THE OTHER SIDE OF LOVE (part 1)


oennieee……

ini ff onew yg aq bkin untuk memenuhi requestan oennie. aku semangat bget bkinnya. bkin jantungku jadi makin bermasalah akhir2 ini.😀 aneh banget oen, aku berasa deg-deg an wktu nulis ini.😀

tolong d bca ya oen, aku minta kritik oennie dlu. soalnya aku merasa msih ad yg kurang dr ff ini. tapi aku g thu kesalahannya d mna. jadi tolong di kritisi y oen. nanti aku perbaiki. gumawooo oennie….. :)))))
THE OTHER SIDE OF LOVE (part 1)
Tittle: The Other Side of Love
Author:            Ameony
Main Cast:       Lee Jinki as Onew
                        Im Yoona as Yoona
                        Kim Heechul as Heechul
Other Cast:      Kim Jonghyun as Jonghyun
                        Choi Minho as Minho
                        Kim Taeyon as Taeyon
                        Park Jungsoo as Leeteuk
                        Lee Sunkyu as Sunny
Genre:             Romance
 
Cerita ini terinspirasi dari kisah hidup sahabatku. Awalnya sulit memahami kenapa seseorang bisa bertahan bahkan saat cinta direnggut paksa dari hidupnya, apalagi dengan kenyataan bahwa orang yang dicintainya juga masih sangat mencintainya. Perpisahan yang dipaksakan, tapi dia begitu ikhlas menerima. Dan cerita ini juga terinspirasi dari thanks to- nya abang Kyuhyun buat Onew d albumnya, “Jinki Onew yang punya banyak rahasia.”
Well, sebgai author, aku membagi cerita ini untuk kalian, dan aku juga meminta kalian untuk berbagi ‘comment’ untuk membuatku melahirkan karya yang lebih baik lagi di masa depan. Walaupun hanya satu komentar pendek, tapi itu sangat berarti untukku. Gumawo.🙂
Yoona POV
Bunga-bunga mulai jatuh di tanah yang mengering. Warna-warna mulai memudar, semua menjadi kering dan layu, melanggas. Musim semi segera berakhir. Di penghujung musim itu, kisah cintaku yang indah juga segera berakhir.
“Oppa, maaf. Disinilah akhirnya. Cukup sampai disini. Terimakasih telah mencintaiku selama ini.” Ucapku.
Namja itu berdiri di depanku. Ada jarak yang tercipta diantara kami. Aku menatap wajah orang yang telah mencintaiku selama lima tahun ini. Wajah orang yang telah membuat hari-hariku lebih dari sekedar lembaran kosong tanpa makna. Dia, Kim Heechul, telah mengoleskan banyak warna di sana. Cinta yang diaberikan padaku adalah cinta yang sederhana, tapi indah, membuatku selalu nyaman di sampingnya.
Lelucon-lelucon yang membuatku bisa terbahak, walaupun tuntutan tugas sekolah mencekikku, hingga aku sulit bernapas. Ceritanya yang hangat, kesediaannya untuk mendengar, lebih dari itu dia memperhatikanku sebaik appa. Tangannya yang sigap menopang jika aku goyah dan terjatuh. Itulah wujud dari sebagian kecil cintanya. Ya, cintanya begitu luar biasa, aku menikmatinya dari setiap pandangan matanya yang dalam dan memancarkan kebahagiaan, kepercayaan. Senyumnya membuatku melupakan semua beban dalam kehidupan. Ya. Dia pangeranku. Aku mencintai pangeranku. Tapi pangeran dan putri tidak dapat hidup bahagia selamanya. Sang putri harus pergi mememenuhi takdirnya, meninggalkan cintanya. Kebahagiaannya.
Aku sering mendengar bahwa cinta tak harus memiliki. Ya. Aku tahu. Tapi tak ada yang lebih kuinginkan selain memiliki cintaku. Memilikinya seutuhnya. Tapi ini bukanlah kisah di negeri dongeng. Ini kehidupan nyata milikku, ImYoona dan Heechul, kebahagiaan sejati yang kini hanya berupa sekotak kenangan manis penuh cinta.
Tidak ada penolakan darinya. Walaupun wajah itu terlihat setengah mati, dipenuhi kepedihan mendalam, dia tetap memenuhi janjinya.
