Baby part 2


Baby! Baby! Baby!

Part 2

“Seohyun, hari ini kau tidak berangkat kerja?!” tanya Donghae kakak laki-laki Seohyun, mereka hanya tinggal berdua. Semenjak kematian ibunya dan ayahnya menikah lagi, Seohyun dan Donghae memutuskan pindah dari kota Incheon ke kota Seoul. Donghae bekerja menjadi penyiar radio KBS, penghasilannya memang tak terlalu besar. Tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, ditambah Seohyun yang juga bekerja. Namun sekarang Seohyun tak memiliki pekerjaan lagi.

“A….” / “Andwae?!”

“Oppa, mianhamnida!” / “Wae? Oh, kau dipecat ya.”

“Ne, geureosseumnida.” Seohyun menundukkan kepalanya. “gwaenchana, kenapa harus minta maaf. Lalu sekarang, ditempat kubekerja tidak ada lowongan.” Seohyun hanya tersenyum menjawab respon kakaknya.

~

“Maknae… maknae…” teriakan Yuri dan Sooyoung begitu kencang membuat tetangga Seohyun terbangun.

“A, kalian berdua berisik aja, masih pagi tahu!” oceh nenek-nenek berambut keriting memakai pakaian tidur bermotif bunga dengan corak yang super-super norak.

“Bodo! Suka-suka saya dong nek! Ini kan bukan rumah nenek tapi rumahnya Seohyun.” Jawab Sooyoung melawan nenek tua yang berambut cokelat (alias polesan cet semacam dipank gitu… kk).

“Tahu nih halmeoni, inget umur dong!” sambung Yuri tak mau kalah melawan nenek-nenek tersebut.

“Eh, dasar anak bocah. Dikasih tahu malah nyolot…” nenek ini pun juga tak mau kalah ngomong dengan Sooyoung dan Yuri. Bahkan kata-katanya kaya anak ABG (anak baru gaul. Dasar emang Sooyoung dan Yuri nenek-nenek ajah diladenin).

“Wetss, nyantai dong nek! Balas Yuri dan Sooyoung kompak.

~

“Oppa, diluar ada yang berantem ya? Dengarkan?”

“Ne, ayo kita keluar.”

Donghae dan Seohyun berjalan menuju pintu, langkah kakinya begitu cepat sekali. Betapa terkejutnya mereka melihat tingkah kekanak-kanakkan Yuri dan Seohyun juga seorang nenek. Mereka bertiga siram-siraman air dari botol yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman.

“Ayo, nek kasihan deh nggak ada temennya!” ucap Sooyoung yang bernafsu banget melawan nenek gaul itu.

“Bodo! Tapi biar gini-gini nenek tak mudah terkalahkan oleh kalian berdua, serbu… semprotan ajaib…” nenek terus menyemprot mereka berdua, bahkan tenaganya lebih kuat dari nenek-nenek biasanya.

“Berhenti!!” teriak Donghae kencang, mencegah pertengkaran konyol mereka yang terlihat seperti pertandingan sengit. Sooyoung dan Yuri pun terkejut, sehingga menghentikan pertengkaran mereka dengan nenek gaul.

“Oppa, annyeong haseo?!” mereka bersikap tidak terjadi apa-apa.

“Ne, kalian berdua ada apa bertengkar dengan Jung Haelmoni… tingkah kalian kaya anak kecil tahu.”

“Mianhae… oppa!” ucap Yuri seakan-akan tidak mau tahu masalah apa yang terjadi tadi.

“Yasudah, sekarang ada apa kalian kesini?” suara Donghae sudah tidak keras seperti tadi lagi.

“Begini oppa, kita mau kasih tahu brosur pekerjaan ini sama Seohyun. Dia harus buru-buru datang ketempat ini.” Sooyoung memperlihatkan kertas brosur berwarna biru dengan tulisan hangul yang artinya ‘Lamaran pekerjaan ditoko kue cemen dibutuhkan tenaga kerja yang bisa membuat kue…’

“Seohyun kan pintar membuat kue, jadi ini pekerjaan yang cocok untuk dia…” Sooyoung mengangkat kedua alisnya dan tersenyum sangat lebar.

“Tenang Donghae oppa kita akan temani Seohyun ke toko kue ini, nggak apa-apa kan oppa?” Yuri melingkarkan lengannya ke lengan kanan Donghae seraya membujuk.

“Kenapa harus tanya aku, kalian tanyalah Seohyun dia mau atau nggak.”

“Oh, ne… Seohyun apa kau mau. Kau mau ya?”

“A… aku. Ne!” / “Mwo?!”

“Jeongmal?” Seohyun menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.

 

***

 

“Yoona, Tiffany… memangnya nggak ada cowok lain lagi ya, selain siwon oppa?! Ucap Sunny, seraya melihat foto-foto masa kecil mereka diruang televisi. Sementara Yoona dan Tiffany sudah pergi menemui siwon dibutiknya.

Kyuhyun yang melihat Sunny sendirian duduk disofa menghampirinya. Senyum manis Kyuhyun selalu diperlihatkan oleh siapa pun. Menurut orang yang belum mengenal Kyuhyun akan sangat berbeda, tetapi kalau sudah mengenalnya pasti tak mau lepas. Buktinya Sunny sahabat Kyuhyun dan Yoona sejak kecil, Sunny selalu berada disamping Kyuhyun. Saat Kyuhyun wisuda pun Sunny setia menemaninya, bahkan ketika Kyuhyun hampir kabur mengikuti jejak kakaknya Heechul yang keluar meninggalkan keluarga, Sunny menemani Kyuhyun kemana pun pergi sampai orang tua Sunny menemukan mereka dan membawa mereka pulang kembali.

