Captured in His Heart. (chapter 5)


★  This story was made and copyrighted by R. No stealing or claiming as yours.

★  No silent reader. Any comments and critics will be very appreciated.

★  Any resemblance to another story or fanfiction is purely coincidental.

★  This story is 100% fictional.

★   Enjoy the story! ^^

Chapter 5: “Jangan pernah lakukan itu lagi.”

Kedua orang itu berdiri di tengah lapangan basket, dilatarbelakangi oleh matahari senja dan daun-daun kering yang berguguran. Selama beberapa saat, suara yang terdengar hanyalah hembusan angin, Yonghwa dan Joohyun hanya saling menatap satu sama lain tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan itu pun akhirnya dipecahkan oleh Yonghwa, yang berkata dengan nada tak percaya, “Seo Joohyun, kaukah itu? Benarkah?”

Joohyun tidak langsung menjawab. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Pandangannya nanar dan lidahnya kelu. Ia berulang kali membuka mulutnya, namun tak bisa mengatakan apa-apa. Dadanya terasa sesak dan tanpa bisa dicegah, tiba-tiba air mata sudah menggenangi kedua matanya.

Melihatnya, senyum lega yang terlukis di wajah Yonghwa langsung memudar, digantikan ekspresi cemas sekaligus takut. Ia tampak susah payah menahan diri untuk tidak langsung berlari menghampiri Joohyun. “Joohyun-ah, kau kenapa? Aku … apa aku boleh mendekat?” tanyanya ragu.

Sebutir air mata mulai mengalir jatuh ketika Joohyun hanya mengangguk pelan, masih membisu. Yonghwa pun langsung melangkah maju menghampirinya. Dengan cemas ditatapnya gadis itu lekat-lekat. Jemarinya bergerak perlahan, menghapus air mata di pipi Joohyun. “Hyun-ah, tolong katakan sesuatu. Kau membuatku takut, sungguh. Kau tidak apa-apa? Apa kau tidak senang bertemu denganku? Aku selalu ingin melihat senyummu lagi, tapi kenapa aku malah harus melihat air matamu setelah sekian lama kita tidak bertemu?” ia bertanya lembut.

“Oppa,” akhirnya Joohyun berkata dengan suara bergetar. “Yong oppa, benarkah ini kau?”

Yonghwa tertawa dan mengacak pelan rambut Joohyun. “Tentu saja ini aku. Dua tahun kita tak bertemu, apa kau sudah melupakan wajahku? Atau aku berubah banyak sehingga kau tidak bisa mengenaliku?” katanya dengan mata berkilat jenaka.

Mata itu. Senyum itu. Joohyun tidak pernah bisa melupakannya. Kakinya semakin terasa lemas dan air matanya kembali mengalir. Ia tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Dadanya masih terasa sesak. Ia belum bisa mempercayai apa yang sedang dialaminya sekarang, siapa yang saat ini tengah berdiri di hadapannya, dan apa yang harus ia lakukan.

Yonghwa mendecakkan lidah. Ekspresi cemas kembali membayangi wajahnya. “Sudah, jangan menangis lagi. Kau tahu sendiri aku paling tidak bisa melihat air matamu. Air matamu selalu bisa membuatku bingung dan tak tahu harus berbuat apa,” katanya.

“Oppa, kau … tidak membenciku?” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Joohyun.

“Membencimu? Kenapa aku harus membencimu?” Yonghwa terbelalak. Tapi kemudian ia mengangguk-angguk dan menatap Joohyun dengan kening berkerut. “Ah, benar juga. Seharusnya aku membencimu karena kau tidak membalas emailku sama sekali selama hampir dua tahun terakhir. Dan seharusnya aku sekarang memarahimu karena kau menghilang begitu saja dan pindah ke Seoul. Belum lagi fakta bahwa kau sudah membuatku sangat cemas dan takut selama ini karena aku sama sekali tidak mengetahui kabarmu.”

Kepala Joohyun langsung tertunduk. Yonghwa mengucapkan kalimat barusan dengan nada bercanda, seperti yang biasa dilakukannya sejak kecil. Namun bagaimanapun juga ia tetap merasa bersalah. Ia memiliki alasan sendiri untuk menghindari Yonghwa dan keluarganya selama dua tahun terakhir. Tapi mereka tidak mengerti – dan tidak akan ada yang bisa mengerti – betapa sulitnya menahan diri untuk tidak membalas semua email Yonghwa. Ia merindukan Yonghwa dan keluarganya tapi … ingatannya akan apa yang terjadi dua tahun lalu selalu berhasil menahannya untuk mengacuhkan semua usaha Yonghwa dan keluarganya untuk mengetahui kabarnya dalam dua tahun terakhir. Ingatannya … dan perasaan bersalahnya.

“Hei hei, aku cuma bercanda, jangan kau anggap serius!” sergah Yonghwa, melihat Joohyun menundukkan kepalanya, semakin merasa bersalah. “Kau ini, seperti belum mengenalku saja. Baiklah, lupakan saja apa yang baru kukatakan. Ngomong-ngomong matahari sudah terbenam, kau belum makan malam kan? Bagaimana kalau setelah ini kutraktir makan malam? Ah iya, ddeokbokki! Ayo kita makan ddeokbokki! Ya?”

