My Lovely Fox [1]


Judul : My Lovely Fox [1]

Author : Bee-Nim

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Lee Jihoon,

Cameo : Kwon Luke

Rating : AAbK

Genre : Romance

Tipe : Chapter

PS : Part 1 yang juga saya jadiin teaser. Kalau responnya cukup bagus, saya akan terusin. Tapi kalo ga ada yang minat (diliat dari komen), hehe, saya ga pede nerusinnya *bow*. Bagi yang ga tau siapa Kwon Luke, dia itu anaknya Kwon Sangwoo. Aslinya masih umur 3 tahun. Tadinya mau pake nama Yoogeun, tapi ah, Yoogeun udah ada seri-nya sendiri, jadi make Kwon Luke.

1st published at : http://wp.me/p1rQNR-59

 

^^^

 

Miho tersenyum ke arah kamera. Matanya dilebar-lebarkan, bibir dikerucutkan, kamera sedikit lebih tinggi dari kepalanya. Lalu klik. Jarinya memencet tombol proses. Dua detik dia mempertahankan posisinya kemudian segera memeriksa hasil jepretannya. Begitu melihatnya, matanya berbinar-binar. Dia sangatttt puasss!

Di sebelah Miho, Euncha sepupunya menoyor kepalanya. “Eonnie! Masih belum puas mengagumi dirimu sendiri?!” tanyanya sarkastik.

Miho melirik tajam ke arah Euncha. “Wae? Ga suka? Ya ga usah diliat!” sewotnya.

Euncha sebel setengah mati dibegitukan. Sepupunya ini sangat keterlaluan. Padahal sudah tua, 27 tahun. Sekali lagi, cewek ini—ani, wanita ini—sudah 27 tahun, tapi tingkahnya seolah-olah baru menginjak umur 18-an. Sukanya idola-idola berondong, merampok koleksi MP3 dan kadang mencuri—benar-benar mencuri—koleksi poster Mblaq-nya.

Dia saja sudah mulai tidak terlalu serius menjadi fangirl seperti waktu masih kuliah dulu. Sejak dia harus mulai berkonsentrasi pada skripsinya, dia tidak lagi terlalu tergila-gila pada para makhluk semanis surga yang disebut idol itu. Tapi eonnie-nya ini, ga peduli tesis, ga peduli penelitian, tetap saja rajin stalking. Makanya dia heran, kok bisa ya wanita tidak serius ini menyelesaikan sekolah masternya dengan predikat cumlaude. Bahkan masa kuliah dan penelitiannya lebih singkat dari masa kuliahnya yang baru mengejar gelar sarjana. Euncha mendengus sebal memikirkan itu semua.

Euncha dan Miho sama-sama kuliah di jurusan kedokteran hewan. Sewaktu Euncha mendaftar menjadi mahasiswa di kampus yang sama dengan Miho, sepupu yang lebih tua itu sedang bersantai-santai menunggu hari kelulusannya. Segera setelahnya Miho ditawari beasiswa untuk melanjutkan program master yang kemudian diterima oleh gadis itu dengan agak terpaksa.

Miho harus bertengkar dengan orang tuanya dalam proses penerimaan tawaran itu. Miho bersikeras tidak mau menerima tawaran itu, sementara orang tuanya bersikukuh Miho HARUS melanjutkan studinya. Memang sesuatu yang aneh bin ajaib. Di saat semua orang tua mengharapkan anaknya segera mencari kerja setelah menyelesaikan kuliah, Miho seharusnya merasa bersyukur karena orang tuanya justru menyuruhnya untuk terus sekolah, sekalipun itu artinya mereka masih harus menanggung kehidupan Miho lebih lama lagi karena anak mereka satu-satunya itu belum mampu membiayai hidupnya sendiri. Tapi Miho justru merasa kesal dengan perintah orang tuanya itu. Dia menolak keras dan mengingatkan janji kedua orang tuanya dulu.

Dulu, begitu lulus sekolah menengah, orang tua Miho memaksa anaknya agar mau kuliah dengan iming-iming akan membiarkannya bebas melakukan keinginannya begitu memiliki gelar sarjana. Akhirnya Miho menepikan keinginannya menjadi artis dan menuruti kata-kata orang tuanya. Dia bekerja ekstra keras, termasuk habis-habisan mengambil semua mata kuliah di dua tahun pertama kuliahnya. Karena usahanya itu, setahun kemudian dia bisa menyelesaikan penelitiannya dan lulus. Dengan tidak peduli disimpannya gelar yang berembel-embel ‘dengan pujian’ miliknya dan kemudian menagih janji agar dibiarkan bebas mengikuti audisi. Namun gara-gara profesor sialan pembimbingnya, orang tuanya terpengaruh untuk memaksanya melanjutkan jenjang Master. Singkat cerita, dua setengah tahun lagi harus Miho korbankan demi ambisi orang tuanya.

Hari ini, Miho dan Euncha akan melakukan upacara kelulusan bersama. Euncha untuk gelar sarjananya, sementara Miho dengan gelar masternya. Jika Euncha sangat gembira karena dia bisa menyamai sepupu favorit sekaligus idola sekaligus saingannya dalam hal predikat ‘cumlaude´, kegembiraan Miho sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Hari ini, Miho sangat gembira karena akhirnya dia bisa melepaskan diri dari dunia akademis dan mulai besok, dia akan bebas menyerbu dunia gemerlap yang sangat diimpikannya.

Mereka turun dari mobil bersama-sama menuju tempat upacara. Orang yang tidak memandang saat mereka berjalan bersama bisa dihitung dengan jari. Paling tidak orang yang melihat mereka akan melemparkan tatapan kagum, kalau tidak terpesona, dengan sosok keduanya yang sangat berkarisma. Euncha dengan aura kepintaran dan style kelas atasnya, sementara Miho dengan aura manis dan bling-blingnya.

