My Lovely Fox [2]


Judul : My Lovely Fox [2]

Author : Bee-Nim

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk

Cameo : Park Jinyoung

Rating : AAbK

Genre : Romance

PS : Oke, thanks to yang udah mau komen, saya lanjutin part 2. Hehe, semoga di sini karakter yang udah dikenal lebih banyak. Oya, siapa Park Jinyoung? Penyanyi sekaligus pendiri JYP Ent. 2AM, 2PM, Miss A adalah beberapa grup yang bernaung di bawah label ini. Ah, bacot~ udah pada tau kalleee…

1st published at : http://wp.me/p1rQNR-5l

 

^^^

 

Miho menggosok giginya dengan gelisah. Ini masih jam 5 pagi, tapi dia sudah selesai mandi. Semalam setelah membaca pesan di twitternya, dia segera menutup laptop dan meringkuk di bawah selimut. Hatinya berdebar keras. Dia tidak tahu apakah dia hanya berhalusinasi akibat terlalu lelah atau tidak. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur meski dengan perasaan tidak tenang.

Ketika telepon genggamnya berbunyi pada pukul 4 tadi, dia bangun dengan terkejut. Semua kejadian hari sebelumnya melintas cepat sekali, termasuk pesan dari Leeteuk, leader Super Junior. Benarkah dia telah menerima pesan dari seorang Leeteuk? Benarkah? Benarkah? Benarkah?

Dengan bingung Miho menghampiri laptop kemudian menyalakannya. Dia membuka twitternya, dan pesan itu masih ada di sana. Pesan dari Leeteuk. Mengatakan dirinya cantik. Ternyata tadi malam dia tidak bermimpi. Dia benar-benar mendapatkan pesan dari seorang idola.

Seketika badan Miho panas-dingin memikirkan itu sehingga dia memutuskan untuk segera bersiap-siap. Toh bagaimanapun alarmnya tidak berbunyi tanpa alasan. Memang hari ini dia berniat menyelinap pergi pagi-pagi sekali agar tidak harus bertemu orang tuanya dan membicarakan hal yang baginya sekarang tidak terlalu penting, yaitu pekerjaan—sesuai standar orang tuanya.

Hari ini adalah awal perangnya dengan kedua orang tuanya. Hari pertamanya berjuang meraih mimpi.

Cepat-cepat Miho mengenakan pakaian paling kasual yang dimilikinya. Dia akan membutuhkannya untuk bergerak ke sana kemari hari ini. Namun dia juga tak lupa memasukkan pakaian-pakaian terbaiknya agar kalau ada audisi hari ini juga, dia sudah siap. Dia memasukkan alat make-upnya, serta beberapa perlengkapan lain termasuk laptopnya. Dia sudah siap. Hanya kurang satu hal.

Pelan-pelan sambil mengendap-endap menuruni tangga, Miho turun ke dapur di lantai satu. Di sana, dengan lampu tidak dinyalakan, dia memasukkan nasi ke dalam kotak bekal dan mencuri sekotak kimchi buatan ibunya. Sebelum naik kembali, Miho membuka laci tempat sendok disimpan dan mengambil satu. Saat sedang menutup laci itu kembali, lampu koridor di depan kamarnya di lantai 2 menyala.

Cepat-cepat dia merunduk berjongkok. Sambil berjalan jongkok, dia menyembunyikan sosoknya di antara rak makan dan kulkas. Dia melihat ayahnya melewati dapur sambil terkantuk-kantuk menuju kamar mandi di sebelah dapur. Ketika didengarnya pintu kamar mandi terkunci, Miho segera berlari tanpa suara secepat yang dia bisa kembali ke kamarnya. Di sana, dengan lampu kamar dimatikan, Miho menyimpan bekal curiannya dan menunggu dengan nafas tertahan ketika ayahnya kembali ke kamarnya.

Penantian Miho memakan waktu sekitar sepuluh menit yang baginya terasa bagai sepuluh jam. Dia berusaha mengatur nafasnya setenang mungkin ketika mendengar ayahnya membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali. Tanpa membuang waktu, Miho mengenakan topinya lalu mengendap-endap turun ke pintu depan.

Sebelum keluar, dia merogoh-rogoh rak sepatu tempat dimana ibunya menyimpan kunci cadangan rumah. Dia akan membutuhkannya jika dia pulang larut nanti malam. Sepintas hatinya ragu mengingat kata ‘larut’, tapi dia menguatkan tekadnya. Ini demi masa depannya. Tidak boleh ada kata takut!

Di luar, Miho menonjokkan tangannya ke arah langit yang sudah terang karena saat ini memang sudah memasuki musim panas. Dia berseru tertahan, “Assa!” bangga pada usahanya menghindari konfrontasi urat leher dengan orang tuanya.

Langkah kakinya bergerak menjauhi rumah sementara perasannya bercampur aduk antara senang dan cemas. Dia senang karena akhirnya berhasil menentukan langkahnya sendiri, sekaligus cemas karena bagaimanapun memohon pekerjaan di bidang entertainment bukanlah hal mudah.

