ini sebelum aku menyusul eomma ke surga.

Hari ini aku memaksa appa untuk pulang, aku tak perduli lagi dengan penyakitku ini. Aku hanya ingin ke sekolah lalu bertemu dengan Ryeowook ku! Dan juga… aku ingin memberikan diary ku padanya, tapi tidak secara langsung melainkan menitipkannya dengan Hee In.

***

 

“kau yakin akan baik-baik saja?”

“ne appa, aku akan baik-baik saja! Appa tidak usah khawatir! Aku kan gadis kuat haha”

“baiklah kalau begitu, tapi kalau ada apa-apa beri tahu appa, ara? Jangan paksakan dirimu nak” appa mengelus-elus kepalaku dengan lembut.

“sip deh” kataku menyentuhkan jari telunjuk dan ibu jari, membentuk bulatan.

Pagi ini aku masuk sekolah, diantarkan oleh appaku. Dan juga karena rambutku sudah banyak yang rontok, aku memakai kerudung kepala dan membiarkan beberapa sisa rambutku tergerai, jadi tidak terlihat kalau aku ini penyakitan.

@class room-jam istirahat

Aihhh, tidak ada satu pelajaran pun yang menyerap ke otakku. Yang aku lakukan sedari tadi hanyalah memegangi kepalaku yang sakit luar biasa. Aku seperti ingin melayang ke udara.

“kau tak apa? Apa kau kurang sehat?” ucap Ryeowook mengagetkanku. Aish wajahnya. Tanpa aba-aba aku langsung memeluknya, mencium bau harum badannya. Hangat.

“hei, kau mengagetkanku jagiya! haha” dia menepuk-nepuk kepalaku. Untung di kelas ini hanya kami berdua.

“tumben kau pakai kerudung kepala”

“ah… ini… aku, sedang kedinginan, haha iya aku kedinginan” dustaku. Tidak mungkin kan kalau aku bilang yang sebenarnya?

“haha kau kedinginan? Bukankah ini panas? Aku saja kegerahan” katanya sambil mengibaskan buku tulisnya, membuat angin.

“be-begitu ya?” tiba-tiba dia memelukku dengan erat. Aku kaget sekali, jantungku mau meledak (?) sepertinya.

“kalau begini, kau akan hangat” rasanya tentram sekali. Aku pasti akan merindukan pelukan hangatnya ini.

“yak! Jangan berbuat mesum disini! haha” Hee In mengaget kan kami berdua. Aku langsung cepat-cepat menyembunyikan muka merahku ini.

“dasar pengganggu” kata Ryeowook sambil memanyunkan bibirnya, lucu sekali. Dan Hee In hanya memberikan jari tangannya yang berbentuk V.

***

“Hee In, aku menitipkan diary ku dan surat ini padamu, tolong berikan kepada Ryeowook jika…” aku tak meneruskan perkataanku. Terlalu berat mengucapkannya.

“bukankah aku sudah memberi tahumu tentang penyakitku ini?” tanpa aba-aba lagi, Hee In langsung memelukku.

“hiks… hiks… jangan pergi Rae Min, kau sahabat terbaikku…”

“aku juga inginnya seperti itu. Tapi, sepertinya keinginan kita bertolak dengan keinginan Tuhan. Jadi, aku hanya menitipkan ini kalau-kalau aku… pergi meninggalkan kalian dalam waktu dekat ini, hiks… mianhe Hee In. Aku mencintaimu” aku mempererat pelukanku padanya. Takut kehilangannya, sahabat sejatiku.

“nado…”
***

Author POV

“appa aku mau dirumah saja, aku tidak mau ke rumah sakit itu lagi.”

“kau yakin? Appa takut penyakitmu itu tambah parah Rae Min-ah” wajah appa cemas, itu yang  Rae Min lihat.

“memangnya aku sakit apa, appa?”

“…”

“appa! Jawab aku! Aku sakit apa???” suara Rae Min bergetar menahan amarah.

“…”

“hiksss… appa kan tinggal mengatakan kalau aku itu sakit kanker otak dan sudah stadium 3! Apa susahnya sih???!!!” mata appa Rae Min membesar. Tidak menyangka bahwa anaknya mengetahui, apa yang telah dirahasiakannya.

“ma-maaf kan appa Rae Min-ah… appa hanya tidak mau memberatkan pikiranmu.” Appa memeluk Rae Min dengan lembut, dan hangat.

“hiks… appa, aku sayang appa… saranghae…” kata Rae Min sesenggukan.

“iya sayang, appa juga” tapi kehangatan itu tak berlangsung lama, tiba-tiba…

“arkhhh…” Rae Min memegangi kepalanya dengan keras sampai dia mengeluarkan air mata. Sepertinya kepalanya sakit lagi. Tapi sepertinya ini lebih sakit dari yang biasanya.

“Rae Min kau tak apa? Bicara nak! Bicara!” terdengar suara khawatir disana.

“arkkkkhhh appa, sakit sekali!!! Arkhhhh kepalakuuu…”

“peluk appa nak, peluk appa…” mereka berpelukan, dan Rae Min meremas punggung baju appanya karena kepalanya sekarang benar-benar sakit.

“appa… saranghae…” hingga sampailah di detik terakhir. Rae Min meremas punggung baju ayahnya dengan sangat keras. Namun, perlahan… remasan itu, mengendur… mengendur… dan… terlepas.

