Yeoja apartment


cast : Donghae, Yoona, Heechul, Sooyoung
genre : Family, Friendship, Romance
author : Elfishysparkyu
rating : PG 15 *kira-kira, gak ngerti soalnya. Kedewasaan tidak bergantung usia*

*Aku lagi terbayang-bayang Donghae sebagai bad boy dalam sosok Sho Fuwa. Makanya saat otakku lagi sarap terciptalah ff nan gaje ini. Kalau terjadi sesuatu yang tidak beres pada yang masih dibawah umur jangan salahkan author. Salahkan noh Kyuhyun oppa. Loh??

Kalau author lain bilang ‘gak suka pairingnya jangan baca’ kalau aku ‘gak suka pairingnya baca saja, siapa tahu nanti jadi suka’
^__^
Intinya terserah ngeship siapa sama siapa. Yang penting berbeda-beda tetap sugen juga.
Okeh, daripada makin ngawur. Happy reading..

*

*

Dua pasang mata itu masih saling memejam dalam. Melalui hembusan nafas yang menyatu. Peluh yang saling membasahi. Mereka mencoba menyelami lubuk hati masing-masing. Perlahan bibir yang saling berpagut itu melepas pelan.

“Saranghae.” ucap Donghae lembut. Ia masih mendekap tubuh Yoona erat.

Yoona hanya terdiam. Perasaannya campur aduk saat ini. Malam ini, ditempat ini, ia baru saja menyerahkan segalanya pada namja yang sangat dicintainya itu.

“Apa sangat sakit?” tanya Donghae lagi.

“Ne.” Yoona mengangguk pelan.

Donghae mengecup bibir Yoona lagi. Kali ini hanya sesaat. “Apa seperti ini sakit?” tanyanya.

“Oppa..” Yoona memukul dada Donghae pelan. Ia tahu namja itu sedang menggodanya.

Donghae mengekeh kecil dan semakin mempererat pelukannya. Menjadikan benar tak ada jarak diantara mereka.

“Donghae oppa, jangan pernah meninggalkanku.” pinta Yoona kemudian. Setelah yang ia lalui ini ia sungguh takut jika itu terjadi.

“Yoong, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau tahu kenapa aku melakukan ini? Karena aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya.”

Yoona mengangguk dalam pelukan Donghae.

“Sudah sana pakai bajumu. Aku akan mengantarmu pulang.” perintah Donghae walau ia tampak enggan melepaskan dekapannya.

“Tapi lepaskan aku dulu.”

“Hmm, sepertinya aku berubah pikiran. Aku akan mengantarmu besok pagi saja. Sekarang telpon eommamu dan bilang kau menginap dirumah temanmu.” suruh Donghae.

“Donghae oppa.” desah Yoona manja.

“Kenapa? Ini sudah lewat tengah malam Yoong. Eommamu akan curiga kalau kau pulang selarut ini.”

“Baiklah.” seru Yoona akhirnya.

Ia mengambil handphone yang tergeletak tak jauh darinya dan melakukan yang disuruh Donghae tadi. Dipencetnya sebuah nomor dan segera ia tengah berbincang dengan eommanya.

“Sudah.” Yoona mengatupkan kembali handphonenya. “Donghae oppa, kenapa melihatku seperti itu?” tanyanya karena Donghae sama sekali tak melepaskan pandangannya.

“Maafkan aku Yoong.” bisik Donghae pelan.

Yoona menggeleng. “Anio oppa. Aku sama sekali tidak menyesal asal aku tetap bersamamu.” ucapnya yakin.

Ia tahu ini salah. Tapi cintanya yang begitu besar membutakan segalanya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Ternyata kau berani juga.” Heechul mengekeh sinis. Dilemparnya kunci ditangannya pada Donghae.

Donghae menangkap kunci itu. “Tentu saja, kau pikir aku akan kalah lagi darimu? Kau sudah pernah mendapatkan mobilku. Sekarang ganti aku yang mendapatkan apartmentmu.” ujarnya sambil memainkan kunci ditangannya.

“Berani taruhan lagi? Yang kalah harus memenuhi apapun permintaan yang menang.” tawar Heechul.

Donghae menaikkan sebelah alisnya. “Apa?”

“Putuskan Yoona.”

“Kau sudah gila? Aku tidak akan melakukan itu hyung.” ucap Donghae yakin. Setelah yang dilakukannya, ia tidak mungkin memutuskan Yoona begitu saja.

Lagi-lagi Heechul mengekeh. “Ingat, apapun permintaanmu. A-PA-PUN.” tegasnya.

“Terserah, aku tidak mau. Kau memang sudah tidak waras hyung.” tutur Donghae tak percaya, sepupunya Kim Heechul bisa berbuat hal gila itu.

“Bukankah permainannya sangat mengasyikkan?”

“Aku sudah memutuskan akan tetap bersamanya.”

“Kenapa? Kesepakatannya hanya jika kau bisa mendapatkannya kan. Dan sekarang, gadis sombong itu kini sudah berhasil kau taklukkan. Lalu apalagi? Apa kau tidak rela melepasnya?”

“Ne, sepertinya aku mulai mencintainya hyung.”

“Cinta?” entah kenapa kata itu langsung membuat Heechul terbahak.

“Aku serius hyung. Aku tidak akan meninggalkannya.”

“Ya sudah kalau begitu. Nikmati apartment barumu.” ucap Heechul sambil berlalu pergi.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Bagaimana, bagus kan?” Donghae menggandeng tangan Yoona memasuki apartmentnya.

“Ne, tapi kenapa harus pindah? Lalu rumahmu bagaimana?”

