BABY part 1


Baby! Baby! Baby!

Part 1

Author: Ginie (Gita andrian)

Main Cast : SNSD & Super Junior

Support Cast: SHINee, DBSK, F(X)

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Romance, Friendship

“Annyeong haseoyo!” ucap Seohyun dengan wajah sumringah menyapa kedua best friendnya Yuri dan Sooyoung.

Rupanya ia memulai aktivitas pagi ini dengan penuh semangat. Selain dari senyum manisnya juga terlihat jelas dengan warna baju yang dikenakan Seohyun yaitu warna merah muda cerah seperti cuaca hari ini.

“Kita baik-baik saja…” Yuri mewakili Sooyoung  karena Sooyoung hanya diam tampak seperti orang memikirkan sesuatu, mungkin itu gara-gara kejadian tadi pagi sebelum ia berangkat ke supermaket (tempat mereka bekerja) siapa lagi yang membuat wajah Sooyoung seperti ini kalau bukan kebiasaan judi dan minum-minuman keras ayahnya.

“Unnie, kau bohong bukan… jangan membohongi aku! Aku memang maknae, tapi aku tahu kalau kalian sedang ada masalah… ceritakanlah, ada apa? Apakah aku bisa membantu?”

“Sudahlah… kau tidak akan bisa membantu masalahku.” Sooyoung mengibaskan tangannya.

“Ahh unnie… aku berjanji akan membantumu, katakan apa yang bisa aku bantu. Aku akan berusaha sebisaku, selama unnie senang.” Sooyoung hanya tersenyum melihat gaya bicara Seohyun yang kekanak-kanakan.

“Tak usah dipikirkan ini hanya masalahku dengan appa… lebih baik kita mulai bekerja.”

“Ahjussi berjudi lagi ya?”

“Ahh, sekarang saat bekerja. Asa asa hwaiting!” Yuri menarik tangan Sooyoung dan Seohyun.

“Baik, tapi Unnie jangan menarik tanganku. Sakit tahu.”

Tiba-tiba ponsel Sooyoung berbunyi. “Yeoboseoyo. Sooyoung imnida…. Oh? Sincayo? Appa, ahh apa yang kau lakukan lagi! Seratus juta, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu… Ok, bye-bye.”

“Tidak mungkin! Ah sinca! Ahhh…. Appa!” Sooyoung menjatuhkan dirinya ke lantai dengan kesal bercampur sedih.

“Sooyoung, Gwaenchanayo?” / “Unnie, are you okey?”

Sooyoung mengacak-ngacak rambut pendeknya, Yuri dan Seohyun melihat tingkah Sooyoung seperti itu merasa sangat sedih. Terutama Yuri yang merupakan sachon Sooyoung, ia tinggal serumah dengannya bersama appa Sooyoung juga haelmoni. Keluarga mereka pas-pasan untuk makan sehari saja itu hasil kerja keras mereka berdua. Ditambah appa Sooyoung yang suka berjudi dan mabuk-mabukan, terkadang penghasilan mereka pun diambil oleh pak Choi (appa Sooyoung).

“Appa… berjudi lagi! Kali ini dia kalah dan harus membayar seratus juta. Kalau tidak appa akan masuk penjara atau rumah kita akan disita.”

“Ne, ahh Ahjussi memang keterlaluan.” Ucap Seohyun kesal.

“Kalau begitu, Ahjussi saja yang dipenjara ia selalu menyusahkan kita Sooyoung. Haelmoni tidak akan keberatan, daripada rumah kita yang disita.”

“Ne, kau benar! Sudah saatnya appa merasakan tempat yang ia takutkan…”

“Tenang saja unnie, aku akan selalu mendukung kalian. Hwaiting!” mereka saling berpelukan, dan tertawa bersama-sama.

***

“Umma… ummaa!! Wegureoyo? Appona?” Yoona memberikan teh hangat dengan khawatir. “Aigoo… pergilah! Kau hanya akan membuat ibumu ini stress!”

“Umma! Ada apa denganmu? Kenapa kau besikap seperti ini padaku!”

