Silver Bullet : Chapter 16


SILVER BULLET : Chapter 16 | FACEBOOK PAGE
AUTHOR : BabyJung | BLOG
CAST : LIST of CAST
GENRE : Action , Romance
RATING : PG-15
AUTHOR NOTE : The Longest Chapter You’ll had. (Est. 6220 words!). Happy Reading and Don’t forget to Comment!

Chapter 16

Urgh… urgh… kenapa aku malah tertidur? Bukankah ada janji dengan Jiyoung? Aw man… semoga saja aku hanya tertidur sepuluh menit saja. Akupun membuka mataku. Aku langsung terduduk dan melihat ke arah jam yang berada dimeja kecil disamping ranjang.

Oh God. Pukul satu pagi. Nice, tertidur cukup… bahkan sangat lama rupanya. Dan juga kenapa ada lampu yang berserakan di karpet? Sepertinya jatuh dari meja ini ya?
Dan juga, kepalaku sedikit sakit bagian belakangnya. Duh… eh ternyata ada kain kasa yang merekat dibelakang.

01.05
Busan Westin Chosun Hotel
Suite Room
Tunggu-tunggu, namaku Lee Sungyeol umur 28 tahun. Ah… baiklah tidak lupa ingatan untungnya. Sebab yang kuingat saat terakhir tadi adalah aku ditendang dengan sangat kencang saat aku sedang memakai bajuku lalu aku terjun bebas dari atas ranjang dan… terantuk ujung meja, nampaknya…

“Yeol… maaf… Yeol…” seseorang bergumam suara itu tepat berada disampingku.

Krystal, dia tertidur tepat disebelahku. Dia tertidur sambil meremas sebuah tissue, matanya pun terlihat sembab. Habis menangisi diriku ya? Tenang saja, aku belum mati. Tapi tendangannya sakit sekali sih, masih berasa perih di perutku. Tapi, wajahnya lucu juga ya saat tertidur, ditambah lagi dia sedang mengigau seperti ini. Akupun mendekatkan wajahku, untuk melihatnya lebih dekat lagi.

Andaikan saja kau itu anak kecil yang ada di Lavender House. Mungkin saja saat ini aku sudah benar-benar akan jatuh cinta padamu dan…

“Mesum…” gumamnya sekali lagi.
“Ikh!” aku meremas pipinya selagi ia tertidur.

===

00.07
Yuu Yuu Cottage – Furano City
Hokkaido
Dalam dekapan L, Sulli tertidur nyenyak. Sementara itu L terjaga, ia nampak memikirkan sesuatu.
“Wae? Kenapa tidak istirahat?” tanya Sulli yang terbangun iapun menarik selimutnya lebih tinggi karena dinginnya malam ditambah ia hanya mengenakan baju dalamnya saja.
“Mulai besok kita harus berjanji suatu hal kepada diri kita sendiri…” ucap L
“Y..ya?”

“Kita harus jujur di depan Krystal… apapun konsekuensinya… biarkan dia mengetahui kenyataannya… dan kau harus berhenti untuk berpura-pura menyukai Sungyeol…” ucap L.
Sulli mengangguk perlahan dan dia mencium pipi L sambil berbisik, “Ya…”
“Biarkan Krystal menyukai pria yang saat ini bersama dengannya… karena Sungyeol adalah orang yang berada di dalam kenangan Krystal…” ucap L.

“Ke…kenangannya? jadi… dia itu?” tanya Sulli terperanjat dan menatap L.
“Ya… Sungyeol adalah oppa-nya… entah dia sudah menyadarinya atau belum…”
“Ka…kalau begitu… kenapa kau tidak langsung bilang kepadanya saja? Kenapa harus berlarut-larut seperti ini?”

“Kau pikir, jika aku bilang kepadanya kalau Yeol itu adalah pria yang ia kenang, Krystal akan melepaskan aku dan menyukai Yeol?” tanya L sambil menatap Sulli.

“Satu-satunya cara.. ya.. membuat Krystal membenci diriku dan membiarkan dia menyukai Yeol perlahan-lahan…” tambah L sambil menghelakan nafasnya dan memeluk tubuh Sulli lebih erat.
“Jadi… itu maksud terselubungmu… kau bermaksud menebus kesalahanmu karena telah membohonginya dengan menghadirkan orang yang sesungguhnya?” bisik Sulli sekali lagi ia mencium pipi L.
“Ya… ya begitulah… tapi aku percaya ini adalah takdir mereka…” tukas L.
Sulli mengangguk perlahan, “Kalau begitu caranya, aku akan mengikuti caramu… Myungsoo…”

===

06.05
Lagi-lagi aku terjaga, kali ini terbangun karena bunyi gaduh dari lentingan cangkir dan juga bunyi teko uap yang bersiul. Aku melihat sosok Krystal yang tengah berdiri sambil menuangkan air panas ke sebuah cangkir dan mengaduk isi cangkir itu, nampaknya ia sedang membuat kopi.
“Tambah satu gelas ya, untukku…” ucapku sambil tersenyum.
Ia langsung menoleh ke arahku, “Yeol? K…kau sudah sadarkan diri?” ucapnya histeris dan mendekati diriku.
“Kelihatannya?” ucapku sambil tertawa.

Ia tersenyum dan matanya terlihat seperti ingin memangis, “K.. Kau tahu? Saat kemarin kau terantuk ujung meja dan tertimpa lampu… Aku berpikiran kalau aku telah membunuh partnerku sendiri tahu… Uhuk…” ia batuk dan matanya berkaca-kaca.
“Ya sudahlah tak apa, yang penting mulai sekarang kau jangan seperti itu lagi, jangan ringan tangan untuk memukul orang…” ucapku sambil berdiri dihadapannya.

Aku mengulurkan tangan kananku kepadanya, “Mana? Mana kopinya?” Tanyaku sambil tersenyum.

08.15
Haeundae Beach
Setelah mendapatkan konfirmasi bahwa besok subuh DongHae dan Amber akan beabung dalam team, hari ini aku langsung menentukan posisi untuk berjaga. Sebelum memasuki siang hari, aku segera mengitari daerah sekitaran Haeundae. Siang nanti rencananya para tamu undangan dari luar negri mulai berdatangan.

Saat ini kesiapan acara sudah sekitar 95persen. Penataan cahaya panggung sedang melakukan set akhir. Dan tempat ini sangat dijaga ketat oleh para petugas kepolisian. Pemeriksaan, pemeriksaan dan pemeriksaan dimana-mana. Inilah tindakan percegahan dari pihak keamanan.

Saat ini aku menandakan tempat ketiga, di sebuah bangunan apartement, dilantai tiga gedung itu, tempat yang strategis untuk mengintai dari jauh. Setelah aku menghitung jarak dan sudut tembak, akupun bergegas meninggalkan tempat itu. Hingga aku berpapasan dengannya lagi, Kang Jiyoung.