“Rumah itu terlalu besar. Aku malas tinggal sendirian disana. Di apartment lebih praktis kan. Lagipula kau tidak mau menemaniku di rumah itu makanya aku pindah saja.”

Yoona tersenyum kecil. “Eomma bisa membunuhku oppa.”

“Ne, aku tahu.” Donghae mengangguk paham. “Yoong.” panggilnya kemudian. Ia menarik Yoona mendekatinya. “Saranghae.”

Lagi-lagi membuat Yoona tersenyum sendiri. “Nado oppa.”

Ditatapnya Yoona lekat-lekat. Ia mulai tersenyum nakal.

“Kau mau apa Donghae oppa?” tanya Yoona. Ia mulai risih dipandangi Donghae seperti itu. “Aku tidak mau.”

Donghae langsung tertawa mendengarnya. “Kau pikir aku mau apa Yoong?” ia menyeringai menggoda.

Yoona seketika memanyunkan bibirnya. Ia jadi malu sendiri.

“Aku cuma mau memelukmu seperti ini.” Donghae lalu membenamkan Yoona dalam pelukannya. Sejenak kemudian melepaskannya lagi. “Dan aku ingin menciummu seperti ini.” lanjutnya beralih pada bibir mungil Yoona.

Yoona hanya menurut. Namun ketika ciuman itu semakin dalam, ia melepaskan dirinya. “Donghae oppa, katanya mau membersihkan apartment. Ayo kita lakukan sekarang.” ajaknya, ia mulai beranjak.

“Ne.” Donghae mengikutinya.

~

“Huh, lelahnya.” Yoona menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Bersih-bersih apartment itu cukup menguras tenaganya.

Donghae ikut menyesakkan dirinya disebelah Yoona, dekat sekali.

“Donghae oppa, geser.” pinta Yoona.

Tapi Donghae tetap tak bergeming dari tempatnya. Diraihnya tangan Yoona. “Yoong, kenapa kau mencintaiku?” tanyanya.

“Kenapa tanya begitu?”

“Jawab saja Yoong.”

“Aku juga tidak tahu oppa. Sebenarnya kalau boleh jujur kau itu bukan tipeku. Tapi saat aku berusaha menolak kehadiranmu, seperti ada tarikan kuat yang menarikku padamu. Entahlah, mungkin aku kena karma atau apa. Biasanya aku selalu menolak saat ada namja mendekatiku. Tapi padamu, rasanya aku tidak bisa lepas darimu.” tutur Yoona panjang lebar.

“Lalu kau sendiri, kenapa mencintaiku oppa?” tambahnya.

Sepertinya Donghae terjebak pertanyaan yang ia buat sendiri.

“Karena kau cantik.” jawabnya.

“Diluar sana banyak gadis yang jauh lebih cantik dariku.”

“Itu kan diluar sana, bukan urusanku. Yang penting gadis cantik yang aku miliki ini.” Donghae mencubit hidung Yoona pelan.

“Oppa..” protes Yoona.

Donghae terkekeh geli. “Yoong, kau tahu? Aku pernah tidak yakin untuk bisa mendapatkanmu. Dan kini saat kau sudah kumiliki, aku tidak akan menyia-nyiakan cintamu.” ujarnya, kali ini ia serius.

“Janji?”

Donghae mengangguk. “Ne, janji.”

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Aku kira kau mengajaknya tinggal bersamamu.” ujar Heechul penuh selidik.

“Dia tidak mungkin mau.”

“Kenapa?”

“Eommanya.”

Heechul tertawa mengejek. “Aku tidak menyangka gadis seperti Im Yoona ternyata penurut sekali pada eommanya.”

“Kenapa kau berkata seperti itu hyung?” Donghae mulai tersinggung.

“Tak apa.”

“Sepertinya kau masih dendam padanya karena dia menolak cintamu.” tebak Donghae.

Heechul menggeleng. Ia tidak terima dituduh begitu. “Tidak, aku hanya sedikit kesal padamu karena kau ingkar janji.” elaknya.

“Ingkar janji apa?” tanya Donghae tak mengerti.

“Taruhannya kan hanya untuk kau mendapatkannya. Tapi sekarang kau malah menjalin hubungan serius dengannya.”

“Soal itu? Maaf hyung, aku tidak bisa melepasnya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaganya.”

“Terserah kau saja.” ucap Heechul tak peduli. “Jaga dia baik-baik jangan sampai kau kehilangannya.”

“Apa maksudmu hyung?”

Heechul hanya menggedikkan bahunya sesaat. Ia tersenyum penuh arti. Namun sayangnya, Donghae tak mampu menangkap maknanya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Heechul mengitari seluruh ruangan apartment itu. Ia menemukan Yoona yang sedang memasak di dapur. Dan tampaknya gadis itu belum menyadari kehadirannya. Perlahan ia berjalan mendekat.

“Sepertinya kau sibuk sekali.” sapanya.

Yoona terperanjat kaget. “Kenapa kau bisa masuk? Donghae oppa tidak ada.” ujarnya. Jujur, ia sedikit takut.

Heechul malah tertawa sendiri. Dan itu membuat Yoona semakin kalut.

“Im Yoona, apa kau tidak tahu ini apartment siapa? Ini apartmentku. Sayangnya Donghae mendapatkannya setelah dia berhasil mendapatkanmu.”

“Apa maksudmu?” tanya Yoona bingung.

“Dia memenangkan taruhannya.” Heechul mengangguk-angguk.

“Ta.. taruhan?”

“Ne, jika dia berhasil mendapatkanmu seutuhnya, dia dapatkan apartment ini. Dan hasilnya?” Heechul menyeringai pada Yoona. Meminta Yoona untuk menjawabnya sendiri.

