Love Never Dies


Love Never Dies

cast : Yoona,Donghae
genre : Romance,Sad
author : Elfishysparkyu

“Yoong,jangan lari-larian seperti itu.” seru Donghae khawatir,ditangkapnya lengan Yoona pelan. “Berhenti,aku mohon.” pintanya.
“Kenapa?tenanglah Donghae oppa,aku tidak akan mati sekarang.”
“Ssstt,kau ini bicara apa?” ditaruhnya telunjuknya pada bibir mungil Yoona. “Jangan bicara seperti itu lagi.”
Yoona tersenyum,masih tampak cantik walau dengan wajah pucatnya. “Apa kau takut oppa?” tanyanya.
Donghae tetap membatu.Tak sanggup untuk menjawab.Ia bahkan tak mampu menatap mata gadis didepannya.Ia terlalu takut segala kegalauan dihatinya akan terbaca.
“Aku saja tidak pernah takut oppa.Jika saatnya tiba aku ingin pergi dengan tersenyum.”
“Yoong..” Donghae menarik Yoona dalam pelukannya.Menenangkan gadis itu,tapi malah ia sendiri yang mulai terisak.
“Tiga bulan lagi.Tiga bulan lagi oppa,itu kata mereka.” bisik Yoona lirih.
“Mereka hanya dokter,mereka bukan Tuhan.”
“Tapi bagaimana jika itu benar?”
“Aku tak peduli seberapa singkat umurmu nanti.Aku tetap ingin bersamamu.Tak peduli walau hanya tersisa waktu satu detik,dua detik,tiga detik.Ijinkan aku tetap disisimu.” Donghae semakin mempererat pelukannya.Bibirnya bergetar saat mengucapkan ini.Ketegaran yang terlihat sesungguhnya hanya topeng yang menutupi segala kekalutannya.
“Turuti aku Yoong,ikuti kata dokter.” pintanya kemudian.
Yoona menggeleng pelan. “Operasi dan kemoterapi hanya akan menyiksaku saja.Aku tidak mau semakin menambah rasa sakit ini.Toh itu hanya memperlambat kan,tidak mengobati.Donghae oppa,aku tidak mau dikalahkan kanker otak ini.Jika aku tidak bisa melawannya,aku akan berdamai dengannya.Aku kan sudah bilang aku ingin pergi dalam keadaan cantik dan tersenyum bahagia.”
Donghae hanya bisa tersenyum tipis.Kalau Yoona bisa sekuat itu.Kenapa ia harus bertahan dengan kerapuhannya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Donghae oppa,kenapa kau datang sepagi ini?” tanya Yoona heran.Semalam namja itu menemaninya hingga larut.Dan sepagi ini ia sudah kembali datang.
“Aku merindukanmu.”
“Bohong.” Yoona menggelayut manja lengan Donghae. “Apa kau takut tidak akan bertemu denganku lagi?” tanyanya.
“Yoong,aku paling benci membicarakan ini.”
Yoona mengekeh pelan. “Oppa,tenang saja.Saat waktunya tiba nanti,kaulah orang yang aku ingin ada disisiku.”
“Yoong,jangan bicarakan ini lagi.”
“Ne.” Yoona malah semakin terbahak melihat wajah kesal Donghae.
Hingga membuatnya terbatuk-batuk. “Uhuk..uhuk..”
“Kau tidak apa-apa?Apa kau sudah minum obatmu?” tanya Donghae panik.
Yoona menggeleng. “Kaulah obatku itu oppa.” bisiknya.
“Kau pasti tidak meminumnya lagi kan?Yoong,kau tidak mau di operasi,tidak mau kemoterapi,aku terima,aku menurutimu.Tapi sekarang kau tidak mau minum obatmu,maumu apa Yoong?”
“Obatnya pahit oppa.”
Donghae hanya mendesah berat.Ia ingin marah,tapi tidak mungkin ia memarahi Yoona.
“Donghae oppa,aku hanya ingin mempercepat kebebasanku dari segala penderitaan ini.” gumam Yoona lagi,lirih.
“Itu artinya kau ingin cepat-cepat meninggalkanku.” lagi-lagi Donghae merapuh sendiri.
“Tidak oppa,selamanya aku akan bersamamu.Walaupun kita beda dimensi dan waktu,aku akan tetap disisimu.Ragaku boleh mati,tapi tidak dengan cintaku.”