“Eun, Euncha ssi…” seseorang memanggil Euncha dengan nada ragu-ragu.

Begitu menoleh, Euncha melihat saingannya dalam peringkat kelas, Seo Wanso. Senyumnya terkembang begitu melihat pria itu. “Ya, Wanso ssi?” tanyanya agak sedikit angkuh. Pada akhirnya, dialah yang menang. Dia mengalahkan si canggung di hadapannya ini. Dialah yang mendapatkan peringkat terbaik dalam upacara kelulusan kali ini.

Wanso sangat gugup melihat Euncha. Bertahun-tahun dia berusaha menjadi saingan Euncha hanya agar gadis itu melihat keberadaannya. Dia sebenarnya sama sekali tidak memikirkan persaingan apapun dengan gadis itu. Dia hanya melihatnya sebagai seorang dewi. Dan dia akan mengatakannya sekarang.

Kalau saja dia tidak diganggu oleh anak berandalan di belakangnya ini, pikir Wanso. Kwon Luke, cowok sok keren yang secara menakjubkan masih bertahan di kampus ini sedang menyodok-nyodok pinggang Wanso. Pria itu minta agar dia mau membantunya mendekati Miho, sepupu Euncha. Saat ini sikapnya mengancam. Dengan gugup Wanso memberikan bunga yang memang sudah disiapkannya untuk Euncha, “Euncha ssi, selamat…” ucapnya terbata.

Euncha yang tidak pernah bisa menangkap maksud Wanso hanya memandangi bunga itu kemudian menerimanya sebagai pengakuan kemenangan. Dalam pikirannya, Wanso sekarang sudah mengakui posisinya sebagai yang pertama.

Di sisi lain, Luke memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Miho. Tidak seperti Wanso yang dianggapnya murahan karena hanya memberi bunga, Luke mengangsurkan sebuah kotak pada Miho. Miho memandang anak itu tak mengerti. “Untukmu. Selamat atas kelulusan dan prestasimu,” katanya menjelaskan sambil memasang senyum yang akan segera melelehkan gadis-gadis lain.

Tapi itu tidak berlaku untuk Miho. Dia hanya menatap hadiahnya dengan kosong. Untuk apa? Dia toh tidak merasa bangga dengan prestasi akademisnya. Dia tidak mengusahakan apa-apa untuk itu. Semua yang diperolehnya di kampus hanya dijalankannya setengah-setengah. Lagipula anak ini siapa? Dia mungkin pernah melihatnya, tapi tidak mengenalinya.

“Kenapa?” Luke bertanya lembut pada Miho. Mukanya seolah hanya bertanya, tapi hatinya waswas. Jangan-jangan Miho lebih menyukai bunga? “Ini aku pesan khusus untukmu. Satu-satunya di dunia,” dia menggunakan nada merayu kali ini.

Cetok! “Aww!” tiba-tiba Luke berteriak kesakitan. Di sebelahnya sudah ada Euncha yang menatapnya garang. “Ya!” pria blasteran Korea-Perancis itu menghardik Euncha yang sudah dengan semena-mena menggetok kepalanya.

Euncha menipiskan mulutnya, “Panggil Noona! Dia itu tiga tahun lebih tua dari kau!” nadanya terdengar kejam.

Luke mengerang dalam hati. Inilah kenapa dia mau dekat-dekat dengan si Wanso Culun itu. Seharusnya anak katro itu membantunya mengalihkan perhatian Euncha, tapi apa yang dilakukannya sekarang? Luke melihat ke arah Wanso, melihat anak itu sedang menghindari tatapannya. Lalu Luke memandang Euncha dengan sama garangnya, dia tidak sudi harus gagal lagi mendekati Miho hanya gara-gara cewek kaku ini. “Kakakmu saja ga protes aku panggil seperti itu, kenapa kau yang protes?! Inilah sebabnya kenapa kau ga laku-laku!”

“Iiish!” Euncha marah sekali mendengar jawaban Luke. Berani-beraninya cowok bodoh yang cuma mengandalkan kekayaan ini mengejeknya. Menggunakan bunga pemberian Wanso, dia mulai memukuli Luke.

Di belakang Euncha, Wanso terkejut, lalu kecewa. Sangat kecewa. Dia telah memilih bunga-bunga itu secara hati-hati. Dia telah melakukan sedikit penelitian lewat internet mengenai arti bunga, juga sudah berusaha mencari tahu bunga kesukaan Euncha, kemudian memesan paksa bunga-bunga pilihannya ke toko bunga. Tidak sedikit uang yang dikeluarkannya untuk bunga-bunga itu, dan kini Euncha hanya menggunakannya sebagai pemukul?

Akhirnya karena sakit hati pada Euncha dan kesal pada Luke yang menyebabkan kekesalan Euncha, Wanso menunduk sedih dan meninggalkan mereka berdua berkelahi.

Langkahnya disusul oleh langkah ringan seseorang. Miho. Noona itu berjalan santai sekali. Tidak seperti wisudawan yang lain, toganya tidak dipakai, hanya tergantung di lengannya. Kacamata coklat bertengger di hidungnya yang mungil, sementara kepalanya mendongak ketika dia berjalan. Meski bukan seleranya—terlalu berkilauan, menurutnya—Wanso mengakui gadis itu memang cantik sekali.

Seperti biasa ketika Miho lewat, Wanso memperhatikan, hampir semua mata normal pria memandanginya penuh kekaguman. Mereka yang sudah sering melihatnya saja selalu begitu, apalagi keluarga para wisudawan yang baru sekali itu melihat Miho. Mereka seakan melihat artis idola turun langsung ke jalanan.

