Just Stay by My Side [Part 3]


Author : Riana (hanraena.wordpress.com)

Cast

Lee Dong Hae
Im YoonA
Lee Hyuk Jae
Kim Hyo Yeon

Just Stay by My Side Part 3
Beberapa lembar Gaun keluar dari persembunyian, mereka berserakan di sekitar
kamar. Meskipun hanya beberapa gaun yang tersisa dalam lemari, tapi tak ada satu
pun yang menarik hati YoonA.
Ia kembali mengambil gaun berwarna ungu gelap dan berdiri di depan cermin.
“Warnanya gelap sekali, tidak sesuai dengan suasana hatiku saat ini.” Gumamnya
sambil mengerutkan dahi.
Sesekali Ia menatap jam dinding di kamarnya, “Sudah Jam 11, aku harus segera
tidur. Nanti aku terlambat, Dong Hae pasti marah padaku.” Ia bergegas merapikan
gaun-gaun itu dengan kembali menggantungnya ke lemari.
Tiba-tiba Gaun berwarna kuning menarik hatinya, Ia lupa mengeluarkan salah
satu Gaun favoritnya itu. “Kenapa aku sampai lupa, aku masih punya Gaun
keberuntungan ini.” Seketika senyumnya melebar. Ia tampak lega dan lekas
meletakkan gaun itu ke atas kursi.
Ia pun melemparkan dirinya ke atas tempat tidur yang empuk dan menutupi
tubuhnya dengan selimut tebal. “Akhirnya aku bisa tidur dengan pulas. Aku tidak
sabar lagi menunggu hari esok. Aku dan Dong Hae.” Ia pun menutup matanya sambil
tersenyum manis.
Perlahan mimpi indah menyapa tidurnya, rembulan pun tak segan memberikan
sedikit sinar yang membias masuk melalui celah kecil jendela.

Kamar itu masih terlihat bersih, tempat tidurnya ditata dengan rapi. Lampu neon
putih masih menyala di langit-langitnya meskipun cahaya matahari pagi masuk
dengan bebas melalui kaca jendela dimana tirainya terbuka lebar di sisi ruangan.
Dong Hae memasang dasi merah dengan motif lingkaran kecil berwarna putih. Ia
merapikan posisi rambutnya di depan cermin dan menyemprotkan sedikit parfum ke
seluruh tubuhnya.
Ia lekas meletakkan botol parfum dengan merk terkenal itu ke atas meja lalu
beranjak dari kamar dan tak lupa untuk mematikan lampu. Ia duduk sejenak di sopa
ruang tamu untuk memasang sepatu. “Jam berapa sekarang?” Pikirnya, Ia pun melirik
ke arah jam di tangannya. “Sudah hampir jam 8, YoonA sudah siap atau belum?”
Tanyanya dalam hati.
Sekejap Dong Hae berdiri tepat di depan pintu apartment, tanpa segan Ia
memencet bel untuk memberitahukan YoonA kedatangannya.
Tampak YoonA yang tergesa-gesa, Ia keluar dari kamar seraya memegangi
sweater dan tas selempang. Ia bergegas memasang sepatu high heels yang memang
sengaja disiapkannya.
“Tunggu!” Teriak YoonA seraya membenarkan posisi telapak kakinya. Ia lekas
membukakan pintu untuk Dong Hae. “Hi!” Sapanya dengan hangat dan masih sibuk
mengikatkan tali ke pergelangan kakinya.
“Apa kau perlu bantuanku?” Tawar Dong Hae.
“Tidak perlu.” YoonA segera menolak dan berdiri. “Sudah selesai.” Ia pun
melemparkan senyuman untuk seseorang yang sudah ditunggu-tunggu
kedatangannya.
“Kau sudah siap? Coba kau ingat lagi, nanti ada sesuatu yang kau lupa.” Dong
Hae memberi waktu.
“Kurasa semuanya sudah beres.” YoonA terdengar meragukan.
“Kau rasa?”
“Maksudku semuanya sudah beres.” YoonA mantap.
“Baiklah.” Dong Hae melangkahkan kakinya terlebih dulu, diikuti YoonA dari
belakang.