“Cukup Yoong.” Donghae tak sanggup lagi,ini terlalu perih.
“Donghae oppa,boleh aku memandangi wajahmu?”
Donghae mendongak dan menatap Yoona lekat-lekat. “Kenapa?”
“Aku ingin tetap mengingat wajahmu dimanapun aku berada.”
“Sudahlah,aku tidak suka bicara kematian.kita bicarakan hal lain saja.” pinta Donghae mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah,kalau begitu kita jalan-jalan ke taman?”
“Tidak,udaranya sangat dingin tidak baik untukmu.”
“Emm,ayo beli kimchi pedas.Aku ingin makan kimchi pedas.”
“Kau tidak boleh makan sembarangan Yoong.”
Yoona mendengus. “Oppa,justru kaulah yang mengingatkanku akan kematian.” tuturnya.
Dan Donghae tidak mampu menjawab,lidahnya terlalu kelu.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Salju pertama telah turun.Butiran-butiran putih itu terus menghujani bumi.Terlihat seakan menari-nari dari langit.
Yoona masih tak bergeming dari tempatnya.Masih duduk diatas kursi rodanya.Memandangi salju dari teras rumah.
“Yoong,masuklah.Diluar sangat dingin.” pinta Donghae pelan.
Yoona menggeleng. “Musim dingin tahun depan,aku pasti sudah tidak bisa melihatnya lagi.”
“Kau tidak ingat kata dokter?kau tidak boleh kelelahan.Kau tidak boleh kedinginan.”
Donghae menarik gagang kursi roda Yoona dan hendak mendorongnya masuk,tapi Yoona mencegahnya.
“Temani aku melihat salju oppa.” pintanya.
“Yoong..”
“Aku masih ingin melihatnya.”
Akhirnya Donghae menurut.Ditariknya sebuah kursi dan duduk tepat disebelah kursi roda Yoona.
“Donghae oppa,mungkin ini terakhir kalinya aku melihat salju.Indah sekali kan?”
“Tidak,kau akan tetap melihat salju.Tahun depan,tahun depannya lagi,10 tahun kemudian.” Donghae terus mengoceh sendiri,walau ia sadar itu tidak mungkin.
“Jangan menipu dirimu sendiri oppa.”
“Aku berkata benar,bahkan 50 tahun lagi kita masih bisa melihat salju bersama.” ucapnya.Bukan untuk menghibur Yoona,tapi untuk menghibur dirinya sendiri.
Yoona hanya tersenyum.
“Yoong,ayo masuk.Kau sudah kedinginan.Bibirmu pucat sekali.” ujar Donghae semakin khawatir.
“Tidak oppa,nanti saja.”
“Kau jangan keras kepala.Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu.” ditariknya gagang kursi roda Yoona dan didorongnya pelan.Ia tidak peduli gadis itu suka atau tidak suka.Yang jelas ini untuk kebaikannya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Yoong,kau kenapa?” panik Donghae saat Yoona tampak kesakitan sambil memegang kepalanya.
Yoona menggeleng,namun raut kesakitan nampak jelas diwajahnya.
“Kita ke rumahsakit.” ajak Donghae.
Lagi-lagi Yoona menggeleng. “Tidak usah oppa,aku tidak suka bau rumahsakit.”
“Jangan keras kepala.” tanpa sadar Donghae mulai berteriak. “Mian,ayo kita ke rumahsakit Yoong.” ralatnya merendahkan nada suaranya,menyadari Yoona terkejut dengan teriakannya.
“Aku ingin jika sudah waktunya hidupku berakhir di rumah ini,bukan di rumahsakit.”
Donghae mengacak-acak rambutnya sendiri. “Ya Tuhan.” pekiknya frustasi. ”
Sementara Yoona semakin ambruk.Rasanya kepalanya seperti ditusuk ribuan pisau,dihantam ribuan palu,sakit sekali.
“Yoong…Yoong..” panggil Donghae berkali-kali.
Tidak ada jawaban.Yoona mendengar,tapi lidahnya kaku untuk menjawab.Hingga akhirnya semuanya menggelap,ia pingsan.Diiringi teriakan Donghae yang memekik histeris.

