Happy Ending


Cast :
SHINee – Choi Min Ho
F(x) – Krystal a.k.a Jung Soo Jung
SNSD – Jessica a.k.a Jung Soo Yeon (Krystal’s sister)
F(x) – Choi Sulli a.k.a Kim Yoo Jin
4MINUTE – Kwon Soh Hyun
SHINee – Key a.k.a Kim Ki Bum
KARA – Kang Ji Young a.k.a Kim Ji Young (Key’s sister)
F(x) – Victoria Song a.k.a Choi Hye Jin (Min Ho’s older sister)
Ft. Island – Choi Jong Hun

Author: By: Dewi Oktaviani a.k.a LovelySuju4ever a.k.a Shin Min Young
my blog: okta139.blogspot.com & supergeneration22.blogspot.com

Chapter 1

“Hal yang paling menyenangkan adalah,
melakukan apa yang kita suka bersama orang-orang yang kita sayangi

***

Badai salju yang menyelimuti Seoul tadi malam, membekaskan warna torehan putih polos di setiap sudut kota. Salju kira-kira setebal 8 senti ini membuat banyak penduduk harus bangun pagi dan membersihkan jalan agar bisa dilewati.

Lingkungan rumah sakit yang biasanya sepi, justru diramaikan tawa anak-anak kecil. Dengan kompaknya, mereka membuat boneka salju dan tertawa bersama. Sesosok perempuan, melihat itu semua dari balik jendela dan ikut tersenyum. Pemandangan yang sangat jarang setelah 5 hari berada di Rumah Sakit pada musim salju.

Kreeek

Pintu terbuka pelan, terlihat seorang wanita dewasa memasuki ruangan itu.
“Soo Jung, kau sudah siap?” tanya wanita itu dengan lembut. Soo Jung menoleh ke arah suara.
“Soo Yeon onnie?”
Soo Yeon menatap Soo Jung, agak pucat dan rapuh.
“Pakai syalmu, diluar dingin sekali”
Soo Jung tersenyum melihat tingkah kakak perempuannya yang mengusap-usap tangan berulang kali.
“Mungkin kau mau sakit, makanya dingin” ujar Soo Jung, lalu berbalik menghadap jendela lagi.
Soo Yeon tersenyum.
“Rumah sakit telah membuatmu lebih ceria ternyata”
“Tidak, justru aku ingin cepat pulang” sebal Soo Jung dengan kedua pipinya yang menggembung.
“Ya sudah lah, aku bantu bawakan barang-barangmu” ucap Soo Yeon sambil menarik koper adiknya pelan bermaksud mengakhiri pembicaraan.
“Onnie” panggil Soo Jung lirih tanpa menatap kakaknya. Soo Yeon terdiam, kemudian memandang adiknya lekat-lekat.
“Ayah, tidak datang lagi?” Tanya Soo Jung pelan.
Soo Yeon tercengang, bingung akan menjawab apa. Hanya sebuah pertanyaan. Tapi itu benar-benar pertanyaan yang membingungkan. Bahkan untuk saat ini, dia memilih menghadapi banyak permintaan yang menyebalkan dari kliennya.
“Onnie”
Soo Yeon mendongak, terbangun dari pikiran-pikiran yang bergulat dalam benaknya.
“Jadi, ayah tidak datang?” tanya Soo Jung memastikan.
Soo Yeon menggeleng pelan. Ia ingin mengunci bibirnya. Kalau perlu mengacak-acak isi tasnya untuk mencari plester dan melekatkannya dibibir. Cara apapun, agar sebisa mungkin tidak menjawab Soo Jung.
“Tidak” kata Soo Yeon akhirnya.
Saat itu juga Soo Jung mulai tersenyum. Senyum yang sama setiap kali dia merasa bersedih. Senyum yang menunjukkan dia mampu bergembira lagi. Senyuman yang sesungguhnya sangat indah, tapi rasanya begitu menyakitkan bagi Soo Yeon, melihat senyum Soo Jung dibalik semua rasa pedih adiknya.
“Baiklah kalau begitu.” ujar Soo Jung sangat bersemangat “Ayo, kita pulang!”
Soo Jung langsung menggandeng tangan kakaknya pergi keluar ruangan. Seakan-akan, dia sudah melupakan semua kesedihannya.
“Kenapa kau begitu kuat Soo Jung?” gumam Soo Yeon dalam hati.

“Waktunya tidak lama. Mungkin, hanya satu bulan.”

DEG…
Jantung Soo Yeon seakan berhenti mendadak. Dadanya sesak. Matanya panas, memaksakan agar air mata itu tidak keluar.

“Secepat itukah?”

