S COUPLE


 

 

TITLE: S COUPLE

AUTHOR: Adizz a.k.a Kim Jing Su a.k.a Gladiz

RATING: Semua umur, bebas..

LENGTH: ONESHOT

GENRE : ROMANCE + COMEDY

CAST : Sungmin (SUJU), Sunny (SNSD)

OTHER CAST : So Yoong, Tae Yoen, & Jessica (SNSD)

Annyoeng…! Akhirnya, setelah FF pertamaku yg At Gas Station, bisa nerbitin FF aku yg ke-2 juga. Tapi FF ini nggak sperti FF pda umumnya yang terdiri dari bbrp POV. Berhubung ini FF request’an temen aku yang bingung kalo baca POV2’an, jadilah aku bentuk FF’na kaya gini.

Mian kalau ceritanya geje, silakan langsung dibaca saja! Don’t be silent reader! Arrasoe?!

*****

“Linggis, kau ini jelek sekali sich!” Kata Sungmin pada Sunny yang duduk di depannya. Sunny hanya diam tidak bergeming.

“Kau bahkan tidak menyangkalnya, benar – benar linggis jelek!” Sungmin tertawa keras.

“Paku! Kau bisa diam tidak sich!” Kali ini Sunny membalikkan badannya dan menggebrak meja.

“Anio!!!” Sungmin menjulurkan lidahnya.

“Sunny, Sungmin, kalau kalian ingin bercanda, lebih baik kalian keluar kelas sekarang!” Bentak HoDong Songsenim.

Sunny dan Sungmin yang sedang lotot – lotottan langsung membuat posisi anak baik di kursi mereka.

“Baiklah, kita lanjutkan pelajaran.” Ujar HoDong Songsenim. Sementara Sunny menatap Sungmin yang cengengesan dengan evil eyesnya.

-Beberapa menit kemudian-

“Linggis..,nomor satu itu jawabannya apa sich?” Sungmin mencondongkan tubuhnya ke depan agar dapat melihat lembar jawaban Sunny.

“PAKU..!!!!!!!KAU INI BISA DIAM TIDAK SICH..!!!!!!!!!!!” Sunny berteriak kesal pada Sungmin.

‘BRAKKK..!!!!!’ Semua mata seketika tertuju pada HoDong Songsenim yang menggebrak meja. “Sungmin, Sunny, keluar kelas sekarang!” Perintah HoDong Songsenim.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi – tapi’an kalian sudah mengganggu pelajaran. Keluar kelas sekarang, atau..”

“Nde..nde..kami keluar.” Sungmin melangkah santai sambil menarik Sunny bersamanya keluar kelas.

-Di luar kelas-

“Ya, Paku apa – apaan kau..!” Sunny menghentakan tangannya dengan keras hingga terlepas dari genggaman si Paku Sungmin itu.

“Apa – apaan kau memanggilku paku?!” Balas Sungmin. Sunny menghentakan kaki kanannya ke lantai. “Ini semua gara – gara kau, aku jadi dikeluarkan dari kelas.” Sunny berkata dengan wajah penuh amarah bagaikan setan beranak iblis **????*.

“Siapa bilang ini gara – gara aku?! Yang teriak sampai kita dikeluarkan dari kelas siapa?” Tuduh Sungmin.

“Itu kan gara – gara kau!” Sunny membela dirinya.

“Lah, aku kan cuma tanya jawaban nomor satu. Kau nya saja yang emosian!” Sungmin balik membela dirinya.

“Aigoo..!!!!!!!!” Sunny menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tidak mampu lagi berhadapan dengan paku karatan ini lagi.

Sunny memutuskan bahwa akan lebih baik apabila ia menjauh dari namja satu ini. Maka dari itu, Sunny berjalan pergi meninggalkan Sungmin menuju taman sekolah. Tapi entah kenapa, Sungmin malah menguntitnya dari belakang. Sunny menghela napas dan membelokan langkahnya menuju toilet perempuan.

“Masih mau ikut?” Sunny melirik kearah Sungmin yang ada di belakangnya.

Sungmin menyeringai dan mundur selangkah, “Anio. Gamsahamnida.”

“Biarlah aku nongkrong di toilet sampai jam pelajaran HoDong Songsenim habis, daripada deket – deket sama si paku karatan itu.” Gumam Sunny dalam hati.

******

“Aku ngapain ya?” Sungmin bertanya – tanya pada diri sendiri.

“Tu yoeja kok lama banget ya? Lagi nge bom kali ya?” Sungmin melirik kearah arlojinya. Sudah lima belas menit ia menunggu Sunny, tapi Sunny tak kunjung keluar dari sarangnya itu.

“Wah, jangan – jangan ia pingsan lagi?!” Sungmin teringat pada adegan yang ada di drama BBF, saat Jandi pingsan di toilet pas ditungguin Ji Hoo.

“Ah, tapi masa sich, yoeja linggis itu pingsan? Emang dia bisa pingsan?” Sungmin kembai bertanya – tanya pada dirinya sendiri.

“Ya, bisalah! Dia kan orang, pabo!” Sungmin menjawab pertanyaannya sendiri.

“Kalo di BBF kan, Jandinya di telephon pake hp sama Ji Hoo nya. Nah, kalo aku kan nggak punya hp, telephon pake apa dong? Mana di sini nggak ada wartel lagi!” Sungmin mulai ngomong sendiri.

Sungmin berpikir sejenak lalu menjentikkan jarinya, “Oh, ya! Pake cara jaman dulu aja!”

Sungmin kemudian mendekati pintu toilet yang dimasuki Sunny, kemudian ia mulai berteriak, “YA, LINGGIS..!KAU NGAPAIN? NGE-BOM YA? NGGAK PINGSAN KAN? KOK LAMA BANGET?” Sungmin berteriak sekencang – kencangnya. Sunny yang sedang asyik bermain game The Sim di hpnya tersentak mendengar teriakan Sungmin.

“LINGGIS..!!!!!!! DENGAR TIDAK? KAU PINGSAN BENERAN YA?! AKU DOBRAK NIH!” Sungmin kembali berteriak.

Sunny yang mendengar bahwa Sungmin akan mendobrak pintu, buru – buru bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Ia tidak mau didenda karena merusak property sekolah. Walau yang merusaknya adalah si paku karatan, Sunny yakin ia akan kena getahnya juga.

“HUWAAAAA……………!!!!!!!!!!!!!” Sungmin berteriak kaget saat pintu tiba – tiba terbuka tepat ketika ia hendak menubruk pintu. Alhasil ia terjerambab jatuh masuk ke dalam kamar mandi.

“Aduh..aduh..aduh..!” Sungmin mengelus – ngelus pundaknya yang nyeri.