Sejenak mereka berdiri dalam ruangan sempit, lift apartment. Hanya Dong Hae
dan YoonA di pagi yang cerah itu.
“Ehem …” YoonA berdeham.
“Ada apa?” Sambut Dong Hae.
“Apa kita perlu membeli kado sebelum pergi?”
“Tidak perlu. Aku sudah mempersiapkannya di dalam mobil.”
“Oh benarkah?” YoonA pun lekas mengunci bibirnya rapat-rapat agar tetap diam.
Pintu lift perlahan terbuka, mempersilahkan mereka keluar. YoonA kembali
membiarkan Dong Hae melangkah lebih dulu, Ia segera mengikuti dengan berjalan di
sampingnya.
Sekejap mereka berada di dalam mobil, Dong Hae segera menyalakan AC untuk
menyejukkan mobil yang mulai terasa pengap. Ia menyalakan mesin mobil kemudian
melaju menjauh dari area parkir apartment.
Terlihat YoonA yang duduk disampingnya tengah sibuk memasang sabuk
pengaman.
“Apa kau pernah pergi ke Namwon sebelumnya?” Tanya Dong Hae.
“Tentu saja. Hampir semua kota di Korea sudah pernah kukunjungi.” YoonA
dengan bangga memberikan jawaban.
“Benarkah?”
“Appa seorang Pegawai Negeri. Dia sering kali dipindah tugaskan, jadi kami
sekeluarga biasanya mengikuti kemana pun ayah dipindahkan.” Jelas YoonA.
“Sepertinya kau sangat dekat dengan Appa.”
“Tentu saja. Kami sekeluarga sangat dekat satu sama lain. Appa, meskipun
pemarah tapi sebenarnya itu semua demi kebaikan kami. Umma yang sangat lembut
dan perhatian. Aku sangat sayang pada keluargaku.” Ungkap YoonA dengan
merautkan wajahnya yang tak henti tersenyum gembira.
“Kau beruntung sekali.”
“Bagaimana denganmu?” Tukas YoonA.
“Sejak Appa meninggal, Umma memutuskan untuk tinggal di Mokpo. Jadi aku
tinggal sendiri di Seoul untuk meneruskan perusahaan.”
“Maafkan aku! Tidak seharusnya aku bertanya.” YoonA lekas merendahkan nada
bicaranya.
“Tidak apa-apa.” Dong Hae tersenyum lembut. “Apa kau baik-baik saja, kita
akan menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam setengah menuju Namwon.”
“Tentu saja. Aku adalah gadis yang kuat dan aku sudah terbiasa dengan
perjalanan jauh.” YoonA tersenyum kaku. “Sebenarnya inilah kelemahanku. Kalau
saja aku tidak mabuk darat, aku bisa saja pulang pergi ke Seoul sendiri tanpa harus
tinggal di apartment dan meminta Yong Jun untuk mengantar jemputku.” Ia diamdiam
menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan keluhannya. “Untuk satu jam
pertama mungkin aku akan baik-baik saja, tapi bagaimana dengan jam-jam
berikutnya.” Benaknya mulai dihantui rasa ketakutan. “Aku harus bertahan, Dong
Hae berada disampingku. Aku tidak boleh terlihat lemah.” Ia kembali bersemangat
sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Im YoonA.” Panggil Dong Hae tapi YoonA tak menggubrisnya. “Im YoonA!”
panggilnya lagi. “Apa sesuatu telah terjadi?”
“Apa!” YoonA lekas mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Dong Hae
yang menepuk pundaknya.
“Kau tidak apa-apa?” Dong Hae lekas menjauhkan tangannya dan kembali pada
setiran mobil.
“Aku hanya sedikit mual.”
“Mual? Apa kau sudah makan sebelum pergi tadi?” Dong Hae tampak khawatir.
“Tadi aku hanya memakan sedikit roti dan minum susu.”
“Sebaiknya kita sarapan dulu. Lagipula pestanya dimulai nanti siang. Masih
banyak waktu sebelum kita melanjutkan perjalanan.” Dong Hae segera mencari salah
satu rumah makan yang tak jauh dari tempat mereka berada.

Terdengar suara riuh anak-anak kecil yang berlari di ruang tengah. Beberapa
diantara mereka bermain petak umpet, ada juga gadis-gadis kecil yang bertingkah
seperti orang dewasa, menambah ramai suasana.
Di sana ada banyak Balon dengan berbagai macam warna bergantungan di tiap
sudut ruangan. Hyuk Jae kembali menggantung tiga balon yang terikat bersama. Ia
menggantung balon-balon itu dekat jendela.
“Aku benar-benar tidak mengerti, sebenarnya Pesta ini untuk Seorang nenek atau
anak kecil. Begitu banyak balon juga berbagai macam hiasan lain. Nenek Hyo Yeon
memang berbeda dengan Para Nenek pada umumnya.” Gumam Hyuk Jae dengan
suara pelan dari atas tangga yang digunakannya.
“Oppa! Cepat turun. Waktunya sarapan.” Teriak Hyo Yeon dari bawah tangga.
“Tunggu! Sebentar lagi aku selesai.” Hyuk Jae yang tak mau kalah menyahut
dengan suara tinggi.
“Cepat, aku tidak mau kekasihku kelaparan.” Paksa Hyo Yeon sambil
menggoyang-goyangkan tangga membuat Hyuk Jae tak konsentrasi.
“Hyo Yeonni!!” Hyuk Jae memanggil nama kesayangannya untuk Hyo Yeon.
“Apa kau ingin aku terjatuh?” Ia terdengar kesal.
“Kalau kau terjatuh, aku akan siap untuk menangkapmu dari bawah.” Hyo Yeon
coba menggoda.
“Cepatlah! Nanti dilanjutkan lagi.” Hyo Yeon kembali menggoyangkan tangga.
“Iya. Aku segera turun.” Hyuk Jae lekas turun sambil merautkan wajah
masamnya.
“Akhirnya Oppa turun juga.” Hyo Yeon tersenyum penuh kemenangan. “Ayo
kita makan!” Ia sambil menggandeng Hyuk Jae menuju ruang makan.
“Dasar kau!” Hyuk Jae mendengus kesal. Sekejap kekesalannya hilang melihat
Hyo Yeon yang begitu perhatian padanya. Ia pun membuang jauh-jauh wajah
masamnya dan mengikuti tiap langkah Hyo Yeon menuju ruang makan.