“Sudahlah, kau tak mau menuruti keinginanku!”

“Umma… aku mencintainya, aku tak mau menikah dengan orang pilihan umma. Aku hanya mau dengan…”

“Dan laki-laki yang aku pilih itu adalah orang kaya, tak seperti pilihanmu tak jelas. Kau harus menikah dengan pilihanku, mengerti!” Yoona menekuk wajahnya. “Aaaa… ummaa…” kini keduanya dalam diam.

“Umma… umma jebal” Yoona berteriak histeris, lalu ia terjatuh dari tempat tidurnya.

“Ahh, hanya mimpi, tapi apa maksud mimpi tadi ya? Sudahlah…” Yoona segera bangkit dan ternyata kedua sahabatnya Sunny dan Tiffany sudah berdiri sedari tadi dipintu kamarnya yang terbuka.

“Komapseumnida. Annyeong haseoyo.”

“Hah… tidakkah kau mengetuk pintu terlebih dahulu. Sangat tidak sopan…” Yoona mengambil mantelnya, dan menutupi pakaian tidurnya yang tipis.

“Bukankah sudah biasa seperti itu, kenapa kau harus marah!” / “Ne!” Sunny menyetujuinya. Yoona melirik kedua sahabatnya dengan tatapan meledek, sahabatnya pun berbalik menyerang Yoona dengan mempraktekan gaya mengigau Yoona.

“Fany Fany! umma jebal…” / “Aku tak mau menikah dengan pilihan umma, aku hanya mau dengan pilihanku.” Sunny dan Tiffany tertawa dengan puasnya.

“Hah… kalian menyebalkan!” Yoona memasang wajah merajuk. Lalu otak liciknya langsung mengambil bantal dan melempari bantal tersebut kewajah Sunny dan Tiffany. Tetapi mereka tak mau kalah dengan Yoona, dengan langkah cepat Yoona diserbu oleh mereka.

***

“AKU! GAK! PERDULI! Pada kenyataannya aku akan tetap mempertahankan Taeyeon unnie dengan alat-alat rumah sakit, toh meski koma unnie bisa hidup sampai sekarang!” tukas Jessica. “Apa kamu tidak sadar kalau Taeyeon sudah koma selama 3 (tiga) tahun. Kau tidak kasihan dengannya, kita hidup dari ‘SM’ yang sebagian modalnya dari uangku? Dan kali ini SM mengalami pemunduran pesat. Kau tak pikirkan itu, untuk membayar pengobatan Taeyeon sangat besar. Tetapi apa hasilnya, tidak ada perubahan bukan… ia tetap seperti itu.”

“Aku tidak menyangka ada seorang ahjumma yang tega melakukan hal tersebut kepada keponakannya sendiri.” Ujar Jessica lirih. “Aku tidak menyangka sikap ambisius ahjumma bukannya membaik justru semakin parah, ahjumma semakin egois, ahjumma tidak tahu apa yang aku rasakan!”

“Terserah, aku sudah tidak peduli lagi. Kau dan Taeyeon hanya menyusahkan aku saja…” Mi young bergegas keluar dari kamar perawatan Taeyeon. Jesicca menatap Taeyeon yang terbaring lemah, sambil terus menggengam tangan kakaknya.

“Unnie, harus sampai kapan kau seperti ini. Apa kau tak dengar tadi, apa yang dikatakan oleh Ahjumma. Ia akan membiarkan kau mati, kau harus hidup. Saranghae unnie…” tanpa terasa kasur Taeyeon sudah basah kuyup dengan air mata Jessica.

“Waktunya diperiksa?” ucap Hyoyeon ganhosa, ganhosa yang selama 3 tahun selalu mengecek kondisi Taeyeon. Pantas saja hubungan Jessica pun sangat akrab dengan Hyoyeon, mereka sering pergi bersama-sama diwaktu senggang.

“Kenapa? ahjumma?”

Jessica menganggukkan kepalanya.

