LOCK KEY HEART (1 of 2)


LOCK KEY HEART
Cast :
Kim Kibum as Key
Lee Jieun (IU) as Jieun (author terinspirasi dari duet Key & IU)
And other cast
Genre:semua umur
Key POV

Hari ini adalah hari bebas pertamaku, setelah sebulan penuh menjalani syuting yang melelahkan. Aku ingin rileks, melemaskan seluruh otot dan syaraf-syaraf tegang yang mengikat kuat hidupku, sesak. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall. Aku menatap Minho yang duduk di depan laptop dan sibuk bermain game piala dunia online. Kutemukan nama Kimyoung di ujung layar monitornya, seorang cewe? Huh, jangan berharap bisa menang dari Minho. Aku, Taemin, Onew, Jonghyun, 13 sunbae super junior dan seluruh staf SM Entertaiment, bahkan Lee So Man saja tidak pernah berhasil mengalahkannya dalam game sepak bola tersebut. Apalagi dia yang seorang Yeoja?
Udara segar Seoul berhembus di wajahku. Aku malas mengenakan masker seperti kebiasaanku, lagipula selama ini aku mengenakan masker hanya karena Nicole yang tidak ingin acara belanjanya terganggu. Oh, Nicole! Dia adalah sahabat terbaikku, aku tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya hubungan kami. Dia tipe idealku, rapi, cantik, fashionable, dan terawat. Tapi aku masih ragu, apakah dia memiliki perasaan yang sama sepertiku, karena akhir-akhir ini dia sering jalan bersama Jinwoon hyung, yang juga sahabatnya. Mungkin aku akan menunggu, hingga saat yang tepat sebelum aku mengungkapkan perasaanku padanya.
~
Jieun POV

Hari senin adalah hari yang melelahkan, suasana liburan yang santai dan membuatku berleha-leha di rumah masih menyeret-nyeret semangatku untuk bekerja. Aku seperti bermain tarik tambang dengan diriku sendiri. Salah satu bagian dari diriku ingin menikmati ranjang empuk di rumah, sebagiannya lagi haus akan dunia yang menawarkan seribu cerita dan kehangatan. Untungnya aku bisa memaksa kakiku untuk terus menyusuri rak dan menyusun kaset-kaset yang baru datang.
Dan saat itulah aku melihatnya, dia memanggilku.
“Ya! Apa kamu tahu di mana rak yang menyediakan album baru Shinee?” tanyanya.
Aku tekejut karena sikapnya yang spontan dan agak mengintimidasi.
“Nde…. mari saya tunjukkan.” Ucapku.
Dia mengikutiku berjalan ke rak best seller, di mana mini album itu terpajang rapi.
“Ini raknya.” Ucapku seraya berjalan menjauh. Tapi dia kembali memanggilku.
“Ya! Aku masih memerlukanmu! Kenapa kamu main kabur begitu saja, pekerja seperti apa kamu ini!” semprotnya galak.
Ssshhh… aku mengatur napasku dan memasang senyum terbaik.
“Apa yang bisa saya bantu tuan?” tanyaku.
“Sejak kapan album ini nangkring di rak best seller?” tanyanya.
Aku mengingatnya sebentar, tapi tidak sulit untuk menjawabnya, karena aku masih ingat hari itu, ketika toko kami yang besar dan megah ini disesaki oleh ratusan remaja cewe yang berebut untuk mendapatkan album ini. Hingga toko tutup masih saja ada yang mengantri di depan, dan harus kecewa karena stock album sudah ludes.
“Sejak hari kedua Tuan. Sebenarnya di hari pertama kami tidak mampu melayani permintaan pengunjung untuk album ini.” Jawabku.
Dia tersenyum puas.
“Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanyaku. Sejujurnya aku kesal pada sikapnya yang seenaknya itu.
“Apa kamu punya album ini?” tanyanya.
Aku menatapnya heran. Apa pentingnya untuk tahu aku punya album ini atau tidak.
Aku menggeleng.
“Kenapa? Bukankah ini album yang diburu banyak orang? Itu artinya ini adalah album yang bagus bukan? Kenapa kamu tidak memilikinya?” tanya pengunjung itu.
Aku menatapnya bingung, mencari jawaban untuk pertanyaannya.
“Saya sudah dengan mudah bisa mendengarkan semua lagu di album ini, karena setiap hari album ini ada di dalam list lagu yang diputar di toko kaset kami, sepanjang hari.” Jawabku.
“Tapi kamu tidak bisa menghayatinya bukan? Karena kamu mendengarnya sambil sibuk bekerja. Padahal kamu akan menemukan nilai yang berharga di setiap lagu jika kamu mendengarkannya di rumah, di taman, dalam keadaan tenang,” dia menceramahiku.
Aku menatapnya kesal, tapi masih berusaha tersenyum.
“Baiklah Tuan. Tapi apa anda datang ke toko ini untuk membeli album itu atau untuk meminta saya membelinya?” tanyaku.
Dia menatapku tajam. Tepat di kedua mataku. Membuatku khawatir dia akan tersinggung oleh pertanyaanku tadi.
“Maafkan saya… Saya tidak bermaksud…”
Tapi dia sudah menarik tanganku, menyeretku kearah menejer yang berdiri di depan. Apa yang harus kulakukan? Dia akan melaporkanku kepada menejer Jung yang galak dan memecatku dengan senang hati kalau pekerjaanku tidak beres, kalau aku melayani pelanggan dengan tidak baik, bagaimana kuliahku, bagaimana aku bisa makan kalau aku dipecat ? Rupanya aku salah, dia tidak melaporkanku pada pak menejer. Tapi dia membawaku ke kasir dan dia membayar album itu sebelum menyerahkannya padaku.
“Kamu harus mendengarkan lagu-lagu yang ada di sini, sebelum kamu tidur, saat kamu tidak melakukan apa-apa.” Aku tidak tahu apa tujuannya melakukan ini padaku, bertanya macam-macam, dan memberiku sebuah album. Tapi dia tersenyum dan mengacak lembut rambutku.
“Bekerja yang baik ya. Fighting!” ucapnya.
Bakan aku tidak sempat mengucapkan terimakasih padanya. Dan ketika aku memandangi cover album itu dengan seksama. Aku baru menyadari kalau dia, lelaki yang memberiku album ini, adalah salah satu dari personil grup Shinee. Boy band yang albumnya berada di tanganku.
~
Key POV

