Lock Key Heart Chap 2 (end)


Lock Key Heart Chap 2 (end)
Author:Ameony
Main Cast:  Kim Kibum as Key
                        Lee Jieun (IU) as Jieun
Other Cast:  Shim Changmin as Changmin
                        Kim Jonghyun as Jonghyun
                        Choi Minho as Minho
                        Lee Jinki as Onew
                        Lee Taemin as Taemin
Genre:             Romance
Every cast belong to God. The story and idea, belong to me.
Annyong readers~aa, mianhae lama chap 2 nya baru muncul. Wish you enjoy this, jangan lupa comment nya yah, kritik dan saran dari readers sangat dibutuhkan untuk membuat author jadi lebih baik di masa depan. Gumawooo….. *bow 90degree*
 
Author POV
Matahari yang cerah kembali menerangi langit Seoul, secercah cahaya matahari itu juga menyinari seorang gadis cantik yang sibuk mengikat tali sepatu di depan rumahnya. Seorang lelaki tinggi jangkung menunggunya di atas sedel sepeda tua.
“Ayo Ji Eunnie… kenapa kau lelet sekali?” namja itu mengeluh, jemarinya mengetuk setang sepeda berkali-kali, menghilangkan kebosanannya menunggu Yeoja itu.
Dengan satu ikatan simpul, Jieun menarik tali sepatunya kuat. Kemudian Jieun mendongak dan tersenyum, senyum yang bersinar secerah matahari pagi.
“Oppa! Aku siap!” yeoja itu naik ke boncengan sepeda dengan cepat. Tangannya mencengkram erat pinggang namja didepannya. Namja itu mengayuh sepeda dengan gesit. Mengejar waktu untuk sampai di kampus. Mengejar masa depan yang lebih baik untuk mereka berdua.
Cukuplah tersenyum seperti itu Jieunnie, dan aku tahu semua akan baik-baik saja.
Ruang Latihan Shinee
“Kim Kibum! Apa yang kaulakukan hah?!” Onew menendang kursi di depannya, membuat kursi itu terjungkal.
“Saeng, ada apa denganmu?” Jonghyun yang sudah lelah berteriak-teriak menyanyi selama lima jam berbisik di depan Kibum. Tangannya menyentuh pundak Key. Key tidak menjawab, tubuhnya lemas, tangannya terkulai di sampingnya. Key menyandarkan diri di kaca dan merosot hingga setengah jongkok.
“Apa ini masalah Jieun lagi?” tanya Minhoo. Sejak bertemu dengan Jieun, emosi Key menjadi kacau. Latihannya tidak fokus, membuat konsentrasi member lain ikut terpecah, dan akhirnya berantakan.
Key menarik napas panjang, menatap seluruh anggotanya, saudaranya. Jelas, dia menyayangi mereka, mencintai mereka dengan sepenuh hatinya.
Tapi dia sudah tidak sanggup lagi, seminggu sejak kepergian halmeoninya Key merasa semua yang dia lakukan ini sia-sia. Halmeoninyalah yang membuatnya meraih mipi-mimpinya ini. Tapi halmeoninya telah pergi, hanya sebulan sebelum konser tunggalnya, jadi untuk apa lagi dia berjuang keras, kalau orang yang dia perjuangkan sudah pergi meninggalkannya.
“Mian. Aku berhenti.”
“Mwo?” Jonghyun mengubah pegangannya di pundak Key menjadi cengkraman. Jonghyun menarik Key untuk berdiri, menatapnya tepat di mata Key. Tapi mata itu tidak menatapnya. Mata itu menatap lantai yang basah karena peluh mereka. Dan hati itu, tidak berada di sini. Hati itu berada di tempat lain.
“Apa kau gila? Kau pikir kita ini sedang main-main?” tanya Jonghyun.
“Apa ini hidden camera?” tanya Minhoo sambil melirik ke seluruh penjuru ruangan latihan mereka.
Kali ini Key menatap Jonghyun. Dia telah memutuskan, dia bukanlah orang yang tepat berada di sini. Ada tempat lain yang lebih membutuhkannya.
“Kim Jonghyun! Lepaskan aku!” ucap Key pelan tapi tajam.
Jonghyun menatap mata itu, tanpa ia sadari matanya sendiri telah berkaca-kaca, wajahnya merah karena emosi meluap-meluap dan keringat telah membuat tubuhnya basah kuyup. Jonghyun melepaskan cengkramannya dengan kasar. Dia berbalik dan bergegas pergi.