“Eonnie!” terdengar suara Euncha dari belakang Wanso. Lalu suara tapak kaki gadis itu berlari kecil menyusul Miho. Begitu mereka berjajar, Wanso mendesah, ah, sungguh pemandangan yang indah. Kakak-beradik yang sangat cantik, sangat pintar, dengan sifat hampir bertolak belakang, tapi juga sangat harmonis.

 

^^^

 

Begitu upacara selesai, Miho adalah yang pertama berdiri dan keluar ruangan. Dia tidak peduli jika banyak orang memandanginya campuran antara heran dan terpesona. Baginya, hanya tatapan terpesona yang dianggap. Tatapan bermakna lain tidak penting.

Dia menulikan telinganya mendengar panggilan profesor mudanya, Prof. Lee Jihoon. Dia kesal pada pria itu yang terus-menerus membujuknya agar mau melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktor. Padahal dari awal dia sudah menolak. Awalnya dengan halus, lalu karena selalu didesak, belakangan dia menolaknya dengan tegas. Sekarang, kalau orang gila itu mau merayunya lagi, Miho bersumpah akan membentaknya di depan semua orang. Toh mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi, pikir Miho mengecilkan arti kedekatan mereka selama ini.

Tapi tentu saja dia akan berusaha agar itu tidak terjadi. Astaga, apa yang akan terjadi pada image-nya nanti kalau itu benar terjadi? Miho tidak mau membayangkannya.

Di pintu gedung, Miho melihat Euncha berlari kecil menyusulnya dari samping. Tempat mereka duduk tadi memang terpisah. Kan mereka beda jenjang.

Euncha terengah-engah memegang lengan Miho, menahannya agar tidak terus berlalu. “Hhh, hhh, Eonh..nieehh.. tunggu..hhh…”

Miho tersenyum melihatnya, aigoo, anak kecil yang sejak dulu mengikutinya ini sekarang sudah sarjana. Sudah besar dan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan patut dibanggakan. Pada saat-saat seperti ini perasaan Miho sebagai seorang kakak muncul. Meskipun mereka tidak jarang bertengkar, tapi karena keduanya sama-sama anak tunggal, Miho sudah menganggap Euncha kecil yang selalu mengekornya itu sebagai adik kandung. Tidak pernah kurang dari itu.

Setelah bisa mengatur nafasnya, Euncha berkata pada Miho, “Eonnie, kita harus berfoto dulu.”

Hilang. Hilang sudah perasaannya sebagai kakak. “Ssireo! Aku mau pulang,” katanya sambil melepaskan lengannya dari genggaman Euncha.

Tapi Euncha berhasil menangkapnya lagi, “Sekali saja Eonnie. Ini harus.”

Kesal sekali Miho pada Euncha. Kenapa sih anak ini harus selalu mengikuti protokol?! “Ya! Aku ga peduli. Aku sudah lulus. Bukan mahasiswa di sini lagi, jadi aku ga harus ngikutin peraturan di sini lagi.”

Euncha tersenyum padanya. Sedetik saja. Karena detik berikutnya wajahnya sudah mengeras, begitu pula pegangannya di lengan Miho. Gadis itu menarik paksa Miho ke arah podium. “Pokoknya ga boleh. Eonnie harus ikut foto,” katanya tegas.

“Ya! Eunchanie!” Miho memprotes Euncha dengan panggilan khusus yang hanya digunakan olehnya. Tapi Euncha tidak peduli sama sekali. Dalam sekejap keduanya sudah menjadi pusat perhatian karena Miho terus berseru lebai meminta tangannya dilepaskan. Euncha sudah kebal. Bertahun-tahun bergaul dengan eonnie-nya itu, mentalnya sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.

Di depan podium, Euncha—hampir—melemparkan tubuh Miho ke barisan. Di sana sudah menunggu teman-teman seangkatan Miho dengan pakaian kelulusan lengkap. Juga Rektor, Dekan, Kepala Jurusan, serta staf pengajar, termasuk profesor muda—yang dianggap—musuh Miho, Lee Jihoon yang kini sedang memandanginya puas.

Akhirnya untuk menghormati para petinggi yang sudah duduk manis untuk difoto, Miho menurut masuk dalam barisan. Dipandanginya kamera dengan kesal. Mukanya cemberut. Ketika dilihatnya Euncha tersenyum puas, dia merasa tidak terima. Dengan licik Miho menyunggingkan senyumnya. Tangannya merayap ke punggungnya, menarik retsleting toganya sementara kameramen masih berusaha merapikan barisan. Lalu ketika kameramen mulai menghitung mundur, dengan cepat Miho, memelorotkan toganya, melemparkan topinya ke belakang, lalu tepat saat shutter kamera ditekan, dia melakukan pose a la uljjang dengan kaki ditekuk satu dan jari membentuk tanda V!

Euncha melongo. Dia tidak percaya Miho benar-benar melakukannya!

Dia sudah curiga tadi ketika tangan Miho tiba-tiba menghilang di balik punggung, tapi Euncha pikir dia tidak akan berani sebab mereka akan berfoto bersama petinggi kampus. Demi Tuhan, dia kan berdiri tepat di samping Rektor! Apa yang dipikirkannya sih?!

Tentu saja sang Rektor, serta wisudawan lain yang berdiri di sekitarnya, terkejut. Begitu pula dengan Dekan dan kameramen. Staf pengajar meski kaget tapi langsung pulih, mereka sudah tidak mau lagi berurusan dengan anak itu, dia terlalu pintar untuk didebat. Hanya Prof. Lee yang berekspresi di antara staf pengajar, dia mengusap wajahnya dengan lemas.

