Happy Ending PART 4


Author : Shin Minyoung

“Kau mencintai melodi, apakah bagimu itu masuk akal?”

“ Kau hanya bilang ‘iya’ kalau menyukainya, dan bilang ‘tidak’ jika benar-benar tidak menyukainya”

“Nanti, kau pasti akan mengerti” 

“Min Ho!”
Min Ho menggelengkan kepala. Kenapa justru wajah’nya’ yang terbayang?

“Min Ho!!”

“Min Ho!!!”
Sebal melihat Min Ho duduk terdiam didepan meja belajarnya. Sosok perempuan itu masuk dan berteriak tepat ditelinga Min Ho.

“MIN HOO!!!”

“Ya! Nuna! Jangan teriak-teriak, aku dengar kok!” sebal Min Ho dengan Choi Hye Jin [*ini Victoria f(x)*] , Nunanya.
“O, jadi kau masih hidup? Ku kira kau sudah di kutuk nenek sihir jadi patung untuk menghias museum” oceh Hye Jin “Kau ini sedang melamunkan apa sih? Kenapa aku panggil tidak menjawab?”
“Tidak ada” jawab Min Ho singkat.
“Bohong”
“Tidak ada”
“Bohong”
“Tidak”
“Bo-Hong”
“Ti-dak”
“Bohong-bohong-bohong”
“Tidak-tidak-tidak-tidak”
“Jujurlah pada Nunamu ini” bujuk Hye Jin penasaran.
“Kubilang tidak ya tidak”
“Aaa, nuna tau sekarang” tebak Hye Jin sambil menjentikkan jarinya “pasti perempuan kan?”

Wajah Min Ho kebingungan mau menjawab apa. Mukanya bersemu merah, tapi dia berusaha menyembunyikannya.

“Ti-tidak” sergah Min Ho sebelum kakaknya itu curiga. “Aku mencari Noteku” katanya lalu berusaha mengacak-acak seluruh isi tas sekolahnya.

Hye Jin menggigit bibirnya, ia benar-benar penasaran.
“Oya, nuna, ada apa mencariku?”

“Ini” kata Hye Jin “surat undangan untuk permainan perdanamu sudah datang, tapi kelebihan satu. Kau yang meminta lebih kan?”

“Ha? Tidak” Min Ho tidak menatap mata nunanya “mungkin ada kesalahan. Sini biar aku saja yang urus” sebuah amplop putih dengan tinta emas yang di pegang Hye Jin diambil -secara-tiba-tiba oleh Min Ho

“Jangan bohong” kata Hye Jin melihat tingkah Min Ho “Siapa? Mau kau kasih sapa undangan itu?”

“Ha, ya aku kembalikan pada pembibingku lah” bohong Min Ho.
Hyejin menggeleng tenang.
“Siapa cewek yang sudah membuat adikku ini menjadi seperti ini? Adikku ini sedang jatuh cinta ternyata”

“Kau ini bicara apa sih?” akhirnya Min Ho mengusir Hye Jin dari kamarnya “Keluar” sebal Min Ho dan mendorong-dorong pundak Hye Jin.

“Ya! Kau ini! Dengarkan aku, kau itu sudah menunjukkan gejala-gejala jatuh cinta! Suka melamunkan seseorang. Dan memasang tampang memerah sepertimu! Dan setelah itu kau akan mempunyai hasrat untuk menciumnya dan kau bisa-bisa lupa, antara nafsu dan cinta, lalu___”

“Keluar” tegas Min Ho benar-benar tidak kuat dengan godaan kakaknya.

“Okay!!” seru Hye Jin akhirnya “Ok, aku keluar”
Min Ho melepaskan tangannya dari pundak Hye Jin.

“Tapi, katakan padaku siapa” lanjut Hye Jin memasang muka cute ala poporonya.

“Aish, keluar” gemas Min Ho mendorong-dorong kakaknya keluar kamar.

Min Ho menutup pintu kamar dan menguncinya. Kali ini dia memilih tiduran di tempat tidur. Bayang Soo Jung kembali hilir mudik di kepalanya. Entah kenapa, dia jadi lupa tujuannya untuk mencari Note.

