Just Stay by My Side (Part 4)


Author : Riana (hanraena.wordpress.com)

Cast :
Lee Dong Hae
Im YoonA
Lee Hyuk Jae
Kim Hyo Yeon

Just Stay by My Side (Part 4)

Sinar terik matahari pagi masih enggan beranjak pergi. Kilauan cahayanya masih
begitu menghangatkan tubuh. Udaranya yang segar serta menyehatkan menambah
semangat orang-orang yang dengan ceria menyambutnya.
Tak ada satu orang yang tampak melintas di koridor apartment. YoonA dan Dong
Hae berdiri di salah satu pintu yang masih tertutup rapat. Tanpa ragu Dong Hae
membunyikan bel dan sejenak menunggu untuk dibukakan.
Terdengar suara langkah seseorang yang tengah berlari dari dalam apartment,
Hyo Yeon muncul dari balik pintu. Ia segera melemparkan senyuman manisnya
dengan lembut pada mereka berdua.
“Dong Hae, kau sudah datang!” Sambutnya hangat.
“Wah, cantik sekali gadis ini. Wajar saja Dong Hae menyukainya.” Batin YoonA
berdecak kagum pada Hyo Yeon.
“Apa dia gadis itu?” Hyo Yeon melirik YoonA yang berdiri tepat disamping
Dong Hae.
Dong Hae lekas mengangguk untuk mengiyakan.
“Masuklah!” Ajak Hyo Yeon mempersilakan.
Dong Hae segera merangkul pundak YoonA untuk mengajaknya ikut masuk.
YoonA hanya terdiam, sesekali ia tersenyum ringan membalas Hyo Yeon yang begitu
ramah padanya.
“Silahkan duduk! Aku akan membuatkan minuman untuk kalian.” Hyo Yeon pun
beranjak dari ruang tamu menuju dapur.
“Kau tunggulah disini!” Pinta Dong Hae pada YoonA yang mengistirahatkan
dirinya sejenak di atas sopa empuk ruang tamu.
“Kau mau kemana? Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba mengajakku kesini?”
YoonA lekas menghujani Dong Hae pertanyaan. Ia masih tampak bingung dan merasa
asing dengan tempat itu.
“Bukankah kau ingin meminjam buku. Hyo Yeon sudah jauh-jauh dari Namwon
membawakan buku-buku itu untukmu.” Jelas Dong Hae dengan nada sedikit kasar.
“Menyebalkan,” Gumam YoonA sambil merautkan wajah cemberutnya.
Dong Hae melangkah gontai meninggalkan YoonA sendiri. “Hyuk Jae, kau
dimana?” Teriaknya mencari keberadaan sahabatnya itu.
“Hyuk Jae baru saja selesai mandi. Dia masih di kamarnya berganti pakaian.”
Sahut Hyo Yeon melintas sambil membawa ceper yang di atasnya terdapat dua
cangkir teh. Ia terus melangkah membiarkan Dong Hae di ruang tengah menunggu
Hyuk Jae. Ia segera menyuguhkan teh itu untuk YoonA yang termenung di ruang
tamu.
“Maaf! Tempat ini terlihat sedikit berantakan.” Hyo Yeon memelaskan wajahnya.
“Tidak apa-apa.” YoonA masih terlihat segan.
“Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya. Kau masih ingat saat di depan
apartment waktu itu.” Hyo Yeon mengingatkan.
“Ah tentu saja aku masih ingat.” YoonA tanpa ragu mengiyakan.
“Sudah berapa lama kau pindah ke apartment itu?” Hyo Yeon mulai berbasa-basi.
“Sekitar satu bulan.”
“Satu bulan!” Seru Hyo Yeon yang tak percaya.
“Aku akan mengikuti ujian masuk universitas. Itu sebabnya aku memutuskan
untuk tinggal di Seoul agar tidak bolak balik dari tempatku berasal.”
“Benar juga. Kau ingin menjadi seorang guru TK, bukan? Dong Hae memintaku
untuk meminjamkanmu buku-buku dari perpustakaan milik Ibuku waktu itu. Setiap
kali menceritakan tentangmu dia terlihat begitu senang.” Cerita Hyo Yeon.
“Apa Ibumu juga seorang guru TK?”
“Ibuku dulunya seorang kepala sekolah TK di Namwon. Sudah 3 tahun ini ibu
menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada adiknya, lalu kami pindah ke Seoul.
Saat tiba di Seoul aku bertemu dengan Hyuk Jae dan juga Dong Hae.”
“Kenapa tidak kau saja yang melanjutkannya?”
“Menjadi kepala sekolah TK maksudmu?” Hyo Yeon tertawa kecil. “Aku tidak
begitu menyukai kegiatan belajar mengajar. Aku lebih senang ketenangan, itu
sebabnya aku lebih memilih menjadi seorang Designer. Aku lebih punya banyak
waktu tenang untuk merancang pakaian.” Ungkapnya.
“Jadi kau seorang Designer? Kau hebat sekali!”
Hyo Yeon tersipu malu, “Kapan-kapan datanglah ke butikku. Aku akan
memberikan diskon untukmu.”
“Benarkah?’ YoonA menyambut gembira.
Mereka tampak mulai akrab dan saling berbagi cerita. Sementara Dong Hae dan
Hyuk Jae berdiri santai menikmati cuaca pagi hari di balkon yang tak jauh dari ruang
tamu.
“Kau mengajak gadis itu kemari?” Hyuk Jae membuka pembicaraan setelah
beberapa menit berlalu mereka hanya berdiam diri.
“Hyo Yeon yang memintaku untuk mengajaknya. Sepertinya dia sangat senang
karena aku menemukan penggantimu.” Dong Hae dengan nada guyonannya selalu
berhasil menggoda Hyuk Jae.
“Menurutmu gadis itu bisa menggantikanku?” Hyuk Jae coba meyakinkan.
Dong Hae tertawa kecil, “Biar waktu yang menjawab semuanya.”
“Kau tidak pernah berubah Dong Hae.” Hyuk Jae menyeringai lalu memukul
kepala temannya itu.
Dong Hae pun hanya menatap lembut ke dalam mata Hyuk Jae. Sejenak mereka
kembali terdiam sambil meminum teh hangat dari cangkir di tangan mereka.
Dari balik dinding Hyo Yeon menghentikan langkahnya mendapati keakraban
dua orang itu. Ia menarik napasnya dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh
keberaniannya. Ia segera melangkah menghampiri dan tanpa banyak bicara
menggandeng tangan Hyuk Jae.
“Oppa, apa yang kau lakukan disini? Kau harus bertemu dengan YoonA. Gadis
itu sangatlah cantik.” Hyo Yeon menarik tangan Hyuk Jae untuk menjauh dari balkon.
“Tunggu dulu!” Pinta Hyuk Jae merengek.
“Ayolah cepat!” Paksa Hyo Yeon sambil terus menarik tangan Hyuk Jae dan tak
menggubris rengekannya. “Oh ya, buku-buku yang ingin dipinjam gadis itu sudah ku
siapkan di dalam kamar. Kau bisa menolongku untuk mengambilnya.” Pintanya pada
Dong Hae yang mengikuti dari belakang.
“Benarkah? Baiklah aku akan mengambilnya.” Dong Hae mengiyakan kemudian
menjauh dan melangkah menuju kamar yang terletak di ruang tengah.
Hyo Yeon menarik paksa Hyuk Jae berjalan menuju ruang tamu. Disana YoonA
yang tengah santai membaca majalah segera berdiri dan membungkukkan
punggungnya untuk menyapa Hyuk Jae yang terlihat begitu dingin padanya.