Kameramen yang sekarang sudah pulih dari keterkejutannya melihat hasil gambarnya di layar LCD. Di gambar itu terlihat Rektor yang menoleh ke samping memandang Miho sambil melongo, begitu pula dengan wisudawan lain di sekitar gadis itu. Hanya gadis itu sendiri yang tampak cantik meski tidak pada tempatnya. Dia berkata sambil tersenyum canggung, “Baiklah sekali la—“

“Terima kasih semuanya!” ucapannya terpotong oleh seruan Miho. Gadis itu sudah berdiri di depan barisan sambil membungkuk dalam. “Hari ini saya telah menyandang gelar Master. Terima kasih atas segala bimbingannya.” Dia membungkuk lagi lalu segera membalik tubuh dan berlalu meninggalkan semua orang bengong di tempatnya.

Kecuali Euncha. Euncha berlari menyusul sepupunya itu. Mukanya merah sekali menahan malu sekaligus marah, tapi Miho sama sekali tidak tampak terganggu dengan itu semua. Bahkan, dia sudah lupa sama sekali dengan toga dan topi wisudanya yang sekarang tergeletak sia-sia di lantai podium.

Sepertinya foto kelulusan jenjang master tahun ini akan harus menampilkan wajah Rektor dengan mulut terbuka.

 

^^^

 

“Miho-ya!”

Miho mengabaikan panggilan itu. Matahari sudah mulai tinggi, dia harus mencari tempat berlindung. Kalau tidak kulitnya bisa gosong. Segera dia berlindung di bawah pohon di dekat mobil Euncha terparkir. Ciss, dia agak sebal mengingat Euncha yang masih ingin mengikuti sesi foto dengan angkatannya. Terpaksa dia menunggu sendirian di sini.

Cowok yang tadi memanggilnya berhasil juga mengejarnya. Sambil memegangi ulu hatinya, cowok itu berkata, “Hehehehhh.. cepat sekali kau berjalan, gadis manis…” sambil tersengal-sengal.

Dari balik kacamata coklatnya Miho memandangi sosok Luke dengan bosan. Mau apa lagi sih, cowok ini? Tapi memang dasar jiwa narsisnya sudah melewati kadar kenormalan, Miho tetap tersenyum seakan dia adalah selebriti yang bertemu fans yang hendak meminta tanda tangan. “Oh, maaf, aku tidak tahu kau mengejarku. Ada perlu apa?” tanyanya manis.

Diberi senyuman semanis itu, Luke jadi berpikir bahwa akhirnya kesempatannya datang. Lengkap dengan ketiadaan Euncha, yes! “Ah, tadi gara-gara sepupumu aku jadi gagal memberimu hadiah kelulusan,” cowok itu mengeluarkan senyuman merayu yang dipikirnya paling mempesona. Tangannya terulur memberikan kotak yang tadi diabaikan oleh Miho.

Aaah, membosankan sekali sih cowok ini, pikir Miho kesal. Dengan senyum palsunya dia menerima kotak itu. “Terima kasih,” katanya manis dengan nada suara seorang idol. Sementara dalam hatinya dia sudah mengutuki Euncha karena berfoto lama sekali.

Luke tidak pernah gagal jatuh cinta pada Miho. Padahal wanita itu lebih tua darinya, tapi penampilan dan perawakannya terlihat 7 tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Sekalipun tubuhnya tinggi, tapi sikap tubuh dan wajahnya sangat imut. Dalam benak Luke, mereka adalah pasangan yang sangat-sangat serasi. Tanpa menutup-nutupi kekagumannya, Luke berkata pada Miho, “Kau cantik sekali, Miho-ya…”. Tangannya terulur membelai sehelai rambut di samping telinga Miho.

Miho sendiri tidak pernah gagal merasa bangga ketika seseorang memujinya. Karena pujian yang dilontarkannya, sekarang cowok itu tidak lagi tampak terlalu membosankan. “Benarkah?” tanyanya gembira. Di balik kacamata matanya berbinar-binar senang.

“Kau tidak membukanya?” Luke bertanya sambil menggedikkan kepala ke arah kotak pemberiannya meski matanya tetap melekat memperhatikan wajah Miho. Tangannya kini sudah bersandar di pohon sehingga posisi Miho agak terperangkap antara tubuhnya dan pohon.

Miho sama sekali tidak sadar akan posisinya. Dia malah memperhatikan kotak itu. Miho yakin seratus persen isinya perhiasan, apapun bentuknya, jadi dia tidak terlalu ingin membukanya. Tidak ada perhiasan yang bisa membuatnya terkejut. Bukan tidak senang, hanya sudah biasa. Terlalu banyak kotak-kotak serupa di kamarnya sebagai pemberian dari entah berapa lelaki. Mereka yang memaksa, bukan Miho yang meminta. “Ah, aku yakin ini pasti sesuatu yang istimewa, jadi aku tidak mau membukanya sembarangan,” kata Miho manis.

Mungkin kalau Luke menderita epilepsi, saat ini mulutnya sudah berbusa akibat emosi senang luar biasa mendengar suara Miho. Tapi dia cowok tampan yang keren, jadi dia tampak baik-baik saja. “Kau benar-benar seperti dewi,” gombalnya sungguh-sungguh.

Miho tersipu, “Benarkah?” tanyanya retorikal. Dia sudah tahu, tapi tetap saja senang kalau orang mengatakannya terang-terangan. Apalagi dilihatnya sekarang Luke mengangguk pasti. Miho melanjutkan, “Hehe, aku kan ingin tampil spesial di acara kelulusan, jadi aku sedikit berdandan. Menurutmu dandananku bagaimana?”

Luke mengamati Miho lekat-lekat. Dia hanya punya satu kata. Sempurna. Tanpa riasan sekalipun, Luke yakin itu. Dia membuka mulut hendak menjawab, namun suaranya hilang entah kemana. Akhirnya dia hanya mengangkat jempolnya memberi penilaian.