“Sedang sibuk ya?”

“A, oppa! Ne, aku sibuk melihat foto…”

“Kau liat! Tiffany, kau dan Yoona sangat aneh waktu kecil… lihat-lihat wajah kalian berbeda dengan sekarang.” Kyuhyun menunjuk Foto Sunny yang pipinya besar.

“Oppa.. bisa aja deh!!” Kyuhyun tertawa dengan senang dan bangga. Kalau Kyuhyun sudah tertawa maka akan sulit untuk berhentinya.

“Habis lucu…”

“Hah… Terima kasih… kau yang terbaik oppa.” / “Memang aku akan selalu menjadi yang terbaik bukan.”

“Oppa! Apa kau sudah makan?”

“Tadi pagi baru sarapan!”

“Oke, kita makan direstoran terbaruku.” / “Kau baru membuka restoran, ada menu apa aja?”

“Ne, oppa. Masakan dari tiga negara oppa.” / “Waw, negara apa saja?!”

“Tentu negara kita Korea, negara tetangga yaitu Jepang, dan negara Indonesia.” Kyuhyun terkejut ketika mendengar Indonesia, karena selama ini ia belum pernah makan masakan dari Indonesia.

“Aku mau ke sana, ngomong-ngomong nama masakan dari Indonesia apa saja?”

“Banyak oppa, semuanya enak-enak. Tapi yang aku paling suka rendang dan tempe orek, pokoknya enak banget. Kalau oppa mau makanan kuahnya ada soto dan sayur asem. Pokoknya oppa harus coba deh, kalau nggak oppa bakalan nyesel!”

“Oke, aku mau makan masakan dari Indonesia…”

“Sip! Ayo kita berangkat.”

Mereka berdua langsung pergi meninggalkan rumah, dan segera pergi ke tempat yang dimaksud oleh Sunny yaitu restoran terbarunya yang diberinama ‘Hamkke’.

~

“Bagaimana? Kalian sudah mengertikan cara membuat pola baju yang benar. Dan kali ini sampai disini dulu.” Ucap Siwon.

“Oppa, kenapa cepat sekali selesainya.” Yoona menarik lengan Siwon yang mau keluar dari ruang pengajaran privat membuat pola pakaian untuk Yoona dan Tiffany. “Kita kan masih ingin diajari siwon oppa!” balas Tiffany manja.

“Kalian ini apa-apaan sih?! Seharusnya privat ini bukan aku yang mengajar, tetapi Shindong. Sekarang dia lagi sakit. Makanya aku gantikan, aku masih banyak pekerjaan. Kalian mau pulang atau masih tetap disini?” Siwon melepaskan lengannya yang dilingkarkan erat disisi kanan oleh Yoona dan kiri Tiffany.

“Hah?! Kita mau disini dulu?!” seru keduanya serempak.

“Terserah kalian…” Siwon keluar dan pergi meninggalkan ruangan privat Yoona dan Tiffany. Sementara keduanya berpegangan tangan dan tersenyum miris. Selain itu mereka juga kesal dengan model yang dipampang diruang privat. Menurut mereka lebih bagus wajah mereka yang dipajang dibandingkan model tersebut.

 

“Yoona, kapan ya? Siwon oppa jadiin kita modelnya dia. Kita kan udah lama kenal dia?!” Tiffany memelet-meletkan lidahnya pada gambar model itu.

“Aku tak tahu Fany! Apa kita kurang cantik, nggak seperti model itu.”

“Anio, kita jauh lebih cantik…” mereka saling pandang. “Ne!” balas Yoona.

~

“Annyeong haseyo?! Kau masih inget aku kan siwon.” Ucap seorang yoja berambut panjang berwarna cokelat dengan tinggi badan yang hampir sama dengan Tiffany. Mengenakan pakaian yang super ribet, layaknya model tampil dicat walk.

 

“Victori, upss Victoria…” Siwon setengah terkejut melihat Victoria berdiri dihadapannya. Karena sudah lima tahun ia tak pernah melihat Victoria sejak mereka memutuskan berpisah. Sebenarnya putusnya hubungan mereka karena faktor Kibum adik Siwon yang ternyata menyukai Victoria, padahal saat itu Siwon masih berhubungan dengan Victoria. Entah kenapa Victoria memilih Kibum menjadi kekasihnya dan meninggalkan Siwon. Kasihan sekali Victoria, Kibum tak benar-benar menyukainya, ia hanya ingin menguji cinta Victoria pada Siwon. Karena merasa malu Victoria pun meninggalkan Seoul.

“Kau masih terlihat tampan, ice prince…” Victoria semakin mendekati tubuhnya kehadapan tubuh Siwon, merayu Siwon dengan tangannya yang menyentuh lembut pipi Siwon. Siwon menjauhkan jari-jari lentik Victoria diwajahnya. Ia juga tak mau mau mengatakan sepatah kata pun, baginya ia sudah melupakan Victoria untuk selamanya. Victoria hanya masa lalu yang harus dilupakan bahkan dimusnahkan.

Victoria menggubris perlakuan Siwon padanya, ia semakin mendekatkan tubuh kecilnya lebih dekat dengan Siwon. Selain itu ia juga mengatakan kata-kata yang pernah Siwon ucapkan dahulu, ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih.

“Yoja, jeongmal saranghaeyo…” suara lembut Victoria menempel erat ditelinga Siwon. Alangkah marahnya Tiffany dan Yoona melihat peristiwa ini, mereka tak bisa menahan rasa sabar. Terutama Tiffany yang merupakan sosok yang suka berterus terang dengan apa yang ia pikirkan selalu diucapkan tanpa memikirkan dahulu perkataannya itu.