Entah kenapa aku menjadi tertarik apada yeoja itu. Padahal dia jauh sekali dari tipe idelaku yang seperti Nicole. Gayanya berantakan, tidak secuil pun masuk dalam kategori fashionable. Dengan seragam toko saja dia masih sangat berantakan, bajunya longgar, roknya timpang, dasinya miring,  dan wajahnya, sama sekali tidak tersentuh make up.
Aku tidak menyangka karena kedatanganku di toko itu disambut dengan seorang pekerja yang menyenandungkan lagu Hello dengan suara yang lumayan, walaupun tidak stabil, pekerja itu duduk bertumpu pada lututnya, dan menyusun kaset di rak di depannya, dia terlihat begitu asyik, santai, dan apa adanya.
Aku tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup, hingga dia bersikap biasa saat melihatku. Padahal fotoku terpampang jelas didepannya, di album cover penjualan best seller. Hingga aku sadar, dia sama sekali tidak mengenaliku.
Semua itu membuatku penasaran, mimik wajahnya yang lugu dan kebingungan saat aku membelikannya album di toko tempatnya bekerja, mimik itu, aku menyukainya, dan aku merindukannya. Suasana hatiku menjadi baik setelah aku bertemu dengannya. Padahal biasanya perlu seharian belanja untuk bisa membuat suasana hatiku kembali nyaman. Minho yang masih duduk di depan laptop bingung melihatku datang lebih cepat dari biasanya dan tanpa membawa belanjaan apapun.
“Darimana Hyung?”
“Mall.” Jawabku.
“Aneh sekali hyung tidak belanja apapun.”
“Aku belanja sesuatu.”
“Mana?” tanya Minho sambil melirik-lirik ke belakangku.
“Aish… sudah aku berikan pada seseorang.” Jawabku.
Minho menatapku curiga,”Hyung pergi ke mall, belanja satu barang dan memberikannya pada sesorang. Seistimewa apa orang itu hingga bisa membuat hyung melakukan hal yang sama sekali bukan hyung?”
Aku menatap Minho kesal, dan kemudian tersenyum miring, pandanganku jatuh pada layar laptop yang menampilkan kata LOSE, aku menemukan sesuatu untuk membalasnya,”Seistimewa apa yeoja itu sampai kau sengaja mengalah darinya?” tanyaku.
Minho terdiam, dan wajahnya yang putih bersih itu berubah merah. Seorang minho yang selalu terobsesi pada kemenangan rela mengalah pada seorang perempuan dalam permainan yang selama ini adalah lambang kedigdayaannya. Bukankah kami sedang berada di situasi yang sama?^^
Dan kaki ini membawaku melangkah ke toko itu lagi keesokan harinya. Tapi kali ini aku tidak masuk kedalam. Aku hanya mengamatinya dari cafe yang ada di seberang toko itu. Berjam-jam aku duduk di sana, mengamatinya, tidak melepaskan pandanganku darinya. Yeoja itu sangat lincah, agresif, dan ceroboh. Beberapa kali dia hampir terjatuh karena tersandung meja. Dia bekerja dengan semangat. Melayani para pembeli dengan senyum ceria, tidak dibuat-buat. Dia juga sering menyingkir ke pojok toko, ketika pengunjung berkurang, dan membaca sesuatu, sangat berkonsentrasi, wajahnya yang polos dan berusaha keras itu membuatnya terlihat sangat lucu. Apa aku menyukai yeoja ini? Bahkan aku tidak tahu siapa namanya? Kemarin dia tidak mengenakan name tag seperti teman-temannya.
Aku mengikutinya pergi, saat matahari berada di puncak kepala. Dia berjalan cepat dan hampir terjatuh saat melompat naik ke bis. Aku ingin menangkapnya, tapi aku menahan diri agar tidak ketahuan. Dia mengeluarkan bukunya lagi di dalam bis dan mulai membaca, headphone kecil terpasang ditelinganya, dan aku menebak, dia sedang mendengarkan lagu dari album kami, Hello.
Aku tidak menyadari bahwa bis itu berhenti di depan terminal Universitas Nasional Korea, dia berlari kecil menuju sebuah komplek gedung yang didepannya tertulis, Fakultas Kedokteran. Apa? Jadi cewe ceroboh itu adalah calon dokter? Aku mengenakan maskerku. Takut orang-orang menyadari keberadaanku, walaupun aku sudah mengenakan hodie yang hampir menutupi seluruh wajahku.
Dia masuk ke sebuah ruang kelas. Aku menunggunya, dan setelah satu jam dia keluar dan berlari ke kelas lain, ke perpustakaan, berkonsultasi pada dosen, berbincang serius dengan kakak angkatan, wow! Apa yang membuatnya sanggup melakukan ini semua? Dia adalah yeoja yang penuh energi! Membuatku terpesona.
Setelah menjelajahi fakultas kedokteran, dia kembali naik bis dan turun di sebuah supermarket. Dia berbelanja makanan, tidak banyak, kalau di dorm kami, makanan itu tidak cukup untuk kami makan sekali. Apalagi ada Taemin yang masih dalam masa pertumbuhan dan makan dengan lahap. Aku tersenyum melihat dinding toko supermarket itu memajang foto kami yang selebar dinding. Entah mengapa, aku begitu menyukai hal itu. Aku suka jika karyaku dihargai. Aku suka jika kita bisa berbagi.