“PABOYA…!” Sunny menendang tubuh Sungmin dengan ujung kakinya.

“Aoucchh..!” Sungmin merintih saat tendangan Sunny menerpa tubuhnya.

“Kau ini..” Kata – kata Sungmin terputus saat Sunny kembali menendang tubuhnya. “Woi..,woi..,kau kerasuk..” Perkataan Sungmin kembali terputus saat Sunny melancarkan tendangan ketiganya. Tapi kali ini Sungmin berhasil menangkisnya dan bangkit berdiri.

Sesaat kemudian Sungmin menjitak kepala Sunny. “Auoocchhh..!” Sunny merintih dan mengelus – ngelus kepalanya.

“Kau ini, aku tolongin malah menganiyayaku! Air susu dibalas air toba!” Gerutu Sungmin.

“Siapa yang kau tolong hah?! Lagian nggak ada pula yang namanya air toba, ada juga air tuba!”  Sunny melotot kearah Sungmin.

“Whatever. Yang aku tolong, ya, kau lah, Paku! Tadi kau pingsan kan?!” Sungmin balas melotot.

“Pingsan? Kau tidak lihat apa aku masih segar bugar gini?!”

Sungmin terdiam sesaat kemudian menggaruk – garuk kepalanya yang tak gatal, “Benar juga, mana ada orang yang habis pingsan bisa menganiayaya orang dengan segini ganasnya. Berarti kau…NGAPAIN KAU TADI PAKE ACARA PURA – PURA PINGSAN???!!!!!!” Sungmin  membelalak sambil mengangkat telunjuknya lurus dengan hidung Sunny.

Sunny menepis telunjuk Sungmin, “Kau ini menyebalkan sekali? Asal kau tahu saja, yang dianiyaya itu sebenarnya aku!” Ujar Sunny geram.

“Kau? Siapa yang menganiayamu?” Tanya Sungmin heran

“Aaaarrrgggghhhh……….!!!!!!!!!!” Sunny mengerang frustasi.

“Linggis, kayaknya kau sudah kerasukan setan toilet deh!” Kata Sungmin.

“Paku karatan! Kau sadar nggak sih, kau itu nyusahin, nyebelin, ngebetein, rese, jelek, pendek!” Sunny tidak lagi bisa mengendalikan emosinya.

“Kau bilang aku pendek?!” Kata Sungmin terkejut.

“Nde. Dasar paku karatan pendek..pendek..pendek…!!!!!!!” Kata Sunny berapi – rapi.

“Enak saja! Aku ini tinggi tau!” Sungmin membela dirinya.

“Tinggi? Nggak nyadar apa badanmu secuil gitu?!”

Sungmin tertawa meremehkan, “Hahaha..,mentang – mentang badanmu tinggi kau sombong ya! Saking tingginya, aku harus jongkok kalau mau lihat mukamu.”

“MWO?!” Perkataan Sungmin tadi semakin menyulut kemarahan Sunny.

Tiba – tiba saja Sungmin menjongkokan dirinya, “Nah, baru deh, aku bisa ngeliat si yoeja linggis. Kalau saja aku tidak mendengar suara cemprengmu yang berkicau tadi, aku pasti tidak sadar kalau di depanku ada orang.” Kata Sungmin sambil terkekeh.

“Kau ini…”

“Kalian berdua..,sedang apa disini?”

Kegiatan saling membelalak antara Linggis dan Paku terhenti saat terdengar suara yoeja di dekat mereka. Sontak mereka menoleh dan mendapati So Yoong teman sekelas mereka tengah berdiri tidak jauh dari mereka.

“Tiang listrik, ngapain kau disini?” Sungmin malah balik bertanya.

So Yoong langsung memasang wajah cemberut pada Sungmin dan berkata, “Kenapa kau malah balik tanya? Harusnya kau jawab pertanyaanku. Sedang apa kalian berduaan di dalam toilet?”

Sunny baru sadar, bahwa sedari tadi ia dan Sungmin bertengkar di dalam toilet dengan pintu yang terbuka. Dengan cepat Sunny ngibrit keluar toilet meninggalkan Sungmin lalu mendekati So Yoong.

“So Yoong, changkam, kau jangan yang mikir yang macam – macam dulu.” Sunny menatap So Yoong penuh harap sambil menggenggam tangannya erat.

“Kenapa tidak, kalian jelas – jelas sedang berduaan di toilet?!” Kata So Yoong penuh selidik.

“ANIO! So Yoong, please…, kau jangan gitu dong! Aku kan nggak mungkin ngelakuin hal kaya gitu, apalagi sama si paku karatan itu!” Sunny mulai panik.

“Ngelakuin apa?” Tiba – tiba terdengar pertanyaan bodoh Sungmin di belakang mereka.

Sunny menoleh menatap Sungmin dengan tatapan kalau-kau-bicara-lagi-kau-akan-kumasukan-kedalam-keloset, dan membuat Sungmin membungkam mulutnya.

“Hmmm..,jadi kau maunya aku gimana?” So Yoong menyilangkan tangannya.

“Jangan mikir yang nggak – nggak, jangan bilang – bilang songsenim manapun, dan jangan pernah bahas ini lagi.” Jawab Sunny cemas.

“Kalau aku tidak mau?” Kata So Yoong tanpa rasa bersalah.

“Huwaaaaa………!!!!!!!!So Yoong, kau jangan gitu dong..!!!!!” Sunny berteriak histeris dan memeluk So Yoong.

“Hahahahahahahahahahaha, kau ini ada – ada saja. Aku percaya kok, kau dan Sungmin nggak ngapa – ngapain. Palingan kalian cuma berantem nggak jelas.” Tawa So Yoong.

“Jinca?” Wajah memelas Sunny seketika kembali bercahaya.

“Nde. Sekarang minggir deh! Kebelet nich!” So Yoong mendorong pelan Sunny dan berjalan masuk ke salah satu toilet. Baru sedetik ia masuk, So Yoong kembali melongokkan kepalanya.

“Mending kalian ke kelas sekarang deh! HoDong Songsenim udah nggak ada dari tadi.” Ujar So Yoong pada Sunny dan Sungmin.

So Yoong lalu menatap kearah Sungmin tajam, “Apa kau sudah lupa kalau ini toilet yoeja?”

“Hah?” Sungmin yang sedari tadi bengong, tidak mendengar pekataan So Yoong.

“Sun, kau bawa keluar deh, namjachingu mu itu!” Perintah So Yoong pada Sunny.

“MWO?????” Sunny seketika berteriak keras saat mendengar So Yoong menyebut Sungmin sebagai namjachingu nya.

So Yoong hanya terkekeh, dan kembali menutup pintu toilet.

“Dasar..!” Gerutu Sunny lalu beranjak keluar dari toilet sementara Sungmin mengikutinya dari belakang.