“Dia, pacarmu?” tanya Ki Bum terlihat hati-hati.
Soo Jung dan Min Ho saling pandang.
“Ti-tidak. Kami teman.” Jawab Soo Jung agak terbata. Min Ho terdiam mendengarnya, sedikit tidak suka dengan jawaban Soo Jung. Tapi memang tidak ada apapun diantara mereka, lalu apa yang perlu tidak disukai dari perkataan Soo Jung tadi? 

“Soo Jung-ssi? Cinta? Ha, mana mungkin? Kami baru bertemu beberapa hari yang lalu! Gila!” Gumamnya.

***

Soo Jung merbahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia memejamkan mata sesaat mengosongkan pikirannya.

Drrt Drrtt

QUOTE
Soo Yeon onnieAku akan pulang larut malam. Ingat kau tidak boleh banyak bermain-main. Dan jangan keluar rumah.
Saranghae
^^

Huff. Rumah ini menjadi sepi semenjak Soo Yeon ditugasi untuk membantu ayahnya menangani klien-klien. Apalagi ini hari minggu, rasanya ingin pergi keluar dan mengirup udara lebih bebas.

Soo Jung mengalihkan tatapannya kearah tas sekolah yang tergantung didekat lemari. Ia mulai merasakan, betapa rindunya ia untuk masuk ke sekolah lagi walau hanya sekali. Bercanda tawa, menguap saat pelajaran, melukis. Andai ia bisa.

Soo Jung berdiri mengambil tas yang kemarin dipakainya dan membukanya. Sebuah map berwarna coklat menarik perhatian.
“Bukankah ini milik Min Ho? Kenapa aku bisa membawanya?” Ia membuka map itu hati-hati. Isinya lembaran-lembaran note. “Pasti ia mencarinya. Aku harus menelpon Min Ho” Krystal memeriksa Map itu lagi. Siapa tau ada tertera nomor Min Ho.
“Ah Ini dia”
Soo Jung meraih handphone yang ada disamping bantalnya dan menghubungi nomor itu.

Drrt drrtt

Min Ho mengambil Hp yang ada disampingnya.
Ternyata, ada telepon masuk.
“Yoboseyo?”
“Eh? Min Ho-sshi?”
Ia membuka matanya lebar lebar. Baru saja dia memikirkan orang itu. Ternyata dia telah menelponnya.

“Yo-yobosseyo?”
“Min Ho?”
“Dari-dari mana kau tau nomor teleponku dan, dan ada apa kau menelponku?” tanya Min Ho tanpa bertanya siapa yang menelponnya disebrang sana.
“Ehh” Soo Jung terdiam tiga detik. “Min Ho-sshi? Ini Aku Soo Jung”
“Aku sudah tau” kata Min Ho dalam hati
“Apa kau kehilangan sesuatu?”
Min Ho berpikir sejenak sebelum ia menjawab “Iya, aku kehilangan Note-Note ku”
“Map Note nya ada padaku. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa ada di tasku, mungkin aku tidak sengaja memasukkannya”

Setelah menerima telepon Soo Jung, Min Ho segera beranjak berdiri. Membuka kunci kamarnya dan memanggil-manggil nunanya.
“Nuna!!! Nuna!!!”

Drap drap drap
Langkah kaki Hye Jin terdengar ke arah kamarnya.

“Ada apa?” tanyanya panik mencari sosok Min Ho yang terlihat sedang membuka lemari pakaiannya.
“Tolong aku pilihkan baju” kata Min Ho datar.
“Aish, ku pikir ada apa” sebal Hye Jin.
“Nuna, jangan melamun, tolong aku” rengek Min Ho.
“Kau mau pergi?”
“Iya”
“Kemana?”
“Entah. Soo Jung bilang akan memberitahukan aku nanti”
Hye Jin terdiam, terlihat mengamati Min Ho yang sedang memilih-milih baju hangatnya.
“Jadi namanya Soo Jung?” kata Hye Jin penuh kemenangan. Min Ho memandang nunanya, dia baru sadar telah keceplosan. “Dan kalian akan pergi kencan?!” seru Hye Jin bahagia.
“Ti-tidak seperti itu juga, aku___”
“Kyaa!!!” Hye Jin heboh memeluk adiknya “Akhirnya kau bisa menyukai wanita juga! Aku terharu! Kau harus mengenalkannya ke Nunamu! Pasti cantik iyakan? Iyakan? Aku sangat___”
“Nunaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” seru Min Ho tidak sabaran “Bisa kau hentikan itu dan bantu aku memilih baju?”
***

“Lama sekali” gumam Min Ho. Dia berulang kali mengecek jam tangannya, sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore, padahal Soo Jung bilang akan datang pukul 3 sore.