Miho menengadahkan wajahnya ke arah langit, lalu tersenyum menghirup udara pagi yang lengang. Dalam benaknya tersimpan tekad keras. Aku akan berusaha. Siapa yang bisa tahu hasil akhir dari sesuatu? Aku tak peduli, selama aku masih bisa berusaha, selama aku masih punya mimpi. Aku memohon padamu, Tuhan, kalau memang Kau ada, dukunglah usahaku. Tidak harus langsung berhasil, tapi asal Kau mendukungku, kurasa aku akan merasa tenang. Aku akan berusaha!

 

^^^

 

Miho melihat daftarnya. Agensi nomor 1 yang ada dalam rencananya adalah JYP Entertainment. Meski hatinya mengatakan tidak akan berhasil, tapi dia akan tetap mencobanya. Hitung-hitung membuat mereka mengenali wajahnya. Dia sengaja melewatkan SM dan YG Entertainment, sebab menurutnya kedua agensi itu tidak akan melihatnya sama sekali mengingat usianya.

Setelah mengganti pakaiannya di toilet umum, Miho segera menaiki bis menuju gedung JYP. Hatinya berdebar-debar ketika memasuki gedung itu, tapi sesuatu membuatnya berani. Dia tidak tahu apa itu, mungkin rasa pasrah. Dalam hatinya dia sudah menetapkan bahwa ini baru percobaan pertama, jadi kalau yang ditemuinya adalah jalan buntu, itu sudah wajar. Asal dia mengusahakan yang terbaik, itu sudah cukup. Dengan pemikiran seperti itu, dia merasa ada beban yang terlepas dari dadanya.

Dia adalah tamu pertama di JYP pagi itu. Dengan senyum cerah dia mendekati resepsionis dan bertanya mengenai audisi atau bagian dimana dia bisa mendaftarkan diri sebagai trainee. Jawaban resepsionis membuatnya menjadi tamu pertama yang ditolak hari itu.

“Saat ini sedang tidak ada audisi sama sekali. Mungkin tiga bulan lagi,” begitu kata mereka.

Miho menelan kekecewaannya. Ini masih pagi. Daripada dia memperburuk imagenya di mata mereka dan membuat hari mereka berawal buruk dengan kekeraskepalaannya, dia memutuskan untuk melanjutkan ke agensi kedua dalam daftarnya.

Di luar dia menatapi sekitarnya. Kekecewaan pagi ini adalah cambuknya. Dia harus berusaha lebih keras lagi.

Sedang memutuskan begitu, sebuah mobil bagus berhenti beberapa meter di dekatnya. Pintu belakang mobil dibuka oleh penjaga pintu, dan Miho melihat Park Jinyoung melangkah keluar. Dia mengawasi pria itu dengan seksama. Mengagumi aura kesuksesan yang mengelilinginya. Lalu sebuah pemikiran mendatanginya. Ini adalah keberuntungan. Dia bisa berada sedekat ini dengan orang yang dianggapnya sebagai simbol kesuksesan, maka dia akan menganggap itu sebagai pertanda bagus.

Lalu terjadilah momen itu. Park Jinyoung menoleh dan melihatnya.

Sejenak Miho terdiam antara sadar dan tidak, tapi lalu dia bisa menguasai diri. Dia merubah sikap tubuhnya, kemudian membungkuk 90° memberi salam. Suaranya lantang, “Anyeonghasimnikka.” Saat tubuhnya tegak lagi, senyum ceria sudah terkembang di wajahnya dan mendapatkan senyuman ramah dari Park Jinyoung.

“Saya, akan berusaha agar sukses seperti Anda,” teriaknya penuh tekad.

Meski terkejut, Park Jinyoung tertawa. Pria itu tidak mengatakan apapun, hanya mengangguk-angguk memberi dukungan. Miho sendiri merasakan malu merambat naik ke wajahnya, tapi bersamaan dengan itu ada juga semangat untuk berjuang. Maka dia mengangguk sekali lagi dan melangkah pergi meninggalkan Park Jinyoung yang keheranan menatapnya.

 

^^^

 

Biarpun sudah bertekad, Miho tetap saja terpuruk siang ini. Sudah tiga agensi didatanginya, dan semua menolaknya dengan skenario yang sama. Ketika mereka melihatnya, senyum mereka terkembang senang. Ketika mereka melihat portofolionya, mereka mengangguk-angguk memuji. Ketika mereka membaca biodatanya, kening mereka berkerut lalu berkata, “Usia Anda…”

Miho langsung mengerti. Dalam usianya yang 27 tahun, dia baru hendak masuk ke agensi, padahal ada masa training yang harus dijalani, lantas debutnya kapan? Tentu saja tidak ada perusahaan yang mau rugi dengan menerimanya jika mempertimbangkan hal itu.

Miho menyuap sesendok nasi-kimchi ke dalam mulutnya. Dia menghela nafas dan tidak segera melepaskan sendoknya. Pandangannya hampa. Sejurus kemudian dia dikagetkan oleh getaran telepon genggam di sakunya. Tanpa semangat diangkatnya telepon.

“EONNIE!” terdengar suara Euncha berteriak di seberang telepon. Ciss, dia bahkan belum sempat mengatakan “Yoboseyo~

“Wae?” tanyanya acuh.

“Ya! Eonnie dimana? Wesamchon sama Imo ribut-ribut tuh nyariin Eonnie. Lagian kenapa dari tadi aku telepon ga diangkat-angkat sih?!” rentetan kata-kata dihamburkan Euncha untuk memarahi Miho.