“Apa kabar?” YoonA dengan ragu.
“Bukahkan dia gadis yang cantik.” Hyo Yeon tak melepaskan tangannya yang
menggandeng lengan pujaan hatinya itu.
“Duduklah! Kau tidak perlu bersikap formal seperti itu padaku.” Hyuk Jae yang
mulai risih pada Hyo Yeon yang terlalu memperlihatkan kemesraan mereka.
YoonA pun lekas duduk, diikuti Hyuk Jae dan Hyo Yeon yang terus menempel
disampingnya.
“Kau tinggal di apartment sebelah apartment Dong Hae?” Tanya Hyuk Jae untuk
meyakinkan.
YoonA mengangguk pelan.
“Sebenarnya sebelum tinggal disini, aku berniat untuk tinggal disana. Tapi waktu
itu, masih ada orang lain yang menempati. Jadi, aku putuskan untuk tinggal di
apartment gedung sebelahnya saja. Meskipun tidak bersebelahan setidaknya dari arah
balkon apartment, Dong Hae bisa melihat keberadaanku dengan jelas.” Jelas Hyuk
Jae.
“Apa kau perlu menjelaskan hal tidak penting itu?” Protes Hyo Yeon dengan
nada kesal.
“Aku hanya ingin memberitahukannya saja, bahwa aku akan selalu mengawasi
apapun yang dilakukan Dong Hae.” Sahut Hyuk Jae.
“Oppa!” Hyo Yeon mulai merautkan wajah cemburunya.
“Kenapa?” Hyuk Jae ketus.
“Kalian berdua tenanglah! Aku tidak mengerti kenapa kalian harus meributkan
hal ini.” YoonA coba melerai.
“Setiap kali bicara masalah Dong Hae, kami berdua memang selalu seperti ini.”
Ungkap Hyo Yeon.
“Bukankah kau yang selalu memulai perang mulut denganku.” Sahut Hyuk Jae
dengan nada tinggi.
“Apa katamu?” Hyo Yeon tak dapat mengontrol dirinya lalu melototkan matanya
ke arah Hyuk Jae.
“Huh.” YoonA menghela napas, “Tidak seharusnya aku datang kesini. Laki-laki
ini sudah pasti cemburu melihat kedekatan kekasihnya dengan Dong Hae. Tapi
bagaimanapun juga mereka adalah sahabat. Seharusnya bisa mengerti satu sama lain.
Kasihan Dong Hae.” Batin YoonA.
“Ini buku-bukunya.” Dong Hae mengagetkan mereka. Lalu menyerahkan
beberapa buku yang dicari YoonA.
“Wah benarkah. Ibumu memiliki semua buku-buku langka ini. Beruntungnya
aku!” YoonA begitu gembira, Ia segera bangkit dari duduknya untuk meraih bukubuku
itu.
Sekejap Hyo Yeon dan Hyuk Jae melupakan pertengkaran kecil mereka.
“Aku juga menemukan beberapa contoh undangan yang tadi terselip di salah satu
buku ini.” Dong Hae menunjukkan undangan yang di desain mewah itu pada Hyo
Yeon dan Hyuk Jae.
Hyo Yeon lekas merampas contoh undangan itu, “Ah benar juga. Aku hampir
saja lupa untuk memperlihatkan ini padamu Oppa. Yang mana menurutmu cocok
untuk undangan pernikahan kita?” Tanyanya pada Hyuk Jae.
“Hyo Yeonni, apa ini saat yang tempat untuk membahas itu?” Sambut Hyuk Jae
sinis, tapi tak lupa dengan panggilan sayangnya.
“Benar juga. Mungkin ini bukan waktu yang tepat.” Hyo Yeon menutup bibirnya
rapat-rapat. Ia lekas beranjak dari ruang tamu untuk mengambil tasnya yang terlantar
di atas sopa ruang keluarga. “Aku harus segera pergi, sudah saatnya untuk membuka
butik.” Pamitnya, lalu tersenyum kaku. Ia melangkah pergi sambil memendam
perasaannya yang kesal akan sikap sinis Hyuk Jae yang menyakiti hatinya.
Dong Hae dan YoonA tak dapat berbuat apapun, mereka saling menatap dan tak
mengeluarkan sepatah katapun.
“Bagaimana ini?” YoonA berbisik dari kejauhan menggunakan bahasa isyarat.
“Aku tidak tahu.” Jawab Dong Hae singkat sambil mengangkat bahunya.
Hyuk Jae pun lekas beranjak dari apartment untuk mengejar Hyo Yeon. Ia berlari
keluar dan menghilang dari balik pintu.
Dong Hae tampak tertawa kecil, “Apa yang kau lakukan sampai membuat
mereka bertengkar?” Ia kembali dengan nada bercanda.
“Aku sendiri tidak tahu. Laki-laki itu saat pertama kali melihatku langsung
bersikap dingin. Dia bahkan tidak tersenyum sedikit pun padaku.” Gumam YoonA
yang merasa bersalah meskipun Ia tidak tahu kesalahannya.
Dong Hae segera mendekati YoonA lalu mengusap rambutnya. “Kau memang
benar-benar sangat lucu.” Ia tersenyum penuh kepuasan.
“Apa kau pantas untuk tersenyum bahagia seperti itu melihat sahabatmu dan
kekasihnya bertengkar.”
“Kenapa? Tidak ada larangan untuk tersenyum disini.” Sambut Dong Hae dengan
nada bercanda.
“Kau sangat keterlaluan.” YoonA merautkan wajah cemberutnya.
“Hi! Tersenyumlah! Bukankah kau senang bila melihatku bahagia.” Dong Hae
menyenggol bahu YoonA untuk menggoda.
YoonA pun melemparkan senyum terpaksa untuk Dong Hae. “Aku tidak
mengerti apa yang ada di pikiran Dong Hae. Dia tidak mau berputus asa dan
kehilangan harapan. Sepertinya dia masih sangat menginginkan gadis itu.” Pikirnya
sambil menatap penuh tanya pada Dong Hae memperlihatkan tersenyum penuh
kemenangan, persis seperti orang baru memenangkan penghargaan.
“Kau ingin makan sesuatu? Aku akan mentraktirmu.” Tawar Dong Hae.
“Tidak ada.” Jawab YoonA singkat.
“Kau yakin?” Dong Hae coba meyakinkan.
“Apa kau sangat menginginkan gadis itu?”
“Siapa? Maksudmu Hyo Yeon? Tentu saja tidak.” Dong Hae yakin.
“Lalu kenapa kau tersenyum seperti itu?” YoonA merautkan wajahnya curiga.
“Entahlah, aku hanya merasa hari ini begitu menyenangkan.” Ungkap Dong Hae.
YoonA menggelengkan kepala, “Tentu saja kau merasa senang melihat orang
yang kau sukai bertengkar dengan kekasihnya.” Batin YoonA. Ia lekas beranjak dari
hadapan Dong Hae sambil memeluk erat buku-buku yang dipinjamnya. Ia pun keluar
menjauh dari apartment.
“Hi! Tunggu!” Teriak Dong Hae yang mengikutinya dari belakang, tak lupa
untuk menutup kembali pintu apartment yang terkunci secara otomatis. “Apa kau
yakin tidak ingin ku traktir?”
“Nanti saja. Aku sedang tidak ingin ditraktir apapun saat ini.” Tolak YoonA yang
terus melangkah menuju lift yang teletak di ujung koridor.
“Baiklah. Terserah kau saja Im YoonA.” Dong Hae menghentikan mulutnya
untuk terus bicara.
Mereka pun lekas masuk sesaat setelah pintu lift terbuka. YoonA masih dengan
rautan wajahnya yang cemberut, Ia tak begitu senang dengan kejadian hari ini.
Sesekali Ia melirik Dong Hae yang masih memamerkan senyumannya.