Miho nyengir senang. “Maukah kau mengambilkan gambarku?” tanya Miho malu-malu.

Luke tidak percaya dia mendapat kesempatan seperti ini. “Tentu!”

Selanjutnya mereka berdua terlihat asyik berfoto-foto berdua. Miho melakukan banyak pose uljjang di bawah pohon. Luke meminta izin untuk mengambil gambar Miho dengan telepon genggamnya. Dia juga meminta Miho agar bersedia berfoto berdua. Pokoknya siang itu Luke merasa seperti menang undian keliling dunia, didampingi Miho tentunya.

Sedang asyik begitu, tiba-tiba terdengar suara Euncha dari jauh. “Kalian menjijikan!” seru gadis itu kesal. Bagaimana tidak? Miho sudah mengacaukan sesi foto bersama Rektor yang terhormat, dan sekarang malah foto-foto seperti orang gila di bawah pohon dengan raja kecoa ga berguna. Ya, itulah pendapat Euncha tentang Luke. Serangga tak berguna, kecoa.

Miho melirik ke arah Euncha dan memutar matanya. Kenapa Euncha mesti datang bersama Profesor keras kepala itu sih?

Lee Jihoon yang merasa diperhatikan langsung menyapa Miho. “Sedang bersenang-senang, Miho-ya?”

Dengan kesal Miho menghentikan aktifitasnya, membuat Luke tampak bodoh karena berpose sendiri. Senyum Miho agak sinis ketika membalas sapaan Profesornya itu, “Ya, ini saaaaaangat menyenangkan, Prof.”

Dengan kaki dihentakkan Miho berjalan ke arah pintu penumpang mobil Euncha. “Eunchanie, cepat kita pulang. Aku ada janji,” katanya dengan nada merajuk manja pada Euncha. Yang tidak mengenal mereka pastilah mengira Miho itu adik Euncha.

Lee Jihoon tersenyum kecut melihat kesinisan Miho. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Miho bersikeras tidak mau melanjutkan kuliahnya, padahal—ya ampun—gadis itu luar biasa jenius! Tapi entah bagaimana sepertinya jiwanya sangat antipati terhadap pendidikan. Dia ingin mengatakan sesuatu untuk membujuk Miho lagi, tapi gadis itu sudah terlihat sangat kesal. Dia sudah hapal gelagatnya. Saat mimik mukanya begitu, dia tidak akan mendengarkan siapapun kecuali keinginannya dituruti.

Jihoon akhirnya malah berkata pada Euncha, “Hati-hatilah mengemudi,” katanya menuju pintu penumpang. “Ini ditaruh di belakang saja ya?” tanyanya lagi pada sepupu Miho itu. Tangan Jihoon memang penuh dengan berbagai penghargaan milik Euncha dan Miho. Dia tadi membantu Euncha membawakan barang-barang itu sebab Miho sudah kabur duluan.

Dengan tanggap Euncha membuka pintu belakang mobil sambil mengangguk. Ketika mereka sedang mengatur barang-barang itu dengan hati-hati, Luke berlari mendekati Miho. “Miho-ya, bagaimana kalau kau ikut aku saja? Aku akan mengantarmu pulang, tapi kita bisa berpesta merayakan kelulusanmu sebelumnya. Kau mau?”

Miho yang moodnya sudah terlanjur jelek hanya memandang kesal pada Luke. “Maaf, aku tidak berpesta dengan orang yang tidak aku kenal,” katanya dingin.

DOR! Luke bagai balon yang tiba-tiba ditusuk jarum. Tidak kenal? Miho tadi bilang dia tidak mengenal Luke?! Apa maksudnya? Lalu apa artinya selama setahun ini dia terus mengejar-ngejar gadis itu? Miho pasti bercanda, kan? Hampir setiap Miho di kampus, Luke pasti menyempatkan diri menghampirinya, dan tadi dia bilang dia tidak mengenal Luke? TIDAK KENAL?! Luke berharap dia benar-benar menderita epilepsi sekarang agar punya alasan untuk terpuruk.

Di sisi lain mobil, Euncha sudah masuk mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Jihoon. Melihat itu Miho mendorong Luke agar menyingkir dari jalannya kemudian dengan tidak peduli menghempaskan tubuhnya ke kursi penumpang di sebelah Euncha.

Sementara Luke masih terpaku di tempatnya, Jihoon menunduk di jendela di sebelah Euncha. “Selamat sekali lagi,” ujarnya pada Euncha.

Euncha tersenyum senang, “Ne, terima kasih, Prof. Aku akan main-main ke sini untuk mencari info beasiswa—atau info pekerjaan.”

Dengan ringan Jihoon mengacak rambut Euncha, kemudian pria itu berpaling menatap Miho, “Kau juga, Miho-ya. Sering-seringlah main kemari.”

Miho menatapnya, sengaja menurunkan kacamatanya sebatas batang hidung agar Jihoon bisa melihat tatapannya yang kira-kira berarti, “Kau pikir aku sudah gila?!”

Melihat itu Jihoon hanya tersenyum. Mungkin karena usianya yang masih tergolong muda, kedua gadis itu sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Semengesalkan apapun tingkah laku keduanya—terutama Miho, tidak bisa membuatnya naik pitam. Saat ini pun dengan jahil dia malah mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Miho keras.

“Ya! OPPA!” Miho berteriak kesal pada Jihoon.

Jihoon tertawa keras sementara Euncha menginjak gas begitu tubuh Jihoon sudah berdiri tegak. Keduanya mengabaikan uring-uringan Miho.

Setelah beberapa menit mereka meninggalkan kampus, baru Miho berhenti misuh-misuh. Meski mukanya tetap cemberut. Dengan sikap berlebihan Euncha mengorek kuping kanannya, “Aaah, akhirnya tenang,” katanya.