Tak banyak pengunjung yang datang untuk memadati rumah makan itu. Hanya
beberapa orang yang mampir dan menyempatkan waktu untuk sarapan disana.
Duduk disalah satu meja yang terletak dekat kaca jendela, tak jauh dari pintu
utama. YoonA dan Dong Hae sejenak menikmati makanan yang baru tersaji. Masih
tampak asap yang mengeluarkan aroma sedap mengepul mengelilingi makanan itu.
“Uhuk .. uhuk …” YoonA terdengar batuk.
“Kau makanlah dengan pelan!” Pinta Dong Hae.
“Iya.” YoonA mengangguk dan melanjutkan suapan berikutnya.
“Sepertinya udara di luar memang tidak baik untuk melanjutkan perjalanan.”
Gumam Dong Hae.
“Kurasa udaranya cukup cerah. Kita harus tetap melanjutkan perjalanan. Lagipula
kau harus datang ke pesta itu, bukan?” Sela YoonA.
“Sebenarnya ulang tahun itu tidak begitu penting. Aku hanya ingin bertemu
dengan sahabatku saja.” Jelas Dong Hae. “ Lagipula aku tidak begitu dekat dengan
dengan keluarga mereka.” Tambahnya lagi.
YoonA sejenak tercengang. “Lalu?”
“Lalu? Bagaimana lagi? Bukankah kau meminta untuk melanjutkan perjalanan.”
Dong Hae lekas menyuap sup miliknya.
“Ku pikir kau memang ingin pergi ke pesta itu.”
“Aku tidak begitu menyukai pesta, apalagi pesta ulang tahun. Itu sebabnya setiap
kali ada orang yang membicarakan tentang pesta, aku lebih memilih untuk
menghindar.” Ungkap Dong Hae.
“Aku sangat suka pesta. Karena ada sangat banyak kemeriahan yang akan terjadi,
juga kejutatan yang mungkin tidak akan terlupakan.” YoonA mengeluarkan
pendapatnya.
“Sepertinya kita tidak punya persamaan sama sekali Nona Im YoonA.” Dong
Hae tertawa kecil.
“Tentu saja kita punya persamaan.” Bantah YoonA segera “Bukankah kau tidak
suka makan sendiri, aku juga tidak suka. Jadi kapan pun kau butuh teman makan, kau
panggil saja aku.” Jelasnya.
“Aku akan lebih senang makan bersama dengan teman baikku.” Dong Hae
menolak mentah-mentah.
“Apa!” YoonA merautkan wajah cemberutnya.
“Aku bercanda.” Dong Hae tertawa kecil untuk menggodanya. “Mungkin suatu
saat aku akan memintamu untuk berada di sisiku dan terus menemaniku.” Ia lekas
membelai kepala YoonA.
YoonA hanya tertunduk menyembunyikan pipinya yang merona kemerahan.
Tiba-tiba percakapan mereka terhenti, mereka dikejutkan oleh suara Handphone
yang terdengar semakin keras. YoonA bergegas mencari keberadaan Whiteberry yang
bersembunyi di balik tumpukan peralatan make up dalam tasnya.
“Halo!” Sahut YoonA segera.
“Bisa bicara dengan Nona Im YoonA?”
“Saya sendiri, Ada yang bisa saya bantu?” YoonA dengan bahasa formal pada
seorang wanita yang jauh disana.
“Kami panitia penerimaan mahasiswa baru Universitas Seoul. Kami baru saja
menemukan ada beberapa data di formulir Anda yang masih belum diisi lengkap.
Semua berkas harus segera dikirim sebelum jam 12 nanti. Jadi, apa bisa Anda segera
ke sini?” Jelas Wanita yang sudah terdengar serak itu.
“Apa?” YoonA berteriak tak percaya, suaranya melengking menggema di tiap
sudut rumah makan. “Apa tidak bisa besok saja?” Ia lekas mengecilkan suaranya.
“Maafkan kami Nona, kalau tidak hari ini juga maka formulirnya akan
dikembalikan. Sama saja Nona masih belum mendaftar untuk mengikuti ujian
penerimaan mahasiswa baru.”
“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Waktu mendaftar aku memeriksa
semuanya, tak ada satupun yang terlewatkan.” YoonA mulai kesal.
Dong Hae menghentikan makannya sejenak untuk memusatkan perhatiannya
pada YoonA yang tampak gelisah.
“Baiklah aku akan segera kesana.” YoonA pun menutup handphonenya. Ia
merautkan wajah cemberut dan terlihat pilu.
“Apa yang terjadi?” Dong Hae penasaran.
“Aku harus kembali ke Seoul segera. Maafkan aku Dong Hae, aku tidak bisa
menemanimu ke Pesta. Kirimkan salamku pada teman-temanmu itu.” Jelas YoonA
yang tertunduk lesu.
Dong Hae tertawa kecil sambil menepuk pundak YoonA. “Tidak apa-apa. Kalau
begitu aku akan mengantarmu kembali ke Seoul.”
“Apa ini saatnya untuk tertawa.” Gumam YoonA dalam hatinya. “Padahal
kusudah berharap lebih untuk perjalanan hari ini. Tertawa bersama, bernyanyi
bersama, bergembira sepanjang waktu.” Ia lekas membuang jauh-jauh harapannya itu.
“Antarkan aku ke Halte bis saja. Biar adikku yang nanti datang menjemput.” Pupus
sudah keinginannya untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang yang
disukainya itu.

YoonA berdiri di bangku panjang halte bis, Ia menunggu Yong Jun yang masih
dalam perjalanan. Ia mendengus kesal seraya menatap langit cerah yang sekejap
berubah gelap baginya.
Perlahan mobil yang dikendarai Dong Hae menjauh, Ia membiarkan YoonA
sendirian disana. Matanya masih tetap menatap YoonA melalui kaca spion mobil
terus melajukan mobilnya di jalan raya.
“Padahal ku berharap gadis itu bisa ikut bersamaku.” Gumamnya seraya focus ke
arah jalan di depannya.