“Anio, Siwon oppa kau bersama…” Yoona membalikan tubuh Victoria.

“Kau?! Unnie Victoria.” Ucap mereka berdua kompak.

Victoria menatap Tiffany dan Yoona dengan sangat tajam, tatapan yang terlihat begitu liciknya. Semakin menunjukkan sifat asli dari seorang Victoria.

“Fanny! Yoon~ah…” / “Ne, kau ada apa lagi ke tempat Siwon oppa.” Tiffany semakin mengerutkan alisnya melihat sikap Victoria yang sangat ia tak sukai.

“Siwon, suasana disini semakin memanas. Annyong-hi gyeseyo!” Victoria meninggalkan butik Siwon, dengan berjalan keluar dan tubuhnya pun sengaja menabrakkan diri pada Yoona dan Tiffany.

“Menyebalkan…” teriak Tiffany dan Yoona… setelah itu Siwon masuk kembali ke ruang kerja.

“Oppa… Siwon oppa…!” mereka berdua mengikuti Siwon ke ruangan kerjanya.

 

***

 

~Jessica Pov~

 

“Apa yang harus aku lakukan sekarang… apa aku menerima saran dari ganhosa!” bibirku semakin sulit untuk berbicara, tanganku juga semakin dingin. Aku sangat bingung menuruti kemauan Ahjumma dan membiarkan unnie pergi… atau mencari pekerjaan dan membiayayai pengobatan unnie dengan uang dari usahaku.

“Ya tuhan…” aku menepuk-nepuk dadaku yang mulai terasa sesak. “Ayolah Sica putuskan segera, apa yang harus kau perbuat.” Suaraku sudah benar-benar pecah, aku tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.

Aku mengambil satu botol air mineral dan meminumnya sampai habis (salah satu kebiasaan Sica meminum air mineral~kk). Aku ingin berlari sejauh mungkin, melepaskan beban berat dipikiranku sekarang. “Lari! Lari! Cepat…” aku benar-benar berlari, mula-mula keluar dari ruangan Taeyeon unnie menuju halaman belakang rumah sakit. Sebenarnya apa yang ada dipikiranku sekarang?! Bingung sangat bingung, aku tak peduli dengan orang-orang yang melihatku berlari sambil menangis. Mataku nyaris menutupi semuanya, semua pandangan sudah tertutup oleh air mata. Sekarang pandanganku kabur, dan tiba-tiba saja semuanya gelap. Aku berhenti sejenak, dan bertanya dalam hati. Ada apa ini?!

BRUKK!!

 

~Normal Pov~

 

“Sica, kau baik-baik saja?” Jessica sudah berada dalam ruang perawatan, ia tak sadar kalau tadi ia pingsan karena berlari sambil menangis. Itu semua membuat tekanan darahnya menurun, ditambah pikirannya yang sedang bimbang akhir-akhir ini.

“Ne! Ganhosa aku akan menuruti saran darimu, aku juga akan menerima bantuanmu… aku akan mengembalikan semuanya, kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan itu.

“Akhirnya kau mau menerima itu.” / “Ingat aku hanya meminjam, aku pasti akan mengembalikannya.”

“Terserah kau saja.”

Hyoyeon mengajak Jessica untuk berbicara sebentar mengenai pekerjaan yang akan dimasukinya.

“Sica, kemarin aku sudah mengecek retauran itu, mereka masih membuka lowongan sebaiknya kau sekarang langsung ke tempat itu saja.”

“Ne, kamsahamnida.” Jessica berdiri dan membetulkan pakaiannya, lalu pergi meninggalkan Hyoyeon. “Sica, tunggu!” Hyoyeon pun memeluk Jessica dengan erat. Jessica memandangi wajah Hyoyeon dan membalas pelukan dari Hyoyeon. “Annyeong-hi gaseyo.” mereka saling tersenyum dengan bahagia.

~

Didepan rumah sakit Jessica tak sengaja menabrak seorang laki-laki berkaca mata wajahnya berparas imut dengan mata bulat dan cukup besar dengan kamera yang dikalungkannya mirip seperti wartawan.

“A, mianhae…” Jessica terus berjalan tanpa mau melihat siapa yang ia tabrak. “Jessica! Kau Jessica kan?” laki-laki itu memanggil Jessica, Jessica membalikkan tubuhnya ke hadapan laki-laki tersebut.

“Ne?! Mwo?!” / “Kamu benar-benar lupa? Sama sekali tidak ingat aku siapa?” Jessica memandangi wajah laki-laki tersebut, memang sangat familiar tapi Jessica tidak pernah merasa mengenalnya. “Kibum. Wartawan yang menangani kasus tertabraknya kakakmu, Ingat?”

“Ne!” Jessica menganggukan kepalanya.

“Bagaimana keadaan kakakmu sekarang, ia sudah sadar?!” tanya Kibum, seraya membetulkan kacamatanya yang sedikit miring.

“Belum ada kemajuan.” / “Selama itukah?! Lalu pelakunya sudah ditangkap?” Jessica merespon dengan menggelengkan kepalanya. “Kenapa, dahulu kau menhentikan kasus yang menimpa kakakmu…”

“Karena aku pikir unnie akan segera sadar.” / “Apa kau masih berniat untuk mencari pelakunya, kalau mau aku akan membantumu?!”

Jessica bingung mau menjawab apa, ia hanya menampakkan senyumannya. “Kenapa hanya tersenyum…”

Pandangan Jessica pun tersita, ketika melihat sosok laki-laki yang mirip dengan Sungmin mantan kekasihnya. “Anio… maaf aku harus pergi.” Jessica berlari seketika jelas melihat namja tersebut.

