25 minutes~ (Free Part of Dora Dress)


Author : Choi-Rayray

Flashback : 20 tahun yang lalu…

Leeteuk’s point of view (Sudut pandang Leeteuk)

“Saengil chukae hamnida~ Saengil chukae hamnida~”
Aku berdiri di sini. Di aula rumahku yang luas dan mewah~ Di depanku, teronggok sebuah kue bertingkat lima dihiasi dengan tulisan besar yang terbuat dari cream : ^^Selamat Ulang Tahun yang ke-20, Leeteuk-ah^^. Yep. Hari ini, umurku genap 20 tahun~ Kupandangi lautan manusia bergaun dan bertuxedo yang hadir pada malam ini. Mereka semua kebanyakan adalah rekan kerja appaku- Lee Soo Man.
Appaku adalah pengusaha terkemuka di Asia. Jadi tidak heran, dia merayakan ulang tahunku, putra bungsunya, semeriah dan semewah ini~
“Happy birthday, Eeteuk-ah…” bisik seorang yeoja di sampingku dengan senyumnya yang sangat cemerlang.
Aku tersenyum sekaligus terpana memandangnya. Zhang Li Yin, itulah nama yeoja cantik ini. Dia memakai gaun biru langit panjang dengan sarung tangan sutra… Hajiman, menurutku bukan hanya malam ini saja dia tampil cantik seperti ini. Zhang Li Yin…. sampai kapanpun aku akan selalu menganggapnya sebagai bidadari paling indah sedunia~ “Neomu yeppo…” ujarku, membuat Liyin mengekeh malu.
Nyanyian ‘saengil chukae’ yang menggema di aula ini dengan sekejap berganti menjadi alunan tepuk tangan ketika kutiup lilin berbentuk angka 20 yang tertancap di puncak kue. Aku menyeringai lebar, menatap semua tamu yang hadir… jantungku berdegup bangga~ Ne… aku sangat bangga sekali malam ini. Aku sangat bangga menjadi putra bungsu dari Lee Soo Man. Aku sangat bangga dilahirkan di keluarga ‘superkaya’ ini. Aku sangat bangga saat menyadari bahwa aku memang dilahirkan untuk menjadi seorang ‘Tuan Muda’~
Appa perlahan melangkah keluar dari kerumunan tamu VIP-nya dan menghampiriku “Saengil chukae, putraku” serunya bangga dan memelukku. Para tamu kontan bertepuk tangan kembali. Dengan dihujani jepretan-jepretan kamera dari wartawan-wartawan yang diundang appa, aku pun memotong sebagian kecil dari kue dan menyuapinya. “Sarangeyo, appa~” desahku. Appa pun tertawa dengan cream yang celemotan di bibirnya.
Kupotong lagi kue itu. Seluruh tamu menghening, menantikan untuk siapa akan kuberikan potongan kedua dari kue ini. Kalau ammaku masih hidup, tentu kue ini akan kuberikan untuknya. Hajiman, ammaku sudah pergi ke atas sana… Geunde, hanya ada seseorang yang pantas untuk menggantikan posisi amma sebagai wanita paling mulia di hatiku…
Liyin mengerjap bingung padaku yang menyodorkan potongan kue tart itu ke depan wajahnya.
“Waeyo?” tukasku “Yaaah… buka mulutmu~”
“Aigoo… kashahamnida!” bisiknya. Matanya berputar sesaat, mengamati ratusan tamu yang memandangi kami berdua dengan antusias. Dengan agak kaku dilahapnya potongan kue dariku. “Kenapa pula kau memberiku kue ini?? Aku kan maluuu” rengeknya menyenggol tanganku.