Min Ho merapatkan jaketnya lagi, ia terlihat kedinginan menunggu di taman kota setengah jam lebih.

“Apa dia tidak datang? Jangan-jangan aku dikerjai?”

“Min Ho!!!!”
Min Ho menoleh ke asal suara yang sangat dikenalnya. Suara Soo Jung yang sudah sangat diharapkannya dari tadi. Ia mendekat cepat dengan rambut berkibar karena angin.

Min Ho memandang Soo Jung cukup lama ketika dia mendekat. Ia memakai baju hangat warna putih polos, rok kotak-kotak mini berjenis hangat. Rambutnya dihiasi topi rajut warna putih yang manis.

“Ya! Kau lama sekali! Ini sudah setengah jam dan kau_________” Min Ho tidak melanjutkan celotehnya, karena tangannya sudah ditarik untuk pergi dari situ.

***

Ruang itu terang benderang karena kaca jendela besar dan tebal. Peralatan kantor tertata rapi tanpa debu. Pernak-pernik dan alat-alat mewah menjadikan ruangan itu terlihat modern dengan beberapa sentuhan klasik. Sudah sekitar satu menit dua sosok disana terbungkam dengan pikiran mreka masing-masing.

“Ayah tak bisa melakukannya” suara Soo Yeon*Jessica*, mengisi kesunyian diruangan kantor ayahnya. “Aku tidak bisa mengijinkan ayah melakukannya. Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku saja?!”

Sosok tegap dan berperawakan tegas duduk dihadapan Soo Yeon. Itu ayahnya. Tuan Besar Jung.

“Bicaralah sesukamu, setidaknya dia bisa melakukan sesuatu” katanya tanpa beban “dengan begini dia juga bisa menebus dosanya sebagai pembunuh”

“Soo Jung bukan pembunuh. Dia bukan alat yang bisa kau buang dan kau lecehkan begitu saja. Dia menderita. Dia___ ”

“Kalau tidak begini, perusahaan ini akan kacau. Dan kau tau kerugian yang kita tanggung? Kita bisa bangkrut. Dan aku tak bisa membiarkan perjuanganku selama bertahun-tahun harus kadas sampai disini!”

Mata Soo Yeon panas, setiap waktu air mata bisa mengalir dari sana.
“Bukan begini caranya, jangan Soo Jung biar aku”

“Jangan buat aku tertawa. Keluarga Choi hanya memiliki satu anak laki-laki. Dan dia seumuran dengan Soo Jung, kau terlalu tua. Kau sendiri yang memilih, Soo Jung bertunangan, atau kita menjadi gelandangan”

“Sulit untuk mengatakan padanya, dia tidak mungkin bisa karena dia sa__ ”
“Kau tidak usah mengatakan padanyabiar aku yang mengurusnya. Tugasmu hanya membuat dia cantik saat acara pertemuan”
***

“Kenapa kita harus masuk ke toko boneka sih?” gerutu Min Ho karna Soo Jung telah menariknya ke dalam toko.

“Min Ho, liat ini” kata Soo Jung sambil menunjuk boneka kecil dengan tatapan tajam di rak paling atas.

“Kenapa?” tanya Min Ho.

“Mirip kau” kata Soo Jung lalu terkekeh-kekeh.

“Aku juga menemukan yang mirip kau” balas Min Ho tak ingin kalah. “Itu”

Min Ho menunjuk boneka gorilla besar yang sedang menjulurkan lidahnya tepat didepan Soo Jung.

0_0

“Ya!” geram Soo Jung sebal lalu memukul lengan Min Ho pelan. Min Ho hanya tertawa dan beraduh ria dengan kelakuan Soo Jung.