“Jessica…” Kibum memanggil Jessica, tapi tidak diperdulikan. Ia tetap mengejar laki-laki yang ia yakin pasti Sungmin. Kekasihnya yang meninggalkan Jessica tanpa alasan atau sebab tertentu.

Tanpa sadar ketika berlari Jessica menjatuhkan foto dirinya bersama Taeyeon, foto yang menjadi kekuatannya dan selalu dibawa ke mana pun ia berada.

 

Dengan tulisan dibelakang fotonya ‘Taeyeon unnie… saranghae…’. Kibum tersenyum melihat foto mereka dan memasukan foto tersebut kedalam tas kecilnya, besok akan ia kembalikan pada Jessica.

~

Jessica rupanya sangat tergesa-gesa, napasnya juga tercengal sehabis melihat Sungmin dan mengejarnya. Tetapi hasilnya nihil ia tidak berhasil mengejarnya. “Sungmin~ni…” Jessica kembali berjalan menuju restauran, ia masih belum sadar kalau foto yang dibawanya terjatuh dan kini berada di Kibum.

 

***

Seohyun, Yuri, dan Sooyoung sepertinya sangat lelah mencari alamat toko kue yang dibrosur. Mereka sudah berkeliling tak juga menemukan alamatnya.

“Sooyoung, benar tidak ini alamatnya. Kau salah baca kali” tanya Yuri yang memang sudah kelelahan. “Benar?! Baca sendiri?!” Sooyoung menyodorkan (bahasa yang baik apa sih?!) brosur pada Yuri…

“Ne, aku tahu.” / “Yasudah, jangan salahkan aku dong…”

“Siapa yang nyalahin kamu sih.” / “Tadi apa! kalau bukan nyalahin. Ahh…”

 

Tiba-tiba Seohyun melihat lowongan pekerjaan sebagai pelayan direstauran ‘Hamkke’. Sedangkan Yuri dan Sooyoung beretengkar tak jelas, gara-gara alamat yang dicari tak ditemukan. Malah saling menyalahkan satu sama lain.

“Unnie, diam! Aku lihat lowongan di restaurant itu!” Seohyun menunjuk ‘Hamkke Restaurant’.

Mereka langsung berjalan mendekati restauran tersebut, dan masuk kedalamnya…

“Waw… besar sekali ya?!” Yuri dan Sooyoung pangling melihat restauran sebesar ini, maklum karena mereka tak pernah masuk ke dalam restauran mahal. Hanya warung pinggir jalan saja (Yaampun kasihan… unnie…).

 

Seohyun berbicara pada salah satu pelayan tersebut, dan menanyakan lowongan tersebut. Dan ternyata benar, ia pun langsung berbicara dengan manajer tersebut. Tanpa lama Seohyun pun diterima…

“Ne?! Aku diterima bekerja di sini!” Seohyun tersenyum, seraya berkaca-kaca karena bahagia bisa mendapatkan pekerjaan lagi. “Benar!” / “Gamsahamnida…” Yuri dan Sooyoung yang mendengarnya mereka juga tak kalah bahagianya seperti Seohyun. Karena menurut mereka melihat Seohyun bahagia dan selalu tersenyum adalah kebahagiaan buat mereka (best friend benget!!).

Hari ini Seohyun langsung dipekerjakan, Yuri dan Sooyoung masih banyak urusan, ia mengambil jam part time untuk hari ini di supermaket karena mengantar Seohyun mencari pekerjaan. Mereka juga segera berpamitan dengan Seohyun.

“Maknae… selamat bekerja kembali, semoga ini adalah awal yang terbaik.” Ucap Yuri, sambil mengelus lembut rambut Seohyun. “Maknae… kau harus selalu berdoa dan Hwaiting…” sambung Sooyoung.

“Gamsahamnida… unnie… aku tak tahu bagaimana membalas kebaikan kalian.” Seohyun merendahkan dirinya. “Bekerjalah dengan baik! Kita pamit dulu ya?!”

“Hati-hati dijalan unnie…” Seohyun melambaikan tangannya. “Dwaesseumnida. Annyeong-hi gasipsio.”

~

“Waw… seharusnya kita jangan jalan lewat tadi. Sampainya Lama kan sekarang?!” Sunny berkomentar disepanjang jalan sampai di depan restaurannya.

“Yang terpenting sekarang sudah sampai kan!” Kyuhyun bersikap santai menghadapi ocehan Sunny, seakan sudah menjadi makanan sehari-hari.

 

Mereka berjalan masuk ke dalam restauran, Sunny menyapa ramah semua pelayan-pelayan dan tamu-tamu yang datang. Bahkan ada seorang pelayan berpendapat kalau Sunny dan Kyuhyun adalah sepasang kekasih.

“Annyeong haseyo, agassi…” sapa pak Lee manajer restauran tersebut.

“Ne, Annyeong haseyo!” balas Sunny. Sedangkan Kyuhyun berpamitan ke toilet karena terburu-buru mau buang air kecil (prince kyuhyun kebelet pipis~LOL. Bahasanya apa yang bagus ya?!).

Ketika keluar dari kamar kecil (toilet), Kyuhyun melihat Seohyun sedang diganggu oleh ahjussi. Bapak-bapak yang mengejar-ngejar Seohyun, sampai-sampai Seohyun diberhentikan dari pekerjaan lamanya (liat dipart 1).