Hyo Yeon berlari kecil keluar dari apartment, Ia tak menghiraukan Hyuk Jae
yang coba menghentikannya. Ia terus melangkah untuk menghindar dari kejaran
kekasihnya itu.
“Hyo Yeonni!” Panggil Hyuk Jae lagi sambil menggenggam erat pergelangan
tangan gadis yang tengah marah padanya.
Sejenak mereka berhenti di halaman depan, dekat pintu masuk apartment.
“Ada apa? Aku sedang terburu-buru. Suasana hatiku saat ini sedang tidak baik.
Sebaiknya nanti saja kita bicara lagi. Kau temui saja sahabat terbaikmu, Dong Hae
itu.” Sambut Hyo Yeon sinis sambil menekuk wajahnya yang kusut.
“Maafkan aku!” Hyuk Jae memelaskan wajahnya. “Aku sendiri tidak tahu kenapa
tiba-tiba bersikap kasar padamu. Aku hanya tidak dapat mengontrol diriku saat
bertemu gadis itu.” Jelasnya.
“Itu karena kau masih tidak bisa terima Dong Hae dekat dengan orang lain. Kau
seharusnya sadar, Dong Hae itu membutuhkan orang lain untuk selalu ada di sisinya.
Dong Hae juga seharusnya mengerti bahwa kau sekarang sudah menjadi milikku.”
Ungkap Hyo Yeon lalu menghela napasnya.
“Maafkan aku!” Hyuk Jae lekas dengan lembut memegangi kedua tangan Hyo
Yeon lalu menatap penuh cinta kedua mata indah gadis itu.
Hyo Yeon membalasnya dengan senyuman.
“Sekarang kau tidak marah lagi ‘kan?” Hyuk Jae tersenyum simpul.
Hyo Yeon segera mendekap erat tubuh orang yang berdiri di hadapannya itu.
“Oppa! Aku sangat mencintaimu.” Ucapnya dengan nada manja. “Kelak jangan
bersikap seperti ini lagi padaku.” Pintanya.
Hyuk Jae mengangguk dengan cepat di atas bahu Hyo Yeon, “Aku juga
mencintaimu.” Bisiknya lalu membelai rambut Hyo Yeon yang panjang terurai dan
menarik napas dalam-dalam mencium aroma harum yang keluar dari rambut gadis itu.
Tampak dari kejauhan YoonA dan Dong Hae yang baru saja keluar dari pintu lift
tercengang sambil terus menatap melalui kaca. Langkah Dong Hae seketika terhenti
untuk melihat kemesraan itu, sekejap senyumannya musnah dan raut wajahnya
berubah memerah terbakar api cemburu. Ia mengepal tangan kanannya, matanya
terpaku pada Hyo Yeon dan Hyuk Jae yang sudah berbaikan.
“Udara disini sangat panas. Bagaimana kalau kita beli jus?” Ajak YoonA yang
mulai menyadari perubahan suasana hati Dong Hae.. Ia lekas memegangi ke dua
pundak Dong Hae lalu menggiringnya keluar dari lobi untuk menjauh dari
pemandangan yang menyakitkan itu. “Ayolah!” Ia coba mendinginkan suasana.