Soo Jung tersenyum kemudian.

DEG

Min Ho seakan tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari bibir Soo Jung yang tersenyum itu.

“Ayo kita lihat yang lain” ajak Soo Jung

DEG

Aku kenapa? Kenapa jantungku berdetak kencang melihat Soo Jung?
“Ayo” Soo Jung meraih tangan Min Ho dan menggandengnya pelan.

“Siapa? Siapa cewek yang sudah membuat adikku ini menjadi seperti ini?”

“ Adikku ini sedang jatuh cinta ternyata”

“Apa benar aku menyukai Soo Jung?” gumam Min Ho dalam hati.

“Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?” tanya Min Ho heran.
“Jalan-jalan” kata Soo Jung penuh arti.
”Jalan-jalan? Tapi, aku sedikit merasa ini seperti kencan.”

***

“1, 2, 3” kata Soo Jung
Klik, Klik, Klik, Klik, Klik

Soo Jung menarik Min Ho keluar dari Foto Box. Ia mengambil salah satu ballpaint edit *ga tw namanya ap XD*, dan memberikannya ke Min Ho.
Tau apa yang Soo Jung maksud, Min Hopun menuliskan kata “Babo” di layar edit foto, tepat disamping foto Soo Jung yang sedang tersenyum.

>.<

Soo Jung berdecak pinggang sengit melihatnya, lalu menggambar dua tanduk di kepala Min Ho, dan taring di ujung-ujung mulutnya. Sebisa mungkin membuat wajah Min Ho berantakan.

“Kau merusak wajah gantengku” kata Min Ho dengan PDnya.

Soo Jung tersenyum. Senyum itu lagi. Min Ho tidak berani menatap Soo Jung. Dia merasa aneh setiap kali melihat wajah Soo Jung.

“Lalu kenapa kau menuliskan kata ‘babo’ disamping fotoku?”

“Karena kau memang bodoh”

Tanpa segan Soo Jung menggetok kepala Min Ho, tidak terima dibilang ‘bodoh’.
“Auw”

***

“Soo Jung! Cepat!” panggil Min Ho. Soo Jung melongo menatap Min Ho yang sudah mengendap-endap masuk melompat pagar.

“Jadi kau akan membawaku kesini?”
“Benar, ayo!”
“Kau yakin?” bisik Soo Jung “Bagaimana kalau ketahuan? Kau tidak lihat kalau gedung ini tutup?”

Tap

Min Ho yang sudah diseberang pagar menggeleng. “Jangan pikirkan itu dulu, ayo naik”
Soo Jung memanjat pagar pelan. “Apa aku harus melompat?”
“Ya, tenang saja, aku disini akan menangkapmu”
“Ha?”
“Cepat lompat, tak usah takut”
“Ba-baiklah”
“1…2….3…”
TAP
Min Ho menangkap Soo Jung pelan kedalam pelukannya.
“Soo Jung, kau tidak apa-apa?” tanya Min Ho sambil melepas pelukannya karena kikuk. Soo Jung mengangguk. “Ayo” gumam Min Ho dan menggandeng tangan Soo Jung perlahan.

“Ayo masuk” bisik Min Ho tepat ditelinga Soo Jung.
Soo Jung langsung masuk ke dalam ruangan tanpa banyak bicara.
“Min Ho, kenapa gelap?” ujar Soo Jung setengah berteriak.

Greep …
Terdengar Min Ho menutup pintu pelan. “Ssst, jangan berisik, nanti ketahuan”
Lewat cahaya remang-remang, Soo Jung mencari-cari sosok Min Ho.
Tap…
Tiba-tiba tangan Min Ho menyentuh pundak Soo Jung dari depan dan mendorongnya kebelakang perlahan-lahan. Soo Jung yang panik meraba-raba benda-benda sekitarnya yang sedikit berdebu. Hingga sampailah punggungnya merasakan dinding yang sedikit lembab.

Wajah Min Ho mendekat begitu pelan tapi pasti. Mata Soo Jung terpejam, dan tidak berkutik.
Klep…
0_o
“Sa-sakelar? Dia tadi mencari letak sekelar lampu ternyata.” kata Soo Jung dalam hati.
“Kita sekarang ada dibelakang panggung” jelas Min Ho “Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu”
Dan, seperti sebelumnya Min Ho sudah menarik tangan Soo Jung lagi.

