Just Stay by My Side [Part.2]


Author : Hanraena (hanraena.wordpress.com)
Cast    :Lee Dong Hae
Im YoonA
Lee Hyuk Jae
Kim Hyo Yeon
Judul : Just Stay by My Side
Part 2
Seraya memasang tas selempangnya YoonA berdiri menunggu pintu lift terbuka.
Ia melihat jam di tangannya, “Masih terlalu pagi untuk pergi ke perpustakaan pusat
kota.” Gumamnya. Ia kembali menatap kosong pintu lift yang masih tertutup rapat.
“Kenapa lama sekali?” Gerutunya lalu menghela napas. Ia merapikan roknya yang
berwarna putih dengan motif bunga sakura menghiasi, rok panjang itu menutupi
hingga bawah lututnya.
Terdengar langkah kaki seseorang dari arah belakang, Ia hanya berdiam dan
berharap orang itu adalah Dong Hae. Tepat seperti dugaannya, Dong Hae yang
tampak rapi bersiap berangkat kerja. Ia terlihat tampan hari ini mengenakan kemeja
biru dan dasi biru tua ditutupi dengan jas biru malam gelap.
Mereka berdua hanya diam membisu, bibir mereka terkunci rapat. Tak juga
saling menatap dan hanya terpaku pada pintu lift. Sesekali YoonA menghentakkan
kaki kanannya dengan pelan.
“Kenapa dia diam saja? Beberapa hari ini aku juga jarang sekali melihatnya.”
Batin YoonA penuh tanya sambil mengerutkan dahinya.
Pintu lift terbuka perlahan, serentak mereka masuk bersamaan. Dong Hae
memencet tombol lantai dasar. Mereka kembali diam seribu bahasa, juga tak saling
menyapa.
“Apa aku harus menegurnya lebih dulu?” Pikir YoonA sambil mencuri pandang
sesekali ke arah Dong Hae yang bersikap dingin, bahkan lebih dingin dari salju.
Sekejap mereka sudah berada di lantai dasar, pintu lift terbuka mempersilahkan
mereka keluar. YoonA berdiam, membiarkan Dong Hae keluar lebih dulu.
“Terimakasih untuk kue dan piyamanya. Aku sangat menyukainya, kapan-kapan
kau harus mentraktirku.” Ucap Dong Hae tiba-tiba.
YoonA tercengang, ia terkejut sekaligus senang. “Benarkah kau menyukainya?
Syukurlah!”
“Kau ingin pergi kemana pagi-pagi begini?” Dong Hae berbasa-basi seraya terus
melangkahkan kakinya di lobi, diikuti YoonA yang tergesa-gesa mengiring
langkahnya.
“Ke perpustakaan di pusat kota. Ada beberapa buku yang harus kucari disana.”
“Kau rajin sekali!” Dong Hae melemparkan pujiannya membuat YoonA tersipu
malu.
“Sebenarnya aku akan mengikuti ujian masuk universitas. Itu sebabnya aku harus
rajin belajar.”
“Benarkah? Fakultas apa yang kau pilih?”
“Aku mengambil fakultas pendidikan, kebetulan aku ingin sekali menjadi Guru
TK.” YoonA begitu bersemangat.
Dong Hae seraya menuruni tangga kecil keluar dari apartment, “Semoga kau
beruntung Nona Lim YoonA.” Ia lekas beranjak dari hadapan YoonA menuju area
parkir.
“Sampai jumpa lagi!” YoonA membungkukkan badannya.”
Terlihat dari area parkir seorang laki-laki dan seorang perempuan datang
menghampiri Dong Hae. Mereka terlihat sangat akrab, mereka adalah Hyo Yeon dan
Hyuk Jae. YoonA terpaku menatap mereka, Ia tak bergerak sedikitpun dari tempatnya
berdiri di depan pintu masuk.
“Siapa mereka?” Pikirnya, “Pasti mereka teman Dong Hae. Mereka terlihat
sangat dekat, semoga saja gadis itu bukan kekasihnya.”
Hyo Yeon menepuk lembut punggung Dong Hae, mereka terlihat berbincang
sebentar. Lalu Dong Hae masuk mobil lebih dulu, Ia melihat melalui kaca spion mobil
Hyuk Jae yang mencium kening Hyo Yeon dengan penuh kehangatan.
Dong Hae mengalihkan perhatiannya dengan menyalakan mesin mobil. Hyuk Jae
lekas menyusulnya yang sudah berada di mobil. Ia membuka kaca mobil untuk pamit
pada Hyo Yeon yang melambaikan tangan ke arahnya.