Mobil merah itu melaju mendahului mobil di depannya, berebut tempat parkir
yang kosong. Tampak didalamnya Yong Jun dan YoonA tergesa-gesa. YoonA
bergegas keluar mobil tanpa mempedulikan Yong Jun yang memintanya untuk
menunggu.
“Noona!” Teriak Yong Jun yang baru menjejakkan kakinya di halaman parkir.
YoonA tak menggubris, Ia berlari menaiki tangga depan Universitas. Matanya
terpaku pada ruang panitia pendaftaran.
“Aku Im YoonA. Sebenarnya apa yang salah dengan formulir pendaftaranku
waktu itu?” Tukasnya pada salah seorang wanita yang tampak lebih tua beberapa
tahun diatasnya. Terlihat jelas YoonA yang terengah-engah, keringat membasahi
leher dan dahinya.
“Anda lupa untuk menandatangani persetujuan bahwa Anda tidak akan mengikuti
ujian di Universitas lain sebelum mengikuti ujian di Universitas ini.” Jelas wanita itu
sambil mengeluarkan formulir pendaftaran milik YoonA.
“Bagaimana mungkin bisa? Kupikir semuanya sudah beres.” YoonA tak percaya.
“Maafkan kami, kesalahan ada pada kami karena tidak memeriksa formulir
pendaftaran terlebih dulu saat Anda menyerahkannya. Sungguh maafkan kami.”
Wanita itu merautkan wajah bersalahnya.
“Tidak apa-apa. Beruntung aku tidak tinggal jauh dari Seoul. Jadi aku bisa
secepatnya datang ke sini.” YoonA tersenyum lirih. “Lalu dimana aku harus
tandatangan?”
“Disini!” Wanita itu memberikan arahan menggunakan pulpen di tangan
kanannya.
“Apa ada lagi?” Tanya YoonA untuk memastikan setelah selesai
menandatangani.
“Tidak ada. Sekali lagi maafkan kami.”
“Tidak apa-apa.” YoonA melemparkan senyum kemurahan hatinya. “Hanya
karena satu tanda tangan semua khayalanku tadi malam lenyap seketika.” Batinnya.
“Kalau begitu aku permisi dulu.” Ia pun pergi seraya membungkukkan punggungnya.
Terlihat Yong Jun yang baru menampakkan batang hidungnya dari balik pintu.
“Apa sudah selesai?” Tanyanya segera.
“Sudah.” Jawab YoonA singkat sambil melangkah keluar diiringi Yong Jun
disampingnya.
Mereka berjalan menuruni tangga depan. Mereka tak menghiraukan orang-orang
yang berpapasan dengan mereka.
YoonA menghela napasnya, “Antarkan aku pulang!”
“Noona sekarang sudah hampir jam makan siang. Kita makan siang dulu saja!”
Ajak Yong Jun.
“Aku sedang tidak berselera makan.” Jawab YoonA ketus.
“Ada apa denganmu? Sebenarnya tadi Noona ingin pergi kemana. Noona
menggunakan gaun dengan riasan make up yang cukup tebal seperti tante genin.”
Ejek Yong Jun yang coba menggoda.
“Apa katamu!” YoonA naik darah. Rautan mukanya terlihat begitu marah.
“Ayolah kita makan siang dulu!” Yong Jun tak berputus asa.
“Kita makan siang di rumah saja. Aku akan memasak untukmu.” YoonA segera
melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
“Noona kau pasti bercanda. Masakanmu itu sangat tidak enak. Apa kau mau aku
masuk rumah sakit karena memakan masakanmu itu.” Tolak Yong Jun dan tak
berhentinya melemparkan ejekan pada YoonA yang masih kesal.
“Terserah kau saja. Kalau kau masuk rumah sakit, itu lebih baik. Setidaknya aku
tidak akan mendengar suaramu yang cerewet itu.” YoonA melangkah lebih cepat lalu
masuk mobil.
“Noona!” Teriak Yong Jun dengan nada tinggi dan terdengar merengek.
Yong Jun merautkan wajahnya yang cemberut sambil mengeluarkan mobil dari
tempat parkiran. Duduk disampingnya YoonA yang tak kalah cemberut sambil
melipat kedua tangannya.

Suasana meriah pesta ulang tahun terlihat jelas dari luar rumah. Meskipun langit
masih terang, tapi mereka tetap saja menyalakan lampu kelap kelip yang terpasang di
balkon.
Terdengar alunan musik yang indah dari piano yang dimainkan. Mereka mulai
menyanyikan lirik lagu yang sudah tak asing lagi di telinga.
Dong Hae segera memarkirkan mobilnya, Ia mengunci otomatis mobil yang
diletakkan tepat di depan pagar rumah. Ia mengambil sebuah kado yang disimpannya
di bagasi mobil. Tanpa ragu Ia melangkah masuk ke halaman depan.
Beberapa orang berdiri disana menyambut para tamu yang datang. Dong Hae
lekas membungkukkan punggungnya pada orang-orang yang terlihat tetua di rumah
itu. Matanya pun mulai sibuk mencari keberadaan sahabatnya di sekitar pekarangan
yang di penuhi dengan berbagai macam tanaman.
“Hyuk Jae kau dimana?” Pikirnya. Ia segera mengambil handphone di saku
celananya.
“Dong Hae.” Teriak seseorang dari belakang punggungnya.
Ia segera menoleh lalu berbalik, ditemukannya Hyuk Jae yang berlari kecil ke
arahnya.
“Kau sudah datang. Ayo masuk dulu!” Hyuk Jae lekas menarik lengan Dong Hae
dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Orang-orang yang terdapat di dalamnya tampak begitu ramah. Mereka tak segan
melemparkan senyuman pada Dong Hae. Salah satu pelayan segera menawarkan
minuman untuknya. Terlihat anak-anak kecil yang berlarian dan bermain disana,
Dong Hae sangat menikmati pesta itu.
“Dong Hae!” Hyo Yeon segera menyapa dan tak lupa melemparkan senyuman
manisnya.
“Hyo Yeon.” Jawab Dong Hae setelah meneguk segelas Es jeruk untuk
menyegarkan tenggorokan.
“Kapan kau datang?” Hyo Yeon menyambut gembira sambil berjalan mendekati
Hyuk Jae lalu menggandeng kekasihnya itu.
“Baru saja.” Jawab Dong Hae lagi dengan singkat. Ia mulai terganggu dengan
Hyo Yeon yang memperlihatkan kemesraannya bersama Hyuk Jae.
“Ehem …” Dong Hae berdeham.
“Apa kau ingin makan sesuatu? Bagaimana kalau Steak Sapi?” Tawar Hyuk Jae.
“Nanti saja.” Tolak Dong Hae dengan lembut.
“Benar sebaiknya kau makan sesuatu dulu untuk mengisi perutmu. Kau pasti
lapar setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.” Hyo Yeon coba merayu Dong
Hae.
“Ayolah!” Tambah Hyuk Jae.
“Baiklah.” Dong Hae lekas mengangguk mengikuti perintah Hyuk Jae.

