HAPPY ENDING PART 3


Cast :
SHINee – Choi Min Ho
F(x) – Krystal a.k.a Jung Soo Jung
SNSD – Jessica a.k.a Jung Soo Yeon (Krystal’s sister)
F(x) – Choi Sulli a.k.a Kim Yoo Jin
4MINUTE – Kwon Soh Hyun
SHINee – Key a.k.a Kim Ki Bum
KARA – Kang Ji Young a.k.a Kim Ji Young (Key’s sister)
F(x) – Victoria Song a.k.a Choi Hye Jin (Min Ho’s older sister)
Cameo: RHS!!!

AUTHOR: shin min young
FB: i4m_cute@yahoo.com

Yoo Jin *Sulli F(x)* menatap bangku yang ada disampingnya. Bangku itu kosong lagi. Tidak ada keceriaan Soo Jung yang biasa menghiasinya.

Yoo Jin menatap whiteboard, berusaha kembali focus kepada gurunya yang sedang menjelaskan matematika. Tapi tetap saja, pikirannya terpecah jadi dua.

“Fokus!” bisiknya keras pada diri-sendiri. Namun tak selang lama, perhatiannya beralih kembali, ia menatap keluar jendela. Langit biru yang terbentang luas membuatnya berpikir dua kali untuk tidak mengkhawatirkan Soo Jung.

“Soo Jung-ah, kenapa tidak masuk? Sebenarnya kau kenapa?” kata Yoo Jin dalam hati.

Tuk..

Sebuah gumpalan kertas mendarat diatas mejanya dengan lembut. Yoo Jin membukanya.

QUOTE
Kau tau kenapa Soo Jung tidak masuk?

Yoo Jin melihat keseluruh kelas, siapa yang melempar kertas ini padanya? Dan iapun menemukan orang itu duduk dibarisan belakang. Dia Soh Hyun, yang tengah melambaikan tangan kearahnya.

Yoo Jin mengambil pena diatas buku catatan kosongnya yang terbuka. Dan menulis sesuatu di bawah tulisan Soh Hyun.

QUOTE
Entahlah, tidak ada keterangan darinya. Hpnya tidak aktif. Memang ada apa? Tidak seperti biasanya kau menanyakan tentang Soo Jung.

Yoo Jin meremat kertas itu hati-hati agar tidak terdengar oleh Pak Shin.

Tuk.
Kertas itu dengan sempurna jatuh diatas meja Soh Hyun.

Yoo Jin memandang Soh Hyun yang kini sedang membaca balasan dari Yoo Jin. Soh Hyun terlihat tidak berniat membalasnya. Soh Hyun sendiri bingung, kenapa ia sangat ingin tau apa yang terjadi pada Soo Jung sekarang.
“Yoo Jin!”
Yoo Jin tersentak kaget ketika gurunya memanggil namanya keras.
“Selesaikan soal nomor 5”
Yoo Jin menunduk, tidak berani menatap kedua mata Pak Shin yang kejam itu. “Ayo cepat!”
Anak itu benar-benar kehilangan akal, dia membolak-balik buku catatannya, dan tak ada jawaban disana. Tentu saja, karena sedari tadi ia sibuk memikirkan Soo Jung hingga lupa untuk mencatat.

“Yoo Jin”
Yoo Jin menengadah, kali ini bukan suara dari Pak Shin. Suaranya lebih lembut dan setengah berbisik.
“Hey Yoo Jin”
Yoo Jin menengok kebelakang, seorang laki-laki berwajah ramah tersenyum kepadanya. Laki-laki itu menyodorkan buku catatan matematika bersampul biru cerah miliknya.
“Nih aku sudah mengerjakan” kata laki-laki itu. “Tidak apa-apa, ayo, dari pada kau dimarahi” paksa laki-laki itu ketika melihat Yoo Jin tidak berkutik.
Yoo Jin tersenyum mantap dan mengambil buku catatan laki-laki itu pelan agar tidak ketahuan Pak Shin.
“Gomawo Ki Bum-ah” bisik Yoo Jin pada laki-laki yang telah berbaik hati kepadanya itu.
***