“Ahjussi!” Seohyun terlihat sangat ketakutan. “Hai, cantik. Kita bertemu lagi, ternyata sekarang kau bekerja disini ya?! Aku akan sering kesini.” Tangan paman itu sudah mulai tidak wajar, ia menarik-narik lengan Seohyun. Seohyun berusaha melepaskannya, tapi apa daya ia hanya seorang wanita tenaganya tak kuat melepaskan cengkraman ahjussi.

“Lepaskan!!! Tolong jangan ganggu aku lagi.” Kyuhyun menghampiri Seohyun bersama ahjussi itu.

“Lepaskan dia, dan bersikap layaknya seorang laki-laki?!” suara Kyuhyun terdengar sangat marah dan berat.

“Siapa kau? Kau tidak tahu siapa dia kan?” paman itu menunjuk Seohyun, wajah Seohyun terlihat ketakutan… Kyuhyun sangat tahu jelas bagaimana sikap seorang wanita ketakutan, seperti halnya yang sedang dialami Seohyun sekarang.

“Tenanglah kau tak usah takut lagi…” Kyuhyun menenangkan Seohyun yang pucat pasi dengan tangan gemetaran (baru awal nih!). “Sekarang tinggalkan tempat ini, kalau tidak aku akan panggil keamanan untuk menangkap ahjussi.”

“Dasar anak muda bisa saja kau ya?!” paman tersebut pergi, tanpa berbicara kata-kata sekasar tadi.

“Duduklah dulu,” Kyuhyun menuntun Seohyun duduk dan memberikan air minum yang berada disampingnya. “Minumlah… kau tak usah takut lagi. Ahjussi itu sudah pergi!”

“Ne, Gamsahamnida…” Kyuhyun tersenyum dengan manisnya, tatapan matanya begitu lembut pada Seohyun si gadis lugu. Meskipun Seohyun terlihat lebih tenang, namun tangannya masih tetap gemetaran. Kyuhyun melihat tangan Seohyun yang gemetaran, ketika ingin menyentuh tangan Seohyun… Sunny datang mencari Kyuhyun karena terlalu lama ditoilet.

 

 

“Oppa…” perhatian Sunny tersita pada sosok wanita yaitu Seohyun, ia memperhatikan Seohyun dari ujung kaki hingga kepala. Seohyun merasa diperhatikan dan terlalu banyak orang menurutnya (padahal Cuma ada Kyu oppa sama Sunny unnie, kok dibilang banyak ya. Seohyun unnie… ckckck…) segera meninggalkan tempat tersebut menuju belakang untuk melanjutkan pekerjaanya. Setelah Seohyun pergi, Sunny pun bertanya pada Kyuhyun.

“Oppa… siapa dia?! Apa kau mengenalnya.”

“Anio! Aku sudah lapar, ayo makan.” Kyuhyun tak mau membahas apa pun, ia hanya berkelih dengan pertanyaan Sunny.

“Tapi kan oppa belum jawab…” / “Nanti saja Sunkyu… aku sudah lapar…” Kyuhyun membawa Sunny ke luar dari area toilet dan menuju meja makan.

“Oppa… jangan panggil aku itu, aku tidak terlalu suka dengan nama itu?!” / “A, itu kan namamu.”

“Ne, aku tahu… sudahlah. Sekarang oppa mau pesan makanan apa?!” Sunny memberikan menu makanan pada Kyuhyun, tapi Kyuhyun bingung ia ingin memesan makanan dari Indonesia. Namun ia belum tahu bentuk masakannya seperti apa.

“Pilihkan aku makanan indonesia yang paling enak…” / “Oppa… semua makanan dari Indonesia enak-enak… oppa pilih saja sendiri…”

Kyuhyun tambah bingung, karena makanan yang tertera didaftar menu ternyata tulisannya sesuai dari negara masing-masing. “Aku pesan… sate ayam, sayur asem, tempe bakar dan gado-gado…” Kyuhyun mengucapkan nama-nama makanan tersebut dengan logat korea yang sedikit kurang jelas.

“Oppa… banyak sekali pesananmu… nanti habiskan ya?!” / “Ne, aku kan mau coba satu-satu.”

Sambil menunggu makanan masak, mereka melanjutkan perbincangan yang sempat terhenti.

“Sunkyu! Kamu kenal semua pelayan-pelayan yang ada disini?!” Kyuhyun masih penasaran dengan yoja yang ia tolong tadi.

“Restauranku kan baru oppa, jadi aku belum tahu siapa saja pelayan disini… memang ada apa?! apa soal yoja tadi.”

Kyuhyun tak mendengar jawaban dari Sunny, perhatiannya tertuju pada Seohyun yang berada disudut dekat toilet sedang membersihkan meja.

“Oppa… oppa…” Sunny memandangi wajah Kyuhyun yang tak fokus, juga arah sorotan mata yang memandang lurus ke arah pojok (sama kaya sudut). Sampai-sampai suara pelayan yang mengantarkan makanan pun tak ia dengar, membuat Sunny kesal dan menginjak kaki kanan Kyuhyun.

“Oppa… Kyu oppa… Kyuhyun oppa…” suara teriakan Sunny hampir sama kerasnya dengan Yoona dan Tiffany. Membuat seluruh tamu dan pelayan memperhatikan mereka berdua.

“Sunkyu… apa-apaan sih?! Teriak-teriak, aku masih bisa dengar…” Sunny berdiri sambil menundukkan kepalanya, dan meminta maaf pada semua tamu yang ada…

Mianhamnida…”

“Ini semua gara-gara oppa… kalau oppa tadi mendengar perkataanku nggak akan aku teriak dan menginjak kaki oppa.” / “Mianhae! Sekarang kita makan, aku mau coba sate ayam dulu.”