Mereka duduk di salah satu meja tamu yang kosong, meja itu terletak di
pekarangan belakang. Langit sore yang senja sekejap berubah gelap. Bintang-bintang
pun keluar dari persembunyian dan mulai menampakkan diri mereka sambil
mengeluarkan cahayanya untuk memperindah pemandangan di langit malam.
Dong Hae mulai memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut, Ia duduk
berhadapan dengan Hyuk Jae yang bersebelahan dengan Hyo Yeon. Sesekali ia
melirik mereka yang terlihat begitu mesra. Ia tampak risih dan berusaha
menyembunyikan perasaan cemburunya.
Ia segera meneguk segelas air putih di depannya, “Ehem …” Ia berdeham lagi,
menyadarkan mereka akan keberadaannya.
“Sepertinya kau sangat kehausan.” Hyuk Jae coba menggoda.
Dong Hae hanya membalas dengan senyuman Perih.
Hyo Yeon lekas meletakkan sendoknya, “Pelayan bisa minta air putihnya.”
Teriaknya pada salah satu pelayan yang berkeliaran disana.
“Hyo Yeon!” Panggil Dong Hae.
“Kenapa?” Jawab Hyo Yeon menyambut hangat.
“Apa aku bisa meminjamkan buku-buku milik Ibumu?”
“Buku-buku?” Sela Hyuk Jae bingung.
“Semua buku-buku milik ibuku adalah mengenai belajar mengajar di taman
kanak-kanak. Apa karena kau begitu menyukai anak-anak sekarang kau ingin menjadi
guru TK?” Jelas Hyo Yeon seraya menggodanya.
“Benar. Kenapa tiba-tiba ingin meminjam buku-buku itu?” Tanya Hyuk Jae.
“Sebenarnya bukan aku yang ingin meminjamnya. Lebih tepatnya lagi temanku.
Dia akan mengikuti ujian masuk universitas fakultas keguruan.” Jelas Dong Hae.
“Benarkah? Apa dia seorang perempuan.” Hyo Yeon tersentak.
Dong Hae mengangguk pelan. “Dia tinggal di apartment sebelah.”
“Jadi sekarang apartment itu sudah ada penghuninya.” Hyuk Jae ikut bicara.
“Apa dia gadis yang cantik?” Hyo Yeon mulai bersemangat.
“Dia gadis yang cantik dan juga manis.” Dong Hae tersipu malu.
“Benarkah? Apa kau menyukai gadis itu?” Hyuk Jae dengan nada tak percaya.
“Kami baru berteman. Tidak mungkin aku langsung menyukainya.” Bantah Dong
Hae yang memang sengaja menceritakan YoonA.
“Kau harus mengenalkannya pada kami.” Pinta Hyo Yeon.
“Aku hanya merasa aneh saja. Selama beberapa tahun terakhir ini, kau tidak
pernah berteman dengan gadis manapun.” Hyuk Jae tampak shock dan terkejut.
“Bukankah ini suatu kemajuan. Akhirnya Dong Hae menemukan seseorang yang
cocok dengannya. Jangan katakan kalau kau cemburu.” Tegas Hyo Yeon dengan nada
bercanda pada Hyuk Jae kekasihnya.
“Nanti aku akan meminjamkan semua buku-buku itu. Tapi, kau harus
memperkenalkan pada kami gadis itu. Kau janji?” Hyo Yeon tak dapat
menyembunyikan raut wajahnya yang gembira.
“Aku pasti akan mengenalkannya pada kalian.” Dong Hae kembali tersipu malu
seraya tersenyum penuh kemenangan mendapati Hyuk Jae yang masih tampak shock
dan hanya terdiam.
“Baiklah sekarang saatnya ucapan selamat ulang tahun yang akan disampaikan
oleh cucu tertua kita Hyo Yeon.” Seorang presenter ulang tahun yang berdiri di atas
penggung kecil mempersilahkan Hyo Yeon untuk bangkit dari duduknya dan lekas
berdiri untuk mengucapkan beberapa patah kata.
Hyo Yeon melangkah pelan di antara banyaknya tamu undangan yang duduk di
meja mereka masing-masing. Ia segera berdiri di panggung itu sambil memegangi
microphone agar suaranya terdengar lebih jelas. Para tamu pun lekas bertepuk tangan
untuk keberaniannya. Di salah satu meja duduk neneknya tecinta. Hyuk Jae dan Dong
Hae pun memusatkan perhatian mereka pada sosok Hyo Yeon yang berdiri tak jauh
dari mereka.
“Aku hanya ingin mengatakan selamat ulang tahun yang ke 60 untuk nenekku
tersayang. Meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, tapi nenek masih sangat
sehat bugar dan kuat. Bahkan nenek terlihat lebih lincah dibandingkan aku.” Hyo
Yeon dengan nada bercandanya. “Nenek bahkan masih bisa menghabiskan lebih dari
10 botol soju. Maksudku 10 botol dalam waktu satu bulan.” Orang-orang pun tertawa
mendengarnya. “Nenek, aku mencintamu. Kami semua mencintaimu.” Akhir Hyo
Yeon.
Nenek yang duduk bersama dengan anak-anaknya tak dapat menyembunyikan air
mata bahagianya.
“Sebenarnya masih ada pengumuman yang sangat penting.” Ucap laki-laki yang
juga merupakan sepupu Hyo Yeon yang menjadi presenter acara ulang tahun itu.
“Apa itu?” Tanya Hyo Yeon yang sejenak menghentikan langkahnya.
“Cucu tertua kita ini akan segera menikah dengan kekasihnya. Tepatnya lagi Dua
bulan dari sekarang. Jadi mari kita doakan bersama agar acaranya dapat berlangsung
dengan lancar dan Hyo Yeon bahagia selamanya.”
Hyo Yeon lekas tersipu malu, Ia tersenyum penuh kebahagiaan. Ia lekas turun
dari panggung dan menghampiri Hyuk Jae lalu menarik tangan kekasihnya itu agar
mengikutinya naik ke atas panggung dan menyapa semua para tamu.
Terlihat jelas Dong Hae yang sekarang shock, Ia tak percaya kedua sahabat
terdekatnya itu akan segera menikah. Ia lekas bertepuk tangan mengikuti tamu
undangan yang juga bertepuk tangan dan ikut berbahagia meskipun sebenarnya
hatinya sangat sakit.