***

Duk… Duk…

Hentaman-hentaman bola basket memenuhi ruangan lapangan basket. Anak-anak laki-laki kelas tiga menggunakan jam istirahat untuk bermain basket seperti biasanya. Teriakan dan dencit suara sepatu mereka berpadu seperti irama. Murid-murid perempuan duduk di barisan penonton, ada yang sedang asyik ngobrol, atupun menyaksikan dengan teliti permainan ini. Yah, meskipun ini bukan pertandingan sesungguhnya, tak jarang murid-murid perempuan berteriak kompak untuk menyemangati jagoannya.

“Oper!”
Ciitt…
Duk.. Duk..
Ciit…

“Choi Min Ho!” sebuah teriakan keras dari arah timur, membuat permainan basket terhenti. Ternyata itu teriakan seorang guru wanita, Bu guru Kim, guru musik sekolah. Ruangan yang tadinya ramai menjadi hening, mereka semua justru terfokus pada sosok laki-laki yang sedang bersiap-siap memasukkan bola ke ring, Choi Min Ho.
“Min Ho, hentikan itu sekarang juga! Kemari!” teriak Bu Kim lagi.
Min Ho menyeka keringatnya, kemudian melempar bola basket asal-asalan dan mendekati guru itu.
“Ikut aku” tegas guru wanita itu sambil memperbaiki letak kaca matanya.

“Sudah berapa kali aku bilang kepadamu?!” seru Bu Kim, dengan menggebu-gebu. “Hal yang paling berharga bagi seorang musisi adalah tangan. Jangan buat aku marah lagi Choi Min Ho! Ini terakhir kalinya kau melakukan hal-hal yang bisa membahayakan tanganmu!”
Min Ho hanya menunduk, tidak menggangguk atupun menolak teguran keras itu. Dalam hatinya penuh dengan rasa sesal yang tidak tertahankan. Tapi, itulah sifat Min Ho, tatapannya tak berubah. Dingin seperti biasanya.

“Kedua orang tuamu telah mempercayakanmu kepadaku! Jangan sampai pertunjukan perdanamu rusak hanya gara-gara tingkahmu yang ceroboh itu!”

Min Ho mendengus pelan, orang tuanya memang ingin dia bisa menjadi seorang pianis. Dari umur sepuluh tahun dia mempersiapkan diri. Latihan keras dan banyak membuang waktu untuk satu hari besar dalam hidupnya. Bahkan ia sempat belajar piano ke Pranciss ketika ayahnya juga mengurus bisnis kesana.

Hingga, akhirnya pada akhir bulan ini, dia ditunjuk pembuka acara diikuti permainan pianis-pianis muda berbakat sepertinya dari berbagai sekolah. Ya, itulah waktu dan tempat yang tepat, dimana orang-orang bisa melihat hasil kerja kerasnya.

“Sekarang kembali ke kelasmu!” perintah Bu Kim tegas, raut mukanya terlihat capek menghadapi tingkah Min Ho yang tak acuh. Min Ho membungkuk sekilas, lalu keluar dari ruang guru diikuti tatapan dan bisikan beberapa guru-guru yang sedari tadi memperhatikan.

***

Yoo Jin [*Choi Sulli F(x)] mendongak, matanya menelusuri halaman sekolah. Terlihat anak-anak berlarian memasuki gerbang sekolah, 5 menit lagi gerbang akan di tutup. Tapi sosok yang ia cari, tidak muncul-muncul juga. Yang ada justru salju-salju putih yang kerap kali membuat matanya silau.
“Seharusnya hari ini dia datang” gumam Yoo Jin dengan kekecewaan yang terpatri diwajahnya.
“Kim Yoo Jin!” teriakan sebuah suara yang tidak asing. Suara yang ia rindukan. Ia menoleh ke pintu gerbang, begitu menemukan orang yang sedari tadi ditunggunya, ia pun tersenyum.
“Soo Jung?” gumam Yoo Jin tidak percaya melihat sahabatnya berdiri didepannya. Segera Yoo Jin memeluk Soo Jung, melepaskan rindu yang tidak tertahankan. “Akhirnya kau bisa kembali lagi” kata Yoo Jin gembira. “Ayo kuantar ke kelas, teman-teman sudah merindukanmu” ajak Yoo Jin sambil membenarkan syalnya.