Sayup-sayup Yoona mendengar dua orang yang sedang berbicara.Donghae dan dokter Siwon.Ia menajamkan pendengarannya.Ada dokter,apa ini rumahsakit?
Tidak,ini rumahnya sendiri,ini kamarnya.Meski matanya berat untuk membuka.Tapi ia mengenali kamar ini,bau ini.Syukurlah,karena ia paling benci dengan rumahsakit.Ia benci baunya,alat-alatnya,dokter,dan semua yang berhubungan dengan rumahsakit.Lebih tepatnya,ia trauma dengan vonis dari dokter di rumahsakit yang harus mengubah hidupnya.Kanker otak stadium akhir,tidak ada kemungkinan untuk sembuh selain mukjizat Tuhan.

“Yoong,kau sudah sadar?” perlahan Donghae mendekati Yoona yang mengerjap-ngerjapkan matanya pelan.
“Aku kira aku sudah mati.”
“Lagi-lagi bicara ini.Aku tidak suka Yoong.”
“Donghae oppa,tadi ada dokter Siwon kan?kenapa kau memanggilnya?”
“Kau pingsan Yoong,aku tidak tau harus bagaimana.”
Yoona tersenyum tipis. “Tak apa,setidaknya ini lebih baik daripada aku dibawa ke rumahsakit.”
“Sekarang aku tidak akan lagi memaksamu untuk ke rumahsakit.”
“Benarkah?” tanya Yoona ragu.
“Ne,jika menurutmu lebih baik di rumah aku akan menurut.” Donghae mengangguk.
Itulah yang dikatakan dokter Siwon padanya.Buat Yoona sesenang dan senyaman mungkin.Jika ia memilih di rumah,turuti saja.
“Yoong,apa tidak sebaiknya aku mengabari eommamu?dia perlu tau Yoong.”
“Tidak usah oppa,jika aku meninggal nanti baru kau kabari dia.”
“Dia ibumu Yoong.Dia berhak tau keadaan putrinya.”
Yoona menggeleng. “Aku tidak ingin membuatnya sedih.Aku tau bagaimana sedihnya eomma waktu kehilangan appa.Cukup sekali eomma menangis saat aku meninggal nanti.Eomma tidak perlu menangis melihatku seperti ini.”
“Yoong,dia ibumu.” ujar Donghae lagi,ia tak habis pikir apa sebenarnya yang dipikirkan Yoona.
“Donghae oppa,turuti aku.Eomma punya keluarga lain di Jepang.Sekarang dia punya suami dan anak lagi.Jaga perasaan mereka oppa.Kasian eomma kalau harus bolak-balik Tokyo-Seoul.”
Dan untuk kesekian kalinya Donghae terpaksa harus menurut.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Dari pagi dia tidak mau makan.” lapor Sunny ahjumma saat Donghae baru datang.
Sunny ahjumma adalah orang yang mengasuh Yoona saat kecil.Sampai sekarang,ialah yang tinggal menemani Yoona sejak appanya meninggal dan eommanya menikah dengan orang Jepang.
“Biar aku yang membujuknya.” Donghae meraih semangkuk bubur di tangan Sunny.