Joohyun tidak menjawab. Ia juga tidak mengangguk maupun menggeleng. Namun sorot matanya tidak lagi nanar seperti sebelumnya. Dengan lembut akhirnya Yonghwa merangkulnya lalu menggiringnya perlahan. “Tidak menjawab berarti setuju! Ayo kita makan ddeokbokki! Aku ingat dulu kita biasa makan ddeokbokki setiap akhir pekan di restoran Korea di dekat apartemenmu di London,” katanya dengan suara riang.

Sepanjang perjalanan menuju restoran, Joohyun masih tetap membisu. Pikirannya berkecamuk. Di sampingnya, Yonghwa sesekali mengomentari beberapa perubahan pada kota Seoul selama dua tahun terakhir. Terlihat jelas bahwa ia sedang berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung di antara mereka berdua.

Ketika mereka akhirnya tiba di restoran, duduk saling berhadapan dan menyantap sepiring besar ddeokbokki pun, Joohyun masih tetap tidak banyak berbicara. Ia hanya menjawab beberapa pertanyaan Yonghwa dengan pendek dan sopan. Meskipun demikian, Yonghwa masih tetap berusaha membangun percakapan dengan sabar dan riang. Ia kemudian banyak bercerita mengenai pengalamannya di London selama setahun terakhir, bahwa akhirnya ia lulus dari Departemen Musik dengan nilai memuaskan dan karenanya ia lalu memutuskan untuk kembali ke Seoul.

Joohyun mulai memperhatikan pria itu, tanpa benar-benar mendengarkan apa yang ia katakan. Pria ini masih tetap Jung Yonghwa yang dikenalnya sejak kecil. Yong yang jenaka, senang melucu, dan kadang bersikap seperti anak kecil. Selalu tampak bersemangat setiap kali membicarakan hal-hal yang disukainya, dan gemar berbicara untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama Joohyun.

“Bagaimana kabarmu, Hyun?” akhirnya Yonghwa bertanya dengan nada melembut.

“Aku … baik,” Joohyun menjawab dengan agak gugup. “Maaf aku … sejujurnya aku masih terkejut. Tiba-tiba bertemu denganmu lagi setelah sekian lama … yah aku … senang melihatmu baik-baik saja.”

Yonghwa tersenyum. “Ceritakan tentang dirimu. Yang kutahu darimu hanyalah kau sekarang kuliah di Departemen Jurnalisme dan Komunikasi Universitas K dan kau juga bekerja sebagai model. Ah, ngomong-ngomong aku tadi melihat fotomu di majalah W. Kau kelihatan cantik sekali. Aku tidak pernah menyangka bahwa Seo Joohyun bisa berubah menjadi secantik itu, sungguh.”

Refleks, Joohyun tersenyum malu. “Oppa selalu saja menggodaku,” katanya.

Yonghwa tertawa. Di satu sisi ia tertawa karena mendengar jawaban Joohyun dan di sisi lain ia merasa lega karena akhirnya Joohyun tersenyum walaupun sedikit. Suasana setelah itu pun perlahan menjadi lebih menyenangkan. Sedikit demi sedikit, Joohyun mulai menanggalkan kecanggungan dan kegugupannya, meskipun ia masih tetap tidak banyak bicara dibandingkan Yonghwa.

Acara makan malam itu berlalu dengan cepat. Agak terlalu cepat bagi Yonghwa, karena ia masih ingin duduk di sana, menatap gadis bermata bulat indah yang ada di hadapannya. Awalnya ia sempat merasa takut Joohyun akan menolak tawarannya untuk mengantar gadis itu pulang ke apartemennya. Tetapi ternyata gadis itu membiarkan Yonghwa mengantarnya pulang, meskipun ia sempat merasa ragu.

“Hari ini adalah hari keberuntunganku,” pikir Yonghwa sambil berjalan pulang. Ia baru saja meninggalkan apartemen Joohyun. Perasaan bahagia meluap-luap dalam dadanya. “Aku bahkan berhasil mendapatkan nomor teleponnya! Seo Joohyun, aku takkan melepaskanmu lagi kali ini.”

***

Dari balik jendela kamarnya, secara diam-diam Joohyun memperhatikan sosok Yonghwa yang berjalan menjauh. Setelah ia tidak bisa melihatnya lagi, ia menghela napas panjang dan menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Matanya terpejam. Kenangan masa kecilnya kembali melintas di depan matanya.

Ia masih belum bisa mempercayai kenyataan bahwa ia akhirnya bertemu lagi dengan Jung Yonghwa, sahabatnya sejak kecil. Apa yang ia rasakan mengenai pertemuan kembali dengan pria itu pun ia tidak tahu. Ia merasa terkejut, tentu saja. Dan ia juga merasa lega karena pria itu baik-baik saja. Namun di atas semuanya, perasaan takut dan bersalah itu masih menghantuinya.

Cepat atau lambat toh aku harus menghadapinya,” pikir Joohyun. “Dan rupanya sekarang lah saatnya. Kau sudah tidak bisa menghindar lagi, Seo Joohyun.”

***

Jam masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi ketika handphone Kyuhyun bergetar dengan suara nyaring. Suara itulah yang akhirnya memaksa pria itu mengakhiri tidurnya dan menjawab panggilan telepon dengan suara mengantuk.

“Halo? Siapa ini?” tanyanya, masih dengan mata setengah terpejam. “Jungsoo hyung? Ada apa kau meneleponku pagi-pagi begini?”

Terdengar suara tawa seorang pria dari telepon. “Maaf membangunkanmu dengan cara seperti ini, Kyuhyun-ah. Apakah siang ini kau ada waktu? Salah satu fotografer kami mengalami kecelakaan semalam dan tangannya terkilir jadi ia tidak bisa bertugas dalam pemotretan siang ini. Maukah kau menggantikannya?”