“Pergilah naeYoong. Lakukan apa yang perlu kau lakukan. Kau harus bahagia. Aku akan selalu mencintaimu.”
“Aku tidak akan bahagia tanpa oppa. Oppa adalah kebahagiaan sejatiku. Tapi, ya, aku harus melakukan tugasku sebagai seorang anak. Aku tetap harus pergi. Terimakasih atas semuanya oppa.”
Perasaan yang membuncah di dalam diriku mendesak agar aku berontak, berlari dari kewajiban ini, dan meraih cintaku. Tapi aku tidak sanggup.
“Oppa…. kau harus bahagia. Karena itu satu-satunya cara membuatku bahagia.”
Author POV
Hampir tak ada air mata, hanya mata yang sedikit berkaca-kaca. Heechul menghampiri yeojanya dan memeluknya. Malaikatnya. Hatinya. Hidupnya. Bahagianya. Kini dia harus merelakan yoona. Yoona menikmati pelukan Heechul untuk yang terakhir kalinya. Yoona sudah tahu ini akan terjadi. Perpisahan ini. Cepat atau lambat mereka harus berpisah. Heechul memahami, walaupun ia tahu mustahil untuk menerima keadaan ini, tapi dia memang harus melepaskan Yoona.
Flashback. Athor POV
5 Tahun yang lalu, saat pertama kali Heechul menyatakan cintanya pada Yoona, gadis itu telah menjelaskan hal ini padanya.
“Oppa. Suatu saat nanti, aku akan dijodohkan. Aku mencintaimu oppa, tapi aku tidak bisa lari dari kewajibanku. Aku tidak mau jadi anak yang durhaka. Sekarang terserah pada oppa. Jika kita harus memulai hubungan ini, oppa harus siap melepaskanku kapan saja. Tapi kalau oppa tidak seap, lebih baik tinggalkan aku sekarang. Temukan wanita lain yang bisa menjanjikan masa depan untuk oppa.”
Flashback end.
Heechul tidak melepaskan wanita itu. Ia siap dengan segala resikonya. Hubunganya dengan Yoona adalah hal terbaik yang pernah dialaminya. Tidak pernah ada penyesalan. Dan sekarang dia harus melepaskan Yoonanya.
“Yoong. Jika kau memerlukanku kapan saja. Aku akan selalu ada untukmu. Jika kau berkelahi dengan Nyanjamu. Aku ada di sini, mendngarkanmu. Hubungi saja aku.”
“Nde oppa. Gumawo…”
“Saranghae Im Yoona.”
“Nado saranghae oppa.”
Yoona melangkah pergi dari taman itu. Dia tidak tahu bagaimana jalan yang telah dipilihnya ini, mungkin curam dan berliku.
“Yoong…”
“Wae oppa?”
“Kau masih akan menyaksikan balapanku bukan?”
Yoona mengangguk,”Tentu oppa.”
Heechul tersenyum. Dia membiarkan gadis itu pergi. Tapi dia harus tahu bahwa Yoona akan terus menyaksikan perjuangannya untuk negeri ini di arena balapan F1. Heechul adalah kebanggaan negaranya. Dia atlit termuda dan menjanjikan prestasi gemilang ditahun pertamanya di puncak kompetisi. Memang berat kehilangan penyemangat utamanya di saat-saat seperti ini. Tapi dengan tahu bahwa Yoona masih akan terus mendukungnya, melihatnya, dia tahu dia bisa melakukannya.
Saturday Night
Sekali lagi Yoona mematut dirinya di depan cermin. Hmm… dia sudah terlihat cantik. Long dress putih gading dengan manik-manik berbentuk bunga kecil di depannya membalut tubuhnya dengan indah. Hari ini untuk pertama kalinya Yoona akan melihat laki-laki yang akan menjadi calon suaminya.
“Yoona ya! Sudah siap?” seorang gadis cantik bertubuh pendek dengan mata sipit dan kulit seputih salju melongok dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
“Ndee… sebentar lagi oennie.” Jawabnya.