“Hmmm …” YoonA kembali menghela napasnya. “Uwah ….” Ia terlihat begitu
mengantuk tapi tetap memaksakan matanya agar tetap terjaga. Ia sudah mengenakan
piyama lekas keluar dari apartmentnya, Ia melangkah pelan dan berdiri di depan pintu
untuk sejenak mencari tahu keberadaan Dong Hae.
Tampak suasana apartment Dong Hae yang sepi, lampu dalam ruangan itu pun
tak menyala. Kegelapan menyelimuti tiap sudut ruangan yang tertutup rapat.
“Sudah hampir jam 11, apa dia masih belum pulang?” Pikir YoonA sambil
menghangatkan kedua tangan ke dalam saku piyamanya.
Ia kembali menengok ke arah pintu lift yang tiba-tiba terbuka dan
mengejutkannya.
“Omona!” Ia bergegas berlari menuju pintu apartmentnya dan berpura-pura
memasukkan kata sandi.
Terlihat Dong Hae yang baru datang dengan wajahnya yang kusut. Raut
wajahnya tampak muram dan tak bersemangat. Pikirannya melayang dan tatapan
matanya kosong.
YoonA memberanikan diri berbalik untuk melihat keadaannya. “Kau sudah
pulang?” Tanyanya segera. “Maafkan aku karena tadi tak bisa menemanimu.” Ia lekas
melangkah mendekati Dong Hae yang coba memasukkan kata sandi untuk membuka
pintu apartmentnya.
“Kau masih berhutang janji padaku. Kau ingatkan?” Sambut Dong Hae dingin.
“Janji?” YoonA dengan rautan wajahnya yang bingung.
“Kau akan mentraktirku makan dan kau akan selalu ada di sisiku.” Dong Hae
coba mengingatkan.
“Ah itu.” YoonA mengangguk.
Dong Hae lekas menarik tangan YoonA menuju pintu lift. Ia menekan tombol
turun dan segera masuk sesaat pintu lift terbuka.
“Kita mau kemana?” Tanya YoonA penuh tanya.
“Kau ikuti saja.” Jawab Dong Hae singkat dan nada suara masih terdengar
dingin.