“Ya! Sunbae!” seseorang menepuk pundakku pelan, aku menoleh, dan aku menatap yeoja yang seharian ini kuikuti berdiri disampingku, menyadari keberadaanku.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Bagaimana kau bisa mengenaliku?” tanyaku.
Dia hanya tersenyum dan membungkuk,”Gumawo atas CDnya, aku sudah mendengarnya, dalam keadadan tenang, sebelum tidur, dan well… itu adalah kumpulan lagu yang bernilai. Gumawo sunbae.” Ucapnya.
“Hmmm… bisakah kamu tidak bersikap terlalu formal begitu. Berapa usiamu?”tanyaku.
“18.” Jawabnya.
Mwo? 18 tahun? Sama seperti Taemin? Dan dia adalah seorang mahasiswa kedokteran? Apa yang membuatnya bisa sangat cerdas untuk bisa masuk fakultas paling sulit ditembus itu dalam usia semuda ini?
“Panggil saja aku Kibum”
“Berapa usia sunbae?” tanya yeoja itu, mata bulatnya yang coklat menatapku dalam.
“20” jawabku.
“Mana bisa aku memanggil sunbae hanya dengan nama saja, sedangkan usia kita terpaut begitu jauh. Aku merasa nggak nyaman.” Jawabnya polos.
“Baiklah, kalau begitu panggil saja aku oppa.” Ucapku. Dia masih ingin membahas hal itu, tapi aku menariknya pergi.
“Hei, sunb.. oppa! Apa kau punya hobi menggembala? Kenapa kau selalu menarik-narikku seperti ini?” ucapnya dengan sebal.
“Sudahlah. Aku lapar. Temani aku makan.” Ucapku seenaknya.
Yeoja itu menghentakkan tangannya sehingga terlepas dari genggamanaku.
“Aku tidak mau.” Ucapnya tegas.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku sudah belanja untuk makan malam ini, kalau aku makan diluar, bahan makanan ini akan mubazir, karena aku tidak punya kulkas yang bisa membuatnya awet sampai besok pagi. Aku tidak suka membuang-buang makanan.” Jawabnya.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita masak makanan itu bersama.”
“Oppa bisa masak?” tanya yeoja itu tidak percaya.
Hufh, rupanya dia memang orang yang sangat buta akan dunia kpop. Dia tidak mengenaliku, tidak sama sekali.
“Kita lihat saja.” Ucapku,”Ayo pergi.”
Yeoja itu hanya diam dan memandangku. Apa dia takut padaku?
“Ya! aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin berteman denganmu…. bolehkan?” tanyaku.
Dia terus menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat kubaca, namun akhirnya dia tersenyum dan berkata,”Baiklah oppa, kita berteman. Dan… ngomong-ngomong teman barumu ini punya nama, Lee Jieun imnida.” Ucapnya sambil membungkuk. Dia mirip Victoria nunna, hobi menunduk yang terlalu dalam. Membuatku sungkan, dan merasa ingin melindunginya.
Rumahnya berada di antara toko-toko yang menjual peralatan tradisional korea. Wilayah itu terlihat ramai, dan Jieun terlihat akrab dengan tetangganya. Dia mengenalkanku pada beberapa tetangganya yang mayoritas adalah kakek atau nenek yang sudah menganggap Jieun sebagai cucu mereka.
“Tolong jaga uri Jieun ya…” ucap kakek Han padaku. Aku hanya tersenyum dan membungkuk. Sedangkan Jieun berusaha keras menjelaskan pada kakek bahwa kami hanya berteman. Setelah berusaha sekuat tenaga, namun tidak menghasilkan apapun selain senyum dan binar mata kakek yang menegaskan kalau pikirannya lah yang benar, kami pamit dan menuju rumahnya.
“Maafkan kakek Han ya oppa!” ucapnya.
Aku hanya tersenyum,”Bukan masalah.” Jawabku.
Rumahnya yang sederhana itu terlihat sangat cantik, sangat berbeda dari kepribadiannya yang ceroboh dan berantakan.
Rumah itu sangat rapi dan didominasi warna-warna kalem. Hijau muda dan kuning menyelimuti dinding-dindingnya, di halaman yang sempit dipenuhi bunga yang tertata rapi, begitu juga di dalam rumah terdapat beberapa pot yang tersebar di pojok, bahkan di tengah rumah. Bagaimana dia bisa mendekorasi ruangan secantik ini sedangkan dia tidak bisa berjalan dengan benar?
Satu hal lagi yang membuatku terpana. Tidak sedikitpun aku bisa menyentuh bahan makanan itu. Dia memaksaku untuk duduk dan menunggu, sementara Jieun berkelontangan di dapur. Aku pasrah dengan hasil masakannya nanti. Dia memasak seperti sedang main drumband saja. Sangat ribut.