Aku menyeringai melihat tingkahnya yang ternyata sama sekali tidak berubah walaupun dia sekarang tampil bagaikan seorang puteri. Liyin, dia tetap saja seorang cewek urak-urakan seperti yang kukenal… “Dan aku sangat bangga, bisa mengenal seorang yeoja seperti kau, Liyin-ah…” bisikku dalam hati, masih menatap Liyin yang sibuk menyeka mulutnya dengan sarung tangan sutranya sendiri sehingga lipstiknya luntur kemana-mana. Dari depan meja VIP, ammanya Liyin yang mengamati kami berdua menjelitkan mata, memberi kode padaku untuk menegur kelakuan putrinya yang rada ‘tengil’ itu. Hahaha, entah kenapa… aku malah sangat suka melihat Liyin yang seperti ini… ‘Liyin yang urak-urakan’… dan walaupun kenyataannya dia adalah sorang puteri tunggal keturunan bangsawan China, hajiman, sepertinya dia tidak pernah peduli dengan statusnya itu. Dia tetap saja menganggap semua orang sama… Aku sangat suka… Liyin yang seperti ini…
”Mianhe, Soo Man-ssi…” seru salah seorang wartawan dari ujung aula, mengangkat tangannya ”Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
Appa berpikir sesaat ”Ne, silakan” ujarnya kemudian.
Wartawan tadi terlihat sedikit ragu bercampur segan ”Kenapa sepertinya aku tidak menemukan seseorang yang sangat penting di pesta ini…?”
”Seseorang yang sangat penting?” tanya appa bingung.
”Ne. Daritadi sepertinya aku tidak menemukan sosok Tuan Muda Xiah Junsu…”
Keheningan dalam sekejap kembali menyelimuti seluruh ruangan… Namun kali ini bukanlah terpaku padaku ataupun appa yang berdiri di atas panggung aula… Mereka semua memutar kepala, manatap wartawan tadi yang menelengkan wajah, menunggu jawaban dari appa… Beberapa di antara mereka mulai berbisik satu sama lain. Aku tahu, kini mereka semua bahkan juga menantikan bibir appa yang terangkat dan mengatakan sesuatu…
”Baboya” bisikku miris.
”E… eh?” Liyin tersentak menatapku.
”Mereka semua… benar-benar bodoh…”
”Eeteuk-ah…”
”Bukankah…” sambarku, tanpa membalas tatapannya ”Bukankah sampai kapanpun hyung-nim juga tidak akan pernah menghadiri ulang tahunku…?”
Dengan sudut mata kulihat Liyin yang tertunduk lemah.
Liyin-ah, seharusnya akulah yang tertunduk seperti itu… namun aku sudah tidak ingin lagi… aku sudah tidak ingin lagi menunggu hari di mana kakak kandungku sendiri berdiri di hadapanku, sekedar mengucapkan kata ”Saengil chukae”…
Appa berdeham dengan wajahnya yang mendadak datar ”Xiah Junsu… dia sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu… Kalian tahu sendiri, putra sulungku itu sebentar lagi akan menggantikan posisiku di perusahaan” jelasnya sebijaksana mungkin.
Kuperhatikan kembali seluruh tamu yang kini mengangguk kecil sambil menyeringai takjub, terpesona dengan apa yang baru saja mereka dengar. Babo. Bahkan mereka tidak menyadari… semua yang baru saja appa katakan hanyalah omong kosong…