Separuh pintu mini market sudah tertutup rapat, tak ada lagi pelanggan lain yang
berkunjung. Tampak penjaga kasir yang menatap tajam ke arah mereka, sesekali
menarik napasnya dalam-dalam. Lingkaran matanya mulai hitam tapi tak hentihentinya
memandangi keberadaan YoonA dan Dong Hae yang mengganggu jam
kerjanya.
“Kalau kau memang lapar, sebaiknya kita pergi ke rumah makan saja.” Bisik
YoonA pada Dong Hae. Ia mulai risih pada kasir perempuan yang merengutkan wajah
pada mereka.
“Tidak mau. Sekarang aku ingin makan cemilan sebanyak-banyaknya.” Tolak
Dong Hae dengan tegas seraya mengambil beberapa bungkus cemilan dari rak snack.
“Kalau begitu cepat! Apa kau tidak tahu kasir itu merengutkan wajahnya pada
kita. Kau juga sangat aneh, belanja tengah malah seperti ini.” Gumam YoonA dengan
nada rendah.
“Suasana hatiku sekarang sedang tidak baik. Apa tidak bisa kau menghiburku
sedikit saja.” Sambut Dong Hae ketus.
“Apa?” YoonA tampak kaget.
“Aku tidak ingin membahasnya disini.” Akhir Dong Hae lalu menjauh dari rak
snack. Ia lekas berjalan menuju lemari pendingin minuman, YoonA pun
mengiringinya di belakang.
Dong Hae mengambil beberapa botol softdrink yang bebas alcohol.
“Banyak sekali. Sebenarnya ada apa dengannya?” Pikir YoonA.
“Berapa semuanya?” Tanya Dong Hae segera seraya menyerahkan belanjaannya
ke kasir.
“15000 Won.” Kasir itu dengan cepat menghitung semua belanjaan.
Dong Hae segera mengangkat kantong plastik putih yang penuh dengan minuman
kaleng dan snack itu, lalu menjauh dari meja kasir. “Kau yang bayar!” Bisiknya pada
YoonA.
“Apa?” YoonA masih sangat kebingungan.
“Bukankah kau ingin mentraktirku.” Jawab Dong Hae kembali mengingatkan,
kemudian melangkah keluar dari mini market.
YoonA mendengus, “Aku semakin tidak mengerti dengannya.” Ucapnya sambil
menggelengkan kepala. “Berapa semuanya?” Tanya YoonA lagi.
“15000 Won.” Jawab kasir itu singkat.
“Apa! 15000 Won untuk semuanya cemilan itu.” YoonA tersentak kaget.
“Benar Nona, semuanya 15000 Won.”
“ Kau pasti bercanda.” YoonA segera melihat mesin penghitung. “Apa saja yang
dibelinya sampai sebanyak itu.” Pikirnya. “Sepertinya aku harus minta uang saku
tambahan pada Ayah.” Batinnya, lalu mengeluarkan uang dari dompetnya dan
membayar dengan berat hati.
Ia segera keluar dari mini market dan berlari mengejar Dong Hae yang
melangkah dengan gontai di tepian jalan raya.
“Hei! Tunggu aku!” Teriak YoonA, Ia berlari dengan cepat untuk mencapai
keberadaan Dong Hae. Ia segera menepuk pundak Dong Hae, “Kenapa denganmu?”
YoonA terengah-engah.
“Tidak apa-apa.” Jawab Dong Hae dingin dan masih merautkan wajah
cemberutnya. Ia lekas menyerahkan kantong belanjaan pada YoonA setelah
mengambil satu kaleng soft drink dan membukanya.
“Kenapa harus aku yang membawanya?” Protes YoonA.
Dong Hae tak menggubris YoonA yang mulai mengeluh, Ia tetap pada
langkahnya maju ke depan menuju lapangan yang terletak tak jauh dari apartment.
Sekejap mereka berada di lapangan yang sepi, angin malam yang berhembus
sepoi-sepoi begitu dingin dan menusuk. YoonA yang lupa mengenakan sweaternya
tampak menggigil, Ia duduk di atas bebatuan kecil sambil mengelus kedua lengannya
agar tubuhnya terasa hangat.
Dong Hae mengambil bola yang sengaja di sembunyikan di balik bebatuan dekat
pohon. Ia segera memainkan bola itu di tengah lapangan yang ditutupi dengan rumput
segar. YoonA hanya duduk saja sambil memandangi Dong Hae yang asyik
menendang bola.
“Hei! Apa tidak sebaiknya kita masuk saja. Disini dingin sekali.” Gumam YoonA
dengan nada tinggi meneriaki Dong Hae.
“Aku lebih senang disini. Kalau kau merasa kedinginan, kau masuk saja. Biar
tinggalkan aku sendirian.” Sahut Dong Hae dan tetap focus menggiring bola yang tak
terarah. “Coba saja kau ikut main. Pasti tidak akan terasa dingin.” Ajaknya.
“Sepertinya kau senang sekali saat bermain bola.”
“Tentu saja. Aku bahkan berharap agar di kehidupan selanjutnya aku menjadi
pemain bola saja.”
YoonA hanya mengangguk. “Ah … aku punya ide.” Ia segera mengeluarkan
Handphone dari saku piyamanya. “Posenya saat bermain bola pasti terlihat sangat
keren.” Pikirnya seraya tertawa kecil.
Tanpa ragu Ia mengambil beberapa gambar Dong Hae, ia tak segan untuk
memotret laki-laki yang tengah sibuk sendiri dengan permainan bolanya itu.
“Apa kau memotretku?” Dong Hae yang mulai sadar sekejap berhenti dan
mengagetkan YoonA.
“Tentu saja tidak.” Bantah YoonA lalu berpura-pura memencet tiap keypad
huruf. “Aku sedang membalas sms.” Teriaknya. “Huhf ..” YoonA bernapas lega
mendapati Dong Hae yang tak menaruh curiga padanya.
Dong Hae berlari ke arahnya, Ia mulai lelah dan keringat sudah hampir
membasahi seluruh tubuhnya. Ia duduk disamping YoonA yang masih sibuk berpurapura
padahal saat itu Ia tengah mengabadikan photo-photo yang berhasil didapatnya.
Dong Hae meraih sekaleng soft drink lagi dari tumpukan snack dalam kantong
plastic putih. Ia segera meminum setengah dari soft drink itu untuk menyegarkan
tenggorokannya yang kering.
“Ehem …” YoonA berdeham.
“Kau mau?” Dong Hae menawarkan soft drink yang baru diminumnya.
“Terima kasih.” Sambut YoonA lalu meminumnya. “Bukankah ini berarti aku
baru saja melakukan ciuman secara tidak langsung dengan Dong Hae.” Hatinya
bersorak gembira lalu menghabiskan softdrink itu.
“Ada apa denganmu?” Dong Hae merautkan tatapan anehnya pada YoonA yang
tertawa kecil tanpa alasan.
“Apa kau perlu tahu?” YoonA lekas menyembunyikan tawanya.
Sejenak mereka terdiam di bawah luasnya langit gelap. Beberapa awan kelabu
berkeliling mengikuti putaran bumi. Rembulan yang terlihat malu menampakkan
dirinya bersembunyi di balik awan.
“Kau tahu seperti apa rasanya terbuang dan tak dianggap. Rasanya benar-benar
sangat sakit. Bahkan lebih sakit dibandingkan saat tanganmu terluka dan berdarah.
Saat itu kau masih bisa membalut luka itu dengan perban, tapi saat hatimu terluka tak
ada satupun yang bisa menyembuhkannya. Luka itu bisa saja semakin dalam dan tak
dapet terobati lagi.” Dong Hae menatap kosong rerumputan di depannya.
YoonA tercengang, sejenak ia terdiam mendengar suara Dong Hae yang sedih.
“Tentu saja kau masih bisa menyembuhkannya dan itu adalah dirimu sendiri. Kalau
kau terus berdiam diri dan membiarkan luka itu mungkin akan semakin parah. Tapi
pernahkah kau mencoba menyembuhkannya dengan kekuatanmu sendiri. Bukan
orang lain, melainkan dirimu sendiri.” Sahutnya kemudian.
“Aku tidak pernah memiliki kekuatan itu. Aku benar-benar membutuhkan
keajaiban untuk bisa memiliki kekuatan seperti yang kau katakan. Karena perasaan
sakit ini selalu saja datang menyapaku dan hidup dalam diriku. Mereka tak pernah
tahu hal ini.”
YoonA memandangi lembut Dong Hae, “Mereka?”
“Mereka adalah sahabatku. Sebenarnya sejak orang itu muncul dan berada di
antara kami, saat itulah aku mulai merasa terbuang.” Ungkap Dong Hae membuat
YoonA terhenyak. “Aku sendiri juga tidak tahu perasaan seperti apa ini. Kadang aku
marah dan benci, kadang aku juga memaksakan diri untuk bersikap tenang lalu
tersenyum ke arah mereka.” Ceritanya.
“Sepertinya kau menyukai sahabatmu itu.” Terka YoonA.
“Menyukainya?”
“Dia gadis yang beruntung. Dia pasti punya alasan sendiri kenapa lebih memilih
orang lain.” YoonA seraya menganggukkan kepalanya.
“Gadis itu?”
“Benar. Bukankah dia seorang gadis yang beruntung. Mungkin dia masih belum
menyadari keistimewaan dirimu.” Tegas YoonA.
Dong Hae hanya mengangguk untuk mengiyakan.
“Seharusnya aku sadar, setidaknya sudah ada orang lain yang mengisi hatinya.”
YoonA masih memandangi lembut wajah Dong Hae.
Dong Hae sekilas berbalik ke arah YoonA. Gadis itu lekas mengalihkan
pandangannya ke depan untuk menghindar. Sejenak mereka duduk di sana, di bawah
langit malam yang semakin gelap. Mereka tak memperdulikan keadaan di sekitar
mereka yang mulai sunyi dari keramaian. Membiarkan angin yang terkadang
berhembus kencang menyapa mereka.