“Kalian dari mana saja?” Tanya Hyo Hyun Songsenim sesampainya di kelas.

“Tadi kami habis diusir sama HoDong Songsenim.” Jawab Sungmin langsung.

Hyo Hyun Songsenim mengernyit, “Ya, sudahlah. Cepat duduk!” Perintahnya.

Sunny dan Sungmin pun menurut, “Kali ini, jangan ganggu aku lagi!” Ancam Sunny saat membalikan badannya untuk mengambil buku pelajaran dari tas.

Cengiran khas Sungmin kembali terlukis di wajahnya, “Nggak janji deh!” Jawabnya.

“Hahahahaha..,Sunny, sabar ya..!” Tae Yoen teman sebangku Sunny menepuk – nepuk pundak Sunny.

Sunny mendengus, “Sabar..sabar..,gimana mau sabar ngadepin orang kaya gitu?!” Ujar Sunny kesal.

“Hush..,jangan gitu. Entar jadi suka loh!” Goda Tae Yoen.

“Cih! Nggak mungkin!”

*******

“Sungmin!” Panggil So Yoong pada Sungmin yang ada di depannya.

Sungmin membalikkan tubuhnya menghadap So Yoong, “Mwo?” Sahutnya.

So Yoong terdiam sejenak, “Anio.” Katanya, lalu kembali sibuk menulis.

“Aneh.” Ujar Sungmin.

“Kenapa sih, kau suka banget manggil orang padahal nggak mau ngomong apa – apa?” Tanya Jessica yang duduk di samping So Yoong.

“Sebenarnya ada, cuma nggak jadi.” Jawab So Yoong.

“Kenapa nggak jadi?” Tanya Jessica lagi.

“Ya, karena nggak jadi.” Jawab So Yoong lagi.

“Huuh..,kau ini!”

“Hehehehe..,eh..,eh..,tau gak?”

“Mwo?” Tanya Jessica penasaran.

“Nggak jadi deh!”

“Serius..!” Jessica menyikut  So Yoong pelan.

“Jessica, So Yoong, jangan ngobrol!” Tegur songsenim.

“Nde, songsenim.” Sahut mereka berbarengan.

So Yoong menoleh ke arah Jessica dan menekankan jari telunjuknya ke bibir, lalu tersenyum. “Nanti, aku kasih tau.” Bisik So Yoong pelan.

*****

“Tadi kau mau kasih tau apa?” Tanya Jessica pada So Yoong saat waktu istirahat tengah berlangsung.

“Sebenatar..” Ujar So Yoong lalu mulai celangak celinguk ke sana kemari.

“Aman. Eh, Tae Yoen sini deh!” Panggil So Yoong.

“Nde..!” Tae Yoen segera melesat ke arah So Yoong dan Jessica.

“Waeyo?” Tanyanya setelah berada di dekat mereka berdua.

“Sini deh!” So Yoong memberikan isyarat dengan tangannya agar Tae Yoen lebih mendekat.

“Kalian jangan bilang siapa – siapa ya!” So Yoong memperingati dengan suara pelan sok misterius.

“Beritahu apa?” Tanya Jessica.

“Ssstt..,pokoknya jangan sampai ada yang tahu. Arrasoe?” So Yoong kembali memperingatkan. Tae Yoen dan Jessica mengangguk bersamaan.

“Tadi kan aku minta izin ke toilet sama songsenim ya! Nah, waktu itu Sunny sama Sungmin masih di luar kelas gara – gara di usir HoDong songsenim. Terus aku ketemu mereka. Tebak ketemu dimana?!” Ujar So Yoong.

“Kalo mengingat sifat Sungmin yang pikirannya makan mulu kayanya di kantin deh!” Tebak Jessica.

“Kayanya salah deh! Sungmin kan pasti nguntilin si Sunny, dan Sunny nggak mungkin ke kantin. Kira – kira Sunny kemana?” Tae Yoen mulai menebak – nebak.

“Kemana ya?” Jessica tampak bingung.

“Coba pikir tempat yang menurut Sunny nggak bakal dimasukin sama Sungmin.” So Yoong memberikan sedikit clue.

“Mana ada tempat yang nggak bakal dimasukin Sungmin?!” Sergah Tae Yoen.

“Toilet yoeja kali! Se pabo – pabonya dia, dia masih sadar kan kalo dia itu namja. Hehehehe..” Jawab Jessica asal tapi tepat sambil terkekeh.

So Yoong menjentikan jarinya, “Tepat sekali! Aku ketemu mereka berduaan di toilet yoeja.”

“MWO????!!!!!” Seru Tae Yoen dan Jessica keras.

“Sssttt..!” So Yoong menekankan jari telunjuknya dibibir, mengisyaratkan Tae Yoen dan Jessica agar tidak berisik.

“Apa yang mereka lakukan di sana?” Tanya Jessica heran.

“Jangan – jangan mereka…” Perkataan Tae Yoen terputus saat jitakan Jessica mendarat di kepalanya.

“Nggak mungkin lah!” Ujar Jessica.

“Lah,lagian mereka ngapain coba berduaan di toilet?” Tae Yoen balas menjitak Jessica.

“Molla. Yang pasti bukan apa yang kau pikirkan.” Kata Jessica.

“Memang apa yang aku pikirkan?” Tanya Tae Yoen pada Jessica.

“Pasti yang nggak bener deh!” Jawab Jessica sambil memasang tampang jijik.

“Huh, ini mah otak mu yang nggak benar! Orang aku mau bilang ‘Jangan – jangan mereka dihukum bersihin toilet yoeja’!”

“Huuuh..,dasar..!” Tae Yoen kembali menjitak kepala Jessica.

“Aiiisshh..,kok kau jitak – jitak sih!” Jessica mengelus – ngelus kepalanya.

“Suka – suka!” Tae Yoen menulurkan lidahnya.

“Kau ini!” Jessica balas menjintak.

Belum sempat Tae Yoen membalas kembali menjintak Jessica, So Yoong sudah lebih dahulu berbicara.

“Woi..woi..,mas, bu, pak, neng, dek, kak, nek, kek, para pemirsa, para penonton, para hadirin, semua yang ada disini, ni mau dilanjutin nggak ceritanya? Atau mau di cut sampe besok, biar pada bisa ngelanjutin main jitak – jitakan?!” Ujar So Yoong.

“Nggak usah – nggak usah! Kalo besok entar keburu basi, mending jitak – jitakan nya aja yang di cut dulu, biar bisa ngumpulin tenanga.” Sahut Tae Yoen.

“Arrasoe. Sekarang kalian pada diam and dengerin!” So Yoong menghela napas, kemudian mulai melanjutkan ceritanya.