“Baiklah Lee Jieun, kau harus mengembalikan uri Key!” ucapnya sambil meraih jaket yang ada di pojok ruangan.
Dengan cepat, Key memburu Jonghyun dan mencengkram lengannya.
“Apa yang ingin kaulakukan?”
Jonghyun tersenyum sinis,”Kim Kibum? Apa yang ingin kulakukan?!” wajahnya kembali tegang karena kemarahan,”Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, apa yang kaulakukan?! Apa yang kaulakukan dengan tiba-tiba berkata berhenti. Apa yang kaulakukan dengan membuat grup ini lemah dan hancur berantakan seperti ini! Kibum ku tidak seperti ini! Kibumku akan berjuang menjadi grup yang hebat, menjadikan konsernya sukses, berlatih keras, fokus, berkonsentrasi! Uri Kibum tidak akan meninggalkan Shinee begitu saja, menghancurkan Shawol begitu saja! Ini Kibum yang lain! Ini Kibum yang telah terkontaminasi Lee Jieun. Aku akan minta Jieun mengembalikan Kibum kami. Kim Kibum Shinee.”
Key menatap mata itu tajam,”Jangan pernah menyalahkan Jieun. Jangan pernah menyentuhnya. Aku memperingatkanmu Jonghyun. Ini adalah pilihanku. Bukan pilihan orang lain. Bukan pilihan Jieun!”
Key melepaskan Jonghyun dan beranjak pergi, meninggalkan Jonghyun, Onew, Minhoo, dan Taemin yang masih menatap kepergiannya dengan rasa tidak percaya meluap-luap di hati mereka.
Jieun House
“Omona oppa! Apa yang kaulakukan?! Kau memakan  eskrim ku hah?!” Jieun menatap changmin garang.
“Mianhae Jagi. Aku sudah sangat lapar, lagian kau beli es krim nggak langsung dimakan, daripada meleleh percuma, lebih baik meleleh di perutku kan!”
“Oppa! Dokter macam apa kau! Kamu kan belum makan sejak tadi siang, kenapa kau malah masukkan es krim ke dalam perutmu malam-malam begini! Sudah kubilang, tunggu sebentar aku masakin. Eh, malah nyomot es krim orang. Huh! Yang benar saja?” Jieun mencak-mencak pada oppanya. Changmin hanya tersenyum kikuk dan malah sibuk melahap makan malam yang baru di hidangkan Jieun.
Kreekkk…. pintu rumah Jieun terbuka, sesosok namja berdiri di sana dengan wajah lelah dan pakaian berantakan.
“Jieunnie, bisa kita bicara?”
~
Jieun menatap namja itu kaget, dia tidak menyangka Key akan muncul malam ini, dan keadaannya terlihat sangat mengkhawatirkan. Changmin menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan bingung.
“Oppa…”
~
Key sudah berjalan terlalu jauh, dia menyusuri tempat-tempat dimana dia sering menghabiskan waktunya dengan halmeoninya dulu, saat dia masih kecil. Saat orang tuanya meninggalkannya untuk bekerja di Amerika. Dia terlalu lelah dan bingung pergi kemana lagi, tapi kakinya mengantarkannya ke rumah ini. Ke rumah Jieun, dia bisa melihat dari jendela kecil yang terbuka, seorang namja duduk di ruang tengah, asyik melahap sepotong sekrim sambil mengamati Jieun yang memasak dengan gaduh di dapur yang hanya dihalangi, satu pot besar bunga anggrek, saking kecilnya rumah itu.
Perasaan cemburu kembali menyeruak di hatinya, tappi dia terlalu lelah untuk melayani perasaan itu, di malah berjalan ke arah rumah itu, dan membuka pintunya. Ia ingin berani kali ini. Dia tidak ingin lari. Sudah cukup jauh pelarian yang dia lakukan hari ini.
~
Bangku Taman
 “Jieunnie… apa kau pernah bermimpi?” Key bertanya pada Jieun. Mereka duduk di sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah Jieun.
“Bermimpi apa oppa?” tanya Jieun balik.
Key menghela napas panjang, menatap Jieun yang tersenyum, kemudian kembali menatap langit Seoul yang hitam pekat. Tidak ada bintang malam itu.
“Bermimpi buruk. Kehidupanmu berakhir, seolah-olah seperti itu.”
Jieun mengernyit,”Omo… itu seram oppa. Apa oppa pernah bermimpi begitu?” tanya Jieun.
“Aku bertanya padamu Jieun.” Key mendengus kesal.