“Siang ini?” Kyuhyun mencoba memfokuskan pikirannya. “Ya, kurasa aku bisa. Di mana lokasi pemotretan? Pukul berapa aku harus berada di sana?”

“Pukul 1 siang di taman H. Datanglah tepat waktu! Terima kasih banyak, Kyuhyun-ah!”

“Sampai bertemu di sana, hyung,” Kyuhyun menyahut malas, lalu mematikan telepon dan kembali membenamkan kepalanya ke bantal. Hampir dua menit kemudian, ketika ia sudah akan tertidur kembali, handphone-nya kembali bergetar. Sambil menggerutu keras, ia kembali meraihnya.

“Tenang saja, Jungsoo hyung, aku tidak akan datang terlambat …” namun tiba-tiba Kyuhyun menghentikan kalimatnya. Matanya langsung terbuka lebar ketika mendengar suara yang menjawabnya dari seberang telepon. “Noona?”

***

Cuaca siang itu cukup cerah meskipun hawanya cukup dingin. Beberapa orang tampak sedang sibuk mempersiapkan beberapa peralatan untuk pemotretan di tengah sebuah lahan terbuka di taman H, salah satu taman terluas di tengah kota Seoul. Di bawah sebuah pohon, Joohyun duduk dengan tenang. Beberapa orang make up artist mengelilinginya, sibuk memoleskan make up pada wajahnya dan menata rambutnya. Di sebelahnya, Taeyeon berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku sudah siap menolak tawaran pemotretan ini tapi kau bersikeras menerimanya. Bukankah kita sudah sepakat untuk mengosongkan jadwalmu selama beberapa hari agar kau bisa beristirahat?” tanyanya dengan kening berkerut.

Joohyun tersenyum. “Aku tidak apa-apa, Taeyeon unnie. Aku tidur nyenyak semalam dan aku sudah meminum bermacam-macam vitamin. Badanku sudah terasa lebih segar sekarang.”

Taeyeon menghela napas panjang. “Baiklah, terserah kau saja,” jawabnya. “Lagipula wajahmu sudah tidak pucat lagi seperti kemarin. Tapi kumohon jangan pernah memaksakan dirimu, Joohyun. Aku kenal betul sifatmu. Kau cukup lihai dalam menyembunyikan apa yang sedang mengganggumu dan malah menyimpannya seorang diri.”

“Taeyeon-ah?” tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakang Taeyeon.

Taeyeon berbalik, dan langsung berhadapan dengan seorang pria berambut cokelat muda. Sebuah kamera tergantung di salah satu bahunya. Terlihat jelas bahwa ia adalah salah seorang fotografer yang bertugas hari itu.

“Jungsoo oppa!” Taeyeon terpekik gembira.

Pria itu tersenyum lebar, lesung pipinya tampak semakin jelas. “Lama tidak berjumpa. Aku sudah menunggu-nunggu kesempatan ini. Sudah sebulan berlalu sejak pemotretan terakhir Seohyun-ssi di majalah D,” katanya, sambil mengangguk sopan pada Joohyun, yang langsung berdiri untuk membalas salamnya.

“Lama tidak bertemu, Jungsoo-ssi,” kata Joohyun sopan.

“Kalian berdua tampak sehat-sehat saja, syukurlah,” kata Jungsoo. “Ah, Seohyun-ssi, apakah kau sudah selesai dirias? Pengarah gaya membutuhkanmu sekarang untuk menentukan pencahayaan dan persiapan pemotretan.”

Joohyun pun meninggalkan kedua orang itu, yang langsung asyik bercakap-cakap dengan akrab. Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran seorang pria muda yang tiba di lokasi pemotretan itu beberapa menit kemudian.

“Hyung!” seru pria itu, memanggil Jungsoo. Jungsoo pun menoleh dan tersenyum lebar. “Kyuhyun-ah, kau sudah datang?” katanya gembira. “Kemarilah, kau datang tepat pada waktunya. Pemotretan akan dimulai sebentar lagi.”

Kyuhyun pun bergabung bersama keduanya. Jungsoo pun segera memperkenalkan Taeyeon pada Kyuhyun. “Kyuhyun, ini Kim Taeyeon. Dia manajer dari model pemotretan hari ini,” katanya, lalu ia menoleh pada Taeyeon. “Dan anak ini adalah Cho Kyuhyun, dia fotografer lepas yang sering sekali kumintai tolong dalam beberapa pemotretan majalah D. Dan dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri.”

Kyuhyun dan Taeyeon pun saling bertukar senyum sopan. Detik berikutnya, terdengar suara sang pengarah gaya, memanggil semua staff untuk bersiap memulai pemotretan. Kyuhyun pun langsung mengeluarkan kamera dari dalam tasnya dan sibuk mengutak-atik benda itu sambil berjalan menuju lokasi pemotretan. Ketika ia akhirnya mendongak dan melihat wajah gadis yang menjadi model pemotretan hari itu, ia terperanjat. “Seo Joohyun?” gumamnya tak percaya.

Namun ia tak sempat menyapa gadis itu karena pemotretan langsung dimulai beberapa saat kemudian. Ia pun langsung berkonsentrasi menjalankan tugasnya. Dengan cermat ia membidik Joohyun melalui lensa kameranya. Dan apa yang dilihatnya dari balik lensa sungguh-sungguh membuatnya takjub.