Membuat Yoona semakin gusar. Ia memang sangat bingung. Tapi sedikit demi sedikit ia mulai mengerti.

Ia mengangkat mulutnya hendak bicara tapi dikatupkannya lagi. Pikirannya benar-benar galau. Dan akhirnya hanya air mata itulah yang mewakili perasaannya.

“Aku bicara ini hanya untuk kebaikanmu. Supaya kau tahu kenyataan yang sebenarnya.” Heechul melangkah pergi meninggalkan Yoona dalam kekalutannya.

Dan Yoona semakin terisak disana. Kenapa rasanya begitu sakit, perih sekali.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Yoong, apa tadi Heechul hyung kesini? Apa kau bertemu dengannya?” tanya Donghae saat baru kembali. Ia bertemu Heechul dibawah tapi Heechul sama sekali tidak menegurnya.

Yoona tetap diam ditempatnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan. Gemuruh didadanya ingin ia luapkan semua. Tapi lidahnya terlalu kelu untuk berucap.

Donghae melangkah mendekati Yoona. Tapi Yoona segera menepisnya saat Donghae menyentuh tangannya.

“Yoong, kau kenapa?”

“Apa harga diriku seharga apartment ini?” bisik Yoona lirih. Dan ia sama sekali tak mau melihat Donghae.

“Maksudmu apa Yoong?” sebenarnya Donghae mulai gusar sendiri.

“Harusnya aku yang bertanya, apa maksud semua ini? Taruhan itu benar kan?”

“Itu aku bisa menjelaskannya.”

“Jadi benar kan?” tanya Yoona lagi, ia mulai menjerit kesal.

“Ne, tapi..”

Kalimat Donghae terputus karena Yoona sudah memotongnya cepat.

“Kenapa kau tega sekali? Saat aku sangat percaya padamu, ini yang kudapat? Aku sudah menyerahkan semuanya padamu, cintaku, hatiku, hidupku, bahkan tubuhku. Rasanya sakit sekali saat aku tahu kenyataannya kau hanya pura-pura.” Yoona terus saja menumpahkan amarahnya.

“Yoong, maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sungguh mencintaimu.”

“Mana aku tahu kau berkata jujur atau tidak.”

“Percayalah padaku Yoong.”

Yoona menggeleng, rasanya terlalu sulit.

Donghae hendak memeluknya yang menangis. Ia ingin menenangkannya. Tapi Yoona berontak dengan sekuat tenaga. Sepertinya ia benar-benar tidak ingin Donghae menyentuhnya. Ia terlalu muak.

“Aku rasa cukup sampai disini.” Yoona tampak sibuk menata helaan nafasnya yang tak beraturan. “Terimakasih atas segala rasa sakit yang kau berikan ini.” sindirnya.

“Maafkan aku Yoong.” ucap Donghae memelas. Tapi sepertinya sia-sia. Ditangkapnya tangan Yoona. Dan lagi-lagi Yoona melepasnya.

“Seandainya bisa, aku tidak ingin melihatmu lagi. Tapi sayangnya dunia terlalu sempit untuk kita tidak bertemu lagi.” dihembuskannya nafasnya berat dan disekanya air matanya pelan.

“Anggap saja kita tidak pernah saling kenal. Selamat tinggal.” Yoona melangkah mantap. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatinya saat ini.

“Yoong.” panggil Donghae lirih walau pasti tak ada jawaban. Ia tetap membatu ditempatnya.

~

“Aaaarrggg….. ” teriak Donghae kemudian. Ia hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada barang-barang disekitarnya. Vas bunga itu dibantingnya kasar hingga pecah berkeping-keping. Barang-barang di apartment itu ia obrak abrik sendiri. Dihempaskannya semua tanpa ampun. Ia marah, marah pada dirinya sendiri.

Hingga tanpa sadar ia sesenggukan pelan. Semua sudah berakhir. Tapi segera digelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Tidak, semua belum berakhir.” batinnya meyakinkan dirinya sendiri.

~

Sementara Yoona terus melangkah gontai disepanjang jalan. Entah sudah berapa kali ia menabrak orang yang lalu lalang. Ia seakan berjalan tanpa jiwa. Hanya raga itulah yang terus ia seret menjauh. Airmatanya terus menetes tanpa henti. Ia bahkan tak peduli pada berpasang-pasang mata yang memandangnya miris.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Apa yang kau katakan padanya?” amuk Donghae. Ia terus menghujani Heechul dengan pukulannya yang bertubi-tubi. Hingga namja itu babak belur tak karuan.

“Sebenarnya apa tujuanmu hyung? Kenapa kau melakukannya? Kau mau balas dendam pada Yoona? Kau mau menghancurkannya?” Donghae masih mencengkeram kerah kemeja Heechul kuat-kuat. Dan tak memberi kesempatan namja itu berbicara sedikitpun.

“Kalau kau menghancurkannya, itu sama saja kau menghancurkanku hyung.” teriaknya. Nafasnya tersengal-sengal menahan emosinya. “Aku kembalikan apartmentmu.” lanjutnya. Dilemparnya kunci yang ia genggam ke arah Heechul asal.

Tapi Heechul malah tertawa mendengarnya. Dilepaskannya genggaman Donghae dari kerah bajunya. “Justru itulah yang kuinginkan, kehancuranmu.” ucapnya tajam.

“Mwo?”

“Ne, memang kaulah yang ingin kuhancurkan.” jelas Heechul. “Kau tahu kenapa?” tanyanya.

Donghae hanya diam. Menunggu Heechul untuk berbicara lagi.