Jieun tersenyum lagi, menghapus semua keresahan diwajahnya, matanya jatuh ke rumput yang basah di kakinya, kemudian dia menatap langit yang seperti mendukung suasana hati Kibum.
“Sejujurnya tidak.”
Memang tidak mungkin bagi seorang Jieun yang polos dan sangat ceria memimpikan hal seseram itu.
“Tapi aku pernah mengalaminya secara langsung, bukan dalam mimpi.”
Key terperanjat, dia menatap Jieun yang masih tersenyum. Mencari kebenaran dimata itu.
“Kehidupanku seolah-olah berakhir begitu saja saat ayah dan ibu meninggal dalam kecelakaan kereta, saat usiaku sepuluh tahun. Hidup terlalu sulit untuk kuhadapi saat itu oppa. Aku sebatang kara, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, bahkan saat aku seusia itu, aku sudah memikirkan untuk mengakhiri hidupku, aku ingin menyusul appa dan umma, aku melompat ke sungai berarus deras, tapi Changmin oppa, sahabatku menyelamatkanku. Tuhan tidak suka aku mengambil alih kuasa-Nya.”
Semilir angin malam musim semi yang menggigit membuat pipi Jieun memerah. Tapi senyum teduh tetap mengembang di bibirnya. Setiap kata yang diucapkan Jieun menusuk ke setiap sudut hati Key, membuatnya terhenyak. Dia tidak pernah tahu bagaimana hidup wanita yang dicintainya itu. Semua kejujuran ini membuatnya semakin sakit. Dia kecewa karena tidak mengenal yeoja nya.
“Sim Yong Som, ibu Changmin oppa mengadopsiku, dia merawatku, membiarkanku tinggal dirumahnya. Dia menyayangiku seperti dia menyayangi Changmin oppa. Aku menemukan sosok ibu padanya, dan Changmin oppa membuatku merasa bersama appa. Tapi hidup tidak semudah itu oppa, ada banyak hal yang harus kuhadapi. Yong Som ahjumma harus bekerja keras menghidupi kami. Sulit menemukan pekerjaan layak di desa sekecil dan terpencil itu, akhirnya aku dan Changmin oppa harus ikut membantu Yong Som ahjumma mengambil upah bertani, kami membajak sawah, menjaga sawah dari serangan burung, kadang kami tidur di sawah, beratapkan langit kelam seperti ini.” Jieun menatap langit di atasnya. Key tidak mengalihkan pandangan dari Jieun, dia menatap lekat wajah Jieun.
“Aku tidak tahu bagaimana hidupku akan berlanjut, bagaimana kami bisa hidup untuk esok hari. Lalu aku dan Changmin oppa berjanji, kami harus jadi orang. Orang yang membanggakan ahjuma. Orang yang membuat ahjuma bahagia di masa tuanya. Lalu kami belajar keras untuk bisa masuk kedokteran. Itu mudah untuk Changmin oppa yang cerdas, tapi itu sulit buatku oppa. Aku disleksia. Tapi Changmin oppa dengan sabar mengajariku, setiap hari, di sela-sela pekerjaan kami yang mengejar burung-burung pengganggu padi, atau saat kami terlalu lelah setelah memandikan kerbau-kerbau, setiap malam, setiap ada waktu luang. Kami melalui tahun-tahun yang menyakitkan dan melelahkan. Lalu hari itu tiba, kami pergi ke Seoul, mengikuti tes untuk fakultas kedokteran, aku berusaha melakukan yang terbaik. Kami pulang ke desa, menunggu pengumuman. Langit cerah hari itu oppa, burung-burung menyanyi merdu dan bertengger di pucuk-pucuk dahan pohon waru di sisi sawah, tidak mengganggu padi-padi kami. Aku dan Changmin oppa duduk di tengah sawah, kami menikmati semua usaha keras kami di bawah matahari pagi yang hangat. Lalu, teriakan Ji Young ahjussi, pemilik sawah mengagetkan kami, dia mengacungkan amplop di tangannya, dia dengan lancang telah membukanya, dan amplop itu mengatakan bahwa kami lulus. Kami adalah calon dokter. Aku menangis di tengah sawah dalam pelukan Ji Young ahjussi, sedangkan Changmin oppa berlari ke rumah, untuk memberitahu ahjumma. Tapi ahjumma tidak pernah tahu keberhasilan kami, dia tidak pernah merasa bahagia karena keberhasilan kami, dia tidak menunjukkan senyum kebanggaannya.”
“Wae?” tanya Key.
“Ahjumma meninggal dunia di kasur tuanya yang usang.”