BRUK!!!
Lampu pesta yang sengaja diredupkan, mendadak menyala terang. Kami semua terlonjak kaget, terperangah terpaku pada pintu utama aula yang tiba-tiba saja terbuka, dan pada sosok seorang namja yang muncul dari baliknya…
”Xiah Junsu…” bisik appa getir.
Semua orang langsung menggeleng tak percaya begitu menyadari kehadiran pewaris pertama perusahaan CandP itu. Ditambah lagi, saat mata mereka tertancap pada lebam biru di wajahnya. Namun bagiku itu sudah biasa. Sudah biasa Junsu-hyung pulang ke rumah dengan keadaan lebam, bonyok, dan babak belur seperti ini… karena memang itulah kegemarannya : Berkelahi. Ne. Dialah kakaku, Xiah Junsu. Seorang namja yang dengan cuek mendobrak pintu utama Aula dengan wajahnya yang babak belur. Dialah kakakku, Putra pertama Lee Soo Man…
Jepretan foto kontan menghujaninya, membuat tubuh appa semakin menggetar geram…
Puluhan reporter yang tadinya hanya meliput dari pinggir aula, barhamburan menyambar sosoknya ”Tuan Muda Xiah Junsu, kenapa anda muncul seperti ini? Apakah anda berkelahi lagi?! Apakah mungkin seseorang seperti anda menjadi penerus pengusaha sukses Lee Soo Man??”
Tubian pertanyaan mereka tidak kalah berisik dengan tukasan shok dari para tamu yang kini wajahnya mengerut, menunjuk-nunjuk Junsu Hyung sambil berkomat-kamit tak jelas…
Junsu Hyung mengerjap-ngerjap sementara tangannya yang terangkat mencoba menutupi pantulan silau cahaya kamera. “Ah…. jeongmal mianhe..” serunya cuek “Aku sama sekali tidak tahu kalau di Aula ini sedang diadakan perayaan…”
“Tuan Muda… anda belum menjawab pertanyaan kami… Mengapa anda muncul seperti ini? Padahal tadi Lee Soo Man-ssi mengatakan bahwa anda sedang menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin perusahaan yang baru!”
Dari kejauhan, kedua mata Junsu Hyung menangkap appa yang telah pucat sama sekali… “Mwo?” kekehnya. “Bukankannya sudah berkali-kali kukatakan? sampai kapanpun…” dia menyeringai samar ”Aku tidak berminat dengan hal konyol seperti itu~”
Seluruh tamu ternganga hebat, sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar…
Kutatap Junsu-Hyung yang perlahan melangkah pergi keluar Aula, masih dibuntuti oleh para reporter-reporter dan kameramen dari seluruh sumber berita.
”Junsu oppa… mengapa dia begitu?” ucap Liyin pelan, menggigit ujung bibirnya.
”YAH, XIAH JUNSU!!!!!”
Teriakan appa itu bukan hanya membuat Junsu Hyung kembali membalikan badannya, namun juga seluruh manusia di ruangan ini… mereka semua memandangi appa dari bawah panggung.
”Appa…” desahku tak percaya pada appa yang kini napasnya terhela cepat…
Junsu Hyung menelengkan kepalanya sesaat, sebelum dia melangkah menusuri aula di tengah-tengah ratusan tamu menuju ke atas panggung di mana appa, aku, dan Liyin berdiri…
”Wae? Bukankah aku sudah minta maaf?” ujarnya tak peduli sekalipun terlihat olehnya kedua tangan appa yang mengepal kuat ”Appa, aku benar-benar tidak tahu kalau kau sedang mengadakan perayaan di Aula ini… Guraesso, jangan marah padaku!”
Sebelah tangan appa terangkat pelan, membuatku berpikir bahwa tangan itu akan melayang menghantam wajah Junsu-Hyung… Seperti yang biasa dia lakukan setiap Junsu-Hyung membuat ulah. Namun aku salah. Tangan appa terhenti dan dia malah mencengkram dadanya yang seakan sangat sesak…
”Appa!” kusambar tubuh appa yang seperti akan tumbang sementara beberapa bodyguard turut mengekor tindakanku ”Gwaenchana??” pekikku tertahan.
”Neo…” perlahan appa membuka kedua matanya yang menutup sesaat, menatap Junsu Hyung lekat-lekat ”Keluarlah… aku tidak ingin melihatmu di ruangan ini!!!”
Junsu Hyung mengangkat kedua bahunya dan melangkah menuruni panggung begitu saja… dia keluar… dia benar-benar… keluar dari ruangan ini… begitu saja…
Mendadak kurasakan sesuatu yang menjerit di dalam dadaku… Apa itu? Aku juga tidak tahu… ”Yah!” seruku.
Sekali lagi Junsu Hyung membalikan badannya ”Kau memanggilku?”
Jeritan dalam dadaku perlahan berganti dengan sesuatu yang sangat menyakitkan… aku tidak tahu… aku tidak tahu apa itu… hanya saja, sakit ini semakin perih saat aku menatap langsung kedua matanya… Mungkin aku ingin memakinya. Memakinya di depan kerumunan orang ini karena ulahnya yang sama sekali semena-mena!!
Cukup lama kami berdua saling bertatapan, sampai akhirnya kusadari… mulutku yang tergerak, mengatakan sesuatu yang entah mengapa membuat perasaanku semakin perih lagi… ”Ini bukanlah perayaan… Hyung, ini pesta ulang tahunku…”
Dalam khayalan, aku melihat raut wajah Junsu Hyung yang mereda… Dalam khayalan, aku melihat Junsu Hyung yang memutar langkahnya dan menghampiriku… Dalam khayalan, aku melihat Junsu Hyung yang mengucapkan tiga patah kata : Saengil Chukae, Eeteuk-ah…
Namun kenyataannya dia terus saja diam di sana… diangkatnya sebelah alisnya, ”Guraeyo?” ujarnya datar dan langsung melangkah lagi. Terus kulihat dia yang pelan-pelan semakin menghilang dari pandanganku, membuat perasaan perihku berganti beku. Dia terus saja berjalan… Kali ini, benar-benar pergi begitu saja. Guraeyo. Hanya itulah yang diucapkannya…