“Nan? Di Dongdaemun,” jawab Miho datar.

Diam sesaat, lalu, “Ngapain?”

“Makan siang.”

“Aku ke situ.”

“Awas kalo berani.”

“Eonnie~” Euncha mulai taktik merajuknya. Sebenarnya dia khawatir pada Miho. Terlebih setelah mengetahui dimana Miho berada dan mendengar nada bicara wanita itu. Euncha mengenali gejala penarikan diri dari Miho seperti dulu. Saat ada peristiwa itu. Ah, semoga tidak terjadi apa-apa pada kakak tersayangnya itu.

“Geuneo,” dengan cuek Miho memutus sambungan teleponnya.

Dia sudah tidak lapar lagi, tapi kakinya masih lelah. Ditutupnya kotak bekalnya, lalu bangkit dan mulai berjalan kemana saja sesukanya. Dengan penampilan saat ini tidak ada yang memperhatikannya sebab dia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di bawah topi.

Dongdaemun selalu membuatnya tidak nyaman, makanya sekarang ini dia berjalan cepat-cepat meninggalkan kawasan itu. Yang dibutuhkannya sekarang adalah sebuah café dimana dia bisa duduk tenang dan mengakses internet. Syaratnya hanya satu, di luar Dongdaemun.

Lima belas menit kemudian dia sudah duduk di dalam sebuah café yang nyaman. Tempat ini terletak di sebuah pusat pertokoan yang tidak terlalu jauh dari Dongdaemun. Ketika menyesap es kopinya, dia mendesah bahagia. Yah, dia bukan ingin membuang-buang uangnya yang tidak banyak, tapi dia membutuhkan kenyamanan ini. Dia akan menikmati kopinya pelan-pelan sambil melihat berita-berita terkini di seputar dunia selebriti.

Namun sebelumnya, dia harus mengecek twitternya dulu. Dia sekali lagi meneliti pesannya. Tidak ada yang berubah. Pesan itu tetap berasal dari @special1004. Dia kemudian mengecek timelinenya, mencari tahu foto mana yang dimaksud Leeteuk. Dia terkejut ketika mendapati bahwa ternyata tweet terakhirnya menyebutkan Leeteuk dan menunjukkan fotonya yang diambil kemarin ketika dia dan Euncha berbelanja.

Miho tidak ingat dia melakukan itu, mengupdate foto di twitternya sambil menyebutkan Leeteuk. Siapa yang melakukannya?

Kemudian pelan-pelan ingatannya datang. Euncha kemarin meminta izinnya untuk ngetweet. Apa saat itu Euncha melakukannya? Sepertinya iya. Harus iya. Kalau tidak, dia tidak tahu lagi siapa yang melakukannya.

Sebuah pertanyaan menggantung di benaknya. Kenapa Euncha menyebut Leeteuk? Dengan agak menyesal dia berpikir, kenapa bukan Mir Mblaq? Aaaagh, coba kemarin Euncha menyebutkan Mir, pasti sekarang dia sedang menatap pesan dari berondong kesayangannya itu.

Meski demikian, Miho tetap senang melihat pujian dari Leeteuk. Tidak buruk kok. Selama ini Miho mengagumi Leeteuk sebagai entertainer berbakat. Dia mengagumi profesionalisme pria itu dan kemampuannya membimbing kelompoknya. Makanya sekarang ini Miho menggerakkan jarinya mengetik pesan balasan untuk Leeteuk.

“Terima kasih. Kebetulan aku sudah tahu bahwa aku memang cantik. Kkkk.”

Senyum terkembang di bibir Miho. Omaigaaaaaadh! Dia berbalas pesan dengan Leeteuk! Tunggu, apa itu berarti Leeteuk mengikutinya di twitter sekarang?! Kyaaaa! Ommona, ommona, eotteohke? Dia diikuti seorang idola! Kyaaaa!

 

^^^

 

Miho mendesah lega begitu melihat rumahnya sudah gelap. Dia memang menunggu hingga larut sekali untuk pulang, sebab dia tidak punya tenaga lagi untuk menghadapi orang tuanya. Hari ini usahanya gagal total. Tak satupun agensi yang berani menerimanya karena alasan usia. Mungkin dia harus melakukan usaha lain untuk membuat namanya dikenal lebih dulu. Star King, mungkin? Ah, tidak, tidak, itu terlalu instan.

Pelan-pelan dibukanya pintu depan dan dia mengendap-endap masuk, berusaha tidak menimbulkan suara apapun. Ketika memasuki ruang depan, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di sana, di kursi ruang tamu, tampak dua sosok duduk tegak berdampingan dalam gelap. Selama beberapa detik hatinya diliputi ketakutan mencekam karena mengira melihat penampakan makhluk halus. Tapi kemudian dia mengenali postur tubuh itu. Mereka adalah ayah dan ibunya.

“Nyalakan lampunya,” kata ayahnya pelan. Nadanya berbahaya.

Miho menurut. Dia menyalakan lampu dan mengerjapkan matanya karena penerangan yang tiba-tiba. Ketika membalik tubuhnya, Miho agak terkejut melihat penampilan ayahnya. Diluar aura kemarahan yang tampak berkobar, pria itu tampak kusut. Di sebelahnya, ibunya tampak kesal luar biasa dan sama seperti ayahnya, kusut.