Min Ho, melangkahkan kakinya cepat. Bukan karena hatinya sedang cerah, atau hal lain yang mendorong jiwanya ingin lebih bersemangat. Tapi karena dia tidak tahu kenapa di se-semangat ini. Dan ini adalah masalah yang sedikit mengusik batinnya.
Hampir saja beberapa langkah dia akan menuju pintu ruang musik, seseorang memanggilnya.
“Min Ho!”
Min Ho berhenti sebentar dan menghela nafas panjang sebelum menoleh. Dia memang tidak suka disela atupun diganggu. Ini adalah karakter minus yang membuatnya tidak mempunyai teman dekat.
“Apa?” seru Min Ho dengan tatapan tajam. Laki-laki yang tadi memanggil Min Ho memandang mata Min Ho ketakutan dan mengeluarkan suara yang sedikit bergetar.
“Kau, dipanggil Bu Kim~”
Min Ho mengehela nafas berat.
“Mengganggu”
Dengan langkah gontai Min Ho melewati tubuh gemetar anak lelaki tadi dan berbelok ke kiri.

Min Ho memasuki ruang guru yang sangat sepi, tinggal sosok Bu Kim duduk di paling pojok, persisnya didepan meja kerjanya. Min Ho berjalan mendekat dan membungkuk dengan malas.
“Anyeonghasseyo” gumam Min Ho membuat Bu Kim berhenti menulis sesuatu. Wanita itu memandang Min Ho yang menenteng tasnya sambil berdecak pinggang.
“Tidak seperti biasanya kau datang cepat” sindir Bu Kim. Namun ekspresi Min Ho tidak berubah, dingin dan sedikit bertingkah tidak sopan.
Kata Bu Kim mantap “Ini”
“Apa Ini?” Tanya Min Ho ketika melihat gurunya itu menyodorkan sebuah amplop putih.
“Undangan. Besok pukul 4, ada latihan bersama dengan anak-anak sekolah lain. Kuharap kau datang kali ini. Kau takkan bisa selamanya hanya mengandalkan kemampuanmu saja, Choi Min Ho” jelas Bu Kim dengan nada penekanan lebih dalam mengucapkan nama Min Ho.
Min Ho tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Entah ia akan datang atau tidak, namun amplop itu tetap diambilnya. Tingkah suka mengacuhkan inilah yang kerap membuat Bu Kim sedikit tidak menyuka Min Ho.
“Sudah hanya ini sajakan? Anyeong” Min Ho menunduk malas, dan beranjak meninggalkan Bu Kim.
“Choi Min Ho, kali ini kau beruntung” gumam Bu Kim keras, terlihat kalau dia memang sengaja. “Kalau dia tidak mengundurkan diri, aku mungkin tidak mencalonkanmu”
“Dia?” Mata Min Ho terbuka lebar. Kakinya berhenti melangkah dan menatap Bu Kim mencari jawaban.
“Ya” ucap Bu Kim sedikit ketus. “Seharusnya aku jujur padamu dari awal”
Ekspresi Min Ho berubah menjadi serius dan sedikit tegang.
“Apa yang kalian rahasiakan dari ku?” Tanya Min Ho datar.
“Kau bukan satu-satunya pilihan kami dalam pementasan perdana ini” jelas Bu Kim tanpa menggunakan embel-embel. “Choi Min Ho. Kau bukan pianis tunggal disekolah ini.”
Min Ho menelan ludah dan mengepalkan tangan. Berusaha menahan emosi selama mungkin.
“Kau” lanjut Bu Kim tajam “hanya cadangan”
Cadangan.
Itu adalah kata yang tak mau Min Ho dengar. Kalau Min Ho hanya sebagai ‘cadangan’ jadi selama ini, semuanya hanya pelarian semata agar nama sekolah ini tercantum dan dinilai ikut serta dalam pertunjukan bergengsi itu. Dari awal pertunjukan perdana ini memang tidak pantas untuknya. Dan julukan ‘si pianis muda’ tak pantas diterimanya.
“Kau kaget?” kata Bu Kim seakan menebak bagaimana ekspresi Min Ho jika mendengarnya.
Sebenarnya ada banyak hal yg Min Ho tidak dapat mengerti dengan jelas. Kalo dari awal, hal ini memang dirahasiakan. Kenapa sekarang Bu Kim justru dengan santainya berterus terang tentang posisi dia sebagai cadangan? Kenapa tidak berterus terang dari awal? Kenapa baru berkata sekarang?