Sudah tidak terhitung berapa sesi pemotretan yang sudah dilalui Kyuhyun, berapa orang model yang menjadi objeknya, dan betapa cantiknya wajah para model itu. Namun tak ada seorang pun yang pernah membuat jantungnya berdegup lebih kencang seperti ini. Apa yang dirasakannya hampir sama seperti pertemuan pertama mereka di studio majalah W beberapa minggu lalu. Sambil menelan ludah karena gugup, ia kembali mencoba berkonsentrasi menjalankan tugasnya.

“Ini bukan pertemuan pertama kami, aku bahkan sudah menolongnya dua kali. Tapi kenapa aku merasa begini?” pikirnya heran. “Hmmm, beberapa model memang memiliki aura tersendiri ketika dilihat dari balik lensa. Dan Seo Joohyun pastilah salah seorang di antaranya.”

Pemotretan itu hanya berlangsung selama setengah jam saja. Pengarah gaya akhirnya menyerukan aba-aba yang menandakan bahwa pemotretan itu sudah selesai. Beberapa orang staff pun mulai bangkit untuk membereskan beberapa peralatan yang digunakan untuk pemotretan. Kyuhyun langsung melayangkan pandangannya ke arah Joohyun. Gadis itu tampak dikelilingi beberapa orang staff, tersenyum sopan mengucapkan terima kasih pada mereka, dan masih belum menyadari kehadirannya.

Ketika akhirnya para staff meninggalkan Joohyun berdiri seorang diri, Kyuhyun pun mulai berjalan melintasi rerumputan, menghampiri gadis itu. Joohyun masih berada di tempatnya semula, di bawah sebuah pohon yang memang menjadi latar belakang utama pemotretan itu. Ia tampak sedang sibuk membersihkan gaunnya dari daun-daun yang berguguran, dan masih belum menyadari keberadaan Kyuhyun hingga akhirnya pria itu berdehem kecil dan berkata dengan nada resmi, “Kerja yang bagus, Seohyun-ssi! Pemotretan kali ini berjalan sangat baik!”

“Ah, terima kasih ba … Kyuhyun sunbae?” Joohyun terbelalak ketika akhirnya menyadari bahwa pria yang berdiri di depannya adalah Kyuhyun. “Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau … salah satu fotografer yang sedang bertugas?” Matanya tertuju pada kamera yang dipegang Kyuhyun.

Kyuhyun terkekeh. “Secara mendadak Jungsoo hyung memintaku menggantikan salah satu fotografer yang berhalangan hadir hari ini. Dan aku sama sekali tidak tahu bahwa ternyata kau yang menjadi model pemotretan kali ini. Seandainya saja aku tahu, aku pasti akan menolak permintaan Jungsoo hyung. Aku harus membatalkan janji yang sangat penting dengan game-ku gara-gara pemotretan ini.”

Joohyun tertawa. “Baiklah, tolong sampaikan permintaan maafku pada game-mu karena aku sudah meminjam tuannya,” katanya sambil berkacak pinggang. Ia kemudian menunjuk kamera Kyuhyun. “Ngomong-ngomong bolehkah aku melihat hasil pekerjaanmu, Tuan Fotografer?”

Kyuhyun langsung menjauhkan kameranya dan memegangnya dengan sangat hati-hati, seolah Joohyun bermaksud mencurinya. Dengan nada serius yang dibuat-buat, ia berkata, “Maaf sekali, Nona Seo, tapi kau baru bisa menerima hasil pemotretan ini beberapa hari lagi.”

“Apa? Mana boleh begitu? Sunbae, jangan-jangan ada foto yang kausembunyikan dariku? Perlihatkan padaku!” Joohyun kembali tertawa dan kali ini ia langsung berjalan mendekati Kyuhyun sambil mengulurkan tangannya. Kyuhyun melangkah mundur dan semakin menjauhkan kameranya dari jangkauan Joohyun untuk menggoda gadis itu. Selama beberapa saat, mereka masih tetap bertahan dalam posisi itu: Joohyun yang berusaha merebut kamera Kyuhyun dan Kyuhyun yang berusaha menghindar darinya. Keduanya tertawa-tawa, membuat beberapa orang staff akhirnya menoleh dan merasa tertarik untuk menyaksikan adegan tersebut. Akhirnya Kyuhyun pun menyerah dan menyerahkan kameranya pada Joohyun.

“Mereka berdua sudah saling mengenal?” Taeyeon bertanya heran pada Jungsoo.

“Aku baru saja ingin menanyakan hal yang sama padamu,” Jungsoo menyahut tanpa melepaskan pandangannya dari Kyuhyun dan Joohyun yang kini sedang asyik melihat foto-foto yang ada di kamera Kyuhyun. Sesekali tampak Joohyun melebarkan matanya karena kagum dan Kyuhyun tersenyum puas sebagai jawabannya. Tampak jelas bahwa Joohyun baru saja memuji beberapa foto hasil jepretannya. Mendadak sebuah ide melintas di kepala Jungsoo dan ia tersenyum lebar. Ia segera membidik pemandangan itu dengan kameranya.

“Mereka tampak sangat akrab,” Taeyeon juga masih belum mengalihkan tatapannya dari Joohyun dan Kyuhyun. “Aneh sekali, Joohyun tidak pernah punya teman pria. Dia adalah anak yang cukup pemalu dan … oppa, apa yang kau lakukan? Kau memotret mereka?”