Mobil pun melaju di jalan raya, terlihat jelas Hyo Yeon yang begitu senang
melepas kepergian mereka. Tiba-tiba dia melihat ke arah YoonA yang terus
menatapnya. Ia lekas membungkukkan badan ke arah YoonA membuat YoonA
sedikit terkejut. YoonA pun lekas membalasnya kemudian beranjak pergi.

Hyuk Jae menatap kaca di depan untuk bercermin dan merapikan jas yang
dikenakannya. Ia tampak gugup dan tangannya gemetar. Ia lekas menarik napas
dalam-dalam dan memenjamkan matanya untuk sejenak berdoa, “Semoga semuanya
baik-baik saja dan berjalan lancar.”
Hyo Yeon segera tersenyum menemukan Hyuk Jae yang tengah berdoa di depan
pintu rumahnya. Ia berdiri memegangi sambil gagang pintu, membiarkan kekasihnya
itu menyelesaikan doanya. “Apa kau sudah selesai berdoa?” Ucapannya yang lembut
mengejutkan Hyuk Jae.
“Sejak kapan kau berdiri disana?” Tukas Hyuk Jae.
“Baru saja.” Jawab Hyo Yeon singkat. “Semua pasti akan baik-baik saja.” Ia
lekas menggandeng Hyuk Jae masuk ke dalam rumahnya.
Tampak di ruang makan Ayah, Ibu, juga kedua adiknya menunggu. Mereka
menyambut dengan penuh kehangatan Hyuk Jae yang sebentar lagi akan menjadi
salah satu anggota keluarga mereka.
“Duduklah!” Ayah Hyo Yeon mempersilahkan.
Mereka pun mulai berbincang di sela makan malam. Sekejap Hyuk Jae terbiasa
dengan suasana asing di depannya. Ia juga tak gugup dan gemetar lagi, dengan mudah
Ia mengatasi semuanya.

“Menjadi seorang guru bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua orang yang
menjadi guru bisa mengajar dengan baik. Diperlukan ketelitian, kecermatan, juga
kesabaran.” YoonA membaca dalam hati salah satu buku yang dipinjamnya dari
perpustakaan.
“Noona!” Teriak Yong Jun membuat gaduh perpustakaan yang sepi.
“Shut …” YoonA memperingatkan adiknya yang berlari kecil ke arahnya.
“Kenapa cepat sekali kau datang hari ini?” Gerutunya.
“Memangnya salah aku datang lebih cepat, biasanya kau selalu memarahiku bila
datang terlambat. Sekarang aku datang lebih cepat kau masih tetap ingin
memarahiku.” Sambut Yoon Jun dengan nada kesal.
“Tidak. Bukan begitu, hanya saja aku belum selesai membaca buku ini.” Jelas
YoonA.
“Bukahkah Noona bisa saja meminjam buku-buku itu. Ayolah! Aku sangat lapar,
Noona.” Yong Jun merengek membuat YoonA merasa kesal.
YoonA segera menutup bukunya, “Baiklah! Kau memang sangat menyebalkan.”
Akhirnya dengan kesal. Lalu beranjak dari meja yang terletak dekat jendela itu sambil
membawa buku yang tadi dibacanya.
Sekejap mereka sudah berada di salah satu café yang tak berada jauh dari
perpustakaan. YoonA duduk santai sementara Yong Jun memesankan makanan
untuknya. YoonA kembali melanjutkan buku bacaannya yang tadi sempat terhenti, Ia
begitu menghayati tiap kata dari buku itu.
Tampak Yong Jun yang baru kembali, Ia duduk berhadapan dengan kakak
perempuan satu-satunya itu. “Hari ini biar aku yang traktir.” Ucapnya dengan bangga.
YoonA mendadak menghentikan hobinya sejenak, Ia menutup buku itu lalu
menatap curiga pada adik laki-lakinya yang sering berbuat ulah. “Darimana kau dapat
uang? Jarang-jarang kau mau mentraktirku makan.”
“Noona, kau tenang saja. Aku masih punya sisa simpanan uang saku, kau masih
ingat kau memberikan uang saku untukku waktu itu.” Jelas Yong Jun sembari
mengingatkan YoonA.
“Tapi kau itu orangnya boros. Tidak mungkin kau berubah menjadi orang yang
rajin menabung. Aku tahu benar siapa kau.” YoonA menguatkan alibinya.