“Ya, neo!” kekesalan Miho naik lagi.

“Sudahlah Eonnie. Lagian emang kenapa kalau Eonnie main-main ke kampus? Itu kan tawaran yang baik dari Profesor Lee..” Euncha mencoba memasukkan logikanya pada Miho.

“Ciss!” Miho menolak menjawab kali ini. Tidak ada gunanya. Jihoon Oppa dan Euncha memiliki pola pemikiran yang sama. Lebih baik sekarang dia membiarkan saja masalah ini daripada sampai di rumah nanti Euncha mengangkat topik ini lagi. Dia benar-benar tidak mau orang tuanya sampai mendengar ide si ‘brilian’ Jihoon. Bisa mati konyol dia nanti.

“Eonnie,” nada suara Euncha berubah memanggil Miho.

Miho menoleh menatap adiknya. Hanya tatapannya saja yang bertanya. Dia masih malas bicara dengan Euncha.

“Bagaimana kalau kita habiskan hari ini untuk bersenang-senang?” senyuman bersekongkol muncul di wajah Euncha.

Sebenarnya, Miho tertarik. Tapi dia masih gengsi. Jadi dia hanya berwajah datar menyembunyikan antusiasmenya. Mulutnya berkata sedatar ekspresinya, “Memang kau mau apa?”

Apa gunanya bersama bertahun-tahun kalau dia tidak bisa mengenali pemikiran Miho? Euncha tahu bahwa Miho sudah mulai tertarik. Siasatnya untuk memulihkan mood Miho sepertinya berhasil. Dia memiringkan kepalanya sambil pura-pura berpikir. “Geunyang…” dia sengaja memutus ucapannya, mengulur waktu.

Sewaktu dilihatnya Miho membenarkan posisi duduk agar semakin menghadapnya, Euncha bersorak dalam hati. Yes, Miho sudah benar-benar tertarik sekarang. “Haruskah kita… belanja?” gadis itu memberi tatapan ceria pada Miho.

Ekspresi antusias Miho segera berganti menjadi ekspresi muram. “Ga usah deh. Aku lelah. Kita pulang aja.”

Euncha memaki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa dia lupa? Miho kan sudah menghabiskan banyak uang di salon untuk penampilan hari ini. Terlepas dari seberapa berkilaunya penampilan kakak sepupunya ini, pada dasarnya keluarga Miho hanyalah keluarga yang sederhana. Itulah sebabnya orang tua Miho mendesak anaknya untuk bersekolah tinggi, supaya pada akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan bergaji bagus. Berbeda dengan dirinya yang secara ekonomi jauh lebih baik dari Miho. Dia tinggal menyebutkan apa maunya dan orang tuanya dengan mudah akan langsung memenuhinya.

“Eonnie, aku kan ingin bersenang-senang! Eonnie harus menemaniku belanja,” Euncha mengganti taktiknya. Miho biasanya luluh kalau dia mengeluarkan sifat manjanya.

Bingo. Euncha bisa mendeteksi seberkas sinar bersalah di mata Miho. “Tapi aku ada janji, Euncha…” tolak Miho pelan. Sebenarnya dia merasa tidak enak pada Euncha, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya uang lagi. Tabungannya tidak boleh diutak-utik sebab ada yang mau dia lakukan setelah hari ini. Hanya tabungan itu harapannya kali ini.

Euncha menaikkan alisnya sangsi. Dasar gengsian! Bilang aja udah ga punya duit, jadi aku kan lebih gampang bilang mau ngebayarin, pikirnya menyesali harga diri Miho yang kadang kala ketinggian. “Janji apa? Stalking SHINEE?”

“Ommona, eotteohke areo?” Miho benar-benar terkejut Euncha mengetahui rencananya malam ini.

Euncha menatap Miho menghina. “Eonnie pikir aku ini siapa? Aku ini adikmu. A-dik-mu! Tentu saja aku tahu. Pokoknya aku ga mau tahu. Aku mau bersenang-senang hari ini. Eonnie harus menemaniku.” Euncha berkata tegas.

Miho hendak membantah, tapi Euncha lebih cepat. Kali ini nadanya tandas, “Eonnie, aku ingin menghabiskan uang appa hari ini! Aku butuh sesuatu untuk menghilangkan stres pasca skripsi. Bantu aku~” kalimat terakhir diucapkannya seperti anak kecil yang merajuk minta dibelikan permen.

Meski sedikit putus asa karena menyadari kemampuan finansialnya yang terbatas, Miho mengeluarkan senyum antusias terbaiknya. Dia segera menyadari bahwa Euncha hanya ingin menghabiskan hari ini bersenang-senang dengannya. Anak itu tidak peduli masalah uang. Mereka akan menghabiskan uang Euncha, itu sudah pasti. Seperti yang biasa terjadi.

Dalam hatinya Miho merasa terharu sekaligus rendah karena terus-menerus dibantu Euncha kalau sudah sampai urusan keuangan. Tapi di sisi lain dia juga menyadari bahwa menghabiskan waktu bersama Euncha sudah dianggap bayaran yang setimpal oleh anak itu. Hatinya membuncah oleh rasa bahagia karena memiliki adik yang sangat manis seperti Euncha. Lagi-lagi dia bertekad suatu saat nanti dia akan membalas semua budi Euncha padanya. Untuk kali ini, dia hanya bisa membalasnya dengan senyum senang. Itu sudah cukup bagi Euncha.

Euncha melihatnya, senyum Miho. Dia pun ikut tersenyum. Ah bukan, nyengir lebih tepatnya. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Miho, lalu berkata seolah ada rahasia super-duper menyenangkan di antara mereka, “Kau siap, Eonnie?”