“Karena kita selalu menyukai gadis yang sama. Dan malangnya aku selalu kalah darimu.” lanjut Heechul. Matanya menerawang, entah apa yang ia pikirkan.

“Apa ini ada hubungannya dengan Jessica? Itu masa lalu hyung. Lagipula kita sama-sama tidak mendapatkannya kan. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.”

“Masalahnya saat itu dia lebih memilihmu. Tapi kau malah menyia-nyiakannya. Hingga dia pergi untuk selamanya.” Heechul memekik, mungkin ini terlalu perih untuk diingatnya.

“Aku melakukannya karena kau hyung. Aku tidak mungkin menyukai yeoja yang juga disukai sepupuku. Aku mengalah untukmu hyung.” Donghae ikut berteriak, sudah saatnya semuanya terungkap.

“Bodoh. Karena itu justru telah menyakitinya hingga akhirnya dia meninggal dalam kecelakaan itu.”

Donghae mengambil nafas sejenak. “Terserah kau menyalahkanku hyung. Yang aku tahu hidup mati seseorang itu takdir Tuhan. Lalu kenapa baru sekarang kau mempermasalahkannya? Kenapa tidak dari dulu? Dan kenapa harus melibatkan Yoona?”

“Karena kejadiannya hampir sama. Setelah sekian lama aku baru bisa menyukai seorang gadis lagi, Im Yoona. Dan lagi-lagi aku harus kalah darimu. Itu membuka luka lama.” jelas Heechul, masih tampak kepedihan dimatanya.

“Bukankah kau sendiri yang menyuruhku mendekati Yoona. Kau yang memulai taruhan itu hyung. Apa kau lupa?”

“Ne, itu kulakukan untuk memberi pelajaran padanya karena terus-terusan menolak cintaku. Kau tahu? Gadis itu terlalu angkuh. Aku sama sekali tidak dianggapnya. Awalnya aku memang berniat balas dendam padanya. Tapi aku tidak menyuruhmu untuk berhubungan serius dengannya. Karena itu malah membuatku sakit.” celoteh Heechul panjang lebar.

“Maaf hyung jika menurutmu aku egois. Kali ini aku tidak akan mengalah darimu. Terserah kalau kau menbenciku. Yang jelas, aku tidak bisa tanpa Yoona.” ucap Donghae yakin. Ia melangkah pergi. “Aku akan berusaha untuk mendapatkannya lagi.” lanjutnya tanpa menoleh.

Heechul tetap terdiam dalam kesendiriannya. Dipejamkannya matanya pelan. “Jessica.” rintihnya. Saat ini ia sungguh merindukan gadis itu.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Yoona membanting tubuhnya ke atas ranjang. Ia tak memperdulikan eommanya yang berkali-kali menggedor-gedor pintu kamarnya.

“Aku sedang ingin sendiri eomma.” ucapnya serak.

Dan sepertinya berhasil. Suara ketukan pintu itu kini tak terdengar lagi.

Yang jelas saat ini ia hanya ingin menenangkan diri. Hatinya benar-benar hancur. Mata yang sudah sembab itu pun tak kunjung menghentikan luapan airmatanya yang masih terus mengalir.

~

Setelah lebih 24 jam mengurung diri akhirnya Yoona keluar. Matanya tampak semakin sembab. Wajahnya yang pucat. Rambutnya yang acak-acakan. Sungguh terlihat berantakan.

Senyum lega langsung terpancar di wajah Sooyoung, eommanya.
Dituntunnya Yoona ke meja makan.

“Eomma sudah memasak makanan kesukaanmu, makanlah.” perintahnya.

“Aku tidak lapar eomma.”

Sooyoung mendecah sangsi. “Dari kemarin kau belum makan. Bagaimana bisa tidak lapar?”

Yoona menggeleng. “Aku tidak selera makan.”

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Pulang-pulang menangis, mengurung diri sehari semalam. Eomma sungguh tidak mengerti. Lihatlah, dirimu benar-benar kacau. Kau ada masalah apa?”

Lagi-lagi Yoona hanya menggeleng dan menaruh dagunya ke atas meja makan. Membuat Sooyoung jadi kesal sendiri.

“Tidak mau cerita juga tidak apa-apa.” desahnya. “Apa kau ada masalah dengan Donghae?” tebaknya.

Yoona hanya diam dan menghela nafas berat. Tentu saja eommanya langsung berpikir kalau tebakannya memang benar.

“Kalian bertengkar?” selidik Sooyoung.

Yoona malah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya lalu terisak lagi.

“Yoona, sebenarnya kau kenapa?” Sooyoung jadi panik sendiri melihat tingkah putrinya itu. “Atau jangan-jangan.. ” ia sibuk dalam khayalannya sendiri. “Jangan-jangan kau hamil.” pekiknya histeris.

“Tidak eomma, kenapa kau menuduhku begitu?” elak Yoona. Karena sesungguhnya tidak sejauh itu. Walau hubungannya dengan Donghae memang sudah terlalu jauh.

“Habis kau membuat eomma cemas. Tentu saja eomma jadi curiga. Benar kau tidak hamil?” selidik Sooyoung lagi.

“Ne eomma, aku benar tidak hamil. Hanya saja hubunganku dengannya sudah berakhir.” jujur Yoona akhirnya. Rasanya terlalu berat saat mengucapkannya.

“Mwo?” pekik Sooyoung tak percaya. “Bagaimana bisa?”

“Tentu bisa eomma. Orang menikah saja bisa bercerai apalagi pacaran. Aku sudah memutuskan untuk menjalani hidupku sendiri. Aku akan mencoba menjadi Im Yoona yang baru. Aku akan mengubur semua masa laluku dengannya.” tegasnya.