Jieun mengingat hari itu. Kali ini dia sudah kuat untuk mengingatnya. Jieun tahu Yong Som ahjumma tidak suka melihatnya menangis karena dirinya.
“Kami tidak tahu kenapa dia meninggal, tapi dokter yang datang ke desa sebulan sekali mengatakan bahwa ahjumma punya gejala liver, dia terlalu lelah. Mungkin dia terlalu lelah mengurus kami, mempertahankan kehidupan kami.
Hidup kembali terlalu sulit untukku, tapi tidak untuk Changmin oppa. Dia bangkit, dia membawaku ke Seoul, mengejar impian kami. Meneruskan apa yang telah kami perjuangkan, walaupun semuanya sia-sia, karena tujuan awal kami adalah menyiapkan masa depan yang baik untuk ahjumma, tapi ahjumma sudah pergi terlebih dahulu. Tapi dia tidak menyerah oppa, akupun tidak. Hidup terlalu indah untuk disia-siakan begitu saja.”
Key POV
Sulit bagiku mencerna semua yang telah diucapkannya. Tapi aku tahu satu hal. Satu hal yang membuatku menyadari semua kesalahanku.
“Tidak apa oppa, tidak masalah jika oppa melakukan kesalahan, tidak apa jika oppa merasa lelah. Tapi oppa tidak boleh jatuh dan tersungkur begitu saja, oppa harus bangkit.”
Jieun menggenggam tanganku, tangan kirinya menghapus air mata di pipiku.
“Jika oppa lelah, datanglah padaku. Jika oppa jenuh, telepon saja aku. Jika oppa merasa hidup ini sulit, katakan padaku. Aku akan mendengarkan oppa.”
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa hidupku tidak sesulit yang kupikirkan, tidak sesulit yang kubayangkan selama ini.
“Aku keluar dari Shinee. Aku berhenti bernyanyi. Aku ingin menjadi orang biasa, hidup layaknya orang lain, tanpa latihan keras dan jadwal padat yang membuatku hampir mati tercekik.”
Jieun menatapku,”Apa oppa yakin?”
Aku mengangguk.
“Oppa, satu hal yang sangat kusyukuri saat Changmin oppa menyelamatkanku dari percobaan bunuh diri bodoh itu adalah saat aku bertemu oppa di toko itu, saat aku mendengarkan lagu-lagu oppa, saat aku melihat oppa dan Shinee di panggung, di TV, saat oppa dan Shinee memberi banyak harapan bagi kehidupan yang sesak ini, lewat suara oppa, lagu-lagu oppa, tarian oppa, membuatku merasa sesulit apapun kehidupanku di sini, semuanya akan baik-baik saja.
Dan sekarang oppa ingin menghancurkan harapan ini?”
Benarkah itu? Benarakah kami adalah harapan? Sedalam itukah arti SHINee bagi Jieun.
“Dan oppa juga harus ingat, ini tidak hanya berlaku padaku, tapi juga pada jutaan Shawol di luar sana. Oppa adalah bintang, cahaya untuk mereka. Melihat oppa ada, bersinar, itu adalah sesuatu yang sangat berarti untuk mereka.
Bukankah langit terlihat suram tanpa bintang, seperti langit malam ini?” tanya Jieun.
Aku menatapnya lagi. Hatiku menjerit untuk melawan semua yang dikatakannya, mencari alasan untuk membuat semua yang diucapkannya salah, tidak benar. Tapi tidak ada yang bisa kuucapkan, tidak ada alasan yang bisa membuat semua itu terlihat bodoh. Gadis desa di depanku ini terlalu tulus untuk sebuah kebodohan.
Bukan bayangan pembodohan yang terbayang di kepalaku, tapi malah cengiran Jonghyun, wajah polos Taemin, tawa Mino yang meledak, dan sangtae lucu Onew, semua itu dalam slow motion, mereka adalah manusia, seperti aku, kami adalah manusia, kami merasa lelah, kami merasa jenuh, tapi kami bahagia, karena ini adalah jalan hidup kami. Menyanyi, menari, menghibur, berrbagi cinta dengan jalan ini adalah jalan yang kami pilih, dan aku tidak akan berbalik dan berputar haluan. Tidak. Ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan mengecewakan mereka semua, Lee Soo Man ahjussi yang bersusah payah mengorbitkan kami, menejer hyung yang selalu mengatur rapi semua jadwal kami, stylist oennie, semua staf yang sudah bekerja untuk kami, dan halmeoni, nae halmeoni, aku tidak akan mengecewakannya. Walaupun aku tahu, dia tidak akan pernah hadir di konserku, melihat penampilanku, cucu yang selalu merepotkannya, selalu mengeluh padanya, dia tidak akan pernah melihatku berdiri di panggung itu, tapi aku ingin dia tahu, di langit sana, bahwa aku Kim Kibumnya juga bersinar di sini, tidak mengecewakannya.