“Teman-teman!” teriak Yoo Jin mengagetkan murid-murid sekelas “Lihat siapa yang datang!”
Yoo Jin menarik Soo Jung masuk.
“Hai, aku kembali lagi”
“Soo Jung?”
Soo Jung tersenyum, senyumnya yang khas.
Teman-teman yang melihat senyum itu lalu ikut tersenyum, dan menyapa Soo Jung ramah.
“Ya! Biarkan Soo Jung duduk dulu dong” pinta Yoo Jin kasihan melihat muka pucat sahabatnya.
“Kau tau, nilaiku turun gara-gara tidak ada kau.”
“Pasti bosankan di rumah sakit?”
“Akhirnya, aku kira kau akan kembali Senin depan.”
“Pelanggan-pelanggan buburku mrindukan kau tau. Ke ke ke.”
Yoo Jin tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya, seperti tidak pernah melihat orang yang baru keluar rumah sakit.
Tapi, tawa Yoo Jin lagsung memudar melihat tubuh mungil Soh Hyun* Kwon Soh Hyun- 4MINUTE * yang tidak menggubris Soo Jung sama sekali.
“Soh Hyun, kau tidak ingin menyapa Soo Jung?” Tanya Yoo Jin yang heran melihat Soh Hyun yang memilih tetap berkutik dengan bukunya daripada memperhatikan Soo Jung. Paling tidak, dia bisa memberikan sedikit senyumnyakan?
“Pentingkah?” katanya sinis tanpa memandang sedikitpun.
“Tapi__” kata Yoo Jin ingin mulai bicara lagi, agak sebal dengan tingkah Soh Hyun itu.
“Sudahlah Yoo Jin” sela Soo Jung berbisik tepat di telinga Yoo Jin.
“Kenapa Soh Hyun begitu sinis kepadamu Soo Jung?” tanya Yoo Jin pelan.
“Entahlah” jawab Soo Jung dengan tenang. Tapi pikirannya tidak lepas tentang Soh Hyun.
Kenapa kau membenciku Soh Hyun?

***

Jam sekolah sudah menunjukkan pukul 4 sore. Satu jam yang lalu, sekolah masih ramai oleh murid-murid yang mengkuti ekstrakulikuler atupun pelajaran tambahan di sekolah. Tapi sekarang sungguh sepi. Ocehan murid-murid ataupun suara langkah kaki tak terdengar.
Tapi, dari arah ruang musik suara dentingan piano menggema dilorong-lorong sekolah dan memecah keheningan sore itu. Ternyata sedari tadi Min Ho telah berlatih nada yang sama berulang kali. Keringatnya bercucuran tak menentu, tangan nyapun sampai gemetar karena lelah.

“Aaarghhh”
BRUK…
Tiba-tiba ia ambruk diatas piano putih itu.
“Aku benar-benar tidak bisa memainkan bagian itu.” Gumamnya “Apa aku menyerah saja? Gagalkan permainan piano perdanaku?” Min Ho memejamkan matanya sejenak. Ia dapat membayangkan dia berada diatas panggung, kemudian banyak penonton menyorakinya karena tidak mampu menyelesaikan permainannya.
Teng…
Dentingan suara piano membuat mata Min Ho terbuka karena kaget.

“Kau, kenapa menghentikan permainanmu?” tanya sosok perempuan dari belakang Min Ho. Min Ho terbangun dan menoleh.
“Siapa kau?” tanya Min Ho heran.
“Jung Soo Jung” kata Soo Jung ceria sambil mengulurkan tangannya, “Dan kau?”
“Kau tidak dengar ya? Aku tanya ‘siapa kau’, bukan ‘namamu’” ucap Min Ho dingin tidak membalas uluran tangan Soo Jung.
Soo Jung, tak menjawab, ia terdiam sebentar, kemudian duduk disamping Min Ho, dan tanpa aba-aba, dia memainkan sebuah lagu dengan kedua tangannya.

“Twinkle twinkle little star
Shining beautifully
Even in the East sky
Even in the West sky
Twinkle twinkle little star
Shining beautifully
Beautifully…”

“Siapa kau?” tanya Min Ho benar-benar merasa terusik. Bukannya menjawab, Soo Jung justru balik bertanya.
“Kau bilang tadi mau menyerah yah? Kau ada permainan piano perdana? Hebat!”
Min Ho agak terkejut mengetahui Soo Jung mendengar gumaman-gumamannya sendiri.
“Sebenarnya, sejak kapan kau berada disana?” Dia benar-benar tidak suka percakapan basa-basi.
“Ehmm… 2 jam yang lalu” jawab Soo Jung. “Aku sedang membaca buku di pojok sana, dan kau tiba-tiba masuk, lalu memainkan piano tanpa melihatku. Kau benar-benar tidak menyadarinya.”
“Terserah lah” ucap Min Ho mulai frustasi, lalu dia menjentikkan jari-jarinya bermaksud untuk memulai bermain piano lagi.
“Kalau boleh, aku ingin memberimu saran” ucap Soo Jung sambil mengambil tasnya di pojok. “Permainanmu bagus. Tapi sayang, kau tidak memainkannya dengan hati. Dan selama ini, kau hanya bisa meniru tanpa bisa jadi dirimu sendiri.”
Min Ho terdiam, jadi diri sendiri? Dengan hati? Meniru?
“Apa maksud__” Min Ho menoleh kebelakang, tapi Soo Jung sudah tidak ada disana.