“Noona! Apa salah aku berbuat baik untukmu satu kali saja.”
“Baiklah. Tapi ingat bila kau berbuat macam-macam aku akan segera
melaporkanmu pada Appa. Biarkan Appa menyita sim dan mobil kesayanganmu itu.”
Ancam YoonA membuat Yong Jun ketakutan.
“Tenang saja Noonaku yang manis. Aku tidak akan berbuat macam-macam.”
Yong Jun tertawa kecil seraya menutupi kesalahannya.
Pelayan datang menyajikan makanan yang mereka pesan. Yong Jun dan YoonA
terlihat bersemangat, tampak mereka sudah tak sabaran lagi untuk menyantap sop dan
nasi yang disediakan.
“Mari makan!” Ucap mereka serentak lalu menyantap habis makanan yang
terlihat begitu lezat.

Langit mulai gelap dan semakin gelap. Lampu stadion satu-persatu dinyalakan
agar dapat menerangi setiap sudut di lapangan terbuka itu. Udara yang dingin dan
begitu menusuk menambah semangat mereka dalam permainan.
Dong Hae mengukur jarak antara gawang dengan posisi dimana Ia berdiri
sekarang. Ia menatap tajam Hyuk Jae yang tak berada jauh darinya dengan
memberikan aba-aba untuk langkah berikutnya.
Ia segera berlari menggiring bola, lalu memberikan umpan untuk Hyuk Jae.
Mereka berhasil melewati Kyu Hyun dan Min Ho yang berada di back belakang
menjaga gawang. Mereka terus menyerang pertahanan lawan untuk membobol
gawang.
“Gol!” Teriak Dong Hae segera melihat Hyuk Jae yang berhasil memasukkan
bola ke gawang lawan.
Tampak Kyu Hyun dan Min Ho tertunduk lesu. Hyuk Jae lekas berlari ke arah
Dong Hae, mereka tampak begitu gembira.
“Sepertinya hari ini giliran Kyu Hyun lagi yang mentraktir kita. Aku sudah tidak
sabar lagi memilih tempat yang bagus untuk makan malam.” Hyuk Jae dengan
gembira menyambut kemenangannya.
“Kenapa akhir-akhir ini kalian selalu menang?” Gerutu Kyu Hyun.
“Hyung, bukankah sudah kubilang untuk menjaga di sisi kiri.” Min Ho tampak
kesal.
“Maafkan aku. Tadi aku terkecoh.” Kyu Hyun tampak menyesal.
“Makan, makan!” Seru Dong Hae gembira lalu merangkul Hyuk Jae menjauh
dari lapangan bola.
“Tadi kau hebat sekali.” Hyuk Jae memberikan pujian untuk sahabatnya itu.
“Kau juga.” Balas Dong Hae seraya memukul perut Hyuk Jae, mempererat
persahabatan mereka.

Mobil itu berhenti perlahan mendekati tepian jalan raya. Yong Jun tampak begitu
mahir mengemudikan Si Merah kesayangannya itu. YoonA lekas keluar dengan tas
selempang dan beberapa buku di pelukannya.
“Hati-hati di jalan! Kirimkan salamku untuk Appa dan juga Umma di rumah.”
Teriak YoonA pada Yong Jun yang perlahan melaju di jalan raya.
YoonA lekas melangkah memasuki lobi apartment, Ia kembali menunggu tepat di
depan pintu lift. Ia kembali melihat ke arah jam di tangan kirinya. “Apa Dong Hae
sudah pulang kerja?” pikirnya. “Ah … ada apa denganku? Kenapa aku memikirkan
Dong Hae. Im YoonA, sadarlah!” Ia menepuk beberapa kali ke dua pipinya.
Suasana lobi begitu sepi, tampak seperti tak berpenghuni. Beberapa keluarga
yang tinggal disana terlihat sudah terlebih dulu tiba dan bersantai di apartment mereka
yang sejuk. Meskipun sudah tinggal sudah cukup lama disana, tapi orang yang
dikenalnya YoonA hanyalah Dong Hae. Ia bahkan tidak pernah bertemu langsung
pemilik apartment yang disewanya itu.
Pintu lift terbuka perlahan seperti biasanya, YoonA melangkahkan kakinya
masuk. Tiba-tiba terlihat seseorang yang baru tiba di depan pintu apartment, YoonA
segera mengamati postur tubuh laki-laki yang tak asing lagi baginya.