Perempuan itu masuk ke kamar Yoona, memperhatikan dongsaengnya yang sibuk memilih kalung di dalam kotak rias bergambar sapi-sapi gendut yang lucu. Ahh… dongsaeng kecilnya sebentar lagi akan mengikuti jejaknya. Menikah. Tapi bedanya, Yoona tidak menikah dengan lelaki pilihannya. Bukan dengan namja yang dicintainya. Taeyon mengerutkan keningnya, kenapa Yoona tidak tampak sedih dan terluka. Padahal dia harus berpisah dengan lelaki yang dicintainya hanya untuk perjodohan tolol ini. Kenapa dia tidak tampak marah dan ingin memberontak? Bagaimana bisa dongsaeng kecilnya sekuat ini?
“Kenapa kau melihatku begitu oennie?” tanya Yoona yang melihat bayangan oennienya yang terlihat sangat intens memperhatikannya di cermin.
“Ani… aku hanya bertanya-tanya, kenapa kau tidak sedih, dan terlihat biasa saja. Kau terlihat seperti hanya ingin menghadiri makan malam bersama kolega bisnis appa biasanya. Kau tidak takut Yoong?”
Yoona terkekeh, “Untuk apa aku takut Oennie? Aku kan tidak dijodohkan dengan pembunuh atau pelaku kriminal.”
Jawaban itu malah membuat Taeyon semakin resah.
“Apa kau tidak sedih atau merasa terluka?”
“Tidak oennie. Selama yang kulakukan membuat appa bahagia. Aku akan melakukannya dengan senang hati.”
“Jadi kau tidak merasa terpaksa melakukan semua ini?” tanya Taeyon lagi. Matanya yang bulat itu menatap dongsaengnya tak percaya.
Yoona menghela napas, pandangannya jatuh kelantai, menyusuri sendiri apa yang ada di dalam hatinya, bibirnya bergerak pelan,”Aku terluka oennie, aku sedih, aku melakukan ini dengan terpaksa, tapi apa gunanya jika aku terus begitu? Toh tidak ada yang bisa membatalkan keputusan inikan? Aku hanya percaya satu hal. Jika aku memang berjodoh dengan Heechul oppa, aku pasti akan kembali padanya. Tentang caranya, biarkan Tuhan yang mengaturnya. Aku hanya menjalaninya.”
Ah…. Taeyon akhirnya mengerti. Dongsaengnya ini memang sudah dewasa. Dia sudah mengerti apa yang harus dan tidak harus dilakukannya. Senyum manis tersungging dari bibir tipis Taeyon. Ia berdiri dan berjalan ke arah Yoona, kemudian sebuah pelukan hangat dan erat diberikannya pada dongsaengnya yang selalu ceria itu.
“Nde. Oennie tahu kebaikan hati appa telah menurun padamu Yoong. Seharusnya ibu menyesal meninggalkan kita. Kau adalah wanita paling tegar dan kuat yang pernah kukenal. Aku bangga padamu dongsaengi.” Ucapnya.
“Gumawo oennie. Aku tidak pernah menyesal ibu menelantarkanku begitu saja, karena aku memilikimu oennie. Terimakasih karena telah menjadi Umma ku selama ini,” ucap Yoona.
“Nde. Aku juga senang punya dongsaeng sepertimu.” Ucap Taeyon.
Ia melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Yoona,”Ayo turun! mereka pasti sudah menunggumu.”
Yoona mengangguk dan berjalan disamping Taeyon. Apapun yang terjadi dia sudah siap menghadapinya. Appa, ini semua untukmu.
Onew POV
Namja itu memandang dua orang gadis yang berjalan dari pintu yang terletak di samping ruangan tamu besar itu. Banyak hal berkecamuk dikepalanya. Dia tidak begitu peduli yang mana diantara dua gadis itu yang akan dijodohkan dengannya. Dia malah berpikir apakah appa dan umma nya hanya sedang mengerjainya. Dua gadis itu masih terlihat sangat muda. Bukan. Bukan muda. Tapi anak-anak. Mereka berdua terlihat seperti anak SMP. Yang benar saja dia dijodohkan dengan anak SMP? Tapi ini tidak mungkin hanya main-main. Ini tidak hanya melibatkan orangtuanya. Perjodohan ini direncanakan dan telah dirundingkan oleh seluruh anggota keluarga Lee dan keluarga Im.
Gadis yang bertubuh agak pendek duduk di samping seorang namja, sedangkan yang agak tinggi duduk di kursi tepat di seberangnya, di samping kakek Im Dong Woon, tuan rumah ini. Dia tahu, yeoja inilah yang akan dijodohkan dengannya.