“Permainanmu bagus. Tapi sayang, kau tidak memainkannya dengan hati. Dan selama ini, kau hanya bisa meniru tanpa bisa jadi dirimu sendiri.”

“Aku tidak mengerti” ujar Min Ho benar-benar merasa sebal lalu mengacak-acak kepalanya yang tidak terasa gatal. “Bodoh”
***

Kamar mewah itu terlihat sedikit terang. Yang menyinari hanyalah lampu tidur yang redup dan sinar bulan yang menawan karena salju tidak turun malam itu.
Soo Jung berdiri menatap keluar jendela. Tidak mengamati apapun, dan tidak melamunkan apapun. Diotaknya hanya ada kata ‘menunggu’. Ia menunggu mobil hitam mengkilat yang biasanya masuk ke halaman besar. Itu mobil Ayahnya. Ya, dia sedang menunggu Ayahnya pulang kerja. Dan entah sudah berapa ribu kali ia melakukan hal yang sama tiap malam.
Sebuah suara membuat Soo Jung tersentak.

“Apa mobil Ayah?” pikirnya bahagia.

Tidak, dia salah terka. Itu mobil penjaga yang khusus untuk berpratoli di sekitar rumah. Soo Jung menunduk seperti merenungkan sesuatu, kemudian menoleh pelan menatap jam dinding di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Ia menghela napas membuat kepulan asap kecil yang mengembun di kaca jendela.
“Benar-benar tidak pulang?” gumamnya pelan.

“Karena kau! Ini semua karena kau lahir!”

Suara itu menggema lagi di kepalanya.

“Kau pembunuh”

Soo Jung menutup telinganya, berusaha tidak mendengar suara-suara itu lagi tapi tidak bisa. Ia tetap mengingatnya dengan jelas. Kepingan-kepingan kejadian yang membuat batinnya sesak.

“Kelahiranmu tidak pernah diharapkan!”

Soo Jung tidak kuat lagi, ia mulai menitikkan air mata. Walau ia berusaha menghapusnya, tapi air matanya justru mengalir lebih deras.

“Anak pembawa sial!”

“Tidak” kata Soo Jung pada dirinya sendiri. “Aku harus bisa menerimanya. Tidak ada gunanya aku menangis, itu tidak akan merubah semuanya”

“Istriku meninggal karena melahirkan kau!”

DEG…

“Akkhhh” Soo Jung berteriak tiba-tiba sambil meremat kepalanya.
“Aaaaaaaaaaaakkkkkkkkhhhhh!!!” teriaknya lagi terlihat begitu tersiksa.

BLAK…
Pintu kamarnya tiba-tiba menjeblak terbuka.

“Soo Jung!!” teriak Soo Yeon ketakutan, kemudian menitih Soo Jung ke tempat tidur dibantu tiga pembantu wanita yang terlihat khawatir.
“Sakiiiiiittttttt!!!”
Teriakan Soo Jung tambah histeris. Dia memukul-mukul bantal dan menjambak-jambak rambutnya.
“Kuat, kau bisa melewatinya” jerit Soo Yeon. “Kau bisa! Kau bisa!” Soo Yeon menahan tangan Soo Jung agar berhenti menyiksa diri sendiri.
“Aaakhhhhhhhh!!!!!”
Tangis Soo Yeon tak tertahan lagi.
“Kau harus kuat Soo Jung. Aku tau kau bisa melewati ini semua”

***

Min Ho menatap piano di depannya. Sudah lewat tengah malam, tapi dia tidak pernah beranjak dari tempat duduknya. Dlihatnya kertas bertuliskan note-note yang seharusnya ia mainkan dengan lancar untuk pertunjukan perdana. Tapi yang ada, ia tidak bisa memainkannya dengan utuh. Jarinya seakan bergerak diluar kendalinya.

“Permainanmu bagus. Tapi sayang, kau tidak memainkannya dengan hati. Dan selama ini, kau hanya bisa meniru tanpa bisa jadi dirimu sendiri.”

“Aku tidak mengerti” gumam Min Ho.

“Twinkle twinkle little star
Shining beautifully”

Min Ho tersenyum ketika mengingat sebuah lagu.
“Lagu anak-anak” gumam Min Ho lagi agak meremehkan.

Namun, jarinya menari, mengikuti apa yang ada di pikirannya. Setiap dentingan, melody, nada, berbaur jadi satu. Tanpa sadar, Min Ho memainkan lagu itu juga.

“Twinkle twinkle little star
Shining beautifully
Even in the East sky
Even in the West sky
Twinkle twinkle little star
Shining beautifully”

Min Ho mengakhiri denting terakhir dengan hela nafas yang cukup panjang, serasa dia telah berkelana jauh kedalam angan-angan.
“Cukup menyenangkan” gumamnya singkat kemudian berlatih sekali lagi note-note didepannya.

***
TBC

thx !!! ^^


14 thoughts on “Happy Ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s