Aku menatap barisan buku yang tersusun rapi dirak, di pojok ruangan. Buku yang sangat beragam, tidak hanya buku-buku tentang kedokteran tapi juga seni, sastra, novel, cerita, bahkan terselip komik donal bebek dan hello kitty di sana. Pribadi yang kompleks, batinku. Di rumahnya tidak terdapat televisi, tapi aku tidak merasa bosan berada di sana, karena suasananya sangat nyaman dan terbuka. Dia memasak dengan cepat, tidak sampai 15 menit, dia sudah menghidangkan beberapa masakan di meja makan. Bagaimana bisa bahan makanan yang sedikit tadi bisa menghasilkan masakan yang beragam seperti ini? Dan ketika aku mencicipi masakannya, aku tahu dia lebih baik dariku dalam hal memasak. Dia bertalenta.
Kami mengobrolkan banyak hal bersama. Aku memaksa untuk mencuci piring, dia menolak, namun aku bersikeras hingga dia menyerah. Dan waktu begitu cepat berlalu hingga saatnya aku pulang. Aku berjanji akan sering berkunjung dan menjadi temannya.
“Belajar yang baik ya!” pesanku.
Dia mengangguk,”Gumawo oppa!” ucapnya.
Aku menatapnya untuk terakhir kali, berat rasanya melangkahkan kaki dari tempat ini, tapi aku tahu dia akan baik-baik saja. Pesan kakek Han terngiang-ngiang di pikiranku, ya! Aku akan melindunginya, kakek. Karena kurasa hatiku sudah menjadi miliknya, jadi aku harus menjaga hatiku yang ada padanya. J
Aku menatap layar handphone ku, tertulis nama kontak ‘Jieun’, ingin sekali rasanya aku menelponnya dan menatap wajahnya melalui video call. Tapi dasar Jieun, karena dia takut lupa menaruh handphone, dia mengabaikan handphone dengan fitur-fitur canggih, dan puas dengan hp zaman batu yang cuma bisa telepon dan sms.
“Kan sayang kalau hilang oppa.” Katanya dengan wajah yang polos itu.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakkku dan Onew hyung berdiri dibelakangku dan tersenyum.
“Kenapa tidak kau temui saja dia? Ajak ke sini! Lagipula kau tidak pernah memperkenalkannya pada kami, padahal kami ingin tahu bagaimana orang yang merebut hati uriKibum.” Ucap onew.
Aku tidak pernah ingin membawa Jieun dalam kehidupan artisku karena itu akan membawa dampak yang besar. Netizen, pemburu berita, para wartawan dan fans akan ribut. Ini akan menjadi sebuah skandal. Aku tidak ingin hubungan kami jadi rusak karena hal itu.
Tapi entah kenapa, ucapan onew hyung tadi membuatku tergerak untuk membawanya kemari. Lagipula ini hanya konser mini yang diselenggarakan produk handphone dimana kami adalah brand utamanya. Tidak akan ada banyak fans. Dan dengan banyaknya staf yang lalu lalang, bisa saja aku meminta staf card untuk Jieun, jadi tidak akan ada yang curiga kalau Jieun adalah tamu istimewaku.
Onew oppa memberikan kunci mobil padaku, aku tersenyum berkata,”Gumawo hyung.”
“Jangan ngebut!” pesannya. Aku mengangguk dan segera pergi. Aku tahu Jieun sebentar lagi akan pulang dari kuliah, jadi aku memarkir mobil di seberang jalan di depan fakultas kedokteran. Aku benar, tidak lama kemudian Jieun muncul dengan rok hijau yang sangat lebar dan kemeja putih yang kedodoran, sangat tidak matching dengan sepatu kedsnya yang berwarna hitam. Hampir saja aku turun untuk menjemputnya, ketika seorang namja dengan jas lab menghampiri Jieun dengan sepedanya. Lelaki itu seniornya. Lelaki itu terlihat sangat akrab dengan Jieun, dan sesuatu yang berat menimpa hatiku ketika lelaki itu mengusap rambut Jieun dengan gerakan yang jelas menunjukkan kalau dia memiliki hubungan spesial dengan Jieun. Dan mimik muka Jieun ketika berbicara pada lelaki itu, aku tidak pernah melihat wajah sebahagia itu, semerona itu. Hatiku seperti dihujam oleh rentetan duri-duri tajam, berdarah, dan lenyap, ada rongga kosong yang teramat sakit di sana. Dan aku hanya bisa diam ketika Jieun naik ke boncengan sepeda namja itu, dan pulang bersamanya.
Benar bahwa aku menyukainya. Tapi, bukan berarti dia bebas mempermainkan hatiku. Kalau dia sudah punya seorang namja, kenapa dia msih membuka peluang untukku. Bersikap seolah dia masih sendiri. Memang benar kami tidak pernah membahas masalah ini, tapi kupikir itu karena kita sama-sama mengerti kalau memang hubungan kami adalah hubungan yang baik, bukan sebuah perselingkuhan, atau pelarian. Buku-buku jariku memutih menggenggam setir mobil Onew hyung, dan kali ini aku tidak menaati apa yang Onew hyung katakan, aku melaju dengan kecepatan penuh, hatiku rapuh.
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, aku mengabaikan semua sms dan telepon dari Jieun, aku akan melupakannya. Aku sudah berniat untuk itu. Masih banyak wanita lain di dunia ini yang jauh lebih baik darinya. Aku tidak mengerti bagaimana aku bisa sempat menyukai yeoja berantakan, ceroboh, dan penghianat seperti Jieun.
~
Jieun POV