Hyung… Tahukah kau… mengapa aku terus memanggilmu ’Hyung’? Karena aku selalu berharap… suatu hari nanti kau akan berhenti mengacuhkanku dan menyadari bahwa akulah ’dongsaeng’mu… Aku bodoh ya, Hyung? Ya. Aku rasa aku memang bodoh… Karena kau bahkan tidak ingat ulang tahunku… benarkan, Junsu Hyung?
”Kajja” desah Liyin berat, meraih tanganku yang mendingin… ”Ikut aku, Eeteuk-ah…”
Kutatap appa yang berjalan tertatih keluar Aula dengan dipapah beberapa bodyguardnya sementara Liyin menyeretku turut keluar ruangan ini. Meskipun begitu… masih ada gaungan kata-kata yang mengiang di telingaku…
”Ini bukanlah perayaan… Hyung, ini pesta ulang tahunku…”

——————————————————————————————————–

Orang-orang selalu bilang, aku dan Junsu hyung bagaikan langit dan bumi… aku juga tidak mengerti, waeyo?
Junsu hyung dari dulu selalu menentang appa karena dia memang sama sekali tidak berniat meneruskan perusahaan kami. Menjadi seorang pelukis, itulah cita-citanya… Namun aku berbeda. Aku seakan terlahir tanpa ambisi apa-apa… Satu hal yang kupahami : Aku harus menuruti semua yang appa inginkan. Pernah suatu hari aku merasa… aku ini robot, dan appa adalah seorang ’Tuan’ yang harus selalu kupatuhi. Aku senang hidup seperti ini. Karena dengan begini semua orang selalu mengagumiku, menyanjungku, menghormatiku. Hanya saja mereka tidak tahu… betapa irinya aku terhadap kakakku sendiri, Xiah Junsu. Aku ingin menemukan mimpiku sendiri, seperti dia…
Namun aku tidak mengerti, mengapa hubungan kami menjadi seperti ini? Masa bodoh jika kami berbeda! Masa bodoh jika semua orang sering membanding-bandingkan kami berdua! Karena siapa pun dia… dia tetaplah kakakku… Ne. Dan aku berharap Junsu hyung suatu saat juga menganggapku begitu… aku berharap suatu saat Junsu hyung dapat menatapku sebagai saudaranya, bukan sebagai seorang pangeran sempurna yang selalu menjadi pembandingnya… Karena, Junsu hyung… selama ini aku selalu iri padamu. Tahukah kau, aku hanyalah robot…?
”Sampai juga akhirnya…” desah Liyin. Bagian bawah gaun biru langitnya telah berlapiskan lumpur dan rumput kering.
Liyin membawaku menuju kebun belakang gereja yang tidak jauh dari rumahku. Langkah kami berdua terhenti di depan sebuah pohon cemara yang amat rindang ”Kenapa pula kau membawaku ke sini?”
”Tunggu sebentar!” serunya tersenyum riang, membungkuk dan mengambil dua buah botol dari dekat akar pohon ”Ambillah~” Liyin menyodorkan salah satu botol itu padaku yang mengedip bingung. ”Ayo kita buat kapsul waktu, Eeteuk-ah…”
”Kapsul… waktu?”
”Ne” ujarnya pasti ”Kata orang, kalau kita menulis permohonan di atas kertas dan menguburnya dalam sebuah botol di bawah pohon cemara, permohonan itu akan terkabul!”
”Cih!” decahku konyol memandang Liyin yang menyeringai lugu. ”Bukankah aku sudah membuat permohonan sebelum kutiup lilinku tadi? Guraesso, aku tidak perlu membuat permohonan lagi”
”Ah! Jamkamman!” tukasnya menarik tuxedoku dan benar-benar menjejalkan botol itu ke dalam genggamanku ”Kalau begitu buatlah satu permohonan lagi!” rengeknya.
Kupandang wajah Liyin yang langsung memelas… Haish jinjja! Dari dulu aku memang tidak pernah tahan melihatnya dengan tampang begini~ ”Arasseo…” desahku berat, menarik keluar secarik kertas dari dalam botol.
Kulirik Liyin yang kini menyeringai lebar sambil menulis sesuatu di atas kertasnya. Tanganku perlahan menghangat… Liyin, mungkinkah dia yang menghangatkannya? Apa ini karena dia…? Karena aku merasa… apapun yang Liyin lakukan, akan selalu mendamaikan hatiku lagi…
”Apa yang kau tulis di sana?” Liyin mengerling dari balik kertasnya sendiri.
”Anio” aku tersenyum tipis, menatap tulisan kurus panjang yang baru saja kutorehkan :