Jiyoung hanya tersenyum simpul, ia terlihat sibuk dengan walkie-talkie nya. “Sibuk? Tuan Sungyeol-ssi??” dari nada suaranya serta tatapan matanya aku mengerti kalau dia sedang mengejekku, mengejek karena aku ingkar janji dengannya tadi malam. “Ya… Maaf, semalam ada insiden…” ucapku sambil menunjuk ke arah kepala belakangku, masih ada kain kasa merekat.
“Wah.. Wah jangan bilang kau cekcok dengan pacarmu itu ya? Gara-gara ingin keluar denganku?”
“Pacar?”
Jiyoung tersenyum, “Ya.. Aku tahu dari Jinki-ssi kalau partnermu itu seorang perempuan kan? Pacarmu kan?” tanya Jiyoung sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Eh… Tidak bukan… Bukan kami belum pacaran…” ucapku menepis gossip itu.
“Ho… Belum? Berarti akan kan?” tanyanya semakin menggoda diriku.

pip.pip... “Jiyoung ssi disini sudah selesai, selanjutnya apa?”
“Ya.. Ya kalau sudah oke, kau segera…-” *bzzzt bzzt* ia sibuk kembali dengan komunikasinya, namun sepertinya walkie talkie itu kehabisan daya baterai.
“Ada yang bisa kubantu Jiyoung-ssi?” tanyaku kepadanya.
“Ah tak usah tak usah… Kau kembali bertugas saja…” ucap Jiyoung sambil memutar-mutar tombol di walkie talkienya.
“Anggap saja untuk menebus kesalahanku semalam karena ingkar janji…” ucapku menawarkan diri untuk membantunya.

Ia menatapku selama beberapa detik, kemudian tersenyum kepadaku.
“Hem… Lagipula… kapan lagi aku bisa menyuruh-nyuruh Field Agent, ya? Hehe… Kalau begitu bisa kau tolong ke mobilku yang berada di basement gedung ini? Ambilkan beberapa batu baterai 9V di jok penumpang…” Jiyoung pun memberikan aku sebuah kunci mobil, Mercedez-Benz.
“Baiklah…”
“Nanti kita bertemu dipanggung utama ya… Aku akan ada disitu… Oke? Terima kasih ya…” ucap Jiyoung kembali berlari dan meninggalkan aku seorang diri.

Gotcha! Kena kau, Shadow. Kau luput, kau malah memberikan kunci mobilmu kepadaku. Segera aku menuju parkiran basement untuk membuktikan hipotesaku. Namun parkiran apartement itu sedikit sepi dan yang kulihat di tempat ini hanyalah SLK 350 berwarna merah bukan SLS. Ketika aku menekan remote mobil itu. Din! Din! Aw man, SLK 350 itu yang bereaksi dan membuka pintunya.

Apa hipotesaku salah? Semua dugaanku meleset? Atau benar yang dikatakan oleh L? Kalau mungkin Shadow sudah lebih dahulu mengetahui rencanaku? Dia langsung mengganti mobilnya dan dengan sengaja memberikan kunci mobilnya agar aku terjebak? Namun aku tidak putus asa, setidaknya di dalam mobil itu Ku bisa menemukan sedikit bukti-bukti, misalnya Arbalest yang ia pakai atau botol-botol kecil dari serum yang dia pergunakan untuk membiusku atau bahkan kostum hitamnya.

Rasa pesimis itu kian membesar ketika aku mulai menelusuri seluruh isi mobilnya, tidak ada satu bendapun yang dapat membuktikan semua tuduhanku kepada Jiyoung, ya tidak ada sama sekali. Jika bukan Jiyoung, lantas siapa Shadow…? Tuduhan tersisa hanyalah kepada Sulli. Tapi apa mungkin petugas lab seperti dia itu?

===

Hokkaido
Japan
08.20
Sebuah gereja yang sebelumnya menjadi tempat pembunuhan Dr.Lee kini di datangi oleh L dan juga Sulli. Tempat itu terlihat sepi namun tidak ada penjagaan dari JIS. L bermaksud menerobos masuk ke dalam gereja, namun ia ditahan oleh Sulli.
“Menyelinap bukanlah cara yang baik untuk tempat kudus seperti ini… Biarkan aku yang mengurusnya…”

Dengan cara yang berbeda, Sulli terlebih dahulu mengunjungi ruangan kecil yang berada di samping gereja, ruangan untuk para uskup dan romo. Iapun berbicara kepada seorang penjaga gereja, entah apa yang dibacarkan Sulli dalam bahasa Jepang, yang jelas penjaga itu mau membukakan pintu gereja dengan senang hati.

Keduanya kemudian memasuki gereja,
“Kau melakukan kebohongan ditempat yang kau sebut kudus?” tanya L sambil tersenyum.
Ani, mana berani aku melakukan hal seperti itu… Lagipula Kita sudah berjanji kan kepada diri kita, agar berkata jujur… Tadipun aku mengakui bahwa kita dari NICT.. Semula dia tidak mengizinkan lagi ada petugas berkeliaran dan menggangu ke sunyian tempat ini, namun ketika aku bilang kalau aku seorang jemaat gereja, dia mengizinkannya…”
L tersenyum lantas berkeliling sambil mengamati patung Pieta. Sulli bersujud memasang sikap berdoa di depan patung itu.

L kemudian berjongkok memperhatikan lantai gereja, ada sedikit bercak darah yang sudah kering disitu.
“Penembak ulung nampaknya, dia tidak menyia-nyiakan satu butir peluru dari senjatanya disaat menembak, dia mengincar jantung lawannya…” gumam L sambil tersenyum kecut.
Sementara itu Sulli menyelesaikan doanya dan ia menemukan sesuatu dibalik kotak yang berada dimeja tempat ia bersujud dan berdoa. Sebuah USB flashdrive. “L…!?” ucap Sulli perlahan sambil memperlihatkan USB Drive itu kepada L.

08.35
L dan Sulli keluar dari dalam gereja dan segera kembali menuju mobil sewaan mereka. Sulli langsung mengeluarkan laptopnya dan membuka isi dari flashdrive itu. Namun rupanya flashdrive itu dilindungi dengan sistem pengamanan.
“Sudah pasti milik Dr.Lee…” gumam Sulli.
“Selama dua hari bertutut-turut menurut laporan, ia berdoa ditempat itu mungkin saja ia sengaja meninggalkan flashdrive ini disitu… Mungkinkah? ada back-up data… Di dalamnya?” ucap L.
“Mungkin saja dia juga merasa aneh dengan JIS atau komplotan itu sehingga ia menyiapkan rencana cadangan jika ada yang mencuri darinya…”
“Sull, bisakah kau krimkan data itu ke markas? Minta SeoHyun membongkarnya?”