 
Taemin POV
Dorm tidak pernah membosankan seperti ini, dorm adalah tempat paling ribut, seperti taman kanak-kanak, dan itu membuatku selalu bahagia. Tapi kali ini dorm membuatku frustrasi, Minhoo hyung tidak melakukan apapun, dia hanya duduk di pinggir jendela dengan headset terpasang ditelinganya, lengannya yang kekar memeluk lutut yang ditekuk didepan dadanya, pandangannya melayang jauh kesana, entah kemana, keluar jendela.
Jonghyun hyung seperti mayat hidup, duduk membatu di depan PC tanpa membuka apapun, hanya mengklik-klik kursor sembarangan, tidak ada suara yang keluar dari bibirnya, aku merindukan nyanyiannya, aku tidak akan mengeluhkan keributan pitch tujuh oktafnya, tapi dia tetap bergeming saat aku menegurnya.
Pemandangan yang sama kutemui di dapur, Onew hyung duduk di kursi dan tangannya membelai gelas couple Shine kami, yang bergambar fanart, hadiah dari uri shawol. Aku tahu gelas yang dipegangnya, yang di pandanginya, yang dibelainya, gelas Key hyung. Kau merindukannya hyung? Ya. Aku juga. Aku merindukan omelan Key hyung yang cerewetnya mengalahkan ahjumma-ahjumma. Aku merindukan masakannya yang lezat, aku merindukan tariannya yang lincah dan terlalu atraktif. Aku merindukan segala hal darinya. Tapi dia memutuskan untuk pergi, akankah kami bersatu lagi?
Seperti inikah perasaan suju hyung saat Hanggeng hyung memutuskan untuk meninggalkan mereka. Aku bingung kenapa Donghae, heechul, dan kedua belas hyung yang lain masih bisa berdiri tegap seperti saat ini? Bukankah rasa sakit ini tak tertahankan? Bukankah panggung tak berarti apa-apa tanpa member yang kita cintai? Bukankah kita tak bernilai tanpa bagian jiwa kita? Lalu bagaimana mereka bisa melalui semua ini? Sekuat apa hyung-hyung yang kucintai itu?
Aku merasa udara di dorm semakin sesak, aku membutuhkan oksigen untuk bernapas, aku melangkah keluar, tapi…
“Taemin ah,” suara itu, sosok itu, berdiri di pintu dorm.
Apakah ini halusinasiku? Key hyung?
“Key hyung?”
“Taemin~a… mianhae…” bisiknya.
Aku menghampirinya perlahan, menyentuhnya, memastikan bahwa ini nyata, bukan hanya hayalan dikepalaku, tapi sosok itu menarikku dalam pelukannya.
“Taemin~ah… mianhae. Aku mengecewakan kalian. Mianhae.”
“Hyung? Kau kembali?” suara itu datang dari belakangku. Minhoo hyung berdiri di sana, menatap kami dengan matanya yang masih terluka.
“Ne. Aku kembali. Aku tidak akan pergi lagi. Aku adalah SHINee, dan akan selalu begitu.”
Minhoo hyung tersenyum, dan kelegaan memancar di wajahnya. Aku memeluk Key hyung lagi. Sumpah. Aku benar-benar merindukannya.
Key hyung melepaskan pelukanku,”Taem, aku harus meminta maaf pada Jonghyun dan Onew hyung.” Ucapnya seraya menatapku.
“Ani. Tidak perlu Kibum. Aku sudah memaafkanmu.” Jonghyun hyung berdiri di samping Minhoo hyung dan tersenyum menatap Key hyung.
“Aku juga. Tidak ada yang perlu dimaafkan, asalkan kau kembali, dan tidak melakukan hal bodoh itu lagi.” Onew hyung tiba-tiba muncul di antara Minhoo hyung dan Jonghyun hyung.
Key hyung tersenyum, senyum yang sama saat pertama kali kami diberitahu akan debut dalam satu grup bernama SHINee, senyum yang bersinar,”Gumawo hyung. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi aku tidak perlu berjanji kan?”
Onew hyung menggeleng,”Tidak perlu Kibum. Sebuah janji hanya janji, tidak berarti apa-apa jika kau mengingkarinya. Tapi kebersamaan kita lebih dari sekedar janji. Ini adalah jalan yang kita pilih, dan akan kita perjuangkan sampai akhir.”