“Appa, Eomma, wae geurae?” tanyanya khawatir.

Mengabaikan pertanyaan anaknya, ayah Miho bertanya, “Dari mana kau?”

Miho membenarkan posisi duduknya. Lirih dia berkata, “Mencari pekerjaan.”

“DI DONGDAEMUN?!” Ibunya rupanya tidak bisa lagi menahan amarahnya.

Miho kaget mendengar teriakan ibunya dan lebih kaget lagi ketika dilihatnya air mata sang ibu mengalir di pipi. Sepertinya Euncha sudah menceritakan pada mereka. “Eomma~” dia bingung harus berkata apa. Rasa bersalahnya lebih besar dibandingkan ketakutannya, dan itu membuat semua kata-kata yang sudah disimpannya tertelan lagi.

Ibunya bangkit dari duduk dan menghampirinya. Keras wanita setengah baya itu memukul lengan Miho. “Kerja apa yang bisa kau dapat di Dongdaemun?! Hah?! Dongdaemun?! Kau cari mati?! Kau tidak peduli pada kami lagi?! Kau tidak tahu kami seharian mencarimu berkeliling dengan panik? Apalagi setelah tahu kau di Dongdaemun! Kau mau mati?! Kenapa tidak bunuh diri saja di Han Gang?! Ayo, kita mati bersama saja. Aku sendiri yang akan mengantarkanmu mati di sana! Aku tidak terima kalau kau mati di Dongdaemun!”

Tangan wanita itu menarik tangan Miho yang mendadak dingin. Wajah Miho memucat. Kenangan buruk kembali menyapu pikirannya begitu mendengar kata-kata ibunya. Semua ketakutan yang telah ditahannya sejak tadi siang naik ke permukaan, membuatnya membeku. Dia langsung tenggelam dalam depresinya 6 tahun lalu akibat kejadian buruk yang menimpanya di Dongdaemun. Dia bahkan tidak merespon ketika ibunya menarik-nariknya, menyebabkan tubuhnya terbentur-bentur perabotan. Kalau tidak dihentikan oleh ayahnya, mungkin dia sudah mati karena benturan dan bukan karena tenggelam di Han Gang.

“Yeobo, sudah. Yeobo..” ayah Miho berusaha menyadarkan istrinya. Dengan isak tangis yang tak terbendung, ibu Miho melepaskan tangan anaknya dan tenggelam dalam bahu suaminya. Tubuh wanita itu gemetar memikirkan kejadian buruk yang mungkin menimpa anak semata wayangnya. Sementara tubuh suaminya kaku sebagai campuran antara rasa takut, marah dan sedih melihat kondisi istri dan anaknya.

Euncha muncul entah dari mana dan membantu Miho berdiri. Yang dibantu sama sekali tidak merasa. Pandangan Euncha bertemu dengan pandangan ayah Miho dan ketika ayah Miho memberi anggukan kecil, Euncha segera membimbing Miho naik ke kamarnya. Dia juga membawakan tas Miho.

Euncha khawatir sekali melihat kondisi Miho yang seperti mayat hidup. Tatapan kakaknya itu kosong. Tubuhnya hanya menuruti apa yang dikatakan Euncha. Tanpa membersihkan badan ataupun berganti baju, Miho berbaring miring di tempat tidur, membelakangi Euncha. Euncha ingin menangis melihatnya. Ini sama seperti 6 tahun yang lalu.

Ketika air matanya turun di pipi, Euncha segera menghapusnya. Lalu pelan dia ikut berbaring dan memeluk Miho dari belakang. Satu tangannya mengelus rambut Miho dengan sayang. “Eonnie, tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi. Semuanya baik-baik saja…” katanya dengan suara yang dikuat-kuatkan, berharap dapat menarik Miho keluar dari dunia bayangan gelapnya.

 

^^^

 

Tempat itu gelap. Miho tidak mampu bergerak. Dia sudah berlari jauh sekali, tapi tak ada seorang pun yang menolongnya. Sekarang kakinya sudah lumpuh, tak mampu lagi bergerak. Paru-parunya hampir meledak. Dia terpojok.

Pengejarnya berdiri di belakangnya. Dia—ani, mereka—berdiri mengangkang di hadapannya. Miho hanya mampu melihat seringaian keduanya tapi tidak wajahnya. Mereka makin mendekat, membuat tubuhnya bagai disiram air es. Dia membeku tak mampu bergerak ketika keduanya mencengkeram pergelangan tangannya di gang sempit kotor yang gelap itu. Rasa sakit menusuk tubuhnya, dengan lemah Miho menoleh ke samping dimana banyak sekali pejalan kaki yang lalu lalang di jalan utama, namun tak satupun yang menyadari kondisi dirinya.

Miho tak mampu bergerak, tak mampu berteriak, hanya tubuhnya yang bergetar keras akibat kesakitan dan rasa terhina yang luar biasa.

Kemudian dia membuka matanya, menemukan dinding kamar dan Euncha di hadapannya. Adiknya itu berurai air mata sambil memanggil-manggil namanya, tapi Miho tidak mendengar apapun. Tubuhnya diguncang hebat dan pipinya ditampar beberapa kali oleh Euncha sampai akhirnya dia bisa merasakan sakitnya.