“Benar? Lalu kenapa kau menangis dan mengurung dirimu dikamar? Kau menyesal?”

Yoona menggeleng. “Aku cuma merenung eomma. Sekarang aku baik-baik saja. Semoga.” harapnya.

Sooyoung lalu menepuk-nepuk punggung putrinya itu. “Anak eomma harus kuat.” hiburnya.

“Pasti eomma.” kini Yoona tersenyum tipis. Walau sakit itu masih terasa.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Yoona melangkah ringan sekali. Rambut panjangnya kini telah ia potong sebahu. Hitung-hitung membuang sial. Ia mulai mencoba menjadi Im Yoona yang baru. Setelah seminggu tidak keluar rumah. Kini ia siap kembali ke kampus. Siap menghadapi dunia. Dan siap kalau seandainya bertemu namja itu. Lee Donghae, ah menyebut namanya saja ia sudah malas.

“Jaga jarak dariku 10 meter atau aku akan berteriak.” ucap Yoona tanpa menoleh. Ia tahu ada seseorang yang mengikutinya.

Tidak ada jawaban. Ia terus melangkah lagi. Dan orang dibelakangnya juga sama. Tetap mengikutinya dalam jarak aman.

Yoona mendudukkan dirinya dalam cafetaria. Rasanya tenggorokannya haus sekali. Dipesannya segelas orange jus dan langsung diteguknya pelan. Ia tahu kalau ada orang yang memperhatikannya sejak tadi tapi ia tetap tak peduli. Ia pura-pura sibuk berbincang dengan teman-temannya. Sesekali tertawa lepas mengisyaratkan tak ada beban dihatinya. Namun yang sebenarnya rasa sesak itu masih ada.

~

“Yoong, kau cantik dengan rambut barumu.”

Yoona masih tetap berjalan angkuh didepan sana tanpa menoleh.

Donghae melangkah menjejerinya. “Aku merindukanmu Yoong.” ucapnya.

Tetap tak ada tanggapan. Yoona sama sekali tak menggubrisnya. Seakan-akan tak ada orang disampingnya.

Donghae tak kehabisan akal. Ia beralih ke depan Yoona. Menghentikan langkah gadis itu. Dan berhasil, Yoona tampak kesal karena langkahnya tertahan.

“Ikut aku Yoong, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Yoona masih terus saja membisu. Jika cara seperti ini tidak berhasil, harus ada cara lain. Donghae meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat. Memastikan gadis itu tak bisa melepasnya.

“Apa yang kau lakukan?” teriak Yoona, akhirnya ia buka suara.

Kini giliran Donghae yang membisu. Ia terus menarik Yoona memasuki mobilnya.

“Lepaskan.. Lepaskan.. ” ia terus saja meronta. Tapi sia-sia, ia tetap kalah. Karena tenaga Donghae jauh lebih kuat darinya.

Mobil itu pun terus melaju. Melewati jalanan yang sangat Yoona kenal. Menuju rumah Donghae.

~

Donghae terus saja membawa Yoona memasuki rumah besarnya. Menariknya menaiki tangga dan menghentikan langkahnya saat memasuki kamarnya. Disini ia baru melepaskan tangannya.

Tempat ini, kamar ini, ranjang ini, tentu sudah tidak asing bagi Yoona. Dan itu semakin menambah sesak di dadanya.

“Kau mau apa?” Yoona memegang pergelangan tangannya yang sedikit sakit karena digenggam Donghae terlalu erat.

“Jangan terus bersikap seperti ini padaku Yoong. Jangan siksa aku seperti ini.” Donghae menatap Yoona lekat-lekat walau gadis itu memalingkan wajahnya.

Perlahan diraihnya dagu itu dan dipalingkan padanya. Didekatkannya bibirnya pelan, ia menciumnya sesaat. Dan harus diakui Yoona merindukan ciuman ini.

Tapi Yoona buru-buru tersadar. Ia tidak mau terhanyut lebih dalam lagi. Diusapnya bibirnya yang sedikit basah.

“Kau yang jangan menyiksaku. Bencilah aku, agar lebih mudah untukku melupakanmu.” pekiknya. Luka yang ia simpan rapat-rapat kini harus terbuka lagi.

“Maafkan aku Yoong, maafkan aku.”

“Anggap saja aku sudah memaafkanmu. Tapi tolong jauhi aku.” lagi-lagi Yoona memekik.

“Aku masih ingin menjagamu dan memilikimu Yoong.” diraihnya tangan Yoona. Kali ini dengan sangat lembut. Dan ia mulai berlutut di depan Yoona.

Yoona jadi risih sendiri. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya. Jujur, ia juga kaget dengan reaksi Donghae.

“Aku sudah mengembalikan apartment itu pada Heechul hyung. Aku tidak peduli dengan taruhan konyol itu. Apartment itu tidak sebanding jika untuk memilikimu. Bagiku, kau lebih berharga dari apapun Yoong. Aku mohon kembalilah padaku. Kita mulai lagi semuanya dari awal.”

Yoona menarik tangannya. Ia keluar dari kamar itu. Ia berlari dan terus berlari menjauhi Donghae. Ia takut, jika tetap disini hatinya bisa meluluh.

Dan Donghae tetap tak beranjak dari tempatnya. Ia tetap bertumpu pada lututnya. Kini ia mulai menangis.

Hanya Im Yoona, gadis pertama yang sanggup membuat seorang Lee Donghae menangis.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Dia terus saja menunggumu. Apa eomma bukakan pintu saja?” tanya Sooyoung. Diluar sana Donghae menunggu Yoona sejak tadi.

Yoona menggeleng. “Biarkan saja eomma.”