“sampaikan salam appa untuk ibumu, nak” ucap appanya sambil ngelap air mata di pipi.

***

Kim Ryeowook POV

Ini tidak mungkin! Bicaralah seseorang kalau ini semua hanya gurauan! Bilang kalau ini tidak benar! Katakan, siapa saja!!!

“aku tahu ini berat untukmu, tapi terimalah… ini takdir, Ryeowook-ah!” Hee In mencoba menenangkan ku dari kejadian tiba-tiba ini.

Kemarin aku melihatnya bersenang-senang bersama ku. Tapi sekarang? Dia pergi untuk selamanya? Ini… ini seperti mimpi buruk bagiku. Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!

“kau tidak tahu rasanya jadi aku Hee In-ah! ini… ini… hiksss…” aku tidak sanggup membendung air mataku. Aku benar-benar syok sekaligus sedih karena kejadian ini.

“bahkan aku tidak bisa menghadiri pemakamannya pagi ini, ini benar-benar… hiksss…” aku tidak sanggup lagi. Ini berat, sangat berat untukku. Kenapa harus ini yang ditakdirkan untukku, Tuhan? Apa ini yang terbaik?

“aku ingin mengajakmu ke kuburannya nanti sore, aku di beritahu appanya. Kau mau ikut kan?” aku hanya mengangguk. Masih sedih dan syok dengan kejadian buruk yang menimpaku ini.

***

 

“Rae Min-ah, aku datang kesini bersama Ryeowook, kekasihmu” kata Hee In pada kuburan Rae Min. Aku tidak sanggup lagi membendung ini semua. Tangisku pecah. Aku memeluk kuburannya, tidak perduli baju seragamku akan kotor karenanya.

“jagi, aku datang… apa kau tidak mau melihatku? Aku merindukanmu!” kataku mencoba tersenyum.

“jagi… jawab aku! Apa kau merindukanku juga?”

“jagi… hiksss…” pundakku naik turun, aku memang tidak bisa membendung lagi tangisku ini. Lebih baik aku keluarkan semuanya.

“Ryeowook-ah, ini untukmu. Buku diary Rae Min dan surat untukmu. Dia menitipkannya padaku sebelum dia meninggal” kulihat mata Hee In memerah. Kurasa dia mau menangis juga, tapi dia menahannya. Dia memang tegar.

To        : Kim Ryeowook

Hai jagi… apa kabar? Semoga kau akan selalu baik-baik saja.

Mianhe karena aku tidak memberitahukan hal ini padamu. Aku tahu pasti kau sangat membenciku, tapi aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu, Ryeowook-ah!

Pasti kau membaca surat ini setelah aku tiada. Tolong sampaikan pesanku pada Hee In bahwa aku sangat mencintai sahabat ku yang satu itu hehe. Tidak lupa juga aku mengatakan bahwa, aku sangat mencintaimu Ryeowook-ah. dengan segenap hatiku. SARANGHAE…

‘nado’ jawabku dalam hati.

Kau tahu? Aku sebenarnya merasa syok dengan apa yang menimpaku ini, tapi aku terima semuanya dengan ikhlas. Semoga aku bisa bertemu dengan eomma ku di surga. Dan aku juga menunggumu! Dan berjanjilah padaku untuk bahagia selamanya. Jangan berlarut-larut bersedih karena kematianku. Aku akan merelakan jika kau bersama yeoja lain suatu saat nanti.

Oh iya, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku sangat senang telah mengetahui perasaanmu padaku, perasaan bahwa kau juga mencintaiku. Itu sangat indah Ryeowook-ah! dan juga, harus kau tahu… sebenarnya Hee In menyukaimu… tapi itu ia pendam agar sahabatnya bisa bahagia. Nah sekarang, bahagiakanlah dia… aku akan merestui hubungan kalian…

Aku mencintaimu Ryeowook… Jeongmal saranghae… Tolong jangan lupakan aku, karena aku akan selalu mengenangmu.

Yang selalu mencintaimu

Han Rae Min

Tidak terasa air mataku semuanya telah keluar. Orang yang aku cintai… sekarang sudah tidak ada, tapi aku akan menepati janjiku. Aku akan bahagia Rae Min-ah! dan aku tidak akan melupakanmu.

Aku membuka buku Diary tebalnya. Membaca nya secara perlahan dengan tetesan air mata. Ternyata dia juga menyukaiku sejak pertama kali bertemu dan itu karena… kejadian es krim? Bukankah sudah lama sekali? Huft… Lagi-lagi aku terlambat menyatakan cintaku. Aku sungguh menyesal dengan kebodohanku ini.

Ternyata dia sempat salah paham dan mengira aku jadian dengan Hee In. Dasar… bisa-bisanya dia menuduhku seperti itu. Apa aku kurang agresif menampakkan tanda-tanda kalau aku suka padanya?

Aku akan mencoba tegar Rae Min-ah! dan aku akan mencoba menyukai Hee In seperti aku menyukaimu. Walaupun aku tahu itu akan sangat lama, tapi aku akan mencobanya. Tunggulah aku di surga Rae Min-ah! saranghae…

The End

Guys… gimana? Aneh? Memanggg… Author lagi galau soalnya, jadi ya begini deh akhirnya hehe… aku akan sangat senang bila kalian mau coment J terima kasih sudah mau membaca *meluk readers*

 


7 thoughts on “Dear Diary…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s