Begitu melihat kernyitan di dahi Miho, Euncha segera memeluk kakaknya itu. “Gwenchanha. Gwenchanha, Eonnie. Itu cuman mimpi. Cuman mimpi. Semuanya sudah lewat, Eonnie aman sekarang.”

Miho hanya diam. Tubuhnya sudah melemas tapi jiwanya masih melayang entah kemana.

 

^^^

 

Suasana ruang makan di rumah Miho pagi itu sangat tenang. Keempat orang yang sedang duduk mengelilingi meja makan duduk dengan tenang. Tak satupun dari mereka yang berniat berbicara. Kecuali Miho. Gadis itu sedang sibuk merangkai kata-kata dalam benaknya untuk menjelaskan keinginannya pada orang tuanya.

“Appa, Eomma, aku akan mencari pekerjaan lagi hari ini,” katanya takut-takut.

Tangan ayah Miho berhenti di udara, tidak jadi menyuap nasinya. Ibunya meletakkan sumpit di mejanya sampai berbunyi ‘plek’. Di sebelah Miho, Euncha menunduk makin dalam.

“Aku,” Miho agak ragu tapi memutuskan akan mengatakannya, “Aku ingin menjadi artis,” katanya.

Kelegaan membanjiri pikiran tiga orang yang lain. Mereka pikir Miho akan mengatakan sesuatu tentang kembali ke Dongdaemun untuk mencari kerja sekaligus mengorek-ngorek kasus yang menimpa dirinya 6 tahun lalu. Kembali meracau tidak jelas seperti yang terjadi saat depresinya dulu. Ternyata tidak. Ketiganya lega karena lagi-lagi Miho mengangkat topik tentang menjadi artis. Mereka senang karena artinya, pagi ini Miho sudah kembali normal.

Meski demikian, kedua orang tuanya tidak mau asal yakin. Mereka butuh sesuatu untuk memastikan bahwa Miho telah benar-benar mendapatkan akal sehatnya kembali. Ayahnyalah yang mengambil peran antagonis, “Kau sudah gila? Apa gunanya sekolahmu yang sampai master itu? Tidak boleh! Kau harus mencari kerja yang sesuai dengan pendidikanmu!”

Miho menatap ayahnya dengan marah. Kedua tangannya menggebrak meja. “Dari awal kan aku sudah bilang, aku tidak menyukainya! Kalian yang memaksaku kuliah di sana. Impianku hanya satu, menjadi selebriti!”

“Menjadi selebriti itu tidak ada gunanya!” ayahnya masih mendebatnya. Dia mulai terbawa perannya.

“Apa maksud Appa?!”

“Maksud Appa sudah jelas. Selebriti hanya modal tampang, tidak memberi kontribusi apa-apa dalam arti hidup yang sebenarnya,” ayah Miho makin meyakinkan dalam berakting. Pria itu bahkan melanjutkan makannya, menekankan maksudnya menghina profesi pilihan Miho.

Nafas Miho semakin cepat. Dia sangat kesal pada ayahnya. Dia boleh saja menentang, tapi tidak perlu sampai menghina seperti itu kan?! “Asal Appa tahu, selebriti itu memberikan banyak harapan bagi orang-orang yang putus asa. Mereka berguna bagi orang-orang yang membutuhkan harapan akan adanya dunia yang lebih baik. Mungkin tidak begitu bagi Appa, tapi tidak semua orang sekuat Appa!” desisnya penuh kemarahan.

Ayahnya hanya mengangkat alis. Dia terharu anaknya bisa bicara sebijak itu. Meskipun pintar, putrinya itu biasanya manja luar biasa. Tidak disangka Miho memiliki pemikiran mendalam tentang profesi yang selalu diimpikannya sejak anak-anak itu. Tapi dia malah berkata, “Kalau kau masih mau seperti ini, kau tidak boleh keluar hari ini. Kalau perlu Appa akan menguncimu di dalam kamar.”

Apa daya? Pria itu melihat lingkaran hitam di mata Miho. Mukanya tidak bercahaya seperti biasanya. Putrinya butuh istirahat.

“APPA!” Miho berteriak kesal sekali. Sambil menggebrak meja, dia menghentak-hentak menuju kamarnya. “Aku mogok makan!” dia mengancam dari depan kamarnya. Kemudian terdengar suara pintu kamar dibanting.

Ketiga orang di meja makan saling menahan senyum. Euncha angkat bicara, “Aku akan menemaninya hari ini, Samchon, Imo.”

Ibu Miho mendesah. “Aigo, aigo, lihat siapa yang bertindak lebih dewasa. Semua orang pasti mengira kaulah kakak Miho. Eish, anak itu memang tidak pernah dewasa…”

Tawa Euncha terlepas pelan. “Haha, Imo hanya tidak pernah melihatku bermanja-manja pada Eonnie. Aku ini bisa lebih keterlaluan dari Eonnie lho,” katanya ringan.

“Aku tidak percaya,” ayah Miho menimpali. “Bagaimana mungkin Miho bisa bersikap dewasa?” katanya mengundang tawa yang lain.

“Samchon hanya harus percaya padanya. Eonnie… sepertinya memang serius ingin menjadi artis. Dan aku yakin Eonnie mampu menjadi arti yang berkualitas…” ujar Euncha mengakhiri tawanya.