“Lee Dong Hae!” Serunya gembira, Ia lekas memencet tombol untuk kembali
membuka pintu lift yang hampir tertutup.
Dong Hae melangkah dengan santainya lalu masuk ke dalam lift, menemani
YoonA yang menyembunyikan wajah kegembiraannya.
“Sepertinya kau baru pulang dari main sepak bola.” Ucap YoonA membuka
pembicaraan singkat mereka selama berada di lift.
“Begitulah!” Sahut Dong Hae singkat.
“Aku juga sangat senang permainan sepak bola meskipun aku tidak bisa
memainkannya.” YoonA tertawa kecil.
“Kapan-kapan kalau kau mau aku bisa mengajarimu, kita bisa bertanding satu
lawan satu.” Tawar Dong Hae.
“Benarkah?” YoonA menyambut dengan gembira tawaran itu.
“Tentu saja. Aku sangat ahli dalam permainan ini.” Dong Hae membanggakan
dirinya.
“Bermain sepak bola bersama Dong Hae. Oh tidak aku bisa mati kesenangan.
Aku tidak boleh mempelihatkan wajahku yang kesenangan ini padanya.” Batin
YoonA coba menyembunyikan rautan wajah gembiranya.
Sekejap pintu lift terbuka, mereka bergegas berhambur keluar. Dong Hae dengan
tas punggungnya berjalan mendahului YoonA.
“Semoga malammu menyenangkan!” Ucap Dong Hae
YoonA membungkukkan badannya. “Selamat malam!” Ia tersenyum kecil lalu
melangkah berlawanan arah dengan Dong Hae, Ia pun segera membuka pintu
apartmentnya.
“861015.” Desis Dong Hae seraya memasukkan kata sandi untuk membuka pintu
apartmentnya. “Kenapa tidak bisa dibuka?” Pikirnya heran. Ia segera memasukkan
kata sandi itu kembali.
YoonA menghentikan langkahnya sejenak lalu berjalan mendekati Dong Hae,
“Ada apa? Apa ada yang salah dengan kata sandinya?” Ia terlihat penasaran.
“Aku sendiri juga tidak tahu. Aku tidak dapat membuka pintunya.” Jelas Dong
Hae.
“Coba sekali lagi. Mungkin mesinnya tidak dapat membaca kata sandi yang tadi
kau masukkan.”
“861015.” Dong Hae kembali mencoba. “Memang tidak bisa.” Gumamnya. Ia
lekas mengeluarkan handphone dari saku celananya untuk menghubungi salah satu
petugas di apartment yang biasanya menangani hal itu.
“Maaf sekali sepertinya tidak ada satu pun petugas yang bisa datang malam ini
juga, mungkin besok baru pintu di aparment Anda bisa diperbaiki.” Jelas salah satu
staff bagian administrasi itu melalui telepon.
“Oh, benarkah? Kalau begitu terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu anda.”
Dong Hae menutup handphonenya.
“Lalu bagaimana sekarang?” Tanya YoonA yang masih setia menemani.
“Aku akan menginap di aparment temanku saja.” Dong Hae terdengar ragu.
“Kupikir dia akan menginap di apartmentku.” Batin YoonA berharap/
“Hyuk Jae, sekarang kau dimana?” Dong Hae menelepon sahabatnya itu seraya
melangkah menjauhi pintu apartmentnya.
“Aku? Aku sedang dalam perjalanan menuju Namwon. Kenapa?” Hyuk Jae
seraya membenarkan posisi duduknya dalam kereta api. Terlihat disampingnya Hyo
Yeon yang mengenakan baju hangat super tebal bersandar di bahunya.
“Namwon?” Dong Hae heran.
“Ah … aku lupa menceritakannya padamu. Tadi sore Hyo Yeon memintaku
untuk menemaninya ke rumah neneknya disana. Kebetulan lusa ulang tahun
neneknya. Kalau kau tidak sibuk datanglah berkunjung.” Jelas Hyuk Jae.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Aku sudah minta cuti dengan Pak Han, dia bilang karena aku adalah sahabatmu
jadi dia memperbolehkanku untuk pergi.” Hyuk Jae tertawa kecil.
“Kau pasti bercanda.” Dong Hae dengan nada kesal.
“Baiklah aku tutup dulu. Nanti kita bicara lagi.” Akhir Hyuk Jae lalu menutup
handphonenya.