“Tapi diluar cuacanya sangat dingin.”

“Itu kemauannya eomma. Biarkan saja, nanti juga pergi sendiri.”

Sooyoung mendecah tak percaya. “Sebenarnya apa masalah kalian?” tanyanya walau pasti tak ada jawaban dari Yoona.

~

Yoona menyibak tirai jendela kamarnya. Ia mengintip dari sana. Dan ternyata Donghae masih ada.

“Apa maunya?” Yoona menggerutu sendiri. Dan ditutupnya lagi tirai biru lautnya itu.

Dua jam berselang. Lagi-lagi ia melakukan hal yang sama. Dan hasilnya tetap sama. Donghae tetap bertahan diluar sana.

“Kau bisa membuatnya mati kedinginan.” omel Sooyoung. Ia tak habis pikir dengan ulah putrinya itu.

“Eomma, kenapa menyalahkanku? Itu kemauannya sendiri kan.”

“Setidaknya keluarlah. Jangan buat dia menunggu. Kau tidak lihat dia sudah menggigil sejak tadi.”

“Baiklah.” ucap Yoona akhirnya. Ia malas mendengar ceramah eommanya. Tapi bukan itu yang membuatnya keluar. Ia punya alasan lain dan hanya ia yang tahu.

~

“Masuklah.” ucap Yoona datar.

Donghae menurut, sinar kelegaan terpancar jelas diwajahnya. Ia tersenyum manis walau Yoona mengacuhkannya.

“Ini karena eomma yang menyuruhku.” tegas Yoona.

“Kau ini bicara apa? Donghae, minumlah ini. Mungkin bisa sedikit menghangatkan.” Sooyoung datang dengan segelas coklat panas yang masih mengepul.

“Ne, terimakasih ahjumma.” Donghae mengambilnya dan meminumnya sedikit.

“Yoona memang keterlaluan membiarkanmu kedinginan di luar. Kalau ada masalah kan harusnya diselesaikan. Bukannya menghindar seperti itu. Iya kan?” ucap Sooyoung lagi. Itu terkesan menyudutkan Yoona.

“Aku juga berpikiran seperti itu ahjumma. Tapi sayangnya Yoongie selalu menghindariku.” tutur Donghae.

Dua orang itu terus saja saling berkeluh kesah di meja makan.

Yoona yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu hanya bisa cemberut kesal.

“Eomma, andai kau tahu semua yang dilakukannya padaku, kau pasti langsung berniat mencekiknya.” ucap Yoona lalu berlalu menuju kamarnya.

“Apa perlu aku menceritakan semuanya pada ahjumma?” tanya Donghae.

Yoona menghentikan langkahnya. “Kalau kau lakukan, aku yang akan mencekikmu.” ujarnya.

Donghae hanya tersenyum kecil. Sedangnya Sooyoung hanya geleng-geleng tak mengerti. Setidaknya ini sebuah kemajuan bukan.

~

“Yoong, aku mau bicara.” Donghae mengetuk pintu kamar Yoona pelan.

“Kenapa kau masih ada disini?” seru Yoona dari dalam kamarnya.

“Buka pintunya, aku rasa kita perlu bicara serius. Kita selesaikan semuanya Yoong.”

“Apalagi? Kau tahu, saat ini aku benci padamu.” tegas Yoona.

Donghae tidak menyerah. Ia duduk bersandar pada pintu itu dan terus bicara.

“Yoong, aku tahu aku salah. Tapi setidaknya berilah aku kesempatan kedua. Aku sungguh mencintaimu Yoong.”

Sementara didalam Yoona juga melakukan hal yang sama. Mereka saling bersandar hanya berpenghalang daun pintu.

“Aku tidak tahu kau berkata jujur atau tidak. Bisa saja kau membohongiku lagi.” lirihnya.

“Aku memang tidak tahu bagaimana cara meyakinkanmu Yoong. Harusnya kau bisa merasakannya sendiri, aku tulus mencintaimu atau hanya berpura. Aku yakin kau bisa merasakannya Yoong.”

Di dalam Yoona mulai menangis lagi. Ditahannya sekuat tenaga agar isakannya tak terdengar oleh Donghae.

“Yoong, apa kau rela semua yang telah kita lalui akan berakhir sia-sia?”

Kalimat Donghae itu semakin membuat airmata Yoona tak terbendung lagi. Ia semakin terisak dalam.

“Yoong, kau menangis?”

Yoona menghela nafas pelan. Berusaha menguatkan hatinya. “Ne, aku memang menangis. Makanya aku mohon pergilah. Jangan buat aku selalu menangisimu.” ujarnya.

“Yoong.”

“Pergilah.” bentak Yoona sekali lagi.

Kali ini Donghae menurut. Ia segera beranjak dari tempatnya.

Perlahan Yoona membuka pintu kamarnya. Tentu saja ia tidak menemukan siapa-siapa disana. Dan lagi-lagi hatinya terasa begitu perih. Ia mulai terisak kembali.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Ada apa menemuiku?” tanya Yoona acuh saat Heechul mendatanginya.

Heechul tersenyum, senyum yang sangat ramah. “Aku sengaja mencarimu.”

“Ada urusan apa?”

“Donghae akan pergi ke Shanghai. Dia akan pindah ke sana. Apa kau akan membiarkannya?”

Deg.. Harus diakui Yoona kaget mendengarnya.

“Itu bukan urusanku.” ucapnya pura-pura tak peduli.

“Kau akan menyesal jika membiarkannya pergi. Harus kuakui, cintanya padamu sangat besar. Dan aku rasa kau juga sama.”