Sekejap Dong Hae dan YoonA berada di lapangan belakang apartment. Mereka
duduk di atas rerumputan, tepat di bawah pohon besar yang rindang sambil meminum
Jus segar yang baru mereka beli.
“Wah, udara ternyata sangat sejuk saat pagi hari.” Ucap YoonA lalu menarik
napasnya dalam-dalam dan merasakan angin berhembus sepoi-sepoi.
Dong Hae menggeram kesal sambil melempar gelas plastic bekas Jus yang sudah
habis diminumnya.
“Hi! Kau tidak boleh membuang sampah sembarangan.” Teriak YoonA
memperingatkan.
Dong Hae tak menggubris larangan itu. “Seharusnya tadi kita tinggal sebentar di
apartment Hyuk Jae. Jadi aku tidak melihat mereka berpelukan.”
“Bukankah bagus mereka berbaikan.” Sekarang giliran YoonA yang tersenyum
penuh kepuasan.
“Berikan Jus milikmu!” Dong Hae merampas Jus melon yang berada di
genggaman YoonA.
“Apa-apaan kau ini. Keterlaluan!” Geram YoonA yang tak dapat
mempertahankan gelas Jusnya.
Tanpa segan Dong Hae menghabiskan Jus itu, tak ada sedikit pun yang tersisa.
Hanya tertinggal YoonA yang merautkan wajah cemberutnya.
Perlahan YoonA kembali tersenyum tipis melihat tingkah Dong Hae. “Dong Hae,
cukup berada di sisimu saja aku sudah sangat bersyukur. Sikapmu yang sangat
kekanak-kanakan, suka merengek dan terkadang mengganggu membuatku selalu
ingin di dekatmu.” Batin YoonA sambil memandangi Dong Hae yang duduk di
sampingnya.

“Ah …” YoonA tampak kelelahan setelah memasukkan sekantong plastic penuh
sampah ke dalam tong yang terletak di samping apartment. “Huhf. Beginilah nasib
hidup seorang diri. Segala sesuatunya harus kulakukan sendirian.” Ia mengeluh
sambil menggelengkan kepalanya.
Ia lekas menyapu keringat yang membasahi dahinya, angin malam yang
berhembus memberikan sedikit kesegaran dan menghilangkan kegerahannya. Tibatiba
ia dikejutkan oleh handphone whiteberry kesayangannya yang terletak di saku
celana.
“Yong Jun! Ada apa?” YoonA merautkan wajah bingungnya.
“Noona, kau dimana?” Yong Jun terdengar berbisik.
“Aku sedang membuang sampah. Kenapa?”
“Noona …” Desis Yong Jun yang berada jauh disana dengan pelan. Ia terdengar
ketakutan.
“Hi! Yong Jun, sekarang kau dimana? Ada apa dengan suaramu?” Teriak YoonA
kesal.
“Aku di kantor polisi. Para polisi itu menahanku dan menyita mobilku, Noona.”
Jelas Yong Jun terbata-bata.
“Apa!!!” YoonA tak percaya. “Bagaimana mungkin?”
“Sekarang cepat Noona datang kesini! Aku tidak mau berlama-lama disini.” Pinta
Yong Jun.
“Kau sungguh keterlaluan. Sebenarnya apa yang terjadi?” YoonA dengan suara
melengkingnya menghentikan langkah seseorang yang berada tak jauh di
belakangnya.
“Noona cepatlah kemari! Satu hal lagi jangan beritahukan ayah.” Yong Jun
menutup handphonenya lalu tersenyum tipis ke arah polisi yang melototkan mata
padanya.
YoonA segera menyimpan kembali handphonenya, Ia terlihat begitu cemas juga
khawatir. Ia bergegas lalu membalikkan tubuhnya, ditemukannya Dong Hae dengan
kantong plastic sampah di tangan kirinya. Ia tampak begitu terkejut, “Dong Hae!”
Serunya. “Sejak kapan kau disini?”
“Sejak kau berteriang dengan nada tinggi. Kau tahu suaramu itu biasa
mengalahkan auman singa yang sedang kelaparan.” Dong Hae dengan guyonannya
mengejek YoonA.
“Apa!!” YoonA semakin kesal.
“Maafkan aku. Kenapa kau terlihat terburu-buru?” Dong Hae lekas melemparkan
plastic sampah di tangannya ke dalam tong.
“Kebetulan sekali dia ada disini.” Pikir YoonA, ia lekas menarik tangan Dong
Hae tanpa terlebih dulu minta ijin. Ia tanpa segan meminta Dong Hae menemaninya.
“Mau kemana?” Dong Hae penuh tanya.
Suasana halaman di samping apartment itu sepi, suara gaduh itu menghilang
seketika. Sekejap setelah mereka tinggal dan berlalu pergi.