Sulli mengangguk “Sedang kucoba kirim ke markas…”

===

10.15
Haeundae Beach
Matahari semakin tinggi dan memanas. Prakiraan cuaca untuk benerapa hari kedepan akan sebaik saat ini. Pantai Haeundae sudan ditutup untuk umum. Tidak ada lagi turis atau pelancong yang bermain-main dipantai. Beberapa tamu undangan juga sudah mulai berdatangan, membuat pengamanan disekitar hotel diperketat, beberapa wartawan media yang diundang pun sesungguhnya sedikit membuat ricuh pengamanan karena mereka akan melakukan tindakan apapun demi bahan berita mereka, ya mata pencaharian mereka juga sih.

Aku duduk dipinggiran pantai, diatas bebatuan sambil memandang ke garis horizon. Bumi begitu luas sampai-sampai aku hanya bisa melihat garis saja diujung sana.
Dan… seharusnya aku kembali ke dalam kamar hotel saja daripada memilih mati terbakar panas matahari seperti saat ini. Namun jika aku berada di dalam kamar hotel pasti aku akan mati frustasi karena Jiyoung bukanlah Shadow yang selama ini kucurigai.

“Yah!…” seseorang menyenggol tubuhku dengan kakinya. Lantas orang itu segera duduk disampingku di bebatuan yang panas.
“Aigoo yah… Panas sekali… Ngapain kau disini? Berjemur hah? Mau buat kulitmu menjadi tanning?” ucap Krystal yang memakai topi dengan caping besar dan kacamata hitam.
“Pssh… Ada turis dari Jepang ya?..” Ledekku saat melihat penampilannya.
“Tidak pernah belajar ya? Matahari di kawasan subtropis tidak terlalu menyengat seperti di khatulistiwa… Jadi kulit kita tidak akan tebakar gosong seperti yang kau bayangkan…” tambahku kepadanya.

“Ah sok tahu kau Yeol! Ya mau tidak mau… Aku harus menjaga tubuhku agar tidak terlihat gelap esok hari…” jawab Krystal sambil meminum dari kaleng cola dingin yang ia pegang sedari tadi.
“Tubuhmu? Besok? Memangnya kau mau melakukan apa? Bukankah kau akan membaur di antara tamu…?” tanyaku keheranan.
“Ya begitulah… Kau akan melihatnya besok… Hehe…” ia tertawa dan merahasiakan sesuatu dariku, menarik ia ingin bermain-main denganku rupanya.

Anyway… Yang lain sedang melakukan apa ya di Seoul?” tanyaku sambil memandang ke langit luas.

===

10.20
NICT Agent Room
SeoHyun menggaruk-garuk kepalanya. Ia terlihat stress. Ia menyeka wajahnya, kemudian meraih gelas air minumnya dan ternyata airnya telah habis.
“ERGHHH!” gerutu SeoHyun. Dilayar komputernya ada banyak kombinasi kode dan angka yang membuat kepalanya panas.
“Hey… hey… tenanglah sedikit…” ucap Kyu yang datang membawa sekaleng kopi dingin untuk SeoHyun.
“Bagaimana aku bisa tenang? Sudah mau dua jam, tetapi Encrypt Data 128-bit ini mau membuatku gila… susah sekali untuk ditembus…” ungkap SeoHyun yang memundurkan kursinya dan menerima minuman dingin dari Kyu.

“Lalu… apa kau menyerah?” tanya Kyu sambil tersenyum dan menarik bangku milik L yang letaknya tak jauh dari SeoHyun.
“Aku tidak menyerah tapi nampaknya ada sesuatu yang kurang… dari data-data ini…”
“Kurang? Maksudmu? Tidak lengkap? Sehingga data-data itu corrupt…?”
“Bukan-bukan itu… maksudnya, susah sekali dibongkar karena sistem operasinya berbeda dengan yang kita pakai… mungkin butuh sistem operasi khusus…” ucap SeoHyun sambil mengigit ujung sedotannya.

KRING… sebuah panggilan masuk ke dalam komputer SeoHyun.
“Ya.. L-ssi” jawab SeoHyun menjawab panggilan masuk.

10.20
Otaru – Hokkaido
Japan
“Bagaimana? Apa isi dari data-data itu?” tanya L kepada SeoHyun.
“Belum… belum bisa kubongkar… maafkan aku…” ucap SeoHyun ditelefon, L sedikit kecewa mendengarnya.
“L-ssi bisakah kau menyelidiki sesuatu lagi? Mungkin kau bisa mencari sistem operasi (OS) dari komputer milik Dr.Lee kurasa data ini hanya bisa dibuka dengan sistem operasi khusus…” ucap SeoHyun.
“Baiklah… aku akan segera menginformasikannya lagi nanti…” ucap L.
Sulli dan L berada dijarak dua ratus meter dari sebuah villa, nampaknya villa itu adalah tempat yang dipakai Dr.Lee saat ia bersembunyi.

“Mau tidak mau aku harus menyelinap masuk ke tempat itu…” ucap L menunjuk villa tu, di depannya ada dua mobil SUV terparkir, mobil berwarna hitam. Nampaknya mobil itu milik anggota JIS yang masih berjaga di villa itu.
CKLEK! L mengisi peluru di senjata handgun-nya, “Kau tunggu disini… jemput aku jika aku sudah selesai dengan urusan di dalam sana…”
“Aku ikut denganmu…” ucap Sulli.
“Tidak… jangan… cukup aku saja… jika JIS menembak mati aku maka akan terbukti ini adalah konspirasi mereka, berarti kau yang nantinya harus melaporkannya kepada Kangta…” ucap L sambil membuka pintu mobil.

“Hati-hati…” ujar Sulli.

L berlari melalui semak belukar, villa itu berada di puncak sebuah bukit.

Sulli terdiam di dalam mobil, seakan dia sedang memikirkan sesuatu. Lantas ia berpindah ke tempat pengemudi dan menyalakan mobil itu.

Dengan mudah L melompati pagar kawat dan tiba di pekarangan villa itu. Iapun langsung mengendap-endap melewati pekarangan dan bersembunyi dibalik tembok villa. Ia melihat keadaan di depan villa. Dua kendaraan SUV masih ada ditempat itu. Namun beberapa saat kemudian terdengar hiruk pikuk orang-orang dalam berbahasa Jepang, yang kemudian memasuki salah satu SUV itu. Berkuranglah penjagaan ditempat ini, pikir L. Lantas L pun memutar dan menuju pintu belakang villa itu, namun pintunya semua terkunci dengan rapat.

Ia harus mencari celah lain agar bisa masuk ke dalam, kendati jendelanya tidak memiliki tralis besi, dia tidak mungkin memecahkan kaca karena bisa menimbulkan kegaduhan.

L melihat ke lantai dua villa, ada sebuah jendela yang terbuka disitu. Ia segera memanjat tembok dan ia melompat hingga meraih pagar besi balkon lantai dua. Ia bergelantungan dan berpijak pada sebuah genting kayu. Namun genting itu tidak kuat menahan tubuh L.
PRANG!!!!