“Jadi, pas aku masuk ke toilet, aku ngeliat ada Sungmin dan Sunny. Awalnya aku kaget, apalagi ngeliat posisi Sungmin yang aneh banget!”

“Aneh gimana?” Tae Yoen mulai penasaran.

“Posisinya tuh gini, Sungmin jongkok di depan Sunny. Gimana ya jelasinnya? Gini deh, bayangin aja pangeran kodok lagi ngelatin nenek peyot yang lagi melotot.”

“Hah?” Jessica tampak bingun.

“Ngerti nggak?” Tanya So Yoong pada Jessica.

“Anio.” Jessica menggeleng.

“Sama aku juga nggak ngerti.” So Yoong menggaruk – garuk kepalanya yang tak gatal.

“Lanjutin aja deh, jadi pas kamu ngeliat mereka, mereka ngeliat kamu nggak?” Tanya Tae Yoen.

So Yoong mencubit – cubit ujung dagunya, “Awalnya sih, mereka nggak tau. Tapi pas aku tanyain mereka baru pada nyadar kalo ada aku.”

“Kau nanya apa?” Tanya Tae Yoen lagi.

“Ya nanya, ‘Sedang apa kalian disini?’ Gitu deh!” Jawab So Yoong.

“Terus mereka jawabnya?”

“Nggak dijawab, adanya Sungmin malah balik nanya kenapa aku bisa ada disana.”

“Sunny nya gimana?”

“Langsung panik gitu! Sunny buru – buru jelasin, tapi aku nggak ngerasa itu jelas juga. Pokoknya dia bilang aku nggak boleh mikir yang macem – macem. Padahal aku juga baru kepikiran mikir yang macem – macem pas Sunny bilang jangan sampe aku mikir yang macem – macem.” Terang So Yoong.

Tae Yoen dan Jessica seketika melongo, Jessica mengernyit, “Maksud??” Tanyanya masih bingung.

Baru saja So Yoong membuka mulutnya, tiba – tiba terdengar suara gebrakan meja.

“Hayoo…! Pada ngomongin apa?” Tanya Sungmin dengan suara keras.

Sontak mereka bertiga menoleh, “Biasa, yoeja, gossip.” Jawab So Yoong singkat.

“Nge gossipin apa, hayoo??!!!”

“Yang jelas orang, bukan kau!” Jawab Tae Yoen.

Mendengar jawaban Tae Yoen, sontak So Yoong dan Jessica tertawa.

“Berarti, maksud kau, aku bukan orang gitu?” Sungmin memasang tampang marah, yang So Yoong tahu hanya pura – pura.

“Setahu ku sih, kau memang bukan orang.” Jawab Tae Yoen sambil cekikikan.

“Halah kepala batu! Ternyata kau big mouth juga ya!” Ledek Sungmin.

“Cerewet! Memang aku Moh.Ali apa Big Mouth?!” Ujar Tae Yoen sewot.

“Eh, lagi pada ngapain?” Ujar Sunny yang baru saja datang.

“Ani..ani..ani..,Cuma ngobrol doang!” Jawab So Yoong cepat.

Sunny mengernyit, “Ngobrol apa?”

“Ngobrol…” So Yoong memutar matanya mencari kata – kata.

“Kelinci.” Ujar Tae Yoen.

“Kelinci?” Sunny tampak bingung.

“Kami, eh, bukan, aku menemukan anak kelinci.” Kata Jessica.

“Anak kelinci? Dimana?” Tanya Sunny.

“Di jalanan!” Jawab Tae Yoen cepat.

“Jalanan mana?” Tanya Sunny lagi.

“Di samping kedai makan Shindong Ahjussi.” Jawab So Yoong.

Sunny tampak semakin bingung, “Bukannya di sampping kedai makan Shindong Ahjussi itu kuburan ya?”

Tae Yoen dan Jessica langsung mentap So Yoong dengan tatapan –pabonya-kau-berkata-begitu-.

“Ng..ng..n..nnde. Jessica memang menemukan anak kelincinya di kuburan.” So Yoong tergagap. “Iya kan, Jes?” So Yoong menyikut lengan Jessica pelan.

“N..nde.” Jawab Jessica ragu – ragu.

“Terus sekarang kelincinya mana?” Tanya Sunny lagi.

“Nah, itu dia! Karena Jessica nemuin kelincinya di kuburan, kelincinya nggak dia pungut. Soalnya, takut itu kelinci jelmaan hantu.” Tae Yoen menjentikan jarinya karena senang menemukan perkataan yang cukup masuk akal.

Sunny yang mendengarnya hanya manggut – manggut, “Terus sekarang pada mau ngapain?” Sunny kembali bertanya.

“Sekarang aku mau ke kantin. Kamu temenin ya!” Jessica menarik paksa Sunny menuju kantin.

“Eh..eh..pelan – pelan.” Ujar Sunny.

“Ternyata Sunny itu pabo ya!” Kata Sungmin tiba – tiba.

So Yoong dan Tae Yoen yang mendengarnya sontak menoleh ke arah Sungmin, “Maksud mu?” Tanya So Yoong.

“Jelas – jelas tadi kalian ceritanya ngarang. Eh, malah di percaya, pabo banget!” Sungmin menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Kau tau dari mana kami ngarang?” Tanya Tae Yoen.

“Aku kan pakarnya kalau mau boong.” Jawab Sungmin sambil meringis.

So Yoong yang melihatnya hanya geleng – geleng kepala. Mereka bertiga terdiam sesaat hingga akhirnya So Yoong mengajukan pertanyaan pada Sungmin.

“Sungmin kau suka kan sama Sunny?” Tanya So Yoong.

“Anio..” Jawab Sungmin tenang.

“Kau memang pakarnya dalam berbohong.” Ujar So Yoong lalu melangkah ke luar kelas.

“YA..,APA MAKSUD MU HAH???!!!” Teriak Sungmin setelah cukup mencerna perkataan So Yoong.

******

“Sungmin..!” Panggil So Yoong pada Sungmin yang tengah menatap layar laptopnya dengan serius.

“Ya, Sungmin..!” Seru So Yoong lagi lebih keras. Namun Sungmin tetap diam tak bersuara. Pikirannya seakan terpaku pada layar laptop yang menampakkan desktop ber wallpaper foto alay author.

“Su..” Perkataan So Yoong terhenti saat Sungmin menekankan jari telunjuknya di bibir So Yoong. Segera So Yoong menepisnya.

“Ya! Kau sadar tidak sih, kalau tanganmu itu banyak bakterinya?” Ujar So Yoong kesal.

Sungmin mengibaskan tangannya, “Sssttt..,jangan berisik! Aku sedang berpikir.” Kata Sungmin dengan nada serius.

Sontak So Yoong tertawa, “Sungmin? Mikir?” Ujar So Yoong di sela – sela tawanya.