“WHUAA” pekik Soo Jung kaget begitu ia mendapati dirinya diatas sebuah panggung besar dan megah itu. “Ini hebat!” serunya lagi.

Ruangan itu sangat besar dan terlihat megah. Panggungnya sangat luas dan terdapat sebuah piano putih di tengahnya. Disamping panggung terdapat kursi-kursi untuk pengiring. Dan bangku-bangku penonton yang bertingkat benar-benar membuat semuanya elok.

“Disinilah aku akan memainkan permainan perdanaku.” Kata Min Ho dengan bangga “Dan disana,” Soo Jung menoleh ke arah yang Min Ho tunjuk. Min Ho menunjuk barisan penonton paling depan. “Kau akan duduk dan melihatku bermain! Itu hebatkan?!” Soo Jung terdiam, ekspresinya berubah drastis. Tawanya lenyap. Wajahnya kini tidak menunjukkan bahagia. Ia terpaku.

“Aku telah meminta undangan tambahan kepada pembimbingku. Dan, aku mendapatkan satu undangan lagi.” Min Ho merogoh sakunya, ia mengeluarkan sebuah amplop kecil “Soo Jung, tiga minggu lagi hari lagi pertunjukan perdanaku. Ini, aku mengundangmu.” Min Ho mengulurkan amplop kecil itu.
“3 minggu lagi?”

Soo Jung tidak beranjak ditempatnya. Matanya menatap amplop itu dengan seribu keraguan.

“Kau tidak suka?” tanya Min Ho melihat wajah Soo Jung yang tak tersenyum sedikitpun.

“Aku, aku pasti ingin sekali datang! ” Soo Jungpun tersenyum lebar “terimakasih” katanya. Diambilnya amplop itu dan memasukkannya kedalam tas.

“Baguslah” gumam Min Ho lega.

“Min Ho” Soo Jung menunjuk ke arah piano “coba, mainkan”

Min Ho tersenyum lalu membuka tutup tuts, dan iapun duduk diatas bangku.
“Kemari” ajak Min Ho sambil menepuk-nepuk sisa tempat duduk disampingnya. “Kita mainkan bersama”

Soo Jung mendekat dan duduk disamping Min Ho “Aku tidak ahli bermain piano”
“Kalau lagu ini, kau pasti bisa”

Min Ho menyentuh tuts pelan dan mulai memainkan sebuah melody.

“Twinkle twinkle little star
Shining beautifully……

Soo Jung tersenyum, kemudian ikut menyamai permainan Min Ho sambil bernyanyi merdu.
Even in the East sky
Even in the West sky
Twinkle twinkle little star
Shining beautifully…..” 

“Kau ingat, itu lagu pertemuan kita” ucap Min Ho diakhir permainan.
“Hmm” gumam Soo Jung “Tidak mungkin aku bisa lupakan itu, aku yang pertama kali memainkannya”

“Soo Jung, banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana” katanya dalam hati

“Apakah saat ini kau bahagia?” tanya Soo Jung tiba-tiba.
“Tentu saja aku bahagia, kau banyak membuatku tertawa hari ini. Tidak ada ruginya aku membolos latihan piano hari ini”

Soo Jung menatap Min Ho.
“Melihat orang lain bahagia, apa kau juga bisa ikut merasakan kegembiraan?”
Min Ho terlihat terdiam sebentar sebelum menjawab. Ia tak mengerti dengan topik yang Soo Jung bicarakan. “Kadang melihat orang lain bahagia, aku justru iri” jawab Min Ho dengan polos.

Soo Jung mendongak dan memejamkan mata. Perasaan itu kembali muncul. Sedih, putus asa. Andai ia dibolehkan untuk memilih, ia akan memilih untuk tidak dilahirkan dan Ibunya akan baik-baik saja. Semuanya pasti akan bahagia. Ayahnya tak perlu menganggapnya anak sial. Tidak akan ada yang repot-repot meneteskan airmata untuk kepergiannya. Tapi disela-sela kenyataan hidupnya, toh secercah kebahagiaan akhirnya datang juga walaupun sangat perlahan.