“Tenang saja, aku tidak akan mempublikasikannya,” jawab Jungsoo sambil terus memotret. “Kau tidak perlu khawatir, Taeyeon.”

Sementara itu, tiba-tiba pengarah gaya berseru dari tempatnya berdiri, “Cho Kyuhyun, bolehkah aku melihat hasil jepretanmu?”

“Baiklah! Tunggu sebentar, hyungnim!” Kyuhyun balas berseru. Ia lalu berpaling pada Joohyun dan berkata, “Nah, waktumu sudah habis, Nona Seo. Aku harus pergi sekarang.”

Dengan mata berkilat jenaka, ia mengambil kameranya dan berlari menghampiri si pengarah gaya. Joohyun memandang punggung pria itu sambil mengangguk-angguk dan bergumam, “Walaupun dia gemar berbuat iseng, tapi harus kuakui bahwa dia seorang fotografer handal. Foto-foto yang dihasilkannya bagus sekali.”

Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju tempat di mana para make up artist sedang menunggunya. Di sekitarnya, beberapa orang staff sedang lalu lalang membereskan beberapa peralatan berat yang digunakan untuk pemotretan, termasuk beberapa lampu yang terpasang pada tiang yang cukup tinggi untuk keperluan lighting. Beberapa detik berikutnya, tiba-tiba terdengar suara berderak keras dari atas kepalanya dan seseorang berseru, “Awas!”

Semua seolah terjadi dalam gerak lambat. Beberapa meter di atas kepala Joohyun, tampak sebuah lampu berukuran besar tergantung mengerikan dari sebuah tiang besi panjang yang sedang diangkut oleh dua orang staff. Terlihat jelas bahwa kabel yang menahan lampu tersebut sudah akan putus dan kedua orang staff yang mengangkutnya tak berdaya untuk menahannya. Lampu itu berayun selama beberapa detik sebelum akhirnya meluncur jatuh tepat ke arah Joohyun. Joohyun menjerit, begitu pula dengan Taeyeon dan beberapa orang staff yang hanya bisa terpaku menyaksikan pemandangan itu.

Beberapa detik kemudian, lampu itu menghantam tanah tepat di mana Joohyun berdiri sebelumnya. Gadis itu kini terbaring sekitar satu meter dari lampu itu, aman dalam pelukan seorang pria yang menyelamatkannya tepat pada waktunya. Keduanya jatuh berguling-guling di rumput, tapi setidaknya selamat dari maut yang baru saja mengancam.

“Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu.

Joohyun pun langsung mengenali suaranya. “Kyuhyun sunbae? Tidak, aku tak apa-apa. Bagaimana denganmu?”

Keduanya terduduk di rumput, sementara orang-orang berlari menghampiri mereka dengan cemas. “Kalian tidak apa-apa?” seru Taeyeon dan Jungsoo. Keduanya langsung berlutut di sisi Joohyun dan Kyuhyun, sementara para staff sibuk meminta maaf atas kecelakaan yang baru saja terjadi dan segera membereskan lampu yang berserakan.

“Sungguh, aku tak apa-apa,” Joohyun kini bangkit berdiri dan berusaha meyakinkan orang-orang yang kini mengerumuninya. “Aku sama sekali tak terluka, lihat! Untung saja Kyuhyun sunbae menyelamatkanku tepat pada waktunya.”

“Kyuhyun-ah, tanganmu terluka!” tiba-tiba Jungsoo berseru dan menunjuk tangan kanan Kyuhyun.

Kyuhyun memandang tangannya dan meringis. Ia bisa melihat darah menetes dari luka di sikunya. Tampaknya tadi siku kanannya menghantam tanah cukup keras.

Melihat hal itu, wajah Joohyun memucat. Ia segera berlari mencari tasnya dan kembali sambil membawa sebuah kantong berisi obat-obatan. Ia jarang membawa kantong itu, namun setelah lengannya terluka beberapa hari lalu, ia pun memutuskan untuk membawa kantong itu ke mana pun ia pergi.

“Kemarikan lenganmu, biar kuobati!” katanya pada Kyuhyun dengan nada tegas.

Kyuhyun tampak tercengang mendengar nada suara gadis itu. “Tidak usah, biar kuobati sendiri,” jawabnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Joohyun langsung menarik tangan Kyuhyun yang tidak terluka dan menyeret pria itu ke kursi yang terletak di dekat situ. Dengan perlahan dan cermat, ia mulai membersihkan luka Kyuhyun dan mengoleskan obat di atasnya. Wajahnya tampak pucat sekaligus serius, membuat Kyuhyun semakin tercengang dan kehilangan kata-kata.

“Tenang saja, lukaku tidak separah luka di lenganmu kemarin,” katanya kemudian, berusaha membuat Joohyun kembali tersenyum. Namun ekspresi gadis itu sama sekali tidak berubah, bahkan setelah ia selesai mengobati luka Kyuhyun. Ia hanya duduk sambil tetap memandangi luka Kyuhyun yang kini sudah terbalut rapi. Wajahnya masih tampak pucat dan ekspresi yang sulit dijelaskan tergambar jelas di sana. Kyuhun kini merasa cemas.

“Seo Joohyun, kau benar tak apa-apa? Kau tak terluka juga kan?” tanyanya. “Aku tidak apa-apa, sungguh. Kau tidak perlu merasa …”

“Jangan lakukan itu lagi,” Joohyun memotongnya dengan suara pelan. Nadanya terdengar dingin dan Kyuhyun bisa mendengar getaran dalam suaranya.