Salah satu dari tiga orang yang berpakaian formal agent, segera berlari menuju pekarangan tempat genting itu jatuh. “Ah hanya genting…” ucap pria itu sambil menoleh ke balkon dan dia tidak mendapati L yang sedang bergelantungan.

Tentu saja L telah tiba di balkon lantai dua dengan selamat. Iapun mencoba membuka pintu balkon, namun terkunci juga. Mau tidak mau ia harus berakrobat sekali lagi guna masuk ke dalam ruangan dengan kaca yang terbuka itu. Ini juga pertaruhan, bagaimana jika ada orang di ruangan dengan kaca yang terbuka itu? Lantas L menguatkan tekatnya dan segera berjalan menelusuri jalan setapak yang lebarnya hanya sebesar lebar satu buah telapak kakinya. Tiba di dekat jendela itu, ia mendengarkan terlebih dahulu ruangan itu. Iapun menendang perlahan kusen jendela. Tidak ada respon, berarti ruangan itu benar-benar kosong.

L melompat masuk ke dalam ruangan. Ternyata sebuah kamar. Namun nampaknya hanyalah kamar tidur biasa. Tidak ada tanda-tanda yang menegaskan kalau itu kamar kerja. Dengan segera L mengendap-endap menelusuri beberapa ruangan di lantai dua.

Hingga ia masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup besar dan berantakan. Ada kertas-kertas blueprint berserakan dan file-file lainnya, bisa dipastikan ini ruangan kerja Dr.Lee. Iapun segera menyelidiki komputernya. Betul saja cpu itu telah terbongkar, tidak ada harddisknya sama sekali. Seakan L menambah-kacaukan ruangan itu, ia mencari-cari sesuatu ditempat itu.

L memeriksa laci demi laci, namun semuanya hanyalah gambar-gambar dan tulisan saja. Sampai ia membuka sebuah rak dengan pintu yang digeser. Ia hanya mendapati ada sebuah cermin di dalamnya. Iapun menutup kembali pintu itu. Namun ia segera membuka kembali pintu itu, karena ia melihat sesuatu dibalik pintu geser itu. Ada sesuatu yang ditempelkan dibaliknya. Sebuah DVD. Ada tulisan H.O.S di DVD itu. “Hyper Operating System?” gumam L.

Drap-drap-drap derap langkah menuju lantai dua. Celaka! L sudah tersudut!

KLEK!!! Dua orang penjaga tempat itu memeriksa keadaan kamar itu. Keduanya memeriksa dengan seksama.
“Aku rasa ada sesuatu disini…” ucap salah seorang pria penjaga itu, ia menyadari ruangan itu lebih sedikit berantakan dari sebelumnya.
L saat ini sedang bersembunyi di dalam lemari pakaian. Ia menahan nafasnya dan tangannya dengan cepat menuliskan pesan kepada Sulli.

“Now”

Sulli mendapatkan pesan itu, ia langsung mengendarai SUV Mitsubishi Pajero berwarna putih menuju villa itu.

BRUAK!!!! Saat salah seorang mencoba membuka lemari tempat L bersembunyi. L menendang pintu itu hingga membentur ke wajah pria itu dan L berlari menuju jendela DOR!!! DOR!!! sambil menembak jendela itu hingga pecah dan ia melompat.
Saat yang bersamaan pria yang kedua refleks mengarahkan senjatanya dan menembaki L. DOR!!! DOR!!!

BYUR!!!! Perhitungan tepat L, ia melompat terjun bebas ke kolam renang. DOR!!DOR!!!! L masih diincar, iapun berenang di dasar kolam renang, dia langsung keluar dari dalam kolam sambil memegangi lengan kanannya.
Pria lain yang berada dilantai satu mengincar L, sebisa mungkin L tidak melakukan kontak mata dengan mereka, karena mungkin saja wajahnya akan dikenali. DOR! DOR!!! Beberapa peluru diarahkan kepada L namun tidak mengenainya.

BRUMMMM!!!! SRAAKKKK!!!! Saat L tiba dijalanan depan Villa itu, ia hampir tertabrak dengan mobil yang dikemudikan Sulli. Untung saja Sulli menginjak rem tepat waktu. L langsung masuk ke dalam mobil. “Gaya mengemudimu buruk!” ujar L yang basah kuyub dan Sulli kembali menancap gas menjauhi villa itu terlebih dahulu.

“Ambil mobil… ambil mobil! Kejar mereka!!!”

10.25
Akhirnya Sulli berhasil meloloskan diri dari kejaran petugas JIS.
“H.O.S…” ucap L sambil memberikan DVD yang dia ambil.
“Mungkin ini yang diinginkan SeoHyun…” ucap L sambil menahan rasa sakitnya.
“Lalu kita kemana sekarang?”
“Sa… Sapporo… kita terbang langsung ke Korea…” rintih L.

“Sull… kalau bisa kita berhenti dahulu… na..nanti…” ujar L sambil mengunjukan lengan kanannya yang mengucurkan darah, sebuah peluru bersarang di dalam lengannya.

===

17.32
NICT Main Room
“L! Sulli??” ucap Kyu ketika ia melihat keduanya tiba di dalam lorong NICT.
“Kyu… tangkap ini berikan ke SeoHyun…” ucap L dengan suara parau dan melemparkan DVD yang berada ditangannya.
Sambil membantu L berjalan, Sulli mengarahkan L ke ruangan Lab.

Kyu pun langsung berlari menuju Agent Room, dia tidak mendapatkan SeoHyun disitu, namun ia langsung sigap memasukan DVD itu ke dalam komputernya. Ia melakukan booting dan segera masuk ke dalam sebuah sistem operasi baru. H.O.S Hyper Operating System.

“Ada apa sih oppa?” tanya SeoHyun yang baru saja tiba kembali ke dalam Agent Room. Kyu langsung melotot ke arah SeoHyun yang memanggilnya ‘Oppa’. “Ah maaf, Kyu…” ralat SeoHyun.
“Seo, dimana data USB nya? Sepertinya L mendapatkan barang yang kau inginkan…” ucap Kyu.
SeoHyun kemudian memberikan data USB itu.

TERBUKA! Mata Kyu dan SeoHyun melototi layar yang berada di depan mereka.
Data yang terproteksi itu dengan mudah terbuka oleh HSO.
“Data ini bukan data blueprint atau catatan… ini adalah program…” ucap SeoHyun kemudian ia memilih-milih opsi menu di program tersebut.

“Data pada komputer bila dicuri dan dibuka pada komputer lain akan menyebarkan exploit yang dimana akan mengirimkan signal kalau data itu itu dibuka dimana melalui program ini.. aku telah memastikan bahwa yang membuka program ini adalah NICT” ucap SeoHyun membaca pesan yang ada di dalam program itu.

SeoHyun kemudian melirik Kyu, “Berarti kita tetap harus mencari data yang hilang itu…” gumam Kyu, SeoHyun pun mengangguk.