“Ia ingin mencabut alat infus Taeyeon,” / “Ne…”

“Bukankah ia sering berkata seperti itu.” / “geureosseumnida! Tapi ia tak pernah membahas mengenai SM, kali ini ia sudah keterlaluan.”

mwol dowa deurilkkayo?” / “Berdoalah untuk Taeyeon Unnie, dan usahakan agar ia cepat sadar…”

“Aku akan lakukan sebisaku, kau percaya pada kehendak tuhan? Semua akan baik-baik saja!!” / “Gomawo!” / “Cheonmaneyo…”

Jessica dan Hyoyeon saling pandang, dan saling tersenyum dengan sumringah.

***

Keadaan di Hero Supermaket tempat mereka bekerja sangat ramai, terutama para namja hampir semuannya ingin dilayani oleh Seohyun. Yoja yang satu ini sangat digilai, bahkan ada seorang ahjussi yang menyatakan cinta padanya. Tapi sang maknae menolak dengan sopan, dari wajahnya ahjussi itu sih terlihat terima dengan penolakan Seohyun. Bagaimana dengan hatinya?!…

“Kau… sudah lama menungguku kan?” Seohyun menoleh cepat mendengar suara laki-laki berbicara padanya. “Siapa? Ahjussi!” Seohyun tidak bisa berkata-kata lagi melihat wajah laki-laki yang menyatakan perasaan cinta padanya.

“Kita menikah saja.” Seohyun langsung cegukan.

“Mwo? Mworago? Ahjussi Kau ini gila ya?” tanpa terasa Seohyun berkata kasar, perkataan yang tak pernah ia ucapkan sebelumnya.

“Ne, aku gila karena kau. Kau harus menjadi milikku, kau harus mau menerima cintaku. Sekarang aku tak mau ada penolakan lagi.” Tangan ahjussi yang besar dan keras itu langsung menarik tangan Seohyun yang kecil dan lembut dan membawanya keluar dari supermaket. Ketika melangkah beberapa langkah, tangan kanan Seohyun sengaja menjatuhkan barang pecah belah. Ia berniat agar semua orang bisa terfokus padanya, dan menggagalkan niat ahjussi yang gila. “Gumprang!!!”

“Hey! Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?”

“Lepaskan tanganku, kau orang gila.” Seohyun terpaksa membentak paman paruh baya itu. Dan benar, orang-orang memperhatikan mereka. Bahkan manajer supermaket pun menghampiri Seohyun dan si paman gila, begitu juga dengan Yuri dan Sooyoung begitu cepat menghampiri Seohyun seperti kilat berdiri disamping Seohyun.

“Ada apa ini?” ucap manajer Kim.

“Seohyun, Gwaenchanayo?” Yuri dan Sooyoung menggenggam tangan Seohyun yang gemetar. Tangan Seohyun akan gemetar kalau ia ketakutan, wajahnya pun berubah menjadi memerah.

“Yoja, ia mencoba memaksaku untuk membeli barang yang pecah ini. Aku tak mau membelinya karena aku sudah punya, tapi ia tetap memaksaku. Karena terus memaksa barang itu pecah, dan aku suruh menggantinya. Bahkan ia mengatakanku gila, karena tak mau menggantinya!” ahjussi itu mencoba memutar balikan kenyataan yang sebenarnya.

“Hah! Seohyun! Kau tau siapa laki-laki ini, ia 50%  pemilik supermaket ini. Tanpa alasan lagi  sekarang juga kau dikeluarkan.” Manajer Kim langsung pergi dari tempat itu.

“Pak Kim… jebal… jangan keluarkan aku dari sini. Aku masih butuh pekerjaan ini… jebal…” Seohyun mencoba berkata sebisa yang ia ucapkan. Sooyoung dengan langkah seribu mengikuti manajer Kim keruangannya.

“Pak Kim! Kau tahu siapa ahjussi itu, kau tak adil mengeluarkan Seohyun sementara kau tahu kenyataanya bukan.” / “Apa kau bisa membantuku kalau aku dipecat, aku mempunyai istri dan dua anak yang masih sekolah. Kalau aku dipecat mereka bagaimana? Apa aku harus menyelamatkan satu orang yang bukan siapa-siapaku. Dan menelantarkan keluargaku, sudah terima saja atau kau juga mau dikeluarkan.”