Ini adalah hari paling menakjubkan dalam hidupku. Hari ini untuk pertama kalinya aku melihat Onew hyung, Jjong hyung, dan onew hyung berkelahi dengan emosi yang menyeramkan, tapi untuk pertama kalinya juga aku merasakan kebersamaan yang tidak terbantahkan. Keadaan dimana kami menyadari bahwa kami tak berarti apa-apa tanpa satu sama lain.
“Dongsaeeeeenggggggggg……. kami lapaaaaaarrrrrr, apa kalian punya makanan?” suara gaduh tiba-tiba hadir di pintu dorm, kesepuluh hyung suju berjejal di depan pintu, berebut masuk.
Leeteuk hyung melongok dari pintu,”Hey, kenapa kalian berkumpul di sini. Kenapa suasanya sendu begini?” ucapnya masih memegang sepatu yang belum lepas dari kakinya.
“Ani hyung! Kalian lapar? Sini, biar kumasakkan.” Key hyung menyeruak diantara ketiga huyungku yang masih terpana melihat kesepuluh sunbae kami yang berjejal di depan pintu, berjalan menuju dapur.
“Aaaaahhhhh!!!!! Monsteeer sialaaaan!!!!!”
Sebuah teriakan dan dorongan keras datang dari belakang membuat leeteuk hyung terjerembab, disusul Heechul, Donghae, Sungmin, Siwon, Ryeewok, Eunhyuk, dan Yesung hyung yang imut-imut kaya marmut yang sukses ditimpuk Shindong hyung, sedangkan Kyuhyun hyung hanya berdiri di depan pintu, mengangkat kedua tangannya yang salah satunya menggenggam PSP dan berkata dengan polosnya,”Oops, maaf hyung, nggak sengaja.”
“Kyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Aku tahu semua baik-baik saja. Aku juga tahu, Hanggeng hyung, dimana pun dia berada, dia baik-baik saja, dia selalu menyayangi kami, seperti yang kubilang, keberadaan, kepastian bahwa kita ada, bahwa kita saling menyayangi, membuat kita bernapas dengan lega. Membuat kita sanggup bertahan, seperti kesepuluh hyungku yang hebat ini. J
 
Author POV
“Jieunnie… ini untukmu.” Key menyerahkan dua buah tiket konsernya pada Jieun.
Jieun terdiam, dia tidak sanggup menatap wajah Key. Dia sangat mengkhawatirkan hari ini.
“Oppa… Mianhae…” bisiknya.
Key terpaku menatap yeoja yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Akhirnya Key pun berlutut di depannya, di genggamnya jemari lembut Jieun.
“Waeyo?”
“Mianhae oppa. Aku tidak bisa datang ke konsermu.”
“Wae?” tanya Key, dia menatap Jieun kecewa.
Jieun menatap Key,”Aku harus melakukan oprasi pertamaku, kalau aku meninggalkan tugas ini, aku baru bisa melakukannya di semester depan.” Ucapnya pelan.
Key tersenyum dan malah memeluk Jieun, Jieun terpaku dalam kebingungan.
“Chukae Jieun~a… chukae!!!”
“Oppa tidak marah?” tanya Jieun bingung.
“Ani. Kenapa aku harus marah? Iya, benar, aku memang sangat mengharapkan kau hadir di konser kami, tapi aku sangat bahagia dengan keberhasilanmu ini. Bukankah seharusnya kau baru boleh melakukan operasi di semester 5, sekarang kamu baru semester 3, dan kamu sudah mendapatkan kepercayaan itu. Aku bangga padamu Jieun.” Ucap Key sambil mengacak rambut Jieun sayang.
“Gumawo oppa. Aku sangat takut kamu marah.”
“Ani Jieun.”Key menggeleng mantap,”Aku tidak marah, aku malah sangat bahagia.”
“Gumawo oppa….” Jieun tersenyum senang,”Oppa, kenapa kau mau memberiku 2 tiket?” tanya Jieun sambil menatap 2 tiket yang masih di genggam Key.
“Hmm…. aku ingin memberi tiket ini padamu dan…” Key tidak meneruskan.
“dan….?”tanya Jieun penasaran.
“Namjachingu mu, Changmin~ssi.” Jawab Key pelan. Seribu tusukan samurai terasa mengoyak-ngoyak hatinya saat dia mengucapkan hal itu.
