
AUTHOR : CHOIRAYRAY
Perlahan, kedua kakiku menapaki hamparan keramik-keramik kristal. Busanaku formal, bukan hoodie reot melainkan dress putih sederhana yang mungkin cukup layak kukenakan di istana ini. Iya, ini istana, tempat ini terlalu besar dan megah sekali.
Koridor ini hening, padahal lampu getir di kanan kirinya tertawa cerah, tapi seperti mati. Mungkin hanya perasaanku saja, mungkin… yang mati itu adalah, apa yang aku rasakan…
Setiap langkahku padahal tadinya tegar sekali, tapi begitu kusentuh gagang sebuah pintu raksasa di depanku ini, kakiku seperti akan patah saja…
Aku ingin mundur, aku… sebenarnya tidak ingin ada disini. Tapi bukankah semuanya sudah terlambat…? Hanya saja aku terlalu naif untuk sadar bahwa suatu hari ini benar-benar terjadi, dan detik ini, aku terlambat jika baru sekarang memutuskan untuk membuka topengku yang sok kuat ini… Iya, aku memakai topeng, kalian tidak tahu ya…? Untuk bisa terus tertawa seperti orang normal, aku, memakai topeng…
Alunan geretan pintu yang kuciptakan tidak menggentarkan tiga orang namja disana untuk menoleh ke belakang menatap kedatanganku. Tentu saja, mereka sudah tahu aku akan datang…
“Duduklah, Seohyun-ssi” seru Leeteuk ahjussi, masih belum menatapku.
Seiring aku berjalan dan duduk di hadapannya, sepatu bootku menjerit. Ada apa…? Kau tidak ingin ada disini, ya…? Kumohon bersabarlah, karena sekarang ini, mungkin adalah untuk terakhir kalinya…
Aku duduk dan sama sekali tidak akan berekspresi sok rapuh lalu menoleh ke kanan dimana Kyuhyun bersandar angkuh di kursinya. Aku tidak akan melakukannya. Memangnya untuk apa…? Untuk mengemis lagi…? Mungkin untuk menghadapi kalian, aku harus seperti kalian, karena itu aku… datang ke tempat ini setelah membuang jauh-jauh perasaanku sebagai seorang manusia…
“Aku mendengar apa yang terjadi” ucap Leeteuk ahjussi, masih berkutat dengan beberapa carik kertas di mejanya. Jelas dia menjaga keheningan hingga kami bertiga benar-benar berkumpul di hadapannya. Aku, Kyuhyun, dan Key…
Keheningan yang dia harapkan benar-benar datang. Memar biru yang terukir di wajah Kyu mengkontraskan semuanya. Dia tidak melawan, tidak bicara sama sekali, kenapa…? Apa begitu sakit luka di wajahmu itu…? Bagaimana kalau kita bandingkan saja, dengan luka yang membuat hatiku semakin lama semakin mengernyit menghadapi kalian semua…? “Maafkan aku, ahjussi…” aku minta maaf. Aneh. Tapi mungkin dengan mengatakan itu, aku bisa lebih cepat keluar dari ruangan ini…?
Leeteuk ahjussi mengangkat wajahnya, gerakan tangannya yang berkutat pada carikan-carikan kertas terhenti di udara “Kau…” dia mendelik miris padaku dan suaranya tertahan. Bukan aku, dia tidak mengharapkan aku yang mengatakannya… “Dengar…” desahnya, untuk beberapa detik dahinya mengernyit seakan ingin meledak “Apa kalian…” kertas-kertas di tangannya terbang jatuh ke atas meja… “Apa kalian kira aku ini hidup hanya untuk mengurusi masalah kalian saja..???!”
Key juga terus diam, aku tahu, mungkin hingga akhir pembicaraan ini dia tidak akan mengatakan apa-apa. Sudahlah, toh dia tidak salah meskipun dia yang mengukir guratan biru pada wajah kakaknya, lalu memang apa salahnya menyukai seseorang…?
“Kyuhyun, kau… tolong jelaskan padaku!“ tukas Leeteuk ahjussi. Di akhir cerita begini, selalu Kyuuhyun yang disalahkan. Leeteuk ahjussi tidak tahu, aku yang salah. Aku salah karena telah menjadi satu-satunya orang yang mempunyai perasaan di antara mereka…. itu terbukti begitu Kyuhyun mengangkat wajah lebamnya, bicara, suaranya datar sekali.
“Tolong, batalkan saja pertunangan kami…”
Continue reading →