===

22.30
Busan Westin Chosun Hotel
Suite Room
Sementara orang-orang yang berada di panggung bawah mulai rehersal aku malah diam di dalam kamar sambil memandang ke arah bawah. Sendirian di dalam kamar hotel sungguh membosankan. Aku berpisah dengan Krystal beberapa jam yang lalu, dia bilang dia akan memulai tugasnya, namun hingga kini ia belum kembali ke kamar.

CKLEK! Ada seseorang yang membuka pintu. Krystal kembali ke dalam kamar dengan kepala yang tertunduk. Ia segera melepaskan flat shoes nya dan membanting tubuhnya ke atas ranjang.
“HYUH!!!” ucapnya dnegan kencang sambil menghelakan nafas.
“Kenapa? Pulang-pulang kenapa seperti itu…?”tanyaku sambil menyentuh kakinya dengan kakiku.
Ia merubah posisinya, yang sebelumnya tengkurap, langsung duduk sambil emnatap ke arah televisi.
“Menyebalkan… sungguh menyebalkan… kalau bukan orang yang harus kulindungi, mungkin sudah kuhajar kali orang itu…” gumamnya dengan kesal.
“Ya sudah mandi sana mandi… lalu kita cari makan, bagaimana?”
“Aku tidak nafsu makan, Yeol…” ujarnya langsung menuju kamar mandi.

23.45
Nasib-nasib, kemarin malam aku bisa tidur dikasur empuk karena pingsan, kali ini tidak, atas kesadaran sendiri aku tidur di bangku sofa. Membiarkan Krystal tidur sendirian diatas ranjang. Ia terlihat lelah dan kesal karena tugasnya hari ini. Aku enggan menanyakan lebih jauh apa tugasnya, nanti saja jika ia ingin bercerita.

“Yeol…” ucap Krystal.
Aku terdiam sesaat, mataku memang sudah menutup tapi aku masih terjaga. Krystal, lagi-lagi mengigau?
“Yeol… sudah tidur ya? Padahal kau tak perlu tidur di sofa… tidur saja disampingku…” ucapnya
“PFFT… benar nih boleh?” ucapku sambil menoleh dan memeletkan lidahku ke arahnya.
“Ikh!! Dia masih bangun!!” ucap Krystal melotot ke arahku.

“Ya sudah sini tidur disini saja… toh kemarin malam saja kita tidur satu ranjang kan?” ucap Krystal.
“Asal otakmu jang-“
BRESHHH! Aku melompat sambil memegang bantalku, melompat seperti anak kecil dan langsung terlentang di sisi kirinya.
“Asal otakmu jangan mesum saja…” ucap Krystal menuntaskan ucapannya.
“Me…memangnya aku mesum?” ucapku langsung berbalik ke arahnya sambil tersenyum lebar.
“Tuh kan matanya dan senyumannya mesum lagi!” Krystal memukul wajahku dengan bantal.
“Sudah ah tidur… besok subuh kau harus bangun dan menjemput DongHae serta Amber kan?”

Lima menit berselang aku masih memperhatikan dirinya yang sudah memejamkan matanya,
“Yeol… apaan sih? Mau kutendang lagi? Kenapa memperhatikan aku? Ada jerawat memangnya?”
Krystal pun membuka matanya dan menatapku dengan kesal.
“Tidak… kau cantik sih… ” ucapku perlahan-lahan.
Diapun terdiam sesaat, “Yeol…?”

Entah ada setan atau daya medan magnetis apa yang membuatku semakin mendekati dirinya, mendekatkan wajahku ke wajahnya, aku ingin sekali menciumnya. Kumiringkan sedikit kepalaku agar hidung kami tidak saling membentur. Dirinya pun tidak bergerak perlahan-lahan ia menutup matanya seakan ia memang menantikan ciuman ini. Dengan segera, bibir kami akan segera bersentuhan.

Namun tiba-tiba,
“MAAF!!!” kedua tangannya mendorong tubuhku agar tidak mendekatinya lagi. Iapun segera membalikan badannya.

Sementara aku langsung memukul-mukul dahiku. Astaga! Lee Sungyeol! Apa yang kau lakukan hah? Kau terkena setan apa hah? Kenapa kau berniat menciumnya? Astaga! Matilah… matilah…

“Yeol… maaf ya… aku-aku belum bisa…” ucapnya perlahan sekali.
“Maaf… L… L masih terbayang di benakku…” ucapnya lagi.

Ternyata aku terlalu cepat. Dipikirannya masih ada L. Mungkin saja tadi itu ia teringat dengan L. Bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan. Tidak mudah baginya untuk melupakan seorang pria yang berkesan untuknya, ditambah lagi yang menyeret dia sampai ke NICT.

“Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku lancang Krys…” ucapku sambil menghelakan nafas, mengumpulkan kesadaranku dan merubah posisi tidurku.

Akhirnya malam itu dilewati dengan suasana canggung setelah gagalnya peristiwa itu. Tanya peristiwa apa? Ya itu aku gagal mencium Krystal!

NEXT day
05.45
Busan Westin Chosun Hotel
Amber dan DongHae tiba lebih cepat dari perkiraanku. Aku segera mem-briefing mereka mengenai misi kali ini. Kami bertiga akan berada di tiga titik berbeda, masing-masing sudah kutentukan kemarin. Kami bertiga akan mengawasi seluruh tamu yang akan berdatangan sejak acara ‘Red Carpet’ dimulai. Yakni dari jam enam sore. Namun dimulai dari siang hari kami bertiga akan mengawasi keseluruhan venue secara bergiliran. Pengawasan kami juga akan diintensifkan kepada Eric.

“Eh Yeol… kalian berdua tidur seranjang dong?” bisik DongHae ditelingaku.
“Hah? Memang kenapa? Iri?”
“Wi..wih… Amber… you hear that? Wohoo…” DongHae menepuk-nepuk bahuku.
“Terus? Teruss?” DongHae semakin heboh.
“Terus apanya?” aku bingung.
“Malam pertama gimana Yeol? Ehehe…” senggol Amber.

“Malam pertama? Umh… berdarah…” ucapku cepat.

“WHATTTT!??!!” jerit Amber dan DongHae histeris sampai-sampai keduanya jadi pusat perhatian dari panitia acara.

“Hish… kenapa jerit-jerit begitu sih?” ucapku sambil melototi mereka berdua.
“Yeol… yeol… kau memang penjahat ya…” ucap Amber mulutnya mengangga dan memandang diriku sedikit jijik.
“You’re really a man! Yeol! I’m so proud of you!” ucap DongHae sambil menepuk bahuku.

“Heh? Kalian pikir apa sih? Malam pertama tuh si Krystal menendang aku sampai-sampai kepalaku terantuk ujung meja dan berdarah… nih lihat!” aku menunjukan luka dikepalaku sudah dilepas kasanya namun masih memerah.
Kemudian Amber dan DongHae melongo mendengarkan penjelasanku.
“Wae? Kalian pikir aku macem-macemin si Krystal?”

“Ah… uh…ah bukan begitu…” keduanya menghindari kontak mata denganku.