“Yong Jun!!” Teriak YoonA menggema di tiap sudut kantor polisi.
Dong Hae hanya mengernyitkan alisnya mendengar suara itu lalu mengikuti dari
belakang.
“Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?” YoonA tanpa segan menghujani
adiknya itu dengan pukulan.
“Noona!!” Yong Jun merintih kesakitan.
“Anak itu ketahuan balapan mobil dan juga taruhan.” Jelas salah satu polisi yang
menangani dengan segera.
“Balapan? Taruhan?” YoonA tercengang. Ia mendengus kesal sambil berkacak
pinggang.
Dong Hae tetap berdiri di sisi lain melihat kakak beradik itu bertengkar.
“Sebenarnya anak ini juga masih di bawah umur. Tidak seharusnya dia
mengemudikan mobil apalagi sampai balapan.” Jelas Polisi itu dengan bijaksana.
“Maafkan adik saya! Kelak saya tidak akan membiarkannya menyetir mobil
lagi.” YoonA membungkukkan punggungnya dengan penuh penyesalan.
Tampak Dong Hae yang memperhatikannya tengah tersenyum, ia pun tertawa
kecil di antara orang-orang yang tengah beradu mulut dan terus membuat kegaduhan
untuk memberi penyangkalan.

YoonA menggandeng tangan Ibunya menuruni tangga kecil di teras depan kantor
polisi. Ia tak mau melepaskan kehangatan tangan sang Ibu yang sudah lama tidak
ditemuinya.
“Aku memintamu mengendarai mobil untuk mengantar jemput kakakmu yang
berada di Seoul. Bukan untuk balapan apalagi sampai taruhan. Mulai sekarang kau
tidak boleh lagi mendekati apalagi menyentuh mobil ini.” Suara Ayah yang besar
tengah memaki Yong Jun.
Anak itu terlihat begitu menyesal. Ia tak berani melakukan pembelaan, di tiap
langkah, mulutnya tertutup rapat. Ia hanya bisa menunduk mengakui kesalahannya.
“Cepat masuk!” Perintah Tuan Im pada anaknya itu agar segera masuk mobil.
Yong Jun lekas menenangkan dirinya sejenak di dalam mobil. “Noona, kau
seorang pengkhianat. Sudah kubilang jangan katakana Pada Ayah, tapi kau
mengatakannya. Kau bahkan meminta mereka untuk datang.” Gumamnya dari balik
mobil sambil bersandar di kaca.
Tuan Im menjauh untuk menghampiri YoonA dan Istrinya yang berdiri tepat di
anak tangga terakhir.
“Maaf karena sudah meminta kalian jauh-jauh datang kemari. Karena polisi itu
bilang tidak akan melepaskan Yong Jun kalau tidak orang tuanya yang memberikan
jaminan.” Jelas YoonA dengan suara lembut dan masih dengan perasaan bersalah.
Nyonya Im lekas membelai rambut YoonA dengan penuh kasih sayang. “Tidak
apa-apa, semua ini salahnya sendiri. Tidak ada hubungannya denganmu.”
“Bukankah karena aku tinggal di Seoul. Yong Jun tiap hari harus datang untuk
menemaniku.” YoonA menyalahkan dirinya.
“Tentu saja tidak.” Nyonya Im tertawa kecil.
“Sekarang naiklah! Biar kami yang mengantarmu pulang.” Pinta Ayah.
YoonA lekas menengok Dong Hae yang masih setia berdiri di belakang. Dong
Hae mengejipkan matanya lalu tersenyum kecil. Ia mempersilahkan gadis itu untuk
pulang bersama dengan orang tuanya.
YoonA membalas senyuman itu, “Terimakasih.” Desis YoonA.
“Ayo kita pulang!” Tuan Im membukakan pintu untuk anak perempuan
kesayangannya itu. Ia membiarkan anaknya itu untuk duduk di belakang bersama
Yong Jun.
Mesin mobil pun dinyalakan, perlahan mobil menjauh dan melaju di jalan raya.
YoonA menyempatkan dirinya untuk melambaikan tangan pada Dong Hae. Laki-laki
yang masih tegap berdiri di depan kantor polisi membalas melambaikan tangannya
dengan lembut.
Malam yang begitu singkat, tapi banyak hal yang telah terjadi. Dong Hae
melangkahkan kakinya dan beranjak pergi.