Yeoja itu cantik. Kulitnya putih bening, matanya bulat, alisnya melengkung memayungi sepasang bola mata yang jernih dengan lensa berwarna cokelat. Mata itu memancarkan kelembutan yang tulus, bulu matanya yang lentik terlihat mempesona saat ia memandangnya. Hanya saja Onew sudah bertemu gadis cantik ribuan kali. Bisnis multinasional yang digelutinya membawa namja itu bertemu ribuan gadis cantik hampir di seluruh negara di dunia. Jadi pemandangan seperti ini, adalah biasa untuknya.
“Omoo… cantik sekali Yoonaya~…” Lee So Yoo, umma Onew memuji kecantikan calon menantunya.
“Gumawo ahjumma…”
“aish… kenapa kau memanggilku ahjumma, tidak lama lagi kau adalah anakku, jadi panggil aku oemma saja.” Tegas So Yoo.
Wajah yang putih mulus itu memerah, dengan senyum ia menjawab,”Ne eomma.”
Ketegasan yang terpancar dari wanita itu membuat Onew terkesiap. Wanita seperti apa sebenarnya dia?
“Baiklah, bagaimana kalau kita mulai mendiskusikan apa saja yang harus dipersiapkan untuk pernikahan mereka?” ucap Lee Soo Man, kakek Onew.
Perbincangan pun dimulai. Onew dan Yoona tidak bicara apa-apa, mereka hanya mengangguk atau tersenyum jika para tetua menanyakan persetujuan mereka. Aura yang terpancar dalam pertemuan malam ini mengatakan bahwa ini adalah perjodohan yang akan berhasil, tapi jauh di lubuk hati dua insan manusia yang menjadi pusat perbincangan, tersimpan rapat perasaan yang akan membuat rumah tangga mereka berbeda dari harapan semua orang.
 
Yoona POV
Semua akan baik-baik saja. Aku percaya itu. Aku hanya perlu menjadi seorang istri, tidak peduli aku mencintainya atau tidak. Aku akan melakukan tugasku sebagai ibu rumah tangga, semampu yang ku bisa. Walaupun aku menyadari Lee Jinki, orang yang akan menjadi suamiku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Aku melihat itu di matanya yang gelisah tadi malam. Hei, kupikir aku punya sedikit bakat Edward Cullen. Cool.
“Yoona~ya, kenapa kau pucat begitu?” Sunny Oennie mengangkat wajahku dan mengamatinya. Dia menarik bagian bawah kelopak mataku.
“Aish… kau pasti tidak sarapan kan? Tidak ada darah yang mengalir diwajahmu, seperti zombie saja!”
“Kayaknya vampir lebih keren deh oenn.”
“Aigoo…. mana ada vampir yang suka cuci piring?”
Aku tergelak, dan meneruskan pekerjaan yang sedang kulakukan. Setelah lulus SMA, aku tidak meneruskan kuliah, yah, kau kan tahu bagaimana nasibku. Aku dijodohkan, aku akan menjadi seorang istri. Istri yang bertugas mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Jadi, untuk mengisi waktu kosong sebelum pernikahan itu, aku menjadi sukarelawan di rumah sakit anak penderita kanker. Disinilah aku menghabiskan waktuku, dan disini aku juga bertemu Sunny oennie, seorang oennie yang sangat baik dan mendedikasikan hidupnya untuk merawat anak-anak ini. Aku kagum pada ketulusannya. Terkadang aku bermain bersama anak-anak itu, memandikannya, mengganti popok, membersihkan ruangan, dan pekerjaan favoritku, mencuci piring. Sunny oennie sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat kegilaanku pada pekerjaan satu itu. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku suka mencuci piring, mungkin karena aku suka main air. J
“Rupanya firasat eomma benar, kau pasti melanggar perintahnya untuk makan tepat waktu.” Sunny masih menggerutu,”Nih, makan! Eomma memberikan bekal double padaku.”
“Aigoo… gumawo oennie ya.” Ucapku sambil melepaskan sarung tangan dan duduk di kursi dapur, memulai sarapan saat Sunny oennie menikmati makan siangnya.