Dong Hae lekas menyimpan handphonenya kembali ke dalam kantong celana. Ia
terkejut mendapati YoonA yang berdiri di sampingnya ikut mendengar
pembicaraannya dengan Hyuk Jae.
“Kau!” Dong Hae mengagetkan YoonA.
“Maafkan aku! Aku hanya penasaran saja.” YoonA tertawa untuk menutupi
kesalahannya.
“Aku akan tidur di mobil saja.” Dong Hae yang putus asa segera mengambil tas
punggung yang tadi diletakkannya di lantai koridor apartment.
“Tunggu!” cegah YoonA.
Dong Hae lekas menengok ke belakang dan menatapnya.
“Kalau kau mau, kau bisa menginap di apartmentku. Lagipula di luar sana sangat
dingin.” YoonA dengan berani.
“Apa kau tidak keberatan?” Dong Hae meyakinkan.
“Tentu saja. Bukankah waktu pertama aku datang kesini kau selalu membantuku,
jadi saatnya aku membalas kebaikanmu.”

YoonA yang sudah mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna merah tua
terus saja membendung rasa bahagianya, sesekali Ia tersenyum sambil menutupi kasur
dengan sprei yang sengaja disiapkannya untuk Dong Hae. Ia lekas membersihkan
permukaan kasur yang terhampar di ruang keluarga tepat di dekat pintu masuk kamar
utama. Tepat di belakang sopa yang biasa digunakan untuk menonton televisi.
“Sudah siap!!” Teriaknya bersemangat.
“Terimakasih.” Sahut Dong Hae. “Aku ingin berganti pakaian dulu.” Ucapnya
sambil mengeluarkan piyama dari tasnya.
“Oh, bukankah itu piyama yang aku berikan untukmu.” YoonA sambil menunjuk
ke arah piyama yang dipegang Dong Hae.
“Begitulah! Kebetulan tadi aku baru mengambilnya dari tempat laundry. Jadi
sekarang aku bisa memakainya.” Jelas Dong Hae.
“Aku benar-benar sangat senang.” Ungkap YoonA dengan mata berkaca-kaca.
“Aku ke belakang dulu.” Dong Hae segera beranjak dari hadapan YoonA, Ia
melangkah menuju kamar mandi yang tak berada jauh dari ruang keluarga.
“Aku tidak menyangka dia akan memakainya. Dong Hae, kau membuatku
semakin menyukaimu saja.” Desis YoonA seraya memeluk bantal yang
dipinjamkannya untuk Dong Hae. “What! Wait! Apa aku baru saja berkata bahwa aku
menyukai Dong Hae.” Ia tampak tak sadarkan diri. “Bodoh! Bodoh!” Ia memaki
dirinya sendiri.
Dong Hae mengerutkan dahinya, Ia berhenti sejenak dan menatap heran pada
YoonA yang tampak malu di hadapannya.
“Kau sudah selesai?” YoonA tersentak kaget. “OMGee … Dia tampan sekali,
sangat cocok dengan piyama yang kupilihkan untuknya.” Batinnya. Ia terhenti sejenak
dan terpesona pada sosok Dong Hae.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Tentu.” YoonA menyembunyikan pipinya yang merah merona. Sekarang kau
sudah bisa tidur dengan nyenyak. “ Ia lekas berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.
“Jangan lupa untuk mematikan lampu sebelum kau tidur.” Teriak YoonA lalu
menutup rapat-rapat pintu kamarnya, dan bersandar di balik pintu untuk
menyembunyikan rasa kagumnya.
“Aneh sekali.” Gumam Dong Hae seraya menggelengkan kepalanya. Ia lekas
membenarkan posisi bantalnya lalu berbaring di atas kasur dan menutupi tubuhnya
dengan selimut. Tercium aroma wangi dari selimut tebal yang menghangatkan itu,
membuat Dong Hae tertidur dengan cepat. Matanya yang lelah perlahan tertutup
rapat, sekejap Ia sudah berada di alam mimpi.
Terdengar suara gesekan pintu yang dibuka, tampak YoonA menjulurkan
kepalanya. Matanya lekas menatap tajam Dong Hae yang tidur pulas diantara
kegelapan. Ia lekas keluar dengan handphone di tangannya, perlahan ia menyalakan
lampu ruangan lalu memotret Dong Hae yang tengah tertidur. “Benar-benar seperti
malaikat! Aku akan mengambil gambarnya dan menjadikannya sebagai koleksi
pribadiku.” Batinnya.