Tepat di sopa ruang keluarga sejenak Ia duduk untuk memeriksa barang-barang
dalam tas olahraganya. Ia kembali mendata barang-barang itu menggunakan
Whiteberry.
Dong Hae menggaruk kepalanya, “Kurasa semuanya sudah beres. Aku sudah
tidak sabar lagi untuk memasukkan bola ke gawang. Akhir-akhir ini terlalu banyak
masalah di perusahaan. Membuatkan kepalaku sangat sakit., ditambah lagi hubungan
Hyuk Jae dan Hyo Yeon.” Gumamnya seraya memasukkan sepatu bola ke dalam tas
lalu mengancingnya.
Ia menghela napas, “Beruntung masih ada YoonA yang selalu ada untukku.” Ia
tanpa sadar menyebut nama gadis itu. “Im YoonA. Bagaimana mungkin gadis itu
melintas di pikiranku?” Ia pun menggelengkan kepalanya. “Aku pasti sudah sangat
kelelahan. Aku harus membuang jauh-jauh gadis itu dari benakku.” Ia lekas berdiri
lalu meletakkan tas itu ke belakang punggungnya.
Ia beranjak menuju dapur, matanya tertuju pada kulkas yang terletak di sudut
ruangan. Ia mengambil beberapa botol air mineral untuk dibawanya. Sekilas matanya
tertuju pada apel merah yang tersembunyi di antara tumpukan anggur. Ia lekas
memakan apel itu lalu menutup pintu kulkas.
“Sudah Jam 2 siang.” Dong Hae sambil menatap tajam ke arah jam di tangannya.
“Sebaiknya aku pergi sekarang saja. Hyuk Jae pasti sudah menunggu di bawah.”
Ia melangkah menjauh melewati tiap ruangan di apartment miliknya. Ia terlihat
begitu bersemangat bermain bola yang merupakan olahraga favoritenya.

“Appa, aku sudah menunggu 1 jam lebih di depan apartment. Tapi mobil
pengantar barang itu masih belum datang.” Gerutu YoonA Sebenarnya Appa
mengirimkan barang apa kesini?” Ia mulai penasaran. “Mungkinkah Appa
membelikanku mobil?” Terkanya.
“Kau lihat saja nanti. Kau pasti akan suka.” Tuan Im semakin membuat YoonA
penasaran.
YoonA lekas melihat ke sekelilingnya, Ia kembali duduk sambil terus
mendengarkan ayahnya bicara melalui telepon rumah. Tampak sebuah truck kecil
melintas dan mendekat ke arahnya. Truck itu berhenti tepat di depannya, belakang
truck itu tertutup rapat.
“Apa kau nona Im YoonA?” Seseorang yang tadi duduk di samping sopir lekas
keluar dan menghampirinya.
YoonA tampak kebingungan, “Bagaimana Anda tahu?” Tanyanya.
“Tadi Tuan Im bilang kalau anak gadisnya akan menunggu di depan apartment.”
Jelas Lelaki paruh baya itu.
YoonA lekas mengganggukkan kepalanya diiringi dengan tawa kecil.
“Sebenarnya Appa mengirimkan apa untukku?” Ia lekas berjalan mengikuti paman
tua itu menuju belakang truck.
Seorang laki-laki yang tadinya mengemudikan truck bergegas keluar dan
membukakan pintu box di belakang.
“Motor Scooter? Si kuning kesayangan ayah?” Pikir YoonA, Ia tampak kecewa
dan menundukkan kepala. “Kupikir mobil mewah seperti milik Yong Jun.”
Gumamnya. Ia segera meraih whiteberry di saku celananya. Melanjutkan obrolan
yang sempat tertunda dengan ayahnya. “Appa! Kenapa Appa memberikan si Kuning
padaku?” Ia menyebutkan nama kesayangan untuk motor scooter itu.
“Maksudmu Sunshine?” Tuan Im tertawa.
“Appa aku tidak suka memanggilnya Sunshine.” YoonA terdengar ketus.
“Baiklah terserah kau saja. Untuk sementara kau gunakanlah motor itu kemana
pun kau pergi. Appa sangat khawatir denganmu. Kau jagalah baik-baik Sunshine.”
“Tapi …” YoonA terputus. “Baiklah Appa.” Ia menutup handphonenya dengan
berat hati.
Sekejap truck pengangkut barang itu berlalu pergi. YoonA termenung sendiri
menatapi motor scooter pemberian ayahnya. “Huhf . . . Aku paling benci naik motor.
Kenangan terakhirku bersama motor scooter sangat buruk.” Gumamnya lalu menarik
motor itu dengan kekuatan kedua tangannya menuju area parkir.
“Kuning!!!” Teriak seseorang dari arah belakang.
Langkah YoonA kembali terhenti, Ia menengok seseorang yang coba
mengejeknya. “Dong Hae!” Serunya.
“Sejak kapan kau memiliki motor scooter?” Tanya DongHae yang mengenakan
casual t-shirt dan celana jeans panjang favoritenya.
“Baru saja. Appa yang memberikannya untukku.” Jelas YoonA.
Perlahan Dong Hae mendekatinya, “Kapan-kapan bagaimana kalau kita pergi
naik motor saja.” Ia mulai berbasa-basi tapi YoonA menanggapinya berbeda.
“Benarkah? Apa kau akan memboncengku?” YoonA menyambut gembira.
“Tentu saja tidak. Kau selalu naik mobilku, sekarang saatnya kau yang
memboncengku.” Tolak Dong Hae mentah-mentah.
YoonA segera merautkan wajah cemberutnya dan menggembungkan pipinya.
“Baiklah. Asalkan bisa bersamamu.” Ia lekas tersenyum lebar.
Dari kejauhan tampak Hyo Yeon dan Hyuk Jae melangkah di bawah sinar terik
matahari. Mereka saling saling bergandengan tangan, jari jemari mereka menyatu
dengan sangat erat. Perlahan mereka semakin mendekat dan berhenti tepat di hadapan
YoonA dan Dong Hae. Mereka lekas tersenyum tipis untuk menyapa keduanya.
YoonA menengok Dong Hae yang berdiri disampingnya, mata mereka saling
menatap dalam waktu yang tidak begitu lama. Terlihat Dong Hae dengan raut wajah
marah yang coba disembunyikannya. Mereka lekas membalas senyuman sepasang
kekasih itu.
“Kau sudah siap pergi?” Tanya Hyuk Jae dengan hangat.
“Tentu saja.” Dong Hae terdengar sinis. Dalam waktu singkat suasana hatinya
berubah. “Im YoonA, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi nanti!!” Ia pun beranjak
lebih dulu menuju area parkir.
YoonA masih tetap disana bersama motor scooternya menyaksikan Hyo Yeon
yang mendekap erat tubuh Hyuk Jae. “Wajar saja Dong Hae sangat marah. Mereka
selalu saja tampil mesra di setiap suasana. Apa mereka tidak pernah memikirkan
perasaan Dong Hae.” Gumam YoonA dalam hatinya sambil menatap punggung Dong
Hae yang tampak seperti orang yang kalah, punggung itu semakin jauh dari
penglihatannya.