Miho mengangguk seperti anak kecil, “Gaja!” serunya antusias diiringi lonjakan mobil akibat gas yang ditekan semakin dalam oleh Euncha.

 

^^^

 

Kedua gadis itu sekarang sedang terkikik-kikik senang melihat koleksi baju musim panas terbaru milik brand terkenal di dunia. Keduanya sedang mencoba-coba beberapa model ditemani pramuniaga yang siap sedia mengambilkan apapun keinginan mereka. Pramuniaga itu, hanya dengan melihat penampilan keduanya, yakin bahwa kedua gadis ini akan membawa tas hasil belanjaan mereka keluar dari butik tempat kerjanya, bukan hanya melihat kemudian keluar dengan tangan kosong.

Dugaannya memang benar. Meski di samping Miho dan Euncha sudah terdapat beberapa kantong belanja yang ditempeli brand yang tak kalah terkenal dari nama butik tempat mereka berada sekarang, tapi di tangan pramuniaga itu telah terdapat beberapa potong gaun pilihan keduanya.

Sekarang ini Miho sedang mencoba sebuah gaun bergaya vintage bertema yard-floral. Warnanya  jingga cerah, menjadikan pemakainya tampak lebih hidup dan dinamis namun tetap cute. Rok gaun bergaya 80-an itu jatuh manis beberapa sentimeter di atas lututnya. “Eonnie, kau bisa memadukannya dengan syal Graveyard milikmu,” saran Euncha. Gadis itu mengagumi betapa menariknya sepotong gaun jika Miho yang mengenakannya.

“Geurae?” mata Miho berbinar. Dia merasa puas melihat bayangannya sendiri di cermin tadi, tapi jauh lebih memuaskan rasanya melihat orang lain yang menatapnya memuji.

“Anda sangat pantas mengenakannya,” pramuniaga menyeletuk tanpa diminta. Di matanya, pelanggan yang satu ini tampak sangat mempesona. Benarkah gadis ini bukan artis?

“Eonnie!” seru Euncha tiba-tiba. “Kau harus meng­upload penampilanmu ini di twitter! Fans-mu pasti akan senang sekali!” sambung gadis itu. Tangannya terkepal karena antusias.

“Ya, kau benar!” Miho ikut bersemangat mendengar itu. Ditatapnya pramuniaga, “Jogiyo, anu, bolehkan kami memotret gaun ini?” tanya Miho sedikit tidak enak pada pramuniaga itu, sebab bagaimanapun dia tidak berniat membelinya. Dia sudah mengambil dua potong gaun hanya dari toko ini, semuanya ditanggung Euncha, jadi dia tidak akan mengambil lagi.

Sebelum pramuniaga menjawab, Euncha sudah menyela tak sabar, “Ani, ani, kami akan membelinya. Siap-siaplah Eonnie, aku akan mengambil gambarmu,” katanya dengan telepon genggam siap pada mode kamera.

“Ya~” Miho memprotes pelan. Di depan pramuniaga itu tentu saja dia tidak mau mengakui bahwa bukan dia yang membeli semua ini, melainkan Euncha. Tapi ini sudah sangat banyak, sehingga dia terpaksa mengingatkan adiknya itu.

“Eonnie, pose!” Euncha berkata tidak mau dibantah. Membuat Miho tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya. Memang seringkali Euncha bertindak lebih seperti anak sulung yang otoriter.

Di sebelah mereka sang pramuniaga tersenyum agak geli. Dia bertanya-tanya benarkah gadis yang memanggil lainnya dengan sebutan ‘Eonnie’ itu adalah adiknya. Kedua pelanggannya ini benar-benar tertukar posisi, pramuniaga itu mengamati. Sang kakak seringkali hanya diam menuruti perintah-perintah adiknya. Dan dia bisa melihat itu bukan karena mengalah, tapi karena menurut. Dia senang melihatnya. Kakak-beradik yang akur.

Setelah sang kakak berpose, ganti sang adik yang mencoba beberapa baju dan berfoto-foto dengannya. Sepertinya si adik sedang kesurupan karena banyak sekali baju yang dibelinya. Semua hanya berdasarkan pengamatan sekilas pandang. Yang penting suka.

Ketika akhirnya Miho dan Euncha keluar dari toko, baik kedua gadis itu maupun si pramuniaga, semua tersenyum gembira. Mereka puas dengan perolehan masing-masing hari ini.

Dari toko tersebut, Miho dan Euncha melanjutkan ke arah restoran. Mereka kelaparan setelah berjam-jam menyambangi banyak toko, gerai dan butik. Bahkan sekarang sudah pukul 3.30 sore, artinya mereka benar-benar telah melewatkan jam makan siang. Dengan tangan penuh belanjaan serta mulut cekikikan, keduanya memasuki restoran yang menyajikan hidangan Eropa pilihan Euncha. Sepertinya anak itu benar-benar bertekad menghabiskan uang hari ini.

Sambil menunggu pesanan mereka datang, Euncha mengeluarkan telepon genggamnya. “Eonnie, ayo upload foto-fotomu,” katanya.

Miho mengangguk-angguk senang seperti anak kecil, lalu berpindah tempat duduk ke sebelah Euncha untuk memilih foto-foto yang menurut mereka paling bagus. Mereka mengunggah dua buah gambar. Foto Miho sendirian dengan vintage dress tadi, dan foto mereka berdua dengan baju lain. Menyertai foto itu, Miho menuliskan: “Kelulusan hari ini, dan saatnya bersenang-senang. Apakah kami tampak cantik? Kami sudah berusaha, lho. Kkkk..”