Suasana mulai sepi karena anak-anak sudah tidur siang, aku memeriksa tasku dan besiap-siap pulang. Baru saja aku keuar dari pintu rumah sakit, puluhan blitz kamera berkilat-kilat, menghujani wajahku. Aku menutupi wajahku, karena silau, dan ingin kembali masuk, tapi aku takut mereka juga ikut masuk, itu akan membuat anak-anak terganggu. Aku melihat Seunghoon oppa dan Kwangho ahjussi, satpam rumah sakit tidak sanggup menghalau serangan orang-orang berkamera itu. Tiba-tiba aku merasa seseorang menarik tanganku, dan orang itu berdiri di depanku dan menerobos kerumunan yang mulai bisa diredakan oleh beberapa orang berbadan besar, dan berpakaian hitam yang tidak tahu datang dari mana.
Orang itu menyuruhku masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan RS, dan saat orang itu masuk dan duduk di sampingku, aku tahu, dia adalah Jinki.
“Seharusnya kau lebih hati-hati.” Ucapnya sambil mengusap peluh di wajahnya dengan sapu tangan putih.
Mwo? Kenapa aku harus hati-hati. Memangnya kenapa? Apa yang kulakukan?
“Siapa mereka?” tanda tanya besar itu kusuarakan.
“Wartawan dan papparazi.”
“Kenapa mereka mengerumuniku, akukan bukan selebriti.” Ucapku.
Onew POV
“Kenapa mereka mengerumuniku, akukan bukan selebriti.” Aku menatap matanya, mencari kebenaran di sana. Tapi mata itu benar-benar polos.
“Apa kau benar-benar tidak tahu?” tanyaku.
“Tahu apa sih?” tanyaku.
“Hyung, sepertinya kau dijodohkan dengan alien dari planet mars. Dia benar-benar tidak tahu perkembangan di bumi.” Ucap Jonghyun yang duduk di depan.
“Sebaiknya kau menjelaskannya hyung,” saran Minho. Senyum terkembang dibibirnya, sedangkan matanya masih berkonsentrasi pada jalan. Minho melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, agar kami tidak terkejar oleh wartawan dan paparazi itu. Walaupun mobil kami juga sudah dikawal oleh para mengawalku.
Aku menghela napas dan menyandarkan tubuhku di jok. “Aku harus mulai dari mana?” tanyaku. Bagaimana aku bisa menikah dengan orang pabo seperti ini? Eomma, apa yang kau lakukan pada anakmu?
Author POV
Yoona menggeleng,”Kau bukan artis kan Jinki~ssi?”
Onew tertawa dan menggeleng,”Bukan. Apa kau benar-benar tidak tahu?”
“Apa?” tanya Yoona.
Onew menghela napas, dimana Yoona tinggal selama ini? Apa dia baru berimigrasi dari planet mars? Apa? Onew akan menikahi seorang alien?
“Aku adalah seorang aristokrat. Keturunan kerajaan.”
“Maksudmu bangsawan? Berdarah biru?”
Onew mengangguk.
“Seandainya monarki tidak runtuh, aku adalah penerus tahta kerajaan.”
“Tapi sekarangkan sudah 2012. Sistem monarki sudah runtuh sejak puluhan tahun yang lalu?”
“Iya. Tapi yang runtuh hanya bentuk fisiknya. Secara nyata, masyarakat masih memberikan perhatian pada kerajaan. Bagaimana kehidupan orang-orang kerajaan. Karena kerajaan adalah kebudayaan yang telah menempati hati mereka. Mereka masih menjunjung tinggi kebudayaan itu, kepercayaan terhadap keluarga kerajaan. Sistem itu masih berlaku. Semua gerak-gerik kami diawasi dan menjadi perbincangan dimasyarakat. Jadi, sebagai anggota baru dari aristokrat, kau harus tahu bahwa sangat penting untuk menjaga sikapmu dimasyarakat. Di depan wartawan bahkan paparazi. Apalagi kau datang dari kalangan biasa. Kau harus disukai masyarakat. Karena kalau tidak, itu akan membuat masyarakat tidak menerimamu.  Dan kalau masyarakat tidak menerimamu, mereka akan membencimu.”
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang hal ini?”
Onew menatap perempuan itu tajam,”Apa kau tidak punya TV di rumah?”