“Apa katamu?”

“Kyuhyun sunbae, jangan pernah melakukannya lagi,” Joohyun mengulangi kalimatnya, kali ini dengan suara lebih keras. Matanya menatap Kyuhyun dengan tajam, membuat pria itu terkejut sekaligus mulai merasa takut. “Menyelamatkanku tanpa memedulikan dirimu sendiri, bahkan membuatmu terluka dan ikut terancam bahaya. Jangan pernah lakukan itu lagi.”

Gadis itu bangkit dan berbalik, hendak berjalan pergi. Kyuhyun ikut bangkit dan menahannya. “Tunggu dulu! Apa maksudmu? Kau marah karena aku menyelamatkanmu? Ada apa ini?”

Joohyun menghela napas panjang. Ia masih tetap berdiri membelakangi Kyuhyun. Setelah terdiam selama beberapa saat, barulah ia menjawab dengan suara bergetar, “Kau tidak mengerti. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat seseorang terluka ketika berusaha menyelamatkanmu. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku, Kyuhyun sunbae. Tapi tolong jangan pernah melakukannya lagi.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Joohyun langsung melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Kyuhyun yang semakin terpana dan tak sanggup berkata apa-apa.

***

Matahari sudah hampir terbenam ketika Kyuhyun melangkahkan kakinya ke restoran itu. Ia hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk menemukan wanita yang dicarinya. Seorang wanita cantik berambut kecokelatan panjang tampak sedang duduk di salah satu meja. Ia sedang sibuk mengetik sesuatu di handphone-nya, sehingga ia tidak menyadari kehadiran Kyuhyun.

“Ahra noona!” sapa Kyuhyun.

Wanita itu mendongak dan wajahnya berubah menjadi sangat cerah ketika melihat Kyuhyun. Ia pun meloncat bangkit dan merangkul pria itu. “Kyuhyun-ah! Kau sudah datang! Astaga sudah lama sekali kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu!”

Kyuhyun tertawa dan balas merangkul kakak perempuannya. “Benar, sudah hampir setengah tahun sejak pertemuan terakhir kita. Syukurlah kau kelihatan baik-baik saja, noona. Bagaimana pekerjaanmu? Kau sedang cuti? Berapa lama kau akan tinggal di Seoul?”

Ahra mendesah kecewa, lalu kembali duduk di kursinya. “Aku hanya akan tinggal di Seoul selama dua atau tiga malam saja, setelah itu aku harus kembali ke Tokyo. Pekerjaanku menanti,” jawabnya. “Aku sungguh berharap mereka menempatkanku di Korea, setidaknya aku bisa bertemu denganmu sekali dalam seminggu.”

“Itu karena mereka tahu kau adalah pegawai yang hebat, dan mereka membutuhkan pegawai yang hebat untuk ditempatkan di luar negeri,” kata Kyuhyun.

Ahra tersenyum. “Baiklah, aku takkan mengeluh lagi. Toh sepertinya kau baik-baik saja tanpaku,” katanya sambil terkekeh. “Bagaimana pekerjaanmu, Kyuhyun-ah?”

Kakak-beradik itu kemudian asyik mengobrol sambil menyantap makan malam mereka. Hubungan mereka memang sangat akrab sejak kecil, namun mereka harus hidup terpisah selama beberapa tahun terakhir karena Ahra memutuskan untuk kuliah dan bekerja di luar negeri.

“Ngomong-ngomong, apakah kau baru saja melakukan pemotretan?” tanya Ahra sambil menunjuk tas kamera yang tergeletak di sebelah Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengangguk singkat. Ia mendadak teringat apa yang terjadi tadi siang: kecelakaan yang nyaris membahayakan nyawa Joohyun, dan sikapnya yang berubah dingin setelah Kyuhyun menyelamatkannya. Pandangannya menerawang dan ia hanya memutar-mutar garpu yang ada di tangannya.

“Kau kenapa?” tanya Ahra. “Bolehkah aku melihat hasil pekerjaanmu? Sudah lama aku tidak melihat hasil pekerjaanmu. Kemampuanmu pasti sudah lebih berkembang sekarang.”

Kyuhyun menyerahkan kameranya dan Ahra pun langsung menyalakannya untuk melihat-lihat foto yang ada di dalamnya. Pikirannya masih tertuju pada Joohyun ketika tiba-tiba Ahra berkata dengan nada heran, “Hei, bukankah gadis ini Seo Joohyun?”

“Apa? Kau mengenalnya, noona?” Kyuhyun terbelalak. Tapi kemudian ia mendengus. “Ah, tentu saja kau mengenalnya. Dia kan model yang cukup terkenal dan …”

“Bukan, bukan,” Ahra memotongnya, matanya masih terus tertuju pada foto-foto di kamera Kyuhyun. “Aku sama sekali tidak tahu kalau dia sekarang bekerja sebagai model. Kau lupa kalau aku tidak tinggal di Seoul? Aku sudah mengenalnya sejak bertahun-tahun lalu. Dia adalah juniorku di Universitas C London. Astaga, rupanya sekarang dia bekerja sebagai model di Seoul. Wah, dia cantik sekali di foto-foto ini, aku hampir tidak bisa mengenalinya.”

“Noona, benarkah? Benarkah kau mengenalnya?” Kyuhyun bertanya tidak percaya.