Sooyoung menjadi diam mendengar pernyataan dari manajer Kim. Yuri dan Seohyun berjalan mendekati Sooyoung.

“Mianhae… Seohyun, aku tak bisa membantumu.”

Mereka hanya saling berpelukan, dengan dibanjiri air mata haru dan tampang super memelas. Padahal Mereka sudah cukup lama bekerja disupermaket selama dua tahun, dan tempat ini juga pertama kali Seohyun bertemu dengan Yuri dan Sooyoung.

***

“Agassi.. kami mohon berhentilah menangis, anda akan melunturkan makeupnya.” Ucap tiga pembantu Yoona yang sedari tadi berdiri disamping mereka. Namun kini…  Yoona, Tiffany, dan Sunny tak bisa berhenti menangis. Mereka terlalu menghayati film yang sedang ditontonnya. Begitulah kebiasaan mereka ketika menonton film drama, ditambah genre film yang romance banget dengan kisah-kisah haru yang menyedihkan.

“Ahh… aku tak mau seperi Han hyo joo, kisah cinta yang tak menyenangkan. Aku dan Siwon oppa haengbok… moduga hanadwoeneun sesangmandeureoyo!” ucap Yoona dengan senyum sumringahnya…

“Aino… kau tak bisa miliki siwon oppa, ia hanya milik Fany Fany Tiffany! Hah! mengerti bukan?!” jawab Tiffany sama geernya dengan Yoona, Sunny hanya tertawa mendengar ocehan tak jelas kedua sahabatnya yang memperebutkan Siwon.

“Aku pulang!” Yoona, Tiffany, dan Sunny celingak-celinguk mencari suara Kyuhyun. “Oh… oppa rupanya kau sudah pulang.” Yoona menoleh ke arah pintu. “Oppa hari ini kau terlihat sangat tampan…” sambung Tiffany secara tiba-tiba memuji Kyuhyun, hal yang bahkan tak pernah sama sekali. Satu-satunya namja yang ia puji hanyalah siwon, entah kenapa sekarang ada angin apa ia memuji Kyuhyun.

“Tumben…” jawab Kyuhyun pendek. Seperti biasa Sunny hanya memasang tampang datar, tapi kali lebih terlihat tak berekspresi. Sementara Yoona tak menandakan apa-apa hanya diam, dengan senyum tipisnya.

“Oppa… boleh aku tahu kenapa sampai sekarang oppa tak juga mempunyai kekasih!” tanya Tiffany seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Kyu Oppa kan akan menjadi tunangannya Sunny, jadi tak mungkin ia mencari kekasih lagi. ” gurau Yoona, seraya menatap wajah Sunny yang memerah.

“A, geuraeyo?” balas Tiffany.

“Mwo?!” sambung Sunny, dengan tatapan yang tak enak pada Kyuhyun. Selama ini Kyuhyun dan Sunny memang sangat akrab, tetapi diantara mereka memang tidak ada perasaan apapun. Kyuhyun menganggap Sunny sama seperti Yoona hanya sebagai adik begitu juga dengan Sunny mengganggap Kyuhyun kakak.

“Fany! Kau sendiri kenapa sampai sekarang belum punya kekasih?!” Kyuhyun berbalik tanya pada Tiffany, sementara yang lain terkekeh… Kyuhyun pun meninggalkan ruangan tersebut dengan senyum khasnya. Yaitu bibir atasnya selalu lebih kelihatan sedikit maju, dengan gigi putihnya yang rapih.

“Pabo!!” ucap Fany pelan dan memelas sambil memukul-mukul kepalanya.

“Fany! Ayo kita ke siwon oppa…” ajak Yoona manja.

“Oppa… Ne!” Tiffany tanpa berpikir lama langsung beranjak keluar dari ruang televisi.

***

“Tuhan… kau mendangar doaku kan? Dua hari lagi unnie ulang tahun, aku ingin diulang tahunnya ia segera sadar. Amin…” Jessica tak henti-hentinya berdoa untuk kakak tercintanya.