Yoona menggeleng,”Ada. Tapi tidak pernah digunakan. Aku tidak suka nonton TV. Bukankah jadinya lebih buruk sekarang, coba saja aku tahu dari dulu, aku pasti tidak akan dikejar-kejar orang-orang brutal tadi. Blitz mereka hampir membuatakan mataku.”
 “Keluarga kita baru mengeluarkan pengumuman resmi tentang pernikahan itu sejam yang lalu, jadi kaurasa mereka langsung memburumu untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang dirimu.”
“Apakah kau selalu hidup seperti ini Jinki~ssi? Hidup dalam kejaran mereka?”
Onew mengangguk,“Kau harus terbiasa, Yoona~ssi.”
Yoona menunduk, bisakah dia terbiasa? Mampukah dia menghadapi semua ini. Dia membayangkan rumah tangga yang sederhana. Dia berusaha berpikir positif bahwa menikah dengan seorang chaebol bukanlah masalah. Tetapi ternyata keadaan lebih rumit. Dia tidak hanya menikahi seorang chaebol, tapi juga seorang bangsawan, seorang aristokrat.
Author POV
“Oennie, kau sedang apa?” Yoona masuk ke rumah Oennienya
“Menemani Leeyeon, dia cerewet sekali sejak ditinggal appanya.”
“Loh, Leetuk oppa kemana emangnya oen?”
“Oppamu harus mengurus bisnis minyak yang bermasalah di rusia.”
“Kapan perginya?”
“Sudah dari 3 hari yang lalu.”
“Berapa lama dia pergi?”
“Setengah bulan.”
“Aigooo oennie… sabarlah. Oppa pasti kembali. Atau, bagaimana kalau dia kecantol perempuan rusia, mafia cantik, dan tidak mau kembali ke Korea.”
“Kau jangan macam-macam Yoona, emosiku sudah diaduk-aduk Leeyeon sepanjang hari ini. Jangan membuatku melampiaskannya padamu.”
“Aigoo oennie, kau seram sekali. Bagaimana Teukie oppa bisa tahan menghadapimu.”
“Yoonayaaaaaa!!!!!!!!!!!”
“Ampun oennie!!!!!!!!!!!!!!!”
~
“Nde oennie. Hmmm…. apa? Kaus kaki? Hah? Bagaimana bisa dia pipis sampai menghabiskan kaus kaki segala? Omona Lee Yeonie, kasihanilah ahjumma mu ini… Dimana aku bisa menemukannya? Ini toko makanan oennie. dimana ada yang jualan kaus kaki tengah malam ini? Aigoo.. bungkus saja kakinya dengan kain dulu. Ne… ne… araso ” Yoona menutup teleponnya dan menyelipkannya kedalam kantong hoodienya. Ia segera mendorong kereta belanjaan yang sudah dipenuhi makanan. Oennienya, Taeyon memang sudah kurang waras gara-gara ditinggal suaminya, Leeteuk yang mengurus bisnis minyak di Rusia selama setengah bulan. Taeyon sampai kehabisan stok bahan makanan, dan baru menyadari kalau dia tidak punya apa-apa lagi. Hingga Yoona yang kelaparan dan berkunjung ke rumahnya malah jadi korban disuruh belanja. Untung saja hari sudah malam, para wartawan dan paparazi itu sudah lelah dan tidak lagi mengikutinya. Jadi, dia bisa bebas keluar malam ini.
Yoona POV
Aku melihatnya di sana, sejelas dirinya yang nyata. Dia tersenyum, senyum penuh kemenangan. Tapi, lima tahun yang kami lalui bersama tidak membuatku terdustai oleh senyumnya itu. Sorot matanya memancarkan hal yang berbeda, matanya bersikeras mengabarkan pada dunia bahwa dia tidak baik-baik saja. Aku menatap lagi wall tv di depan toko itu. Heechul oppa mengangkat medalinya, bukan piala seperti setengah bulan yang lalu. Bukan di podium yang sama seperti setengah bulan yang lalu. Pertengahan bulan lalu aku menatap mata itu dari layar televisi, tapi matanya saat itu adalah mata milik orang yang benar-benar bahagia. Kali ini mata itu redup. Cahayanya hilang. Untuk pertama kalinya dalam musim ini, dia tidak berada di posisi pertama. Heechul oppa ada di podium kedua.