Matahari pagi yang tiap harinya selalu bertugas untuk membangunkan tidur
nyenyak yang panjang. Laki-laki itu lekas bangkit dari kasurnya yang empuk dan
keluar dari selimut tebal. Ia membuka lebar tirai jendela, matanya menyipit terkena
sinar sang surya yang menyilaukan.
Dong Hae lekas mengeliat untuk mengencangkan otot-ototnya yang kaku. “Uwah
…”
Ia bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhnya. “Minggu pagi yang cukup
menyenangkan. Seharusnya tadi aku bangun lebih awal agar bisa jogging.”
Gumamnya.
Sekejap Ia keluar dari kamar mandi mengenakan baju handuk untuk menutupi
tubuhnya. Terdengar getaran Handphone dari balik bantal. Ia segera meraih
handphone itu, tampak nama Hyo Yeon yang sedang memanggil muncul di layar.
“Hyo Yeon!” Jawab Dong Hae.
“Aku sudah membawakan buku-buku yang ingin dipinjam temanmu itu.
Sekarang aku di apartment Hyuk Jae, apa bisa kau segera kesini?” Suara Hyo Yeon
terdengar lembut.
“Benarkah?”
“Baiklah aku segera kesana.”
“Jangan lupa untuk mengajak gadis itu.”
“Kau tunggu saja disana.” Dong Hae pun menutup Whiteberry yang selalu setia
menemaninya.

Tampak Hyuk Jae yang menatap aneh pada Hyo Yeon yang kegirangan seperti
anak kecil. “Apa perlu kau segembira itu?”
“Kenapa? Aku hanya senang, akhirnya Dong Hae menemukan seorang gadis
yang cocok untuknya.” Ungkap Hyo Yeon. “Apa kau tidak senang melihat sahabatmu
itu akhirnya memiliki pasangan hidup.”
“Bukankah kau dengar sendiri, dia dan gadis itu hanya berteman.” Jelas Hyuk
Jae. “Aku hanya tidak ingin dia disakiti lagi oleh gadis manapun.” Ia terdengar
khawatir.
“Oppa! Dong Hae sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya.” Tegas
Hyo Yeon.
Hyuk Jae menghela napasnya, Hyo Yeon melangkah pelan lalu merangkulnya
dari belakang. “Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Dong Hae, kumohon
mengertilah.” Gadis itu dengan nada lembut berbisik di telinganya.
Hyuk Jae hanya diam dan tak membalas sepatah kata pun, Ia tetap duduk di kursi
meja makan dan membiarkan Hyo Yeon mendekap hangat punggungnya.

Secara otomatis pintu apartment yang tertutup rapat terkunci, YoonA tak segan
meninggalkan apartmentnya begitu saja. Sambil merapikan rambutnya yang basah
lalu menjepitkan pin rambut di poninya, Ia berdiri di depan pintu lift. Ia juga
membenarkan posisi tas selempangnya, matanya masih sangat mengantuk. Raut
wajahnya yang kusut tampak begitu jelas.
Tiba-tiba seseorang dari belakang merangkulnya masuk ke dalam lift yang baru
terbuka.
“Dong Hae!” Serunya terkejut.
“Ayo kita pergi!” Ajak Dong Hae yang sudah terlihat rapi dengan casual t-shirt
dan celana jeans yang biasa dikenakannya.
“Kemana?”
“Bukankah seharusnya kau pergi bekerja.”
“Nona Im YoonA, hari ini hari libur. Apa kau sudah lupa? Aku juga butuh waktu
istirahat.” Dong Hae lekas mendorong kepala YoonA dengan lembut lalu tertawa
membelai kepala gadis itu.
“Benarkah?” YoonA tersenyum perih sambil menundkkan wajahnya. “Mungkin
Tuhan memang sengaja mengirimku kesini untuk bertemu dengan Dong Hae. Aku
tahu meskipun saat ini dia menyukai orang lain, tapi aku tidak akan putus asa untuk
membuatnya melupakan orang itu. Meskipun jika di akhir cerita dia tidak bersamaku,
setidaknya Dong Hae harus bahagia.” Batin YoonA kembali bersemangat sambil
merapikan lagi rambutnya yang berantakan. Ia pun memandangi lembut Dong Hae
yang beridiri tegap di sampingnya.
Dong Hae menatap dengan seksama mesin lift yang menunjukkan keberadaan lift
di lantai berapa saat itu. YoonA hanya tersenyum tipis dan membiarkan dirinya
berada di dekat orang yang disukainya.

To Be Continued

Comment yaa.. ^^



11 thoughts on “Just Stay by My Side [Part 3]

  1. nice ff ^_^p
    karna ff ini, aku jadi suka couple yoonhae, padahal tadinya cuma suja sama couple haesica doang x)
    next part nya cepet publish yah! aku nunggu part yang ini aja udah ga sabaran hehe

    Like

  2. yaa, sayang sih cuman gara-gara unversitas jadi ngga bareng kan -____-” cuman disuruh tanda tangan pula =33
    tapi kayaknya walau Donghae masih suka sama ‘cewek’ itu, tapi tapinya Haepa udah naruh hati sama Yoona kekekekek😉 ayo, eonni buat Haepa jatuh cinta sama eonni!!

    ayoo, doong part selanjutnya! Aku suka banget-bangetan sama fanfics ini …

    Like

  3. Sebenernya org yg bkin hae sakit hatii sapa?dy gak bsa lupain sapa?
    Tp mga aja stlah adanya yoona dy bsa sembuh hati.na..
    Weeh hyuk ama hyo mesraa aja yh!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s