“Memang kenapa, huh?” Seru Sungmin kesal.

“Percaya kalo seorang Sungmin mikir, sama aja kaya percaya Albert Einstant nggak bisa ngitung jumlah satu tambah satu, Alexander Grahambell nyiptain kentongan, dan Isadora Duncan yang nari kecak.” Kata So Yoong geli.

“Apa – apaan itu, huh?” Sungmin menggebrak meja.

So Yoong menyilangkan tangannya dan berkata, “Kau itu model orang yang bertindak sebelum berpikir, bukan orang yang berpikir sebelum bertindak. Arrasoe?”

“Model orang yang bertelur sebelum apa?” Tanya Sungmin.

So Yoong menghela napas, “Oh, god, bagaimana mungkin kau menciptakan manusia seperti ini?”

“Bisalah, namanya juga Tuhan! Apa coba yang nggak bisa dilakuin! Paboya!”  Sungmin mencondongkan tubuhnya dan menjitak kepala So Yoong.

“Iiiiihhh….!!!!! Sungmin banci..!!!!” Tiba – tiba terdengar suara Sunny.

“Maksud mu apa, huh?” Sungmin melirik kesal pada Sunny.

“Namja yang mukul yoeja itu namanya banci. Namja yang bentak yoeja itu namanya banci. Namja yang nyakitin yoeja itu namanya banci. Namja yag pake rok namanya banci.” Runtut Sunny

Sungmin menatap Sunny dengan tatapan sok tajamnya. Sunny mencibir dan berkata, “Banci..!”

Sungmin sudah akan membalas perkataan Sunny saat tiba – tiba songsenim masuk ke dalam kelas dan memanggil namanya.

“Sungmin!” Seru songsenim dari ambang pintu.

Sungmin medongakkan kepala dan segera bangkit dari duduknya mendapati songsenim yang memanggil namanya. Buru – buru Sungmin berjalan menghampiri songsenim, meninggalkan Sunny dan So Yoong yang menatap kepergian dirinya.

“Nde, songsenim. Ada apa?” Tanya Sungmin sesopan mungkin.

“Orangtua mu sudah menunggu di ruang kepala sekolah, sebaiknya kau cepat kesana.” Jawab Songsenim kemudian berlalu.

Sungmin menghela napas lalu melangkahkan kakinya dengan enggan menuju ruang kepala sekolah. Sungmin mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan masuk saat mendengar seruan dari dalam ruangan. Di dalam ruangan, tampak Leetuk songsenim yang merupakan sang kepala sekolah dengan senyum memikat tapi aslinya mematikan bak serigala berekor sembilan, serta kedua orangtuanya yang menatapnya sembari tersenyum.

“Kemarilah!” Perintah Leetuk songsenim sedangkan Ummanya menepuk – nepuk kursi yang berada di antara dirinya dan Appa.

Sungmin melangkah mendekat dan duduk diantara kedua orangtuanya.

“Nah, Sungmin, kau pasti sudah tau kan, mengapa aku memangilmu kemari?” Tanya Leetuk Songsenim.

Sungmin mengangguk, “Nde.”

*******

Sunny mengetuk – ngetukkan penanya ke buku tulis sambil sesekali melirik ke arah pintu kelas yang tidak kunjung terbuka. Sejak istirahat saat songsenim memanggil Sungmin tadi, Sungmin belum juga kembali. Hal itu membuatnya penasaran.

“Kemana sih si paku itu?” Gumam Sunny pelan.

“Wae?” Tanya Tae Yoen yang mengetahui bahwa Sunny baru saja berbicara namun tidak dapat menangkap apa yang ia katakan.

“Ah, ani.” Sunny melambaikan tangannya, dan disaat bersamaan pintu kelas terbuka.

Otomatis Sunny mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan mendapati Sungmin yang melangkah masuk ke dalam kelas.

“Sudah selesai?” Tanya songsenim.

“Nde.” Jawab Sungmin singkat dan melanjutkan perjalanannya menuju kursi di belakang Sunny. ‘Apanya yang selesai?’ Tanya Sunny dalam hati.

“Kau dari mana?” Tanya Sunny saat Sungmin hendak duduk.

Sungmin menatap Sunny tajam. Tatapannya berbeda, bukan tatapan sok serius ataupun sok tajam yang sering ia perlihatkan kalau sedang marah atau lebih tepatnya pura – pura marah. Dan tentunya juga bukan tatapan jenaka ataupun tatapan saat ia sedang menggoda Sunny. Tatatapnnya kali ini benar – benar berbeda.

“Apa pedulimu?” Tanya Sungmin ketus.

Sunny membalikkan badannya, tanpa menjawab terlebih dahulu. ‘Ada apa dengan orang ini?’ Sunny bertanya – tanya dalam hati.

Tidak seperti biasanya, hari ini Sungmin langsung keluar kelas saat bel pulang berbunyi. Biasanya ia akan menunggu Sunny dan menemaninya hingga supir Sunny datang untung menjemputnya, tak peduli dengan bentakan Sunny yang menyuruhnya pergi. Hal itu semakin membuat Sunny heran.

Sunny mendapat jadwal piket hari ini dan ia murid terakhir yang meninggalkan kelas. Sunny menyusuri koridor – koridor sekolah sendirian dan saat – saat seperti ini adalah kesempatan langka. Biasanya Sungmin akan berjalan di samping Sunny setiap hari sambil menjahilinya. Dan kalaupun tidak, itu karna Sungmin tidak masuk sekolah. Walau begitu, pasti ada saja sms yang Sungmin kirimkan pada Sunny dengan hp Ummanya. Sunny sendiripun tidak tahu darimana Sungmin bisa mendapatkan nomor hpnya.

Awalnya Sunny kira ia akan merasa bebas. Tapi nyatanya tidak, malahan ia merasa sedikit kesepian. Menyadari hal itu, buru – buru Sunny membuang perasaannya jauh – jauh.

“Sunny pabo!” Sunny menjitak kepalanya sendiri. “Untuk apa aku memikirkan paku itu? Mau ia ke laut, ke gunung merapi, ke ujung kulon, apa peduliku?!” Kata Sunny pada dirinya sendiri dan mulai mempercepat langkahnya  ke luar sekolah. Untunglah supirnya sudah datang hingga ia tidak perlu berlama – lama lagi menunggu.

*******

“Sunny..” Panggil Sungmin pelan.

Sunny menoleh, ini rekor terlama Sungmin tidak mengajaknya bicara. Baru saat istirahat kedua Sungmin menyebut namanya. Padahal biasanya, baru melihat wajah Sunny, sudah ada saja yang Sungmin katakana pada Sunny.

“Wae?” Tanya Sunny pura – pura tidak tertarik.