“Kapan?” tanya Yoona kemudian. “Kapan dia pergi?”

“Hari ini, kira-kira 3 jam lagi pesawatnya akan berangkat.” Heechul melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.

“Biarkan saja. Itu bukan urusanku lagi.” ujar Yoona cuek. Ia melangkah pergi. Namun ada sesuatu yang sangat mengusik hatinya.

“Pikirkanlah baik-baik sebelum semuanya terlambat.” teriak Heechul.

Yoona tak menoleh, ia kalut dalam pikirannya sendiri.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Yoona terus saja mondar-mandir tak tentu arah. Pikirannya gusar, galau, campur aduk jadi satu. Sesekali melirik jam yang terpampang didinding rumahnya. Ia sungguh tampak gelisah.

“Kejar dia sebelum terlambat.” ucap Sooyoung melihat tingkah putrinya itu.

“Eomma, kau tahu?” tanya Yoona bingung.

Sooyoung mengangguk.

“Eomma…. ” Yoona malah cemberut sendiri.

“Kenapa? Ayo sana pergilah, atau kau akan menyesal seumur hidupmu.” tegas Sooyoung.

Yoona masih terpaku ditempatnya. Ia masih meragu. Dan itu membuat Sooyoung berdecak kesal.

“Apalagi yang kau pikirkan? Yoona, jujurlah pada eomma, kau masih mencintainya kan? Jawab pakai hati nuranimu.”

Yoona menggigit bibir bawahnya. Masih mencintainya??? Tanpa berpikir pun jawabannya tentu saja iya..

“Tunggu apalagi Im Yoona? Pergilah.” bentak Sooyoung, ia semakin kesal dengan sikap lambat putrinya itu.

Yoona tak menjawab tapi segera berlari ke kamarnya. Tak berapa lama ia keluar lagi. Lengkap dengan jaket, dan sepatu ketsnya.

“Aku pergi eomma.” pamitnya dengan tergesa.

Sooyoung hanya tersenyum melihatnya.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Taksi itu berhenti tepat didepan bandara Incheon. Yoona turun secepat kilat. Dengan tergesa ia masuk kedalam sana.

Ia berlari kesana kemari. Matanya menelusuri tiap orang yang dilihatnya. Tapi ia tidak menemukan yang ia cari.

Ia terus saja berlari tak tentu arah. “Donghae oppa, kau dimana?” desisnya sendiri.

Ia terengah-engah. Nafasnya tersengal-sengal. Yoona menunduk memegangi lututnya. Rasanya kakinya sudah lelah sekali.

“Yoong.”

Yoona mendongak. Apa ia sedang bermimpi? Karena matanya saat ini sudah berkunang-kunang tidak jelas.

Donghae langsung memeluknya menyadari reaksi Yoona yang hanya terpaku.

Yoona mengumpulkan segala kesadarannya. Dan ini bukan mimpi. Yang memeluknya memang Donghae. “Aku mohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku Donghae oppa.” ujarnya lirih dalam dekapan Donghae.

Donghae hanya diam masih memeluk Yoona. Tapi tersungging senyum dibibirnya.

“Kau tidak boleh meninggalkanku begitu saja. Setelah semua yang kita lalui, aku tidak mau semua berakhir sia-sia. Aku terlalu takut untuk kehilanganmu Donghae oppa. Aku tidak bisa memungkiri perasaanku bahwa aku masih sangat mencintaimu.” Yoona terus saja mencurahkan segala isi hatinya.

“Aku tak peduli walau kau sudah menyakitiku. Aku tak peduli seberapa dalam kau torehkan luka dihatiku. Aku tak peduli walau aku kau hargai sebanding apartmentmu. Karena aku sudah lelah menipu diriku sendiri. Saat aku berkata benci padamu, nyatanya aku masih sangat butuh cintamu oppa.” lanjutnya.

Donghae membelai rambut Yoona pelan. “Yoong, bagiku kau lebih berharga dibanding apapun. Lagipula siapa yang mau pergi? Yang pindah ke Shanghai kan Heechul hyung bukan aku.” ucapnya enteng.

“Mwo?” Yoona langsung melepaskan pelukannya.

Ia baru akan melancarkan omelannya tapi Donghae sudah lebih dulu mengunci bibirnya. Mereka berciuman ditempat itu. Ciuman hangat yang penuh kerinduan.

“Yah, apa yang kalian lakukan? Ini tempat umum.” seru Heechul.

Mereka sontak menghentikan ciumannya.

“Aku pergi. Maaf kalau selama ini aku sudah menyakiti kalian.” pamit Heechul. Diberikannya kunci apartmentnya pada Donghae.

“Apa ini hyung?”

“Apartment itu untuk kalian saja. Anggap saja sebagai hadiah dariku.”

Donghae dan Yoona saling pandang.

“Kabari aku kalau aku sudah punya keponakan. Karena kemungkinan aku akan mengejar gadis Cina.” lanjut Heechul, ia berbalik dan berjalan menjauh. Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.

“Terima kasih hyung.” teriak Donghae.

Heechul hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.

~ ~ ~ ~ ~ ~

“Yoong, temani aku tinggal diapartment ini. Menikahlah denganku.” pinta Donghae.

“Mwo? Jangan bercanda Donghae oppa.” Yoona tertawa mendengarnya. Ia tak percaya. Menurutnya itu hanya lelucon yang dilontarkan Donghae padanya.

“Aku serius. Menikahlah denganku Yoong.”

“Soal itu tanyakan pada eomma.”

Donghae mengangguk. “Baik, Sooyoung ahjumma pasti akan menjawab ‘iya’.” yakinnya.