Suasana lapangan bola terasa semakin panas. Beberapa kali gawang tim Dong
Hae dan Hyuk Jae kebobolan. Mereka tampak tidak kompak hari ini. Dong Hae terus
saja menguasai bola sendiri dan tak mau berbagi dengan Hyuk Jae yang memberikan
aba-aba padanya.
“Time is over!!!” Teriak Lee Teuk kegirangan. “Kita menang.” Soraknya.
“Akhirnya kita bisa mengalahkan Dong Hae Hyung dan Hyuk Jae Hyung.”
Teriak MinHo yang penuh kemenangan.
Dong Hae lekas melempar tubuhnya ke atas rerumputan hijau. Keringat
membasahi tubuhnya, Ia terlihat begitu lelah. Napasnya terengah-engah.
Disampingnya duduk Hyuk Jae yang menatap penuh tanya pada sikap sahabatnya hari
itu.

Beberapa lampu dinyalakan untuk menerangi kamar mandi pria. Secara bersama
mereka masuk berhambur untuk membersihkan diri di sana.
Dong Hae masih menunjukkan sikap dingin pada semua orang yang berada di
sekitarnya. Sejenak ia menenangkan diri di bawah guyuran air yang sangat dingin.
Tubuhnya yang penuh keringat seketika lenyap oleh tiap tetes air.
“Jangan lupa, hari ini giliran kalian yang mentraktir kami makan.” MinHo
mengingatkan dari bilik lain.
“Ada menu baru di restoran yang biasa kita kunjungi. Aku sudah tidak sabar lagi
untuk menyantapnya.” Tambah Kyu Hyun.
“Benar-benar. Perutku sudah sangat lapar.” Lee Teuk yang sudah tak sabaran lagi
duduk menunggu giliran di bangku panjang.
Tampak Dong Hae keluar dengan handuk yang menutup separuh tubuhnya. Ia
lekas melangkah dengan gontai menuju loker.
Disana Hyuk Jae yang sudah rapi melemparkan senyuman untuk menyambutnya.
“Dong Hae!” Panggilnya.
Dong Hae tak menghiraukan, ia tetap pada kesibukannya sendiri lalu memasang
baju kaos putih dan melapisinya dengan kemeja merah kotak-kotak. Ia pun lekas
menjauh dari hadapan sahabatnya itu.
“Dong Hae!!” Panggil Hyuk Jae lagi.
“Kenapa?” Dong Hae pun menghentikan langkahnya.
“Aku sangat senang kau bisa dekat dengan gadis lain sekarang. Aku akan sangat
senang bila kau bisa menemukan kebahagianmu sendiri. Dengan gadis itu atau
siapapun. Aku tidak pernah punya hak untuk marah apa lagi cemburu.” Ungkap Hyuk
Jae.
“Kau memang tidak pernah punya hak untuk marah. Terlebih lagi sekarang Hyo
Yeon selalu disisimu dimana pun kau berada. Dengan siapapun aku memang bukan
urusanmu.” Dong Hae dengan nada sinis.
“Benar. Kita berdua hanya bersahabat. Aku akan senang dengan siapapun
akhirnya kau kelak.” Hyuk Jae tertawa kecil.
“Benarkah kita berdua bersahabat? Aku sangat ragu akan hal itu. Seorang sahabat
tak akan pernah berubah meskipun ia bertemu dengan seseorang yang baru.” Sahut
Dong Hae yang tak sedikitpun membalikkan punggungnya.
“Dong Hae, apa maksudmu?”
“Kau tanya saja pada dirimu sendiri.” Akhir Dong Hae dan berlalu pergi.
Hyuk Jae hanya terdiam dan memikirkan kesalahannya yang membuat Dong Hae
begitu marah padanya.
“Aku pulang dulu!! Kalian makanlah sendiri. Nanti aku akan membayar semua
tagihan makanan kalian.” Dong Hae dengan tas punggung di tangan kanannya
beranjak dari hadapan teman-temannya.
Terlihat raut wajah penuh tanya para sahabatnya itu, mereka begitu heran melihat
sikap Dong Hae yang sedikit berbeda dari hari biasa mereka berkumpul.