Sewaktu Kyuhyun asik menyantap makanan, Sunny baru menyadari ternyata yang membuat Kyuhyun tak fokus adalah yoja yang ia lihat ketika ditoilet. Sunny pun ingin tahu siapa yoja tersebut, ia berpamitan pada Kyuhyun untuk ke ruang manajer menanyakan kondisi restaurannya. Namun yang sebenarnya, Sunny ingin beretemu dengan Seohyun.

“Oppa… aku ke ruang manajer dulu ya?!” / “Ne! Kyuhyun sangat menikmati makanan yang ia pesan.

Sunny berjalan dengan perlahan-lahan ke dapur restauran, sesampai didapur seluruh pelayan menyapa sambil membungkuk

“Annyeong haseyo…” Sunny membalas dengan senyum ramah, ia juga mencari yoja yang ia lihat di toilet tadi diantara para pelayan yang sedang sibuk didapur.

“Agassi, mencari siapa?! Tanya salah seorang pelayan namja. “Anio, aku hanya ingin lihat-lihat saja keadaan didapur. Ternyata sangat baik! Oke kalian semua bekerjalah dengan baik…” Sunny pun meninggalkan dapur, ketika ia pergi Seohyun datang.

“Bagaimana oppa sudah kenyang… enak nggak?!” / “Udah, sumpah makanan dari Indonesia enak banget… jadi pengen makan lagi.” / “Lain kali aja ya oppa?!”

Sebelum pergi dari restauran, Kyuhyun beranjak ke toilet. Sebenarnya bukan karena mau ke toliet, tetapi ingin melihat Seohyun (waw… oppa mulai ada rasa sama maknae… padahal baru pertama ketemu loch?!!).

Mereka berdua pun berpasan dijalan menuju toilet. “Tanganmu sudah tidak apa-apa?!” Kyuhyun berbasa-basi, tetapi Seohyun hanya menggelengkan kepala. “Sillyehamnida.” Seohyun pergi dari hadapan Kyuhyun.

 

***

 

Sooyoung dan Yuri merasa lelah berjalan kaki, mereka memutuskan untuk naik bus. Padahal mereka berniat mengirit uang, tapi apa boleh buat mereka sudah sangat lelah. Terutam Yuri sepanjang jalan mengoceh terus, membuat Sooyoung males mendengar omongan Yuri.

“Yul, kau jangan terus mengeluh… yang lelah bukan hanya kau. Aku juga!” / “Tapi aku cape…”

“Sudahlah… kita cari bis sekarang.”

 

Ketika menunggu bis dihalte, mereka berdua bertemu dengan dua namja bertubuh tinggi dan besar. Sepertinya dua orang tersebut mendekati Sooyoung dan Yuri.

“Kau, Choi Sooyoung!” tanya laki-laki berkaca mata dengan tato hampir memenuhi tubuhnya yang besar.

“Ne! Andwae?!” balas Sooyoung sedikit galak. “Ayahmu membawa lari uang kami…”

Yuri dan Sooyoung saling pandang. “Mwo?!” ucap mereka serempak. “Itu kan ayahku, kenapa kau bertanya padaku.” Sambung Sooyoung, ia dan Yuri berpura-pura bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

“Kami tidak bisa menemukannya, sekarang ada putri dan keponakannya… sebaiknya kalian yang kami jadikan jaminan…” tanpa berpikir lama, Sooyoung dan Yuri mengeluarkan Parfume mereka dan menyemprotkannya tepat dimata namja bertubuh besar itu. Dengan langkah panjang dan cepat mereka lari, mereka juga tak memikirkan mobil-mobil dijalan raya.

“Sooyoung, aku cape. Berhenti dulu ya.” Yuri mulai kelelahan, mengatur napas saja rupanya sangat sulit. / “Yul, kalau tak lari kita akan ditangkap. Ayo lari, Yul mereka mulai mendekat…” mereka sudah bingung untuk mencari jalan lagi, akhirnya sebuah butik milik Siwon pun mereka masuki.

“Sekarang kita sudah aman…” ucap Yuri seraya mengatur napasnya yang tercengah. “Untuk sementara kita aman?!” betapa terkejutnya Yuri dan Sooyoung ternyata mereka masuk ke dalam butik terkenal. Dengan baju-baju yang super mahal.

 

 

“Yul, kita salah tempat deh!” / “Ne, tapi kita lihat baju-baju dulu ya?!”

“Bagaimana ini cocok untukku nggak?!” Sooyoung menunjukkan gaun putih bermotif bunga mawar. Yuri menjawab dengan membentuk huruf  O pada jarinya (menandakan setuju). “Kalau aku cocok tidak dengan yang ini.” Yuri menunjukkan gaun berwarna merah, dengan topi kecil sebagai hiasan dikepalanya. Sooyoung menganggukkan kepalanya…

~

“Oppa… kita mau undang oppa makan malam… Siwon oppa ada waktu kan.

“Kalian bisa tunggu diluar… nanti akan aku jawab.” / “Ne!”

Yoona dan Tiffany keluar dari ruang Siwon dengan perasaan kesal, kekesalan mereka bertambah ketika melihat tingkah Yuri dan Sooyoung yang kelewatan norak.

“Kalian baru pertama kali masuk butik mahal?! Keliatan banget noraknya…” sindir Tiffany judes. “Ne, mereka jangan-jangan mau coba-coba baju doang. Tapi nggak beli karena nggak punya uang… kasihan!” sambung Yoona.

“Kami memang tidak punya uang, lalu kalian mau apa?!! mau mengusir kami, ini kan butik umum untuk siapa aja. Kami juga berhak dong lihat-lihat barang disini.” Sooyoung bertingkah seakan-akan ia tidak takut dengan siapa pun.