“Yoong.” panggilnya lagi. Kali ini ditariknya Yoona mendekatinya. “Kalau ini tidak perlu tanya eomma kan?” tanyanya sebelum bibirnya menyentuh bibir Yoona.

Yoona hanya mengangguk kecil dan mulai menikmati ciuman itu.

*

*

*

*
Biasa kan? gak parah kan? Gak kan? Gak kan? Gak donk..
Gimana?
*
*
*
sedikit penjelasan~> selama ini aku memang hanya bikin ff seokyu & yoonhae.. karena aku wires & pyrotechnic.. #plakk, gak ada yg nanya.. tapi gak menutup kemungkinan ntar pakai yg lain..
^_____^ piss..

About these ads

45 thoughts on “Yeoja apartment

  1. Aku kira cerita ttg apa soalnya judulnya yeoja apartement hauhahaha bagus ceritanya, gak terlalu parah kok toh aku udah 17 ._.v hhi heechul jahat ya tp akhirnya jd baik jg. Jujur aku gak terlalu suka pairing tp selama masi di FF bolehlah hhe ditunggu karya selanjutnya :D

  2. author wires & pyrotechnic aku juga… hahaha
    bikin FF lebih banyak seokyu ama yoonhae ya author….

    selalu FFnya keren.. ^_^

  3. WOW!!
    Biasa seh, cuma tetep aja aku mikir yang engga2 :oops: yadong saya #plakk :roll:
    ihhhh romantic romantic!!
    Yang singgung2 abang hee sama hae suka cewe yang sama brasa real, bikin mikir ‘jangan2 beneran itu jess, atau yoong?’ Aku uda lama banget ni ga baca skip beat. Ini ada adegan skip beat nya kah? Yang mana?
    Scene bandaranya ga kaya aadc kok hehehe :LOL: lebih aadc fic kemaren *apa ya judulnya yang pake french itu* Ih abang hee,, cepet dapet pacar ya.. Amin. Aku sayang abang hee *peluk heenim*
    Pair lain.., chingu suka tiff-siwon ga? Aku suka ^^ *ga da yang nanya woy!* tapi chingu kalu mau bikin pair lain., ummm chingu harus suka juga ga si sama pair itu? Misalnya ada yang request pair apa gitu terus chingu bikin fic, tapi ga suka pair nya, jadinya bisa greget gini ga ya?
    chingu aku mau request fic boleh gaaa? :oops: *malu lho ini ngomongnya*

    • @nilam, takut gak muncul direplay..pakai hp biasanya gitu..
      Oh, yg suka yeoja yg sama itu ya? *tau sendiri lah, itu masa lalu*
      ini gak ada hubungannya sama skip beat, cuma aku suka Donghae dalam diri Sho Fuwa..
      Siwon-tiffany…
      Request mereka ya??? Siwon cakepnya tingkat akut tp aku kok belum kecantol ma dia ya.. Tiffany cantik, tp aku juga belum pernah pakai dia walau sebagai figuran..
      Emang kalau belum mendalami orangnya aku agak susah dapet feelnya..
      Seokyu aja kadang feelnya buyar gak karuan..
      Paling gampang yoonhae sih, tinggal lihat yoonhae momen, idenya langsung ngalir..
      Tapi akhir2 ini aku mulai ngelirik sunsun n taeteuk..

  4. haha ga parah ko..
    romantiss bgtt.. deleem bgt..
    so touchingg >.<
    like it, petama kalinya suka pairing donghe yoona :)
    noce ff ~

  5. Kyaaa keren banget. Gak parah kok aku pernah baca yang lebih parah lagi hehe-_-
    Jangan sampe ditiru ajalah buat hiburan aja. Waha author asik bgt buat ff-nya seokyu sama yoonhae. Buat lagi ya! Hwaiting ^^

  6. Kkkkk,
    Chingu *hugs
    Kangenny aq sm YOONHAE ff. abis akhir2 ne lagi mls bngt buat ff, eh trnyata malah qm bikin ff yg baru. Thanks thanks thanks.
    Tapi scene pertamany itu agak cukup * jg y. kkk. Salut aq sm qm chingu, bisa buat ff kaya gitu. abis utk kiss scene az biasany aq mikir bbrp kli dlu, takut klo ff q dibaca sm anak2 d bwh umur. hhee. Q acungin jempol deh buat ff qm. hhee. and Moga az Chullie ketemu sama Gadis China di shanghai n jgn lupa buat ngenalin sm qt para ELF. whhhee.
    Yoong and Hwae ftw!!!

    • Hihi, gak tau otakku lagi sarap makanya bikin ini.. aku juga risih sendiri pas bacanya.. tp aku pernah baca yg lebih parah dr ini lho..
      Chingu, yg kemarin kita omongin di twitter itu cuma rumor kan?

  7. hwaa.. tlat bgt, br nemu ff ni.
    yeay, sama dnk ma aq. aq jg wires n phyro..
    crtanya menarik, hmm.. dsni haeppa suka bgt cium yoona ya. suka suka sukaa.. nice ff chingu. buat yoonhae lg ya..

  8. author elfishysparkyu tuh emang jagonya bikin ff yoonhae ya!;3 lopelope banget sama author, kebetulan aku pyro juga^^ *apasih
    ff ini gak dipost di yoonghaeutiful ya? aku baru baca ff ini nih di sini:D

  9. “Hanya Im Yoona, gadis pertama yang sanggup
    membuat seorang Lee Donghae menangis.”
    suka bgt ma kata2 itu, kesannya Donghae itu cinta parah (?) sma yoona, gak bisa hidup tanpa Yoona, hanya yoona gadis yg ia cintai, hanya yoona yoona dan yoona #apasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s