Mobilnya terus melaju di jalan raya, Ia tak peduli dengan mobil-mobil lain yang
juga melintas di sekitarnya. Dong Hae terus saja menambah kecepatan mobilnya itu.
Ia kembali mengingat saat dimana Hyuk Jae mulai berubah dan menghindar
darinya.
Muncul dalam ingatannya, Hyuk Jae yang lebih senang menghabiskan waktunya
bersama Hyo Yeon di taman belakang kampus. Dong Hae hanya memandangi dari
kejauhan. Selama tahun-tahun terakhir di kampus, Dong Hae juga yang selalu
mengerjakan tugas untuknya, sementara Hyuk Jae lebih memilih untuk merayu Hyo
Yeon melalui telepon genggam. Mereka duduk di perpustakaan tapi pikiran Hyuk Jae
melayang entah kemana dan tak menghiraukan Dong Hae yang memanggilnya. Hyuk
Jae juga selalu membatalkan janji yang dibuatnya dan lebih memilih bersama Hyo
Yeon pergi ke taman hiburan sedangkan Dong Hae termenung sendiri di lapangan
bola kampus untuk menunggunya yang tak memberi kabar sedikit pun. Saat Ayah
Dong Hae meninggal, Hyuk Jae sahabat terdekatnya tak ada disana bahkan untuk
memberikan penghormatan terakhir karena Hyuk Jae tengah menemani Hyo Yeon
yang liburan di pulau Jeju.
Mengingat semua itu membuat Dong Hae semakin terpukul. Ia memukul dengan
keras setir mobil dan perlahan meneteskan air matanya.

“Wah, akhirnya mengkilap juga Sunshine.” YoonA tersenyum lebar
menunjukkan kegembiraannya. “Sunshine?” Ucapnya tanpa sadar. “Baiklah, aku akan
memanggilmu Sunshine. Nama kesayangan ayah untukmu. Besok kita akan
berkeliling Seoul. Tapi aku masih belum membuat SIM.” Ia tertunduk lesu.
“Seharusnya ayah membuatkan SIM dulu untukku baru menyuruhku untuk
mengendaraimu.” Gumamnya dan melanjutkan lagi pekerjaannya mengelap bagian
lampu depan.
Ia terlihat begitu sibuk membersihkan motor scooter itu di area parkiran. Sesekali
ia memeriksa keadaan mesin motornya.
Terdengar suara mobil yang baru tiba dan memasuki area parkir. Ia tak
menghiraukan siapapun orang yang berada dalam mobil itu.
Tampak orang itu keluar dari mobil dan meninggalkan tasnya di dalam. Ia lekas
mengunci mobil itu mengggunakan kunci mobil otomatis.
YoonA lekas menaiki motor dan memasang helm. “Apa aku terlihat keren seperti
ini?” Pikirnya sambil melepas kancing sweaternya yang berwarna hijau dihiasi bungabunga
kecil. Ia lekas membenarkan posisi celana pendek yang menutupi separu
kakinya.
“Ayo kita pergi!! Aku sudah tidak sabar ingin dibonceng olehmu.” Seseorang
yang tiba-tiba duduk di belakang membuatnya sangat terkejut.
“Dong Hae! Kapan kau datang?” Tanya YoonA yang segera menengok ke
belakang.
“Sepertinya sejak diberikan motor scooter. Kau sudah tidak peduli padaku lagi.”
Gumam Dong Hae dengan rautan wajah pilu.
“Tentu saja aku masih peduli padamu.” Bantah YoonA.
“Cepat jalan!” Pinta Dong Hae.
“Tapi kemana?” YoonA dengan wajah penuh tanya.
“Jalan saja. Nanti aku akan menunjukkan arahnya padamu.” Perintah Dong Hae.
YoonA pun lekas melajukan motornya dengan hati-hati menjauh keluar dari area
parkir. Ia menyembunyikan perasaannya, tapi rautan wajahnya memperlihatkan
dengan jelas kebahagiannya di bawah langit malam yang kelabu. Ia tersenyum lebar
dan sesekali tertawa kecil. “Aku benar-benar tidak menyangka bisa sedekat ini dengan
Dong Hae. Tuhan sungguh terimakasih atas anugerahmu. Malam ini sungguh sebuah
keajaiban.” Batinnya.
Tampak di belakangnya Dong Hae memasang helm untuk melindungi kepalanya.
Ia pun berpegangan pada kedua bahu YoonA.
“Udara begitu dingin tapi tangannya memberikan kehangatan untukku.” YoonA
dalam hatinya bersorak gembira. Langit tampak terbuka untuk mereka berdua, Ia
membayangkan adanya pelangi di malam hari dan motornya melaju di atasnya.
Mereka berdua melaju menuju ke suatu tempat di atas pelangi yang penuh dengan
kedamaian.

-to be continued-

comment ya..^^

~Just Stay By My Side~
By hanraena (hanraena.wordpress.com)

About these ads

14 thoughts on “Just Stay by My Side (Part 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s