Ia terus saja memotret tiap posisi tidur Dong Hae bak photographer yang sangat
professional, Ia tak henti-hentinya berdecak kagum. Sesekali ia tertawa geli melihat
Dong Hae yang mengigau. Terlihat jelas raut wajah YoonA yang begitu gembira
menghiasi suasana malam yang sejuk.

“Sudah selesai. Sepertinya ada seseorang yang memasukkan kata sandi yang
salah, sehingga terjadi sedikit kerusakan pada mesinnya.” Jelas seorang laki-laki yang
ditugaskan untuk memperbaiki pintu itu.
“Benarkah? Siapa yang coba membuka pintu apartment ku?” Dong Hae
penasaran dengan penuh tanya di benaknya.
YoonA yang ikut memperhatikan sejak tadi ikut mengamati. Sejenak Ia
mengingat kembali keusilan yang kemarin dilakukannya, Ia sudah memasukkan kata
sandi secara acak agar bisa membuka pintu apartment Dong Hae. Di sela waktu
senggangnya, Ia coba mencari tahu tentang tetangganya itu lebih jauh. “Bodoh sekali
aku, semoga saja dia tidak tahu kalau aku yang melakukannya.” Ia tampak ketakutan.
“Kalau begitu terima kasih.” Dong Hae seraya memberikan tip untuk orang itu.
“Sama-sama.” Laki-laki paruh baya itu lekas pergi bersama peralatannya dan
menghilang di balik lift.
Dong Hae mengerlingkan matanya mengikuti YoonA yang membalikkan
tubuhnya lalu melangkah untuk menjauh. Ia lekas ikut berbalik dan menatap
punggung gadis itu.
“Im YoonA!” Panggilnya segera.
YoonA lekas berhenti dan menoleh ke belakang, “Kenapa?” Ia dengan nada
sedikit manja menyahut.
“Terimakasih untuk tadi malam.” Dong Hae terdengar ragu, bibirnya sedikit berat
untuk mengucapkan terimakasih.
“Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu. Aku akan ada disisimu, hanya
akan ada disisimu dan selalu ada untukmu.” YoonA yang tanpa sadar
mengucapkannya dengan sangat lembut.
“Benarkah?” Dong Hae tertawa geli. “Kau benar-benar gadis yang istimewa.”
“Apa! Apa aku baru saja mengucapkan sesuatu yang aneh.”
Dong Hae hanya membalasnya dengan tertawa kecil. “Nanti kita bicara lagi. Aku
harus segera berangkat kerja.” Akhirnya lalu menutup pintu dan meninggalkan
YoonA sendirian di koridor apartment.
“Ah … ada apa denganku? Kenapa jantung jadi berdegub kencang seperti ini.”
Gumam YoonA, Ia lekas masuk ke apartmentnya dan memegangi pipinya yang
memerah. Lalu mengipasi wajah yang berkeringat dengan kedua tangannya. “Apa
aku sudah tidak waras. Mana mungkin aku mengatakan hal itu secara langsung pada
Dong Hae. Sebaiknya aku pergi mandi saja dan menenangkan pikiranku dalam air
yang hangat.” Ucapnya seraya berlalu dari ruang tamu menuju kamar mandi.

Suasana sejuk dan nyaman yang jarang sekali bisa ditemukan, akhirnya dijumpai
Hyuk Jae dan Hyo Yeon saat berkunjung ke sebuah desa dimana nenek satu-satunya
Hyo Yeon masih hidup. Mereka berdua bergegas mengangkut barang-barang bawaan
turun dari bis. Setelah perjalanan yang cukup panjang mereka lewati, akhirnya
mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat meskipun agak sedikit lelah.
Hyo Yeon berlari, Ia tampak tak sabaran lagi untuk menemui neneknya yang
duduk bersantai di pekarangan rumah yang asri. Sementara Hyuk Jae, dengan
kekuatannya sendiri mengangangkut barang-barang itu.
“Cepat bantu calon menantu kita mengangkut barang-barang bawaannya.” Teriak
seorang lelaki paruh baya yang keluar dari pintu rumah.
Hyuk Jae hanya membalasnya dengan senyuman lirih.

“Huh …” YoonA menghela napasnya. Ia kembali berburu buku yang sulit sekali
ditemukannya.
Terdengar alunan musik lembut menggema di setiap sudut toko buku yang
membuat mata mengantuk. Tampak beberapa orang yang membaca buku di tempat
yang sudah disediakan khusus untuk pelanggan. Beberapa diantara mereka mencari
buku menggunakan computer yang terletak di sudut kanan.