Apakah Kibum oppa terlalu sibuk, sehingga dia tidak membalas satupun smsku, atau mengangkat satu kali saja teleponku. Tidak! Kibum oppa tidak pernah sesibuk ini untuk tidak menghubungiku atau merespon usahaku untuk menghubunginya. Atau mungkin saja dia benar-benar sangat sibuk, lagipula kudengar SHINee akan mengadakan konser tunggal pertama mereka, Kibum oppa pasti harus berlatih keras untuk itu. Hmmm… tidak ada slahnya sedikit menghiburnya dengan memasak kimchi manis pedas kesukaannya.
Suasana gedung itu ramai, banyak orang lalu lalang, mungkin mereka sibuk mempersiapkan konser itu. Aku duduk di depan ruangan dimana Kibum oppa biasa latihan. Setelah dua jam menunggu, akhirnya mereka keluar juga. Kibum oppa terlihat sangat lelah, pakaiannya basah oleh keringat, aku tersenyum padanya, tapi dia tidak tersenyum, bahkan dia tidak melihatku, dia berjalan begitu saja, berbalik arah, menjauhiku, meninggalkanku.
“Kibum oppa!” panggilku.
Dia tidak menoleh dan berjalan lebih cepat. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia marah padaku? Hampir saja aku mengejarnya, tapi seorang namja yang kutahu bernama Minho menahanku.
“Jieun, sebaiknya jangan sekarang. Kibum dalam keadaan tidak baik saat ini.” Katanya.
“Kenapa? Apa dia cedera?” tanyaku.
Namja itu mengangguk,”Dia cedera. Sangat parah.”
“Tapi dia terlihat baik-baik saja.” Protesku.
“Dia mengalami cedera yang sangat parah di sini.” Namja itu menempelkan tangannya di dada sebelah kiri,”di hatinya, di jantungnya, dibagian dalam dirinya, yang tidak bisa diobati dengan pengobatan medis manapun.” Ucapnya.
“Apa ini berkaitan denganku?” tanyaku.
Namja itu menunduk, kemudian menatap mataku,”Aku dan tim sangat bahagia ketika Kibum berjumpa denganmu, dia terlihat lebih baik. Tapi setelah apa yang terjadi padanya sekarang, melihatnya terluka parah seperti itu, kami ragu, apakah dulu kami benar ketika berharap dia pernah bertemu denganmu. Maafkan aku…” ucapnya. Kemudian dia berjalan pergi, juga meninggalkanku.
Aku perlu penjelasan. Sungguh. Bagaimana aku bisa menerima semua ini jika aku tidak mengetahui penyebabnya? Tapi kurasa mereka tidak akan repot-repot menjelaskan padaku. Mungkin inilah yang harus kuterima, aku tahu ada resiko ketika kau berteman dengan seorang artis, penyanyi terkenal, aku tidak tahu kalau resiko itu bisa separah ini, menghancurkan pertahanan diriku. Tapi aku sudah biasa begini. Ditinggalkan tanpa penjelasan. Aku bukan tipe orang yang dikejar dan diagungkan. Aku adalah tipe orang yang mudah dilupakan. Jika itu yang terbaik untuk Kibum oppa, baiklah, aku akan pergi, dan tidak akan menemuinya lagi.
Bulan sudah muncul dilangit Seoul yang hitam pekat. Aku berjalan menuju halte bus tak jauh dari gedung SM Entertaiment. Tapi langkahku terhenti ketika mendapati seorang anak kecil menangis dipinggir jalan. Sendirian. Bajunya nampak compang-camping. Mungkinkah dia tersesat?
“Annyong… kenapa kamu menangis sayang?” tanyaku.
Dia tidak mengacuhkanku dan terus menangis, lalu aku sadar kalau dia meremas perutnya. Mungkinkah dia lapar? “Apa kamu lapar?” tanyaku.
Dia mengangguk. Aku memeluknya, “Nuna punya makanan untukmu, ayo kita duduk di sana!” ucapku sambil menunjuk bangku yang ada di depan toko. Dia mengangguk dan berjalan mengikutiku.