“Yoong,makanlah sesuap saja.”
Donghae mengarahkan sesendok bubur ke mulut Yoona.Tapi Yoona sama sekali tidak mau membuka mulutnya.
“Aku tidak lapar oppa.”
“Walaupun kau tidak lapar,kau tetap harus makan Yoong.”
Yoona menggeleng. “Tidak bisa oppa.” lirihnya.
Sungguh,saat ini Yoona benar-benar telah kehilangan nafsu makannya.
“Ayo cobalah.” lagi-lagi Donghae mengarahkan sendok itu ke depan mulut Yoona.
“Mian oppa.”
Melihat mata sendu Yoona,Donghae jadi tidak tega.Ia sadar,penyakit Yoona semakin hari semakin parah.Dan setiap saat ia harus siap kehilangan Yoona.
“Donghae oppa.” panggil Yoona kemudian.
“Ne?”
“Jika aku meninggal nanti,carilah gadis lain untuk menggantikanku.”
Donghae menggeleng. “Tidak ada yang bisa menggantikanmu Yoong.” diraihnya tangan Yoona dan digenggamnya erat. “Bukankah kau sendiri yang bilang,raga boleh mati tapi tidak dengan cinta kita.”
“Donghae oppa,seandainya waktu bisa diulang lebih baik aku tidak pernah mengenalmu.Daripada mengenalmu,mencintaimu,tapi pada akhirnya aku akan menyakitimu,meninggalkanmu.”
“Yoong,jika waktu bisa diulang.Di kehidupan manapun aku ingin tetap mengenalmu.Tak peduli apakah singkat atau lama,aku ingin tetap bersamamu.”
“Kau mau janji satu hal padaku Donghae oppa?”
“Apa?”
“Kau jangan menangis saat aku pergi nanti.”
Donghae membisu,ia tak mau menjanjikan sesuatu yang ia tak mungkin bisa melakukannya.
“Oppa,berjanjilah kau tidak akan menangis saat aku meninggal nanti.” pinta Yoona sekali lagi.
Donghae menggangguk. “Aku tidak janji Yoong.” batinnya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Tubuh Yoona semakin rapuh.Kini ia sudah tak mampu lagi berjalan.Bahkan untuk berjalan dengan kursi rodanya ia sudah sangat lelah.
Donghae pun memutuskan untuk tinggal di rumah Yoona.Ia rela mengambil cuti dari pekerjaannya.Ia tau waktu Yoona tidak lama lagi.Dan ia ingin selalu menemani gadis itu diwaktunya yang tersisa.

“Donghae oppa,apakah di surga nanti aku akan mempunyai sayap putih?Bukankah itu cantik sekali.”
“Ne,kau akan jadi bidadari paling cantik.” tenggorokan Donghae serasa tercekat saat berucap ini.Ia berusaha keras agar tak keluar air mata.
“Sebentar lagi aku akan bertemu appa.” ujar Yoona lagi,sangat pelan.
“Yoong,jangan banyak bicara.Kau butuh istirahat yang cukup.” sebenarnya Donghae sangat takut dengan apa yang diucapkan Yoona.
“Donghae oppa,aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu Yoong,sangat mencintaimu.” Donghae mulai terisak,airmatanya jatuh tanpa ia sanggup untuk mengontrolnya.
“Sudah kubilang jangan menangis.” larang Yoona,suaranya makin melemah.
“Tidak,aku tidak menangis.” diusapnya airmatanya sendiri.Tapi airmata itu justru semakin membanjir.
“Mian oppa,aku tidak bisa menemanimu selamanya.”
“Cukup Yoong,jangan bicara yang tidak-tidak.” Donghae semakin kalut.Mungkin ini waktunya,pikirnya.
“Donghae oppa,saranghae.” ucapnya lagi,lirih,lemah,nyaris tak terdengar.
Dalam satu hembusan nafas,ia pergi.Menutup matanya selamanya.Dan ia benar tersenyum dalam tidur abadinya.
“Yoong..” panggil Donghae pelan,tidak ada jawaban.
“Im Yoona.” panggilnya lagi,tetap sama tak ada jawaban.
Dan ia sadar gadis itu telah pergi meninggalkannya selamanya.Donghae sesenggukan menahan tumpahan air matanya.
“Yoong,apa kau tau?tatapanmu itulah yang meluluhkan hatiku.Tapi sekarang kenapa kau tidak mau membuka matamu,heh?” bisiknya lirih.
“Yoong,apa kau tau?senyummu itulah yang begitu kurindu.Tapi sekarang senyummu ini begitu melukai hatiku.”
“Yoong,apa kau tau?aku sangat menyukai tawamu.Lalu sekarang kenapa kau membisu?” lagi-lagi Donghae terisak.
“Kau yang buatku mengerti apa itu cinta.Kau yang buatku mengerti apa itu sayang.Kau yang buatku mengerti apa itu rindu.Dan kini,kau juga yang membuatku mengerti apa itu kehilangan.” Donghae semakin terbenam dalam isakannya.
“Yoong,kini akan kubiarkan tempat dihatiku tetap kosong setelah kepergianmu.” diciumnya pelan kening jasad kaku itu. “Saranghae Yoongie.” ucapnya.
^
^
^
^
^
^
Hidup itu gak slalu happy ending^meluk Hae^
Ini pertama kalinya bikin sad ending,eh langsung matiin(?) Yoona~Jahatnya diriku^^
Ini terinspirasi dari drama korea jadul ‘stairway to heaven’ tau gak?
Gimana?dikomen yach~~
^______^