“Lagi berdoa yah?!” sebelum memeriksa Taeyeon, Hyoyeon menghampiri Jessica untuk berbincang-bincang.

“Ne!” / “Igeoseun mu-eosimnikka?” Hyoyeon menanyakan benda yang sedang dipegang Jessica dengan sangat erat. Benda yang terbuat dari logam keemasan bentuknya seperti koin, namun ukurannya lebih besar dengan lingkaran tak teratur.

“A, anio… ini milik unnie Taeyeon.” Jessica mengatakan dengan sedikit ragu, matanya terus berkaca-kaca. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan olehnya.

“Kenapa, ganhosa terus melihatku seperti itu, ada yang salah?!” jessica mencoba berkelih, padahal ia sudah tahu maksud dari ekspresi yang ditunjukan ganhosa.

Selain benda yang seperti koin itu Jessica juga memegang foto-foto dirinya bersama Taeyeon. Foto yang diambilnya sebelum Taeyeon mengalami kecelakaan dan akhirnya koma.

“Apa ini? Waw? Taeyeon dan kau, cantik sekali kalian berdua. Kelihatan sangat akrab yah!”

“Hahha! Kau bisa saja. Ganhosa, aku… a,”

“Wae?!” / “Gwaenchansseumnida…” Jessica membalas dengan senyuman. Hyoyeon segera meninggalkan Jessica. “S.E.O.U.L….” suara deringan telepon dari dalam tas Jessica.

“Yeoboseyo. Ne! Wae? Ahjumma, haruskah… tapi…” sebelum melanjutkan kalimat lagi, telepon sudah ditutup.

Ketika melangkah keluar dari kamar rawat Taeyeon, Hyoyeon melihat Jessica menangis. Tangisan yang begitu sedih dan terpukul.

“Jessica?” Hyoyeon berjalan perlahan mendekati Jessica lalu duduk kembali di sampingnya. “Ada apa?” tanya Hyoyeon lembut, sambil memegang pundak kanan Jessica, Jessica terisak berusaha bicara. “Sakit…” rambut Jessica menutupi wajahnya yang semakin memerah. “Jahat!” Jessica terus menepuk dadanya semakin keras sambil terus menangis.

“Chingu, kenapa menangis?!” Jessica menangis dalam pelukan Hyoyeon.

“Ahjuma?! Jeongmal… ia akan mencabut alat infus unnie, aku diberi waktu dua hari untuk berpikir. Setelah itu mau tak mau ahjumma yang akan melakukannya sendiri.”

“Dia benar-benar kejam! Sebaiknya kau menolaknya. Aku akan membantumu untuk mempertahankan Taeyeon dirumah sakit ini.”

“Aku…” / “Tak punya uang, tenanglah aku akan membantu sebagian biayanya.” Hyoyeon mengelus lembut rambut Jessica mencoba menenangkannya.

“Tapi aku tak mau menyusahkan siapa pun. Termasuk kau!” kata-kata Jessica menjadi melemah, ia benar-benar tak bisa berpikir panjang. Hal apa yang harus ia lakukan saja ia tak bisa menjawabnya yang ada dipikirannya hanyalah Taeyeon unnie harus segera sadar. Kalau tidak mau tak mau ia harus melihat Taeyeon meninggalkan dirinya.

“Kau tak boleh seperti itu! Bagaimana kalau kau mencari kerja, kemarin aku lihat brosur. Restoran baru didepan rumah sakit ini membuka lowongan pekerjaan ada khusus pelayan ada juga dibagian keuangannya. Bukankah kau pernah bekerja ditempat keuangan? Coba saja!” Hyoyeon memberi saran pada Jessica.

“Akan aku pikirkan… Gamsahamnida chingu…”

“Cheonmaneyo!”

&&&

(with Soundtrack        : Baby Baby, My best friend, Stand by me)

 


17 thoughts on “BABY part 1

  1. hiaaaaattt. plak.plak.plak. *pukul om2 yg ngeganggu seororo.

    lanjutannya di tunggu. bkin complicated ceritanya ya, hyahahaha*reader byk mauny. XDD

    Gomawoo~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s