===

19.15
Sudah sekitar tiga belas jam aku meengamati jalannya acara dan terus mengintip dari balik viewfinder senjata. Bergantian berjaga dengan Amber dan DongHae selama beberapa jam. Kali ini para tamu undangan sudah berada di tempat acara dan akan segera masuk ke acara pembukaan.

Ergh sial, makanan lezat nampaknya sudah tersaji dimeja masing-masing tamu, ini sih Gala Dinner deh nampaknya. Beruntung sekali Krystal yang menyamar sebagai tamu disana dia mungkin bisa makan Roasted Duck ergh… sementara lambungku hanya diisi dengan Yakult dan roti saja semenjak pagi.
“Krys, seharusnya mengirimkan makanan untuk kita diatas sini…” ujar DongHae di alat komunikasi kami.
“Hae… Hae… lihat ada steak…” sambung Amber, kami bertiga sudah tidak fokus lagi, malah memperhatikan hidangan makan malam.

Dan ngomong-ngomong aku belum melihatnya dari tadi, dia menyusup diantara tamu kan?

KRING!! Handphone ku berdering cukup kencang.
“He…hey siapa itu yang tidak mematikan handphonenya?” tanya DongHae

“Halo…?” aku mengangkat panggilan itu, panggilan dari Krystal dan mengalihkan pandanganku sesaat dari Viewfinder.
“Dimana kau?” tanyaku bersamaan dengan Krystal.
“Eish seharusnya aku yang bertanya, aku sedari tadi mengawasi para tamu, tapi tidak bisa menemukan kamu dimanapun juga… kau menyamar jadi pelayan bagian apa?”
“Pelayan katamu? Tuan mata-mata coba kau lihat ke dekat pintu masuk, di antara meja kedua…”
Aku kembali mengintip kembali ke balik viewfinder ku. Mengarahkan ke tempat yang dimaksud oleh Krystal.

“I..itu kau? Yang memakai mini-dress putih…?”
“Memangnya siapa lagi? Kau dimana?”
“Apatement A… lantai tiga…” ucapku perlahan masih memperhatikan Krystal yang sangat anggun.
Iapun kemudian menoleh ke arahku dan memeletkan lidahnya dapat terlihat jelas sebab senjataku memakai Nightvision, bisa melihat dalam gelap. “Merong~”

“Aku menjadi escort-nya Eric… aku akan menemani dia sampai acara ini berakhir…”
Escort? Kau dalam penyamaran? Kau yang bertanggung jawab melindunginya kalau close-combat terjadi? Sangat berbahaya Krys!?” ucapku resah.

“Itu sebabnya aku ingin mengandalkanmu… tolong lindungi aku ya…” ucapnya sambil tersenyum dan mematikan panggilannya.

“P…pasti aku akan melindungimu…” ucapku perlahan, aku tahu panggilan itu telah dimatikan olehnya dan dia berjalan kembali mendekati meja Eric.

“Ah emh… ah… sepertinya aku baru saja mendengarkan drama Radio nih…hahaha….” ucap Amber.
Aku lupa DongHae dan Amber dapat mendengarkan percakapanku karena alat komunikasiku dengan mereka tidak kumatikan.

Belum kupindahkan viewfinder-ku, masih mengamati Krystal yang berjalan mendekati meja ditengah-tengah tempat acara. Meja Eric. Sesaat sebelum Krystal duduk, tangan kanan Eric memegang pinggang Krystal dan…
meremas bokong Krystal.

HERGH! Entah kenapa aku menjadi panas melihat pelecehan seperti itu, kalau dia bukan orang yang sedang dilindungi mungkin aku sudah tembak kepalanya. Selama berbicara dengan rekan lainnya, Eric merangkul badan Krystal. HERGH! Krystal kenapa kau mau diperlakukan seperti itu!? Kau itu bukan perempuan murahan seperti itu.

“Aha… ah… Yeol jangan panas yak… mau tidak mau Krystal seperti itu…” ucap DongHae di radio komunikasi.
“Tapi ga sampai diperlakukan seperti itu juga kali… itu pelecehan…” ucapku kesal.
“Yah, Yeol susahlah… pria tenar kaya… kalo ga homo ya bajingan…” tambah Amber seakan mengata-ngatai Eric.
“Masa sutradara terkenal kelakuan seperti itu? CIH…”
“Ya sudah cemburunya sudahan lah… selama belum ada penggangu, Krystal tidak akan mengunjukan siapa dirinya… itu sebabnya ia harus berpura-pura seperti itu…” ucap Amber dan aku pun berusaha MENERIMA-nya dengan berat hati.

Close-combat sih close-combat… tapi kalau begitu urusannya…

20.15
Stamina dan penat kami berada di penghujung batas kesabaran. Mata lelah sudah tidak terelakan. Selama beberapa puluh jam nutrisi kami juga tidak terasupi dengan baik. Alhasil kami bertiga sudah mulai tidak fokus. Kini aku beristirahat sambil menikmati dua potong roti, aku memperhatikan daftar acara malam itu.

SIUNG!!!! DORRR!! DORRR!!!
Seperti bunyi sebuah tembakan, membumbung dilangit luas. Membuatku yang sedang beristirahat menjadi siaga dan langsung menoleh ke arah langit luas tempat suara ledakan itu berasal. Ah, ternyata hanya kembang api. Aku kembali melanjutkan menghabiskan rotiku.
“Yeol! Aneh yeol… Panitia kenapa kebingungan? Sepertinya kembang api itu meledak sebelum waktunya.. Acara seperti terhenti…” ucap Amber di radio.
Sontak aku mengambil iPad dan melihat di dalam daftar acara yang diberikan Jinki.

Tidak ada daftar acara mengenai peledakan ke,bang api di udara. “Siaga!!” ucapku memberikan aba-aba kepada Amber dan juga DongHae. Seketika kami bertiga melihat ke venue, Krystal juga nampaknya menyadari keadaan ini, ia melirik ke segala arah. Mungkin saja kembang api itu adalah pengecoh kami semua.

===

Ada yang mencurigakan, beberapa pelayan terlihat mengenakan pita berwarna merah yang dibentuk menyerupai bunga di saku mereka, ya hanya beberapa dari mereka saja. Semula Krystal menduga itu adalah pelayan yang menyuguhkan minuman saja, namun nyatanya ada juga pelayan lain yang memakainya namun tugas mereka berbeda. Perbedaan kecil itu membuat Krystal was-was.
“Nona Krystal… Kenapa tegang begitu sih… Ayolah diminum dulu…” ucap pria bernama Eric, sutradara yang terlihat parlente dengan kacamata dan brewok tipisnya.
“Ah…ah ya…” namun Krystal hanya memain-mainkan gelas wine miliknya.

Bajingan tetaplah bajingan, Krystal tahu di dasar gelas miliknya ada dua tablet obat tidur yang sedang mencair dengan minumannya.