Min Ho membuka pintu ruang musik dengan malas. Gairahnya langsung surut akibat perkataan Bu Kim tadi. Ia menghela nafas begitu melihat Soo Jung duduk lemas di pojok ruangan. Gadis itu tidak mengenakan seragamnya seperti biasa. Ia mengenakan baju hangat bermotif rajut, simple dan pas dibadannya.
Min Ho melangkahkan kakinya menuju piano putih, tapi anehnya kali ini dia tidak mempunyai semangat untuk membiarkan jemarinya menari di atas tuts.

“hanya cadangan”

Min Ho menghentikan langkah kakinya dan terpejam. Terlintas terpikir dibenaknya, apa ia mampu melanjutkan? Ia membuka matanya lagi sedikit mengatur nafas dan emosinya.
“Soo Jung -sshi” panggil Min Ho tanpa menatap Soo Jung. “Bisakah kau tinggalkan aku? Aku ingin sendiri”
Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda Soo Jung tengah bergerak.
“Soo Jung-sshi”
sama seperti sebelumnya, Soo Jung tidak menanggapi.
“Soo Ju__” Min Ho tidak meneruskan. Ia benar-benar kaget melihat Soo Jung yang ternyata tertidur sedari tadi.
Min Hopun mendekat perlahan, memastikan bahwa gadis itu benar-benar tertidur. Ia berjongkok dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Soo Jung. Soo Jung tidak bergerak, yang terdengar hanyalah suara lembut nafasnya. Soo Jung benar-benar tertidur dengan pulas.
Harusnya Min Ho beranjak dari situ, tapi nyatanya ia enggan untuk berdiri. Dipandangnya wajah Soo Jung tanpa berkedip. Polos dan manis walau terlihat sedikit pucat. Seakan dia baru saja terlahir di dunia, bersih tanpa cela.
Tanpa sadar, tangan Min Ho terangkat. Perlahan jemarinya menyentuh mata Soo Jung, kemudian turun ke pipinya yang lembut. Dan terakhir, Min Ho meraba bibir merah Soo Jung dengan perlahan. Bibir yang terlihat manis dan mengundang untuk di kecup.
Min Ho tidak tau apa yang merasukinya waktu itu. Tiba-tiba saja, dia menyentuh dagu Soo Jung, membuat kepala gadis itu sedikit menengadah. Jantung Min Ho berpacu. Batinnya bertarung antara ‘benar’ atau ‘tidak’ apa yang dia lakukan ini. Dan akhirnya, dengan sedikit ragu ia mendekatkan wajahnya. Mungkin satu kecupan tidak akan membuat Soo Jung terbangun.

Drrttt Drrttt
Suara hand phone bergetar dengan sukses membuat Min Ho panik. Ia refleks menjauh dari Soo Jung. Jantungnya berdegup kencang, serasa dia habis berlari keliling lapangan.
“Aahhh” desah Soo Jung sambil mengerjab-ngerjabkan matanya. Ia menguap pelan dan mengambil handphone disakunya. Ketika ia menekan salah satu tombol, seketika itu juga getar Hpnya berhenti. Ternyata itu alrm.
Soo Jung menengok kearah Min Ho yang berdiri tak jauh darinya.
“Kau sedang apa disitu?” Tanya Soo Jung tidak mengerti.
“Aku” Min Ho terdiam, bingung mau menjawab apa. Mana mungkin ia akan berterus terang hampir mencium Soo Jung? “Tidak ada”
“Dasar aneh”
Soo Jung bangkit berdiri dan mengambil tasnya.
“Kau mau pulang?” Tanya Min Ho membuat Soo Jung harus sedikit berpikir untuk menjawabnya. “Kau pulang sendirian?”
Min Ho tidak pernah mengajak Soo Jung bicara, tapi sekarang, apa yang ada dipikarannya? Tanpa tanda-tanda ia menanyai Soo Jung seakan sudah terbiasa dan mengkhawatirkannya.
“Tidak, aku ingin mengunjungi suatu tempat” jelas Soo Jung.
“Oh”
Min Ho tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi untuk menghilangkan rasa groginya.
“Kau mau ikut?” ajak Soo Jung ramah. Tanpa sela, Min Ho pun mengangguk. Lagi, tubuhnya bergerak diluar kendali.