30 thoughts on “Love Never Dies

  1. T_T.. sedih amat,, tapi bagus bgt,, cinta sejati ahhhh suka banget apalagi yoonhae yang jadi pairingnya,, walaupun happy ending atau gak sad ending tetep bca yg penting yoonhae…

    author buat lagi FF yang yoonhae ya,, gomawo,…
    ffnya bagus

    Like

  2. Sedih.. *padahal masih galau gara2 beritanya kyu* aku tak suka sad ending. Ayolah, kenapa di dunia khayal kita juga harus sedih,,
    chingu, yoonhae ini suami istri atau pacar? Aq bayanginnya mereka sudah menikah.

    Like

  3. yahhh,,, g jd YoonHae dunk,, cz Yonna nya meninggal….
    sedihhh,,,tp bgs…
    aq suka kata2 yg ini

    “Yoong,apa kau tau?tatapanmu itulah yang meluluhkan hatiku.Tapi sekarang kenapa kau tidak mau membuka matamu,heh?” bisiknya lirih.
    “Yoong,apa kau tau?senyummu itulah yang begitu kurindu.Tapi sekarang senyummu ini begitu melukai hatiku.”
    “Yoong,apa kau tau?aku sangat menyukai tawamu.Lalu sekarang kenapa kau membisu?” lagi-lagi Donghae terisak.

    jd pgn ikut nagis,,,hehe

    Like

  4. hohoho nyesek bacanya~
    good job author.. feelnya krasa banget hehe
    yaaa~ yoona meninggalnya sambil senyum hoho yang sabar ya donghe..
    oya, salam kenal ya author ^^

    Like

  5. duh abis baca ini gue galau,coba ceweknya si jessica pasti makin terasa feeelnya…soalnya yoona tuh orgnya jahil,ceria,ga cocok….hahahha …tpi good job deh..seandainya dibikin jadi series

    Like

  6. yaa ampun, sedihnyaaa ~~
    masih nangis pas ngoment ini T.T

    yoona pergi,
    kasian fishy >.<

    tapi over all,
    ffnya keren sekalii,,
    aisshh, gak kebayang rasanya jdi donghae yg ditinggalin,,
    *nangis lagi*

    huwaa,, author tggung jawab,,

    Like

  7. annyeong. story is so sad. i like this. hmm.. apalagi pairingnya yoonhae tambah niat jadi shipper mereka berdua. good FF.

    Like

  8. sbenernya gak suka kalo sad ending
    tapi bener kata author hidup itu gak selalu happy ending ^__^ walaupun YoonHae terpisahkan tapi mereka ttp saling mencintai

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s