Ayah Miho mengubah tawanya menjadi senyum. “Terima kasih, Eunchanie…” kata pria itu pelan.

Entah mengapa Euncha ingin menangis mendengar nada bicara pria itu. Euncha bisa mendengar kelelahan dalam suara pamannya, juga kekhawatiran, serta kebingungan. Pria itu pasti sangat mengkhawatirkan Miho, tapi karena posisinya sebagai satu-satunya pria dalam rumah itu, dia harus berusaha tegar.

Euncha meraih tangan pamannya. “Samchon, tenang saja. Masih ada aku,” katanya berusaha memberi kekuatan yang dibalas dengan remasan lembut oleh ayah Miho. Mereka lalu melanjutkan sarapan.

 

^^^

 

Di kamar, Miho membolak-balik majalah edisi khusus Mblaq-nya. Biasanya itu selalu berhasil meredakan emosinya, tapi kali ini sepertinya tidak. Ayahnya sudah sangat keterlaluan. Dia tidak boleh keluar rumah? Hah, lihat saja nanti! Umurnya sudah 27 tahun, for God sake!

Miho mendengar Euncha memasuki kamarnya. “Eonnie sedang apa?” tanya adiknya itu.

Miho tidak menjawab. Meskipun bukan pada Euncha, perasaannya masih diliputi rasa kesal. “Eonnie wae geurae~!” Euncha kesal karena diacuhkan.

“Berisik lu ah!” Miho menghardik Euncha agar diam.

Yang dihardik diam sesaat, mulutnya mencebik, lalu matanya menangkap sesuatu. “O! keugeo mwoya?” tanyanya menghampiri benda yang menarik perhatiannya.

Dia mengenali poster yang terlipat itu. Itu kan poster yang sama seperti yang dimiliknya. Dia sudah lupa dimana menyimpannya, tapi ini selalu jadi poster yang paling disukainya sebab member Mblaq terlihat sangat keren di situ. Diambilnya poster itu dan dibukanya dari lipatan.

Tapi Miho dengan cepat menariknya. “Apa-apaan sih? Jangan menyentuh barang orang sembarangan!” ujarnya menghindari tatapan Euncha.

Tunggu sebentar, Euncha merasa ada yang aneh dengan sikap Miho. Sebuah prasangka merasuk dalam benaknya. “Apa poster itu milikku?” tanyanya langsung. Nadanya tajam.

“Mana mungkin! Ini punyaku!” Miho terlihat gugup.

Euncha menyipitkan matanya. “Kalau begitu aku pinjem. Cuman mau liat aja, masa ga boleh?” Poster miliknya sudah dibubuhi tanda tangannya besar-besar dengan spidol pink, jadi pasti dengan mudah bisa dikenalinya.

Mata Miho membulat ketakutan. Segera poster itu disembunyikan di balik tubuhnya. Kepalanya menggeleng-geleng gugup.

“Eonnie,” Euncha memanggil dengan nada memperingatkan dan tangan terulur meminta. Dia makin yakin bahwa poster itu memang miliknya.

Miho masih tidak mau memberikan poster itu.

Seperti ibu yang hendak mengambil gunting dari tangan anaknya yang baru berumur 3 tahun, Euncha memanggil Miho lagi, kali ini nadanya lebih tegas. “Eonnie!”

“Andwae!” Miho berseru.

“Baiklah, kau yang memaksaku!” Euncha menipiskan bibirnya lalu menubruk Miho.

Ujung-ujungnya mereka berdua bergulat di kasur memperebutkan poster Mblaq. Euncha berusaha memiting tangan Miho, tapi Miho berhasil mengelak dan membalikkan keadaan dengan menindih tubuh Euncha. Euncha tidak kehabisan akal. Dengan lututnya dia mendorong Miho agar tersungkur sementara tangannya yang bebas berusaha meraih tangan Miho yang selama itu terus disembunyikan di belakang punggung. Usahanya hampir saja berhasil kalau saja Miho tidak membenturkan dahi mereka keras-keras. Keduanya sama-sama mengaduh. Miho jatuh ke samping Euncha. Keduanya sama-sama kesakitan.

Dalam kesakitannya, Euncha melihat kesempatan dan segera mengambil poster dari tangan Miho. Cepat dibukanya poster itu dan benar saja, tanda tangan besar berwarna pink tersenyum manis ke arahnya. Dia kesal sekali. “EONNIE!” teriaknya.

Eonnie-nya bangun dan tidak mau kalah. Sudah ketangkap basah sekarang, jadi tidak ada gunanya mengelak. Dia akan memperjuangkan miliknya. Well, milik yang diperolehnya dengan mencuri sih, tapi siapa peduli? “WAE?!” balasnya meneriaki Euncha.

“Eonnie belum kapok juga maling barang-barang aku?!”

“Maling apaan?! Aku cuman ngambil barang yang udah kamu buang!”

Dengan kesal Euncha mengacung-acungkan poster di tangannya. “Aku ga pernah ngebuang ini!”

“Terus kenapa dianggurin berdebu di lemari?!” Miho merebut poster itu lalu segera menyembunyikannya di balik tubuh.

“Berikan!” Euncha berusaha mengambilnya lagi. “Itu punyaku! Lepas!”