“Kau bosankan tidak aku ajak bicara dari tadi?” Tanya Sungmin kepede-an sambil menyeringai lebar.

Dengan cepat Sunny memeletkan lidahnya lengkap dengan wajah jengkel, “Ngapain aku bosan tidak kamu ajak bicara? Malah aku senang! Kalau bisa, kau jangan ajak aku bicara lagi.” Kata Sunny lalu kembali memalingkan wajahnya dari Sungmin.

“Oh, kalau begitu bagus.” Ujar Sungmin pelan, namun masih dapat didengar Sunny.

Sunny mengernyit, menahan dirinya agar tidak menoleh kembali kepada Sungmin, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan mengatakan bahwa ia bohong soal ia tidak bosan dan merasa senang apabila Sungmin tidak mengajaknya bicara.

Sunny bosan dan sesungguhnya sedari tadi menunggu suara Sungmin yang akan berkotek mengajaknya bicara. Sebenarnya Sunny sedikit kesal dan tidak percaya dengan apa yang ia sadari, namun ia tetap tidak dapat menentangnya.

Sejak percakapan antara Sunny dan Sungmin yang durasinya berkisar 13,28 detik tadi, tak ada lagi percakapan lain yang muncul. Sungmin diam seribu bahasa sedangkan Sunny terlalu gengsi untuk memulai duluan obrolan mereka.

“Tumben kau diam saja, sakit ya?” Samar – samar Sunny dapat mendengar perkataan So Yoong yang jelas ditunjukkan untuk Sungmin.

Sungmin menoleh pada So Yoong, “Menurutmu?”

“Anio. Kau kan Sungmin, tidak akan bisa sakit.” Jawab So Yoong.

“Kalau begitu untuk apa kau bertanya apakah aku sakit atau tidak? Padahal kau kan sudah tau kalau aku ini Super Sungmin?!” Tanya Sungmin dengan muka cengengesan hasnya.

So Yoong tertawa kecil, “Rasanya sedikit aneh belajar tanpa suara kelontangmu itu!” Jawab So Yoong.

Sungmin mengernyit, “Kelontang itu apa?”

So Yoong kembali tertawa dan mencondongkan tubuhnya sedikit untuk memukul kepala Sungmin dengan pulpen, “Paboya!” Ujarnya.

Sungmin ikut tertawa dan akhirnya kembali berkonsentrasi pada buku pelajaran. Bukan untuk dibaca,kapan pula ada sejarahnya Sungmin mau baca buku pelajaran dengan serius? Ada juga Sungmin menghitung jumlah kata yang ada di setiap halamannya untuk mengalihkan perhatiaannya agar tidak tergoda kembali untuk mengajak Sunny berbicara.

Yang tadi sudah cukup, lagipula sudah jelas Sunny berkata bahwa ia merasa senang apabila Sungmin tidak mengajaknya berbicara atau lebih tepatnya mengganggunya. Dan apabila Sungmin mengharapkan yang sebaliknya, maka itu hanyalah angan – angan belaka.

Sungmin menghela napas pelan, ia harus membiasakan dirinya agar tidak memikirkan Sunny. Karna sebentar lagi, ia tidak akan pernah bertemu Sunny.

*****

Sudah seminggu sejak Sungmin ngacangin Sunny, dan pernah sekali Sunny memaksakan dirinya untuk mengajak Sungmin ngobrol dan dua kali mencoba menarik perhatian Sungmin dengan pura – pura kepeleset dan kepentok meja. Dan tidak ada satupun taktik Sunny yang berhasil menarik perhatian Sungmin, yang ada punggung Sunny malah jadi encok karna kepeleset beneran pas mau acting kepeleset. Dan di hari yang kedelapan ini, Sungmin malah tidak muncul di sekolah.

“Sunny, Sungmin kok hari ini nggak masuk sih?” Tanya So Yoong pada Sunny yang tengah makan ketoprak.

Sunny mengernyit dan menghentikan aksinya menjejalkan lontong – lontong di piring ke mulutnya, “Mana aku tahu, memangnya aku emaknya apa?” Ujar Sunny pura – pura tidak peduli.

“Apa kau bertengkar dengannya?” Tanya So Yoong, yang kali ini mendudukkan dirinya di samping Sunny.

“Kapan juga aku dan Sungmin tidak bertengkar?” Kata Sunny lagi.

So Yoong mencibir, “Aku serius nih!” Ujarnya.

“Aku juga serius.” Jawab Sunny lagi.

So Yoong menghela napas, “Seminggu ini Sungmin tidak banyak bicara, malah kalau bisa dibilang ia jadi pendiam. Benar – benar seperti keajaiban dunia, aku tidak pernah memikirkan kemungkinan Sungmin jadi pendiam,” So Yoong tersenyum kecil.

“Sepertinya ia sedang ada masalah. Apa kau tidak menyadarinya?” Tanya So Yoong.

Sunny menoleh kearah So Yoong, ‘Tentu saja aku menyadarinya’ Ujar Sunny dalam hati, “Apa kau menghawatirkannya?” Tanya Sunny.

So Yoong mengangkat bahunya dan tersenyum kecil. “Tentu saja, walau dia namja berandalan, ia chinguku.”

Sunny merasakan desiran rasa curiga bahwa mungkin SoYoong menganggap Sungmin lebih dari sekedar teman, “Hanya chingu?” Sunny menatap So Yoong curiga.

So Yoong mengernyit, “Nde, kau mau aku bilang apa?” Sunny diam karna sepertinya So Yoong menyadari apa yang ada dipikirannya.

“Aku sudah mengenal Sungmin lebih lama darimu, kau tahu itu. Dan pasatinya aku sudah mengenal Sungmin lebih jauh. Dan kalau seandainya aku bilang menyukai Sungmin, berarti aku adalah yoeja pabo, dan kalau seandainya aku bilang tidak menyukai Sungmin, berarti aku yoeja gila.”

Sunny menatap So Yoong bingung, tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia katakan.

“Sungmin chinguku, teman dekatku, sahabatku, tidak lebih. Dan aku mengatakan hal itu dengan sejujur – jujurnya. Dan aku juga berharap kau bisa jujur dengan perasaanmu pada Sungmin.” Lanjut So Yoong.

Sunny semakin tidak mengerti, “Apa maksudmu tentang harapanmu agar aku jujur dengan perasaanku pada Sungmin?”

“Oh, ayolah! Kau tahu tentang itu, itu perasaanmu sendiri, dan aku mendukung perasaanmu itu. Jangan dilawan,ok?” So Yoong mengedipkan sebelah matanya.

Baru saja Sunny membuka mulutnya untuk mengajukan pertanyaan lain, So Yoong sudah melenggang pergi meninggalkannya.