Semoga suatu saat nanti Junsu Hyung mengingat ulang tahunku…

”Hanyalah sebuah harapan bodoh” kekehku, memasukan kertas itu ke dalam botol dan menjejalkannya ke timbunan tanah.
Ini benar-benar… hanyalah harapan bodoh…
Tanpa kusadari Liyin telah turut bersimpuh di sampingku ”Eeteuk-ah…” desahnya pelan, merangkul bahuku ”Aku percaya, Junsu oppa tidak pernah bermaksud untuk membuatmu sedih…”
Untuk beberapa detik aku hanya menikmati cahaya tajam di dalam matanya ”Aigoo..” dengusku ringan ”Dari dulu Liyin-ah selalu saja membela Junsu Hyung~”
”Anya!” tangannya langsung menghempas bahuku kuat.
Aku mengekeh lagi. Karena memang seperti itulah Liyin… Aku dan Junsu hyung telah mengenal Liyin sejak kami masih kecil. Dan waktu itu, seringkali ada saat-saat di mana Junsu hyung membuatku menangis. Dan hanya Liyinlah satu-satunya… hanya Liyin satu-satunya orang yang malah memarahiku, dan membela Junsu hyung habis-habisan di depan appa…
”Hanya saja…” lanjut Liyin kikuk ”Aku tidak ingin melihat kalian berdua bertengkar begini…” dia mengedip salah tingkah sementara tangannya buru-buru menjejalkan botolnya ke dalam tanah. ”Kau dan Junsu oppa sama-sama berarti bagiku…”
Aku tertawa kecil ”Arasseo” desahku pelan, namun tawa ini entah mengapa tidak bisa bertahan lama. ”Lalu apa isi permohonanmu?” Kutatap botol yang telah dikuburnya dalam-dalam.
”E…eh?” wajahnya mendadak memerah ”Rahasia~ pokoknya kau tidak boleh tahu!” tukasnya nyolot.
Kutarik ujung bibirku perlahan, mengamati Liyin yang kini sibuk membersihkan bagian bawah gaun biru langitnya yang kotor.

”Kau dan Junsu oppa sama-sama berarti bagiku…”

Kata-katanya tadi masih mendengung jelas, dan perasaanku menghampa lagi… Liyin-ah, apakah aku terlalu egois? Karena aku ingin hanya akulah satu-satunya orang yang berarti bagimu…

——————————————————————————————————–
Kamar tidurku seolah baru saja mengalami hujan hadiah… Jinjja! Kado di mana-mana! Sampai-sampai aku harus berjalan dalam lowong yang amat sempit menuju tempat tidurku sendiri~
”Masuklah…” seruku ketika kudengar ketukan pintu. Kim Ryeowook, sekretaris keluargaku yang baru saja dipekerjakan, muncul dari baliknya ”Yaaahh… Ryeowook-ssi! Untung sekali kau datang!” desahku lega ”Kau pasti ingin memindahkan semua benda ini, kan??” jariku berputar menunjuk tebaran kado di sekelilingku.
”Heh?” gumamnya bingung ”Anio… Tuan muda, saya ke sini untuk menyampaikan pesan”
Kuangkat sebelah alisku.
”Tuan Muda Xiah Junsu… dia bilang ada yang ingin disampaikannya pada anda”
Aku tertegun kaget. Cukup lama. Sampai Ryeowook menghilang dari hadapanku, aku pun masih berdiri terdiam… Junsu hyung… selama ini kami bahkan jarang sekali saling menyapa. Bisa dibilang kalau dia sepertinya sengaja menghindariku…