YoonA terus menatap tiap judul buku dengan tajam, “Kenapa sulit sekali mencari
buku itu.” Ia berputus asa.
“Noona! Apa kau masih lama?” Gerutu Yong Jun yang kebosanan karena toko
buku sama sekali bukan tempat favoritenya.
YoonA menggigit bibirnya, “Bisa kau sabar sebentar. Aku tidak akan berhenti
sampai menemukan buku-buku itu.” Tegasnya.
“Kurasa buku yang tadi kau pinjam di perpustakaan itu sudah cukup banyak.”
Masih ada sekitar 8 buku lagi yang begitu langka dan sulit untuk dicari.” Ungkap
YoonA.
“Kuharap Noona bisa menemukan buku-buku itu secepatnya.” Yong Jun dengan
nada kesal mengalah, Ia lekas beranjak menuju bagian komik.
Tiba-tiba YoonA dikejutkan oleh panggilan masuk dari handphonenya, Ia begitu
kaget dan segera meraih handphone di tas selempangnya.
“Umma?” Desisnya. “Umma! Kenapa?”
“Apa Yong Jun bersamamu?” Sang Ibu terdengar khawatir.
“Tentu saja. Dia sedang bediri di bagian komik.”
“Jadi sekarang kalian di toko buku.”
“Begitulah Umma.” YoonA menjawab singkat tiap pertanyaan ibunya.
“Akhir-akhir ini Yong Jun sering kali pulang terlambat. Ibu tahu jarak antara
Seoul menuju daerah pinggiran biasanya memerlukan waktu sekitar 2 atau 3 jam tapi
adikmu itu biasanya dua kali lipat dari waktu seharusnya. Ibu sangat khawatir
padanya, ibu tidak ingin dia salah bergaul.” Ungkap Ibu yang berada jauh disana.
“Aku akan bicara padanya nanti.”
“Kalau begitu Umma tutup dulu teleponnya. Kau belajarlah yang rajin dan jangan
lupa makan. Umma tidak mau kau sakit, apa lagi kalau sampai jatuh pingsan.”
“Aku paham Umma.”
“I Love You.”
“I Love You too.” YoonA segera menutup handphonenya. Sekejap photo-photo
Dong Hae muncul secara acak di layar handphone. Ia baru ingat kalau menggunakan
photo-photo itu sebagai screensaver di handphonenya. Sejenak Ia lupa pada juduljudul
buku yang akan dicarinya, Ia terpeson pada photo Dong Hae yang tengah
tertidur pulas. “Kau benar-benar sangat manis, punya kepribadian yang sedikit unik.
Kadang kau begitu dingin sampai membuatku membeku, terkadang kau begitu
hangat.” Desisnya pelan.
“Sejak kapan Noona berpikiran seperti itu tentang aku?” Sela Yong Jun yang
coba mengajaknya bercanda.
YoonA segera menyimpan handphonenya. “Sadar dirilah sedikit. Aku sudah
tinggal lebih dari 18 tahun bersamamu, aku sudah melihat luar dan dalam dirimu tapi
tak satupun hal yang membuatku tertarik padamu.” Ia dengan nada ketus menyahut.
“Aku bercanda. Lagipula aku tahu photo siapa yang tadi kau jadikan
screensaver.”
“Benarkah?”
“Siapa lagi kalau bukan tetanggamu itu. Kau kan menyukainya.” Tukas Yong
Jun.
“Apa maksudmu? Aku hanya sekedar mengaguminya saja.” Bantah YoonA
segera.
“Ah … Noona tak perlu berbohong. Saat berbohong wajahmu pasti akan
mengeluarkan keringat dingin.”
“Kau memang sangat menyebalkan. Sebaiknya aku pergi saja.” YoonA lekas
beranjak, Ia terlihat merajuk untuk menyembunyikan raut wajahnya yang malu.
“Noona bukankah masih ada 8 buku lagi yang harus kau cari.” Teriak Yong Jun
sambil tertawa kecil.
Sekejap YoonA berdiri di tepian jalan, menunggu Yong Jun mengeluarkan
mobilnya dari tempat parkir. Digunakannya tangan kanannya menutupi matanya,
menghindar dari sinar terik matahari.