Ahra mengangguk, lalu mengembalikan kamera Kyuhyun. “Tentu saja. Mahasiswa Korea yang kuliah di Universitas C di London tidak begitu banyak dan kami semua saling mengenal satu sama lain. Joohyun cukup terkenal karena dia adalah mahasiswi yang cantik dan cerdas. Dia juga ramah, menyenangkan, dan sangat pandai bermain piano.”

Kyuhyun mendengarkan Ahra bercerita tanpa berkata apa-apa. Ia tampak sangat tercengang. Tampaknya memang benar gadis yang dimaksud kakaknya adalah Seo Joohyun yang dikenalnya sekarang.

“Sayang sekali dia tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke Seoul,” kata Ahra dengan nada menyesal. “Dia menghilang begitu saja dua tahun lalu, tanpa berpamitan pada semua orang. Kurasa dia pindah untuk melupakan kejadian mengerikan itu. Dia pindah hanya sekitar dua minggu setelah kejadian itu terjadi.”

“Kejadian mengerikan? Apa yang terjadi dua tahun lalu?” tanya Kyuhyun ingin tahu.

Ahra mengela napas panjang. Wajahnya tiba-tiba terlihat sedih. “Pacar Joohyun meninggal dalam kecelakaan tragis yang terjadi di Inggris dua tahun lalu.”

Sendok yang sedang dipegang Kyuhyun jatuh dengan suara berdentang keras. “Apa?!”

Bersambung ke chapter berikutnya


36 thoughts on “Captured in His Heart. (chapter 5)

  1. Chingu kau tega sekali tbc di sini *hufff*
    anyway aq lumayan suka chapter ini *kalu gada yh ‘lumayan’ny ilang deh, jadi ‘suka banget’*. Seperti biasa, tdk ada kritik berarti dariku. Aq cuma mengungkapkan yang kurasakan setelah membacanya.
    1. Serius, tadinya aq niat g mau komen. Gr2 dari awal sceneny mendeskripsikan yh adalah orang penting bwt seo. Aq kira chapter ini mau bahas yh melulu. Hoh. Syukurlah tidak.
    2. YEAH !!! Akhirnya scene yang kuinginkan nongol juga. Aq suka pemotretan itu. Tapi ga suka seo ga ngeh sm kyu. Dan, aq suka BANGET jungsoo mengcapture MEREKA. Keren! Sekarang aq tungguin pentingnya foto itu di chapter2 mendatang. -ah iya, aq suka juga ni chingu masukin taetuk. Siipp-
    3. YEAH lagi! Walaupun belum kau ceritakan smua chingu, aq sudah lumayan terhibur membaca pacar masa lalu adalah jungmo.
    4. Scene penyelamatanny, oke sih. Cuma rasany klise. Tapi y gimana lagi, smua adegan penyelamatan memang begitu. Aq jg g pny ide ttg adegan penyelamatan yg keren. Well, sudah terhibur saya dengan kyu yg menyelamatkan seo. Setidakny itu menambah lagi memori seo ttg kyu -seo ttp blm terindikasi ada apa2 sm kyu si…-
    good job chingu, ayo lanjut, hwaiting!!

    Like

    1. oiya hehe,, sama chapter ini sudah 3x kyu nolongin seo ^^ ayo chingu bikin seo kepikiran kyu…
      omg2 soal foto yang diambil teukie, moga foto itu bener2 berguna, mungkin sebagai salah satu pendamai andaikan seokyu nanti berkonflik
      chingu good job banget buat mikirin penghubung2nya seokyu

      Like

    2. halooo nilam! ^^
      seperti biasa ngasih komen yang super panjang. suka deh hehehe, jangan bosen-bosen baca plus ngasih komen yaa.
      hehe iya nih, untuk beberapa adegan kaya’nya aku harus terinspirasi dari hal-hal lain dulu. soal penyelamatan seo oleh kyu di taman itu aku terinspirasi dari … err banyak haha. kaya’nya adegan kaya’ gitu banyak ditemukan di berbagai komik atau drama deh, heu ga bisa menemukan adegan lain yg lebih bagus dan pas. >_<
      iyaa seo blom ada rasa ma kyu, baru nganggep kyu sebagai senior baik yang udah sering nolongin dia aja. kyu juga sebenernya blom suka ma seo, tapi jelas udah tertarik sejak chapter 1.

      Like

      1. hahhahaha seneng baca FF punya author R ini🙂
        wahhhh alur ceritanya layaknya air yang mengalir dengan lembut. walaupun ada konflik sedikt sedikit tapii pas baca kebahagiaan seokyu malah terlupakan konfliknya.

        Author.. i love you. hahaha

        Like

  2. hurraaayyyy part ini akhirnya nongol juga!
    yg part ini bagus, coz udah lumayan ngeh ama masa lalu Seo yg masi blur d part2 sblumnya…yah bs d tilik2 dari Seo marah2 waktu dislametin Kyu + crita dari Ahra yg bagian trakhir *tunjuk2 atas*
    GOOD JOB author bwt Teukie potoin SeoKyu! pasti ada apa2nya neh ntar tu foto harusnya penting yah *mata penuh selidik*
    sampai chapter ini cuma Kyu yg ada feel ma Seo, tp sbaliknya blom ada reaksi yah….
    ditunggu next chapter-nya!^^

    Like

    1. hehe iya udah mulai ketebak ya masa lalu seo ma jungmo kaya’ gimana?
      tunggu aja, di chapter berikutnya bakalan diceritain 80% apa yang terjadi dua tahun lalu.
      haha soal foto hasil jepretan jungsoo alias leeteuk … hmmm klo aku boleh ngasih sedikit spoiler, foto itu jelas akan muncul lagi nanti, tapi entahlah bakalan dibikin seberapa penting hehe. tapi insya allah penting kok, tunggu aja. ^^