Dia makan dengan lahapnya. Untung saja aku memisahkan kimchi manis dengan bumbu pedasnya, sehingga dia tidak perlu memakan kimchi yang pedas. Setelah selesai makan wajahnya mulai berwarna, tidak sepucat tadi. Namun, dia masih terlihat ketakutan.
“Orang tuamu dimana sayang?” tanyaku.
“Aku nggak tau nuna…. aku sedang asyik melihat mainan di sebuah toko, lalu tiba-tiba ibuku hilang. Aku mencarinya kemana-mana, tapi dia tidak ada.” Jawabnya.
“Dimana rumahmu? Bagaimana kalau nuna antar kamu ke sana?” tawarku.
Tapi wajahnya kembali keruh,”Aku tidak tahu dimana rumahku….” dan tangisnya kembali pecah.
“Cup..cup… jangan menangis adik manis.”
Apa yang harus kulakukan sekarang? Ya! Polisi! Ibu adik ini pasti melaporkan kehilangan anaknya pada polisi. Kalau aku mengatarnya kesana, mungkin polisi bisa mengantar anak ini kerumahnya, pada ibunya.
“Siapa namamu sayang?” tanyaku.
“Jung Chanhyuk.” Jawabnya sambil terisak.
“Jangan menangis, anak pintar tidak boleh menangis. Nuna akan mengantarmu kepada orang yang mungkin tahu dimana ibumu berada. Kita akan menemukan ibumu. Okey? Tapi kamu tidak boleh menangis. Karena ada nuna di sini. Nuna akan menjagamu!” ucapku.
Ajaib. Dia berhenti menangis dan mengangguk. Dia menggenggam tangaku erat. Aku memeluknya. Kemudian kami berjalan menuju kantor polisi tak jauh dari tempat itu. Ternyata benar. Ibunya melaporkan kehilangan Jung Chanhyuk, tapi tidak disini, rupanya Chanhyuk hilang di mall yang jauhnya 5 km dari sini. Aku juga bingung bagaimana Chanhyuk bisa sampai di sini. Dia pasti lelah karena berjalan jauh untuk mencari ibunya. Dia tertidur di pangkuanku, sementara polisi sibuk menghubungi kantor polisi di mana ibu Chanhyuk melaporkannya. Rupanya Ibu Chanhyuk masih ada di situ, menunggu kabar mengenai Chanhyuk. Dan beberapa menit kemudian, mobil polisi dan sebuah mobil pribadi datang, Ibu Chanhyuk langsung memeluk Chanhyuk, Chanhyuk terbangun dan memeluk ibunya erat. Setelah itu dia menghampiriku.
“Nuna, terimakasih sudah menolongku menemukan ibu. Terimakasih sudah menjagaku. Terimakasih juga untuk kimchinya, kimchi nuna adalah kimchi terenak kedua, setelah kimchi ibu.” Ucapnya sambil memelukku.
“Terimakasih juga sayang.” Ucapku. Aku tersenyum dan mengecup pelan keningnya, bukan hal yang mudah bagi anak berusia 6 tahun terpisah begitu saja dari ibunya. Dia pasti akan sangat ketakutan beberapa hari ini. Tapi dia anak yang kuat. Aku tahu itu.
Ibu Chanhyuk menyalamiku dan memelukku erat, beliau mengucapkan terimaksih padaku, beliau juga minta maaf kalau Chanhyuk merepotkanku. Aku tersenyum dan berkata kalau Chanhyuk tidak merepotkanku. Dia adalah teman baru yang sangat baik dan kuat. Aku bangga padanya. Aku juga berpesan pada ibu Chanhyuk untuk tidak meninggalkan chanhyuk sedikitpun dalam beberapa hari ini, dia harus selalu merasa aman dalam lindungan ibunya, atau dia akan mengalami depresi berat.
Ibu Chanhyuk berterimakasih padaku sekali lagi. Beliau menawarkan untuk mengantarku pulang, tapi aku menolaknya, setelah aku tahu arah rumah kami berlawanan, itu akan membuat Chanhyuk terlambat sampai ke rumah. Padahal lebih cepat dia sampai ke rumah itu akan lebih baik untuk membuat dia kembali mendapatkan perasaan aman.
Aku melambai pada Chanhyuk dan Ibunya yang juga melambai padaku dari dalam mobil. Dan setelah mobil itu berlalu, aku mendapati sosok seorang namja berdiri di seberang jalan. Kibum menatapku dengan tatapan terluka.
~
Key POV

Aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu padanya lagi. Aku berjanji tidak akan melukai hatinya lagi. Mana bisa aku melukai hati setulus dan seputih itu? Hati seorang yeoja yang rela menunggu dikantor polisi hanya agar anak yang ditolongnya tidak merasa takut dan merasa nyaman? Padahal dia bisa saja pergi setelah mengantar anak itu ke kantor polisi. Polisi pasti bisa menjaga anak kecil itu. Tapi Jieun tidak melakukannya, dia menunggu bersama anak itu, karena dia tahu ditinggal sendirian di kantor polisi akan membuat anak itu takut.
Jieun, kenapa kamu selalu begitu? Apa yang membuat hatimu sebening itu untuk berkorban? Kau membuatku terlihat sangat buruk. Aku tidak peduli apa dia sudah punya namja. Selama dia belum menikah dengan namja itu. Aku akan berjuang untuknya. Ya. Aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini. Seorang gadis seperti dia. Aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Kerlip kota seoul terlihat jelas dari sini, aku duduk di atas bangku taman dengan Jieun duduk disampingku. Kotak bekal itu masih ada digenggamannya.
“Maafkan aku.” Ucapku.
Jieun menarik napas dalam.
“Apa salahku oppa? Kenapa kau tidak menghubungiku dan menjauh dariku?”
Aku terdiam. Aku cemburu Jieun. Aku marah. Aku tidak suka kau bersama namja lain. Tapi aku tidak bisa mengucapkan semua itu. Rasa bersalah masih melesak di hatiku.
“Anggap saja aku melakukan kebodohan terbesar dalam hidupku, dan aku meminta maaf untuk itu.” Ucapku.
“Jika itu adalah kebodohan oppa, kenapa orang mengatakan kalau aku yang membuat oppa terluka? Semua pasti datang dariku? Pasti aku melakukan kesalahan kan oppa?” ucapku.
“Tidak Jieun. Ini adalah kesalahanku. Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu padamu.”
Jieun diam dan air mata mengalir dipipinya, aku tersentak, begitu kejamnya aku karena membuat wanita yang kucintai menangis.
“Maafkan aku oppa…. seharusnya aku tahu kamu sibuk, seharusnya aku tidak terus menghubungimu. Seharusnya aku mengerti akan kondisimu. Pasti kamu kecewa karena aku mengganggumu, mengahancurkan konsentrasimu untuk latihan yang berat itu.” Ucapnya.
Tuhan…. apa yang harus kulakukan? Aku sudah membuat yeoja ini menangis. Yeoja yang hatinya seharusnya kujaga malah menangis karena kebodohanku.
“Sudahlah Jieunnie… jangan menangis, aku tidak ingin melihatmu menangis. Itu membuatku merasa sangat buruk.” Aku menghapus air mata yang mengalir dipipinya dengan kedua tanganku, kemudian aku menggenggam tangannya”Lee Jieun! Berjanjilah untuk tidak menangis karenaku.” Ucapku sambil menatap kedua mata coklatnya dalam.
Dia menatapku dengan penuh kebingungan, tapi dia akhirnya mengangguk.
Aku memeluknya, dia adalah anugrah terindah untukku, dan aku sudah melukainya, tapi aku berjanji, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan menjaganya, menjaga hatinya yang sangat tulus itu. Lee Jieun seandainya kau tahu betapa aku mencintaimu.
TBC
Please give more comment for SHINee’s FF;)