Toko itu sederhana. Mungkin hanya orang-orang tua yang mau berjam-jam mendekam disana untuk mendiskusikan tentang masa lalu mreka, atau topik tentang bangsa jaman dahulu kala. Entahlah, yang jelas, baru kali ini Min Ho menyadari ada toko seperti ini tak jauh dari sekolah. Dan Soo Jung __yang kini tidak menggunakan seragam, namun memakai pakaian hangat yang bermotif rajut__ mengajaknya __yang jelas-jelas masih menggunakan seragam dengan berlapis jaket__ ketempat seperti ini?
“Ini tempat apa?” tanya Min Ho begitu asing dengan toko yang ada didepannya. “Kenapa kau mengajakku kesini, Soo Jung?”
“Toko bubur” jawab Soo Jung singkat lalu masuk ke dalam any itu.
Min Ho menggeleng lemas begitu menyadari sesuatu, entah dia yang bodoh atau Soo Jung yang mengira dia bodoh? Diatas toko itu jelas-jelas terpampang tulisan ‘Toko Bubur’.

“Onnie?” sambut seorang perempuan berkucir dua. “Akhirnya kau mampir kesini juga”
Soo Jung tersenyum melihat keadaan ruangan yang hangat, sama seperti sebelumnya. Tidak terlalu ramai ataupun sepi, tapi sangat nyaman.
“Makin laris Ji Young*?”
*Ji Young KARA *
*Ji Young mengangguk cepat. Ji Young manggil Krystal Onnie, padahal tuaan Ji Young yak? Wkwkwk It’s just for fun okay?*
“Ayo, Ki Bum Oppa ada didalam” ajak perempuan itu sambil menarik Soo Jung. Sedangkan Min Ho hanya mengikuti mereka dari belakang.
Min Ho, matanya tak mengerjap sedikitpun. Sibuk melihat seluruh ruangan. Semuanya serba terbuat dari kayu. Meja, kursi, sendok, mangkuk, benar-benar terbuat dari kayu. Lalu sebuah pigura foto yang cukup besar menarik perhatiannya. Disana terpampang jelas Ada Soo Jung dengan senyum khasnya, dan seorang perempuan yang sedikit cuby. Min Ho dapat menebak dengan tepat kalau itu Ji Young, perempuan berkucir dua tadi. Dan sosok lain membuat alisnya terangkat.
Asing.
Sosok itu tertawa lebar dan merangkul Soo Jung seperti seorang kekasih. Ia merangkul Soo Jung sangat dekat. Jelas itu laki-laki. Tapi siapa? Ataukah itu, kekasih Jung Soo Jung?

“Ki Bum Oppa! Lihat siapa yang datang!” Min Ho menoleh, semua pikirannya buyar.
Laki-laki yang sedang membersihkan meja nomor 6 memutar kepalanya 90 derajat.
“Kau, selamat datang…” kata Ki Bum terlihat bahagia dan dengan santainya langsung memeluk Soo Jung dihadapan Min Ho persis.
Min Ho menunduk perutnya sedikit mual melihat kedekatan Ki Bum dengan Soo Jung. Hingga sesaat Ia merasa kenal dengan laki-laki yang Ji Young panggil ‘Ki Bum oppa’ ini. Wajahnya seperti___. Min Ho menatap Ki Bum lagi. Bukankah ia sosok yang ada di pigura foto tadi? Apakah laki-laki ini, kekasih Soo Jung?
“Kau bau bubur” kekeh Soo Jung membuat Ki Bum tersenyum.
“Kau membawa teman?” Tanya Ki Bum begitu menyadari ada sosok Min Ho yang memandangnya tidak suka.
“Iya, dia satu sekolahan dengan kita juga.”
Ki Bum tau itu. Jelas-jelas Min Ho mengenakan seragam sekolah mreka.
“Kalian, berkenalanlah” kata Soo Jung.
Ki Bum mengulurkan tangannya. “Kim Ki Bum, senang berkenalan”
“Min Ho, Choi Min Ho” sambut Min Ho sedikit terlihat angkuh.
Ki Bum berpikir sebentar. Ia seperti ingat sesuatu.