Perlahan aku melangkah masuk ke dalam kamarnya, langsung kudapati dia yang sedang asyik mengibaskan kuas ke atas kanvas yang sangat besar. Buru-buru diselimutinya kanvas itu begitu matanya menangkapku. ”Kau datang?” ujarnya datar.
”Ada apa kau memanggilku?” tanyaku, dengan sudut mata kuperhatikan seisi kamarnya yang benar-benar telah berubah. Kamar Junsu hyung adalah satu-satunya ruangan di rumahku yang jarang sekali kusinggahi. Dan sekarang… kamar ini telah dipenuhi oleh puluhan kanvas dengan lukisan indah menghiasinya…
Menjadi seorang pelukis, ternyata memang itulah mimpinya…
Aku berdeham pelan, menyembunyikan rasa takjubku atas semua ini ”Apa yang ingin kau sampaikan?”
”Mianhe”
”Mwo?” gumamku tercekat. Kupastikan kupingku sudah benar-benar tuli! Sampai kudengar dia mengatakannya lagi sambil terus menyelimuti kanvasnya.
”Ne. Jeongmal mianhe karena aku telah mengacaukan pesta ulang tahunmu”
Mianhe… Junsu hyung, mengatakan mianhe padaku… mulutku merekah, membuka sama sekali… Aku tahu ini bodoh. Namun hatiku terasa lega seketika… Liyin-ah, mungkinkah doaku terkabulkan? ”Anya… itu bukanlah salahmu, hyung-nim…”
”Appa yang menyuruhku mengatakan ini”
”E… eh?”
”Gurae. Dari kemarin dia terus saja memaksaku untuk meminta maaf padamu. Asal kau tahu saja, itu sangat menyebalkan”
Appa… yang memaksanya?
Junsu hyung menatapku dalam, dan sakit itu muncul lagi… Dia bangkit dari duduknya dan menghampiriku ”Sepertinya kau ini selalu menjadi pangeran ya, Eeteuk-ssi?”
Kupandang matanya, kebencian, selalu itu yang kulihat… Wae? Hyung, wae gurae…? kukepalkan tanganku kuat-kuat… Kenapa… aku selalu saja membuat Junsu hyung membenciku…?? ”Kenapa kau selalu memanggilku ’Eeteuk-ssi’…?”
”Wae?” desahnya tak peduli ”Bukankah kau senang dipanggil begitu?”
”Hyung… aku ini adikmu….” kujatuhkan pandanganku ke bawah… ulu hatiku seperti melompat keluar, membuat dadaku sesak… ”Aku bukanlah pangeran. Hyung, aku hanyalah adikmu…”
”Guraeyo?” desahnya getir ”Lalu mengapa appa seakan hanya mempunyai satu putra?”
Kuangkat wajahku dan berharap kali ini mulutku bisa membuka untuk mengatakan sesuatu yang setidaknya bisa meyakinkannya… Hyung, masa bodoh bila kita berbeda… masa bodoh bila semua orang terus-menerus membanding-bandingkan kita… masa bodoh bila semua orang di rumah ini menentang mimpimu… aku tidak peduli! Karena selamanya… kau tetaplah kakakku…
Kurasakan sosoknya yang telah meninggalkanku sendiri di ruangan ini. Untuk kesekian kalinya, aku hanya membiarkan Junsu hyung pergi begitu saja… Hyung… kenapa kau berkata begitu? Kenapa kau menatapku begitu? Mataku berputar naik-turun mengawasi puluhan lukisan yang terpampang di hadapanku ”Aku iri padamu, hyung…” bisikku pelan, mengitari lukisan-lukisan itu satu persatu. Andai saja Junsu hyung tahu, aku juga ingin meraih mimpiku sendiri, bukan hanya menjadi robot yang selalu saja menuruti perintah appa…
Langkahku terhenti di depan sebuah lukisan berukuran sangat besar. Lukisan itu terselimuti sebuah kain putih yang perlahan berkibar tertiup helaan angin dari jendela kamarnya ”Zhang Liyin?” kudapati tulisan yang terukir di ujung kanvas ketika selimut putih yang menutupinya sedikit terangkat terkena angin… Segera kusingkirkan selimut putih itu, dan hatiku mencelos lagi…