20 thoughts on “LOCK KEY HEART (1 of 2)

  1. Senengnya nemu FF Key di email,langsung aja tak publish..hhehe
    gomawo thor :p

    kayaknya bakalan seru ini..aku mau kerja di toko kaset aja ah, sapa tau Kyu oppa mampir ke toko kaset..hahaha :p
    dan kayaknya hrs ada yg diralat di paragraf pertama. Ga ada yg bisa ngalahin minho maen game ? yakin ? Jelas2 oppaku the master of the game..kakaka Masak menang dari kyu oppa ? #pllaaakk cerewet :p

    Ditunggu ya FF Dubu oppanya, skrg kesengsem juga sama Dubu..hehe :p

    Lanjutannya jngan lama2 ya thor, nanti aku keburu intensif snmptn..hehe😉

    Like

    1. gumawo oennie dah mau publish. *hug oennie*😀
      hahaha…. iya oen, kali aj kyu nyasar ke toko kaset. tpi kyanya dy lebih sering nyasar ke toko game deh… jadi oennie part time d sna aj y..😀
      mino mah lebih jago utk sgala hal yg berkaitan dgn bola. kyu oppa mah, lewaaaaaatttt… *digebukin dhaniar oennie*:p
      ndeee…. next part nya akan sgera dtaaang… *semedi nyari inspirasi* ^_^
      gumawo oenniee…..

      Like

    2. hahaha..iya iya..
      ke toko game :p
      jiiiaaa…aku kan msh skola, ga sempet part time..haha :p

      iya minho pinternya maen bola, kalo berurusan sm dunia game, tetep kyu lah jagonya..haha

      Like

    1. gumawo jongielovers~ah.
      aq jg suka bget msangin mreka brdua, gra” performnya nyanyi lagu love letter berdua. romantis abiiieessss…. ^_^
      lebih cocok key sma chingu?! ah masa….??? *dilempar ke segitiga bermuda* >_<
      okay… okay… ntar q bkin lg. d tgu ya…
      gumawoooo….🙂

      Like

  2. suer tekewer-kewer keren banged… ne adalah salah satu FF yng menurutku paling asyik bwt dibaca, dari lima FF lainnya….
    lanjut teruss,,,,, jangan kelamaan next partnya. ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s