SIUNG!!!! DORRR!! DORRR!!!
Bunyi kembang api yang menggema di langit Haeundae, Krystal pun terkejut dan ia langsung menyiagakan dirinya. apa yang ditakutkannya menjadi nyata, pelayan yang memiliki bunga disaku mereka secara perlahan-lahan mendekat ke arahnya.
“Menunduk!” ucap Krystal sambil menarik tubuh Eric paksa dan menyeretnya untuk berjalan bersamanya.

PSIU! PSIU! PSIU!!!
Ada yang melepaskan tembakan ke arah Krystal. Namun karena ia bergerak tembakan itu melenceng dan mengenai tamu.

KYA!!! Satu teriakan ketika melihat pria yang rubuh karena peluru nyasar, membawa suasana acara dalam suasana Chaos. Semua berlari dan berasumsi kalau ada komplotan penembakan ditempat itu.

Keselamatan di utamakan, Krystal yang terus menyeret Eric berlari menuju pintu keluar dari tempat acara itu.
“Yeol, Ber, Hae apa yang kalian lakukan?? Apa kalian tidak menyadarinya…” Krystal membatin sebab posisi sniper seharusnya lebih menguntungkan dibanding dirinya.

===

Berapa? Berapa orang yang tadi melepaskan tembakan? Bunyi kembang api dan hiruk pikuk orang-orang membuat konsentrasi kami terpecah. “Yang tadi menembak adalah pelayan…” ucap DongHae yang ternyata sempat menyaksikan kejadian itu.
Ya, ya akupun sedang mencari yang mencurigakan diantara kerumunan masa yang kini berjalan mendekati pintu keluar yang kecil, bahkan beberapa diantara tamu yang ketakutan, merek melompati pagar dengan gaun dan jas mereka.

Petugas kepolisan sudah memasuki arena acara.

Ketemu! Beberapa orang pelayan dari berbagai sisi yang berjalan melawan arus, menuju Krystal dan Eric yang saat ini sedang berjalan menuju hotel.
“Tiga meter dari arah jam empat-nya Krystal… Pintu masuk hotel!!! Pelayan bersenjata!!”

PSIU!!!! PSIU!!!! Dalam hitungan detik, kami bertiga langsung menghadiahi para pelayan palsu itu dengan tembakan yang mengarah ke tangan dan kaki mereka hingga tiga orang itu lumpuh terjatuh. Namun kami hanya bisa melumpuhkan tiga dari beberapa orang itu. Sebab sisanya sangat berbahaya untuk kami serang, mereka dekat dengan tamu lainnya.

Sudut tembak kami sudah habis, tidak bisa mengarahkan ke dalam hotel yang merupakan sudut mati.

“Ber, Hae… Tetap diposisi pastikan venue aman!” ucapku yang langsung mengosongkan senjata dan meninggalkan senjata itu. Aku segera turun dari gedung apartement. Ini semua tinggal tergantung Krystal, apa dia cukup pintar mengamankan target. Namun aku tak bisa berdiam diri.

Para petugas kepolisian tidak menyadari apa yang sudah terjadi, mereka masih menyisir venue tanpa ada yang melakukan pengamanan di gedung hotel. Wajar jika mereka membutuhkan bantuan NICT ini adalah kasus yang mungkin diluar kapasitas mereka.

Saat aku berlari menuju gedung hotel, Aku berpapasan dengan Jiyoung dan seorang pria. “Jiyoung pinjami aku senjata!” ucapku dan Jiyoung langsung memberikan handgun dessert eagle miliknya, senjata yang hanya memiliki tujuh peluru tipikal revolver yang sangat berbahaya sebab bisa menembus dua tubuh manusia sekaligus.

Aku berasumsi pria berambut klimis itu adalah undercover agent NICT juga, rekan kerja Jiyoung yang menyamar dalam misi kali ini. “Kalian berdua… Tetap disini jangan sampai antek mereka ada yang masuk lagi ke dalam sini…”

Tapi dimana Kystal berada?

===

Empat orang dari mereka masih mengikuti Krystal yang kini berlari menuju restaurant hotel.
“Ada apa ini?” tanya pelayan restaurant yang diterobos oleh Krystal.
“SEMBUNYI! kalian semua sembunyi!!!!!” ucap Krystal
“Ada apa?”

DORRRR! Beberapa pelayan yang tidak mendengarkan Krystal pun terkena tembakan dan roboh. Staff restaurant lainnya melarikan diri ke dalam dapur.

Krystal langsung mendorong Eric untuk bersembunyi di bawah meja restaurant.
“Yah! apa-apaan sih?-“
“Berisik! tutup mulutmu…” ucap Krystal kepada Eric yang langsung terdiam mendengarkan kemarahan Krystal.
Krystal pun membuka tasnya, ada beberapa senjata di dalam tas itu. Dua buah handgun dan pisau.
“Pegang ini…” ucap Krystal memberikan handgun kepada Eric. Tangan Eric bergetar disaat menerima handgun itu.

“Si…siapa kau?” tanya Eric ketika Krystal bangkit berdiri.
“NICT Field Agent… Krystal!” ucap Krystal.

Krystal berlari mengalihkan perhatian, mencari tempat untuk menembak. Ia berlari mengitari seisi ruangan
DOR!!! DOR!!! ia melepaskan tembakan ke arah empat orang yang mengejar dirinya. Namun empat melawan satu bukanlah hal yang menguntungkan. Setelah melepaskan dua tembakan peringatan dan memecah formasi empat orang itu. Krystal bersembunyi dibalik pot tanaman.

Eric merangkak keluar dari dalam meja, ia hendak berlari menuju ke dapur. Padahal keadaan belum aman dan terkendali. Eric tidak mendengarkan ucapan Krystal yang menyuruhnya untuk bersembunyi dahulu selagi dia akan menghadapi empat orang yang mengejar mereka dan mengincar Eric.

“Bodoh…”

DOR…DOR…DOR!!! Keempatnya tentu saja langsung merubah sasaran tembak ke arah Eric yang berlari sambil merunduk. Sebetulnya memudahkan Krystal untuk menembak ke arah keempatnya namun prioritas utama ia adalah Eric, nyawa dari Eric.

Beruntung tidak ada satu peluru pun mengenai Eric ia berhasil masuk ke dalam dapur restaurant. Begitu juga dengan Krystal yang mengikutinya dari belakang.
“YAH!” jerit Krystal langsung mendorong tubuh Eric hingga membentur meja dapur dan menjatuhkan beberapa piring serta perlatan dapur lainnya.
“Kenapa kau keluar hah???” pekik Krystal.

“Habis kupikir… kupikir sudah aman… makanya..-.”
Krystal mendengus, “Kau kira ini seperti di film-film hah? dengar, mulai saat ini… ikuti saja apa kataku…” ucap Krystal.
“Kenapa aku harus mengikuti kata-katamu!? Apa pula itu NICT!?” Eric sengit karena perlakuan Krystal.
“Berisik! bahas nanti saja!” ucap Krystal sambil membalikan badan dan mengarahkan senjatanya ke pintu masuk dapur.