“Mianhae oppa….” bisikku.
“Kau mencintainya?”
Aku menatap namja di sampingku. Dia tidak menatapku. Matanya lekat terpaku pada tv di depan kami.
“Im Yoona, jawablah. Apa kau mencintai orang ini?” kali ini dia berdiri menghadapku. Menatapku.
Aku menatapnya dan berkata dengan tegas, “ Nde Jinki~ssi, aku mencintainya.”
“Apa kau ingin membatalkan perjodohan kita?” tanyanya.
Aku menatapnya,”Mungkinkah?”
“Sayangnya tidak. Tapi, kau bukan tipe orang yang mudah menyerah bukan? Apa kau pernah berpikir untuk menghindari perjodohan ini?”
Aku tersenyum,”Nde… aku pernah berpikir begitu.”
Dia menatapku lebih tajam, ada sejuta rahasia di matanya yang hitam jernih itu.
“Tapi aku tidak ingin menghancurkan harapan semua orang yang kusayangi. Aku tidak akan bertindak bodoh hanya untuk keegoisanku sendiri.” Ucapku.
“Tapi kau mencintainya bukan? Kenapa kau tidak berjuang untuk cintamu?” tanyanya.
“Hidupku bukan saja milikku Jinki~ssi. Hidupku milik banyak orang. Appa, kakek, nenek, om, tante, sepupu-sepupuku, sahabat-sahabatku, apa aku bisa mengabaikan cinta mereka untukku hanya karena aku ingin memperjuangkan cinta untuk orang lain?” tanyaku. “aku percaya pada takdir. Jika dia memang untukku, maka akupun akan bersamanya. Tuhan selalu tahu bagaimana seharusnya sesuatu terjadi.”
Onew POV
“Hidupku bukan saja milikku Jinki~ssi. Hidupku milik banyak orang. Appa, kakek, nenek, om, tante, sepupu-sepupuku, sahabat-sahabatku, apa aku bisa mengabaikan cinta mereka untukku hanya karena aku ingin memperjuangkan cinta untuk orang lain? Aku percaya pada takdir. Jika dia memang untukku, maka akupun akan bersamanya. Tuhan selalu tahu bagaimana seharusnya sesuatu terjadi.”
Dia mengucapkan semua itu dengan mudah. Tanpa beban. Apakah dia hidup untuk menyenangkan perasaan orang lain? Sepertinya begitu. Tapi aku hidup bukan untuk itu. Aku punya tujuan lain. Mungkin pada pada dasarnya sama. Tapi, akhirnya tujuan kami berbeda.
“Jadi Jinki~ssi, apakah kau juga sudah jatuh cinta?” tanya Yoona.
Aku menggeleng,”Tidak.”
“Aku punya tujuan lain yang harus kudapatkan sebelum berpikir tentang cinta. Yoona~ssi, untuk mendapatkan tujuanku. Aku membutuhkan bantuanmu. Kurasa kalau kau membantuku, kau juga bisa mendapatkan tujuanmu.”
Kini giliran Yoona yang memandangku dengan tatapan bertanya. Keningnya berkerut. Aku mengambil kantong belanjaan yang ada di tangannya.
“Ayo kita pergi, aku harus menjelaskannya di tempat yang aman.”
Yoona hanya diam dan mengikutiku.
Yoona POV
Jinki membawaku ke sebuah restoran bintang lima yang buka 24 jam. Dia mengambil private room untuk kami. Dia memintaku memesan makanan, dengan senang hati aku memilih makanan yang bisa meredam rasa lapar diperutku.
“Sejauh mana kau tahu tentangku?” tanya Jinki.
“Tidak banyak. Aku hanya tahu nama lengkapmu dan siapa orang tuamu, dan mereka juga bilang bahwa kau namja baik yang paling cocok untukku. Dan seperti kau bilang kemarin. Kau bangsawan.” Aku tertawa retoris.
Author POV
“Aku tahu, ini tidak penting untukmu, tapi aku ingin kau memahami sebaik-baiknya bagaimana posisimu sekarang.”
Yoona mengangguk, memberi tanda agar onew meneruskan.