Jieun menatap Key dalam, kemudian dia tersenyum,”Gumawo oppa.” Bisiknya.
 
Minho POV
Aku terpana memandang lautan manusia yang mengacungkan glowstick warna pearleascent light blue Shinee, kemegahan panggung dan aura kebahagian menyerbu ketika aku menapakkan kaki di atas panggung. Sudah tiga jam kami bernyanyi dan menyuguhkan semua hasil kerja keras latihan kami selama ini. Tidak ada sirat kekecewaan di wajah mereka. Aku merasa memiliki energi yang luar biasa.
Aku menatap Key yang berdiri di ujung panggung, kaus pinknya sudah basah kuyup karena keringat. Hari ini aku melihat Key yang dulu, Key yang selalu paling ceria di antara kami. Key yang terlalu atraktif, Key yang penuh energi, aku terpukau oleh sinar yang dipancarkannya. Padahal, kami semua tahu, dia tidak dalam keadaan baik-baik saja, kematian halmeoninya, dan kenyataan bahwa Jieun sudah mempunyai namja, calon dokter yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil, Sim Changmin. Aku tidak bisa memahami bagaimana cara Key meredam rasa sakit di hatinya dan bisa bersinar seterang ini, sangat menakjubkan.
Key menatap setiap pasang mata shawol yang bisa di temukannya, dia tersenyum, dan kamipun menyanyikan lagu penutup untuk konser ini. Quasimodo.
Even if I cant have you
In the end, even  when my heart is blocked
By the wall of sad connection
I love you,if its a place
Where I can just watch you
Because you’re my everything
I stay up for so many nights
When the starlight becomes rain
That doesnt stop like my tears
Remember that I Loved you
Key hyung terisak, air mata mengalir dipipinya, dia menundukkan wajahnya, memejamkan matanya. Aku tidak tahu harus melakukan apa, lima ribu orang di dalam stadium berteriak menyemangatinya, “Kim Kibum! Uljima! Kim Kibum! Saranghae!”
Onew hyung juga meneteskan air matanya, tapi hyung ku itu segera menghapusnya dan tersenyum pada shawol yang berteriak menyemangati kami. Jonghyun hyung berlari memeluk Key. Taemin yang polos juga berlari menghampirinya, dia mengusap air mata di pipi Key dengan handuk yang dipegangnya, dan shawol masih berteriak menyemangati Kibum, membuat ku terpana, aku tidak mengerti bagaimana kekuatan sahabat bisa sekuat ini. Uri shawol yang selalu setia, bahkan saat kami jatuh dan terpuruk, mereka selalu tersenyum dan percaya pada kami. Air mataku pun mengalir, rasa haru membuncah dalam hatiku.
“Saranghae shawol~aa…” bisik Kibum.
Dan dorm pun seperti meledak karena teriakan uri shawol. Ya! Kami akan selalu berada di sini. Kami akan bersinar untuk kalian. Selama kalian masih menginginkan. Kami akan terus berjuang. Gumawo shawol~aa.
Key POV
Badanku sudah terlalu lelah hanya untuk berjalan ke bus. Rasanya tulang-tulangku rapuh dan remuk, tapi kebahagiaan masih membuncah dalam diriku. Aku bahagia sekaligus menyesal. Menyesal karena pernah berpikir untuk berhenti, menyesal karena pernah ingin meninggalkan Shinee. Aku menatap menejer hyung yang masih sibuk mengucapkan terimakasih pada staf konser. Ah, gumawo hyung.
Kemudian mataku terpaku pada Jonghyun yang tergeletak di atas sofa. Tapi dia tersenyum bahagia, Sekyung, menatap bangga pada namja chingunya. Uuhhh… membuatku iri saja. Aku teringat pada Jieun. Apakah dia masih melakukan oprasi pertamanya? Apakah dia bisa melaluinya dengan baik? Kekhawatiran muncul begitu saja di benakku. Jieun yang begitu polos dan kecil, dia begitu rapuh, bagaimana bisa dia memikul tanggung jawab yang menentukan hidup matinya seseorang. Tapi, aku tahu, dia kuat. Dia telah berhasil melalui masa-masa hidupnya yang berat, yah… bersama Changmin di sisinya. Rasa perih itu kembali menjalari hatiku.
“Kibum” seseorang memanggil namaku, aku mendongak dan melihat seorang namja berdiri di depanku dalam balutan jas hitam yang membuatnya tampak seperti seorang model. Namja itu tinggi sekali.
“Changmin~ssi…” bagaimana dia bisa ada di sini?