“Choi Min Ho, haaa, aku ingat, kau ‘si pianis’ itu khan?” tebak Ki Bum. Sebenarnya Min Ho sedikit risih dengan kata ‘si pianis’, tapi akhirnya dia mengangguk pelan. Sepertinya Ia tidak menyukai sosok Ki Bum. Mungkin karena sifatnya yang blak-blakan dan menurutnya ‘sok’ ramah.
“Dia, pacarmu?” tanya Ki Bum terlihat hati-hati.
Soo Jung dan Min Ho saling pandang. Min Ho hampir membuka mulutnya sebelum kemudian Soo Jung langsung menyelanya.
“Ti-tidak. Kami teman.”
Min Ho terdiam mendengarnya, merasa aneh dan tidak suka dengan jawaban Soo Jung. Tapi memang tidak ada apapun diantara mereka, lalu apa yang perlu tidak disukai dari perkataan Soo Jung tadi?
“Kenapa hari ini tidak masuk?” anya Ki Bum ke Soo Jung.
“Soo Jung tidak masuk?” kata Min Ho dalam hati.
“Hanya sedang tidak enak badan” jawab Soo Jung terlihat biasa. Tapi, Min Ho tau tatapan Soo Jung itu, seperti ada sebuah keganjilan dalam sorotan matanya.
“Tidak enak badan?” gumam Min Ho ke arah Soo Jung, dia tidak menanggapi sama sekali, atau memang pura-pura tidak mendengarnya.

“Kalian ingin makan bubur? Kalian tau? Aku membuat menu bubur baru” tawar Ki Bum mengganti topik pembicaraan.
“Bubur?” gumam Min Ho heran. “jadi ini benar-benar toko bubur?”
Tok..
Soo Jung menggetok kepala Min Ho keras.

“Pelanggan yang sama?” kata Soo Jung tidak menghiraukan Min Ho yang mendesis kesakitan.
“Kau datang disaat yang tepat” ujar Ki Bum. “Kakek Lee” tunjuknya kearah meja nomor 3 paling pojok. Disitu terduduk sendirian laki-laki tua yang sedang serius dengan permainan papan catur di atas meja. “Dia selalu menanyakanmu”
“Ya! Kau ini kejam sekali, Soo Jung onnie kan baru datang?” rengek Ji Young.
“Tak apa, sudah lama aku tidak melatih otakku” kata Soo Jung dengan suara cerianya, lalu menghampiri meja no 3.
“Dia akan menyukainya” gumam Ki Bum penuh arti.

Min Ho tertegun memandang Ki Bum. Dia seperti sudah mengenal Soo Jung luar dalam. Mungkin sangat dekat. Yeah, tak ada yang perlu dirisaukan. Mreka hanya sebatas teman. Min Ho terkesiap dengan pikirannya sendiri. Kenapa begitu penting baginya status Ki Bum dan Soo Jung saat ini?
“Min Ho, kau boleh duduk” suruh Ki Bum pada Ji Young. “Kau buatkan mereka bubur” Ji Young mengangguk lalu pergi kebelakang.
“Kau yang punya toko ini?” tanya Min Ho memulai pembicaraan.
Ki Bum menggeleng pelan, “Bukan aku, tapi dia” ia menunjuk Soo Jung yang sekarang sedang menemani Kakek Lee bermain catur. “Soo Jung, aku dan Ji Young adikku, bekerja keras untuk membeli toko ini. Tapi tetap saja, aku slalu merasa semua ini milik Soo Jung”
“Kenapa?” tanya Min Ho.
“Kalau bukan karena dia, mungkin aku dan Ji Young akan putus sekolah dan kami sudah menjadi gelandangan. Dulu, hanya dia yang menyemangati kami. Dia tidak memperdulikan kami yatim piatu ataupun miskin. Dia selalu bilang aku pasti bisa” lanjut Ki Bum. “Kami dan pelanggan-pelanggan bahkan sudah menganggapnya seperti saudara.”
Ternyata Min Ho bukan satu-satunya. Itu sedikit membuatnya terlarut dalam kesimpulannya sendiri. Sosok Soo Jung, gadis itu seperti sebuah cahaya dalam kegelapan hatinya. Tapi bukan ‘khusus untuknya’ melainkan untuk orang lain juga. Entah orang lain akan menganggap Soo Jung mempunyai kecenderungan atau penyakit menolong orang. Tapi Min Ho dapat melihat ketulusan. Ketulusan dalam senyum dan perkataannya. Itulah yang membuat hati Min Ho tergugah akan kehadiran Soo Jung. Ia tak bisa menipu dirinya sendiri, Soo Jung wanita pertama yang dekat dengannya, kecuali Ibu dan nunanya.