“Appaku, Lee Baek Woon adalah pemilik perusahaan internasional multisektor, Chongshin.  Aku adalah anak tunggal Appa, jadi aku adalah pewaris tunggal Chongsin. Tapi appa bukan orang yang sederhana dalam mengambil keputusan. Dia dinamis dan sulit ditebak. Aku tahu, bukan tidak mungkin jika dia menyerahkan Chongshin pada orang lain, bukan padaku. Appa selalu mengatakan bahwa apapun yang kukerjakan, aku harus bertanggung jawab pada hal itu. Itulah kenapa aku selalu berusaha melakukan semuanya dengan sempurna.”
“Oh, aku lupa mereka juga menyebutmu ambisius. Ternyata benar.” Sela Yoona.
Onew tersenyum miring.
“ya. Aku memang berambisi untuk menjadi yang terbaik untuk appa. Sama seperti ambisimu. Tapi, kita berbeda dalam satu hal Yoona~ssi. Aku juga berambisi untuk menjadi yang terbaik untuk eomma. Eomma selalu percaya bahwa pada akhirnya appa akan menyerahkan Chongsin padaku. Aku tidak ingin mengecewakannya.”
“Jadi apa hubungannya dengan perjodohan ini.”
“Dua puluh dua tahun ini, aku telah membuktikan bahwa aku bisa bertanggung jawab pada apa yang kulakukan. Aku hampir mendapatkan kepercayaan appa untuk memimpin Chongshin. Hanya satu hal lagi yang harus kulakukan. Menikah. Dan aku harus berhasil dalam pernikahan ini. Hingga appa sepenuhnya percaya bahwa aku bisa bertanggung jawab pada apa yang kulakukan, saat itulah appa akan mempercayakan sepenuhnya Chongsin padaku. Saat itulah tujuan utamaku tercapai. Membuktikan kepercayaan eomma.”
Yoona menatap namja di depannya. Dia tidak pernah menyangka bahwa namja ini punya ambisi yang sangat besar. Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi penentu keberhasilan namja ini.
“Yoona~ssi, bertahanlah untuk perjodohan ini, hingga appa memberikan kepercayaan padaku. Dan jika saat itu tiba, kau bisa pergi. Kau bisa kembali pada kekasihmu itu.”
Yoona menatap Jinki tidak percaya. Dia tidak percaya bahwa masih ada harapan baginya untuk bersama lagi dengan Heechul. Mendapatkan lagi cinta sejatinya.
“Kau serius Jinki~ssi?” tanyanya masih tak percaya.
Jinki mengangguk,”Ya.”
“Jika nanti appa menyerahkan Chongshin padamu, aku boleh pergi. Aku boleh kembali pada kehidupanku yang dulu?”
“Ya. Aku akan melepaskanmu. Tapi sementara ini kau harus jadi istri yang baik didepan keluargaku. Hmm…. sebenarnya bukan hanya didepan keluargaku, tapi dihadapkan semua orang. Kau tahu kan siapa saja yang mengawasi kita sekarang?” tanya Jinki.
“Ya. Seluruh penjuru Korea.” Jawabku miris.
Perbincangan singkat malam ini ternyata telah membuka banyak rahasia. Jinki yang selama ini selalu tersenyum dan tampak bahagia, ternyata mempunyai banyak tekanan dan tuntutan serta ambisi yang besar. Tapi ambisinya juga menguntungkanku, paling tidak aku tahu bahwa dia punya tujuan, dan kalau dia sudah mendapatkannya, aku pun bisa mendapatkan tujuanku, kembali pada Heechul. Apa yang kuucapkan pada Taeyon pada malam pertunangan itu terbukti, Jika Tuhan telah menakdirkan Heechul untukku, maka apapun yang terjadi aku akan kembali pada Heechul.
TBC

11 thoughts on “THE OTHER SIDE OF LOVE (part 1)

  1. Like this story😀
    entah knapa bcanya kebawa suasana pernikahan Prince William sma Kate. whehehe, tpi kayanya lebih menjurus ke cerita Prince Charles sma Lady Diana,
    ceritanya bgus😉 Lajutinnya jangan lama-lama yaa😀

    Like

  2. Wow!
    It`s amazing!
    gla!
    kren bngd!
    btw yg awal2an ntu q mau nanya “dr abng kyu u/ onew dr album…”
    mkasud nya?
    q gak ngerti…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s