Aku menepuk keningku, iya, aku menyerahkan tiket itu pada Jieun, menyuruhnya untuk memberikan tiket itu pada Changmin. Tapi itu kulakukan hanya karena sopan santun, aku tidak pernah menyangka Changmin akan benar-benar datang ke konserku.
“Bisa kita bicara?” tanya Changmin.
Aku mengangguk dan memaksa badanku untuk bergerak mengikutinya. Kulihat Minho juga bergerak untuk mengikuti kami, tapi aku mengangkat tanganku, memberi tanda bahwa aku baik-baik saja.
Minhoo mengangguk mengerti.
Changmin berhenti di sebuah lorong masih di dalam stadium, dia menyerahkan kotak kecil padaku.
Aku menerimanya dengan penuh tanda tanya.
“Lee Jieun… dongsaengku. Aku mempercayakannya padamu Kim Kibum.”
Aku tidak mengatakan apa-apa, kepalaku masih berkecamuk karena apa yang dilakukannya.
“Dia, sahabat yang sudah kuanggap adikku. Aku tidak memiliki siapapun di dunia ini, kecuali dia. Bagiku, kebahagiaannya adalah segalanya untukku.” Ucapnya.
Aku menatapnya bingung.
“Aku tahu kau mencintainya. Aku percaya padamu Kibum. Aku percaya kau bisa terus membahagiakannya seperti yang saat ini.”
Aku terlalu bodoh untuk memahami hal ini sejak dulu. Kupikir mereka adalah sepasang kekasih, kupikir mereka saling mencintai sebagai sepasang kekasih.
“Cincin itu diberikan eomma padaku sebelum eomma meninggal, dia ingin aku memberikannya pada Jieun sebagai tanda bahwa aku akan selalu menjaganya. Tapi aku tahu sekarang, ada orang yang lebih baik dariku. Jadi, kumohon jaga dia. Jangan pernah menyakitinya. Kau akan dalam masalah besar kalau membuatnya terluka.”
Aku tersenyum, memandang cincin berlian yang cantik itu, kemudian aku menatap Changmin,”Tidak akan. Aku tidak akan menyakitinya. Terimakasih karena kepercayaanmu. Gumawo hyung. Maaf, aku pernah berpikir negatif tentangmu.”
Changmin tersenyum dan menepuk pundakku,”Gwencana.” Ucapnya, kemudian berjalan meninggalkanku.
Senyumannya, tepukannya, kehangatannya, mengingatkanku pada appa. Jieun benar, Changmin memang berjiwa kebapakan. Dia sangat berwibawa dan bijaksana. Aku bersyukur selama ini Jieun bersamanya. Sekarang, aku lega. Kebahagiaan membuncah dalam diriku.
“Hmmm….” Changmin berbalik,”Konser yang hebat, Saeng.”
Aku tersenyum. Hari ini Tuhan menunjukkan keagungannya padaku. Dia memberiku Jonghyun, Onew, Minhoo, dan Taemin sebagai sahabat seperjuangan, bagian jiwaku,, juga manajer dan seluruh staf yang selalu menopangku, Tuhan juga memberiku Shawol, anugrah dan elemen penting dalam hidupku. Tuhan juga memberiku Jieun, seorang yeoja yang begitu tulus dan baik, seorang malaikat yang nyata, dan Tuhan pun memberiku hyung, Changmin hyung yang dewasa, dan mengajariku banyak hal tentang kedewasaan dan tanggung jawab. Life is wonderful, right?

13 thoughts on “Lock Key Heart Chap 2 (end)

  1. nangissssss ini😥
    dapet banget feelnya…
    aigooo~~~ aku makin cinta sama SHINee🙂
    sampai kapanpun SHINee always Onew, Jonghyun, Key, Minho dan Taemin..
    Saranghae SHINee~~~~~~~~~~~~~~~~ :*

    Like

  2. wow….
    ya ampun dr awal cerita mpe abis keren bgt author…
    kata’ y jg bijaksana bgt bs bwt jd penyemangat tuh
    d tunggu kisah yang lain ya!
    hwaitting!:)

    Like

  3. Waaaah..DAEBAK!!
    Aku suka bgt cerita.a!
    Btw, pas solo concert yg bikin key nangis bukan.a lagu HANA ya??
    oyia thor, kpan2 bikin lagi dong ff KeyIU!

    Like

  4. kren,kren,kren…
    kôk q nangs ya?
    akh,tb2 kluar gt ja,q jga gak ngrti.
    btw,ni tbc to tmat?
    yah q cman bsa blng daebak thor.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s