“Ya, changkam!!!!” Seru Sunny, namun So Yoong tidak berhenti ataupun menoleh pada Sunny.

“Aiiiisshhh, apa pula maksud perkataan yoeja tiang listrik itu?”

******

“Aiisshh..!” Gumam Sungmin kesal karna tali sepatunya kembali terlepas. Sungmin membungkukkan tubuhnya dan mulai mengikat tali sepatunya.

“Awas kalau lepas lagi! Ku lempar kau nanti ke lubang buaya!” Ancam Sungmin pada tali sepatunya.

Sungmin pun melanjutkan langkahnya sambil mengemut permen lollipop di mulutnya. Sebenarnya ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu dengan Sunny, tapi ia melewatkannya begitu saja. Ia bolos sekolah hari ini, padahal seharusnya ia mengucapkan salam perpihasan dengan teman – teman seperjuangannya itu.

Sedikit rasa sesal menjalar di hati Sungmin, tapi ia tidak menggubrisnya. Toh, hari sudah malam, tidak ada kesempatan lagi untuk melakukan hari itu. Besok, ia sudah akan meninggalkan Seoul.

Jadi, ia menghabiskan hari terakhirnya itu dengan berjalan – jalan di sekitar taman dekat sungai Han. Sebenarnya ia sangat ingin menemui Sunny, yoeja yang selama ini diam – diam dicintainya. Ingin mengungkapkan perasaannya walau ia merasa perasaannya itu hanya akan bertepuk sebelah tangan.

Sungmin menghentikan langkahnya, menghembuskan napas, dan menengadahkan wajahnya ke langit malam berbintang. “Kasihan sekali aku..” Ratapnya.

Sungmin tertawa kecil, besok, ia sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mengungkapkan perasaannya itu. Besok, ia tidak akan bisa lagi menjaili Sunny, tidak bisa lagi mengajaknya bicara, mengikutinya, mendengar suara cemprengnya..

Rasa kecewa dan sesal membanjirinya. Tapi ia mencoba untuk melepaskan perasaannya itu, membiarkan perasaan itu pergi, pasrah. Sungmin melanjutkan langkahnya dan menyumpah saat ia hampir saja terjatuh karna menginjak tali sepatunya sendiri yang kembali terlepas.

“Ya, kau benar – benar ingin dimasukkan ke lubang buaya ya?!” Seru Sungmin gusar pada tali sepatunya sendiri.

“Awaaaasssss…..!!!!!!!!!!” Terdengar seruan dari belakang tubuh Sungmin, saat ia sedang membungkuk untuk membetulkan tali sepatunya dengan ekstrim.

Belum sempat ia menoleh, Sungmin merasakan sesuatu menubruk punggungnya dengan keras.

‘Bruk..brak..gedebug..jeledug..gendreng..cling..pyung..guk guk..meong – moeng’ *reader : apa coba?*

“Jongmal Mianhe..” Terdengar seruan seorang yoeja di sampingnya.

“Aduhh..” Sungmin merintih kesakitan sambil mengelus – ngelus punggungnya yang baru saja di serang oleh sebuah sepeda terkutuk.

“Yang mana yang sakit? Patah tidak tulangnya? Memar tidak? Aigoo..,bagaimana ini?” Ujar yoeja tidak dikenal itu panik.

Sungmin mendengus dan membalik badannya menghadap kearah yoeja yang baru saja menubruknya itu, “Ya..” Baru saja Sungmin hendak melancarkan celotehannya, perkataannya terputus saat melihat yoeja itu.

“Kau!” Kata Sungmin kaget.

“Kau!” Kata yoeja itu tidak kalah kagetnya.

“Bagaimana bisa kau disini?” Tanya Sungmin heran.

“Huuh..,untung kau yang kutabrak!” Sunny menghela napas lega.

“Untung? Kau tidak merasa bersalah apa sudah menabrakku?” Ujar Sungmin jengkel.

Sunny menyeringai, “Sedikit. Sekarang mendingan kau bangun deh!” Perintah Sunny.

Sungmin pun berlahan – lahan bangkit dan merasakan daranhnya berdesir saat merasakan tangan Sunny meraihnya dan membantunya bangun. Sungmin merasakan punggungnya nyeri, sehingga ia tidak dapat berdiri dengan tegak.

“Kau!” Ujar Sungmin sambil menatap Sunny tajam.

“Mwo?” Tanya Sunny.

“Tanggung jawab!”

*****

“Ini!” Sunny menyodorkan segelas kopi kepada Sungmin.

Sungmin menerimanya sambil menyeringai,”Gomawo.” Ujarnya.

Sunny mengangguk kecil dan menyerap kopinya perlahan diikuti oleh Sungmin.

“Tidak elit sekali minta di belikan kopi.” Ujar Sunny.

“Untung kau tidak aku suruh tanggung jawab dengan membelikanku mobil!” Ujar Sungmin.

Sunny tertawa kecil mendengar perkataan Sungmin. Setelah itu terjadi kesunyian yang sangat canggunng.

Hingga akhirnya Sunny berdehem dan bertanya, “Kenapa hari ini kau tidak masuk sekolah?”

Sungmin terdiam sesaat, “Kenapa ya?” Sungmin menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aiishh..,kau ini!” Sunny menyikut Sungmin pelan.

Sungmin tertawa kecil, “Kenapa? Kau kangen padaku?” Tanya Sungmin, walau ia tahu bahawa Sunny pasti akan menjawab ‘tidak’.

Untuk beberapa saat Sunny tidak menjawab, “Mungkin.” Ujarnya pelan.

Perkataan Sunny membuat Sungmin tersentak kaget. Kata mungkin berarti mendekati kata ya, walau juga mendekati kata tidak.

“So Yoong mengkhawatirkan mu.” Kata Sunny tiba – tiba.

Sungmin mengangkat sebelah alisnya, “Jinca? Wae?”

“Katanya kau jadi pendiam, dan itu adalah keajaiban dunia. Dia percaya kalau kau sedang ada masalah..” Sunny menyerap kopinya, “dan aku juga berpikir demikian.” Lanjutnya.

“So Yoong khawatir padaku, aku tidak kaget. Tapi kalau kau bilang kau khawatir padaku, aku akan terkena serangan jantung ditempat.”

“Aku tidak bilang kalau aku khawatir padamu.” Sergah Sunny.

“Kalau begitu aku akan tanya, apa kau khawatir padaku?” Tanya Sungmin sambil menatap ke arah Sunny.

“Mungkin.” Jawab Sunny singkat.

Sungmin mendengus, “Bisa beri jawaban pasti?”

“Kalau aku beri jawaban pasti, kau akan terkena serangan jantung. Dan aku sedang tidak bawa sengatan listrik untuk mengatasinya.” Jawab Sunny lagi.