-Michael Learns To Rock (25 Minutes)-

After Some Time,
Setelah beberapa saat,

I’ve finally made up my mind…
Akhirnya kuubah keputusanku…

She is the girl,
Dia adalah seorang gadis,

And I really want to make her mine…
Dan aku sangat ingin menjadikannya milikku…

Lukisan seorang yeoja yang amat kukenal muncul dari balik selimut putih itu… Bibirnya tersenyum cemerlang sementara rambutnya melambai-lambai sangat indah. Liyin, dia terlihat sangat cantik…
Hajiman, waeyo…? Mengapa… Junsu hyung melukisnya?
Kuamati kembali semua lukisan di ruangan ini… Hanya lukisan Liyin yang diselimutinya dengan kain putih. Apakah dia sengaja? Apakah dia tidak ingin aku melihat lukisan ini…?
Mataku masih terpaku pada lukisan itu, namun dadaku perlahan seperti tercengkram sesuatu… Junsu Hyung… apakah… dia juga mencintai Liyin…?

——————————————————————————————————–

Kakiku berat sekali… Namun tetap kupaksakan melangkah menuju pohon cemara di kebun belakang gereja dekat rumahku, tempat di mana Liyin dan aku mengubur kapsul waktu kami… Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku mendatangi tempat ini lagi. Satu-satunya hal yang kusadari, aku hanya ingin mengetahui isi hati gadis yang kucintai itu…
Tanganku terus menggali lubang di bawah pohon tempat Liyin menanam kapsulnya sementara pikiranku melompat-lompat tak tentu… Junsu hyung, benarkah dia mencintai Liyin? Bagaimana… kalau dia benar-benar mencintainya? Bagaimana… kalau aku memutuskan untuk tidak melepaskan Liyin padamu, hyung? Karena aku sangat mencintainya… Hyung, aku sangat mencintainya…
Kuangkat botol itu dari dalam tanah dan segera mengeluarkan secarik kertas yang tersimpan di sana. Kubuka gulungan kertas itu perlahan, dan muncullah barisan kata-kata yang diukirnya malam itu…

Semoga aku bisa menikah dengannya…

”Eeteuk-ah!!!”
Kertas tadi kembali menggulung dan terdorong masuk ke dalam botol yang kugenggam begitu badanku tersentak kaget. Aku berpaling gusar pada Liyin yang berdiri di belakangku, menatapku marah…
”Mengapa kau membuka kapsul waktuku?!!” jeritnya geram, membuatku menjatuhkan kembali botol itu ke dalam lubang ”Sudah kubilang kau tidak boleh membukanya!!!” langkahnya yang bergetar sekilas seperti ingin menyambarku… dia marah… benar-benar marah…
Namun aku sama sekali tidak peduli… karena jantungku berdegup sangat kencang, menggerakan tubuhku untuk bangkit dan langsung memeluknya yang masih menggetar geram… Akhirnya aku tahu… akhirnya aku tahu isi hati Liyin…Liyin… selama ini dia ternyata juga mencintaiku…
”Sarange…” desahku lirih.
”Eh…?” Liyin terdiam kaku sementara aku terus mendekapnya kuat…
”Menikahlah denganku, Zhang Liyin…”
Dunia di sekelilingku seolah berputar dan membawaku terbang~ Liyin-ah, akhirnya aku tahu perasaanmu… Aku berjanji, tidak akan pernah melepaskanmu kepada siapapun di dunia ini… Karena aku sangat mencintaimu… Liyin-ah, selama ini aku selalu mencintaimu…
Masih terlintas di pandanganku tulisan Liyin yang tertoreh di dalam kapsul waktunya :

Semoga aku bisa menikah dengannya…

Ne… Liyin-ah, aku juga ingin menikah denganmu…

-Michael Learns To Rock (25 Minutes)-

I’m searching everywhere,
Ku telusuri semua tempat,

To find her again…
Untuk mendapatkannya kembali…

To tell her I love her,
Untuk memberitahunya bahwa aku mencintainya,

And I’m sorry ‘bout the things I’ve done…
Dan maafkanlah aku mengenai apa yang telah kulakukan…

——————————————————————————————————–


13 thoughts on “25 minutes~ (Free Part of Dora Dress)

  1. lhow…
    Tp bknx ntar liyin nikahx ama xiah iah?
    Koq ngegantung ciy chingu?

    Like

  2. hhoho
    ksian amat su jd kk’a eetuk..
    dwasa sblm wktu’a

    author kreatif dah..
    bkin karakter junchan jd pemberontak gtu

    seru baca ff ini,ada chap dg part reguler n free part dg brbagai sudut pandang

    #angkat topi buat authornya#

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s