      Like

  3. seruuuuu chinguuuu,, suka deh kyu disini,, tapi seohyun nya belom da rasa ya ma kyu,,hohoho,, kerrenn chingu,, bnyakin part seokyu nya ya,,hiii,,
    jadi penasaran yang pengen diceritain ahra onnie ,,hoho ,,baguss ffnya >,<,, next part nya jangan lama2 ya chingu,, *reader ga tau diri* hehehe ^^

    Like

    1. iyaa insya allah mulai sekarang bakalan lebih fokus ke seokyu kok. ^^
      klo untuk publish-nya hmmm setelah chapter 6 aku kaya’nya mau hiatus dulu deh, soalnya mesti fokus ngerjain skripsi huhu udah dikejar deadline nih. >_<

      Like

  4. huuuaaaaaaaaa……………………..
    kren..kre…krennn….. chingu…..
    lnjut trz yaaa N jngan lama”,,, aq sgt mnantinya………..
    *maksa authorr*hehehehehe
    kyuhyun oppa jeongmal saranghae

    Like

  5. Keren kirain ak mau dibahas knp seohyun menghilang dri kehidupan yonghwa..ternyata blm dibahas ya..‎​​˚°º☺нeнeнe☺º°˚

    Lanjuta author cerita na..makin seru aja ni..‎​​˚°º☺нeнeнe☺º°˚

    Like

  6. akhirnya sedikit bisa nebak2 apa yg terjadi 2 tahun yg lalu ^_^
    ga sabar nunggu chapter berikutnya, pengen tau gimana kyu & seo ketemu lg..

    Like

  7. Bgus bgt chinguu
    Aq suka bgt
    Ga suka ny karna brsambung d saat2 seru
    -______-a

    Gasuka scene yongseo
    Cm suka scene seokyuuuu

    Ayoo,lanjutan ny jgn lama2 yaa chingu
    ^^

    Like

  8. Huaaaaa..
    Penasaran tingkat tinggi..
    Chapter slanjutnya jgn lama2 y chingu..
    Pngen tahu kjadianya gmana smpe2 soehyun ngrasa brslah gt..

    Like

  9. udah baca sebenarnya di sekolah😄 yang membuat saya cengengesan, senyum-senyum sendiri di kelas disangka GILA sama anak-anak gara-gara ngebayangin part SeoKyu!😄

    Sukaaaaaaa~~ banget sama part selamet-selametan (?) itu, tapi kok rasanya agak gimana gitu =33 whua, makasih ya chingu udah selipin TaeTeuk! hihihi, ayo ayo ayo ayo ayo PART 6-nya!

    jangan-jangan rasa bersalah Seo, itu ngerasa si mantan pacar itu kecelakaan gara2 dia /mencoba berspekulasi .

    Like

    1. hahahaha makasiih, aku juga seneng udah bisa bikin kamu cengengesan sendiri di kelas hohoho. ^^
      part penyelamatan di taman agak mengecewakan ya? huhu maaf abis author agak kurang kreatif sih, yang kepikiran cuma itu aja. >_<

      Like

  10. halo readers yang baik! ^^
    maaf author baru sempet komen sekarang, dari kmaren agak bermasalah ma koneksi internet.
    terima kasiih atas komentar-komentar yang masuk. sekali lagi mohon maaf klo ga bisa bales satu-satu. >_<

    kapan chapter 6 publish?
    SECEPATNYA! hehe masih dalam tahap penulisan nih, secara garis besar aku udah tau apa yang mau kutulis, pelaksanaannya aja yang agak susah soalnya bingung nulis detailnya biar para readers bisa makin "ngerasain" feel-nya.

    seokyu vs yongseo?
    berbahagialah para seokyu shippers karena chapter-chapter berikutnya kemungkinan bakalan lebih fokus ke seokyu. heuh walaupun author sekarang lagi dapet feel-nya yongseo banget nih gara-gara mereka makin intim di WGM.

    apa yang terjadi dua tahun lalu?
    di chapter 6 akan dibeberin kok apa yang terjadi dua tahun lalu. dan lagian dari chapter 5 pun para readers kaya'nya udah bisa menebak apa yang terjadi dua tahun lalu.

    Like

  11. chapter 6 sedang dalam tahap penulisan.
    sambil nulis, aku juga sambil nunggu komen-komen yang masuk di chapter 5 ini. seandainya peminatnya udah mulai berkurang, berarti chapter berikutnya juga bakalan tersendat. >_<
    tapi ini author juga lagi sibuk sih, jadi hmmm doakan saja.

    Like

  12. huhu … ternyata dikasih tahu juga kejadian dua tahun lalu . heu

    ckckckckck .. tragis banget sii . ya ampuuuunnnn … huhu

    ngg sabar deh nunggu chapter selanjutnya ..

    Like

  13. halo halo.
    author mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena publishing chapter 6 bakalan tertunda karena author bener-bener lagi sibuk banget selama 2 minggu terakhir. dan kemungkinan author bakalan masih sibuk sampai sekitar bulan maret atau april, jadi penulisan fanfic captured in his heart ini juga akan tersendat. >_<
    mohon maaf yang sebesar-besarnya.
    chapter 6 mungkin akan selesai minggu depan, sekarang masih 3/4 selesai.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s