Miho memang memiliki akun twitter yang pengikutnya sebagian besar adalah fans-nya. Entah dari mana asalnya para fans itu datang, tapi tiba-tiba saja akunnya telah diikuti oleh banyak sekali orang yang mengaku sebagai fans-nya. Padahal tadinya Miho membuat akun twitter hanya agar tidak ketinggalan berita idola. Sekarang ini dia telah terbiasa mengupdate kegiatannya lewat twitter, dan itu tidak pernah sepi dari tanggapan.

“Eonnie, kau harusnya menjadi idola,” kata Euncha polos.

Miho mendengus. Itu memang sempat jadi keinginannya dulu, kalau saja orang tuanya tidak mendesaknya kuliah. Dilihatnya Euncha yang masih asyik mengamati telepon genggamnya. “Wah, Eonnie, pengikutmu tambah lagi hari ini. Kau memang populer. Aku ngetweet ya?” tanya gadis itu meminta izin pada yang punya akun. Miho hanya mengangguk.

Wanita itu mengamati Euncha dengan pandangan serius. Pikirannya sih tidak pada Euncha, dia sedang memikirkan langkah hidupnya setelah ini. Dia sudah bertekad akan mendatangi agensi pilihannya. Selama ini dia sudah merencanakannya.

Dia tidak naif. Meskipun dia memiliki modal dari segi penampilan, tapi umurnya tidak muda lagi. Dengan sedih dia mengingat impiannya menjadi seorang artis multitalenta yang harus dilepaskan, namun segera dihapusnya kesedihan itu. Dia masih memiliki kemampuannya.

Tidak ada yang tahu bahwa selama ini dia bergabung dengan sekolah drama kecil di dekat kampus. Meski kecil dan tidak terkenal, namun sekolah itu telah membantunya memahami dasar-dasar akting. Itu adalah pegangannya saat ini. Kalau menjadi idola bukan lagi pasarnya, dia masih bisa berakting. Dia pasti bisa.

Tabungan yang selama ini dikumpulkannya adalah untuk mendaftar ke agensi pilihannya. Dia sudah membuat daftarnya, dan dia akan melakukannya mulai besok. Tidak ada lagi penundaan. Impiannya harus teraih secepatnya.

Ketika pesanan mereka datang, Miho sudah berhasil menguasai ekspresinya. Euncha juga sudah menutup telepon genggamnya. Untuk saat ini, semuanya akan berjalan seperti biasanya, dan Miho akan membanting setirnya mulai besok. Besok, hidup seorang Go Miho akan dimulai. Hidup yang sebenarnya.

 

^^^

 

Malam itu, Miho beristirahat di kamarnya sambil online. Dibukanya beberapa laman seperti website agensi pilihannya, twitter, e-mail, serta website-website infotainment. Dia memutuskan tidak jadi stalking SHINEE malam ini karena dia sudah lelah sekali.

Sore tadi Euncha mengantarnya pulang pada pukul 7. Mereka sudah ditunggu oleh kedua orang tua Miho. Mereka sudah menyiapkan makan malam istimewa dan keduanya tidak mau menerima jawaban tidak dari Euncha. Akhirnya mereka pun makan bersama dan bercanda sampai Euncha mendapat telepon dari ayahnya. Setelah itu Euncha pulang dan orang tua Miho memperbolehkan putrinya langsung beristirahat.

Miho tahu ayahnya punya sesuatu yang hendak dibicarakan, tapi pria itu menahan diri. Miho pun tidak mau mengusik suasana tenang ini. Mereka akan menghancurkan ketenangan ini besok. Malam ini dia akan beristirahat mengumpulkan energi untuk berperang melawan orang tuanya esok hari.

Sebenarnya ada sedikit ketegangan situasi di antara Miho dan orang tuanya. Miho yakin sekali ayahnya sudah mencarikan pekerjaan untuknya, dan itu didukung oleh ibunya. Keduanya tidak bisa—bukan, tapi tidak mau—mengerti bahwa anak semata wayangnya itu masih memiliki impian terjun ke dunia entertainment. Bagi mereka pilihan Miho sangat tidak masuk akal dan mengkhawatirkan. Tapi Miho tidak mau menyerah. Tidak setelah lima tahunnya terbuang sia-sia untuk sesuatu yang sama sekali tidak diinginkannya.

Sesuatu berkedip di sudut kanan bawah komputernya. Notifikasi e-mail. Miho membukanya, dan matanya melebar. Dia mengusap matanya tidak percaya. Itu adalah pemberitahuan bahwa seseorang mengirimkan pesan langsung padanya. Yang menjadi masalah adalah jati diri ‘seseorang’ itu.

Cepat-cepat Miho membuka pesannya di twitter. Matanya terbelalak. Itu benar-benar terjadi! Di hadapannya sekarang terpampang pesan dari @special1004 yang berisi:

“Benarkah foto itu kau? Kau cantik sekali… kkkkk🙂 ”

 

-cut-


7 thoughts on “My Lovely Fox [1]

  1. terima kasih yg udah komen.
    tapi saya bingung, apa ga papa kalo saya lanjutin? soalnya ini agak panjang. tapi karena sepertinya yg minat sedikit, saya jadi ga enak sama adminnya, cuman ngirimin karya yg ga diminatin..
    hehe, jadi bingung😛

    Like

  2. ceritanya bagus kok oen, emang agak panjang dan mungkin cast nya jg kurang dikenal oen. tapi ceritanya keren kok. tenang ajah oen. aku jg author freelance d sni, n yg comment d ff q dkit, tp itu g mematikan keinginan q utk trus mnulis. smnangat dong eon! fighting! lanjut y oen…

    Like

  3. bgus ceritany🙂
    ayo lnjutkan pnasaran sama klanjutanny gmn ,crtany mnarik gg ngebosenin ,bkin nagih pngen baca k lanjutanny ^^*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s