DOR!! DOR!!! DOR!!!!
Keempat orang itu tidak menyerang langsung. Mereka menembak pintu dapur, membuat Krystal melompat sambil mendorong tubuh Eric ke lantai. “Kau sembunyi!” ucap Krystal sambil menunjuk ke sela-sela lemari pendingin. Eric menurut ia pun bersembunyi disitu, sedangkan Krystal mengendap-endap sambil tetap berjongkok.

Suasana dapur yang sebelumnya ramai dengan para chef dan pelayan yang bersembunyi kini menjadi sunyi ketika tembakan dari para penjahat itu mengvhancurkan pintu dapur. Para Chef dan pelayan bersembunyi dengan berjongkok seperti yang dilakukan Krystal.

Krystal harus mengurangi kontak senjata sebab banyak orang lain ditempat ini, ia tidak ingin ada korban jiwa lainnya karena hujan peluru. Iapun menarik pisau yang ia sembunyikan di pahanya.

DRAP! GREKKK! Dua dari empat orang itu masuk ke dalam dapur.
Krystal tidak menyia-nyiakannya ia langsung menancapkan pisau miliknya ke telapak kaki salah satu penjahat itu. “HUAHHHH!” jerit pria yang kakinya ditusuk pisau oleh Krystal.
DORRR! satu peluru dilepaskan Krystal menuju ke orang kedua, mengarah ke bahunya dan dua orang itu terjatuhb karena kesakitan. Krystal pun turut mencabut pisau yang ia tancapkan.

“Ada pintu keluar?” tanya Krystal kepada salah seorang pelayan.
“Lewat sini!” ucap Chef yang berdiri di depan pintu keluar.

Jalur evakuasi, semua berhamburan keluar dari dalam dapur, tiba di dalam loading dock yang menyatu dengan parkiran mobil. Eric dan Krystal berhasil melarikan diri melalui loading dock.
“Kita lari dengan mobilku saja!” ucap Eric.

===

Berpikirlah Yeol….
Orang seperti dia jika dalam keadaan terjepit dan membawa senjata pasti akan melawannya. Dia bukanlah orang bodoh yang akan berlari bersembunyi ke dalam sebuah kamar hotel maupun WC, sebab itu hanya akan membunuhnya diruangan sempit dan susah bergerak.

Restaurant! dia pasti kesana! Tempat yang lega dan juga bisa bersembunyi, ditambah lagi mungkin sepi pengunjungnya karena sudah larut dan sedang ada acara di pantai Haeundae. Tapi mungkin juga dia sudah melarikan diri melalui pintu lainnya.

“Hey! apa restaurant ada loading dock?” tanyaku kepada resepsionis hotel.
“Y…Ya ada… terhubung dengan parkiran basement…” ucapnya ketakutan karena melihatku membawa senjata.

Loading Dock?

“Onew-ssi bisa tolong kirimkan pengamanan ke pintu keluar basement parkiran…?” tanyaku kepada Onew di radio komunikasi.
“Onew-ssi…” namun tidak ada jawaban, nampaknya kepolisian sedang sibuk menangani trauma massa.
Akhirnya kali ini benar-benar menjadi misi dari NICT saja.

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berlari menuruni tangga menuju basement parkiran.

Busan Westin Chosun Hotel
Basement Level
20.35

Aku berpapasan dengan beberapa orang pelayan dan chef. Ketika kutanya, baru saja terjadi baku tembak di restaurant. Intuisiku nampaknya sangat jitu.

VROOOMMM!!! CKITTT!!!! Dor-dor-dor!
Bunyi mesin mobil disertai tembakan. Nampaknya ada sebuah mobil yang saat ini sedang diincar. Itu pasti Krystal dengan Eric. Jarak kami cukup jauh, lebih dari sepuluh meter, namun aku bisa melihat,

Audi R8 berwarna silver itu melaju sambil menghindari dua orang dibelakangnya. Mobil itu menuju pintu keluar basement, akupun segera berlari menuju pintu keluar.

Betul saja itu Eric dan Krystal… Namun nampaknya mobil sports itu enggan mengurangi kecepatannya. Akupun memikirkan cara gila, aku akan melompat tinggi untuk menghindari mobil dengan kecepatan sekitar 90 km/h di parkiran itu. Melompat sambil mengarahakan senjataku ke belakang mobil itu, untuk merubuhkan dua tikus yang mengincar mereka.

===

“Behenti!! Itu Sungyeol!!!” jerit Krystal namun raungan suara mesin mobil Audi R8 lebih berisik dari yang diperkirakan.
Eric menambah kecepatan dari Audi itu. “Berhentiiii!!!” jerit Krystal semakin kencang.

Namun Eric menduga Sungyeol adalah bagian dari orang-rang yang mengincar dirinya.

Sungyeol melompat tinggi untuk menghindari Audi R8 dan mengarahkan senjata miliknya ke belakang Audi R8.
KYA!!! brak bruk!!! Namun lompatan Sungyeol tidak seindah yang dikira, badannya menabrak atap mobil dalam kecepatan tinggi dan tubuhnya berguling-guling di udara sampai ia menyentuh lantai kembali dalam posisi tangan kirinya yang menumpu terlebih dahulu dan kepalanya membentur lantai.

“HUARGH!!!” teriak Sungyeol kesakitan. Namun tangan kanannya tetap mengarahkan senjatanya.

DHUAR!!! DHUARRR DHUAR!!! Dalam keadaan menahan sakit, Sungyeol menembak dua orang itu dan menjatuhkan mereka.
Mobil yang dikemudikan Eric pun berhasil keluar dari basement hotel dengan selamat.

Dua orang itu roboh begitu juga dengan Sungyeol.

Mata Sungyeol menatap ke arah Audi R8 yang sudah keluar dari parkiran. Namun kesadarannya menipis karena ia mengalami pendarahan di kepalanya. Perlahan-lahan pandangannya terlihat kabur.
“Krys…”

Aku… Berakhir… Sampai.. Disini…

=== continua ===

About these ads

9 thoughts on “Silver Bullet : Chapter 16

  1. mesum amat itu eric ,, -___-
    haduhhhhhh adegan kryseol yang di kamar itu di lanjutin kagak ya ??? #yadong
    di lanjutin / gak dilanjutin tetep so sweet dah
    merinding pake tancep piso segala ,,berrr
    ehh itu sungyeol … gak mati kan ???
    kagak mati ya ???
    puassss banget baca nya panjaaaangggg :D
    ayo update lagi yang lebih panjang #digiles
    tak tunggu ya :D

  2. Wuaaahhh rame rame! Kayak baca conan, FBI vs black organization! Wuaaahhhh! Bahasanya ga ribet terkesan santai tapi tetep serius~ next chapter next chapter sooner please XD padahal baru baca dari part 15, tapi ngerti aja tuh hahaha. Fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s