“Ini udah punyaku! Udah jadi milikku setahun belakangan!”

“MWO?! SETAHUN?! Jadi emang Eonnie yang ngambil?! Aku udah curiga!” padahal sih enggak, koreksinya dalam hati sambil mencubit lengan Miho.

Miho meringis kesakitan, lalu menjerit, “YA!” sambil membalas Euncha dengan cara menjambak rambutnya.

“AAAA!” Euncha berteriak kesakitan. “Eonnie, appeu! Appeu!”

“Aku juga sakit kau cubit, bodoh!”

“AKU TIDAK BODOH!” Euncha melepaskan posternya dan akhirnya menjambak rambut Miho. Kini keduanya duduk berhadapan sambil saling menjambak dan berteriak-teriak.

Pintu kamar menjeblak terbuka menampakkan ibu Miho yang tampak terkejut. “Kalian ini apa-apaan sih?!” teriaknya pada kedua bayi besar di tempat tidur. Sayang keduanya sama sekali tidak mendengarkan meskipun wanita itu kemudian ikut berteriak menyuruh mereka agar berhenti. Akhirnya dia melakukan tindakan pamungkasnya. Satu-satunya cara yang dia tahu bisa berhasil memisahkan keduanya kalau sedang bertengkar begini. DUG!

Dengan kedua pinggir telapak tangannya wanita itu memukul kepala Miho dan Eunchan. Sontak keduanya menjerit bersamaan, “AWWW!”

“Sakit, Eomma!”

“Sakit, Imo!”

Keduanya memprotes dengan kompak.

“DIAM!” teriak wanita itu galak. “Eunchan! Pergi mandi! Dan kau, gadis manja,” katanya pada Miho. “Bersihkan kamarmu! Setengah jam lagi Eomma akan ke sini melihat hasilnya!”

Kedua gadis itu cemberut, saling melontarkan merong. “EEEiiissh, kalian ini! Cepat kerjakan!” ibu Miho menaikkan lagi nadanya satu oktaf, membuat Euncha terlonjak kaget dan segera ngibrit ke kamar mandi. Miho dengan malas turun dari tempat tidurnya dan mulai merapikan tasnya yang semalam digeletakkan begitu saja di depan meja rias.

Ibu Miho puas melihat ancamannya berhasil. Dia kemudian beranjak ke pintu. Di pintu dia berbalik dan menatap galak pada Miho, “Jangan sampai Eomma menemukan sampah di bawah tempat tidurmu hanya karena kau malas membuangnya ke bawah! Kalau itu sampai terjadi, kau akan rasakan hukuman dari Eomma!”

Meski kesal, Miho bergidik ngeri membayangkan hukuman dari Eommanya. Ciss, wanita tua itu bisa jadi sangat kejam kalau sudah marah.

Lima belas menit kemudian kamar Miho sudah rapi sebab memang sebenarnya kamarnya itu tidak terlalu berantakan. Sekarang dia sedang membuka laptopnya di atas meja. Lalu masuklah Euncha dengan rambut basah. Kemarahan keduanya sudah hilang entah kemana. Memang selalu seperti itu. Bahkan poster Mblaq yang tadi mereka perebutkan sekarang sudah menangis nelangsa karena hanya diletakkan begitu saja di atas tumpukan majalah Miho. Sudah tidak lagi menjadi primadona. Keduanya sudah tidak tertarik lagi mempermasalahkan itu. Mungkin lain kali.

“Eonnie ga mandi?” tanya Euncha mendekati Miho yang duduk bersila di atas kursi.

Tanpa mengalihkan matanya dari layar laptopnya, dia menjawab singkat, “Udah tadi pagi.”

Gerakan Euncha mengeringkan rambutnya tertahan. Dia memperhatikan tubuh Miho yang hanya berbalut kaus tanpa lengan dan hotpants. Dengan sedih dia menyadari adanya berkas kemerahan di bawah tengkuk Miho. Pasti kakaknya itu lagi-lagi mandi sangat pagi dan menggosok seluruh badannya keras-keras. Hal yang pasti dilakukannya saat didatangi mimpi buruk seperti semalam. Pernah Euncha melihat luka lecet di perut Miho karena gadis itu menggosok kulitnya keras sekali dengan bodybrush.

Hati Euncha meluluh. Dipeluknya Miho dari belakang. Seperti anak kecil dia menyanjung Miho, “Oh iya, Eonnie udah wangi. Udah bersih,” katanya. Bersih, kata itulah yang dibutuhkan Miho. Dia mandi untuk membersihkan dirinya dari kenangan buruk.

Miho menahan senyum senangnya. Karena gengsi, bukan karena apa-apa. Dia kemudian mengalihkan perhatian Euncha ke layar laptopnya dengan berkata, “Eunchanie, kemaren kamu ngetweet apa pake akunku?”

Euncha melepaskan pelukannya lalu duduk di ranjang Miho. “Apa ya Eonnie? Kayaknya kemaren aku ga buka twitter deh. Aku lupa.”

“Bukan kemaren persis sih,” Miho mengalihkan tatapannya pada Euncha. “Kemarennya lagi, waktu kita abis belanja. Kamu bilang kan kamu mau ngetweet pake akunku? Di restoran itu loh…” lanjutnya mengingatkan.