“Kebahagian tidak dicari. Dia akan datang sendirinya.” Soo Jung menerawang, matanya berair. Soo Jung masih ingat ketika ia masih kecil, mengintip ayahnya memeluk bingkai foto dan menangis tersedu. Itu Foto almarhum ibunya. “Hal yang paling menyenangkan adalah,” Sekelebat, tawa teman-temannya terbayang. “melakukan apa yang kita suka bersama orang-orang yang kita sayangi. Itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.”

“Soo Jung-ssi, sebenarnya kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Min Ho khawatir melihat sebutir air mata yang mulai menetes dipipi Soo Jung.

“Tidak, hanya saja aku teringat masa lalu” kata Soo Jung dan mulai tersenyum lagi “Min Ho, kau tidak boleh menyerah. Oke?!” suara Soo Jung terdengar bersemangat. Perubahan yang benar-benar cepat.

“Jangan menutupinya” kata Min Ho sehingga Soo Jung berhenti tersenyum. Tangan Min Ho bergerak menyenderkan kepala Soo Jung ke pundaknya. “Menangislah, pundak ini tak akan letih menompang semua bebanmu.”

Soo Jung menghapus bekas air mata yang ada dipipinya. “Aku tidak ingin menangis. Aku gadis yang kuat”
Min Ho tertawa. “Lalu siapa tadi yang barusan meneteskan air mata?”
Soo Jung menegakkan kepalanya dan ikut tertawa.
“Aku benar-benar bodoh kalau begitu” kekeh Soo Jung.
“Ku bilang juga apa, kau memang babo kan?”

Mereka berdua akhirnya tertawa bersama. Tertawa lagi, entah sudah keseberapa kalinya Min Ho tertawa dan tersenyum disamping Soo Jung.

Akhirnya tawa mereka memudar. Soo Jung tersenyum.
“Aku benar-benar babo” gumam Soo Jung.

Min Ho, tak bisa, kali ini dia tak bisa menahan dirinya untuk terus menatap Soo Jung lebih lama. Rambut panjangnya yang harum, kedua matanya yang jernih, bibirnya yang manis.

“Ah, aku sampai lupa” Soo Jung membuka tasnya, dan mengelurkan map coklat milik Min Ho ”Ini”
“Min Ho?” Soo Jung tadinya masih tersenyum, tapi raut wajahnya berubah menjadi polos dengan pandangan kharisma Min Ho yang berbeda. Denyut jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya melihat kedua mata Min Ho itu. Benar-benar tatapan yang membius.
DEG
Min Ho mendekatkan wajahnya. Tangan kanan Min Ho menyentuh dagu Soo Jung lembut. Tangannya yang lain melingkar di pinggang Soo Jung. Wajahnya makin mendekat, hingga Soo Jung dapat merasakan hembusan nafas Min Ho dimukanya.

***

PRANG

“Oppa!” Ji Young yang sedang menonton TV memekik kaget. Ia berlari kearah dapur ada Ki Bum disana memandang tangannya yang gemetar “Kau tidak apa-apa?”
Ki Bum tidak bergerak. Ia masih berkutat dalam pikirannya. Aneh. Kenapa ia bisa tidak hati-hati?

“Oppa, kau pucat. Kau tidak sakit kan?” tanya Ji Young khawatir.
Ki Bum menggeleng dan berjongkok.
“Aku tidak apa-apa, biar aku yang membersihkan ini” katanya lalu meraih pecahan-pecahan mangkok kaca yang dipecahkannya.
“Tapi__”
“Tak apa Ji Young. Aku baik-baik saja.”

***

Wajah Min Ho makin mendekat, hingga Soo Jung dapat merasakan hembusan nafas Min Ho dimukanya.

Tangan Soo Jung di dada Min Ho dan mendorongnya pelan, membuat jarak kedua wajah mereka menjauh satu senti.
“Min Ho, ini___”
Soo Jung tak melanjutkan perkataannya, tangan Min Ho yang melingkar di pinggangnya menarik tubuhnya mendekat secara drastis ke arah Min Ho.