“Dasar orang miskin, bisanya ngomong doang…” ucap Tiffany kasar, selain itu Fanny juga berhasil mendorong Yuri. Yuri pun terjatuh, tubuhnya mengenai sebuah patung dan patung tersebut jatuh bersamaan dengan Yuri terjatuh.

“Fany!!” teriak Siwon. Siwon yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, melihat Tiffany mendorong Yuri hingga terjatuh.

“Oppa…” Siwon menyodorkan tangannya untuk membangunkan Yuri, ia juga meminta pelayannya untuk membereskan patung yang jatuh bersamaan dengan Yuri.

Yoona dan Tiffany menatap sinis Yuri. “Oppa… tak usah bantu dia.” Tiffany menarik lengan Siwon. “Kalian ini kenapa sih! Mereka kan tamu, jangan bersikap seperti itu. Kekanak-kanakkan.” Sepertinya Siwon sangat marah melihat sikap Yoona dan Tiffany yang tidak ramah pada tamu dibutiknya.

“Oppa! Mereka itu tidak akan baju disini, karena mereka tak punya uang.” Ucap Tiffany. “Itu terserah mereka, ini batik umum…” balas Siwon. Sementara Sooyoung menyodorkan lidahnya, sebagai ledekan untuk Yoona dan Tiffany. Mereka berdua malah menatap dengan tatapan yang teramat tajam, seakan-akan mau menerkam Yuri dan Sooyoung.

“Yul, sebaiknya kita pergi dari tempat ini.” / “Ne!” Sooyoung dan Yuri meninggalkan butik Siwon secepat kilat.

“Orang miskin, mau coba-coba masuk butik… nggak pantes!” tambah Yoona semakin sinis. “Oppa…”

“Sudahlah… dari tadi kalian hanya mengganggu pekerjaanku saja. Kenapa kalian tidak pergi juga!” / “Oppa, mengusir kita!” Siwon mengangkat bahu dan pergi dari hadapan mereka.

~

Setelah keluar dari butik Yuri tidak percaya bahwa ia berhadapan dengan namja impiannya. Yuri selalu bermimpi kelak ia dewasa dan menikah, ia akan bertemu jodohnya disebuah butik mahal. Namja berparas tampan dengan tubuh bagaikan bodyguard.

“Yul, andwae?!” Sooyoung menepuk bahu Yuri, karena sedari tadi Yuri tersenyum sendiri setelah keluar dari butik sampai sepanjang jalan…

“Yul… Yuri! Kwon Yuri…” akhirnya Sooyoung teriak ditelinga Yuri dengan kerasnya. / “Wae?! Jangan teriak ditelingaku, aku bisa budek.” Yuri kesal dan memarahi Sooyoung. “Habis dipanggil-panggil nggak nyaut, eh~malah senyum sendiri.” Sooyoung pun menggoda Yuri dengan kejadian dibutik tadi…

“Yul, kau suka sama namja yang tadi… aku lihat dia tampan dan keren.” Yuri menggaruk-garuk kepalanya. “Ne, tapi dia kan orang kaya…” / “Memangnya kenapa kalau orang kaya, apa orang miskin tidak boleh menikah dengan orang kaya.” Ujar Sooyoung tak bisa menahan emosi.

“Bukan seperti itu, tapi…” / “Wae?! Ah,” Sooyoung  terkejut ketika melihat brosur tentang pendaftaran les dance gratis bersama ‘Eunhyuk’ sebagai guru pengajar.

“Yul, lihat ini brosur dance…” mereka membaca brosur persyaratan untuk masuk les dance gratis. Dalam tulisan hangul…

BROSUR DAFTAR LES DANCE GRATIS

SYARAT   : HANYA UNTUK 1 ORANG

LOLOS SELESKSI DANCE

MINGGU, 08.30… SEOUL…

TTD

EUNHYUK

 

“Yul, aku mau daftar… kamu tahu kan les bersama Eunhyuk itu mahal banget. Dan sekarang ada pendaftaran les gratis, kebetulan sekali.”

“Ne, kamu harus daftar… siapa tahu kan kamu ke pilih.” / “Besok, aku coba.”

“Memangnya besok hari minggu…” / “Maksudku besoknya lagi.”

“Bukannya besok jumat,” / “Ya, pokoknya… ahh aku harus dafar.”

“Baiklah…” mereka berjalan sambil bersenda gurau, melihat pemandangan kota Seoul.

 

***

 

Jessica benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa laki-laki yang samar-samar ia lihat adalah Sungmin mantan kekasihnya. Sewaktu menjadi kekasihnya Sungmin berpamitan untuk melanjutkan kuliah di New York, tapi karena Jessica bilang ia tak mau berpacaran jarak jauh mereka memutuskan untuk berpisah. Hingga kini mereka tak juga saling memberi kabar, bahkan Jessica pun tak tahu kalau Sungmin tidak jadi kuliah diluar negri.

“Sungmin~ah… kenapa aku tidak percaya kalau kita sudah berpisah. Apa kau tidak jadi kuliah diluar negri, tapi kenapa kau tidak beri tahu aku!” Jessica mengeluarka foto dirinya bersama Sungmin, foto yang diambil ketika mereka habis memotret-motret kota Seoul.

 

“Hah… aku benci hal itu… kenapa aku harus mencintaimu Sungmin!” Sewaktu Jessica berjalan, ia menemukan sebuah lukisan. Lukisan yang bertuliskan dibelakangnya.

 

Sarangae….