“Ah, itu. Aku… apa ya? Aku lupa, Eon. Emang kenapa gitu?”

Miho menatap Euncha dengan pandangan berbagi rahasia. “Sini deh,” katanya sambil tersenyum simpul.

Euncha segera mendekat dengan penasaran. “Liat,” kata Miho menunjuk layar laptopnya.

Di sana terpampang laman pesan twitter. Isinya tiga buah pesan. Dari @special1004 untuk @foxiemiho. Satu dari @foxiemiho untuk @special1004, lalu yang terakhir, dari @special1004 lagi untuk @foxiemiho.

Awalnya Euncha tidak mengerti, tapi kemudian kesadaran menerpanya. “Eonnie~” matanya terbelalak, nafasnya tertahan. Segera dia membaca pesan pertama Leeteuk untuk Miho. Isinya membuatnya bangga. “Eonnie dibilang cantik ama Leeteuk Oppa!”

“Hehehe,” Miho nyengir kuda.

Lalu Euncha membaca lagi pesan Miho untuk Leeteuk. Isinya membuatnya sebal dengan kenarsisan kakaknya, tapi tetap merasa senang karena kakaknya dihubungi langsung oleh Leeteuk. “Yang ini,” Miho menunjuk pesan terakhir, “baru dikirim tadi pagi.”

Euncha menangkupkan kedua tangan di mulutnya, merasa sangat senang. Mereka membacanya bersama-sama:

“Ahahaha, kau lucu. Tapi memang kuakui kau cantik sekali. Jadi artis saja ;)”

“Kyaaa!” keduanya berteriak kesenangan. Tapi langsung terdiam begitu mendengar suara pintu kamar dibuka dan Ibu Miho masuk.

“Ada apa lagi? Kalian bertengkar lagi?!” tanya ibu Miho dengan galak.

“Aniiiiiii~” jawab keduanya kompak.

Ibu Miho justru curiga dengan kekompakan mereka, tapi selama keduanya tidak sedang bergelut, itu sudah cukup. Dia kemudian melayangkan pandang ke seluruh kamar Miho. Puas karena kamar itu sekarang sudah lebih rapi. “Jangan berteriak-teriak terus. Kalian bukan anak kecil lagi,” katanya mengingatkan sebelum keluar dari kamar Miho.

“Ne…” keduanya menjawab patuh, lalu cekikikan lagi.

Begitu pintu ditutup, Euncha langsung heboh. “Eonnie, Eonnie, cepat balas! Balas!”

Miho ikut bersemangat. Dia mengetik:

“Ya, aku sedang berusaha. Mau membantuku mencarikan agensi?”

“Ahahahaha,” keduanya tertawa begitu pesan terkirim. Mereka merasa senang sekaligus konyol.

Euncha memandang Eonnie-nya dengan kagum. “Eonnie daebak!” ujarnya sambil mengacungkan jempol.

Refleks Miho mendongakkan kepalanya penuh kebanggaan. Lalu dia berkata, “Terima kasih padamu, adik maniiis… Tapi coba waktu itu kau mention Mir, bukan Leeteuk. Mungkin sekarang aku sudah menyatakan cinta.”

“Yeee, itu mah maunya Eonni! Orang aku juga cuman iseng kok waktu itu. Aku liat Leeteuk Oppa abis ngetweet foto, jadi aku reply dia pake foto Eonnie,” katanya membela diri. Yang jelas entah kenapa dia merasakan kesenangan yang meningkat ketika tahu Eonnienya bisa bertukar pesan dengan seorang selebriti yang sebenarnya. “Aaaah, Mihonnie jjaaaaang!”

“Aaaah, Eunchanie do jjaaaaang!” balas Miho.

Mereka berpandangan lalu terkikik geli.

 

^^^

 

Di tempat lain.

“Hyuk! Cepat kemari!” suara Leeteuk terdengar keras dari kamarnya. Eunhyuk yang sedang malas-malasan menonton tv mendatangi hyungnya itu dengan tidak semangat.

“Apa, Hyung?”

Leeteuk ternyata sedang merapikan lemari pakaiannya. Dia memandang Eunhyuk sekilas lalu mengacungkan tangan ke arah laptopnya yang terbuka. “Ada pesan untukmu tuh,” ujarnya singkat.

Eunhyuk mengerutkan kening. Kenapa untukku? Bukannya itu komputer Hyung? Pikirnya bingung. Tapi tetap didekatinya meja untuk melihat apa yang dimaksud Leeteuk. Begitu melihatnya, matanya melebar antusias.

Foxiemiho membalas pesannya lagi!

“Hyung, aku pinjam akunmu lagi ya?!” serunya. Lalu tanpa menunggu jawaban Leeteuk, dia langsung mengetik balasan untuk cewek cantik itu. Ahahaha, bangga rasanya punya fans secantik itu, puasnya melupakan fakta bahwa mungkin saja Foxiemiho itu sebenarnya fans Leeteuk, karena dia kan memakai akun Leeteuk.

 

 

-cut-


One thought on “My Lovely Fox [2]

  1. wakakakakak…
    lcu,tp tragis,sbnernya apa yg trjdi d doengmun itu?(sorry,mngkn tlsn nya slah)
    apa smpai k….?
    yah kmu tau lah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s