Min Ho mencium aroma tubuh Soo Jung yang wangi. Menariknya untuk lebih mendekat. Dan, dengan cepat tapi pasti Ia mendaratkan bibirnya ke bibir Soo Jung. Mata Soo Jung langsung terbelalak kaget, ia tidak menyangka Min Ho akan melakukan itu. Map yang ia pegang jatuh ke lantai, dan Note-notenya berserakan.

Min Ho melumat bibir Soo Jung. Terasa lembut dan manis, Min Ho menyukainya, menikmatinya, dan menginginkannya.

“Soo Jung-ssi,”
Min Ho menatap Soo Jung penuh arti hingga iapun mengeluarkan satu kata yang membuat Soo Jung benar-benar terpaku.
“Saranghae” kata Min Ho dengan tatapan menghanyutkan.

TBC

Ihyaaaaa.. Cukup panjang ga?
Gimana-gimana? Jelekkah? Ada yang engga nerima? Saya siap jika anda mengirimkan BOM pada ku😄
As usual, your comments are love guys

Cuplikan chap berikutnya…

———————————————————
Sesuatu membuat Ki Bum tercekat. Ia memandang Soo Jung yang sedang tersenyum lepas disampingnya. Tangan Soo Jung, rasanya lebih dingin dari hari terakhir ia menyentuhnya. Ganjil.
“Soo Jung, sepertinya justru kau yang sakit. Tanganmu sedingin es”
“Mungkin karena kau demam, jadi sepertinya begitu”

Benarkah? Bukan karena hal lain? Jung Soo Jung, apa kau merahasiakan sesuatu dari ku?
———————————————————–

“Aku,” Min Ho mendekatkan wajahnya perlahan “Tidak bisa melihatmu begini”

“Kau ini kenapa? Ini sudah terlalu lama, pasti Ki Bum sangat lah mengkhawatirkanku”

Min Ho mencegah Soo Jung beranjak dari tempatnya. Dia menarik tangan Soo Jung, membuatnya terhimpit antara tembok dan tubuh Min Ho. Sepertinya kata ‘Ki Bum’ yang keluar dari mulut manis Soo Jung membuatnya tak ingin melepas gadis ini.
———————————————————-

Dari kejauhan terlihat sebuah motor besar, terlihat canggih dan lincah dikendarai oleh serang pemuda berkelok-kelok dengan kecepatan tinggi. Ia menggunakan helem standar yang hanya memperlihatkan mata tajamnya. Tak jauh beberapa meter dibelakangnya terlihat sebuah mobil dan dua motor hitam berlambang huruf C yang seperti mengejar.

Pemuda itu menaikkan kecepatan motor. Ia sepertinya ahli dalam masalah mengebut.

Ciiit…

Ia membelokkan motornya secara tiba-tiba ketika sebuah mobil berjenis sama seperti jenis mobil yang mengejarnya, berhenti lima meter didepan dengan arah horisontal menutupi jalan.
————————————————————

Jeng Jun Jeng Jun Jeng, Jeng Jeng *mamamia opening*

Ha, chap berikutnya ketara bgt ni gejolak cinta segitiganya😄


14 thoughts on “Happy Ending PART 4

  1. Aku komen lagi, baru baca dr part 1,
    Ini dah lama ya ternyata.. Jarak antar partnya lama banget ya..
    Tp ini bagus bener chingu, isinya berbobot, sarat makna..
    Kok aku bisa mlewatkannya ya, mgkn dulu gak terlalu ngeh sama shinee dan f(x)
    ngomong2 Krystal sakit apa? Jangan dibuat meninggal dong, biar happy ending kyk judulnya..

    Like

  2. akhirnya author yang baik cantik manis ramah patuh pada orang tua dan rajin menabung ini update…#apasih
    okeh thor, walopun updateny lama, tapi worth it banget, gak sia2

    Like

  3. akhirnyaaa hahaha..
    like this sooo much d^^b
    itu krystal sakit apa? ngga akan di buat meninggal kan? *berharap happy ending*
    MINSTAL JJANG!!

    Like

  4. Uwaa . . .
    Aku tunggu lanjutan ceritanya ya . . .
    Aku penasaran banget nih. Apalagi Minho udah nyatain perasaannya ke Krystal ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s