Sungmin merasakan jantungnya mulai berpacu cepat, ‘apakah artinya Sunny mengkhawatirkan ku?’ Tanya Sungmin dalam hati.

“Jadi, ada apa sebenarnya?” Kali ini Sunny yang bertanya.

“Mwo?” Sungmin tampak tidak mengerti.

“Kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini dan jadi pendiam selama seminggu belakangan ini. Ada apa?” Tanya Sunny lagi.

Sungmin menimbang – nimbang apakah ia akan memberitahukan alasannya pada Sunny. Bahwa mulai besok ia akan pindah ke Amerika, dan karna hal itu ia mencoba untuk menjauh dari teman – temannya di Seoul, menjauh dari Sunny. Agar disaat kepergiannya, ia dapat melepaskan semua orang yang akan ditinggalkannya dengan mudah. Tanpa ada perasaan sakit ataupun kecewa karna tahu butuh berapa tahun lagi untuknya kembali lagi ke Seoul, Korea Selatan, tanah kelahirannya.

“Besok, aku akan pindah ke Amerika bersama Appa dan Umma yang dipindah tugaskan ke sana.” Kata Sungmin akhirnya. Sunny menoleh pada Sungmin dengan terkejut.

“Dan mungkin aku baru akan kembali lagi ke Seoul beberapa tahun lagi mungkin setelah aku lulus kuliah, lima tahun lagi, mungkin lebih.”

“Jadi itu alasanmu jadi pendiam? Kau sedih akan meninggalkan Seoul?” Tanya Sunny dengan nada suara yang tidak dapat dijelaskan.

“Seoul? Aku tidak akan sedih kalau hanya harus meninggalkan Seoul.” Sungmin tertawa kecil, sedangkan Sunny hanya diam menatap Sungmin lekat – lekat.

“Tapi..” Sungmin memutus perkataannya, menoleh kearah Sunny, membalas tatapannya, “aku akan sedih karna harus meninggalkan teman – temanku di sini, keluargaku, terutama..kau, Sunny.”

Sungmin terus menatap mata Sunny dan menyadari bahwa mata Sunny kali ini berkaca – kaca. Untuk beberapa saat Sungmin terdiam, ia menjatuhkan gelas kopinya, dan menarik Sunny ke dalam pelukannya. Membuat Sunny tersentak dan menjatuhkan gelas kopinya juga.

Sunny dapat merasakan Sungmin yang memeluknya erat, merasakan kehangatan tubunya, dan disaat bersamaan, ia sadar. Sadar bahwa ia mencintai Sungmin, sadar bahwa ia ingin selalu berada di dekatnya.

“Sunny..” Bisik Sungmin pelan namun cukup jelas ditelinganya. “Saranghaeyo.”

Saat itu juga, air mata Sunny tumpah. Ia membalas pelukan Sungmin dan berkata, “Nada saranghaeyo, Sungmin..,nado saranghaeyo..”

Sungmin melonggarkan pelukkannya menatap mata Sunny, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang tadi didengarnya adalah kenyataan.

Tapi Sungmin tidak menemukan keragu – raguan di mata Sunny, yang ia temukan adalah ketulusan. Sugmin menghapus air mata yang menodai wajah Sunny dengan jemarinya dan membingkai wajah Sunny dengan telapak tangannya.

Hembusan angin malam menggigit kulit Sungmin, namun Sungmin tidak menggubrisnya, karna Sunny ada di dekatnya, mencintainya. Sungmin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sunny. Angin malam berhembus semakin kencang.

Sunny menutup matanya dan tinggal beberapa centi lagi hingga..

“Haaattcccchhhiiiii….!!!!!”

“Kyaaaa……..!!!!!!!!!” Sunny berteriak panik saat ingus Sungmin menodai wajahnya. Buru – buru Sunny merogoh tasnya dan menarik selembar tissue lalu membersihkan wajahnya dari najis menjijikkan itu.

“Mi..mianhe..” Ujar Sungmin, lalu meraih tissue dari tangan Sunny bermaksud membantu Sunny membersihkan wajahnya, namun…

“Haaattcccchhhiiiii….!!!!!”

“KYAAAAAA……!!!!!!!!!!!!!!! BAKTERI……!!!!!!!!!! PERGI KAU SANA JAUH – JAUH….!!!!!!!!!!! KYAAAA…,JIJIK..JIJIK..JIJIK..JIJIK…!!!!!!!!”

“Mianhe, Sunny, kayaknya aku flu deh!”

-5 tahun kemudian-

“Kajja, kita menikah!”

Sunny melirik Sungmin geli, “Setelah lima tahun tidak bertemu dan baru bertemu lagi kemarin, kau sudah mau mengajakku menikah?” Sunny tertawa.

“Sudah lima tahun menungguku, kau tidak mau aku ajak menikah?” Sungmin menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Bukannya tidak mau, hanya saja, tidak untuk sekarang.” Ujar Sunny.

“Jadi kapan?” Tanya Sungmin.

“Molla, empat tahun lagi, mungkin..”

Sungmin menghitung – hitung dengan jarinya, “Saat kita 25 tahun?”

“Saat kau sudah bisa menghitung lebih cepat.” Kata Sunny.

“Oh, arrasoe. Berarti kita menikah besok, karna besok aku sudah bisa menghitung dengan lebih cepat.”

Sunny menyikut Sungmin pelan, “Dasar kau!”

Sungmin tertawa dan mengecup kening Sunny lembut, “Saranghaeyo..”

“Nado saranghaeyo..”

-THE END-

Ending yang aneh bukan??? Kekekekeke..,memang sudah tabiat author bikin ending aneh. Gomawo dah baca n jangan lupa comment!

Btw, slam kenal Gladis imnida, 14 yo..

 


21 thoughts on “S COUPLE

  1. Hahaha lucu bgt kak!! Aduuhh gokil deh pkk.a! Hahahaha. .
    Lucu bgt alasan.a sica,taeng n youngie yg tntg kelinci i2? Msa nemu di kburan? Hahaha. .
    SunSun jjang! ^o^

    Like

  2. SUNSUN ^^
    Aigoooo itu sungmin aaaaaaa #plak

    Hiks aku nangis pas sungmin nembak sunny. Abis so sweet :* *peluk sungmin oppa

    Aaaaa I WANT MORE !!! Mau sunsun lagiiii #plak

    Hiks kerennn huaaa mengharukan. Seandainya mereka bersatu~ keke

    Like

  3. wkwkwk gaje bener namanya … paku ama linggis …:D
    abes tu lucunya waktu Tae , sica , soo cari alasan dan alasannya nemu kelinci dikuburan ???
    wkwkwk gokil😀
    huaaaa SunSun so sweet😀 akhirnya jadian juga ya😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s