“Kenapa lama sekali?” YoonA dengan wajah merengut terus menunggu. Tibatiba
terdengar pesan masuk di handphonenya. Ia segera meraih handphone itu lalu
membukanya. “Noona, aku pergi duluan. Ada keadaan darurat yang harus
kuselesaikan, kau pulang naik bis saja. Okay!” Ia membaca pesan itu dengan cepat
dan lekas menggeram kesal. “Im Yong Jun!” Teriaknya murka.
Ia dengan beberapa buku di pelukannya lekas beranjak pergi dan bersiap
menyeberangi jalan. Ia berhenti sebentar untuk menengok keadaan di jalan raya yang
terlihat aman. “Yong Jun, kau seharusnya tidak hidup saja.” Gumamnya. Ia yang
mulai lelah berjalan kaki segera menyebrangi jalan raya, mendadak sebuah mobil
hitam melaju dengan cepat dan hampir menabraknya. Ia begitu terkejut, membuat
buku-buku yang tadi dipeluknya dengan erat terjatuh di atas aspal yang panas. “Hei!”
teriaknya melengking.
Beberapa orang yang lewat hanya melihat dan menjadi penonton setia. Seorang
laki-laki yang tak lain adalah Dong Hae keluar dari mobil yang mengkilap bersih itu.
“Im YoonA! Apa kau tidak apa-apa?” Ia lekas berlari menolong YoonA
merapikan buku-bukunya.
“Lee Dong Hae!” YoonA tersentak kaget. “Oh Aku tidak apa-apa.” Ia segera
menepis kekesalannya dan membuang jauh wajahnya yang tadi cemberut.
“Kau mau kemana?”
“Aku ingin pulang. Kebetulan tadi adikku ada sedikit keperluan, jadi dia
memintaku untuk naik bis saja.” Jelas YoonA ironis.
“Bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu pulang. Kebetulan aku
ketinggalan sesuatu di apartment.” Tawar Dong Hae.
“Benarkah? Baiklah.” YoonA menyambut dengan gembira lalu bangkit dari
jatuhnya di bantu Dong Hae yang menggenggam erat tangannya.

Dong Hae segera menyalakan mesin mobil lalu melajukan kembali mobilnya
yang sempat terhenti. Disampingnya duduk YoonA yang mengenakan sabuk
pengaman.
“Sepertinya kau begitu bersemangat untuk menjadi guru.” Dong Hae mulai
berbasa-basi selama perjalanan singkat mereka menuju apartment.
YoonA hanya mengangguk, ia tak sanggup berada di dekat seseorang yang selalu
membuatnya panas dingin dan gemetaran seperti orang sakit.
“Apa kau meminjam semua buku-buku itu di perpustakaan pusat kota?”
“Beberapa saja, yang lainnya aku beli di toko buku.”
“Toko buku? Oh … toko buku disana memang menyediakan lengkap semua buku
yang kau perlukan.”
“Sebenarnya masih ada sekitar 8 buku lagi yang harus kucari.”
“Apa semua tentang pendidikan mengajar di TK?”
YoonA kembali mengangguk pelan.
“Kebetulan sekali, Ibu Hyo Yeon adalah mantan kepala sekolah taman kanakkanak.
Kalau kau mau aku akan membantumu untuk meminjamnya.”
“Benarkah? Sepertinya aku sedang beruntung.” YoonA terdengar gembira.
“Tapi, saat ini mereka sekeluarga sedang berada di Namwon. Nenek Hyo Yeon
akan merayakan ulang tahun disana.”
“Kalau begitu nanti saja.”
“Besok aku akan berangkat kesana. Apa kau mau menemaniku pergi?” Dong Hae
dengan nada serius.
“Kau mengajakku untuk pergi ke pesta?” YoonA yang tak percaya coba
meyakinkan.
Sekarang giliran Dong Hae yang hanya mengangguk untuk mengiyakan.
“Wah … tentu saja aku mau.” YoonA begitu gembira.
“Besok tepat jam 8 pagi, aku akan menjemputmu.”
“Baiklah.” YoonA tertawa kecil.
Dong Hae kembali memusatkan perhatiannya untuk mengemudikan mobilnya
yang masih melaju di jalan raya. YoonA sesekali mencuri pandang ke arahnya, seraya
memendam perasaannya yang tengah berbunga-bunga.
-Just Stay by Your Side-
By hanraena – hanraena.wordpress.com)


13 thoughts on “Just Stay by My Side [Part.2]

  1. Yoona jaiil motoin Donghae waktu tidur begitu hihihihi /padahal sendirinya juga mau😛

    Hahahayo, di Namwon ada kejadian apa kikik ditunggu part 3nya!😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s