“Soo Jung, semua perkataannya, semua senyumnya, telah merubah hidupku” kata Ki Bum tanpa melepaskan pandangannya ke Soo Jung. Hal ini membuat Min Ho ikut memandang Soo Jung.

“Jangan terlalu serius” kata Soo Jung sambil cekikikan.
“Diamlah, kali ini pasti bisa” sebal Kakek Lee dengan muka serius. Soo Jung tersenyum. Senyum itu yang membuat hati Min Ho bergetar aneh.

“Choi Min Ho” panggil Ki Bum pelan. Min Ho menoleh kearahnya. “Mungkin” mulai Ki Bum dengan tatapan serius “mungkin kau akan sama sepertiku”
“Maksudmu?”
“Entah, kau menyadarinya atau tidak. Soo Jung, ia membuat orang-orang disekitarnya bisa tersenyum. Sampai akhirnya kau menyadari, tanpanya, hidup sungguh membosankan”
Min Ho berusaha mencerna dan merekamnya baik-baik. Dipandangnya Soo Jung yang sedang tertawa bersama Kakek Lee.

“Yay, aku menang!” seru Soo Jung seperti anak kecil. Pelanggan-pelanggan disitu tersenyum melihat tingkahnya.
“Itu keberuntungan, aku tadi mengantuk” kata Kakek Lee membela diri.
“Kakek jangan menghindar begitu” kekeh Soo Jung. Muka Kakek Lee langsung memerah, diapun jadi ikut tertawa.
“Baik, aku kalah. Tapi hanya untuk saat ini. Aku master!”
“Baik deh Kek Master,” kata Soo Jung kemudian “aku tinggal”
Kakek Lee mengangguk mengijinkan.
Soo Jung beranjak dari kursinya menuju ke meja dimana Min Ho dan Ki Bum berada.
“Buburnya siap” kata Ji Young sambil membawa dua mangkok bubur hangat beralas nampan ditangannya.
“Pas sekali, sepertinya enak” kata Soo Jung ketika Ji Young meletak dua mangkok bubur itu di atas meja.
“Tentu saja, toko bubur ini terkenal dengan buburnya tau” sombong Ki Bum seperti anak umur sepuluh tahun.
Soo Jung hanya tersenyum lalu duduk disamping Min Ho.
“Baiklah, aku tinggal ya, banyak pelanggan hari ini.” Pamit Ki Bum lalu berjalan kebelakang bersama Ji Young.
Min Ho melihat semangkuk bubur didepannya.
“Jangan langsung dimakan” kata Soo Jung. “Kau harus merasakan aroma dan kehangatan dari setiap sendoknya.”
Min Ho mencoba menuruti perkataan Soo Jung. Sebelumnya dia tak pernah langsung menuruti perintah orang lain begitu saja. Kali ini tidak, dan bisa dibilang ini adalah sebuah rekor baru untuk Soo Jung yang berhasil menaklukkan laki-laki seperti Min Ho.
Maka, Min Ho mengambil bubur sesendok. Diciumnyanya pelan aroma bubur itu, perpaduan aroma sayur segar dan bawang goreng seperti menghipnotisnya. Ia memasukkan sesendok bubur itu ke dalam mulut, tidak langsung ditelan, tapi mencicipi setiap rasa yang ada. Gurih dan manis, benar-benar enak.
“Bagaimana? Nikmat bukan?” tanya Soo Jung penasaran. Min Ho mengangguk. “Aku beri tau ya, bubur itu adalah makanan yang penuh mujizat”
“Kenapa?”
“Jangan meremehkan khasiat bubur” sela Soo Jung “Orang sakit pasti makan bubur. Sepertinya sederhana, tapi dibutuhkan banyak orang. Bahkan, aku yakin, kau bisa menghilangkan kekhawatiranmu kalau makan bubur.”
“Tidak masuk akal” gumam Min Ho.
“Lalu seperti apa yang masuk akal bagimu?”
“Entahlah”
Soo Jung tersenyum. “Kau mencintai melodi, apakah bagimu itu masuk akal?”
Min Ho memandang Soo Jung seperti menemukan sesuatu dari perkataan Soo Jung.
“Itu tidak masuk akal. Bagaimana aku bisa menyukai melodi? Orang tuaku memang memaksaku. Awalnya berat, tapi aku menjadi suka. Benar-benar tak masuk diakal”
“Kau tidak perlu memikirkan hal melalui pemikiran keras. Hanya ada kata ‘iya’ dan ‘tidak’, menurutku kata ‘tidak masuk akal’ tidak ada diantaranya”
Min Ho berpikir keras. ‘Iya’ dan ‘tidak’. Soo Jung selalu mengatakan hal-hal yang tersirat. Atau dia yang tak bisa mengkapnya dengan baik?
“Jadi?”
“Kau hanya bilang ‘iya’ kalau menyukainya, dan bilang ‘tidak’ jika benar-benar tidak menyukainya”
“A-aku tetap tak mengerti, apa yang kau bicarakan”
“Nanti,” kata Soo Jung seperti menerawang “kau pasti akan mengerti”
“Setiap perkataanya seperti sebuah kunci. Tapi aku tidak pernah mengerti, apa yang tersimpan didalamnya. Dia berkata seperti tau banyak hal”
Min Ho menunduk dan mengambil satu sendok buburnya yang terakhir.
“Kalau aku tetap tidak akan mengerti?”
Soo Jung hanya menjawabnya dengan tersenyum. Senyum yang benar-benar mampu membuat Min Ho tidak berkutik.