Heechul  ()

 

“Lukisan siapa ini?! Fany? Tiffany? Hahaha… pasti namja yang cintanya ditolak.” Jessica memasukkan lukisan tersebut ke dalam tasnya. Ternyata ia lupa kalau ia akan menuju resaturan untuk melamar pekerjaan.

Sesampainya direstauran Hamkke… ia bertemu dengan Seohyun yang sedang mengelap meja. “Sillyehamnida. Ruang manajer, dimana ya?!” tanya Jessica pada Seohyun. “Lurus, lalu belok kanan…” / “Gomawo.” Jessica menundukkan kepalanya. “Cheonmaneyo…”

Jessica berjalan menuju ruang manajer Lee, kakinya melangkah dengan pelan-pelan. Setelah sampai di depan ruang manajer Lee, ia melihat Sungmin berada di restauran tersebut. Sungmin baru saja keluar dari toilet, Jessica tak bisa menahan dirinya. Ia berlari mengejar Sungmin yang akan keluar dari restauran tersebut.

“Sungmin…” teriaknya. Seohyun yang sedang mengantar makanan untuk tamu, hanya melihat sikap Jessica yang berlari mengejar seseorang.

“Sungmin~ahh!” lagi-lagi Jessica gagal mengejar Sungmin, ia mulai lelah mencari kepastian hubungannya. Di depan pintu masuk reatauran ia menangis dengan tersedu-sedu, Seohyun pun meyodorkan tangannya dan memberikan tissu.

“Unnie… jangan menangis ya!” / “Gamsahamnida.” Jessica masuk kembali ke dalam restauran dengan wajah seperti orang stress. Ia berjalan dengan malas hendak melangkah ke ruang manajer.

“Unnie, mau melamar pekerjaan disini?!” / “Ne, benarkan disini ada lowongan pekerjaan.” Seohyun menganggukkan kepalanya. Tak lama itu, Jessica dengan perasaan gugup memasuki ruang manajer… kesan pertama masuk ke ruang manajer Jessica bersikap sangat ramah. Ia terus menampakkan senyum manis, beberapa kata ia ucapkan dan sampailah saatnya Jessica ditentukan untuk lolos menjadi karyawan di restauran Hamkke. Manajer Lee pun memutuskan untuk menerima Jessica bekerja di restauran tersebut sebagai pengawas dan kepala pelayan.

“Gamsahamnida!” Jessica tak henti-hentinya berterima kasih sambil membungkukan tubuhnya. Ia segera keluar dari ruang manajer Lee, dan bersiap berganti baju sebagai kepala pelayan. Seohyun sudah menunggu diluar ruangan manajer Lee, untuk mengetahui keputusan lamaran bekerja Jessica.

“Unnie bagaimana?!” / “Mulai hari ini aku akan bekerja disini?!” jawab Jessica seraya memegang kedua lengan Seohyun.

“Senangnya… unnie akan ditempatkan di mana??” / “Sebagai pengawas dan ketua pelayan.”

“Pasti unnie senang dengan pekerjaan itu,” Seohyun menatap dengan tatapan lembut. “Aku akan mencobanya! Oia, aku mau ganti pakaian dulu…” Jessica berpamitan untuk berganti pakaian di ruang ganti khusus karyawan. Selesai berganti baju memakai baju karyawan, Jessica langsung menemui Seohyun. Selain ingin mencari teman, Jessica belum tahu nama yoja yang menyapanya tadi begitu pun dengan Seohyun tak tahu nama Jessica.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Hai…” / “Unnie! Kau nampak cantik dengan pakaian yang kau kenakan?!”  pujian Seohyun membuat Jessica tertawa, Jessica baru merasakan kesenangan kembali yang selama tiga tahun terkubur. Sejak Taeyeon koma, ia tak bisa tertawa dengan lepas. Bahkan untuk tersenyum sangat sulit, pertemuannya dengan Seohyun membuat ia ingin kembali pada masa di mana Taeyeon berada disampingnya.

“A, namamu siapa yoja?” / “Seohyun imnida… dan aku seorang maknae. Nama unnie?!” Seohyun membungkukan kepalanya.

“Jessica atau kau bisa panggil aku Sica! Aku juga seorang maknae dikeluargaku.” Jessica tetap mempertahankan senyumnya, ketika bersama Seohyun ia lupa akan kesedihannya.

“Senangnya, dapat satu unnie lagi.” Seohyun juga terus tersenyum.

“Memangnya kau punya kau punya berapa kakak perempuan?!” Jessica sepertinya terhanyut dalam perkenalannya dengan Seohyun, samapai-sampai ia lupa kalau ini adalah pertama ia bekerja. “Mereka sahabat-sahabatku unnie, tapi aku sudah menganggap mereka kakak perempuanku.” Seohyun melihat Manajer Lee sedang memperhatikan mereka berdua. “Unnie, manajer Lee melihat ke arah kita terus. Aku mau melanjutkan bekerja, sampai bertemu nanti unnie.” Jessica hanya menganggukan kepala, lalu pergi mengawasi pelayan yang lain.

 

TBC

 

mianhae ya buat authornya..kita ga sempet masukin foto2nya krena ribet kalo dr ms word..mianhae *bow*

mungkin lain kali bisa di kirim dgn file jpg..


13 thoughts on “Baby part 2

  1. Aaaah! Nice story!
    Biasa’a q langsung bosen klo genre’a friendship. Tapi,kali ni q enjoy ja . .
    Emm,unnie q koq jahat ya ma yul onnie . . Perbaiki image tif onnie y?
    Kayak’a da gelagat seo-kyu, yul-won . .
    Ni min-sica atw bum-sica?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s