TBC

————

Pendekkah?
😄
Pdhl ii 7 lembar di MS Word lhoo
Hee

TEASER CHAPTER SELANJUTNYA
“Tolong aku pilihkan baju” kata Min Ho datar.
“Aish, ku pikir ada apa” sebal Hye Jin.
“Nuna, jangan melamun, tolong aku” rengek Min Ho.
“Kau mau pergi?”
“Iya”
“Kemana?”
“Entah. Soo Jung bilang akan memberitahukan aku nanti”
Hye Jin terdiam, terlihat mengamati Min Ho yang sedang memilih-milih baju hangatnya.
“Jadi namanya Soo Jung?” kata Hye Jin penuh kemenangan. Min Ho memandang nunanya, dia baru sadar telah keceplosan. “Dan kalian akan pergi kencan?!” seru Hye Jin bahagia.
“Ti-tidak seperti itu juga, aku___”

—————————————-

Greep …
Terdengar Min Ho menutup pintu pelan. “Ssst, jangan berisik, nanti ketahuan”
Lewat cahaya remang-remang, Soo Jung mencari-cari sosok Min Ho.
Tap…
Tiba-tiba tangan Min Ho menyentuh pundak Soo Jung dari depan dan mendorongnya kebelakang perlahan-lahan. Soo Jung yang panik meraba-raba benda-benda sekitarnya yang sedikit berdebu. Hingga sampailah punggungnya merasakan dinding yang sedikit lembab.
DEG…
Wajah Min Ho mendekat begitu pelan tapi pasti. Mata Soo Jung terpejam, dan tidak berkutik.

kYAKKKKK
Chap berikutnya biKin gw dag dig dug sndiri
😄
pdhal gw yg bikin
heee

NO SILENT RIDER, OCWEHHHH????
love.gif love.gif

onlyyouonew1.gif

——————–

user posted image
BIG GATHERING SHAWOL YOGYAKARTA! 29 mei 2011
Check our FB: SHAWOL YOGYAKARTA

27 thoughts on “HAPPY ENDING PART 3

  1. authorrrrr!!! akhirnya update juga!!!
    seneng banget liat author update
    ff ini salah satu ff favorit aku
    ceritanya, kerennnnnn banget
    part selanjutnya jgn lama2 y thor

    Like

  2. akhirnya, setelah menunggu sekian lama “alay mode on”
    ni ff di post juga…
    ayo dong thor, part berikutnya jgn terlalu lama di postnya..

    Like

  3. chingu.. aku baru baca FF ini..
    aku baca dari part 1 – 3 (padahal aku males bgt sama yg namanya baca XD) ternyata bagus bgt.. tolong lanjutin ya.. tiap naik part ceritanya tambah seru ^^

    aku suka samma kata2 “Hal yang paling menyenangkan adalah, melakukan apa yang kita suka bersama orang-orang yang kita sayangi” hhe hhe menginspirasi bgt.. gomawo ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s